Biofarmasi Sediaan
Obat yg diberikan
secara Rektal
Kelompok 5:
Yusuf Muharram
Fila Delfia Ningsih
Evianti Randa Layuk
Darmawatika
Rektum merupakan salah satu organ terakhir dari usus besar pada manusia dan beberapa jenis mamalia
lainnya yang berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi.
Pemberian obat baik bentuk padat maupun cair pada terapi pengobatan maupun perawatan di rektum akan
mengalami suatu proses farmakodinamika (absorbsi, distribusi, metabolisme, serta ekskresi) yang berupa
serangkain system dari pemberian hingga penyerapan molekul zat aktif pada reseptor. Rangkaian ini
merupakan rincian dari DDS (Drug Delivery System).
DDS adalah istilah yang terkait erat dengan penghantaran (delivery) senyawa farmasetik (obat) pada
manusia atau binatang. Sistem penghantaran obat yang berkaitan dengan jumlah zat aktif yang diharapkan
dapat dilepaskan sesuai dengan kinetika yang dikehendaki sehingga mencapai tempat tertentu dalam tubuh
dimana titik penyerapan optimal. Merupakan suatu kesatuan struktur yang mempengaruhi ketersediaan
hayati zat aktif.
Anatomi dan Fisiologi Rektal
Luas permukaan rectal 200-400 cm2, pada saat kosong rectum mengandung sejumlah kecil cairan (1-3
ml) dengan kapasitas buffer yang rendah; pH sekitar 7,2 karena kD(kecepatan disolusi), pH akan
bervariasi sesuai obat yang terlarut di dalamnya. Panjang dari kolon sekitar 5 kaki (150 cm) dan terbagi
lagi menjadi 5 segment. Rectum adalah segmen anatomi terakhir sebelum anus yang merupakan bagian
distal usus besar.
Rectum memiliki panjang pada manusia dewasa rata-rata 15-19 cm, 12-14 cm bagian pelvinal sampai 5-
6 cm bagian perineal, pada bagian teratas dibungkus dengan lapisan peritoneum. Sedang pada bagian
bawah tidak dibungkus dengan peritoneum maka disebut pula dengan rectal ampula.Yaitu membrane
serosa yang melapisi dinding rongga abdomen dan pelvis dan melapisi visera.Kedua lapisan tersebut
menutupi ruang potensial, rongga peritoneum.Anal canal memiliki panjang 4-5 cm.
Rektum dialiri 3 jenis pembuluh darah :
a) Vena haemorrhoidales superior yang bermuara ke vena mesentericum inferior, selanjutnya masuk kedalam
vena porta, dan juga membawa darah langsung ke peredaran umum.
b) Vena haemorrhoidales medialis dan vena haemorhoidales inferior yang bermuara ke venae cava inferior
dengan perantara venae iliaca interna selanjutnya membawa darah ke peredaran umum (kecuali hati).
c) Vena haemorrhoidales anterior = Vena haemorrhoidales medialis
 Volume cairan dalam rektum sangat sedikit ( 2 mL) sehingga laju difusi obat menuju tempat absorpsi lebih
lambat.
 pH cairan rektum netral 7,2 -7,4, sehingga kemungkinan obat melarut lebih kecil dibanding oral yang terdiri
dari beberapa bagian.
 Adanya feses menghambat penyerapan, sehingga sebaiknya pemberian sediaan setelah defekasi.
Rektum mempunyai dua peranan mekanik, yaitu sebagai tempat penampungan feses dan mendorongnya saat
pengeluaran.
Penyerapan obat pada rectum dipengaruhi oleh:
a. Kedudukan sediaan obat setelah pemakaian
b. Penempatan sediaan obat di dalam rectum
c. pH cairan rectum
d. Konsentrasi zat aktif dalam cairan rectum
Penyerapan di rektum dapat terjadi dengan tiga cara yaitu:
1. Lewat pembuluh darah secara langsung
2. Lewat pembuluh getah bening
3. Lewat pembuluh darah secara tidak langsung melalui hati.
Obat – Obat pada Rektal
No Golongan Contoh obat Bentuk Sediaan Indikasi
1. Anti Konvulsan Diazepam Gel Mengatasi gelisah
yang berlebihan,
gemetaran dan
kegilaan tiba-tiba
2. Obat Pra Operasi dan Induksi Anestesi Pramoxine HCl Salep Anastesi Lokal
3. Analgesik Pronalges
Ketoprofen
Suppositoria
Suppositoria
Mengobati nyeri
arthritis atau sakit
gigi yang parah
4. Antiemetik Alizapride Suppositoria Mengobati rasa
mual dan muntah-
muntah
5. Senyawa anti bakteri Metronidazole Suppositoria Infeksi yang
disebabkan
trichomonal
vaginitis dan
bacterial vaginosis
6. Xantin Aminophilin Suppositoria Meringankan
penyakit asma
7. Obat untuk penyakit radang usus Mesalazine Suspensi Mengurangi
pembekakan pada
radang usus besar
8. Obat aktif Kadiovaskular Nifedipin Cream Pengobatan dan
pencegahan
insufisiensi koroner
1. Rektal semisolid
Rektalcream, gels dan ointments digunakanuntuk pemberian topical ke area perianal. Beberapa produk rectal
cream, gel, dan ointment komersial yaitu :
2. Rektal Larutan
Rektal suspensi, emulsi, atau enema pada sediaan rectal sangat sedikit digunakan, karena tidak
menyenangkan dan kepatuhan pasien rendah. Contoh : rowasa rectal suspension enema (mesalamine),
asacol rectal suspension enema (mesalazine).
3. Rektal aerosol
Rektal aerosol atau busa rektal aerosol disertai dengan aplikator untuk memudahkan penggunaannya. Aplikator
dimasukkan kedalam wadah berisi produk, serta terdapat alat pengatur dosis obat aerosol. Aplikator dimasukkan
kedalamanus dan obat dapat diberikan melalui rektal.Contoh rektalaerosol : Proctofoam HC, Cortifoam
4. Suppositoria
Suppositoria adalah obat solid (padat) berbentuk peluru yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam anus/rektum
(suppositoria rektal), vagina (suppositoria vagina) atau uretra (suppositoria uretra). Suppositoria umumnya terbuat
dari minyak sayuran solid yang mengandung obat. Profeid supositoria, Dulcolax supositoria, Stesolid
supositoria, Boraginol supositoria, Tromos supositoria, dll.
• Cara Menggunakan Sediaan Rektal
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa
4. Olesi ujung obat supositoria dengan pelicin
5. Minta pasien mengambil posisi tidur miring (sims) lalu regangkan bokong dengan tangan kiri. Kemudian
masukkan supositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter interna dan mengenai dinding rektal kurang
lebih 10 cm pada orang dewasa, dan kurang lebih 5 cm untuk anak/bayi
6. Setelah selesai, tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu
7. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang/miring selama kurang lebih 15 menit
8. Kemudian lepaskan sarung tangan
9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
• Keuntungan Pemberian Obat lewat Rektal
a. Baik untuk pasien yang mengalami mual dan muntah
b. Baik untuk pasien yang tidak sadar
c. Baik untuk pasien yang menderita penyakit pencernaan bagian atas yang dapat mempengaruhi absorpsi obat
d. Metabolisme lintas pertama dihindari sebagian
• Kerugian Pemberian Obat lewat Rektal
a. Dapat menimbulkan peradangan bila digunakan terus menerus
b. Absorpsi obat tidak teratur
c. Tidak menyenangkan
d. Onset of action lebih lama
Sekian dan Terima Kasih
Semangat & Selamat berpuasa teman teman yang
menjalankan

Sediaan rektal.pptx

  • 1.
    Biofarmasi Sediaan Obat ygdiberikan secara Rektal Kelompok 5: Yusuf Muharram Fila Delfia Ningsih Evianti Randa Layuk Darmawatika
  • 2.
    Rektum merupakan salahsatu organ terakhir dari usus besar pada manusia dan beberapa jenis mamalia lainnya yang berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Pemberian obat baik bentuk padat maupun cair pada terapi pengobatan maupun perawatan di rektum akan mengalami suatu proses farmakodinamika (absorbsi, distribusi, metabolisme, serta ekskresi) yang berupa serangkain system dari pemberian hingga penyerapan molekul zat aktif pada reseptor. Rangkaian ini merupakan rincian dari DDS (Drug Delivery System). DDS adalah istilah yang terkait erat dengan penghantaran (delivery) senyawa farmasetik (obat) pada manusia atau binatang. Sistem penghantaran obat yang berkaitan dengan jumlah zat aktif yang diharapkan dapat dilepaskan sesuai dengan kinetika yang dikehendaki sehingga mencapai tempat tertentu dalam tubuh dimana titik penyerapan optimal. Merupakan suatu kesatuan struktur yang mempengaruhi ketersediaan hayati zat aktif.
  • 3.
  • 4.
    Luas permukaan rectal200-400 cm2, pada saat kosong rectum mengandung sejumlah kecil cairan (1-3 ml) dengan kapasitas buffer yang rendah; pH sekitar 7,2 karena kD(kecepatan disolusi), pH akan bervariasi sesuai obat yang terlarut di dalamnya. Panjang dari kolon sekitar 5 kaki (150 cm) dan terbagi lagi menjadi 5 segment. Rectum adalah segmen anatomi terakhir sebelum anus yang merupakan bagian distal usus besar. Rectum memiliki panjang pada manusia dewasa rata-rata 15-19 cm, 12-14 cm bagian pelvinal sampai 5- 6 cm bagian perineal, pada bagian teratas dibungkus dengan lapisan peritoneum. Sedang pada bagian bawah tidak dibungkus dengan peritoneum maka disebut pula dengan rectal ampula.Yaitu membrane serosa yang melapisi dinding rongga abdomen dan pelvis dan melapisi visera.Kedua lapisan tersebut menutupi ruang potensial, rongga peritoneum.Anal canal memiliki panjang 4-5 cm.
  • 5.
    Rektum dialiri 3jenis pembuluh darah : a) Vena haemorrhoidales superior yang bermuara ke vena mesentericum inferior, selanjutnya masuk kedalam vena porta, dan juga membawa darah langsung ke peredaran umum. b) Vena haemorrhoidales medialis dan vena haemorhoidales inferior yang bermuara ke venae cava inferior dengan perantara venae iliaca interna selanjutnya membawa darah ke peredaran umum (kecuali hati). c) Vena haemorrhoidales anterior = Vena haemorrhoidales medialis  Volume cairan dalam rektum sangat sedikit ( 2 mL) sehingga laju difusi obat menuju tempat absorpsi lebih lambat.  pH cairan rektum netral 7,2 -7,4, sehingga kemungkinan obat melarut lebih kecil dibanding oral yang terdiri dari beberapa bagian.  Adanya feses menghambat penyerapan, sehingga sebaiknya pemberian sediaan setelah defekasi. Rektum mempunyai dua peranan mekanik, yaitu sebagai tempat penampungan feses dan mendorongnya saat pengeluaran.
  • 6.
    Penyerapan obat padarectum dipengaruhi oleh: a. Kedudukan sediaan obat setelah pemakaian b. Penempatan sediaan obat di dalam rectum c. pH cairan rectum d. Konsentrasi zat aktif dalam cairan rectum Penyerapan di rektum dapat terjadi dengan tiga cara yaitu: 1. Lewat pembuluh darah secara langsung 2. Lewat pembuluh getah bening 3. Lewat pembuluh darah secara tidak langsung melalui hati.
  • 7.
    Obat – Obatpada Rektal No Golongan Contoh obat Bentuk Sediaan Indikasi 1. Anti Konvulsan Diazepam Gel Mengatasi gelisah yang berlebihan, gemetaran dan kegilaan tiba-tiba 2. Obat Pra Operasi dan Induksi Anestesi Pramoxine HCl Salep Anastesi Lokal 3. Analgesik Pronalges Ketoprofen Suppositoria Suppositoria Mengobati nyeri arthritis atau sakit gigi yang parah 4. Antiemetik Alizapride Suppositoria Mengobati rasa mual dan muntah- muntah 5. Senyawa anti bakteri Metronidazole Suppositoria Infeksi yang disebabkan trichomonal vaginitis dan bacterial vaginosis 6. Xantin Aminophilin Suppositoria Meringankan penyakit asma 7. Obat untuk penyakit radang usus Mesalazine Suspensi Mengurangi pembekakan pada radang usus besar 8. Obat aktif Kadiovaskular Nifedipin Cream Pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner
  • 8.
    1. Rektal semisolid Rektalcream,gels dan ointments digunakanuntuk pemberian topical ke area perianal. Beberapa produk rectal cream, gel, dan ointment komersial yaitu :
  • 9.
    2. Rektal Larutan Rektalsuspensi, emulsi, atau enema pada sediaan rectal sangat sedikit digunakan, karena tidak menyenangkan dan kepatuhan pasien rendah. Contoh : rowasa rectal suspension enema (mesalamine), asacol rectal suspension enema (mesalazine).
  • 10.
    3. Rektal aerosol Rektalaerosol atau busa rektal aerosol disertai dengan aplikator untuk memudahkan penggunaannya. Aplikator dimasukkan kedalam wadah berisi produk, serta terdapat alat pengatur dosis obat aerosol. Aplikator dimasukkan kedalamanus dan obat dapat diberikan melalui rektal.Contoh rektalaerosol : Proctofoam HC, Cortifoam
  • 11.
    4. Suppositoria Suppositoria adalahobat solid (padat) berbentuk peluru yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam anus/rektum (suppositoria rektal), vagina (suppositoria vagina) atau uretra (suppositoria uretra). Suppositoria umumnya terbuat dari minyak sayuran solid yang mengandung obat. Profeid supositoria, Dulcolax supositoria, Stesolid supositoria, Boraginol supositoria, Tromos supositoria, dll.
  • 12.
    • Cara MenggunakanSediaan Rektal 1. Cuci tangan 2. Gunakan sarung tangan 3. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa 4. Olesi ujung obat supositoria dengan pelicin 5. Minta pasien mengambil posisi tidur miring (sims) lalu regangkan bokong dengan tangan kiri. Kemudian masukkan supositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, dan kurang lebih 5 cm untuk anak/bayi 6. Setelah selesai, tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu 7. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang/miring selama kurang lebih 15 menit 8. Kemudian lepaskan sarung tangan 9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
  • 13.
    • Keuntungan PemberianObat lewat Rektal a. Baik untuk pasien yang mengalami mual dan muntah b. Baik untuk pasien yang tidak sadar c. Baik untuk pasien yang menderita penyakit pencernaan bagian atas yang dapat mempengaruhi absorpsi obat d. Metabolisme lintas pertama dihindari sebagian • Kerugian Pemberian Obat lewat Rektal a. Dapat menimbulkan peradangan bila digunakan terus menerus b. Absorpsi obat tidak teratur c. Tidak menyenangkan d. Onset of action lebih lama
  • 14.
    Sekian dan TerimaKasih Semangat & Selamat berpuasa teman teman yang menjalankan