LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN HORTUKULTURA
“ PENYEMAIAN BENIH “
OLEH KELOMPOK 4 :
1. Jambang Tumanggor ( D1A012077 )
2. Yudi Aditya ( D1A012083 )
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Pada umumnya tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki prospektif
yang sangat baik untuk dikembangkan, karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi
khususnya bagi para petani. Tanaman Hortikultura diataranya yaitu buah- buahan, obat-
obatan, tanaman hias serta sayur-sayuran sepertu sawi.
Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau
bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup
beberapa spesies Brassicayang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia penyebutan
sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa kelompok parachinensis, yang
disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin).
Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa) kelompok pekinensis, disebut juga
petsai yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang
disebut sebagai sawi hijau adalahsesawi sayur (untuk membedakannya dengan
caisim). Kailan (Brassica oleracea) kelompok alboglabraadalah sejenis sayuran daun lain
yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi
goreng. Sawi sendok (pakcoy atau bok choy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi
yang mulai dikenal pula dalam dunia boga Indonesia (Yudharta, 2009).
Dalam ilmu tumbuhan, tanaman sawi putih diklasifikasikan sebagai berikut:
Penyemaian adalah proses penanaman bibit kembali yang dilakukan manusia untuk
memperbanyak atau melestarikan suatu tanaman agar tidak punah, selain itu penyemaian juga
berfungsi mencegah kelangkaan tanaman tersebut.
Penyemaian adalah menyemaikan benih, menumbuhkan biji jadi benih untuk di
pindah ketempat penanaman. Contoh penyemaian pada benih sawi yang bila sudah tumbuh di
pindah ke media tanam sebenarnya.
I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan penyemaian ini adalah untuk mempermudah dalam
menanam dan menyeleksi bibit sawi yang akan ditanam dibandingkan dengan langsung
menanam dari biji(benih) tanpa semai.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Tanaman sawi (Brassica juncea L.) masih satu famili dengan kubis-krop, kubis bunga,
broccoli dan lobak atau rades, yakni famili cruciferae (brassicaceae) olek karena itu sifat
morfologis tanamannya hampir sama, terutama pada sistem perakaran, struktur batang,
bunga, buah (polong) maupun bijinya.
Sawi termasuk ke dalam kelompok tanaman sayuran daun yang mengandung zat-zat
gizi lengkap yang memenuhi syarat untuk kebutuhan gizi masyarakat. Sawi hijau bisa
dikonsumsi dalam bentuk mentah sebagai lalapan maupun dalam bentuk olahan dalam
berbagai macam masakan. Selain itu berguna untuk pengobatan (terapi) berbagai macam
penyakit (Cahyono, 2003).
Klasifikasi tanaman sawi dalam(Rukmana, 2002) sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub-kelas : Dicotyledonae
Ordo : Papavorales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea L.
Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria) dan cabang-
cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan
kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat
makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Heru dan Yovita,
2003).
Syarat Tumbuh
Iklim
Curah hujan yang cukup sepanjang tahun dapat mendukung kelangsungan hidup
tanaman karena ketersedian air tanah yang mencukupi. Tanaman sawi hijau tergolong
tanaman yang tahan terhadap curah hujan, sehingga penanaman pada musim hujan masih bisa
memberikan hasil yang cukup baik. Curah hujan yang sesuai untuk pembudidayaan tanaman
sawi hijau adalah 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman sawi yang tidak tahan terhadap
air yang menggenang. . (Cahyono, 2003)
Tanaman sawi pada umumnya banyak ditanam di dataran rendah. Tanaman ini selain
tahan terhadap suhu panas (tinggi) juga mudah berbunga dan menghasilkan biji secara alami
pada kondisi iklim tropis Indonesia (Haryanto dkk, 2002).
Kelembapan udara yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi hijau yang optimal
berkisar antara 80%-90%. Kelembapan udara yang tinggi lebih dari 90 % berpengaruh buruk
terhadap pertumbuhan tanaman. Kelembapan yang tinggi tidak sesuai dengan yang
dikehendaki tanaman, menyebabkan mulut daun (stomata) tertutup sehingga penyerapan gas
karbondioksida (CO2) terganggu. Dengan demikian kadar gas CO2 tidak dapat masuk
kedalam daun, sehingga kadar gas CO2 yang diperlukan tanaman untuk fotosintesis tidak
memadai. Akhirnya proses fotosintsis tidak berjalan dengan baik sehingga semua proses
pertumbuhan pada tanaman menurun. (Cahyono, 2003).
Ada kekhawatiran tentang hujan asam, tetapi hampir semua hujan adalah ber pH
rendah (asam). Air Hujan murni yang tidak mengandung bahan pencemar pada dasarnya
adalah air distilasi. Air hujan ini yang dalam kesetimbangan dengan atmosfer akan memiliki
pH sekitar 5,6 karena pelarutan karbon dioksida di dalam air. Ketika air hujan murni berada
dalam kesetimbangan dengan karbon dioksida, maka konsentrasi ion hidrogen yang
dihasilkan menyebabkan pH 5,6 (Madjid,2009).
Selain dikenal sebagai tanaman sayuran daerah iklim sedang (sub-tropis) tetapi saat
ini berkembang pesat di daerah panas (tropis). Kondisi iklim yang dikehendaki untuk
pertumbuhan tanaman sawi adalah daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,6°C dan
siang hari 21,1°C serta penyinaran matahari antara 10-13 jam per hari (Sastrahidajat dan
Soemarno, 1996).
Tanah
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah yang subur, gembur dan banyak
mengandung bahan organik (humus), tidak menggenang (becek), tata aerasi dalam tanah
berjalan dengan baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya
adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Haryanto dkk, 2006)
Kemasaman tanah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan hara didalam tanah,
aktifitas kehidupan jasad renik tanah dan reaksi pupuk yang diberikan ke dalam tanah.
Penambahan pupuk ke dalam tanah secara langsung akan mempengaruhi sifat
kemasamannya, karena dapat menimbulkan reaksi masam, netral ataupun basa, yang secara
langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi ketersediaan hara makro atau hara mikro.
Ketersediaan unsur hara mikro lebih tinggi pada pH rendah. Semakin tinggi pH tanah
ketersediaan hara mikro semakin kecil (Hasibuan, 2010).
Sawi dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun untuk pertumbuhan yang paling
baik adalah jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol. Pada tanah-tanah yang
mengandung liat perlu pengolahan lahan secara sempurna antara lain pengolahan tanah yang
cukup (Suhardi, 1990).
BAB III
METODOLOGI
III. 1 Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada hari kamis 4 April 2014 di perum. Mendalo mas Block
C1 No. 11 Mendalo darat .jambi
III. 2 Alat dan Bahan
- Alat
1. Cangkul
2. Parang
- Bahan
1. Benih sawi ( sawi hijau, cap panah merah)
2. Pasir
3. Pelepah sawit ( untuk naungan)
III.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan
2. Olah tanah dengan cara mencangkul sampai gembur dan bersih dari rumput dan
kotoran, seluas 1 x 1,5 M.
3. Berikan pasir pada bagian atas setebal kurang lebih 5 cm.
4. Sebar benih dengan merata, lalu tutup tipis dengan pasir kemudian siram dengan
gembor.
5. Pagar petakan dengan pelepah sawit hingga menutupi media penyemaian agar
terhindar dari gangguan hewan .
6. Siram setiap hari sampai tanaman berumur 2 minggu dan siap untuk dipindahkan ke
media tanam. ( jika tidak hujan )
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 HASIL
Gambar hasil penyemaian:
Hari pertama penyemaian Hari ketiga setelah penyemaian
Seminggu setelah penyemaian Seminggu setelah penyemaian
Dua minggu setelah penyemaian
IV. 2 Pembahasan
Dari kegiatan diatas dapat dilihat bahwa dalam kegiatan penyemaian perlu dilakukan
pengolahan tanah untuk media penyemaian, hal ini bertujuan untuk memepermudah akar
kecambah utuk tumbuh dan bersih dari rumput dan kotoran yang menggangu serta diberi
tambahan pasir agar akar tanaman mudah untuk menembus tanah dan mempermudah
pencabutan pada saat pemindahan nantinya. Selain itu dalam penyemaian juag aharus
dilakukan perawatan yang intensif selain dilakukan penyiram yang teratur juga harus
dilakukan penjagaan dari hama pengganggu miasalnya ayamg yang suka mengobrak - abrik
media persemaian.
Dari hasil penyemaian yang dilihat dapat di pastikan bahwa dalam budidaya sawi
perlu dilakukannya penyemaian benuh terlebih dahulu karena akan mempermudah dalam
menyeleksi benih yang baik, karena dari hasil penyemain tidak semua benih tumbuh baik.
Sehingga dengan danya penyemaian dapat membantu memilih bbibit yang baik. Selain itu
juga membantu dalam merawat tanaman yang masih baru tumbuh, karena tanaman yang baru
tumbuh lebih rentan terhadap kerusakan sehingga jika langsung ditanam di lahan akan sulit
untuk merawatnya, berbeda dengan di media penyemaian akan lebih mudah merawatnya
karena letaknya berdekan hanya satu petakan sehingga lebih efisien untuk merawat dan
menjaganya dari gangguan.
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari kegiatan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kegiatan bududaya sawi
perlu dilakukan penyemaian benih terlebih dahulu sebelum ditanam di media tanam. Karena
selain dapat membantu dalam hal perawatan dan pemeliharaan juga sangant membantu
dalam memilih bibit yang baik dibandingkan jika langsung menanam dari biji( benih ).
DAFTAR PUSTAKA
Anonym, 2013 dalam http://abrarmely.blogspot.com/2013/06/laporan-praktek-lapang-dda-
tanaman-sawi.html diakses 15 april 2014
Anonym, 2011 dalam
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110404233021AAzI943 diakses 15 april
2014
Cahyono, 2003 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf
diakses 15 april 2014
Hasibuan, 2010 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf
diakses 15 april 2014
Haryanto dkk, 2002 dalam
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014
Heru dan Yovita, 2003 dalam
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014
Madjid,2009 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf
diakses 15 april 2014
Rukmana, 2002 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf
diakses 15 april 2014
Sastrahidajat dan Soemarno, 1996 dalam
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014
Suhardi, 1990 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf
diakses 15 april 2014
Yudharta, 2009 dalam http://abrarmely.blogspot.com/2013/06/laporan-praktek-lapang-dda-
tanaman-sawi.html diakses 15 april 2014

Penyemaian benih

  • 1.
    LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYATANAMAN HORTUKULTURA “ PENYEMAIAN BENIH “ OLEH KELOMPOK 4 : 1. Jambang Tumanggor ( D1A012077 ) 2. Yudi Aditya ( D1A012083 ) FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2014
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN I.1 Latarbelakang Pada umumnya tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki prospektif yang sangat baik untuk dikembangkan, karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi khususnya bagi para petani. Tanaman Hortikultura diataranya yaitu buah- buahan, obat- obatan, tanaman hias serta sayur-sayuran sepertu sawi. Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassicayang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa kelompok parachinensis, yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa) kelompok pekinensis, disebut juga petsai yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang disebut sebagai sawi hijau adalahsesawi sayur (untuk membedakannya dengan caisim). Kailan (Brassica oleracea) kelompok alboglabraadalah sejenis sayuran daun lain yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi goreng. Sawi sendok (pakcoy atau bok choy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai dikenal pula dalam dunia boga Indonesia (Yudharta, 2009). Dalam ilmu tumbuhan, tanaman sawi putih diklasifikasikan sebagai berikut: Penyemaian adalah proses penanaman bibit kembali yang dilakukan manusia untuk memperbanyak atau melestarikan suatu tanaman agar tidak punah, selain itu penyemaian juga berfungsi mencegah kelangkaan tanaman tersebut. Penyemaian adalah menyemaikan benih, menumbuhkan biji jadi benih untuk di pindah ketempat penanaman. Contoh penyemaian pada benih sawi yang bila sudah tumbuh di pindah ke media tanam sebenarnya. I.2 Tujuan Adapun tujuan dari kegiatan penyemaian ini adalah untuk mempermudah dalam menanam dan menyeleksi bibit sawi yang akan ditanam dibandingkan dengan langsung menanam dari biji(benih) tanpa semai.
  • 3.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA BotaniTanaman Tanaman sawi (Brassica juncea L.) masih satu famili dengan kubis-krop, kubis bunga, broccoli dan lobak atau rades, yakni famili cruciferae (brassicaceae) olek karena itu sifat morfologis tanamannya hampir sama, terutama pada sistem perakaran, struktur batang, bunga, buah (polong) maupun bijinya. Sawi termasuk ke dalam kelompok tanaman sayuran daun yang mengandung zat-zat gizi lengkap yang memenuhi syarat untuk kebutuhan gizi masyarakat. Sawi hijau bisa dikonsumsi dalam bentuk mentah sebagai lalapan maupun dalam bentuk olahan dalam berbagai macam masakan. Selain itu berguna untuk pengobatan (terapi) berbagai macam penyakit (Cahyono, 2003). Klasifikasi tanaman sawi dalam(Rukmana, 2002) sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Sub-kelas : Dicotyledonae Ordo : Papavorales Famili : Brassicaceae Genus : Brassica Spesies : Brassica juncea L. Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria) dan cabang- cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Heru dan Yovita, 2003). Syarat Tumbuh Iklim Curah hujan yang cukup sepanjang tahun dapat mendukung kelangsungan hidup tanaman karena ketersedian air tanah yang mencukupi. Tanaman sawi hijau tergolong tanaman yang tahan terhadap curah hujan, sehingga penanaman pada musim hujan masih bisa memberikan hasil yang cukup baik. Curah hujan yang sesuai untuk pembudidayaan tanaman sawi hijau adalah 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman sawi yang tidak tahan terhadap air yang menggenang. . (Cahyono, 2003)
  • 4.
    Tanaman sawi padaumumnya banyak ditanam di dataran rendah. Tanaman ini selain tahan terhadap suhu panas (tinggi) juga mudah berbunga dan menghasilkan biji secara alami pada kondisi iklim tropis Indonesia (Haryanto dkk, 2002). Kelembapan udara yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi hijau yang optimal berkisar antara 80%-90%. Kelembapan udara yang tinggi lebih dari 90 % berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Kelembapan yang tinggi tidak sesuai dengan yang dikehendaki tanaman, menyebabkan mulut daun (stomata) tertutup sehingga penyerapan gas karbondioksida (CO2) terganggu. Dengan demikian kadar gas CO2 tidak dapat masuk kedalam daun, sehingga kadar gas CO2 yang diperlukan tanaman untuk fotosintesis tidak memadai. Akhirnya proses fotosintsis tidak berjalan dengan baik sehingga semua proses pertumbuhan pada tanaman menurun. (Cahyono, 2003). Ada kekhawatiran tentang hujan asam, tetapi hampir semua hujan adalah ber pH rendah (asam). Air Hujan murni yang tidak mengandung bahan pencemar pada dasarnya adalah air distilasi. Air hujan ini yang dalam kesetimbangan dengan atmosfer akan memiliki pH sekitar 5,6 karena pelarutan karbon dioksida di dalam air. Ketika air hujan murni berada dalam kesetimbangan dengan karbon dioksida, maka konsentrasi ion hidrogen yang dihasilkan menyebabkan pH 5,6 (Madjid,2009). Selain dikenal sebagai tanaman sayuran daerah iklim sedang (sub-tropis) tetapi saat ini berkembang pesat di daerah panas (tropis). Kondisi iklim yang dikehendaki untuk pertumbuhan tanaman sawi adalah daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,6°C dan siang hari 21,1°C serta penyinaran matahari antara 10-13 jam per hari (Sastrahidajat dan Soemarno, 1996). Tanah Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik (humus), tidak menggenang (becek), tata aerasi dalam tanah berjalan dengan baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Haryanto dkk, 2006) Kemasaman tanah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan hara didalam tanah, aktifitas kehidupan jasad renik tanah dan reaksi pupuk yang diberikan ke dalam tanah. Penambahan pupuk ke dalam tanah secara langsung akan mempengaruhi sifat kemasamannya, karena dapat menimbulkan reaksi masam, netral ataupun basa, yang secara langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi ketersediaan hara makro atau hara mikro. Ketersediaan unsur hara mikro lebih tinggi pada pH rendah. Semakin tinggi pH tanah ketersediaan hara mikro semakin kecil (Hasibuan, 2010). Sawi dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun untuk pertumbuhan yang paling baik adalah jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol. Pada tanah-tanah yang mengandung liat perlu pengolahan lahan secara sempurna antara lain pengolahan tanah yang cukup (Suhardi, 1990).
  • 5.
    BAB III METODOLOGI III. 1Waktu dan Tempat Kegiatan ini dilakukan pada hari kamis 4 April 2014 di perum. Mendalo mas Block C1 No. 11 Mendalo darat .jambi III. 2 Alat dan Bahan - Alat 1. Cangkul 2. Parang - Bahan 1. Benih sawi ( sawi hijau, cap panah merah) 2. Pasir 3. Pelepah sawit ( untuk naungan) III.3 Prosedur Kerja 1. Siapkan alat dan bahan 2. Olah tanah dengan cara mencangkul sampai gembur dan bersih dari rumput dan kotoran, seluas 1 x 1,5 M. 3. Berikan pasir pada bagian atas setebal kurang lebih 5 cm. 4. Sebar benih dengan merata, lalu tutup tipis dengan pasir kemudian siram dengan gembor. 5. Pagar petakan dengan pelepah sawit hingga menutupi media penyemaian agar terhindar dari gangguan hewan . 6. Siram setiap hari sampai tanaman berumur 2 minggu dan siap untuk dipindahkan ke media tanam. ( jika tidak hujan )
  • 6.
    BAB IV HASIL DANPEMBAHASAN IV. 1 HASIL Gambar hasil penyemaian: Hari pertama penyemaian Hari ketiga setelah penyemaian Seminggu setelah penyemaian Seminggu setelah penyemaian Dua minggu setelah penyemaian
  • 7.
    IV. 2 Pembahasan Darikegiatan diatas dapat dilihat bahwa dalam kegiatan penyemaian perlu dilakukan pengolahan tanah untuk media penyemaian, hal ini bertujuan untuk memepermudah akar kecambah utuk tumbuh dan bersih dari rumput dan kotoran yang menggangu serta diberi tambahan pasir agar akar tanaman mudah untuk menembus tanah dan mempermudah pencabutan pada saat pemindahan nantinya. Selain itu dalam penyemaian juag aharus dilakukan perawatan yang intensif selain dilakukan penyiram yang teratur juga harus dilakukan penjagaan dari hama pengganggu miasalnya ayamg yang suka mengobrak - abrik media persemaian. Dari hasil penyemaian yang dilihat dapat di pastikan bahwa dalam budidaya sawi perlu dilakukannya penyemaian benuh terlebih dahulu karena akan mempermudah dalam menyeleksi benih yang baik, karena dari hasil penyemain tidak semua benih tumbuh baik. Sehingga dengan danya penyemaian dapat membantu memilih bbibit yang baik. Selain itu juga membantu dalam merawat tanaman yang masih baru tumbuh, karena tanaman yang baru tumbuh lebih rentan terhadap kerusakan sehingga jika langsung ditanam di lahan akan sulit untuk merawatnya, berbeda dengan di media penyemaian akan lebih mudah merawatnya karena letaknya berdekan hanya satu petakan sehingga lebih efisien untuk merawat dan menjaganya dari gangguan.
  • 8.
    BAB V PENUTUP KESIMPULAN Dari kegiatandiatas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kegiatan bududaya sawi perlu dilakukan penyemaian benih terlebih dahulu sebelum ditanam di media tanam. Karena selain dapat membantu dalam hal perawatan dan pemeliharaan juga sangant membantu dalam memilih bibit yang baik dibandingkan jika langsung menanam dari biji( benih ).
  • 9.
    DAFTAR PUSTAKA Anonym, 2013dalam http://abrarmely.blogspot.com/2013/06/laporan-praktek-lapang-dda- tanaman-sawi.html diakses 15 april 2014 Anonym, 2011 dalam https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110404233021AAzI943 diakses 15 april 2014 Cahyono, 2003 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Hasibuan, 2010 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Haryanto dkk, 2002 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Heru dan Yovita, 2003 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Madjid,2009 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Rukmana, 2002 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Sastrahidajat dan Soemarno, 1996 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Suhardi, 1990 dalam repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26475/4/Chapter%20II.pdf diakses 15 april 2014 Yudharta, 2009 dalam http://abrarmely.blogspot.com/2013/06/laporan-praktek-lapang-dda- tanaman-sawi.html diakses 15 april 2014