PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“Pandangan TeoriPsikoanalisis, Behaviolisme, Kognitif,Humanisme Tentang
Karakter Manusia Dalam Komponen-komponen Komunikasi”
OLEH
UNIVERSITAS HOLU OLEO
KENDARI
2015
KONSEPSI PSIKOLOGI TENTANG MANUSIA
Banyak teori dalam komunikasi yang dilatar belakangi konsepsi-konsepsi
psikologi tentang manusia. Teori-teori persuasi sudah lama menggunakan konsepsi
psikoanalisis yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakan oleh
keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori jarum hipodermik (yang
menyatakan media masa sangat berpengaruh) dilandasi konsepsi behaviorisme yang
memandang manusia sebagai makhluk yang digerakan semaunya oleh lingkungan
(Homo Mechanicus). Teori pengolahan informasi jelas dibentuk oleh konsepsi psikologi
kognitif yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan
mengolah stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens). Teori-teori komunikasi
intrapersonal banyak dipengaruhi konsepsi psikologi humanistik yang mengambarkan
manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan
lingkungannya (Homo Ludens).
Teori Konsepsi Tentang Manusia Tokoh-tokoh
Psikoanalisis
Manusia memiliki keingingan
(Homo Volens)
Freud, Jung, Adler, Abraham,
Horney
Behaviorisme
Manusia diatur oleh lingkungan
(Homo Mechnicus)
Hull, Miller&Dollard, Rotter,
Sklinner, Bandura
Kognitif Manusia berpikir (Homo Sapiens)
Lewin, Heider, Festinger,
Piaget, Kohlberg
Humanisme Homo Ludens (Manusia Bermain)
Rogers, Combs&Snygg
Maslowl, May Satir, Perls
1. Konsepsi Manusia dalam psikoanalisis
Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah orang yang pertama berusaha
merumuskan psikologi manusia. Ia memfokuskan perhatiannya pada totalitas
kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagian yang terpisah (Asch, 1959; 17).
Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam
kepribadian manusia Id, Ego dan Superego.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis
manusia pusat instink (hawa nafsu dalam kamus agama). Ada dua instink dominan:
1) Libido instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan
manusia yang konstruktif.
2) Thanatosos instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink
kehidupan (eros), yang dalam konsep freud bukan hanya meliputi dorongan seksual,
tetapi juga semua yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada
Tuhan, dan cinta diri (narcism). Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan
thanatos. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin
segera memenuhi keinginannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu
dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.
Subsistem yang kedua ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas
dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional
dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukan hasrat
hewaninya. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle).
Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal.Superego adalah hati
nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan
kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak
berlainan ke alam bawah sadar. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia
merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (ego), dan
komponen sosial (superego); atau unsur animal, rasional, dan moral (hewani, akali, dan
nilai).
2. Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap intropeksionisme (yang menganalisa
jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan juga psikoanalisis (yang
berbicara alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisa
hanya perilaku yang nampak saja. Behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori
belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil
belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan.
Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau
emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui sebagaimana perilakunya
dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
Menurut paham ini,pengalaman adalah satu-satunya jalann ke kepemilikan
pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah
produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia,
kepribadian dan tempramen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran dan
perasaan bukan penyebab prilaku tetapi disebabkan prilaku masa lalu.
Namun behaviorisme bungkam ketika dihadapkan pada kata “self-motivated”.
Motivasi terjadi di dalam individu, sedangkan behaviorisme hanya melihat peristiwa-
peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran tidak menarik perhatian behavioristik.
3. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Kognitif
Ketika asumsi-asumsi Behaviorisme diserang habis-habisan pada akhir tahun 60-
an dan awal tahun 70-an, psikologi sosial bergerak kearah paradigma baru. Manusia
tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya,
tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya: makhluk yang
selalu berpikir (Homo Sapiens).
Kaum rasionalis memertanyakan apakah betul bahwa penginderaan kita, melalui
pengalaman langsung, sanggup memberikan kebenaran. Kemampuan alat indera kita
dipertanyakan karena seringkali gagal menyajikan informasi yang akurat. Descartes,
juga Kant, menyimpulkan bahwa jiwalah (mind) yang menjadi alat utama pengetahuan,
bukan alat indera. Jiwa menafsirkan pengalaman inderawi secara aktif: mencipta,
mengorganisasikan, menafsirkan, mendistorsi dan mencari makna. Tidak semua stimuli
kita terima.
Mula-mula psikologi Gestalt hanya menaruh perhatian pada persepsi obyek.
Beberapa orang menerapkan prinsip-prinsip Gestalt dalam menjelaskan perilaku sosial.
Di antara mereka adalah Kurt Lewin, Solomon Asch, dan Fritz Heider. Heider dan
Festinger membawa psikolagi kognitif ke dalam psikologi sosial. Secara singkat kita
akan melihat perkembangan pengaruh psikologi kognitif ini dalam psikologi sosial,
terutama untuk menggambarkan perkembangan konsepsi manusia dalam mazhab ini.
Kenyataan menunjukkan bahwa manusia tidaklah serasional dugaan di atas. Seringkali
malah penilaian orang didasarkan pada informasi yang tidak lengkap dan kurang begitu
rasional. Penilaian didasarkan pada data yang kurang, lalu dikombinasikan dan
diwarnai oleh prakonsepsi. Manusia menggunakan prinsip-prinsip umum dalam
menetapkan keputusan. Kahneman dan Tversky (1974) menyebutnya “cognitive
heuristics” (dalil-dalil kognitif).
Ada orang tua yang segera gembira ketika anaknya berpacaran dengan mahasiswa
ITB, karena berpegang pada “cognitive heuristics” bahwa mahasiswa ITB mempunyai
masa depan yang gemilang (tanpa memperhitungkan bahwa pacar anaknya adalah
mahasiswa seni rupa yang meragukan masa depannya). Dari sini rnuncullah konsepsi
Manusia sebagai Miskin Kognitif (The Person as Cognitive Miser). Walaupun psikologi
kognitif sering dikritik karena konsep-konsepnya sukar diuji, psikologi kognitif telah
memasukkan kembali “jiwa” manusia yang sudah dicabut oleh behaviorisme. Manusia
kini hidup dan mulai berpikir. Tetapi manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, ia
juga berusaha menemukan identitas dirinya dan mencapai apa yang didambakannya
Menurut Lewin prilaku manusia harus dilihat sesuai konteksnya karena menurut Lewin
behavior merupakan hasil interakasi dari person dan lingkungannya. Lewin juga
berbicara tentang tension yang menunjukkan suasana kejiwaan yang terjadi ketika
kebutuhan psikologi tidak terpenuhi. Teori ini pada pokoknya menyatakan bahwa
individu berusaha mengoptimalkan makna dalam persepsi, perasaan, kognisi dan
pengalaman. Bila makna tidak optimal, timbul tension yang memotivasi orang untuk
menguranginya.
4. Manusia dalam Konsepsi Psikologi Humanistik
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi
pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Pada behaviorisme manusia
hanyalah mesin yang dibentuk lingkungan, pada psikoanalisis manusia melulu
dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Dalam pandangan behaviorisme manusia menjadi
robot tanpa jiwa, tanpa nilai. Dalam psikoanalisis, seperti kata Freud seridiri, “we see a
man as a savage, beast” (1930:86). Keduanya tadak menghormati manusia sebagai
manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan
menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Inilah
yang diisi oleh psikologi humanistik. “Humanistic psychology’is not just the study of
‘human being- it is a commitment to human becoming, “tulis Floyd W. Matson (1973:19)
yang agak sukar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Carl Rogers
menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit
perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33):
a) Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di marxa
dia — sang Aku, Ku, atau diriku (the I, me, or myself) – menjadi, pusat: Perilaku
manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi rnanusia tentang identitas
dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan
fenomenal (phenomenal field). Medan keseluruhan pengalarnan subjektif
seorang manusia, yang terdiri dari pengalaman-pengalaman Aku dan Ku dan
pengalaman yang “bukan aku”.
b) Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan
mengaktualisasikan diri.
c) individu bereaksi pada situasi sesuai dengdn persepsi ren¢ang dirinya dan
dazrYianya — ia bereaksi paaa “realitas” seperti yang dipersepsikan olehnya
clan dengazz cara yang sesuai dengan iconsep dirinya.
d) Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri-
berupa penyempitan dan pengkakuan (rigid ification) persepsi dan perilaku
penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti rasionalisasi.
e) Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri.
Dalam kor.disi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta
rnemilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri.
Contoh Kasus :
Tembak Mati Polisi, Gasak Rp. 1,9 Miliar Perampokan di Bank Mandiri Capem Jl. Bukit
Kota, Kota Pinang, Labuhan Batu. Bandit-bandit jalanan itu menembak dua polisi dan
satu diantaranya kabur dengan membawa uang hasil rampokan. Polisi sulit mengetahui
identitas pada perampok. Sebab mereka menutupi wajahnya dengan kain sebo ketika
menjalankan aksinya. Aksi perampokan yang terjadi pukul 10.000 WIB pagi itu diawali
dengan kedatangan sebuah Daihatsu Troper berplat BM. Begitu berhenti di parkiran,
beberapa penumpang mobil itu berhamburan turun. Mereka langsung
memberondongkan tembakan ke udara. “Empat orang menenteng senpi laras panjang
dan dua senpi genggam,”ujar saksi mata di tempat kejadian. Setelah merobohkan
Bripda Lauri, enam perampok masuk ke bank. Mereka menodong kasir lalu
memaksanya untuk mengumpulkan uang yang ada di bank. Kasir yang ketakutan buru-
buru mengambil semua uang seperti yang diminta perampok (JP, 26 Oktober 2004).
Kengerian, ketakutan, keheranan, kebencian dan bahkan trauma psikologis barangkali
yang menjadi kata-kata yang terungkap setelah melihat atau mengalami peristiwa
tersebut.
(Sumber : salah satu berita di surat kabar)
Analisis :
Pendekatan Psikoanalisis
Perilaku kriminal merupakan representasi dari “Id” yang tidak terkendalikan oleh ego
dan super ego. Id ini merupakan impuls yang memiliki prinsip kenikmatan (Pleasure
Principle). Ketika prinsip itu dikembangkannya Superego terlalu lemah untuk
mengontrol impuls yang hedonistik ini. Pada akhirnya, perilaku untuk sekehendak hati
asalkan menyenangkan muncul dalam diri seseorang. Mengapa super-ego lemah? Hal
itu disebabkan oleh resolusi yang tidak baik dalam menghadapi konflik. Penjelasan
lainnya dari pendekatan psikoanalis yaitu bahwa tindakan kriminal disebabkan karena
rasa cemburu pada bapak yang tidak terselesaikan, sehingga individu senang
melakukan tindak kriminal untuk mendapatkan hukuman agar merasa diperhatikan.
Psikoanalist lain (Bowlby:1953) menyatakan bahwa aktivitas kriminal merupakan
pengganti dari rasa cinta dan afeksi. Umumnya kriminalitas dilakukan pada saat
hilangnya ikatan cinta ibu-anak.
Pendekatan Behaviorisme
Bandura menyatakan bahwa peran model dalam melakukan penyimpangan yang
berada di rumah, media, dan subcultur tertentu (gang) merupakan contoh baik tuntuk
terbentuknya perilaku kriminal orang lain. Observasi dan kemudian imitasi dan
identifikasi merupakan cara yang biasa dilakukan hingga terbentuknya perilaku
menyimpang tersebut. Ada dua cara observasi yang dilakukan terhadap model yaitu
secara langsung dan secara tidak langsung (melalui vicarious
reinforcement)Tampaknya metode ini yang paling berbahaya dalam menimbulkan
tindak kriminal. Sebab sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui observasi
terhadap model mengenai perilaku tertentu. Pada kasus diatas, mungkin ia
mempelajari dan meniru dari adaegan-adegan perampokan di film-film, terutama film
action barat, yang terkadang sangat tidak mungkin dilakukan di Negara kita.
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaludin. 2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung : Remaja
Rosdakarya
http : //www. Rumahbelajarpsikologi.com
http://forum.psikologi.ugm.ac.id

Psikologi

  • 1.
    PSIKOLOGI KOMUNIKASI “Pandangan TeoriPsikoanalisis,Behaviolisme, Kognitif,Humanisme Tentang Karakter Manusia Dalam Komponen-komponen Komunikasi” OLEH UNIVERSITAS HOLU OLEO KENDARI 2015
  • 2.
    KONSEPSI PSIKOLOGI TENTANGMANUSIA Banyak teori dalam komunikasi yang dilatar belakangi konsepsi-konsepsi psikologi tentang manusia. Teori-teori persuasi sudah lama menggunakan konsepsi psikoanalisis yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori jarum hipodermik (yang menyatakan media masa sangat berpengaruh) dilandasi konsepsi behaviorisme yang memandang manusia sebagai makhluk yang digerakan semaunya oleh lingkungan (Homo Mechanicus). Teori pengolahan informasi jelas dibentuk oleh konsepsi psikologi kognitif yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens). Teori-teori komunikasi intrapersonal banyak dipengaruhi konsepsi psikologi humanistik yang mengambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens). Teori Konsepsi Tentang Manusia Tokoh-tokoh Psikoanalisis Manusia memiliki keingingan (Homo Volens) Freud, Jung, Adler, Abraham, Horney Behaviorisme Manusia diatur oleh lingkungan (Homo Mechnicus) Hull, Miller&Dollard, Rotter, Sklinner, Bandura Kognitif Manusia berpikir (Homo Sapiens) Lewin, Heider, Festinger, Piaget, Kohlberg Humanisme Homo Ludens (Manusia Bermain) Rogers, Combs&Snygg Maslowl, May Satir, Perls 1. Konsepsi Manusia dalam psikoanalisis Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah orang yang pertama berusaha merumuskan psikologi manusia. Ia memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagian yang terpisah (Asch, 1959; 17).
  • 3.
    Menurut Freud, perilakumanusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia Id, Ego dan Superego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia pusat instink (hawa nafsu dalam kamus agama). Ada dua instink dominan: 1) Libido instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif. 2) Thanatosos instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink kehidupan (eros), yang dalam konsep freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga semua yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri (narcism). Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi keinginannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia. Subsistem yang kedua ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukan hasrat hewaninya. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle). Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal.Superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke alam bawah sadar. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (ego), dan komponen sosial (superego); atau unsur animal, rasional, dan moral (hewani, akali, dan nilai). 2. Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap intropeksionisme (yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja. Behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil
  • 4.
    belajar. Belajar artinyaperubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui sebagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Menurut paham ini,pengalaman adalah satu-satunya jalann ke kepemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan tempramen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran dan perasaan bukan penyebab prilaku tetapi disebabkan prilaku masa lalu. Namun behaviorisme bungkam ketika dihadapkan pada kata “self-motivated”. Motivasi terjadi di dalam individu, sedangkan behaviorisme hanya melihat peristiwa- peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran tidak menarik perhatian behavioristik. 3. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Kognitif Ketika asumsi-asumsi Behaviorisme diserang habis-habisan pada akhir tahun 60- an dan awal tahun 70-an, psikologi sosial bergerak kearah paradigma baru. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya: makhluk yang selalu berpikir (Homo Sapiens). Kaum rasionalis memertanyakan apakah betul bahwa penginderaan kita, melalui pengalaman langsung, sanggup memberikan kebenaran. Kemampuan alat indera kita dipertanyakan karena seringkali gagal menyajikan informasi yang akurat. Descartes, juga Kant, menyimpulkan bahwa jiwalah (mind) yang menjadi alat utama pengetahuan, bukan alat indera. Jiwa menafsirkan pengalaman inderawi secara aktif: mencipta, mengorganisasikan, menafsirkan, mendistorsi dan mencari makna. Tidak semua stimuli kita terima. Mula-mula psikologi Gestalt hanya menaruh perhatian pada persepsi obyek. Beberapa orang menerapkan prinsip-prinsip Gestalt dalam menjelaskan perilaku sosial. Di antara mereka adalah Kurt Lewin, Solomon Asch, dan Fritz Heider. Heider dan Festinger membawa psikolagi kognitif ke dalam psikologi sosial. Secara singkat kita akan melihat perkembangan pengaruh psikologi kognitif ini dalam psikologi sosial,
  • 5.
    terutama untuk menggambarkanperkembangan konsepsi manusia dalam mazhab ini. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia tidaklah serasional dugaan di atas. Seringkali malah penilaian orang didasarkan pada informasi yang tidak lengkap dan kurang begitu rasional. Penilaian didasarkan pada data yang kurang, lalu dikombinasikan dan diwarnai oleh prakonsepsi. Manusia menggunakan prinsip-prinsip umum dalam menetapkan keputusan. Kahneman dan Tversky (1974) menyebutnya “cognitive heuristics” (dalil-dalil kognitif). Ada orang tua yang segera gembira ketika anaknya berpacaran dengan mahasiswa ITB, karena berpegang pada “cognitive heuristics” bahwa mahasiswa ITB mempunyai masa depan yang gemilang (tanpa memperhitungkan bahwa pacar anaknya adalah mahasiswa seni rupa yang meragukan masa depannya). Dari sini rnuncullah konsepsi Manusia sebagai Miskin Kognitif (The Person as Cognitive Miser). Walaupun psikologi kognitif sering dikritik karena konsep-konsepnya sukar diuji, psikologi kognitif telah memasukkan kembali “jiwa” manusia yang sudah dicabut oleh behaviorisme. Manusia kini hidup dan mulai berpikir. Tetapi manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, ia juga berusaha menemukan identitas dirinya dan mencapai apa yang didambakannya Menurut Lewin prilaku manusia harus dilihat sesuai konteksnya karena menurut Lewin behavior merupakan hasil interakasi dari person dan lingkungannya. Lewin juga berbicara tentang tension yang menunjukkan suasana kejiwaan yang terjadi ketika kebutuhan psikologi tidak terpenuhi. Teori ini pada pokoknya menyatakan bahwa individu berusaha mengoptimalkan makna dalam persepsi, perasaan, kognisi dan pengalaman. Bila makna tidak optimal, timbul tension yang memotivasi orang untuk menguranginya. 4. Manusia dalam Konsepsi Psikologi Humanistik Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Pada behaviorisme manusia hanyalah mesin yang dibentuk lingkungan, pada psikoanalisis manusia melulu dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Dalam pandangan behaviorisme manusia menjadi robot tanpa jiwa, tanpa nilai. Dalam psikoanalisis, seperti kata Freud seridiri, “we see a man as a savage, beast” (1930:86). Keduanya tadak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan
  • 6.
    menentukan, seperti cinta,kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Inilah yang diisi oleh psikologi humanistik. “Humanistic psychology’is not just the study of ‘human being- it is a commitment to human becoming, “tulis Floyd W. Matson (1973:19) yang agak sukar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen, 1974:33): a) Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di marxa dia — sang Aku, Ku, atau diriku (the I, me, or myself) – menjadi, pusat: Perilaku manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi rnanusia tentang identitas dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan fenomenal (phenomenal field). Medan keseluruhan pengalarnan subjektif seorang manusia, yang terdiri dari pengalaman-pengalaman Aku dan Ku dan pengalaman yang “bukan aku”. b) Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri. c) individu bereaksi pada situasi sesuai dengdn persepsi ren¢ang dirinya dan dazrYianya — ia bereaksi paaa “realitas” seperti yang dipersepsikan olehnya clan dengazz cara yang sesuai dengan iconsep dirinya. d) Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri- berupa penyempitan dan pengkakuan (rigid ification) persepsi dan perilaku penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti rasionalisasi. e) Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kor.disi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta rnemilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri. Contoh Kasus : Tembak Mati Polisi, Gasak Rp. 1,9 Miliar Perampokan di Bank Mandiri Capem Jl. Bukit Kota, Kota Pinang, Labuhan Batu. Bandit-bandit jalanan itu menembak dua polisi dan satu diantaranya kabur dengan membawa uang hasil rampokan. Polisi sulit mengetahui identitas pada perampok. Sebab mereka menutupi wajahnya dengan kain sebo ketika menjalankan aksinya. Aksi perampokan yang terjadi pukul 10.000 WIB pagi itu diawali dengan kedatangan sebuah Daihatsu Troper berplat BM. Begitu berhenti di parkiran,
  • 7.
    beberapa penumpang mobilitu berhamburan turun. Mereka langsung memberondongkan tembakan ke udara. “Empat orang menenteng senpi laras panjang dan dua senpi genggam,”ujar saksi mata di tempat kejadian. Setelah merobohkan Bripda Lauri, enam perampok masuk ke bank. Mereka menodong kasir lalu memaksanya untuk mengumpulkan uang yang ada di bank. Kasir yang ketakutan buru- buru mengambil semua uang seperti yang diminta perampok (JP, 26 Oktober 2004). Kengerian, ketakutan, keheranan, kebencian dan bahkan trauma psikologis barangkali yang menjadi kata-kata yang terungkap setelah melihat atau mengalami peristiwa tersebut. (Sumber : salah satu berita di surat kabar) Analisis : Pendekatan Psikoanalisis Perilaku kriminal merupakan representasi dari “Id” yang tidak terkendalikan oleh ego dan super ego. Id ini merupakan impuls yang memiliki prinsip kenikmatan (Pleasure Principle). Ketika prinsip itu dikembangkannya Superego terlalu lemah untuk mengontrol impuls yang hedonistik ini. Pada akhirnya, perilaku untuk sekehendak hati asalkan menyenangkan muncul dalam diri seseorang. Mengapa super-ego lemah? Hal itu disebabkan oleh resolusi yang tidak baik dalam menghadapi konflik. Penjelasan lainnya dari pendekatan psikoanalis yaitu bahwa tindakan kriminal disebabkan karena rasa cemburu pada bapak yang tidak terselesaikan, sehingga individu senang melakukan tindak kriminal untuk mendapatkan hukuman agar merasa diperhatikan. Psikoanalist lain (Bowlby:1953) menyatakan bahwa aktivitas kriminal merupakan pengganti dari rasa cinta dan afeksi. Umumnya kriminalitas dilakukan pada saat hilangnya ikatan cinta ibu-anak. Pendekatan Behaviorisme Bandura menyatakan bahwa peran model dalam melakukan penyimpangan yang berada di rumah, media, dan subcultur tertentu (gang) merupakan contoh baik tuntuk terbentuknya perilaku kriminal orang lain. Observasi dan kemudian imitasi dan identifikasi merupakan cara yang biasa dilakukan hingga terbentuknya perilaku menyimpang tersebut. Ada dua cara observasi yang dilakukan terhadap model yaitu
  • 8.
    secara langsung dansecara tidak langsung (melalui vicarious reinforcement)Tampaknya metode ini yang paling berbahaya dalam menimbulkan tindak kriminal. Sebab sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui observasi terhadap model mengenai perilaku tertentu. Pada kasus diatas, mungkin ia mempelajari dan meniru dari adaegan-adegan perampokan di film-film, terutama film action barat, yang terkadang sangat tidak mungkin dilakukan di Negara kita.
  • 9.
    DAFTAR PUSTAKA Rakhmat, Jalaludin.2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya http : //www. Rumahbelajarpsikologi.com http://forum.psikologi.ugm.ac.id