Khalid Mustafa 
Ketua dan Pendiri Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia (P3I) 
Pengurus DPP Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI)
 Setiap pekerjaan yang dapat menimbulkan resiko harus 
dilakukan dengan prosedur yang ketat dan tetap untuk 
meniadakan atau mengurangi resiko/kesalahan 
 Apabila pilot tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan 
aturan, maka pesawat akan jatuh dan banyak penumpang 
menjadi korban. 
 Bila dokter tidak melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur, 
maka pasien dapat meninggal atau cacat. 
 Bila pemadam kebakaran tidak menjalankan tugasnya sesuai 
dengan prosedur, maka dapat menimbulkan banyak korban jiwa 
dan materi. 
 Pengadaan juga mengandung resiko (mendapat komplain dari 
masyarakat, terkena sanksi hukum, barang/jasa tidak sesuai 
kebutuhan) jadi harus memiliki prosedur yang jelas.
Lupa mengikuti prosedur baku (Perpres dan 
Perka LKPP) 
ď‚§ Perbuatan melawan hukum 
ď‚§ Penyalahgunaan wewenang 
Kegiatan tidak terdokumentasi 
ď‚§ Tidak dapat mempertanggungjawabkan 
keputusan/kebijakan 
Dokumen tidak standar 
Pekerjaan berulang/tumpang tindih
PBJ merupakan kegiatan berulang yang 
seharusnya dapat dibakukan 
Mengurangi kesalahan prosedur 
Mengurangi kesalahan dokumentasi 
Mempermudah pejabat baru untuk 
melaksanakan/melanjutkan pekerjaan 
Mempermudah Audit
• Tidak ada Pedoman Perencanaan 
yang baku untuk memisahkan N dan 
W 
• Tidak ada kaitan data aset dan 
penghapusan dengan perencanaan 
• Tidak ada alur yang jelas tentang 
target dan waktu penyusunan 
perencanaan 
• Tidak ada reward and punishment 
yang jelas 
• Tidak sinkron antara perencanaan dan 
penganggaran khususnya terhadap 
aturan Pengadaan 
• RUP tidak disusun oleh PA/KPA
• Anggaran tidak berdasarkan kepada 
perencanaan awal 
• Penyesuaian anggaran tidak 
memperhatikan kebutuhan dan posisi 
pengadaan 
• Anggaran ditetapkan bukan pada awal 
tahun anggaran 
• Anggaran perubahan tidak 
memperhatikan perencanaan dan 
kebutuhan waktu pelaksanaan 
• Terjadi kesalahan pada jenis belanja
• Penyusunan Spek. Teknis dan HPS 
tidak didasarkan pada perencanaan 
dan tidak didokumentasikan 
• Tidak ada rancangan kontrak 
• Penyusunan Rencana Pelaksanaan 
Pemilihan tidak sesuai 
• Pelaksanaan Pemilihan tidak sesuai 
• Pelaksanaan pekerjaan tidak 
dikendalikan 
• Serah terima pekerjaan tidak 
berdasarkan kontrak dan kondisi 
pekerjaan 
• Dokumen pencairan tidak sinkron 
dengan dokumen pengadaan
SOP
 Ruang Lingkup SOP 
ď‚§ Seluruh Kementerian/Lembaga/Daerah/Institusi; atau 
ď‚§ Berdasarkan Eselon/Satuan Kerja 
 Organisasi Pelaksana 
ď‚§ Kesiapan dan Kaitan dengan Organisasi lain (Perencanaan, 
Keuangan, Hukum dan Organisasi, Kepegawaian, dll) 
ď‚§ Pengguna Anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat 
Pembuat Komitmen, Pejabat Pengadaan, dan Panitia 
Penerima Hasil Pekerjaan 
ď‚§ Unit Layanan Pengadaan 
 Dasar Hukum
SOP 
 SOP Rencana Umum 
Pengadaan 
ď‚§ Identifikasi Kebutuhan, 
Penyusunan KAK dan RAB, 
Penetapan Organisasi Pengadaan 
ď‚§ Pembahasan Kegiatan dan 
Anggaran 
ď‚§ Penyusunan dan Pengumuman 
RUP 
ď‚§ Kaji Ulang RUP 
 SOP Rencana Pelaksanaan 
Pengadaan 
ď‚§ Penyusunan Spesifikasi Teknis 
ď‚§ Penyusunan Harga Perkiraan 
Sendiri 
ď‚§ Penyusunan Rancangan Kontrak 
ď‚§ Permintaan Pemilihan Penyedia
SOP 
 SOP Rencana Pemilihan 
Penyedia 
ď‚§ Kaji Ulang RPP 
ď‚§ Penyusunan Dokumen 
Pengadaan 
 SOP Swakelola 
ď‚§ Swakelola oleh 
Penanggung Jawab 
Anggaran 
ď‚§ Swakelola oleh Instansi 
Pemerintah Lain 
ď‚§ Swakelola oleh Kelompok 
Masyarakat
SOP 
 SOP Pemilihan Penyedia 
ď‚§ Pengadaan Langsung 
Menggunakan Bukti Pembelian 
(dibawah 10 Juta) 
ď‚§ Pengadaan Langsung 
Menggunakan Kuitansi (dibawah 
50 Juta) 
ď‚§ Pengadaan Langsung 
Menggunakan SPK (dibawah 200 
Juta) 
ď‚§ Penunjukan Langsung Tidak 
Darurat 
ď‚§ Pelelangan Umum 
Pascakualifikasi 
ď‚§ Pelelangan Umum Prakualifikasi 
ď‚§ Seleksi Umum Badan Usaha 
ď‚§ Seleksi Umum Perorangan
SOP 
 SOP Pemilihan Penyedia 
ď‚§ Pelelangan Sederhana/Pemilihan 
Langsung 
ď‚§ Sayembara/Kontes 
ď‚§ Lelang Gagal 
ď‚§ Sanggahan dan Sanggahan 
Banding 
ď‚§ Pengaduan 
ď‚§ Somasi dan Permasalahan 
Hukum PBJ 
 SOP Pelaksanaan Kontrak dan 
Serah Terima 
ď‚§ SPPBJ 
ď‚§ Penandandatanganan Surat 
Perjanjian (Kontrak)/SPK 
ď‚§ Penerbitan SPMK/Surat Pesanan
SOP 
 SOP Pelaksanaan Kontrak dan 
Serah Terima 
ď‚§ Pengendalian Kontrak Pengadaan 
Barang/Jasa Lainnya/Jasa 
Konsultansi 
ď‚§ Pengendalian Kontrak Pekerjaan 
Konstruksi 
ď‚§ Adendum Kontrak 
ď‚§ Pemeriksaan dan Serah Terima 
Pekerjaan 
 SOP Pembayaran Pekerjaan 
ď‚§ Penagihan 
ď‚§ Pembuatan Berita Acara 
Pembayaran 
ď‚§ Penerbitan SPM dan SP2D 
ď‚§ Pembayaran Pada Akhir Tahun 
Anggaran
 Menetapkan Organisasi Penanggung Jawab Penyusun SOP 
 Membentuk Tim Penyusun dengan persyaratan: 
ď‚§ Wajib memahami setiap tahapan pekerjaan 
ď‚§ Terdiri atas unsur perencanaan, pengadaan, keuangan, dan 
pengawasan 
 Studi Banding ke Insitusi Lain yang sudah mapan dalam 
menerapkan SOP (Contoh: KPK) 
 Koordinasi dan Komunikasi dengan LKPP 
 Sosialisasi 
 Monitoring dan Evaluasi 
 Review/Perbaikan SOP (minimal setahun sekali)
www.khalidmustafa.info 
HP: 08170909035 
Pin BB: 2AF759E2

Mengapa Perlu SOP Pengadaan

  • 1.
    Khalid Mustafa Ketuadan Pendiri Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia (P3I) Pengurus DPP Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI)
  • 2.
     Setiap pekerjaanyang dapat menimbulkan resiko harus dilakukan dengan prosedur yang ketat dan tetap untuk meniadakan atau mengurangi resiko/kesalahan  Apabila pilot tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan aturan, maka pesawat akan jatuh dan banyak penumpang menjadi korban.  Bila dokter tidak melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur, maka pasien dapat meninggal atau cacat.  Bila pemadam kebakaran tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan prosedur, maka dapat menimbulkan banyak korban jiwa dan materi.  Pengadaan juga mengandung resiko (mendapat komplain dari masyarakat, terkena sanksi hukum, barang/jasa tidak sesuai kebutuhan) jadi harus memiliki prosedur yang jelas.
  • 4.
    Lupa mengikuti prosedurbaku (Perpres dan Perka LKPP)  Perbuatan melawan hukum  Penyalahgunaan wewenang Kegiatan tidak terdokumentasi  Tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan/kebijakan Dokumen tidak standar Pekerjaan berulang/tumpang tindih
  • 5.
    PBJ merupakan kegiatanberulang yang seharusnya dapat dibakukan Mengurangi kesalahan prosedur Mengurangi kesalahan dokumentasi Mempermudah pejabat baru untuk melaksanakan/melanjutkan pekerjaan Mempermudah Audit
  • 7.
    • Tidak adaPedoman Perencanaan yang baku untuk memisahkan N dan W • Tidak ada kaitan data aset dan penghapusan dengan perencanaan • Tidak ada alur yang jelas tentang target dan waktu penyusunan perencanaan • Tidak ada reward and punishment yang jelas • Tidak sinkron antara perencanaan dan penganggaran khususnya terhadap aturan Pengadaan • RUP tidak disusun oleh PA/KPA
  • 8.
    • Anggaran tidakberdasarkan kepada perencanaan awal • Penyesuaian anggaran tidak memperhatikan kebutuhan dan posisi pengadaan • Anggaran ditetapkan bukan pada awal tahun anggaran • Anggaran perubahan tidak memperhatikan perencanaan dan kebutuhan waktu pelaksanaan • Terjadi kesalahan pada jenis belanja
  • 9.
    • Penyusunan Spek.Teknis dan HPS tidak didasarkan pada perencanaan dan tidak didokumentasikan • Tidak ada rancangan kontrak • Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pemilihan tidak sesuai • Pelaksanaan Pemilihan tidak sesuai • Pelaksanaan pekerjaan tidak dikendalikan • Serah terima pekerjaan tidak berdasarkan kontrak dan kondisi pekerjaan • Dokumen pencairan tidak sinkron dengan dokumen pengadaan
  • 10.
  • 11.
     Ruang LingkupSOP  Seluruh Kementerian/Lembaga/Daerah/Institusi; atau  Berdasarkan Eselon/Satuan Kerja  Organisasi Pelaksana  Kesiapan dan Kaitan dengan Organisasi lain (Perencanaan, Keuangan, Hukum dan Organisasi, Kepegawaian, dll)  Pengguna Anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Pengadaan, dan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan  Unit Layanan Pengadaan  Dasar Hukum
  • 12.
    SOP  SOPRencana Umum Pengadaan  Identifikasi Kebutuhan, Penyusunan KAK dan RAB, Penetapan Organisasi Pengadaan  Pembahasan Kegiatan dan Anggaran  Penyusunan dan Pengumuman RUP  Kaji Ulang RUP  SOP Rencana Pelaksanaan Pengadaan  Penyusunan Spesifikasi Teknis  Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri  Penyusunan Rancangan Kontrak  Permintaan Pemilihan Penyedia
  • 13.
    SOP  SOPRencana Pemilihan Penyedia  Kaji Ulang RPP  Penyusunan Dokumen Pengadaan  SOP Swakelola  Swakelola oleh Penanggung Jawab Anggaran  Swakelola oleh Instansi Pemerintah Lain  Swakelola oleh Kelompok Masyarakat
  • 14.
    SOP  SOPPemilihan Penyedia  Pengadaan Langsung Menggunakan Bukti Pembelian (dibawah 10 Juta)  Pengadaan Langsung Menggunakan Kuitansi (dibawah 50 Juta)  Pengadaan Langsung Menggunakan SPK (dibawah 200 Juta)  Penunjukan Langsung Tidak Darurat  Pelelangan Umum Pascakualifikasi  Pelelangan Umum Prakualifikasi  Seleksi Umum Badan Usaha  Seleksi Umum Perorangan
  • 15.
    SOP  SOPPemilihan Penyedia  Pelelangan Sederhana/Pemilihan Langsung  Sayembara/Kontes  Lelang Gagal  Sanggahan dan Sanggahan Banding  Pengaduan  Somasi dan Permasalahan Hukum PBJ  SOP Pelaksanaan Kontrak dan Serah Terima  SPPBJ  Penandandatanganan Surat Perjanjian (Kontrak)/SPK  Penerbitan SPMK/Surat Pesanan
  • 16.
    SOP  SOPPelaksanaan Kontrak dan Serah Terima  Pengendalian Kontrak Pengadaan Barang/Jasa Lainnya/Jasa Konsultansi  Pengendalian Kontrak Pekerjaan Konstruksi  Adendum Kontrak  Pemeriksaan dan Serah Terima Pekerjaan  SOP Pembayaran Pekerjaan  Penagihan  Pembuatan Berita Acara Pembayaran  Penerbitan SPM dan SP2D  Pembayaran Pada Akhir Tahun Anggaran
  • 17.
     Menetapkan OrganisasiPenanggung Jawab Penyusun SOP  Membentuk Tim Penyusun dengan persyaratan:  Wajib memahami setiap tahapan pekerjaan  Terdiri atas unsur perencanaan, pengadaan, keuangan, dan pengawasan  Studi Banding ke Insitusi Lain yang sudah mapan dalam menerapkan SOP (Contoh: KPK)  Koordinasi dan Komunikasi dengan LKPP  Sosialisasi  Monitoring dan Evaluasi  Review/Perbaikan SOP (minimal setahun sekali)
  • 18.