PENDEKATAN STUDI
KASUS PADA PENELITIAN
KUALITATIF
TAUFIK RIZKI SISTA
STUDI KASUS
Studi kasus adalah sesuatu yang empiris inquiris yang:
• Menyelidiki fenomena di mana konteks kehidupan nyata,
bilamana:
• Batas-bagas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan
tegas, dan di mana:
• Multisumber bukti dimanfaatkan.
Dalam menentukan apakah Anda perlu melakukan
penelitian studi kasus, ada beberapa alasan yang
bisa dipertimbangkan selain pertanyaan riset yang
berfokus pada "bagaimana" atau "mengapa" suatu
fenomena sosial terjadi.
MENGAPA STUDI KASUS
▪Fokus pada fenomena
kompleks dan nyata
▪Pendekatan mendalam
▪Konteks penting
▪Fleksibilitas
▪Relevansi untuk berbagai
bidang
MENGAPA TIDAK STUDI KASUS
▪Generalisasi terbatas
▪Proses panjang dan rumit
▪Potensi bias
Strategi
Bentuk pertanyaan
peneliyian
Membutuhkan control
thd peristiwa
Fokus thd peristiwa
kontemporer
Eksperimen
Bagaimana, mengapa
iya Iya
Survey
Siapa, apa, Dimana,
berapa banyak.
Tidak Iya
Analisis Arsip
Siapa, apa, Dimana,
berapa banyak.
Tidak Iya/tidak
Histori
Bagaiama, mengapa
Tidak Tidak
Studi Kasus
Bagaimana, mengapa
Tidak Iya
DISAIN STUDI KASUS
MENDISAIN STUDI KASUS
Proporsi
Fenomena atau subjek yang akan
diteliti secara mendalam. Kasus ini
bisa berupa individu, kelompok,
organisasi, atau peristiwa tertentu
Kasus
Tidak semua studi kasus memiliki
proposisi, tetapi jika ada, ini
membantu memperjelas fokus
penelitian
Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan utama yang ingin
dijawab dalam studi kasus,
biasanya berbentuk "bagaimana"
atau "mengapa
Logika
Menghubungkan Data
- Proporsi
Cara menghubungkan data yang
dikumpulkan dengan proposisi
atau pertanyaan penelitian,
misalnya melalui pola, tren, atau
hubungan yang muncul dari data
Kriteria Penafsiran
Temuan
Pedoman atau ukuran yang
digunakan untuk menganalisis dan
menilai hasil penelitian, membantu
peneliti memahami apakah temuan
mendukung atau tidak mendukung
proposisi awal.
MENDEFINISIKAN KASUS
• Menetapkan Kasus: Pilih entitas yang akan dipelajari (misalnya, individu,
kelompok, atau program) dan tentukan aspek spesifik dari entitas tersebut yang
relevan dengan pertanyaan penelitian Anda.
• Mengelilingi Kasus (Bounding the Case): Tentukan batasan-batasan kasus,
seperti orang-orang yang termasuk dalam kelompok studi, batasan geografis,
dan waktu yang relevan. Misalnya, jika kasusnya adalah sebuah kota, Anda
mungkin hanya fokus pada kebijakan atau sektor tertentu di kota tersebut.
• Kasus bisa berupa individu (misalnya,
siswa berprestasi atau pemimpin
organisasi), kelompok kecil (misalnya,
keluarga atau komunitas), atau program
(misalnya, program pendidikan di
sekolah).
• Kasus bisa juga berupa peristiwa
(misalnya, gerakan sosial atau upaya
pemulihan bencana).
• Relevansi dengan Pertanyaan
Penelitian:
• Spesifikasi dan Fokus
CONTOH KASUS KRITERIA PENETUAN KASUS
KONTROL KUALITAS PENELITIAN DALAM
STUDI KASUS
Uji Taktik studi kasus
Tahap penelitian sewaktu terjadinya
taktik
Validitas konstruk Gunakan multi sumber sebagai bukti. Pengumpulan data.
Bangun rangkaian bukti. pengumpulan data
Meminta informan kuncimeninjau ulang
draft laporan studi kasus yang bersangkutan
Laporan
Validitas internal Kerjakan pola penjodohan Analisis data
Kerjakan penyusunan eksplanasi Analisis data
Kerjakan analisis deret waktu Analisis data
Validitas eksternal Gunakan logika replika dalam studi multi
kasus.
Desain penelitian
Reliabilitas Gunakan protokol studi kasus. Pengumpulan data
Kembangkan data dasar studi kasus Pengumpulan data
DISAIN-DISAIN STUDI KASUS
Desain-desain kasus tunggal Desain multi kasus
Holistik (unit analisis tunggal) Tipe 1 Tipe 3
Terjalin/ embeded (unit multi
analysis)
Tipe 2 Tipe 4
DISAIN KASUS TUNGGAL POTENSIAL
1. Manakala kasus tersebut menyatakan kasus penting dalam menguji
suatu teori yang telah disusun dengan baik.
2. Kasus tunggal ialah kasus yang menyajikan suatu kasus ekstrim
atau unik.
3. Kesempatan yang datang daripada peneliti sebelumnya.
PERSIAPAN PENGUMPULAN
DATA
KOMPETENSI DASAR PENELITI DALAM
PENGUMPULAN DATA
1. Kemampuan Mengajukan Pertanyaan yang Baik: Dapat mengajukan pertanyaan yang relevan
dan menafsirkan jawabannya secara adil tanpa bias.
2. Menjadi Pendengar yang Baik: Mampu mendengarkan dengan baik tanpa terjebak oleh ideologi
atau prasangka yang sudah ada.
3. Bersikap Adaptif: Mampu melihat situasi baru sebagai peluang, bukan ancaman, sehingga bisa
merespons dengan fleksibel terhadap perubahan yang muncul selama penelitian.
4. Memahami Isu yang Diteliti: Memiliki pemahaman yang kuat tentang isu yang diteliti, meskipun
penelitian tersebut bersifat eksploratif.
5. Melakukan Penelitian Secara Etis: Menjalankan penelitian dengan etika yang baik, bersikap
profesional, serta sensitif terhadap bukti yang berlawanan atau kontradiktif.
PROTOKOL STUDI KASUS
Bagian A
Gambaran umum tentang studi kasus,
termasuk tujuan, isu yang dipelajari, dan
bacaan terkait.
Bagian B
Prosedur pengumpulan data, perlindungan
subjek manusia, dan logistik.
Bagain D
Rencana awal laporan studi kasus, untuk
memastikan laporan berfokus pada topik inti.
Bagian C
Pertanyaan protokol yang harus dijawab
peneliti, serta sumber bukti yang relevan.
PROTOKOL BAGIAN A
Informasi Latar
Belakang
Pernyataan yang
diperlihatkan pada
pihat terkait
Isu Subtantif
Rujukan dan Bacaan Persetujuan Etis Basis Laporan Akhir
Contoh protocol lihat hal 134 buku Robert K. Yin
PROTOKOL BAGIAN B
1. Akses ke Organisasi atau Narasumber Kunci
2. Sumber Daya yang Memadai Selama Penelitian Lapangan
3. Prosedur Bantuan dan Bimbingan
4. Jadwal Pengumpulan Data
5. Mengantisipasi Peristiwa yang Tidak Terduga
PROTOKOL BAGIAN C
▪ Berfokus pada pertanyaan yang diarahkan kepada peneliti, bukan kepada narasumber
atau responden wawancara.
▪ Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengingatkan peneliti tentang data yang perlu
dikumpulkan dan alasan di balik pengumpulan data tersebut.
▪ Meskipun beberapa pertanyaan dapat digunakan sebagai panduan selama wawancara,
tujuan utama dari pertanyaan dalam Bagian C adalah untuk menjaga jalannya
pengumpulan data tetap sesuai rencana dan fokus pada topik yang sedang diteliti.
PROTOKOL BAGIAN C
▪ Bagian C juga harus memperjelas perbedaan lima tingkat pertanyaan yang relevan dalam
studi kasus:
1. Level 1: Pertanyaan yang diucapkan langsung kepada narasumber selama wawancara.
2. Level 2: Pertanyaan yang terkait dengan setiap kasus yang menjadi garis besar
penyelidikan peneliti.
3. Level 3: Pertanyaan yang berkaitan dengan pola temuan yang muncul di berbagai kasus
dalam studi kasus ganda.
4. Level 4: Pertanyaan yang mencakup seluruh studi, termasuk informasi dari literatur atau
data yang dipublikasikan, yang melampaui bukti dari studi kasus.
5. Level 5: Pertanyaan normatif yang berkaitan dengan rekomendasi kebijakan dan
kesimpulan, yang melampaui ruang lingkup sempit dari studi itu sendiri.
PELAKSANAAN
PENGUMPULAN DATA
Sumber Bukti Kekuatan Kelemahan
Dokumentasi
Dapat digunakan berulang kali.
Kesulitan dalam pengambilan
(retrievability) - sulit ditemukan.
Dapat mencakup nama, referensi, dan
detail yang tepat dari suatu kejadian.
Selektivitas yang bias.
Dapat mencakup rentang waktu yang
panjang, banyak peristiwa, dan banyak
situasi.
Bias pelaporan - refleks bias dari penulis
dokumen tertentu.
Catatan Arsip
Sama seperti dokumentasi. Sama seperti dokumentasi.
Tepat dan biasanya bersifat kuantitatif.
Aksesibilitas mungkin sulit karena
alasan privasi.
Wawancara
Terfokus langsung pada topik studi
kasus.
Bias akibat pertanyaan yang dirumuskan
dengan buruk.
Memberikan wawasan, memungkinkan
penjelasan dan pandangan pribadi.
Bias respons.
Ketidakakuratan karena daya ingat yang
buruk.
Reflektif, pewawancara mungkin
mengatakan apa yang ingin didengar
oleh peneliti.
Observasi Langsung
Mengamati tindakan secara real-
time.
Memakan waktu.
Kontekstual, mencakup konteks studi
kasus.
Cakupan luas sulit tanpa tim
pengamat.
Tindakan mungkin berbeda karena
partisipan sadar sedang diamati.
Observasi Partisipan
Sama seperti observasi langsung. Sama seperti observasi langsung.
Memberikan wawasan tentang
perilaku interpersonal dan motif.
Bias akibat manipulasi partisipan-
pengamat terhadap kejadian.
Artefak Fisik
Memberikan wawasan tentang fitur
budaya.
Ketersediaan mungkin terbatas.
Memberikan wawasan tentang
operasi teknis.
---
PRINSIP DASAR PENGUMPULAN DATA
Menggunakan
beberapa sumber
bukti, bukan hanya
satu
Membuat basis data
studi kasus
Mempertahankan
rangkaian bukti
ANALSIS BUKTI STUDI
KASUS
BENTUK-BENTUK ANALSIS DOMINAN
DALAM STUDI KASUS
▪MATCHING PATERN / PENJODOHAN POLA
▪BUILDING EXPLANATION / MEMBANGUN
PENJELASAN
▪TIME SERIES /DERET WAKTU
▪MODEL LOGIKA
PENJODOHAN POLA
Pencocokan Pola adalah teknik yang digunakan untuk membandingkan pola
empiris yang diperoleh dari studi kasus dengan pola yang diprediksi sebelum
pengumpulan data. Jika pola empiris dan pola yang diprediksi mirip, ini dapat
memperkuat validitas internal studi kasus.
MEMBANGUN PENJELASAN
Membangun penjelasan berarti menetapkan rangkaian kausal yang
diasumsikan mengenai suatu fenomena, yaitu menjelaskan
"bagaimana" atau "mengapa" suatu hasil terjadi. Rangkaian kausal
ini seringkali kompleks dan sulit diukur secara tepat.
PROSES MEMBANGUN PENJELASAN
o Membuat pernyataan teoritis awal yang bersifat sementara.
o Membandingkan data dari studi kasus dengan pernyataan tersebut.
o Merevisi pernyataan awal berdasarkan data yang diperoleh.
o Membandingkan rincian lain dalam kasus dengan revisi yang telah dibuat.
o Jika melakukan studi kasus ganda, membandingkan revisi dari kasus pertama dengan
data dari kasus kedua, ketiga, dan seterusnya, yang dapat menghasilkan revisi lebih
lanjut.
o Mengulangi proses ini untuk setiap kasus yang relevan hingga diperlukan.
ANALSIS DERET WAKTU
▪ Analisis deret waktu adalah teknik analisis yang digunakan untuk meneliti perubahan suatu
variabel seiring waktu. Ini mirip dengan analisis deret waktu dalam psikologi perilaku dan
klinis, dan bertujuan untuk menemukan pola yang dapat memberikan dasar yang kuat untuk
kesimpulan dalam studi kasus.
▪ Mengumpulkan kejadian dalam urutan kronologis adalah teknik yang umum dalam studi
kasus. Ini berfungsi untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dengan meneliti urutan waktu
dari kejadian. Urutan yang tepat tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga dapat menjelaskan
fenomena.
MODEL LOGIKA
▪ Alur Peristiwa: Model logika menggambarkan rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir, sering kali
berbentuk kotak dan panah, yang menunjukkan hubungan sebab-akibat di setiap tahap.
▪ Intervensi Terencana: Setiap tahap dalam model logika dapat diintervensi melalui program-program
yang direncanakan (misalnya, program komunitas), yang bertujuan mengubah jalur individu dan
mencegah hasil negatif.
▪ Peluang Intervensi: Model logika sering kali menyertakan titik-titik spesifik di mana intervensi dapat
dilakukan. Misalnya, ada 11 titik intervensi dalam model individu di mana tindakan dapat diambil untuk
mengubah jalur perilaku remaja.
▪ Penelitian atau Evaluasi Program: Model ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program
intervensi dengan membandingkan jalur teoritis dengan data yang diobservasi. Penelitian dapat
dilakukan secara retrospektif atau prospektif untuk menganalisis jalur yang diambil oleh subjek studi.
MODEL LOGIKA
▪ Kontribusi Pengetahuan: Jika model logika memberikan wawasan baru yang bertentangan atau
memperbaiki teori yang ada, maka studi ini dapat memberikan kontribusi penting bagi
pengetahuan baru, baik dalam penelitian maupun praktik.
▪ Fleksibilitas Penggunaan: Model logika dapat digunakan baik untuk menganalisis jalur tanpa
intervensi (seperti bagaimana individu menjalani proses peristiwa), maupun untuk menilai
efektivitas intervensi.
▪ Kerangka Teori Awal: Model logika berfungsi sebagai kerangka teori awal yang memandu
penelitian dan analisis data, memberikan struktur untuk memahami proses yang kompleks dan
hubungan sebab-akibat dalam studi kasus.
▪ Evaluasi Rival atau Alternatif: Selain analisis utama, model logika juga dapat digunakan untuk
mempertimbangkan jalur peristiwa rival atau kemungkinan adanya faktor eksternal yang
mempengaruhi hasil akhir.
MODEL LOGIKA
JURNAL STUDI KASUS
PRESENTASI METODE PENELITIAN STUDI KASUS.pdf

PRESENTASI METODE PENELITIAN STUDI KASUS.pdf

  • 1.
    PENDEKATAN STUDI KASUS PADAPENELITIAN KUALITATIF TAUFIK RIZKI SISTA
  • 2.
    STUDI KASUS Studi kasusadalah sesuatu yang empiris inquiris yang: • Menyelidiki fenomena di mana konteks kehidupan nyata, bilamana: • Batas-bagas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas, dan di mana: • Multisumber bukti dimanfaatkan.
  • 3.
    Dalam menentukan apakahAnda perlu melakukan penelitian studi kasus, ada beberapa alasan yang bisa dipertimbangkan selain pertanyaan riset yang berfokus pada "bagaimana" atau "mengapa" suatu fenomena sosial terjadi.
  • 4.
    MENGAPA STUDI KASUS ▪Fokuspada fenomena kompleks dan nyata ▪Pendekatan mendalam ▪Konteks penting ▪Fleksibilitas ▪Relevansi untuk berbagai bidang MENGAPA TIDAK STUDI KASUS ▪Generalisasi terbatas ▪Proses panjang dan rumit ▪Potensi bias
  • 5.
    Strategi Bentuk pertanyaan peneliyian Membutuhkan control thdperistiwa Fokus thd peristiwa kontemporer Eksperimen Bagaimana, mengapa iya Iya Survey Siapa, apa, Dimana, berapa banyak. Tidak Iya Analisis Arsip Siapa, apa, Dimana, berapa banyak. Tidak Iya/tidak Histori Bagaiama, mengapa Tidak Tidak Studi Kasus Bagaimana, mengapa Tidak Iya
  • 6.
  • 7.
    MENDISAIN STUDI KASUS Proporsi Fenomenaatau subjek yang akan diteliti secara mendalam. Kasus ini bisa berupa individu, kelompok, organisasi, atau peristiwa tertentu Kasus Tidak semua studi kasus memiliki proposisi, tetapi jika ada, ini membantu memperjelas fokus penelitian Pertanyaan Penelitian Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam studi kasus, biasanya berbentuk "bagaimana" atau "mengapa Logika Menghubungkan Data - Proporsi Cara menghubungkan data yang dikumpulkan dengan proposisi atau pertanyaan penelitian, misalnya melalui pola, tren, atau hubungan yang muncul dari data Kriteria Penafsiran Temuan Pedoman atau ukuran yang digunakan untuk menganalisis dan menilai hasil penelitian, membantu peneliti memahami apakah temuan mendukung atau tidak mendukung proposisi awal.
  • 8.
    MENDEFINISIKAN KASUS • MenetapkanKasus: Pilih entitas yang akan dipelajari (misalnya, individu, kelompok, atau program) dan tentukan aspek spesifik dari entitas tersebut yang relevan dengan pertanyaan penelitian Anda. • Mengelilingi Kasus (Bounding the Case): Tentukan batasan-batasan kasus, seperti orang-orang yang termasuk dalam kelompok studi, batasan geografis, dan waktu yang relevan. Misalnya, jika kasusnya adalah sebuah kota, Anda mungkin hanya fokus pada kebijakan atau sektor tertentu di kota tersebut.
  • 9.
    • Kasus bisaberupa individu (misalnya, siswa berprestasi atau pemimpin organisasi), kelompok kecil (misalnya, keluarga atau komunitas), atau program (misalnya, program pendidikan di sekolah). • Kasus bisa juga berupa peristiwa (misalnya, gerakan sosial atau upaya pemulihan bencana). • Relevansi dengan Pertanyaan Penelitian: • Spesifikasi dan Fokus CONTOH KASUS KRITERIA PENETUAN KASUS
  • 10.
    KONTROL KUALITAS PENELITIANDALAM STUDI KASUS Uji Taktik studi kasus Tahap penelitian sewaktu terjadinya taktik Validitas konstruk Gunakan multi sumber sebagai bukti. Pengumpulan data. Bangun rangkaian bukti. pengumpulan data Meminta informan kuncimeninjau ulang draft laporan studi kasus yang bersangkutan Laporan Validitas internal Kerjakan pola penjodohan Analisis data Kerjakan penyusunan eksplanasi Analisis data Kerjakan analisis deret waktu Analisis data Validitas eksternal Gunakan logika replika dalam studi multi kasus. Desain penelitian Reliabilitas Gunakan protokol studi kasus. Pengumpulan data Kembangkan data dasar studi kasus Pengumpulan data
  • 11.
    DISAIN-DISAIN STUDI KASUS Desain-desainkasus tunggal Desain multi kasus Holistik (unit analisis tunggal) Tipe 1 Tipe 3 Terjalin/ embeded (unit multi analysis) Tipe 2 Tipe 4
  • 12.
    DISAIN KASUS TUNGGALPOTENSIAL 1. Manakala kasus tersebut menyatakan kasus penting dalam menguji suatu teori yang telah disusun dengan baik. 2. Kasus tunggal ialah kasus yang menyajikan suatu kasus ekstrim atau unik. 3. Kesempatan yang datang daripada peneliti sebelumnya.
  • 13.
  • 14.
    KOMPETENSI DASAR PENELITIDALAM PENGUMPULAN DATA 1. Kemampuan Mengajukan Pertanyaan yang Baik: Dapat mengajukan pertanyaan yang relevan dan menafsirkan jawabannya secara adil tanpa bias. 2. Menjadi Pendengar yang Baik: Mampu mendengarkan dengan baik tanpa terjebak oleh ideologi atau prasangka yang sudah ada. 3. Bersikap Adaptif: Mampu melihat situasi baru sebagai peluang, bukan ancaman, sehingga bisa merespons dengan fleksibel terhadap perubahan yang muncul selama penelitian. 4. Memahami Isu yang Diteliti: Memiliki pemahaman yang kuat tentang isu yang diteliti, meskipun penelitian tersebut bersifat eksploratif. 5. Melakukan Penelitian Secara Etis: Menjalankan penelitian dengan etika yang baik, bersikap profesional, serta sensitif terhadap bukti yang berlawanan atau kontradiktif.
  • 15.
    PROTOKOL STUDI KASUS BagianA Gambaran umum tentang studi kasus, termasuk tujuan, isu yang dipelajari, dan bacaan terkait. Bagian B Prosedur pengumpulan data, perlindungan subjek manusia, dan logistik. Bagain D Rencana awal laporan studi kasus, untuk memastikan laporan berfokus pada topik inti. Bagian C Pertanyaan protokol yang harus dijawab peneliti, serta sumber bukti yang relevan.
  • 16.
    PROTOKOL BAGIAN A InformasiLatar Belakang Pernyataan yang diperlihatkan pada pihat terkait Isu Subtantif Rujukan dan Bacaan Persetujuan Etis Basis Laporan Akhir Contoh protocol lihat hal 134 buku Robert K. Yin
  • 17.
    PROTOKOL BAGIAN B 1.Akses ke Organisasi atau Narasumber Kunci 2. Sumber Daya yang Memadai Selama Penelitian Lapangan 3. Prosedur Bantuan dan Bimbingan 4. Jadwal Pengumpulan Data 5. Mengantisipasi Peristiwa yang Tidak Terduga
  • 18.
    PROTOKOL BAGIAN C ▪Berfokus pada pertanyaan yang diarahkan kepada peneliti, bukan kepada narasumber atau responden wawancara. ▪ Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengingatkan peneliti tentang data yang perlu dikumpulkan dan alasan di balik pengumpulan data tersebut. ▪ Meskipun beberapa pertanyaan dapat digunakan sebagai panduan selama wawancara, tujuan utama dari pertanyaan dalam Bagian C adalah untuk menjaga jalannya pengumpulan data tetap sesuai rencana dan fokus pada topik yang sedang diteliti.
  • 19.
    PROTOKOL BAGIAN C ▪Bagian C juga harus memperjelas perbedaan lima tingkat pertanyaan yang relevan dalam studi kasus: 1. Level 1: Pertanyaan yang diucapkan langsung kepada narasumber selama wawancara. 2. Level 2: Pertanyaan yang terkait dengan setiap kasus yang menjadi garis besar penyelidikan peneliti. 3. Level 3: Pertanyaan yang berkaitan dengan pola temuan yang muncul di berbagai kasus dalam studi kasus ganda. 4. Level 4: Pertanyaan yang mencakup seluruh studi, termasuk informasi dari literatur atau data yang dipublikasikan, yang melampaui bukti dari studi kasus. 5. Level 5: Pertanyaan normatif yang berkaitan dengan rekomendasi kebijakan dan kesimpulan, yang melampaui ruang lingkup sempit dari studi itu sendiri.
  • 20.
  • 21.
    Sumber Bukti KekuatanKelemahan Dokumentasi Dapat digunakan berulang kali. Kesulitan dalam pengambilan (retrievability) - sulit ditemukan. Dapat mencakup nama, referensi, dan detail yang tepat dari suatu kejadian. Selektivitas yang bias. Dapat mencakup rentang waktu yang panjang, banyak peristiwa, dan banyak situasi. Bias pelaporan - refleks bias dari penulis dokumen tertentu. Catatan Arsip Sama seperti dokumentasi. Sama seperti dokumentasi. Tepat dan biasanya bersifat kuantitatif. Aksesibilitas mungkin sulit karena alasan privasi. Wawancara Terfokus langsung pada topik studi kasus. Bias akibat pertanyaan yang dirumuskan dengan buruk. Memberikan wawasan, memungkinkan penjelasan dan pandangan pribadi. Bias respons. Ketidakakuratan karena daya ingat yang buruk. Reflektif, pewawancara mungkin mengatakan apa yang ingin didengar oleh peneliti.
  • 22.
    Observasi Langsung Mengamati tindakansecara real- time. Memakan waktu. Kontekstual, mencakup konteks studi kasus. Cakupan luas sulit tanpa tim pengamat. Tindakan mungkin berbeda karena partisipan sadar sedang diamati. Observasi Partisipan Sama seperti observasi langsung. Sama seperti observasi langsung. Memberikan wawasan tentang perilaku interpersonal dan motif. Bias akibat manipulasi partisipan- pengamat terhadap kejadian. Artefak Fisik Memberikan wawasan tentang fitur budaya. Ketersediaan mungkin terbatas. Memberikan wawasan tentang operasi teknis. ---
  • 23.
    PRINSIP DASAR PENGUMPULANDATA Menggunakan beberapa sumber bukti, bukan hanya satu Membuat basis data studi kasus Mempertahankan rangkaian bukti
  • 24.
  • 25.
    BENTUK-BENTUK ANALSIS DOMINAN DALAMSTUDI KASUS ▪MATCHING PATERN / PENJODOHAN POLA ▪BUILDING EXPLANATION / MEMBANGUN PENJELASAN ▪TIME SERIES /DERET WAKTU ▪MODEL LOGIKA
  • 26.
    PENJODOHAN POLA Pencocokan Polaadalah teknik yang digunakan untuk membandingkan pola empiris yang diperoleh dari studi kasus dengan pola yang diprediksi sebelum pengumpulan data. Jika pola empiris dan pola yang diprediksi mirip, ini dapat memperkuat validitas internal studi kasus.
  • 27.
    MEMBANGUN PENJELASAN Membangun penjelasanberarti menetapkan rangkaian kausal yang diasumsikan mengenai suatu fenomena, yaitu menjelaskan "bagaimana" atau "mengapa" suatu hasil terjadi. Rangkaian kausal ini seringkali kompleks dan sulit diukur secara tepat.
  • 28.
    PROSES MEMBANGUN PENJELASAN oMembuat pernyataan teoritis awal yang bersifat sementara. o Membandingkan data dari studi kasus dengan pernyataan tersebut. o Merevisi pernyataan awal berdasarkan data yang diperoleh. o Membandingkan rincian lain dalam kasus dengan revisi yang telah dibuat. o Jika melakukan studi kasus ganda, membandingkan revisi dari kasus pertama dengan data dari kasus kedua, ketiga, dan seterusnya, yang dapat menghasilkan revisi lebih lanjut. o Mengulangi proses ini untuk setiap kasus yang relevan hingga diperlukan.
  • 29.
    ANALSIS DERET WAKTU ▪Analisis deret waktu adalah teknik analisis yang digunakan untuk meneliti perubahan suatu variabel seiring waktu. Ini mirip dengan analisis deret waktu dalam psikologi perilaku dan klinis, dan bertujuan untuk menemukan pola yang dapat memberikan dasar yang kuat untuk kesimpulan dalam studi kasus. ▪ Mengumpulkan kejadian dalam urutan kronologis adalah teknik yang umum dalam studi kasus. Ini berfungsi untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dengan meneliti urutan waktu dari kejadian. Urutan yang tepat tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga dapat menjelaskan fenomena.
  • 30.
    MODEL LOGIKA ▪ AlurPeristiwa: Model logika menggambarkan rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir, sering kali berbentuk kotak dan panah, yang menunjukkan hubungan sebab-akibat di setiap tahap. ▪ Intervensi Terencana: Setiap tahap dalam model logika dapat diintervensi melalui program-program yang direncanakan (misalnya, program komunitas), yang bertujuan mengubah jalur individu dan mencegah hasil negatif. ▪ Peluang Intervensi: Model logika sering kali menyertakan titik-titik spesifik di mana intervensi dapat dilakukan. Misalnya, ada 11 titik intervensi dalam model individu di mana tindakan dapat diambil untuk mengubah jalur perilaku remaja. ▪ Penelitian atau Evaluasi Program: Model ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program intervensi dengan membandingkan jalur teoritis dengan data yang diobservasi. Penelitian dapat dilakukan secara retrospektif atau prospektif untuk menganalisis jalur yang diambil oleh subjek studi.
  • 31.
    MODEL LOGIKA ▪ KontribusiPengetahuan: Jika model logika memberikan wawasan baru yang bertentangan atau memperbaiki teori yang ada, maka studi ini dapat memberikan kontribusi penting bagi pengetahuan baru, baik dalam penelitian maupun praktik. ▪ Fleksibilitas Penggunaan: Model logika dapat digunakan baik untuk menganalisis jalur tanpa intervensi (seperti bagaimana individu menjalani proses peristiwa), maupun untuk menilai efektivitas intervensi. ▪ Kerangka Teori Awal: Model logika berfungsi sebagai kerangka teori awal yang memandu penelitian dan analisis data, memberikan struktur untuk memahami proses yang kompleks dan hubungan sebab-akibat dalam studi kasus. ▪ Evaluasi Rival atau Alternatif: Selain analisis utama, model logika juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan jalur peristiwa rival atau kemungkinan adanya faktor eksternal yang mempengaruhi hasil akhir.
  • 32.
  • 33.