PENGANTAR PENDIDIKAN
BAB VIII
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA
PENERAPANNYA
Rino arpa
DOSEN: ELDARNI,M.Pd
SEKOLAH TINGGI PERGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
DHARMA BAKTI LUBUK ALUNG
2012
3 MATERI YANG AKAN DIKAJI
Landasan pendidikan
Asas-asas pokok pendidikan
Penerapan asas-asas pendidikan dalam
kegiatan pembelajaran
Landasan pendidikan
• Landasan pendidikan merupakan dasar bagi upaya
pengembangan kependidikan dalam segala aspek.
• Terdapat beberapa landasan yang dapat dijadikan
sebagai titik tumpu dalam melakukan analisis kritis
terhadap kaidah-kaidah dan kenyataan dalam rangka
membuat kebijakan dan praktik pendidikan, sebagai
mana akan dibahas sebagai berikut:
1. Landasan filosofis (pancasila)
• Landasan filosofis merupakan landasan yang
berkaiatan dengan makna dan hakekat pendidikan.
Antara filsafat dengan pendidikan terdapat kaitan
yang sangat erat. Filsafat mencoba merumuskan
citra tentang manusia dan masyarakat. Sedangkan
pendidikan berusaha mewuwjudkan citra tersebut.
Rumusan tentang harkat dan martabat manusia
beserta masyarakat ikut menentukan tujuan dan
cara-cara penyelenggaran pendidikan indonesia
dilandasi oleh filsafat yang dianut oleh bangsa
indonesia, yakni pancasila.
 Pasal 2 undang-undang RI No.2 tahun 1989
menetapkan bahwa pendidikan nasional
berdasarkan pancasila dan undang-undang
dasar 1945. rician tentang dasar pendidikan
tersebut tercantum dalam penjelasan undang-
undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional yang menegaskan bahwa
pembangunan nasional termasuk pendidikan
adalah pengamalan pancasila.
 Sehubung dengan itu, pendidikan nasional
mengusahakan pembentukan manusia pancasila
sebagai manusia pembangunan yang tinggi
kualitasnya dan mandiri. Berarti pancasila
adalah jiwa seluruh rakyat
indonesia, kepribadian bangsa
indonesia, pandangan hidup bangsa
indonesia, dan dasar negara republik indonesia.
Pancasila ialah sumber sistem nilai dalam
pendidikan.dengan demikian bahwa pancasila
adalah landasan filosofis dalam segala kebijakan
dan praktik pendidikan.
2. Landasan sosiologis (masyarakat indonesia)
Landasan sosiologis merupakan tempat
bertumpu dalam
menentukan, mengarahkan, dan
mengembangkan kebijakan serta praktik
pendidikan, maka dalam hal
tersebut, menurut Ardhan (1986) secara
sosiologis perlu dikaji empat bidang.
A. Hubungan sistem pendididikan dengan
berbagai aspek kemasyarakatan
 Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
 Hubungan sistem pendidikan dan proses kontrol sosial
dengan sistem kekuasaan yang menentukan kebijakan
pendidikan
 Fungsi sitem dalam memelihara dan mendorong
proses sosial dan perubahan kebudayaan
 Hubungan pendidik dengan kelas sosial atau sistem
status
 Fungsionalisasi sisitem pendidikan dalam
hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
B. Hubungn kemanusiaan di sekolah
• Sifat kebudayaan sekolah yang berbeda dengan
kebudayaan di luar sekolah.
• Peserta dididk yang datang ke sekolah berasal
berbagai latar sosial budaya yang berbeda, sekolah
mempunyai pola interaksi dan struktur sosial
sendiri.
• Keadaan diatas akan mendatangkan konflik sosial
budaya,dari sisi pendidikan adalah tidak mungkin
melakukan pendekatan yang sama terhadap
peserta didik yang berbeda.
C. Pengaruh sekolah terhadap anggota:
• Peranan sosial guru
• Sifat kepribadian guru
• Pengaruh kepribadian guru terhadap perilaku
peserta didik.
• Fungsi sekolah dalam sosialisasi peserta
didik.
D. Interaksi anatar kelompok sosial sekolah
dengan kelompok lain dalam komunitasnya
• Lukisan tentang komunitas seperti yang tampak
pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
• Analisis tentang proses pendidikan dalam
hubungannya dengan sistem sosial setempat.
• Faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya
dengan organisasi sekolah.
3. Landasan kultural (kebudayaan nasional)
 Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan
timbal balik. Kebudayaan dapat dilestarikan dan
dikembangkan dengan jalan mewariskannya dari
satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal
maupun formal (sekolah).
 Anggota masyarakat berusaha melakukan
perubahan-perubahan yang sesuai denga
perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola
tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru
sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha
menuju pola-pola ini disebut transformasi
kebudayaan.
menghindari kegoncangan budaya dalam
penyelenggaraan pendidikan, Dewantara (1977):
Kontinuitet
Bahwa garis hidup sekarang harus merupakan lanjutan dari
hidup yang silam, jangan sekedar merupakan pengulangan
atau tiruan dari garis hidup masa lalu.
Konvergensi
Keharusan untuk menghindari hidup menyendiri atau
mengisolasi diri. tidak tertutup kemungkinan untuk belajar
dan menggunakan budaya lain untuk mampu hidup bersama
dengan berbagai bangsa di dunia.
Konsentristet
Kebudayaan lain boleh saja digunakan dan diintegrasikan
dengan kebudayaan sendiri,namun jangan sampai
kehilangan jati diri.
4. Landasan psikologis (perkembangan peserta didik)
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-
prinsip belajar dan perkembangan anak.
Pemahaman etrhadap peserta didik,
utamanya yang berkaitan dengan aspek
kejiwaan merupakan salah satu kunci
keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil
kajian dan penemuan psikologis sangat
diperlukan penerapannya dalam bidang
pendidikan.
Perkembangan Peserta Didik sebagai
Landasan Psikologis
• Pemahaman tumbuh kembang manusia
sangat penting sebagai bekal dasar untuk
memahami peserta didik dan menemukan
keputusan dan atau tindakan yang tepat
dalam membantu proses tumbuh kembang
itu secara efektif dan efisien.
5. Landasan ilmiah dan teknologi (ipteks)
• Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung
memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya
teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam
penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang
berkaitan erat dengan proses penyaluran
pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang
proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian
pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan
IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang
sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya
pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya
dalam pelestarian dan pengembangan iptek
tersebut.
Perkembangan IPTEK sebagai
Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran
manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan
manusia. Lembaga pendidikan, utamanya
pendidikan jalur sekolah harus mampu
mengakomodasi dan mengantisipasi
perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya
hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang
berkaitan dengan hasil perolehan informasi
maupun cara memproleh informasi itu dan
manfaatnya bagi masyarakat
6. Landasan legalistik
Pendidikan merupakan peristiwa multi
dimensi, bersangkut paut dengan berbagai
aspek kehidupan manusia dan masyarakat.
Kebijakan, penyelenggaraan, dan
pengembangan pendidikan dalam
masyarakat perlu disalurkan oleh titik tumpu
legalistik yang jelas dan syah. Landasan
legalistik segala hak dan kewajiban pendidik
dan peserta didik dapat terpelihara.
Asas-asas pokok pendidikan
Asas pendidikan merupakan sesuatu
kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan
berpikir, baik pada tahap perancangan
maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di
Indonesia, terdapat beberapa asas
pendidikan yang memberi arah dalam
merancang dan melaksanakan pendidikan
itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut
Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang
Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.
1. Asas Tutwuri Handayani
• Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti
dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan
oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh
Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua
semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing
Madyo Mangun Karso.
• Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu
kesatuan asas yaitu:
 Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
 Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi
dukungan dan semangat)
 Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
2. Asas belajar sepanjang hayat
• Asas belajar sepanjang hayat (life long learning)
merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap
pendidikan seumur hidup (life long education).
Kurikulum yang dapat meracang dan
diimplementasikan dengan memperhatikan dua
dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
Ø Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi
keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan
persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan
peserta didik di masa depan.
Ø Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu
katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan pengalaman di luar sekolah.
Belajar sepanjang hayat memiliki dua
misi, yakninya:
Mempelajarkan peserta didik dengan efisien
dan efektif
Meningkatkan kemauan dan kemampuan
belajar mandiri sebagai basis dari belajar
sepanjang hayat.
A. Dimensi vertikal
• Keterkaiatan dan kesinambungan antar tingkatan
persekolahan, harus pula terkait dengan kehidupan
peserta didik dimasa depan. Dalam dimensi vertikal
dianataranya ialah:
o Keterkaiatan antara kurikulum dengan masa depan
peserta didik
o Kurikulum dan perubahan sosial budaya
o Perancang kurikulum berdasarkan suatu prognosis
o Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian
pengetahuan
o Penyiapan untuk memikul tanggung jawab
B. Dimensi horizontal
• Keterkaiatan antara pengalaman belajar disekolah
dengan pengalaman diluar sekolah. Dalam dimensi
horizontal diantaranya:
 Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan diluar
sekolah
 Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah
 Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam
kegiatan belajar- mengajar.
3. Asas kemandirian dalam belajar
• Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin
dikembangkan kemandirian dalam belajar itu
dengan menghindari campur tangan guru, namun
guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.
• Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan
menempatkan guru dalamperan utama sebagai
fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan
yang memberikan peluang dalam melatih
kemandirian belajar peserta didik adalah sitem
CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).
strategi belajar-mengajar yang dapat mengebangkan
kemandirian dalam belajar, yaitu :
1. fasilitator
Sebagi fasilitator, guru diharapakan menyediakan dan
mengatur berbagai sumber belajar dengan sedemikian
rupa, sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi
dengan sumber-sumber tersebut.
2. Informator
Sebagai informator, pendidik harus menyadari bahwa dirinya
hanya merupakan bagian kecil saja dari sumber informasi
yang datangnya membanjir dewasa ini.
3. Motivator
Sebagai motivator, pendidik mengupayakan timbulnya
prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar
secara maksimal.
Penerapan asas-asas pendidikan
dalam kegiatan pembelajaran
A. Keadaan yang ditemui
 Usaha pemerintah dalam memperluas kesempatan
belejar
 Usaha pemerintah dalam pengadaan guru dan
tenaga pendidik
 Usaha pembaharuan kurikulum
 Pengadaan buku ajar
 Usaha pengadaan berbagai program pembinaa
generasi muda
 Usaha pengadaan dan pengembangan srana dan
prasarana
 Biaya pendidikan
Dari segi peserta didik
1. Minat terhadap pendidikan :
o Kurangnya sarana dan prasarana
o Lokasi sekolah yang jauh
o Alat transportasi
o Malas
2. Dukungan dari keluaraga dan masyarakat
B. Permasalahan yang dihadapi
 Tingkat pendidikan masyarakat relatif rendah
 Pembangunan dibidang pendidikan belum
sepenuhnya terealisasi
 Good goverment yang belum optimal
 Fasilitas pendidikan yang belum memadai dan
merata
 Kualitas pendidikan relatih rendah
 Pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam
berkarya
 Faktor ekonomi
 Dukungan keluarga dan masyarakat
Adapun kendala lain yang dihadapi dalam hal
pendidikan yaitu :
1. Faktor keluarga
• Dukungan dari keluarga
• Keadaan ekonomi
• Hidup rukun dan harmonis
• Jadi sahabat dan pendengar yang baik
2. Faktor lingkungan
• Jika lingkungan tempat tinggal memberi pengaruh
positif maka peserta didik alan mempunyai akhlak
yang baik pula, begitu sebaliknya.
• Jika anak-anak sebaya dengan peserta didik tidak
sekolah maka peserta didikpun malas untuk
sekolah.
3.Faktor pendidik
• Kurangnya pendekatan antara peserta didik
dengan pendidik
• Penggunaan media yang tidak tepat
• Buku panduan yang tidak memadai
C. Pengembangan penerapan asas-asas
pendidikan dalam kegiatan pembelajaran
1.Pendekatan komunikasi oleh guru
Kecenderungan bahwa para pendidik masih terikat oleh
penggunaan komunikasi satu arah dalam kegiatan
pembelajaran dengan mengandalkan metode ceramah.
Akibatnya, arus komunikasi cenderung satu
arah, rendahnya kemungkinan umpan balik dari pesrta
didik, dan cenderung hanya menghasilkan perubahan
pengetahuan (Rogers dan Schoemaker, 1981 ;
Depdikbud, 1983). Komunikasi yang demikian memberi
implikasi negatif terhadap out put pendidikan, yakni
membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar
mandiri,mereka lebih tergantung kepada informasi yang
dtang dari pendidik.
2. Peranan pendidik
Institusi pengajaran (sekolah dan sejenisnya) bukan
satu- satu-satunya sumber informasi, akan tetapi
berbagai institusidapat menjadi sumber informasi.
misalnya media massa dengan segala
jenisnya, seperti televisi, majalah, koran, radio, dan
internet. Oleh karena itu, tidak tertutup
kemungkinan bahwa orangtua, guru dosen atau
tutor ketinggalan informasi dibanding peserta didik.
Sehingga dengan demikian, amatlah penting untuk
mendorong peserta didik guna berupaya mencari
informasi sendiri yang dapat dikatakan sebagai
upaya belajar mandiri.
3. Masalah tujuan belajar
Tujuan belajar sudah harus diperluas dari sekedar
learning to know dan learning to do dengan
menambah learning to life together.
Selanjutnya, akibat kemajuan ilmu dan teknologi
yang berimplikasi pada perubahn lapangn
kerja, mengakibatkan apa yang dipelajari hari ini
belum tentu sesuai dengan tuntutan lapangan kerja
yang berubah pada beberapa tahun kedepan. Untuk
itu, tujuan kegiatan pembelajaran perlu diperluas
dengan learning to be, sehingga dengan tujuan yang
demikian apa yang dipelajari hari ini dapat
dijadikan sebagai dasar untuk belajar.

Reno pp

  • 1.
    PENGANTAR PENDIDIKAN BAB VIII LANDASANDAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA Rino arpa DOSEN: ELDARNI,M.Pd SEKOLAH TINGGI PERGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN DHARMA BAKTI LUBUK ALUNG 2012
  • 2.
    3 MATERI YANGAKAN DIKAJI Landasan pendidikan Asas-asas pokok pendidikan Penerapan asas-asas pendidikan dalam kegiatan pembelajaran
  • 3.
    Landasan pendidikan • Landasanpendidikan merupakan dasar bagi upaya pengembangan kependidikan dalam segala aspek. • Terdapat beberapa landasan yang dapat dijadikan sebagai titik tumpu dalam melakukan analisis kritis terhadap kaidah-kaidah dan kenyataan dalam rangka membuat kebijakan dan praktik pendidikan, sebagai mana akan dibahas sebagai berikut:
  • 4.
    1. Landasan filosofis(pancasila) • Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaiatan dengan makna dan hakekat pendidikan. Antara filsafat dengan pendidikan terdapat kaitan yang sangat erat. Filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat. Sedangkan pendidikan berusaha mewuwjudkan citra tersebut. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyarakat ikut menentukan tujuan dan cara-cara penyelenggaran pendidikan indonesia dilandasi oleh filsafat yang dianut oleh bangsa indonesia, yakni pancasila.
  • 5.
     Pasal 2undang-undang RI No.2 tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945. rician tentang dasar pendidikan tersebut tercantum dalam penjelasan undang- undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk pendidikan adalah pengamalan pancasila.
  • 6.
     Sehubung denganitu, pendidikan nasional mengusahakan pembentukan manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mandiri. Berarti pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa indonesia, pandangan hidup bangsa indonesia, dan dasar negara republik indonesia. Pancasila ialah sumber sistem nilai dalam pendidikan.dengan demikian bahwa pancasila adalah landasan filosofis dalam segala kebijakan dan praktik pendidikan.
  • 7.
    2. Landasan sosiologis(masyarakat indonesia) Landasan sosiologis merupakan tempat bertumpu dalam menentukan, mengarahkan, dan mengembangkan kebijakan serta praktik pendidikan, maka dalam hal tersebut, menurut Ardhan (1986) secara sosiologis perlu dikaji empat bidang.
  • 8.
    A. Hubungan sistempendididikan dengan berbagai aspek kemasyarakatan  Fungsi pendidikan dalam kebudayaan  Hubungan sistem pendidikan dan proses kontrol sosial dengan sistem kekuasaan yang menentukan kebijakan pendidikan  Fungsi sitem dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan  Hubungan pendidik dengan kelas sosial atau sistem status  Fungsionalisasi sisitem pendidikan dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.
  • 9.
    B. Hubungn kemanusiaandi sekolah • Sifat kebudayaan sekolah yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah. • Peserta dididk yang datang ke sekolah berasal berbagai latar sosial budaya yang berbeda, sekolah mempunyai pola interaksi dan struktur sosial sendiri. • Keadaan diatas akan mendatangkan konflik sosial budaya,dari sisi pendidikan adalah tidak mungkin melakukan pendekatan yang sama terhadap peserta didik yang berbeda.
  • 10.
    C. Pengaruh sekolahterhadap anggota: • Peranan sosial guru • Sifat kepribadian guru • Pengaruh kepribadian guru terhadap perilaku peserta didik. • Fungsi sekolah dalam sosialisasi peserta didik.
  • 11.
    D. Interaksi anatarkelompok sosial sekolah dengan kelompok lain dalam komunitasnya • Lukisan tentang komunitas seperti yang tampak pengaruhnya terhadap organisasi sekolah. • Analisis tentang proses pendidikan dalam hubungannya dengan sistem sosial setempat. • Faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
  • 12.
    3. Landasan kultural(kebudayaan nasional)  Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik. Kebudayaan dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan jalan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal maupun formal (sekolah).  Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan.
  • 13.
    menghindari kegoncangan budayadalam penyelenggaraan pendidikan, Dewantara (1977): Kontinuitet Bahwa garis hidup sekarang harus merupakan lanjutan dari hidup yang silam, jangan sekedar merupakan pengulangan atau tiruan dari garis hidup masa lalu. Konvergensi Keharusan untuk menghindari hidup menyendiri atau mengisolasi diri. tidak tertutup kemungkinan untuk belajar dan menggunakan budaya lain untuk mampu hidup bersama dengan berbagai bangsa di dunia. Konsentristet Kebudayaan lain boleh saja digunakan dan diintegrasikan dengan kebudayaan sendiri,namun jangan sampai kehilangan jati diri.
  • 14.
    4. Landasan psikologis(perkembangan peserta didik) Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip- prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
  • 15.
    Perkembangan Peserta Didiksebagai Landasan Psikologis • Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
  • 16.
    5. Landasan ilmiahdan teknologi (ipteks) • Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
  • 17.
    Perkembangan IPTEK sebagai LandasanIlmiah Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat
  • 18.
    6. Landasan legalistik Pendidikanmerupakan peristiwa multi dimensi, bersangkut paut dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan masyarakat. Kebijakan, penyelenggaraan, dan pengembangan pendidikan dalam masyarakat perlu disalurkan oleh titik tumpu legalistik yang jelas dan syah. Landasan legalistik segala hak dan kewajiban pendidik dan peserta didik dapat terpelihara.
  • 19.
    Asas-asas pokok pendidikan Asaspendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.
  • 20.
    1. Asas TutwuriHandayani • Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso. • Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:  Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)  Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)  Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
  • 21.
    2. Asas belajarsepanjang hayat • Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal. Ø Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan. Ø Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
  • 22.
    Belajar sepanjang hayatmemiliki dua misi, yakninya: Mempelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif Meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basis dari belajar sepanjang hayat.
  • 23.
    A. Dimensi vertikal •Keterkaiatan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan, harus pula terkait dengan kehidupan peserta didik dimasa depan. Dalam dimensi vertikal dianataranya ialah: o Keterkaiatan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik o Kurikulum dan perubahan sosial budaya o Perancang kurikulum berdasarkan suatu prognosis o Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan o Penyiapan untuk memikul tanggung jawab
  • 24.
    B. Dimensi horizontal •Keterkaiatan antara pengalaman belajar disekolah dengan pengalaman diluar sekolah. Dalam dimensi horizontal diantaranya:  Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan diluar sekolah  Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah  Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar- mengajar.
  • 25.
    3. Asas kemandiriandalam belajar • Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan. • Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).
  • 26.
    strategi belajar-mengajar yangdapat mengebangkan kemandirian dalam belajar, yaitu : 1. fasilitator Sebagi fasilitator, guru diharapakan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar dengan sedemikian rupa, sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. 2. Informator Sebagai informator, pendidik harus menyadari bahwa dirinya hanya merupakan bagian kecil saja dari sumber informasi yang datangnya membanjir dewasa ini. 3. Motivator Sebagai motivator, pendidik mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar secara maksimal.
  • 27.
  • 28.
    A. Keadaan yangditemui  Usaha pemerintah dalam memperluas kesempatan belejar  Usaha pemerintah dalam pengadaan guru dan tenaga pendidik  Usaha pembaharuan kurikulum  Pengadaan buku ajar  Usaha pengadaan berbagai program pembinaa generasi muda  Usaha pengadaan dan pengembangan srana dan prasarana  Biaya pendidikan
  • 29.
    Dari segi pesertadidik 1. Minat terhadap pendidikan : o Kurangnya sarana dan prasarana o Lokasi sekolah yang jauh o Alat transportasi o Malas 2. Dukungan dari keluaraga dan masyarakat
  • 30.
    B. Permasalahan yangdihadapi  Tingkat pendidikan masyarakat relatif rendah  Pembangunan dibidang pendidikan belum sepenuhnya terealisasi  Good goverment yang belum optimal  Fasilitas pendidikan yang belum memadai dan merata  Kualitas pendidikan relatih rendah  Pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam berkarya  Faktor ekonomi  Dukungan keluarga dan masyarakat
  • 31.
    Adapun kendala lainyang dihadapi dalam hal pendidikan yaitu : 1. Faktor keluarga • Dukungan dari keluarga • Keadaan ekonomi • Hidup rukun dan harmonis • Jadi sahabat dan pendengar yang baik
  • 32.
    2. Faktor lingkungan •Jika lingkungan tempat tinggal memberi pengaruh positif maka peserta didik alan mempunyai akhlak yang baik pula, begitu sebaliknya. • Jika anak-anak sebaya dengan peserta didik tidak sekolah maka peserta didikpun malas untuk sekolah.
  • 33.
    3.Faktor pendidik • Kurangnyapendekatan antara peserta didik dengan pendidik • Penggunaan media yang tidak tepat • Buku panduan yang tidak memadai
  • 34.
    C. Pengembangan penerapanasas-asas pendidikan dalam kegiatan pembelajaran 1.Pendekatan komunikasi oleh guru Kecenderungan bahwa para pendidik masih terikat oleh penggunaan komunikasi satu arah dalam kegiatan pembelajaran dengan mengandalkan metode ceramah. Akibatnya, arus komunikasi cenderung satu arah, rendahnya kemungkinan umpan balik dari pesrta didik, dan cenderung hanya menghasilkan perubahan pengetahuan (Rogers dan Schoemaker, 1981 ; Depdikbud, 1983). Komunikasi yang demikian memberi implikasi negatif terhadap out put pendidikan, yakni membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar mandiri,mereka lebih tergantung kepada informasi yang dtang dari pendidik.
  • 35.
    2. Peranan pendidik Institusipengajaran (sekolah dan sejenisnya) bukan satu- satu-satunya sumber informasi, akan tetapi berbagai institusidapat menjadi sumber informasi. misalnya media massa dengan segala jenisnya, seperti televisi, majalah, koran, radio, dan internet. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa orangtua, guru dosen atau tutor ketinggalan informasi dibanding peserta didik. Sehingga dengan demikian, amatlah penting untuk mendorong peserta didik guna berupaya mencari informasi sendiri yang dapat dikatakan sebagai upaya belajar mandiri.
  • 36.
    3. Masalah tujuanbelajar Tujuan belajar sudah harus diperluas dari sekedar learning to know dan learning to do dengan menambah learning to life together. Selanjutnya, akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang berimplikasi pada perubahn lapangn kerja, mengakibatkan apa yang dipelajari hari ini belum tentu sesuai dengan tuntutan lapangan kerja yang berubah pada beberapa tahun kedepan. Untuk itu, tujuan kegiatan pembelajaran perlu diperluas dengan learning to be, sehingga dengan tujuan yang demikian apa yang dipelajari hari ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk belajar.