1. Pajak Daerah

    Jenis Pajak Daerah berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 dapat diklasifikasikan yaitu jenis
    pajak tingkat profinsi atau tingkat I dan jenis pajak Kabupaten/Kota atau tingkat II. Jenis
    pajak tingkat I bersifat limitatif yang berarti provisi tidak dapat memungut pajak lain selain
    yang telah ditetapkan. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh provisi
    terkait dengan kewenangan provisi sebagai daerah otonom yang tgerbatas hanya meliputi
    kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan
    kewenagan yang tidak atau belum dapast dilaksanakan daerah kabupaten/kota, serta
    kewenagan bidang pemerintahan tertentu.

    Jenis pajak tingkat II tidak bersifat limitatif, artinya kabupaten/kota diberi peluanga untuk
    menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam
    UU No.34 Tahun 2000 dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik
    sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut.

1.1 Jenis Pajak Daerah Tingkat I terdiri dari:

     a. Pajak Kendaraan Bermotor;

     b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

     c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

1.2 Jenis Pajak Daerah Tingkat II terdiri dari:

    a. Pajak Hotel dan Restoran;
    b. Pajak Hiburan;
    c. Pajak Reklame;
    d. Pajak Penerangan Jalan;
    e. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C;
    f. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan;
2. Retribusi Daerah

Ketentuan secara lengkap mengenai objek dan subjek retribusi telah diatur dalam PP No.65
Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, dimana kewenangan daerah dalam pemungutan retribusi
hanya ada pada penetapan tarif dan sasaran pengenaan retribusi.

Retribusi dibagi atas tiga golongan:

a. Retribusi Jasa Umum;

       Dalam menetapkan tarif Retribusi Jasa Umum, prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif
       didasasrkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang
       bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan. Untuk mencapai sasaran
       dimaksud, penetapan tarif Retribusi Jasa Umum, antara lain, dimaksudkan untuk
       menutup sebagian atau sama dengan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan dan
       membantu golongan masyarakat kurang mampu sesuai dengan jenis pelayanan yang
       diberikan. Dengan demikian prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa
       Umum dapat berbeda menurut jenis pelayanan dalam jasa yang bersangkutan dan
       golongan pengguna jasa.

b. Retribusi Jasa Usaha;

       Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada
       tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas
       diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi
       pada harga pasar.

c. Retribusi Perizinan Tertentu.

       Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada
       tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang
       bersangkutan.
3. Persyaratan PDRD

          Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan jenis pajak selain yang ditetapkan, yang
memenuhi kriteria, adalah sebagai berikut:

        a. bersifat sebagai pajak dan bukan retribusi;
        b. objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum;
        c. potensinya memadai;
        d. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
        e. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat;
        f. menjaga kelestarian lingkungan.

Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Tingkat II
setelah dikurangi 10% (sepuluh persen) untuk Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Pelaksanaan
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Retribusi Perizinan Tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah. Jasa yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Daerah bukan merupakan objek
retribusi.

Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan

a. Tingkat penggunaan jasa;

b. Tarif retribusi.

          Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif ditentukan sebagai berikut:

 (1).     Untuk Retribusi Jasa Umum, ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan Daerah dengan
          mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat,
          dan aspek keadilan;
 (2).     Untuk Retribusi Jasa Usaha, berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan
          yang layak;
(3).    Untuk Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau
         sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan.

         Cara perhitungan besarnya retribusi sebagaimana dimaksud diatas serta prinsip dan
sasaran penetapan tarif diatur dengan Peraturan Pemerintah. Tarif retribusi ditinjau kembali
secara berkala dengan memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif .

4. Jenis-jenis Pajak Provinsi

         UU No. 34 / 2000 atau selama 8 tahun telah membedakan jenis-jenis pajak daerah yang
dipungut oleh provinsi, kabupaten atau kota, tergantung cakupan umum, objek, subyek dan wajib
pajak.

Jenis-jenis pajak provinsi terdiri dari :

                PKB = Pajak Kendaran Bermotor
                PKAA = Pajak Kendaran Atas Air
                BBNKB = Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
                BBNKAA = Bea Balik Nama Kendaraan Atas Air
                PBBKB = Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
                P3ABT = Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
                P3AP = Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan

         Sejak 1957, dengan UU No. 11 Darurat, ternyata tidak semua pajak cocok untuk
dijadikan pajak daerah, sebagian besar menyebabkan pajak daerah tidak potensial. Dengan UU
No. 18/1997 Jo. UU No. 34 / 2000, pajak daerah adalah iuran wajib langsung dari pribadi tanpa
imbalan yang seimbang, untuk pembiayaan pemerintahan dan pembangunan. Tujuan pajak
daerah adalah untuk kepentingan bersama, untuk stabilitas ekonomi, serta pertahanan dan
keamanan. Objek pajaknya memiliki mobilitas yang rendah artinya sulit dipindahkan, misalnya
pajak hotel, pajak restoran, pajak sarang walet. Jadi yang menanggung pajak adalah masyarakat
setempat (lokal). Adapun pajak daerah yang tidak cocok antara lain, pajak ekspor/impor, pajak
pemancar R/TV, pajak reklame dalam media cetak/elektronik.
6.3.1.Tarif Pajak Daerah

Tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar:

           a. Pajak Kendaraan Bermotor 5% (lima persen);

           b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 10% (sepuluh persen);

           c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen);

           d. Pajak Hotel dan Restoran 10% (sepuluh persen);

           e. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen);

           f. Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen);

           g. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen);

           h. Pajak Pengambilan dan Pengelolaan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh
               persen);

           i. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20%.

   .Peraturan Daerah Tentang Pajak

(1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

(2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak dapat berlaku surut.

(3) Peraturan Daerah tentang Pajak sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai:

    a. nama, objek dan subjek pajak;
    b. dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak;
    c. wilayah pemungutan;
    d. masa pajak;
    e. penetapan;
f. tata cara pembayaran dan penagihan;
    g. kedaluwarsa;
    h. sanksi administrasi;
    i. tanggal mulai berlakunya.

Peraturan Daerah tentang Pajak dapat mengatur ketentuan mengenai:

   a. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok
       pajak dan atau sanksinya;
   b. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa;
   c. asas timbal balik.
   Perumusan Perda

   Mendagri dengan Peraturan No. 16/2005 memandu produk hukum PDRD menjadi Perda
   yaitu produk hukum yang diterbitkan oleh kepala daerah. Berdasarkan sifarnya, Perda PDRD
   bersifat mengatur. Mekanisme penyusunan Perda PDRD berawal dari rancangan /
   pembahasan PDRD dari Satker / Tim Perda dan Biro Hukum. Sekda menerima dan
   melakukan perubahan / penyempurnaan usulan dari Tim Perda Satker. Hasil rancangan Perda
   dari Sekda disampaikan ke DPRD.

Pajak daerah

  • 1.
    1. Pajak Daerah Jenis Pajak Daerah berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 dapat diklasifikasikan yaitu jenis pajak tingkat profinsi atau tingkat I dan jenis pajak Kabupaten/Kota atau tingkat II. Jenis pajak tingkat I bersifat limitatif yang berarti provisi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh provisi terkait dengan kewenangan provisi sebagai daerah otonom yang tgerbatas hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan kewenagan yang tidak atau belum dapast dilaksanakan daerah kabupaten/kota, serta kewenagan bidang pemerintahan tertentu. Jenis pajak tingkat II tidak bersifat limitatif, artinya kabupaten/kota diberi peluanga untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No.34 Tahun 2000 dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. 1.1 Jenis Pajak Daerah Tingkat I terdiri dari: a. Pajak Kendaraan Bermotor; b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor; c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; 1.2 Jenis Pajak Daerah Tingkat II terdiri dari: a. Pajak Hotel dan Restoran; b. Pajak Hiburan; c. Pajak Reklame; d. Pajak Penerangan Jalan; e. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C; f. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan;
  • 2.
    2. Retribusi Daerah Ketentuansecara lengkap mengenai objek dan subjek retribusi telah diatur dalam PP No.65 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, dimana kewenangan daerah dalam pemungutan retribusi hanya ada pada penetapan tarif dan sasaran pengenaan retribusi. Retribusi dibagi atas tiga golongan: a. Retribusi Jasa Umum; Dalam menetapkan tarif Retribusi Jasa Umum, prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif didasasrkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan. Untuk mencapai sasaran dimaksud, penetapan tarif Retribusi Jasa Umum, antara lain, dimaksudkan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan dan membantu golongan masyarakat kurang mampu sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan. Dengan demikian prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Umum dapat berbeda menurut jenis pelayanan dalam jasa yang bersangkutan dan golongan pengguna jasa. b. Retribusi Jasa Usaha; Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. c. Retribusi Perizinan Tertentu. Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan.
  • 3.
    3. Persyaratan PDRD Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan jenis pajak selain yang ditetapkan, yang memenuhi kriteria, adalah sebagai berikut: a. bersifat sebagai pajak dan bukan retribusi; b. objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; c. potensinya memadai; d. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif; e. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; f. menjaga kelestarian lingkungan. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Tingkat II setelah dikurangi 10% (sepuluh persen) untuk Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Retribusi Perizinan Tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Jasa yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Daerah bukan merupakan objek retribusi. Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan a. Tingkat penggunaan jasa; b. Tarif retribusi. Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif ditentukan sebagai berikut: (1). Untuk Retribusi Jasa Umum, ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan Daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan; (2). Untuk Retribusi Jasa Usaha, berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak;
  • 4.
    (3). Untuk Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Cara perhitungan besarnya retribusi sebagaimana dimaksud diatas serta prinsip dan sasaran penetapan tarif diatur dengan Peraturan Pemerintah. Tarif retribusi ditinjau kembali secara berkala dengan memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif . 4. Jenis-jenis Pajak Provinsi UU No. 34 / 2000 atau selama 8 tahun telah membedakan jenis-jenis pajak daerah yang dipungut oleh provinsi, kabupaten atau kota, tergantung cakupan umum, objek, subyek dan wajib pajak. Jenis-jenis pajak provinsi terdiri dari : PKB = Pajak Kendaran Bermotor PKAA = Pajak Kendaran Atas Air BBNKB = Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor BBNKAA = Bea Balik Nama Kendaraan Atas Air PBBKB = Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor P3ABT = Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah P3AP = Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan Sejak 1957, dengan UU No. 11 Darurat, ternyata tidak semua pajak cocok untuk dijadikan pajak daerah, sebagian besar menyebabkan pajak daerah tidak potensial. Dengan UU No. 18/1997 Jo. UU No. 34 / 2000, pajak daerah adalah iuran wajib langsung dari pribadi tanpa imbalan yang seimbang, untuk pembiayaan pemerintahan dan pembangunan. Tujuan pajak daerah adalah untuk kepentingan bersama, untuk stabilitas ekonomi, serta pertahanan dan keamanan. Objek pajaknya memiliki mobilitas yang rendah artinya sulit dipindahkan, misalnya pajak hotel, pajak restoran, pajak sarang walet. Jadi yang menanggung pajak adalah masyarakat setempat (lokal). Adapun pajak daerah yang tidak cocok antara lain, pajak ekspor/impor, pajak pemancar R/TV, pajak reklame dalam media cetak/elektronik.
  • 5.
    6.3.1.Tarif Pajak Daerah Tarifpajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Pajak Kendaraan Bermotor 5% (lima persen); b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 10% (sepuluh persen); c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen); d. Pajak Hotel dan Restoran 10% (sepuluh persen); e. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen); f. Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen); g. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen); h. Pajak Pengambilan dan Pengelolaan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen); i. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20%. .Peraturan Daerah Tentang Pajak (1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak dapat berlaku surut. (3) Peraturan Daerah tentang Pajak sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai: a. nama, objek dan subjek pajak; b. dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak; c. wilayah pemungutan; d. masa pajak; e. penetapan;
  • 6.
    f. tata carapembayaran dan penagihan; g. kedaluwarsa; h. sanksi administrasi; i. tanggal mulai berlakunya. Peraturan Daerah tentang Pajak dapat mengatur ketentuan mengenai: a. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan atau sanksinya; b. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa; c. asas timbal balik. Perumusan Perda Mendagri dengan Peraturan No. 16/2005 memandu produk hukum PDRD menjadi Perda yaitu produk hukum yang diterbitkan oleh kepala daerah. Berdasarkan sifarnya, Perda PDRD bersifat mengatur. Mekanisme penyusunan Perda PDRD berawal dari rancangan / pembahasan PDRD dari Satker / Tim Perda dan Biro Hukum. Sekda menerima dan melakukan perubahan / penyempurnaan usulan dari Tim Perda Satker. Hasil rancangan Perda dari Sekda disampaikan ke DPRD.