I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perubahan lingkungan strategis global dan domestik pada sektor pertanian secara
langsung maupun tidak langsung telah dan akan mempengaruhi pembangunan pertanian
nasional maupun wilayah spesifik lokasi. Mencermati dinamika perubahan lingkungan
strategis tersebut, program dan kegiatan pengkajian dan pengembangan teknologi spesifik
lokasi diarahkan untuk merakit berbagai inovasi pertanian spesifik agroekosistem yang
menghasilkan produk berdaya saing tinggi baik di pasar domestik maupun internasional. Ini
dilakukan dalam rangka mengakselerasi pembangunan pertanian wilayah, dengan
mengembangkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal.
Secara umum, arah kebijakan pembangunan pertanian dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 antara lain:
1. Meningkatkan kapasitas produksi melalui peningkatan produktivitas dan perluasan
areal pertanian.
2. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah komoditi pertanian.
3. Meningkatkan produksi dan diversifikasi sumber daya pertanian.
4. Pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.
5. Memperkuat kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Sebagai institusi pusat yang berada di daerah dan merupakan ujung tombak Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) dalam melakukan
pengkajian bidang pertanian, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
1
Sumatera Selatan pada Tahun 2017 tetap berperan aktif dalam menumbuhkan inovasi
serta mengembangkan teknologi pertanian spesifik lokasi di daerah melalui impementasi
kegiatan-kegiatannya (Peraturan Menteri Pertanian No:20/Permentan/OT.140/3/2013). Hal
ini terkait dengan arah, visi, misi, dan sasaran utama pembangunan pertanian dalam
Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, dimana pembangunan
pertanian sebagai motor penggerak pembangunan nasional, dan penempatan sektor
pertanian dalam pembangunan nasional merupakan kunci utama keberhasilan dalam
mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Diyakini, bahwa
berkembangnya sektor pertanian yang maju akan mendorong berkembangnya sektor lain,
terutama sektor hilir (agriculture industries and services) yang maju pula.
Laporan Akhir Tahun BPTP Sumsel ini disusun untuk menginformasikan
implementasi pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel selama Tahun 2017. Laporan ini pun
tentunya dapat dijadikan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan lain yang sejenis agar lebih
baik lagi di masa mendatang.
1.2. Tugas, Visi dan Misi BPTP Sumatera Selatan
1.2.1. Tugas
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.19/Permentan/OT.020/5/2017
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, maka
kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja BPTP Sumatera Selatan
adalah sebagai berikut:
a. Kedudukan
Institusi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian adalah unit pelaksana teknis (UPT)
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) di daerah.
BPTP bertanggung jawab kepada Kepala Badan Litbang Pertanian dan dalam pelaksanaan
2
tugas sehari-harinya dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP).
b. Tugas Pokok
BPTP mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan
teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.
c. Fungsi
Dalam melaksanakan tugas tersebut, BPTP menyelenggarakan fungsi:
1. Melaksanakan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi pertanian tepat
guna spesifik lokasi.
2. Melaksanakan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna
spesifik lokasi.
3. Pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta
perakitan materi penyuluhan.
4. Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan
pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian
tepat guna spesifik lokasi.
5. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan
teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.
6. Pelaksanaan Urusan Tata Usaha dan Rumah Tangga Balai.
Dalam pelaksanaan kegiatan, secara struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala
Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian. Secara
fungsional dibantu oleh Tim Program dan 4 (empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri
3
dari: (1) Kelji Sumberdaya, (2) Kelji Budidaya, (3) Kelji Pasca Panen dan (4) Kelji Sosial
Ekonomi.
a. Subbagian Tata Usaha
Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian,
keuangan, perlengkapan, surat menyurat, dan kearsipan, serta rumah tangga.
b. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian
Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan penyusunan rencana, program, anggaran, pemantauan, dan evaluasi
serta laporan, dan penyiapan bahan kerjasama, informasi, dokumentasi, dan
penyebarluasan dan pendayagunaan hasil, serta pelayanan sarana pengkajian, perakitan,
dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.
c. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari jabatan fungsional Peneliti, Penyuluh
Pertanian dan sejumlah jabatan fungsional lainnya yang terbagi dalam berbagai kelompok
jabatan fungsional berdasarkan bidang masingmasing, sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Untuk menjalankan program dalam wujud berbagai kegiatan, BPTP Sumsel memiliki
Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 74 orang. Tenaga-tenaga ini tersebar di kantor
BPTP Sumsel 59 orang, di Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten OKI 9 orang, dan
di Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 5 orang.
Bedasarkan tingkat pendidikannya, saat ini terdapat 2 orang yang berpendidikan strata
3; 16 orang berpendidikan strata 2 dan 31 orang berpendidikan strata 1. Pegawai yang
berpendidikan Diploma (3-4) sebanyak 5 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 16 orang,
4
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 2 orang dan yang berpendidikan Sekolah Dasar 2
orang.
Berdasarkan fungsinya, SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti sebanyak 18
orang, fungsional penyuluh 12 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional tehnisi
litkayasa 1 orang dan fungsional umum 42 orang. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan
kegiatan BPTP Sumsel, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan SDM melalui
pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang yang lebih tinggi.
Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan kemampuan
SDM melalui pendidikan tinggi baik ke jenjang Strata 2 maupun Strata 3.
I.2. Struktur Organisasi
Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya, BPTP Sumatera Selatan yang
merupakan unit kerja Eselon IIIa, berada di bawah lingkup Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). Dalam pelaksanaan kegiatan, secara
struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, kepala Seksi
Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian. Secara fungsional dibantu oleh Tim Program dan 4
(empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri dari: (1). Kelji Sumberdaya, (2). Kelji
Budidaya, (3). Kelji Pasca Panen dan (4). Kelji Sosial Ekonomi. Tugas penelitian dan
pengkajian dari masing-masing kelji berbeda-beda, namun saling mendukung dan
bekerjasama. Di dalam Sie Kerjasama dan Pengkajian terdapat unsur penting yang
mendukung pelaksanaan pengkajian yaitu kebun percobaan, laboratorium dan
perpustakaan.
Sub Bagian Tata Usaha bertugas dalam urusan administrasi, keuangan,
kepegawaian dan rumah tangga Balai. Seksi Pelayanan Pengkajian bertugas dalam
penyiapan dan pengelolaan informasi, komunikasi, diseminasi hasil penelitian dan
5
pengkajian (litkaji), sarana laboratorium dan sarana lapangan. Dalam tugasnya Kepala
Balai dibantu Tim Program dalam menyiapkan, penyusunan dan perumusan program litkaji.
Tim Program bekerjasama dengan Kelompok Pengkaji (Kelji) yang didukung oleh Seksi
Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian dan Sub Bag Tata Usaha.
Gambar 1. Struktur Organisasi BPTP Sumatera Selatan
1.4. Sarana dan Prasarana
Keberhasilan pelaksanaan penelitian dan pengkajian perlu ditunjang dengan
tersedianya sarana dan prasarana. Kantor BPTP Sumsel berada di atas lahan seluas 5.100
m
2
. Di tanah ini berdiri beberapa gedung yang difungsikan untuk kegiatan administrasi dan
tenaga fungsional dengan luas lantai dasar 369,36 m
2
, gedung keuangan 178,22 m
2
,
gedung pelayanan teknis (laboratorium, perpustakaan) dengan luas lantai dasar 470,69 m
2
,
6
Kepal
Ka. Sie Kerjasama
dan Pelayanan
Pengkajian
Ka. Sub Bagian
Tata Usaha
Kelji Sosial
Ekonomi
Kelji Pasca
Panen
Kelji
Budidaya
Kelji
Sumberday
luas garasi kendaraan bagian bawah 173,46 m
2
dengan bagian belakang berlantai dua,
Pos Satpam 36,19 m
2
, gudang 78,59 m
2
, menara air 14,34 m
2
dan luas aula 648,65 m
2
.
Kebun Percobaan Kayuagung dengan luas lahan 26,6 ha, status tanahnya adalah
hak guna pakai. Berada di Desa Sidakersa Kecamatan Kota Kayu Agung Kabupaten Ogan
Komering Ilir dengan agroekosistem Lebak. Kebun ini dapat dijangkau dengan mudah dari
Palembang dengan kendaraan roda empat. Berada di tepi jalan Trans Sumatera.
Berdasarkan tipenya maka KP ini memiliki lahan lebak dalam 49,4%, lebak tengahan
19,4% dan lebak dangkal 31,2% dari luas lahan. Kebun ini berada pada ketinggian 31 m di
atas permukaan laut. Adapun KP. Karang Agung dengan luas 20 ha, status tanahnya
adalah pinjaman. Berada di Desa Sukamulia Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten
Banyuasin. Untuk menjangkau kebun ini, setelah mengendarai kendaraan roda empat dari
Palembang kurang lebih 3,5 jam, maka dilanjutkan dengan menggunakan speed boat
selama 30 menit. Agroekosistem kebun ini pasang surut, bertipe luapan B/C yang berada
pada ketinggian 29 m di atas permukaan laut.
Untuk menunjang pelaksanaan tugasnya, maka di lingkup BPTP Sumsel saat ini
terdapat 8 kendaraan dinas roda empat, sedangkan fasilitas lapangan terdiri dari alat
angkut bermotor roda tiga 4 unit, traktor tangan 4 unit, Transplanter 1 unit, perontok
gabah 2 unit, box dryer 2 unit dan ditunjang dengan beberapa fasilitas untuk pengolahan
benih.
Lebih lanjut mengenai keadaan kekayaan barang bergerak lingkup BPTP Sumatera
Selatan sampai akhir tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel berikut ini
Tabel 1. Keadaan Kekayaan Barang Bergerak yang Dikelola Lingkup BPTP
Sumatera Selatan tahun 2017
No Jenis Kendaraan No. Polisi Pemakai Keterangan
7
1. Toyota Kijang
Innova(Bensin)
BG 1342 RZ Ka. Balai Kendaraan R.4
2. Toyota Kijang
Innova(Solar)
BG 1073 RZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4
3. Suzuki Vitara BG 1501 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4
4. Toyota Kijang Kapsul BG 1472 MZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4
5. Toyota Kijang Kapsul BG 1993 LZ KP. Karang Agung Kendaraan R.4
6. Toyota Hilux Double
Kabin
BG 9786 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4
7. Toyota Hilux Pickup BG 9505 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4
8. Toyota Hilux Pickup F 9846 MZ KP. Kayuagung Kendaraan R.4
9. Yamaha YT 125 BG. 6291 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2
10. Yamaha YT 125 BG. 6292 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2
11. Yamaha YT 125 BG. 6295 NZ Susno Kendaraan R.2
12. Yamaha YT 125 BG. 6294 NZ M. Arif Sidik P Kendaraan R.2
13. Yamaha YT 125 BG. 6290 NZ Juwedi Kendaraan R.2
14. Yamaha YT 125 BG 6296 NZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2
15. Yamaha YT 125 BG. 6293 NZ Tukiran Kendaraan R.2
16. Suzuki Trail BG. 5849 NZ KP. Karang Agung Kendaraan R.2
17. Honda Vario 150cc BG 2508 ABA Ka. Balai Kendaraan R.2
18. Viar BG 6414 PZ KP Kayuagung Kendaraan R.3
19. Viar F 5371 A KP Kayuagung Kendaraan R.3
20. Viar F 5398 A KP Kayugung Kendaraan R.3
21. Viar BG 6415 PZ KP Karang Agung Kendaraan R.3
22. Suzuki A100 BG 5844 NZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2
23. Yamaha Vega BG 2861 AAZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2
24. Yamaha Vega BG 2861 AAZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2
1.5. Sumber Daya Manusia
Untuk menjalankan program dalam wujud beberapa kegiatan, BPTP Sumatera
Selatan memiliki sumber daya manusia sebanyak 74 orang. Tenaga-tenaga ini menyebar
di kantor BPTP Sumatera Selatan 58 orang, Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten
OKI 10 orang dan Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 6 orang.
8
Ditinjau dari tingkat pendidikannya, saat ini terdapat 3 orang yang berpendidikan
strata 3; 16 orang berpendidikan strata 2 dan 31 orang berpendidikan strata 1. Pegawai
yang berpendidikan Diploma (2-4) sebanyak 5 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 16
orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 2 orang dan yang berpendidikan Sekolah Dasar
2 orang.
Bila dilihat dari fungsinya, maka SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti 18
orang, fungsional penyuluh 10 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional tehnisi
litkayasa 1 orang dan fungsional umum 30 orang. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan
kegiatan BPTP Sumatera Selatan, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan SDM
melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang yang
lebih tinggi. Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan
kemampuan SDM melalui pendidikan tinggi. Saat ini terdapat satu orang staf peneliti yang
mengikuti pendidikan Strata 3 dan 1 orang yang mengikuti pendidikan Strata 2. Berikut
rekapitulasi pegawai menurut beberapa kriteria per Desember 2017.
Tabel 2. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan Ruang per Desember 2017
No Golongan
Ruang
A B C D Jumlah
1 Golongan I 0 0 1 1 2
2 Golongan II 3 0 6 2 11
3 Golongan III 10 19 11 9 49
4 Golongan IV 5 4 3 0 12
Total 18 23 21 12 74
Tabel 3. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan/Ruang dan Pendidikan Akhir
Per Desember 2017
No Gol/Ruang S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah
9
1 I/c 1 1
2 I/d - 1 1
3 II/a 2 1 3
4 II/b -
5 II/c 1 4 1 6
6 II/d 1 1 2
7 III/a 3 1 1 5 10
8 III/b 2 12 1 0 4 19
9 III/c 4 7 11
10 III/d 3 6 9
11 IV/a 1 4 5
12 IV/b 1 2 1 4
13 IV/c 1 2 3
Jumlah 2 16 31 2 3 16 2 2 74
Tabel 4. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Kelompok Umur
Per Desember 2017
No Gol/
Ruang
21-25
tahun
26-30
tahun
31-35
tahun
36-40
tahun
41-45
tahun
46-50
tahun
51-55
tahun
56-60
Tahun
Jumlah
1 I 2 2
2 II 1 1 1 4 4 11
3 III 2 10 7 6 7 12 5 49
4 IV 2 5 5 12
Jumlah 3 11 8 6 13 21 12 74
7.
Tabel 5. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Pendidikan Akhir Per Desember
2017
10
NO Gol/
Ruang
S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah
1 I 2 2
2 II 2 7 2 11
3 III 9 28 2 1 9 49
4 IV 2 7 3 12
Jumlah 2 16 31 2 3 16 2 2 74
Tabel 6. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional per Desember 2017
No
.
Nama Fungsional Jumlah
1. Peneliti 18
2. Penyuluh 10
3. Pustakawan 1
4. Teknisi Litkayasa 1
Tabel 7. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Peneliti per Desember 2017
Tabel 7 . Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Penyuluh Sampai
Desember 2017
11
No. Nama Fungsional Jumlah
1. Peneliti Utama 1
2. Peneliti Madya 4
3. Peneliti Muda 7
4. Peneliti Pertama 6
5. Peneliti Non Klasifikasi -
Jumlah 18
Tabel 9. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Pustakawan
Sampai Desember 2017
No. Nama Fungsional Jumlah
1 Pustakawan Pertama 1
Jumlah 1
Tabel 10. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Litkayasa Sampai
Desember 2017
No. Nama Fungsional JUMLAH
1 Teknisi Litkaya Pemula 1
Jumlah 1
Tabel 11. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Sampai
Desember 2017
12
No. Nama Fungsional Jumlah
1 Penyuluh Pertanian Madya 4
2 Penyuluh Pertanian Muda 4
3 Penyuluh Pertanian Pertama 2
4 Penyuluh Terampil Penyelia 0
5 Penyuluh Terampil Pelaksana L 0
6 Penyuluh Terampil Pelaksana 0
7 Penyuluh Terampil Pelaksana P 0
8 Penyuluh Non Klasifikasi 2
Jumlah 12
No
Jenis
kelamin
20-25
Tahun
26-30
Tahun
31-35
Tahun
36-40
Tahun
41-45
Tahun
46-50
Tahun
51-55
Tahun
56-60
Tahun
Jmh
1 Laki-Laki 0 1 2 3 2 9 15 9 41
2 Perempuan 0 2 9 5 4 4 6 3 33
Jumlah 0 3 11 8 6 13 21 12 74
Tabel 12. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Golongan/Ruang Sampai
Desember 2017
No Golongan
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 I/c 1 - 1
2 I/d 1 - 1
Jumlah Gol. I 2 - 2
3 II/a 3 - 3
II/b - - -
4 II/c 5 1 6
5 II/d 2 - 2
Jumlah Gol. II 10 1 11
6 III/a 7 3 10
7 III/b 6 13 19
8 III/c 3 8 11
9 III/d 6 3 9
Jumlah Gol. III 22 27 49
10 IV/a 2 3 5
11 IV/b 4 - 4
12 IV/C 1 2 3
Jumlah Gol. IV 7 5 12
Total 41 33 74
Tabel 13. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan, Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin
Sampai Desember 2017
N
o
Golongan
/Ruang
Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin
S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah
L P L P L P L P L P L P L P L P
1 GOL. I - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2
13
2 GOL. II - - - - - - - - 1 1 7 - 2 - - - 11
3 GOL. III - - 3 6 9 19 1 1 1 - 8 1 - - - - 49
4 GOL. IV 1 1 5 2 1 2 - - - - - - - - - - 12
Jumlah 1 1 8 8 1
0
2
1
1 1 2 1 1
5
1 2 - 2 - 74
II. HASIL KEGIATAN
2.1. Sub Bagian Tata Usaha
2.1.1. Pendidikan dan Pelatihan
Untuk meningkatkan pendidikan tenaga peneliti dan non peneliti telah dilakukan
berbagai upaya melalui jalur formal dengan biaya pemerintah maupun dengan biaya
sendiri. Jenjang pendidikan yang diikuti adalah S2 dan S3 dengan berbagai disiplin Iu
seperti terlihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Pegawai BPTP Sumsel yang sedang mengikuti pendidikan
No Nama Program Jurusan Tempat
Sumber
Biaya
Tahun
mulai
Tahun
Selesai
1. Herwenita, SP S2 Community
Development
UPLB
Filipina
Badan
Litbang
2013 Selesai
2017
2. Agus
Suprihatin, SP,
M.Sc
S3 Ilmu Tanah UGM
Yogyakarta
Badan
Litbang
2015 Belum
Selesai
3. Sidiq Hanapi,
SP
S2 Ekonomi
pertanian
UGM
Yogyakarta
2016 Belum
Selesai
14
Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Penanggung Jawab
Kepegawaian pada tahun anggaran 2017 sejak triwulan pertama sampai pada triwulan
keempat adalah sebagai berikut : 1) Kenaikan Gaji Berkala ; 25 orang, 2) Kenaikan
Pangkat ; 12 orang, 3) Taspen dan, 4) Pembuatan Askes 1 orang (CPNS)
Untuk pengoperasian Software SIM ASN tersebut pada tahun anggaran 2017 telah
dapat dilaksanakan dengan baik, dengan demikian diharapkan dalam penampilan dan
penyajian data-data kepegawaian dapat lebih akurat dan cepat seperti penampilan daftar
Nominatif pegawai berdasarkan tingkat pendidikan, umur, pangkat/golongan dan Eselon,
penampilan kapan kenaikan pangkat pegawai, kenaikan gaji berkala, kapan pensiun dan
pembebasan sementara.
2.1.2. Perlengkapan
Urusan rumah tangga dan perlengkapan meliputi penerimaan, pencatatan,
pemindahan, pengelolaan dan pemeliharaan barang milik negara meliputi tanah, bangunan
gedung kantor, halaman, auditorium, wisma tamu, gedung laboratorium, rumah jabatan,
aset kebun percobaan, kendaraan dan mesin lainnya.
Pada tahun 2017 telah dilakukan pemeliharaan kantor BPTP, Rumah Dinas dan Mess
BPTP, Pemasangan Coblok dan Pemasangan Keramik Garasi, Pengecatan Rumah Dinas
Pengecatan Pagar Pembatas antara Kantor BPTP dengan BKP.
Tabel 15. Capaian kinerja indikator pengelolaan BMN seperti berikut.
Indikator Kinerja Target Capaian
%
Capaian
Tersedianya daftar barang 1 Daftar barang 1 Daftar barang 100
Tersedianya daftar surat masuk dan
keluar
2 daftar surat 2 daftar surat 100
Laporan Keuangan 2 Laporan 2 Laporan 100
15
Laporan Barang 2 laporan 2 Laporan 100
BPTP Sumatera Selatan pada Tahun 2016 telah menerima hasil pengadaan
belanja 526 yaitu barang yang harus diserahkan kepada pemda/masyarakat sampai
dengan 31 Desember 2017 telah mengupayakan melakukan proses hibah dan
penghapusan BMN tersebut seperti disajikan pada tabel berikut.
Tabel 16. Kegiatan penyelesaian hibah dan penghapusan belanja 526
N
O
Kegiatan Dokumen
Keterangan
1 Berita Acara Serah
Terima BMN TTP
Banyuasin
Pengadaan Satker
BPTP Sumsel
BAST No. B-974.1/PL.130/H/10/2016
Tanggal 7 Oktober 2017
Sudah dilakukan
Penghapusan
2 Berita Acara Serah
Terima BMN TTP
Banyuasin
Pengadaan Satker
BPTP Sumsel
Nomor : 2158/BAST/PL.130/I.12.8?
02/2017 tanggal 3 Februari 2017
Belum dilakukan
Penghapusan
Pelaksanaan kegiatan surat menyurat selama Tahun 2017 berjumlah 500 surat
terdiri atas surat yang masuk baik dari instansi vertikal maupun instansi horisontal, dan
surat keluar kepada instansi vertikal dan instansi horisontal serta surat keterangan
2.1.3. Keuangan
Sebagai unit pelaksana teknis dibidang pengkajian dan alih teknologi spesifik lokasi,
dalam melaksanakan tupoksinya BPTP Sumatera Selatan pada TA. 2017 didukung oleh
sumber dana yang berasal dari APBN sebesar Rp 21,499,772,000.00,-
16
Anggaran BPTP Sumatera Selatan dicairkan sesuai dengan Surat Pengesahan
DIPA Tahun Anggaran 2017 dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Apabila dana
tersebut dirinci menurut jenis belanjanya, maka persentase realisasi belanja pegawai
sebesar 96.64%, belanja barang 98.40% dan belanja modal 97.74% seperti pada tabel
berikut
Tabel 17. Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP Sumsel Tahun 2017
No. Jenis PAGU (Rp) Realisasi (Rp)
Realisasi
(%)
1. Belanja Pegawai 5,850,000,000 5,653,604,207 96.64
2. Belanja Barang 10,298,000,000 10,133,175,532 98.40
3. Belanja Modal 5,351,000,000 5,230,241,975 97.74
JUMLAH 21,499,000,000 21,230,241,975 97.76
Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP tahun 2017 tersebut sebesar 97.76%.
Selain dari DIPA BPTP Sumsel 2017, juga terdapat dana dari SMARTD yaitu sebesar Rp.
492.987.500,- yang terdiri dari kegiatan:
1. Pembangunan modal operasi Sistem Irigasi Air Tanah untuk budidaya Tanaman
Pangan dalam upaya peningkatan produktivitas lahan dengan Pagu Rp. 187.340.000,-
dan terealisasi 100%
2. Kajian Pembibitan Ternak Itik pegagan melalui pendekatan kelompok dengan Pagu
Rp. 120.503.500,- dan terialisasi 100%
3. Analisis Penerapan Teknologi Laser Leveling untuk meningkatkan Produktivitas
Tanaman Pangan dan Efesiensi Input dilahan Subur Sumatera Selatan dengan Pagu
Rp.185.144.000,- dan terealisasi 97.89%
Tabel 18. Realisasi penggunaan kegiatan yang di danai SMARTD Tahun 2017
Judul kegiatan Pagu (Rp) Realisasi
17
Rp %
Pembangunan modal operasi Sistem Irigasi Air Tanah
untuk budidaya Tanaman Pangan dalam Upaya
Peningkatan ProduktivitasLlahan
187.340.000 187.340.000 100,00
Kajian Pembibitan Ternak Itik Pegagan Melalui
Pendekatan Kelompok
120.503.500 120.503.500 100,00
Analisis Penerapan Teknologi Laser Leveling untuk
Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan dan
Efisiensi Input di Lahan Subur Sumatera Selatan
185.144.000 181.255.000 97,89
Total 492.987.500 489.098.500 99,21
Kegiatan yang didanai oleh SMARTD dan Badan Litbang tahun 2017 rata-rata
terealisasi keuangannya 99,21%.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan juga menyetorkan hasil
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2017 sebesar Rp 233.118.310,- yang
terdiri dari penerimaan fungsional dan penerimaan umum dengan rincian seperti pada
Tabel 19. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2017
Penerimaan Jumlah (Rp)
Fungsional
KP. Kayu Agung 10.328.000,-
Unit Pengelolaan Benih Sumber 181.145.000,-
Jumlah penerimaan fungsional 191.473.000,-
Jumlah Penerimaan umum 41.645.310,-
Jumlah PNBP 233.118.310,-
Adapun anggaran dan realisasi dana pada masing-masing kegiatan (kegiatan rutin,
penelitian, penunjang penelitian) yang dilaksanakan di BPTP Sumsel terlampir.
2.1.4. Penyusunan Laporan Keuangan SAI pada Sekretariat UAPPA/B-W
18
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan Negara, maka diperlukan perangkat hukum yang didasarkan
atas prinsip umum yang sehat, modern dan dinamis. Untuk menjawab tantangan tersebut,
maka pemerintah telah membuat suatu program Sistem Akutansi Pemerintah Pusat
(SAPP) yang telah diperbaharui untuk memonitor apakah keuangan Negara telah
dijalankan secara efektif dan efisien serta telah sesuai dengan tujuan pengeluaran belanja
sebagaimana tercantum dalam Daftar Isian Pengguna Anggaran (DIPA), maka diperlukan
informasi yang relevan dalam bentuk laporan-laporan yang seragam untuk seluruh instansi
pusat sampai ketingkat satuan unit kerja di daerah.
Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akutansi dan
Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Sumatera Selatan adalah sebagai penanggung jawab UAKPA, yang mempunyai tugas
antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan BPTP berupa laporan
Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan. Dengan demikian
penyusunan dan penyajian laporan BPTP ini merupakan perwujudan pertanggung jawaban
atas penggunaan anggaran maupun barang pada BPTP Sumatera Selatan.
Untuk menunjang pelaksanaan program SAI pada Satuan Kerja dengan
mempergunakan Sistem Akutansi Berbasis Akrual (SAIBA) pada Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sumatera Selatan pada tahun 2017 telah dibentuk Unit Akutansi
Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Untuk pelaksanaan operasional kegiatan tersebut
BPTP Sumatera Selatan telah dilengkapi dengan struktur organisasi dan telah mendapat
alokasi dana melalui DIPA Nomor DIPA-018.09.2.567495/2017 tanggal 2 Desember 2016
19
Tahun Anggaran 2017 sebesar Rp. 21.499.000.000.00,- (Dua puluh satu Milyar empat
ratus sembilan puluh sembilan juta rupiah)
Laporan akhir kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA)
tahun 2017 ini disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akutansi Pemerintah
(SAP).
Dari hasil pelaksanaan kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran
(SAKPA) yang dilaksanakan BPTP Sumatera Selatan untuk tahun anggaran 2017 maka
dihasilkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta
disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standard
Akutansi Pemerintah. Secara kumulatif, realisasi anggaran pada TA 2017 mengalami
kenaikan dibandingkan dengan TA 2016, Pada TA 2017, pencairan anggaran selain
belanja pegawai/gaji baru terealisasi pada bulan Februari. Perkembangan pencairan dana
dari bulan April hingga Oktober terlihat membentuk garis lurus dengan gradien yang
hampir sama, yang berarti pada bulan-bulan tersebut terjadi pencairan anggaran dalam
jumlah yang hampir sama. Pada bulan–bulan berikutnya (Nopember dan Desember),
pencairan anggaran berlangsung lebih cepat, hingga akhirnya mencapai prosentase
realisasi anggaran DIPA Umum sebesar 97.76%. Angka ini berdasarkan pencairan
anggaran melalui Surat perintah Membayar (SPM) yang Surat Perintah Pencairan Dana
(SP2D) nya diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
Palembang.
Peningkatan pencairan dana pada bulan Nopember dan Desember disebabkan
transaksi pembayaran belanja modal pada umumnya baru dilaksanakan pada bulan-bulan
20
tersebut. Neraca Semester II 2017 per 31 Desember disusun berdasarkan atas Laporan
Keuangan Kementerian Pertanian tahun 2017, dan adanya proses kapitalisasi SIMAK-
BMN. Gambaran perkembangan neraca tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Posisi
Neraca BPTP Sumsel pada Semester II/ 31 Desember 2017 seperti terbaca berikut ini:
A. Aset Tetap sebesar Rp 238.290.2610.399,- terdiri dari: 1) Tanah Rp
212.122.829.960,- 2) Peralatan dan Mesin Rp 7.910.405.639,- 3) Gedung dan
Bangunan Rp 24.149.436.487,- 4) Jalan Irigasi dan Jaringan Rp 21.200.310.850,- , 5)
Aset Tetap Lainnya Rp 3.786.638.483 6) Konstruksi dalam pengerjaan Rp
112.869.200,- dan akumulasi penyusutan senilai Rp 30.992.229.220,-
B. Aset Lainnya sebesar 3.821.875,- terdiri dari : 1). Aset tak berwujud Rp 10.637.700,-
8) Aset lain-lain Rp 248.043.799,- sedangkan total akumulasi penyusutan sebesar Rp
254.859.624,-
Pengelolaan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) pada Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Sumatera Selatan telah dapat dilaksanakan/dioperasionalkan sebagaimana
mestinya walaupun masih terdapat kendala dan hambatan.
2.1.5. Sistem Pengendalian Intern/Wilayah Bebas Korupsi
Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan
terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga
dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya,
banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktek
KKN, dan lemahnya pengawasan. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah telah
menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi
Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi. Peraturan
21
tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas
dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan
pelayanan publik. Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka
instansi pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi
yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainnya. Untuk itu, perlu
secara konkret dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya
pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah
Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).
Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan
akuntabel menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani
(WBBM) maka diperlukan sistem pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan
pemerintahan. Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilaksanakan
dengan berpedoman pada Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Sistem
Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan
keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan
efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap
peraturan perundang-undangan. SPI diselenggarakan secara menyeluruh baik di lingkungan
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Pengawasan Intern (PI) adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi,
pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi
organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah
dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk
kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
22
Sistem pengendalian intern ini dilandasi pada pemikiran bahwa sistem pengendalian
intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia untuk
memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak. Penyusunan dan
pengembangan unsur SPI berfungsi sebagai pedoman penyelenggara dan tolok ukur
pengujian efektivitas penyelenggaraan SPI. Pengembangan SPI perlu mempertimbangkan
aspek biaya dan manfaat (cost and benefit), sumber daya manusia, kejelasan kriteria,
pengukuran efektivitas dan perkembangan teknologi informasi, serta dilaksanakan secara
komprehensif.
Di dalam Undang-undang No. 28 tahun 1999, UU No. 17 Tahun 2003, UU No. 1 Tahun
2004, PP No. 8 Tahun 2006, PP No. 60 Tahun 2008, Kepres No. 80 Tahun 2003, Perpres
No. 95 Tahun 2007, Perpres No. 9 Tahun 2005, Perpres No. 20 Tahun 2008, Permentan
No. 341/Kpts/OT.140/ 9/2005, dan Permentan No. 12/Permentan/OT.140/2/2007, bahwa
Sistem Pengendalian Intern (SPI) harus berjalan sebagaimana yang diindikasikan dan
diisaratkan. Sejalan dengan hal tersebut, maka diterbitkan Keputusan Kepala Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Sumsel Nomor : 054/SK/PW.420/H.12.8/01/2017, tanggal
4 Januari 2017 tentang Pembentukan Tim Sistem Pengendalian Intern di BPTP Sumatera
Selatan.
Sebenarnya ada atau tidak ada Satlak SPI, sistem pengendalian intern harus
berjalan, karena SPI ada dan melekat pada pimpinan. Keberadaan Satlak SPI hanyalah
sebagai “alat”, sehingga berjalan atau tidaknya Satlak SPI sangat bergantung kepada
komitmen pimpinan, apakah “alat” tersebut mau digunakan atau tidak digunakan.
Sistem Pengendalian Intern bertujuan untuk: (1) Mewujudkan sistem pengendalian
intern; (2) Mendorong terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif (3)
Mendorong terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Mendorong terlaksananya
23
pengamanan aset negara; dan (5) Mendorong meningkatnya ketaatan terhadap peraturan
perundangan. Sedangkan keluaran yang diharapkan adalah: (1) Terwujudnya sistem
pengendalian; (2) Terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif; (3)
Terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Terlaksananya pengamanan aset negara;
(5) Meningkatnya ketaatan terhadap peraturan perundangan.
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-1 tahun 2017 ini, telah
melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi pembuatan Surat Keputusan yang
diperlukan dalam memulai kegiatan tahun anggaran 2017, pembahasan proposal kegiatan,
pemaparan RKTM/ROPP/RDHP serta membuat rencana kerja SPI tahun 2017. Masing-
masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain pelaksanaan
masing-masing kegiatan sesuai surat keputusan yang telah dibuat, melakukan penajaman
proposal dan perbaikan RKTM/ROPP/RODHP. Dilakukan juga persiapan dan pelaksanaan
audit BPK- RI, di samping itu, pemantauan yang dilakukan Satlak PI sehubungan dengan
awal tahun anggaran, kami mencoba memantau terhadap persiapan pelaksanaan kegiatan
yang sangat berkaitan dengan kegiatan perencanaan.
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumatera Selatan pada triwulan-II tahun 2017 ini, telah
melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi persiapan audit external oleh tim
survilence Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain
penerapan sistem mutu di internal organisasi seperti yang tercantum dalam sertifikar ISO
9001, Perbaikan sebagai bukti komitmen isi kebijakan mutu organisasi, penyusunan
perencanaan pada sasaran mutu yang ditetapkan di intrnal organisasi,, dilakukan
Penyelesaian Tindak Lanjut BPK terkait dengan temuan BPK diantaranya perapian DBR
dan DIR serta penyempurnaan asset-asset yang harus dihenti gunakan untuk dilakukan
penghapusan.
24
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-III tahun 2017 ini, telah
melaksanakan pengendalian inventarisasi ulang terkait DIR dan DBR pada aseet di kantor
BPTP Sumsel, PT RPN, KP kayu agung, KP karang Agung. karena selain adanya
perpindahan ruangan dan sebagai tindak lanjut BPK dan telah menghasilkan rekomendasi
yaitu segera melakukan penataan kelengkapan dokumen di masing-masing bagian
ruangan . pelaksanaan audit Itjen Pengadaan Barang dan Jasa khusus belanja 526 serta
Selain itu dilakukan Penyelesaian Tindak Lanjut BPK oleh Itjen Kementan TA 2017.
Melakukan persiapan penyelesaian BAST barang persediaan TTP di 3 (tiga)
Kabupaten. Melakukan pendampingan dengan tim monitoring dan Evaluasi dari Puslit
Balitbangtan terhadapkegiatan TTP Banyuasin dan TTP Musi Banyuasin.
Monitoring dan Evaluasi Kegiata Tim Monev dari Puslitbangtan dan telah dilakukan
Monitoring dan Evalausi di kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) oleh Tim dari
Balitbangtan Kementerian Pertanian. Masing-masing telah menghasilkan rekomendasi
yaitu Untuk mempercepat pelaksanaan realisasi bangunan fisik pada kegiatan Taman
Teknologi Pertanian yang masuk tahun pertama
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-IV tahun 2017 ini, telah Tindak
lanjut LHP Itjen terkait temuan itjen belanja 526, persiapan dokumen TTP Banyuasin yang
akan diserahkan ke Pemda Banyuasin, Pendampingan Tim Monen ke TTP Musi
Banyuasin, Melakukan Sistem Pengendaluian Intern terhadap pembanguan dan Renovasi
Gedung KP Kayu Agung dan Pembangunan Sarana dan Prasaran Perbenihan.
Hasil tim monev bahwa BAST TTP Banyuasin harus bisa diselelasikan Paling
lambat bulan Maret 2018.
25
Tabel 20. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan I Tahun 2017
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak Lanjut
Dari Kepala Balai
1 Pembuatan SK Struktur
Organisasi BPTP
Sumsel, SK Organisasi
Satlak PI, SK Pengelola
Keuangan, SK
Pengadaan Barang
Jasa, SK Pemeriksaan
Barang dan Jasa, SK
Pengelola Asset, SK
penanganan tindak
lanjut LHP
Pembuatan SK
berdasarkan tupoksi dan
kompetensi masing-
masing penanggung
jawab
Setelah SK
dikeluarkan
ditindaklanjuti
dengan
pelaksanaan
kegiatan
berdasarkan tugas
masing-masing
penanggung jawab
Untuk di laksanakan
dengan baik
2 Pembahasan proposal Pembahasan dihadiri
oleh semua
penanggung jawab
kegiatan
Proposal kegiatan
dipersempit, agar
lebih fokus dalam
pelaksanaannya
Untuk dilaksanakan
dengan baik dan
memperbaiki proposal
3 Pemaparan
RKTM/ROPP/RODHP
Pemaparan dihadiri oleh
semua penanggung
jawab kegiatan dan tm
TPK
Perbaikan
RKTM/ROPP/ROD
HP agar segera
dilakukan
Untuk laksanakan dan
secepatnya melakukan
perbaikan proposal
4 Pembuatan Rencana
Kerja SPI tahun 2017
Dilakukan oleh Tim
Satlak SPI
Rencana Kerja SPI
perlu dukungan
penuh dari
pimpinan dan
pegawai BPTP
Sumsel
Untuk dilaksanakan
pembuatan rencana
kerja berkoordinasi
dengan kepala balai
Tabel 21. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan II Tahun 2017
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak
26
Lanjut Dari Kepala
Balai
1 Persiapan Audit
External oleh tim
Survilence
Mempersiapkan Dokumen-
dokumen terkait
Merevisi apabila
terdapat
ketidaksesuaian
Di laksanakan dan
segera
dikoordinasikan
dengan Tim SPI
2 Penyelesaian Tindak
Lanjut BPK terkait
dengan temuan BPK
diantaranya perapian
DBR dan DIR
Telah pelebelan DBR dan
DIR sesuai dengan
ruangan.
Kedepan harus
dilakukan
rekapitulasi dan
invetarisasi ulang
bagi asset yang
sudah tidak layak
lagi untuk diajukan
penghapusan
Di laksanakan dan
segera
dikoordinasikan
dengan Tim SPI
Tabel 22. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Satlak
PI BPTP SUMSEL Triwulan III Tahun 2017
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak
Lanjut Dari Kepala
Balai
1 Pengendalian
Inventarisasi
Penyusunan Daftar
Barang Ruangan di
kantor BPTP, KP
Kayu Agung, KP
Karang Agung, PT
RPN
• Tim Pengendalian
berasal dari BPTP
Sumsel
• Pelaksanaan audit
dilakukan selama 2
hari
• pelaksanaannya tim
mengajukan
pertanyaan dan
kelengkapan
Melakukan Update DBR
pada masing-masing
ruangan
Untuk segera
melaksanakan
penataan ulang
barang pada
masing-masing
ruangan
27
dokumen ke bagian
perlengkapan
2. Penyelesaian Tindak
Lanjut BPK Oleh Tim
Itjen Kementan
• Tim Tindak lanjut
dari Tim Itjen
Kementan RI
• Pelaksanaan
dilakukan dengan
mengevaluasi
sejauh mana tindak
lanjut BPK yang
sudah dilakukan
serta memeriksa
dokumen-dokumen
pendukungnya.
• Penyelesaian LHP
BPK Ri dan
kelengkapan
dokumennya.
Untuk dilengkapin
dan dilaksanakan
segera.
Tabel 23. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Satlak PI BPTP SUMSEL Triwula IV Tahun 2017
No. Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak
Lanjut Dari Kepala
Balai
1 Tindak lanjut LHP
Itjen terkait temuan
itjen belanja 526,
• Audit dilakukan oleh
Itjen Kementan
• Pemeriksaan
Pengadaan Barang
dan Jasa terkait
dengan belanja 526
• Menindak lanjuti hasil
temuan dengan
melakukan pembayaran
Tuntutan Ganti Rugi
(TGR)
Untuk
dilaksanakan
sesuai dengan
hasil pemeriksaan.
3 MONEV kegiatan
TTP Balitbangtan
Monev dilakukan oleh tim
Monev Balitbangtan
Untuk mempercepat
realisasi penyelesaian
BAST, paling lambat Maret
2018
Untuk segera
melakukan
percepatan
Penyelesaian
BAST.
4 Melakukan
pengendalian
Renovasi Gedung di
KP Kayu Agung
Pengendalian dilakukan
oleh Tim SPI BPTP
Sumatera Selatan,
dengan melakukan
pemeriksaan dan
pengendalian.
Untuk mempercepat
pelaksanaan fisik
bangunan,
Melakukan pemantauan
terhadap perbaikan pada
mess karyawan pada
Untuk segera
melakukan
percepatan
Penyelesaian dan
melakukan
perbaikan
28
pintu, pagar gedung
utama, pembersihan
gedung dari sisa
pekerjaan.
Tabel 24. Program Kerja Satuan Pelaksanaan Pengendalian Intern BPTP Sumatera
Selatan (Satlak PI BPTP Sumsel) Tahun 2017
No. Judul Kegiatan Target Waktu Keterangan
1 Penetapan SK Struktur Organisasi BPTP Sumsel
TA. 2016
Februari
2 Membentuk struktur organisasi Satlak PI dengan
Keputusan Kepala Balai berikut uraian tugas dan
fungsinya
Maret
3 Penyusunan RKTM Februari
4 Penyusunan program kerja PI April-Mei
5 Penyusunan juknis PI Juni
6 Rapat Koordinasi
Pertemuan Rutin Berkala Satlak PI
Juni-November
7 Penyusunan/penambahan SOP April
8 Pengendalian Internal/Audit Juni-Desember
9 Monev Ex-Ante dan SPI Mei dan November
10 Monev On-Going dan SPI Maret, Juni,
September, Desember
11 Monev Ex-Post dan SPI Insidentil
12 Penyusunan Laporan
• Laporan Bulanan
• Laporan Triwulan
• Laporan Semester
• Laporan Tahunan
September-Oktober
13 Melakukan penataan arsip yang tertib (bisa dalam
hard copy, soft copy, rekaman suara digital,
video, dll).
November
14 Menyiapkan pelaksanaan audit surveillance dan
resertifikasi ISO 9001:2008
Juni
15 Penyelesaian LHP (BPK;Itjen:Lembaga
Pemeriksa Lainnya)
Paling lambat dua
bulan setelah
29
menerima LHP
16 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Setiap 6 bulan
2.2. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian
2.2.1. Kerjasama
Salah satu fungsi dari BPTP adalah menyiapkan kerjasama, informasi, dokumentasi
serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan
teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. BPTP Sumsel sebagai salah satu lembaga
publik yang mengkaji dan menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi dituntut untuk
lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kerjasama dengan para pemangku
kepentingan (stakeholder). Kerjasama tersebut diperlukan dalam upaya menumbuh
kembangkan jaringan penelitian guna meningkatkan kemampuan pemanfaatan serta
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kerjasama BPTP Sumsel dalam tahun 2017
ini terdiri dari kerjasama dalam dan luar negeri.
Kerjasama dalam negeri terdiri dari:
(1) Kerjasama antara BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang
dengan BPTP Sumatera Selatan,
Kegiatan kerjasama tersebut dilakukan di Kebun Percobaan Kayu Agung, dimana
pada Kebun Percobaan Kayu Agung, BPTP Sumsel menyediakan lahan 20 x 20 m untuk
menempatkan peralatan pengamatan cuaca. Alat-alat yang disediakan oleh BMKG adalah:
Penangkar petir 1 unit, alat ukur kecepatan angin 3 unit, alat ukur arah angin 1 unit, alat
ukur curah hujan 1 unit, termometer 3 unit, pengukur kelembaban tanah, komputer 1
paket. BPTP Sumsel dalam kerjasama ini selain menyediakan lahan, juga menyediakan
30
tenaga untuk mengamati data dan merawat lingkungan tempat disediakannya peralatan
tersebut.
Dari kerjasama ini, BPTP Sumsel mendapatkan informasi tentang cuaca yang
diperoleh dari buku dan bulletin yang tiap bulan diterima.
• Buletin BMKG Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.
Buletin ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun
Klimatologi Klas I Kenten, Palembang. Informasi yang diperoleh dari Buletin ini adalah data
hujan, hari hujan, cuaca ekstrim, arah dan kecepatan angin serta evaluasi tingkat bahaya
kebakaran.
• Buku Informasi Peta Kekeringan Dengan Metode SPI.
Buku ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi
Klas I Kenten, Palembang. Informasi kekeringan diperoleh dalam tiga bulanan tersebut,
memberikan gambaran mengenai tingkat kekeringan berdasarkan nilai curah hujan tiga
bulanan dengan menggunakan metoda Standardized Precipitation Index (SPI).
(2) Kerjasama antara Badan Kerjasama Organisasi Wanita Sumatera Selatan
dengan BPTP Sumatera Selatan tentang Pendampingan Teknologi
Pertanian di Sumatera Selatan.
Bentuk kerjasama yang dilaksanakan dalam bentuk Pendampingan Teknologi
Pertanian di Provinsi Sumatera Selatan. Kerjasama tersebut untuk Menyikapi fluktuasi
harga cabai/cabe yang terjadi setiap tahun, maka penanaman cabai di lahan pekarangan
merupakan salah satu solusi untuk membantu penyediaan cabai secara berkelanjutan di
tingkat rumah tangga. Gerakan tersebut, merupakan upaya Kementerian Pertanian untuk
mengajak masyarakat menanam cabai agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya
31
sendiri. Selain itu juga sebagai salah satu terobosan mengatasi permasalahan fluktuasi
harga cabai yang sering kali meresahkan masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga.
Untuk menyukseskan gerakan tersebut, Kementan melalui BPTP sebagai perpanjangan
tangan di daerah melibatkan Tim Penggerak PKK (TP PKK) dan Organisasi Wanita Daerah
melaksanakan kerjasama pendampingan teknologi pertanian yang meliputi pembagian bibit
cabai, narasumber pelatihan dan penyebaran informasi pertanian berupa bahan cetakan
leaflet, juknis, bulletin dsb. Kerjasama ini telah dilaksanakan dengan ditandatanganinya
MoU antara BPTP Sumatera Selatan dan TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Badan
Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sumatera Selatan, Muslimat Nadhatul
Ulama Provinsi Sumatera Selatan, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi
Sumatera Selatan, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Sumatera
Selatan. Selain itu, BPTP Sumsel juga menjadi narasumber dalam beberapa pelatihan di
kabupaten/kota dan penyebaran informasi pertanian berupa bahan cetak.
(3). Pendampingan Teknologi Pertanian di SPR IIII Betung Kab. Banyuasin
Prov. Sumatera Selatan
Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) IIII Betung, Kab. Banyuasin merupakan salah satu
organisasi peternak dimana anggotanya sudah lama menjadi peternak binaan BPTP
Sumsel. Kerjasama yang dilakukan selama ini mencakup pendampingan teknologi
pemeliharaan ternak, kesehatan, pakan, dsb. Akan tetapi kerjasama tersebut belum
memiliki perjanjian kerjasama sehingga untuk memperkuat kerjasama yang telah dibina
selama ini, maka perjanjian kerjasama antara SPR IIII Betung dan BPTP Sumsel dibuat
dengan tujuan untuk melakukan diseminasi teknologi pertanian spesifik lokasi dari
balitbangtan yang dapat diterapkan pada lokasi peternakan SPR III Betung. Perjanjian
kerjasama telah dilaksanakan dengan ditandatanganinya nota kerjasama oleh Manager
32
SPR IIII Betung dan Kepala BPTP Sumsel dengan ruang lingkup kerjasama yaitu
pendampingan dan pengawalan dalam proses pengembangan dan implementasi inovasi
teknologi pertanian di SPR IIII Betung.
(4) Penempatan siswa PKL SMK Negeri 1 Tanjung Lago.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tanjung Lago, Provinsi Sumsel,
merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
pendidikan dan mengembangkan metodologi pembelajaran pendidikan menengah kejuruan
bidang Pertanian, dengan tujuan menghasilkan SDM pertanian yang unggul dan siap kerja.
BPTP Sumsel telah menjadi tempat pembelajaran bagi siswa SMKN 1 Tanjung Lago
terutama sebagai lokasi magang siswa sejak tahun 2013. Perjanjian kerjasama antara
SMKN 1 Tanjung Lago dan BPTP Sumsel dibuat dengan tujuan untuk melakukan
penugasan penempatan dan pendampingan siswa SMK Negeri 1 Tanjung Lago sebagai
siswa PKL di BPTP Sumsel sehingga dapat meningkatkan mutu sumberdaya manusia
melalui peningkatan mutu pendidikan pada SMK Negeri 1 Tanjung Lago dan peningkatan
kompetensi siswa didik sesuai dengan tuntutan dunia usaha pertanian serta perkembangan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perjanjian kerjasama telah dilaksanakan dengan
ditandatanganinya nota kerjasama oleh Kepala SMKN 1 Tanjung Lago dan Kepala BPTP
Sumsel dengan ruang lingkup kerjasama yaitu penempatan siswa SMK Negeri 1 Tanjung
Lago dan pendampingan BPTP Sumsel dalam proses praktek kerja lapang dan diseminasi
inovasi teknologi pertanian.
Adapun Kerjasama luar negeri adalah:
(1).Closing Rice Yield Gaps in Asia Phase II (CORIGAP - PRO), yang
merupakan bagian kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan
33
Kementerian Pertanian dengan International Rice Research Institute
(IRRI),
Kegiatan CORIGAP yang dilakukan meliputi: (1). Akselerasi teknologi PTT dan
Kegiatan Upaya Khusus Padi di 3 lokasi baru dengan target 4.500 petani adopter; (2)
Pembuatan Demonstrasi Plot Penerapan PTT berbasis Teknologi Jarwo Super di 4 desa (3
desa di Muara Telang dan 1 desa di Air Saleh) sekaligus adaptasi alat tanam
AMATOR/Transplanter; dan (3) Demonstrasi dan validasi teknogi pascapanen (perataan
lahan dengan laser leveling dan pengeringan gabah dengan teknologi box dryer berbahan
bakar sekam). Penerapan teknologi PTT pada demplot diupayakan berlokasi di wilayah
pengembangan Upaya Khusus (UPSUS) Pajale Kabupaten Banyuasin sehingga dampak
dari diseminasi teknologi dapat diaplikasikan oleh petani setempat. Demplot PTT Berbasis
Jarwo Super dilaksanakan pada lahan seluas 12 ha yang terbagi dalam 4 lokasi/desa
berbeda (masing-masing 3 ha/desa). Mitra yang terlibat dalam kegiatan ini selain IRRI
adalah Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin, BP4K Kabupaten Banyuasin, penyuluh
setempat, pemilik RMU dan kelompok tani. Akselerasi PTT dan UPSUS tiga lokasi baru
ditargetkan diterima oleh 4500 petani adaptor.
Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan Juni 2017 adalah FGD dalam rangka
identifikasi potensi dan masalah dan penetapan CPCL demplot PTT. Tahap selanjutnya
dalam kegiatan ini adalah persiapan demplot PTT dan pelaksanaannya. Sehingga output
yang akan diperoleh adalah : (1). Meningkatnya produktivitas padi di lahan pasang surut
Sumatera Selatan; (2). Diadopsinya teknologi PTT berbasis Jarwo Super di lahan pasang
surut dengan target adopter 4.500 petani; (3). Informasi mengenai kinerja alat tanam benih
langsung drum seeder yang telah dimodifikasi dan ditarik menggunakan traktor (AMATOR);
dan (4). Terdiseminasinya teknologi perataan lahan dengan memanfaatkan ‘laser leveling’
34
dan penggunaan mesin pengering berbahan bakar sekam (box dryer) di lahan pasang
surut.
(2) Indobeef Program Palm Cow Project kerjasama dengan Australian Centre
for International Agricultural Research (ACIAR).
Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Balitbangtan dan Australian Centre for
International Agricultural Research (ACIAR) yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan
daging sapi dan mata pencaharian petani kecil dan peserta rantai nilai daging sapi lainnya
di Indonesia secara signifikan. Kegiatan yang telah dilakukan adalah Scoping Mission
Tahap I pada tanggal 9 Mei 2017 dengan diadakannya pertemuan antara tim ACIAR dan
stakeholders terdiri dari pemerintah daerah, bank, dan perusahaan perkebunan sawit, yang
bertujuan untuk melakukan penjajakan dan mengidentifikasi lokasi untuk rencana kegiatan
Integrasi Sawit-Sapi di Provinsi Sumatera Selatan. Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan
Scoping Mission Tahap II pada tanggal 17-21 Juli 2017 yang bertujuan untuk menganalisis
kondisi peternakan sapi potong pada sistem integrasi sawit-sapi yang ada dan
mengidentifikasi hambatan dan peluang untuk peningkatan produktivitas. Scoping
Mission Tahap II ini dilakukan dengan cara survey lokasi berupa kunjungan lapang.
Kunjungan lapang ke lokasi perkebunan sawit dan peternakan rakyat dilaksanakan di tiga
kabupaten yaitu Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan
Komering Ilir. Kunjungan ke lapangan terdiri dari koordinasi dengan stakeholders yaitu
dinas terkait dan perusahaan perkebunan sawit, kelompok ternak, KUD, Rumah Potong
Hewan (RPH). Adapun rangkaian kegiatan kunjungan Tim ACIAR dapat dilihat di Tabel 2.
Tabel 25. Lokasi Kunjungan ACIAR 17-21 Juli 2017 di Sumatera Selatan
Tanggal Lokasi Kunjungan Tujuan
35
17 Juli 2017 - BPTP Sumsel - Pertemuan lanjutan dengan
stakeholders
Kabupaten Banyuasin
- Dinas Pertanian dan Peternakan
Kabupaten Banyuasin
- Koordinasi
- SPR IIII BETUNG (Kel. Ternak Karya
Bersama IV, Desa Suka Mulya)
- Survey kondisi peternakan dan
kondisi sosial ekonomi
18 Juli 2017 Kabupaten Musi Banyuasin
- SPR IIII SUNGAI LILIN (Kel. Ternak
Sumber Rejeki, Desa Cinta Damai)
- Survey kondisi peternakan dan
kondisi sosial ekonomi
- KUD Mukti Jaya, Sungai Lilin - Survey kondisi sosial ekonomi
- Lokasi penggembalaan ternak di kebun
sawit di Desa Cinta Damai
- Survey kondisi penggembalaan
ternak
- Kelompok Ternak Harapan Jaya Desa
Bukit Jaya, Sungai Lilin
- Survey kondisi peternakan dan
kondisi sosial ekonomi
19 Juli 2017 Kabupaten Ogan Komering Ilir
- SPR IIII MESUJI RAYA (Kel. Ternak Sido
Mulyo, Desa Suka Sari)
- Survey kondisi peternakan dan
kondisi sosial ekonomi
- PT. SAMPOERNA AGRO - Koordinasi
- KUD Mekar Sari, Mesuji Raya - Survey kondisi sosial ekonomi
20 Juli 2017 Kota Palembang
- RPH DP3K Kota Palembang - Survey rantai pasar ternak
- Kel. Ternak Suak Jaya Desa Sukajaya
Kec. Sukarami
- Survey kondisi peternakan dan
kondisi sosial ekonomi
21 Juli 2017 - Pasar Tradisional di Kota Palembang - Survey rantai pasar ternak
Kunjungan ke lapangan ini bertujuan untuk melihat kondisi aktual di lapangan mulai
dari aspek pemeliharaan sapi di lahan sawit, aspek sosial dan aspek ekonomi sehingga
dapat dikaji potensi dan permasalahan pengembangan usaha integrasi sapi sawit di
Sumsel. Hasil dari kunjungan akan digunakan untuk merumuskan model pengkajian
spesifik lokasi.
36
2.2.2. Pengelolaan Perpustakaan
Kegiatan pengelolaan perpustakaan di BPTP Sumatera Selatan yang meliputi
penerimaan, pengolahan bahan pustaka, pengolahan database bahan koleksi,dan
pelayanan kepada pemustaka, memerlukan pengetahuan dan wawasan yang luas
khususnya bagi pengelola dan pustakawan. Pada tahun anggaran 2017, kegiatan
pengelolaan perpustakaan BPTP Sumatera Selatan meliputi mengalami peningkatan,
terutama dalam pengelolaan pangkalan data/database data.
37
Hasil capaian pengolahan data mencapai 242judul dari target yang ditentukan
sebelumnya sebanyak 100.
Untuk pengembangan perpustakaan di BPTP Sumatera Selatan samapai saat ini
memang jauh dari kata sempurna, karena harus menyesuaikan dengan organisasi, visi
misi induknya sehingga pengaturan dalam penyusunan peraturan perundangan
perpustakaan khusus, masih menjadi bagian dari organisasi induknya, Tingkatan
kedudukan dan kepentingannya tergantung kepedulian serta perhatian masing-masing
UK/UPT. Keterbatasan SDM, pengetahuan tata cara pengelolaan bahan koleksi serta
anggaran terutama upah pengolahan bahan koleksi merupakan faktor yang sulit dihindari,
sehingga pengolahan data bahan pustaka sering terhambat. Oleh karena itu perlu
ditingkatan pemahaman dan kemampuan pengelola perpustakaan.
2.2.3. Pengelolaan Website
Updating berita bersumber dari informasi yang didapat dari kegiatan litkaji dan
diseminasi yang dilaksanakan di BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan, selain itu dari
kegiatan yang dilaksanakan oleh manajemen BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan.
Pengelola website mendapat informasi dari hasil wawancara dengan penanggung jawab
dan tim kegiatan pengkajian dan diseminasi, serta dari liputan langsung pada acara-acara
yang diadakan manajemen BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan.
38
Aktivitas kunjungan di perpustakaan
Untuk Updating Info Teknologi data dikumpulkan dari peneliti dan penyuluh BPTP-
Balitbangtan Sumatera Selatan, yang bersumber dari hasil litkaji Balitbangtan Kementan.
Untuk tautan website yang lain seperti pada baru tautan SDM, Beranda, Profil, Fasilitas,
Program, Produk, Publikasi, Info publik, video, kerjasama dan UPBS, pembaharuan data
melibatkan pihak yang terlibat langsung. Seperti pada tautan UPBS data di update sesuai
informasi dari pengelola UPBS mengenai perubahan stok benih yang keluar masuk
Gudang UPBS KP Kayuagung.
Hasil total Update website untuk memperbaharui berita dan infotek yang telah
ditayangkan dalam website dari bulan Januari hingga Desember 2017 yakni sebanyak 173
(seratus sembilan puluh tiga) kali.
Tabel 26. Rekap Berita dan Info Teknologi di website BPTP-Balitbangtan Sumsel
Tahun 2017
No Judul Keterangan
Tanggal
Upload
39
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Sosialisasi Tax-Amenesti Pajak, E-Kinerja Dan Pelatihan
Metodelogi Penelitian Sosial Ekonomi
Temu Lapang Closing Rice Yield Gaps In Asian (Corigap)
Mendukung Ip 300 Di Lahan Pasang Surut Desa
Seminar Hasil Litkaji Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan
Tahun Anggaran 2016
Audensi Bptp Balitbangtan Sumatera Selatan Dengan
Ketua Tim Penggerak Pkk Propinsi Sunatera Selatan
Wokshop Penyusunan Laporan Keuangan Semester Ii
Uappa/B-W Ta 2016
Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Siapkan 25.000 Bibit
Mendukung Gertam Cabai
Potensi Pengembangan Tanaman Buah Di Sumatera
Selatan
Penandatangan Mou Dan Launching Gaerakan Tanam
Cabai Propinsi Sumatera Selatan
Penyerahan Bibit Cabai Dan Pendampingan Inovasi
Teknologi Pemanfaatan Lahan Pekarangan
Seminar Penajaman Ropp Dan Rodhp Bptp-Balitbangtan
Sumatera Selatan Tahun 2017
Entry Meeting Bpk-Ri Di Propinsi Sumatera Selatan
Launcing Gerakan Tanam Cabai Dan Tebu Kota
Prabumulih
Gerakan Tanam Cabai Kabupaten Muaraenim
Optimalisasi Produktivitas Padi Sawah Irigasi Melalui
Penerapan Teknologi Jajar Legowo Super
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
06 Januari
2017
13 Januari
2017
16 Januari
2017
23 Januari
2017
27 Januari
2017
31 Januari
2017
07 Februari
2017
09 Februari
2017
10 Februari
2017
13 Februari
2017
16 Februari
2017
23 Februari
2017
24 Februari
2017
01 Maret
2017
40
15
16
17
1
8
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
Kegiatan Tanam Upbs
Peninjauan Lokasi Tpp Oleh Kadis Pertanian Kabupaten
Musi Banyuasin
Kunjungan Plt Bupati Banyuasin Ke Tpp Tanjung Lago
Potensi Tanaman Sirih Air Dan Ganggang Air Sebagai
Pakan Itik Pegagan
Temu Koordinasi Kegiatan Peninhkatan Komunikasi,
Koordinasi Dan Diseminasi Inovasi Pertanian
Budidaya Kedelai Diantara Lahan Perkebunan/Lahan
Kehutanan
Koordinasi Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Dan
Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin
Optimalisasi Lahan Pekarangan Dengan Menanam
Sayuran
Pertemuan Tim Upsus Siwab Bptp-Balitbangtan Sumatera
Sselatan Dan Paguyuban Inseminator Musi Rawas
Koordinasi Kegiatan Upsus Siwab Di Kabupaten Musi
Banyuasin
Sosialisai Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman
Padi
Sosialisasi Gerakan Tanam Cabai Tingkat Kecamatan Di
Kota Palembang
Rapat Percepatan Program Upsus Siwab Di Kabupaten
Banyuasin
Teknologi Media Tanam Pada Budidaya Jamur Tiram
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
02 Maret
2017
03 Maret
2017
03 Maret
2017
10 Maret
2017
13 Maret
2017
14 Maret
2017
17 Maret
2017
20 Maret
2017
22 Maret
2017
23 Maret
2017
23 Maret
2017
24 Maret
2017
24 Maret
2017
24 Maret
2017
24 Maret
2017
41
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
Kunjungan Bupati Kabupaten Banyuasin Dan Rektor Ipb
Diseminasi Tanaman Bawang Merah Di Lahan Sawah
Tadah Hujan
Sosialisasi Budidaya Teknologi Jarwo Super Di Kabupaten
Musi Rawas
Pengelola Tpp Semidang Aji Dipertajam Pemahamannya
Pak Purwadi Dan Anggotanya Siap Tingkatkan Indeks
Pertanaman
Sosialisasi Pengembangan Pola Tanam Tanaman Pangan
Di Sumatera Selatan
Cabai Banyuasin Sumber Daya Genetik Lokal Sumatera
Selatan
Upaya Meningkatkan Ketersediaan Benih Padi Di Sumsel
Gelebak Dalam Tidak Surut Untuk Mendukung Peningkatan
Produksi Padi
Padi Sanapi, Sumber Daya Genetik Lokal Sumatera
Selatan
Pelaksanaan Monev Taman Teknologim Pertanian
Sumatera Selatan
Penggelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Padi
Spesifik Sumatera Selatan
Transfer Inovasi Teknologi Budidaya Jagung Dan Cabai
Peningkatan Pengetahuan Kelompok Tani Melalui Praktek
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
27 maret
2017
30 Maret
2017
04 April
2017
04 April
2017
06 April
2017
07 April
2017
10 April
2017
10 April
2017
13 April
2017
13 April
2017
14 April
2017
18 April
2017
19 April
2017
19 April
2017
42
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
Lapang
Antusiasme Petani Gelebak Dalam Menentukan Dosis
Pemupukan Padi
Taman Teknologi Pertanian Diharapkan Mandiri Setelah
Tahun Ke-3
Membuat Kompos Padat Dari Kotoran Teknak Kerbau
Teknologi “Jajar Legowo 41” Dengan “Inpari 41”
Meningkatkan Hasil Petani Kabupaten Oku
Darma Wanita Bptp-Balitbangtan Sumsel Peringati Hari
Kartini
Launching Tpp Mart Bmt Di Ttp Tanjung Lago Banyuasin
Pembagian Bibit Cabai Kepada Kelompok Wanita Tani
(Kwt) Desa Mulya Sari Tanjung Lago
Launching Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) Di
Kabupaten Oku
Tingkatkan Kompetensi Peneliti Dan Penyuluh, Bptp-
Balitbangtan Sumsel Gelar Seminar Bulanan
Mou Gertam Antara Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan
Dengan Pw Muslimat Nu Sumatera Selatan
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Antara Bptp-
Balitbangtan Sumsel Dengan Bkow Dan Kpp
Karakteristik Tanaman Duku Varietas Palembang Dan
Rasuan
Pertemuan Scoping Mission Aciar Dan Badan Litbang
Pertanian Di Sumatera Selatan
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
19 April
2017
20 April
2017
21 April
2017
21 April
2017
27 April
2017
27 April
2017
27 April
2017
02 Mei 2017
04 Mei 2017
05 Mei 2017
08 Mei 2017
09 Mei 2017
16 Mei 2017
43
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
Sumsel Expo 2017, Badan Litbang Pertanian Gelat Stand
Dengan Beragam Informasi Teknologi
Teknologi Jarwo Super Bertekat Mendongkrak
Produktivitas Padi Di Sumatera Selatan
Sosialisasi Programkopri Dan Kesejahteraan Pegawai
Pola Tanam Lahan Rawa Lebak Dangkal Meningkatkan
Pendapatan Petani
Kunjungan Pengelola Ttp Semidang Aji Ke Ttp Tanjung
Lago
Tarhib Ramadhan 1415 H
Pelatihan Dan Demontrasi Teknologi Pertanian Lahan Di
Bimbing Laser (Land Leveling Assisted By Laser)
Teknik Pengendalian Gulma Pada Tanaman Jagung
Membuat Kompos Dengan Aktinator E14
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2017
Partisipasi Peneliti Dn Penyuluh Dalan Seminar Bulanan
Bptp Balitbangtan Sumsel
Teknik Penyemaian Cabai
Pakan Lengkap Fermentasi
Opening Metting Audit Surveliance 1150 9001 2008
Wapada Serangan Hama Wereng Batang Coklat Pada
Pertanaman Padi Di Sumatera Selatan
Monitoring Serangan Wereng Batang Coklat
Pemupukan Berimbang Pada Tanaman Bawang Merah Di
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Info Teknologi
Berita
Berita
Info Teknologi
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
18 Mei 2017
22 Mei 2017
23 Mei 2017
26 Mei 2017
26 Mei 2017
29 mei 2017
29 Mei 2017
30 Mei 2017
01 Juni
2017
06 Juni
2017
07 Juni
2017
08 Juni
2017
13 Juni
2017
14 Juni
2017
17 juni 2017
21 Juni
2017
22 Juni
2017
01 Juli 2017
44
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
Lahan Irigasi Kabupaten Musi Rawas
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Halal Bi Halal Keluarga Besar Bptp-Balitbangtan Sumatera
Selatan
Pembenihan Jagung Komposit
Rakor Upsus Pajale Sumatera Selatan
Seminar Bulanan Dan Sosialisasi Hasil Rakor Penajaman
Program Bptp-Balitbangtan 2018
Sistem Pesemaian Terapung
Diskusi Kegiatan Integrasi Sap Sawit Kerjasama Antara
Badan Litbang Pertanian Dengan Aciar
Survei Calon Lokasi Perkembangan Kedelai Soybian Belt
Dan Opclkedelai Propinsi Sumatera Selatan
Pertemuan Upsus Siwab Regional Sumatera
Penyebaran Teknologi Pengendalian Swbc Melalui Media
Elektronik
Stop Serangan Wereng Coklat Dengan Gerakan
Pengendalian Terpadu
Penjelasan Lengkap Menteri Pertanian Terkait Kasus Beras
Pt Ibu
Scoping Mission Tahap Ii Aciar Palh-Cow Project Di
Sumatera Selatan
Alat Tanam Benih Langsung Modifikasi Di Tarik Traktor
(Anator) Di Lahan Pasang Surut
Berita
Info teknologi
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
04 Juli 2017
07 Juli 2017
10 Juli 2017
13 Juli 2017
17 Juli 2017
18 Juli 2017
21 Juli 2017
21 Juli 2017
25 Juli 2017
26 Juli 2017
27 Juli 2017
27 Juli 2017
28 Juli 2017
28 Juli 2017
28 Juli 2017
45
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
Pertemuan Koordinasi Pendampingan Upsus Pajale
Gelar Teknologi Dan Temu Lapang Budidaya Padi
Monitoring Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Di Bptp
Sumsel Oleh Biro Oke Kementan
Tanggapan Kepala Bb Pascarmen Terhadap Mutu Beras
Premium
Tanggapan Kepala Bb Padi Mengenai Kasus Beras
Monitoring Penyebaran Wbc
Pelaksanaan Focus Group Discussion Kegiatan Corigap
Ttp Sungai Lilin Selenggarakan Temu Teknologi Dengan
Stakeholder
Dari Sebutir Beras Terkandung Nilai Idiologi Kita Sebagai
Bangsa
Sosialisasi Birokrasi Dan Seminar Bulanan Bptp-
Balitbangtan Sumatera Selatan
Temu Lapang Teknologi Budidaya Jagung Hibrida
Balitbangtan
Seminar Tengah Tahun Kegiatan Litkai Bptp-Balitbangtan
Sumatera Selatan
Sosialisasi Fasilator Pembiayaan Petani Swadaya (Fp 25)
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72
Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan
Tanam Perdana Kegiatan Produksi Benih Jagung Hibrida
Dan Komposit Upbs Balitbangtan Sumsel
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
29 Juli 2017
30 Juli 2017
31 Juli 2017
02 Agustus
2017
03 Agustus
2017
06 Agustus
2017
08 Agustus
2017
08 Agustus
2017
10 Agustus
2017
11 Agustus
2017
17 Agustus
2017
23 Agustus
2017
23 Agustus
2017
24 Agustus
2017
46
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
Panen Padi Ip 200 Di Lahan Kering Kabupaten Oki
Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran Secara Vertikultur
Rakor Gabungan Sergap Sumsel
Budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Kub)
Pelatiahan Budidaya Jagung
Cara Muda Membuat Pestisida Nabati
Pengeringan Gabah Dengan Alat Pengering Tenaga Surya
Modifikasi Di Lahan Rawa Lebak
Panen Padi Kegiatan Pendampingan Kawasan Padi
Pertemuan Evaluasi Ii Penanganan Ganggrep Upsus Siwab
Tahun 2017
Produksi Benih Jagung Hibrida Dan Komposit Balitbangtan
Di Kabupaten Okut Sumatera Selatan
Pemanfaatan Tandan Kosong Sawit Sebagai Media
Budidaya Jamur Merang
Pertemuan Kelompok Kegiatan Pembibitan Itik Pegagan
Rapat Koordinasi Upsus Kota Pagaralam
Seminar Bulanan Bptp-Balitbangtan Sumsel
Teknologi Perataan Lahan Dengan Bantuan Sinar Laser
Berita
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
24 Agustus
2017
25 Agustus
2017
25 Agustus
2017
29 Agustus
2017
30 Agustus
2017
31 Agustus
2017
31 Agustus
2017
5September
2017
5September
2017
6September
2017
11
September
2017
12
September
2017
13
September
2017
14
September
2017
16
47
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
Penggunaan Pestisida Secara Tepat Dan Bijaksana
Status Dan Gerdalhama Wbc Dan Kerdil Rumput Secara
Tuntas Di Kabupaten Oku Timur
Penggunaan M-Dec Guna Menekan Jumlah Escherichia
Coli Pada Kotoran Sapi
Monitoring Dan Koordinasi Gerdal Wbc Di Sumatera
Selatan
Demplot Antisipasi Serangan Wereng Di Lahan Pasang
Surut Sumatera Selatan
Penggunaan Vub Meningkatkan Provitas Padi Di Lahan
Rawa Lebak Sumatera Selatan
Rakor Dan Monitoring Serangan Wbc Dan Kerdil Rumput
Di Sumataera Selatan
Partisifasi Peneliti Dan Penyuluh Bptp-Balitbangtan Sumsel
Dalam Workshop Di Irri
Temu Informasi Teknologi Pertanian
Kinjungan Tim Khusus Pangan Kementerian Pertanian
Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Di Bptp-
Balitbangtan Sumsel
Refugia
Evaluasi Serapan Gabah Provinsi Sumatera Selatan
Info Teknologi
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info
Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
September
2017
18
September
2017
19
September
2017
20
September
2017
20
September
2017
24
September
2017
25
September
2017
27
September
2017
29
september
2017
02 Oktober
2017
03 Oktober
2017
05 Oktober
2017
10 Oktober
2017
11 Oktober
2017
12 Oktober
2017
48
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
Panen Raya Jagung Hibrida
Pelatihan Pengolahan Susu Kerbau Dan Pembuatan
Kompos
Bantuan Benih Sumber Padi Vub Untuk Petani Pemulutan
Asuransi Usaha Tani Padi Untuk Perlindungan Petani Padi
Stevia
Partisipasi Bptp-Balitbangtan Sumsel Pada Seminar Pur-
Lso Tahun 2017
Pelatihan Pembuatan Pakan
Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Servik Dan Payudara
Pengertian Dan Jenis Pola Tanam
Bimtek, Dampingi Petani – Penyuluh Siapkan Benih
Umggul Kedelai Dan Karet
Temu Lapang Kegiatan Bioindustri Di Lahan Pasang Surut
Seminar Bulanan, Peneliti – Penyuluh Berlomba Hasilkan
Karya Ilmiah Berkualitas
Dwp Bptp-Balitbangtan Sumsel Fasilitasi Pemeriksaan Dini
Kanker Servik Dan Payudara
Bimtek Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan
Melalui Aplikasi Fosfat Alam
Kunjungan Kerja Staf Ahli Menteri
Pendampingan Budidaya Jagung (Ip200)
Info Teknologi
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
16 Oktober
2017
17 Oktober
2017
20 Oktober
2017
23 Oktober
2017
27 Oktober
2017
30 Oktober
2017
03
November
2017
06
November
2017
06
November
2017
07
November
2017
08
November
2017
08
November
2017
13
November
2017
14
November
2017
15
November
49
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
Kunjungan Kerja Kepala Balai Besar Pasca Panen
Pembuangan Daun Jagungn Bagian Bawah Sebagai
Upaya Menekan Penyakit Hawar Daun
Penandatanganan Kontrak Kinerja Bptp-Balitbangtan
Sumatera Selatan
Rapat Koordinasi Program Penguatan Kelembagaan
Penelitian Dan Pengembangan
Upsus Pajale, Pelatihan Dan Temu Lapang Pengendalian
Hama Wbc Dan Penyakit Kerdil Rumput
Monitoring Perkembangan Produksi Benih Jagung, Upbs
Bptp-Balitbangtan Sumsel
Pentingnya Pemupukan Pada Tanaman Karet
Upsus Siwab; Bimtek Pengelolaan Pupuk Organik
Kabupaten Banyuasin
Upsus Pajale: Panen Raya Perdana Jagung
Rencana Launching Ttp Muba, Bptp-Balitbangtan Sumsel
Lakukan Koordinasi
Sosialisasi Sumber Daya Genetik Dan Pendaftaran
Varietas Lokal
Monev Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian
Pemanfaatan Umbi Talas Rawa Sebagai Alternatif Pakan
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
2017
15
November
2017
17
November
2017
17
November
2017
17
November
2017
21
November
2017
21
November
2017
23
November
2017
29
November
2017
29
Novemver
2017
06
Desember
2017
07
Desember
2017
08
Desember
2017
50
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
Unggas
Sosialisasi Media Sosial Bptp-Balitbangtan Sumsel
Pembinaan Pegawai Bptp-Balitbangtan Sumsel
Pagaralam Panen Padi Varietas Ciherang Dan Mekonga
Panen Padi Rawa Pasang Surut, Jamin Surflus Pangan Di
Sumatera Selatan
Banyuasin Lumbung Pangan Sumsel, Tiada Hari Tanpa
Panen
Bptp-Balitbangtan Sumsel Gelar Bimtek Alih Teknologi
Pertanian Spesifik Lokasi Di Ttp Tanjung Lago
Sumsel Lanjutkan Tiada Hari Tanpa Panen
Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Sayuran
Dengan Pestisida Nabati
Lahat Mantapkan Swasembada Beras Di Sumsel
Petani Lubuk Linggau Sukses Panen Padi Varietas Inpari
31
Pembuatan Media Tanam Dalam Budidaya Sayuran Di
Pekarangan
Pagar Alam Swasembada Pangan Berkelajutan Di Dataran
Tinggi Sumsel
Jarwo Super Teknologi, Tantangan Dan Kendala
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
Info Teknologi
Berita
Info Teknologi
Berita
Berita
11
Desember
2017
18
Desember
2017
19
desember
2017
20
Desember
2017
21
Desember
2017
21
Desember
2017
22
Desember
2017
22
Desember
2017
23
Desember
2017
27
desember
2017
27
Desember
2017
28
Desember
2017
29
Desember
2017
51
Eksotisme Padi Lokal Di Dataran Tinggi Lahat
Full Mekanisasi Di Lahan Pasang Surut Habis Panen
Langsung Olah Dan Tanam
2.2.4. Pengelolaan Laboratorium
Pada tahun 2017 kegiatan pengelolaan laboratorium memiliki ruang lingkup sebagai
berikut; a) melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana laboratorium b) memenuhi
kebutuhan pengguna laboratorium. Sampai akhir tahun, pelaksanaan pengelolaan
laboratorium cukup baik. Pemeliharaan dan penyediaan sarana yang dibutuhkan telah
seoptimal mungkin dilaksanakan. Kegiatan pemeliharaan dilakukan pada kulkas dan
laminar air flow, selain itu juga dilakukan inventarisasi alat utama dan alat pendukung serta
52
bahan. Sampai bulan Desember 2017 total kunjungan pengguna laboratorium sebanyak 90
kunjungan, 6 kegiatan/kajian yang rutin menggunakan fasilitas laboratorium, dan 35 sampel
tanah yang telah dianalisa.
2.2.5. Pengelolaan Kebun Percobaan Kayuagung
Kebun Percobaan Kayuagung mempunyai agoekosistem lahan rawa lebak yaitu lahan
lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam, komonditas dapat dibudidayakan adalah
tanaman padi, buah-buahan, palawija, sayur-sayuran dan kolam ikan. Kebun percobaan
dapat diberdayakan menjadi sarana pengkajian dan disiminasi hasil penelitian dan
pengkajian. Kebun percobaan Kayuagung di BPTP Sumatra Selatan yang dapat
dioptimalkan pemanfaatan lahannya untuk kegiatan diseminasi teknologi yang telah
dihasilkan oleh Badan Litbangtan. Kegiatan ini berupa plot percontohan pengelolaan
tanaman padi di lahan rawa lebak yang mempunyai produktivitas yang tinggi, keragaan
palawija, sayuran dan buah-buahan, seperti Duku, Rambutan, Sirsak Ratu, Pepaya dll
serta pemeliharaan ikan.
Kebun Percobaan Kayuagung terletak di wilayah Kota Kayuagung Kabupaten Ogan
Komering Ilir, 67 km dari kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan
yang berada di ibukota Propinsi Sumatera Selatan Palembang. Kebun Percobaan
Kayuagung memiliki luas kurang lebih 27,3 ha yang terdiri dari lahan lebak dangkal 8,5 ha,
lebak tengahan 5,3 ha dan lebak dalam 13,5 ha. Saat ini peruntukan Kebun Percobaan
Kayuagung sebagai berikut :
1. 1,62 ha untuk perumahan karyawan
2. 2,00 ha untuk gudang dan perkantoran
3. 2,33 ha untuk pertanaman lahan kering
53
4. 20,64 untuk pertanian lahan rawa lebak.
Status kepemilikan lahan KP Kayuagung adalah Sertifikat Hak Guna Pakai dari Pemda
Kabupaten Ogan Komering Ilir yang terdiri dari 4 Surat Sertifikat Yaitu Sertifikat No 004
dengan luas 2,33 ha, Sertifikat No 005 dengan luas 1,62 ha, Sertifikat No 006 dengan luas
2,00 ha dan Sertifikat No 007 dengan luas 20,64 h.
Kebun Percobaan Kayuagung berdiri sejak tahun (1984), telah dimanfaatkan
sebagai tempat penelitian dan pengkajian pemanfaatan lahan rawa lebak untuk budidaya
pertanian khususnya tanaman pangan.
Sekarang di Kebun Percobaan Kayuagung terdapat:
1. Petak percontohan penataan lahan lebak sistim Surjan ( 0,5 ha) untuk lebak
dangkal dan hingga lebak tengahan
2. Petak percontohan penataan lahan lebak sistim Caren ( 0,5 ha ) untuk lebak
dangkal dan hingga lebak tengahan. Namun kondisi petak percontohan saat ini
sudah tidak baik lagi dikarenakan sudah banyak endapan lumpur/tanah pada
tabukan dan caren. Untuk itu perlu dilakukan rehabilitasi kembali dengan
melakukan pengerukan atau penggalian ceren lagi.
3. Petak lain yang sering digunakan untuk percobaan Uji Daya hasil lapang galur, Uji
Multi lokasi, Uji Galur dan Uji Varietas baru dari Balai Besar Padi Sukamandi.
4. Kebun karet sadap seluas 1 ha (300 batang) dan masih dalam pemeliharaan 0,5 ha
(200 batang) dan kelapa sawit seluas 0,5 ha (125 batang) .
5. Kebun karet entres terdiri dari 6 klon seluas 0,5 ha ( 3600 batang ) yang kerja
sama dengan Balai Besar Penelitian Karet Medan.
6. Kebun Koleksi Sumberdaya Genetik Lokal ( Duku, Manggis, Durian) 1 ha umur 1
tahun.
54
7. Kebun Bibit Induk/ KBI untuk mendukung Pengembangan Kawasan Rumah Pangan
Lestari M-KRPL Sumsel.
8. Stasiun pengamatan dari Badan Meteriologi Klimatologi dan Geofisika (curah hujan,
kecepatan angin, arah mata angin dsb)
9. Fasilitas UPBS seperti lantai jemur, gudang prosesing, gudang penyimpanan benih.
10. Sarana Alsintan untuk pengolahan tanah dan prosesing hasil padi.
2.2.6. Pengelolaan Kebun Percobaan Karang Agung
Kebun Percobaan Karang Agung adalah salah satu Kebun Percobaan yang
ada di Balai Penkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, dan di bawah Badan
Litbang Pertanian.Ada 118 Kebun Percobaan yang tersebar diseluruh Indonesia.
Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian, demonstrasi plot teknologi spesifik lokasi, koleksi plasma nutfah dan
memproduksi benih sumber.
Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Karang Agung
Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin yang memiliki agroekosistem lahan
rawa pasang surut, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi teknologi yang
55
dilakukan oleh BPTP Sumatera Selatan. Yang bertujuan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan Kebun Percobaan Karang Agung agar berfungsi sebagai media
pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara memperlihatkan,
memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan rawa pasang
surut menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi
petani.
Kegiatan yang dilaksanakan pada musim tanam Th 2017 di Kebun Percobaan
Karang Agung meliputi demonstrasi plot beberapa varietas/ galur padi rawa, jagung
manis, kelapa sawit, kelapa, koleksi plasma nutfah durian, manggis dan duku.
Kegiatan kerja sama dengan Balai Besar Padi Sukamandi.
Pertumbuhan tanaman padi secara umum baik.Padi yang ditanam di KP
Karang Agung pada MT 2017 yaitu ;Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9hasil 1900 kg Benih
Pokok (BP). Pemeliharaan kebun kelapa sawit seluas 2,5 ha terdiri dari 350 batang
usia produktif TM, diperoleh hasil 2510 kg Tandan Buah Segar (TBS). Pemeliharaan
kelapa sebanyak 40 batang diperoleh hasil 1200 kg.Kebun Pengelolaan Sumber Daya
Genetik buah- buahan seluas 1 ha, tanam bulan Desember 2013.
2.3. PENELITIAN/PENGKAJIAN DAN DISEMINASI
2.3.1. Pengelolaan Tata Air dan Perbaikan Budidaya Padi Di Lahan Rawa
Lebak
56
Hidrologi lahan rawa lebak cocok untuk tanaman padi, oleh sebab itu padi
merupakan salah satu komponen utama dalam sistem usahatani masyarakat lahan rawa
lebak. Perbaikan teknologi melalui pengaturan pola kondisi air rawa lebak dan teknologi
budidaya dapat menunjang keberhasilan tersebut.Kajian terdiri dari dua kegiatan utama
yakni: 1) Kajian tata air untuk meningkatkan IP 200 dan 2) Kajian paket teknologi budidaya
untuk meningkatkan produktivitas padi. Kajian tata air untuk meningkatkan IP 200 akan
dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir di lahan petani seluas +6 ha. Kajian ini disusun
berdasarkan Rancangan Petak Terpisah yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dan diulang
sebanyak 3 kali. Faktor Pertama yakni sistem pengaturan tata air: A) tradisional, B) aliran
satu arah. Faktor ke dua sistem pengelolaan lahan adalah 1) surjan, 2) hamparan.
Sedangkan kajian paket teknologi budidaya dilaksanakan pada lahan seluas 3 ha.
Teknologi yang diuji berupa budidaya padi sistem “Hazton”, penerapan PTTserta cara
budidaya petani (eksisting). Kajian disusun berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (RPT)
dengan petak utama yakni varietas (V) yakni Inpari 12 (V1), Inpari 30 (V2), Inpara 6 (V3)
serta anak petak yakni teknologi budidaya (T) yang meliputi sistem Hazton (T1), teknologi
PTT (T2) dan teknologi eksisting (T3). Petani sebagai ulangan dan dilakukan pada 3
petani. Adapun teknologi padi Hazton mengikuti Juknis Budidaya Padi Hazton yang
dikeluarkan Balitbangtan (2015), sedangkan untuk teknologi eksisting mengikuti cara
petani. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.Data primer meliputi
pengamatan langsung seperti 1) fluktuasi air di saluran, 2) pertumbuhan dan produktivitas
tanaman, 3) sifat fisik dan kimia tanah, 4) serapan hara N,P dan K, 5) kualitas air di saluran
dan lahan, dan 6) intensitas serangan OPT. Selain itu juga dilakukan wawancara langsung
pada petani kooperator untuk mengetahui data input dan output usahataninya serta
57
mengetahui persepsi petani terhadap penerapan teknologi. Data yang diperoleh
selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan T-test untuk melihat tingkat efektivitas
teknologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pengaturan air maka air di lahan
persawahan dapat dikendalikan dan indek pertanaman dapat ditingkatkan
2.3.2 KAJIAN PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS PADI
Kajian dilaksanakan di lahan petani rawa lebak Desa Gelebak Dalam, Kec.
Rambutan, Kabupaten Banyuasin sejak Januari sampai Desember 2017. Lokasi dipilih
berdasarkan kriteria: petani mau menerapkan teknologi yang dianjurkan, lokasi mudah
dijangkau dan petani bersifat kooperatif. Demplot dilaksanakan pada lahan seluas 3 ha
yang melibatkan 6 petani kooperator. Teknologi yang diuji berupa perbaikan teknolgi
budidaya padi terutama dalam hal pengelolaan tanaman terpadu. Kajian disusun
berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan merupakan kombinasi antara
jenis varietas yang terdiri dari varietas adapatif rawa lebak: Inpari 30 dan Inpari 33 serta
varietas padi rawa: Inpara 2 dan Inpara 4 dan teknologi budidaya yang meliputi sistem
Hazton modifikasi 1 (T1), sistem Hazton modifikasi 2 (T2) dan teknologi PTT (T3) serta
sebagai pembanding adalah teknologi yang biasa diterapkan petani yang meliputi cara
budidaya dan penggunaan varietas. Modifikasi Hazton yang diterapkan terutama dalam hal
perbedaan umur dan jumlah bibit. Tujuan kegiatan adalah menguji beberapa paket
58
teknologi budidaya terbaik (Hazton dan PTT) yang dapat meningkatkan produktivitas padi
di lahan rawa lebak serta menganalisis pengaruh beberapa paket teknologi budidaya
(Hazton dan PTT) terhadap tingkat serangan OPT dan keuntungan ekonomi petani di lahan
rawa lebak. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi Hazton modifikasi I (jumlah bibit 10-
20 bibit/lubang tanam) memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan
dengan teknologi lainnya. Jumlah anakan produktif yang dihasilkan teknologi Hazton lebih
tinggi dibanding teknologi PTT, mamun persentase pembentukan anakan produktif lebih
rendah bila dibanding teknologi PTT (<70% dari jumlah anakan yang terbentuk). Teknologi
Hazton berpengaruh terhadap intensitas serangan OPT, dimana intensitas serangan OPT
lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi PTT. Hasil kajian juga menunjukkan
produktivitas padi yang dihasilkan pada berbagai perlakuan relatif lebih rendah dari target
yang diinginkan, dimana secara umum provitas padi hanya mencapai 4 t/ha. Perbedaan
provitas antara teknologi PTT dengan teknologi Hazton secara rata-rata hanya sebesar 0,2
t. Melihat hasil produksi yang tidak terlalu berbeda antara teknologi PTT maupun Hazton
yang dimodifikasi ini tentunya penerapan teknologi PTT masih sangat diperlukan untuk bisa
mendongkrak provitas padi khsusunya di lahan rawa lebak. Selain itu, penggunaan
varietas-varietas unggul yang adaptif di lahan rawa lebak sangat diperlukan untuk
mengatasi permasalahan cekaman lingkungan abiotik seperti genangan maupun adanya
cekaman keracunan hara tertentu.
2.3.3. Pemanfaatan Potensi Rawa Lebak Untuk Pengembangan Ayam KUB
dan jamur Merang
Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) adalah salah satu galur baru ayam
kampung hasil dari penelitian pemuliaan para breeder yang bekerja selama hampir 9 tahun
59
lebih yang diinisiasi Balai Penelitian Ternak Ciawi sejak tahun 1997. Ayam KUB merupakan
hasil pemuliaan dari ayam kampung unggul yang berada di Jawa Barat, indukan ayam
kampung tersebut berasal dari Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Jatiwangi
Kabupaten Majalengka, Pondok Rangon (Depok), Ciawi dan Jasinga Kabupaten
Bogor.Ayam KUB telah dilepas sebagai galur ayam kampung baru oleh Menteri Pertanian
pada tahun 2014 dengan nama Ayam KUB-1 melalui Keputusan Menteri Pertanian No.
274/Kpts/SR.120/02/2014.
Ada beberapa keunggulan ayam KUB ketimbang ayam kampung biasa, yang
membuatnya menjadi alternatif bagi masyarakat untuk membudidayakannya. Pertama,
produksi telur ayam KUB yang diusahakan intensif mencapai 160-180 butir/induk/tahun.
Kemampuan bertelur ayam KUB meningkat karena sifat mengeramnya yang sudah
dihilangkan, sedangkan ayam kampung maksimal hanya 146 butir/induk/tahun. Kedua,
bobot telur saat ayam pertama bertelur mencapai 35-36 gram/butir. Bobot telurnya akan
bertambah terus sampai 45 gram/butir pada bulan kedua. Ketiga, umur pertama bertelur
lebih awal yakni 20-22 minggu. Keempat, bobot badan mencapai 1.200-1.600 gram/ekor.
Keunggulan lainnya yang paling menonjol dari ayam KUB adalah rasa daging ayam yang
enak. Komposisi kimiawi daging ayam KUB yang dipotong pada umur 10 minggu yakni,
kadar air 73,41 %, protein 24,55 %, lemak 1,83 % dan kolesterol 0,14 %. Meski sudah bisa
panen pada umur 10-12 minggu, sifat dan tekstur daging ayamnya tidak hilang (Sinar Tani,
2016).
Jamur merang merupakan produk pangan bergizi tinggi, rasa disukai dan dapat
dihasilkan dari media tumbuh biomasa hasil samping pertanian, peternakan maupun
biomasa tanaman air yang belum banyak dimanfaatkan. Ada sekitar 30 macam substrat
60
yang telah diteliti namun aplikasi dilapangan umumnya menggunakan media jerami padi,
kapas,tebu dan kardus.
Pengembangan pengusahaan jamur merang di Sumatera selatan cukup potensial dari
sisi pasar, maupun ketersediaan bahan baku. Pada tahun 2016 harga jamur ini dipasaran
di kab OKI mencapai 40 ribu perkilo dan dari petani dijual harga 20 ribu per kilo. Beberapa
petani di Sumatera Selatan telah mulai mengusahakan komoditas ini.
Asmani (2014) menyatakan kelapa sawit merupakan salah satu tanaman unggulan
di Provinsi Sumatera Selatan, dengan luas 866.763 hektar dengan komposisi pengusahaan
tanaman yakni sebesar 55,14 persen diusahakan oleh perkebunan yang dimiliki
perusahaan, sebesar 29,52 persen yang diusahakan oleh petani yang tergabung dalam
Program Plasma Perkebunan kelapa sawit, dan sebesar 15,34 persen yang diusahakan
rakyat secara bebas. Kelapa sawit selain menghasilkan limbah cair, dalam kegiatan
produksi dan pengolahan TBS dihasilkan juga limbah padat berupa tandan kosong, serat
dan cangkang. Dari total berat TBS, sekitar 20 sampai 23 persen menghasilkan tandan
kosong, sekitar 10 sampai 12 persen menghasilkan serat, dan sekitar 7 sampai 9 persen
menghasilkan cangkang. Tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
kompos, bioethanol maupun sebagai media jamur. Pengembangan jamur merang di
Sumatera Selatan masih memiliki kendala diantaranya belum dikuasainya teknik
pembibitan secara mandiri sehingga masih mengandalkan suplai dari Pulau jawa dan
ketergantungan pada pabrik sawit sebagai penyuplai media.
Selain perkebunan sawit, lahan di Sumatera Selatan juga didominasi oleh rawa
lebak. Rawa lebak di Sumatera selatan yang potensial adalah sekitar2,3 juta hektar
namun belum dimanfaatkan optimal. KP kayuagung merupakan contoh kawasan yang
didominasi oleh rawa lebak. Pengusahaan padi hanya setahun sekali dan seringkali
61
menghadapi kendala karena ketinggian air yang sulit diprediksi. Pengusahaan jamur
merang yang hanya mengandalkan jerami padi diwilayah lebak akan menghadapai
kendala jika tidak musim panen, karena umumnya wilayah lebak hanya menanam padi
setahun sekali. Supaya usaha jamur merang dapat berlanjut diluar musim dan mengurangi
ketergantungan suplai tandan kosong dari pabrik, perlu dilakukan kajian terhadap biomasa
rawa yang tumbuh pada waktu tidak tanam padi sebagai media pengganti jerami maupun
subtitusi tandan kosong sawit. Keberhasilan dalam budidaya jamur merang selain
dipengaruhi factor bibit juga sangat dipengaruhi factor lingkungan diantaranya RH, Suhu,
cahaya, nutrisi media dan keamanan dari hama penyakit
2.3.4.
Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lokal Di Sumatera Selatan
Plasma nutfah tanaman merupakan sumber daya alam yang dapat dilestarikan
(conserveable), akan tetapi sekali mengalami kemusnahan maka plasma nutfah tersebut
tidak dapat ditemukan dan dihidupkan kembali (reviable). Selain itu, ada kecenderungan
pada akhir-akhir ini yang dapat mengancam kelestarian plasma nutfah disuatu kawasan
atau lokasi, yaitu perpindahan plasma nutfah dari suatu negara ke negara lain. Oleh karena
62
itu, pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman padi lokal masih memerlukan
perhatian yang serius. Plasma nutfah padi lokal merupakan aset nasional memerlukan
penanganan yang baik dan terencana.
Sumatera Selatan merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekara-gaman
sumber daya genetik di Indonesia. Berbagai sumber daya genetik tanaman pangan yang
berpotensi sebagai alternatif sumber karbohidrat, protein dan mineral tersebar di berbagai
wilayah di Sumatera Selatan. Potensi sumber daya genetik tersebut perlu dieksplorasi,
dikarakterisasi serta dievaluasi agar pemanfaatannya sebagai sumber pangan dapat
dioptimalkan.
Tahun 2013 sebagai tahap awal dari kegiatan Pengelolaan Sumber Daya Genetik
Lokal di Sumatera Selatan telah berhasil diinventarisasi 56 aksesi padi, 1 aksesi umbi-
umbian, 3 aksesi manggis, sedangkan duku, durian, sawo, dan gandaria masing-masing 2
aksesi, kedondong dan buah anona masing-masing 1 aksesi, serta kelapa 1 aksesi, yang
didapat dari tiga agroekosistem lahan dalam tujuh wilayah kabupaten yang di sampling
(Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyu Asin, Musi
Banyu Asin, Empat Lawang dan Lahat). Pada Tahun 2014 dilanjutkan inventarisasi sambil
melengkapi data iventory Tahun 2013 yang belum lengkap. Dari hasil kegiatan
inventarisasi sumber daya genetik Tahun 2014, telah diinventarisasi tanaman pangan
sejumlah 3 aksesi, tanaman buah-buahan 72 aksesi, tanaman sayuran 8 aksesi, tanaman
perkebunan & kayu 21 aksesi, serta tanaman biofarmaka 7 aksesi dari wilayah Kabupaten
Empat Lawang, Lahat, Muara Enim, Prabumulih, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan
Banyuasin. Hasil inventarisasi SDG tanaman Tahun 2014 di Kabupaten Empat Lawang
menunjukkan keragaman tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, perkebunan, dan
biofarmaka di kabupaten tersebut. Dari hasil inventarisasi diketahui ada 51 jenis tanaman
63
dari 22.843 jumlah tanaman yang terdapat dalam lahan kebun milik 30 sampel petani yang
dipilih. Selain itu pada Tahun 2014 juga telah dikarakterisasi beberapa varietas padi lokal
di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak, tanaman buah-buahan seperti; manggis di
Empat Lawang, Duku di Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ilir, Durian dan
Sawo di Kabupaten Muara Enim, Nenas di Prabumulih secara in-situ. Hasil koleksi ex situ
pada tahun 2014 di Kebun Percobaan Kayuagung ada 3 varietas padi lokal yang telah
tanam dan dikarakterisasi, yaitu padi Bone, Siam, dan Siputih. Selain itu telah dikoleksi
tanaman duku dan durian masing-masing 2 aksesi serta manggis 1 aksesi. Tahun 2015
telah dilakukan identifikasi karakterisasi 56 varietas padi lokal hasil inventarisasi tahun
sebelumnya, juga telah dilakukan Uji Daya Hasil 8 varietas padi lokal di lahan rawa pasang
surut dan 6 varietas padi lokal di lahan rawa lebak. Pada Tahun 2016 dilanjutkan dengan
evaluasi varietas padi lokal tersebut sambil meneruskan karakterisasi beberapa sumber
daya genetik tanaman yang belum dilakukan pada tahun sebelumnya. Pada Tahun 2017
(terakhir) diharapkan tetap terlaksananya konservasi SDG tanaman spesifik lokasi,
terevaluasinya varietas padi lokal unggul, dan tetap menjalin koordinasi program/kegiatan
dengan Komisi Daerah SDG Sumatera Selatan serta terdaftarnya SDG tanaman pada
Pusat Perlindungan Varietas (Road Map Kegiatan Terlampir). Pada tahun ini (2017) juga
diharapkan terdaftarnya 4 (empat) SDG tanaman lokal spesifik Sumatera Selatan, yaitu
Padi Siputih, Padi Kuda, Padi Kemis, dan Cabe Banyuasin.
64
Padi kemis duku lokal
2.3.5. ANALISIS KEBIJAKAN
Upaya khusus padi, jagung, dan kedelai (Upsus pajale) merupakan program
pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan produktivitas serta pencapaian
swasembada pangan. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan ketersediaan lahan
untuk pertanian per kapita semakin berkurang. Sehingga untuk menambah luas
pertanaman pangan terutama padi sebagai pangan pokok maka peningkatan indeks
pertanaman (IP) padi merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Lahan sawah
tadah hujan adalah salah satu lahan sub optimal yang berpotensi ditingkatkan IP padinya
bahkan untuk ditanami tiga kali. Kajian ini bertujuan untuk: 1). menganalisis capaian luas
tanam padi, produksi tingkat usahatani dan efisiensinya, 2). mengidentifikasi kendala yang
terjadi dan peluang meningkatkan IP padi di lahan tadah hujan, 3). merekomendasi
kebijakan untuk meningkatkan luas penanaman mendukung pelaksanaan UPSUS padi
khususnya di lahan tadah hujan. Survey dilakukan di Desa Lubuk Seberuk Kecamatan
Lempuing Jaya dan Desa Mendayun Kecamatan OKU Timur yang masing-masing sudah
65
menerapkan indeks pertanaman padi 200 dan 300 di sawah tadah hujan. Pengumpulan
data dilakukan melalui diskusi kelompok di masing-masing lokasi dengan 15 orang (petani,
ketua kelompok, ketua gapoktan, penyuluh, peneliti dan petugas dinas terkait). Hasil kajian
menunjukkan bahwa air merupakan kunci utama dalam menentukan berhasil tidaknya
meningkatkan IP padi di lahan sawah tadah hujan. Ketersediaan alsintan, benih, pupuk
dan obat-obatan turut mendukung keberhasilannya. Meskipun potensi serangan
hama/penyakit menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dan efisiensi usahatani padi yang
semakin rendah pada musim kemarau, namun tuntutan kebutuhan hidup yang semakin
tinggi dan karena sudah diprogramkan oleh pemerintah, menjadikan peningkatan IP ini
semakin berkembang. Peluang untuk meningkatkan luas tanam padi di Sumsel dapat
diperoleh dari: 1). peningkatan IP terutama dari IP 100 ke IP 200 seluas 166.343 ha (di
lahan sawah irigasi, tadah hujan dan pasang surut), 2). peningkatan IP dari IP 200 menjadi
IP 300 seluas 128.974 ha (di lahan irigasi dan lahan tadah hujan), dan 3). lahan yang untuk
sementara waktu tidak ditanami tanaman apapun yang diperkirakan luasnya 41.040 ha (di
lahan sawah irigasi, tadah hujan dan pasang surut). Sedangkan untuk agroekosistem
lebak, meskipun secara administratif wilayah tersedia data penanaman padi IP 100 dan IP
200, namun untuk memperoleh angka luasan untuk meningkatkan luas tambah tanam, sulit
diprediksi karena tidak tersedia data luasan untuk masing-masing tipologi lebak di masing-
masing wilayah administrasi. Lahan di lebak dangkal dan tengahan memungkinkan untuk
ditanami padi dengan IP 200. Rekomendasi kebijakan dari hasil analisis ini adalah: 1).
Perbaikan sumber air dan distribusinya, 2). Pengembangan VUB yang relatif tahan dengan
kekurangan air.
66
2.3.6. Peningkatan Komunikasi Dan Koordinasi Akselerasi Inovasi Teknologi
Pertanian
Keberhasilan Pembangunan Pertanian di Sumatera Selatan, tidak terlepas dari
peran aktif antara penyuluh pertanian dan petani yang disertai program pemerintah
pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. Disamping itu juga adanya peran aktif
dari Dinas/intansi terkait, sehingga keberhasilan pembangunan pertanian tidak berdiri
sendiri, tetapi diperlukan adanya keterkaitan berbagai pihak.
Untuk melaksanakan pembangunan pertanian diperlukan SDM (Sumberdaya
Manusia) aparat pertanian tangguh dengan ciri profesional, mandiri, inovatif, kreatif dan
berwawasan global yang mampu menjadikan fasilitator, diseminator, propokator,
motivator dan regulator pelaku usaha pertanian serta mampu membangun sistem
agribisnisyang berdaya saing tinggi.Kegiatan peningkatan komunikan, koordinasi dan
diseminasi inovasi pertanian di Sumatera Selatan yang dilakukan di 2 (dua) Kabupaten
dilakukan di Kabupaten OKI dan MUBA Tujuan kegiatan ini antaralaina)
Mensosialisasikan dan atau mendampingi implementasi Gelar Teknolologi dan Temu
lapang Inovasi Pertanian untuk komoditas (padi, jagung dan cabai) pada agroeosistem
lahan tadah hujan dan rawa lebak; b) Mendiseminasikan hasil kegiatan Gelar Teknologi
dan Temu Lapang untuk komoditas strategis kementan (padi, jagung dancabai) melalui
media cetak, klinik agribisnis, dan cyber extension.
Ruang lingkup kegiatan: a) Peningkatan Kapasitas komunikasi dan Diseminasi
Program Starategis Badan Litbangtan dan Kementan, b) Pendayagunaan Inovasi Hasil
67
Litkaji melalui berbagai media (elektronik, multimedia, interaksi dan tercetak) dan
narasumber dalam berbagai pertemuan, c) Bimbingan lanjutan bagi petani/
Kelembagaan Tani Kooperator Kegiatan pengkajian/Diseminasi Teknologi Pertanian.
Kegiatan Peningkatan komunikasi, Koordinasi dan diseminasi inovasi pertanian telah
dilaksanakan mulai dari koordinasi dengan dinas/instansi terkait dan pengguna
teknologi , peningkatan SDM melalui pelatihan dan pembinaan terhadap penyuluh
lapang. Varietas yang ditanam pada demplot yaitu Inpari 32, Inpari 33, dan Inpari 43
seluas satu hektar di Desa Cahaya Maju Kabupaten Ogan Komering Ilir. Produksi gabah
Inpari 32, Inpari 33, dan Inpari 43 rata-rata 5500 kg gkp/ha. Total Biaya produksi
mencapai Rp 7.745.000 dan penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 23.100.000 dengan
harga gabah Rp 4200/kg maka pendapatan selama satu kali musim tanam usahatani
padi Rp 15.355.000 dengan BC ratio 1,98 Sedangkan jagung yang di tanam di lahan
tadah hujan di peroleh hasil produksi konversi Bima 19 (7,2 ton/ha), Bima 20 (6,6
ton/ha). Produksi Cabai Produksi tertinggi dengan luasan 0,25 ha dicapai oleh varietas
lokal yaitu 114,7 kg diikuti oleh varietas lado (112 kg) dan terendah varietas kencana
yaitu 109,1 kg.
2.3.7. Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran
Inovasi teknologi diperlukan dalam upaya meningkatkan produktivitas, stabilitas serta
equitabilitas produksi. Sejak dibentuk, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera
68
Selatan berperan dan terus berupaya untuk menghasilkan berbagai inovasi di bidang
pertanian. Agar inovasi tersebut diadopsi petani, diperlukan berbagai upaya seperti
sosialisasi, pameran dan display. Untuk itu kegiatan ini bertujuan : Mendiseminasikan hasil
litkaji melalui pameran dan pembuatan display untuk mendorong pemanfaatan teknologi
inovasi untuk perbaikan sistem usaha pertanian dan pengolahan hasil-hasil pertanian dan
ikutannya. Dengan demikian yang menjadi ruang lingkup kegiatan ini adalah: (1).
Melakukan Sosialisasi Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian; (2) Melakukan pameran
sesuai permintaan atau undangan penyelenggara; (3). Melakukan peragaan berupa display
beberapa contoh tanaman dengan cara tanamnya. Selama tahun 2016, kegiatan Sosialisasi,
Temu Informasi dan Pameran yang telah dilaksanakan meliputi : (1). Melakukan
Sosialisasi Gerakan Tanam Cabai (GERTAM CABAI), berupa MOU antara BPTP Sumsel
dengan Tim Penggerak PKK Sumatera Selatan diikuti dengan penyerahan secara simbolis
kepada TP-PKK Kab/Kota dilanjutkan dengan launching penanaman bibit cabai berlokasi di
Jaka Baring Kota Palembang. (2) Turut berpartisipasi dengan mengikuti Pameran dalam
rangka Sumsel Expo ke 7 untuk memperingati Ulang Tahun Sumatera Selatan ke 71,
berlokasi di Benteng Kuto Besak Kota Palembang, dengan tema Road To Asian Games.
(3). Turut berpartisipasi dengan mengikuti pameran dalam rangka Seminar Nasional Dies
Natalis Unsri ke 57 pada Expo Produk Inovasi dengan Tema “Pengembangan Ilmu dan
Teknologi Pertanian Bersama Petani Lokal untuk Optimalisasi Lahan Suboptimal”. (4).
Mengadakan pameran pada acara Panen dan Temu Lapang ” Percepatan Perbanyakan
Benih Padi melalui Teknologi Jajar Legowo Super “ di Kabupaten Musi Rawas (5).
Melaksanakan Temu Informasi Teknologi dengan Tema Dukungan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Melalui Inovasi Teknologi dalam percepatan Swasembada
69
Pangan. (6) Melaksanakan pembuatan display tanaman yang dilakukan di visitor plot
lingkungan kantor BPTP Sumatera selatan.
Untuk lebih mempercepat penyebaran teknologi inovasi pertanian di wilayah
Sumsel, perlu peningkatan hubungan melalui koordinasi dan kerjasama yang lebih intensif
dengan dinas instansi terkait.
2.3.8. Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian
Hasil kegiatan Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian tahun 2017, adalah tersiarnya
Naskah Siaran Radio sebanyak 8 Judul dari target 7 judul, dimulai sejak tanggal 19 Juli s/d
14 Agustus 2017 pada hari Rabu, Jum’at dan Senin pukul 05.30 – 06.00 WIB,
bekerjasama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI stasiun Palembang, dan untuk
Siaran Televisi sebanyak 2 kali dari target 1 kali, telah selesai disiarkan dalam bentuk
berita daerah tanggal 28 September 2017 pada Temu Informasi Teknologi dan panen raya
jajar legowo super di kabupaten Musi Rawas dan Derap Sriwijaya disiarkan pada tanggal 9
Oktober Jam 18.30 – 19.00 WIB oleh LPP-TVRI Stasiuan Palembang. Untuk Bahan
cetakan berupa Leaflet sebanyak 1.500 lermbar (3 judul), dan juknis sebanyak 1.000 expl
untuk 3 (tiga) judul. Sedangkan untuk Publikasi melalui media massa 1 tahun yang telah
terbit yaitu; Koran Sumek pada tanggal 10 Pebruari 2017 dengan judul Sumsel Target
Tingkatkan Produksi dan Koran Tribun BPTP bagikan 500 bibit cabe ke kelompok tani,
kemudian Koran Sumek tanggal 20 Mei 2017 dengan judul Dongkrak Produktivitas Padi
70
dengan Legowo Super, Koran Sumek tanggal 13 Oktober 2017 dengan Judul Koptan
Terima Padi VUB (Mentan Panen Raya), Koran Sumek tanggal 17 Nopember 2017 dengan
judul Antisipasi Hama Wereng Coklat, dan Koran Sumek tanggal 17 Desember 2017
dengan judul Produksi Benih Jagung Sendiri, koran sumek tanggal 21 Desember 2017
Gelar Bimtek, Lakukan MoU dan Koran Sumek tanggal 29 Desember 2017 dengan judul
Varietas Lokal Kualitas Unggul. Selain media cetak Publikasi media massa juga dalam
bentuk elektronik berupa Advitorial melalui LPP-TVRI Stasiun Palembang dengan durasi 5
menit tanggal 21 Desember 2017 pada acara Bimbingan Teknis Alih Teknologi Spesifik
Lokasi di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, dan
Panen Padi di Kota Pagar Alam pada tanggal 27 Desember 2017 dalam bentuk Berita
Daerah.
2.3.9. Taman Agroinovasi
Salah satu indikator keberhasilan program pengkajian teknologi pertanian adalah
seberapa besar hasil-hasil pengkajian tersebut diadopsi oleh pengguna (terutama petani)
untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kegiatan usahatani. Untuk mewujudkan hal tersebut
berbagai upaya dilakukan, dengan mengupayakan kemudahan dan menimbulkan
ketertarikan pengguna teknologi. Tahun 2015 BPTP Sumatera Selatan membuat taman
yang menarik, dengan menimbulkan kesan nyaman dan rilek diharapkan dapat menjadi
daya tarik bagi pengguna untuk mengunjunginya dan mempelajari inovasi yang diterapkan.
Tujuan kegiatan ini adalah: 1) Mendiseminasi teknologi tepat guna hasil inovasi
Balitbangtan, 2) Membentuk entitas bisnis yang melakukan fungsi diseminasi inovasi.
Inovasi teknologi ditampilkan dalam bentuk display/visitor plot dan demo. Display
ditampilkan berupa penggunaan media pertanaman untuk tanaman sayuran, penggunaan
71
varietas unggul. Sedangkan dalam bentuk demo, dapat dipertunjukkan cara pembuatan
pupuk organik, aplikasi penggunaan pestisida nabati. Selain itu pada Taman Agroinovasi
ini juga disediakan wadah untuk berkonsultasi tentang pertanian yang dapat diperoleh di
klinik agribisnis. Pada tahun 2015 telah dilakukan perencanaan penataan lahan dan
pertanaman, pendalaman kolam, pengolahan lahan, perbaikan screen house, penanaman
tanaman sayuran dan padi. Pada Tahun 2016 dilanjutkan peragaan berbagai inovasi
melalui penggunaan varietas unggul dengan pertanaman yang ramah lingkungan,
peragaan pertanaman sayuran menggunakan rak vertikultur, tegakan paralon, bedengan
dengan dan tanpa mulsa plastik, pembuatan pakan ternak fermentasi, dan pembuatan
pupuk organik. Kegiatan yang telah dilakukan sampai bulan Desember 2017 antara lain
pembuatan pergola dan rak vertikultur, pemeliharaan ikan, pertanaman padi, hortikultura
dan buah, pemeliharaan ayam, menjadikan Taman Agroinovasi sebagai tempat magang,
menjadikan Taman Agroinovasi sebagai kunjungan agrowisata dan membangun Tagrimart.
2.3.10. Pendampingan Pengembangan Kawasan jagung Di Sumsel
Pendampingan pengembangan kawasan jagung diperlukan agar dapat
mempercepat implementasi teknologi spesifik lokasi kepada petani/pengguna yang pada
akhirnya terjadi peningkatan produksi dan pendapatan petani jagung. Salah satu
pendekatan dalam pendampingan pengembangan kawasan jagung adalah melalui
72
pendekatan berdasarkan tipe kawasan (kawasan penumbuhan, pengembangan dan
pemantapan). Pendekatan melalui wilayah pengembangan menjadi prioritas dengan
pertimbangan masih terbuka peluang peningkatan produktivitas, menekan kehilangan, dan
peningkatan mutu hasil.
Jagung mempunyai adaptasi yang luas dan relatif mudah untuk
dibudidayakan, sehingga komoditas ini diusahakan oleh banyak petani pada lingkungan
fisik dan sosial ekonomi yang beragam. Jagung dapat tumbuh hampir di semua
agroekosistem seperti lahan kering, lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan lebak,
dan lahan pasang surut dengan berbagai jenis tanah, pada berbagai tipe iklim, dan pada
ketinggian tempat 0 s/d > 2000 m dpl, serta diusahakan oleh petani miskin maupun kaya
dengan kepemilikan lahan sempit maupun luas.
Propinsi Sumatera Selatan dengan luas daerah seluruhnya 8.702.741 ha, memiliki
iklim tropis dan basah dengan variasi curah hujan antara 33,1/6-564,2/24 mm
3
/hari.
Keadaan tanah terdiri dari organosol, litosol, alluvial, hidromorf, klei humus, regosol,
andosol, redzina, latosol, lateritik dan podsolik (BPS, 2014). Luas penggunaan lahan di
Sumatera Selatan khususnya untuk budidaya pertanian adalah sebesar 5.524.725 ha
(63,49%). Hal ini tentunya menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk budidaya
pertanian masih cukup banyak dan tentunya juga berpotensi untuk dijadikan areal
pengembangan tanaman pangan. Beberapa kajian juga menunjukkan bahwa penanaman
tanaman pangan dapat pula dilakukan sebagai tanaman sela di perkebunan karet.
Umumnya daerah/lokasi perkebunan karet rakyat pada lahan kering yang didominasi oleh
jenis tanah Pasolik Merah Kuning (PMK) yang juga memiliki kesesuaian untuk penanaman
tanaman pangan (Subendi A, 2013). Tahun 2016 ini dengan adanya program UPSUS
jagung, maka sasaran luas tanam jagung di Kabupaten Banyuasin dalam pencapaian
73
swasembada berkelanjutan dimana luas tanam ditargetkan menjadi 15.500 ha dengan
rincian 15.000 ha dengan pendanaan pemerintah pusat (APBN) dan 500 ha pendanaan
pemerintah kabupaten (APBD) (Dinas TP Banyuasin, 2016).
Dalam Permentan No: 50/OT.140/8/2012, tentang Pedoman Pengembangan
Kawasan Pertanian. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) Provinsi Sumatera
Selatan merupakan wilayah Pengembangan Kawasan Jagung. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu
meningkatkan produktivitas jagung. Diantaranya varietas unggul yang sebagian
diantaranya telah dikembangkan oleh petani. Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan dan
mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu.
Dengan adanya program tersebut diharapkan peran BPTP disamping
mensosialisasikan jagung hasil penelitian Balitbangtan kepada masyarakat petani juga
dapat mendampingi dan mengawal teknologi dengan tujuan agar sasaran tersebut dapat
tercapai.
2.3.11. Pendampingan UPSUS Mendukung Program Strategis Kementan
74
Pelaksanaan kegiatan Identifikasi Calon Lokasi, Koordinasi, Bimbingan dan
Dukungan Teknologi, Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung dan Kedelai Komoditas
Utama Kementerian Pertanian di Provinsi Sumatera Selatan dilaksanakan di 17
Kabupaten/Kota (Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat,
Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ulu Selatan,
Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Empat Lawang, Palembang, Prabumulih, Pagar Alam
dan Lubuk Linggau).
Pelaksanaan kegiatan pendampingan dan pengawalan UPSUS oleh peneliti dan
penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan meliputi: 1)
monitoring dan evaluasi sekaligus melakukan rekapitulasi dan pelaporan data luas tambah
tanam padi tahun 2017, data capaian luas tambah tanam Sumsel pada tahun 2017 sebesar
1.091.202 Ha dari sasaran sebesar 1.110.883 Ha atau tercapai 98,23 %. 2) melakukan
koordinasi, pendampingan teknologi dan kunjungan lapang sekaligus melakukan
pemantauan data luas tanam padi, jagung dan kedelai; 3) kegiatan bimbingan teknis
(bimtek) dan pelatihan komoditas padi jagung dan kedelai serta komoditas strategis
lainnya. 4) kegiatan diseminasi dan publikasi baik melalui media elektronik (Radio dan
Televisi), media cetak (dalam bentuk Brosur, Leaflet dan folder) maupun media online
(facebook, Twitter maupun instragram), temu lapang, temu teknis, temu informasi
teknologi pertanian serta kegiatan pameran pertanian pada komoditas padi jagung dan
kedelai serta komoditas strategis lain. 5) kegiatan pendukung lainnya seperti pemantauan
penyerapan gabah oleh BULOG dari petani, Gerakan pengendalian weren batang coklat,
kegiatan panen bersama, serta semua kegiatan dalam upaya mencari solusi terkait dengan
75
masalah-masalah peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai bersama-sama dengan
Satuan Kerja Perangkat Daerah.
2.3.12. Pendampingan Pengembangan Kawasan pertanian Nasional
Tanaman Hortikultura di Sumsel
Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura di
Sumatera Selatan bertujuan untuk ; a)Mendiseminasikan inovasi teknologi budidaya cabai
merah di dua lokasi Kabupaten Banyuasin, b)Memberikan dukungan teknologi untuk
pengembangan kawasan cabai merah dalam bentuk; teknologi pembibitan cabai merah
dan demplot cabai merah varietas kencana, penyediaan bahan/materi penyuluhan serta
menjadi nara sumber pada pelatihan/pertemuan petani dan petugas lapang di wilayah
pendampingan, dan c) Meningkatkan percepatan penyebaran inovasi teknologi budidaya
cabai merah ke petani/pelaku usaha. Kegiatan ini dilaksanakan di 2 (dua) lokasi yang ada
di wilayah Kabupaten Banyuasin. Pelaksanaan pendampingan dimulai dari bulan Januari
hingga Desember 2017. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini meliputi; 1)koordinasi,
persiapan, 2) Penetapan Calon Petani Calon Lokasi, 3)sosialisasi kegiatan, 4) pelaksanaan
demplot/display VUB cabai merah dan pengawalan teknologinya, 5) Pengumpulan dan
pengolahan data, 6) seminar hasil kegiatan dan 7) Pelaporan hasil kegiatan. Perkiraan
76
manfaat kegiatan adalah a) diterapkannya inovasi teknologi cabai merah di kawasan
pendampingan, b) tersebarnya inovasi teknologi cabai merah di kawasan pendampingan.
Hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan meliputi, koordinasi, sosialisasi dan
pendampingan dalam bentuk pembibitan cabai merah dan demplot VUB cabai merah
Kencana yang
merupakan varietas Balitbangtan. Sampai dengan saat ini demplot varietas kencana
sudah berumur > 14 Minggu dan sudah mulai panen.
Hasil sementara rata-rata jumlah per pohon untuk varietas kencana mencapai 304,65
g/btg, untuk varietas local 355,73 g/btg dan untuk Castilo 396,85 g/btg.
2.3.13. Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan kerbau di
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan memiliki potensi cukup besar untuk pembangunan peternakan
terutama kerbau potong dan kerbau. Program Pendampingan Pengembangan Kawasan
Peternakan Kerbau ini dilaksanakan melalui optimalisasi sumberdaya lokal. Balai
77
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sebagai ujung tombak Badan
Litbang Pertanian mendapat mandat untuk melakukan pendampingan Pengembangan
Kawasan Peternakan kerbau yang ada di daerah. Untuk itu mulai tahun 2017 BPTP
Sumsel telah melaksanakan kegiatan pendampingan pengembangan kawasan peternakan
kerbau Pampangan bertempat di kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir
(OKI). Tujuan kegiatan tahun 2017 meliputi pendampingan pengolahan susu untuk
meningkatkan nilai tambah dari susu kerbau dan memperpanjang daya simpan susu
kerbau jika sedang produksi susu berlimpah. Hasil kegiatan tengah tahun 2017 yang telah
dilaksanakan adalah terdesiminasinya paket pengolahan susu kerbau berupa pembuat
gula puan dan susu aneka rasa. Untuk melihat dampak dari hasil pengolahan sus tersebut
maka kegiatan pendampingan dilanjutkan hingga akhir tahun 2017 dengan tujuan: (a)
pemantapan pengolahan susu berupa pembuatan gula puan dan susu aneka rasa, (b)
melakukan pendampingan teknologi pengolahan susu dan pengemasan hasil olahan serta
(c) membentuk kelembagaan kelompok tani ternak perbibitan pampangan yang kuat.
Dampak dan manfaat kegiatan yang diharapkan adalah (a) meningkatkan produktivitas
ternak
kerbau, (b) meningkatkan pendapatan petani dan (c) mengurangi permasalahan yang
dihadapi petani.
78
2.3.14. Pengembangan Pola Tanam Tanaman Pangan
Budidaya pertanian, baik di lahan kering maupun lahan beririgasi, tidak hanya
dipengaruhi oleh jumlah, intensitas, dan distribusi hujan, tetapi juga ditentukan oleh awal
musim hujan (onset season) dan akhir musim hujan. Perkiraan awal musim hujan menjadi
faktor penting dalam menetapkan awal musim tanam, pelaksanaan tanam, penentuan pola
tanam, dan perkiraan luas areal tanam, terutama untuk tanaman pangan pada lahan sawah
tadah hujan dan lahan kering. Pola distribusi curah hujan sangat menentukan pola tanam
umum di suatu wilayah. Ada tiga macam pola yang sangat dikenal di Indonesia, yaitu pola
monsunal, ekuatorial, dan pola lokal. Di samping itu, ada lagi satu pola hujan yang hanya
terdapat di Papua dan di sebagian kecil Sulawesi, yang disebut sebagai pola moderat.
Alternatif pola tanam dimaksudkan supaya pertanaman berikutnya pada MT II atau MT III
tidak mengalami kekeringan akibat mundurnya waktu tanam, karena awal musim hujan
mengalami mundur dari kondisi normal, dan untuk mengantisipasi terjadinya bencana
kekeringan. Penentuan pola tanam sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan awal
musim hujan. Pada wilayah yang memiliki ketersediaan air cukup banyak (pola CH 3) maka
pola tanamnya bisa padi-padi-padi/palawija dengan rentang waktu yang cukup panjang.
Pada pola CH 2, pola tanam masih bisa padi 2 kali, tetapi pada MT III ditanam palawija
karena air mulai terbatas. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian pola tanam yang
lebih adaptif dengan keragaman dan perubahan iklim, baik dalam bentuk spasial maupun
tabular (waktu dan pola tanam selama siklus satu tahun) yang disebut Peta
Kalender Tanam (Runtunuwu dan Syahbuddin 2011). Badan Litbang Pertanian hingga
tahun 2016 telah merilis SI Katam Terpadu versi 2.5. Dalam SI Katam terpadu versi ini
79
memuat prakiraan waktu dan luas tanam padi, jagung, dan palawija (pola tanam setahun),
estimasi wilayah nanjir dan kekeringan, rekomendasi pupuk, varietas, serta alsintan di
suatu wilayah. Kegiatan pengembangan pola tanam tanaman pangan dilaksanakan di
Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini mempunyai
agroekosistem lahan sawah dengan luas baku padi sawah seluas 194.709 Ha. Dengan
potensi tanam 108.399 Ha pada MH 2016/2017 (Okt-Mar) dan 41.631 Ha pada MK I, serta
18.799 pada MK II. Sedangkan palawija mempunyai potensi luas tanam seluas 15.666 Ha
pada MH I dan 12.532 pada MH II (Okt-Maret) dan pada MK I seluas 15.666 Ha dan MK II
seluas 12.532 Ha. Dalam rangka diseminasi inovasi teknologi terkait pola tanam, telah
dilakukan beberapa kegiatan antara lain : Sosialisasi Pengembangan Pola Tanam (KATAM
Terpadu Dinamis, nara sumber pada pertemuan penyuluh, pertemuan/FGD, dan
penyebaran materi tercetak dalam bentuk leaflet/juknis. Dari hasil identifikasi kondisi
eksisting penerapan pola tanam tanaman pangan di 19 kecamatan dalam kabupaten
Banyuasin, ada beberapa pola tanam alternatif yang diterapkan oleh petani antara lain : 1)
Padi-Padi, 2) Padi-Palawija (Jagung), 3) Palawija-Palawija (Jagung-Jagung), 4) Padi-
sayuran. Penerapan pola tanam ini bervariasi tergantung dari agroekosistem di masing-
masing kecamatan. Agroekosistem pasang surut dominan di wilayah ini/. Varietas padi
dominan yang ditanam petani adalah Inpari 1, Mekongga, Ciherang, IR-42, dan varietas
lokal. Sedangkan jagung varietas yang dominan ditanam petani adalah Bisi-18, Pioner, NK
225. Waktu tanam padi/palawija yaitu berkisar pada pada bulan Sept.-III s/d Nov.III. Uji
coba teknologi dilaksanakan pada kelompoktani Karya Bakti I, Desa Bangun Sari,
Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin , Agroekosistem rawa pasang surut tipe
C/D. Pola tanam yang diujicobakan yaitu : Pola Tanam I : tanam Jagung : MK 2017,
tanam tgl 10 Juni (dasarian I). Sedangkan Pola Tanam II : tanam padi pasang surut : MH
80
2017/2018 rencana tanam tanggal 20 Oktober (dasarian III) Metoda uji coba sesuai
dengan rekomendasi KATAM Terpadu 2017, dengan introduksi teknologi varietas unggul
jagung jagung hibrida balitbangtan yaitu Bima 19 dan 20 dan padi atau varietas jagung
hibrida lainnya, varietas padi Inpari 10, 18, 19, dan 20, pada Pola Tanam Tanaman Pangan
(Padi-Jagung), IP 200, pada lahan yang sama, pada MH 2017/2018 (Okt-III). Dari hasil
verifikasi yang dilaksanakan di desa Bangun Sari kecamatan Tanjung lago, 75 % atau 120
Ha sesuai jadwal tanam dibandingkan dengan rekomendasi jadwal tanam sesuai KATAM.
2.3.15. Dukungan Informasi Pertanian untuk Peningkatan Indeks Pertanian
Pajale (Lahan Kering dan sawah Tadah Hujan)
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah mencanangkan 4 target
sukses yaitu (1) swasembada berkelanjutan dan pencapaian swasembada, (2)
diversifikasi pangan, (3) peningkatan daya saing nilai tambah ekspor, dan (4)
kesejahteraan petani. Pengkajian dilaksanakan pada Januari hingga Desember 2017 di
lahan kering Kabupaten Ogan Komering Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Tujuan pengkajian
adalah untuk 1) Mengidentifikasi dan inventarisasi potensi pemanfaatan lahan untuk
pembangunan infrastruktur dan tata kelola air, 2) Menginventarisasi indeks pertanaman,
pola tanam, infrastruktur dan tata kelola air, serta kelembagaannya pada kondisi
eksisting, 3) Melakukan pengkajian dukungan inovasi pertanian dalam peningkatan IP
81
padi dan jagung di sawah tadah hujan, 4) Mengidentifikasi 3 (tiga) varietas unggul padi
gogo yang memiliki produktivitas tinggi melebihi produktivitas padi gogo lokal di Sumatera
Selatan. Petani yang terlibat atau kooperator dipilih pada satu hamparan dengan luasan 5
ha untuk tanaman padi dan 3 ha untuk tanaman jagung. Penanaman direncanakan akan
dilaksanakan pada bulan Juni 2013. Teknologi yang diterapkan pada petak pengkajian
yakni teknologi eksisting (petani) dan teknologi introduksi. Pemanfaatan lahan kering
masam pada MK 2017 pada kegiatan Dukungan Inovasi Pertanian Untuk Peningkatan
Indeks Pertanaman Pajale Pada Lahan (Kering dan Sawah Tadah Hujan) Di desa Rantau
Durian I Kec. Lempuing Jaya Kab. OKI Sumatera Selatan pada MK 2017 dapat
meningkatkan produktivitas lahan dengan menghasilkan bahan pangan seperti padi dan
jagung. Produksi padi gogo yang paling tinggi dicapai pada varietas Inpago 10 sebanyak
5,36 ton GKP/ha, sedangkan produksi untuk varietas Inpago 11 sebanyak 4,92 ton
GKP/ha, Situ bagendit 4,40 ton GKP/ha, Inpago Inpago 9 sebanyak 4,16 ton GKP/ha,
Inpago 8 sebanyak 3,36 ton GKP/ha dan Ciherang (kontrol) 3,35 ton GKP/ha. Rendahnya
hasil yang dicapai oleh petani padi yang di tanam secara gogo pada saat pertumbuhan
tanaman mengalami keterbatasnnya air sehingga pertumbuhan tanaman padi tidak begitu
baik. Produksi jagung yang dicapai sebesar 10.200 kg/ha, namun masing-masing varietas
menghasilkan produksi 5,7 ton/ha untuk varietas hibrida NK 7328, 4,5 ton/ha varietas
hibrida Bisi 18 yang ditanam pada MK 2017, kalau petani menjual dalam bentuk pipilan
mendapatkan pendapatan petani Rp. 18.880.000 pada varietas NK 7328 dan Nisi 18
dengan R/C dengan rasio 2,61. Respon dari berbagai kalangan responden terhadap
Komponen teknologi yang dapat diadopsi dengan baik pasca kegiatan demplot adalah
pada komponen pembuatan saluran drainase, menanam secara tugal dan menggunakan
jarak tanam tertentu, pemupukan, pengendalian OPT dan penyingan 2 kali. Hal ini
82
disebabkan komponen tersebut tidak mengeluarkan biaya kecuali tenaga kerja yang
biasanya.
2.3.16. Model Pertanian Bio Industri Berbasis Tanaman Pangan diLahan
Pasang Surut
Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangandi
lahan pasang surut di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: a)Menyusun rancang bangun
model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangan di lahan pangan surut untuk dapat
meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, b) Memfasilitasi penumbuhan dan pembinaan
percontohan sistem usahatani ramah lingkungan dan usaha agibisnis berbasis teknologi
inovatif yang bersifat bioindustri, c) Memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi
pedesaan untuk pengembangan kegiatan bioindustri berbasis tanaman pangan untuk
mendukung keberlanjutan sistem pertanian bioindustri, dan d) Memperoleh umpan balik
mengenai karakteristik teknologi tepat-guna spesifik pengguna dan lokasi yang
berkelanjutan untuk menyempurnakan model pertanian ramah lingkungan yang spesifik
lokasi. Lokasi penelitian di Kabupaten BanyuasinProvinsi Sumatera Selatan mulai tahun
2015 sampai dengan 2018. Pendekatan yang digunakan yakni identifikasi potensi
wilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi potensi produk dan
83
perancangan model. Produksi padi varietas inpari 6 sebesar 6,5 t/ha dan inpari 22,
sebesar 6,75 t/hajagung varietas P27 sebesar6,2 – 8,3 dan P 31 t/hasebesar 6,8 -8,5t/ha
pipilan kering. Ternak sapi yang dikelola dikandang kolektif sebanyak 70 ekor
menghasilkan kotoran rata-rata 300 kg per hari, sehingga rata-rata per ekor sapi
menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan populasi ternak sapi di untuk satu bulan
menghasilkan 9.000 kotoran sapi basah atau 4-5 ton pupuk kompos, Produksi urine
ternak sapi di kandang kolektif 25 liter per hari sehingga produksi urine per bulan 750 liter
yang telah diproses menjadi pupuk urine, Kelembagaan yang ada masih perlu
ditingkatkan peran dan kemampuannya, sehingga saling mendukung satu dengan yang
lainnya.
2.3.17. Model Pertanian Bio Industri Berbasis Tanaman Palawija di Lahan
Kering
Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan
kering di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: 1) Memantapkan model pengembangan
bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering, 2) Mengembangkan (scaling up) dan
mereplikasi model pengembangan pertanian bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan
kering yang berkelanjutan. . Lokasi penelitian di Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi
Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2017. Pendekatan yang digunakan
84
yakni identifikasi potensi wilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi
potensi produk dan perancangan model. Produksi jagung varietas NK 7328 sebesar 6,7
ton/ha, Bisi 18 4,5 t/ha dan Sukmaraga 3,8 ton/ha pipilan kering. Penerapan pakan
fermentasi limbah jagung dan limbah pertanian lainnya pada ternak induk sapi secara add-
libitum selama sebulan sebelum dikawinkan diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan S/C
2-3 menjadi S/C 1-2 dan memperpendek jarak beranak dari 14-16 bulan menjadi 13-14
bulan. Populasi ternak pada awal kegiatan tahun 2017 sebanyak 180 ekor, Perkembangan
populasi ternak selama kegiatan meningkat sebanyak 210 ekor dengan melibatkan 37
petani. Terjadi peningkatan popilasi ternak sebanyak 30 ekor yang merupakan
perkembangan ternak selama kegiatan tahun 2017. Ternak sapi yang dikelola dikandang
kolektif sebanyak 120 ekor menghasilkan kotoran rata-rata 600 kg per hari, sehingga rata-
rata per ekor sapi menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan populasi ternak sapi di untuk
satu bulan menghasilkan 108.000 ton kotoran sapi basah atau 54 ton pupuk kompos.
Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 1000 liter per hari sehingga produksi urine
per bulan 10000 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine. Instalasi biogas
diaplikasikan yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan dengan
kapasitas 17 m3 digunakan untuk 15 titik lampu dan 15 buah lampu di tempatkan di
kandang kolektif kelompok. Kelembagaan yang ada masih perlu ditingkatkan peran dan
kemampuannya, sehingga saling mendukung satu dengan yang lainnya.
85
2.3.18. Pendampingan Pengembangan Kawasan Tanaman Padi di Sumatera
Selatan
Pendampingan dilaksanaan di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Ogan Komering
Ilir, mulai dari bulan Januari 2017 sampai dengan Desember 2017. Tujuan pendampingan
adalah 1) Meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa lebak, 2) Mensosialisasikan
varietas unggul baru padi di lahan rawa lebak, dan 3) Memberikan alternatif
pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi spesifik lokasi di rawa lebak.
Pelaksanaan kegiatan meliputi (1) Pelatihan guna untuk meningkatkan kapasitas SDM
dilaksanakan dalam rangka penyebaran luasan inovasi teknologi padi kepada para
penyuluh/petugas lapang dan petani.
Kegiatan pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan,
pemahaman, dan keterampilan petugas dan petani peserta dalam menjalankan aktivitas
dan usaha agribisnisnya,(2) Penyebaran materi diseminasi berupa bahan cetakan seperti :
budidaya padi di lahan lebak, deskripsi varietas unggul baru padi (VUB), dan cara tanam
jajar legowo, (3) Membuat petak percontohan atau sosialisasi varietas unggul baru Inpara
4, Inpari 30, Inpari 9 dan Inpari 33 pada dua lokasi masing-masing 1 ha dan (4) Pembuatan
laporan, dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan
penggunaan anggaran. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa Sosialisasi padi varietas
unggul baru merupakan teknologi yang murah dan mudah dijangkau petani untuk
menggantikan varietas lama yang terus-menerus dipakai sehingga dapat memperbaiki
produktivitas padi. Selain itu penggunaan system tandur jajar legowo dapat mendukung
dalam peningkatan produktivitas padi. Dalam pendampingan pengembangan kawasan
tanaman padi di rawa lebak, sebelum mengenalkan teknologi baru bagi petani perlu
86
dilakukan pelatihan dan praktek langsung di lapangan berupa petak percontohan agar
petani lebih terampil dalam penerapan teknologi tersebut dan disertai dengan distribusi
brosur atau naskah yang berhubungan dengan budidaya padi di rawa lebak. Berdasarkan
hasil wawancara dengan petani bahwa alternative pendampingan pengembangan kawasan
tanaman padi spesifik lokasi untuk meningkatkan produksi padi dengan penerapan petak
percontohan dan pelatihan-pelatihan disertai bahan bacaan yang diharapkan dapat
menambah pengetahuan dan keterampilan petani. Varietas Inpari 9 dan Inpara 4 dapat
beradaptasi pada lahan rawa lebak tengahan dengan kondisi agak kering lebih baik
daripada Mekongga dan IR 42 dengan produksi 7,6-7,7 ton gkp/ha sangat disukai petani di
Desa Awal Terusan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kemudian Inpari 9, Inpari 30, Inpari 33
dan Inpara 4 sesuai pada lahan rawa lebak yang berair dengan hasil 6,3 – 8,0 ton gkp/ha
lebih tinggi dari IR 42 (5,0 ton gkp/ha) sangat disukai petani di Desa Serijabo Kabupaten
Ogan Ilir. Pendapatan rata-rata selama satu kali musim tanam usahatani padi pada musim
kemarau di Desa Serijabo Rp 13.780.000/ha dengan BC ratio 1,8 dan pendapatan
usahatani padi di Desa Awal Terusan sebesar Rp 12.370.000/ha dengan BC ratio 1,6. Dari
kriteria yang digunakan jika BC ratio ≥ 1 maka usahatani padi varietas unggul baru layak
diusahakan.
87
2.3.19. Produksi Benih Sumber Padi di Sumatera Selatan(FS 2 ton, SS 10
ton dan Komposit ES 28 ton)
Varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam
peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kontribusi nyata varietas unggul
terhadap peningkatan produksi padi Nasional antara lain tercermin dari pencapaian
swasembada beras pada tahun 1984. Hal ini terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh
varietas unggul padi, antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit
utama, umur genjah sehingga sesuai dikembangkan dalam pola tanam tertentu, dan rasa
nasi enak (pulen) dengan kadar protein relatif tinggi. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah
1) Meningkatkan produksi, mutu dan distribusi benih sumber (FS 2 ton, SS 10 dan ES 28
ton) padi agar selalu terjamin ketersediaanya sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2)
Memantapkan kelembagaan perbenihan untuk menjamin distribusi benih berjalan dengan
cepat dan tepat, dan 3) Mendukung upaya penyediaan benih unggul bermutu bagi petani.
Kegiatan produksi benih sumber dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2017
di lahan sawah irigasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Untuk Sentra Prosesing Unit
ditempatkan Di Kebun Percobaan Kayuagung. Secara teknis, waktu pelaksanaan kegiatan
lapangan menyesuaikan kondisi lapangan. Produksi benih sumber padi di Sumatera
Selatan klas FS, SS, dan ES, menggunakan varietas Inpai 22, Inpari 23, Inpari 30, Inpari
32, Inpari 33, Inpari 43 dan Inpara 8 dengan luas tanam 25, rencana target produksi benih
dari varietas tersebut adalah 2 ton kelas FS, 10 ton kelas SS, dan 28 ton kelas ES. Data
yang dikumpulkan meliputi data keragaan pertumbuhan dan hasil. Data yang dikumpulkan
ditabulasikan dan dianalisa (kuantitatif). Sebagai pertanggungjawaban akhir dari
pelaksanaan kegiatan disusun akhir. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah Produksi benih
yang disertifikasi pada tahun 2017 milik UPBS BPTP Sumatera selatan sebanyak 40.218
88
kg , yang terdiri dari varietas Inpari 43 (FS) sebesar 2.200 kg, Inpari 33 (SS) 4.680 kg),
Inpari 30 (SS) 9.628 kg, Inpara 8 (SS) 1200 kg, Inpari 23 (SS) 600 kg, Inpari 32 (ES) 2000
kg, Inpari 43 (ES) 8360, Inpari 32 (ES) 4000 kg Inpari 22 (ES) 4550 kg, Inpari 30 (ES)
3000, dan Inpari 33(ES) 3000 kg. Sedangkan benih yang sudah di distribusikan ke
pengguna benih sumber sampai bulan November 2017 sebanyak 33.210 kg, dari total
produksi 40.218 kg.
2.3.20. Produksi Benih SumberJagung di Sumatera Selatan (Hibrida F1 8 ton,
Komposit SS 0,5 ton dan Komposit ES 29 ton)
Benih bermutu dari varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan
sangatpenting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kegiatan
bertujuan untuk:(1) menghasilkan benih sumber jagung hibrida (F1) varietas Bima 10 dan
Bima 14 (8 ton), (2) menghasilkanbenih sumberjagung komposit varietas Sukmaraga kelas
SS/ES (29,5 ton), (3) mendapatkanteknologi spesifik lokasi peningkatan produkivitas dan
mutu benih jagung, dan (4) menginisiasi penangkar benih jagung di Kabupaten Ogan
Komering Ulu Timur (OKUT). Dari hasil koordinasi kegiatan telah ditentukan lokasi
produksi benih sumber jagung yaitu di Desa Tulus Ayudan di Desa Jaya MulyaKecamatan
Buay Madang Raya (BMR). Jagung hibrida varietas Bima 10 dan Bima 14 akan diproduksi
dalam hamparan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Surya Tani di Desa Tulus Ayupada
89
areal seluas 8 ha. Jagung kompositSukmaraga akan diproduksi dalam hamparan Gapoktan
Mulya Bakti di Desa Jaya Mulya padsa areal seluas 20 ha. Kelompok Tani pelaksana
produksi benih jagung adalah Usaha Bersama (hibrida) dan Cinta Damai (komposit).
Prosesing benih akan dilaksanakan di Unit Prosesing Benih Unit Produksi Benih Sumber
(UPBS) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan di Kebun
Percobaan Kayu Agung. Proses produksi dan prosesing benih dilaksanakan sesuai dengan
standar sertifikasi benih.
2.3.21. Monev (Monitoring dan Evaluasi)
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan mempunyai tugas
melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna
spesifik lokasi dan mempunyai fungsi (i) pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi
kebutuhan teknologi, (ii) pelaksanaan litkaji dan perakitan teknologi, (iii) pelaksanaan
pengkajian teknologi dan diseminasi serta perakitan materi penyuluhan, (iv) penyiapan
kerjasama, informasi dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil
pengkajian, (v) pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian perakitan dan
pengembangan teknologi tepat guna spesifik lokasi dan (vi) pelaksanaan urusan tata
usaha dan rumah tangga Balai. Terkait dengan tugas dan fungsi BPTP Sumatera Selatan,
90
pada tahun 2017 dilaksanakan kegiatan pengkajian dan diseminasi. Berkaitan dengan hal
tersebut, maka di lingkup internal BPTP Sumatera Selatan pada tahun 2017 juga
dilaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Dalam perspektif manajeman
pengkajian/diseminasi, kegiatan monev merupakan instrumen penting untuk pengawasan
dan pengendalian atas pelaksanaan pengkajian/diseminasi agar berjalan sesuai
metode/prosedur yang direncanakan dan dapat mencapai target tujuan dan keluaran yang
ditetapkan. Tujuan kegiatan Monitoring dan Evaluasi pada tahun 2017 adalah: (1)
Mengevaluasi perencanaan yang telah dilakukan serta semua pelaksanaan kegiatan
khususnya administrasikegiatan; (2) Mengevaluasi tingkat kesesuaian rencana
pengkajian/diseminasi teknologi pertanian dengan pelaksanaannya serta perkembangan
kegiatan dan permasalahan yang dihadapi pengkajian/diseminasi teknologi pertanian di
lapangan dan memberikan saran kepada penanggung jawab apabila terjadi penyimpangan
berdasarkan indikasi permasalahan yang ada; dan (3) Mengetahui kemanfaatan kegiatan
litkaji terhadap stakeholders BPTP Sumatera Selatan. Ruang lingkup kegiatan monev
terdiri dari monev tahap perencanaan, monev tahap pelaksanaan kegiatan serta monev
tahap evaluasi akhir. Hasil kegiatan Monev pada tahun 2017 yaitu: (1) Kegiatan pengkajian
dan diseminasi yang dilaksanakan tahun 2017 telah melengkapi dokumen RPTP/ROPP
serta RDHP/RODHP; (2) Kegiatan pengkajian dan diseminasi yang dilaksanakan telah
sesuai dengan tahapan dan metodologi yang disusun; dan (3) Kegiatan pengkajian dan
diseminasi tahun 2017 telah memberikan kemanfaatan bagi Dinas/Instansi, petani maupun
stakeholders terkait di wilayah yang dilaksanakan kegiatan pengkajian dan diseminasi.
91
2.3.22. Program
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan mempunyai tugas pokok
dan fungsi (Tupoksi) melaksanakan kegiatan Pengkajian dan Perakitan teknologi pertanian
tepat guna spesifik lokasi di daerah. Dalam pelaksanaannya, fungsi perencanaan
merupakan salah satu unsur penting untuk menunjang keberhasilan tupoksi Balai. Oleh
karena itu, perencanaan program harus dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi dengan
baik dan konsisten agar dapat diukur kemajuan dan keberhasilan program yang telah
disusun. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan
yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang
dikoordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta
memperoleh alokasi anggaran. Pada tahun 2017, Kegiatan Penyusunan Program dan
Rencana Kerja/Teknis/Program bertujuan untuk: (1) Menyusun Rencana Anggaran Kerja
Tingkat Manajemen dan Kegiatan Litkajibangrap TA. 2018; dan (2) Koordinasi,
sinkronisasi, dan menjaring umpan balik kegiatan litkajibangrap TA. 2017 dengan cakupan
kegiatan berupa: (1) Evaluasi dan pendokumentasian proposal (RDHP, RPTP, RKTM;
RODHP, ROPP, ROKTM tahun 2017); (2). Penyusunan matrik kegiatan litkaji dan
92
diseminasi tahun 2018; (3). Penyusunan rencana kerja (renja); (4). Penyusunan RKAKL
sebagai bahan dasar penyusunan DIPA tahun 2018. (5). Pengumpulan dan review laporan
kegiatan litkaji dan manajemen tahun 2017. Hasil pada tahun 2017, kegiatan Penyusunan
Program dan Rencana Kerja/Teknis/Program sudah dilaksanakan dengan baik dan sesuai
dengan rencana pelaksanaan.Kegiatan yang telah dilaksanakan terbagi menjadi enam
kegiatan, yaitu: 1) Rapat kerja, rapat koordinasi, workshop, dan temu koordinasi di tingkat
pusat; 2) Seminar rencana operasional penelitian pertanian/diseminasi hasil penelitian dan
kinerja tingkat manajemen Sumatera Selatan; 3) Koordinasi, penyampaian kegiatan, dan
umpan balik kegiatan litkajibangrap dengan stakeholders; 4) Penyusunan matriks serta
usulan proposal kegiatan dan anggaran tahun 2018; 5) Revisi DIPA dan POK TA. 2017;
dan (6) Seminar hasil kegiatan litkajibangrap dan manajemen TA. 2017. Revisi DIPA TA.
2017 dilakukan sebanyak 4 kali terhadap alokasi anggaran, redaksional, akun, dan
pergeseran mata anggaran. Revisi dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan
penyerapan anggaran yang cukup dinamis.
2.3.23 Pembangunan Taman Teknologi Pertanian
1. TTP Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin
93
Taman Teknologi Pertanian merupakan suatu tempat yang digunakan untuk
mengimplementasikan corporate program LITKAJIBANGDIKLATLUHRAP bidang pertanian
dalam sistem usahatani skala luas (partisipatif, adaptif dan interdisciplinary fields) dalam
kerangka mendukung pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan
pertanian nasional (peningkatan provitas, produksi dan kesejahteraan petani). Prinsip
pengembangan Taman Teknologi Pertanian: 1). implementasi hasil penelitian skala luas,
2). adaptif/down stream research (stakeholders lebih luas) dengan fokus aktivitas sesuai
dengan komoditas unggulan lokasi Taman Teknologi Pertanian, 3). partsipatif stakeholders
(sharing planning, cost, dan risk), 4). interdisiplinary fields of study (Cross Cuttting Issues),
5).corporateprogram (koordinator salah satu UK), 6). kegiatan dan output terukur
(kuantitatif) dengan Time Frame, 7). implementasi LITKAJIBANGDIKLATLUHRAP,
keterlibatan peneliti, perekayasa, pengkaji dan penyuluh (hulu-hilir). Kegiatan ini akan
dilakukan di Desa Mulia Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin. Tujuan
kegiatan ini, yaitu: 1). mendiseminasikan varietas unggul baru tanaman pangan (padi,
jagung, dan kedelai), hortikultura (jeruk, melon, semangka, dan tanaman hias), tanaman
tahunan (kelapa genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, kaliandra) di
lahan pasang surut, 2). mendiseminasikan cara tanam jajar legowo di lahan pasang surut,
3). mendiseminasikan pemupukan berimbang di lahan pasang surut, 4).
mendiseminasikanpenggunaan alat dan mesin pertanian di lahan pasang surut, 5).
mendiseminasikan pembibitan dan penggemukan ternak sapi.Keluaran kegiatan tahun ini,
yaitu: 1). terdiseminasinya varietas unggul baru tanaman pangan (padi, jagung, dan
kedelai), hortikultura (jeruk, semangka, melon, tanaman hias), tanaman tahunan (kelapa
genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, kaliandra) di lahan pasang surut,
2). terdiseminasinya cara tanam jajar legowo di lahan pasang surut, 3). terdiseminasinya
94
pemupukan berimbang di lahan pasang surut, 4). terdiseminasinya penggunaan alat dan
mesin pertanian di lahan pasang surut, dan 5). Terdiseminasinya pembibitan dan
penggemukan ternak sapi. Hasil kegiatan tahun ini, yaitu: 1). penggunaan varietas unggul
baru tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai), hortikultura (jeruk, semangka, melon,
tanaman hias), tanaman tahunan (kelapa genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja,
indigofera, kaliandra) dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 2). penggunaan
cara tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 3).
penggunaan pupukberimbang dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 4).
penggunaan alat dan mesin pertanian dapat meningkatkan efisiensi usaha tani di lahan
pasang surut, dan 5). pembibitan dan penggemukan ternak sapi dapat menambah
pendapatan petani. Perkiraan manfaat dan dampak kegiatan ini, yaitu: penggunaan
varietas unggul baru tanaman pangan, cara tanam jajar legowo, pupuk berimbang, serta
alat dan mesin pertanian dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di
kawasan Taman Teknologi Pertanian.
2. TTP Kabupaten Musi Banyuasin
Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh
Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan
kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi
teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah
95
baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-
sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk
pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam
jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha
agribisnis melalui upaya antara lain: 1) membangun model percontohan pertanian terpadu
yang mengintegrasikan pertanian, perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang
agroteknologi dan agribisnis, 2) mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang terampil dan mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung
upaya peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian.
TTP Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin, terletak di Desa Pinang Banjar Kecamatan
Sungai Lilin. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama
yang diusahakan adalah padi, karet dan Sawit. Beberapa rumah tangga petani juga
memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih
relatif rendah, ini disebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran.
Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasanTTP Sungai Lilin, telah disusun
program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara lain:
Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi dan kambing, Akselerasi
Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen, Pengembangan
Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani,
Peningkataan SDM Pengelola TTP, Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen
Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari
terlaksananya Pembangunan Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan
implementasi inovasi teknologi di kawasan TTP Sungai Lilin berupa demfarm varietas
unggul baru (VUB). Kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2017 meliputi display VUB
96
(inpara 2, inpara 3, dan inpara 7), jagung (hibrida dan jagung manis), kacangan tanah,
semangka, timun, kacang panjang, pengelolaan limbah (kompos, biogas, dan silase),
pembuatan MOL, pembuatan nutrisi, dan pembuatan embung.
3. TTP Kabupaten OKU
Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh
Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan
kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi
teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah
baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-
sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk
pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam
jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha
agribisnis. Pada Tahun 2017 ini tujuan kegiatannya adalah: (1). Mendiseminasikan varietas
unggul baru tanaman pangan, hortikultura dan hijauan pakan ternak di lahan kering
dataran rendah dan sawah irigasi sederhana, (2).Mendiseminasikan penggunaan alat dan
mesin pertanian di lahan kering dataran rendah dan sawah irigasi sederhana, (3).
Mendiseminasikan pembibitan ternak sapi. (4).Meningkatkan kemampuan petani dalam
penerapan inovasi teknologi baru (5). Menumbuhkan kelembagaan pendukung
97
kemandirian TTP. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasan TTP
Semidang Aji, telah disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016
hingga 2019, antara lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi,
Akselerasi Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen,
Pengembangan Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan
Petani, Peningkatan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen
Pengelolaan TTP. Kegiatan-kegiatan inilah yang dilakukan pada Tahun 2017, dan sampai
dengan penyusunan laporan ini sudah dilakukan penyediaan pakan untuk ternak sapi,
upaya penyediaan bibit cabai, penanganan pasca panen jagung dan kopi, penanaman
penangkaran benih padi, display VUB, penguatan kelembagaan petani, pengelolaan alsin,
dan pelaksanaan pelatihan pengelola TTP dan petani.
98
III. PENUTUP
Pada Tahun 2014 di BPTP Sumsel terdapat 14 kegiatan penelitian/pengkajian, 1
kegiatan analisis kebijakan, 3 kegiatan diseminasi dan 11 kegiatan pendampingan.
Kegiatan-kegiatan tersebut diupayakan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya. Selain itu juga
terdapat kegiatan kerjasama, operasionalisasi penggunaan kebun percobaan,
laboratorium, perpustakaan, pengelolaan benih sumber dan pelaksanaan kegiatan
perkantoran sehari-hari baik dalam melayani kepentingan staf BPTP terlebih lagi untuk
melayani kepentingan pengguna (petani, dan stakeholder terkait).
Pelaksanaan kegiatan juga tidak terlepas dari berbagai kendala seperti cuaca yang
pada bulan-bulan tertentu sangat ekstrim, hama dan penyakit tanaman serta aspek
kelembagaan yang masih terbatas dari segi kualitas, dan realisasi pencairan dana yang
terlambat akibat revisi anggaran juga berdampak pada kelancaran pelaksanaan kegiatan.
99
Perencanaan dan perancangan kegiatan yang matang, peningkatan kualitas SDM
secara berkelanjutan yang mampu mengiringi perkembangan zaman, peningkatan sarana
dan prasarana akan menjadikan output kegiatan semakin bermanfaat dan berdampak luas.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Anggaran dan Realisasi Dana Kegiatan BPTP Sumsel TA. 2014.
No Kegiatan Dana (Rp) Realisasi
(Rp) (%)
1 Teknologi Pengelolaan Sawah Bukaan Baru 75.000.000 61.171.000 81,56
untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah
2 Kajian Peningkatan Produktivitas Jagung dan 75.000.000 73.262.710 97,68
Kedelai pada Lahan sub Optimal
3 Model Akselerasi Pembangunan Ramah Lingkungan 150.000.000 141.823.500 94,55
mendukung Peningkatan Produksi Padi di Sumsel
4 Kajian Penguatan Kelembagaan lokal melalui 61.000.000 34.258.859 56,16
pendekatan modal sosial dalam mendukung
pengembangan kawasan hortikultura
5 Kajian Peningkataan Produktivitas Jamur 61.000.000 56.669.600 92,90
Tiram dengan Pemberian Nutrisi Tambahan
pada Media Tanam Jamur Tiram
100
6 Pengelolaan Sumberdaya Genetik (SDG) 179.600.000 172.724.735 96,17
Duku dan Durian
7 Inventarisasi dan Kajian Perbaikan 70.000.000 64.046.450 91,49
Produktivitas Itik Pegagandalam upaya
pelestarian Plasma Nutfah Lokal
8 Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas 70.000.000 59.754.200 85,36
Pertanian Berdasarkan ZAE II
(tingkat semi detil) skala 1:50.000
9 Pendampingan Budidaya Beberapa varietas 76.000.000 70.281.100 92,48
Kentang melalui Pendekatan PTT
10 Pendampingan Budidaya Cabai Ramah Lingkungan 70.500.000 5.560.000 7,89
11 Kajian Pengendalian penyakit Kresek padi 120.000.000 96.877.200 80,73
melalui pemanfaatan Bio-agent untuk
mendukung budidaya ramah lingkungan
12 Kajian cemaran pestisida pada beberapa 100.000.000 80.130.200 80,13
komoditas hortikultura unggulan Sumsel
terhadap mutu dan keamanan
13 Peningkatan Komunikasi dan Akselerasi 162.000.000 161.611.200 99,76
Inovasi Teknologi Pertanian
14 Publikasi inovasi teknologi pertanian 68.459.000 39.974.000 58,39
15
Sosialisasi, HPS, Pameran, PENAS, 40 th
LITBANG, 145.000.000
126.477.585
87,23
20 th BPTP, 10 th Agro Inovasi dan Temu
Koordinasi
16 Pendampingan KRPL di Sumsel 400.000.000 365.058.400 91,26
17 Pengembangan Kebun Bibit Induk 50.000.000 49.390.000 98,78
18 Pengelolaan Kebun Bibit Desa 300.000.000 277.367.500 92,46
19 Pengembangan Pertanian Perdesaan 200.000.000 188.029.000 94,01
Melalui Peningkatan Indeks Pertanaman
di wilayah Sumsel
20 Pendampingan program Strategis Kemtan 350.000.000 327.036.910 93,44
PTT Padi di Wilayah Sumsel
21 Pendampingan program Strategis Kemtan 75.000.000 64.260.000 85,68
PTT Jagung di Wilayah Sumsel
22 Pendampingan program Strategis Kemtan 76.500.000 61.408.040 80,27
PTT Kedelai di Wilayah Sumsel
101
Lanjutan Lampiran 1.
23 Pendampingan program Strategis Kemtan 79.500.000 76.962.800 96,81
PSK di Wilayah Sumsel
24 Pendampingan program strategis Kemtan 83.000.000 81.197.040 97,83
Pengembangan Kawasan Hortikultura
di Wilayah Sumsel
25 Penyusunan dan Sosialisasi KATAM 75.000.000 72.180.960 96,24
26 Pendampingan Percepatan Penerapan Teknologi 90.000.000 77.040.750 85,60
Tebu Terpadu (P2T3) di wilayah Sumsel
27 Koordinasi PUAP 70.000.000 69.632.398 99,47
28 Kerjasama Penelitian 10.200.000 10.200.000 100,00
29 Pengelolaan ketatausahaan dan SAI 35.800.000 31.629.120 88,35
30 Pengelolaan Administrasi Keuangan 38.700.000 37.668.900 97,34
31 Penyusunan program dan rencana kerja/ 55.500.000 55.068.100 99,22
teknis/program
32 Monitoring dan evaluasi 34.000.000 30.934.600 90,98
33 Pelaporan (LAKIP) 12.000.000 9.354.900 77,96
34 Peningkatan kemampuan SDM 46.500.000 45.843.990 98,59
35 Peningkatan kapasitas kinerja pengkajian 35.000.000 28.220.650 80,63
dan diseminasi
36 Koordinasi dan sinkronisasi antar institusi 42.500.000 41.400.580 97,41
37 Pengelolaan Website 12.300.000 10.556.900 85,83
38 Pengelolaan perpustakaan 10.700.000 10.650.000 99,53
39 Pengelolaan Laboratorium 5.000.000 4.989.800 99,80
40
Pemeliharaan Akreditasi Manajemen 26.000.000 26.000.000 100,00
41 Penyusunan laporan keuangan 310.605.000 302.729.670 97,46
SAI pada sekretariat UAPPA/B-W
42 Sistem Pengendalian Intern/ 16.000.000 12.931.000 80,82
Wilayah Bebas Korupsi
43 Pengelolaan KP Kayuagung 54.211.000 54.032.300 99,67
44 Pengelolaan KP Karangagung 52.700.000 49.604.700 94,13
45 Produksi, Distribusi dan Penguatan 364.020.000 359.715.176 98,82
Kelembagaan BenihPadi di Sumsel
46 Pembayaran gaji dan tunjangan 5.025.038.000
4.904.832.88
0 97,61
47 Kebutuhan Sehari-hari Perkantoran 182.800.000 172.783.600 94,52
48 Langganan Daya dan Jasa 216.000.000 134.690.786 62,36
102
49 Pemeliharaan Kantor 301.476.000 299.674.500 99,40
50 Pembayaran terkait pelaksanaan 184.374.000 184.082.500 99,84
operasional kantor
51 Pembelian Kendaraan Fungsional Roda 4 270.000.000 265.280.000 98,25
52 Peralatan AC dan Komputer 30.000.000 30.000.000 100,00
53 Renovasi gedung 375.000.000 333.927.000 89,05
41 Pengelolaan benih sumber (UPBS) 501.322.000 406.338.400 81,05
42 Pembayaran gaji dan tunjangan 5.108.777.000 5.765.904.34
0
112,86
43 Penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan
perkantoran
739.250.000 559.995.113 75,75
44 Kendaraan pendukung kegiatan UPBS 60.000.000 53.800.000 89,67
45 Pengadaan perangkat pendukung IT 80.000.000 72.900.000 91,13
46 Pengadaan perangkat pengolah data 7.000.000 7.000.000 100,00
47 Peralatan pendukung Lab. Laboratorium diseminasi 339.700.000 337.012.295 99,21
48 Gedung dan bangunan 930.700.000 926.659.500 99,57
49 Administarsi pengadaan barang 6.200.000 4.400.000 70,97
103

Laphir BPTP 2018

  • 1.
    I. PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang Perubahan lingkungan strategis global dan domestik pada sektor pertanian secara langsung maupun tidak langsung telah dan akan mempengaruhi pembangunan pertanian nasional maupun wilayah spesifik lokasi. Mencermati dinamika perubahan lingkungan strategis tersebut, program dan kegiatan pengkajian dan pengembangan teknologi spesifik lokasi diarahkan untuk merakit berbagai inovasi pertanian spesifik agroekosistem yang menghasilkan produk berdaya saing tinggi baik di pasar domestik maupun internasional. Ini dilakukan dalam rangka mengakselerasi pembangunan pertanian wilayah, dengan mengembangkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal. Secara umum, arah kebijakan pembangunan pertanian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 antara lain: 1. Meningkatkan kapasitas produksi melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal pertanian. 2. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah komoditi pertanian. 3. Meningkatkan produksi dan diversifikasi sumber daya pertanian. 4. Pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. 5. Memperkuat kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sebagai institusi pusat yang berada di daerah dan merupakan ujung tombak Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) dalam melakukan pengkajian bidang pertanian, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 1
  • 2.
    Sumatera Selatan padaTahun 2017 tetap berperan aktif dalam menumbuhkan inovasi serta mengembangkan teknologi pertanian spesifik lokasi di daerah melalui impementasi kegiatan-kegiatannya (Peraturan Menteri Pertanian No:20/Permentan/OT.140/3/2013). Hal ini terkait dengan arah, visi, misi, dan sasaran utama pembangunan pertanian dalam Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, dimana pembangunan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan nasional, dan penempatan sektor pertanian dalam pembangunan nasional merupakan kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Diyakini, bahwa berkembangnya sektor pertanian yang maju akan mendorong berkembangnya sektor lain, terutama sektor hilir (agriculture industries and services) yang maju pula. Laporan Akhir Tahun BPTP Sumsel ini disusun untuk menginformasikan implementasi pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel selama Tahun 2017. Laporan ini pun tentunya dapat dijadikan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan lain yang sejenis agar lebih baik lagi di masa mendatang. 1.2. Tugas, Visi dan Misi BPTP Sumatera Selatan 1.2.1. Tugas Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.19/Permentan/OT.020/5/2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, maka kedudukan, tugas, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja BPTP Sumatera Selatan adalah sebagai berikut: a. Kedudukan Institusi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian adalah unit pelaksana teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) di daerah. BPTP bertanggung jawab kepada Kepala Badan Litbang Pertanian dan dalam pelaksanaan 2
  • 3.
    tugas sehari-harinya dikoordinasikanoleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). b. Tugas Pokok BPTP mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. c. Fungsi Dalam melaksanakan tugas tersebut, BPTP menyelenggarakan fungsi: 1. Melaksanakan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. 2. Melaksanakan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. 3. Pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta perakitan materi penyuluhan. 4. Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. 5. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. 6. Pelaksanaan Urusan Tata Usaha dan Rumah Tangga Balai. Dalam pelaksanaan kegiatan, secara struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian. Secara fungsional dibantu oleh Tim Program dan 4 (empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri 3
  • 4.
    dari: (1) KeljiSumberdaya, (2) Kelji Budidaya, (3) Kelji Pasca Panen dan (4) Kelji Sosial Ekonomi. a. Subbagian Tata Usaha Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, perlengkapan, surat menyurat, dan kearsipan, serta rumah tangga. b. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana, program, anggaran, pemantauan, dan evaluasi serta laporan, dan penyiapan bahan kerjasama, informasi, dokumentasi, dan penyebarluasan dan pendayagunaan hasil, serta pelayanan sarana pengkajian, perakitan, dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. c. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari jabatan fungsional Peneliti, Penyuluh Pertanian dan sejumlah jabatan fungsional lainnya yang terbagi dalam berbagai kelompok jabatan fungsional berdasarkan bidang masingmasing, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk menjalankan program dalam wujud berbagai kegiatan, BPTP Sumsel memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 74 orang. Tenaga-tenaga ini tersebar di kantor BPTP Sumsel 59 orang, di Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten OKI 9 orang, dan di Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 5 orang. Bedasarkan tingkat pendidikannya, saat ini terdapat 2 orang yang berpendidikan strata 3; 16 orang berpendidikan strata 2 dan 31 orang berpendidikan strata 1. Pegawai yang berpendidikan Diploma (3-4) sebanyak 5 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 16 orang, 4
  • 5.
    Sekolah Lanjutan TingkatPertama 2 orang dan yang berpendidikan Sekolah Dasar 2 orang. Berdasarkan fungsinya, SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti sebanyak 18 orang, fungsional penyuluh 12 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional tehnisi litkayasa 1 orang dan fungsional umum 42 orang. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang yang lebih tinggi. Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan kemampuan SDM melalui pendidikan tinggi baik ke jenjang Strata 2 maupun Strata 3. I.2. Struktur Organisasi Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya, BPTP Sumatera Selatan yang merupakan unit kerja Eselon IIIa, berada di bawah lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). Dalam pelaksanaan kegiatan, secara struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian. Secara fungsional dibantu oleh Tim Program dan 4 (empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri dari: (1). Kelji Sumberdaya, (2). Kelji Budidaya, (3). Kelji Pasca Panen dan (4). Kelji Sosial Ekonomi. Tugas penelitian dan pengkajian dari masing-masing kelji berbeda-beda, namun saling mendukung dan bekerjasama. Di dalam Sie Kerjasama dan Pengkajian terdapat unsur penting yang mendukung pelaksanaan pengkajian yaitu kebun percobaan, laboratorium dan perpustakaan. Sub Bagian Tata Usaha bertugas dalam urusan administrasi, keuangan, kepegawaian dan rumah tangga Balai. Seksi Pelayanan Pengkajian bertugas dalam penyiapan dan pengelolaan informasi, komunikasi, diseminasi hasil penelitian dan 5
  • 6.
    pengkajian (litkaji), saranalaboratorium dan sarana lapangan. Dalam tugasnya Kepala Balai dibantu Tim Program dalam menyiapkan, penyusunan dan perumusan program litkaji. Tim Program bekerjasama dengan Kelompok Pengkaji (Kelji) yang didukung oleh Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian dan Sub Bag Tata Usaha. Gambar 1. Struktur Organisasi BPTP Sumatera Selatan 1.4. Sarana dan Prasarana Keberhasilan pelaksanaan penelitian dan pengkajian perlu ditunjang dengan tersedianya sarana dan prasarana. Kantor BPTP Sumsel berada di atas lahan seluas 5.100 m 2 . Di tanah ini berdiri beberapa gedung yang difungsikan untuk kegiatan administrasi dan tenaga fungsional dengan luas lantai dasar 369,36 m 2 , gedung keuangan 178,22 m 2 , gedung pelayanan teknis (laboratorium, perpustakaan) dengan luas lantai dasar 470,69 m 2 , 6 Kepal Ka. Sie Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian Ka. Sub Bagian Tata Usaha Kelji Sosial Ekonomi Kelji Pasca Panen Kelji Budidaya Kelji Sumberday
  • 7.
    luas garasi kendaraanbagian bawah 173,46 m 2 dengan bagian belakang berlantai dua, Pos Satpam 36,19 m 2 , gudang 78,59 m 2 , menara air 14,34 m 2 dan luas aula 648,65 m 2 . Kebun Percobaan Kayuagung dengan luas lahan 26,6 ha, status tanahnya adalah hak guna pakai. Berada di Desa Sidakersa Kecamatan Kota Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan agroekosistem Lebak. Kebun ini dapat dijangkau dengan mudah dari Palembang dengan kendaraan roda empat. Berada di tepi jalan Trans Sumatera. Berdasarkan tipenya maka KP ini memiliki lahan lebak dalam 49,4%, lebak tengahan 19,4% dan lebak dangkal 31,2% dari luas lahan. Kebun ini berada pada ketinggian 31 m di atas permukaan laut. Adapun KP. Karang Agung dengan luas 20 ha, status tanahnya adalah pinjaman. Berada di Desa Sukamulia Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin. Untuk menjangkau kebun ini, setelah mengendarai kendaraan roda empat dari Palembang kurang lebih 3,5 jam, maka dilanjutkan dengan menggunakan speed boat selama 30 menit. Agroekosistem kebun ini pasang surut, bertipe luapan B/C yang berada pada ketinggian 29 m di atas permukaan laut. Untuk menunjang pelaksanaan tugasnya, maka di lingkup BPTP Sumsel saat ini terdapat 8 kendaraan dinas roda empat, sedangkan fasilitas lapangan terdiri dari alat angkut bermotor roda tiga 4 unit, traktor tangan 4 unit, Transplanter 1 unit, perontok gabah 2 unit, box dryer 2 unit dan ditunjang dengan beberapa fasilitas untuk pengolahan benih. Lebih lanjut mengenai keadaan kekayaan barang bergerak lingkup BPTP Sumatera Selatan sampai akhir tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel berikut ini Tabel 1. Keadaan Kekayaan Barang Bergerak yang Dikelola Lingkup BPTP Sumatera Selatan tahun 2017 No Jenis Kendaraan No. Polisi Pemakai Keterangan 7
  • 8.
    1. Toyota Kijang Innova(Bensin) BG1342 RZ Ka. Balai Kendaraan R.4 2. Toyota Kijang Innova(Solar) BG 1073 RZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 3. Suzuki Vitara BG 1501 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 4. Toyota Kijang Kapsul BG 1472 MZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 5. Toyota Kijang Kapsul BG 1993 LZ KP. Karang Agung Kendaraan R.4 6. Toyota Hilux Double Kabin BG 9786 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4 7. Toyota Hilux Pickup BG 9505 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4 8. Toyota Hilux Pickup F 9846 MZ KP. Kayuagung Kendaraan R.4 9. Yamaha YT 125 BG. 6291 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2 10. Yamaha YT 125 BG. 6292 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2 11. Yamaha YT 125 BG. 6295 NZ Susno Kendaraan R.2 12. Yamaha YT 125 BG. 6294 NZ M. Arif Sidik P Kendaraan R.2 13. Yamaha YT 125 BG. 6290 NZ Juwedi Kendaraan R.2 14. Yamaha YT 125 BG 6296 NZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2 15. Yamaha YT 125 BG. 6293 NZ Tukiran Kendaraan R.2 16. Suzuki Trail BG. 5849 NZ KP. Karang Agung Kendaraan R.2 17. Honda Vario 150cc BG 2508 ABA Ka. Balai Kendaraan R.2 18. Viar BG 6414 PZ KP Kayuagung Kendaraan R.3 19. Viar F 5371 A KP Kayuagung Kendaraan R.3 20. Viar F 5398 A KP Kayugung Kendaraan R.3 21. Viar BG 6415 PZ KP Karang Agung Kendaraan R.3 22. Suzuki A100 BG 5844 NZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2 23. Yamaha Vega BG 2861 AAZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2 24. Yamaha Vega BG 2861 AAZ Pool Kendaraan Kendaraan R.2 1.5. Sumber Daya Manusia Untuk menjalankan program dalam wujud beberapa kegiatan, BPTP Sumatera Selatan memiliki sumber daya manusia sebanyak 74 orang. Tenaga-tenaga ini menyebar di kantor BPTP Sumatera Selatan 58 orang, Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten OKI 10 orang dan Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 6 orang. 8
  • 9.
    Ditinjau dari tingkatpendidikannya, saat ini terdapat 3 orang yang berpendidikan strata 3; 16 orang berpendidikan strata 2 dan 31 orang berpendidikan strata 1. Pegawai yang berpendidikan Diploma (2-4) sebanyak 5 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 16 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 2 orang dan yang berpendidikan Sekolah Dasar 2 orang. Bila dilihat dari fungsinya, maka SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti 18 orang, fungsional penyuluh 10 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional tehnisi litkayasa 1 orang dan fungsional umum 30 orang. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan kegiatan BPTP Sumatera Selatan, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang yang lebih tinggi. Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan kemampuan SDM melalui pendidikan tinggi. Saat ini terdapat satu orang staf peneliti yang mengikuti pendidikan Strata 3 dan 1 orang yang mengikuti pendidikan Strata 2. Berikut rekapitulasi pegawai menurut beberapa kriteria per Desember 2017. Tabel 2. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan Ruang per Desember 2017 No Golongan Ruang A B C D Jumlah 1 Golongan I 0 0 1 1 2 2 Golongan II 3 0 6 2 11 3 Golongan III 10 19 11 9 49 4 Golongan IV 5 4 3 0 12 Total 18 23 21 12 74 Tabel 3. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan/Ruang dan Pendidikan Akhir Per Desember 2017 No Gol/Ruang S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah 9
  • 10.
    1 I/c 11 2 I/d - 1 1 3 II/a 2 1 3 4 II/b - 5 II/c 1 4 1 6 6 II/d 1 1 2 7 III/a 3 1 1 5 10 8 III/b 2 12 1 0 4 19 9 III/c 4 7 11 10 III/d 3 6 9 11 IV/a 1 4 5 12 IV/b 1 2 1 4 13 IV/c 1 2 3 Jumlah 2 16 31 2 3 16 2 2 74 Tabel 4. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Kelompok Umur Per Desember 2017 No Gol/ Ruang 21-25 tahun 26-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun 41-45 tahun 46-50 tahun 51-55 tahun 56-60 Tahun Jumlah 1 I 2 2 2 II 1 1 1 4 4 11 3 III 2 10 7 6 7 12 5 49 4 IV 2 5 5 12 Jumlah 3 11 8 6 13 21 12 74 7. Tabel 5. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Pendidikan Akhir Per Desember 2017 10 NO Gol/ Ruang S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah 1 I 2 2 2 II 2 7 2 11 3 III 9 28 2 1 9 49 4 IV 2 7 3 12 Jumlah 2 16 31 2 3 16 2 2 74
  • 11.
    Tabel 6. RekapitulasiPegawai Menurut Kelompok Fungsional per Desember 2017 No . Nama Fungsional Jumlah 1. Peneliti 18 2. Penyuluh 10 3. Pustakawan 1 4. Teknisi Litkayasa 1 Tabel 7. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Peneliti per Desember 2017 Tabel 7 . Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Penyuluh Sampai Desember 2017 11 No. Nama Fungsional Jumlah 1. Peneliti Utama 1 2. Peneliti Madya 4 3. Peneliti Muda 7 4. Peneliti Pertama 6 5. Peneliti Non Klasifikasi - Jumlah 18
  • 12.
    Tabel 9. RekapitulasiPegawai Menurut Kelompok Fungsional Pustakawan Sampai Desember 2017 No. Nama Fungsional Jumlah 1 Pustakawan Pertama 1 Jumlah 1 Tabel 10. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Litkayasa Sampai Desember 2017 No. Nama Fungsional JUMLAH 1 Teknisi Litkaya Pemula 1 Jumlah 1 Tabel 11. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Sampai Desember 2017 12 No. Nama Fungsional Jumlah 1 Penyuluh Pertanian Madya 4 2 Penyuluh Pertanian Muda 4 3 Penyuluh Pertanian Pertama 2 4 Penyuluh Terampil Penyelia 0 5 Penyuluh Terampil Pelaksana L 0 6 Penyuluh Terampil Pelaksana 0 7 Penyuluh Terampil Pelaksana P 0 8 Penyuluh Non Klasifikasi 2 Jumlah 12
  • 13.
    No Jenis kelamin 20-25 Tahun 26-30 Tahun 31-35 Tahun 36-40 Tahun 41-45 Tahun 46-50 Tahun 51-55 Tahun 56-60 Tahun Jmh 1 Laki-Laki 01 2 3 2 9 15 9 41 2 Perempuan 0 2 9 5 4 4 6 3 33 Jumlah 0 3 11 8 6 13 21 12 74 Tabel 12. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Golongan/Ruang Sampai Desember 2017 No Golongan Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan 1 I/c 1 - 1 2 I/d 1 - 1 Jumlah Gol. I 2 - 2 3 II/a 3 - 3 II/b - - - 4 II/c 5 1 6 5 II/d 2 - 2 Jumlah Gol. II 10 1 11 6 III/a 7 3 10 7 III/b 6 13 19 8 III/c 3 8 11 9 III/d 6 3 9 Jumlah Gol. III 22 27 49 10 IV/a 2 3 5 11 IV/b 4 - 4 12 IV/C 1 2 3 Jumlah Gol. IV 7 5 12 Total 41 33 74 Tabel 13. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan, Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin Sampai Desember 2017 N o Golongan /Ruang Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah L P L P L P L P L P L P L P L P 1 GOL. I - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2 13
  • 14.
    2 GOL. II- - - - - - - - 1 1 7 - 2 - - - 11 3 GOL. III - - 3 6 9 19 1 1 1 - 8 1 - - - - 49 4 GOL. IV 1 1 5 2 1 2 - - - - - - - - - - 12 Jumlah 1 1 8 8 1 0 2 1 1 1 2 1 1 5 1 2 - 2 - 74 II. HASIL KEGIATAN 2.1. Sub Bagian Tata Usaha 2.1.1. Pendidikan dan Pelatihan Untuk meningkatkan pendidikan tenaga peneliti dan non peneliti telah dilakukan berbagai upaya melalui jalur formal dengan biaya pemerintah maupun dengan biaya sendiri. Jenjang pendidikan yang diikuti adalah S2 dan S3 dengan berbagai disiplin Iu seperti terlihat pada Tabel 14. Tabel 14. Pegawai BPTP Sumsel yang sedang mengikuti pendidikan No Nama Program Jurusan Tempat Sumber Biaya Tahun mulai Tahun Selesai 1. Herwenita, SP S2 Community Development UPLB Filipina Badan Litbang 2013 Selesai 2017 2. Agus Suprihatin, SP, M.Sc S3 Ilmu Tanah UGM Yogyakarta Badan Litbang 2015 Belum Selesai 3. Sidiq Hanapi, SP S2 Ekonomi pertanian UGM Yogyakarta 2016 Belum Selesai 14
  • 15.
    Adapun kegiatan-kegiatan yangtelah dilakukan oleh Penanggung Jawab Kepegawaian pada tahun anggaran 2017 sejak triwulan pertama sampai pada triwulan keempat adalah sebagai berikut : 1) Kenaikan Gaji Berkala ; 25 orang, 2) Kenaikan Pangkat ; 12 orang, 3) Taspen dan, 4) Pembuatan Askes 1 orang (CPNS) Untuk pengoperasian Software SIM ASN tersebut pada tahun anggaran 2017 telah dapat dilaksanakan dengan baik, dengan demikian diharapkan dalam penampilan dan penyajian data-data kepegawaian dapat lebih akurat dan cepat seperti penampilan daftar Nominatif pegawai berdasarkan tingkat pendidikan, umur, pangkat/golongan dan Eselon, penampilan kapan kenaikan pangkat pegawai, kenaikan gaji berkala, kapan pensiun dan pembebasan sementara. 2.1.2. Perlengkapan Urusan rumah tangga dan perlengkapan meliputi penerimaan, pencatatan, pemindahan, pengelolaan dan pemeliharaan barang milik negara meliputi tanah, bangunan gedung kantor, halaman, auditorium, wisma tamu, gedung laboratorium, rumah jabatan, aset kebun percobaan, kendaraan dan mesin lainnya. Pada tahun 2017 telah dilakukan pemeliharaan kantor BPTP, Rumah Dinas dan Mess BPTP, Pemasangan Coblok dan Pemasangan Keramik Garasi, Pengecatan Rumah Dinas Pengecatan Pagar Pembatas antara Kantor BPTP dengan BKP. Tabel 15. Capaian kinerja indikator pengelolaan BMN seperti berikut. Indikator Kinerja Target Capaian % Capaian Tersedianya daftar barang 1 Daftar barang 1 Daftar barang 100 Tersedianya daftar surat masuk dan keluar 2 daftar surat 2 daftar surat 100 Laporan Keuangan 2 Laporan 2 Laporan 100 15
  • 16.
    Laporan Barang 2laporan 2 Laporan 100 BPTP Sumatera Selatan pada Tahun 2016 telah menerima hasil pengadaan belanja 526 yaitu barang yang harus diserahkan kepada pemda/masyarakat sampai dengan 31 Desember 2017 telah mengupayakan melakukan proses hibah dan penghapusan BMN tersebut seperti disajikan pada tabel berikut. Tabel 16. Kegiatan penyelesaian hibah dan penghapusan belanja 526 N O Kegiatan Dokumen Keterangan 1 Berita Acara Serah Terima BMN TTP Banyuasin Pengadaan Satker BPTP Sumsel BAST No. B-974.1/PL.130/H/10/2016 Tanggal 7 Oktober 2017 Sudah dilakukan Penghapusan 2 Berita Acara Serah Terima BMN TTP Banyuasin Pengadaan Satker BPTP Sumsel Nomor : 2158/BAST/PL.130/I.12.8? 02/2017 tanggal 3 Februari 2017 Belum dilakukan Penghapusan Pelaksanaan kegiatan surat menyurat selama Tahun 2017 berjumlah 500 surat terdiri atas surat yang masuk baik dari instansi vertikal maupun instansi horisontal, dan surat keluar kepada instansi vertikal dan instansi horisontal serta surat keterangan 2.1.3. Keuangan Sebagai unit pelaksana teknis dibidang pengkajian dan alih teknologi spesifik lokasi, dalam melaksanakan tupoksinya BPTP Sumatera Selatan pada TA. 2017 didukung oleh sumber dana yang berasal dari APBN sebesar Rp 21,499,772,000.00,- 16
  • 17.
    Anggaran BPTP SumateraSelatan dicairkan sesuai dengan Surat Pengesahan DIPA Tahun Anggaran 2017 dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Apabila dana tersebut dirinci menurut jenis belanjanya, maka persentase realisasi belanja pegawai sebesar 96.64%, belanja barang 98.40% dan belanja modal 97.74% seperti pada tabel berikut Tabel 17. Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP Sumsel Tahun 2017 No. Jenis PAGU (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (%) 1. Belanja Pegawai 5,850,000,000 5,653,604,207 96.64 2. Belanja Barang 10,298,000,000 10,133,175,532 98.40 3. Belanja Modal 5,351,000,000 5,230,241,975 97.74 JUMLAH 21,499,000,000 21,230,241,975 97.76 Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP tahun 2017 tersebut sebesar 97.76%. Selain dari DIPA BPTP Sumsel 2017, juga terdapat dana dari SMARTD yaitu sebesar Rp. 492.987.500,- yang terdiri dari kegiatan: 1. Pembangunan modal operasi Sistem Irigasi Air Tanah untuk budidaya Tanaman Pangan dalam upaya peningkatan produktivitas lahan dengan Pagu Rp. 187.340.000,- dan terealisasi 100% 2. Kajian Pembibitan Ternak Itik pegagan melalui pendekatan kelompok dengan Pagu Rp. 120.503.500,- dan terialisasi 100% 3. Analisis Penerapan Teknologi Laser Leveling untuk meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan dan Efesiensi Input dilahan Subur Sumatera Selatan dengan Pagu Rp.185.144.000,- dan terealisasi 97.89% Tabel 18. Realisasi penggunaan kegiatan yang di danai SMARTD Tahun 2017 Judul kegiatan Pagu (Rp) Realisasi 17
  • 18.
    Rp % Pembangunan modaloperasi Sistem Irigasi Air Tanah untuk budidaya Tanaman Pangan dalam Upaya Peningkatan ProduktivitasLlahan 187.340.000 187.340.000 100,00 Kajian Pembibitan Ternak Itik Pegagan Melalui Pendekatan Kelompok 120.503.500 120.503.500 100,00 Analisis Penerapan Teknologi Laser Leveling untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan dan Efisiensi Input di Lahan Subur Sumatera Selatan 185.144.000 181.255.000 97,89 Total 492.987.500 489.098.500 99,21 Kegiatan yang didanai oleh SMARTD dan Badan Litbang tahun 2017 rata-rata terealisasi keuangannya 99,21%. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan juga menyetorkan hasil Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2017 sebesar Rp 233.118.310,- yang terdiri dari penerimaan fungsional dan penerimaan umum dengan rincian seperti pada Tabel 19. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2017 Penerimaan Jumlah (Rp) Fungsional KP. Kayu Agung 10.328.000,- Unit Pengelolaan Benih Sumber 181.145.000,- Jumlah penerimaan fungsional 191.473.000,- Jumlah Penerimaan umum 41.645.310,- Jumlah PNBP 233.118.310,- Adapun anggaran dan realisasi dana pada masing-masing kegiatan (kegiatan rutin, penelitian, penunjang penelitian) yang dilaksanakan di BPTP Sumsel terlampir. 2.1.4. Penyusunan Laporan Keuangan SAI pada Sekretariat UAPPA/B-W 18
  • 19.
    Dengan semakin meningkatnyakebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Negara, maka diperlukan perangkat hukum yang didasarkan atas prinsip umum yang sehat, modern dan dinamis. Untuk menjawab tantangan tersebut, maka pemerintah telah membuat suatu program Sistem Akutansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang telah diperbaharui untuk memonitor apakah keuangan Negara telah dijalankan secara efektif dan efisien serta telah sesuai dengan tujuan pengeluaran belanja sebagaimana tercantum dalam Daftar Isian Pengguna Anggaran (DIPA), maka diperlukan informasi yang relevan dalam bentuk laporan-laporan yang seragam untuk seluruh instansi pusat sampai ketingkat satuan unit kerja di daerah. Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akutansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan adalah sebagai penanggung jawab UAKPA, yang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan BPTP berupa laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan. Dengan demikian penyusunan dan penyajian laporan BPTP ini merupakan perwujudan pertanggung jawaban atas penggunaan anggaran maupun barang pada BPTP Sumatera Selatan. Untuk menunjang pelaksanaan program SAI pada Satuan Kerja dengan mempergunakan Sistem Akutansi Berbasis Akrual (SAIBA) pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan pada tahun 2017 telah dibentuk Unit Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Untuk pelaksanaan operasional kegiatan tersebut BPTP Sumatera Selatan telah dilengkapi dengan struktur organisasi dan telah mendapat alokasi dana melalui DIPA Nomor DIPA-018.09.2.567495/2017 tanggal 2 Desember 2016 19
  • 20.
    Tahun Anggaran 2017sebesar Rp. 21.499.000.000.00,- (Dua puluh satu Milyar empat ratus sembilan puluh sembilan juta rupiah) Laporan akhir kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) tahun 2017 ini disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akutansi Pemerintah (SAP). Dari hasil pelaksanaan kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA) yang dilaksanakan BPTP Sumatera Selatan untuk tahun anggaran 2017 maka dihasilkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standard Akutansi Pemerintah. Secara kumulatif, realisasi anggaran pada TA 2017 mengalami kenaikan dibandingkan dengan TA 2016, Pada TA 2017, pencairan anggaran selain belanja pegawai/gaji baru terealisasi pada bulan Februari. Perkembangan pencairan dana dari bulan April hingga Oktober terlihat membentuk garis lurus dengan gradien yang hampir sama, yang berarti pada bulan-bulan tersebut terjadi pencairan anggaran dalam jumlah yang hampir sama. Pada bulan–bulan berikutnya (Nopember dan Desember), pencairan anggaran berlangsung lebih cepat, hingga akhirnya mencapai prosentase realisasi anggaran DIPA Umum sebesar 97.76%. Angka ini berdasarkan pencairan anggaran melalui Surat perintah Membayar (SPM) yang Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) nya diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Palembang. Peningkatan pencairan dana pada bulan Nopember dan Desember disebabkan transaksi pembayaran belanja modal pada umumnya baru dilaksanakan pada bulan-bulan 20
  • 21.
    tersebut. Neraca SemesterII 2017 per 31 Desember disusun berdasarkan atas Laporan Keuangan Kementerian Pertanian tahun 2017, dan adanya proses kapitalisasi SIMAK- BMN. Gambaran perkembangan neraca tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Posisi Neraca BPTP Sumsel pada Semester II/ 31 Desember 2017 seperti terbaca berikut ini: A. Aset Tetap sebesar Rp 238.290.2610.399,- terdiri dari: 1) Tanah Rp 212.122.829.960,- 2) Peralatan dan Mesin Rp 7.910.405.639,- 3) Gedung dan Bangunan Rp 24.149.436.487,- 4) Jalan Irigasi dan Jaringan Rp 21.200.310.850,- , 5) Aset Tetap Lainnya Rp 3.786.638.483 6) Konstruksi dalam pengerjaan Rp 112.869.200,- dan akumulasi penyusutan senilai Rp 30.992.229.220,- B. Aset Lainnya sebesar 3.821.875,- terdiri dari : 1). Aset tak berwujud Rp 10.637.700,- 8) Aset lain-lain Rp 248.043.799,- sedangkan total akumulasi penyusutan sebesar Rp 254.859.624,- Pengelolaan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan telah dapat dilaksanakan/dioperasionalkan sebagaimana mestinya walaupun masih terdapat kendala dan hambatan. 2.1.5. Sistem Pengendalian Intern/Wilayah Bebas Korupsi Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan lemahnya pengawasan. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi. Peraturan 21
  • 22.
    tersebut menargetkan tercapainyatiga sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik. Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainnya. Untuk itu, perlu secara konkret dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) maka diperlukan sistem pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilaksanakan dengan berpedoman pada Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. SPI diselenggarakan secara menyeluruh baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengawasan Intern (PI) adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. 22
  • 23.
    Sistem pengendalian internini dilandasi pada pemikiran bahwa sistem pengendalian intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia untuk memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak. Penyusunan dan pengembangan unsur SPI berfungsi sebagai pedoman penyelenggara dan tolok ukur pengujian efektivitas penyelenggaraan SPI. Pengembangan SPI perlu mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat (cost and benefit), sumber daya manusia, kejelasan kriteria, pengukuran efektivitas dan perkembangan teknologi informasi, serta dilaksanakan secara komprehensif. Di dalam Undang-undang No. 28 tahun 1999, UU No. 17 Tahun 2003, UU No. 1 Tahun 2004, PP No. 8 Tahun 2006, PP No. 60 Tahun 2008, Kepres No. 80 Tahun 2003, Perpres No. 95 Tahun 2007, Perpres No. 9 Tahun 2005, Perpres No. 20 Tahun 2008, Permentan No. 341/Kpts/OT.140/ 9/2005, dan Permentan No. 12/Permentan/OT.140/2/2007, bahwa Sistem Pengendalian Intern (SPI) harus berjalan sebagaimana yang diindikasikan dan diisaratkan. Sejalan dengan hal tersebut, maka diterbitkan Keputusan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumsel Nomor : 054/SK/PW.420/H.12.8/01/2017, tanggal 4 Januari 2017 tentang Pembentukan Tim Sistem Pengendalian Intern di BPTP Sumatera Selatan. Sebenarnya ada atau tidak ada Satlak SPI, sistem pengendalian intern harus berjalan, karena SPI ada dan melekat pada pimpinan. Keberadaan Satlak SPI hanyalah sebagai “alat”, sehingga berjalan atau tidaknya Satlak SPI sangat bergantung kepada komitmen pimpinan, apakah “alat” tersebut mau digunakan atau tidak digunakan. Sistem Pengendalian Intern bertujuan untuk: (1) Mewujudkan sistem pengendalian intern; (2) Mendorong terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif (3) Mendorong terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Mendorong terlaksananya 23
  • 24.
    pengamanan aset negara;dan (5) Mendorong meningkatnya ketaatan terhadap peraturan perundangan. Sedangkan keluaran yang diharapkan adalah: (1) Terwujudnya sistem pengendalian; (2) Terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif; (3) Terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Terlaksananya pengamanan aset negara; (5) Meningkatnya ketaatan terhadap peraturan perundangan. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-1 tahun 2017 ini, telah melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi pembuatan Surat Keputusan yang diperlukan dalam memulai kegiatan tahun anggaran 2017, pembahasan proposal kegiatan, pemaparan RKTM/ROPP/RDHP serta membuat rencana kerja SPI tahun 2017. Masing- masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain pelaksanaan masing-masing kegiatan sesuai surat keputusan yang telah dibuat, melakukan penajaman proposal dan perbaikan RKTM/ROPP/RODHP. Dilakukan juga persiapan dan pelaksanaan audit BPK- RI, di samping itu, pemantauan yang dilakukan Satlak PI sehubungan dengan awal tahun anggaran, kami mencoba memantau terhadap persiapan pelaksanaan kegiatan yang sangat berkaitan dengan kegiatan perencanaan. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumatera Selatan pada triwulan-II tahun 2017 ini, telah melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi persiapan audit external oleh tim survilence Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain penerapan sistem mutu di internal organisasi seperti yang tercantum dalam sertifikar ISO 9001, Perbaikan sebagai bukti komitmen isi kebijakan mutu organisasi, penyusunan perencanaan pada sasaran mutu yang ditetapkan di intrnal organisasi,, dilakukan Penyelesaian Tindak Lanjut BPK terkait dengan temuan BPK diantaranya perapian DBR dan DIR serta penyempurnaan asset-asset yang harus dihenti gunakan untuk dilakukan penghapusan. 24
  • 25.
    Kegiatan Satlak PIBPTP Sumsel pada triwulan-III tahun 2017 ini, telah melaksanakan pengendalian inventarisasi ulang terkait DIR dan DBR pada aseet di kantor BPTP Sumsel, PT RPN, KP kayu agung, KP karang Agung. karena selain adanya perpindahan ruangan dan sebagai tindak lanjut BPK dan telah menghasilkan rekomendasi yaitu segera melakukan penataan kelengkapan dokumen di masing-masing bagian ruangan . pelaksanaan audit Itjen Pengadaan Barang dan Jasa khusus belanja 526 serta Selain itu dilakukan Penyelesaian Tindak Lanjut BPK oleh Itjen Kementan TA 2017. Melakukan persiapan penyelesaian BAST barang persediaan TTP di 3 (tiga) Kabupaten. Melakukan pendampingan dengan tim monitoring dan Evaluasi dari Puslit Balitbangtan terhadapkegiatan TTP Banyuasin dan TTP Musi Banyuasin. Monitoring dan Evaluasi Kegiata Tim Monev dari Puslitbangtan dan telah dilakukan Monitoring dan Evalausi di kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) oleh Tim dari Balitbangtan Kementerian Pertanian. Masing-masing telah menghasilkan rekomendasi yaitu Untuk mempercepat pelaksanaan realisasi bangunan fisik pada kegiatan Taman Teknologi Pertanian yang masuk tahun pertama Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-IV tahun 2017 ini, telah Tindak lanjut LHP Itjen terkait temuan itjen belanja 526, persiapan dokumen TTP Banyuasin yang akan diserahkan ke Pemda Banyuasin, Pendampingan Tim Monen ke TTP Musi Banyuasin, Melakukan Sistem Pengendaluian Intern terhadap pembanguan dan Renovasi Gedung KP Kayu Agung dan Pembangunan Sarana dan Prasaran Perbenihan. Hasil tim monev bahwa BAST TTP Banyuasin harus bisa diselelasikan Paling lambat bulan Maret 2018. 25
  • 26.
    Tabel 20. JenisKegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan I Tahun 2017 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala Balai 1 Pembuatan SK Struktur Organisasi BPTP Sumsel, SK Organisasi Satlak PI, SK Pengelola Keuangan, SK Pengadaan Barang Jasa, SK Pemeriksaan Barang dan Jasa, SK Pengelola Asset, SK penanganan tindak lanjut LHP Pembuatan SK berdasarkan tupoksi dan kompetensi masing- masing penanggung jawab Setelah SK dikeluarkan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan kegiatan berdasarkan tugas masing-masing penanggung jawab Untuk di laksanakan dengan baik 2 Pembahasan proposal Pembahasan dihadiri oleh semua penanggung jawab kegiatan Proposal kegiatan dipersempit, agar lebih fokus dalam pelaksanaannya Untuk dilaksanakan dengan baik dan memperbaiki proposal 3 Pemaparan RKTM/ROPP/RODHP Pemaparan dihadiri oleh semua penanggung jawab kegiatan dan tm TPK Perbaikan RKTM/ROPP/ROD HP agar segera dilakukan Untuk laksanakan dan secepatnya melakukan perbaikan proposal 4 Pembuatan Rencana Kerja SPI tahun 2017 Dilakukan oleh Tim Satlak SPI Rencana Kerja SPI perlu dukungan penuh dari pimpinan dan pegawai BPTP Sumsel Untuk dilaksanakan pembuatan rencana kerja berkoordinasi dengan kepala balai Tabel 21. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan II Tahun 2017 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak 26
  • 27.
    Lanjut Dari Kepala Balai 1Persiapan Audit External oleh tim Survilence Mempersiapkan Dokumen- dokumen terkait Merevisi apabila terdapat ketidaksesuaian Di laksanakan dan segera dikoordinasikan dengan Tim SPI 2 Penyelesaian Tindak Lanjut BPK terkait dengan temuan BPK diantaranya perapian DBR dan DIR Telah pelebelan DBR dan DIR sesuai dengan ruangan. Kedepan harus dilakukan rekapitulasi dan invetarisasi ulang bagi asset yang sudah tidak layak lagi untuk diajukan penghapusan Di laksanakan dan segera dikoordinasikan dengan Tim SPI Tabel 22. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan III Tahun 2017 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala Balai 1 Pengendalian Inventarisasi Penyusunan Daftar Barang Ruangan di kantor BPTP, KP Kayu Agung, KP Karang Agung, PT RPN • Tim Pengendalian berasal dari BPTP Sumsel • Pelaksanaan audit dilakukan selama 2 hari • pelaksanaannya tim mengajukan pertanyaan dan kelengkapan Melakukan Update DBR pada masing-masing ruangan Untuk segera melaksanakan penataan ulang barang pada masing-masing ruangan 27
  • 28.
    dokumen ke bagian perlengkapan 2.Penyelesaian Tindak Lanjut BPK Oleh Tim Itjen Kementan • Tim Tindak lanjut dari Tim Itjen Kementan RI • Pelaksanaan dilakukan dengan mengevaluasi sejauh mana tindak lanjut BPK yang sudah dilakukan serta memeriksa dokumen-dokumen pendukungnya. • Penyelesaian LHP BPK Ri dan kelengkapan dokumennya. Untuk dilengkapin dan dilaksanakan segera. Tabel 23. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwula IV Tahun 2017 No. Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala Balai 1 Tindak lanjut LHP Itjen terkait temuan itjen belanja 526, • Audit dilakukan oleh Itjen Kementan • Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa terkait dengan belanja 526 • Menindak lanjuti hasil temuan dengan melakukan pembayaran Tuntutan Ganti Rugi (TGR) Untuk dilaksanakan sesuai dengan hasil pemeriksaan. 3 MONEV kegiatan TTP Balitbangtan Monev dilakukan oleh tim Monev Balitbangtan Untuk mempercepat realisasi penyelesaian BAST, paling lambat Maret 2018 Untuk segera melakukan percepatan Penyelesaian BAST. 4 Melakukan pengendalian Renovasi Gedung di KP Kayu Agung Pengendalian dilakukan oleh Tim SPI BPTP Sumatera Selatan, dengan melakukan pemeriksaan dan pengendalian. Untuk mempercepat pelaksanaan fisik bangunan, Melakukan pemantauan terhadap perbaikan pada mess karyawan pada Untuk segera melakukan percepatan Penyelesaian dan melakukan perbaikan 28
  • 29.
    pintu, pagar gedung utama,pembersihan gedung dari sisa pekerjaan. Tabel 24. Program Kerja Satuan Pelaksanaan Pengendalian Intern BPTP Sumatera Selatan (Satlak PI BPTP Sumsel) Tahun 2017 No. Judul Kegiatan Target Waktu Keterangan 1 Penetapan SK Struktur Organisasi BPTP Sumsel TA. 2016 Februari 2 Membentuk struktur organisasi Satlak PI dengan Keputusan Kepala Balai berikut uraian tugas dan fungsinya Maret 3 Penyusunan RKTM Februari 4 Penyusunan program kerja PI April-Mei 5 Penyusunan juknis PI Juni 6 Rapat Koordinasi Pertemuan Rutin Berkala Satlak PI Juni-November 7 Penyusunan/penambahan SOP April 8 Pengendalian Internal/Audit Juni-Desember 9 Monev Ex-Ante dan SPI Mei dan November 10 Monev On-Going dan SPI Maret, Juni, September, Desember 11 Monev Ex-Post dan SPI Insidentil 12 Penyusunan Laporan • Laporan Bulanan • Laporan Triwulan • Laporan Semester • Laporan Tahunan September-Oktober 13 Melakukan penataan arsip yang tertib (bisa dalam hard copy, soft copy, rekaman suara digital, video, dll). November 14 Menyiapkan pelaksanaan audit surveillance dan resertifikasi ISO 9001:2008 Juni 15 Penyelesaian LHP (BPK;Itjen:Lembaga Pemeriksa Lainnya) Paling lambat dua bulan setelah 29
  • 30.
    menerima LHP 16 IndeksKepuasan Masyarakat (IKM) Setiap 6 bulan 2.2. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian 2.2.1. Kerjasama Salah satu fungsi dari BPTP adalah menyiapkan kerjasama, informasi, dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. BPTP Sumsel sebagai salah satu lembaga publik yang mengkaji dan menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi dituntut untuk lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). Kerjasama tersebut diperlukan dalam upaya menumbuh kembangkan jaringan penelitian guna meningkatkan kemampuan pemanfaatan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kerjasama BPTP Sumsel dalam tahun 2017 ini terdiri dari kerjasama dalam dan luar negeri. Kerjasama dalam negeri terdiri dari: (1) Kerjasama antara BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang dengan BPTP Sumatera Selatan, Kegiatan kerjasama tersebut dilakukan di Kebun Percobaan Kayu Agung, dimana pada Kebun Percobaan Kayu Agung, BPTP Sumsel menyediakan lahan 20 x 20 m untuk menempatkan peralatan pengamatan cuaca. Alat-alat yang disediakan oleh BMKG adalah: Penangkar petir 1 unit, alat ukur kecepatan angin 3 unit, alat ukur arah angin 1 unit, alat ukur curah hujan 1 unit, termometer 3 unit, pengukur kelembaban tanah, komputer 1 paket. BPTP Sumsel dalam kerjasama ini selain menyediakan lahan, juga menyediakan 30
  • 31.
    tenaga untuk mengamatidata dan merawat lingkungan tempat disediakannya peralatan tersebut. Dari kerjasama ini, BPTP Sumsel mendapatkan informasi tentang cuaca yang diperoleh dari buku dan bulletin yang tiap bulan diterima. • Buletin BMKG Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Buletin ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Klas I Kenten, Palembang. Informasi yang diperoleh dari Buletin ini adalah data hujan, hari hujan, cuaca ekstrim, arah dan kecepatan angin serta evaluasi tingkat bahaya kebakaran. • Buku Informasi Peta Kekeringan Dengan Metode SPI. Buku ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Klas I Kenten, Palembang. Informasi kekeringan diperoleh dalam tiga bulanan tersebut, memberikan gambaran mengenai tingkat kekeringan berdasarkan nilai curah hujan tiga bulanan dengan menggunakan metoda Standardized Precipitation Index (SPI). (2) Kerjasama antara Badan Kerjasama Organisasi Wanita Sumatera Selatan dengan BPTP Sumatera Selatan tentang Pendampingan Teknologi Pertanian di Sumatera Selatan. Bentuk kerjasama yang dilaksanakan dalam bentuk Pendampingan Teknologi Pertanian di Provinsi Sumatera Selatan. Kerjasama tersebut untuk Menyikapi fluktuasi harga cabai/cabe yang terjadi setiap tahun, maka penanaman cabai di lahan pekarangan merupakan salah satu solusi untuk membantu penyediaan cabai secara berkelanjutan di tingkat rumah tangga. Gerakan tersebut, merupakan upaya Kementerian Pertanian untuk mengajak masyarakat menanam cabai agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya 31
  • 32.
    sendiri. Selain itujuga sebagai salah satu terobosan mengatasi permasalahan fluktuasi harga cabai yang sering kali meresahkan masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga. Untuk menyukseskan gerakan tersebut, Kementan melalui BPTP sebagai perpanjangan tangan di daerah melibatkan Tim Penggerak PKK (TP PKK) dan Organisasi Wanita Daerah melaksanakan kerjasama pendampingan teknologi pertanian yang meliputi pembagian bibit cabai, narasumber pelatihan dan penyebaran informasi pertanian berupa bahan cetakan leaflet, juknis, bulletin dsb. Kerjasama ini telah dilaksanakan dengan ditandatanganinya MoU antara BPTP Sumatera Selatan dan TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sumatera Selatan, Muslimat Nadhatul Ulama Provinsi Sumatera Selatan, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Sumatera Selatan, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi Sumatera Selatan. Selain itu, BPTP Sumsel juga menjadi narasumber dalam beberapa pelatihan di kabupaten/kota dan penyebaran informasi pertanian berupa bahan cetak. (3). Pendampingan Teknologi Pertanian di SPR IIII Betung Kab. Banyuasin Prov. Sumatera Selatan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) IIII Betung, Kab. Banyuasin merupakan salah satu organisasi peternak dimana anggotanya sudah lama menjadi peternak binaan BPTP Sumsel. Kerjasama yang dilakukan selama ini mencakup pendampingan teknologi pemeliharaan ternak, kesehatan, pakan, dsb. Akan tetapi kerjasama tersebut belum memiliki perjanjian kerjasama sehingga untuk memperkuat kerjasama yang telah dibina selama ini, maka perjanjian kerjasama antara SPR IIII Betung dan BPTP Sumsel dibuat dengan tujuan untuk melakukan diseminasi teknologi pertanian spesifik lokasi dari balitbangtan yang dapat diterapkan pada lokasi peternakan SPR III Betung. Perjanjian kerjasama telah dilaksanakan dengan ditandatanganinya nota kerjasama oleh Manager 32
  • 33.
    SPR IIII Betungdan Kepala BPTP Sumsel dengan ruang lingkup kerjasama yaitu pendampingan dan pengawalan dalam proses pengembangan dan implementasi inovasi teknologi pertanian di SPR IIII Betung. (4) Penempatan siswa PKL SMK Negeri 1 Tanjung Lago. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tanjung Lago, Provinsi Sumsel, merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pendidikan dan mengembangkan metodologi pembelajaran pendidikan menengah kejuruan bidang Pertanian, dengan tujuan menghasilkan SDM pertanian yang unggul dan siap kerja. BPTP Sumsel telah menjadi tempat pembelajaran bagi siswa SMKN 1 Tanjung Lago terutama sebagai lokasi magang siswa sejak tahun 2013. Perjanjian kerjasama antara SMKN 1 Tanjung Lago dan BPTP Sumsel dibuat dengan tujuan untuk melakukan penugasan penempatan dan pendampingan siswa SMK Negeri 1 Tanjung Lago sebagai siswa PKL di BPTP Sumsel sehingga dapat meningkatkan mutu sumberdaya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan pada SMK Negeri 1 Tanjung Lago dan peningkatan kompetensi siswa didik sesuai dengan tuntutan dunia usaha pertanian serta perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perjanjian kerjasama telah dilaksanakan dengan ditandatanganinya nota kerjasama oleh Kepala SMKN 1 Tanjung Lago dan Kepala BPTP Sumsel dengan ruang lingkup kerjasama yaitu penempatan siswa SMK Negeri 1 Tanjung Lago dan pendampingan BPTP Sumsel dalam proses praktek kerja lapang dan diseminasi inovasi teknologi pertanian. Adapun Kerjasama luar negeri adalah: (1).Closing Rice Yield Gaps in Asia Phase II (CORIGAP - PRO), yang merupakan bagian kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan 33
  • 34.
    Kementerian Pertanian denganInternational Rice Research Institute (IRRI), Kegiatan CORIGAP yang dilakukan meliputi: (1). Akselerasi teknologi PTT dan Kegiatan Upaya Khusus Padi di 3 lokasi baru dengan target 4.500 petani adopter; (2) Pembuatan Demonstrasi Plot Penerapan PTT berbasis Teknologi Jarwo Super di 4 desa (3 desa di Muara Telang dan 1 desa di Air Saleh) sekaligus adaptasi alat tanam AMATOR/Transplanter; dan (3) Demonstrasi dan validasi teknogi pascapanen (perataan lahan dengan laser leveling dan pengeringan gabah dengan teknologi box dryer berbahan bakar sekam). Penerapan teknologi PTT pada demplot diupayakan berlokasi di wilayah pengembangan Upaya Khusus (UPSUS) Pajale Kabupaten Banyuasin sehingga dampak dari diseminasi teknologi dapat diaplikasikan oleh petani setempat. Demplot PTT Berbasis Jarwo Super dilaksanakan pada lahan seluas 12 ha yang terbagi dalam 4 lokasi/desa berbeda (masing-masing 3 ha/desa). Mitra yang terlibat dalam kegiatan ini selain IRRI adalah Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin, BP4K Kabupaten Banyuasin, penyuluh setempat, pemilik RMU dan kelompok tani. Akselerasi PTT dan UPSUS tiga lokasi baru ditargetkan diterima oleh 4500 petani adaptor. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan Juni 2017 adalah FGD dalam rangka identifikasi potensi dan masalah dan penetapan CPCL demplot PTT. Tahap selanjutnya dalam kegiatan ini adalah persiapan demplot PTT dan pelaksanaannya. Sehingga output yang akan diperoleh adalah : (1). Meningkatnya produktivitas padi di lahan pasang surut Sumatera Selatan; (2). Diadopsinya teknologi PTT berbasis Jarwo Super di lahan pasang surut dengan target adopter 4.500 petani; (3). Informasi mengenai kinerja alat tanam benih langsung drum seeder yang telah dimodifikasi dan ditarik menggunakan traktor (AMATOR); dan (4). Terdiseminasinya teknologi perataan lahan dengan memanfaatkan ‘laser leveling’ 34
  • 35.
    dan penggunaan mesinpengering berbahan bakar sekam (box dryer) di lahan pasang surut. (2) Indobeef Program Palm Cow Project kerjasama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Balitbangtan dan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan daging sapi dan mata pencaharian petani kecil dan peserta rantai nilai daging sapi lainnya di Indonesia secara signifikan. Kegiatan yang telah dilakukan adalah Scoping Mission Tahap I pada tanggal 9 Mei 2017 dengan diadakannya pertemuan antara tim ACIAR dan stakeholders terdiri dari pemerintah daerah, bank, dan perusahaan perkebunan sawit, yang bertujuan untuk melakukan penjajakan dan mengidentifikasi lokasi untuk rencana kegiatan Integrasi Sawit-Sapi di Provinsi Sumatera Selatan. Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan Scoping Mission Tahap II pada tanggal 17-21 Juli 2017 yang bertujuan untuk menganalisis kondisi peternakan sapi potong pada sistem integrasi sawit-sapi yang ada dan mengidentifikasi hambatan dan peluang untuk peningkatan produktivitas. Scoping Mission Tahap II ini dilakukan dengan cara survey lokasi berupa kunjungan lapang. Kunjungan lapang ke lokasi perkebunan sawit dan peternakan rakyat dilaksanakan di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kunjungan ke lapangan terdiri dari koordinasi dengan stakeholders yaitu dinas terkait dan perusahaan perkebunan sawit, kelompok ternak, KUD, Rumah Potong Hewan (RPH). Adapun rangkaian kegiatan kunjungan Tim ACIAR dapat dilihat di Tabel 2. Tabel 25. Lokasi Kunjungan ACIAR 17-21 Juli 2017 di Sumatera Selatan Tanggal Lokasi Kunjungan Tujuan 35
  • 36.
    17 Juli 2017- BPTP Sumsel - Pertemuan lanjutan dengan stakeholders Kabupaten Banyuasin - Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Banyuasin - Koordinasi - SPR IIII BETUNG (Kel. Ternak Karya Bersama IV, Desa Suka Mulya) - Survey kondisi peternakan dan kondisi sosial ekonomi 18 Juli 2017 Kabupaten Musi Banyuasin - SPR IIII SUNGAI LILIN (Kel. Ternak Sumber Rejeki, Desa Cinta Damai) - Survey kondisi peternakan dan kondisi sosial ekonomi - KUD Mukti Jaya, Sungai Lilin - Survey kondisi sosial ekonomi - Lokasi penggembalaan ternak di kebun sawit di Desa Cinta Damai - Survey kondisi penggembalaan ternak - Kelompok Ternak Harapan Jaya Desa Bukit Jaya, Sungai Lilin - Survey kondisi peternakan dan kondisi sosial ekonomi 19 Juli 2017 Kabupaten Ogan Komering Ilir - SPR IIII MESUJI RAYA (Kel. Ternak Sido Mulyo, Desa Suka Sari) - Survey kondisi peternakan dan kondisi sosial ekonomi - PT. SAMPOERNA AGRO - Koordinasi - KUD Mekar Sari, Mesuji Raya - Survey kondisi sosial ekonomi 20 Juli 2017 Kota Palembang - RPH DP3K Kota Palembang - Survey rantai pasar ternak - Kel. Ternak Suak Jaya Desa Sukajaya Kec. Sukarami - Survey kondisi peternakan dan kondisi sosial ekonomi 21 Juli 2017 - Pasar Tradisional di Kota Palembang - Survey rantai pasar ternak Kunjungan ke lapangan ini bertujuan untuk melihat kondisi aktual di lapangan mulai dari aspek pemeliharaan sapi di lahan sawit, aspek sosial dan aspek ekonomi sehingga dapat dikaji potensi dan permasalahan pengembangan usaha integrasi sapi sawit di Sumsel. Hasil dari kunjungan akan digunakan untuk merumuskan model pengkajian spesifik lokasi. 36
  • 37.
    2.2.2. Pengelolaan Perpustakaan Kegiatanpengelolaan perpustakaan di BPTP Sumatera Selatan yang meliputi penerimaan, pengolahan bahan pustaka, pengolahan database bahan koleksi,dan pelayanan kepada pemustaka, memerlukan pengetahuan dan wawasan yang luas khususnya bagi pengelola dan pustakawan. Pada tahun anggaran 2017, kegiatan pengelolaan perpustakaan BPTP Sumatera Selatan meliputi mengalami peningkatan, terutama dalam pengelolaan pangkalan data/database data. 37
  • 38.
    Hasil capaian pengolahandata mencapai 242judul dari target yang ditentukan sebelumnya sebanyak 100. Untuk pengembangan perpustakaan di BPTP Sumatera Selatan samapai saat ini memang jauh dari kata sempurna, karena harus menyesuaikan dengan organisasi, visi misi induknya sehingga pengaturan dalam penyusunan peraturan perundangan perpustakaan khusus, masih menjadi bagian dari organisasi induknya, Tingkatan kedudukan dan kepentingannya tergantung kepedulian serta perhatian masing-masing UK/UPT. Keterbatasan SDM, pengetahuan tata cara pengelolaan bahan koleksi serta anggaran terutama upah pengolahan bahan koleksi merupakan faktor yang sulit dihindari, sehingga pengolahan data bahan pustaka sering terhambat. Oleh karena itu perlu ditingkatan pemahaman dan kemampuan pengelola perpustakaan. 2.2.3. Pengelolaan Website Updating berita bersumber dari informasi yang didapat dari kegiatan litkaji dan diseminasi yang dilaksanakan di BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan, selain itu dari kegiatan yang dilaksanakan oleh manajemen BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan. Pengelola website mendapat informasi dari hasil wawancara dengan penanggung jawab dan tim kegiatan pengkajian dan diseminasi, serta dari liputan langsung pada acara-acara yang diadakan manajemen BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan. 38 Aktivitas kunjungan di perpustakaan
  • 39.
    Untuk Updating InfoTeknologi data dikumpulkan dari peneliti dan penyuluh BPTP- Balitbangtan Sumatera Selatan, yang bersumber dari hasil litkaji Balitbangtan Kementan. Untuk tautan website yang lain seperti pada baru tautan SDM, Beranda, Profil, Fasilitas, Program, Produk, Publikasi, Info publik, video, kerjasama dan UPBS, pembaharuan data melibatkan pihak yang terlibat langsung. Seperti pada tautan UPBS data di update sesuai informasi dari pengelola UPBS mengenai perubahan stok benih yang keluar masuk Gudang UPBS KP Kayuagung. Hasil total Update website untuk memperbaharui berita dan infotek yang telah ditayangkan dalam website dari bulan Januari hingga Desember 2017 yakni sebanyak 173 (seratus sembilan puluh tiga) kali. Tabel 26. Rekap Berita dan Info Teknologi di website BPTP-Balitbangtan Sumsel Tahun 2017 No Judul Keterangan Tanggal Upload 39
  • 40.
    1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Sosialisasi Tax-Amenesti Pajak,E-Kinerja Dan Pelatihan Metodelogi Penelitian Sosial Ekonomi Temu Lapang Closing Rice Yield Gaps In Asian (Corigap) Mendukung Ip 300 Di Lahan Pasang Surut Desa Seminar Hasil Litkaji Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2016 Audensi Bptp Balitbangtan Sumatera Selatan Dengan Ketua Tim Penggerak Pkk Propinsi Sunatera Selatan Wokshop Penyusunan Laporan Keuangan Semester Ii Uappa/B-W Ta 2016 Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Siapkan 25.000 Bibit Mendukung Gertam Cabai Potensi Pengembangan Tanaman Buah Di Sumatera Selatan Penandatangan Mou Dan Launching Gaerakan Tanam Cabai Propinsi Sumatera Selatan Penyerahan Bibit Cabai Dan Pendampingan Inovasi Teknologi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Seminar Penajaman Ropp Dan Rodhp Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Tahun 2017 Entry Meeting Bpk-Ri Di Propinsi Sumatera Selatan Launcing Gerakan Tanam Cabai Dan Tebu Kota Prabumulih Gerakan Tanam Cabai Kabupaten Muaraenim Optimalisasi Produktivitas Padi Sawah Irigasi Melalui Penerapan Teknologi Jajar Legowo Super Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi 06 Januari 2017 13 Januari 2017 16 Januari 2017 23 Januari 2017 27 Januari 2017 31 Januari 2017 07 Februari 2017 09 Februari 2017 10 Februari 2017 13 Februari 2017 16 Februari 2017 23 Februari 2017 24 Februari 2017 01 Maret 2017 40
  • 41.
    15 16 17 1 8 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Kegiatan Tanam Upbs PeninjauanLokasi Tpp Oleh Kadis Pertanian Kabupaten Musi Banyuasin Kunjungan Plt Bupati Banyuasin Ke Tpp Tanjung Lago Potensi Tanaman Sirih Air Dan Ganggang Air Sebagai Pakan Itik Pegagan Temu Koordinasi Kegiatan Peninhkatan Komunikasi, Koordinasi Dan Diseminasi Inovasi Pertanian Budidaya Kedelai Diantara Lahan Perkebunan/Lahan Kehutanan Koordinasi Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin Optimalisasi Lahan Pekarangan Dengan Menanam Sayuran Pertemuan Tim Upsus Siwab Bptp-Balitbangtan Sumatera Sselatan Dan Paguyuban Inseminator Musi Rawas Koordinasi Kegiatan Upsus Siwab Di Kabupaten Musi Banyuasin Sosialisai Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Padi Sosialisasi Gerakan Tanam Cabai Tingkat Kecamatan Di Kota Palembang Rapat Percepatan Program Upsus Siwab Di Kabupaten Banyuasin Teknologi Media Tanam Pada Budidaya Jamur Tiram Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita 02 Maret 2017 03 Maret 2017 03 Maret 2017 10 Maret 2017 13 Maret 2017 14 Maret 2017 17 Maret 2017 20 Maret 2017 22 Maret 2017 23 Maret 2017 23 Maret 2017 24 Maret 2017 24 Maret 2017 24 Maret 2017 24 Maret 2017 41
  • 42.
    30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Kunjungan Bupati KabupatenBanyuasin Dan Rektor Ipb Diseminasi Tanaman Bawang Merah Di Lahan Sawah Tadah Hujan Sosialisasi Budidaya Teknologi Jarwo Super Di Kabupaten Musi Rawas Pengelola Tpp Semidang Aji Dipertajam Pemahamannya Pak Purwadi Dan Anggotanya Siap Tingkatkan Indeks Pertanaman Sosialisasi Pengembangan Pola Tanam Tanaman Pangan Di Sumatera Selatan Cabai Banyuasin Sumber Daya Genetik Lokal Sumatera Selatan Upaya Meningkatkan Ketersediaan Benih Padi Di Sumsel Gelebak Dalam Tidak Surut Untuk Mendukung Peningkatan Produksi Padi Padi Sanapi, Sumber Daya Genetik Lokal Sumatera Selatan Pelaksanaan Monev Taman Teknologim Pertanian Sumatera Selatan Penggelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Padi Spesifik Sumatera Selatan Transfer Inovasi Teknologi Budidaya Jagung Dan Cabai Peningkatan Pengetahuan Kelompok Tani Melalui Praktek Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita 27 maret 2017 30 Maret 2017 04 April 2017 04 April 2017 06 April 2017 07 April 2017 10 April 2017 10 April 2017 13 April 2017 13 April 2017 14 April 2017 18 April 2017 19 April 2017 19 April 2017 42
  • 43.
    44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Lapang Antusiasme Petani GelebakDalam Menentukan Dosis Pemupukan Padi Taman Teknologi Pertanian Diharapkan Mandiri Setelah Tahun Ke-3 Membuat Kompos Padat Dari Kotoran Teknak Kerbau Teknologi “Jajar Legowo 41” Dengan “Inpari 41” Meningkatkan Hasil Petani Kabupaten Oku Darma Wanita Bptp-Balitbangtan Sumsel Peringati Hari Kartini Launching Tpp Mart Bmt Di Ttp Tanjung Lago Banyuasin Pembagian Bibit Cabai Kepada Kelompok Wanita Tani (Kwt) Desa Mulya Sari Tanjung Lago Launching Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) Di Kabupaten Oku Tingkatkan Kompetensi Peneliti Dan Penyuluh, Bptp- Balitbangtan Sumsel Gelar Seminar Bulanan Mou Gertam Antara Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Dengan Pw Muslimat Nu Sumatera Selatan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Antara Bptp- Balitbangtan Sumsel Dengan Bkow Dan Kpp Karakteristik Tanaman Duku Varietas Palembang Dan Rasuan Pertemuan Scoping Mission Aciar Dan Badan Litbang Pertanian Di Sumatera Selatan Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita 19 April 2017 20 April 2017 21 April 2017 21 April 2017 27 April 2017 27 April 2017 27 April 2017 02 Mei 2017 04 Mei 2017 05 Mei 2017 08 Mei 2017 09 Mei 2017 16 Mei 2017 43
  • 44.
    57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 Sumsel Expo 2017,Badan Litbang Pertanian Gelat Stand Dengan Beragam Informasi Teknologi Teknologi Jarwo Super Bertekat Mendongkrak Produktivitas Padi Di Sumatera Selatan Sosialisasi Programkopri Dan Kesejahteraan Pegawai Pola Tanam Lahan Rawa Lebak Dangkal Meningkatkan Pendapatan Petani Kunjungan Pengelola Ttp Semidang Aji Ke Ttp Tanjung Lago Tarhib Ramadhan 1415 H Pelatihan Dan Demontrasi Teknologi Pertanian Lahan Di Bimbing Laser (Land Leveling Assisted By Laser) Teknik Pengendalian Gulma Pada Tanaman Jagung Membuat Kompos Dengan Aktinator E14 Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2017 Partisipasi Peneliti Dn Penyuluh Dalan Seminar Bulanan Bptp Balitbangtan Sumsel Teknik Penyemaian Cabai Pakan Lengkap Fermentasi Opening Metting Audit Surveliance 1150 9001 2008 Wapada Serangan Hama Wereng Batang Coklat Pada Pertanaman Padi Di Sumatera Selatan Monitoring Serangan Wereng Batang Coklat Pemupukan Berimbang Pada Tanaman Bawang Merah Di Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Info Teknologi Berita Berita Info Teknologi Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita 18 Mei 2017 22 Mei 2017 23 Mei 2017 26 Mei 2017 26 Mei 2017 29 mei 2017 29 Mei 2017 30 Mei 2017 01 Juni 2017 06 Juni 2017 07 Juni 2017 08 Juni 2017 13 Juni 2017 14 Juni 2017 17 juni 2017 21 Juni 2017 22 Juni 2017 01 Juli 2017 44
  • 45.
    74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Lahan Irigasi KabupatenMusi Rawas Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H Halal Bi Halal Keluarga Besar Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Pembenihan Jagung Komposit Rakor Upsus Pajale Sumatera Selatan Seminar Bulanan Dan Sosialisasi Hasil Rakor Penajaman Program Bptp-Balitbangtan 2018 Sistem Pesemaian Terapung Diskusi Kegiatan Integrasi Sap Sawit Kerjasama Antara Badan Litbang Pertanian Dengan Aciar Survei Calon Lokasi Perkembangan Kedelai Soybian Belt Dan Opclkedelai Propinsi Sumatera Selatan Pertemuan Upsus Siwab Regional Sumatera Penyebaran Teknologi Pengendalian Swbc Melalui Media Elektronik Stop Serangan Wereng Coklat Dengan Gerakan Pengendalian Terpadu Penjelasan Lengkap Menteri Pertanian Terkait Kasus Beras Pt Ibu Scoping Mission Tahap Ii Aciar Palh-Cow Project Di Sumatera Selatan Alat Tanam Benih Langsung Modifikasi Di Tarik Traktor (Anator) Di Lahan Pasang Surut Berita Info teknologi Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita 04 Juli 2017 07 Juli 2017 10 Juli 2017 13 Juli 2017 17 Juli 2017 18 Juli 2017 21 Juli 2017 21 Juli 2017 25 Juli 2017 26 Juli 2017 27 Juli 2017 27 Juli 2017 28 Juli 2017 28 Juli 2017 28 Juli 2017 45
  • 46.
    89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Pertemuan Koordinasi PendampinganUpsus Pajale Gelar Teknologi Dan Temu Lapang Budidaya Padi Monitoring Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Di Bptp Sumsel Oleh Biro Oke Kementan Tanggapan Kepala Bb Pascarmen Terhadap Mutu Beras Premium Tanggapan Kepala Bb Padi Mengenai Kasus Beras Monitoring Penyebaran Wbc Pelaksanaan Focus Group Discussion Kegiatan Corigap Ttp Sungai Lilin Selenggarakan Temu Teknologi Dengan Stakeholder Dari Sebutir Beras Terkandung Nilai Idiologi Kita Sebagai Bangsa Sosialisasi Birokrasi Dan Seminar Bulanan Bptp- Balitbangtan Sumatera Selatan Temu Lapang Teknologi Budidaya Jagung Hibrida Balitbangtan Seminar Tengah Tahun Kegiatan Litkai Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Sosialisasi Fasilator Pembiayaan Petani Swadaya (Fp 25) Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72 Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Tanam Perdana Kegiatan Produksi Benih Jagung Hibrida Dan Komposit Upbs Balitbangtan Sumsel Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi 29 Juli 2017 30 Juli 2017 31 Juli 2017 02 Agustus 2017 03 Agustus 2017 06 Agustus 2017 08 Agustus 2017 08 Agustus 2017 10 Agustus 2017 11 Agustus 2017 17 Agustus 2017 23 Agustus 2017 23 Agustus 2017 24 Agustus 2017 46
  • 47.
    104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 Panen Padi Ip200 Di Lahan Kering Kabupaten Oki Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran Secara Vertikultur Rakor Gabungan Sergap Sumsel Budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Kub) Pelatiahan Budidaya Jagung Cara Muda Membuat Pestisida Nabati Pengeringan Gabah Dengan Alat Pengering Tenaga Surya Modifikasi Di Lahan Rawa Lebak Panen Padi Kegiatan Pendampingan Kawasan Padi Pertemuan Evaluasi Ii Penanganan Ganggrep Upsus Siwab Tahun 2017 Produksi Benih Jagung Hibrida Dan Komposit Balitbangtan Di Kabupaten Okut Sumatera Selatan Pemanfaatan Tandan Kosong Sawit Sebagai Media Budidaya Jamur Merang Pertemuan Kelompok Kegiatan Pembibitan Itik Pegagan Rapat Koordinasi Upsus Kota Pagaralam Seminar Bulanan Bptp-Balitbangtan Sumsel Teknologi Perataan Lahan Dengan Bantuan Sinar Laser Berita Info Teknologi Berita Info Teknologi Info Teknologi Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Info Teknologi Berita 24 Agustus 2017 25 Agustus 2017 25 Agustus 2017 29 Agustus 2017 30 Agustus 2017 31 Agustus 2017 31 Agustus 2017 5September 2017 5September 2017 6September 2017 11 September 2017 12 September 2017 13 September 2017 14 September 2017 16 47
  • 48.
    119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 Penggunaan Pestisida SecaraTepat Dan Bijaksana Status Dan Gerdalhama Wbc Dan Kerdil Rumput Secara Tuntas Di Kabupaten Oku Timur Penggunaan M-Dec Guna Menekan Jumlah Escherichia Coli Pada Kotoran Sapi Monitoring Dan Koordinasi Gerdal Wbc Di Sumatera Selatan Demplot Antisipasi Serangan Wereng Di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan Penggunaan Vub Meningkatkan Provitas Padi Di Lahan Rawa Lebak Sumatera Selatan Rakor Dan Monitoring Serangan Wbc Dan Kerdil Rumput Di Sumataera Selatan Partisifasi Peneliti Dan Penyuluh Bptp-Balitbangtan Sumsel Dalam Workshop Di Irri Temu Informasi Teknologi Pertanian Kinjungan Tim Khusus Pangan Kementerian Pertanian Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Di Bptp- Balitbangtan Sumsel Refugia Evaluasi Serapan Gabah Provinsi Sumatera Selatan Info Teknologi Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita September 2017 18 September 2017 19 September 2017 20 September 2017 20 September 2017 24 September 2017 25 September 2017 27 September 2017 29 september 2017 02 Oktober 2017 03 Oktober 2017 05 Oktober 2017 10 Oktober 2017 11 Oktober 2017 12 Oktober 2017 48
  • 49.
    133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 Panen Raya JagungHibrida Pelatihan Pengolahan Susu Kerbau Dan Pembuatan Kompos Bantuan Benih Sumber Padi Vub Untuk Petani Pemulutan Asuransi Usaha Tani Padi Untuk Perlindungan Petani Padi Stevia Partisipasi Bptp-Balitbangtan Sumsel Pada Seminar Pur- Lso Tahun 2017 Pelatihan Pembuatan Pakan Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Servik Dan Payudara Pengertian Dan Jenis Pola Tanam Bimtek, Dampingi Petani – Penyuluh Siapkan Benih Umggul Kedelai Dan Karet Temu Lapang Kegiatan Bioindustri Di Lahan Pasang Surut Seminar Bulanan, Peneliti – Penyuluh Berlomba Hasilkan Karya Ilmiah Berkualitas Dwp Bptp-Balitbangtan Sumsel Fasilitasi Pemeriksaan Dini Kanker Servik Dan Payudara Bimtek Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan Melalui Aplikasi Fosfat Alam Kunjungan Kerja Staf Ahli Menteri Pendampingan Budidaya Jagung (Ip200) Info Teknologi Info Teknologi Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi 16 Oktober 2017 17 Oktober 2017 20 Oktober 2017 23 Oktober 2017 27 Oktober 2017 30 Oktober 2017 03 November 2017 06 November 2017 06 November 2017 07 November 2017 08 November 2017 08 November 2017 13 November 2017 14 November 2017 15 November 49
  • 50.
    148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 Kunjungan Kerja KepalaBalai Besar Pasca Panen Pembuangan Daun Jagungn Bagian Bawah Sebagai Upaya Menekan Penyakit Hawar Daun Penandatanganan Kontrak Kinerja Bptp-Balitbangtan Sumatera Selatan Rapat Koordinasi Program Penguatan Kelembagaan Penelitian Dan Pengembangan Upsus Pajale, Pelatihan Dan Temu Lapang Pengendalian Hama Wbc Dan Penyakit Kerdil Rumput Monitoring Perkembangan Produksi Benih Jagung, Upbs Bptp-Balitbangtan Sumsel Pentingnya Pemupukan Pada Tanaman Karet Upsus Siwab; Bimtek Pengelolaan Pupuk Organik Kabupaten Banyuasin Upsus Pajale: Panen Raya Perdana Jagung Rencana Launching Ttp Muba, Bptp-Balitbangtan Sumsel Lakukan Koordinasi Sosialisasi Sumber Daya Genetik Dan Pendaftaran Varietas Lokal Monev Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian Pemanfaatan Umbi Talas Rawa Sebagai Alternatif Pakan Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita 2017 15 November 2017 17 November 2017 17 November 2017 17 November 2017 21 November 2017 21 November 2017 23 November 2017 29 November 2017 29 Novemver 2017 06 Desember 2017 07 Desember 2017 08 Desember 2017 50
  • 51.
    160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 Unggas Sosialisasi Media SosialBptp-Balitbangtan Sumsel Pembinaan Pegawai Bptp-Balitbangtan Sumsel Pagaralam Panen Padi Varietas Ciherang Dan Mekonga Panen Padi Rawa Pasang Surut, Jamin Surflus Pangan Di Sumatera Selatan Banyuasin Lumbung Pangan Sumsel, Tiada Hari Tanpa Panen Bptp-Balitbangtan Sumsel Gelar Bimtek Alih Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Di Ttp Tanjung Lago Sumsel Lanjutkan Tiada Hari Tanpa Panen Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Sayuran Dengan Pestisida Nabati Lahat Mantapkan Swasembada Beras Di Sumsel Petani Lubuk Linggau Sukses Panen Padi Varietas Inpari 31 Pembuatan Media Tanam Dalam Budidaya Sayuran Di Pekarangan Pagar Alam Swasembada Pangan Berkelajutan Di Dataran Tinggi Sumsel Jarwo Super Teknologi, Tantangan Dan Kendala Berita Berita Berita Berita Berita Berita Info Teknologi Berita Berita Info Teknologi Berita Info Teknologi Berita Berita 11 Desember 2017 18 Desember 2017 19 desember 2017 20 Desember 2017 21 Desember 2017 21 Desember 2017 22 Desember 2017 22 Desember 2017 23 Desember 2017 27 desember 2017 27 Desember 2017 28 Desember 2017 29 Desember 2017 51
  • 52.
    Eksotisme Padi LokalDi Dataran Tinggi Lahat Full Mekanisasi Di Lahan Pasang Surut Habis Panen Langsung Olah Dan Tanam 2.2.4. Pengelolaan Laboratorium Pada tahun 2017 kegiatan pengelolaan laboratorium memiliki ruang lingkup sebagai berikut; a) melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana laboratorium b) memenuhi kebutuhan pengguna laboratorium. Sampai akhir tahun, pelaksanaan pengelolaan laboratorium cukup baik. Pemeliharaan dan penyediaan sarana yang dibutuhkan telah seoptimal mungkin dilaksanakan. Kegiatan pemeliharaan dilakukan pada kulkas dan laminar air flow, selain itu juga dilakukan inventarisasi alat utama dan alat pendukung serta 52
  • 53.
    bahan. Sampai bulanDesember 2017 total kunjungan pengguna laboratorium sebanyak 90 kunjungan, 6 kegiatan/kajian yang rutin menggunakan fasilitas laboratorium, dan 35 sampel tanah yang telah dianalisa. 2.2.5. Pengelolaan Kebun Percobaan Kayuagung Kebun Percobaan Kayuagung mempunyai agoekosistem lahan rawa lebak yaitu lahan lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam, komonditas dapat dibudidayakan adalah tanaman padi, buah-buahan, palawija, sayur-sayuran dan kolam ikan. Kebun percobaan dapat diberdayakan menjadi sarana pengkajian dan disiminasi hasil penelitian dan pengkajian. Kebun percobaan Kayuagung di BPTP Sumatra Selatan yang dapat dioptimalkan pemanfaatan lahannya untuk kegiatan diseminasi teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbangtan. Kegiatan ini berupa plot percontohan pengelolaan tanaman padi di lahan rawa lebak yang mempunyai produktivitas yang tinggi, keragaan palawija, sayuran dan buah-buahan, seperti Duku, Rambutan, Sirsak Ratu, Pepaya dll serta pemeliharaan ikan. Kebun Percobaan Kayuagung terletak di wilayah Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir, 67 km dari kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan yang berada di ibukota Propinsi Sumatera Selatan Palembang. Kebun Percobaan Kayuagung memiliki luas kurang lebih 27,3 ha yang terdiri dari lahan lebak dangkal 8,5 ha, lebak tengahan 5,3 ha dan lebak dalam 13,5 ha. Saat ini peruntukan Kebun Percobaan Kayuagung sebagai berikut : 1. 1,62 ha untuk perumahan karyawan 2. 2,00 ha untuk gudang dan perkantoran 3. 2,33 ha untuk pertanaman lahan kering 53
  • 54.
    4. 20,64 untukpertanian lahan rawa lebak. Status kepemilikan lahan KP Kayuagung adalah Sertifikat Hak Guna Pakai dari Pemda Kabupaten Ogan Komering Ilir yang terdiri dari 4 Surat Sertifikat Yaitu Sertifikat No 004 dengan luas 2,33 ha, Sertifikat No 005 dengan luas 1,62 ha, Sertifikat No 006 dengan luas 2,00 ha dan Sertifikat No 007 dengan luas 20,64 h. Kebun Percobaan Kayuagung berdiri sejak tahun (1984), telah dimanfaatkan sebagai tempat penelitian dan pengkajian pemanfaatan lahan rawa lebak untuk budidaya pertanian khususnya tanaman pangan. Sekarang di Kebun Percobaan Kayuagung terdapat: 1. Petak percontohan penataan lahan lebak sistim Surjan ( 0,5 ha) untuk lebak dangkal dan hingga lebak tengahan 2. Petak percontohan penataan lahan lebak sistim Caren ( 0,5 ha ) untuk lebak dangkal dan hingga lebak tengahan. Namun kondisi petak percontohan saat ini sudah tidak baik lagi dikarenakan sudah banyak endapan lumpur/tanah pada tabukan dan caren. Untuk itu perlu dilakukan rehabilitasi kembali dengan melakukan pengerukan atau penggalian ceren lagi. 3. Petak lain yang sering digunakan untuk percobaan Uji Daya hasil lapang galur, Uji Multi lokasi, Uji Galur dan Uji Varietas baru dari Balai Besar Padi Sukamandi. 4. Kebun karet sadap seluas 1 ha (300 batang) dan masih dalam pemeliharaan 0,5 ha (200 batang) dan kelapa sawit seluas 0,5 ha (125 batang) . 5. Kebun karet entres terdiri dari 6 klon seluas 0,5 ha ( 3600 batang ) yang kerja sama dengan Balai Besar Penelitian Karet Medan. 6. Kebun Koleksi Sumberdaya Genetik Lokal ( Duku, Manggis, Durian) 1 ha umur 1 tahun. 54
  • 55.
    7. Kebun BibitInduk/ KBI untuk mendukung Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari M-KRPL Sumsel. 8. Stasiun pengamatan dari Badan Meteriologi Klimatologi dan Geofisika (curah hujan, kecepatan angin, arah mata angin dsb) 9. Fasilitas UPBS seperti lantai jemur, gudang prosesing, gudang penyimpanan benih. 10. Sarana Alsintan untuk pengolahan tanah dan prosesing hasil padi. 2.2.6. Pengelolaan Kebun Percobaan Karang Agung Kebun Percobaan Karang Agung adalah salah satu Kebun Percobaan yang ada di Balai Penkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, dan di bawah Badan Litbang Pertanian.Ada 118 Kebun Percobaan yang tersebar diseluruh Indonesia. Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, demonstrasi plot teknologi spesifik lokasi, koleksi plasma nutfah dan memproduksi benih sumber. Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Karang Agung Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin yang memiliki agroekosistem lahan rawa pasang surut, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi teknologi yang 55
  • 56.
    dilakukan oleh BPTPSumatera Selatan. Yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Kebun Percobaan Karang Agung agar berfungsi sebagai media pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara memperlihatkan, memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan rawa pasang surut menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi petani. Kegiatan yang dilaksanakan pada musim tanam Th 2017 di Kebun Percobaan Karang Agung meliputi demonstrasi plot beberapa varietas/ galur padi rawa, jagung manis, kelapa sawit, kelapa, koleksi plasma nutfah durian, manggis dan duku. Kegiatan kerja sama dengan Balai Besar Padi Sukamandi. Pertumbuhan tanaman padi secara umum baik.Padi yang ditanam di KP Karang Agung pada MT 2017 yaitu ;Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9hasil 1900 kg Benih Pokok (BP). Pemeliharaan kebun kelapa sawit seluas 2,5 ha terdiri dari 350 batang usia produktif TM, diperoleh hasil 2510 kg Tandan Buah Segar (TBS). Pemeliharaan kelapa sebanyak 40 batang diperoleh hasil 1200 kg.Kebun Pengelolaan Sumber Daya Genetik buah- buahan seluas 1 ha, tanam bulan Desember 2013. 2.3. PENELITIAN/PENGKAJIAN DAN DISEMINASI 2.3.1. Pengelolaan Tata Air dan Perbaikan Budidaya Padi Di Lahan Rawa Lebak 56
  • 57.
    Hidrologi lahan rawalebak cocok untuk tanaman padi, oleh sebab itu padi merupakan salah satu komponen utama dalam sistem usahatani masyarakat lahan rawa lebak. Perbaikan teknologi melalui pengaturan pola kondisi air rawa lebak dan teknologi budidaya dapat menunjang keberhasilan tersebut.Kajian terdiri dari dua kegiatan utama yakni: 1) Kajian tata air untuk meningkatkan IP 200 dan 2) Kajian paket teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas padi. Kajian tata air untuk meningkatkan IP 200 akan dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir di lahan petani seluas +6 ha. Kajian ini disusun berdasarkan Rancangan Petak Terpisah yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor Pertama yakni sistem pengaturan tata air: A) tradisional, B) aliran satu arah. Faktor ke dua sistem pengelolaan lahan adalah 1) surjan, 2) hamparan. Sedangkan kajian paket teknologi budidaya dilaksanakan pada lahan seluas 3 ha. Teknologi yang diuji berupa budidaya padi sistem “Hazton”, penerapan PTTserta cara budidaya petani (eksisting). Kajian disusun berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan petak utama yakni varietas (V) yakni Inpari 12 (V1), Inpari 30 (V2), Inpara 6 (V3) serta anak petak yakni teknologi budidaya (T) yang meliputi sistem Hazton (T1), teknologi PTT (T2) dan teknologi eksisting (T3). Petani sebagai ulangan dan dilakukan pada 3 petani. Adapun teknologi padi Hazton mengikuti Juknis Budidaya Padi Hazton yang dikeluarkan Balitbangtan (2015), sedangkan untuk teknologi eksisting mengikuti cara petani. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.Data primer meliputi pengamatan langsung seperti 1) fluktuasi air di saluran, 2) pertumbuhan dan produktivitas tanaman, 3) sifat fisik dan kimia tanah, 4) serapan hara N,P dan K, 5) kualitas air di saluran dan lahan, dan 6) intensitas serangan OPT. Selain itu juga dilakukan wawancara langsung pada petani kooperator untuk mengetahui data input dan output usahataninya serta 57
  • 58.
    mengetahui persepsi petaniterhadap penerapan teknologi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan T-test untuk melihat tingkat efektivitas teknologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pengaturan air maka air di lahan persawahan dapat dikendalikan dan indek pertanaman dapat ditingkatkan 2.3.2 KAJIAN PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI Kajian dilaksanakan di lahan petani rawa lebak Desa Gelebak Dalam, Kec. Rambutan, Kabupaten Banyuasin sejak Januari sampai Desember 2017. Lokasi dipilih berdasarkan kriteria: petani mau menerapkan teknologi yang dianjurkan, lokasi mudah dijangkau dan petani bersifat kooperatif. Demplot dilaksanakan pada lahan seluas 3 ha yang melibatkan 6 petani kooperator. Teknologi yang diuji berupa perbaikan teknolgi budidaya padi terutama dalam hal pengelolaan tanaman terpadu. Kajian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan merupakan kombinasi antara jenis varietas yang terdiri dari varietas adapatif rawa lebak: Inpari 30 dan Inpari 33 serta varietas padi rawa: Inpara 2 dan Inpara 4 dan teknologi budidaya yang meliputi sistem Hazton modifikasi 1 (T1), sistem Hazton modifikasi 2 (T2) dan teknologi PTT (T3) serta sebagai pembanding adalah teknologi yang biasa diterapkan petani yang meliputi cara budidaya dan penggunaan varietas. Modifikasi Hazton yang diterapkan terutama dalam hal perbedaan umur dan jumlah bibit. Tujuan kegiatan adalah menguji beberapa paket 58
  • 59.
    teknologi budidaya terbaik(Hazton dan PTT) yang dapat meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa lebak serta menganalisis pengaruh beberapa paket teknologi budidaya (Hazton dan PTT) terhadap tingkat serangan OPT dan keuntungan ekonomi petani di lahan rawa lebak. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi Hazton modifikasi I (jumlah bibit 10- 20 bibit/lubang tanam) memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan teknologi lainnya. Jumlah anakan produktif yang dihasilkan teknologi Hazton lebih tinggi dibanding teknologi PTT, mamun persentase pembentukan anakan produktif lebih rendah bila dibanding teknologi PTT (<70% dari jumlah anakan yang terbentuk). Teknologi Hazton berpengaruh terhadap intensitas serangan OPT, dimana intensitas serangan OPT lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi PTT. Hasil kajian juga menunjukkan produktivitas padi yang dihasilkan pada berbagai perlakuan relatif lebih rendah dari target yang diinginkan, dimana secara umum provitas padi hanya mencapai 4 t/ha. Perbedaan provitas antara teknologi PTT dengan teknologi Hazton secara rata-rata hanya sebesar 0,2 t. Melihat hasil produksi yang tidak terlalu berbeda antara teknologi PTT maupun Hazton yang dimodifikasi ini tentunya penerapan teknologi PTT masih sangat diperlukan untuk bisa mendongkrak provitas padi khsusunya di lahan rawa lebak. Selain itu, penggunaan varietas-varietas unggul yang adaptif di lahan rawa lebak sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan cekaman lingkungan abiotik seperti genangan maupun adanya cekaman keracunan hara tertentu. 2.3.3. Pemanfaatan Potensi Rawa Lebak Untuk Pengembangan Ayam KUB dan jamur Merang Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) adalah salah satu galur baru ayam kampung hasil dari penelitian pemuliaan para breeder yang bekerja selama hampir 9 tahun 59
  • 60.
    lebih yang diinisiasiBalai Penelitian Ternak Ciawi sejak tahun 1997. Ayam KUB merupakan hasil pemuliaan dari ayam kampung unggul yang berada di Jawa Barat, indukan ayam kampung tersebut berasal dari Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Jatiwangi Kabupaten Majalengka, Pondok Rangon (Depok), Ciawi dan Jasinga Kabupaten Bogor.Ayam KUB telah dilepas sebagai galur ayam kampung baru oleh Menteri Pertanian pada tahun 2014 dengan nama Ayam KUB-1 melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 274/Kpts/SR.120/02/2014. Ada beberapa keunggulan ayam KUB ketimbang ayam kampung biasa, yang membuatnya menjadi alternatif bagi masyarakat untuk membudidayakannya. Pertama, produksi telur ayam KUB yang diusahakan intensif mencapai 160-180 butir/induk/tahun. Kemampuan bertelur ayam KUB meningkat karena sifat mengeramnya yang sudah dihilangkan, sedangkan ayam kampung maksimal hanya 146 butir/induk/tahun. Kedua, bobot telur saat ayam pertama bertelur mencapai 35-36 gram/butir. Bobot telurnya akan bertambah terus sampai 45 gram/butir pada bulan kedua. Ketiga, umur pertama bertelur lebih awal yakni 20-22 minggu. Keempat, bobot badan mencapai 1.200-1.600 gram/ekor. Keunggulan lainnya yang paling menonjol dari ayam KUB adalah rasa daging ayam yang enak. Komposisi kimiawi daging ayam KUB yang dipotong pada umur 10 minggu yakni, kadar air 73,41 %, protein 24,55 %, lemak 1,83 % dan kolesterol 0,14 %. Meski sudah bisa panen pada umur 10-12 minggu, sifat dan tekstur daging ayamnya tidak hilang (Sinar Tani, 2016). Jamur merang merupakan produk pangan bergizi tinggi, rasa disukai dan dapat dihasilkan dari media tumbuh biomasa hasil samping pertanian, peternakan maupun biomasa tanaman air yang belum banyak dimanfaatkan. Ada sekitar 30 macam substrat 60
  • 61.
    yang telah ditelitinamun aplikasi dilapangan umumnya menggunakan media jerami padi, kapas,tebu dan kardus. Pengembangan pengusahaan jamur merang di Sumatera selatan cukup potensial dari sisi pasar, maupun ketersediaan bahan baku. Pada tahun 2016 harga jamur ini dipasaran di kab OKI mencapai 40 ribu perkilo dan dari petani dijual harga 20 ribu per kilo. Beberapa petani di Sumatera Selatan telah mulai mengusahakan komoditas ini. Asmani (2014) menyatakan kelapa sawit merupakan salah satu tanaman unggulan di Provinsi Sumatera Selatan, dengan luas 866.763 hektar dengan komposisi pengusahaan tanaman yakni sebesar 55,14 persen diusahakan oleh perkebunan yang dimiliki perusahaan, sebesar 29,52 persen yang diusahakan oleh petani yang tergabung dalam Program Plasma Perkebunan kelapa sawit, dan sebesar 15,34 persen yang diusahakan rakyat secara bebas. Kelapa sawit selain menghasilkan limbah cair, dalam kegiatan produksi dan pengolahan TBS dihasilkan juga limbah padat berupa tandan kosong, serat dan cangkang. Dari total berat TBS, sekitar 20 sampai 23 persen menghasilkan tandan kosong, sekitar 10 sampai 12 persen menghasilkan serat, dan sekitar 7 sampai 9 persen menghasilkan cangkang. Tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, bioethanol maupun sebagai media jamur. Pengembangan jamur merang di Sumatera Selatan masih memiliki kendala diantaranya belum dikuasainya teknik pembibitan secara mandiri sehingga masih mengandalkan suplai dari Pulau jawa dan ketergantungan pada pabrik sawit sebagai penyuplai media. Selain perkebunan sawit, lahan di Sumatera Selatan juga didominasi oleh rawa lebak. Rawa lebak di Sumatera selatan yang potensial adalah sekitar2,3 juta hektar namun belum dimanfaatkan optimal. KP kayuagung merupakan contoh kawasan yang didominasi oleh rawa lebak. Pengusahaan padi hanya setahun sekali dan seringkali 61
  • 62.
    menghadapi kendala karenaketinggian air yang sulit diprediksi. Pengusahaan jamur merang yang hanya mengandalkan jerami padi diwilayah lebak akan menghadapai kendala jika tidak musim panen, karena umumnya wilayah lebak hanya menanam padi setahun sekali. Supaya usaha jamur merang dapat berlanjut diluar musim dan mengurangi ketergantungan suplai tandan kosong dari pabrik, perlu dilakukan kajian terhadap biomasa rawa yang tumbuh pada waktu tidak tanam padi sebagai media pengganti jerami maupun subtitusi tandan kosong sawit. Keberhasilan dalam budidaya jamur merang selain dipengaruhi factor bibit juga sangat dipengaruhi factor lingkungan diantaranya RH, Suhu, cahaya, nutrisi media dan keamanan dari hama penyakit 2.3.4. Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lokal Di Sumatera Selatan Plasma nutfah tanaman merupakan sumber daya alam yang dapat dilestarikan (conserveable), akan tetapi sekali mengalami kemusnahan maka plasma nutfah tersebut tidak dapat ditemukan dan dihidupkan kembali (reviable). Selain itu, ada kecenderungan pada akhir-akhir ini yang dapat mengancam kelestarian plasma nutfah disuatu kawasan atau lokasi, yaitu perpindahan plasma nutfah dari suatu negara ke negara lain. Oleh karena 62
  • 63.
    itu, pelestarian danpemanfaatan plasma nutfah tanaman padi lokal masih memerlukan perhatian yang serius. Plasma nutfah padi lokal merupakan aset nasional memerlukan penanganan yang baik dan terencana. Sumatera Selatan merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekara-gaman sumber daya genetik di Indonesia. Berbagai sumber daya genetik tanaman pangan yang berpotensi sebagai alternatif sumber karbohidrat, protein dan mineral tersebar di berbagai wilayah di Sumatera Selatan. Potensi sumber daya genetik tersebut perlu dieksplorasi, dikarakterisasi serta dievaluasi agar pemanfaatannya sebagai sumber pangan dapat dioptimalkan. Tahun 2013 sebagai tahap awal dari kegiatan Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lokal di Sumatera Selatan telah berhasil diinventarisasi 56 aksesi padi, 1 aksesi umbi- umbian, 3 aksesi manggis, sedangkan duku, durian, sawo, dan gandaria masing-masing 2 aksesi, kedondong dan buah anona masing-masing 1 aksesi, serta kelapa 1 aksesi, yang didapat dari tiga agroekosistem lahan dalam tujuh wilayah kabupaten yang di sampling (Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyu Asin, Musi Banyu Asin, Empat Lawang dan Lahat). Pada Tahun 2014 dilanjutkan inventarisasi sambil melengkapi data iventory Tahun 2013 yang belum lengkap. Dari hasil kegiatan inventarisasi sumber daya genetik Tahun 2014, telah diinventarisasi tanaman pangan sejumlah 3 aksesi, tanaman buah-buahan 72 aksesi, tanaman sayuran 8 aksesi, tanaman perkebunan & kayu 21 aksesi, serta tanaman biofarmaka 7 aksesi dari wilayah Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Muara Enim, Prabumulih, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan Banyuasin. Hasil inventarisasi SDG tanaman Tahun 2014 di Kabupaten Empat Lawang menunjukkan keragaman tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, perkebunan, dan biofarmaka di kabupaten tersebut. Dari hasil inventarisasi diketahui ada 51 jenis tanaman 63
  • 64.
    dari 22.843 jumlahtanaman yang terdapat dalam lahan kebun milik 30 sampel petani yang dipilih. Selain itu pada Tahun 2014 juga telah dikarakterisasi beberapa varietas padi lokal di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak, tanaman buah-buahan seperti; manggis di Empat Lawang, Duku di Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ilir, Durian dan Sawo di Kabupaten Muara Enim, Nenas di Prabumulih secara in-situ. Hasil koleksi ex situ pada tahun 2014 di Kebun Percobaan Kayuagung ada 3 varietas padi lokal yang telah tanam dan dikarakterisasi, yaitu padi Bone, Siam, dan Siputih. Selain itu telah dikoleksi tanaman duku dan durian masing-masing 2 aksesi serta manggis 1 aksesi. Tahun 2015 telah dilakukan identifikasi karakterisasi 56 varietas padi lokal hasil inventarisasi tahun sebelumnya, juga telah dilakukan Uji Daya Hasil 8 varietas padi lokal di lahan rawa pasang surut dan 6 varietas padi lokal di lahan rawa lebak. Pada Tahun 2016 dilanjutkan dengan evaluasi varietas padi lokal tersebut sambil meneruskan karakterisasi beberapa sumber daya genetik tanaman yang belum dilakukan pada tahun sebelumnya. Pada Tahun 2017 (terakhir) diharapkan tetap terlaksananya konservasi SDG tanaman spesifik lokasi, terevaluasinya varietas padi lokal unggul, dan tetap menjalin koordinasi program/kegiatan dengan Komisi Daerah SDG Sumatera Selatan serta terdaftarnya SDG tanaman pada Pusat Perlindungan Varietas (Road Map Kegiatan Terlampir). Pada tahun ini (2017) juga diharapkan terdaftarnya 4 (empat) SDG tanaman lokal spesifik Sumatera Selatan, yaitu Padi Siputih, Padi Kuda, Padi Kemis, dan Cabe Banyuasin. 64
  • 65.
    Padi kemis dukulokal 2.3.5. ANALISIS KEBIJAKAN Upaya khusus padi, jagung, dan kedelai (Upsus pajale) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan produktivitas serta pencapaian swasembada pangan. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan ketersediaan lahan untuk pertanian per kapita semakin berkurang. Sehingga untuk menambah luas pertanaman pangan terutama padi sebagai pangan pokok maka peningkatan indeks pertanaman (IP) padi merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Lahan sawah tadah hujan adalah salah satu lahan sub optimal yang berpotensi ditingkatkan IP padinya bahkan untuk ditanami tiga kali. Kajian ini bertujuan untuk: 1). menganalisis capaian luas tanam padi, produksi tingkat usahatani dan efisiensinya, 2). mengidentifikasi kendala yang terjadi dan peluang meningkatkan IP padi di lahan tadah hujan, 3). merekomendasi kebijakan untuk meningkatkan luas penanaman mendukung pelaksanaan UPSUS padi khususnya di lahan tadah hujan. Survey dilakukan di Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya dan Desa Mendayun Kecamatan OKU Timur yang masing-masing sudah 65
  • 66.
    menerapkan indeks pertanamanpadi 200 dan 300 di sawah tadah hujan. Pengumpulan data dilakukan melalui diskusi kelompok di masing-masing lokasi dengan 15 orang (petani, ketua kelompok, ketua gapoktan, penyuluh, peneliti dan petugas dinas terkait). Hasil kajian menunjukkan bahwa air merupakan kunci utama dalam menentukan berhasil tidaknya meningkatkan IP padi di lahan sawah tadah hujan. Ketersediaan alsintan, benih, pupuk dan obat-obatan turut mendukung keberhasilannya. Meskipun potensi serangan hama/penyakit menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dan efisiensi usahatani padi yang semakin rendah pada musim kemarau, namun tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi dan karena sudah diprogramkan oleh pemerintah, menjadikan peningkatan IP ini semakin berkembang. Peluang untuk meningkatkan luas tanam padi di Sumsel dapat diperoleh dari: 1). peningkatan IP terutama dari IP 100 ke IP 200 seluas 166.343 ha (di lahan sawah irigasi, tadah hujan dan pasang surut), 2). peningkatan IP dari IP 200 menjadi IP 300 seluas 128.974 ha (di lahan irigasi dan lahan tadah hujan), dan 3). lahan yang untuk sementara waktu tidak ditanami tanaman apapun yang diperkirakan luasnya 41.040 ha (di lahan sawah irigasi, tadah hujan dan pasang surut). Sedangkan untuk agroekosistem lebak, meskipun secara administratif wilayah tersedia data penanaman padi IP 100 dan IP 200, namun untuk memperoleh angka luasan untuk meningkatkan luas tambah tanam, sulit diprediksi karena tidak tersedia data luasan untuk masing-masing tipologi lebak di masing- masing wilayah administrasi. Lahan di lebak dangkal dan tengahan memungkinkan untuk ditanami padi dengan IP 200. Rekomendasi kebijakan dari hasil analisis ini adalah: 1). Perbaikan sumber air dan distribusinya, 2). Pengembangan VUB yang relatif tahan dengan kekurangan air. 66
  • 67.
    2.3.6. Peningkatan KomunikasiDan Koordinasi Akselerasi Inovasi Teknologi Pertanian Keberhasilan Pembangunan Pertanian di Sumatera Selatan, tidak terlepas dari peran aktif antara penyuluh pertanian dan petani yang disertai program pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. Disamping itu juga adanya peran aktif dari Dinas/intansi terkait, sehingga keberhasilan pembangunan pertanian tidak berdiri sendiri, tetapi diperlukan adanya keterkaitan berbagai pihak. Untuk melaksanakan pembangunan pertanian diperlukan SDM (Sumberdaya Manusia) aparat pertanian tangguh dengan ciri profesional, mandiri, inovatif, kreatif dan berwawasan global yang mampu menjadikan fasilitator, diseminator, propokator, motivator dan regulator pelaku usaha pertanian serta mampu membangun sistem agribisnisyang berdaya saing tinggi.Kegiatan peningkatan komunikan, koordinasi dan diseminasi inovasi pertanian di Sumatera Selatan yang dilakukan di 2 (dua) Kabupaten dilakukan di Kabupaten OKI dan MUBA Tujuan kegiatan ini antaralaina) Mensosialisasikan dan atau mendampingi implementasi Gelar Teknolologi dan Temu lapang Inovasi Pertanian untuk komoditas (padi, jagung dan cabai) pada agroeosistem lahan tadah hujan dan rawa lebak; b) Mendiseminasikan hasil kegiatan Gelar Teknologi dan Temu Lapang untuk komoditas strategis kementan (padi, jagung dancabai) melalui media cetak, klinik agribisnis, dan cyber extension. Ruang lingkup kegiatan: a) Peningkatan Kapasitas komunikasi dan Diseminasi Program Starategis Badan Litbangtan dan Kementan, b) Pendayagunaan Inovasi Hasil 67
  • 68.
    Litkaji melalui berbagaimedia (elektronik, multimedia, interaksi dan tercetak) dan narasumber dalam berbagai pertemuan, c) Bimbingan lanjutan bagi petani/ Kelembagaan Tani Kooperator Kegiatan pengkajian/Diseminasi Teknologi Pertanian. Kegiatan Peningkatan komunikasi, Koordinasi dan diseminasi inovasi pertanian telah dilaksanakan mulai dari koordinasi dengan dinas/instansi terkait dan pengguna teknologi , peningkatan SDM melalui pelatihan dan pembinaan terhadap penyuluh lapang. Varietas yang ditanam pada demplot yaitu Inpari 32, Inpari 33, dan Inpari 43 seluas satu hektar di Desa Cahaya Maju Kabupaten Ogan Komering Ilir. Produksi gabah Inpari 32, Inpari 33, dan Inpari 43 rata-rata 5500 kg gkp/ha. Total Biaya produksi mencapai Rp 7.745.000 dan penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 23.100.000 dengan harga gabah Rp 4200/kg maka pendapatan selama satu kali musim tanam usahatani padi Rp 15.355.000 dengan BC ratio 1,98 Sedangkan jagung yang di tanam di lahan tadah hujan di peroleh hasil produksi konversi Bima 19 (7,2 ton/ha), Bima 20 (6,6 ton/ha). Produksi Cabai Produksi tertinggi dengan luasan 0,25 ha dicapai oleh varietas lokal yaitu 114,7 kg diikuti oleh varietas lado (112 kg) dan terendah varietas kencana yaitu 109,1 kg. 2.3.7. Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran Inovasi teknologi diperlukan dalam upaya meningkatkan produktivitas, stabilitas serta equitabilitas produksi. Sejak dibentuk, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera 68
  • 69.
    Selatan berperan danterus berupaya untuk menghasilkan berbagai inovasi di bidang pertanian. Agar inovasi tersebut diadopsi petani, diperlukan berbagai upaya seperti sosialisasi, pameran dan display. Untuk itu kegiatan ini bertujuan : Mendiseminasikan hasil litkaji melalui pameran dan pembuatan display untuk mendorong pemanfaatan teknologi inovasi untuk perbaikan sistem usaha pertanian dan pengolahan hasil-hasil pertanian dan ikutannya. Dengan demikian yang menjadi ruang lingkup kegiatan ini adalah: (1). Melakukan Sosialisasi Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian; (2) Melakukan pameran sesuai permintaan atau undangan penyelenggara; (3). Melakukan peragaan berupa display beberapa contoh tanaman dengan cara tanamnya. Selama tahun 2016, kegiatan Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran yang telah dilaksanakan meliputi : (1). Melakukan Sosialisasi Gerakan Tanam Cabai (GERTAM CABAI), berupa MOU antara BPTP Sumsel dengan Tim Penggerak PKK Sumatera Selatan diikuti dengan penyerahan secara simbolis kepada TP-PKK Kab/Kota dilanjutkan dengan launching penanaman bibit cabai berlokasi di Jaka Baring Kota Palembang. (2) Turut berpartisipasi dengan mengikuti Pameran dalam rangka Sumsel Expo ke 7 untuk memperingati Ulang Tahun Sumatera Selatan ke 71, berlokasi di Benteng Kuto Besak Kota Palembang, dengan tema Road To Asian Games. (3). Turut berpartisipasi dengan mengikuti pameran dalam rangka Seminar Nasional Dies Natalis Unsri ke 57 pada Expo Produk Inovasi dengan Tema “Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian Bersama Petani Lokal untuk Optimalisasi Lahan Suboptimal”. (4). Mengadakan pameran pada acara Panen dan Temu Lapang ” Percepatan Perbanyakan Benih Padi melalui Teknologi Jajar Legowo Super “ di Kabupaten Musi Rawas (5). Melaksanakan Temu Informasi Teknologi dengan Tema Dukungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Melalui Inovasi Teknologi dalam percepatan Swasembada 69
  • 70.
    Pangan. (6) Melaksanakanpembuatan display tanaman yang dilakukan di visitor plot lingkungan kantor BPTP Sumatera selatan. Untuk lebih mempercepat penyebaran teknologi inovasi pertanian di wilayah Sumsel, perlu peningkatan hubungan melalui koordinasi dan kerjasama yang lebih intensif dengan dinas instansi terkait. 2.3.8. Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian Hasil kegiatan Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian tahun 2017, adalah tersiarnya Naskah Siaran Radio sebanyak 8 Judul dari target 7 judul, dimulai sejak tanggal 19 Juli s/d 14 Agustus 2017 pada hari Rabu, Jum’at dan Senin pukul 05.30 – 06.00 WIB, bekerjasama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI stasiun Palembang, dan untuk Siaran Televisi sebanyak 2 kali dari target 1 kali, telah selesai disiarkan dalam bentuk berita daerah tanggal 28 September 2017 pada Temu Informasi Teknologi dan panen raya jajar legowo super di kabupaten Musi Rawas dan Derap Sriwijaya disiarkan pada tanggal 9 Oktober Jam 18.30 – 19.00 WIB oleh LPP-TVRI Stasiuan Palembang. Untuk Bahan cetakan berupa Leaflet sebanyak 1.500 lermbar (3 judul), dan juknis sebanyak 1.000 expl untuk 3 (tiga) judul. Sedangkan untuk Publikasi melalui media massa 1 tahun yang telah terbit yaitu; Koran Sumek pada tanggal 10 Pebruari 2017 dengan judul Sumsel Target Tingkatkan Produksi dan Koran Tribun BPTP bagikan 500 bibit cabe ke kelompok tani, kemudian Koran Sumek tanggal 20 Mei 2017 dengan judul Dongkrak Produktivitas Padi 70
  • 71.
    dengan Legowo Super,Koran Sumek tanggal 13 Oktober 2017 dengan Judul Koptan Terima Padi VUB (Mentan Panen Raya), Koran Sumek tanggal 17 Nopember 2017 dengan judul Antisipasi Hama Wereng Coklat, dan Koran Sumek tanggal 17 Desember 2017 dengan judul Produksi Benih Jagung Sendiri, koran sumek tanggal 21 Desember 2017 Gelar Bimtek, Lakukan MoU dan Koran Sumek tanggal 29 Desember 2017 dengan judul Varietas Lokal Kualitas Unggul. Selain media cetak Publikasi media massa juga dalam bentuk elektronik berupa Advitorial melalui LPP-TVRI Stasiun Palembang dengan durasi 5 menit tanggal 21 Desember 2017 pada acara Bimbingan Teknis Alih Teknologi Spesifik Lokasi di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, dan Panen Padi di Kota Pagar Alam pada tanggal 27 Desember 2017 dalam bentuk Berita Daerah. 2.3.9. Taman Agroinovasi Salah satu indikator keberhasilan program pengkajian teknologi pertanian adalah seberapa besar hasil-hasil pengkajian tersebut diadopsi oleh pengguna (terutama petani) untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kegiatan usahatani. Untuk mewujudkan hal tersebut berbagai upaya dilakukan, dengan mengupayakan kemudahan dan menimbulkan ketertarikan pengguna teknologi. Tahun 2015 BPTP Sumatera Selatan membuat taman yang menarik, dengan menimbulkan kesan nyaman dan rilek diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengguna untuk mengunjunginya dan mempelajari inovasi yang diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah: 1) Mendiseminasi teknologi tepat guna hasil inovasi Balitbangtan, 2) Membentuk entitas bisnis yang melakukan fungsi diseminasi inovasi. Inovasi teknologi ditampilkan dalam bentuk display/visitor plot dan demo. Display ditampilkan berupa penggunaan media pertanaman untuk tanaman sayuran, penggunaan 71
  • 72.
    varietas unggul. Sedangkandalam bentuk demo, dapat dipertunjukkan cara pembuatan pupuk organik, aplikasi penggunaan pestisida nabati. Selain itu pada Taman Agroinovasi ini juga disediakan wadah untuk berkonsultasi tentang pertanian yang dapat diperoleh di klinik agribisnis. Pada tahun 2015 telah dilakukan perencanaan penataan lahan dan pertanaman, pendalaman kolam, pengolahan lahan, perbaikan screen house, penanaman tanaman sayuran dan padi. Pada Tahun 2016 dilanjutkan peragaan berbagai inovasi melalui penggunaan varietas unggul dengan pertanaman yang ramah lingkungan, peragaan pertanaman sayuran menggunakan rak vertikultur, tegakan paralon, bedengan dengan dan tanpa mulsa plastik, pembuatan pakan ternak fermentasi, dan pembuatan pupuk organik. Kegiatan yang telah dilakukan sampai bulan Desember 2017 antara lain pembuatan pergola dan rak vertikultur, pemeliharaan ikan, pertanaman padi, hortikultura dan buah, pemeliharaan ayam, menjadikan Taman Agroinovasi sebagai tempat magang, menjadikan Taman Agroinovasi sebagai kunjungan agrowisata dan membangun Tagrimart. 2.3.10. Pendampingan Pengembangan Kawasan jagung Di Sumsel Pendampingan pengembangan kawasan jagung diperlukan agar dapat mempercepat implementasi teknologi spesifik lokasi kepada petani/pengguna yang pada akhirnya terjadi peningkatan produksi dan pendapatan petani jagung. Salah satu pendekatan dalam pendampingan pengembangan kawasan jagung adalah melalui 72
  • 73.
    pendekatan berdasarkan tipekawasan (kawasan penumbuhan, pengembangan dan pemantapan). Pendekatan melalui wilayah pengembangan menjadi prioritas dengan pertimbangan masih terbuka peluang peningkatan produktivitas, menekan kehilangan, dan peningkatan mutu hasil. Jagung mempunyai adaptasi yang luas dan relatif mudah untuk dibudidayakan, sehingga komoditas ini diusahakan oleh banyak petani pada lingkungan fisik dan sosial ekonomi yang beragam. Jagung dapat tumbuh hampir di semua agroekosistem seperti lahan kering, lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan lebak, dan lahan pasang surut dengan berbagai jenis tanah, pada berbagai tipe iklim, dan pada ketinggian tempat 0 s/d > 2000 m dpl, serta diusahakan oleh petani miskin maupun kaya dengan kepemilikan lahan sempit maupun luas. Propinsi Sumatera Selatan dengan luas daerah seluruhnya 8.702.741 ha, memiliki iklim tropis dan basah dengan variasi curah hujan antara 33,1/6-564,2/24 mm 3 /hari. Keadaan tanah terdiri dari organosol, litosol, alluvial, hidromorf, klei humus, regosol, andosol, redzina, latosol, lateritik dan podsolik (BPS, 2014). Luas penggunaan lahan di Sumatera Selatan khususnya untuk budidaya pertanian adalah sebesar 5.524.725 ha (63,49%). Hal ini tentunya menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk budidaya pertanian masih cukup banyak dan tentunya juga berpotensi untuk dijadikan areal pengembangan tanaman pangan. Beberapa kajian juga menunjukkan bahwa penanaman tanaman pangan dapat pula dilakukan sebagai tanaman sela di perkebunan karet. Umumnya daerah/lokasi perkebunan karet rakyat pada lahan kering yang didominasi oleh jenis tanah Pasolik Merah Kuning (PMK) yang juga memiliki kesesuaian untuk penanaman tanaman pangan (Subendi A, 2013). Tahun 2016 ini dengan adanya program UPSUS jagung, maka sasaran luas tanam jagung di Kabupaten Banyuasin dalam pencapaian 73
  • 74.
    swasembada berkelanjutan dimanaluas tanam ditargetkan menjadi 15.500 ha dengan rincian 15.000 ha dengan pendanaan pemerintah pusat (APBN) dan 500 ha pendanaan pemerintah kabupaten (APBD) (Dinas TP Banyuasin, 2016). Dalam Permentan No: 50/OT.140/8/2012, tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) Provinsi Sumatera Selatan merupakan wilayah Pengembangan Kawasan Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas jagung. Diantaranya varietas unggul yang sebagian diantaranya telah dikembangkan oleh petani. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan dan mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu. Dengan adanya program tersebut diharapkan peran BPTP disamping mensosialisasikan jagung hasil penelitian Balitbangtan kepada masyarakat petani juga dapat mendampingi dan mengawal teknologi dengan tujuan agar sasaran tersebut dapat tercapai. 2.3.11. Pendampingan UPSUS Mendukung Program Strategis Kementan 74
  • 75.
    Pelaksanaan kegiatan IdentifikasiCalon Lokasi, Koordinasi, Bimbingan dan Dukungan Teknologi, Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung dan Kedelai Komoditas Utama Kementerian Pertanian di Provinsi Sumatera Selatan dilaksanakan di 17 Kabupaten/Kota (Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Empat Lawang, Palembang, Prabumulih, Pagar Alam dan Lubuk Linggau). Pelaksanaan kegiatan pendampingan dan pengawalan UPSUS oleh peneliti dan penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan meliputi: 1) monitoring dan evaluasi sekaligus melakukan rekapitulasi dan pelaporan data luas tambah tanam padi tahun 2017, data capaian luas tambah tanam Sumsel pada tahun 2017 sebesar 1.091.202 Ha dari sasaran sebesar 1.110.883 Ha atau tercapai 98,23 %. 2) melakukan koordinasi, pendampingan teknologi dan kunjungan lapang sekaligus melakukan pemantauan data luas tanam padi, jagung dan kedelai; 3) kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan pelatihan komoditas padi jagung dan kedelai serta komoditas strategis lainnya. 4) kegiatan diseminasi dan publikasi baik melalui media elektronik (Radio dan Televisi), media cetak (dalam bentuk Brosur, Leaflet dan folder) maupun media online (facebook, Twitter maupun instragram), temu lapang, temu teknis, temu informasi teknologi pertanian serta kegiatan pameran pertanian pada komoditas padi jagung dan kedelai serta komoditas strategis lain. 5) kegiatan pendukung lainnya seperti pemantauan penyerapan gabah oleh BULOG dari petani, Gerakan pengendalian weren batang coklat, kegiatan panen bersama, serta semua kegiatan dalam upaya mencari solusi terkait dengan 75
  • 76.
    masalah-masalah peningkatan produksipadi, jagung dan kedelai bersama-sama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah. 2.3.12. Pendampingan Pengembangan Kawasan pertanian Nasional Tanaman Hortikultura di Sumsel Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura di Sumatera Selatan bertujuan untuk ; a)Mendiseminasikan inovasi teknologi budidaya cabai merah di dua lokasi Kabupaten Banyuasin, b)Memberikan dukungan teknologi untuk pengembangan kawasan cabai merah dalam bentuk; teknologi pembibitan cabai merah dan demplot cabai merah varietas kencana, penyediaan bahan/materi penyuluhan serta menjadi nara sumber pada pelatihan/pertemuan petani dan petugas lapang di wilayah pendampingan, dan c) Meningkatkan percepatan penyebaran inovasi teknologi budidaya cabai merah ke petani/pelaku usaha. Kegiatan ini dilaksanakan di 2 (dua) lokasi yang ada di wilayah Kabupaten Banyuasin. Pelaksanaan pendampingan dimulai dari bulan Januari hingga Desember 2017. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini meliputi; 1)koordinasi, persiapan, 2) Penetapan Calon Petani Calon Lokasi, 3)sosialisasi kegiatan, 4) pelaksanaan demplot/display VUB cabai merah dan pengawalan teknologinya, 5) Pengumpulan dan pengolahan data, 6) seminar hasil kegiatan dan 7) Pelaporan hasil kegiatan. Perkiraan 76
  • 77.
    manfaat kegiatan adalaha) diterapkannya inovasi teknologi cabai merah di kawasan pendampingan, b) tersebarnya inovasi teknologi cabai merah di kawasan pendampingan. Hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan meliputi, koordinasi, sosialisasi dan pendampingan dalam bentuk pembibitan cabai merah dan demplot VUB cabai merah Kencana yang merupakan varietas Balitbangtan. Sampai dengan saat ini demplot varietas kencana sudah berumur > 14 Minggu dan sudah mulai panen. Hasil sementara rata-rata jumlah per pohon untuk varietas kencana mencapai 304,65 g/btg, untuk varietas local 355,73 g/btg dan untuk Castilo 396,85 g/btg. 2.3.13. Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan kerbau di Sumatera Selatan Sumatera Selatan memiliki potensi cukup besar untuk pembangunan peternakan terutama kerbau potong dan kerbau. Program Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan Kerbau ini dilaksanakan melalui optimalisasi sumberdaya lokal. Balai 77
  • 78.
    Pengkajian Teknologi Pertanian(BPTP) Sumatera Selatan sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian mendapat mandat untuk melakukan pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan kerbau yang ada di daerah. Untuk itu mulai tahun 2017 BPTP Sumsel telah melaksanakan kegiatan pendampingan pengembangan kawasan peternakan kerbau Pampangan bertempat di kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Tujuan kegiatan tahun 2017 meliputi pendampingan pengolahan susu untuk meningkatkan nilai tambah dari susu kerbau dan memperpanjang daya simpan susu kerbau jika sedang produksi susu berlimpah. Hasil kegiatan tengah tahun 2017 yang telah dilaksanakan adalah terdesiminasinya paket pengolahan susu kerbau berupa pembuat gula puan dan susu aneka rasa. Untuk melihat dampak dari hasil pengolahan sus tersebut maka kegiatan pendampingan dilanjutkan hingga akhir tahun 2017 dengan tujuan: (a) pemantapan pengolahan susu berupa pembuatan gula puan dan susu aneka rasa, (b) melakukan pendampingan teknologi pengolahan susu dan pengemasan hasil olahan serta (c) membentuk kelembagaan kelompok tani ternak perbibitan pampangan yang kuat. Dampak dan manfaat kegiatan yang diharapkan adalah (a) meningkatkan produktivitas ternak kerbau, (b) meningkatkan pendapatan petani dan (c) mengurangi permasalahan yang dihadapi petani. 78
  • 79.
    2.3.14. Pengembangan PolaTanam Tanaman Pangan Budidaya pertanian, baik di lahan kering maupun lahan beririgasi, tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah, intensitas, dan distribusi hujan, tetapi juga ditentukan oleh awal musim hujan (onset season) dan akhir musim hujan. Perkiraan awal musim hujan menjadi faktor penting dalam menetapkan awal musim tanam, pelaksanaan tanam, penentuan pola tanam, dan perkiraan luas areal tanam, terutama untuk tanaman pangan pada lahan sawah tadah hujan dan lahan kering. Pola distribusi curah hujan sangat menentukan pola tanam umum di suatu wilayah. Ada tiga macam pola yang sangat dikenal di Indonesia, yaitu pola monsunal, ekuatorial, dan pola lokal. Di samping itu, ada lagi satu pola hujan yang hanya terdapat di Papua dan di sebagian kecil Sulawesi, yang disebut sebagai pola moderat. Alternatif pola tanam dimaksudkan supaya pertanaman berikutnya pada MT II atau MT III tidak mengalami kekeringan akibat mundurnya waktu tanam, karena awal musim hujan mengalami mundur dari kondisi normal, dan untuk mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan. Penentuan pola tanam sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan awal musim hujan. Pada wilayah yang memiliki ketersediaan air cukup banyak (pola CH 3) maka pola tanamnya bisa padi-padi-padi/palawija dengan rentang waktu yang cukup panjang. Pada pola CH 2, pola tanam masih bisa padi 2 kali, tetapi pada MT III ditanam palawija karena air mulai terbatas. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian pola tanam yang lebih adaptif dengan keragaman dan perubahan iklim, baik dalam bentuk spasial maupun tabular (waktu dan pola tanam selama siklus satu tahun) yang disebut Peta Kalender Tanam (Runtunuwu dan Syahbuddin 2011). Badan Litbang Pertanian hingga tahun 2016 telah merilis SI Katam Terpadu versi 2.5. Dalam SI Katam terpadu versi ini 79
  • 80.
    memuat prakiraan waktudan luas tanam padi, jagung, dan palawija (pola tanam setahun), estimasi wilayah nanjir dan kekeringan, rekomendasi pupuk, varietas, serta alsintan di suatu wilayah. Kegiatan pengembangan pola tanam tanaman pangan dilaksanakan di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini mempunyai agroekosistem lahan sawah dengan luas baku padi sawah seluas 194.709 Ha. Dengan potensi tanam 108.399 Ha pada MH 2016/2017 (Okt-Mar) dan 41.631 Ha pada MK I, serta 18.799 pada MK II. Sedangkan palawija mempunyai potensi luas tanam seluas 15.666 Ha pada MH I dan 12.532 pada MH II (Okt-Maret) dan pada MK I seluas 15.666 Ha dan MK II seluas 12.532 Ha. Dalam rangka diseminasi inovasi teknologi terkait pola tanam, telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain : Sosialisasi Pengembangan Pola Tanam (KATAM Terpadu Dinamis, nara sumber pada pertemuan penyuluh, pertemuan/FGD, dan penyebaran materi tercetak dalam bentuk leaflet/juknis. Dari hasil identifikasi kondisi eksisting penerapan pola tanam tanaman pangan di 19 kecamatan dalam kabupaten Banyuasin, ada beberapa pola tanam alternatif yang diterapkan oleh petani antara lain : 1) Padi-Padi, 2) Padi-Palawija (Jagung), 3) Palawija-Palawija (Jagung-Jagung), 4) Padi- sayuran. Penerapan pola tanam ini bervariasi tergantung dari agroekosistem di masing- masing kecamatan. Agroekosistem pasang surut dominan di wilayah ini/. Varietas padi dominan yang ditanam petani adalah Inpari 1, Mekongga, Ciherang, IR-42, dan varietas lokal. Sedangkan jagung varietas yang dominan ditanam petani adalah Bisi-18, Pioner, NK 225. Waktu tanam padi/palawija yaitu berkisar pada pada bulan Sept.-III s/d Nov.III. Uji coba teknologi dilaksanakan pada kelompoktani Karya Bakti I, Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin , Agroekosistem rawa pasang surut tipe C/D. Pola tanam yang diujicobakan yaitu : Pola Tanam I : tanam Jagung : MK 2017, tanam tgl 10 Juni (dasarian I). Sedangkan Pola Tanam II : tanam padi pasang surut : MH 80
  • 81.
    2017/2018 rencana tanamtanggal 20 Oktober (dasarian III) Metoda uji coba sesuai dengan rekomendasi KATAM Terpadu 2017, dengan introduksi teknologi varietas unggul jagung jagung hibrida balitbangtan yaitu Bima 19 dan 20 dan padi atau varietas jagung hibrida lainnya, varietas padi Inpari 10, 18, 19, dan 20, pada Pola Tanam Tanaman Pangan (Padi-Jagung), IP 200, pada lahan yang sama, pada MH 2017/2018 (Okt-III). Dari hasil verifikasi yang dilaksanakan di desa Bangun Sari kecamatan Tanjung lago, 75 % atau 120 Ha sesuai jadwal tanam dibandingkan dengan rekomendasi jadwal tanam sesuai KATAM. 2.3.15. Dukungan Informasi Pertanian untuk Peningkatan Indeks Pertanian Pajale (Lahan Kering dan sawah Tadah Hujan) Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah mencanangkan 4 target sukses yaitu (1) swasembada berkelanjutan dan pencapaian swasembada, (2) diversifikasi pangan, (3) peningkatan daya saing nilai tambah ekspor, dan (4) kesejahteraan petani. Pengkajian dilaksanakan pada Januari hingga Desember 2017 di lahan kering Kabupaten Ogan Komering Ilir Propinsi Sumatera Selatan. Tujuan pengkajian adalah untuk 1) Mengidentifikasi dan inventarisasi potensi pemanfaatan lahan untuk pembangunan infrastruktur dan tata kelola air, 2) Menginventarisasi indeks pertanaman, pola tanam, infrastruktur dan tata kelola air, serta kelembagaannya pada kondisi eksisting, 3) Melakukan pengkajian dukungan inovasi pertanian dalam peningkatan IP 81
  • 82.
    padi dan jagungdi sawah tadah hujan, 4) Mengidentifikasi 3 (tiga) varietas unggul padi gogo yang memiliki produktivitas tinggi melebihi produktivitas padi gogo lokal di Sumatera Selatan. Petani yang terlibat atau kooperator dipilih pada satu hamparan dengan luasan 5 ha untuk tanaman padi dan 3 ha untuk tanaman jagung. Penanaman direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2013. Teknologi yang diterapkan pada petak pengkajian yakni teknologi eksisting (petani) dan teknologi introduksi. Pemanfaatan lahan kering masam pada MK 2017 pada kegiatan Dukungan Inovasi Pertanian Untuk Peningkatan Indeks Pertanaman Pajale Pada Lahan (Kering dan Sawah Tadah Hujan) Di desa Rantau Durian I Kec. Lempuing Jaya Kab. OKI Sumatera Selatan pada MK 2017 dapat meningkatkan produktivitas lahan dengan menghasilkan bahan pangan seperti padi dan jagung. Produksi padi gogo yang paling tinggi dicapai pada varietas Inpago 10 sebanyak 5,36 ton GKP/ha, sedangkan produksi untuk varietas Inpago 11 sebanyak 4,92 ton GKP/ha, Situ bagendit 4,40 ton GKP/ha, Inpago Inpago 9 sebanyak 4,16 ton GKP/ha, Inpago 8 sebanyak 3,36 ton GKP/ha dan Ciherang (kontrol) 3,35 ton GKP/ha. Rendahnya hasil yang dicapai oleh petani padi yang di tanam secara gogo pada saat pertumbuhan tanaman mengalami keterbatasnnya air sehingga pertumbuhan tanaman padi tidak begitu baik. Produksi jagung yang dicapai sebesar 10.200 kg/ha, namun masing-masing varietas menghasilkan produksi 5,7 ton/ha untuk varietas hibrida NK 7328, 4,5 ton/ha varietas hibrida Bisi 18 yang ditanam pada MK 2017, kalau petani menjual dalam bentuk pipilan mendapatkan pendapatan petani Rp. 18.880.000 pada varietas NK 7328 dan Nisi 18 dengan R/C dengan rasio 2,61. Respon dari berbagai kalangan responden terhadap Komponen teknologi yang dapat diadopsi dengan baik pasca kegiatan demplot adalah pada komponen pembuatan saluran drainase, menanam secara tugal dan menggunakan jarak tanam tertentu, pemupukan, pengendalian OPT dan penyingan 2 kali. Hal ini 82
  • 83.
    disebabkan komponen tersebuttidak mengeluarkan biaya kecuali tenaga kerja yang biasanya. 2.3.16. Model Pertanian Bio Industri Berbasis Tanaman Pangan diLahan Pasang Surut Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangandi lahan pasang surut di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: a)Menyusun rancang bangun model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangan di lahan pangan surut untuk dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, b) Memfasilitasi penumbuhan dan pembinaan percontohan sistem usahatani ramah lingkungan dan usaha agibisnis berbasis teknologi inovatif yang bersifat bioindustri, c) Memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi pedesaan untuk pengembangan kegiatan bioindustri berbasis tanaman pangan untuk mendukung keberlanjutan sistem pertanian bioindustri, dan d) Memperoleh umpan balik mengenai karakteristik teknologi tepat-guna spesifik pengguna dan lokasi yang berkelanjutan untuk menyempurnakan model pertanian ramah lingkungan yang spesifik lokasi. Lokasi penelitian di Kabupaten BanyuasinProvinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2018. Pendekatan yang digunakan yakni identifikasi potensi wilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi potensi produk dan 83
  • 84.
    perancangan model. Produksipadi varietas inpari 6 sebesar 6,5 t/ha dan inpari 22, sebesar 6,75 t/hajagung varietas P27 sebesar6,2 – 8,3 dan P 31 t/hasebesar 6,8 -8,5t/ha pipilan kering. Ternak sapi yang dikelola dikandang kolektif sebanyak 70 ekor menghasilkan kotoran rata-rata 300 kg per hari, sehingga rata-rata per ekor sapi menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan populasi ternak sapi di untuk satu bulan menghasilkan 9.000 kotoran sapi basah atau 4-5 ton pupuk kompos, Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 25 liter per hari sehingga produksi urine per bulan 750 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine, Kelembagaan yang ada masih perlu ditingkatkan peran dan kemampuannya, sehingga saling mendukung satu dengan yang lainnya. 2.3.17. Model Pertanian Bio Industri Berbasis Tanaman Palawija di Lahan Kering Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: 1) Memantapkan model pengembangan bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering, 2) Mengembangkan (scaling up) dan mereplikasi model pengembangan pertanian bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering yang berkelanjutan. . Lokasi penelitian di Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2017. Pendekatan yang digunakan 84
  • 85.
    yakni identifikasi potensiwilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi potensi produk dan perancangan model. Produksi jagung varietas NK 7328 sebesar 6,7 ton/ha, Bisi 18 4,5 t/ha dan Sukmaraga 3,8 ton/ha pipilan kering. Penerapan pakan fermentasi limbah jagung dan limbah pertanian lainnya pada ternak induk sapi secara add- libitum selama sebulan sebelum dikawinkan diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan S/C 2-3 menjadi S/C 1-2 dan memperpendek jarak beranak dari 14-16 bulan menjadi 13-14 bulan. Populasi ternak pada awal kegiatan tahun 2017 sebanyak 180 ekor, Perkembangan populasi ternak selama kegiatan meningkat sebanyak 210 ekor dengan melibatkan 37 petani. Terjadi peningkatan popilasi ternak sebanyak 30 ekor yang merupakan perkembangan ternak selama kegiatan tahun 2017. Ternak sapi yang dikelola dikandang kolektif sebanyak 120 ekor menghasilkan kotoran rata-rata 600 kg per hari, sehingga rata- rata per ekor sapi menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan populasi ternak sapi di untuk satu bulan menghasilkan 108.000 ton kotoran sapi basah atau 54 ton pupuk kompos. Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 1000 liter per hari sehingga produksi urine per bulan 10000 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine. Instalasi biogas diaplikasikan yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan dengan kapasitas 17 m3 digunakan untuk 15 titik lampu dan 15 buah lampu di tempatkan di kandang kolektif kelompok. Kelembagaan yang ada masih perlu ditingkatkan peran dan kemampuannya, sehingga saling mendukung satu dengan yang lainnya. 85
  • 86.
    2.3.18. Pendampingan PengembanganKawasan Tanaman Padi di Sumatera Selatan Pendampingan dilaksanaan di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, mulai dari bulan Januari 2017 sampai dengan Desember 2017. Tujuan pendampingan adalah 1) Meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa lebak, 2) Mensosialisasikan varietas unggul baru padi di lahan rawa lebak, dan 3) Memberikan alternatif pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi spesifik lokasi di rawa lebak. Pelaksanaan kegiatan meliputi (1) Pelatihan guna untuk meningkatkan kapasitas SDM dilaksanakan dalam rangka penyebaran luasan inovasi teknologi padi kepada para penyuluh/petugas lapang dan petani. Kegiatan pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan petugas dan petani peserta dalam menjalankan aktivitas dan usaha agribisnisnya,(2) Penyebaran materi diseminasi berupa bahan cetakan seperti : budidaya padi di lahan lebak, deskripsi varietas unggul baru padi (VUB), dan cara tanam jajar legowo, (3) Membuat petak percontohan atau sosialisasi varietas unggul baru Inpara 4, Inpari 30, Inpari 9 dan Inpari 33 pada dua lokasi masing-masing 1 ha dan (4) Pembuatan laporan, dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa Sosialisasi padi varietas unggul baru merupakan teknologi yang murah dan mudah dijangkau petani untuk menggantikan varietas lama yang terus-menerus dipakai sehingga dapat memperbaiki produktivitas padi. Selain itu penggunaan system tandur jajar legowo dapat mendukung dalam peningkatan produktivitas padi. Dalam pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi di rawa lebak, sebelum mengenalkan teknologi baru bagi petani perlu 86
  • 87.
    dilakukan pelatihan danpraktek langsung di lapangan berupa petak percontohan agar petani lebih terampil dalam penerapan teknologi tersebut dan disertai dengan distribusi brosur atau naskah yang berhubungan dengan budidaya padi di rawa lebak. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani bahwa alternative pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi spesifik lokasi untuk meningkatkan produksi padi dengan penerapan petak percontohan dan pelatihan-pelatihan disertai bahan bacaan yang diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan petani. Varietas Inpari 9 dan Inpara 4 dapat beradaptasi pada lahan rawa lebak tengahan dengan kondisi agak kering lebih baik daripada Mekongga dan IR 42 dengan produksi 7,6-7,7 ton gkp/ha sangat disukai petani di Desa Awal Terusan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kemudian Inpari 9, Inpari 30, Inpari 33 dan Inpara 4 sesuai pada lahan rawa lebak yang berair dengan hasil 6,3 – 8,0 ton gkp/ha lebih tinggi dari IR 42 (5,0 ton gkp/ha) sangat disukai petani di Desa Serijabo Kabupaten Ogan Ilir. Pendapatan rata-rata selama satu kali musim tanam usahatani padi pada musim kemarau di Desa Serijabo Rp 13.780.000/ha dengan BC ratio 1,8 dan pendapatan usahatani padi di Desa Awal Terusan sebesar Rp 12.370.000/ha dengan BC ratio 1,6. Dari kriteria yang digunakan jika BC ratio ≥ 1 maka usahatani padi varietas unggul baru layak diusahakan. 87
  • 88.
    2.3.19. Produksi BenihSumber Padi di Sumatera Selatan(FS 2 ton, SS 10 ton dan Komposit ES 28 ton) Varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kontribusi nyata varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi Nasional antara lain tercermin dari pencapaian swasembada beras pada tahun 1984. Hal ini terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh varietas unggul padi, antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama, umur genjah sehingga sesuai dikembangkan dalam pola tanam tertentu, dan rasa nasi enak (pulen) dengan kadar protein relatif tinggi. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah 1) Meningkatkan produksi, mutu dan distribusi benih sumber (FS 2 ton, SS 10 dan ES 28 ton) padi agar selalu terjamin ketersediaanya sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2) Memantapkan kelembagaan perbenihan untuk menjamin distribusi benih berjalan dengan cepat dan tepat, dan 3) Mendukung upaya penyediaan benih unggul bermutu bagi petani. Kegiatan produksi benih sumber dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2017 di lahan sawah irigasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Untuk Sentra Prosesing Unit ditempatkan Di Kebun Percobaan Kayuagung. Secara teknis, waktu pelaksanaan kegiatan lapangan menyesuaikan kondisi lapangan. Produksi benih sumber padi di Sumatera Selatan klas FS, SS, dan ES, menggunakan varietas Inpai 22, Inpari 23, Inpari 30, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 43 dan Inpara 8 dengan luas tanam 25, rencana target produksi benih dari varietas tersebut adalah 2 ton kelas FS, 10 ton kelas SS, dan 28 ton kelas ES. Data yang dikumpulkan meliputi data keragaan pertumbuhan dan hasil. Data yang dikumpulkan ditabulasikan dan dianalisa (kuantitatif). Sebagai pertanggungjawaban akhir dari pelaksanaan kegiatan disusun akhir. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah Produksi benih yang disertifikasi pada tahun 2017 milik UPBS BPTP Sumatera selatan sebanyak 40.218 88
  • 89.
    kg , yangterdiri dari varietas Inpari 43 (FS) sebesar 2.200 kg, Inpari 33 (SS) 4.680 kg), Inpari 30 (SS) 9.628 kg, Inpara 8 (SS) 1200 kg, Inpari 23 (SS) 600 kg, Inpari 32 (ES) 2000 kg, Inpari 43 (ES) 8360, Inpari 32 (ES) 4000 kg Inpari 22 (ES) 4550 kg, Inpari 30 (ES) 3000, dan Inpari 33(ES) 3000 kg. Sedangkan benih yang sudah di distribusikan ke pengguna benih sumber sampai bulan November 2017 sebanyak 33.210 kg, dari total produksi 40.218 kg. 2.3.20. Produksi Benih SumberJagung di Sumatera Selatan (Hibrida F1 8 ton, Komposit SS 0,5 ton dan Komposit ES 29 ton) Benih bermutu dari varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan sangatpenting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kegiatan bertujuan untuk:(1) menghasilkan benih sumber jagung hibrida (F1) varietas Bima 10 dan Bima 14 (8 ton), (2) menghasilkanbenih sumberjagung komposit varietas Sukmaraga kelas SS/ES (29,5 ton), (3) mendapatkanteknologi spesifik lokasi peningkatan produkivitas dan mutu benih jagung, dan (4) menginisiasi penangkar benih jagung di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT). Dari hasil koordinasi kegiatan telah ditentukan lokasi produksi benih sumber jagung yaitu di Desa Tulus Ayudan di Desa Jaya MulyaKecamatan Buay Madang Raya (BMR). Jagung hibrida varietas Bima 10 dan Bima 14 akan diproduksi dalam hamparan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Surya Tani di Desa Tulus Ayupada 89
  • 90.
    areal seluas 8ha. Jagung kompositSukmaraga akan diproduksi dalam hamparan Gapoktan Mulya Bakti di Desa Jaya Mulya padsa areal seluas 20 ha. Kelompok Tani pelaksana produksi benih jagung adalah Usaha Bersama (hibrida) dan Cinta Damai (komposit). Prosesing benih akan dilaksanakan di Unit Prosesing Benih Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan di Kebun Percobaan Kayu Agung. Proses produksi dan prosesing benih dilaksanakan sesuai dengan standar sertifikasi benih. 2.3.21. Monev (Monitoring dan Evaluasi) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi dan mempunyai fungsi (i) pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi, (ii) pelaksanaan litkaji dan perakitan teknologi, (iii) pelaksanaan pengkajian teknologi dan diseminasi serta perakitan materi penyuluhan, (iv) penyiapan kerjasama, informasi dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, (v) pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian perakitan dan pengembangan teknologi tepat guna spesifik lokasi dan (vi) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai. Terkait dengan tugas dan fungsi BPTP Sumatera Selatan, 90
  • 91.
    pada tahun 2017dilaksanakan kegiatan pengkajian dan diseminasi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka di lingkup internal BPTP Sumatera Selatan pada tahun 2017 juga dilaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Dalam perspektif manajeman pengkajian/diseminasi, kegiatan monev merupakan instrumen penting untuk pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan pengkajian/diseminasi agar berjalan sesuai metode/prosedur yang direncanakan dan dapat mencapai target tujuan dan keluaran yang ditetapkan. Tujuan kegiatan Monitoring dan Evaluasi pada tahun 2017 adalah: (1) Mengevaluasi perencanaan yang telah dilakukan serta semua pelaksanaan kegiatan khususnya administrasikegiatan; (2) Mengevaluasi tingkat kesesuaian rencana pengkajian/diseminasi teknologi pertanian dengan pelaksanaannya serta perkembangan kegiatan dan permasalahan yang dihadapi pengkajian/diseminasi teknologi pertanian di lapangan dan memberikan saran kepada penanggung jawab apabila terjadi penyimpangan berdasarkan indikasi permasalahan yang ada; dan (3) Mengetahui kemanfaatan kegiatan litkaji terhadap stakeholders BPTP Sumatera Selatan. Ruang lingkup kegiatan monev terdiri dari monev tahap perencanaan, monev tahap pelaksanaan kegiatan serta monev tahap evaluasi akhir. Hasil kegiatan Monev pada tahun 2017 yaitu: (1) Kegiatan pengkajian dan diseminasi yang dilaksanakan tahun 2017 telah melengkapi dokumen RPTP/ROPP serta RDHP/RODHP; (2) Kegiatan pengkajian dan diseminasi yang dilaksanakan telah sesuai dengan tahapan dan metodologi yang disusun; dan (3) Kegiatan pengkajian dan diseminasi tahun 2017 telah memberikan kemanfaatan bagi Dinas/Instansi, petani maupun stakeholders terkait di wilayah yang dilaksanakan kegiatan pengkajian dan diseminasi. 91
  • 92.
    2.3.22. Program Sebagai UnitPelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan mempunyai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) melaksanakan kegiatan Pengkajian dan Perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi di daerah. Dalam pelaksanaannya, fungsi perencanaan merupakan salah satu unsur penting untuk menunjang keberhasilan tupoksi Balai. Oleh karena itu, perencanaan program harus dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi dengan baik dan konsisten agar dapat diukur kemajuan dan keberhasilan program yang telah disusun. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Pada tahun 2017, Kegiatan Penyusunan Program dan Rencana Kerja/Teknis/Program bertujuan untuk: (1) Menyusun Rencana Anggaran Kerja Tingkat Manajemen dan Kegiatan Litkajibangrap TA. 2018; dan (2) Koordinasi, sinkronisasi, dan menjaring umpan balik kegiatan litkajibangrap TA. 2017 dengan cakupan kegiatan berupa: (1) Evaluasi dan pendokumentasian proposal (RDHP, RPTP, RKTM; RODHP, ROPP, ROKTM tahun 2017); (2). Penyusunan matrik kegiatan litkaji dan 92
  • 93.
    diseminasi tahun 2018;(3). Penyusunan rencana kerja (renja); (4). Penyusunan RKAKL sebagai bahan dasar penyusunan DIPA tahun 2018. (5). Pengumpulan dan review laporan kegiatan litkaji dan manajemen tahun 2017. Hasil pada tahun 2017, kegiatan Penyusunan Program dan Rencana Kerja/Teknis/Program sudah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan rencana pelaksanaan.Kegiatan yang telah dilaksanakan terbagi menjadi enam kegiatan, yaitu: 1) Rapat kerja, rapat koordinasi, workshop, dan temu koordinasi di tingkat pusat; 2) Seminar rencana operasional penelitian pertanian/diseminasi hasil penelitian dan kinerja tingkat manajemen Sumatera Selatan; 3) Koordinasi, penyampaian kegiatan, dan umpan balik kegiatan litkajibangrap dengan stakeholders; 4) Penyusunan matriks serta usulan proposal kegiatan dan anggaran tahun 2018; 5) Revisi DIPA dan POK TA. 2017; dan (6) Seminar hasil kegiatan litkajibangrap dan manajemen TA. 2017. Revisi DIPA TA. 2017 dilakukan sebanyak 4 kali terhadap alokasi anggaran, redaksional, akun, dan pergeseran mata anggaran. Revisi dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan penyerapan anggaran yang cukup dinamis. 2.3.23 Pembangunan Taman Teknologi Pertanian 1. TTP Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin 93
  • 94.
    Taman Teknologi Pertanianmerupakan suatu tempat yang digunakan untuk mengimplementasikan corporate program LITKAJIBANGDIKLATLUHRAP bidang pertanian dalam sistem usahatani skala luas (partisipatif, adaptif dan interdisciplinary fields) dalam kerangka mendukung pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan pertanian nasional (peningkatan provitas, produksi dan kesejahteraan petani). Prinsip pengembangan Taman Teknologi Pertanian: 1). implementasi hasil penelitian skala luas, 2). adaptif/down stream research (stakeholders lebih luas) dengan fokus aktivitas sesuai dengan komoditas unggulan lokasi Taman Teknologi Pertanian, 3). partsipatif stakeholders (sharing planning, cost, dan risk), 4). interdisiplinary fields of study (Cross Cuttting Issues), 5).corporateprogram (koordinator salah satu UK), 6). kegiatan dan output terukur (kuantitatif) dengan Time Frame, 7). implementasi LITKAJIBANGDIKLATLUHRAP, keterlibatan peneliti, perekayasa, pengkaji dan penyuluh (hulu-hilir). Kegiatan ini akan dilakukan di Desa Mulia Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin. Tujuan kegiatan ini, yaitu: 1). mendiseminasikan varietas unggul baru tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai), hortikultura (jeruk, melon, semangka, dan tanaman hias), tanaman tahunan (kelapa genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, kaliandra) di lahan pasang surut, 2). mendiseminasikan cara tanam jajar legowo di lahan pasang surut, 3). mendiseminasikan pemupukan berimbang di lahan pasang surut, 4). mendiseminasikanpenggunaan alat dan mesin pertanian di lahan pasang surut, 5). mendiseminasikan pembibitan dan penggemukan ternak sapi.Keluaran kegiatan tahun ini, yaitu: 1). terdiseminasinya varietas unggul baru tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai), hortikultura (jeruk, semangka, melon, tanaman hias), tanaman tahunan (kelapa genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, kaliandra) di lahan pasang surut, 2). terdiseminasinya cara tanam jajar legowo di lahan pasang surut, 3). terdiseminasinya 94
  • 95.
    pemupukan berimbang dilahan pasang surut, 4). terdiseminasinya penggunaan alat dan mesin pertanian di lahan pasang surut, dan 5). Terdiseminasinya pembibitan dan penggemukan ternak sapi. Hasil kegiatan tahun ini, yaitu: 1). penggunaan varietas unggul baru tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai), hortikultura (jeruk, semangka, melon, tanaman hias), tanaman tahunan (kelapa genjah) dan hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, kaliandra) dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 2). penggunaan cara tanam jajar legowo dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 3). penggunaan pupukberimbang dapat meningkatkan produksi di lahan pasang surut, 4). penggunaan alat dan mesin pertanian dapat meningkatkan efisiensi usaha tani di lahan pasang surut, dan 5). pembibitan dan penggemukan ternak sapi dapat menambah pendapatan petani. Perkiraan manfaat dan dampak kegiatan ini, yaitu: penggunaan varietas unggul baru tanaman pangan, cara tanam jajar legowo, pupuk berimbang, serta alat dan mesin pertanian dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di kawasan Taman Teknologi Pertanian. 2. TTP Kabupaten Musi Banyuasin Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah 95
  • 96.
    baik di tingkatprovinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber- sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis melalui upaya antara lain: 1) membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan pertanian, perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang agroteknologi dan agribisnis, 2) mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian. TTP Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin, terletak di Desa Pinang Banjar Kecamatan Sungai Lilin. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama yang diusahakan adalah padi, karet dan Sawit. Beberapa rumah tangga petani juga memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih relatif rendah, ini disebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasanTTP Sungai Lilin, telah disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi dan kambing, Akselerasi Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen, Pengembangan Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani, Peningkataan SDM Pengelola TTP, Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari terlaksananya Pembangunan Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan implementasi inovasi teknologi di kawasan TTP Sungai Lilin berupa demfarm varietas unggul baru (VUB). Kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2017 meliputi display VUB 96
  • 97.
    (inpara 2, inpara3, dan inpara 7), jagung (hibrida dan jagung manis), kacangan tanah, semangka, timun, kacang panjang, pengelolaan limbah (kompos, biogas, dan silase), pembuatan MOL, pembuatan nutrisi, dan pembuatan embung. 3. TTP Kabupaten OKU Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber- sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis. Pada Tahun 2017 ini tujuan kegiatannya adalah: (1). Mendiseminasikan varietas unggul baru tanaman pangan, hortikultura dan hijauan pakan ternak di lahan kering dataran rendah dan sawah irigasi sederhana, (2).Mendiseminasikan penggunaan alat dan mesin pertanian di lahan kering dataran rendah dan sawah irigasi sederhana, (3). Mendiseminasikan pembibitan ternak sapi. (4).Meningkatkan kemampuan petani dalam penerapan inovasi teknologi baru (5). Menumbuhkan kelembagaan pendukung 97
  • 98.
    kemandirian TTP. Untukmendukung keberhasilan pengembangan kawasan TTP Semidang Aji, telah disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi, Akselerasi Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen, Pengembangan Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani, Peningkatan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen Pengelolaan TTP. Kegiatan-kegiatan inilah yang dilakukan pada Tahun 2017, dan sampai dengan penyusunan laporan ini sudah dilakukan penyediaan pakan untuk ternak sapi, upaya penyediaan bibit cabai, penanganan pasca panen jagung dan kopi, penanaman penangkaran benih padi, display VUB, penguatan kelembagaan petani, pengelolaan alsin, dan pelaksanaan pelatihan pengelola TTP dan petani. 98
  • 99.
    III. PENUTUP Pada Tahun2014 di BPTP Sumsel terdapat 14 kegiatan penelitian/pengkajian, 1 kegiatan analisis kebijakan, 3 kegiatan diseminasi dan 11 kegiatan pendampingan. Kegiatan-kegiatan tersebut diupayakan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya. Selain itu juga terdapat kegiatan kerjasama, operasionalisasi penggunaan kebun percobaan, laboratorium, perpustakaan, pengelolaan benih sumber dan pelaksanaan kegiatan perkantoran sehari-hari baik dalam melayani kepentingan staf BPTP terlebih lagi untuk melayani kepentingan pengguna (petani, dan stakeholder terkait). Pelaksanaan kegiatan juga tidak terlepas dari berbagai kendala seperti cuaca yang pada bulan-bulan tertentu sangat ekstrim, hama dan penyakit tanaman serta aspek kelembagaan yang masih terbatas dari segi kualitas, dan realisasi pencairan dana yang terlambat akibat revisi anggaran juga berdampak pada kelancaran pelaksanaan kegiatan. 99
  • 100.
    Perencanaan dan perancangankegiatan yang matang, peningkatan kualitas SDM secara berkelanjutan yang mampu mengiringi perkembangan zaman, peningkatan sarana dan prasarana akan menjadikan output kegiatan semakin bermanfaat dan berdampak luas. LAMPIRAN Lampiran 1. Anggaran dan Realisasi Dana Kegiatan BPTP Sumsel TA. 2014. No Kegiatan Dana (Rp) Realisasi (Rp) (%) 1 Teknologi Pengelolaan Sawah Bukaan Baru 75.000.000 61.171.000 81,56 untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah 2 Kajian Peningkatan Produktivitas Jagung dan 75.000.000 73.262.710 97,68 Kedelai pada Lahan sub Optimal 3 Model Akselerasi Pembangunan Ramah Lingkungan 150.000.000 141.823.500 94,55 mendukung Peningkatan Produksi Padi di Sumsel 4 Kajian Penguatan Kelembagaan lokal melalui 61.000.000 34.258.859 56,16 pendekatan modal sosial dalam mendukung pengembangan kawasan hortikultura 5 Kajian Peningkataan Produktivitas Jamur 61.000.000 56.669.600 92,90 Tiram dengan Pemberian Nutrisi Tambahan pada Media Tanam Jamur Tiram 100
  • 101.
    6 Pengelolaan SumberdayaGenetik (SDG) 179.600.000 172.724.735 96,17 Duku dan Durian 7 Inventarisasi dan Kajian Perbaikan 70.000.000 64.046.450 91,49 Produktivitas Itik Pegagandalam upaya pelestarian Plasma Nutfah Lokal 8 Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas 70.000.000 59.754.200 85,36 Pertanian Berdasarkan ZAE II (tingkat semi detil) skala 1:50.000 9 Pendampingan Budidaya Beberapa varietas 76.000.000 70.281.100 92,48 Kentang melalui Pendekatan PTT 10 Pendampingan Budidaya Cabai Ramah Lingkungan 70.500.000 5.560.000 7,89 11 Kajian Pengendalian penyakit Kresek padi 120.000.000 96.877.200 80,73 melalui pemanfaatan Bio-agent untuk mendukung budidaya ramah lingkungan 12 Kajian cemaran pestisida pada beberapa 100.000.000 80.130.200 80,13 komoditas hortikultura unggulan Sumsel terhadap mutu dan keamanan 13 Peningkatan Komunikasi dan Akselerasi 162.000.000 161.611.200 99,76 Inovasi Teknologi Pertanian 14 Publikasi inovasi teknologi pertanian 68.459.000 39.974.000 58,39 15 Sosialisasi, HPS, Pameran, PENAS, 40 th LITBANG, 145.000.000 126.477.585 87,23 20 th BPTP, 10 th Agro Inovasi dan Temu Koordinasi 16 Pendampingan KRPL di Sumsel 400.000.000 365.058.400 91,26 17 Pengembangan Kebun Bibit Induk 50.000.000 49.390.000 98,78 18 Pengelolaan Kebun Bibit Desa 300.000.000 277.367.500 92,46 19 Pengembangan Pertanian Perdesaan 200.000.000 188.029.000 94,01 Melalui Peningkatan Indeks Pertanaman di wilayah Sumsel 20 Pendampingan program Strategis Kemtan 350.000.000 327.036.910 93,44 PTT Padi di Wilayah Sumsel 21 Pendampingan program Strategis Kemtan 75.000.000 64.260.000 85,68 PTT Jagung di Wilayah Sumsel 22 Pendampingan program Strategis Kemtan 76.500.000 61.408.040 80,27 PTT Kedelai di Wilayah Sumsel 101
  • 102.
    Lanjutan Lampiran 1. 23Pendampingan program Strategis Kemtan 79.500.000 76.962.800 96,81 PSK di Wilayah Sumsel 24 Pendampingan program strategis Kemtan 83.000.000 81.197.040 97,83 Pengembangan Kawasan Hortikultura di Wilayah Sumsel 25 Penyusunan dan Sosialisasi KATAM 75.000.000 72.180.960 96,24 26 Pendampingan Percepatan Penerapan Teknologi 90.000.000 77.040.750 85,60 Tebu Terpadu (P2T3) di wilayah Sumsel 27 Koordinasi PUAP 70.000.000 69.632.398 99,47 28 Kerjasama Penelitian 10.200.000 10.200.000 100,00 29 Pengelolaan ketatausahaan dan SAI 35.800.000 31.629.120 88,35 30 Pengelolaan Administrasi Keuangan 38.700.000 37.668.900 97,34 31 Penyusunan program dan rencana kerja/ 55.500.000 55.068.100 99,22 teknis/program 32 Monitoring dan evaluasi 34.000.000 30.934.600 90,98 33 Pelaporan (LAKIP) 12.000.000 9.354.900 77,96 34 Peningkatan kemampuan SDM 46.500.000 45.843.990 98,59 35 Peningkatan kapasitas kinerja pengkajian 35.000.000 28.220.650 80,63 dan diseminasi 36 Koordinasi dan sinkronisasi antar institusi 42.500.000 41.400.580 97,41 37 Pengelolaan Website 12.300.000 10.556.900 85,83 38 Pengelolaan perpustakaan 10.700.000 10.650.000 99,53 39 Pengelolaan Laboratorium 5.000.000 4.989.800 99,80 40 Pemeliharaan Akreditasi Manajemen 26.000.000 26.000.000 100,00 41 Penyusunan laporan keuangan 310.605.000 302.729.670 97,46 SAI pada sekretariat UAPPA/B-W 42 Sistem Pengendalian Intern/ 16.000.000 12.931.000 80,82 Wilayah Bebas Korupsi 43 Pengelolaan KP Kayuagung 54.211.000 54.032.300 99,67 44 Pengelolaan KP Karangagung 52.700.000 49.604.700 94,13 45 Produksi, Distribusi dan Penguatan 364.020.000 359.715.176 98,82 Kelembagaan BenihPadi di Sumsel 46 Pembayaran gaji dan tunjangan 5.025.038.000 4.904.832.88 0 97,61 47 Kebutuhan Sehari-hari Perkantoran 182.800.000 172.783.600 94,52 48 Langganan Daya dan Jasa 216.000.000 134.690.786 62,36 102
  • 103.
    49 Pemeliharaan Kantor301.476.000 299.674.500 99,40 50 Pembayaran terkait pelaksanaan 184.374.000 184.082.500 99,84 operasional kantor 51 Pembelian Kendaraan Fungsional Roda 4 270.000.000 265.280.000 98,25 52 Peralatan AC dan Komputer 30.000.000 30.000.000 100,00 53 Renovasi gedung 375.000.000 333.927.000 89,05 41 Pengelolaan benih sumber (UPBS) 501.322.000 406.338.400 81,05 42 Pembayaran gaji dan tunjangan 5.108.777.000 5.765.904.34 0 112,86 43 Penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran 739.250.000 559.995.113 75,75 44 Kendaraan pendukung kegiatan UPBS 60.000.000 53.800.000 89,67 45 Pengadaan perangkat pendukung IT 80.000.000 72.900.000 91,13 46 Pengadaan perangkat pengolah data 7.000.000 7.000.000 100,00 47 Peralatan pendukung Lab. Laboratorium diseminasi 339.700.000 337.012.295 99,21 48 Gedung dan bangunan 930.700.000 926.659.500 99,57 49 Administarsi pengadaan barang 6.200.000 4.400.000 70,97 103