DASAR BUDIDAYA
PERIKANA
Oleh :
Fahmi Arief, S.KH. M. VET., Ag.
KRITERIA PENILAIAN
No Kriteria Nilai
1 Absensi 10 %
2 Tugas 30 %
3 UTS/UAS 60 %
4 Total 100 %
Definisi Akuakultur
 Berasal dari bahasa Inggris; aquaculture
 Aqua: perairan, culture: budidaya
 Akuakultur : kegiatan untuk memproduksi biota
(organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka
mendapatkan keuntungan (profit).
 Yang dimaksud budidaya adalah kegiatan pemeliharaan
untuk:
a. memperbanyak (reproduksi)
b. menumbuhkan (growth)
c. meningkatkan mutu biota akuatik
sehingga memperoleh keuntungan
 Pengertian dan Ruang Lingkup
Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk
memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan
ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang
terkontrol.
(UU no. 31 th. 2004 tentang Perikanan)
Peran Budidaya Perairan
Saat ini di Indonesia dan dunia, produksi penangkapan
lebih dominan daripada budidaya. Dimasa yang akan
datang usaha budidaya akan lebih berperan dibanding
usaha penangkapan. Kecepatan pertumbuhan produksi
budidaya dunia > (10%/tahun) lebih besar dari
penangkapan (leveling off), dan peternakan (< 5%/tahun)
Manfaat Budidaya Perairan
a. Kecukupan dan keamanan pangan
b. Peningkatan gizi/kesehatan
c. Menunjang usaha/industri terkait
d. Lapangan kerja
e. Pemanfaatan sumberdaya perikanan
f. Pendapatan masyarakat, PAD, devisa (pertumbuhan
ekonomi)
g. Pengembangan wilayah
h. Pengentasan kemiskinan
i. Mendukung OTDA
Tujuan usaha budidaya
 Meningkatkan jumlah pangan
 Mengimbangi penurunan persediaan ikan
secara alami
 Mencukupi kebutuhan protein hewani
 Meningkatkan produk lain, seperti: mutiara,
rumput laut, dll
Persyaratan jenis ikan yang dibudidaya
 Tahan terhadap lingkungan hidup baru
 Laju pertumbuhannya cukup tinggi
 Maampu berkembang biak daalam keadaan tertangkap
 Mampu menyesuaikan diri terhadap makanan buatan
yg diberikan
 Dapat dibudidayakan dengan kepaadatan tinggi
 Tahan terhadap penyakit dan parasit
 Memenuhi selera konsumen
Jenis-jenis ikan yang dibudidaya
1. Ikan air tawar
 Gurami (Osphyronemus gouramy)
 Mujair (Tilapia mossambica)
 Nila (Tilapia nilotica)
 Tawes (Puntius javanicus)
 Patin (Pangasius pangasius)
 Lele (Clarias batracus)
2. Ikan air payau
 Bandeng (Chanos chanos)
 Udang windu (Penaeus monodon)
3. Ikan air laut
 Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
 Cakalang (Katsuwonus pelamis)
 Lobster
Pengertian dan Ruang Lingkup
Akuakultur
Dalam usaha akuakultur mencakup :
a. Pembenihan ikan
 Pemilihan induk
 Pemijahan induk
 Penetasan telur
 Pemeliharaan larva
 Pendederan
b. Pembesaran
 Efesiensi pakan
 Konversi pakan
c. Nutrisi pakan
 Formula pakan
 Nilai gizi
d. Kualitas air
e. Sistem pengadaan sarana dan prasarana
produksi akuakultur
Sistem pengadaan sarana dan prasarana
produksi akuakultur
 Prasarana produksi
· Pemilihan lokasi
· Pengadaan bahan dan
· Pembangunan fasilitas produksi
 Sarana produksi
· Pengadaan induk
· Benih
· Pakan
· Pupuk
· Obat-obatan
· Pestisida
· Peralatan akuakultur dan
· Tenaga kerja
 Subsistem proses produksi
 Persiapan akuakultur
 Penebaran (stocking)
 Pemberian pakan
 Pengelolaan lingkungan
 Kesehatan ikan
 Pemantauan ikan
 Pemanenan
 Subsistem penanganan pasca panen dan pemasaran
 Meningkatkan mutu produk
 Distribusi produk dan
 Pelayanan (servis) terhadap konsumen
 Subsistem pendukung
 Aspek hukum (UU dan kebijakan )
 Aspek keuangan (pembiayaan/kredit,pembayaran)
 Aspek kelembagaan (organisasi perusahaan, asosiasi, koperasi,
perebankan, lembaga birokrasi, lembaga riset, dan pengembngan
Contoh kegiatan proses produksi akuakultur
1. Persiapan wadah:
a. pengeringan
b. perbaikan
c. pemupukan
d. pengisian air
2. Penebaran benih
3. Pemberian pakan
4. Pengelolaan air
5. Pemberantasan hama dan penyakit
6. Pemantauan pertumbuhan
7. Pemanenan
Manajemen produksi
akuakultur
Manajemen kolam Manajemen benih
Manajemen
Pemberian
pakan
Manajemen
Kesehatan ikan
Manajemen
Kualitas air
Manajemen panen
Proses manajemen produksi
akuakultur
AGRIBISNIS PERIKANAN
PERIKANAN BUDIDAYA
Manajemen Sumberdaya Ikan
- Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, rehabilitasi
- Rasional, optimal, lestari, mensejahterakan
- Penangkapan, budidaya, penanganan pasca panen/
pengolahan, distribusi dan pemasaran
Penangkapan
a. Stok ikan di perairan umum
b. Maximum Sustainable Yield (MSY)
c. Maximum Economic Yield (MEY)
d. Maximum Social Yield (MScY)
e. Optimum Sustainable Yield (OSY)
f. Overfishing
g. Kerusakan habitat
Batasan Budidaya Perairan (Akuakultur)
Pemeliharaan, baik pembesaran maupun pembenihan
di dalam lingkungan perairan terbatas/tertutup
untuk peningkatan produktivitas atau kualitas di atas
kemampuan alami dengan berbagai manipulasi (SDA,
tempat, air, ikan, sarana, prasarana).
Teknologi Penanganan Pasca Panen Hasil Perikanan
- Penanganan - Pengemasan
- Pengolahan - Pendistribusian
- Meningkatkan keawetan, kesukaan, gizi, harga,
manfaat, nilai tambah, pangsa pasar
- Promosi
- Pemasaran
I. Menunjang Proses Produksi
(Prasarana, Sarana dan Jasa)
II. Kegiatan Proses Produksi
(Pemanfaatan SDA/SDI/SDP, SDM, IPTEK)
III. Pemanfaatan Hasil
Perikanan
A. PENANGKAPAN
1. Kapal
2. Alat tangkap
3. Bengkel/dok
4. Sarana Produksi (BBM, Es, umpan,
pangan, perlengkapan, alat bantu dll)
5. Modal, asuransi, jasa, dll
6. Biro konsultan, LPK (IPTEK dan SDM)
PENANGKAPAN
1. Di berbagai daerah, pantai, lepas pantai,
ZEE, Samudra. Jenis ikan, alat tangkap
dan kapal (dimana saja, kapan, berbagai
tingkat usaha)
2. Ranching
3. Wisata/Sport fishing
C. PASCA PANEN
1. sarana penunjang
2. Penanganan, pengawetan,
pengolahan
3. Distribusi dan pemasaran
4. Dan lain-lain yang terkait
5. Dapat terpadu dengan operasi
penangkapan dan budidaya
B. BUDIDAYA
1. Biro konsultan, LPK
(kontruksi/IPTEK/SDM), Modal
2. Prasarana
3. Sarana produksi (benih, obat-obatan,
pakan, kapur, zeolit, dll)
4. Alat dan bahan/perlengkapan (genset,
kincir, dll)
5. Perbengkelan
BUDIDAYA
1. Di berbagai daerah
2. Di berbagai lokasi (laut, payau, tawar)
3. Berbagai cara/teknik budidaya (kolam,
tambak, jaring apung, minapadi, dll),
ranching
4. Berbagai jenis ikan
5. Berbagai komoditi (pakan, pangan, bahan
baku industri, ikan hias, asesoris)
PELUANG AGRIBISNIS PERIKANAN
Jenis dan peluang usaha penunjang proses produksi (I) dan pemanfaatan hasil
(III) lebih besar daripada proses produksi (II) (misalnya di USA, tenaga kerja yang
terserap dalam pertanian langsung hanya 2,7% sedang yang menunjang dan
memanfaatkan hasil 21%)
TERIMA KASIH
Komoditas Akuakultur
Komoditas adalah barang
atau produk yang bisa
diperdangankan , jadi
komoditas akuakultur
adalah spesies atau
jenis ikan (dalam arti
luas) yang diproduksi
dalam kegiatan
akuakultur dan menjadi
barang /produk yang
bisa diperdagangkan
Grass carp
Common carp
Bighead carp
Silver carp
Brook Trout, Salvelinus fontinalis
Rainbow Trout, Salmo gairdneri
(=Oncorhynchus mykiss)
Largemouth Bass, Micropterus
salmoides
Bluegill, Lepomis macrochirus
Red-ear sunfish, Lepomis macrochirus
Common carp, Cyprinus carpio
Nile Tilapia, Oreochromis niloticus
Blue Tilapia, Oreochromis aurea
Black Tilapia,
Oreochromis mossambica
Hybrid Striped
Golden Shiner
Notemigonus crysoleucas
Fathead Minnow Pimephales promelas
White Sucker
Catostomus commersoni
Goldfish Carassius autatus
TILAPIA
Golongan ikan adalah spesies akuakultur yang
memiliki sirip sebagai organ penggeraknya
Contoh komoditas akuakultur dari golongan ikan adalah :
 Ikan mas ( Cyprinus carpio )
 Ikan nila ( Oreochromis niliticus )
 Ikan lele ( Clarias sp )
 Ikan gurami ( osphronemus gouramy )
 Ikan patin ( Pangosius sp )
 Ikan kerapu macan ( Epinephelus fusguttatus )
 Ikan kerapu bebek ( Cromiletes altivelis )
 Ikan kakap putih ( Lates calcarifer )
 Ikan bandeng ( chanos chanos )
IKAN
Golongan udang adalah spesies akuakultur yang memiliki karapas
yaitu kulit yang mengandung kitin sehingga bisa mengeras
Contoh komoditas akuakultur dari golongan udang adalah :
 Udang windu ( Paneos monodon )
 Udang vanamei ( Litopaneus vannamei)
 Udang bru ( Panaeus stylostris )
 Udang putih ( Panaeus japonicus )
 Udang galah crobrach tawar ( Macrobrachium rasenbergit )
 Udang cerax ( Cherax sp )
 Udang lobster ( Homarus sp )
 Kepiting bakau ( Scylla serrata )
UDANG
Golongan moluska adalah spesies akuakultur yang
memiliki cangkang yang keras
Contoh komoditas akuakultur dari golongan moluska adalah :
 Karang mutiara ( Pinctada maxima )
 Abalone ( Heliotis sp.)
 Kerang hijau ( Mytilus sp.)
 Kerang darah ( Anadara sp.)
MOLUSKA
Komoditas Ikan Budidaya
 Komoditas ikan laut : kerapu macan, kerapu bebek, napolion, karang mutiara,
dan rumput laut.
 Komoditas ikan tawar : ikan mas, lele, gurami, nila, mujair, dan patin.
 Komoditas air payau : udang windu dan bandeng.
Sumber Daya Air
Berdasarkan kadar garamnya ( salinitas ), perairan dipermukaan bumi dibagi menjadi tiga golongan
yaitu :
TAWAR PAYAU LAUT
PERAIRAN
BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR
1. Perairan air tawar
Perairan air tawar terdapat didaratan mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga daratan
rendah dekat pantai, berupa
 Danau
 Situ
 Waduk
 Sungai
 Saluran irigasi
 Mata air
 Sumur dan
 Air hujan
BUDIDAYA IKAN AIR LAUT
3. Perairan laut
Perairan air laut adalah perairan yang berada dilaut dan memiliki
kadar garam berkisar antara 30-35 ppt. Berupa :
 Teluk perairan laut yang menjorok masuk
→
kedalam daratan
 Selat perairan laut diantara dua atau
→
beberapa pulau
 Perairan laut dangkal umumnya berlokasi
→
didekat pantai
BUDIDAYA IKAN AIR PAYAU
2. Perairan payau
Perairan payau berlokasi dimuara sungai dan pantai tempat terjadinya transisi dari kondisi air tawar ke kondisi air asin (laut), antara lain :
 Perairan payau di muara sungai dan pantai
 Perairan payau di rawa
 Perairan payau di paluh
Air sebagai Media Budidaya Ikan
 Air adalah satu-satunya benda di atas bumi ini yang dalam kondisi
sehari-hari dapat kita jumpai dalam 3 ujud sekaligus: cair (air), gas
(uap air) dan padat (es).
 Air merupakan media hidup ikan dan hewan air lainnya.
 Secara umum kualitas air berhubungan dengan kandungan bahan
terlarut didalamnya.
 Tingkat kandungan dari bahan tersebut akan menentukan
kelayakannya.
 Setiap mahluk hidup memerlukan kandungan bahan terlarut yang
berbeda, sehingga kualitas airpun bersifat relatif bagi satu mahluk
hidup ke mahluk hidup yang lain.
Air dan Bahan Terlarutnya
 Tidak semua bahan terlarut dalam air berbahaya bagi
kehidupan ikan, beberapa diantaranya justru sangat
diperlukan dan wajib ada.
 Bahan tersebut adalah oksigen dan untuk tumbuhan air
karbon dioksida diperlukan kehadirannya.
 Sedangkan untuk penghuni air laut kalsium sangat
diperlukan.
 Bahan terlarut lain yang diketahui tidak menguntungkan dan
bahkan beracun adalah amonia. Nitrat sampai tahap
tertentu berakibat buruk pada ikan, Begitu juga dengan
beberapa kandungan logam berat.
 Satu bahan yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari
tetapi sangat fatal bagi ikan adalah klorin. Bahan ini kerap
ditemukan dalam air olahan suatu perusahaan air minum
yang sering dipergunakan sebagai salah satu sumber air.
 Air untuk keperluan kehidupan ikan, tanaman dan komunitas
air lainya sering dinyatakan dengan parameter umum sbb:
suhu (temperatur), DO, salinitas, pH, dsb.
 Salinitas. Adalah jumlah total garam terlarut yang terukur
dalam sampel air dalam satuan ppt (part per thausand).
Garam lautan berasal dari garam di pegunungan yang
terbawa oleh aliran air hujan dan sungai. Satuan ppt artinya
bagian per seribu. Sedangkan air payau adalah air yang
rasanya setengah asin setengah tawar, atau mempunyai
salinitas 15-25 ppt. Setiap jenis ikan mempunyai salinitas
optimal untuk hidupnya. Salinitas yang baik untuk budidaya
udang windu adalah 15-22 ppt, sedangkan untuk udang putih
20-30 ppt.
Parameter Kualitas Air
 DO (Dissolved Oxygen). Memegang peranan penting bagi mahluk
hidup. Kebutuhan oksigen dipenuhi dengan oksigen yang terlarut
dalam air, maupun langsung dari udara pada beberapa jenis hewan
tertentu (misalnya lele). Ikan dan udang memerlukan oksigen untuk
menghasilkan energi untuk beraktivitas, pertumbuhan, reproduksi
dan lain-lain.
 Jumlah oksigen yang ada dalam air dinyatakan dalam satuan ppm
(part per million/bagian per sejuta). Besarnya DO optimal untuk
budidaya adalah 4 – 7,5 ppm. Sumber DO air berasal dari udara
melalui proses difusi dan dari proses fotosintesis tumbuhan dalam
air. Besar-kecilnya DO ditentukan oleh temperatur air dan udara,
jumlah tumbuhan air baik yang berupa tumbuhan besar maupun
dalam bentuk phytoplankton, kadar mineral dan Biological Oxygen
Demand (BOD).
 Derajat Keasaman (pH). Tingkat keasaman air dinyatakan
dalam pH air. Besarnya pH air yang optimal untuk kehidupan
ikan dan udang adalah 6,5 – 8 (netral), karena pada kisaran
tersebut menunjukkan imbangan yang optimal antara
oksigen dan karbondioksida serta berbagai mikrooranisme
yang merugikan sulit berkembang. Kondisi pH air dapat
berubah-ubah selama budidaya, hal ini yang berakibat buruk
bagi ikan atau udang.
 Air yang pH-nya terlalu rendah (asam) dapat menyerap
fosfat yang berperan dalam kesuburan air, sehingga
kesuburan kolam dapat menurun. Penurunan pH dapat
diatasi melalui pengapuran dengan dosis 100 – 250 kg/ha.
 Alkalinitas. Adalah kapasitas air untuk menetralkan setiap
penambahan asam tanpa menurunkan pH. Alkalinitas merupakan buffer
(penahan) terhadap pengaruh pengasaman. Alkalinitas disebabkan oleh
adanya ion-ion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO3
2-
), hidroksida (OH-
)
dan ion-ion lain dalam jumlah kecil.
 Kecerahan Air. Kecerahan menunjukkan populasi plankton dan
kandungan material terlarut dalam air. Kecerahan yang baik berkisar
antara 30 – 40 cm, dimana populasi plankton cukup ideal untuk pakan
alami dan material terlarut cukup rendah. Pada awal budidaya,
biasanya kecerahan air tinggi (50 cm hingga dasar kolam) karena
populasi plankton masih rendah dan air masih bersih. Semakin lama
kecerahan makin rendah (hingga 10 cm).Untuk mempertahankan
kecerahan yang ideal, dilakukan ganti air baru secara rutin.
 Suhu. Suhu air juga sangat penting bagi kehidupan ikan
atau udang karena suhu air sangat berpengaruh terhadap
kehidupan jasad renik (mikroorganisme), sehingga dapat
mempengaruhi kehidupan ikan dan udang. Suhu ideal untuk
budidaya adalah 25 – 310
C. Jika suhu berfluktuasi secara
drastis, dapat berakibat buruk bagi pertumbuhan embrio
ikan.
 Suhu air dipengaruhi oleh radiasi cahaya matahari, suhu
udara, cuaca dan lokasi. Air mempunyai kapasitas yang
besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif
konstan dibandingan dengan suhu udara, perbedaan suhu
air antara pagi hari dan siang hari hanya 20
C.
 Suhu air akan mempengaruhi densitas/kepadatannya
(dalam gr/cm3
). Perbedaan densitas air antara lapisan atas
dan lapisan bawah dapat menyebabkan terjadinya
stratifikasi air menjadi 3 lapisan, yaitu epilimnion (lapisan
atas yang suhunya tinggi), hypolimnion (lapisan bawah yang
dingin) dan thermocline (lapisan antara keduanya yang
suhunya turun drastis). Stratifikasi air ini dipengaruhi oleh
kedalaman kolam/tambak dan radiasi cahaya matahari.
 Kedalaman air. Untuk kolam budidaya, kedalaman air yang
ideal yaitu 70 – 120 cm. Air yang terlalu dangkal
menyebabkan perubahan suhu terlalu besar.
 Jika air terlalu dalam mengakibatkan perbedaan suhu yang
menyolok antara air bagian atas dengan bagian bawah dan
sinar matahari tidak dapat mencapai air bagian bawah
sehingga pertumbuhan phytoplankton terhambat.
 Salinitas air. Upaya rekayasa salinitas air media dapat
dilaksanakan dengan pencampuran antara air laut dan air
tawar.
 Formulasi yang digunakan untuk melakukan pencampuran
adalah sbb:
 Pengukuran salinitas air media dapat dilakukan dengan
menggunakan alat Refraktometer.
 Menambah kedalaman kolam budidaya untuk menjaga
kestabilan salinitas.
Rekayasa Kualitas Air Media
 DO (Dissolved Oxygen). Upaya rekayasa oksigen terlarut
dalam air media dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain sbb:
 Menjaga keseimbangan dan keberadaan fitoplankton di kolam.
 Resirkulasi air lama dengan air yang baru (10-40%).
 Meningkatkan frekuensi pertemuan air dan udara untuk
meningkatkan proses difusi oksigen, dalam hal ini bisa
digunakan beberapa alat dan metode antara lain: aerator,
kincir air, penggunaan trap tangga di tepi kolam, dll.
 Menjaga kestabilan suhu (suhu mempengaruhi oksigen),
dengan cara menjaga volume air media.
 Derajat Keasaman (pH). Umumnya permasalahan yang sering terjadi
pada kegiatan budidaya adalah rendahnya pH air media.
 Pada dasarnya ada keterkaitan antara turunnya pH air dan naiknya CO2
di dalam air. Rekayasa yang perlu dilakukan pertama kali adalah dengan
menaikkan kandungan oksigen terlarut dalam air.
 Namun jika upaya menaikkan oksigen terlarut tidak memberikan hasil,
dapat dilakukan upaya rekayasa dengan menambahkan segala jenis
bahan yang memiliki kandungan kalsium (Ca). Contohnya: melewatkan air
melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur.
 Dalam kasus tertentu, jika pH air kolam terlalu tinggi dapat digunakan
jenis kayu2an yang bersifat asam ke dalam kolam. Contohnya: daun
ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya yang intinya memliki
kemampuan menjerap kesadahan.
 Suhu. Pengelolaan suhu air media budidaya terkait dengan banyak
faktor diantaranya: intensitas sinar matahari, volume air media,
keberadaan CO2, dll.
 Mengatur kedalaman air, untuk menjaga agar air media dalam volume
yang cukup sehingga suhu fluktuasi suhu dapat diminimalisir.
 Pada jenis kegiatan pembenihan dan pendederan dapat dilakukan
rekayasa faktor suhu dengan menutup bagian atas kolam dengan
menggunakan terpal, penutup atau ditempatkan secara indoor.
PEMBENIHAN IKAN
 Pembenihan ikan adalah ilmu yang mempelajari mengenai kegiatan
mengembangbiakkan/memperbanyak/membenihkan ikan secara
alami, semi buatan dan buatan.
 Pembenihan ikan diawali dari pengelolaan induk ikan, yang benar,
seleksi induk, sesuai dengan standar Cara Pembenihan Ikan yang Baik
(CPIB) dan proses pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan
larva serat pendederan benih sesuai dengan kebutuhan produksi
sehingga dapat diperoleh hasil budidaya yang optimal.
 Penyediaan induk, kolam pendederan, kolam induk dan kolam
pemijahan harus dihitung berdasarkan skala usaha dengan
pertimbangan jenis ikan yang di pelihara.
 Setiap jenis ikan memiliki sifat dan kebiasaan berbeda baik dalam
pemijahan, pakan dan habitat sehingga membutuhkan pengetahuan
perilaku setiap jenis ikan.
 Pengelolaan pembenihan ikan
dapat dilakukan secara
1. tradisional,
2. semi intensif
3. intensif.
Tradisional
Pengelolaan pembenihan ikan secara
tradisional merupakan kegiatan
pembenihan yang dilakukan secara
turun temurun.
Umumnya pengelolaan pembenihan ikan
secara tradisional belum menggunakan
teknologi.
Semi Intensif
Pengelolaan pembenihan ikan
secara semi intensif merupakan
modifikasi dan perbaikan
pembenihan ikan secara
tradisional.
Intensif
Pembenihan ikan secara intensif
merupakan kegiatan pembenihan yang
efektif dan efisien dengan
mengoptimalkan sumberdaya untuk
meningkatkan produksi benih ikan.
Kegiatan Utama Dalam Pembenihan Nila
Produksi
Benih
Pendederan
(P1 – P3)
Panen &
Pemasaran
• Pemilihan Induk
• Pemberokan/Recovery
• Pemijahan
- Sapih Benih
- Ketek (Sistem JANTI)
• Persiapan Kolam
- Pengeringan
- Pemupukan
- Pengapuran
- Pengisian Air
• Pendederan (P1 –
P3)
Manaj. INDUK :
• Manaj. Genetik
• Manaj. Pakan
• Manaj. Kualitas
Air
• Manaj. Kesehatan
• Manaj. Pakan
• Manaj. Kualitas Air
• Manaj. Kesehatan
• Panen
• Grading Ukuran
• Pengemasan
• Pengangkutan
54
Diagram :
Alur Produksi Budidaya Nila
Induk Kembali
Dimatangkan
Gonadnya
Persiapan Kolam
Pemijahan
Persiapan Kolam Pendederan
(pengeringan, pemupukan, pengisian air &
penumbuhan planton)
Pematangan Ganad
Pemijahan
Pengambilan Larva
Pendederan I (1 bulan)
(larva s/d 3-5 cm)
Pendederan II (1 bulan)
(3-5 cm s/d 5-8 cm)
Pendederan III (1 bulan)
(5-8 cm s/d 8-12 cm)
Pembesaran I
(max. 80 hari)
Pembesaran II
(max. 80 hari)
Panen &
Pengemasan
Pengangkutan
& Pemasaran
A. Produksi Benih
1. Pemilihan Induk
Ciri Induk Nila Yang Baik :
 Bentuk tubuh normal/tidak cacat
 Sehat/tidak terinfeksi penyakit
 Bukan hasil perkawinan sekerabat/inbreeding
 Kriteria kuantitatif sifat reproduksi induk nila menurut SNI, adalah :
(lanjutan)
2. Pemberokan/Recovery
• Tujuan : pemulihan (recovery) induk sebelum pemijahan
• Waktu : ± 2 minggu untuk sapih larva/benih dan
± 1 bulan untuk sistem telur (ketek)
• Lakukan : Manaj. Pakan (2%/hari), Kualitas Air, dan Kesehatan
Ikan
Bak Recovery Induk Nila
Jantan
Bak Recovery Induk Nila
Betina
3. Pemijahan
a. Ketek (Sistem JANTI)
- Dilakukan di bak pemijahan
- Perb. Jantan : Betina = 1 : 3
- Panen telur : 15 – 18 hari
setelah pemijahan
- Lakukan : Manaj. Pakan
(1%/hari), Kualitas Air,
dan Kesehatan Ikan
(lanjutan)
Video Pemijahan Sistem Janti
Telu
r
Larv
a
Penetasan Telur
(hatchery)
Penebaran Larva
3. Pemijahan
b. Sapih Benih
- Dilakukan di kolam
- Perb. Jantan : Betina = 1 : 3 s/d 1 : 5
- Panen larva : 10 hari
setelah pemijahan s/d
hari ke-30
- Lakukan : Manaj. Pakan
(1%/hari), Kualitas Air,
dan Kesehatan Ikan
(lanjutan)
Video Pemijahan Sistem Sapih Benih
B. Pendederan (P1 – P3)
1. Persiapan Kolam
a. Pengeringan
- Waktu : 3 – 5 hari
- Pastikan dasar kolam telah kering/retak-retak
b. Pemupukan (P1)
- Organik (kotoran puyuh) : 100 g/m2
- Anorganik (urea) : 15 g/m2
(bila perlu)
c. Pengapuran
- Kapur tohor : 25 g/m2
(bila perlu)
d. Pengisian Air (P1)
- Kolam diisi air dengan kedalaman awal ± 20 cm pada outlet
- Biarkan kolam selama ± 4 hari sampai plankton tumbuh
- Kolam siap ditebari larva
- Penambahan air dilakukan secara bertahap sampai panen hingga mencapai kedalaman
80 cm
(lanjutan)
2. Pendederan (P1 – P3)
C. Panen & Pemasaran
1. Panen Benih (P1 – P3)
Video Panen Benih
C. Panen & Pemasaran ……… (lanjutan)
2. Grading Ukuran
3. Pengemasan
C. Panen & Pemasaran ……… (lanjutan)
Video Grading & Pengemasan
Manajemen Kesehatan Ikan
Waspadai gejala serangan hama penyakit
Spesies Ikan Virus Bakteri Jamur Parasit
Ikan Mas
(Cyprinus carpio)
Virus Herpes Koi (KHV) Aeromonas Flavobacterium Achlya Aphanomyces Trichodina
Ichthyopthirius,
Chilodonella,
Myxobolus, Argulus
Lernaea, Dactylogyrus,
Gyrodactylus, Cestoda,
Digenetik, Glochidium
Ikan Nila
(Oreochromis
sp.)
- Streptococcus
Flavobacteriu
m
Achlya Trichodina
Chilodonella
Dactylogyrus
Gyrodactylus
Ikan Patin
(Pangasius sp)
- Edwardsiella
Flavobacterium
Achlya Trichodina, Oodinium,
Ichthyophthirius,
Argulus, Dactylogyrus
Ikan Betutu
(Oxyeleotris marmorata)
- Streptococcus Achlya Lernaea, Trichodina,
Dactylogyrus
Ikan Botia
(Botia macracanthus)
- Flavobacterium Ichthyophthirius, Trichodina,
Oodinium
Gyrodactylus
• Menyerang insang dan kulit
• Gejala: lemah, susah nafas, pertumbuhan lambat, ekses lendir,
kulit merah
Dactylogyrus
 Penambahan bahan kimia ke air
• Perlakuan mengalir (flowing treatment)
• Pencelupan ikan (dips)
• Pemandian cepat (short bath)
• Pemandian panjang (long bath)
• Penyemprotan di atas kolam
• Menggantung bahan kimia dalam air
 Penambahan bahan kimia ke pakan
• untuk mengendalikan endoparasit, bakteri dan infeksi patogen lain
ke dalam tubuh ikan
 Penambahan bahan kimia langsung ke ikan
• pengolesan bahan kimia dan injeksi
 Pengendalian secara mekanik (bio security)
 Pengendalian secara biologi
Penanggulangan Hama & Penyakit Ikan
PEMBESARAN IKAN
• Pembesaran ikan merupakan salah satu tahapan kegiatan
budidaya untuk menghasilkan ikan konsumsi
• Istilah Pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan
• Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ukuran
baik bobot maupun Panjang dalam satu period waktu
tertentu
Pembesaran Ikan
Pertumbuhan Ikan dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu:
Faktor Internal
Faktor eksternal
Genetik dan kondisi fisiologis ikan
Komposisi kualitas kimia dan fisika
air, bahan pembuangan metabolik,
ketersediaan pakan, dan penyakit
Teknik Budidaya Ikan Bandeng
Tahapan Budidaya Bandeng
1. Hatchery Nener bandeng berukuran 1 cm, umur nener bandeng di hatchery selama 15 -
25 hari.
2. Penggelondongan Tambak penggelondongan 1 : Nener dipelihara selama 15 hari, nener
bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 1 cm hingga 2 - 3 cm
Tambak Penggelondongan 2 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 - 25 hari,
ikan bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 3 cm hingga berukuran 5 - 6 cm.
Tambak Penggelondongan 3 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 hari, ikan
bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 6 cm hingga berukuran 7 - 10 cm
Tambak Penggelondongan 4 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 hari, ikan
bandeng tumbuh sejak ukuran 10 cm hingga berukuran 15 cm. Pada ukuran
tersebut ikan bandeng sudah mulai dapat dijual untuk komoditas bandeng
umpan.
3.Tambak
Pembesaran
Pemeliharaan ikan bandeng pada tambak pembesaran
berlangsung selama 2 – 3 bulan, hingga bandeng
berukuran konsumsi (4 ekor per kilogram).
Pembesaran Ikan Bandeng
Pra-Produksi
(Persiapan Produksi)
Persiapan Produksi (tambak
tradisional )
1. Pengeringan Dasar kolam
2. Perbaikan pematang
3. Pengapuran
5. Pemupukan
6. Pemasangan saringan pada saluran pemasukan dan pengeluaran air
7. Pengisian air
Pengeringan Dasar Tambak
01
Pengeringan bertujuan untuk mendekomposisi
mikroba dalam bahan organik tanah dan menyebabkan
terjadinya mineralisasi dari kandungan organik dan
mengoksidasi asam organik, dan dapat menguapkan
racun-racun yang ada di kolam budidaya sebelumnya,
dimungkinkan berasal dari sisa pakan, feses, salah satu
bentuk kontrol alami terhadap pengganggu ataupun
predator serta dapat meningkatkan pH tanah
Perbaikan Pematang
02
Perbaikan pelataran tambak dilakukan dengan
cara menggali tanah di dalam caren tersebut
dan mengangkatnya ke pematang, kemudian
meratakan dan memadatkannya di
bagian pematang menggunakan skop khusus
yang terbuat dari kayu. Hal itu bertujuan untuk
membuat dinding pematang menjadi padat dan
tidak mudah longsor.
Pengapuran
03
Pengapuran bertujuan untuk
meningkatkan pH tanah serta membunuh
bakteri pathogen yang ada dan organisme
hama. Kapur yang digunakan untuk
pekerjaan ini adalah kapur pertanian
(CaCO3). Dosis yang digunakan
tergantung pada kondisi pH tanah.
Semakin rendah pH tanah maka
kebutuhan kapur untuk pengapuran
semakin banyak.
Pemupukan
04
Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan kesuburan
tanah dasar kolam (menumbuhkan pakan alami pada
tambak)
Pemasangan Saringan Pada Saluran Pemasukan Dan
Pengeluaran Air
05
Guna pemasangan saringan
pada pintu pemasukan dan
pengeluaran air sebelum masuk
ke kolam adalah menjaga agar
sampah dan hama maupun ikan
liar berukuran kecil tidak masuk
ke pipa pemasukan air.
Pengisian Air
06
Pastikan air yang masuk ke tambak berkualitas baik, Pengisian air dilakukan dengan
membuka pintu air yang telah dilengkapi dengan saringan minimal 2 (dua) buah.
Pengisian air dapat pula dengan menggunakan pompa air.
Proses Produksi
Penebaran Benih
Nener yang berasal dari alam atau hatchery, yang akan digunakan untuk usaha
pembesaran ikan bandeng ditambak, haruslah nener yang sehat. Nener yang
sehat dapat dilihat dari ciri-ciri umurnya yaitu :
• Besar ukuran nener seragam (minimal 95% seragam).
• Tidak tampak adanya cacar fisik atau gerakan.
• Gerakan lincah. Dapat dibuktikan dengan: jika air pada bak diputar, maka
nener bergerak melawan arus.
• warna tubuh transparan, dengan isi perut yang tampak penuh.
• Ketika diberi makan segera melahap (responsif), gerakannya aktif
Hal Yang Perlu Diperhatikan Pada
Saat Penebaran Benih
• Penebaran nener melalui proses aklimatisasi. Aklimatisasi ini bertujuan untuk
menyesuaikan kondisi lingkungan dimana nener itu berada dengan kondisi
lingkungan tambak pembesaran
• Penebaran nener ditambak pembesaran sebaiknya dilakukan, pada pagi atau sore
hari pada saat matahari tenggelam. Hal ini untuk menghindari kematian nener
akibat stress karena tingginya suhu dilingkungan.
Padat Penebaran
Padat penebaran adalah perbandingan jumlah ikan-ikan/nener yang
akan ditebar dengan luas tambak pembesaran. Dengan mengetahui
padat penebaran pada awal pemeliharaan akan diperoleh manfaat
antara lain adalah :
• Dapat menentukan jumlah pakan yang akan diberikan
• Dapat mengoptimalkan tambak pembesaran sesuai dengan daya
dukung tambak pembesaran tersebut.
• Dapat mengurangi timbulnya penyakit ditambak pembesaran karena
kepadatan tinggi.
• Dapat menetukan target produksi pada akhir pemeliharaan.
• Padat penebaran nener ditambak pembesaran berkisar
antara 5 – 6 ekor/m2 untuk ukuran nener bandeng 3 – 5
cm. Sedangkan untuk nener yang berukuran 1 – 3 cm,
padat penebarannya berkisar antara 2 – 3 ekor/m2 . Untuk
benih bandeng yang berukuran 12 – 15 cm yang disebut
gelondongan ditebar ke tambak pembesaran dengan padat
penebaran 1.500 ekor/ha.
Langkah selanjutnya setelah dilakukan penebaran nener
bandeng adalah melakukan proses pemeliharaan nener
sampai mencapai ukuran konsumsi. Proses yang dilakukan
selama pemeliharaan sama persis dalam melakukan
budidaya ikan lainnya meliputi pemberian pakan,
pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit,
pemantauan pertumbuhan. Perlakuan selama pemeliharaan
sangat ditentukan oleh sistem budidaya yang diterapkan
Pemberian Pakan
Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan
herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan
yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah
lumut, klekap dan plankton .
Pakan alami seperti klekap, lumut, dan plankton
ditumbuhkan diawal pemeliharaan yaitu dengan pemberian
pupuk baik organik dan/atau anorganik berupa pupuk dasar.
Namun, apabila pada saat pemeliharaan klekap/lumut terlihat
menipis maka dapat dilakukan pemupukan susulan
Jika kondisi perairan tambak baik dan pakan alami cukup,
maka dengan pemeliharaan selama 3 - 4 bulan di petak
pembesaran, maka ikan bandeng dapat mencapai ukuran
300 - 350 g/ekor (3 ekor/kg).
Pengelolaan Kualitas Air
Untuk menjaga kualitas air tambak selama
pemeliharaan, lakukan pergantian air
secara rutin dengan memanfaatkan kondisi
pasang surut, cek kualitas air dalam
tambak secara rutin setiap hari (pH, suhu,
kecerahan, usahakan 2 - 3 kali sehari).
Jika ketinggian air pasang tidak dapat
diandalkan untuk mengisi air tambak;
penambahan air tambak dapat dilakukan
dengan bantuan pompa air.
Kualitas air optimal untuk pemeliharaan ikan bandeng
Sumber: WWF Indonesia
Pengendalian Hama dan Penyakit
A. Hama
B. Penyakit
Pengendalian Hama dan Penyakit
Penyakit menghambat pertumbuhan ikan bandeng, bahkan
menyebabkan kematian dan gagal panen. Penyakit dipicu seiring
dengan memburuknya kualitas air. Penumpukan bahan organik dari sisa
kotoran ikan menjadi media perkembangan parasit dan bakteri.
Bakteri yang sering menimbulkan penyakit adalah vibrio yang
menyebabkan ekor busuk (fin rot). Pergantian air secara rutin dapat
mengurangi penyakit. Penggunaan bahan kimia untuk menanggulangi
penyakit tidak dianjurkan, kecuali dalam kondisi terpaksa
Pasca Produksi
Panen
Panen dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan
pencapaian ukuran ikan yang dipelihara yaitu 300 –
350 gram/ekor. Panen ikan bandeng pada sistem
tradisional yaitu sekitar 4 bulan masa pemeliharaan di
petak pembesaran. Dengan demikian panen bandeng
dapat dilakukan secara bertahap (panen selektif).
Cara Panen
• Panen dilakukan pada pagi hari saat usus kosong dan
menghindari kerusakan organ pencernaan.
• Air tidak dikurangi dan menggunakan waring untuk
menghindari sisik lepas. Bandeng diserok secara total
menggunakan krikip kemudian dipindahkan ke terpal (hapa)
menggunakan keranjang.
Beberapa Cara Agar Ikan Bandeng Tetap Segar :
• Usahakan ikan bandeng dipanen dalam keadaan masih hidup, tidak
mati di dalam tambak
• Dalam pemanenan, bandeng diperlakukan dengan baik, hindari
melempar sembarangan yang menyebabkan ikan luka (sisik lepas).
Luka dapat mempercepat kebusukan.
• Usahakan ikan bandeng mati dalam air yang bersuhu rendah atau
dalam es.
• Ikan bandeng yang sudah dicuci dimasukkan dalam air es selama
beberapa menit, sehingga suhu menjadi dingin secara merata.
• Ikan yang sudah dipanen, dicuci bersih dari semua kotoran, terutama
dari lumpur yang menempel.
• Ikan bandeng yang sudah bersih dan sudah didinginkan dengan es,
siap dikemas dan diangkut ke tempat penjualan ikan bandeng.
TERIMA KASIH

PERKULIAHAN DASAR BUDIDAYA PERIKANAN.pptx

  • 1.
    DASAR BUDIDAYA PERIKANA Oleh : FahmiArief, S.KH. M. VET., Ag.
  • 2.
    KRITERIA PENILAIAN No KriteriaNilai 1 Absensi 10 % 2 Tugas 30 % 3 UTS/UAS 60 % 4 Total 100 %
  • 3.
    Definisi Akuakultur  Berasaldari bahasa Inggris; aquaculture  Aqua: perairan, culture: budidaya  Akuakultur : kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).  Yang dimaksud budidaya adalah kegiatan pemeliharaan untuk: a. memperbanyak (reproduksi) b. menumbuhkan (growth) c. meningkatkan mutu biota akuatik sehingga memperoleh keuntungan  Pengertian dan Ruang Lingkup
  • 4.
    Pembudidayaan ikan adalahkegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol. (UU no. 31 th. 2004 tentang Perikanan)
  • 5.
    Peran Budidaya Perairan Saatini di Indonesia dan dunia, produksi penangkapan lebih dominan daripada budidaya. Dimasa yang akan datang usaha budidaya akan lebih berperan dibanding usaha penangkapan. Kecepatan pertumbuhan produksi budidaya dunia > (10%/tahun) lebih besar dari penangkapan (leveling off), dan peternakan (< 5%/tahun)
  • 6.
    Manfaat Budidaya Perairan a.Kecukupan dan keamanan pangan b. Peningkatan gizi/kesehatan c. Menunjang usaha/industri terkait d. Lapangan kerja e. Pemanfaatan sumberdaya perikanan f. Pendapatan masyarakat, PAD, devisa (pertumbuhan ekonomi) g. Pengembangan wilayah h. Pengentasan kemiskinan i. Mendukung OTDA
  • 7.
    Tujuan usaha budidaya Meningkatkan jumlah pangan  Mengimbangi penurunan persediaan ikan secara alami  Mencukupi kebutuhan protein hewani  Meningkatkan produk lain, seperti: mutiara, rumput laut, dll
  • 8.
    Persyaratan jenis ikanyang dibudidaya  Tahan terhadap lingkungan hidup baru  Laju pertumbuhannya cukup tinggi  Maampu berkembang biak daalam keadaan tertangkap  Mampu menyesuaikan diri terhadap makanan buatan yg diberikan  Dapat dibudidayakan dengan kepaadatan tinggi  Tahan terhadap penyakit dan parasit  Memenuhi selera konsumen
  • 9.
    Jenis-jenis ikan yangdibudidaya 1. Ikan air tawar  Gurami (Osphyronemus gouramy)  Mujair (Tilapia mossambica)  Nila (Tilapia nilotica)  Tawes (Puntius javanicus)  Patin (Pangasius pangasius)  Lele (Clarias batracus) 2. Ikan air payau  Bandeng (Chanos chanos)  Udang windu (Penaeus monodon) 3. Ikan air laut  Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)  Cakalang (Katsuwonus pelamis)  Lobster
  • 10.
    Pengertian dan RuangLingkup Akuakultur Dalam usaha akuakultur mencakup : a. Pembenihan ikan  Pemilihan induk  Pemijahan induk  Penetasan telur  Pemeliharaan larva  Pendederan b. Pembesaran  Efesiensi pakan  Konversi pakan c. Nutrisi pakan  Formula pakan  Nilai gizi d. Kualitas air e. Sistem pengadaan sarana dan prasarana produksi akuakultur
  • 11.
    Sistem pengadaan saranadan prasarana produksi akuakultur  Prasarana produksi · Pemilihan lokasi · Pengadaan bahan dan · Pembangunan fasilitas produksi  Sarana produksi · Pengadaan induk · Benih · Pakan · Pupuk · Obat-obatan · Pestisida · Peralatan akuakultur dan · Tenaga kerja
  • 12.
     Subsistem prosesproduksi  Persiapan akuakultur  Penebaran (stocking)  Pemberian pakan  Pengelolaan lingkungan  Kesehatan ikan  Pemantauan ikan  Pemanenan  Subsistem penanganan pasca panen dan pemasaran  Meningkatkan mutu produk  Distribusi produk dan  Pelayanan (servis) terhadap konsumen  Subsistem pendukung  Aspek hukum (UU dan kebijakan )  Aspek keuangan (pembiayaan/kredit,pembayaran)  Aspek kelembagaan (organisasi perusahaan, asosiasi, koperasi, perebankan, lembaga birokrasi, lembaga riset, dan pengembngan
  • 13.
    Contoh kegiatan prosesproduksi akuakultur 1. Persiapan wadah: a. pengeringan b. perbaikan c. pemupukan d. pengisian air 2. Penebaran benih 3. Pemberian pakan 4. Pengelolaan air 5. Pemberantasan hama dan penyakit 6. Pemantauan pertumbuhan 7. Pemanenan
  • 14.
    Manajemen produksi akuakultur Manajemen kolamManajemen benih Manajemen Pemberian pakan Manajemen Kesehatan ikan Manajemen Kualitas air Manajemen panen Proses manajemen produksi akuakultur
  • 15.
    AGRIBISNIS PERIKANAN PERIKANAN BUDIDAYA ManajemenSumberdaya Ikan - Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, rehabilitasi - Rasional, optimal, lestari, mensejahterakan - Penangkapan, budidaya, penanganan pasca panen/ pengolahan, distribusi dan pemasaran Penangkapan a. Stok ikan di perairan umum b. Maximum Sustainable Yield (MSY) c. Maximum Economic Yield (MEY) d. Maximum Social Yield (MScY) e. Optimum Sustainable Yield (OSY) f. Overfishing g. Kerusakan habitat
  • 16.
    Batasan Budidaya Perairan(Akuakultur) Pemeliharaan, baik pembesaran maupun pembenihan di dalam lingkungan perairan terbatas/tertutup untuk peningkatan produktivitas atau kualitas di atas kemampuan alami dengan berbagai manipulasi (SDA, tempat, air, ikan, sarana, prasarana). Teknologi Penanganan Pasca Panen Hasil Perikanan - Penanganan - Pengemasan - Pengolahan - Pendistribusian - Meningkatkan keawetan, kesukaan, gizi, harga, manfaat, nilai tambah, pangsa pasar - Promosi - Pemasaran
  • 17.
    I. Menunjang ProsesProduksi (Prasarana, Sarana dan Jasa) II. Kegiatan Proses Produksi (Pemanfaatan SDA/SDI/SDP, SDM, IPTEK) III. Pemanfaatan Hasil Perikanan A. PENANGKAPAN 1. Kapal 2. Alat tangkap 3. Bengkel/dok 4. Sarana Produksi (BBM, Es, umpan, pangan, perlengkapan, alat bantu dll) 5. Modal, asuransi, jasa, dll 6. Biro konsultan, LPK (IPTEK dan SDM) PENANGKAPAN 1. Di berbagai daerah, pantai, lepas pantai, ZEE, Samudra. Jenis ikan, alat tangkap dan kapal (dimana saja, kapan, berbagai tingkat usaha) 2. Ranching 3. Wisata/Sport fishing C. PASCA PANEN 1. sarana penunjang 2. Penanganan, pengawetan, pengolahan 3. Distribusi dan pemasaran 4. Dan lain-lain yang terkait 5. Dapat terpadu dengan operasi penangkapan dan budidaya B. BUDIDAYA 1. Biro konsultan, LPK (kontruksi/IPTEK/SDM), Modal 2. Prasarana 3. Sarana produksi (benih, obat-obatan, pakan, kapur, zeolit, dll) 4. Alat dan bahan/perlengkapan (genset, kincir, dll) 5. Perbengkelan BUDIDAYA 1. Di berbagai daerah 2. Di berbagai lokasi (laut, payau, tawar) 3. Berbagai cara/teknik budidaya (kolam, tambak, jaring apung, minapadi, dll), ranching 4. Berbagai jenis ikan 5. Berbagai komoditi (pakan, pangan, bahan baku industri, ikan hias, asesoris) PELUANG AGRIBISNIS PERIKANAN Jenis dan peluang usaha penunjang proses produksi (I) dan pemanfaatan hasil (III) lebih besar daripada proses produksi (II) (misalnya di USA, tenaga kerja yang terserap dalam pertanian langsung hanya 2,7% sedang yang menunjang dan memanfaatkan hasil 21%)
  • 18.
  • 19.
    Komoditas Akuakultur Komoditas adalahbarang atau produk yang bisa diperdangankan , jadi komoditas akuakultur adalah spesies atau jenis ikan (dalam arti luas) yang diproduksi dalam kegiatan akuakultur dan menjadi barang /produk yang bisa diperdagangkan Grass carp Common carp Bighead carp Silver carp
  • 20.
    Brook Trout, Salvelinusfontinalis Rainbow Trout, Salmo gairdneri (=Oncorhynchus mykiss) Largemouth Bass, Micropterus salmoides Bluegill, Lepomis macrochirus Red-ear sunfish, Lepomis macrochirus Common carp, Cyprinus carpio Nile Tilapia, Oreochromis niloticus Blue Tilapia, Oreochromis aurea Black Tilapia, Oreochromis mossambica Hybrid Striped Golden Shiner Notemigonus crysoleucas Fathead Minnow Pimephales promelas White Sucker Catostomus commersoni Goldfish Carassius autatus TILAPIA
  • 21.
    Golongan ikan adalahspesies akuakultur yang memiliki sirip sebagai organ penggeraknya Contoh komoditas akuakultur dari golongan ikan adalah :  Ikan mas ( Cyprinus carpio )  Ikan nila ( Oreochromis niliticus )  Ikan lele ( Clarias sp )  Ikan gurami ( osphronemus gouramy )  Ikan patin ( Pangosius sp )  Ikan kerapu macan ( Epinephelus fusguttatus )  Ikan kerapu bebek ( Cromiletes altivelis )  Ikan kakap putih ( Lates calcarifer )  Ikan bandeng ( chanos chanos ) IKAN
  • 22.
    Golongan udang adalahspesies akuakultur yang memiliki karapas yaitu kulit yang mengandung kitin sehingga bisa mengeras Contoh komoditas akuakultur dari golongan udang adalah :  Udang windu ( Paneos monodon )  Udang vanamei ( Litopaneus vannamei)  Udang bru ( Panaeus stylostris )  Udang putih ( Panaeus japonicus )  Udang galah crobrach tawar ( Macrobrachium rasenbergit )  Udang cerax ( Cherax sp )  Udang lobster ( Homarus sp )  Kepiting bakau ( Scylla serrata ) UDANG
  • 23.
    Golongan moluska adalahspesies akuakultur yang memiliki cangkang yang keras Contoh komoditas akuakultur dari golongan moluska adalah :  Karang mutiara ( Pinctada maxima )  Abalone ( Heliotis sp.)  Kerang hijau ( Mytilus sp.)  Kerang darah ( Anadara sp.) MOLUSKA
  • 24.
    Komoditas Ikan Budidaya Komoditas ikan laut : kerapu macan, kerapu bebek, napolion, karang mutiara, dan rumput laut.  Komoditas ikan tawar : ikan mas, lele, gurami, nila, mujair, dan patin.  Komoditas air payau : udang windu dan bandeng.
  • 25.
    Sumber Daya Air Berdasarkankadar garamnya ( salinitas ), perairan dipermukaan bumi dibagi menjadi tiga golongan yaitu : TAWAR PAYAU LAUT PERAIRAN
  • 26.
  • 27.
    1. Perairan airtawar Perairan air tawar terdapat didaratan mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga daratan rendah dekat pantai, berupa  Danau  Situ  Waduk  Sungai  Saluran irigasi  Mata air  Sumur dan  Air hujan
  • 28.
  • 29.
    3. Perairan laut Perairanair laut adalah perairan yang berada dilaut dan memiliki kadar garam berkisar antara 30-35 ppt. Berupa :  Teluk perairan laut yang menjorok masuk → kedalam daratan  Selat perairan laut diantara dua atau → beberapa pulau  Perairan laut dangkal umumnya berlokasi → didekat pantai
  • 30.
  • 31.
    2. Perairan payau Perairanpayau berlokasi dimuara sungai dan pantai tempat terjadinya transisi dari kondisi air tawar ke kondisi air asin (laut), antara lain :  Perairan payau di muara sungai dan pantai  Perairan payau di rawa  Perairan payau di paluh
  • 32.
    Air sebagai MediaBudidaya Ikan
  • 33.
     Air adalahsatu-satunya benda di atas bumi ini yang dalam kondisi sehari-hari dapat kita jumpai dalam 3 ujud sekaligus: cair (air), gas (uap air) dan padat (es).  Air merupakan media hidup ikan dan hewan air lainnya.  Secara umum kualitas air berhubungan dengan kandungan bahan terlarut didalamnya.  Tingkat kandungan dari bahan tersebut akan menentukan kelayakannya.  Setiap mahluk hidup memerlukan kandungan bahan terlarut yang berbeda, sehingga kualitas airpun bersifat relatif bagi satu mahluk hidup ke mahluk hidup yang lain. Air dan Bahan Terlarutnya
  • 34.
     Tidak semuabahan terlarut dalam air berbahaya bagi kehidupan ikan, beberapa diantaranya justru sangat diperlukan dan wajib ada.  Bahan tersebut adalah oksigen dan untuk tumbuhan air karbon dioksida diperlukan kehadirannya.  Sedangkan untuk penghuni air laut kalsium sangat diperlukan.  Bahan terlarut lain yang diketahui tidak menguntungkan dan bahkan beracun adalah amonia. Nitrat sampai tahap tertentu berakibat buruk pada ikan, Begitu juga dengan beberapa kandungan logam berat.
  • 35.
     Satu bahanyang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari tetapi sangat fatal bagi ikan adalah klorin. Bahan ini kerap ditemukan dalam air olahan suatu perusahaan air minum yang sering dipergunakan sebagai salah satu sumber air.  Air untuk keperluan kehidupan ikan, tanaman dan komunitas air lainya sering dinyatakan dengan parameter umum sbb: suhu (temperatur), DO, salinitas, pH, dsb.
  • 36.
     Salinitas. Adalahjumlah total garam terlarut yang terukur dalam sampel air dalam satuan ppt (part per thausand). Garam lautan berasal dari garam di pegunungan yang terbawa oleh aliran air hujan dan sungai. Satuan ppt artinya bagian per seribu. Sedangkan air payau adalah air yang rasanya setengah asin setengah tawar, atau mempunyai salinitas 15-25 ppt. Setiap jenis ikan mempunyai salinitas optimal untuk hidupnya. Salinitas yang baik untuk budidaya udang windu adalah 15-22 ppt, sedangkan untuk udang putih 20-30 ppt. Parameter Kualitas Air
  • 37.
     DO (DissolvedOxygen). Memegang peranan penting bagi mahluk hidup. Kebutuhan oksigen dipenuhi dengan oksigen yang terlarut dalam air, maupun langsung dari udara pada beberapa jenis hewan tertentu (misalnya lele). Ikan dan udang memerlukan oksigen untuk menghasilkan energi untuk beraktivitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain.  Jumlah oksigen yang ada dalam air dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/bagian per sejuta). Besarnya DO optimal untuk budidaya adalah 4 – 7,5 ppm. Sumber DO air berasal dari udara melalui proses difusi dan dari proses fotosintesis tumbuhan dalam air. Besar-kecilnya DO ditentukan oleh temperatur air dan udara, jumlah tumbuhan air baik yang berupa tumbuhan besar maupun dalam bentuk phytoplankton, kadar mineral dan Biological Oxygen Demand (BOD).
  • 38.
     Derajat Keasaman(pH). Tingkat keasaman air dinyatakan dalam pH air. Besarnya pH air yang optimal untuk kehidupan ikan dan udang adalah 6,5 – 8 (netral), karena pada kisaran tersebut menunjukkan imbangan yang optimal antara oksigen dan karbondioksida serta berbagai mikrooranisme yang merugikan sulit berkembang. Kondisi pH air dapat berubah-ubah selama budidaya, hal ini yang berakibat buruk bagi ikan atau udang.  Air yang pH-nya terlalu rendah (asam) dapat menyerap fosfat yang berperan dalam kesuburan air, sehingga kesuburan kolam dapat menurun. Penurunan pH dapat diatasi melalui pengapuran dengan dosis 100 – 250 kg/ha.
  • 39.
     Alkalinitas. Adalahkapasitas air untuk menetralkan setiap penambahan asam tanpa menurunkan pH. Alkalinitas merupakan buffer (penahan) terhadap pengaruh pengasaman. Alkalinitas disebabkan oleh adanya ion-ion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO3 2- ), hidroksida (OH- ) dan ion-ion lain dalam jumlah kecil.  Kecerahan Air. Kecerahan menunjukkan populasi plankton dan kandungan material terlarut dalam air. Kecerahan yang baik berkisar antara 30 – 40 cm, dimana populasi plankton cukup ideal untuk pakan alami dan material terlarut cukup rendah. Pada awal budidaya, biasanya kecerahan air tinggi (50 cm hingga dasar kolam) karena populasi plankton masih rendah dan air masih bersih. Semakin lama kecerahan makin rendah (hingga 10 cm).Untuk mempertahankan kecerahan yang ideal, dilakukan ganti air baru secara rutin.
  • 40.
     Suhu. Suhuair juga sangat penting bagi kehidupan ikan atau udang karena suhu air sangat berpengaruh terhadap kehidupan jasad renik (mikroorganisme), sehingga dapat mempengaruhi kehidupan ikan dan udang. Suhu ideal untuk budidaya adalah 25 – 310 C. Jika suhu berfluktuasi secara drastis, dapat berakibat buruk bagi pertumbuhan embrio ikan.  Suhu air dipengaruhi oleh radiasi cahaya matahari, suhu udara, cuaca dan lokasi. Air mempunyai kapasitas yang besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif konstan dibandingan dengan suhu udara, perbedaan suhu air antara pagi hari dan siang hari hanya 20 C.
  • 41.
     Suhu airakan mempengaruhi densitas/kepadatannya (dalam gr/cm3 ). Perbedaan densitas air antara lapisan atas dan lapisan bawah dapat menyebabkan terjadinya stratifikasi air menjadi 3 lapisan, yaitu epilimnion (lapisan atas yang suhunya tinggi), hypolimnion (lapisan bawah yang dingin) dan thermocline (lapisan antara keduanya yang suhunya turun drastis). Stratifikasi air ini dipengaruhi oleh kedalaman kolam/tambak dan radiasi cahaya matahari.  Kedalaman air. Untuk kolam budidaya, kedalaman air yang ideal yaitu 70 – 120 cm. Air yang terlalu dangkal menyebabkan perubahan suhu terlalu besar.
  • 42.
     Jika airterlalu dalam mengakibatkan perbedaan suhu yang menyolok antara air bagian atas dengan bagian bawah dan sinar matahari tidak dapat mencapai air bagian bawah sehingga pertumbuhan phytoplankton terhambat.
  • 43.
     Salinitas air.Upaya rekayasa salinitas air media dapat dilaksanakan dengan pencampuran antara air laut dan air tawar.  Formulasi yang digunakan untuk melakukan pencampuran adalah sbb:  Pengukuran salinitas air media dapat dilakukan dengan menggunakan alat Refraktometer.  Menambah kedalaman kolam budidaya untuk menjaga kestabilan salinitas. Rekayasa Kualitas Air Media
  • 44.
     DO (DissolvedOxygen). Upaya rekayasa oksigen terlarut dalam air media dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain sbb:  Menjaga keseimbangan dan keberadaan fitoplankton di kolam.  Resirkulasi air lama dengan air yang baru (10-40%).  Meningkatkan frekuensi pertemuan air dan udara untuk meningkatkan proses difusi oksigen, dalam hal ini bisa digunakan beberapa alat dan metode antara lain: aerator, kincir air, penggunaan trap tangga di tepi kolam, dll.  Menjaga kestabilan suhu (suhu mempengaruhi oksigen), dengan cara menjaga volume air media.
  • 45.
     Derajat Keasaman(pH). Umumnya permasalahan yang sering terjadi pada kegiatan budidaya adalah rendahnya pH air media.  Pada dasarnya ada keterkaitan antara turunnya pH air dan naiknya CO2 di dalam air. Rekayasa yang perlu dilakukan pertama kali adalah dengan menaikkan kandungan oksigen terlarut dalam air.  Namun jika upaya menaikkan oksigen terlarut tidak memberikan hasil, dapat dilakukan upaya rekayasa dengan menambahkan segala jenis bahan yang memiliki kandungan kalsium (Ca). Contohnya: melewatkan air melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur.  Dalam kasus tertentu, jika pH air kolam terlalu tinggi dapat digunakan jenis kayu2an yang bersifat asam ke dalam kolam. Contohnya: daun ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya yang intinya memliki kemampuan menjerap kesadahan.
  • 46.
     Suhu. Pengelolaansuhu air media budidaya terkait dengan banyak faktor diantaranya: intensitas sinar matahari, volume air media, keberadaan CO2, dll.  Mengatur kedalaman air, untuk menjaga agar air media dalam volume yang cukup sehingga suhu fluktuasi suhu dapat diminimalisir.  Pada jenis kegiatan pembenihan dan pendederan dapat dilakukan rekayasa faktor suhu dengan menutup bagian atas kolam dengan menggunakan terpal, penutup atau ditempatkan secara indoor.
  • 47.
  • 48.
     Pembenihan ikanadalah ilmu yang mempelajari mengenai kegiatan mengembangbiakkan/memperbanyak/membenihkan ikan secara alami, semi buatan dan buatan.  Pembenihan ikan diawali dari pengelolaan induk ikan, yang benar, seleksi induk, sesuai dengan standar Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan proses pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan larva serat pendederan benih sesuai dengan kebutuhan produksi sehingga dapat diperoleh hasil budidaya yang optimal.  Penyediaan induk, kolam pendederan, kolam induk dan kolam pemijahan harus dihitung berdasarkan skala usaha dengan pertimbangan jenis ikan yang di pelihara.  Setiap jenis ikan memiliki sifat dan kebiasaan berbeda baik dalam pemijahan, pakan dan habitat sehingga membutuhkan pengetahuan perilaku setiap jenis ikan.
  • 49.
     Pengelolaan pembenihanikan dapat dilakukan secara 1. tradisional, 2. semi intensif 3. intensif.
  • 50.
    Tradisional Pengelolaan pembenihan ikansecara tradisional merupakan kegiatan pembenihan yang dilakukan secara turun temurun. Umumnya pengelolaan pembenihan ikan secara tradisional belum menggunakan teknologi.
  • 51.
    Semi Intensif Pengelolaan pembenihanikan secara semi intensif merupakan modifikasi dan perbaikan pembenihan ikan secara tradisional.
  • 52.
    Intensif Pembenihan ikan secaraintensif merupakan kegiatan pembenihan yang efektif dan efisien dengan mengoptimalkan sumberdaya untuk meningkatkan produksi benih ikan.
  • 53.
    Kegiatan Utama DalamPembenihan Nila Produksi Benih Pendederan (P1 – P3) Panen & Pemasaran • Pemilihan Induk • Pemberokan/Recovery • Pemijahan - Sapih Benih - Ketek (Sistem JANTI) • Persiapan Kolam - Pengeringan - Pemupukan - Pengapuran - Pengisian Air • Pendederan (P1 – P3) Manaj. INDUK : • Manaj. Genetik • Manaj. Pakan • Manaj. Kualitas Air • Manaj. Kesehatan • Manaj. Pakan • Manaj. Kualitas Air • Manaj. Kesehatan • Panen • Grading Ukuran • Pengemasan • Pengangkutan
  • 54.
    54 Diagram : Alur ProduksiBudidaya Nila Induk Kembali Dimatangkan Gonadnya Persiapan Kolam Pemijahan Persiapan Kolam Pendederan (pengeringan, pemupukan, pengisian air & penumbuhan planton) Pematangan Ganad Pemijahan Pengambilan Larva Pendederan I (1 bulan) (larva s/d 3-5 cm) Pendederan II (1 bulan) (3-5 cm s/d 5-8 cm) Pendederan III (1 bulan) (5-8 cm s/d 8-12 cm) Pembesaran I (max. 80 hari) Pembesaran II (max. 80 hari) Panen & Pengemasan Pengangkutan & Pemasaran
  • 55.
    A. Produksi Benih 1.Pemilihan Induk Ciri Induk Nila Yang Baik :  Bentuk tubuh normal/tidak cacat  Sehat/tidak terinfeksi penyakit  Bukan hasil perkawinan sekerabat/inbreeding  Kriteria kuantitatif sifat reproduksi induk nila menurut SNI, adalah :
  • 56.
    (lanjutan) 2. Pemberokan/Recovery • Tujuan: pemulihan (recovery) induk sebelum pemijahan • Waktu : ± 2 minggu untuk sapih larva/benih dan ± 1 bulan untuk sistem telur (ketek) • Lakukan : Manaj. Pakan (2%/hari), Kualitas Air, dan Kesehatan Ikan Bak Recovery Induk Nila Jantan Bak Recovery Induk Nila Betina
  • 57.
    3. Pemijahan a. Ketek(Sistem JANTI) - Dilakukan di bak pemijahan - Perb. Jantan : Betina = 1 : 3 - Panen telur : 15 – 18 hari setelah pemijahan - Lakukan : Manaj. Pakan (1%/hari), Kualitas Air, dan Kesehatan Ikan (lanjutan)
  • 58.
  • 59.
  • 60.
    3. Pemijahan b. SapihBenih - Dilakukan di kolam - Perb. Jantan : Betina = 1 : 3 s/d 1 : 5 - Panen larva : 10 hari setelah pemijahan s/d hari ke-30 - Lakukan : Manaj. Pakan (1%/hari), Kualitas Air, dan Kesehatan Ikan (lanjutan)
  • 61.
  • 62.
    B. Pendederan (P1– P3) 1. Persiapan Kolam a. Pengeringan - Waktu : 3 – 5 hari - Pastikan dasar kolam telah kering/retak-retak b. Pemupukan (P1) - Organik (kotoran puyuh) : 100 g/m2 - Anorganik (urea) : 15 g/m2 (bila perlu) c. Pengapuran - Kapur tohor : 25 g/m2 (bila perlu) d. Pengisian Air (P1) - Kolam diisi air dengan kedalaman awal ± 20 cm pada outlet - Biarkan kolam selama ± 4 hari sampai plankton tumbuh - Kolam siap ditebari larva - Penambahan air dilakukan secara bertahap sampai panen hingga mencapai kedalaman 80 cm
  • 63.
  • 64.
    C. Panen &Pemasaran 1. Panen Benih (P1 – P3)
  • 65.
  • 66.
    C. Panen &Pemasaran ……… (lanjutan) 2. Grading Ukuran
  • 67.
    3. Pengemasan C. Panen& Pemasaran ……… (lanjutan)
  • 68.
    Video Grading &Pengemasan
  • 69.
    Manajemen Kesehatan Ikan Waspadaigejala serangan hama penyakit Spesies Ikan Virus Bakteri Jamur Parasit Ikan Mas (Cyprinus carpio) Virus Herpes Koi (KHV) Aeromonas Flavobacterium Achlya Aphanomyces Trichodina Ichthyopthirius, Chilodonella, Myxobolus, Argulus Lernaea, Dactylogyrus, Gyrodactylus, Cestoda, Digenetik, Glochidium Ikan Nila (Oreochromis sp.) - Streptococcus Flavobacteriu m Achlya Trichodina Chilodonella Dactylogyrus Gyrodactylus Ikan Patin (Pangasius sp) - Edwardsiella Flavobacterium Achlya Trichodina, Oodinium, Ichthyophthirius, Argulus, Dactylogyrus Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) - Streptococcus Achlya Lernaea, Trichodina, Dactylogyrus Ikan Botia (Botia macracanthus) - Flavobacterium Ichthyophthirius, Trichodina, Oodinium
  • 70.
    Gyrodactylus • Menyerang insangdan kulit • Gejala: lemah, susah nafas, pertumbuhan lambat, ekses lendir, kulit merah Dactylogyrus
  • 71.
     Penambahan bahankimia ke air • Perlakuan mengalir (flowing treatment) • Pencelupan ikan (dips) • Pemandian cepat (short bath) • Pemandian panjang (long bath) • Penyemprotan di atas kolam • Menggantung bahan kimia dalam air  Penambahan bahan kimia ke pakan • untuk mengendalikan endoparasit, bakteri dan infeksi patogen lain ke dalam tubuh ikan  Penambahan bahan kimia langsung ke ikan • pengolesan bahan kimia dan injeksi  Pengendalian secara mekanik (bio security)  Pengendalian secara biologi Penanggulangan Hama & Penyakit Ikan
  • 72.
  • 73.
    • Pembesaran ikanmerupakan salah satu tahapan kegiatan budidaya untuk menghasilkan ikan konsumsi • Istilah Pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan • Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ukuran baik bobot maupun Panjang dalam satu period waktu tertentu Pembesaran Ikan
  • 74.
    Pertumbuhan Ikan dipengaruhioleh dua faktor, yaitu: Faktor Internal Faktor eksternal Genetik dan kondisi fisiologis ikan Komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan pembuangan metabolik, ketersediaan pakan, dan penyakit
  • 75.
  • 76.
    Tahapan Budidaya Bandeng 1.Hatchery Nener bandeng berukuran 1 cm, umur nener bandeng di hatchery selama 15 - 25 hari. 2. Penggelondongan Tambak penggelondongan 1 : Nener dipelihara selama 15 hari, nener bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 1 cm hingga 2 - 3 cm Tambak Penggelondongan 2 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 - 25 hari, ikan bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 3 cm hingga berukuran 5 - 6 cm. Tambak Penggelondongan 3 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 hari, ikan bandeng akan tumbuh mulai dari ukuran 6 cm hingga berukuran 7 - 10 cm Tambak Penggelondongan 4 : Ikan bandeng dipelihara selama 20 hari, ikan bandeng tumbuh sejak ukuran 10 cm hingga berukuran 15 cm. Pada ukuran tersebut ikan bandeng sudah mulai dapat dijual untuk komoditas bandeng umpan.
  • 77.
    3.Tambak Pembesaran Pemeliharaan ikan bandengpada tambak pembesaran berlangsung selama 2 – 3 bulan, hingga bandeng berukuran konsumsi (4 ekor per kilogram).
  • 78.
  • 79.
  • 80.
    Persiapan Produksi (tambak tradisional) 1. Pengeringan Dasar kolam 2. Perbaikan pematang 3. Pengapuran 5. Pemupukan 6. Pemasangan saringan pada saluran pemasukan dan pengeluaran air 7. Pengisian air
  • 81.
    Pengeringan Dasar Tambak 01 Pengeringanbertujuan untuk mendekomposisi mikroba dalam bahan organik tanah dan menyebabkan terjadinya mineralisasi dari kandungan organik dan mengoksidasi asam organik, dan dapat menguapkan racun-racun yang ada di kolam budidaya sebelumnya, dimungkinkan berasal dari sisa pakan, feses, salah satu bentuk kontrol alami terhadap pengganggu ataupun predator serta dapat meningkatkan pH tanah
  • 82.
    Perbaikan Pematang 02 Perbaikan pelatarantambak dilakukan dengan cara menggali tanah di dalam caren tersebut dan mengangkatnya ke pematang, kemudian meratakan dan memadatkannya di bagian pematang menggunakan skop khusus yang terbuat dari kayu. Hal itu bertujuan untuk membuat dinding pematang menjadi padat dan tidak mudah longsor.
  • 83.
    Pengapuran 03 Pengapuran bertujuan untuk meningkatkanpH tanah serta membunuh bakteri pathogen yang ada dan organisme hama. Kapur yang digunakan untuk pekerjaan ini adalah kapur pertanian (CaCO3). Dosis yang digunakan tergantung pada kondisi pH tanah. Semakin rendah pH tanah maka kebutuhan kapur untuk pengapuran semakin banyak.
  • 84.
    Pemupukan 04 Pemupukan bertujuan untukmeningkatkan kesuburan tanah dasar kolam (menumbuhkan pakan alami pada tambak)
  • 85.
    Pemasangan Saringan PadaSaluran Pemasukan Dan Pengeluaran Air 05 Guna pemasangan saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air sebelum masuk ke kolam adalah menjaga agar sampah dan hama maupun ikan liar berukuran kecil tidak masuk ke pipa pemasukan air.
  • 86.
    Pengisian Air 06 Pastikan airyang masuk ke tambak berkualitas baik, Pengisian air dilakukan dengan membuka pintu air yang telah dilengkapi dengan saringan minimal 2 (dua) buah. Pengisian air dapat pula dengan menggunakan pompa air.
  • 87.
  • 88.
    Penebaran Benih Nener yangberasal dari alam atau hatchery, yang akan digunakan untuk usaha pembesaran ikan bandeng ditambak, haruslah nener yang sehat. Nener yang sehat dapat dilihat dari ciri-ciri umurnya yaitu : • Besar ukuran nener seragam (minimal 95% seragam). • Tidak tampak adanya cacar fisik atau gerakan. • Gerakan lincah. Dapat dibuktikan dengan: jika air pada bak diputar, maka nener bergerak melawan arus. • warna tubuh transparan, dengan isi perut yang tampak penuh. • Ketika diberi makan segera melahap (responsif), gerakannya aktif
  • 89.
    Hal Yang PerluDiperhatikan Pada Saat Penebaran Benih • Penebaran nener melalui proses aklimatisasi. Aklimatisasi ini bertujuan untuk menyesuaikan kondisi lingkungan dimana nener itu berada dengan kondisi lingkungan tambak pembesaran • Penebaran nener ditambak pembesaran sebaiknya dilakukan, pada pagi atau sore hari pada saat matahari tenggelam. Hal ini untuk menghindari kematian nener akibat stress karena tingginya suhu dilingkungan.
  • 90.
    Padat Penebaran Padat penebaranadalah perbandingan jumlah ikan-ikan/nener yang akan ditebar dengan luas tambak pembesaran. Dengan mengetahui padat penebaran pada awal pemeliharaan akan diperoleh manfaat antara lain adalah : • Dapat menentukan jumlah pakan yang akan diberikan • Dapat mengoptimalkan tambak pembesaran sesuai dengan daya dukung tambak pembesaran tersebut. • Dapat mengurangi timbulnya penyakit ditambak pembesaran karena kepadatan tinggi. • Dapat menetukan target produksi pada akhir pemeliharaan.
  • 91.
    • Padat penebarannener ditambak pembesaran berkisar antara 5 – 6 ekor/m2 untuk ukuran nener bandeng 3 – 5 cm. Sedangkan untuk nener yang berukuran 1 – 3 cm, padat penebarannya berkisar antara 2 – 3 ekor/m2 . Untuk benih bandeng yang berukuran 12 – 15 cm yang disebut gelondongan ditebar ke tambak pembesaran dengan padat penebaran 1.500 ekor/ha.
  • 92.
    Langkah selanjutnya setelahdilakukan penebaran nener bandeng adalah melakukan proses pemeliharaan nener sampai mencapai ukuran konsumsi. Proses yang dilakukan selama pemeliharaan sama persis dalam melakukan budidaya ikan lainnya meliputi pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan. Perlakuan selama pemeliharaan sangat ditentukan oleh sistem budidaya yang diterapkan
  • 93.
    Pemberian Pakan Sesuai dengansifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, klekap dan plankton . Pakan alami seperti klekap, lumut, dan plankton ditumbuhkan diawal pemeliharaan yaitu dengan pemberian pupuk baik organik dan/atau anorganik berupa pupuk dasar. Namun, apabila pada saat pemeliharaan klekap/lumut terlihat menipis maka dapat dilakukan pemupukan susulan Jika kondisi perairan tambak baik dan pakan alami cukup, maka dengan pemeliharaan selama 3 - 4 bulan di petak pembesaran, maka ikan bandeng dapat mencapai ukuran 300 - 350 g/ekor (3 ekor/kg).
  • 94.
    Pengelolaan Kualitas Air Untukmenjaga kualitas air tambak selama pemeliharaan, lakukan pergantian air secara rutin dengan memanfaatkan kondisi pasang surut, cek kualitas air dalam tambak secara rutin setiap hari (pH, suhu, kecerahan, usahakan 2 - 3 kali sehari). Jika ketinggian air pasang tidak dapat diandalkan untuk mengisi air tambak; penambahan air tambak dapat dilakukan dengan bantuan pompa air. Kualitas air optimal untuk pemeliharaan ikan bandeng Sumber: WWF Indonesia
  • 95.
    Pengendalian Hama danPenyakit A. Hama
  • 97.
    B. Penyakit Pengendalian Hamadan Penyakit Penyakit menghambat pertumbuhan ikan bandeng, bahkan menyebabkan kematian dan gagal panen. Penyakit dipicu seiring dengan memburuknya kualitas air. Penumpukan bahan organik dari sisa kotoran ikan menjadi media perkembangan parasit dan bakteri. Bakteri yang sering menimbulkan penyakit adalah vibrio yang menyebabkan ekor busuk (fin rot). Pergantian air secara rutin dapat mengurangi penyakit. Penggunaan bahan kimia untuk menanggulangi penyakit tidak dianjurkan, kecuali dalam kondisi terpaksa
  • 98.
  • 99.
    Panen Panen dapat dilakukanberdasarkan pertimbangan pencapaian ukuran ikan yang dipelihara yaitu 300 – 350 gram/ekor. Panen ikan bandeng pada sistem tradisional yaitu sekitar 4 bulan masa pemeliharaan di petak pembesaran. Dengan demikian panen bandeng dapat dilakukan secara bertahap (panen selektif).
  • 100.
    Cara Panen • Panendilakukan pada pagi hari saat usus kosong dan menghindari kerusakan organ pencernaan. • Air tidak dikurangi dan menggunakan waring untuk menghindari sisik lepas. Bandeng diserok secara total menggunakan krikip kemudian dipindahkan ke terpal (hapa) menggunakan keranjang.
  • 101.
    Beberapa Cara AgarIkan Bandeng Tetap Segar : • Usahakan ikan bandeng dipanen dalam keadaan masih hidup, tidak mati di dalam tambak • Dalam pemanenan, bandeng diperlakukan dengan baik, hindari melempar sembarangan yang menyebabkan ikan luka (sisik lepas). Luka dapat mempercepat kebusukan. • Usahakan ikan bandeng mati dalam air yang bersuhu rendah atau dalam es. • Ikan bandeng yang sudah dicuci dimasukkan dalam air es selama beberapa menit, sehingga suhu menjadi dingin secara merata. • Ikan yang sudah dipanen, dicuci bersih dari semua kotoran, terutama dari lumpur yang menempel. • Ikan bandeng yang sudah bersih dan sudah didinginkan dengan es, siap dikemas dan diangkut ke tempat penjualan ikan bandeng.
  • 102.