THT
Batch November
2023
Complete Class Materi
dr. Muti
BASIC UKMPPD
• UKMPPD CBT terdiri dari 150 soal
dalam 200 menit 🡪 1 soal = 1
menit
• Baca soal 🡪 Baca Kasus 🡪 Kata
kunci 🡪 Informasi tambahan
• Pemeriksaan Objektif > Subjektif
• Jika kesulitan 🡪 Eksklusi jawaban
🡪 Memperbesar kemungkinan
untuk benar
2
• Bedakan antara terapi yang tepat,
definitive, abortif, suportif, awal dan
pendukung
• Terapi awal : Tatalaksana
simtomatis / kegawat daruratan
• Terapi definitive : Terapi yang
langsung ke etiologi
• Terapi supportif: Terapi yang
membantu dalam terapi utama.
Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI)
•Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas
•4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
•4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atauPendidikan
Kedokteran Berkelanjutan (PKB)
4
•Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk
•3A. Bukan gawat darurat
•3B. Gawat darurat
3
•Mendiagnosis dan merujuk
•Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.
2
•Mengenali dan menjelaskan
•Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan
mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai
penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien.
1
Daftar Isi
o Tes Pendengaran (4, 3)
o Kelainan Telinga Luar
o Othematoma (3B)
o Perikondritis (3B)
o Fistula Preaurikula (3A)
o Herpes Zoster Otikus (3A)
o Otitis Eksterna (4A)
o Otomikosis (4A)
o Cerumen Prop (4A)
o Keratosis obsturans
o Benda Asing pada Telinga (3A)
o Kelainan Telinga Tengah
o Otosklerosis (3A)
o Otitis Media Efusi (3A)
o Otitis Media Akut (4A)
o Otitis Media Supuratif Kronis (3A)
o Miringitis Bulosa (3A)
o Timpanosklerosis (2)
o Kelainan Telinga Dalam
o Presbiakusis (3A)
o Noise induced hearing loss (2)
o Trauma Akustik (3B)
o Gangguan Keseimbangan
o Motion sickness (4A)
o Meniere’s disease (3A)
o Labirinitis (2)
o Kelainan pada Hidung
o Rinitis (4A, 3A)
o Rinosinusitis (3A, 2)
o Epistaksis (4A)
o Polip nasi (2)
o Benda asing hidung (4A)
o Kelainan pada Tenggorokkan
o Tonsilitis (4A)
o Faringitis (4A)
o Laringitis (4A)
o Tumor Jinak Laring (2)
o Obstructive Sleep Apnea (1)
o Hipertrofi Adenoid (2)
o Tertelan benda asing (3B)
o Abses leher dalam (3A)
o Keganasan pada THT
o Karsinoma nasofaring (2)
o Angiofibroma nasofaring juvenile
o Karsinoma sinonasal
o Massa Leher Kongenital (2)
Tes Pendengaran
THT
4
A
3
Tes Pendengaran
6
Audiometri Impedans Otoacustic Emmision
Brainstem Evoked Response Audiometry
Subjektif
Tes bisik
Tes garpu tala
Audiometri nada murni
Audiometri nada tutur
Objektif
Audiometri Impedans
OAE
(Otoacoustic Emission)
BERA
(Brainstem Evoked Response Audiometry)
4
Tes Bisik
Kuantitatif Kualitatif
Fungsi Pendengaran Suara Bisik Tuli Seneorineural
Sulit mendengar huruf desis (frekuensi tinggi)
Seperti huruf s – sy – c
Normal 6 m
Dalam batas normal 5 m
Tuli ringan 4 m Tuli Konduktif
Sulit mendengar huruf lunak (frekuensi rendah)
Seperti huruf m – n – w
Tuli sedang 3 – 2m
Tuli berat ≤ 1 m
7
4
• Pemeriksaan dilakukan dalam ruangan yang sunyi, serta tidak bergema
• Jarak pemeriksa dan pasien sejauh 20 kaki atau 6 meter
• Telinga yang akan diperiksa dihadapkan ke pemeriksa
• Telinga yang tidak diperiksa ditutup dengan tangan
• Pemeriksa membisikkan kata-kata yang mudah dan pasien dimita untuk mengulangi dengan benar
Tes Garpu Tala
• menilai air conduction dan bone conduction
RINNE TEST
• menilai bone conduction kanan dan kiri
WEBER TEST
• membandingkan bone conduction penderita
dan pemeriksa
SCHWABACH
TEST
Rinne Weber Schwabach
Normal (+) (-) lateralisasi
Sama dengan
pemeriksa
Tuli
Konduktif
(-)
Lateralisasi ke
telinga sakit
Memanjang
Tuli
Sensorineural
(+)
Lateralisasi ke
telinga sehat
Memendek
8
4
Audiometri Nada Murni
• Untuk mengetahui ambang dengar dan jenis gangguan pendengaran
• Ambang dengar (AD): bunyi nada murni terlemah pada frekuensi tertentu yang masih dapat
didengar oleh telinga seseorang
• Derajat ketulian dihitung berdasarkan indeks Fletcher:
(AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz + AD 4000 Hz)/4
9
3
Derajat Ketulian Desibel
Normal 0-25 dB
Tuli ringan 26-40 dB
Tuli Sedang 41-55 dB
Tuli Sedang-berat 56-70 dB
Tuli Berat 71-90 dB
Tuli Sangat Berat >90 dB
+15
+20
+15
+15
Audiometri Nada Murni
10
3
• BC normal atau < 25 dB
• AC > 25 dB
• Antara AC dan BC
terdapat air-bone gap
• AC dan BC > dari 25 dB
• AC dan BC berimpit
• Tidak ada air-bone gap
• BC > 25 dB
• AC > BC
• Terdapat air-bone gap
Tuli Konduktif Tuli Sensorineural Campuran
Audiometri
Audiometri Nada Murni
11
(-) Gap
AC dan BC
≤ 25 dB
Normal
AC dan BC
> 25 dB
SNHL
(+) Gap
AC > 25 dB
BC normal
(<25 dB)
CHL
BC > 25 dB
AC > BC (>10
dB)
Campuran
MED+
EASY
3
Audiometri Tutur
• Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari dan menilai
pemberian alat bantu dengar.
• Pasien diminta untuk mengulangi kata-kata yang disusun dalam suku kata dan
diberikan melalui headphone.
• Dilakukan pada orang dewasa dan anak besar
• Berguna untuk mengonfirmasi hasil audiometri nada murni
12
3
Kelainan Telinga Luar
THT
KELAINAN TELINGA LUAR
Othematoma Perikondritis
Fistula
Preaurikula
Herpes Zoster
Otikus
Otitis Eksterna Otomikosis Serumen Prop
Benda Asing
Telinga
14
Gangguan Daun
Telinga
Gangguan Daun Telinga
Othematoma Perikondritis
Fistula Preaurikula
Kumpulan darah antara kartilago dan
perikondrium
Etiologi: Trauma (mis: petinju)
Manifestasi: Bengkak, ekimosis, fluktuasi (+)
Tatalaksana:
Awal: Kompres
Definitife: insisi drainase (aspirasi)
Radang daun telinga
Etiologi: Infeksi Pseudomonas aeruginosa
Faktor Resiko: Piercing
Manifestasi: Nyeri, bengkak, merah
Tatalaksana:
Antibiotik (ciprofloxacin)
Kortikosteroid
Abses 🡪 insisi drainase
Lubang abnormal di depan tragus
Etiologi: sisa arkus brakialis
Manifestasi: benjolan berisi cairan di depan
pinna
Tatalaksana:
Observasi
Infeksi 🡪 Kompres + antibiotic
Abses 🡪 Insisi drainase +antibiotic
Cauliflower ear
Komplikasi
Herpes Zoster Otikus
Etiologi: Reaktivasi VZV
Manifestasi: keterlibatan N. V dan N. VIII 🡪
Ramsay Hunt Syndrome
Tatalaksana:
• Asiklovir 5x800 mg/hari selama 7-10 hari,
atau
• Valsiklovir 3x1000 mg/hari selama 7 hari,
atau
• Famsiklovir 3x250 mg/hari selama 7 hari
Definisi
• Kumpulan darah di antara kartilago dan perikondrium daun telinga
Etiologi
• Trauma tumpul 🡪 pada petinju atau pegulat
• Trauma tajam 🡪 laserasi dan atau perforasi
pada telinga
Patofisiologi
• Trauma 🡪 perdarahan dari pembuluh darah
pada perikondrium 🡪 penumpukan darah
dan serum diantara perikondrium dan
kartilago 🡪 subperichondrial hematoma
Othematoma
17
3
B
Manifestasi Klinis
•Pembengkakan daun telinga
•Hilangnya bentuk dan lekukan permukaan anterosuperior
daun telinga
•Ekimosis, fluktuasi (+)
Komplikasi
•Cauliflower ear
Tatalaksana
•Hematoma kecil (≤ 2 cm) < 2 hari 🡪 aspirasi
•Hematoma besar (> 2 cm), 2-7 hari 🡪 insisi, drainase, dan balutan kompresi (untuk mencegah reakumulasi)
•Hematoma > 7 hari 🡪 rujukan ke THT
Pemberian profilaksis levofloxacin selama 7-10 hari setelah drainase
Pasien dapat kembali berolahraga setelah 7 hari
Othematoma
18
3
B
Bedakan dengan PerikondriTIS 🡪 Tanda Infeksi (+) (Nyeri, terasa hangat)
Perikondritis
19
Definisi
• Peradangan difus daun telinga
Etiologi
• Pseudomonas aeruginosa
Faktor Risiko
• Trauma
• Piercing
• Gigitan serangga
Gejala Klinis
• Nyeri
• Daun telinga bengkak dan merah
• Perikondrium terangkat dan menjadi kaku
3
B
MED+
EASY
Perikondritis
20
Tatalaksana
• Antibiotik dosis tinggi
• Fluorokuinolon
• Kombinasi aminogliokosida dengan amoksisilin
• Kortikosteroid 🡪 anti-inflamasi dan analgetik
• Abses perikondrial 🡪 insisi drainase selama 24-72 jam + antibiotik
3
B
Fistula Preaurikula
Definisi
• Lubang abnormal di depan tragus
• Merupakan sisa arkus brakialis embrio yang tidak menutup sempurna
• Infeksi 🡪 bisa keluar cairan purulent 🡪 tersumbat 🡪 abses
Pemeriksaan
• Fistulografi
• Kultur 🡪 apabila terjadi infeksi untuk menentukan antibiotik yang tepat
Tatalaksana
• Asimptomatik 🡪 observasi
• Infeksi 🡪 antibiotik + kompres rivanol
• Abses 🡪 insisi drainase + antibiotik
21
3
A
Herpes Zoster Otikus
Definisi Etiologi
• Disebabkan oleh HERPES VARICELLA-ZOSTER VIRUS.
• Virus akan dorman pada ujung ganglion saraf dan virus aktif kembali saat imunitas menurun
Manifestasi Klinis
• Keterlibatan nervus fasialis (nervus V) serta nervus
Vestibulokoklearis (nervus VIII) 🡪 menyebabkan
kelemahan wajah (dengan atau tanpa
penurunan pendengaran) 🡪 RAMSAY HUNT
SYNDROME
Tatalaksana
• Asiklovir 5x800 mg/hari selama 7-10 hari, atau
• Valsiklovir 3x1000 mg/hari selama 7 hari, atau
• Famsiklovir 3x250 mg/hari selama 7 hari
22
3
A
Otitis Eksterna
Otitis Eksterna
24
• Perdangan pada telinga luar
• Gejala Klinis
– Otalgia
– Nyeri tekan tragus
– Nyeri tarik pinna
– Pruritus
– Telinga terasa penuh
– Penurunan pendengaran
1/3 luar = Sirkumsripta
MT masih bisa terlihat
2/3 dalam = Difusa
MT tidak dapat dinilai
Apabila terdapat
gangguan NVII = Maligna
Otitis
Eksterna
Sirkumskripta
Difusa
Maligna
Otomikosis
Otitis Eksterna
25
Otitis Eksterna Sirkumskripta Otitis Eksterna Difusa Otitis Maligna
Definisi
Peradangan pada 1/3 bagian
depan liang telinga
Infeksi di folikel rambut yang
tersumbat
Peradangan pada 2/3 bagian
dalam liang telinga
OE difusa yang lebih agresif 🡪
osteomielitis luas sampai ke otak🡪
dapat menyebabkan kematian
Penderita: Orangtua, Pasien
imunokompromis (HIV, DM)
Etiologi
Staphylococcus aureus,
Staphylococcus albus
Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas aeruginosa
Gejala Klinis
Nyeri tekan tragus
Nyeri tarik aurikula
Nyeri tekan tragus
Dapat disertai sekret
Nyeri hebat terus menerus, paresis
N. facialis
Pem. Fisik
• Furunkel (+)
• Membran timpani
dapat dinilai
• Liang telinga
hiperemis dan edema
• Membran timpani
sulit dinilai
Edema liang telinga, MT sulit dinilai,
keluar cairan dari telinga, jaringan
granulasi, pus.
Tatalaksana
Salep antibiotik lokal 🡪 polymixin,
bacitracin
Tampon antibiotik lokal 🡪 ofloxacin,
polymixin, neomisin
Antibiotik dan debridement agresif
Dosis dewasa:
Ciprofloxacin 400 mg IV/8 jam;
Levofloxacin 750 mg PO/24 jam
Otitis Eksterna Sirkumskripta
Definisi
• Infeksi folikel rambut (furunkel)
• Hanya terjadi pada 1/3 bagian luar liang
telinga 🡪 yang ditumbuhi rambut
Etiologi
• Staphylococcus aureus/ Staphylococcus albus
Gejala Klinis
• Sangat nyeri 🡪 dapat timbul spontan saat
membuka mulut atau mengunyah
• Dapat disertai pembesaran KGB periaurikuler
Pemeriksaan
• Nyeri saat daun telinga ditarik ke arah lokasi
furunkel
• Membran timpani masih dapat terlihat
Tatalaksana
• Salep antibiotik 🡪 polimiksin B atau basitrasin
• Analgetik
• Abses 🡪 aspirasi atau insisi drainase
26
4
A
Otitis Eksterna Difusa
Definisi
• Peradangan difus pada liang telinga
• Terjadi di 2/3 bagian dalam liang telinga
Faktor Risiko
• Kondisi panas dan lembab
• Perenang (swimmer's ear)
• Mengorek telinga
Etiologi
• Pseudomonas sp.
• Staphylococcus aureus
Gejala Klinis
• Nyeri dan panas terutama saat rahang
bergerak
Pemeriksaan
• Nyeri tekan tragus
• Liang telinga sempit 🡪 membran timpani sulit
dinilai
• Dapat disertai sekret berbau
Tatalaksana
• Ear toilet
• Tampon antibiotik 🡪 ofloxacin, polimiksin,
neomisin
27
4
A
Otitis Eksterna
28
SIRKUMSKRIPTA / FURUNKULOSIS DIFUSA
Medikamentosa : pada stadium infiltrat salep ikhtiol atau salep antibiotik
seperti Polymixin B atau Basitrasin.
Tampon antibiotik yang dimasukkan ke dalam liang telinga.
Pilihan antibiotik : Polymixin B, Neomisin, Hidrocortison dan
anestesi topikal.
Kebanyakan furunkel direabsorbsi secara spontan, tetapi jika dalam 24 –
48 jam bisulnya belum pecah 🡪 Lakukan insisi dan drainase
Antibiotik Sistemik : bila infeksi berat. Diberikan pada orang dewasa. Ampicillin 250 mg QID, Eritromisin 250 mg QID. Anak-anak dapat
diberikan dosis 40-50 mg/kgBB
Antibiotik topikal biasanya mengandung asam asetat atau borat yang menurunkan pH di CAE
Neomisin, aktif terhadap bakteri Gram negatif, misal Proteus sp., Klebsiella sp., E. coli
Polymixin B atau E, aktif terhadap Psedomonas sp., Klebsiella sp., E. coli
Gentamisin, aktif terhadap Psedomonas sp.
4
A
Tatalaksana
Otitis Eksterna
29
Otitis Eksterna Maligna
Definisi
•Otitis eksterna difusa yang bersifat agresif
•Jika tidak ditangani 🡪 osteomielitis luas pada liang telinga hingga dasar
otak pada os temporal 🡪 meninggal
Faktor Risiko
•Sering terjadi pada pasien immunokompromis
•Orang tua dengan diabetes mellitus
•Penderita HIV
Etiologi
•Pseudomonas aeruginosa
Gejala Klinis
•Nyeri hebat
•Dapat terjadi paresis NVII
Pemeriksaan
•Lesi berupa ulkus dan jaringan granulasi pada dasar liang telinga
•+/- destruksi tulang
Tatalaksana
• Debridement
• Ciprofloxacin 400 mg IV/8
jam; 750 mg PO/2 jam
30
Otomikosis
31
Definisi Etiologi
• OE yang disebabkan oleh jamur:
• Aspergillus niger
• Aspergillus fumigatus
• Candida albicans
Faktor Risiko
• Imunitas rendah
• Riwayat telinga sering terendam air
Gejala Klinis
• Telinga gatal (++++)
• Otalgia dan otorrhea
• Kurang pendengaran
• Rasa penuh di telinga
Candida sp.
“cotton wool
appearance”
Aspergillus sp.
“newspaper
appearance”
4
A
Otomikosis
Pemeriksaan Penunjang
• Preparat langsung 🡪 skuama dan kerokan kulit liang telinga dengan KOH 10% 🡪 hifa-hifa lebar,
berseptum, dan dapat ditemukan spora
• Kultur 🡪 Skuama dikultur di media Sabaroud Dextrose Agar dan diinkubasi pada suhu kamar. Koloni
akan tumbuh dalam 1 minggu.
32
4
A
Tatalaksana
• Obat antijamur topikal:
• Nystatin 🡪 efektif untuk Candida sp.
• Miconazole 🡪 efektif untuk Aspergillus sp.
• Ear Toilet
• Asam asetat 2% dalam alkohol 🡪 sebagai
keratolitik
• Jaga telinga tetap kering dan cegah
maneuver-maneuver pada telinga
CARA HAPAL:
Telinga siapa yang jamuran? Telinga
MAS-MAS
M – AS: MIKONAZOL – ASPERGILLUS
Cerumen Prop
4
A
Cerumen Prop
34
4
A
Cerumen
Berfungsi untuk menghalangi masuknya air ke liang telinga
pH yang rendah membantu mencegah tumbuhnya koloni bakteri
Serumen ”menangkap” benda asing, dan mengeliminasi benda asing
keluar dari telinga
Serumen diproduksi oleh 1/3 luar liang telinga
Faktor Risiko
• Dermatitis kronik liang telinga luar
• Liang telinga sempit
• Produksi serumen banyak dan kering
• Adanya benda asing di telinga
• Kebiasaan mengorek telinga
Tanda Dan Gejala
• Gangguan pendengaran 🡪 tuli konduktif
• Nyeri telinga
• Refleks batuk
• Rasa penuh pada telinga
• Tinnitus
• Vertigo
35
Tatalaksana
•Serumen lunak 🡪 dibersihkan dengan kapas dililit
•Serumen keras 🡪 dikeluarkan dengan hook atau kuret.
•Serumen tidak dapat dikeluarkan 🡪 serumen dilunakkan dahulu dengan
tetes KARBOGLISERIN 10% / H2O2 3% SELAMA 3 HARI.
•Serumen yang terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga 🡪 irigasi air
hangat yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh
Serumen dianjurkan dikeluarkan setiap
6 – 12 bulan sekali
Cerumen Prop 4
A
Indikasi
- Membran timpani tidak tampak atau
sulit di evaluasi
- Otitis externa
- Oklusi serumen dan bagian dari terapi
tuli konduktif
Kontraindikasi
- Adanya perforasi membran timpani
- Tinitus
- Serumen yang sangat keras
Keratosis Obsturans
Keratosis Obsturans
37
Definisi
•Epitel squamous berlapis dengan keratin yang menumpuk di liang telinga (gagal migrasi)
Epidemiologi
••Usia muda (>>>)
•Faktor Risiko
••Mengorek telinga dengan benda logam
Gejala Klinis
••Penurunan pendengaran (tuli konduksi)
••Nyeri
••Liang telinga lebih lapang
••Produksi sekret telinga menurun
Tatalaksana
•Tetes telinga (campuran alkohol/gliserin dalam cairan H2O2)
Corpus Alienum
Corpus Alienum
39
Definisi
• Sumbatan pada telinga luar karena benda asing baik benda mati maupun makhluk hidup
Etiologi
• Benda mati 🡪 manik, kacang hijau, kapas cotton bud
• Makhluk hidup 🡪 serangga
Corpus Alienum
40
Prinsip: YANG HIDUP MATIKAN DAHULU
3
A
Pada kasus benda asing yang tidak tertanam di CAE:
Apabila pasien anak-anak 🡪 selama prosedur anak dalam
pangkuan orang tua
Aligator/forcep bayonet 🡪 benda lunak (kertas, kapas)
Alat pengait kecil 🡪 benda bulat atau mudah pecah (biji,
batu)
Letakkan alat pengait di belakang benda asing, diputar lalu ditarik
keluar secara perlahan.
Pada kasus benda asing serangga:
• Tetesi dengan alkohol, kloroform atau minyak mineral,
lidokain atau anestesi lokal supaya serangga tidak bergerak
dan sebagai lubrikasi.
• Ekstraksi serangga dengan menggunakan forceps alligator.
Corpus Alienum
41
Wire Loop
3
A
MED+
EASY
Terapi Spesifik
• Baterai 🡪 jangan lakukan irigasi maupun penghancuran
baterai. Segera ambil dengan wire loop
• Benda tajam 🡪 berisiko merobek membran timpani 🡪 rujuk
ke THT
Corpus Alienum 3
A
Komplikasi
• Benda yang bersifat radiolusen
seringkali tidak terdeteksi karena sulit
untuk divisualisasikan.
• Baterai kancing kecil memiliki
morbiditas tinggi karena dengan
cepat menyebabkan ulserasi dan
nekrosis yang menyebabkan
perforasi septum hidung.
• Benda berbentuk bola atau cakram
apabila tergeser ke belakang,
menyebabkan obstruksi saluran
pernapasan.
Kelainan Telinga
Tengah
Kelainan Telinga Tengah
Otosklerosis Otitis Media Efusi Otitis Media Akut
Otitis Media Supuratif
Kronis
Miringitis Bulosa Timpanosklerosis
44
Otosklerosis
3
A
Otosklerosis
Definisi
• Spongiosis pada kaki stapes sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan
getaran suara ke labirin dengan baik
Epidemiologi
•• Perempuan lebih sering
•• Usia 11-45 tahun
Gejala Klinis
•• Penurunan pendengaran progresif
•• Tinitus dan vertigo
•• Bilateral
•• Parakusis Willisi 🡪 Pasien merasa pendengaran lebih baik pada ruang bising
46
3
A
Otosklerosis
FLAMMINGO
PINK SIGN
Otoskopi
• Schwarte’s sign/flammingo pink sign 🡪 Membran timpani kemerahan
akibat pelebaran pembuluh darah pada promontorium
Tatalaksana
• Definitif 🡪 Stapedektomi
47
MED+
EASY
3
A
Otitis Media Efusi
3
A
Otitis Media Efusi
Definisi
• Akumulasi cairan pada telinga tengah tanpa gejala atau tanda infeksi akut (efusi non-purulen)
• Istilah lain: otitis media serosa atau otitis media sekretoria
• Glue ear 🡪 OME persisten dengan cairan kental seperti lem
Etiologi
• Gangguan fungsi tuba eustachius berkepanjangan 🡪 hipertrofi adenoid, rhinosinusitis kronis,
tonsilitis kronis
• OMA yang tidak sembuh sempurna
• Barotrauma
Gejala Klinis
• Gangguan pendengaran
• Suara diri sendiri terdengar nyaring (autofoni)
• Telinga terasa penuh
49
3
A
Otitis Media Efusi
Pemeriksaan
• Pneumoskopi
• Timpanometri
Tatalaksana
• Sesuai etiologi
• Medikamentosa 🡪 dekongetan topikal, antihistamin
• Miringotomi 🡪 rujuk
50
“AIR BUBBLE APPEARANCE"
GLUE EAR
3
A
Otitis Media Akut
4A
Otitis Media Akut
Definisi
• inflamasi akut pada telinga tengah.
Etiologi
• Streptococcus pneumoniae (30-50%)
• Haemophillus influenzae (20-30%)
• Moraxella catarrhalis (10-20%)
52
Pada anak anak lebih mudah terjadi OMA karena tuba eustachius
lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal.
4
A
Otitis Media Akut
Stadium Oklusi
• Pembengkakan muara tuba eustachius 🡪 obstruksi 🡪 absorpsi udara
dan tekanan negatif pada telinga tengah 🡪 retraksi membran timpani
• Refleks cahaya berkurang/menghilang
• Membran timpani tampak suram/keruh
• Tatalaksana:
• Dekongestan 🡪 Pseudoefedrin HCl 0,5-1% atau Oxymetazolin 0,025%
53
4
A
Otitis Media Akut
Stadium Hiperemis/Presupurasi
• Membran timpani tampak hiperemis dan edema akibat pelebaran
pembuluh darah
• Dapat disertai sekret serosa
• Biasanya anak disertai demam, gelisah, dan rewel
• Tatalaksana:
• Analgetik + antipiretik🡪 Paracetamol 10-15 mg/kgBB atau ibuprofen
10-15 mg/kgBB
• Antibiotik oral selama 7 hari dengan indikasi:
•• Anak ≤ 6 bulan
•• Anak < 2 tahun dengan OMA bilateral
•• Segala usia dengan gejala tidak berkurang setelah 48-72 jam,
gejala berat (otalgia, demam >39 C), pasien dengan koklear implan
54
4
A
Otitis Media Akut
Stadium Supurasi
• Terjadi pembentukan pus di rongga telinga tengah
• Membran timpani tampak menonjol (bulging)
• Nyeri hebat dan penurunan pendengaran
• Pada anak dapat disertai dengan demam tinggi
• Tatalaksana:
•• Antibiotik oral
•• Analgetik + antipiretik
•• Miringotomi 🡪 pus dapat keluar dan membran timpani dapat
menutup kembali. Jika tidak dilakukan insisi, maka akan terjadi ruptur
membran timpani yang sulit menutup kembali
55
4
A
Otitis Media Akut
Stadium Perforasi
• Membran timpani ruptur 🡪 pus keluar ke liang telinga
• Kondisi klinis pasien akan membaik dan nyeri hilang
• Tatalaksana:
•• Ear toilet 🡪 dengan H2
O2
3% selama 3-5 hari
•• Antibiotik tetes telinga (Ofloksasin) selama 3 minggu
•• Antibiotik oral
56
4
A
Otitis Media Akut
Stadium Resolusi
• Membran timpani sudah tidak meradang
• Perforasi dapat menutup spontan
• Jika daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah fase resolusi
dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan
• Tatalaksana 🡪 Observasi
57
4
A
Otitis Media Akut
Tatalaksana Farmakologi
58
4
A
Pilihan antibiotik pada pasien OMA (selama 7-10 hari)
• Amoxicillin 3x500 mg (dewasa) atau 3x10 mg/kgBB (anak)
• Eritromisin 4x500 mg (dewasa) atau 4x10 mg/kgBB (anak)
• Coamoxiclav 3x625 mg
Rujuk ke THT apabila terindikasi miringotomi dan membran timpani tidak menutup dalam 3
bulan
Otitis Media Akut
59
Stadium Gejala Klinis Otoskopi Tatalaksana
Oklusi
Telinga penuh,
demam (-)
MT retraksi dan tampak
suram
Dekongestan topikal
• Tetes hidung HCl efedrin 0,5-1%
• Oksimetazolin 0,025-0,05%
Hiperemis Demam, otalgia MT hiperemis + edema
Antibiotik oral
• Amoxicilin 3x500 mg
• Eritromisin 4x500 mg
• Coamoxiclav 3x625 mg
Analgetik + Antipiretik
Supurasi
Demam tinggi,
otalgia (+++)
MT buldging/menonjol,
hiperemis
Miringotomi
Antibiotik oral
Analgetik + Antipiretik
Perforasi
Demam menurun,
keluar sekret dari
telinga, otalgia (-)
MT perforasi, sekret (+)
Ear toilet 🡪 H2O2 3% (3-5 hari)
Antibiotik oral/tetes
Resolusi Sekret berkurang
MT mulai menutup,
sekret berkurang
Observasi
(-) resolusi 🡪 AB lanjutkan selama
3 minggu
Otitis Media Akut
60
4
A
Miringotomi
• INSISI KECIL melubangi gendang telinga
• Untuk mengeluarkan cairan dari telinga dalam dan menghilangkan
rasa sakit
• Kadang dibuat 2 insisi pada membran timpani daerah anteroinferior
dan insisi kedua di daerah anterosuperior, untuk mengaspirasi sekret
yang tebal seperti lem (glue ear)
Pemasangan Tube Ventilasi (Grommet’s Tube)
• Tube ventilasi ini sifatnya sementara
• Berlangsung 6 - 12 bulan di dalam telinga hingga infeksi telinga
bagian tengah membaik dan sampai Tuba Eustachius kembali
normal.
Otitis Media Supuratif
Kronis
3A
Otitis Media Supuratif Kronis
Definisi
• Radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat
keluarnya sekret dari telinga lebih dari 3 bulan, baik terus-menerus atau hilang timbul.
Etiologi
• Etiologi: campuran aerob (pseudomonas, s.aureus, S. epidermidis), anaerobic
(prevotella, porphyromonas)
62
3
A
Otitis Media Supuratif Kronis
Letak perforasi membran timpani
• Perforasi sentral 🡪 pada pars tensa dengan tepi masih utuh
• Perforasi marginal 🡪 terjadi di tepi sehingga berhubungan langsung
dengan siklus timpanik
• Perforasi atik 🡪 pada pars flaksida
63
3
A
Otitis Media Supuratif Kronis
OMSK Tipe Aman/Benigna
• Proses peradangan terbatas pada mukosa (tidak
mendestruksi tulang secara langsung)
• Pemeriksaan:
• Kolesteatoma (-)
• Perforasi membran timpani sentral
• Tatalaksana:
• Ear toilet
• Antibiotik topikal 🡪 ofloxacin 2x3-5 tetes/hari
• Tatalaksana faktor penyebab
• Preventif 🡪 telinga tidak boleh kemasukan air
• Rekonstruksi 🡪 Miringoplasti atau timpanoplasti
dengan atau tanpa mastoidektomi
64
3
A
Otitis Media Supuratif Kronis
OMSK Tipe Bahaya/Maligna
• Cenderung menimbulakn komplikasi berbahaya karena
progesivitasnya bersifat destruktif
• Pemeriksaan:
• Kolesteatoma (+)
• Perforasi membran timpani atik/marginal
• Tatalaksana:
• Mastoidektomi 🡪 mengangkat semua jaringan patologik
• Rekonstruksi 🡪 timpanoplasti
65
Kolesteatoma 🡪 epitel berlapis gepeng disertai debris
tumpukan pengelupasan keratin yang terjebak di dalam
rongga timpanomastoid
3
A
Otitis Media Supuratif Kronis
66
Benigna/Aman Maligna/Bahaya
Perforasi Sentral Atik atau marginal
Sekret
• Biasanya tidak berbau busuk
• Mukopurulen
• Biasanya berbau busuk
• Purulen
Kolesteatoma (-) (+)
Granulasi Sangat jarang (+)
Tatalaksana
• Ear toilet H2O2 3% 3-5 hari
• Antibiotik topikal (Ofloksasin 3% 2 minggu)
• Antibiotik sistemik (Amoksisilin 3x500 mg,
Ciprofloksasin 2x500 mg)
• Sekret tenang 🡪 observasi 2 bulan, bila
belum menutup 🡪 Miringoplasti atau
Timpanoplasti
• Mastoidektomi dengan atau tanpa
timpanoplasti
Aktif : Sekret (+)
Tenang : Sekret (-)
Otitis Media Supuratif Kronis
67
Otitis Media Supuratif Kronis
Intratemporal
Mastoiditis
Petrositis
Labirinitis
Paresis fasialis
68
Ektratemporal
Intrakranial Ekstrakranial
• Abses serebri
• Trombosis sinus lateralis
• Meningitis
• Abses Bezold 🡪di m. sternocleidomastoideus
• Abses Luc 🡪 di os. Zygoma atau anterior
• Abses Citeli 🡪 di m. digastric posterior belly)
3
A
Komplikasi
Miringitis Bulosa
3A
Miringitis Bulosa
70
GAUSAH SUSAH HAPAL
TERAPI MIRIP DENGAN OTITIS MEDIA AKUT
3
A
Definisi Etiologi
• inflamasi membran timpani dan kulit liang telinga sekitarnya
dengan bulla terisi serum atau darah.
• Bakteri patogen sama seperti otitis media, umumnya
Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae dan
Moraxella catarrhalis.
Tatalaksana
Pengobatan: analgetik, antibiotik dan
dapat diberikan tetes telinga antibiotik
Timpanosklerosis
2
Timpanosklerosis
72
2
Definisi Etiologi
Scarring dan penebalan dari membran timpani.
•Faktor Resiko
•Otitis media berulang
•Riwayat pembedahan membran timpani
•Riwayat penggunaan tuba timpanostomi
• Patch putih ireguler pada membran timpani🡪
Gambaran seperti tapal kuda
• Audiometri 🡪 tuli konduktif
Diagnosis Tatalaksana
• Hearing aid
• Pembedahan untuk menghilangkan bagian
yang sklerotik
Kelainan Telinga
Dalam
THT
KELAINAN TELINGA DALAM
Presbiakusis
Noise Induced Hearing
Loss
Trauma Akustik
74
Presbiakusis
Definisi
• Tuli sensorineural yang disebabkan oleh penuaan (proses degeneratif)
• Umumnya terjadi > 60 tahun
Etiologi
• Sensori 🡪 kehilangan sel rambut
• Metabolik 🡪 atrofi atria vascularis koklea
• Neural 🡪 kehilangan sel ganglion
Gejala Klinis
• Penurunan pendengaran bilateral, progresif
• Cocktail party deafness 🡪 sulit mendengar di keramaian
• Hiperakusis terhadap suara dengan frekuensi tertentu
75
3
A
Presbiakusis
Pemeriksaan
• Audiometri nada murni 🡪 gangguan pada frekuensi tinggi (>2.000 Hz)
• Gambaran down-sloping
• Tes Penala 🡪 sesuai SNHL
Tatalaksana
• Alat bantu dengar
• Rehabilitasi auditori
76
3
A
Noice Induced Hearing Loss
• Akibat terpajan bising yang cukup keras
dalam jangka waktu yang cukup lama 🡪
biasanya pada pekerja pabrik
• Pemeriksaan audiometri nada murni didapat
tuli sensorineural pada frekuensi 3000-6000 Hz,
terberat pada 4000 Hz
• Pencegahan dengan mengusahakan bising
<85 dB dan memakai alat pelindung
pendengaran
77
Nilai Ambang Batas Bising
85 dB 8 jam
88 dB 4 jam
91 dB 2 jam
94 dB 1 jam
97 dB 30 menit
100 dB 15 menit
Desibel DITAMBAH 3
Waktu DIBAGI 2
MED+
EASY
2
Trauma Akustik
Definisi
• Pajanan suara > 140 dB dalam waktu singkat 🡪 kejadian akut
• kerusakan koklea akibat rangsangan fisik berupa getaran berlebih 🡪 merusakan hair cell di koklea.
• Suara frekuensi tinggi → merusak sel rambut bagian basal
• Suara frekuensi rendah → merusak sel rambut bagian apeks
Pemeriksaan
• Umumnya normal
• Dapat ditemukan perdarahan apa bila terdapat perforasi MT
Kata kunci pada soal 🡪 tuli mendadak setelah
latihan menembak atau mendengar ledakan
78
3
B
Diagnosa Banding
79
Presbiakusis NIHL Trauma Akustik Ototoxicity
Etiologi
Degeneratif
(Usia >60 tahun)
Pajanan bising lama dan
terus menerus
Pajanan bising kuat dan
mendadak
Karena obat-obatan
(aminoglikosida, cisplatin,
klorokuin, tetes telinga)
Gejala
• ↓ pendengaran
bilateral, progresif
• cocktail party
deafness
• ↓ pendengaran
bilateral
• Tinitus
↓ pendengaran secara
tiba-tiba
• ↓ pendengaran
• Tinitus
• Hiperakusis
Pemeriksaan
Penunjang
Audiometri nada murni:
down sloping pada
frekuensi 2000 Hz
Audiometri: notch pada
frekuensi 4000 Hz
Audiometri: terdapat
accoustic notch pada
frekuensi 4000 Hz
Audiometri: gangguan
pada frekuensi tinggu
>8.000 Hz
Tatalaksana
• ABD
• Rehabilitasi
• ABD
• Hindari pajanan
• ABD
• Rehabilitasi
Berhenti konsumsi obat
pencetus
GANGGUAN KESEIMBANGAN
Motion Sickness BPPV Meniere's Disease
Neuritis Vestibularis Labirinitis
80
Motion Sickness
Definisi
• Kelainan fisiologis yang sering terjadi pada sekelompok individu yang rentan, akibat stimulasi
sistem vestibular untuk jangka waktu yang cukup lama.
• Nama lain: Mabuk Perjalanan
Patogenesis
• Ketidakseimbangan informasi antara nukleus vestibular dengan serebelum dari sisi visual dan
fungsi labirin
• Terjadi konflik sensoris 🡪 muncul gejala motion sickness
4
A
Motion Sickness
Etiologi dan Faktor Risiko
• Penderita migrain lebih rentan mengalami mabuk perjalanan
• Konflik visual-vestibular
• Misalnya membaca di mobil dan berada di kabin kapal tertutup
Manifestasi Klinis
• Pusing, mual, muntah
• Tampak pucat dan lelah
• Berkeringat dingin (diaforesis)
4
A
Motion Sickness
Tatalaksana Preventif
• Non-farmakologis
• Melihat ke objek jauh yang tidak bergerak (mis. horizon)
• Menghindari membaca atau bermain gadget
• Memilih tempat duduk dengan posisi yang nyaman Mengonsumsi permen rasa jahe
(berkaitan dengan reseptor serotonin)
4
A
Motion Sickness
Tatalaksana Preventif
• Farmakologis
• Skopolamin transdermal 1 mg ditempelkan pada area mastoid
• Ditempel 4-12 jam sebelum keberangkatan
• Efektif hingga ~72 jam
• Antihistamin (dimenhidrinat atau meclizine, 3-4 x 25 mg PO)
• Dikonsumsi 30-60 menit sebelum keberangkatan
• Promethazine 0,25-0,8 mg PO
• Dikonsumsi 1 jam sebelum keberangkatan
• Diberikan bila skopolamin dan antihistamin tidak efektif
Antihistamin non-sedatif (mis. cetirizine, loratadine) Tidak efektif untuk mencegah Motion Sickness
4
A
Motion Sickness
Tatalaksana Kuratif
• Antihistamin 🡪 blokade reseptor H1
di pusat muntah
• Contoh: dimenhidrinat, difenhidramin, promethazine 🡪 sedatif
• Promethazine injeksi/oral sangat efektif untuk gejala mual-muntah akut
• Antiemetik
• Antagonis reseptor D2
• Contoh: metoklopramid dan domperidon
• Antagonis reseptor 5-HT3
• Contoh: ondansetron
4
A
Vertigo
Definisi
• persepsi yang salah dari gerakan seseorang atau lingkungan sekitarnya.
Klasifikasi
Gejala Vertigo Vestibuler Vertigo Non Vestibuler
Sensasi Rasa berputar Melayang, goyang
Tempo serangan Episodik Kontinu, konstan
Mual dan muntah + -
Gangguan pendengaran +/- -
Gerakan pencetus Gerakan kepala Gerakan objek visual
Vertigo Vestibuler
Klasifikasi
Gejala Vertigo Perifer Vertigo Sentral
Bangkitan Mendadak Gradual
Beratnya vertigo Berat Ringan
Pengaruh gerakan kepala ++ +/-
Mual/muntah/keringatan ++ +
Gangguan pendengaran +/- -
Nistagmus
Horizontal/torsional Vertikal
Fatigue (+) Fatigue (-)
Tanda fokal otak - +/-
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
Definisi Etiologi
• Gangguan klinis yang sering terjadi dengan karakteristik serangan vertigo di
perifer, berulang dan singkat, sering berkaitan dengan perubahan posisi
kepala tertentu
• Disebabkan oleh debris (otokonia/otolith) pada kanalis semisirkularis (tersering
= posterior) atau pada cairan endolimf disekitarnya
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
Manifestasi Klinis
• Vertigo timbul mendadak pada perubahan posisi
• Berlangsung singkat 10 – 30 detik
• Vertigo dirasakan berputar, bisa disertai rasa mual, kadang-
kadang muntah.
Pemeriksaan
• Dix-hallpike
• Normal = tidak timbul vertigo atau nystagmus
• Abnormal = timbul nistagmus posisional dengan ciri ada masa laten, lama
<30 detik, lama vertigo = lama nistagmus, adanya fatigue (nistagmus dan
vertigo yang makin berkurang setiap pemeriksaan diulang)
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
• Dix-Hallpike Maneuver
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
Tatalaksana
Medikamentosa
Analog histamin
Betahistine Mesylate dosis 12 mg, 3dd
PO Betahistin HCl dosis 8-24 mg, 3dd
PO
Antikolinergik Scopolamin
Antihistamin Dimenhidrinat, Difenhidramin, Meksilin, Siklisin
Antiemetik Promethazine, Metoclopramid, Ondansetron
CCB Cinnarizin 3x15-30 mg atau 1x75mg; Flunarizin
Manuver
Manuver Epley Untuk BPPV Posterior
Latihan Brandt-Daroff Untuk BPPV Posterior, pasien melakukan sendiri di rumah
Manuver Semont Untuk BPPV Posterior
Manuver Yocovino Untuk BPPV Anterior/Superior
Manuver BBQ Roll Untuk BPPV Lateral/Horizontal
Pembedahan
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
Tatalaksana
Epley Manuever
BPPV (Benign Paroxysmal Postural Vertigo)
Tatalaksana
Brand-Daroff
Semont
BEDA : Brand-Daroff
SAMA : Semont
MED+
EASY
Meniere’s Disease
Etiologi Manifestasi
• Disebabkan adanya hidrops endolimfe pada
koklea dan vestibulum
• TRIAS: (VTP : Vertigo, Tinitus, Pendengaran
terganggu)
• Vertigo
• Tinnitus
• Tuli sensorineural terutama nada rendah
94
3
A
Pemeriksaan Penunjang
• TES GLISERIN
• Pasien diberi minum gliserin 1,2 cc/kgBB setelah diperiksa dengan tes kalori dan audiogram.
Setelah 2 jam, diperiksa ulang, bila menunjukkan perbaikan bermakna 🡪 adanya hidrops
endolimfe
Meniere’s Disease
Tatalaksana Umum
• Mengurangi konsumsi garam maksimal 1,5 - 2 gram per hari
• Berhenti merokok
• Membatasi konsumsi air
• Membatasi konsumsi kopi, teh, alcohol
Tatalaksana Akut Saat Serangan
• Tirah baring dengan kepala lebih tinggi dari badan
• Muntah 🡪 Dimenhidrinat atau promethazine
95
3
A
Meniere’s Disease
96
Terapi Spesifik Kronik
• Prochloperazine 3x10 mg
• Asam nikotinik 3x50 mg
• Betahistin 3x8 mg
Terapi Pembedahan
• Dekompresi kantung endolimfe
• Operasi shunt
3
A
Labirinitis
Definisi
• Inflamasi pada labirin dan koklea
• Disebut juga otitis interna
Etiologi
• Virus (Rubella, CMV, dll) 🡪 paling sering
• Bakteri 🡪 komplikasi dari OMSK
• Autoimun 🡪 komplikasi dari polyarteritis nodosa
Gejala Klinis
• Terdapat riwayat infeksi (ISPA/OMSK)
• Vertigo
• Tinnitus
97
2
Labirinitis
Pemeriksaan Penunjang
• Audiometri sesuai dengan tuli sensorineural
Tatalaksana
• Bedrest
• Kortikosteroid
• Antiemetik
• Terapi sesuai etiologi
98
2
Diagnosis Banding Gangguan Keseimbangan
99
BPPV Meniere’s Disease Labirinitis
Neuritis
Vestibularis
Etiologi
Kanalitiasis,
kupulolitiasis
Hydrops endolymph
Riwayat
OMSK/ISPA
Riwayat
OMSK/ISPA
Tinitus (-) (+) (+) (-)
Vertigo
Tergantung
perubahan posisi
Periodik Akut Akut
Gangguan
Pendengaran
(-) SNHL SNHL (-)
MED+
QUIZ
THT
MED+
QUIZ – 1
Seorang perempuan, 40 tahun, datang ke praktek dokter dengan keluhan utama
telinga kanan terasa panas sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga merasa telinga
kanannya tampak membengkak. Riwayat telinga terbentur meja dijumpai sekitar
1 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan AD, tampak edema, hiperemis, disertai
fluktuasi.
Apakah diagnosis pasien tersebut?
a. Perikondritis
b. Abses preaurikula
c. Cauliflower ear
d. Othematoma
e. Selulitis
101
MED+
QUIZ – 1
Seorang perempuan, 40 tahun, datang ke praktek dokter dengan keluhan utama
telinga kanan terasa panas sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga merasa telinga
kanannya tampak membengkak. Riwayat telinga terbentur meja dijumpai sekitar
1 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan AD, tampak edema, hiperemis, disertai
fluktuasi.
Apakah diagnosis pasien tersebut?
a. Perikondritis
b. Abses preaurikula
c. Cauliflower ear
d. Othematoma
e. Selulitis
102
MED+
QUIZ – 2
Anak laki-laki, 10 tahun, datang ke ke puskesmas diantar ibunya dengan keluhan
pendengaran pada telinga kirinya terganggu sejak 2 hari yang lalu. Anak juga
merasa telinga terasa penuh. Anak menyangkal adanya riwayat demam, keluar
cairan dari telinga, maupun nyeri telinga. TTV dbn. Pada pemeriksaan otoskop
tampak adanya massa kecoklatan yang memenuhi CAE AS, membran timpani
tidak dapat dievaluasi.
Diagnosis?
A. OE sirkumskripta
B. OE difusa
C. Otomikosis
D. Serumen obsturans
E. Hematom aurikula
103
MED+
QUIZ – 2
Anak laki-laki, 10 tahun, datang ke ke puskesmas diantar ibunya dengan keluhan
pendengaran pada telinga kirinya terganggu sejak 2 hari yang lalu. Anak juga
merasa telinga terasa penuh. Anak menyangkal adanya riwayat demam, keluar
cairan dari telinga, maupun nyeri telinga. TTV dbn. Pada pemeriksaan otoskop
tampak adanya massa kecoklatan yang memenuhi CAE AS, membran timpani
tidak dapat dievaluasi.
Diagnosis?
A. OE sirkumskripta
B. OE difusa
C. Otomikosis
D. Serumen obsturans
E. Hematom aurikula
104
MED+
QUIZ – 3
Anak perempuan, 2 tahun, datang dibawa ibunya ke praktek dokter dengan
keluhan utama anak demam dan rewel sejak 2 hari yang lalu. Anak juga sedang
mengalami batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu.
TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 100 x/menit, RR 40 x/menit, suhu 38,5 C. Pada
pemeriksaan AD dijumpai CAE dalam batas normal, MT intak, tampak hiperemis
dan menonjol.
Apakah diagnosis pasien tersebut?
a. OMA perforasi
b. OMA supuratif
c. OMSK tipe aman
d. OMSK tipe bahaya
e. Otitis media efusi
105
MED+
QUIZ – 3
Anak perempuan, 2 tahun, datang dibawa ibunya ke praktek dokter dengan
keluhan utama anak demam dan rewel sejak 2 hari yang lalu. Anak juga sedang
mengalami batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu.
TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 100 x/menit, RR 40 x/menit, suhu 38,5 C. Pada
pemeriksaan AD dijumpai CAE dalam batas normal, MT intak, tampak hiperemis
dan menonjol.
Apakah diagnosis pasien tersebut?
a. OMA perforasi
b. OMA supuratif
c. OMSK tipe aman
d. OMSK tipe bahaya
e. Otitis media efusi
106
Laki-laki, 30 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan tidak dapat mendengar
setelah melakukan latihan menembak. Pasien merupakan seorang polisi, pasien
mengaku pada saat berlatih menembak tidak menggunakan alat pelindung diri.
Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan otoskopi ADS
dalam batas normal.
Diagnosis yang mungkin?
A. Trauma akustik akut
B. Idiopatik SNHL
C. Perforasi membran timpani
D. Timpanosklerosis
E. Noise-induced hearing loss
MED+
QUIZ – 4
Laki-laki, 30 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan tidak dapat mendengar
setelah melakukan latihan menembak. Pasien merupakan seorang polisi, pasien
mengaku pada saat berlatih menembak tidak menggunakan alat pelindung diri.
Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan otoskopi ADS
dalam batas normal.
Diagnosis yang mungkin?
A. Trauma akustik akut
B. Idiopatik SNHL
C. Perforasi membran timpani
D. Timpanosklerosis
E. Noise-induced hearing loss
MED+
QUIZ – 4
Perempuan, 44 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan pusing berputar. Hal ini
dialami hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai penurunan
pendengaran dan rasa penuh pada telinga. Pasien juga mendengar adanya
suara berdenging pada telinga. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas
normal. Pemeriksaan lokalisata ADS dalam batas normal.
Diagnosis yang mungkin?
a. Labirinitis
b. Otosklerosis
c. Meniere’s disease
d. BPPV
e. Tumor serebri
MED+
QUIZ – 5
Perempuan, 44 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan pusing berputar. Hal ini
dialami hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai penurunan
pendengaran dan rasa penuh pada telinga. Pasien juga mendengar adanya
suara berdenging pada telinga. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas
normal. Pemeriksaan lokalisata ADS dalam batas normal.
Diagnosis yang mungkin?
a. Labirinitis
b. Otosklerosis
c. Meniere’s disease
d. BPPV
e. Tumor serebri
MED+
QUIZ – 5
Kelainan pada
Hidung
THT
KELAINAN PADA HIDUNG
Rinitis Rhinosinusitis Epistaksis
Polip Nasi Benda Asing Hidung Deviasi Septum
112
Rinitis
Definisi
• Proses inflamasi yang terjadi di rongga hidung tanpa melibatkan struktur sinus
paranasal.
Manifestasi Klinis
• Rinore anterior atau posterior, bersin, hidung tersumbat, dan hidung gatal.
Klasifikasi
• Akut : < 4 minggu
• Kronis : > 12 minggu
113
4
A
3
A
Rinitis
114
Rinitis
Akut
Rinitis Virus
Rinitis Bakterial
Rinitis Akibat Zat Iritatif
Kronis
Rinitis Kronis Simpleks
Rinitis Hipertrofi
Rinitis Atrofi
Rinitis Sicca
4
A
3
A
Klasifikasi
Rinitis Virus
115
Definisi
• Infeksi pada hidung oleh karena virus (Disebut juga selesma, common cold, coryza)
Etiologi
• Adenovirus, Picornavirus dan subgrupnya seperti Rhinovirus, Coxsackie virus dan Enteric
cytopathic human orphan virus (ECHO virus), Virus influenza A, B, C
• Dapat disertai dengan infeksi sekunder bakteri 🡪 Streptococcus hemolyticus,
Pneumococcus, Haemophylus influenza, Klebsiella pneumoniae, dan Moraxella
catharralis.
• Rinitis pada penyakit eksantema seperti rubella (campak Jerman) dan varisela (cacar
air) juga termasuk dalam rinitis virus.
4
A
Rinitis Virus
116
4
A
Gejala Klinis
• Stadium prodromal : rasa panas di belakang hidung disusul dengan hidung tersumbat,
keluar ingus encer dan bersin-bersin. Dapat disertai dengan demam dan nyeri kepala.
• Kerusakan mukosa hidung oleh karena virus akan meningkatkan kolonisasi bakteri 🡪
mengubah konsistensi sekret dari jernih menjadi mukopurulen.
Pemeriksaan
• Pada pemeriksaan rinoskopi anterior,
tampak mukosa edema.
• Mukosa dapat berwarna pucat atau
merah muda.
• Sekret seromukus (encer)
Rinitis Virus
Tatalaksana
• Istirahat
• Minum banyak cairan
• Cuci hidung dengan larutan garam
• Simtomatis 🡪 antihistamin, dekongestan, analgetik/antipiretik
• Antibiotik 🡪 bila ada infeksi sekunder
117
4
A
Rinitis Bakterial
118
Definisi
• Infeksi pada hidung oleh karena bakteri, dapat terjadi secara primer maupun
sekunder.
Etiologi
• Rinitis bakterial primer sering terjadi pada anak-anak 🡪 golongan Pneumococcus,
Streptococcus, dan Staphylococcus.
• Rinitis bakterial sekunder biasanya terjadi pada kasus rinitis virus.
4
A
Rinitis Bakterial
119
Gejala Klinis
• Serupa dengan rinitis virus, yaitu adanya rinorea, hidung tersumbat, bersin-bersin dan
disertai gejala umum malaise dan demam.
Pemeriksaan
• Pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat mukosa edema dan hiperemis.
• Sekret hidung pada awalnya encer, tetapi menjadi kental dan berwarna kekuningan
(mukopurulen) setelah beberapa hari.
4
A
Rinitis Bakterial
Tatalaksana
• Umumnya sama dengan rinitis virus
• Istirahat
• Pada anak 🡪 istirahatkan dirumah agar tidak menularkan teman
• Cuci hidung dengan larutan garam
• Simtomatis 🡪 antipiretik, antihistamin, dekongestan (awal)
• Jika setelah 3 - 5 hari gejala memberat 🡪 berikan Antibiotik (amoksisilin, eritromisin)
120
4
A
Rinitis Kronis Simpleks
Definisi
• Rinitis akibat serangan berulang dari rinitis akut dengan adanya faktor predisposisi
• Rinitis kronis simpleks merupakan stadium awal dari rinitis hipertrofi.
Faktor Predisposisi
• Infeksi hidung persisten oleh karena adanya sinusitis, tonsilitis, atau hipertrofi adenoid
• Iritasi kornis dari debu, asap, polusi udara, merokok, zat kimia.
• Obstruksi hidung akibat deviasi septum
• Rinitis vasomotor
• Faktor endokrin dan hormonal
Gejala Klinis
• Hidung sumbat. Jika berbaring miring, rongga hidung sisi bawah yang tersumbat
• Sekret hidung (mukoid)
• Sakit kepala
• Post Nasal Drip
121
3
A
Rinitis Kronis Simpleks
Pemeriksaan
• Pada pemeriksaan rinoskopi anterior 🡪 konka bengkak dan berwarna kemerahan.
• Bila dilakukan pemasangan tampon dengan vasokonstriktor 🡪 konka inferior akan
mengempis
• Rinoskopi posterior 🡪 sekret mukoid
• Pemeriksaan tenggorok 🡪 penebalan dinding lateral faring
Tatalaksana
•• Cuci hidung dengan larutan garam 🡪 membersihkan sekret
•• Simtomatis 🡪 antihistamin, dekongestan
•• Antibiotik 🡪 mengatasi infeksi sekunder dan sinusitis
•• Mengatasi penyebabnya (kelainan sinus, tonsil, adenoid, alergi, merokok, lingkungan
dan tempat kerja)
122
3
A
Rinitis Hipertrofi
Definisi
• Rinitis hipertrofi ditandai dengan adanya penebalan mukosa, jaringan submukosa,
kelenjar-kelenjar seromusinosa, periosteum, dan tulang.
Etiologi
• Infeksi hidung berulang
• Sinusitis kronis
• Iritasi kronis pada mukosa hidung oleh karena merokok, iritan pabrik
• Penggunaan obat tetes hidung jangka lama
• Rinitis vasomotor dan alergi.
• Deviasi septum 🡪 rinitis hipertrofi pada satu sisi
Gejala
• Hidung tersumbat dengan sekret banyak dan mukopurulen
• Sakit kepala, anosmia/hiposmia, gangguan tidur
123
3
A
Rinitis Hipertrofi
Pemeriksaan
• Rinoskopi anterior
• Konka hipertrofi (konka inferior)
• Mukosa konka tebal, teraba keras, dan adanya permukaan yang berbenjol-benjol.
• Pada saat diberikan tampon dengan vasokonstriktor 🡪 tidak terjadi pengempisan oleh karena
adanya fibrosis.
Tatalaksana
• Mencari dan menangani penyebab terjadinya penyakit.
• Sumbatan hidung dapat dihilangkan dengan cara mengecilkan
konka, yaitu dengan cara:
• Kauterisasi linear
• Diatermi submukosa
• Cryosurgery
• Turbinektomi parsial atau total.
• Reseksi submukosa tulang konka.
• Operasi konka dengan sinar laser
124
3
A
Rinitis Atrofi (Ozaena)
Definisi
• Infeksi hidung kronis akibat gangguan klirens mukosilier yang ditandai dengan adanya atrofi pada
mukosa hidung dan tulang-tulang konka
Gejala Klinis
• Hidung berbau busuk
• Sekret kental berwarna hijau disertai krusta
• Gangguan penghidu, sakit kepala
• Hidung tersumbat meskipun rongga hidung menjadi lapang
Pemeriksaan
• Rinoskopi anterior
• Rongga hidung yang sangat lapang
• Konka inferior dan media terlihat pucat, mengkilat dan kering, tipis, serta hipotrofi/atrofi
• Krusta dapat berwarna hijau atau hitam keabu-abuan yang menutupi konka dan septum,
berdarah bila diangkat
125
3
A
Rinitis Atrofi (Ozaena)
Tatalaksana
• Irigasi hidung dan pembersihan krusta
• Glukosa 25% dalam gliserin
• Antibiotik 🡪 golongan kuinolon atau antibiotik yang sesuai dengan sensitivitas pada
kultur kuman / Suntikan streptomisin 1 gr/hari selama 10 hari
• Pembedahan 🡪 jika pengobatan medikamentosa tidak ada perbaikan,
• Operasi Young
126
3
A
Rinitis Sicca
Etiologi
• Rinitis pada pekerja di tempat berudara panas, kering, dan berdebu, misalnya: pabrik roti, pandai
besi, pandai emas, atau pekerja di pabrik semen.
• Kelainan terjadi pada sepertiga anterior hidung, terutama septum nasi.
Gejala Klinis
• Krusta di sepertiga anterior septum nasi, yang saat diangkat mudah berdarah dan dapat
menyebabkan perforasi septum.
Tatalaksana
• Perbaikan lingkungan kerja
• Cuci hidung dengan larutan garam
• Salep antibiotic dengan steroid pada mukosa septum yang terkena
• Hindari mengorek hidung / melepas krusta dengan paksa
127
3
A
Rinitis Alergi
Definisi
• Rinitis alergi adalah suatu reaksi imunologis (Hipersensitivias tipe I) pada mukosa
hidung yang diperantarai oleh IgE setelah terhirupnya alergen
• Memiliki gejala keluar cairan dari hidung, hidung tersumbat, hidung gatal, serta
bersin-bersin
Klasifikasi / Tipe
• Seasonal Allergic Rhinitis (SAR)/hayfever, polinosis/rinokonjungtivitis: gejalanya muncul
karena trigger yang musiman, biasanya pada negara 4 musim. Alergen: serbuk sari,
spora jamur
• Perennial Allergic Rhinitis (PAR): Gejala muncul hampir sepanjang tahun. Alergen yang
sering inhalan (indoor atau outdoor) dan allergen ingestan
128
4
A
Rinitis Alergi
129
4
A
Berdasarkan Derajat Serangan
Ringan Sedang – Berat
TIDAK ditemukan gangguan tidur, aktivitas harian,
pekerjaan, maupun gejala yang mengganggu.
Bila terdapat satu atau lebih gejala tersebut
Berdasarkan Frekuensi Serangan
Intermiten Persisten
<4 hari/minggu ATAU <4 minggu berturut-turut >4 hari/minggu DAN >4 minggu berturut-turut
Derajat Keparahan
Pemeriksaan Fisik
•• Rinoskopi anterior 🡪 mukosa edem, basah, livid,
sekret encer yang banyak
•• Allergic Shinner: stasis vena oleh karena obstruksi
hidung
•• Allergic sallute: gerakan sering gosok hidung
•• Allergic crease: garis melintang dorsum nasi 1/3
bawah
•• Facies adenoid: karena mulut sering terbuka
•• Cobblestone appearance: dinding post faring
granuler dan edema
•• Geographic tongue
Rinitis Alergi
130
Allergic Shinner
Allergic Salute
Allergic Crease
4
A
Rinitis Alergi
Pemeriksaan Penunjang
•• Skin Prick Test
•• Tes IgE spesifik 🡪 (radioallergosorbent tests [RASTs])
•• Tes Eosinofil darah
131
TES IgE SPESIFIK
SKIN PRICK TEST
4
A
Tatalaksana Rinitis Alergi
132
Golongan Contoh Obat
H1-antagonis generasi 2
• Cetirizine 10 mg 1x1
• Loratadine 10 mg 1x1
Dekongestan
• Nasal: Phenylephrine 0.5% 4x2
tetes/hari (max 3-4 hari)
• Sistemik: pseudoephedrine 60 mg
2x1
Steroid
• Fluticasone spray
• Mometasone spray
Leukotriene inhibitor • Zafirlukast
Rinitis Alergi
Intermitten
Ringan
Anti-Histamin
Sedang - Berat
Anti histamin +
Dekongestan Intranasal
Persisten
Ringan
Anti histamin +
Dekongestan Intranasal
Sedang - Berat
Kortikosteroid Intranasal
Rinitis Vasomotor
Definisi
•Keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, gangguan hormonal ataupun riwayat pajanan
obat
Etiologi
•Idiopatik. Sering dipicu oleh rangsangan yang tidak spesifik seperti ASAP, DEBU, STESS/PIKIRAN, KELELAHAN
Diagnosis
•Anamnesis: HIDUNG TERSUMBAT BERGANTIAN (KANAN DAN KIRI GONTA GANTI) tergantung posisi pasien
•Rinoskopi anterior: edema mukosa hidung, konka gelap atau merah tua dengan permukaan licin; konka hipertrofi
disertai secret
•Pemeriksaan penunjang: eosinophilia ringan/normal, tes alergi (-)
Tatalaksana
•Menghindari stimulus/rangsangan
•Simptomatis: dekongestan oral, steroid topical, antikolinergik topical
•Operasi (elektrokauter, bedah-beku)
•Neurektomi nervus vidianus
133
4
A
Diagnosa Banding
134
Rinitis Alergi Rinitis Vasomotor
Mulai serangan Belasan tahun Dekade ke 3-4
Riwayat terpapar allergen (+) Riwayat terpapar allergen (-)
Etiologi Reaksi Ag-Ab terhadap rangsangan spesifik
Reaksi neurovaskuler terhadap beberapa
rangsangan mekanis atau kimia, juga faktor
psikologis
Gatal & Bersin Menonjol Tidak menonjol
Gatal dimata Sering dijumpai Tidak dijumpai
Test kulit Positif Negatif
Sekret hidung Peningkatan eosinofil Eosinofil tidak meningkat
Eosinofil darah Meningkat Normal
Ig E darah Meningkat Tidak meningkat
Neurektomi
N.Vidianus
Tidak memebantu Membantu
Rinitis Medikamentosa
135
Definisi
• Rinitis medikamentosa atau rebound congestion terjadi akibat inflamasi dari pada
mukosa nasal yang disebabkan oleh penggunaan dekongestan nasal yang
berlebihan.
Mekanisme
• Penggunaan dekongestan nasal yang mengandung efedrin memiliki efek yang
simpatis sehingga menimbulkan vasokontriksi melalui aktivasi adrenoreseptor alfa-1.
Tata laksana
• Penghentian dekongestan nasal
• Kortikosteroid intranasal
• Antihistamin oral
4
A
Rinosinusitis
Definisi Etiologi
• Rinosinusitis adalah peradangan pada mukosa hidung (rinitis) dan mukosa sinus paranasal
(sinusitis) yang terjadi secara bersamaan
• Penyebab paling sering 🡪 infeksi virus.
136
Klasifikasi Durasi
Akut < 12 minggu
Kronis > 12 minggu
3
A
2
Rinosinusitis Akut
Kriteria Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis 🡪 < 12 minggu
Ditegakkan apabila terdapat dua atau lebih gejala berikut:
• Kongesti hidung ATAU terdapat sekret pada hidung (Post Nasal Drip)
• +/- nyeri pada wajah
• +/- hiposmia atau anosmia
• Pada anak 🡪 kongesti hidung ATAU sekret berubah warna ATAU batuk
137
2
Rinosinusitis Kronis
Kriteria Diagnosis
Ditegakkan apabila terdapat minimal SATU dari gejala berikut:
• Kongesti hidung
• Sekret pada hidung
Dan ditemukan minumal SATU dari pemeriksaan endoskopi:
• Polip nasal
• Cairan mukopurulen dari meatus media
• Edema/obstruksi mukosa terutama pada meatus media
DAN/ATAU ditemukan dalam CT scan:
• Perubahan mukosa dalam kompleks osteomeatal dan/atau sinus
138
3
A
Rinosinusitis
Pemeriksaan penunjang
•• FOTO POLOS: Posisi waters, Caldwell, lateral (dapat menilai sinus-sinus besar) seperti sinus
maksila dan frontal
• Kelainan yang tampak: perselubungan, air fluid level, penebalan mukosa
•• CT SCAN: 🡪 GOLD STANDARD
• CT Scan Paranasal / potongan coronal
139
WATER’S RONTGEN CALDWELL’S RONTGEN CT SCAN SINUS PARANASAL
3
A
2
Rinosinusitis
Tatalaksana
Farmakologi
• Cuci hidung dengan cairan salin
• Glukokortikoid intranasal
• Antibiotik
• Simptomatis 🡪 dekongestan, antihistamin, mukolitik
Pembedahan
• Operasi FESS (Functional Endoscopy Sinus Surgery)
•• Untuk sinusitis kronik yang TIDAK MEMBAIK
•• Terdapat kista (+)
•• Kelainan ireversibel
•• Polip yang banyak
•• Komplikasi (kelainan orbita, intracranial, infeksi tulang, infeksi jamur
140
3
A
2
Rinosinusitis
141
Epistaksis
EPISTAKSIS ANTERIOR EPISTAKSIS POSTERIOR
Sumber
Perdarahan
Plexus Kiesselbach /
A. Etmoidalis anterior
A. Sfenopalatina /
A. Etmoidalis posterior
Etiologi Trauma Penyakit sistemik
Gejala Klinis
Perdarahan cepat berhenti
dan dapat berhenti sendiri.
Dapat dikendalikan dengan
tindakan sederhana
Perdarahan lama dan sulit berhenti
spontan
Dapat menetes ke orofaring
Tata
Laksana
• Lakukan Trotter’s method 🡪
penekanan pada hidung
selama 10-15 menit
• Apabila tidak berhenti 🡪
Tampon Anterior (dengan
atau tanpa epinefrin)
selama 48 jam
• Apabila sumber
perdarahan terlihat jelas 🡪
Kauter dengan AgNO3
15-25%
• Pemasangan Tampon Bellocq
(tampon posterior) selama 48-72
jam
• KI 🡪 trauma fasial 🡪 alternatif:
kateter folley dengan balon
142
4
A
Epistaksis
143
HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM
MEMASANG TAMPON:
• Tampon tidak boleh mengenai kolumela,
mudah trauma
• Ujung tampon tidak boleh ada yang keluar
ke orofaring
• Pasang kasa + plester di anterior
• Pemasangan tampon hidung bilateral, diberi
O2 yang dihumidifikasi dan diobservasi
• Beri antibiotik profilaksis selama pemasangan
tampon
Tampon Anterior
Tampon Posterior
4
A
Polip Nasi
• Massa lunak dan berwarna putih /
keabu-abuan yang terdapat pada
rongga hidung, bertangkai dengan
permukaan licin
• Timbul di usia dewasa usia >20 tahun
dan lebih sering usia >40 tahun.
• Laki – laki : Perempuan = 2 - 3 : 1
• Berasal dari kompleks ostiomeatal di
meatus media dan sinus ethmoid
144
Predisposisi:
• Rinitis alergi
• Sinusitis kronik
• Iritasi
• Kelainan anatomi hidung: deviasi
septum, hipertrofi konka
Gejala:
• Hidung terasa tersumbat; progresif
• Gangguan penciuman
• Nyeri kepala
2
Polip Nasi
Mackay and Lund
• Stadium 1 🡪 polip masih terbatas di
meatus medius
• Stadium 2 🡪 polip sudah keluar dari
meatus medius, tampak di rongga
hidung, tetapi belum memenuhi
rongga hidung
• Stadium 3 🡪 polip masif
145
Meltzer et. al.
• Stadium 0 🡪 Tidak tampak polip nasal
• Stadium 1 🡪 Tampak polip kecil di meatus
media
• Stadium 2 🡪 Polip multiple di meatus media
• Stadium 3 🡪 Polip memenuhi meatus media
• Stadium 4 🡪 Polip mengobstuksi seluruh
kavitas nasal
2
Stadium
Polip Nasi
Tata Laksana
Medikamentosa
• Kortikosteroid INTRANASAL 🡪 FIRST LINE TREATMENT
• Fluticasone 2 x 200 mcg, Budesonide 2 x 200 mcg, Mometasone 1 x 280 mcg
• Antileukotriene
• Antihistamine
• Cuci hidung setiap harinya secara teratur dengan cairan fisiologis
Operatif
• Indikasi: untuk anak dengan multipel polip, benign polip nasi atau rinosinusitis kronik
yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa
• Polipektomi
• ESS (Endoscopic Sinus Surgery) 🡪 melebarkan celah di meatus media 🡪 rekuransi
berkurang
146
2
Benda Asing Hidung
Tanda dan gejala
• Biasanya dialami oleh anak anak
• Sumbatan pada hidung 🡪 unilateral
• Sekret mukus/mukopurulen berbau busuk
• Penurunan fungsi penciuman
Etiologi
• Organik 🡪 lintah, larva lalat
• Anorganik 🡪 manik-manik, baterai, kertas, batu kerikil
147
4
A
Benda Asing Hidung
Tata Laksana
•Lintah 🡪 matikan terlebih dahulu dengan larutan tembakau
•Graspable 🡪 alligator forcep
•Non-graspable 🡪 hook/suction
Komplikasi
•Epistaksis
•Sinusitis
•Perforasi septum
148
4
A
Deviasi Septum
Definisi
• Septum nasi merupakan dinding vertikal di dalam hidung yang tersusun oleh tulang rawan di
bagian depan dan tulang di belakang. Septum nasi membagi bagian dalam hidung menjadi dua.
• Deviasi septum nasi merupakan bentuk septum yang letaknya tidak lurus di tengah
Etiologi
• Abnormalitas perkembangan
• Trauma
• Massa
Manifestasi Klinis
•Deformitas 🡪 cavum nasi lebih besar pada salah satu sisi
•Hidung tersumbat menahun
•Infeksi sinus berulang
149
2
Deviasi Septum
Klasifikasi
150
2
Deviasi Septum
Tata Laksana
• Septoplasti
• Indikasi septoplasti secara klinis:
• sumbatan hidung bilateral maupun unilateral,
• epistaksis yang persisten maupun rekuren,
• nyeri kepala akibat contact point dengan deviasi septum
151
2
Hematoma Septum
Definisi Etiologi
• Kumpulan darah di dalam septum hidung. Septum adalah bagian hidung di antara lubang
hidung.
• Etiologi:
• Fraktur hidung
• Operasi atau cedera pada area jaringan lunak
Manifestasi Klinis
• Hidung tersumbat, nyeri
• Pembengkakan septum hidung unilateral /
bilateral
• Deviasi hidung
• Demam
lebih sering terjadi pada anak-anak 🡪 septum lebih tebal dan lapisannya lebih
lentur
Hematoma Septum
Tatalaksana
• Insisi drainase 🡪 mencegah nekrosis tulang rawan
• Antibiotik IV 🡪 mencegah infeksi sekunder
Komplikasi
• Nekrosis tulang rawan
• Abses septum
• Saddle nose 🡪 (Tatalaksana : operatif)
MED+
QUIZ
THT
MED+
QUIZ – 6
Laki-laki, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri pada pipi kanannya. Hal
ini dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri terutama dirasakan saat pasien
menyentuh wajahnya saat mencuci muka. Pasien juga merasakan hidung yang
sering tersumbat dengan ingus berwarna hijau kental berbau tidak sedap. TTV
dbn. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan pada region maxillaris kanan
dan pada pemeriksaan rinoskopi posterior dijumpai post-nasal drip.
Pemeriksaan yang sesuai?
a. CT Scan kepala
b. X-ray Waters
c. X-ray Towne
d. MRI kepala
e. Endoskopi nasal
155
MED+
QUIZ – 6
Laki-laki, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri pada pipi kanannya. Hal
ini dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri terutama dirasakan saat pasien
menyentuh wajahnya saat mencuci muka. Pasien juga merasakan hidung yang
sering tersumbat dengan ingus berwarna hijau kental berbau tidak sedap. TTV
dbn. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan pada region maxillaris kanan
dan pada pemeriksaan rinoskopi posterior dijumpai post-nasal drip.
Pemeriksaan yang sesuai?
a. CT Scan kepala
b. X-ray Waters
c. X-ray Towne
d. MRI kepala
e. Endoskopi nasal
156
MED+
QUIZ – 7
Laki-laki, 22 tahun, datang ke RS dengan keluhan utama berupa hidung sering
tersumbat. Hal ini telah dialami sejak ia pindah ke kota B untuk bekerja 6 bulan
yang lalu. Pasien juga sering mengalami bersin dan pilek. Keluhan pasien
dirasakan semakin memberat saat pasien naik ojek online. Riwayat kakak
kandung pasien memiliki asma. Pada pemeriksaan rinoskopi dijumpai konka
edema dan berwarna lividae.
Diagnosis yang mungkin?
A. Rhinitis vasomotor
B. Rhinitis alergi
C. Rhinitis medikamentosa
D. Rhinitis akut
E. Rhinitis kronik
157
MED+
QUIZ – 7
Laki-laki, 22 tahun, datang ke RS dengan keluhan utama berupa hidung sering
tersumbat. Hal ini telah dialami sejak ia pindah ke kota B untuk bekerja 6 bulan
yang lalu. Pasien juga sering mengalami bersin dan pilek. Keluhan pasien
dirasakan semakin memberat saat pasien naik ojek online. Riwayat kakak
kandung pasien memiliki asma. Pada pemeriksaan rinoskopi dijumpai konka
edema dan berwarna lividae.
Diagnosis yang mungkin?
A. Rhinitis vasomotor
B. Rhinitis alergi
C. Rhinitis medikamentosa
D. Rhinitis akut
E. Rhinitis kronik
158
Laki-laki, 50 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan hidung berdarah sejak 1
jam yang lalu. Perdarahan tidak berhenti walaupun pasien telah memencet
hidungnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital dijumpai TD 190/120 mmHg, N 90
x/menit, RR 18 x/menit, suhu 37,2 C. Pemeriksaan fisik dijumpai perdarahan aktif
dari hidung dan juga mulut. Post-nasal bleeding (+). Sumber perdarahan tidak
dapat divisualisasi
Tata laksana?
a. Ligasi dengan AgNO3
b. Tampon anterior
c. Tampon bellocq
d. Tampon anterior dan bellocq
e. Memencet hidung dengan posisi kepala menunduk
MED+
QUIZ – 8
Laki-laki, 50 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan hidung berdarah sejak 1
jam yang lalu. Perdarahan tidak berhenti walaupun pasien telah memencet
hidungnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital dijumpai TD 190/120 mmHg, N 90
x/menit, RR 18 x/menit, suhu 37,2 C. Pemeriksaan fisik dijumpai perdarahan aktif
dari hidung dan juga mulut. Post-nasal bleeding (+). Sumber perdarahan tidak
dapat divisualisasi
Tata laksana?
a. Ligasi dengan AgNO3
b. Tampon anterior
c. Tampon bellocq
d. Tampon anterior dan bellocq
e. Memencet hidung dengan posisi kepala menunduk
MED+
QUIZ – 8
Kelainan pada
Tenggokan
THT
161
KELAINAN PADA TENGGOROKAN
Tonsilitis Faringitis Laringitis Tumor Jinak Laring
Obstructive Sleep
Apnea
Hipertrofi Adenoid
Tertelan benda
asing
162
Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatina
yang merupakan bagian dari Cincin Waldeyer
CINCIN WALDEYER
• Tonsil Pharyngeal (Adenoid)
• Tonsil Palatina (Faucial)
• Tonsil Lingual (Tonsil pangkal Lidah)
• Tonsil Tuba Eustachius (Lateral Band dinding
faring/Gerlach’s Tonsil)
163
• Dapat terjadi pada semua umur,
terutama anak-anak
• Hingga usia 6 tahun, tonsil
HIPERPLASTIK 🡪 akan mengecil
seiring usia
4
A
Tonsilitis Akut
Patogenesis
• Infiltrasi bakteri pada epitel jaringan tonsil menimbulkan
radang berupa keluarnya leukosit. Terbentuk detritus, yang
terdiri dari
• Kumpulan leukosit
• Bakteri yang mati
• Epitel yang lepas
Ada 2 Bentuk Berdasarkan Detritus
• Tonsilitis folikularis: bercak detritus jelas seperti folikel
• Tonsilitis lakunaris: bercak detritus menjadi satu berbentuk
alur-alur
164
TONSILITIS FOLIKULARIS
TONSILITIS LAKUNARIS
4
A
Tonsilitis Akut
Gejala Klinis
• Nyeri menelan (odinofagia)
• Demam tinggi
• Lesu, nyeri sendi
• Anoreksia
• Otalgia (reffered pain) melalui Nervus Glossofaring
Pemeriksaan Fisik
• Tonsil membengkak, hiperemis, detritus berbentuk
folikular dan lakuna
• Pembesaran kelenjar limfe submandibula dan nyeri
tekan
165
4
A
Tonsilitis Kronis
Patogenesis
•Proses radang berulang yang terjadi 🡪 epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis 🡪
proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang akan
mengalami pengerutan 🡪 KRIPTA MELEBAR.
•Kripta secara klinis DIISI OLEH DETRITUS
Gejala Klinis
•Rasa ada mengganjal di tenggorok
•Napas berbau
•Demam (-) / Nyeri (-)
Tanda Klinis
•Tonsil bisa membesar, permukaan yang tidak rata
•Kripta melebar 🡪 KRIPTA BERISI DETRITUS
•Plika anterior hiperemis
•Sikatriks / perlengketan
•Pembesaran Kel. Submandibula
166
4
A
Tonsilitis Kronis
Terapi
• Terapi Lokal : Higiene mulut 🡪 Obat kumur
• TONSILEKTOMI JIKA SUDAH ADA INDIKASI
Komplikasi
• Komplikasi ke daerah sekitar tonsil
• Rhinitis kronik
• Sinusitis
• Otitis media
• Komplikasi jauh secara hematogen atau
limfogen.
• Endokarditis, arthritis, nefritis dll
167
INDIKASI RELATIF
• Infeksi tonsil 3 atau lebih per tahun walaupun
terapi adekuat
• Halitosis persisten
• Tonsilitis kronik atau rekuren pada karier
Streptcoccus yang tidak respon dengan
antibiotik resisten beta laktamase
• Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai
neoplasma
INDIKASI ABSOLUT
• Sumbatan jalan napas, disfagia berat,
gangguan tidur atau komplikasi
kardiopulmoner
• Abses peritonsil yang tidak respon dengan
pengobatan
• Tonsilitis yang disertai dengan kejang demam
• Biopsi
4
A
Modified Centor Score
168
• Alat diagnostik berupa sistem penilaian klinis
untuk memprediksi faringitis SBHGA.
• Skor >1 🡪 Kemungkinan disebabkan oleh SBHA
🡪 Penggunaan antibiotik
Tonsilitis
169
Akut Kronis
Gejala Klinis
Demam
Odinofagia
Nyeri tenggorok
Disfagia
Halitosis
Pemeriksaan Fisik Detritus + Tonsil membesar hiperemis
Kripta melebar
Pembesaran tonsil, (-) hiperemis
Tatalaksana
1. Oral hygine 🡪 obat kumur
2. Antibiotik 🡪 centor score
• Benzatin Penicillin G IM (600.000
u/BB≤27kg; 1,2 juta u/BB>27kg)
• Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3
kali sehari selama 10 hari (anak) atau
pada dewasa 3 x 500 mg selama 10
har
• Eritromisin 4 x 500 mg selama 10 hari
• Tonsilektomi 🡪 sesuai indikasi
Tonsilitis Difteri
Definisi
• Peradangan pada tonsil oleh Corynebacterium diphteriae
Etiologi
• Corynebacterium diphteriae, dengan karakteristik:
• Gram positif, berbentuk batang (drum stick), non motil
• Menghasilkan ektotoksin
Manifestasi Klinis
• Demam
• Pembengkakan tonsil
• Terdapat pseudomembran yang apabila diangkat mudah berdarah
• Bullneck
• Eksotoksin 🡪 miokarditis, kelumpuhan otot pernapasan
170
3
B
Tonsilitis Difteri
Pemeriksaan Penunjang
• Kultur dengan media blood tellurite 🡪 Gold standard
• Pemeriksaan gram
• EKG 🡪 menilai komplikasi pada jantung
Tatalaksana
• Isolasi
• Amankan jalan napas
• Antibiotik
•• Penicilin Prokain 25.000 – 50.000 IU/KgBB/hari selama
14 hari
•• Eritromisin 40 mg/KgBB/hari selama 14 hari
• Anti Difteri Serum (ADS)
171
Tipe Dosis
Kulit dan Hidung 20.000 IU
Tonsil, faring, laring 40.000 IU
Nasofaring 60.000 IU
Kombinasi diatas,
tanpa melibatkan
hidung/ nasal
80.000 IU
(+) penyulit/disertai
bullneck
80.000-100.000 IU
Terlambat berobat
(>72 jam)
80.000-100.000 IU
3
B
Faringitis Akut
Definisi
•• Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat
disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi,
trauma, toksin, dan lain-lain.
•• Frekuensi munculnya faringitis lebih sering pada populasi
anak-anak.
Etiologi
•• Sering bersama-sama dengan tonsilitis akut
•• Penularan secara DROPLET INFECTION
•• Etiologi : Streptococcus β hemoliticus, Streptococcus viridans,
Streptococcus pyogenes, Virus Influenza , Adenovirus
•• *infeksi Streptococcus B hemolitikus sering dikaitkan dengan
Penyakit Jantung Rematik
172
4
A
Faringitis Akut
Gejala Klinis
• Nyeri tenggorok / sakit menelan
• Demam
• Tanda klinik : faring hiperemis, oedem
Pemeriksaan
• Swab tenggorok
• Pewarnaan GraM
• Kultur 🡪 GOLD STANDARD
Tatalaksana
• Antibiotik
• Analgetik
• Istirahat
• Oral hygiene
173
TATALAKSANA FARINGITIS AKIBAT INFEKSI STREPTOCOCCUS GRUP A
Oral Penisilin 3 x 500 mg (10 hari)
Amoksisilin 2 x 500 mg (10 hari)
Inj Benzathin G Penicillin 1,2 juta IU
Jika resisten atau hipersensitifitas beta laktam
Azitromisin 1 x 500 mg; dilanjutkan 1 x 250 mg (5 hari)
4
A
Faringitis
174
Viral Bakterial Jamur
Etiologi Rhinovirus, Influenza virus,
Coxsackie, Adenovirus
Streptococcus pyogens Candida albicans
Gejala Klinis • Tenggorokan gatal dan
nyeri
• Disfagia
• Demam
• Tenggorokan nyeri
• Disfagia
• Demam suhu tinggi
• Tenggorokan nyeri
• Odinofagia
Pemeriksaan Fisik • Mukosa hidung dan faring
tidak hiperemis
• Sekret jernih
• Faring hiperemis dengan
eksudat di permukannya
• Dapat disertai
pembengkakan dan nyeri
KGB
Tampak bercak putih dan
luka kecil pada mukosa mulut
dan orofaring
Tatalaksana • Istirahat, banyak minum air
putih, makanan lunak
• Simptomatis 🡪
antipiretik/analgetik
• Amoksisilin 50 mg/kgBB
dosis dibagi 3 x/hari selama
10 hari dan pada dewasa
3x500 mg selama 6-10 hari
• Eritromisin 4x500 mg/hari
• Kumur antiseptik
• Tetes nystatin
100.000-400.000 IU,
2-3x/hari
Faringitis Kronis
ADA 4 BENTUK :
• Faringitis kronis Atrofi
• Faringitis kronis Hiperplastik
• Faringitis kronis luetika
• Faringitis kronis TB
FAKTOR PREDISPOSISI :
• Infeksi dari hidung
• Merokok
• Pasien bernafas melalui mulut
GEJALA UMUM:
• Rasa kering, rasa mengganjal di tenggorokan
• Batuk persisten
• Nyeri menelan
175
4
A
Faringitis Kronis Atrofi
Etiologi
• Sering bersamaan dengan rinitis atrofi
• Rinitis atropi menyebabkan udara yang masuk berkurang kelembabannya 🡪
merangsang dinding faring
Gejala Klinis
• Tenggorokan kering
• Mulut bau (Halitosis)
• Mukosa faring ditutup lendir yang kental 🡪 kalau diangkat tampak mukosa kering
Tatalaksana
• Obati penyebab 🡪 rinitis atrofi
• Obat kumur-kumur
• Menjaga kebersihan mulut
176
4
A
Faringitis Kronis Hiperplastik
Gejala Klinis
• Rasa gatal dan kering di tenggorok
• Batuk-batuk
Tanda Klinis
• Mukosa dinding posterior tidak rata / bergranulasi
• Lateral bawah hiperplasia 🡪 pasien post TE
Pengobatan
• Obat kumur
• Kaustik AgNO3
177
4
A
Faringitis Kronis Luetika
Etiologi
• Treponema pallidum
Ada 3 Stadium
• Stadium Primer : bercak keputihan pada lidah-palatum mole, tonsil, dinding posterior
faring
• Stadium Sekunder : jarang ditemukan
• Stadium Tertier : terdapat guma jarang pada dinding posterior faring. Kalau dijumpai
dan meluas ke vertebra 🡪 kalau pecah 🡪 meninggal
Diagnosis
• Pemeriksaan Serologi
Tatalaksana
• Tatalaksana kausatif
178
4
A
Faringitis Kronis Tuberkulosa
Etiologi
• Sekunder dari TBC di paru
• Infeksi terjadi secara Eksogen : kontak sputum dan Endogen: melalui darah
Gejala Klinis
• Nyeri menelan / odinofagia ~ nyeri yang hebat
• Anoreksia
• Ulkus, pembesaran kelenjar limfe
Diagnosis
• Biopsi
• Foto thorax
• Sputum
Pengobatan
• Anti tuberkulosa
179
4
A
Faringitis
180
Kronis Hipertropik Kronis Atrofi Luetika Tuberkulosa
Gejala Klinis
• Rasa gatal dan
kering di
tenggorok
• Batuk-batuk
• Tenggorokan
kering
• Mulut bau
(Halitosis)
• Tergantung stadium
penyakit
• Nyeri menelan /
odinofagia 🡪 nyeri
yang hebat
• Anoreksia
• Pembesaran
kelenjar limfe
Pemeriksaan
Fisik
Mukosa dinding
posterior tidak rata
dan bergranular
(cobble stone)
Mukosa dinding faring
licin, mengkilat,
permukaan ditutupi
lendir kental
• Stadium Primer: bercak
keputihan pada
lidah-palatum mole,
tonsil, dinding posterior
faring
• Stadium Sekunder: jarang
ditemukan
• Stadium Tertier: terdapat
guma jarang pada
dinding posterior faring.
Granuloma
perkejuan pada
mukosa faring dan
laring
Tatalaksana
Obat kumur
Kaustik AgNO3
Obat kumur
Pengobatan rinitis
atrofi
Pengobatan Sifilis Pengobatan TB
Laringitis
Definisi
• Inflamasi pada laring
• Inflamasi🡪 edema pada pita suara 🡪 suara serak (disfonia) dan suara hilang (afonia)
Klasifikasi
• Laringitis akut: < 7 hari
• Laringitis subakut: 7 hari – 3 minggu
• Laringitis kronis: gejala menetap > 3 minggu
Etiologi
• Infeksi virus 🡪 penyebab tersering. Rhinovirus, parainfluenza, RSV, adenovirus
• Infeksi bakteri 🡪 Moraxella catarrhalis, H. influenza, S. pneumoniae, S. aureus
• Infeksi jamur 🡪 Candida albicans, Blastomyces dermatitis, Cryptococcus neoformans
181
4
A
Laringitis
Gejala Klinis
• Demam
• Gejala ISPA
• Nyeri menelan (odinofagia)
• Kesulitan menelan (disfagia)
• Suara serak (disfonia)/suara hilang (afonia)
• Pada keadaan kronis:
•• Rasa mengganjal di tenggorokan
•• Rasa ingin berdehem lebih sering
Pemeriksaan Penunjang
• Foto thorax 🡪 gambaran steeple sign
• Laringoskopi 🡪 laring eritema dan edema
182
Steeple sign
4
A
Laringitis
Tata Laksana
Farmakologis
• Simptomatik 🡪 Analgetik, mukolitik
Non-farmakologis
• Mengistirahatkan pita suara selama 3 - 7 hari
• Banyak minum
• Hindari rokok dan kafein
183
4
A
Tumor Jinak Laring
Nodul Pita Suara Polip Pita Suara Granuloma
Etiologi Penggunaan suara yang
berlebihan dalam jangka
lama
• Alergi, rokok
• Penggunaan pita suara
yang berlebihan secara
tiba tiba
• Cara bersuara tidak benar
🡪 vokalis aritenoid saling
beradu 🡪 ulserasi /
pembentukan granuloma
• Reflux asam lambung
Gejala Klinis Suara serak, nyeri leher saat
berbicara banyak
Suara serak, bila polip besar 🡪
dipsnea, stridor, tersedak,
diplofonia
Suara serak, sering berdehem,
nyeri tenggorokan saat
berbicara
Pemeriksaan Fisik Pembengkakan lunak
bilateral, berwarna kemerahan
🡪 mengeras, berwarna abu
abu
Massa lunak unilateral dengan
permukaan rata, sering
bertangkai, massa bisa naik
turun di glotis saat bicara
Ulkus bilateral/unilateral pada
prosesus vokalis aritenoid +
pembengkakan mukosa
aritenoid
Tatalaksana • Mengurangi bicara
• Operasi mikrolaringoskopi
• Operasi mikrolaringoskopi
• Terapi wicara
• Medikamentosa anti reflux
• Steroid inhalasi/intralesi
• Terapi wicara
184
2
Nodul Pita Suara
Definisi
• Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan suara
dalam waktu lama, misal pada seorang guru, penyanyi dan
sebagainya.
Manifestasi Klinis
• Suara serak, nyeri saat banyak berbicara
Pemeriksaan Fisik
• Nodul pita suara, sebesar kacang hijau berwarna keputihan.
Predileksi di sepertiga anterior pita suara dan sepertiga
medial. Nodul biasanya bilateral.
Tatalaksana
• Istirahat bicara dan voice therapy
• Kronis 🡪 bedah mikrolaring
185
2
Obstructive Sleep Apnea
Definisi
• Gangguan pernapasan tidur yang ditandai dengan adanya obstruksi saluran
napas baik secara parsial maupun komplit
Faktor Risiko
• Obesitas, ukuran lingkar leher, umur, jenis kelamin, hormon dan kelainan
anatomi saluran nafas
Gejala Klinis
• Mengorok kuat, suara seperti tersedak saat tidur, tampak seperti apnea
Pemeriksaan Penunjang
• Polisomnografi
Tatalaksana
• Menurunkan berat badan
• Continuous positive airway pressure (CPAP) machine
186
1
Hipertrofi Adenoid
Definisi
•Hipertrofi adenoid merupakan kondisi obstruktif akibat pembesaran kelenjar
tonsil faringeal (adenoid).
Etiopatofisiologi
•Infeksi 🡪 adenovirus, coronavirus, coxsackievirus, cytomegalovirus (CMV),
Epstein-Barr virus (EBV), herpes simplex virus, parainfluenza virus, rhinovirus
•Non-infeksi 🡪 gastroesophageal reflux (GERD), alergi, dan paparan asap rokok
Manifestasi Klinis
•Rinore
•Kesulitan bernapas melalui hidung
•Mendengkur
•Gangguan pernapasan saat tidur pada anak.
•(+) Obstruksi hidung signifikan 🡪 gejala rhinosinusitis
•Obstruksi tuba eustachius 🡪 gangguan pendengaran
•Fasies adenoid
2
Hipertrofi Adenoid
Manifestasi Klinis
• Fasies adenoid
2
Hipertrofi Adenoid
Derajat
Tata Laksana
Derajat Berdasarkan struktur anatomis Berdasarkan obstruksi koana
I Tidak menyentuh struktur anatomis 1/3 koana vertical
II Menyentuh torus tubarius 1/3 hingga 2/3 koana
III Menyentuh torus tubarius, vomer 2/3 hingga hampir seluruh koana
IV Menyentuh torus tubarius, vomer,
palatum mole
Obstruksi seluruh koana
TATALAKSANA FARMAKOLOGIS
Antiinflamasi topikal • Steroid topikal
Antimikroba • Berdasarkan agen penyebab
TATALAKSANA NON FARMAKOLOGIS
Pembedahan • Adenoidektomi
2
Tertelan Benda Asing
Tanda dan gejala
• Nyeri tenggorokan
• Odinofagia
• Disfagia
• Sensasi benda asing
• Hipersalivasi
Etiologi
• Duri ikan
• Tulang ayam
• Manik-manik
• Baterai
• Perubahan patologis dari saluran gastrointestinal
190
3
B
Tertelan Benda Asing
Diagnosis
• Inspeksi rongga mulut dengan bantuan spatula lidah dan laringoskopi indirek
• Laringoskopi direk
• Endoskopi
• Foto polos leher AP dan lateral
191
3
B
Tertelan Benda Asing
Tatalaksana
• ABCDE
• Lokalisasi benda asing menggunakan
bantuan spatula lidah dan laringoskop
indirek
• Jika tervisualisasi 🡪 ekstraksi dengan forsep
• Jika tidak 🡪 rujuk pasien untuk dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa
laringoskopi direk atau endoskopi
192
3
B
INTINYA
PERHATIKAN LOKASI ABSES DI SOAL UKMPPD
Abses Leher Dalam
193
Abses Peritonsil (Quinsy)
Abses
Retrofaring
Abses
Parafaring
Abses Submandibula Angina Ludwig
Etiologi Komplikasi tonsilitis
ISPA, limfadenitis
retrofaring
Penjalaran infeksi Penjalaran infeksi
Selulitis ec. Penjalaran
infeksi (terutama infeksi
gigi)
Gejala dan Tanda
Odinofagia, regurgitasi,
foetor ex ore, hot potato
voice hipersalivasi,
trismus
Demam, nyeri
tenggorokan,
odinofagi, nyeri leher,
sesak napas,
mengences
Trismus
Bengkak angulus
mandibula Pergeseran
dinding faring ke arah
medial
Trismus, pembengkakan
bawah
mandibula/bawah
lidah unilateral, fluktuasi
(+)
Nyeri, dasar mulut
membengkak
mendorong lidah ke
belakang
Pemeriksaan
Fisik
Palatum mole edema,
uvula terdorong, detritus
(+)
Dinding belakang faring
ada benjolan yang
bersifat unilateral
Rontgen Rontgen
Keras seperti papan
Tatalaksana
Antibiotik, obat kumur,
pungsi, insisi,
tonsilektomi
Antibiotik parenteral
dosis tinggi, insisi abses
Antibiotik parenteral
dosis tinggi, insisi abses
Antibiotik parenteral
dosis tinggi, insisi abses
Antibiotik parenteral
dosis tinggi, insisi abses
Abses Peritonsilar
Disebut juga Abses Quinsy
Gejala Klinis
• Nyeri menelan
• Demam tinggi
• Hot potato voice
• Halitosis
• Hipersalivasi
Pemeriksaan Fisik
• Uvula dan tonsil terdorong ke sisi kontralateral
• Palatum mole bengkak dengan fluktuasi (+)
Tatalaksana
• Tatalaksana tonsilitis
• Simptomatis 🡪 analgetik dan antipiretik
• Pembedahan 🡪 insisi drainase, tonsilektomi
194
3
A
Abses Peritonsilar 3
A
Angina Ludwig
196
Disebut juga Angina Ludovici
Gejala Klinis
• Submandibula teraba panas dan keras seperti kayu (Selulitis)
• Bersifat bilateral
• Lidah terdorong keatas belakang
• Sesak nafas
Tatalaksana
• Antibiotik IV dosis tinggi
• Insisi di garis tengah secara horizontal
• Pengobatan sumber infeksi 🡪 gigi
3
A
Keganasan pada THT
THT
197
2
Karsinoma Nasofaring
Definisi
• Adalah tumor ganas yang tumbuh
didaerah nasofaring (fossa Rossenmuller)
Etiologi
• Virus EBV
• Ras, genetic
• Iritasi bahan kimia
• Kebiasaan memasak dengan kayu bakar.
198
Karsinoma Nasofaring
199
Lokasi Gejala
Telinga Tinitus, otalgia, penurunan
pendengaran, rasa penuh di
telinga
Hidung Epistaksis, post nasal drip,
sumbatan jalan napas
Mata Diplopia, lakrimasi, nyeri wajah
Leher Pembengkakan pada KGB
Manifestasi Klinis
Diplopia
“N E N E” = Nose Ear Neck Eye
MED+
EASY
Karsinoma Nasofaring
Diagnosis
•• Rhinoskopi posterior 🡪 pemeriksaan awal
•• Nasofaring direk/indirek
•• Biopsi dan pemeriksaan PA
•• CT Scan/MRI
•• FNAB KGB
Tatalaksana
• RADIOTERAPI
• Stadium dini (stadium 1 & 2)
• KEMOTERAPI
• Stadium lanjut/kasus kambuh (stadium 3 & 4)
• OPERASI
• Untuk reseksi sisa KGB, atau pada kasus diseksi leher radikal
200
2
Angiofibroma Nasofaring Juvenile
201
Definisi Etiologi
• Massa pada pembuluh darah 🡪 jinak
• Umumnya terjadi pada anak laki-laki usia muda (7-19 tahun)
Manisestasi Klinis
• Epistaksis berulang
• Hidung tersumbat
• Benjolan pada pipi
• Suara sengau
Angiofibroma Nasofaring Juvenile
202
Holman miller sign
Pemeriksaan Penunjang
• Rinoskopi Anterior 🡪 Awal
• Massa kenyal berwarna kemerahan/kebiruan/abu-abu
• Mudah berdarah
• CT-Scan 🡪 Holman miller sign (antral)
• Angiografi 🡪 Gold Standard
Tatalaksana 🡪 Pembedahan
Karsinoma Sinonasal
Lokasi paling sering
• Sinus maxillaris, diikuti sinus etmoidalis, frontalis, dan
sphenoidalis
Etiologi
• Tidak diketahui namun didapati insiden tertinggi pada
pekerja industri perabotan kayu, penyulingan nikel,
pengrajin kulit atau pembuat gas.
Gejala Klinis
• Sekret bercampur darah, nyeri wajah, epifora
• Diplopia
• Obstruksi nasal
• Pembengkakan pada daerah pipi
• Buldging palatum
Tatalaksana
• Pembedahan
203
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
DI BIDANG THT
204
Nama posisi Struktur yang diamati
Waters
Sinus maxillaris, arkus zygoma, os
nasal
Schedel AP dan
lateral
AP -> sinus frontal
Lateral -> sinus frontal, sphenoid,
maxillaris dan ethmoid
Schuller Mastoid lateral
Towne Dinding posterior sinus maxillaris
Caldwell Sinus frontalis
Rhese
Posterior ethmoid cells, kanalis
optikus, dan dasar orbita
Stenver Seluruh bagian mastoid
3
RONTGEN WATERS
RONTGEN CALDWELL
Massa Leher
Kongenital
THT
205
2
DD Massa Leher Kongenital
Keterangan Kista Duktus Tiroglosus Branchial Cleft Cyst Kistik Higroma Tortikolis kongenital
Etiologi
Sisa dari duktus
tiroglossus
Involusi tidak sempurna
struktur branchial cleft
Kegagalan penggabungan
sistem limfatik di leher
Pemendekan m.
sternocleidomastoid akibat
fibrosis
Lokasi
Setinggi os. Hyoid, pada
midline leher
Anterior m.
sternocleidomasteoideus
Posterior triangle
Sepanjang m.
sternocleidomastoideus
Khas Ikut naik turun saat menelan
Massa teraba lunak, tidak
nyeri, fluktuasi (+)
Transluminasi (+)
Kepala tampak menoleh ke
satu sisi, benjolan pada sisi
leher yang mengalami
pemendekan
Tatalaksana Metode Sistrunk Eksisi komplit
Aspirasi + pengangkatan
bertahap
Fisioterapi dan stretching
Operasi
K B
H
Branchial Cleft Cyst
Definisi
• Sisa dari branchial cleft/sulcus pharyngeus atau sinus servikalis yang seharusnya menghilang
sebelum lahir
Klasifikasi Berdasarkan Asal Kista
• Branchial cleft pertama 🡪 <1% dari kasus
• Muncul di wajah dekat dengan telinga
• Biasanya berhubungan dengan kelenjar parotis dan nervus fasialis
• Branchial cleft kedua 🡪 paling sering
• muncul di sisi inferior mandibula, di depan (anterior) dari otot
sternocleidomastoideus
• Branchial cleft ketiga 🡪 paling jarang
• letak mirip branchial cleft kedua, namun di sisi lebih bawah (di
leher)
207
2
Branchial Cleft Cyst
Manifestasi Klinis
• Status lokalis:
• 1st
branchial cleft cyst: di bawah telinga
• 2nd
branchial cleft cyst: beberapa cm di bawah
mandibula, anterior m. sternocleidomastoideus
• 3rd
branchial cleft cyst: di bagian bawah leher
(suprasternal/supraklavikula)
• Terdapat punctum (titik) pada kulit pada batas
bawah otot sternokleidomastoideus
• Bila terinfeksi, dapat membuat suatu sinus 🡪
muncul secret purulen
208
2
Branchial Cleft Cyst
Pemeriksaan Penunjang
• USG leher: massa bulat hipoekogenik tanpa adanya septasi internal
• CT/MRI untuk menentukan hubungan dengan struktur anatomi lainnya (mis. kelenjar
parotis, kelenjar submandibular, dll)
Tatalaksana
• Eksisi kista
209
2
Tortikolis
210
1
Definisi
• Tortikolis (wryneck) merupakan rotasi abnormal dari pada kepala ke posisi yang
abnormal
Klasifikasi
• Kongenital 🡪 Posisi fetus abnormal, Kelainan genetik
• Didapat 🡪 Trauma lahir, Hernia servikalis, kontraktur pada luka bakar, Infeksi
Manifestasi Klinis
• Benjolan di leher unilateral
• Kesulitan menggerakkan leher / menoleh
• Rasa pegal/nyeri pada leher unilateral
• Tinggi bahu tidak simetris
Tortikolis
Diagnosis
• Anamnesis dan pemeriksaan fisik
• Elektromiografi
• Foto polos cervical
• MRI cervical
• DNA 🡪 menilai ada tidaknya mutasi yang menyebabkan tortikolis
Tata laksana
• Non operatif
• Fisioterapi dan stretching
• Medikamentosa 🡪 muscle relaxant
• Operatif
211
1
MED+
QUIZ
THT
MED+
QUIZ – 9
Laki-laki, 35 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan sesak napas sejak 1 hari
yang lalu. Istri pasien mengatakan bahwa sebelumnya pasien sempat mengeluh
sakit gigi sejak 2 minggu yang lalu namun belum sempat pergi ke dokter gigi. TTV
didapatkan TD 120/80 mmHg, N 70 x/menit, napas 36 x/menit, suhu 38,7 C. Pada
pemeriksaan fisik dijumpai pembengkakan pada rahang bawah kiri, teraba keras
seperti papan.
Diagnosis yang mungkin?
A. Abses peritonsilar
B. Abses Quincy
C. Angina Ludwig
D. Abses parafaring
E. Abses retrofaring
213
MED+
QUIZ – 9
Laki-laki, 35 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan sesak napas sejak 1 hari
yang lalu. Istri pasien mengatakan bahwa sebelumnya pasien sempat mengeluh
sakit gigi sejak 2 minggu yang lalu namun belum sempat pergi ke dokter gigi. TTV
didapatkan TD 120/80 mmHg, N 70 x/menit, napas 36 x/menit, suhu 38,7 C. Pada
pemeriksaan fisik dijumpai pembengkakan pada rahang bawah kiri, teraba keras
seperti papan.
Diagnosis yang mungkin?
A. Abses peritonsilar
B. Abses Quincy
C. Angina Ludwig
D. Abses parafaring
E. Abses retrofaring
214
MED+
QUIZ – 10
Anak laki-laki, 13 tahun datang dibawa ibunya ke IGD RS dengan keluhan
mimisan sejak 1 jam yang lalu. Ibu mengatakan bahwa hal ini telah terjadi
berulang kali sejak 3 bulan yang lalu dan biasanya berhenti dengan sendirinya.
TTV dbn. Pada saat dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior, tampak massa
bertangkai yang mudah berdarah saat disentuh.
Diagnosis?
A. Karsinoma nasofaring
B. Polip nasi
C. Epistaksis anterior
D. Hemofilia
E. Angiofibroma juvenil
215
MED+
QUIZ – 10
Anak laki-laki, 13 tahun datang dibawa ibunya ke IGD RS dengan keluhan
mimisan sejak 1 jam yang lalu. Ibu mengatakan bahwa hal ini telah terjadi
berulang kali sejak 3 bulan yang lalu dan biasanya berhenti dengan sendirinya.
TTV dbn. Pada saat dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior, tampak massa
bertangkai yang mudah berdarah saat disentuh.
Diagnosis?
A. Karsinoma nasofaring
B. Polip nasi
C. Epistaksis anterior
D. Hemofilia
E. Angiofibroma juvenil
216
#OneShotBersamaMedsense+
THT
Terima Kasih

[Materi] THT - Complete Class Materi..pdf

  • 1.
  • 2.
    BASIC UKMPPD • UKMPPDCBT terdiri dari 150 soal dalam 200 menit 🡪 1 soal = 1 menit • Baca soal 🡪 Baca Kasus 🡪 Kata kunci 🡪 Informasi tambahan • Pemeriksaan Objektif > Subjektif • Jika kesulitan 🡪 Eksklusi jawaban 🡪 Memperbesar kemungkinan untuk benar 2 • Bedakan antara terapi yang tepat, definitive, abortif, suportif, awal dan pendukung • Terapi awal : Tatalaksana simtomatis / kegawat daruratan • Terapi definitive : Terapi yang langsung ke etiologi • Terapi supportif: Terapi yang membantu dalam terapi utama.
  • 3.
    Standar Kompetensi DokterIndonesia (SKDI) •Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas •4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter •4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atauPendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) 4 •Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk •3A. Bukan gawat darurat •3B. Gawat darurat 3 •Mendiagnosis dan merujuk •Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. 2 •Mengenali dan menjelaskan •Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. 1
  • 4.
    Daftar Isi o TesPendengaran (4, 3) o Kelainan Telinga Luar o Othematoma (3B) o Perikondritis (3B) o Fistula Preaurikula (3A) o Herpes Zoster Otikus (3A) o Otitis Eksterna (4A) o Otomikosis (4A) o Cerumen Prop (4A) o Keratosis obsturans o Benda Asing pada Telinga (3A) o Kelainan Telinga Tengah o Otosklerosis (3A) o Otitis Media Efusi (3A) o Otitis Media Akut (4A) o Otitis Media Supuratif Kronis (3A) o Miringitis Bulosa (3A) o Timpanosklerosis (2) o Kelainan Telinga Dalam o Presbiakusis (3A) o Noise induced hearing loss (2) o Trauma Akustik (3B) o Gangguan Keseimbangan o Motion sickness (4A) o Meniere’s disease (3A) o Labirinitis (2) o Kelainan pada Hidung o Rinitis (4A, 3A) o Rinosinusitis (3A, 2) o Epistaksis (4A) o Polip nasi (2) o Benda asing hidung (4A) o Kelainan pada Tenggorokkan o Tonsilitis (4A) o Faringitis (4A) o Laringitis (4A) o Tumor Jinak Laring (2) o Obstructive Sleep Apnea (1) o Hipertrofi Adenoid (2) o Tertelan benda asing (3B) o Abses leher dalam (3A) o Keganasan pada THT o Karsinoma nasofaring (2) o Angiofibroma nasofaring juvenile o Karsinoma sinonasal o Massa Leher Kongenital (2)
  • 5.
  • 6.
    Tes Pendengaran 6 Audiometri ImpedansOtoacustic Emmision Brainstem Evoked Response Audiometry Subjektif Tes bisik Tes garpu tala Audiometri nada murni Audiometri nada tutur Objektif Audiometri Impedans OAE (Otoacoustic Emission) BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) 4
  • 7.
    Tes Bisik Kuantitatif Kualitatif FungsiPendengaran Suara Bisik Tuli Seneorineural Sulit mendengar huruf desis (frekuensi tinggi) Seperti huruf s – sy – c Normal 6 m Dalam batas normal 5 m Tuli ringan 4 m Tuli Konduktif Sulit mendengar huruf lunak (frekuensi rendah) Seperti huruf m – n – w Tuli sedang 3 – 2m Tuli berat ≤ 1 m 7 4 • Pemeriksaan dilakukan dalam ruangan yang sunyi, serta tidak bergema • Jarak pemeriksa dan pasien sejauh 20 kaki atau 6 meter • Telinga yang akan diperiksa dihadapkan ke pemeriksa • Telinga yang tidak diperiksa ditutup dengan tangan • Pemeriksa membisikkan kata-kata yang mudah dan pasien dimita untuk mengulangi dengan benar
  • 8.
    Tes Garpu Tala •menilai air conduction dan bone conduction RINNE TEST • menilai bone conduction kanan dan kiri WEBER TEST • membandingkan bone conduction penderita dan pemeriksa SCHWABACH TEST Rinne Weber Schwabach Normal (+) (-) lateralisasi Sama dengan pemeriksa Tuli Konduktif (-) Lateralisasi ke telinga sakit Memanjang Tuli Sensorineural (+) Lateralisasi ke telinga sehat Memendek 8 4
  • 9.
    Audiometri Nada Murni •Untuk mengetahui ambang dengar dan jenis gangguan pendengaran • Ambang dengar (AD): bunyi nada murni terlemah pada frekuensi tertentu yang masih dapat didengar oleh telinga seseorang • Derajat ketulian dihitung berdasarkan indeks Fletcher: (AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz + AD 4000 Hz)/4 9 3 Derajat Ketulian Desibel Normal 0-25 dB Tuli ringan 26-40 dB Tuli Sedang 41-55 dB Tuli Sedang-berat 56-70 dB Tuli Berat 71-90 dB Tuli Sangat Berat >90 dB +15 +20 +15 +15
  • 10.
    Audiometri Nada Murni 10 3 •BC normal atau < 25 dB • AC > 25 dB • Antara AC dan BC terdapat air-bone gap • AC dan BC > dari 25 dB • AC dan BC berimpit • Tidak ada air-bone gap • BC > 25 dB • AC > BC • Terdapat air-bone gap Tuli Konduktif Tuli Sensorineural Campuran Audiometri
  • 11.
    Audiometri Nada Murni 11 (-)Gap AC dan BC ≤ 25 dB Normal AC dan BC > 25 dB SNHL (+) Gap AC > 25 dB BC normal (<25 dB) CHL BC > 25 dB AC > BC (>10 dB) Campuran MED+ EASY 3
  • 12.
    Audiometri Tutur • Untukmenilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari dan menilai pemberian alat bantu dengar. • Pasien diminta untuk mengulangi kata-kata yang disusun dalam suku kata dan diberikan melalui headphone. • Dilakukan pada orang dewasa dan anak besar • Berguna untuk mengonfirmasi hasil audiometri nada murni 12 3
  • 13.
  • 14.
    KELAINAN TELINGA LUAR OthematomaPerikondritis Fistula Preaurikula Herpes Zoster Otikus Otitis Eksterna Otomikosis Serumen Prop Benda Asing Telinga 14
  • 15.
  • 16.
    Gangguan Daun Telinga OthematomaPerikondritis Fistula Preaurikula Kumpulan darah antara kartilago dan perikondrium Etiologi: Trauma (mis: petinju) Manifestasi: Bengkak, ekimosis, fluktuasi (+) Tatalaksana: Awal: Kompres Definitife: insisi drainase (aspirasi) Radang daun telinga Etiologi: Infeksi Pseudomonas aeruginosa Faktor Resiko: Piercing Manifestasi: Nyeri, bengkak, merah Tatalaksana: Antibiotik (ciprofloxacin) Kortikosteroid Abses 🡪 insisi drainase Lubang abnormal di depan tragus Etiologi: sisa arkus brakialis Manifestasi: benjolan berisi cairan di depan pinna Tatalaksana: Observasi Infeksi 🡪 Kompres + antibiotic Abses 🡪 Insisi drainase +antibiotic Cauliflower ear Komplikasi Herpes Zoster Otikus Etiologi: Reaktivasi VZV Manifestasi: keterlibatan N. V dan N. VIII 🡪 Ramsay Hunt Syndrome Tatalaksana: • Asiklovir 5x800 mg/hari selama 7-10 hari, atau • Valsiklovir 3x1000 mg/hari selama 7 hari, atau • Famsiklovir 3x250 mg/hari selama 7 hari
  • 17.
    Definisi • Kumpulan darahdi antara kartilago dan perikondrium daun telinga Etiologi • Trauma tumpul 🡪 pada petinju atau pegulat • Trauma tajam 🡪 laserasi dan atau perforasi pada telinga Patofisiologi • Trauma 🡪 perdarahan dari pembuluh darah pada perikondrium 🡪 penumpukan darah dan serum diantara perikondrium dan kartilago 🡪 subperichondrial hematoma Othematoma 17 3 B
  • 18.
    Manifestasi Klinis •Pembengkakan dauntelinga •Hilangnya bentuk dan lekukan permukaan anterosuperior daun telinga •Ekimosis, fluktuasi (+) Komplikasi •Cauliflower ear Tatalaksana •Hematoma kecil (≤ 2 cm) < 2 hari 🡪 aspirasi •Hematoma besar (> 2 cm), 2-7 hari 🡪 insisi, drainase, dan balutan kompresi (untuk mencegah reakumulasi) •Hematoma > 7 hari 🡪 rujukan ke THT Pemberian profilaksis levofloxacin selama 7-10 hari setelah drainase Pasien dapat kembali berolahraga setelah 7 hari Othematoma 18 3 B Bedakan dengan PerikondriTIS 🡪 Tanda Infeksi (+) (Nyeri, terasa hangat)
  • 19.
    Perikondritis 19 Definisi • Peradangan difusdaun telinga Etiologi • Pseudomonas aeruginosa Faktor Risiko • Trauma • Piercing • Gigitan serangga Gejala Klinis • Nyeri • Daun telinga bengkak dan merah • Perikondrium terangkat dan menjadi kaku 3 B MED+ EASY
  • 20.
    Perikondritis 20 Tatalaksana • Antibiotik dosistinggi • Fluorokuinolon • Kombinasi aminogliokosida dengan amoksisilin • Kortikosteroid 🡪 anti-inflamasi dan analgetik • Abses perikondrial 🡪 insisi drainase selama 24-72 jam + antibiotik 3 B
  • 21.
    Fistula Preaurikula Definisi • Lubangabnormal di depan tragus • Merupakan sisa arkus brakialis embrio yang tidak menutup sempurna • Infeksi 🡪 bisa keluar cairan purulent 🡪 tersumbat 🡪 abses Pemeriksaan • Fistulografi • Kultur 🡪 apabila terjadi infeksi untuk menentukan antibiotik yang tepat Tatalaksana • Asimptomatik 🡪 observasi • Infeksi 🡪 antibiotik + kompres rivanol • Abses 🡪 insisi drainase + antibiotik 21 3 A
  • 22.
    Herpes Zoster Otikus DefinisiEtiologi • Disebabkan oleh HERPES VARICELLA-ZOSTER VIRUS. • Virus akan dorman pada ujung ganglion saraf dan virus aktif kembali saat imunitas menurun Manifestasi Klinis • Keterlibatan nervus fasialis (nervus V) serta nervus Vestibulokoklearis (nervus VIII) 🡪 menyebabkan kelemahan wajah (dengan atau tanpa penurunan pendengaran) 🡪 RAMSAY HUNT SYNDROME Tatalaksana • Asiklovir 5x800 mg/hari selama 7-10 hari, atau • Valsiklovir 3x1000 mg/hari selama 7 hari, atau • Famsiklovir 3x250 mg/hari selama 7 hari 22 3 A
  • 23.
  • 24.
    Otitis Eksterna 24 • Perdanganpada telinga luar • Gejala Klinis – Otalgia – Nyeri tekan tragus – Nyeri tarik pinna – Pruritus – Telinga terasa penuh – Penurunan pendengaran 1/3 luar = Sirkumsripta MT masih bisa terlihat 2/3 dalam = Difusa MT tidak dapat dinilai Apabila terdapat gangguan NVII = Maligna Otitis Eksterna Sirkumskripta Difusa Maligna Otomikosis
  • 25.
    Otitis Eksterna 25 Otitis EksternaSirkumskripta Otitis Eksterna Difusa Otitis Maligna Definisi Peradangan pada 1/3 bagian depan liang telinga Infeksi di folikel rambut yang tersumbat Peradangan pada 2/3 bagian dalam liang telinga OE difusa yang lebih agresif 🡪 osteomielitis luas sampai ke otak🡪 dapat menyebabkan kematian Penderita: Orangtua, Pasien imunokompromis (HIV, DM) Etiologi Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas aeruginosa Gejala Klinis Nyeri tekan tragus Nyeri tarik aurikula Nyeri tekan tragus Dapat disertai sekret Nyeri hebat terus menerus, paresis N. facialis Pem. Fisik • Furunkel (+) • Membran timpani dapat dinilai • Liang telinga hiperemis dan edema • Membran timpani sulit dinilai Edema liang telinga, MT sulit dinilai, keluar cairan dari telinga, jaringan granulasi, pus. Tatalaksana Salep antibiotik lokal 🡪 polymixin, bacitracin Tampon antibiotik lokal 🡪 ofloxacin, polymixin, neomisin Antibiotik dan debridement agresif Dosis dewasa: Ciprofloxacin 400 mg IV/8 jam; Levofloxacin 750 mg PO/24 jam
  • 26.
    Otitis Eksterna Sirkumskripta Definisi •Infeksi folikel rambut (furunkel) • Hanya terjadi pada 1/3 bagian luar liang telinga 🡪 yang ditumbuhi rambut Etiologi • Staphylococcus aureus/ Staphylococcus albus Gejala Klinis • Sangat nyeri 🡪 dapat timbul spontan saat membuka mulut atau mengunyah • Dapat disertai pembesaran KGB periaurikuler Pemeriksaan • Nyeri saat daun telinga ditarik ke arah lokasi furunkel • Membran timpani masih dapat terlihat Tatalaksana • Salep antibiotik 🡪 polimiksin B atau basitrasin • Analgetik • Abses 🡪 aspirasi atau insisi drainase 26 4 A
  • 27.
    Otitis Eksterna Difusa Definisi •Peradangan difus pada liang telinga • Terjadi di 2/3 bagian dalam liang telinga Faktor Risiko • Kondisi panas dan lembab • Perenang (swimmer's ear) • Mengorek telinga Etiologi • Pseudomonas sp. • Staphylococcus aureus Gejala Klinis • Nyeri dan panas terutama saat rahang bergerak Pemeriksaan • Nyeri tekan tragus • Liang telinga sempit 🡪 membran timpani sulit dinilai • Dapat disertai sekret berbau Tatalaksana • Ear toilet • Tampon antibiotik 🡪 ofloxacin, polimiksin, neomisin 27 4 A
  • 28.
    Otitis Eksterna 28 SIRKUMSKRIPTA /FURUNKULOSIS DIFUSA Medikamentosa : pada stadium infiltrat salep ikhtiol atau salep antibiotik seperti Polymixin B atau Basitrasin. Tampon antibiotik yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Pilihan antibiotik : Polymixin B, Neomisin, Hidrocortison dan anestesi topikal. Kebanyakan furunkel direabsorbsi secara spontan, tetapi jika dalam 24 – 48 jam bisulnya belum pecah 🡪 Lakukan insisi dan drainase Antibiotik Sistemik : bila infeksi berat. Diberikan pada orang dewasa. Ampicillin 250 mg QID, Eritromisin 250 mg QID. Anak-anak dapat diberikan dosis 40-50 mg/kgBB Antibiotik topikal biasanya mengandung asam asetat atau borat yang menurunkan pH di CAE Neomisin, aktif terhadap bakteri Gram negatif, misal Proteus sp., Klebsiella sp., E. coli Polymixin B atau E, aktif terhadap Psedomonas sp., Klebsiella sp., E. coli Gentamisin, aktif terhadap Psedomonas sp. 4 A Tatalaksana
  • 29.
  • 30.
    Otitis Eksterna Maligna Definisi •Otitiseksterna difusa yang bersifat agresif •Jika tidak ditangani 🡪 osteomielitis luas pada liang telinga hingga dasar otak pada os temporal 🡪 meninggal Faktor Risiko •Sering terjadi pada pasien immunokompromis •Orang tua dengan diabetes mellitus •Penderita HIV Etiologi •Pseudomonas aeruginosa Gejala Klinis •Nyeri hebat •Dapat terjadi paresis NVII Pemeriksaan •Lesi berupa ulkus dan jaringan granulasi pada dasar liang telinga •+/- destruksi tulang Tatalaksana • Debridement • Ciprofloxacin 400 mg IV/8 jam; 750 mg PO/2 jam 30
  • 31.
    Otomikosis 31 Definisi Etiologi • OEyang disebabkan oleh jamur: • Aspergillus niger • Aspergillus fumigatus • Candida albicans Faktor Risiko • Imunitas rendah • Riwayat telinga sering terendam air Gejala Klinis • Telinga gatal (++++) • Otalgia dan otorrhea • Kurang pendengaran • Rasa penuh di telinga Candida sp. “cotton wool appearance” Aspergillus sp. “newspaper appearance” 4 A
  • 32.
    Otomikosis Pemeriksaan Penunjang • Preparatlangsung 🡪 skuama dan kerokan kulit liang telinga dengan KOH 10% 🡪 hifa-hifa lebar, berseptum, dan dapat ditemukan spora • Kultur 🡪 Skuama dikultur di media Sabaroud Dextrose Agar dan diinkubasi pada suhu kamar. Koloni akan tumbuh dalam 1 minggu. 32 4 A Tatalaksana • Obat antijamur topikal: • Nystatin 🡪 efektif untuk Candida sp. • Miconazole 🡪 efektif untuk Aspergillus sp. • Ear Toilet • Asam asetat 2% dalam alkohol 🡪 sebagai keratolitik • Jaga telinga tetap kering dan cegah maneuver-maneuver pada telinga CARA HAPAL: Telinga siapa yang jamuran? Telinga MAS-MAS M – AS: MIKONAZOL – ASPERGILLUS
  • 33.
  • 34.
    Cerumen Prop 34 4 A Cerumen Berfungsi untukmenghalangi masuknya air ke liang telinga pH yang rendah membantu mencegah tumbuhnya koloni bakteri Serumen ”menangkap” benda asing, dan mengeliminasi benda asing keluar dari telinga Serumen diproduksi oleh 1/3 luar liang telinga Faktor Risiko • Dermatitis kronik liang telinga luar • Liang telinga sempit • Produksi serumen banyak dan kering • Adanya benda asing di telinga • Kebiasaan mengorek telinga Tanda Dan Gejala • Gangguan pendengaran 🡪 tuli konduktif • Nyeri telinga • Refleks batuk • Rasa penuh pada telinga • Tinnitus • Vertigo
  • 35.
    35 Tatalaksana •Serumen lunak 🡪dibersihkan dengan kapas dililit •Serumen keras 🡪 dikeluarkan dengan hook atau kuret. •Serumen tidak dapat dikeluarkan 🡪 serumen dilunakkan dahulu dengan tetes KARBOGLISERIN 10% / H2O2 3% SELAMA 3 HARI. •Serumen yang terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga 🡪 irigasi air hangat yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh Serumen dianjurkan dikeluarkan setiap 6 – 12 bulan sekali Cerumen Prop 4 A Indikasi - Membran timpani tidak tampak atau sulit di evaluasi - Otitis externa - Oklusi serumen dan bagian dari terapi tuli konduktif Kontraindikasi - Adanya perforasi membran timpani - Tinitus - Serumen yang sangat keras
  • 36.
  • 37.
    Keratosis Obsturans 37 Definisi •Epitel squamousberlapis dengan keratin yang menumpuk di liang telinga (gagal migrasi) Epidemiologi ••Usia muda (>>>) •Faktor Risiko ••Mengorek telinga dengan benda logam Gejala Klinis ••Penurunan pendengaran (tuli konduksi) ••Nyeri ••Liang telinga lebih lapang ••Produksi sekret telinga menurun Tatalaksana •Tetes telinga (campuran alkohol/gliserin dalam cairan H2O2)
  • 38.
  • 39.
    Corpus Alienum 39 Definisi • Sumbatanpada telinga luar karena benda asing baik benda mati maupun makhluk hidup Etiologi • Benda mati 🡪 manik, kacang hijau, kapas cotton bud • Makhluk hidup 🡪 serangga
  • 40.
    Corpus Alienum 40 Prinsip: YANGHIDUP MATIKAN DAHULU 3 A Pada kasus benda asing yang tidak tertanam di CAE: Apabila pasien anak-anak 🡪 selama prosedur anak dalam pangkuan orang tua Aligator/forcep bayonet 🡪 benda lunak (kertas, kapas) Alat pengait kecil 🡪 benda bulat atau mudah pecah (biji, batu) Letakkan alat pengait di belakang benda asing, diputar lalu ditarik keluar secara perlahan. Pada kasus benda asing serangga: • Tetesi dengan alkohol, kloroform atau minyak mineral, lidokain atau anestesi lokal supaya serangga tidak bergerak dan sebagai lubrikasi. • Ekstraksi serangga dengan menggunakan forceps alligator.
  • 41.
    Corpus Alienum 41 Wire Loop 3 A MED+ EASY TerapiSpesifik • Baterai 🡪 jangan lakukan irigasi maupun penghancuran baterai. Segera ambil dengan wire loop • Benda tajam 🡪 berisiko merobek membran timpani 🡪 rujuk ke THT
  • 42.
    Corpus Alienum 3 A Komplikasi •Benda yang bersifat radiolusen seringkali tidak terdeteksi karena sulit untuk divisualisasikan. • Baterai kancing kecil memiliki morbiditas tinggi karena dengan cepat menyebabkan ulserasi dan nekrosis yang menyebabkan perforasi septum hidung. • Benda berbentuk bola atau cakram apabila tergeser ke belakang, menyebabkan obstruksi saluran pernapasan.
  • 43.
  • 44.
    Kelainan Telinga Tengah OtosklerosisOtitis Media Efusi Otitis Media Akut Otitis Media Supuratif Kronis Miringitis Bulosa Timpanosklerosis 44
  • 45.
  • 46.
    Otosklerosis Definisi • Spongiosis padakaki stapes sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik Epidemiologi •• Perempuan lebih sering •• Usia 11-45 tahun Gejala Klinis •• Penurunan pendengaran progresif •• Tinitus dan vertigo •• Bilateral •• Parakusis Willisi 🡪 Pasien merasa pendengaran lebih baik pada ruang bising 46 3 A
  • 47.
    Otosklerosis FLAMMINGO PINK SIGN Otoskopi • Schwarte’ssign/flammingo pink sign 🡪 Membran timpani kemerahan akibat pelebaran pembuluh darah pada promontorium Tatalaksana • Definitif 🡪 Stapedektomi 47 MED+ EASY 3 A
  • 48.
  • 49.
    Otitis Media Efusi Definisi •Akumulasi cairan pada telinga tengah tanpa gejala atau tanda infeksi akut (efusi non-purulen) • Istilah lain: otitis media serosa atau otitis media sekretoria • Glue ear 🡪 OME persisten dengan cairan kental seperti lem Etiologi • Gangguan fungsi tuba eustachius berkepanjangan 🡪 hipertrofi adenoid, rhinosinusitis kronis, tonsilitis kronis • OMA yang tidak sembuh sempurna • Barotrauma Gejala Klinis • Gangguan pendengaran • Suara diri sendiri terdengar nyaring (autofoni) • Telinga terasa penuh 49 3 A
  • 50.
    Otitis Media Efusi Pemeriksaan •Pneumoskopi • Timpanometri Tatalaksana • Sesuai etiologi • Medikamentosa 🡪 dekongetan topikal, antihistamin • Miringotomi 🡪 rujuk 50 “AIR BUBBLE APPEARANCE" GLUE EAR 3 A
  • 51.
  • 52.
    Otitis Media Akut Definisi •inflamasi akut pada telinga tengah. Etiologi • Streptococcus pneumoniae (30-50%) • Haemophillus influenzae (20-30%) • Moraxella catarrhalis (10-20%) 52 Pada anak anak lebih mudah terjadi OMA karena tuba eustachius lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal. 4 A
  • 53.
    Otitis Media Akut StadiumOklusi • Pembengkakan muara tuba eustachius 🡪 obstruksi 🡪 absorpsi udara dan tekanan negatif pada telinga tengah 🡪 retraksi membran timpani • Refleks cahaya berkurang/menghilang • Membran timpani tampak suram/keruh • Tatalaksana: • Dekongestan 🡪 Pseudoefedrin HCl 0,5-1% atau Oxymetazolin 0,025% 53 4 A
  • 54.
    Otitis Media Akut StadiumHiperemis/Presupurasi • Membran timpani tampak hiperemis dan edema akibat pelebaran pembuluh darah • Dapat disertai sekret serosa • Biasanya anak disertai demam, gelisah, dan rewel • Tatalaksana: • Analgetik + antipiretik🡪 Paracetamol 10-15 mg/kgBB atau ibuprofen 10-15 mg/kgBB • Antibiotik oral selama 7 hari dengan indikasi: •• Anak ≤ 6 bulan •• Anak < 2 tahun dengan OMA bilateral •• Segala usia dengan gejala tidak berkurang setelah 48-72 jam, gejala berat (otalgia, demam >39 C), pasien dengan koklear implan 54 4 A
  • 55.
    Otitis Media Akut StadiumSupurasi • Terjadi pembentukan pus di rongga telinga tengah • Membran timpani tampak menonjol (bulging) • Nyeri hebat dan penurunan pendengaran • Pada anak dapat disertai dengan demam tinggi • Tatalaksana: •• Antibiotik oral •• Analgetik + antipiretik •• Miringotomi 🡪 pus dapat keluar dan membran timpani dapat menutup kembali. Jika tidak dilakukan insisi, maka akan terjadi ruptur membran timpani yang sulit menutup kembali 55 4 A
  • 56.
    Otitis Media Akut StadiumPerforasi • Membran timpani ruptur 🡪 pus keluar ke liang telinga • Kondisi klinis pasien akan membaik dan nyeri hilang • Tatalaksana: •• Ear toilet 🡪 dengan H2 O2 3% selama 3-5 hari •• Antibiotik tetes telinga (Ofloksasin) selama 3 minggu •• Antibiotik oral 56 4 A
  • 57.
    Otitis Media Akut StadiumResolusi • Membran timpani sudah tidak meradang • Perforasi dapat menutup spontan • Jika daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah fase resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan • Tatalaksana 🡪 Observasi 57 4 A
  • 58.
    Otitis Media Akut TatalaksanaFarmakologi 58 4 A Pilihan antibiotik pada pasien OMA (selama 7-10 hari) • Amoxicillin 3x500 mg (dewasa) atau 3x10 mg/kgBB (anak) • Eritromisin 4x500 mg (dewasa) atau 4x10 mg/kgBB (anak) • Coamoxiclav 3x625 mg Rujuk ke THT apabila terindikasi miringotomi dan membran timpani tidak menutup dalam 3 bulan
  • 59.
    Otitis Media Akut 59 StadiumGejala Klinis Otoskopi Tatalaksana Oklusi Telinga penuh, demam (-) MT retraksi dan tampak suram Dekongestan topikal • Tetes hidung HCl efedrin 0,5-1% • Oksimetazolin 0,025-0,05% Hiperemis Demam, otalgia MT hiperemis + edema Antibiotik oral • Amoxicilin 3x500 mg • Eritromisin 4x500 mg • Coamoxiclav 3x625 mg Analgetik + Antipiretik Supurasi Demam tinggi, otalgia (+++) MT buldging/menonjol, hiperemis Miringotomi Antibiotik oral Analgetik + Antipiretik Perforasi Demam menurun, keluar sekret dari telinga, otalgia (-) MT perforasi, sekret (+) Ear toilet 🡪 H2O2 3% (3-5 hari) Antibiotik oral/tetes Resolusi Sekret berkurang MT mulai menutup, sekret berkurang Observasi (-) resolusi 🡪 AB lanjutkan selama 3 minggu
  • 60.
    Otitis Media Akut 60 4 A Miringotomi •INSISI KECIL melubangi gendang telinga • Untuk mengeluarkan cairan dari telinga dalam dan menghilangkan rasa sakit • Kadang dibuat 2 insisi pada membran timpani daerah anteroinferior dan insisi kedua di daerah anterosuperior, untuk mengaspirasi sekret yang tebal seperti lem (glue ear) Pemasangan Tube Ventilasi (Grommet’s Tube) • Tube ventilasi ini sifatnya sementara • Berlangsung 6 - 12 bulan di dalam telinga hingga infeksi telinga bagian tengah membaik dan sampai Tuba Eustachius kembali normal.
  • 61.
  • 62.
    Otitis Media SupuratifKronis Definisi • Radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga lebih dari 3 bulan, baik terus-menerus atau hilang timbul. Etiologi • Etiologi: campuran aerob (pseudomonas, s.aureus, S. epidermidis), anaerobic (prevotella, porphyromonas) 62 3 A
  • 63.
    Otitis Media SupuratifKronis Letak perforasi membran timpani • Perforasi sentral 🡪 pada pars tensa dengan tepi masih utuh • Perforasi marginal 🡪 terjadi di tepi sehingga berhubungan langsung dengan siklus timpanik • Perforasi atik 🡪 pada pars flaksida 63 3 A
  • 64.
    Otitis Media SupuratifKronis OMSK Tipe Aman/Benigna • Proses peradangan terbatas pada mukosa (tidak mendestruksi tulang secara langsung) • Pemeriksaan: • Kolesteatoma (-) • Perforasi membran timpani sentral • Tatalaksana: • Ear toilet • Antibiotik topikal 🡪 ofloxacin 2x3-5 tetes/hari • Tatalaksana faktor penyebab • Preventif 🡪 telinga tidak boleh kemasukan air • Rekonstruksi 🡪 Miringoplasti atau timpanoplasti dengan atau tanpa mastoidektomi 64 3 A
  • 65.
    Otitis Media SupuratifKronis OMSK Tipe Bahaya/Maligna • Cenderung menimbulakn komplikasi berbahaya karena progesivitasnya bersifat destruktif • Pemeriksaan: • Kolesteatoma (+) • Perforasi membran timpani atik/marginal • Tatalaksana: • Mastoidektomi 🡪 mengangkat semua jaringan patologik • Rekonstruksi 🡪 timpanoplasti 65 Kolesteatoma 🡪 epitel berlapis gepeng disertai debris tumpukan pengelupasan keratin yang terjebak di dalam rongga timpanomastoid 3 A
  • 66.
    Otitis Media SupuratifKronis 66 Benigna/Aman Maligna/Bahaya Perforasi Sentral Atik atau marginal Sekret • Biasanya tidak berbau busuk • Mukopurulen • Biasanya berbau busuk • Purulen Kolesteatoma (-) (+) Granulasi Sangat jarang (+) Tatalaksana • Ear toilet H2O2 3% 3-5 hari • Antibiotik topikal (Ofloksasin 3% 2 minggu) • Antibiotik sistemik (Amoksisilin 3x500 mg, Ciprofloksasin 2x500 mg) • Sekret tenang 🡪 observasi 2 bulan, bila belum menutup 🡪 Miringoplasti atau Timpanoplasti • Mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti Aktif : Sekret (+) Tenang : Sekret (-)
  • 67.
  • 68.
    Otitis Media SupuratifKronis Intratemporal Mastoiditis Petrositis Labirinitis Paresis fasialis 68 Ektratemporal Intrakranial Ekstrakranial • Abses serebri • Trombosis sinus lateralis • Meningitis • Abses Bezold 🡪di m. sternocleidomastoideus • Abses Luc 🡪 di os. Zygoma atau anterior • Abses Citeli 🡪 di m. digastric posterior belly) 3 A Komplikasi
  • 69.
  • 70.
    Miringitis Bulosa 70 GAUSAH SUSAHHAPAL TERAPI MIRIP DENGAN OTITIS MEDIA AKUT 3 A Definisi Etiologi • inflamasi membran timpani dan kulit liang telinga sekitarnya dengan bulla terisi serum atau darah. • Bakteri patogen sama seperti otitis media, umumnya Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Tatalaksana Pengobatan: analgetik, antibiotik dan dapat diberikan tetes telinga antibiotik
  • 71.
  • 72.
    Timpanosklerosis 72 2 Definisi Etiologi Scarring danpenebalan dari membran timpani. •Faktor Resiko •Otitis media berulang •Riwayat pembedahan membran timpani •Riwayat penggunaan tuba timpanostomi • Patch putih ireguler pada membran timpani🡪 Gambaran seperti tapal kuda • Audiometri 🡪 tuli konduktif Diagnosis Tatalaksana • Hearing aid • Pembedahan untuk menghilangkan bagian yang sklerotik
  • 73.
  • 74.
    KELAINAN TELINGA DALAM Presbiakusis NoiseInduced Hearing Loss Trauma Akustik 74
  • 75.
    Presbiakusis Definisi • Tuli sensorineuralyang disebabkan oleh penuaan (proses degeneratif) • Umumnya terjadi > 60 tahun Etiologi • Sensori 🡪 kehilangan sel rambut • Metabolik 🡪 atrofi atria vascularis koklea • Neural 🡪 kehilangan sel ganglion Gejala Klinis • Penurunan pendengaran bilateral, progresif • Cocktail party deafness 🡪 sulit mendengar di keramaian • Hiperakusis terhadap suara dengan frekuensi tertentu 75 3 A
  • 76.
    Presbiakusis Pemeriksaan • Audiometri nadamurni 🡪 gangguan pada frekuensi tinggi (>2.000 Hz) • Gambaran down-sloping • Tes Penala 🡪 sesuai SNHL Tatalaksana • Alat bantu dengar • Rehabilitasi auditori 76 3 A
  • 77.
    Noice Induced HearingLoss • Akibat terpajan bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama 🡪 biasanya pada pekerja pabrik • Pemeriksaan audiometri nada murni didapat tuli sensorineural pada frekuensi 3000-6000 Hz, terberat pada 4000 Hz • Pencegahan dengan mengusahakan bising <85 dB dan memakai alat pelindung pendengaran 77 Nilai Ambang Batas Bising 85 dB 8 jam 88 dB 4 jam 91 dB 2 jam 94 dB 1 jam 97 dB 30 menit 100 dB 15 menit Desibel DITAMBAH 3 Waktu DIBAGI 2 MED+ EASY 2
  • 78.
    Trauma Akustik Definisi • Pajanansuara > 140 dB dalam waktu singkat 🡪 kejadian akut • kerusakan koklea akibat rangsangan fisik berupa getaran berlebih 🡪 merusakan hair cell di koklea. • Suara frekuensi tinggi → merusak sel rambut bagian basal • Suara frekuensi rendah → merusak sel rambut bagian apeks Pemeriksaan • Umumnya normal • Dapat ditemukan perdarahan apa bila terdapat perforasi MT Kata kunci pada soal 🡪 tuli mendadak setelah latihan menembak atau mendengar ledakan 78 3 B
  • 79.
    Diagnosa Banding 79 Presbiakusis NIHLTrauma Akustik Ototoxicity Etiologi Degeneratif (Usia >60 tahun) Pajanan bising lama dan terus menerus Pajanan bising kuat dan mendadak Karena obat-obatan (aminoglikosida, cisplatin, klorokuin, tetes telinga) Gejala • ↓ pendengaran bilateral, progresif • cocktail party deafness • ↓ pendengaran bilateral • Tinitus ↓ pendengaran secara tiba-tiba • ↓ pendengaran • Tinitus • Hiperakusis Pemeriksaan Penunjang Audiometri nada murni: down sloping pada frekuensi 2000 Hz Audiometri: notch pada frekuensi 4000 Hz Audiometri: terdapat accoustic notch pada frekuensi 4000 Hz Audiometri: gangguan pada frekuensi tinggu >8.000 Hz Tatalaksana • ABD • Rehabilitasi • ABD • Hindari pajanan • ABD • Rehabilitasi Berhenti konsumsi obat pencetus
  • 80.
    GANGGUAN KESEIMBANGAN Motion SicknessBPPV Meniere's Disease Neuritis Vestibularis Labirinitis 80
  • 81.
    Motion Sickness Definisi • Kelainanfisiologis yang sering terjadi pada sekelompok individu yang rentan, akibat stimulasi sistem vestibular untuk jangka waktu yang cukup lama. • Nama lain: Mabuk Perjalanan Patogenesis • Ketidakseimbangan informasi antara nukleus vestibular dengan serebelum dari sisi visual dan fungsi labirin • Terjadi konflik sensoris 🡪 muncul gejala motion sickness 4 A
  • 82.
    Motion Sickness Etiologi danFaktor Risiko • Penderita migrain lebih rentan mengalami mabuk perjalanan • Konflik visual-vestibular • Misalnya membaca di mobil dan berada di kabin kapal tertutup Manifestasi Klinis • Pusing, mual, muntah • Tampak pucat dan lelah • Berkeringat dingin (diaforesis) 4 A
  • 83.
    Motion Sickness Tatalaksana Preventif •Non-farmakologis • Melihat ke objek jauh yang tidak bergerak (mis. horizon) • Menghindari membaca atau bermain gadget • Memilih tempat duduk dengan posisi yang nyaman Mengonsumsi permen rasa jahe (berkaitan dengan reseptor serotonin) 4 A
  • 84.
    Motion Sickness Tatalaksana Preventif •Farmakologis • Skopolamin transdermal 1 mg ditempelkan pada area mastoid • Ditempel 4-12 jam sebelum keberangkatan • Efektif hingga ~72 jam • Antihistamin (dimenhidrinat atau meclizine, 3-4 x 25 mg PO) • Dikonsumsi 30-60 menit sebelum keberangkatan • Promethazine 0,25-0,8 mg PO • Dikonsumsi 1 jam sebelum keberangkatan • Diberikan bila skopolamin dan antihistamin tidak efektif Antihistamin non-sedatif (mis. cetirizine, loratadine) Tidak efektif untuk mencegah Motion Sickness 4 A
  • 85.
    Motion Sickness Tatalaksana Kuratif •Antihistamin 🡪 blokade reseptor H1 di pusat muntah • Contoh: dimenhidrinat, difenhidramin, promethazine 🡪 sedatif • Promethazine injeksi/oral sangat efektif untuk gejala mual-muntah akut • Antiemetik • Antagonis reseptor D2 • Contoh: metoklopramid dan domperidon • Antagonis reseptor 5-HT3 • Contoh: ondansetron 4 A
  • 86.
    Vertigo Definisi • persepsi yangsalah dari gerakan seseorang atau lingkungan sekitarnya. Klasifikasi Gejala Vertigo Vestibuler Vertigo Non Vestibuler Sensasi Rasa berputar Melayang, goyang Tempo serangan Episodik Kontinu, konstan Mual dan muntah + - Gangguan pendengaran +/- - Gerakan pencetus Gerakan kepala Gerakan objek visual
  • 87.
    Vertigo Vestibuler Klasifikasi Gejala VertigoPerifer Vertigo Sentral Bangkitan Mendadak Gradual Beratnya vertigo Berat Ringan Pengaruh gerakan kepala ++ +/- Mual/muntah/keringatan ++ + Gangguan pendengaran +/- - Nistagmus Horizontal/torsional Vertikal Fatigue (+) Fatigue (-) Tanda fokal otak - +/-
  • 88.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) Definisi Etiologi • Gangguan klinis yang sering terjadi dengan karakteristik serangan vertigo di perifer, berulang dan singkat, sering berkaitan dengan perubahan posisi kepala tertentu • Disebabkan oleh debris (otokonia/otolith) pada kanalis semisirkularis (tersering = posterior) atau pada cairan endolimf disekitarnya
  • 89.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) Manifestasi Klinis • Vertigo timbul mendadak pada perubahan posisi • Berlangsung singkat 10 – 30 detik • Vertigo dirasakan berputar, bisa disertai rasa mual, kadang- kadang muntah. Pemeriksaan • Dix-hallpike • Normal = tidak timbul vertigo atau nystagmus • Abnormal = timbul nistagmus posisional dengan ciri ada masa laten, lama <30 detik, lama vertigo = lama nistagmus, adanya fatigue (nistagmus dan vertigo yang makin berkurang setiap pemeriksaan diulang)
  • 90.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) • Dix-Hallpike Maneuver
  • 91.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) Tatalaksana Medikamentosa Analog histamin Betahistine Mesylate dosis 12 mg, 3dd PO Betahistin HCl dosis 8-24 mg, 3dd PO Antikolinergik Scopolamin Antihistamin Dimenhidrinat, Difenhidramin, Meksilin, Siklisin Antiemetik Promethazine, Metoclopramid, Ondansetron CCB Cinnarizin 3x15-30 mg atau 1x75mg; Flunarizin Manuver Manuver Epley Untuk BPPV Posterior Latihan Brandt-Daroff Untuk BPPV Posterior, pasien melakukan sendiri di rumah Manuver Semont Untuk BPPV Posterior Manuver Yocovino Untuk BPPV Anterior/Superior Manuver BBQ Roll Untuk BPPV Lateral/Horizontal Pembedahan
  • 92.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) Tatalaksana Epley Manuever
  • 93.
    BPPV (Benign ParoxysmalPostural Vertigo) Tatalaksana Brand-Daroff Semont BEDA : Brand-Daroff SAMA : Semont MED+ EASY
  • 94.
    Meniere’s Disease Etiologi Manifestasi •Disebabkan adanya hidrops endolimfe pada koklea dan vestibulum • TRIAS: (VTP : Vertigo, Tinitus, Pendengaran terganggu) • Vertigo • Tinnitus • Tuli sensorineural terutama nada rendah 94 3 A Pemeriksaan Penunjang • TES GLISERIN • Pasien diberi minum gliserin 1,2 cc/kgBB setelah diperiksa dengan tes kalori dan audiogram. Setelah 2 jam, diperiksa ulang, bila menunjukkan perbaikan bermakna 🡪 adanya hidrops endolimfe
  • 95.
    Meniere’s Disease Tatalaksana Umum •Mengurangi konsumsi garam maksimal 1,5 - 2 gram per hari • Berhenti merokok • Membatasi konsumsi air • Membatasi konsumsi kopi, teh, alcohol Tatalaksana Akut Saat Serangan • Tirah baring dengan kepala lebih tinggi dari badan • Muntah 🡪 Dimenhidrinat atau promethazine 95 3 A
  • 96.
    Meniere’s Disease 96 Terapi SpesifikKronik • Prochloperazine 3x10 mg • Asam nikotinik 3x50 mg • Betahistin 3x8 mg Terapi Pembedahan • Dekompresi kantung endolimfe • Operasi shunt 3 A
  • 97.
    Labirinitis Definisi • Inflamasi padalabirin dan koklea • Disebut juga otitis interna Etiologi • Virus (Rubella, CMV, dll) 🡪 paling sering • Bakteri 🡪 komplikasi dari OMSK • Autoimun 🡪 komplikasi dari polyarteritis nodosa Gejala Klinis • Terdapat riwayat infeksi (ISPA/OMSK) • Vertigo • Tinnitus 97 2
  • 98.
    Labirinitis Pemeriksaan Penunjang • Audiometrisesuai dengan tuli sensorineural Tatalaksana • Bedrest • Kortikosteroid • Antiemetik • Terapi sesuai etiologi 98 2
  • 99.
    Diagnosis Banding GangguanKeseimbangan 99 BPPV Meniere’s Disease Labirinitis Neuritis Vestibularis Etiologi Kanalitiasis, kupulolitiasis Hydrops endolymph Riwayat OMSK/ISPA Riwayat OMSK/ISPA Tinitus (-) (+) (+) (-) Vertigo Tergantung perubahan posisi Periodik Akut Akut Gangguan Pendengaran (-) SNHL SNHL (-)
  • 100.
  • 101.
    MED+ QUIZ – 1 Seorangperempuan, 40 tahun, datang ke praktek dokter dengan keluhan utama telinga kanan terasa panas sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga merasa telinga kanannya tampak membengkak. Riwayat telinga terbentur meja dijumpai sekitar 1 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan AD, tampak edema, hiperemis, disertai fluktuasi. Apakah diagnosis pasien tersebut? a. Perikondritis b. Abses preaurikula c. Cauliflower ear d. Othematoma e. Selulitis 101
  • 102.
    MED+ QUIZ – 1 Seorangperempuan, 40 tahun, datang ke praktek dokter dengan keluhan utama telinga kanan terasa panas sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga merasa telinga kanannya tampak membengkak. Riwayat telinga terbentur meja dijumpai sekitar 1 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan AD, tampak edema, hiperemis, disertai fluktuasi. Apakah diagnosis pasien tersebut? a. Perikondritis b. Abses preaurikula c. Cauliflower ear d. Othematoma e. Selulitis 102
  • 103.
    MED+ QUIZ – 2 Anaklaki-laki, 10 tahun, datang ke ke puskesmas diantar ibunya dengan keluhan pendengaran pada telinga kirinya terganggu sejak 2 hari yang lalu. Anak juga merasa telinga terasa penuh. Anak menyangkal adanya riwayat demam, keluar cairan dari telinga, maupun nyeri telinga. TTV dbn. Pada pemeriksaan otoskop tampak adanya massa kecoklatan yang memenuhi CAE AS, membran timpani tidak dapat dievaluasi. Diagnosis? A. OE sirkumskripta B. OE difusa C. Otomikosis D. Serumen obsturans E. Hematom aurikula 103
  • 104.
    MED+ QUIZ – 2 Anaklaki-laki, 10 tahun, datang ke ke puskesmas diantar ibunya dengan keluhan pendengaran pada telinga kirinya terganggu sejak 2 hari yang lalu. Anak juga merasa telinga terasa penuh. Anak menyangkal adanya riwayat demam, keluar cairan dari telinga, maupun nyeri telinga. TTV dbn. Pada pemeriksaan otoskop tampak adanya massa kecoklatan yang memenuhi CAE AS, membran timpani tidak dapat dievaluasi. Diagnosis? A. OE sirkumskripta B. OE difusa C. Otomikosis D. Serumen obsturans E. Hematom aurikula 104
  • 105.
    MED+ QUIZ – 3 Anakperempuan, 2 tahun, datang dibawa ibunya ke praktek dokter dengan keluhan utama anak demam dan rewel sejak 2 hari yang lalu. Anak juga sedang mengalami batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu. TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 100 x/menit, RR 40 x/menit, suhu 38,5 C. Pada pemeriksaan AD dijumpai CAE dalam batas normal, MT intak, tampak hiperemis dan menonjol. Apakah diagnosis pasien tersebut? a. OMA perforasi b. OMA supuratif c. OMSK tipe aman d. OMSK tipe bahaya e. Otitis media efusi 105
  • 106.
    MED+ QUIZ – 3 Anakperempuan, 2 tahun, datang dibawa ibunya ke praktek dokter dengan keluhan utama anak demam dan rewel sejak 2 hari yang lalu. Anak juga sedang mengalami batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu. TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 100 x/menit, RR 40 x/menit, suhu 38,5 C. Pada pemeriksaan AD dijumpai CAE dalam batas normal, MT intak, tampak hiperemis dan menonjol. Apakah diagnosis pasien tersebut? a. OMA perforasi b. OMA supuratif c. OMSK tipe aman d. OMSK tipe bahaya e. Otitis media efusi 106
  • 107.
    Laki-laki, 30 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan tidak dapat mendengar setelah melakukan latihan menembak. Pasien merupakan seorang polisi, pasien mengaku pada saat berlatih menembak tidak menggunakan alat pelindung diri. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan otoskopi ADS dalam batas normal. Diagnosis yang mungkin? A. Trauma akustik akut B. Idiopatik SNHL C. Perforasi membran timpani D. Timpanosklerosis E. Noise-induced hearing loss MED+ QUIZ – 4
  • 108.
    Laki-laki, 30 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan tidak dapat mendengar setelah melakukan latihan menembak. Pasien merupakan seorang polisi, pasien mengaku pada saat berlatih menembak tidak menggunakan alat pelindung diri. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan otoskopi ADS dalam batas normal. Diagnosis yang mungkin? A. Trauma akustik akut B. Idiopatik SNHL C. Perforasi membran timpani D. Timpanosklerosis E. Noise-induced hearing loss MED+ QUIZ – 4
  • 109.
    Perempuan, 44 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan pusing berputar. Hal ini dialami hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai penurunan pendengaran dan rasa penuh pada telinga. Pasien juga mendengar adanya suara berdenging pada telinga. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan lokalisata ADS dalam batas normal. Diagnosis yang mungkin? a. Labirinitis b. Otosklerosis c. Meniere’s disease d. BPPV e. Tumor serebri MED+ QUIZ – 5
  • 110.
    Perempuan, 44 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan pusing berputar. Hal ini dialami hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai penurunan pendengaran dan rasa penuh pada telinga. Pasien juga mendengar adanya suara berdenging pada telinga. Pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan lokalisata ADS dalam batas normal. Diagnosis yang mungkin? a. Labirinitis b. Otosklerosis c. Meniere’s disease d. BPPV e. Tumor serebri MED+ QUIZ – 5
  • 111.
  • 112.
    KELAINAN PADA HIDUNG RinitisRhinosinusitis Epistaksis Polip Nasi Benda Asing Hidung Deviasi Septum 112
  • 113.
    Rinitis Definisi • Proses inflamasiyang terjadi di rongga hidung tanpa melibatkan struktur sinus paranasal. Manifestasi Klinis • Rinore anterior atau posterior, bersin, hidung tersumbat, dan hidung gatal. Klasifikasi • Akut : < 4 minggu • Kronis : > 12 minggu 113 4 A 3 A
  • 114.
    Rinitis 114 Rinitis Akut Rinitis Virus Rinitis Bakterial RinitisAkibat Zat Iritatif Kronis Rinitis Kronis Simpleks Rinitis Hipertrofi Rinitis Atrofi Rinitis Sicca 4 A 3 A Klasifikasi
  • 115.
    Rinitis Virus 115 Definisi • Infeksipada hidung oleh karena virus (Disebut juga selesma, common cold, coryza) Etiologi • Adenovirus, Picornavirus dan subgrupnya seperti Rhinovirus, Coxsackie virus dan Enteric cytopathic human orphan virus (ECHO virus), Virus influenza A, B, C • Dapat disertai dengan infeksi sekunder bakteri 🡪 Streptococcus hemolyticus, Pneumococcus, Haemophylus influenza, Klebsiella pneumoniae, dan Moraxella catharralis. • Rinitis pada penyakit eksantema seperti rubella (campak Jerman) dan varisela (cacar air) juga termasuk dalam rinitis virus. 4 A
  • 116.
    Rinitis Virus 116 4 A Gejala Klinis •Stadium prodromal : rasa panas di belakang hidung disusul dengan hidung tersumbat, keluar ingus encer dan bersin-bersin. Dapat disertai dengan demam dan nyeri kepala. • Kerusakan mukosa hidung oleh karena virus akan meningkatkan kolonisasi bakteri 🡪 mengubah konsistensi sekret dari jernih menjadi mukopurulen. Pemeriksaan • Pada pemeriksaan rinoskopi anterior, tampak mukosa edema. • Mukosa dapat berwarna pucat atau merah muda. • Sekret seromukus (encer)
  • 117.
    Rinitis Virus Tatalaksana • Istirahat •Minum banyak cairan • Cuci hidung dengan larutan garam • Simtomatis 🡪 antihistamin, dekongestan, analgetik/antipiretik • Antibiotik 🡪 bila ada infeksi sekunder 117 4 A
  • 118.
    Rinitis Bakterial 118 Definisi • Infeksipada hidung oleh karena bakteri, dapat terjadi secara primer maupun sekunder. Etiologi • Rinitis bakterial primer sering terjadi pada anak-anak 🡪 golongan Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus. • Rinitis bakterial sekunder biasanya terjadi pada kasus rinitis virus. 4 A
  • 119.
    Rinitis Bakterial 119 Gejala Klinis •Serupa dengan rinitis virus, yaitu adanya rinorea, hidung tersumbat, bersin-bersin dan disertai gejala umum malaise dan demam. Pemeriksaan • Pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat mukosa edema dan hiperemis. • Sekret hidung pada awalnya encer, tetapi menjadi kental dan berwarna kekuningan (mukopurulen) setelah beberapa hari. 4 A
  • 120.
    Rinitis Bakterial Tatalaksana • Umumnyasama dengan rinitis virus • Istirahat • Pada anak 🡪 istirahatkan dirumah agar tidak menularkan teman • Cuci hidung dengan larutan garam • Simtomatis 🡪 antipiretik, antihistamin, dekongestan (awal) • Jika setelah 3 - 5 hari gejala memberat 🡪 berikan Antibiotik (amoksisilin, eritromisin) 120 4 A
  • 121.
    Rinitis Kronis Simpleks Definisi •Rinitis akibat serangan berulang dari rinitis akut dengan adanya faktor predisposisi • Rinitis kronis simpleks merupakan stadium awal dari rinitis hipertrofi. Faktor Predisposisi • Infeksi hidung persisten oleh karena adanya sinusitis, tonsilitis, atau hipertrofi adenoid • Iritasi kornis dari debu, asap, polusi udara, merokok, zat kimia. • Obstruksi hidung akibat deviasi septum • Rinitis vasomotor • Faktor endokrin dan hormonal Gejala Klinis • Hidung sumbat. Jika berbaring miring, rongga hidung sisi bawah yang tersumbat • Sekret hidung (mukoid) • Sakit kepala • Post Nasal Drip 121 3 A
  • 122.
    Rinitis Kronis Simpleks Pemeriksaan •Pada pemeriksaan rinoskopi anterior 🡪 konka bengkak dan berwarna kemerahan. • Bila dilakukan pemasangan tampon dengan vasokonstriktor 🡪 konka inferior akan mengempis • Rinoskopi posterior 🡪 sekret mukoid • Pemeriksaan tenggorok 🡪 penebalan dinding lateral faring Tatalaksana •• Cuci hidung dengan larutan garam 🡪 membersihkan sekret •• Simtomatis 🡪 antihistamin, dekongestan •• Antibiotik 🡪 mengatasi infeksi sekunder dan sinusitis •• Mengatasi penyebabnya (kelainan sinus, tonsil, adenoid, alergi, merokok, lingkungan dan tempat kerja) 122 3 A
  • 123.
    Rinitis Hipertrofi Definisi • Rinitishipertrofi ditandai dengan adanya penebalan mukosa, jaringan submukosa, kelenjar-kelenjar seromusinosa, periosteum, dan tulang. Etiologi • Infeksi hidung berulang • Sinusitis kronis • Iritasi kronis pada mukosa hidung oleh karena merokok, iritan pabrik • Penggunaan obat tetes hidung jangka lama • Rinitis vasomotor dan alergi. • Deviasi septum 🡪 rinitis hipertrofi pada satu sisi Gejala • Hidung tersumbat dengan sekret banyak dan mukopurulen • Sakit kepala, anosmia/hiposmia, gangguan tidur 123 3 A
  • 124.
    Rinitis Hipertrofi Pemeriksaan • Rinoskopianterior • Konka hipertrofi (konka inferior) • Mukosa konka tebal, teraba keras, dan adanya permukaan yang berbenjol-benjol. • Pada saat diberikan tampon dengan vasokonstriktor 🡪 tidak terjadi pengempisan oleh karena adanya fibrosis. Tatalaksana • Mencari dan menangani penyebab terjadinya penyakit. • Sumbatan hidung dapat dihilangkan dengan cara mengecilkan konka, yaitu dengan cara: • Kauterisasi linear • Diatermi submukosa • Cryosurgery • Turbinektomi parsial atau total. • Reseksi submukosa tulang konka. • Operasi konka dengan sinar laser 124 3 A
  • 125.
    Rinitis Atrofi (Ozaena) Definisi •Infeksi hidung kronis akibat gangguan klirens mukosilier yang ditandai dengan adanya atrofi pada mukosa hidung dan tulang-tulang konka Gejala Klinis • Hidung berbau busuk • Sekret kental berwarna hijau disertai krusta • Gangguan penghidu, sakit kepala • Hidung tersumbat meskipun rongga hidung menjadi lapang Pemeriksaan • Rinoskopi anterior • Rongga hidung yang sangat lapang • Konka inferior dan media terlihat pucat, mengkilat dan kering, tipis, serta hipotrofi/atrofi • Krusta dapat berwarna hijau atau hitam keabu-abuan yang menutupi konka dan septum, berdarah bila diangkat 125 3 A
  • 126.
    Rinitis Atrofi (Ozaena) Tatalaksana •Irigasi hidung dan pembersihan krusta • Glukosa 25% dalam gliserin • Antibiotik 🡪 golongan kuinolon atau antibiotik yang sesuai dengan sensitivitas pada kultur kuman / Suntikan streptomisin 1 gr/hari selama 10 hari • Pembedahan 🡪 jika pengobatan medikamentosa tidak ada perbaikan, • Operasi Young 126 3 A
  • 127.
    Rinitis Sicca Etiologi • Rinitispada pekerja di tempat berudara panas, kering, dan berdebu, misalnya: pabrik roti, pandai besi, pandai emas, atau pekerja di pabrik semen. • Kelainan terjadi pada sepertiga anterior hidung, terutama septum nasi. Gejala Klinis • Krusta di sepertiga anterior septum nasi, yang saat diangkat mudah berdarah dan dapat menyebabkan perforasi septum. Tatalaksana • Perbaikan lingkungan kerja • Cuci hidung dengan larutan garam • Salep antibiotic dengan steroid pada mukosa septum yang terkena • Hindari mengorek hidung / melepas krusta dengan paksa 127 3 A
  • 128.
    Rinitis Alergi Definisi • Rinitisalergi adalah suatu reaksi imunologis (Hipersensitivias tipe I) pada mukosa hidung yang diperantarai oleh IgE setelah terhirupnya alergen • Memiliki gejala keluar cairan dari hidung, hidung tersumbat, hidung gatal, serta bersin-bersin Klasifikasi / Tipe • Seasonal Allergic Rhinitis (SAR)/hayfever, polinosis/rinokonjungtivitis: gejalanya muncul karena trigger yang musiman, biasanya pada negara 4 musim. Alergen: serbuk sari, spora jamur • Perennial Allergic Rhinitis (PAR): Gejala muncul hampir sepanjang tahun. Alergen yang sering inhalan (indoor atau outdoor) dan allergen ingestan 128 4 A
  • 129.
    Rinitis Alergi 129 4 A Berdasarkan DerajatSerangan Ringan Sedang – Berat TIDAK ditemukan gangguan tidur, aktivitas harian, pekerjaan, maupun gejala yang mengganggu. Bila terdapat satu atau lebih gejala tersebut Berdasarkan Frekuensi Serangan Intermiten Persisten <4 hari/minggu ATAU <4 minggu berturut-turut >4 hari/minggu DAN >4 minggu berturut-turut Derajat Keparahan
  • 130.
    Pemeriksaan Fisik •• Rinoskopianterior 🡪 mukosa edem, basah, livid, sekret encer yang banyak •• Allergic Shinner: stasis vena oleh karena obstruksi hidung •• Allergic sallute: gerakan sering gosok hidung •• Allergic crease: garis melintang dorsum nasi 1/3 bawah •• Facies adenoid: karena mulut sering terbuka •• Cobblestone appearance: dinding post faring granuler dan edema •• Geographic tongue Rinitis Alergi 130 Allergic Shinner Allergic Salute Allergic Crease 4 A
  • 131.
    Rinitis Alergi Pemeriksaan Penunjang ••Skin Prick Test •• Tes IgE spesifik 🡪 (radioallergosorbent tests [RASTs]) •• Tes Eosinofil darah 131 TES IgE SPESIFIK SKIN PRICK TEST 4 A
  • 132.
    Tatalaksana Rinitis Alergi 132 GolonganContoh Obat H1-antagonis generasi 2 • Cetirizine 10 mg 1x1 • Loratadine 10 mg 1x1 Dekongestan • Nasal: Phenylephrine 0.5% 4x2 tetes/hari (max 3-4 hari) • Sistemik: pseudoephedrine 60 mg 2x1 Steroid • Fluticasone spray • Mometasone spray Leukotriene inhibitor • Zafirlukast Rinitis Alergi Intermitten Ringan Anti-Histamin Sedang - Berat Anti histamin + Dekongestan Intranasal Persisten Ringan Anti histamin + Dekongestan Intranasal Sedang - Berat Kortikosteroid Intranasal
  • 133.
    Rinitis Vasomotor Definisi •Keadaan idiopatikyang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, gangguan hormonal ataupun riwayat pajanan obat Etiologi •Idiopatik. Sering dipicu oleh rangsangan yang tidak spesifik seperti ASAP, DEBU, STESS/PIKIRAN, KELELAHAN Diagnosis •Anamnesis: HIDUNG TERSUMBAT BERGANTIAN (KANAN DAN KIRI GONTA GANTI) tergantung posisi pasien •Rinoskopi anterior: edema mukosa hidung, konka gelap atau merah tua dengan permukaan licin; konka hipertrofi disertai secret •Pemeriksaan penunjang: eosinophilia ringan/normal, tes alergi (-) Tatalaksana •Menghindari stimulus/rangsangan •Simptomatis: dekongestan oral, steroid topical, antikolinergik topical •Operasi (elektrokauter, bedah-beku) •Neurektomi nervus vidianus 133 4 A
  • 134.
    Diagnosa Banding 134 Rinitis AlergiRinitis Vasomotor Mulai serangan Belasan tahun Dekade ke 3-4 Riwayat terpapar allergen (+) Riwayat terpapar allergen (-) Etiologi Reaksi Ag-Ab terhadap rangsangan spesifik Reaksi neurovaskuler terhadap beberapa rangsangan mekanis atau kimia, juga faktor psikologis Gatal & Bersin Menonjol Tidak menonjol Gatal dimata Sering dijumpai Tidak dijumpai Test kulit Positif Negatif Sekret hidung Peningkatan eosinofil Eosinofil tidak meningkat Eosinofil darah Meningkat Normal Ig E darah Meningkat Tidak meningkat Neurektomi N.Vidianus Tidak memebantu Membantu
  • 135.
    Rinitis Medikamentosa 135 Definisi • Rinitismedikamentosa atau rebound congestion terjadi akibat inflamasi dari pada mukosa nasal yang disebabkan oleh penggunaan dekongestan nasal yang berlebihan. Mekanisme • Penggunaan dekongestan nasal yang mengandung efedrin memiliki efek yang simpatis sehingga menimbulkan vasokontriksi melalui aktivasi adrenoreseptor alfa-1. Tata laksana • Penghentian dekongestan nasal • Kortikosteroid intranasal • Antihistamin oral 4 A
  • 136.
    Rinosinusitis Definisi Etiologi • Rinosinusitisadalah peradangan pada mukosa hidung (rinitis) dan mukosa sinus paranasal (sinusitis) yang terjadi secara bersamaan • Penyebab paling sering 🡪 infeksi virus. 136 Klasifikasi Durasi Akut < 12 minggu Kronis > 12 minggu 3 A 2
  • 137.
    Rinosinusitis Akut Kriteria Diagnosis Ditegakkanberdasarkan gejala klinis 🡪 < 12 minggu Ditegakkan apabila terdapat dua atau lebih gejala berikut: • Kongesti hidung ATAU terdapat sekret pada hidung (Post Nasal Drip) • +/- nyeri pada wajah • +/- hiposmia atau anosmia • Pada anak 🡪 kongesti hidung ATAU sekret berubah warna ATAU batuk 137 2
  • 138.
    Rinosinusitis Kronis Kriteria Diagnosis Ditegakkanapabila terdapat minimal SATU dari gejala berikut: • Kongesti hidung • Sekret pada hidung Dan ditemukan minumal SATU dari pemeriksaan endoskopi: • Polip nasal • Cairan mukopurulen dari meatus media • Edema/obstruksi mukosa terutama pada meatus media DAN/ATAU ditemukan dalam CT scan: • Perubahan mukosa dalam kompleks osteomeatal dan/atau sinus 138 3 A
  • 139.
    Rinosinusitis Pemeriksaan penunjang •• FOTOPOLOS: Posisi waters, Caldwell, lateral (dapat menilai sinus-sinus besar) seperti sinus maksila dan frontal • Kelainan yang tampak: perselubungan, air fluid level, penebalan mukosa •• CT SCAN: 🡪 GOLD STANDARD • CT Scan Paranasal / potongan coronal 139 WATER’S RONTGEN CALDWELL’S RONTGEN CT SCAN SINUS PARANASAL 3 A 2
  • 140.
    Rinosinusitis Tatalaksana Farmakologi • Cuci hidungdengan cairan salin • Glukokortikoid intranasal • Antibiotik • Simptomatis 🡪 dekongestan, antihistamin, mukolitik Pembedahan • Operasi FESS (Functional Endoscopy Sinus Surgery) •• Untuk sinusitis kronik yang TIDAK MEMBAIK •• Terdapat kista (+) •• Kelainan ireversibel •• Polip yang banyak •• Komplikasi (kelainan orbita, intracranial, infeksi tulang, infeksi jamur 140 3 A 2
  • 141.
  • 142.
    Epistaksis EPISTAKSIS ANTERIOR EPISTAKSISPOSTERIOR Sumber Perdarahan Plexus Kiesselbach / A. Etmoidalis anterior A. Sfenopalatina / A. Etmoidalis posterior Etiologi Trauma Penyakit sistemik Gejala Klinis Perdarahan cepat berhenti dan dapat berhenti sendiri. Dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana Perdarahan lama dan sulit berhenti spontan Dapat menetes ke orofaring Tata Laksana • Lakukan Trotter’s method 🡪 penekanan pada hidung selama 10-15 menit • Apabila tidak berhenti 🡪 Tampon Anterior (dengan atau tanpa epinefrin) selama 48 jam • Apabila sumber perdarahan terlihat jelas 🡪 Kauter dengan AgNO3 15-25% • Pemasangan Tampon Bellocq (tampon posterior) selama 48-72 jam • KI 🡪 trauma fasial 🡪 alternatif: kateter folley dengan balon 142 4 A
  • 143.
    Epistaksis 143 HAL YANG HARUSDIPERHATIKAN DALAM MEMASANG TAMPON: • Tampon tidak boleh mengenai kolumela, mudah trauma • Ujung tampon tidak boleh ada yang keluar ke orofaring • Pasang kasa + plester di anterior • Pemasangan tampon hidung bilateral, diberi O2 yang dihumidifikasi dan diobservasi • Beri antibiotik profilaksis selama pemasangan tampon Tampon Anterior Tampon Posterior 4 A
  • 144.
    Polip Nasi • Massalunak dan berwarna putih / keabu-abuan yang terdapat pada rongga hidung, bertangkai dengan permukaan licin • Timbul di usia dewasa usia >20 tahun dan lebih sering usia >40 tahun. • Laki – laki : Perempuan = 2 - 3 : 1 • Berasal dari kompleks ostiomeatal di meatus media dan sinus ethmoid 144 Predisposisi: • Rinitis alergi • Sinusitis kronik • Iritasi • Kelainan anatomi hidung: deviasi septum, hipertrofi konka Gejala: • Hidung terasa tersumbat; progresif • Gangguan penciuman • Nyeri kepala 2
  • 145.
    Polip Nasi Mackay andLund • Stadium 1 🡪 polip masih terbatas di meatus medius • Stadium 2 🡪 polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung, tetapi belum memenuhi rongga hidung • Stadium 3 🡪 polip masif 145 Meltzer et. al. • Stadium 0 🡪 Tidak tampak polip nasal • Stadium 1 🡪 Tampak polip kecil di meatus media • Stadium 2 🡪 Polip multiple di meatus media • Stadium 3 🡪 Polip memenuhi meatus media • Stadium 4 🡪 Polip mengobstuksi seluruh kavitas nasal 2 Stadium
  • 146.
    Polip Nasi Tata Laksana Medikamentosa •Kortikosteroid INTRANASAL 🡪 FIRST LINE TREATMENT • Fluticasone 2 x 200 mcg, Budesonide 2 x 200 mcg, Mometasone 1 x 280 mcg • Antileukotriene • Antihistamine • Cuci hidung setiap harinya secara teratur dengan cairan fisiologis Operatif • Indikasi: untuk anak dengan multipel polip, benign polip nasi atau rinosinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa • Polipektomi • ESS (Endoscopic Sinus Surgery) 🡪 melebarkan celah di meatus media 🡪 rekuransi berkurang 146 2
  • 147.
    Benda Asing Hidung Tandadan gejala • Biasanya dialami oleh anak anak • Sumbatan pada hidung 🡪 unilateral • Sekret mukus/mukopurulen berbau busuk • Penurunan fungsi penciuman Etiologi • Organik 🡪 lintah, larva lalat • Anorganik 🡪 manik-manik, baterai, kertas, batu kerikil 147 4 A
  • 148.
    Benda Asing Hidung TataLaksana •Lintah 🡪 matikan terlebih dahulu dengan larutan tembakau •Graspable 🡪 alligator forcep •Non-graspable 🡪 hook/suction Komplikasi •Epistaksis •Sinusitis •Perforasi septum 148 4 A
  • 149.
    Deviasi Septum Definisi • Septumnasi merupakan dinding vertikal di dalam hidung yang tersusun oleh tulang rawan di bagian depan dan tulang di belakang. Septum nasi membagi bagian dalam hidung menjadi dua. • Deviasi septum nasi merupakan bentuk septum yang letaknya tidak lurus di tengah Etiologi • Abnormalitas perkembangan • Trauma • Massa Manifestasi Klinis •Deformitas 🡪 cavum nasi lebih besar pada salah satu sisi •Hidung tersumbat menahun •Infeksi sinus berulang 149 2
  • 150.
  • 151.
    Deviasi Septum Tata Laksana •Septoplasti • Indikasi septoplasti secara klinis: • sumbatan hidung bilateral maupun unilateral, • epistaksis yang persisten maupun rekuren, • nyeri kepala akibat contact point dengan deviasi septum 151 2
  • 152.
    Hematoma Septum Definisi Etiologi •Kumpulan darah di dalam septum hidung. Septum adalah bagian hidung di antara lubang hidung. • Etiologi: • Fraktur hidung • Operasi atau cedera pada area jaringan lunak Manifestasi Klinis • Hidung tersumbat, nyeri • Pembengkakan septum hidung unilateral / bilateral • Deviasi hidung • Demam lebih sering terjadi pada anak-anak 🡪 septum lebih tebal dan lapisannya lebih lentur
  • 153.
    Hematoma Septum Tatalaksana • Insisidrainase 🡪 mencegah nekrosis tulang rawan • Antibiotik IV 🡪 mencegah infeksi sekunder Komplikasi • Nekrosis tulang rawan • Abses septum • Saddle nose 🡪 (Tatalaksana : operatif)
  • 154.
  • 155.
    MED+ QUIZ – 6 Laki-laki,40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri pada pipi kanannya. Hal ini dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri terutama dirasakan saat pasien menyentuh wajahnya saat mencuci muka. Pasien juga merasakan hidung yang sering tersumbat dengan ingus berwarna hijau kental berbau tidak sedap. TTV dbn. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan pada region maxillaris kanan dan pada pemeriksaan rinoskopi posterior dijumpai post-nasal drip. Pemeriksaan yang sesuai? a. CT Scan kepala b. X-ray Waters c. X-ray Towne d. MRI kepala e. Endoskopi nasal 155
  • 156.
    MED+ QUIZ – 6 Laki-laki,40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri pada pipi kanannya. Hal ini dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri terutama dirasakan saat pasien menyentuh wajahnya saat mencuci muka. Pasien juga merasakan hidung yang sering tersumbat dengan ingus berwarna hijau kental berbau tidak sedap. TTV dbn. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan pada region maxillaris kanan dan pada pemeriksaan rinoskopi posterior dijumpai post-nasal drip. Pemeriksaan yang sesuai? a. CT Scan kepala b. X-ray Waters c. X-ray Towne d. MRI kepala e. Endoskopi nasal 156
  • 157.
    MED+ QUIZ – 7 Laki-laki,22 tahun, datang ke RS dengan keluhan utama berupa hidung sering tersumbat. Hal ini telah dialami sejak ia pindah ke kota B untuk bekerja 6 bulan yang lalu. Pasien juga sering mengalami bersin dan pilek. Keluhan pasien dirasakan semakin memberat saat pasien naik ojek online. Riwayat kakak kandung pasien memiliki asma. Pada pemeriksaan rinoskopi dijumpai konka edema dan berwarna lividae. Diagnosis yang mungkin? A. Rhinitis vasomotor B. Rhinitis alergi C. Rhinitis medikamentosa D. Rhinitis akut E. Rhinitis kronik 157
  • 158.
    MED+ QUIZ – 7 Laki-laki,22 tahun, datang ke RS dengan keluhan utama berupa hidung sering tersumbat. Hal ini telah dialami sejak ia pindah ke kota B untuk bekerja 6 bulan yang lalu. Pasien juga sering mengalami bersin dan pilek. Keluhan pasien dirasakan semakin memberat saat pasien naik ojek online. Riwayat kakak kandung pasien memiliki asma. Pada pemeriksaan rinoskopi dijumpai konka edema dan berwarna lividae. Diagnosis yang mungkin? A. Rhinitis vasomotor B. Rhinitis alergi C. Rhinitis medikamentosa D. Rhinitis akut E. Rhinitis kronik 158
  • 159.
    Laki-laki, 50 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan hidung berdarah sejak 1 jam yang lalu. Perdarahan tidak berhenti walaupun pasien telah memencet hidungnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital dijumpai TD 190/120 mmHg, N 90 x/menit, RR 18 x/menit, suhu 37,2 C. Pemeriksaan fisik dijumpai perdarahan aktif dari hidung dan juga mulut. Post-nasal bleeding (+). Sumber perdarahan tidak dapat divisualisasi Tata laksana? a. Ligasi dengan AgNO3 b. Tampon anterior c. Tampon bellocq d. Tampon anterior dan bellocq e. Memencet hidung dengan posisi kepala menunduk MED+ QUIZ – 8
  • 160.
    Laki-laki, 50 tahun,datang ke IGD RS dengan keluhan hidung berdarah sejak 1 jam yang lalu. Perdarahan tidak berhenti walaupun pasien telah memencet hidungnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital dijumpai TD 190/120 mmHg, N 90 x/menit, RR 18 x/menit, suhu 37,2 C. Pemeriksaan fisik dijumpai perdarahan aktif dari hidung dan juga mulut. Post-nasal bleeding (+). Sumber perdarahan tidak dapat divisualisasi Tata laksana? a. Ligasi dengan AgNO3 b. Tampon anterior c. Tampon bellocq d. Tampon anterior dan bellocq e. Memencet hidung dengan posisi kepala menunduk MED+ QUIZ – 8
  • 161.
  • 162.
    KELAINAN PADA TENGGOROKAN TonsilitisFaringitis Laringitis Tumor Jinak Laring Obstructive Sleep Apnea Hipertrofi Adenoid Tertelan benda asing 162
  • 163.
    Tonsilitis Tonsilitis adalah peradanganpada tonsil palatina yang merupakan bagian dari Cincin Waldeyer CINCIN WALDEYER • Tonsil Pharyngeal (Adenoid) • Tonsil Palatina (Faucial) • Tonsil Lingual (Tonsil pangkal Lidah) • Tonsil Tuba Eustachius (Lateral Band dinding faring/Gerlach’s Tonsil) 163 • Dapat terjadi pada semua umur, terutama anak-anak • Hingga usia 6 tahun, tonsil HIPERPLASTIK 🡪 akan mengecil seiring usia 4 A
  • 164.
    Tonsilitis Akut Patogenesis • Infiltrasibakteri pada epitel jaringan tonsil menimbulkan radang berupa keluarnya leukosit. Terbentuk detritus, yang terdiri dari • Kumpulan leukosit • Bakteri yang mati • Epitel yang lepas Ada 2 Bentuk Berdasarkan Detritus • Tonsilitis folikularis: bercak detritus jelas seperti folikel • Tonsilitis lakunaris: bercak detritus menjadi satu berbentuk alur-alur 164 TONSILITIS FOLIKULARIS TONSILITIS LAKUNARIS 4 A
  • 165.
    Tonsilitis Akut Gejala Klinis •Nyeri menelan (odinofagia) • Demam tinggi • Lesu, nyeri sendi • Anoreksia • Otalgia (reffered pain) melalui Nervus Glossofaring Pemeriksaan Fisik • Tonsil membengkak, hiperemis, detritus berbentuk folikular dan lakuna • Pembesaran kelenjar limfe submandibula dan nyeri tekan 165 4 A
  • 166.
    Tonsilitis Kronis Patogenesis •Proses radangberulang yang terjadi 🡪 epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis 🡪 proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang akan mengalami pengerutan 🡪 KRIPTA MELEBAR. •Kripta secara klinis DIISI OLEH DETRITUS Gejala Klinis •Rasa ada mengganjal di tenggorok •Napas berbau •Demam (-) / Nyeri (-) Tanda Klinis •Tonsil bisa membesar, permukaan yang tidak rata •Kripta melebar 🡪 KRIPTA BERISI DETRITUS •Plika anterior hiperemis •Sikatriks / perlengketan •Pembesaran Kel. Submandibula 166 4 A
  • 167.
    Tonsilitis Kronis Terapi • TerapiLokal : Higiene mulut 🡪 Obat kumur • TONSILEKTOMI JIKA SUDAH ADA INDIKASI Komplikasi • Komplikasi ke daerah sekitar tonsil • Rhinitis kronik • Sinusitis • Otitis media • Komplikasi jauh secara hematogen atau limfogen. • Endokarditis, arthritis, nefritis dll 167 INDIKASI RELATIF • Infeksi tonsil 3 atau lebih per tahun walaupun terapi adekuat • Halitosis persisten • Tonsilitis kronik atau rekuren pada karier Streptcoccus yang tidak respon dengan antibiotik resisten beta laktamase • Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai neoplasma INDIKASI ABSOLUT • Sumbatan jalan napas, disfagia berat, gangguan tidur atau komplikasi kardiopulmoner • Abses peritonsil yang tidak respon dengan pengobatan • Tonsilitis yang disertai dengan kejang demam • Biopsi 4 A
  • 168.
    Modified Centor Score 168 •Alat diagnostik berupa sistem penilaian klinis untuk memprediksi faringitis SBHGA. • Skor >1 🡪 Kemungkinan disebabkan oleh SBHA 🡪 Penggunaan antibiotik
  • 169.
    Tonsilitis 169 Akut Kronis Gejala Klinis Demam Odinofagia Nyeritenggorok Disfagia Halitosis Pemeriksaan Fisik Detritus + Tonsil membesar hiperemis Kripta melebar Pembesaran tonsil, (-) hiperemis Tatalaksana 1. Oral hygine 🡪 obat kumur 2. Antibiotik 🡪 centor score • Benzatin Penicillin G IM (600.000 u/BB≤27kg; 1,2 juta u/BB>27kg) • Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali sehari selama 10 hari (anak) atau pada dewasa 3 x 500 mg selama 10 har • Eritromisin 4 x 500 mg selama 10 hari • Tonsilektomi 🡪 sesuai indikasi
  • 170.
    Tonsilitis Difteri Definisi • Peradanganpada tonsil oleh Corynebacterium diphteriae Etiologi • Corynebacterium diphteriae, dengan karakteristik: • Gram positif, berbentuk batang (drum stick), non motil • Menghasilkan ektotoksin Manifestasi Klinis • Demam • Pembengkakan tonsil • Terdapat pseudomembran yang apabila diangkat mudah berdarah • Bullneck • Eksotoksin 🡪 miokarditis, kelumpuhan otot pernapasan 170 3 B
  • 171.
    Tonsilitis Difteri Pemeriksaan Penunjang •Kultur dengan media blood tellurite 🡪 Gold standard • Pemeriksaan gram • EKG 🡪 menilai komplikasi pada jantung Tatalaksana • Isolasi • Amankan jalan napas • Antibiotik •• Penicilin Prokain 25.000 – 50.000 IU/KgBB/hari selama 14 hari •• Eritromisin 40 mg/KgBB/hari selama 14 hari • Anti Difteri Serum (ADS) 171 Tipe Dosis Kulit dan Hidung 20.000 IU Tonsil, faring, laring 40.000 IU Nasofaring 60.000 IU Kombinasi diatas, tanpa melibatkan hidung/ nasal 80.000 IU (+) penyulit/disertai bullneck 80.000-100.000 IU Terlambat berobat (>72 jam) 80.000-100.000 IU 3 B
  • 172.
    Faringitis Akut Definisi •• Faringitismerupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain. •• Frekuensi munculnya faringitis lebih sering pada populasi anak-anak. Etiologi •• Sering bersama-sama dengan tonsilitis akut •• Penularan secara DROPLET INFECTION •• Etiologi : Streptococcus β hemoliticus, Streptococcus viridans, Streptococcus pyogenes, Virus Influenza , Adenovirus •• *infeksi Streptococcus B hemolitikus sering dikaitkan dengan Penyakit Jantung Rematik 172 4 A
  • 173.
    Faringitis Akut Gejala Klinis •Nyeri tenggorok / sakit menelan • Demam • Tanda klinik : faring hiperemis, oedem Pemeriksaan • Swab tenggorok • Pewarnaan GraM • Kultur 🡪 GOLD STANDARD Tatalaksana • Antibiotik • Analgetik • Istirahat • Oral hygiene 173 TATALAKSANA FARINGITIS AKIBAT INFEKSI STREPTOCOCCUS GRUP A Oral Penisilin 3 x 500 mg (10 hari) Amoksisilin 2 x 500 mg (10 hari) Inj Benzathin G Penicillin 1,2 juta IU Jika resisten atau hipersensitifitas beta laktam Azitromisin 1 x 500 mg; dilanjutkan 1 x 250 mg (5 hari) 4 A
  • 174.
    Faringitis 174 Viral Bakterial Jamur EtiologiRhinovirus, Influenza virus, Coxsackie, Adenovirus Streptococcus pyogens Candida albicans Gejala Klinis • Tenggorokan gatal dan nyeri • Disfagia • Demam • Tenggorokan nyeri • Disfagia • Demam suhu tinggi • Tenggorokan nyeri • Odinofagia Pemeriksaan Fisik • Mukosa hidung dan faring tidak hiperemis • Sekret jernih • Faring hiperemis dengan eksudat di permukannya • Dapat disertai pembengkakan dan nyeri KGB Tampak bercak putih dan luka kecil pada mukosa mulut dan orofaring Tatalaksana • Istirahat, banyak minum air putih, makanan lunak • Simptomatis 🡪 antipiretik/analgetik • Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 x/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500 mg selama 6-10 hari • Eritromisin 4x500 mg/hari • Kumur antiseptik • Tetes nystatin 100.000-400.000 IU, 2-3x/hari
  • 175.
    Faringitis Kronis ADA 4BENTUK : • Faringitis kronis Atrofi • Faringitis kronis Hiperplastik • Faringitis kronis luetika • Faringitis kronis TB FAKTOR PREDISPOSISI : • Infeksi dari hidung • Merokok • Pasien bernafas melalui mulut GEJALA UMUM: • Rasa kering, rasa mengganjal di tenggorokan • Batuk persisten • Nyeri menelan 175 4 A
  • 176.
    Faringitis Kronis Atrofi Etiologi •Sering bersamaan dengan rinitis atrofi • Rinitis atropi menyebabkan udara yang masuk berkurang kelembabannya 🡪 merangsang dinding faring Gejala Klinis • Tenggorokan kering • Mulut bau (Halitosis) • Mukosa faring ditutup lendir yang kental 🡪 kalau diangkat tampak mukosa kering Tatalaksana • Obati penyebab 🡪 rinitis atrofi • Obat kumur-kumur • Menjaga kebersihan mulut 176 4 A
  • 177.
    Faringitis Kronis Hiperplastik GejalaKlinis • Rasa gatal dan kering di tenggorok • Batuk-batuk Tanda Klinis • Mukosa dinding posterior tidak rata / bergranulasi • Lateral bawah hiperplasia 🡪 pasien post TE Pengobatan • Obat kumur • Kaustik AgNO3 177 4 A
  • 178.
    Faringitis Kronis Luetika Etiologi •Treponema pallidum Ada 3 Stadium • Stadium Primer : bercak keputihan pada lidah-palatum mole, tonsil, dinding posterior faring • Stadium Sekunder : jarang ditemukan • Stadium Tertier : terdapat guma jarang pada dinding posterior faring. Kalau dijumpai dan meluas ke vertebra 🡪 kalau pecah 🡪 meninggal Diagnosis • Pemeriksaan Serologi Tatalaksana • Tatalaksana kausatif 178 4 A
  • 179.
    Faringitis Kronis Tuberkulosa Etiologi •Sekunder dari TBC di paru • Infeksi terjadi secara Eksogen : kontak sputum dan Endogen: melalui darah Gejala Klinis • Nyeri menelan / odinofagia ~ nyeri yang hebat • Anoreksia • Ulkus, pembesaran kelenjar limfe Diagnosis • Biopsi • Foto thorax • Sputum Pengobatan • Anti tuberkulosa 179 4 A
  • 180.
    Faringitis 180 Kronis Hipertropik KronisAtrofi Luetika Tuberkulosa Gejala Klinis • Rasa gatal dan kering di tenggorok • Batuk-batuk • Tenggorokan kering • Mulut bau (Halitosis) • Tergantung stadium penyakit • Nyeri menelan / odinofagia 🡪 nyeri yang hebat • Anoreksia • Pembesaran kelenjar limfe Pemeriksaan Fisik Mukosa dinding posterior tidak rata dan bergranular (cobble stone) Mukosa dinding faring licin, mengkilat, permukaan ditutupi lendir kental • Stadium Primer: bercak keputihan pada lidah-palatum mole, tonsil, dinding posterior faring • Stadium Sekunder: jarang ditemukan • Stadium Tertier: terdapat guma jarang pada dinding posterior faring. Granuloma perkejuan pada mukosa faring dan laring Tatalaksana Obat kumur Kaustik AgNO3 Obat kumur Pengobatan rinitis atrofi Pengobatan Sifilis Pengobatan TB
  • 181.
    Laringitis Definisi • Inflamasi padalaring • Inflamasi🡪 edema pada pita suara 🡪 suara serak (disfonia) dan suara hilang (afonia) Klasifikasi • Laringitis akut: < 7 hari • Laringitis subakut: 7 hari – 3 minggu • Laringitis kronis: gejala menetap > 3 minggu Etiologi • Infeksi virus 🡪 penyebab tersering. Rhinovirus, parainfluenza, RSV, adenovirus • Infeksi bakteri 🡪 Moraxella catarrhalis, H. influenza, S. pneumoniae, S. aureus • Infeksi jamur 🡪 Candida albicans, Blastomyces dermatitis, Cryptococcus neoformans 181 4 A
  • 182.
    Laringitis Gejala Klinis • Demam •Gejala ISPA • Nyeri menelan (odinofagia) • Kesulitan menelan (disfagia) • Suara serak (disfonia)/suara hilang (afonia) • Pada keadaan kronis: •• Rasa mengganjal di tenggorokan •• Rasa ingin berdehem lebih sering Pemeriksaan Penunjang • Foto thorax 🡪 gambaran steeple sign • Laringoskopi 🡪 laring eritema dan edema 182 Steeple sign 4 A
  • 183.
    Laringitis Tata Laksana Farmakologis • Simptomatik🡪 Analgetik, mukolitik Non-farmakologis • Mengistirahatkan pita suara selama 3 - 7 hari • Banyak minum • Hindari rokok dan kafein 183 4 A
  • 184.
    Tumor Jinak Laring NodulPita Suara Polip Pita Suara Granuloma Etiologi Penggunaan suara yang berlebihan dalam jangka lama • Alergi, rokok • Penggunaan pita suara yang berlebihan secara tiba tiba • Cara bersuara tidak benar 🡪 vokalis aritenoid saling beradu 🡪 ulserasi / pembentukan granuloma • Reflux asam lambung Gejala Klinis Suara serak, nyeri leher saat berbicara banyak Suara serak, bila polip besar 🡪 dipsnea, stridor, tersedak, diplofonia Suara serak, sering berdehem, nyeri tenggorokan saat berbicara Pemeriksaan Fisik Pembengkakan lunak bilateral, berwarna kemerahan 🡪 mengeras, berwarna abu abu Massa lunak unilateral dengan permukaan rata, sering bertangkai, massa bisa naik turun di glotis saat bicara Ulkus bilateral/unilateral pada prosesus vokalis aritenoid + pembengkakan mukosa aritenoid Tatalaksana • Mengurangi bicara • Operasi mikrolaringoskopi • Operasi mikrolaringoskopi • Terapi wicara • Medikamentosa anti reflux • Steroid inhalasi/intralesi • Terapi wicara 184 2
  • 185.
    Nodul Pita Suara Definisi •Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan suara dalam waktu lama, misal pada seorang guru, penyanyi dan sebagainya. Manifestasi Klinis • Suara serak, nyeri saat banyak berbicara Pemeriksaan Fisik • Nodul pita suara, sebesar kacang hijau berwarna keputihan. Predileksi di sepertiga anterior pita suara dan sepertiga medial. Nodul biasanya bilateral. Tatalaksana • Istirahat bicara dan voice therapy • Kronis 🡪 bedah mikrolaring 185 2
  • 186.
    Obstructive Sleep Apnea Definisi •Gangguan pernapasan tidur yang ditandai dengan adanya obstruksi saluran napas baik secara parsial maupun komplit Faktor Risiko • Obesitas, ukuran lingkar leher, umur, jenis kelamin, hormon dan kelainan anatomi saluran nafas Gejala Klinis • Mengorok kuat, suara seperti tersedak saat tidur, tampak seperti apnea Pemeriksaan Penunjang • Polisomnografi Tatalaksana • Menurunkan berat badan • Continuous positive airway pressure (CPAP) machine 186 1
  • 187.
    Hipertrofi Adenoid Definisi •Hipertrofi adenoidmerupakan kondisi obstruktif akibat pembesaran kelenjar tonsil faringeal (adenoid). Etiopatofisiologi •Infeksi 🡪 adenovirus, coronavirus, coxsackievirus, cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr virus (EBV), herpes simplex virus, parainfluenza virus, rhinovirus •Non-infeksi 🡪 gastroesophageal reflux (GERD), alergi, dan paparan asap rokok Manifestasi Klinis •Rinore •Kesulitan bernapas melalui hidung •Mendengkur •Gangguan pernapasan saat tidur pada anak. •(+) Obstruksi hidung signifikan 🡪 gejala rhinosinusitis •Obstruksi tuba eustachius 🡪 gangguan pendengaran •Fasies adenoid 2
  • 188.
  • 189.
    Hipertrofi Adenoid Derajat Tata Laksana DerajatBerdasarkan struktur anatomis Berdasarkan obstruksi koana I Tidak menyentuh struktur anatomis 1/3 koana vertical II Menyentuh torus tubarius 1/3 hingga 2/3 koana III Menyentuh torus tubarius, vomer 2/3 hingga hampir seluruh koana IV Menyentuh torus tubarius, vomer, palatum mole Obstruksi seluruh koana TATALAKSANA FARMAKOLOGIS Antiinflamasi topikal • Steroid topikal Antimikroba • Berdasarkan agen penyebab TATALAKSANA NON FARMAKOLOGIS Pembedahan • Adenoidektomi 2
  • 190.
    Tertelan Benda Asing Tandadan gejala • Nyeri tenggorokan • Odinofagia • Disfagia • Sensasi benda asing • Hipersalivasi Etiologi • Duri ikan • Tulang ayam • Manik-manik • Baterai • Perubahan patologis dari saluran gastrointestinal 190 3 B
  • 191.
    Tertelan Benda Asing Diagnosis •Inspeksi rongga mulut dengan bantuan spatula lidah dan laringoskopi indirek • Laringoskopi direk • Endoskopi • Foto polos leher AP dan lateral 191 3 B
  • 192.
    Tertelan Benda Asing Tatalaksana •ABCDE • Lokalisasi benda asing menggunakan bantuan spatula lidah dan laringoskop indirek • Jika tervisualisasi 🡪 ekstraksi dengan forsep • Jika tidak 🡪 rujuk pasien untuk dilakukan pemeriksaan penunjang berupa laringoskopi direk atau endoskopi 192 3 B
  • 193.
    INTINYA PERHATIKAN LOKASI ABSESDI SOAL UKMPPD Abses Leher Dalam 193 Abses Peritonsil (Quinsy) Abses Retrofaring Abses Parafaring Abses Submandibula Angina Ludwig Etiologi Komplikasi tonsilitis ISPA, limfadenitis retrofaring Penjalaran infeksi Penjalaran infeksi Selulitis ec. Penjalaran infeksi (terutama infeksi gigi) Gejala dan Tanda Odinofagia, regurgitasi, foetor ex ore, hot potato voice hipersalivasi, trismus Demam, nyeri tenggorokan, odinofagi, nyeri leher, sesak napas, mengences Trismus Bengkak angulus mandibula Pergeseran dinding faring ke arah medial Trismus, pembengkakan bawah mandibula/bawah lidah unilateral, fluktuasi (+) Nyeri, dasar mulut membengkak mendorong lidah ke belakang Pemeriksaan Fisik Palatum mole edema, uvula terdorong, detritus (+) Dinding belakang faring ada benjolan yang bersifat unilateral Rontgen Rontgen Keras seperti papan Tatalaksana Antibiotik, obat kumur, pungsi, insisi, tonsilektomi Antibiotik parenteral dosis tinggi, insisi abses Antibiotik parenteral dosis tinggi, insisi abses Antibiotik parenteral dosis tinggi, insisi abses Antibiotik parenteral dosis tinggi, insisi abses
  • 194.
    Abses Peritonsilar Disebut jugaAbses Quinsy Gejala Klinis • Nyeri menelan • Demam tinggi • Hot potato voice • Halitosis • Hipersalivasi Pemeriksaan Fisik • Uvula dan tonsil terdorong ke sisi kontralateral • Palatum mole bengkak dengan fluktuasi (+) Tatalaksana • Tatalaksana tonsilitis • Simptomatis 🡪 analgetik dan antipiretik • Pembedahan 🡪 insisi drainase, tonsilektomi 194 3 A
  • 195.
  • 196.
    Angina Ludwig 196 Disebut jugaAngina Ludovici Gejala Klinis • Submandibula teraba panas dan keras seperti kayu (Selulitis) • Bersifat bilateral • Lidah terdorong keatas belakang • Sesak nafas Tatalaksana • Antibiotik IV dosis tinggi • Insisi di garis tengah secara horizontal • Pengobatan sumber infeksi 🡪 gigi 3 A
  • 197.
  • 198.
    Karsinoma Nasofaring Definisi • Adalahtumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring (fossa Rossenmuller) Etiologi • Virus EBV • Ras, genetic • Iritasi bahan kimia • Kebiasaan memasak dengan kayu bakar. 198
  • 199.
    Karsinoma Nasofaring 199 Lokasi Gejala TelingaTinitus, otalgia, penurunan pendengaran, rasa penuh di telinga Hidung Epistaksis, post nasal drip, sumbatan jalan napas Mata Diplopia, lakrimasi, nyeri wajah Leher Pembengkakan pada KGB Manifestasi Klinis Diplopia “N E N E” = Nose Ear Neck Eye MED+ EASY
  • 200.
    Karsinoma Nasofaring Diagnosis •• Rhinoskopiposterior 🡪 pemeriksaan awal •• Nasofaring direk/indirek •• Biopsi dan pemeriksaan PA •• CT Scan/MRI •• FNAB KGB Tatalaksana • RADIOTERAPI • Stadium dini (stadium 1 & 2) • KEMOTERAPI • Stadium lanjut/kasus kambuh (stadium 3 & 4) • OPERASI • Untuk reseksi sisa KGB, atau pada kasus diseksi leher radikal 200 2
  • 201.
    Angiofibroma Nasofaring Juvenile 201 DefinisiEtiologi • Massa pada pembuluh darah 🡪 jinak • Umumnya terjadi pada anak laki-laki usia muda (7-19 tahun) Manisestasi Klinis • Epistaksis berulang • Hidung tersumbat • Benjolan pada pipi • Suara sengau
  • 202.
    Angiofibroma Nasofaring Juvenile 202 Holmanmiller sign Pemeriksaan Penunjang • Rinoskopi Anterior 🡪 Awal • Massa kenyal berwarna kemerahan/kebiruan/abu-abu • Mudah berdarah • CT-Scan 🡪 Holman miller sign (antral) • Angiografi 🡪 Gold Standard Tatalaksana 🡪 Pembedahan
  • 203.
    Karsinoma Sinonasal Lokasi palingsering • Sinus maxillaris, diikuti sinus etmoidalis, frontalis, dan sphenoidalis Etiologi • Tidak diketahui namun didapati insiden tertinggi pada pekerja industri perabotan kayu, penyulingan nikel, pengrajin kulit atau pembuat gas. Gejala Klinis • Sekret bercampur darah, nyeri wajah, epifora • Diplopia • Obstruksi nasal • Pembengkakan pada daerah pipi • Buldging palatum Tatalaksana • Pembedahan 203
  • 204.
    PEMERIKSAAN RADIOLOGI DI BIDANGTHT 204 Nama posisi Struktur yang diamati Waters Sinus maxillaris, arkus zygoma, os nasal Schedel AP dan lateral AP -> sinus frontal Lateral -> sinus frontal, sphenoid, maxillaris dan ethmoid Schuller Mastoid lateral Towne Dinding posterior sinus maxillaris Caldwell Sinus frontalis Rhese Posterior ethmoid cells, kanalis optikus, dan dasar orbita Stenver Seluruh bagian mastoid 3 RONTGEN WATERS RONTGEN CALDWELL
  • 205.
  • 206.
    DD Massa LeherKongenital Keterangan Kista Duktus Tiroglosus Branchial Cleft Cyst Kistik Higroma Tortikolis kongenital Etiologi Sisa dari duktus tiroglossus Involusi tidak sempurna struktur branchial cleft Kegagalan penggabungan sistem limfatik di leher Pemendekan m. sternocleidomastoid akibat fibrosis Lokasi Setinggi os. Hyoid, pada midline leher Anterior m. sternocleidomasteoideus Posterior triangle Sepanjang m. sternocleidomastoideus Khas Ikut naik turun saat menelan Massa teraba lunak, tidak nyeri, fluktuasi (+) Transluminasi (+) Kepala tampak menoleh ke satu sisi, benjolan pada sisi leher yang mengalami pemendekan Tatalaksana Metode Sistrunk Eksisi komplit Aspirasi + pengangkatan bertahap Fisioterapi dan stretching Operasi K B H
  • 207.
    Branchial Cleft Cyst Definisi •Sisa dari branchial cleft/sulcus pharyngeus atau sinus servikalis yang seharusnya menghilang sebelum lahir Klasifikasi Berdasarkan Asal Kista • Branchial cleft pertama 🡪 <1% dari kasus • Muncul di wajah dekat dengan telinga • Biasanya berhubungan dengan kelenjar parotis dan nervus fasialis • Branchial cleft kedua 🡪 paling sering • muncul di sisi inferior mandibula, di depan (anterior) dari otot sternocleidomastoideus • Branchial cleft ketiga 🡪 paling jarang • letak mirip branchial cleft kedua, namun di sisi lebih bawah (di leher) 207 2
  • 208.
    Branchial Cleft Cyst ManifestasiKlinis • Status lokalis: • 1st branchial cleft cyst: di bawah telinga • 2nd branchial cleft cyst: beberapa cm di bawah mandibula, anterior m. sternocleidomastoideus • 3rd branchial cleft cyst: di bagian bawah leher (suprasternal/supraklavikula) • Terdapat punctum (titik) pada kulit pada batas bawah otot sternokleidomastoideus • Bila terinfeksi, dapat membuat suatu sinus 🡪 muncul secret purulen 208 2
  • 209.
    Branchial Cleft Cyst PemeriksaanPenunjang • USG leher: massa bulat hipoekogenik tanpa adanya septasi internal • CT/MRI untuk menentukan hubungan dengan struktur anatomi lainnya (mis. kelenjar parotis, kelenjar submandibular, dll) Tatalaksana • Eksisi kista 209 2
  • 210.
    Tortikolis 210 1 Definisi • Tortikolis (wryneck)merupakan rotasi abnormal dari pada kepala ke posisi yang abnormal Klasifikasi • Kongenital 🡪 Posisi fetus abnormal, Kelainan genetik • Didapat 🡪 Trauma lahir, Hernia servikalis, kontraktur pada luka bakar, Infeksi Manifestasi Klinis • Benjolan di leher unilateral • Kesulitan menggerakkan leher / menoleh • Rasa pegal/nyeri pada leher unilateral • Tinggi bahu tidak simetris
  • 211.
    Tortikolis Diagnosis • Anamnesis danpemeriksaan fisik • Elektromiografi • Foto polos cervical • MRI cervical • DNA 🡪 menilai ada tidaknya mutasi yang menyebabkan tortikolis Tata laksana • Non operatif • Fisioterapi dan stretching • Medikamentosa 🡪 muscle relaxant • Operatif 211 1
  • 212.
  • 213.
    MED+ QUIZ – 9 Laki-laki,35 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan sesak napas sejak 1 hari yang lalu. Istri pasien mengatakan bahwa sebelumnya pasien sempat mengeluh sakit gigi sejak 2 minggu yang lalu namun belum sempat pergi ke dokter gigi. TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 70 x/menit, napas 36 x/menit, suhu 38,7 C. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pembengkakan pada rahang bawah kiri, teraba keras seperti papan. Diagnosis yang mungkin? A. Abses peritonsilar B. Abses Quincy C. Angina Ludwig D. Abses parafaring E. Abses retrofaring 213
  • 214.
    MED+ QUIZ – 9 Laki-laki,35 tahun, datang ke IGD RS dengan keluhan sesak napas sejak 1 hari yang lalu. Istri pasien mengatakan bahwa sebelumnya pasien sempat mengeluh sakit gigi sejak 2 minggu yang lalu namun belum sempat pergi ke dokter gigi. TTV didapatkan TD 120/80 mmHg, N 70 x/menit, napas 36 x/menit, suhu 38,7 C. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pembengkakan pada rahang bawah kiri, teraba keras seperti papan. Diagnosis yang mungkin? A. Abses peritonsilar B. Abses Quincy C. Angina Ludwig D. Abses parafaring E. Abses retrofaring 214
  • 215.
    MED+ QUIZ – 10 Anaklaki-laki, 13 tahun datang dibawa ibunya ke IGD RS dengan keluhan mimisan sejak 1 jam yang lalu. Ibu mengatakan bahwa hal ini telah terjadi berulang kali sejak 3 bulan yang lalu dan biasanya berhenti dengan sendirinya. TTV dbn. Pada saat dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior, tampak massa bertangkai yang mudah berdarah saat disentuh. Diagnosis? A. Karsinoma nasofaring B. Polip nasi C. Epistaksis anterior D. Hemofilia E. Angiofibroma juvenil 215
  • 216.
    MED+ QUIZ – 10 Anaklaki-laki, 13 tahun datang dibawa ibunya ke IGD RS dengan keluhan mimisan sejak 1 jam yang lalu. Ibu mengatakan bahwa hal ini telah terjadi berulang kali sejak 3 bulan yang lalu dan biasanya berhenti dengan sendirinya. TTV dbn. Pada saat dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior, tampak massa bertangkai yang mudah berdarah saat disentuh. Diagnosis? A. Karsinoma nasofaring B. Polip nasi C. Epistaksis anterior D. Hemofilia E. Angiofibroma juvenil 216
  • 217.