STUDI KASUS
Studi kasusadalah sesuatu yang empiris inquiris yang:
• Menyelidiki fenomena di mana konteks kehidupan nyata,
bilamana:
• Batas-bagas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan
tegas, dan di mana:
• Multisumber bukti dimanfaatkan.
3.
Dalam menentukan apakahAnda perlu melakukan
penelitian studi kasus, ada beberapa alasan yang
bisa dipertimbangkan selain pertanyaan riset yang
berfokus pada "bagaimana" atau "mengapa" suatu
fenomena sosial terjadi.
4.
MENGAPA STUDI KASUS
▪Fokuspada fenomena
kompleks dan nyata
▪Pendekatan mendalam
▪Konteks penting
▪Fleksibilitas
▪Relevansi untuk berbagai
bidang
MENGAPA TIDAK STUDI KASUS
▪Generalisasi terbatas
▪Proses panjang dan rumit
▪Potensi bias
5.
Strategi
Bentuk pertanyaan
peneliyian
Membutuhkan control
thdperistiwa
Fokus thd peristiwa
kontemporer
Eksperimen
Bagaimana, mengapa
iya Iya
Survey
Siapa, apa, Dimana,
berapa banyak.
Tidak Iya
Analisis Arsip
Siapa, apa, Dimana,
berapa banyak.
Tidak Iya/tidak
Histori
Bagaiama, mengapa
Tidak Tidak
Studi Kasus
Bagaimana, mengapa
Tidak Iya
MENDISAIN STUDI KASUS
Proporsi
Fenomenaatau subjek yang akan
diteliti secara mendalam. Kasus ini
bisa berupa individu, kelompok,
organisasi, atau peristiwa tertentu
Kasus
Tidak semua studi kasus memiliki
proposisi, tetapi jika ada, ini
membantu memperjelas fokus
penelitian
Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan utama yang ingin
dijawab dalam studi kasus,
biasanya berbentuk "bagaimana"
atau "mengapa
Logika
Menghubungkan Data
- Proporsi
Cara menghubungkan data yang
dikumpulkan dengan proposisi
atau pertanyaan penelitian,
misalnya melalui pola, tren, atau
hubungan yang muncul dari data
Kriteria Penafsiran
Temuan
Pedoman atau ukuran yang
digunakan untuk menganalisis dan
menilai hasil penelitian, membantu
peneliti memahami apakah temuan
mendukung atau tidak mendukung
proposisi awal.
8.
MENDEFINISIKAN KASUS
• MenetapkanKasus: Pilih entitas yang akan dipelajari (misalnya, individu,
kelompok, atau program) dan tentukan aspek spesifik dari entitas tersebut yang
relevan dengan pertanyaan penelitian Anda.
• Mengelilingi Kasus (Bounding the Case): Tentukan batasan-batasan kasus,
seperti orang-orang yang termasuk dalam kelompok studi, batasan geografis,
dan waktu yang relevan. Misalnya, jika kasusnya adalah sebuah kota, Anda
mungkin hanya fokus pada kebijakan atau sektor tertentu di kota tersebut.
9.
• Kasus bisaberupa individu (misalnya,
siswa berprestasi atau pemimpin
organisasi), kelompok kecil (misalnya,
keluarga atau komunitas), atau program
(misalnya, program pendidikan di
sekolah).
• Kasus bisa juga berupa peristiwa
(misalnya, gerakan sosial atau upaya
pemulihan bencana).
• Relevansi dengan Pertanyaan
Penelitian:
• Spesifikasi dan Fokus
CONTOH KASUS KRITERIA PENETUAN KASUS
10.
KONTROL KUALITAS PENELITIANDALAM
STUDI KASUS
Uji Taktik studi kasus
Tahap penelitian sewaktu terjadinya
taktik
Validitas konstruk Gunakan multi sumber sebagai bukti. Pengumpulan data.
Bangun rangkaian bukti. pengumpulan data
Meminta informan kuncimeninjau ulang
draft laporan studi kasus yang bersangkutan
Laporan
Validitas internal Kerjakan pola penjodohan Analisis data
Kerjakan penyusunan eksplanasi Analisis data
Kerjakan analisis deret waktu Analisis data
Validitas eksternal Gunakan logika replika dalam studi multi
kasus.
Desain penelitian
Reliabilitas Gunakan protokol studi kasus. Pengumpulan data
Kembangkan data dasar studi kasus Pengumpulan data
11.
DISAIN-DISAIN STUDI KASUS
Desain-desainkasus tunggal Desain multi kasus
Holistik (unit analisis tunggal) Tipe 1 Tipe 3
Terjalin/ embeded (unit multi
analysis)
Tipe 2 Tipe 4
12.
DISAIN KASUS TUNGGALPOTENSIAL
1. Manakala kasus tersebut menyatakan kasus penting dalam menguji
suatu teori yang telah disusun dengan baik.
2. Kasus tunggal ialah kasus yang menyajikan suatu kasus ekstrim
atau unik.
3. Kesempatan yang datang daripada peneliti sebelumnya.
KOMPETENSI DASAR PENELITIDALAM
PENGUMPULAN DATA
1. Kemampuan Mengajukan Pertanyaan yang Baik: Dapat mengajukan pertanyaan yang relevan
dan menafsirkan jawabannya secara adil tanpa bias.
2. Menjadi Pendengar yang Baik: Mampu mendengarkan dengan baik tanpa terjebak oleh ideologi
atau prasangka yang sudah ada.
3. Bersikap Adaptif: Mampu melihat situasi baru sebagai peluang, bukan ancaman, sehingga bisa
merespons dengan fleksibel terhadap perubahan yang muncul selama penelitian.
4. Memahami Isu yang Diteliti: Memiliki pemahaman yang kuat tentang isu yang diteliti, meskipun
penelitian tersebut bersifat eksploratif.
5. Melakukan Penelitian Secara Etis: Menjalankan penelitian dengan etika yang baik, bersikap
profesional, serta sensitif terhadap bukti yang berlawanan atau kontradiktif.
15.
PROTOKOL STUDI KASUS
BagianA
Gambaran umum tentang studi kasus,
termasuk tujuan, isu yang dipelajari, dan
bacaan terkait.
Bagian B
Prosedur pengumpulan data, perlindungan
subjek manusia, dan logistik.
Bagain D
Rencana awal laporan studi kasus, untuk
memastikan laporan berfokus pada topik inti.
Bagian C
Pertanyaan protokol yang harus dijawab
peneliti, serta sumber bukti yang relevan.
16.
PROTOKOL BAGIAN A
InformasiLatar
Belakang
Pernyataan yang
diperlihatkan pada
pihat terkait
Isu Subtantif
Rujukan dan Bacaan Persetujuan Etis Basis Laporan Akhir
Contoh protocol lihat hal 134 buku Robert K. Yin
17.
PROTOKOL BAGIAN B
1.Akses ke Organisasi atau Narasumber Kunci
2. Sumber Daya yang Memadai Selama Penelitian Lapangan
3. Prosedur Bantuan dan Bimbingan
4. Jadwal Pengumpulan Data
5. Mengantisipasi Peristiwa yang Tidak Terduga
18.
PROTOKOL BAGIAN C
▪Berfokus pada pertanyaan yang diarahkan kepada peneliti, bukan kepada narasumber
atau responden wawancara.
▪ Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengingatkan peneliti tentang data yang perlu
dikumpulkan dan alasan di balik pengumpulan data tersebut.
▪ Meskipun beberapa pertanyaan dapat digunakan sebagai panduan selama wawancara,
tujuan utama dari pertanyaan dalam Bagian C adalah untuk menjaga jalannya
pengumpulan data tetap sesuai rencana dan fokus pada topik yang sedang diteliti.
19.
PROTOKOL BAGIAN C
▪Bagian C juga harus memperjelas perbedaan lima tingkat pertanyaan yang relevan dalam
studi kasus:
1. Level 1: Pertanyaan yang diucapkan langsung kepada narasumber selama wawancara.
2. Level 2: Pertanyaan yang terkait dengan setiap kasus yang menjadi garis besar
penyelidikan peneliti.
3. Level 3: Pertanyaan yang berkaitan dengan pola temuan yang muncul di berbagai kasus
dalam studi kasus ganda.
4. Level 4: Pertanyaan yang mencakup seluruh studi, termasuk informasi dari literatur atau
data yang dipublikasikan, yang melampaui bukti dari studi kasus.
5. Level 5: Pertanyaan normatif yang berkaitan dengan rekomendasi kebijakan dan
kesimpulan, yang melampaui ruang lingkup sempit dari studi itu sendiri.
Sumber Bukti KekuatanKelemahan
Dokumentasi
Dapat digunakan berulang kali.
Kesulitan dalam pengambilan
(retrievability) - sulit ditemukan.
Dapat mencakup nama, referensi, dan
detail yang tepat dari suatu kejadian.
Selektivitas yang bias.
Dapat mencakup rentang waktu yang
panjang, banyak peristiwa, dan banyak
situasi.
Bias pelaporan - refleks bias dari penulis
dokumen tertentu.
Catatan Arsip
Sama seperti dokumentasi. Sama seperti dokumentasi.
Tepat dan biasanya bersifat kuantitatif.
Aksesibilitas mungkin sulit karena
alasan privasi.
Wawancara
Terfokus langsung pada topik studi
kasus.
Bias akibat pertanyaan yang dirumuskan
dengan buruk.
Memberikan wawasan, memungkinkan
penjelasan dan pandangan pribadi.
Bias respons.
Ketidakakuratan karena daya ingat yang
buruk.
Reflektif, pewawancara mungkin
mengatakan apa yang ingin didengar
oleh peneliti.
22.
Observasi Langsung
Mengamati tindakansecara real-
time.
Memakan waktu.
Kontekstual, mencakup konteks studi
kasus.
Cakupan luas sulit tanpa tim
pengamat.
Tindakan mungkin berbeda karena
partisipan sadar sedang diamati.
Observasi Partisipan
Sama seperti observasi langsung. Sama seperti observasi langsung.
Memberikan wawasan tentang
perilaku interpersonal dan motif.
Bias akibat manipulasi partisipan-
pengamat terhadap kejadian.
Artefak Fisik
Memberikan wawasan tentang fitur
budaya.
Ketersediaan mungkin terbatas.
Memberikan wawasan tentang
operasi teknis.
---
23.
PRINSIP DASAR PENGUMPULANDATA
Menggunakan
beberapa sumber
bukti, bukan hanya
satu
Membuat basis data
studi kasus
Mempertahankan
rangkaian bukti
BENTUK-BENTUK ANALSIS DOMINAN
DALAMSTUDI KASUS
▪MATCHING PATERN / PENJODOHAN POLA
▪BUILDING EXPLANATION / MEMBANGUN
PENJELASAN
▪TIME SERIES /DERET WAKTU
▪MODEL LOGIKA
26.
PENJODOHAN POLA
Pencocokan Polaadalah teknik yang digunakan untuk membandingkan pola
empiris yang diperoleh dari studi kasus dengan pola yang diprediksi sebelum
pengumpulan data. Jika pola empiris dan pola yang diprediksi mirip, ini dapat
memperkuat validitas internal studi kasus.
27.
MEMBANGUN PENJELASAN
Membangun penjelasanberarti menetapkan rangkaian kausal yang
diasumsikan mengenai suatu fenomena, yaitu menjelaskan
"bagaimana" atau "mengapa" suatu hasil terjadi. Rangkaian kausal
ini seringkali kompleks dan sulit diukur secara tepat.
28.
PROSES MEMBANGUN PENJELASAN
oMembuat pernyataan teoritis awal yang bersifat sementara.
o Membandingkan data dari studi kasus dengan pernyataan tersebut.
o Merevisi pernyataan awal berdasarkan data yang diperoleh.
o Membandingkan rincian lain dalam kasus dengan revisi yang telah dibuat.
o Jika melakukan studi kasus ganda, membandingkan revisi dari kasus pertama dengan
data dari kasus kedua, ketiga, dan seterusnya, yang dapat menghasilkan revisi lebih
lanjut.
o Mengulangi proses ini untuk setiap kasus yang relevan hingga diperlukan.
29.
ANALSIS DERET WAKTU
▪Analisis deret waktu adalah teknik analisis yang digunakan untuk meneliti perubahan suatu
variabel seiring waktu. Ini mirip dengan analisis deret waktu dalam psikologi perilaku dan
klinis, dan bertujuan untuk menemukan pola yang dapat memberikan dasar yang kuat untuk
kesimpulan dalam studi kasus.
▪ Mengumpulkan kejadian dalam urutan kronologis adalah teknik yang umum dalam studi
kasus. Ini berfungsi untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dengan meneliti urutan waktu
dari kejadian. Urutan yang tepat tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga dapat menjelaskan
fenomena.
30.
MODEL LOGIKA
▪ AlurPeristiwa: Model logika menggambarkan rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir, sering kali
berbentuk kotak dan panah, yang menunjukkan hubungan sebab-akibat di setiap tahap.
▪ Intervensi Terencana: Setiap tahap dalam model logika dapat diintervensi melalui program-program
yang direncanakan (misalnya, program komunitas), yang bertujuan mengubah jalur individu dan
mencegah hasil negatif.
▪ Peluang Intervensi: Model logika sering kali menyertakan titik-titik spesifik di mana intervensi dapat
dilakukan. Misalnya, ada 11 titik intervensi dalam model individu di mana tindakan dapat diambil untuk
mengubah jalur perilaku remaja.
▪ Penelitian atau Evaluasi Program: Model ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program
intervensi dengan membandingkan jalur teoritis dengan data yang diobservasi. Penelitian dapat
dilakukan secara retrospektif atau prospektif untuk menganalisis jalur yang diambil oleh subjek studi.
31.
MODEL LOGIKA
▪ KontribusiPengetahuan: Jika model logika memberikan wawasan baru yang bertentangan atau
memperbaiki teori yang ada, maka studi ini dapat memberikan kontribusi penting bagi
pengetahuan baru, baik dalam penelitian maupun praktik.
▪ Fleksibilitas Penggunaan: Model logika dapat digunakan baik untuk menganalisis jalur tanpa
intervensi (seperti bagaimana individu menjalani proses peristiwa), maupun untuk menilai
efektivitas intervensi.
▪ Kerangka Teori Awal: Model logika berfungsi sebagai kerangka teori awal yang memandu
penelitian dan analisis data, memberikan struktur untuk memahami proses yang kompleks dan
hubungan sebab-akibat dalam studi kasus.
▪ Evaluasi Rival atau Alternatif: Selain analisis utama, model logika juga dapat digunakan untuk
mempertimbangkan jalur peristiwa rival atau kemungkinan adanya faktor eksternal yang
mempengaruhi hasil akhir.