KERAJAAN
MATARAM
1. Dewi Inne K. (12)
2. Jovennio S.B.M (17)
3. Maulika J.M.R (21)
4. Rara Styaning P. (25)
Anggota :
Peta Konsep
Kerajaan
Mataram
Asal usul
Bidang politik
Bidang ekonomi
Bidang kebudayaan
Terpecahnya Mataram
Kerajaan
Mataram
Kesultanan Yogjakarta
Latar Belakang
Bidang politik
Bidang ekonomi
Bidang kebudayaan
Kemunduran
Kasunanan Surakarta
Latar Belakang
Bidang politik
Bidang ekonomi
Bidang kebudayaan
Kemunduran
Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah singkat berdirinya kerajaan mataram?
2. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang politik?
3. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang
ekonomi?
4. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang
kebudayaan?
5. Bagaimana kematian sultan agung?
6. Bagaimana sejarah kemunduran kerajaan mataram?
7. Bagaimana kehidupan kesultanan yogjakarta?
Meliputi : 1) Asal usul
2) Kehidupan di bidang politik
3) Kehidupan di bidang ekonomi
4) Kehidupan di bidang kebudayaan
5) Dan kehancurannya
8. Bagaimana kehidupan kasunanan surakarta?
meliputi :1) Asal usul
2) Kehidupan di bidang politik
3) Kehidupan di bidang ekonomi
4) Kehidupan di bidang kebudayaan
Sejarah berdirinya kerajaan mataram
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan
ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede.
Setelah Demak mengalami kemunduran, ibu kotanya
dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai
kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur
dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari
Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo
Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang
memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam
penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng
Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi
memperoleh tanah di Pati.
Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu
menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan
menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan
Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan
meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya,
Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut
Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya
kemudian berhasil memberontak pada Pajang.
Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya
mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar
Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan
salah satu wilayah bagian dari Mataram yang
beribukota di Kotagede.
Daftar Raja Kerajaan Mataram Islam
1. Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan
Mataram dari Jaka Tingkir
2. Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya)
(1587 - 1601), menjadikan Mataram sebagai
kerajaan merdeka.
3. Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang)
(1601 - 1613)
4. Adipati Martapura (1613 selama satu hari)
5. Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu
Hanyakrakusuma) (1613 - 1645)
6. Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) (1645 -
1677)
Kejayaan Kerajaan Mataram Islam
Masa kejayaan kerajaan Mataram Islam ketika dipimpin oleh
Sultan Agung. Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan
Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan
Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk
mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau
Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa
Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Karta (Jw.
"kertå", maka muncul sebutan pula "Mataram Karta"). Akibat
terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram
dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi
dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat
dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC.
Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh
putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
Kehidupan kerajaan mataram di bidang
politik
Dalam menjalankan pemerintahannya, Sutawijaya, Raja
Mataram banyak menghadapi rintangan. Para bupati di pantai
utara Jawa seperti Demak, Jepara, dan Kudus yang dulunya
tunduk pada Pajang memberontak ingin lepas dan menjadi
kerajaan merdeka. Akan tetapi, Sutawijaya berusaha
menundukkan bupati-bupati yang menentangnya dan Kerajaan
Mataram berhasil meletakkan landasan kekuasaannya mulai
dari Galuh (Jabar) sampai pasuruan (Jatim).
Setelah Sutawijaya mangkat, tahta kerajaan diserahkan
oleh putranya, Mas Jolang, lalu cucunya Mas Rangsang atau
Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, muncul
kembali para bupati yang memberontak, seperti Bupati Pati,
Lasem, Tuban, Surabaya, Madura, Blora, Madiun, dan
Bojonegoro.
Untuk menundukkan pemberontak itu, Sultan
Agung mempersiapkan sejumlah besar pasukan,
persenjataan, dan armada laut serta
penggemblengan fisik dan mental. Usaha Sultan
Agung akhirnya berhasil pada tahun 1625 M.
Kerajaan Mataram berhasil menguasai seluruh
Jawa, kecuali Banten, Batavia, Cirebon, dan
Blambangan. Untuk menguasai seluruh Jawa,
Sultan Agung mencoba merebut Batavia dari
tangan Belanda. Namun usaha Sultan mengalami
kegagalan.
Bidang kebudayaan dan bidang ekonomi
Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan
Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang
ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain
memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang,
Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas
serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan
unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan
Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya
Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud.
Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing
merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.
Menjelang tahun 1645 Sultan Agung merasa
ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana Imogiri
sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan
Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat
Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram.
Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal
dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang
bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram
selanjutnya, bergelar Amangkurat I.
Wafatnya Sultan Agung
Terpecahnya Mataram
Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Plered (1647),
tidak jauh dari Karta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar
sultan, melainkan "sunan" (dari "Susuhunan" atau "Yang
Dipertuan"). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena
banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi
pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa
Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677)
ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya,
Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga
kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus
terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680),
sekitar 5 km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap
telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat
III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-
1726), Pakubuwana II (1726-1749).
VOC tidak menyukai
Amangkurat III karena menentang VOC
sehingga VOC mengangkat Pakubuwana
I (Puger) sebagai raja. Akibatnya
Mataram memiliki dua raja dan ini
menyebabkan perpecahan internal.
Amangkurat III memberontak dan
menjadi "king in exile" hingga
tertangkap di Batavia lalu dibuang ke
Ceylon.
Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III
setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan
Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755.
Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama
diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota
Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu
kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian
masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan
Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
1. Kesultanan Yogyakarta
Latar Belakang
Nama Yogyakarta adalah perubahan bentuk dari Yodyakarta.
Yodyakarta berasal dari kata Ayodya dan Karta. Ayodya diambil dari
nama kerajaan dalam kisah Ramayana, sementara karta berarti ramai.
Dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari
1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-
Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua. Pangeran
Mangkubumi diangkat sebagai Sultan dengan gelar Sultan
Hamengkubuwana I dan berkuasa atas setengah daerah Kerajaan
Mataram. Sementara itu Sunan Paku Buwono III tetap berkuasa atas
setengah daerah lainnya dengan nama baru Kasunanan Surakarta dan
daerah pesisir tetap dikuasai VOC.
Sultan Hamengkubuwana I kemudian segera membuat ibukota
kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah
baru (jawa: babat alas) di Hutan Paberingan yang terletak antara
aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut
istananya tersebut tersebut dinamakan Ngayogyakarta
Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada
tanggal 7 Oktober 1756. Para penggantinya tetap
mempertahankan gelar yang digunakan, Hamengku Buwono.
Untuk membedakan antara sultan yang sedang bertahta dengan
pendahulunya, secara umum, digunakan frasa " ingkang
jumeneng kaping .... ing Ngayogyakarto "
Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Di Bidang Ekonomi
Sumber ekonomi utama yang tersedia bagi Kesultanan Yogyakarta adalah
tanah, hutan kayu keras, perkebunan, pajak, dan uang sewa. Oleh karena
itu sistem ekonomi tidak bisa lepas dari sistem agraria. Sultan menguasai
seluruh tanah di Kesultanan Yogyakarta.
Urusan tanah di Kesultanan Yogyakarta dibagi menjadi dua bentuk yaitu
tanah yang diberikan Sultan kepada anggota keluarga kerajaan dan tanah
yang diberikan kepada pegawai kerajaan. Tanah tersebut berlokasi teritori
Nagara Agung, khususnya daerah Mataram, dan disebut sebagai tanah
lungguh (apanage land/tanah jabatan). Tanah yang berada dalam
pemeliharaan para keluarga kerajaan dan pegawai kerajaan tersebut juga
digunakan oleh masyarakat umum sebagai tempat tinggal dan pertanian
dari generasi ke generasi. Sebagai imbalannya mereka menyetor sebagian
hasil panen sebagai bentuk pajak. Sekalipun kaum ningrat dan rakyat
umum memiliki kebebasan dalam mengatur, mengolah, dan mendiami
tanah tersebut mereka tidak diijinkan untuk menjualnya.
Kerajaan juga menerima penerimaan yang besar dari
penebangan hutan kayu keras dalam skala besar sejak Sultan HB I. Pada
1821 pemerintahan Hindia Belanda memperoleh hak atas hasil
penebangan dari hutan kayu keras dan istana bertanggung jawab atas
manajemen dan eksploitasinya. Pada 1848 sebuah peraturan
mengharuskan Sultan memenuhi kebutuhan kayu keras pemerintah
jajahan dan dalam ganti rugi Sultan memperoleh biaya penebangan dan
pengangkutan kayu. Pada 1904 masa pemerintahan HB VII, manajemen
hutan kayu keras di Gunung Kidul diambil alih oleh pemerintah Hindia
Belanda. Sebagai kompensasi atas persetujuan itu istana memperoleh
kayu keras gratis untuk konstruksi istana Ambar Rukmo dan Ambar
Winangun.
Perkebunan yang dikembangkan di Yogyakarta, terutama setelah
1830, adalah kopi, tebu, nila, dan tembakau. Restrukturisasi pada zaman
HB IX karena dihadapkan pada beban ekonomi dan sumber yang
terbatas. Pada 1942, Sultan tidak melaporkan secara akurat jumlah
produksi beras, ternak, dan produk lain untuk melindungi rakyat dari
Jepang. Sultan membangun kanal guna meningkatkan produksi beras
dan untuk mencegah rakyat Yogyakarta dijadikan romusha oleh Jepang.
Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, kebudayaan di
Kesultanan Yogyakarta tidak begitu memiliki batas yang tegas antar
aspeknya. Kebiasaan umum (adat istiadat), kepercayaan, seni,
pandangan hidup, pendidikan, dan sebagainya saling tumpang tindih,
bercampur dan hanya membentuk suatu gradasi yang kabur.
Sebagai contoh seni arsitektur bangunan keraton tidak lepas dari
konsep “Raja Gung Binathara” yang merupakan pandangan hidup
masyarakat yang juga menjadi bagian dari sistem kepercayaan
(penghormatan kepada dewa/tuhan).
Beberapa tarian misalnya Bedaya Ketawang, selain dianggap
sebagai seni pertunjukan juga bersifat sakral sebagai bentuk
penghormatan kepada leluhur pendiri kerajaan dan penguasa alam.
Begitu pula benda-benda tertentu dianggap memiliki kekuatan magis dan
berkaitan dengan dunia roh dalam pandangan hidup masyarakat. Oleh
karenanya dalam pergaulan sehari-haripun ada pantangan yang bila
dilanggar akan menimbulkan kutuk tertentu bagi pelakunya.
Di Bidang Kebudayaan
Kebudayaan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi
berdasar cerita dari mulut ke mulut. Pelajaran tentang kehidupan
disampaikan melalui cerita-cerita wayang yang pada akhirnya
menumbuhkan kesenian pertunjukkan wayang kulit maupun
wayang jenis lain. Selain itu wejangan dan nasihat tentang
pandangan hidup dan sistem kepercayaan juga ditransmisikan
dalam bentuk tembang (lagu) maupun bentuk sastra lainnya.
Dalam masyarakat dipakai tiga jenjang bahasa yaitu Ngoko
(bahasa Jawa rendah), Krama Andhap (bahasa Jawa tengah), dan
Krama Inggil (bahasa Jawa tinggi). Aturan pemakaian bahasa
tersebut sangat rumit, namun tercermin budaya penghormatan
dan saling menghargai. Ada satu lagi bahasa yang khusus dan
hanya digunakan di lingkungan istana yang disebut dengan
Bagongan yang lebih mencerminkan pandangan hidup kesetaraan
kedudukan di antara pemakainya.
Akhir Riwayat
Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sultan Hamengku
Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII mengirim kawat kepada
Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kesultanan Yogyakarta dan
Daerah Paku Alaman menjadi bagian wilayah Negara Republik
Indonesia, serta bergabung menjadi satu, mewujudkan sebuah
Daerah Istimewa Yogyakarta yang bersifat kerajaan. Sultan Hamengku
Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII kemudian menjadi Kepala
Daerah Istimewa dan Wakil Kepala Daerah Istimewa dan bertanggung
jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Pada tahun 1950 secara resmi Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat ini, bersama-sama dengan Kadipaten Pakualaman
menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah daerah berotonomi
khusus setingkat provinsi sebagai bagian Negara Kesatuan Indonesia.
Dengan demikian status Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
sebagai sebuah negara (state) berakhir dan menjelma menjadi
pemerintahan daerah berotonomi khusus. Sedangkan institusi istana
kemudian dipisahkan dari "negara" dan diteruskan oleh Keraton
Kasultanan Yogyakarta.
2. Kasunanan Surakarta
Nagari Surakarta Hadiningrat) adalah sebuah kerajaan
di Jawa Tengah yang berdiri tahun 1755 sebagai hasil dari
perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Perjanjian antara VOC
dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan
Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III dan Pangeran
Mangkubumi, menyepakati bahwa Kesultanan Mataram
dibagi dalam dua wilayah kekuasaan yaitu Surakarta dan
Yogyakarta.
Kasunanan Surakarta umumnya tidak dianggap
sebagai pengganti Kesultanan Mataram, melainkan sebuah
kerajaan tersendiri, walaupun rajanya masih keturunan raja
Mataram. Setiap raja Kasunanan Surakarta yang bergelar
Sunan (demikian pula raja Kasultanan Yogyakarta yang
bergelar Sultan) selalu menanda-tangani kontrak politik
dengan VOC atau Pemerintah Hindia Belanda.
Latar Belakakang
Kesultanan Mataram yang runtuh akibat pemberontakan
Trunajaya tahun 1677 ibukotanya oleh Sunan Amral dipindahkan di
Kartasura. Pada masa Sunan Pakubuwana II memegang tampuk
pemerintahan keraton Mataram mendapat serbuan dari
pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan
dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742. Kerajaan Mataram yang
berpusat di Kartasura itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura
berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV
penguasa Madura barat yang merupakan sekutu VOC, namun
keadaannya sudah rusak parah. Pakubuwana II yang menyingkir ke
Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di
desa Sala sebagai ibukota kerajaan Mataram yang baru.
Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan
dianggap "tercemar". Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan
Tumenggung Honggowongso, bersama Tumenggung Mangkuyudha,
serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk
mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru.
Untuk itu dibangunlah keraton baru 20 km ke arah
tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di
tepi Bengawan Solo. Untuk pembangunan kraton ini,
Pakubuwono II membeli tanah seharga selaksa keping emas
yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal
sebagai Ki Gede Sala. Di tengah pembangunan Kraton, Ki Gede
Sala meninggal dan dimakamkan di area kraton.
Nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda"
bagi pusat pemerintahan baru ini. Pembangunan keraton ini
menggunakan bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan
di dekat Wonogiri dan kayunya dihanyutkan melalui Bengawan
Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari
1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku
Landep, Windu Sancaya).
Berlakunya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755)
menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan
Kasunanan Surakarta, dengan rajanya Pakubuwana III.
Raja Kasunanan Surakarta
1. Pakubuwana II (1745 – 1749), pendiri kota Surakarta; memindahkan
keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
2. Pakubuwana III (1749 - 1788), mengakui kedaulatan Hamengkubuwana
I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya.
3. Pakubuwana IV (1788 - 1820)
4. Pakubuwana V (1820 - 1823)
5. Pakubuwana VI (1823 - 1830), diangkat sebagai pahlawan nasional
Indonesia; juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa.
6. Pakubuwana VII (1830 - 1858)
7. Pakubuwana VIII (1859 - 1861)
8. Pakubuwana IX (1861 - 1893)
9. Pakubuwana X (1893 - 1939)
10. Pakubuwana XI (1939 - 1944)
11. Pakubuwana XII (1944 - 2004)
12. Pakubuwana XIII (2009 - sekarang) bersama dengan Mahapatih
Pangeran Tejowulan.
Kejayaan Kasunanan Surakarta
Saat itu Perang Diponegoro baru saja berakhir. Masa
pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila
dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Keadaan yang damai itu
mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di
lingkungan keraton. Masa pemerintahan Pakubuwana VII
dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta
dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya.
Pemerintahannya berakhir saat wafatannya dan karena tidak
memiliki putra mahkota maka Pakubuwana VII digantikan oleh
kakaknya (lain ibu) bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana VIII yang
naik tahta pada usia 69 tahun.
Bukti kerjasama dalam bidang
politik yaitu memberikan perlindungan
kepada Palembang dan Jambi agar
terhindar dari Expansi Aceh dan
Banten. Yang kemudian perlindungan
itu berakhir, pada saat armada perang
kerajaan dihancurkan oleh armada
VOC di dekat Palembang.
Kehidupan bidang politik
Kasunanan Surakarta
Kehidupan bidang ekonomi kasunanan
surakarta
Kasunanan surakarta banyak menjalin
hubungan yang bersifat ekonomis dan politik
dengan daerah-daerah lain. Bukti kerjasama
tersebut dalam bidang ekonomi adalah
Palembang dan Jambi menggantungkan
kebutuhan berasnya dari kerajaan. Karena
rakyat di Palembang dan Jambi lebih suka
menanam lada daripada padi.
Warisan Budaya
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton
Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya
yang tak ternilai.
Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-
tarian sakral, musik, dan pusaka.
Upacara adat yang terkenal adalah upacara
Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam
Satu Sura. Upacara yang berasal dari zaman
kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan
dan merupakan warisan budaya Indonesia yang
harus dilindungi.
Upacara Garebeg atau Grebeg
Upacara Garebeg atau Grebeg diselenggarakan tiga kali
dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal
dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal
(bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua
belas). Pada hari hari tersebut Sri Sunan mengeluarkan
sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah atas
kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad
Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan
kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan).
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan
ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini
terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang
dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa
perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya
dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil.
Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh
dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan
kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang
berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi
bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.
Sekaten
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan
selama tujuh hari untuk memperingati kelahahiran Nabi
Muhammad. Konon asal usul upacara ini sejak Kesultanan
Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan
hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata
sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam,
Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat
Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari
keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta.
Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan
Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut
dimainkan/dibunyikan (Bahasa Jawa: ditabuh) menandai
perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup
dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara
tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang
dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang
sesungguhnya.
Pusaka (heirloom) dan tari-tarian sakral
Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi
pusaka kerajaan diantaranya berupa singgasana Sri
Sunan, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata.
Di antara koleksi gamelan adalah Kyai Guntursari dan
Kyai Gunturmadu yang hanya dimainkan/dibunyikan
pada saat upacara sekaten. Selain memiliki pusaka
Keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian khas yang
hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu.
Sebagai contoh tarian sakral adalah Bedhaya Ketawang
yang hanya dipentaskan pada saat pemahkotaan dan
hari peringatan kenaikan tahta Sri Sunan.
Era Indonesia
Terdapat pendapat yang menilai[ bahwa pada awal
pemerintahannya, Pakubuwana XII gagal mengambil peran penting
dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia. Bahkan
muncul rumor bahwa para bangsawan Surakarta sejak dahulu
merupakan sekutu pemerintah Belanda, sehingga rakyat merasa
tidak percaya dan memberontak terhadap kekuasaan Kasunanan[.
Dalam buku seri Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jenderal
Abdul Haris Nasution menulis bahwa raja-raja Surakarta membelot
dan mengkhianati Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda II
tahun 1948-1949. Bahkan pihak TNI sudah menyiapkan Kolonel
Djatikoesoemo (KSAD pertama), putra Pakubuwana X, untuk
diangkat menjadi Susuhunan yang baru dan Letkol. Suryo Sularso
untuk diangkat menjadi Mangku Negara yang baru. Namun rakyat
dan tentara semakin ingin menghapuskan monarki sama sekali.
Akhirnya Mayor Akhmadi, penguasa militer kota Surakarta, hanya
diberi tugas untuk langsung berhubungan dengan istana-istana
monarki Surakarta. Kedua raja diminta untuk secara tegas
memihak Republik. Jika raja-raja tersebut menolak, akan diambil
tindakan sesuai Instruksi Non Koperasi
Meskipun gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap
menjadi figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi,
para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap menghormatinya
sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa. Pakubuwana XII wafat pada
tanggal 11 Juni 2004, dan masa pemerintahannya merupakan yang
terlama di antara para raja-raja Kasunanan terdahulu, yaitu sejak
tahun 1945-2004.
Sepeninggal Pakubuwana XII, sempat terjadi perebutan tahta antara
Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-
masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII dua-duanya
mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing
menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan
tetapi, konsensus keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang
diberi gelar SISKS Pakubuwana XIII.
Saat ini, konflik dua Raja Kembar telah usai setelah Pangeran
Tejowulan melemparkan tahta Pakubuwana kepada kakaknya yakni
Pangeran Hangabehi dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang di
prakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan
Pangeran Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (pepatih dalem)
dengan gelar KGPHPA (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan
Agung).

SEJARAH KELAS X K13

  • 1.
  • 2.
    1. Dewi InneK. (12) 2. Jovennio S.B.M (17) 3. Maulika J.M.R (21) 4. Rara Styaning P. (25) Anggota :
  • 3.
    Peta Konsep Kerajaan Mataram Asal usul Bidangpolitik Bidang ekonomi Bidang kebudayaan Terpecahnya Mataram
  • 4.
    Kerajaan Mataram Kesultanan Yogjakarta Latar Belakang Bidangpolitik Bidang ekonomi Bidang kebudayaan Kemunduran Kasunanan Surakarta Latar Belakang Bidang politik Bidang ekonomi Bidang kebudayaan Kemunduran
  • 5.
    Rumusan Masalah 1. Bagaimanasejarah singkat berdirinya kerajaan mataram? 2. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang politik? 3. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang ekonomi? 4. Bagaimana kehidupan kerajaan mataram di bidang kebudayaan? 5. Bagaimana kematian sultan agung? 6. Bagaimana sejarah kemunduran kerajaan mataram?
  • 6.
    7. Bagaimana kehidupankesultanan yogjakarta? Meliputi : 1) Asal usul 2) Kehidupan di bidang politik 3) Kehidupan di bidang ekonomi 4) Kehidupan di bidang kebudayaan 5) Dan kehancurannya 8. Bagaimana kehidupan kasunanan surakarta? meliputi :1) Asal usul 2) Kehidupan di bidang politik 3) Kehidupan di bidang ekonomi 4) Kehidupan di bidang kebudayaan
  • 7.
    Sejarah berdirinya kerajaanmataram Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Setelah Demak mengalami kemunduran, ibu kotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.
  • 8.
    Pemanahan berhasil membangunhutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede.
  • 9.
    Daftar Raja KerajaanMataram Islam 1. Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir 2. Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 - 1601), menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka. 3. Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang) (1601 - 1613) 4. Adipati Martapura (1613 selama satu hari) 5. Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu Hanyakrakusuma) (1613 - 1645) 6. Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) (1645 - 1677)
  • 10.
    Kejayaan Kerajaan MataramIslam Masa kejayaan kerajaan Mataram Islam ketika dipimpin oleh Sultan Agung. Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Karta (Jw. "kertå", maka muncul sebutan pula "Mataram Karta"). Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
  • 11.
    Kehidupan kerajaan mataramdi bidang politik Dalam menjalankan pemerintahannya, Sutawijaya, Raja Mataram banyak menghadapi rintangan. Para bupati di pantai utara Jawa seperti Demak, Jepara, dan Kudus yang dulunya tunduk pada Pajang memberontak ingin lepas dan menjadi kerajaan merdeka. Akan tetapi, Sutawijaya berusaha menundukkan bupati-bupati yang menentangnya dan Kerajaan Mataram berhasil meletakkan landasan kekuasaannya mulai dari Galuh (Jabar) sampai pasuruan (Jatim). Setelah Sutawijaya mangkat, tahta kerajaan diserahkan oleh putranya, Mas Jolang, lalu cucunya Mas Rangsang atau Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, muncul kembali para bupati yang memberontak, seperti Bupati Pati, Lasem, Tuban, Surabaya, Madura, Blora, Madiun, dan Bojonegoro.
  • 12.
    Untuk menundukkan pemberontakitu, Sultan Agung mempersiapkan sejumlah besar pasukan, persenjataan, dan armada laut serta penggemblengan fisik dan mental. Usaha Sultan Agung akhirnya berhasil pada tahun 1625 M. Kerajaan Mataram berhasil menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, Cirebon, dan Blambangan. Untuk menguasai seluruh Jawa, Sultan Agung mencoba merebut Batavia dari tangan Belanda. Namun usaha Sultan mengalami kegagalan.
  • 13.
    Bidang kebudayaan danbidang ekonomi Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.
  • 14.
    Menjelang tahun 1645Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram. Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram selanjutnya, bergelar Amangkurat I. Wafatnya Sultan Agung
  • 15.
    Terpecahnya Mataram Amangkurat Imemindahkan lokasi keraton ke Plered (1647), tidak jauh dari Karta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan "sunan" (dari "Susuhunan" atau "Yang Dipertuan"). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5 km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar. Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719- 1726), Pakubuwana II (1726-1749).
  • 16.
    VOC tidak menyukai AmangkuratIII karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in exile" hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon. Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
  • 17.
    1. Kesultanan Yogyakarta LatarBelakang Nama Yogyakarta adalah perubahan bentuk dari Yodyakarta. Yodyakarta berasal dari kata Ayodya dan Karta. Ayodya diambil dari nama kerajaan dalam kisah Ramayana, sementara karta berarti ramai. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur- Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I dan berkuasa atas setengah daerah Kerajaan Mataram. Sementara itu Sunan Paku Buwono III tetap berkuasa atas setengah daerah lainnya dengan nama baru Kasunanan Surakarta dan daerah pesisir tetap dikuasai VOC.
  • 18.
    Sultan Hamengkubuwana Ikemudian segera membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru (jawa: babat alas) di Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut istananya tersebut tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756. Para penggantinya tetap mempertahankan gelar yang digunakan, Hamengku Buwono. Untuk membedakan antara sultan yang sedang bertahta dengan pendahulunya, secara umum, digunakan frasa " ingkang jumeneng kaping .... ing Ngayogyakarto "
  • 19.
  • 20.
    Di Bidang Ekonomi Sumberekonomi utama yang tersedia bagi Kesultanan Yogyakarta adalah tanah, hutan kayu keras, perkebunan, pajak, dan uang sewa. Oleh karena itu sistem ekonomi tidak bisa lepas dari sistem agraria. Sultan menguasai seluruh tanah di Kesultanan Yogyakarta. Urusan tanah di Kesultanan Yogyakarta dibagi menjadi dua bentuk yaitu tanah yang diberikan Sultan kepada anggota keluarga kerajaan dan tanah yang diberikan kepada pegawai kerajaan. Tanah tersebut berlokasi teritori Nagara Agung, khususnya daerah Mataram, dan disebut sebagai tanah lungguh (apanage land/tanah jabatan). Tanah yang berada dalam pemeliharaan para keluarga kerajaan dan pegawai kerajaan tersebut juga digunakan oleh masyarakat umum sebagai tempat tinggal dan pertanian dari generasi ke generasi. Sebagai imbalannya mereka menyetor sebagian hasil panen sebagai bentuk pajak. Sekalipun kaum ningrat dan rakyat umum memiliki kebebasan dalam mengatur, mengolah, dan mendiami tanah tersebut mereka tidak diijinkan untuk menjualnya.
  • 21.
    Kerajaan juga menerimapenerimaan yang besar dari penebangan hutan kayu keras dalam skala besar sejak Sultan HB I. Pada 1821 pemerintahan Hindia Belanda memperoleh hak atas hasil penebangan dari hutan kayu keras dan istana bertanggung jawab atas manajemen dan eksploitasinya. Pada 1848 sebuah peraturan mengharuskan Sultan memenuhi kebutuhan kayu keras pemerintah jajahan dan dalam ganti rugi Sultan memperoleh biaya penebangan dan pengangkutan kayu. Pada 1904 masa pemerintahan HB VII, manajemen hutan kayu keras di Gunung Kidul diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai kompensasi atas persetujuan itu istana memperoleh kayu keras gratis untuk konstruksi istana Ambar Rukmo dan Ambar Winangun. Perkebunan yang dikembangkan di Yogyakarta, terutama setelah 1830, adalah kopi, tebu, nila, dan tembakau. Restrukturisasi pada zaman HB IX karena dihadapkan pada beban ekonomi dan sumber yang terbatas. Pada 1942, Sultan tidak melaporkan secara akurat jumlah produksi beras, ternak, dan produk lain untuk melindungi rakyat dari Jepang. Sultan membangun kanal guna meningkatkan produksi beras dan untuk mencegah rakyat Yogyakarta dijadikan romusha oleh Jepang.
  • 22.
    Sebagaimana masyarakat Jawapada umumnya, kebudayaan di Kesultanan Yogyakarta tidak begitu memiliki batas yang tegas antar aspeknya. Kebiasaan umum (adat istiadat), kepercayaan, seni, pandangan hidup, pendidikan, dan sebagainya saling tumpang tindih, bercampur dan hanya membentuk suatu gradasi yang kabur. Sebagai contoh seni arsitektur bangunan keraton tidak lepas dari konsep “Raja Gung Binathara” yang merupakan pandangan hidup masyarakat yang juga menjadi bagian dari sistem kepercayaan (penghormatan kepada dewa/tuhan). Beberapa tarian misalnya Bedaya Ketawang, selain dianggap sebagai seni pertunjukan juga bersifat sakral sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur pendiri kerajaan dan penguasa alam. Begitu pula benda-benda tertentu dianggap memiliki kekuatan magis dan berkaitan dengan dunia roh dalam pandangan hidup masyarakat. Oleh karenanya dalam pergaulan sehari-haripun ada pantangan yang bila dilanggar akan menimbulkan kutuk tertentu bagi pelakunya. Di Bidang Kebudayaan
  • 23.
    Kebudayaan tersebut diwariskandari generasi ke generasi berdasar cerita dari mulut ke mulut. Pelajaran tentang kehidupan disampaikan melalui cerita-cerita wayang yang pada akhirnya menumbuhkan kesenian pertunjukkan wayang kulit maupun wayang jenis lain. Selain itu wejangan dan nasihat tentang pandangan hidup dan sistem kepercayaan juga ditransmisikan dalam bentuk tembang (lagu) maupun bentuk sastra lainnya. Dalam masyarakat dipakai tiga jenjang bahasa yaitu Ngoko (bahasa Jawa rendah), Krama Andhap (bahasa Jawa tengah), dan Krama Inggil (bahasa Jawa tinggi). Aturan pemakaian bahasa tersebut sangat rumit, namun tercermin budaya penghormatan dan saling menghargai. Ada satu lagi bahasa yang khusus dan hanya digunakan di lingkungan istana yang disebut dengan Bagongan yang lebih mencerminkan pandangan hidup kesetaraan kedudukan di antara pemakainya.
  • 24.
    Akhir Riwayat Pada saatProklamasi Kemerdekaan RI, Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII mengirim kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kesultanan Yogyakarta dan Daerah Paku Alaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu, mewujudkan sebuah Daerah Istimewa Yogyakarta yang bersifat kerajaan. Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII kemudian menjadi Kepala Daerah Istimewa dan Wakil Kepala Daerah Istimewa dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Pada tahun 1950 secara resmi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini, bersama-sama dengan Kadipaten Pakualaman menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi sebagai bagian Negara Kesatuan Indonesia. Dengan demikian status Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai sebuah negara (state) berakhir dan menjelma menjadi pemerintahan daerah berotonomi khusus. Sedangkan institusi istana kemudian dipisahkan dari "negara" dan diteruskan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta.
  • 25.
    2. Kasunanan Surakarta NagariSurakarta Hadiningrat) adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang berdiri tahun 1755 sebagai hasil dari perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Perjanjian antara VOC dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi, menyepakati bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua wilayah kekuasaan yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta umumnya tidak dianggap sebagai pengganti Kesultanan Mataram, melainkan sebuah kerajaan tersendiri, walaupun rajanya masih keturunan raja Mataram. Setiap raja Kasunanan Surakarta yang bergelar Sunan (demikian pula raja Kasultanan Yogyakarta yang bergelar Sultan) selalu menanda-tangani kontrak politik dengan VOC atau Pemerintah Hindia Belanda.
  • 26.
    Latar Belakakang Kesultanan Mataramyang runtuh akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibukotanya oleh Sunan Amral dipindahkan di Kartasura. Pada masa Sunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan keraton Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742. Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV penguasa Madura barat yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di desa Sala sebagai ibukota kerajaan Mataram yang baru. Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap "tercemar". Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Honggowongso, bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru.
  • 27.
    Untuk itu dibangunlahkeraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo. Untuk pembangunan kraton ini, Pakubuwono II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Di tengah pembangunan Kraton, Ki Gede Sala meninggal dan dimakamkan di area kraton. Nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda" bagi pusat pemerintahan baru ini. Pembangunan keraton ini menggunakan bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri dan kayunya dihanyutkan melalui Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya). Berlakunya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, dengan rajanya Pakubuwana III.
  • 28.
    Raja Kasunanan Surakarta 1.Pakubuwana II (1745 – 1749), pendiri kota Surakarta; memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745 2. Pakubuwana III (1749 - 1788), mengakui kedaulatan Hamengkubuwana I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya. 3. Pakubuwana IV (1788 - 1820) 4. Pakubuwana V (1820 - 1823) 5. Pakubuwana VI (1823 - 1830), diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia; juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa. 6. Pakubuwana VII (1830 - 1858) 7. Pakubuwana VIII (1859 - 1861) 8. Pakubuwana IX (1861 - 1893) 9. Pakubuwana X (1893 - 1939) 10. Pakubuwana XI (1939 - 1944) 11. Pakubuwana XII (1944 - 2004) 12. Pakubuwana XIII (2009 - sekarang) bersama dengan Mahapatih Pangeran Tejowulan.
  • 29.
    Kejayaan Kasunanan Surakarta Saatitu Perang Diponegoro baru saja berakhir. Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Keadaan yang damai itu mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton. Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Pemerintahannya berakhir saat wafatannya dan karena tidak memiliki putra mahkota maka Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana VIII yang naik tahta pada usia 69 tahun.
  • 30.
    Bukti kerjasama dalambidang politik yaitu memberikan perlindungan kepada Palembang dan Jambi agar terhindar dari Expansi Aceh dan Banten. Yang kemudian perlindungan itu berakhir, pada saat armada perang kerajaan dihancurkan oleh armada VOC di dekat Palembang. Kehidupan bidang politik Kasunanan Surakarta
  • 31.
    Kehidupan bidang ekonomikasunanan surakarta Kasunanan surakarta banyak menjalin hubungan yang bersifat ekonomis dan politik dengan daerah-daerah lain. Bukti kerjasama tersebut dalam bidang ekonomi adalah Palembang dan Jambi menggantungkan kebutuhan berasnya dari kerajaan. Karena rakyat di Palembang dan Jambi lebih suka menanam lada daripada padi.
  • 32.
    Warisan Budaya Selain memilikikemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari- tarian sakral, musik, dan pusaka. Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Sura. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi.
  • 33.
    Upacara Garebeg atauGrebeg Upacara Garebeg atau Grebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut Sri Sunan mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan). Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.
  • 34.
    Sekaten Sekaten merupakan sebuahupacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari untuk memperingati kelahahiran Nabi Muhammad. Konon asal usul upacara ini sejak Kesultanan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Bahasa Jawa: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
  • 35.
    Pusaka (heirloom) dantari-tarian sakral Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi pusaka kerajaan diantaranya berupa singgasana Sri Sunan, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata. Di antara koleksi gamelan adalah Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu yang hanya dimainkan/dibunyikan pada saat upacara sekaten. Selain memiliki pusaka Keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian khas yang hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu. Sebagai contoh tarian sakral adalah Bedhaya Ketawang yang hanya dipentaskan pada saat pemahkotaan dan hari peringatan kenaikan tahta Sri Sunan.
  • 36.
    Era Indonesia Terdapat pendapatyang menilai[ bahwa pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia. Bahkan muncul rumor bahwa para bangsawan Surakarta sejak dahulu merupakan sekutu pemerintah Belanda, sehingga rakyat merasa tidak percaya dan memberontak terhadap kekuasaan Kasunanan[. Dalam buku seri Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jenderal Abdul Haris Nasution menulis bahwa raja-raja Surakarta membelot dan mengkhianati Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949. Bahkan pihak TNI sudah menyiapkan Kolonel Djatikoesoemo (KSAD pertama), putra Pakubuwana X, untuk diangkat menjadi Susuhunan yang baru dan Letkol. Suryo Sularso untuk diangkat menjadi Mangku Negara yang baru. Namun rakyat dan tentara semakin ingin menghapuskan monarki sama sekali. Akhirnya Mayor Akhmadi, penguasa militer kota Surakarta, hanya diberi tugas untuk langsung berhubungan dengan istana-istana monarki Surakarta. Kedua raja diminta untuk secara tegas memihak Republik. Jika raja-raja tersebut menolak, akan diambil tindakan sesuai Instruksi Non Koperasi
  • 37.
    Meskipun gagal secarapolitik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa. Pakubuwana XII wafat pada tanggal 11 Juni 2004, dan masa pemerintahannya merupakan yang terlama di antara para raja-raja Kasunanan terdahulu, yaitu sejak tahun 1945-2004. Sepeninggal Pakubuwana XII, sempat terjadi perebutan tahta antara Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing- masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII dua-duanya mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan tetapi, konsensus keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang diberi gelar SISKS Pakubuwana XIII. Saat ini, konflik dua Raja Kembar telah usai setelah Pangeran Tejowulan melemparkan tahta Pakubuwana kepada kakaknya yakni Pangeran Hangabehi dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan Pangeran Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (pepatih dalem) dengan gelar KGPHPA (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung).