Pengantar Etika Profesi
Tri Sugihartono, M. Kom
TINJAUAN UMUM ETIKA
 Pengertian Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etika adalah:
1. Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk,
tentang hak dan kewajiban moral.
2. Kumpulan asas / nilai yang berkenaan dengan
akhlak
3. Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut
masyarakat
 Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani
“ethos” yang berarti adat istiadat / kebiasaan yang baik.
 Perkembangan etika studi tentang kebiasaan manusia
berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu
yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia
dalam kehidupan pada umumnya.
Etika & Moral
1. Secara etimologi etika dapat disamakan
dengan Moral. Moral berasal dari bahasa latin
“mos” yang berarti adat kebiasaan.
2. Moral lebih kepada rasa dan karsa manusia
dalam melakukan segala hal di kehidupannya.
Jadi Moral lebih kepada dorongan untuk
mentaati etika.
Faktor yang Mempengaruhi
Pelanggaran Etika
1. Kebutuhan individu
2. Korupsi alasan ekonomi
3. Tidak ada pedoman
4. Area “abu-abu”, sehingga tak ada panduan
5. Perilaku dan kebiasaan individu
6. Kebiasaan yang terakumulasi tak dikoreksi
7. Lingkungan tidak etis
8. Pengaruh dari komunitas
9. Perilaku orang yang ditiru
10. Efek primordialisme yang kebablasan
Sanksi Pelanggaran Etika
1. Sanksi Sosial
Skala relative kecil, dipahami sebagai kesalahan
yang dapat “dimaafkan”.
2. Sanksi Hukum
Skala besar, merugikan hak pihak lain. Hukum
pidana menempati prioritas utama, diikuti oleh
hukum Perdata.
Etika & Teknologi
1. Teknologi adalah segala sesuatu yang diciptakan
manusia untuk memudahkan pekerjaannya.
2. Kehadiran teknologi membuat manusia
“kehilangan” beberapa sense of human yang
alami.( otomatisasi mesin / refleks / kewaspadaan
melambat )
3. Cara orang berkomunikasi, by email or by surat,
membawa perubahan signifikan, dalam sapaan /
tutur kata.
4. Orang berzakat dengan SMS, implikasi pada
silaturahmi yang “tertunda”
5. Emosi ( “touch” ) yang semakin tumpul karena
jarak dan waktu semakin bias dalam teknologi
informasi.
PERBEDAAN ETIKA & ETIKET
Etika : niat, apakah
perbuatan itu boleh
dilakukan atau tidak sesuai
pertimbangan niat baik atau
buruk sebagai akibatnya
Etiket : menetapkan cara,
untuk melakukan benar
sesuai yang diharapkan
Etika : nurani (bathiniah)
bagaimana bersikap etis
baik yang sesungguhnya
timbul dari kesadaran
Etiket: formalitas (lahiriyah),
tampak dari luarnya penuh
dengan sopan santun dan
kebaikan.
Lanjutan (5)
Etika : bersifat absolut,
artinya tidak dapat ditawar –
tawar lagi, kalau perbuatan
baik mendapat pujian dan
yang salah harus mendapat
sanksi
Etiket : bersifat relatif, yang
dianggap tidak sopan dalam
suatu kebudayaan daerah
tertentu belum tentu
ditempat daerah lainnya
Etika : berlakunya, tidak
tergantung pada ada atau
tidaknya orang lain yang
hadir.
Etiket: hanya berlaku, jika
ada orang lain yang hadir,
dan jika tidak ada orang lain
maka etiket itu tidak berlaku
Fungsi Etika
1. Sarana untuk memperoleh orientasi kritis
berhadapan dengan pelbagai moralitas yang
membingungkan.
2. Alat pengawas bagi pikiran dan hati nurani
dalam rangka menentukan mana yang baik
dan mana yang buruk.
KONSEP DASAR NILAI, NORMA,
MORAL
PENGERTIAN MORALITAS
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah
manusia menyebut ke manusia atau orang
lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai
positif.
SISTEM NILAI TENTANG BAGAIMANA KITA
HARUS HIDUP SECARA BAIK SEBAGAI INDIVIDU
(MANUSIA)
Klasifikasi Etika
12
Etika Bisnis
Etika
Etika
Umum
Etika
Khusus
Etika
Individual
Etika Sosial
Etika Lingkungan
Hidup
Etika terhadap
sesama
Etika Keluarga
Etika Politik
Etika Profesi
Etika
Hukum
Etika
Biomedis
Etika
Pendidikann
Etika
Media
KONSEP NILAI
1. Menurut Papper  segala sesuatu tentang
baik dan buruk.
2. Menurut Perry  segala sesuatu yang
menarik bagi manusia.
3. Menurut Kohler  manusia itu sama,
semua tidak dapat berhenti hanya dengan
sebuah pandangan nyata dari pengalaman.
4. Menurut Kluckhon  Konsep yang
diinginkan dan merupakan perilaku. Nilai
tersusun secara hierarkhis dan mengatur
kepuasan hati dalam mencapai tujuan
Kesimpulan
Sesuatu yang dipentingkan manusia
sebagai subjek, yang menyangkut baik dan
buruk sebagai suatu pandangan yang
terseleksi secara ketat.
4 Kualitas Nilai
Menurut Robin M. Williams
1. Nilai mempunyai konsepsi yang lebih dari pada
sekedar sensasi dan emosi. Karena ditarik dari
pengalaman seseorang.
2. Kalau pun emosi tetapi merupakan potensi.
3. Nilai bukan tujuan konkrit dari tindakan, tetapi
merupakan tolok ukur dari tujuan-tujuan
4. Nilai berhubungan dengan pilihan. Pilihan
menjadi prasarat untuk mengambil keputusan.
PERBANDINGAN NILAI &
KEYAKINAN
KEYAKINAN NILAI
Kepercayaan sungguh
sungguh benar
Belum tentu
Tidak memerlukan bukti
empiris
Perlu bukti empiris
Dipandang sbg Faktor
dan yg tahu tidak berani
melanggar
Dipandang bukan sbg.
Faktor
Gambaran apa yg disukai
dgn yg tidak disukai
Tidak sekedar
disukai/disukai
SISTEM NILAI BUDAYA
1. Gabungan nilai yang sama dari individu-
individu yang ada di dalam masyarakat/
komunitas.
2. Dalam keadaan tertentu dlm masy. & sulit
untuk diganti.
3. Contoh:
1. Di suatu Perguruan Tinggi menyontek adalah
perbuatan yang sangat dibenci  ketahuan
langsung tidak lulus.
ORIENTASI NILAI BUDAYA
• Kerangka Kluckhon mengenai 5 Dasar dalam
hidup yang menentukan orientasi budaya
manusia
Masalah
dasar
dalam
Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Hakekat
Hidup
(MH)
Hidup itu
Buruk
Hidup itu
baik
Hidup itu buruk
tetapi manusia
wajib berusaha
supaya hidup
itu menjadi baik
Hakekat
Karya
(MK)
Karya untuk
nafkah
hidup
Karya untuk
kedudukan,
kehormata
n, dll
Karya untuk
menambah
karya
Masalah dasar
dlm Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Persepsi
manusia ttg
waktu (MW)
Orientasi
ke masa
kini
Orientasi ke
masa lalu
Orientasi ke
masa
depan
Pandangan
manusia
terhadap
alam (MA)
Manusia
tunduk
terha dap
alam yg
dahsyat
Manusia
berusaha
menjaga
keselarasan
dengan
alam
Manusia
berhasrat
menguasai
alam
Masalah dasar
dlm Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Hakekat
hubungan
antara
manusia
dengan
sesamanya
(MM)
Orientasi
kolateral
(horizontal),
rasa keber-
gantungan
kepada
sesamanya
(Gotong
royong)
Orientasi
vertikal,
rasa
kebergantu
ngan pada
tokoh-
tokoh
atasan dan
berpangkat
Individuali
sme
bernilai
tinggi
usaha atas
kekuatan
sendiri
NORMA
Seperangkat aturan baik yang tertulis maupun
tidak yang disepakati oleh sekelompok
masyarakat untuk mengatur kehidupannya dan
akan dikenakan sanksi bagi yang akan
melanggar.
Macam-macam Norma
NORMA SUMBER DARI SANKSI
Agama Tuhan YME Tegas tapi tidak
nyata
Kesopanan Masy. Setempat Nyata berupa
gunjingan
Kesusilaan Masy. Setempat &
bisa universal
Nyata berupa
gunjingan, bisa
pidana
Adat Masy. Setempat Nyata berupa
gunjingan, bisa
dikucilkan
Hukum Negara Tegas & nyata (fisik
dan non fisik)
Dalam norma hukum ada dalil:
1. Hukum buruk dan aparat buruk maka
pelaksanaan hukum akan buruk.
2. Hukum baik dan aparat buruk maka
pelaksanaan hukum akan buruk.
3. Hukum buruk dan aparat baik maka
pelaksanaan hukum akan baik.
4. Hukum baik dan aparat baik maka
pelaksanaan hukum akan baik.
Atau lihat gambar di bawah ini
MASYARAKAT
KEPOLISIAN
KEJAKSAAN
PENGADILAN
KETERANGAN GAMBAR
1. Masyarakat adalah tempat diberlakukan
hukum yang telah dibuat.
2. Kepolisian sebagai tempat penyidikan
pertama jika terjadi pelanggaran
3. Kejaksaan sebagai tempat penuntutan
perkara pelanggaran hukum
4. Pengadilan sebagai tempat pembuktian
pelanggaran hukum
Ada fakta lain seperti ini
KEPOLISIAN
KEJAKSAAN
PENGADILAN
KORUP
TIDAK BAIK
TIDAK ADIL
ANARKIS
PUBLIK
MORAL
1. Berasal dari kata latin MOS, MORIS, atau
bahasa Yunani ETHOS/ETIKA = Kebiasaan
2. Moral dapat berarti ajaran baik dan buruk
tentang tingkah laku manusia.
3. Kamus Umum Bhs. Indonesia ajaran baik
dan buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban, dan lain-lain.
4. Menurut Immanuel Kant Moralitas adalah
hal keyakinan dan sikap batin dan bukan
sekedar penyesuaian dengan aturan luar.
Sifat batin adalah kewajiban mutlak.
Lanjutan (2)
1. Hegel menganggap bahwa RUANG BATIN
sebagaimana yang disampaikan Kant terlalu
ABSTRAK.
2. Oleh karena itu di dlm masyrakat perlu ada
3:
1. Hukum
2. Moralitas individu
3. Tatanan sosial moral
Lanjutan (3)
Kattsoff, moral dapat dipandang dari unsur
subjektivitas dan kombinasi unsur
subjektivitas dengan objektivitas.
Lanjutan (4)
1. Ada kalanya antara MORAL dan ETIKA/
Filsafat Moral dibedakan.
2. Moral lebih merujuk pada aturan dan
norma yang lebih konkrit bagi penilaian
baik/buruknya perilaku manusia.
3. Contoh:
1. Jangan mencuri
2. Jangan bersaksi dusta
3. Jangan Berbohong, dll
RENUNGAN DAN KESIMPULAN
MORAL
UCAPAN
TINDAKAN/PERILAKU
Unsur – Unsur Pokok Dalam Etika
Dalam hal berpikir Etis
perlu ada 4 hal yang kita
perhatikan yakni:
1. Nilai
2. Norma
3. Situasi
4. Obyek
Macam Etika (baik/buruk)
1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha
meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku
manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam
hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif
memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil
keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha
menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang
seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini
sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi
penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan
kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Macam Etika (umum/khusus)
1. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana
manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan
etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi
pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai
baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan
dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum
dan teori-teori.
2. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar
dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud :
Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang
kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh
cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat
juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain
dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh
kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana
manusia mengambil suatu keputusan atau tidankan, dan teori serta prinsip
moral dasar yang ada dibaliknya.
Etika Khusus
1. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban
dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
2. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban,
sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota
umat manusia.
Etika Sosial
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
6. Etika idiologi
Etika Akademik
Pendahuluan
 Masyarakat akademik dicirikan salah satunya oleh
keterikatannya terhadap Etika Akademik yang berlaku secara
universal, seperti kejujuran, keterbukaan, objectivitas, kemauan
untuk belajar dan berkembang serta saling menghormati dan
tidak berlaku diskriminatif.
 Masyarakat kampus merupakan salah satu bagian penting dari
masyarakat akademis. Oleh sebab itu seluruh komponen civitas
akademika semestinya memahami dengan benar dan merasa
terikat dengan Etika Akademik tersebut. Keterikatan terhadap
Etika Akademik harus tercermin pada setiap aspek kegiatan
akademik, seperti perkuliahan, penelitian, penulisan dan
publikasi, penggunaan gelar akademis dan sebagainya. Dengan
demikian dipandang perlu untuk menjelaskan bagaimana Etika
Akademik tersebut diterapkan secara spesifik dalam berbagai
kegiatan akademik maupun kegiatan kampus lainnya. Tindakan
yang melanggar Etika Akademik merupakan tindakan tidak etis
dan atau pelanggaran akademik.
Pelanggaran Akademik
Aktivitas yang termasuk dalam kategori tindakan tidak etis
dan atau pelanggaran akademik merupakan perbuatan
terlarang, antara lain adalah:
1. Penyontekan/kecurangan dalam ujian/cheating,
2. Plagiat,
3. Perjokian,
4. Pemalsuan,
5. Penyuapan,
6. Tindakan diskriminatif, dll
Penyontekan/Kecurangan Dalam
Ujian (Cheating)
 Penyontekan yaitu kegiatan sadar (sengaja) atau tidak sadar
yang dilakukan seorang peserta ujian yang dapat mencakup
(1) mencontoh hasil kerja milik peserta ujian lain, dan (2)
menggunakan atau mencoba menggunakan bahan-bahan,
informasi atau alat bantuan studi lainnya yang tidak
diijinkan dalam ujian atau tanpa ijin dari Dosen yang
berkepentingan.
Plagiat
 Bentuk tindakan plagiat antara lain mengambil
gagasan/pendapat/hasil temuan orang lain baik
sebagian atau seluruhnya tanpa seijin atau tanpa
menyebutkan sumber acuannya secara jujur.
Perjokian
 Tindakan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak,
menggantikan kedudukan atau melakukan tugas atau
kegiatan untuk kepentingan orang lain, atas
permintaan orang lain atau kehendak sendiri dalam
kegiatan akademik.
Pemalsuan
 Bentuk tindakan pemalsuan antara lain melakukan
kegiatan dengan sengaja atau tanpa ijin yang
berwenang mengganti, meniru atau
mengubah/memalsukan sesuatu untuk mendapatkan
pengakuan sebagai sesuatu yang asli, misalnya
mengganti, meniru atau mengubah/memalsukan nama,
tanda tangan, nilai atau tugas-tugas, praktikum,
transkrip akademik, ijasah, stempel, kartu tanda
mahasiswa, gelar akademik, dan keterangan atau
laporan dalam lingkup kegiatan akademik maupun non
akademik, serta memberikan keterangan atau
kesaksian palsu.
Tindakan Suap Menyuap
 Memberikan ataupun menerima imbalan uang, barang
atau bentuk lainnya yang dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan tertentu secara tidak sah
baik bagi penerima maupun pemberi. Tindakan lain
yang termasuk dalam kategori ini adalah usaha untuk
mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi orang
lain baik dengan cara membujuk, memberi hadiah atau
berupa ancaman dengan maksud mempengaruhi
penilaian terhadap prestasi akademik.
Tindakan Diskriminatif
 Membedakan perlakuan terhadap seseorang yang
berkepentingan dalam kegiatan akademik yang
didasarkan pada pertimbangan faktor gender, agama,
suku, ras, status sosial, dan fisik seseorang sehingga
menimbulkan kerugian pada orang tersebut.
Lain-lain
 Berbagai tindakan lain yang merupakan perbuatan
terlarang dan dapat memiliki implikasi pada sanksi
akademik antara lain (1) Menyobek halaman buku
perpustakaan atau mengambil tanpa hak buku atau
peralatan pembelajaran, merusak atau menghilangkan
alat atau bahan laboratorium dan sarana-sarana
pendidikan lainnya, dan (2) Tindakan-tindakan lain
yang merendahkan martabat masyarakat akademik,
misalnya: mengkonsumsi narkoba dan miras,
melakukan tindakan asusila, dan sejenisnya.
Sanksi Pelanggaran Etika
Akademik
 Semua komponen civitas akademika yang terbukti
melanggar etika akademik akan dikenakan sanksi
secara bertingkat sesuai dengan berat ringannya
pelanggaran akademik. Secara umum sanksi akademik
dapat berupa salah satu atau lebih dari beberapa sanksi
yang diberikan oleh:
1. Pengawas Ujian/Dosen
2. Dosen Pengampu Matakuliah
3. Jurusan/Fakultas/Univ.
4. Ketentuan Lain
Pengawas Ujian/Dosen
 Peringatan secara lisan yang dapat diikuti dengan
perintah untuk meninggalkan ruang ujian jika peserta
ujian tersebut tidak mengindahkan peringatan
petugas/pengawas. Setiap bentuk pelanggaran tersebut
akan direkam oleh Pengawas Ujian dalam Berita
Acara Ujian dan dilaporkan kepada Pimpinan
Jurusan/Fakultas.
Dosen Pengampu Matakuliah
 Pengurangan nilai ujian bagi matakuliah yang
ditempuh pada semester yang bersangkutan.
 Dinyatakan tidak lulus ujian (digugurkan) matakuliah
atau kegiatan akdemik yang bersangkutan
Jurusan/Fakultas/Univ.
 Digugurkan seluruh matakuliah yang ditempuh pada semester
yang bersangkutan, jika ditemukan seseorang mahasiswa
mengulang tindakan kecurangan (misalnya untuk kasus
penyontekan).
 Skorsing (dicabut status kemahasiswaannya untuk sementara)
dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (misalnya untuk
kasus plagiat tugas-tugas matakuliah dan tindakan kriminal).
 Pemecatan atau dikeluarkan (dicabut status kemahasiswaannya)
dari Universitas Brawijaya (misalnya untuk kasus plagiat
skripsi, pemalsuan, suap-menyuap, tindakan kriminal lainnya.
 Dicabut gelar akademik yang telah diperoleh dari Universitas
Brawijaya (misalnya untuk kasus plagiat, skripsi, pemalsuan,
suap-menyuap) dan diketahui setelah yang bersangkutan
dinyatakan lulus.
Ketentuan Lain
 Ketentuan yang diatur dalam buku pedoman pendidikan
STMIK AL juga menjadi rujukan terkait dengan sanksi atas
pelanggaran akademik. Setiap bentuk pelanggaran akan
didokumentasikan dan diikuti dengan penandatanganan surat
pernyataan bermaterai. Pelanggaran berulang akan dikenakan
sanksi yang lebih berat.
 Beberapa pelanggaran terhadap Etika Akademik juga diatur
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pihak
yang berwajib dapat melakukan penuntutan hukum terhadap
pelaku pelanggaran Etika Akademik yang mengandung unsur
Pidana.
Tata Tertib
 Di Ruang Administrasi/Kantor
Bagi mahasiswa yang mengurus administrasi
diharuskan:
 Berpakaian sopan dan rapi (tidak memakai kaos oblong
dan/atau sandal)
 Membawa KTM yang berlaku.
 Tidak merokok, makan dan minum di dalam ruang
administrasi/kantor.
Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas
tidak akan dilayani urusan administrasinya.
Tata Tertib
 Perkuliahan
Mahasiswa diperbolehkan mengikuti kuliah jika:
 Berpakaian sopan dan rapi (tidak memakai kaos oblong
dan/atau sandal).
 Tidak merokok, makan dan minum.
 Tidak melakukan pembicaraan yang mengganggu
perkuliahan (termasuk menggunakan Handphone, Pager,
dsb).
 Tidak membuat kegaduhan.
 Tidak mengotori ruang kuliah (corat-coret, membuang
sampah, dsb).
 Namanya tercantum dalam presensi yang sudah resmi.
Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas tidak
diperkenankan mengikuti kuliah.
Tata Tertib
 Mengikuti Ujian
Selama mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir
Studi (UAS), mahasiswa:
 Diharuskan hadir 10 (sepuluh) menit sebelum, dan paling lambat 30 menit
setelah ujian mulai dilaksanakan.
 Dilarang saling meminjam perlengkapan ujian seperti tip ex, calculator,
penggaris, dsb).
 Dilarang membawa tas, buku dan catatan lainnya ke ruang ujian, kecuali
ujian yang bersifat OPENED BOOK.
 Diharuskan membawa KRS dan KTM yang masih berlaku.
 Dilarang keluar ruang ujian selama ujian berlangsung, kecuali ada ijin dari
pengawas.
 Dilarang bertanya pada sesama peserta ujian apabila menghadapi soal ujian
yang kurang jelas/salah.
 Dilarang melakukan kecurangan selama ujian (cheating).
 Diharuskan mematuhi seluruh tata tertib perkuliahan sebagaimana aturan
di atas dan tata tertib lain yang ditetapkan oleh Fakultas/Universitas.
Tata Tertib
Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas,
dikenakan sanksi berupa:
 Tidak diperkenankan mengikuti ujian, untuk
pelanggaran point a.
 Dikeluarkan dari ruang ujian, untuk pelanggaran
point b dan c.
 Menunjukkan surat ijin mengikuti ujian dari panitia
ujian, untuk pelanggaran point d.
 Dilarang meneruskan ujian, untuk pelanggaran
point e dan f.
 Sanksi lain dapat dikenakan pada pelanggaran
akademik sebagaimana diatur dalam sub Sanksi
Etika Akademik.
Tata Tertib
 Ujian Akhir Studi dan Yudisiumnya
Selama mengikuti Ujian Akhir Studi dan Yudisium,
mahasiswa:
 Wajib mengenakan pakaian resmi FE Unibraw.
 Diharuskan mematuhi seluruh tata tertib perkuliahan
sebagaimana aturan di atas.
Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas
tidak diperkenankan mengikuti Ujian Akhir Studi dan
Yudisium.
ETIKA BERBUSANA DI DALAM
KAMPUS
 Bagi Laki-laki:
 Selama berada dalam lingkungan kampus, Mahasiswa,
Dosen, dan Karyawan wajib berpakaian rapi dan sopan.
 Selama dalam kegiatan perkuliahan Mahasiswa dan Dosen
wajib menggunakan sepatu, baju berkerah, dan tidak
oblong.
 Tidak berhias dan memakai perhiasan atau asesoris yang
berlebihan.
 Tidak memakai anting telinga atau hidung.
ETIKA BERBUSANA DI DALAM
KAMPUS
 Bagi Perempuan:
 Selama dalam lingkungan kampus, Mahasiswi, Dosen,
dan Karyawati wajib berpakaian rapi dan sopan.
 Tidak menggunakan pakaian (busana) yang dapat
memperlihatkan bagian tubuh tertentu seperti pusar,
punggung atau yang lainnya.
 Selama dalam kegiatan perkuliahan Mahasiswi dan
Dosen wajib menggunakan sepatu, memakai baju
berkerah dan tidak oblong.
 Menggunakan rok (bawahan) minimal di bawah lutut.
 Tidak berhias dan memakai perhiasan atau asesoris
berlebihan.
Tugas 1
1. Apakah peranan dari Norma, Nilai dan Moral
dalam profesi Bidang Teknologi Informasi?

Pert 1. pengantar etika profesi

  • 1.
    Pengantar Etika Profesi TriSugihartono, M. Kom
  • 2.
    TINJAUAN UMUM ETIKA Pengertian Etika Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etika adalah: 1. Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. 2. Kumpulan asas / nilai yang berkenaan dengan akhlak 3. Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut masyarakat  Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat istiadat / kebiasaan yang baik.  Perkembangan etika studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.
  • 3.
    Etika & Moral 1.Secara etimologi etika dapat disamakan dengan Moral. Moral berasal dari bahasa latin “mos” yang berarti adat kebiasaan. 2. Moral lebih kepada rasa dan karsa manusia dalam melakukan segala hal di kehidupannya. Jadi Moral lebih kepada dorongan untuk mentaati etika.
  • 4.
    Faktor yang Mempengaruhi PelanggaranEtika 1. Kebutuhan individu 2. Korupsi alasan ekonomi 3. Tidak ada pedoman 4. Area “abu-abu”, sehingga tak ada panduan 5. Perilaku dan kebiasaan individu 6. Kebiasaan yang terakumulasi tak dikoreksi 7. Lingkungan tidak etis 8. Pengaruh dari komunitas 9. Perilaku orang yang ditiru 10. Efek primordialisme yang kebablasan
  • 5.
    Sanksi Pelanggaran Etika 1.Sanksi Sosial Skala relative kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat “dimaafkan”. 2. Sanksi Hukum Skala besar, merugikan hak pihak lain. Hukum pidana menempati prioritas utama, diikuti oleh hukum Perdata.
  • 6.
    Etika & Teknologi 1.Teknologi adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia untuk memudahkan pekerjaannya. 2. Kehadiran teknologi membuat manusia “kehilangan” beberapa sense of human yang alami.( otomatisasi mesin / refleks / kewaspadaan melambat ) 3. Cara orang berkomunikasi, by email or by surat, membawa perubahan signifikan, dalam sapaan / tutur kata. 4. Orang berzakat dengan SMS, implikasi pada silaturahmi yang “tertunda” 5. Emosi ( “touch” ) yang semakin tumpul karena jarak dan waktu semakin bias dalam teknologi informasi.
  • 7.
    PERBEDAAN ETIKA &ETIKET Etika : niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau buruk sebagai akibatnya Etiket : menetapkan cara, untuk melakukan benar sesuai yang diharapkan Etika : nurani (bathiniah) bagaimana bersikap etis baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran Etiket: formalitas (lahiriyah), tampak dari luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
  • 8.
    Lanjutan (5) Etika :bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar – tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi Etiket : bersifat relatif, yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan daerah tertentu belum tentu ditempat daerah lainnya Etika : berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. Etiket: hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain maka etiket itu tidak berlaku
  • 9.
    Fungsi Etika 1. Saranauntuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. 2. Alat pengawas bagi pikiran dan hati nurani dalam rangka menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
  • 10.
    KONSEP DASAR NILAI,NORMA, MORAL
  • 11.
    PENGERTIAN MORALITAS Moral (BahasaLatin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. SISTEM NILAI TENTANG BAGAIMANA KITA HARUS HIDUP SECARA BAIK SEBAGAI INDIVIDU (MANUSIA)
  • 12.
    Klasifikasi Etika 12 Etika Bisnis Etika Etika Umum Etika Khusus Etika Individual EtikaSosial Etika Lingkungan Hidup Etika terhadap sesama Etika Keluarga Etika Politik Etika Profesi Etika Hukum Etika Biomedis Etika Pendidikann Etika Media
  • 13.
    KONSEP NILAI 1. MenurutPapper  segala sesuatu tentang baik dan buruk. 2. Menurut Perry  segala sesuatu yang menarik bagi manusia. 3. Menurut Kohler  manusia itu sama, semua tidak dapat berhenti hanya dengan sebuah pandangan nyata dari pengalaman. 4. Menurut Kluckhon  Konsep yang diinginkan dan merupakan perilaku. Nilai tersusun secara hierarkhis dan mengatur kepuasan hati dalam mencapai tujuan
  • 14.
    Kesimpulan Sesuatu yang dipentingkanmanusia sebagai subjek, yang menyangkut baik dan buruk sebagai suatu pandangan yang terseleksi secara ketat.
  • 15.
    4 Kualitas Nilai MenurutRobin M. Williams 1. Nilai mempunyai konsepsi yang lebih dari pada sekedar sensasi dan emosi. Karena ditarik dari pengalaman seseorang. 2. Kalau pun emosi tetapi merupakan potensi. 3. Nilai bukan tujuan konkrit dari tindakan, tetapi merupakan tolok ukur dari tujuan-tujuan 4. Nilai berhubungan dengan pilihan. Pilihan menjadi prasarat untuk mengambil keputusan.
  • 16.
    PERBANDINGAN NILAI & KEYAKINAN KEYAKINANNILAI Kepercayaan sungguh sungguh benar Belum tentu Tidak memerlukan bukti empiris Perlu bukti empiris Dipandang sbg Faktor dan yg tahu tidak berani melanggar Dipandang bukan sbg. Faktor Gambaran apa yg disukai dgn yg tidak disukai Tidak sekedar disukai/disukai
  • 17.
    SISTEM NILAI BUDAYA 1.Gabungan nilai yang sama dari individu- individu yang ada di dalam masyarakat/ komunitas. 2. Dalam keadaan tertentu dlm masy. & sulit untuk diganti. 3. Contoh: 1. Di suatu Perguruan Tinggi menyontek adalah perbuatan yang sangat dibenci  ketahuan langsung tidak lulus.
  • 18.
    ORIENTASI NILAI BUDAYA •Kerangka Kluckhon mengenai 5 Dasar dalam hidup yang menentukan orientasi budaya manusia
  • 19.
    Masalah dasar dalam Hidup Orientasi Nilai Budaya Hakekat Hidup (MH) Hidupitu Buruk Hidup itu baik Hidup itu buruk tetapi manusia wajib berusaha supaya hidup itu menjadi baik Hakekat Karya (MK) Karya untuk nafkah hidup Karya untuk kedudukan, kehormata n, dll Karya untuk menambah karya
  • 20.
    Masalah dasar dlm Hidup OrientasiNilai Budaya Persepsi manusia ttg waktu (MW) Orientasi ke masa kini Orientasi ke masa lalu Orientasi ke masa depan Pandangan manusia terhadap alam (MA) Manusia tunduk terha dap alam yg dahsyat Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam Manusia berhasrat menguasai alam
  • 21.
    Masalah dasar dlm Hidup OrientasiNilai Budaya Hakekat hubungan antara manusia dengan sesamanya (MM) Orientasi kolateral (horizontal), rasa keber- gantungan kepada sesamanya (Gotong royong) Orientasi vertikal, rasa kebergantu ngan pada tokoh- tokoh atasan dan berpangkat Individuali sme bernilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri
  • 22.
    NORMA Seperangkat aturan baikyang tertulis maupun tidak yang disepakati oleh sekelompok masyarakat untuk mengatur kehidupannya dan akan dikenakan sanksi bagi yang akan melanggar.
  • 23.
    Macam-macam Norma NORMA SUMBERDARI SANKSI Agama Tuhan YME Tegas tapi tidak nyata Kesopanan Masy. Setempat Nyata berupa gunjingan Kesusilaan Masy. Setempat & bisa universal Nyata berupa gunjingan, bisa pidana Adat Masy. Setempat Nyata berupa gunjingan, bisa dikucilkan Hukum Negara Tegas & nyata (fisik dan non fisik)
  • 24.
    Dalam norma hukumada dalil: 1. Hukum buruk dan aparat buruk maka pelaksanaan hukum akan buruk. 2. Hukum baik dan aparat buruk maka pelaksanaan hukum akan buruk. 3. Hukum buruk dan aparat baik maka pelaksanaan hukum akan baik. 4. Hukum baik dan aparat baik maka pelaksanaan hukum akan baik.
  • 25.
    Atau lihat gambardi bawah ini MASYARAKAT KEPOLISIAN KEJAKSAAN PENGADILAN
  • 26.
    KETERANGAN GAMBAR 1. Masyarakatadalah tempat diberlakukan hukum yang telah dibuat. 2. Kepolisian sebagai tempat penyidikan pertama jika terjadi pelanggaran 3. Kejaksaan sebagai tempat penuntutan perkara pelanggaran hukum 4. Pengadilan sebagai tempat pembuktian pelanggaran hukum
  • 27.
    Ada fakta lainseperti ini KEPOLISIAN KEJAKSAAN PENGADILAN KORUP TIDAK BAIK TIDAK ADIL ANARKIS PUBLIK
  • 28.
    MORAL 1. Berasal darikata latin MOS, MORIS, atau bahasa Yunani ETHOS/ETIKA = Kebiasaan 2. Moral dapat berarti ajaran baik dan buruk tentang tingkah laku manusia. 3. Kamus Umum Bhs. Indonesia ajaran baik dan buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan lain-lain. 4. Menurut Immanuel Kant Moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan sekedar penyesuaian dengan aturan luar. Sifat batin adalah kewajiban mutlak.
  • 29.
    Lanjutan (2) 1. Hegelmenganggap bahwa RUANG BATIN sebagaimana yang disampaikan Kant terlalu ABSTRAK. 2. Oleh karena itu di dlm masyrakat perlu ada 3: 1. Hukum 2. Moralitas individu 3. Tatanan sosial moral
  • 30.
    Lanjutan (3) Kattsoff, moraldapat dipandang dari unsur subjektivitas dan kombinasi unsur subjektivitas dengan objektivitas.
  • 31.
    Lanjutan (4) 1. Adakalanya antara MORAL dan ETIKA/ Filsafat Moral dibedakan. 2. Moral lebih merujuk pada aturan dan norma yang lebih konkrit bagi penilaian baik/buruknya perilaku manusia. 3. Contoh: 1. Jangan mencuri 2. Jangan bersaksi dusta 3. Jangan Berbohong, dll
  • 32.
  • 33.
    Unsur – UnsurPokok Dalam Etika Dalam hal berpikir Etis perlu ada 4 hal yang kita perhatikan yakni: 1. Nilai 2. Norma 3. Situasi 4. Obyek
  • 34.
    Macam Etika (baik/buruk) 1.ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil. 2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
  • 35.
    Macam Etika (umum/khusus) 1.ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori. 2. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidankan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
  • 36.
    Etika Khusus 1. Etikaindividual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. 2. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
  • 37.
    Etika Sosial 1. Sikapterhadap sesama 2. Etika keluarga 3. Etika profesi 4. Etika politik 5. Etika lingkungan 6. Etika idiologi
  • 38.
  • 39.
    Pendahuluan  Masyarakat akademikdicirikan salah satunya oleh keterikatannya terhadap Etika Akademik yang berlaku secara universal, seperti kejujuran, keterbukaan, objectivitas, kemauan untuk belajar dan berkembang serta saling menghormati dan tidak berlaku diskriminatif.  Masyarakat kampus merupakan salah satu bagian penting dari masyarakat akademis. Oleh sebab itu seluruh komponen civitas akademika semestinya memahami dengan benar dan merasa terikat dengan Etika Akademik tersebut. Keterikatan terhadap Etika Akademik harus tercermin pada setiap aspek kegiatan akademik, seperti perkuliahan, penelitian, penulisan dan publikasi, penggunaan gelar akademis dan sebagainya. Dengan demikian dipandang perlu untuk menjelaskan bagaimana Etika Akademik tersebut diterapkan secara spesifik dalam berbagai kegiatan akademik maupun kegiatan kampus lainnya. Tindakan yang melanggar Etika Akademik merupakan tindakan tidak etis dan atau pelanggaran akademik.
  • 40.
    Pelanggaran Akademik Aktivitas yangtermasuk dalam kategori tindakan tidak etis dan atau pelanggaran akademik merupakan perbuatan terlarang, antara lain adalah: 1. Penyontekan/kecurangan dalam ujian/cheating, 2. Plagiat, 3. Perjokian, 4. Pemalsuan, 5. Penyuapan, 6. Tindakan diskriminatif, dll
  • 41.
    Penyontekan/Kecurangan Dalam Ujian (Cheating) Penyontekan yaitu kegiatan sadar (sengaja) atau tidak sadar yang dilakukan seorang peserta ujian yang dapat mencakup (1) mencontoh hasil kerja milik peserta ujian lain, dan (2) menggunakan atau mencoba menggunakan bahan-bahan, informasi atau alat bantuan studi lainnya yang tidak diijinkan dalam ujian atau tanpa ijin dari Dosen yang berkepentingan.
  • 42.
    Plagiat  Bentuk tindakanplagiat antara lain mengambil gagasan/pendapat/hasil temuan orang lain baik sebagian atau seluruhnya tanpa seijin atau tanpa menyebutkan sumber acuannya secara jujur.
  • 43.
    Perjokian  Tindakan yangdilakukan dengan sengaja atau tidak, menggantikan kedudukan atau melakukan tugas atau kegiatan untuk kepentingan orang lain, atas permintaan orang lain atau kehendak sendiri dalam kegiatan akademik.
  • 44.
    Pemalsuan  Bentuk tindakanpemalsuan antara lain melakukan kegiatan dengan sengaja atau tanpa ijin yang berwenang mengganti, meniru atau mengubah/memalsukan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan sebagai sesuatu yang asli, misalnya mengganti, meniru atau mengubah/memalsukan nama, tanda tangan, nilai atau tugas-tugas, praktikum, transkrip akademik, ijasah, stempel, kartu tanda mahasiswa, gelar akademik, dan keterangan atau laporan dalam lingkup kegiatan akademik maupun non akademik, serta memberikan keterangan atau kesaksian palsu.
  • 45.
    Tindakan Suap Menyuap Memberikan ataupun menerima imbalan uang, barang atau bentuk lainnya yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan tertentu secara tidak sah baik bagi penerima maupun pemberi. Tindakan lain yang termasuk dalam kategori ini adalah usaha untuk mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi orang lain baik dengan cara membujuk, memberi hadiah atau berupa ancaman dengan maksud mempengaruhi penilaian terhadap prestasi akademik.
  • 46.
    Tindakan Diskriminatif  Membedakanperlakuan terhadap seseorang yang berkepentingan dalam kegiatan akademik yang didasarkan pada pertimbangan faktor gender, agama, suku, ras, status sosial, dan fisik seseorang sehingga menimbulkan kerugian pada orang tersebut.
  • 47.
    Lain-lain  Berbagai tindakanlain yang merupakan perbuatan terlarang dan dapat memiliki implikasi pada sanksi akademik antara lain (1) Menyobek halaman buku perpustakaan atau mengambil tanpa hak buku atau peralatan pembelajaran, merusak atau menghilangkan alat atau bahan laboratorium dan sarana-sarana pendidikan lainnya, dan (2) Tindakan-tindakan lain yang merendahkan martabat masyarakat akademik, misalnya: mengkonsumsi narkoba dan miras, melakukan tindakan asusila, dan sejenisnya.
  • 48.
    Sanksi Pelanggaran Etika Akademik Semua komponen civitas akademika yang terbukti melanggar etika akademik akan dikenakan sanksi secara bertingkat sesuai dengan berat ringannya pelanggaran akademik. Secara umum sanksi akademik dapat berupa salah satu atau lebih dari beberapa sanksi yang diberikan oleh: 1. Pengawas Ujian/Dosen 2. Dosen Pengampu Matakuliah 3. Jurusan/Fakultas/Univ. 4. Ketentuan Lain
  • 49.
    Pengawas Ujian/Dosen  Peringatansecara lisan yang dapat diikuti dengan perintah untuk meninggalkan ruang ujian jika peserta ujian tersebut tidak mengindahkan peringatan petugas/pengawas. Setiap bentuk pelanggaran tersebut akan direkam oleh Pengawas Ujian dalam Berita Acara Ujian dan dilaporkan kepada Pimpinan Jurusan/Fakultas.
  • 50.
    Dosen Pengampu Matakuliah Pengurangan nilai ujian bagi matakuliah yang ditempuh pada semester yang bersangkutan.  Dinyatakan tidak lulus ujian (digugurkan) matakuliah atau kegiatan akdemik yang bersangkutan
  • 51.
    Jurusan/Fakultas/Univ.  Digugurkan seluruhmatakuliah yang ditempuh pada semester yang bersangkutan, jika ditemukan seseorang mahasiswa mengulang tindakan kecurangan (misalnya untuk kasus penyontekan).  Skorsing (dicabut status kemahasiswaannya untuk sementara) dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (misalnya untuk kasus plagiat tugas-tugas matakuliah dan tindakan kriminal).  Pemecatan atau dikeluarkan (dicabut status kemahasiswaannya) dari Universitas Brawijaya (misalnya untuk kasus plagiat skripsi, pemalsuan, suap-menyuap, tindakan kriminal lainnya.  Dicabut gelar akademik yang telah diperoleh dari Universitas Brawijaya (misalnya untuk kasus plagiat, skripsi, pemalsuan, suap-menyuap) dan diketahui setelah yang bersangkutan dinyatakan lulus.
  • 52.
    Ketentuan Lain  Ketentuanyang diatur dalam buku pedoman pendidikan STMIK AL juga menjadi rujukan terkait dengan sanksi atas pelanggaran akademik. Setiap bentuk pelanggaran akan didokumentasikan dan diikuti dengan penandatanganan surat pernyataan bermaterai. Pelanggaran berulang akan dikenakan sanksi yang lebih berat.  Beberapa pelanggaran terhadap Etika Akademik juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pihak yang berwajib dapat melakukan penuntutan hukum terhadap pelaku pelanggaran Etika Akademik yang mengandung unsur Pidana.
  • 53.
    Tata Tertib  DiRuang Administrasi/Kantor Bagi mahasiswa yang mengurus administrasi diharuskan:  Berpakaian sopan dan rapi (tidak memakai kaos oblong dan/atau sandal)  Membawa KTM yang berlaku.  Tidak merokok, makan dan minum di dalam ruang administrasi/kantor. Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas tidak akan dilayani urusan administrasinya.
  • 54.
    Tata Tertib  Perkuliahan Mahasiswadiperbolehkan mengikuti kuliah jika:  Berpakaian sopan dan rapi (tidak memakai kaos oblong dan/atau sandal).  Tidak merokok, makan dan minum.  Tidak melakukan pembicaraan yang mengganggu perkuliahan (termasuk menggunakan Handphone, Pager, dsb).  Tidak membuat kegaduhan.  Tidak mengotori ruang kuliah (corat-coret, membuang sampah, dsb).  Namanya tercantum dalam presensi yang sudah resmi. Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas tidak diperkenankan mengikuti kuliah.
  • 55.
    Tata Tertib  MengikutiUjian Selama mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Studi (UAS), mahasiswa:  Diharuskan hadir 10 (sepuluh) menit sebelum, dan paling lambat 30 menit setelah ujian mulai dilaksanakan.  Dilarang saling meminjam perlengkapan ujian seperti tip ex, calculator, penggaris, dsb).  Dilarang membawa tas, buku dan catatan lainnya ke ruang ujian, kecuali ujian yang bersifat OPENED BOOK.  Diharuskan membawa KRS dan KTM yang masih berlaku.  Dilarang keluar ruang ujian selama ujian berlangsung, kecuali ada ijin dari pengawas.  Dilarang bertanya pada sesama peserta ujian apabila menghadapi soal ujian yang kurang jelas/salah.  Dilarang melakukan kecurangan selama ujian (cheating).  Diharuskan mematuhi seluruh tata tertib perkuliahan sebagaimana aturan di atas dan tata tertib lain yang ditetapkan oleh Fakultas/Universitas.
  • 56.
    Tata Tertib Bagi mahasiswayang melanggar tata tertib di atas, dikenakan sanksi berupa:  Tidak diperkenankan mengikuti ujian, untuk pelanggaran point a.  Dikeluarkan dari ruang ujian, untuk pelanggaran point b dan c.  Menunjukkan surat ijin mengikuti ujian dari panitia ujian, untuk pelanggaran point d.  Dilarang meneruskan ujian, untuk pelanggaran point e dan f.  Sanksi lain dapat dikenakan pada pelanggaran akademik sebagaimana diatur dalam sub Sanksi Etika Akademik.
  • 57.
    Tata Tertib  UjianAkhir Studi dan Yudisiumnya Selama mengikuti Ujian Akhir Studi dan Yudisium, mahasiswa:  Wajib mengenakan pakaian resmi FE Unibraw.  Diharuskan mematuhi seluruh tata tertib perkuliahan sebagaimana aturan di atas. Bagi mahasiswa yang melanggar tata tertib di atas tidak diperkenankan mengikuti Ujian Akhir Studi dan Yudisium.
  • 58.
    ETIKA BERBUSANA DIDALAM KAMPUS  Bagi Laki-laki:  Selama berada dalam lingkungan kampus, Mahasiswa, Dosen, dan Karyawan wajib berpakaian rapi dan sopan.  Selama dalam kegiatan perkuliahan Mahasiswa dan Dosen wajib menggunakan sepatu, baju berkerah, dan tidak oblong.  Tidak berhias dan memakai perhiasan atau asesoris yang berlebihan.  Tidak memakai anting telinga atau hidung.
  • 59.
    ETIKA BERBUSANA DIDALAM KAMPUS  Bagi Perempuan:  Selama dalam lingkungan kampus, Mahasiswi, Dosen, dan Karyawati wajib berpakaian rapi dan sopan.  Tidak menggunakan pakaian (busana) yang dapat memperlihatkan bagian tubuh tertentu seperti pusar, punggung atau yang lainnya.  Selama dalam kegiatan perkuliahan Mahasiswi dan Dosen wajib menggunakan sepatu, memakai baju berkerah dan tidak oblong.  Menggunakan rok (bawahan) minimal di bawah lutut.  Tidak berhias dan memakai perhiasan atau asesoris berlebihan.
  • 61.
    Tugas 1 1. Apakahperanan dari Norma, Nilai dan Moral dalam profesi Bidang Teknologi Informasi?