I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perubahan lingkungan strategis global dan domestik pada sektor pertanian
secara langsung maupun tidak langsung telah dan akan mempengaruhi pembangunan
pertanian nasional maupun wilayah spesifik lokasi. Mencermati dinamika perubahan
lingkungan strategis tersebut, program dan kegiatan pengkajian dan pengembangan
teknologi spesifik lokasi diarahkan untuk merakit berbagai inovasi pertanian spesifik
agroekosistem yang menghasilkan produk berdaya saing tinggi baik di pasar domestik
maupun internasional. Ini dilakukan dalam rangka mengakselerasi pembangunan
pertanian wilayah, dengan mengembangkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan
berbasis sumberdaya lokal.
Secara umum, arah kebijakan pembangunan pertanian dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 antara lain:
1. Meningkatkan kapasitas produksi melalui peningkatan produktivitas dan
perluasan areal pertanian.
2. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah komoditi pertanian.
3. Meningkatkan produksi dan diversifikasi sumber daya pertanian.
4. Pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.
5. Memperkuat kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Sebagai institusi pusat yang berada di daerah dan merupakan ujung tombak
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) dalam
1
melakukan pengkajian bidang pertanian, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sumatera Selatan pada Tahun 2016 tetap berperan aktif dalam menumbuhkan
inovasi serta mengembangkan teknologi pertanian spesifik lokasi di daerah melalui
impementasi kegiatan-kegiatannya (Peraturan Menteri Pertanian
No:20/Permentan/OT.140/3/2013). Hal ini terkait dengan arah, visi, misi, dan sasaran
utama pembangunan pertanian dalam Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP)
2015-2045, dimana pembangunan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan
nasional, dan penempatan sektor pertanian dalam pembangunan nasional merupakan
kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri,
maju, adil dan makmur. Diyakini, bahwa berkembangnya sektor pertanian yang maju
akan mendorong berkembangnya sektor lain, terutama sektor hilir (agriculture
industries and services) yang maju pula.
Laporan Akhir Tahun BPTP Sumsel ini disusun untuk menginformasikan
implementasi pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel selama Tahun 2016. Laporan ini
pun tentunya dapat dijadikan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan lain yang sejenis
agar lebih baik lagi di masa mendatang.
1.2. Tugas, Visi dan Misi BPTP Sumatera Selatan
1.2.1. Tugas
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.16/Permentan/OT.140/3/2006,
BPTP Sumsel mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian, perakitan dan
pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Beberapa fungsi yang
diselenggarakan oleh BPTP Sumsel untuk melaksanakan tugasnya antara lain:
2
a. Pelaksanaan inventarisasi dan indentifikasi kebutuhan teknologi pertanian spesifik
lokasi
b. Pelaksanaan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna
spesifik lokasi
c. Pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta
perakitan materi penyuluhan
d. Menyiapkan kerja sama, informasi, dokumentasi serta penyebarluasan dan
pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi
pertanian tepat guna spesifik lokasi
e. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan
teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi
f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai
I.2.2. Visi
Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan pertanian terkemuka di dunia
dalam mewujudkan sistem pertanian bio-industri tropika berkelanjutan.
I.2.3. Misi
a. Merakit, menguji dan mengembangkan inovasi pertanian tropika unggul berdaya
saing mendukung pertanian bio-industri.
b. Mendiseminasikan inovasi pertanian tropika unggul dalam rangka peningkatan
scientific recognition dan impact recognition.
I.3. Struktur Organisasi
3
Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya, BPTP Sumatera Selatan yang
merupakan unit kerja Eselon IIIa, berada di bawah lingkup Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). Dalam pelaksanaan kegiatan, secara
struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Sub Bag. TU),
Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP). Secara fungsional
dibantu oleh Tim Program dan 4 (empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri dari:
(1). Kelji. Sumberdaya, (2). Kelji. Budidaya, (3). Kelji. Pasca Panen dan (4). Kelji.
Sosial Ekonomi. Tugas penelitian dan pengkajian dari masing-masing kelji berbeda-
beda, namun saling mendukung dan bekerjasama. Pada Seksi KSPP terdapat unsur
penting yang mendukung pelaksanaan kegiatan yaitu kebun percobaan (KP),
laboratorium dan perpustakaan.
Sub Bag. TU bertugas dalam urusan administrasi, keuangan, kepegawaian dan
rumah tangga Balai. Seksi KSPP bertugas dalam penyiapan dan pengelolaan
informasi, komunikasi, diseminasi hasil penelitian dan pengkajian (litkaji), sarana
laboratorium dan sarana lapangan. Dalam tugasnya Kepala Balai dibantu Tim Program
dalam menyiapkan, penyusunan dan perumusan program litkaji. Tim Program
bekerjasama dengan Kelji yang didukung oleh Seksi KSPP dan Sub Bag. TU.
4
Kepal
Ka. Sie KSPP
Ka. Sub Bag. TU
Gambar 1. Struktur Organisasi BPTP Sumatera Selatan
I.4. Sarana dan Prasarana
Keberhasilan pelaksanaan penelitian dan pengkajian perlu ditunjang dengan
tersedianya sarana dan prasarana. Kantor BPTP Sumsel berada di atas lahan seluas
5.100 m
2
. Di tanah ini berdiri beberapa gedung yang difungsikan untuk kegiatan
administrasi dan tenaga fungsional dengan luas lantai dasar 369,36 m
2
, gedung
keuangan 178,22 m
2
, gedung pelayanan teknis (laboratorium, perpustakaan) dengan
luas lantai dasar 470,69 m
2
, luas garasi kendaraan bagian bawah 173,46 m
2
dengan
bagian belakang berlantai dua, Pos Satpam 36,19 m
2
, gudang 78,59 m
2
, menara air
14,34 m
2
dan luas aula 648,65 m
2
.
Kebun Percobaan Kayuagung dengan luas lahan 26,6 ha, status tanahnya
adalah hak guna pakai. Berada di Desa Sidakersa Kecamatan Kota Kayu Agung
Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan agroekosistem Lebak. Kebun ini dapat
dijangkau dengan mudah dari Palembang dengan kendaraan roda empat. Berada di
tepi jalan Trans Sumatera. Berdasarkan tipenya maka KP ini memiliki lahan lebak
dalam 49,4%, lebak tengahan 19,4% dan lebak dangkal 31,2% dari luas lahan. Kebun
ini berada pada ketinggian 31 m di atas permukaan laut. Adapun KP. Karang Agung
dengan luas 20 ha, status tanahnya adalah pinjaman. Berada di Desa Sukamulia
Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin. Untuk menjangkau kebun ini, setelah
5
Kelji Sosial
Ekonomi
Kelji Pasca
Panen
Kelji
Budidaya
Kelji
Sumberday
mengendarai kendaraan roda empat dari Palembang kurang lebih 3,5 jam, maka
dilanjutkan dengan menggunakan speed boat selama 30 menit. Agroekosistem kebun
ini pasang surut, bertipe luapan B/C yang berada pada ketinggian 29 m di atas
permukaan laut.
Untuk menunjang pelaksanaan tugasnya, maka di lingkup BPTP Sumsel saat ini
terdapat 8 kendaraan dinas roda empat, sedangkan fasilitas lapangan terdiri dari alat
angkut bermotor roda tiga 4 unit, traktor tangan 4 unit, Transplanter 1 unit, perontok
gabah 2 unit, box dryer 2 unit dan ditunjang dengan beberapa fasilitas untuk
pengolahan benih.
Lebih lanjut mengenai keadaan kekayaan barang bergerak lingkup BPTP
Sumatera Selatan sampai akhir tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
6
Tabel 1. Keadaan Kekayaan Barang Bergerak yang Dikelola Lingkup BPTP
Sumatera Selatan tahun 2016
No Jenis Kendaraan No. Polisi Pemakai Keterangan
1. Toyota Kijang
Innova(Bensin)
BG 1342
RZ
Ka. Balai Kendaraan R.4
2. Toyota Kijang Innova(Solar) BG 1073
RZ
Pool Kendaraan Kendaraan R.4
3. Suzuki Vitara BG 1501 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4
4. Toyota Kijang Kapsul BG 1472 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4
5. Toyota Kijang Kapsul BG 1993 LZ KP. Karang
Agung
Kendaraan R.4
6. Toyota Hilux Double Kabin BG 9786
MZ
Pool kendaraan Kendaraan R.4
7. Toyota Hilux Pickup BG 9505
MZ
Pool kendaraan Kendaraan R.4
8. Toyota Hilux Pickup F 8466 A KP. Kayuagung Kendaraan R.4
9. Yamaha YT 125 BG. 6291
NZ
KP. Kayu Agung Kendaraan R.2
10. Yamaha YT 125 BG. 6292
NZ
KP. Kayu Agung Kendaraan R.2
11. Yamaha YT 125 BG. 6295
NZ
Susno Kendaraan R.2
12. Yamaha YT 125 BG. 6294
NZ
M. Arif Sidik P Kendaraan R.2
13. Yamaha YT 125 BG. 6290
NZ
Juwedi Kendaraan R.2
14. Yamaha YT 125 BG 6296
NZ
Budi Raharjo Kendaraan R.2
15. Yamaha YT 125 BG. 6293
NZ
Tukiran Kendaraan R.2
16. Suzuki Trail BG. 5849
NZ
KP. Karang
Agung
Kendaraan R.2
7
17. Honda Vario 150cc BG 2508
ABA
Ka. Balai Kendaraan R.2
18. Viar BG 6414
PZ
KP Kayuagung Kendaraan R.3
19. Viar F 5371 A KP Kayuagung Kendaraan R.3
20. Viar F 5398 A KP Kayugung Kendaraan R.3
21. Viar BG 6415
PZ
KP Karang
Agung
Kendaraan R.3
22. Suzuki A100 BG 5844
NZ
Pool Kendaraan R.2
1.5. Sumber Daya Manusia
Untuk menjalankan program dalam wujud beberapa kegiatan, BPTP Sumsel
memiliki sumber daya manusia sebanyak 83 orang. Tenaga-tenaga ini menyebar di
kantor BPTP Sumsel 65 orang, Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten OKI 12
orang dan Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 6 orang.
Ditinjau dari tingkat pendidikannya, saat ini terdapat 3 orang yang
berpendidikan strata 3; 17 orang berpendidikan strata 2 dan 35 orang berpendidikan
strata 1. Pegawai yang berpendidikan Diploma (2-4) sebanyak 6 orang, Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas 18 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 2 orang dan yang
berpendidikan Sekolah Dasar 2 orang.
Bila dilihat dari fungsinya, maka SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti
21 orang, fungsional penyuluh 10 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional
tehnisi litkayasa 1 orang dan fungsional umum 49 orang. Untuk meningkatkan kinerja
pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan
SDM melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang
yang lebih tinggi. Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk
8
meningkatkan kemampuan SDM melalui pendidikan tinggi. Saat ini terdapat satu
orang staf peneliti yang mengikuti pendidikan Strata 3 dan 1 orang yang mengikuti
pendidikan Strata 2. Berikut rekapitulasi pegawai menurut beberapa kriteria per
Desember 2016.
Tabel 2. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan Ruang per Desember 2016
No Golongan
Ruang
A B C D Jumlah
1 Golongan I 0 0 2 0 2
2 Golongan II 3 3 3 2 11
3 Golongan III 13 23 7 14 57
4 Golongan IV 6 5 2 0 13
Total 22 31 14 16 83
Tabel 3. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan/Ruang dan Pendidikan Akhir
per Desember 2016
No Gol/Ruang S3 S2 S1 D4 D3
SLT
A
SLTP SD Jumlah
1 I/c 2 2
2 I/d - -
3 II/a 2 1 3
4 II/b 2 1 3
5 II/c 1 2 3
6 II/d 1 1 2
7 III/a 6 1 1 5 13
8 III/b 2 13 1 1 6 23
9 III/c 4 3 7
10 III/d 1 4 9 14
11 IV/a 1 4 1 6
12 IV/b 1 2 2 5
9
13 IV/c 1 1 2
Jumlah 3 17 35 2 4 18 2 2 83
Tabel 4. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Kelompok Umur per
Desember 2016
N
O
Gol/
Ruang
21-25
tahun
26-30
tahun
31-35
tahun
36-40
tahun
41-45
tahun
46-50
tahun
51-55
tahun
56-60
Tahu
n
Jumlah
1 I 2 2
2 II 1 2 1 4 3 11
3 III 4 10 7 6 8 15 7 57
4 IV 1 7 5 13
Jumlah 5 12 7 8 12 25 14 83
Tabel 5. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Pendidikan Akhir per
Desember 2016
N
O
Gol/
Ruang
S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah
1 I 2 2
2 II 2 7 2 11
3 III 1 10 31 2 2 11 57
4 IV 2 7 4 13
Jumla
h
3 17 35 2 4 18 2 2 83
Tabel 6. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional per Desember 2016
No
.
Nama Fungsional Jumlah
1. Peneliti 21
2. Penyuluh 10
10
3. Pustakawan 1
4. Teknisi Litkayasa 1
Tabel 7. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Peneliti per
Desember 2016
Tabel 8. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Penyuluh
per Desember 2016
No. Nama Fungsional Jumlah
1 Penyuluh Pertanian Madya 4
2 Penyuluh Pertanian Muda 3
3 Penyuluh Pertanian Pertama 3
4 Penyuluh Terampil Penyelia 0
5 Penyuluh Terampil Pelaksana L 0
6 Penyuluh Terampil Pelaksana 0
7 Penyuluh Terampil Pelaksana P 0
8 Penyuluh Non Klasifikasi 2
Jumlah 12
Tabel 9. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Pustakawan
No
.
Nama Fungsional Jumlah
1 Pustakawan Pertama 1
Jumlah 1
11
No. Nama Fungsional Jumlah
1. Peneliti Utama 0
2. Peneliti Madya 6
3. Peneliti Muda 9
4. Peneliti Pertama 6
5. Peneliti Non Klasifikasi -
Jumlah 21
Tabel 10. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Litkayasa
No. Nama Fungsional JUMLAH
1 Teknisi Litkaya Pemula 1
Jumlah 1
Tabel 11. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
per Desember 2016
No
Jenis
kelamin
20-25
Tahun
26-30
Tahun
31-35
Tahun
36-40
Tahun
41-45
Tahun
46-50
Tahun
51-55
Tahun
56-60
Tahun
Jumlah
1 Laki-Laki 2 2 2 4 9 20 7 46
2 Perempua
n
3 10 5 4 3 5 7 37
Jumlah 5 12 7 8 12 25 14 83
Tabel 12. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Golongan/Ruang
per Desember 2016
N
o
Golongan
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 I/c 2 - 2
2 I/d - - -
Jumlah Gol. I 2 - 2
3 II/a 3 - 3
12
II/b 3 3
4 II/c 2 1 3
5 II/d 2 - 2
Jumlah Gol. II 10 1 11
6 III/a 7 6 13
7 III/b 10 13 23
8 III/c 1 6 7
9 III/d 7 7 14
Jumlah Gol. III 25 32 57
10 IV/a 4 2 6
11 IV/b 4 1 5
12 IV/C 1 1 2
Jumlah Gol. IV 9 4 13
Total 46 37 83
Tabel 13. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan, Pendidikan Akhir dan
Jenis Kelamin per Desember 2016
N
o
Golonga
n
/Ruang
Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin
S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLT
P
SD Jumla
h
L P L P L P L P L P L P L P L P
1 GOL. I - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2
2 GOL. II - - - - - - - - 1 1 7 - 2 - - - 11
3 GOL. III 1 - 3 7 9 22 1 1 2 - 9 2 - - - - 57
4 GOL. IV 1 1 6 1 2 2 - - - - - - - - - - 13
Jumlah 2 1 9 8 1
1
2
4
1 1 3 1 1
6
2 2 - 2 - 83
13
II. HASIL KEGIATAN
2.1. Sub Bagian Tata Usaha
2.1.1. Pendidikan dan Latihan
Untuk meningkatkan pendidikan tenaga peneliti dan non peneliti telah
dilakukan berbagai upaya melalui jalur formal dengan biaya pemerintah maupun
dengan biaya sendiri. Jenjang pendidikan yang diikuti adalah S2 dan S3 dengan
berbagai disiplin Ilmu seperti terlihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Pegawai BPTP Sumsel yang sedang mengikuti pendidikan
N
o
Nama
Progra
m
Jurusan Tempat
Sumber
Biaya
Tahu
n
mulai
Tahun
Selesa
i
1. Herwenita, SP S2 Community
Development
UPLB
Filipina
Badan
Litbang
2013 Belum
Selesa
i
2. Agus
Suprihatin,
SP, M.Sc
S3 Ilmu Tanah UGM
Yogyakart
a
Badan
Litbang
2015 Belum
Selesa
i
Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Penanggung Jawab
Kepegawaian pada tahun anggaran 2016 sejak triwulan pertama sampai pada triwulan
keempat adalah sebagai berikut : 1) Kenaikan Gaji Berkala, 2) Kenaikan Pangkat, 3)
Pembuatan Karpeg, 4) Taspen, 5) Pembuatan Karis dan Karsu dan 6) Pembuatan
Askes.
14
Untuk pengoperasian Software SIMPEG tersebut pada tahun anggaran 2016 telah
dapat dilaksanakan dengan baik, dengan demikian diharapkan dalam penampilan dan
penyajian data-data kepegawaian dapat lebih akurat dan cepat seperti penampilan
daftar Nominatif pegawai berdasarkan tingkat pendidikan, umur, pangkat/golongan dan
Eselon, penampilan kapan kenaikan pangkat pegawai, kenaikan gaji berkala, kapan
pensiun dan pembebasan sementara.
2.1.2. Perlengkapan
Perlengkapan BPTP Sumatera Selatan meliputi barang tidak bergerak dan
barang bergerak. Barang tidak bergerak antara lain meliputi tanah dan bangunan,
sedangkan barang bergerak berupa kendaraan dan alat mesin lainnya.
Pada tahun 2016 telah dilakukan pemeliharaan kantor BPTP, rumah dinas dan
mess BPTP, dengan melakukan pengecatan . Pemasangan awning
2.1.3. Keuangan
Sebagai unit pelaksana teknis dibidang pengkajian dan alih teknologi spesifik
lokasi, dalam melaksanakan tupoksinya BPTP Sumsel pada TA. 2016 didukung oleh
sumber dana yang berasal dari APBN dalam bentuk Rupiah Murni (RM) sebesar Rp
29,330,772,000.00,-
Anggaran BPTP Sumsel dicairkan sesuai dengan Surat Pengesahan DIPA
Tahun Anggaran 2016 dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Apabila dana
tersebut dirinci menurut jenis belanjanya, maka persentase realisasi belanja pegawai
sebesar 99.64%, belanja barang 83.70% dan belanja modal 98.94% seperti pada tabel
berikut
15
Tabel 15. Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP Sumsel Tahun 2016
No. Jenis PAGU (Rp) Realisasi (Rp)
Realisasi
(%)
1. Belanja Pegawai 5,811,652,000.00 5,790,892,918.00 99.64
2. Belanja Barang 22,963,631,000.00 19,220,683,763.00 83.70
3. Belanja Modal 555,489,000.00 549,619,200.00 98.94
JUMLAH 29,330,772,000.00 25,561,195,881.00 87.15
Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP tahun 2016 tersebut sebesar
87.15%. Realisasi belanja barang yang hanya 83,70% tersebut disebabkan oleh
terlambatnya pencairan dana kegiatan karena adanya revisi anggaran dan
terlambatnya pencairan dana kegiatan setelah diajukannya rencana kerja. Realisasi
belanja dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan dan
efisiensi, namun tetap menjamin terlaksananya kegiatan-kegiatan sebagaimana yang
telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-
KL).
Selain dari DIPA BPTP Sumsel 2016, juga terdapat dana dari SMARTD yaitu sebesar
Rp 924.633.000,- yang terdiri dari kegiatan:
1. Implementasi Teknologi Penanganan Segar Cabai untuk Memperpanjang Umur
Simpan , dengan pagu Rp. 145.470.000,- dan terealisasi 100%.
2. Percepatan Diseminasi VUB Padi Melalui Demfarm Teknologi Jarwo Super di
Sumatera Selatan, dengan pagu Rp. 232.705.000,- dan terealisasi 99,62%.
16
3. Kajian dan Uji Pengolahan Air Payau untuk Suplai Air Irigasi di Musim Kemarau
untuk Mendukung IP 300 di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan, dengan pagu
Rp. 135.000.000,- dan terealisasi 100%.
4. Perbaikan Teknologi Proses Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Rendemen
Giling Padi dan Mutu Beras yang Dihasilkan di Lahan Pasang Surut Sumatera
Selatan, dengan pagu Rp. 124.280.000,- dan terealisasi 99,16%.
5. Penggunaan Bahan Pakan Lokal Sumber Protein Potensial untuk Meningkatkan
Produksi Telur Itik Pegagan di Lahan Rawa, dengan pagu Rp. 148.278.000,- dan
terealisasi 97,37%.
6. Revitalisasi KP Kayu Agung, dengan pagu Rp. 138.900.000,- dan terealisasi
81,26%.
Tabel 16. Realisasi penggunaan kegiatan yang di danai SMARTD Tahun 2016
Judul kegiatan Pagu (Rp)
Realisasi
Rp %
Implementasi Teknologi Penanganan Segar Cabai
untuk Memperpanjang Umur Simpan
145.470.000 145.470.000 100,00
Percepatan Diseminasi VUB Padi Melalui Demfarm
Teknologi Jarwo Super di Sumatera Selatan
232.705.000 231.829.150 99,62
Kajian dan Uji Pengolahan Air Payau untuk Suplai
Air Irigasi di Musim Kemarau untuk Mendukung IP
300 di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan
135.000.000 135.000.000 100,00
Perbaikan Teknologi Proses Penggilingan Padi
untuk Meningkatkan Rendemen Giling Padi dan
Mutu Beras yang Dihasilkan di Lahan Pasang Surut
Sumatera Selatan
124.280.000 123.240.000 99,16
Penggunaan Bahan Pakan Lokal Sumber Protein
Potensial untuk Meningkatkan Produksi Telur Itik
148.278.000 144.375.000 97,37
17
Pegagan di Lahan Rawa
Revitalisasi KP Kayu Agung 138.900.000 112.869.200 81,26
Total 924.633.000 892.783.350 96,56
Kegiatan yang didanai oleh SMARTD dan Badan Litbang tahun 2016 rata-rata
terealisasi keuangannya 96,245
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan juga menyetorkan
hasil Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2016 sebesar Rp 452.975.950,-
yang terdiri dari penerimaan fungsional dan penerimaan umum dengan rincian seperti
pada
Tabel 17. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2016
Penerimaan Jumlah (Rp)
Fungsional
KP. Kayuagung 10.235.000,-
KP. Karangagung 21.180.000,-
Unit Pengelolaan Benih Sumber 365.768.200,-
Jumlah penerimaan fungsional 397.183.200,-
Jumlah Penerimaan umum 55.792.750,-
Jumlah PNBP 452.975.950,-
Dari PNBP tersebut, maka 73,40% merupakan penerimaan fungsional dan 26,60% dari
penerimaan umum. Adapun anggaran dan realisasi dana pada masing-masing
kegiatan (kegiatan rutin, penelitian, penunjang penelitian) yang dilaksanakan di BPTP
Sumsel terlampir.
2.1.4. Penyusunan Laporan Keuangan SAI pada Sekretariat UAPPA/B-W
18
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan Negara, maka diperlukan perangkat hukum yang
didasarkan atas prinsip umum yang sehat, modern dan dinamis. Untuk menjawab
tantangan tersebut, maka pemerintah telah membuat suatu program Sistem Akutansi
Pemerintah Pusat (SAPP) yang telah diperbaharui untuk memonitor apakah keuangan
Negara telah dijalankan secara efektif dan efisien serta telah sesuai dengan tujuan
pengeluaran belanja sebagaimana tercantum dalam Daftar Isian Pengguna Anggaran
(DIPA), maka diperlukan informasi yang relevan dalam bentuk laporan-laporan yang
seragam untuk seluruh instansi pusat sampai ketingkat satuan unit kerja di daerah.
Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem
Akutansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan adalah sebagai penanggung jawab UAKPA, yang
mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan BPTP
berupa laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Dengan demikian penyusunan dan penyajian laporan BPTP ini merupakan perwujudan
pertanggung jawaban atas penggunaan anggaran maupun barang pada BPTP
Sumatera Selatan.
Untuk menunjang pelaksanaan program SAI pada Satuan Kerja dengan
mempergunakan Sistem Akutansi Berbasis Akrual (SAIBA) pada Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sumatera Selatan pada tahun 2016 telah dibentuk Unit Akutansi
Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Untuk pelaksanaan operasional kegiatan
tersebut BPTP Sumatera Selatan telah dilengkapi dengan struktur organisasi dan telah
19
mendapat alokasi dana melalui DIPA Nomor DIPA-018.09.2.567495/2016 tanggal 7
Desember 2015 Tahun Anggaran 2016 sebesar Rp. 29,330,772,000.00,- (Dua puluh
Sembilan milyar tiga ratus tiga puluh juta tujuh ratus tujuh puluh dua ribu rupiah)
Laporan akhir kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA)
tahun 2016 ini disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akutansi
Pemerintah (SAP).
Dari hasil pelaksanaan kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran
(SAKPA) yang dilaksanakan BPTP Sumatera Selatan untuk tahun anggaran 2016
maka dihasilkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan laporan keuangan
satker serta disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005
tentang Standard Akutansi Pemerintah. Secara kumulatif, realisasi anggaran pada TA
2016 mengalami penurunan dibandingkan dengan TA 2015, hal ini disebabkan adanya
pemblokiran dana (savebloking) senilai Rp 2.000.000.000,- . Pada TA 2016, pencairan
anggaran selain belanja pegawai/gaji baru terealisasi pada bulan Februari.
Perkembangan pencairan dana dari bulan April hingga Oktober terlihat membentuk
garis lurus dengan gradien yang hampir sama, yang berarti pada bulan-bulan tersebut
terjadi pencairan anggaran dalam jumlah yang hampir sama. Pada bulan–bulan
berikutnya (Nopember dan Desember), pencairan anggaran berlangsung lebih cepat,
hingga akhirnya mencapai prosentase realisasi anggaran DIPA Umum sebesar
87.15%. Angka ini berdasarkan pencairan anggaran melalui Surat perintah Membayar
(SPM) yang Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) nya diterbitkan oleh Kantor
Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Palembang.
20
Peningkatan pencairan dana pada bulan Nopember dan Desember disebabkan
transaksi pembayaran belanja modal pada umumnya baru dilaksanakan pada bulan-
bulan tersebut. Neraca Semester II 2016 per 31 Desember disusun berdasarkan atas
Laporan Keuangan Kementerian Pertanian tahun 2016, dan adanya proses kapitalisasi
SIMAK-BMN. Gambaran perkembangan neraca tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Posisi Neraca BPTP Sumsel pada Semester II/ 31 Desember 2016 seperti terbaca
berikut ini:
A. Aset Tetap sebesar Rp 229.827.844.344,- terdiri dari: 1) Tanah Rp
212.122.829.960,- 2) Peralatan dan Mesin Rp 7.404.807.699,- 3) Gedung dan
Bangunan Rp 19.557.235.512,- 4) Jalan Irigasi dan Jaringan Rp 21.002.460.850,- ,
5) Aset Tetap Lainnya Rp 87.435.346 6) Konstruksi dalam pengerjaan Rp
112.869.200,- dan akumulasi penyusutan senilai Rp 30.459.794.223,-
B. Aset Lainnya sebesar 19.615.259,- terdiri dari : 1). Aset tak berwujud Rp
10.637.700,- 8) Aset lain-lain Rp 303.220.739,- sedangkan total akumulasi
penyusutan sebesar Rp 294.243.180,-
Pengelolaan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) pada Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Sumatera Selatan telah dapat dilaksanakan/dioperasionalkan sebagaimana
mestinya walaupun masih terdapat kendala dan hambatan.
2.1.5. Sistem Pengendalian Intern/Wilayah Bebas Korupsi
Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan
terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien,
sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam
perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan
21
wewenang, praktek KKN, dan lemahnya pengawasan. Sejalan dengan hal tersebut,
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang
Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program
reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil
utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang
bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik. Dalam rangka
mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi pemerintah perlu
untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi
percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainnya. Untuk itu, perlu secara konkret
dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya pembangunan
Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih
Melayani (WBBM).
Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan
dan akuntabel menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih
Melayani (WBBM) maka diperlukan sistem pengendalian atas penyelenggaraan
kegiatan pemerintahan. Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan
dilaksanakan dengan berpedoman pada Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
(SPIP). Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan
dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai
untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui
kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset
negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. SPI diselenggarakan
secara menyeluruh baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
22
Pengawasan Intern (PI) adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi,
pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan
fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan
telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Sistem pengendalian intern ini dilandasi pada pemikiran bahwa sistem
pengendalian intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya
manusia untuk memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak.
Penyusunan dan pengembangan unsur SPI berfungsi sebagai pedoman penyelenggara
dan tolok ukur pengujian efektivitas penyelenggaraan SPI. Pengembangan SPI perlu
mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat (cost and benefit), sumber daya manusia,
kejelasan kriteria, pengukuran efektivitas dan perkembangan teknologi informasi, serta
dilaksanakan secara komprehensif.
Di dalam Undang-undang No. 28 tahun 1999, UU No. 17 Tahun 2003, UU No.
1 Tahun 2004, PP No. 8 Tahun 2006, PP No. 60 Tahun 2008, Kepres No. 80 Tahun
2003, Perpres No. 95 Tahun 2007, Perpres No. 9 Tahun 2005, Perpres No. 20 Tahun
2008, Permentan No. 341/Kpts/OT.140/ 9/2005, dan Permentan No.
12/Permentan/OT.140/2/2007, bahwa Sistem Pengendalian Intern (SPI) harus berjalan
sebagaimana yang diindikasikan dan diisaratkan. Sejalan dengan hal tersebut, maka
diterbitkan Keputusan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan
Nomor : 025/SK/PW.420/1.12.8/01/2016 tanggal 4 Januari 2016 Pembentukan Tim
Sistem Pengendalian Intern di BPTP Sumatera Selatan.
23
Sebenarnya ada atau tidak ada Satlak SPI, sistem pengendalian intern harus
berjalan, karena SPI ada dan melekat pada pimpinan. Keberadaan Satlak SPI
hanyalah sebagai “alat”, sehingga berjalan atau tidaknya Satlak SPI sangat bergantung
kepada komitmen pimpinan, apakah “alat” tersebut mau digunakan atau tidak
digunakan.
Sistem Pengendalian Intern bertujuan untuk: (1) Mewujudkan sistem
pengendalian intern; (2) Mendorong terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien
dan efektif (3) Mendorong terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Mendorong
terlaksananya pengamanan aset negara; dan (5) Mendorong meningkatnya ketaatan
terhadap peraturan perundangan. Sedangkan keluaran yang diharapkan adalah: (1)
Terwujudnya sistem pengendalian; (2) Terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien
dan efektif; (3) Terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Terlaksananya
pengamanan aset negara; (5) Meningkatnya ketaatan terhadap peraturan
perundangan.
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-1 tahun 2016 ini, telah
melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi pembuatan Surat Keputusan yang
diperlukan dalam memulai kegiatan tahun anggaran 2016, pembahasan proposal
kegiatan, pemaparan RKTM/ROPP/RDHP serta membuat rencana kerja SPI tahun
2016. Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain
pelaksanaan masing-masing kegiatan sesuai surat keputusan yang telah dibuat,
melakukan penajaman proposal dan perbaikan RKTM/ROPP/RODHP. Di samping itu,
pemantauan yang dilakukan Satlak PI sehubungan dengan awal tahun anggaran, kami
mencoba memantau terhadap persiapan pelaksanaan kegiatan yang sangat berkaitan
24
dengan kegiatan perencanaan. Selain itu dilakukan Penyelesaian Tindak Lanjut LHP
Irjen pemeriksaan TA 2015..
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-II tahun 2016 ini, telah
melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi persiapan audit external oleh tim
survilence Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara
lain Revisi dokumen yang telah dilakukan belum mencakup usulan perubahan
dokumen sesuai yang dipersyaratkan, dan melakukan analisa data secara kontinu
terhadap penyedia pengadaan barang dan jasa.
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-III tahun 2016 ini, telah
melaksanakan kegiatan pengendalian inventarisasi ulang terkait DIR dan DBR pada
aseet di kantor BPTP Sumsel, karena adanya perpindahan ruangan dan telah
menghasilkan rekomendasi yaitu segera melakukan penataan kelengkapan dokumen
di masing-masing bagian ruangan .
Melakukan persiapan penyelesaian BAST barang persediaan TTP di 3 (tiga)
Kabupaten. Melakukan pendampingan dengan tim monitoring dan Evaluasi dari Puslit
Balitbangtan terhadapkegiatan TTP Banyuasin dan TTP Musi Banyuasin.
Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-IV tahun 2016 ini, telah
melaksanakan Pengamaan Asset Balit Penelitian sembawa terkait dengan
Pembangunan Pagar Permanen oleh BPTU-HPT Sembawa yang memanfatkan lahan
kementerian dengan sertifikat Hak Pakai Nomor 02/1979 ± 1.950 M yang termasuk
asset BMN Balitbangtan Palembang.
25
Melakukan Sistem Pengendaluian Intern terhadap pembanguan dan
pengadaan Barang dan Jasa pada kegiatan TTP Kabupaten OKU dan TTP MUBA dari
Tim Satlak PI BPTP Sumatera Selatan.
Audit PNBP atas Pemanfaatan BMN Kementan oleh PT RPN/Ex LPRI (Balit
Sembawa) yang dicatat pada SIMAK BMN Satker BPTP Sumsel.
Monitoring dan Evaluasi Kegiata Tim Monev dari Puslitbangtan dan telah dilakukan
Monitoring dan Evalausi di kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) oleh Tim dari
Balitbangtan Kementerian Pertanian. Masing-masing telah menghasilkan rekomendasi
yaitu Untuk mempercepat pelaksanaan realisasi bangunan fisik pada kegiatan Taman
Teknologi Pertanian yang masuk tahun pertama
Tabel 18. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan
Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-1 Tahun 2016
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak Lanjut
Dari Kepala BPTP
26
1 Pembuatan SK
Struktur Organisasi
BPTP Sumsel, SK
Organisasi Satlak PI,
SK Pengelola
Keuangan, SK
Pengadaan Barang
Jasa, SK
Pemeriksaan Barang
dan Jasa, SK
Pengelola Asset, SK
penanganan tindak
lanjut LHP
Pembuatan SK
berdasarkan tupoksi
dan kompetensi
masing-masing
penanggung jawab
Setelah SK
dikeluarkan
ditindaklanjuti
dengan
pelaksanaan
kegiatan
berdasarkan
tugas masing-
masing
penanggung
jawab
Untuk di laksanakan
dengan baik
2 Pembahasan
proposal
Pembahasan dihadiri
oleh semua
penanggung jawab
kegiatan
Proposal
kegiatan
dipersempit,
agar lebih fokus
dalam
pelaksanaannya
Untuk dilaksanakan
dengan baik dan
memperbaiki proposal
3 Pemaparan
RKTM/ROPP/RODH
P
Pemaparan dihadiri
oleh semua
penanggung jawab
kegiatan dan tm TPK
Perbaikan
RKTM/ROPP/R
ODHP agar
segera
dilakukan
Untuk laksanakan dan
secepatnya
melakukan perbaikan
proposal
4 Pembuatan Rencana
Kerja SPI tahun 2016
Dilakukan oleh Tim
Satlak SPI
Rencana Kerja
SPI perlu
dukungan penuh
dari pimpinan
dan pegawai
BPTP Sumsel
Untuk dilaksanakan
pembuatan rencana
kerja berkoordinasi
dengan kepala balai
27
Tabel 19. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan
Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-II Tahun 2016
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak
Lanjut Dari
Kepala BPTP
1 Persiapan Audit
External oleh
tim Survilence
Mempersiapkan Dokumen-
dokumen terkait
Merevisi apabila
terdapat
ketidaksesuaian
Di laksanakan
dan segera
dikoordinasikan
dengan Tim SPI
2 Pembinaan
SDM
Telah dilakukan relokasi
pegawai dengan
memperhatikan kompetensi
agar kegiatan dapat
berjalan secara efektif
Pembinaan Disiplin
Pegawai
Kedepan harus
dilakukan evaluasi
terhadap
kompetensi
seluruh pegawai
sehingga bisa
disusun roadmap
pengembangan
pegawai
Dilaksanakan
evaluasi SDM
sesuai
kompetensi
Tabel 20. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan
Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-III Tahun 2016
No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak
Lanjut Dari
Kepala BPTP
1 Pengendalian • Tim Melakukan Update Untuk segera
28
Inventarisasi
Penyusunan
Daftar Barang
Ruangan di kantor
BPTP Sumsel
Pengendalia
n berasal
dari BPTP
Sumsel
• Pelaksanaan
audit
dilakukan
selama 3
hari
• Dalam
pelaksanaan
tim
mengajukan
pertanyaan
dan
kelengkapan
dokumen ke
bagian
perlengkapa
n
DBR pada masing-
masing ruangan
karena adanyan
perindahan ruangan
dan terbatasnya SDM
melaksanakan
penataan ulang
barang pada
masing-masing
ruangan
2. Penyelesaian
BAST barang
persediaan pada
kegiatan Taman
Teknologi
Pertanian (TTP) di
3 kabupaten
Provinsi Sumatera
Selatan
• Persiapan
dokumen
dengan
melakukan
rekapitulasi
barang-
barang
persedian
• Koordinasi
dengan
pemerintah
daerah dan
melakukan
pengecekan
fisik
• Penyelesaian
kelengkapan
dokumen dan
Penanda
tanganan
BAST
dilakukan akhir
tahun 2016.
Untuk dilengkapi
dan dilaksanakan
segera.
29
dilapangan.
Tabel 21. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan
Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwula IV Tahun 2016
No. Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi
Catatan Tindak
Lanjut Dari
Kepala BPTP
1 Pengendalian
Asset Balit
Penelitian
sembawa terkait
dengan
pembangunan
pagar Permanen
oleh BPTU-HPT
Sembawa yang
memanfatkan lahan
kementerian
dengan sertifikat jal
pakai Nomor
02/1979 ± 1.950 M
yang teramsuk
asset BMN
Balitbangtan
Palembang.
• Audit dilakukan
oleh Tim BPTP
pada Bulan
Oktober 2016
• Pengendalian
Asset
Pembangunan
Pagar
permanen
seluas ± 1.950
m yang
termasuk asset
BMN
Balitbangtan
Palembang
• Melakukan
pembangunan
pemagaran
berdasarkan
dengan Sertifikat
Hak Pakai No 2
tahun 1980
danGambar
situasi Nomor 4
tahun 1979 yang
• dikeluarkan oleh
Badan
Pertanahan
Nasional
Untuk
dilaksanakan
sesuai dengan
hasil
pemeriksaan.
2 Audit PNBP atas
Pemanfaatan BMN
• Tim Audit
berasal dari
• Kuasa
Pengguna
30
Kementan oleh PT
RPN/Ex LPRI (Balit
Sembawa) yang
dicatat pada
SIMAK BMN Satker
BPTP Sumsel.
Inspektorat
Jenderal
• Pelaksanaan
audit dilakukan
selama 8 hari
kerja terhitung
tanggal 7
Desember
sampai dengan
14 Desember
2016.
• Audit ini adalah
menindak
lanjuti temuan
BPK RI dengan
Melakukan
penilaian
terhadap
pemanfaatan
asset milik
Kementerian
pertanian tyang
dikuasai oleh ex
LPRI
Barang (KPB)
bersama PT
RPN Balit
Sembawa untuk
melakukan
koordinasi
dengan kantor
Dispenda/Pajak
Kab Banyuasin
• Kuasa
Pengguna
Barang (KPB)
melakukan
koordinasi
dengan KPKNL
Palembang
terkait IP ulang,
penghapusan
dan perjanjian
sewa
• BPTP
berkoordinasi
dengan Balit
Sembawa untuk
Melengkapi
dokumen proses
Penetapan
Status
Pengguna (PSP)
dan Perjanjian
sewa atas
Bangunan.
• KPB melakukan
pemantauan
terhadap
31
pemeliharaan
dan
pengamanan
asset BMN
Kementerian
Pertanian.
3 MONEV kegiatan
TTP Balitbangtan
Monev dilakukan oleh
tim Monev Balitbangtan
Untuk mempercepat
realisasi pengadaan
Alsin, bangunan dan
melakukan pada Taman
Teknologi Pertanian dan
melakukan
mempercepat realisasi
pembangunan fisik
bangunan
Untuk segera
melakukan
percepatan
realisasi tanam
dan realisasi
pengadaan
barang dan
jasa
Tabel 22. Program Kerja Satuan Pelaksanaan Pengendalian Intern BPTP Sumsel
(Satlak PI BPTP Sumsel) Tahun 2016
No. Judul Kegiatan Target Waktu Keterangan
1 Penetapan SK Struktur Organisasi BPTP
Sumsel TA. 2016
Februari
2 Membentuk struktur organisasi Satlak PI Maret
32
dengan Keputusan Kepala Balai berikut
uraian tugas dan fungsinya
3 Penyusunan RKTM Februari
4 Penyusunan program kerja PI April-Mei
5 Penyusunan juknis PI Juni
6 Rapat Koordinasi
Pertemuan Rutin Berkala Satlak PI
Juni-November
7 Penyusunan/penambahan SOP April
8 Pengendalian Internal/Audit Juni-Desember
9 Monev Ex-Ante dan SPI Mei dan November
10 Monev On-Going dan SPI Maret, Juni,
September,
Desember
11 Monev Ex-Post dan SPI Insidentil
12 Penyusunan Laporan
• Laporan Bulanan
• Laporan Triwulan
• Laporan Semester
• Laporan Tahunan
September-Oktober
13 Melakukan penataan arsip yang tertib (bisa
dalam hard copy, soft copy, rekaman suara
digital, video, dll).
November
14 Menyiapkan pelaksanaan audit surveillance
dan resertifikasi ISO 9001:2008
Juni
15 Penyelesaian LHP (BPK;Itjen:Lembaga
Pemeriksa Lainnya)
Paling lambat dua
bulan setelah
menerima LHP
16 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Setiap 6 bulan
2.2. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian
2.2.1. Kerjasama Penelitian
33
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan sebagai salah satu
lembaga publik yang mengkaji dan menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi
dituntut untuk lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kerjasama
dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). Tujuan kegiatan kerjasama ini
adalah: 1). Mencari informasi kegiatan yang diperlukan dalam pembangunan pertanian
di daerah saat ini, 2). Menginformasikan kinerja pelaksanaan kerjasama BPTP Sumsel
dengan berbagai stakeholder. Pada tahun 2016 akan dilakukan kerjasama dalam dan
luar negeri. Kerjasama dalam negeri terdiri dari: 1) kerjasama antara BPTP Sumsel
dengan BMKG Stasiun Klas I Kenten Palembang, 2) kerjasama luar negeri , yaitu
Closing Rice Yield Gaps in Asia (CORIGAP).
2.2.2. Pengelolaan Kebun Percobaan Kayuagung
Kebun Percobaan Kayu Agung adalah salah satu kebun percobaan yang ada di
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ( BPTP Sumsel ) dan dibawah Badan Litbang
Pertanian,yaitu dari 118 Kebun Percobaan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi
pertanian, koleksi plasma nuftah dan memproduksi benih sumber.
Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Kayuagung
Kecamatan Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang memiliki agro
34
ekosistem lahan rawa lebak, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi
teknologi yang dilakukan oleh BPTP Sumatera Selatan. Yang bertujuan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan Kebun Percobaan Kayu Agung agar berfungsi sebagai
media pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara
memperlihatkan, memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan
rawa lebak menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi
petani. Pada kegiatan pengelolaan KP Kayuagung ini dilakukan penanaman
percobaan dan penelitian padi kerjasama dengan Balai Besar Penelitian Padi
Sukamandi. Penelitian tersebut diantaranya: Pengendalian Penyakit BLAST, Uji Daya
Hasil Pendahuluan (UDHP) Padi Rawa Lebak MT.1 2016, OBSERVASI Pengelolaan
dan Identifikasi Gulma Padi Rawa Set 1. Untuk tanaman jagung komposit ditanam di
surjan seluas 500 m2 terdiri dari 2 varietas yaitu Sukmaraga dan Srikandi Putih.
Pemeliharaan kebun karet yang siap sadap sebanyak 300 batang umur 6 tahun, dan
kelapa sawit 75 batang sudah mulai produksi, dengan pendekatan
pemupukan,pembersihan gulma, pengendalian penyakit. Pemeliharaan kebun entres
karet adalah kerjasama dengan Balai Penelitian Sungai Putih Medan yang terdiri dari 6
klon yaitu IRR 104, GT 1, BP 260,BPM 1,BPM 24 dan RRIC 100, masing-masing 600
batang. Dengan jarak tanam 1,2 X 1,2 m , waktu tanam 13 Nopember 2012.Budidaya
ikan nila sebanyak 2000 ekor dan ikan Patin sebanyak 2000 ekor dengan
pemeliharaan secara intensif dengan sistim waring ukuran 4 x 6 m. Pada kegiatan
pengelolaan KP Kayu Agung dilakukan juga perbanyakan bibit buah untuk sebagai
koleksi (SDG), Pembesaran ayam kampung unggul baru(KUB) merupakan upaya
pengembangan ayam di Kebun percobaan dengan jumlah induk ayam 16 ekor,
/pejantan 8 ekor,dan anakan, 9 DOC. Pemeliharaan kebun koleksi penanaman tahun
35
2013 yang meliputi tanaman Duku 60 batang, Durian 50 batang dan tanaman manggis
50 batang. Sementara untuk penanaman tahun 2015 ini 10 duku, 10 Manggis dan 10
Durian untuk penyulaman disamping itu dilakukan pendataan tanaman koleksi yang
ada di lingkungan komplek KP Kayuagung.Budidaya ternak sapi dengan sistem
kandang komunal sejumlah 5 ekor betina dan 1 jantan ditahun ini untuk pakan ternak
menggunakan pakan fermentasi disamping pakan hijauan. Hasil kebun percobaan
Kayu Agung berupa padi kosumsi 1.500 kg, Ikan Nila 68 kg, Ikan Patin 95 kg, Jagung
Manis 105 kg Kangkung 45 kg Jagung Pipilan 100 kg dan Kacang hijau 18 kg.
Secara umum dapat disampaikan bahwa kegiatan Pengelolaan KP Kayuagung
di lahan rawa lebak sudah berjalan dengan baik sesuai dengan rencana namun masih
dirasakan adanya kekurangan yang disebabkan oleh faktor alam, iklim dan hama
penyakit tumbuhan.
II.2.3. Pengelolaan Kebun Percobaan Karang Agung
36
Kegiatan penelitian di KP Kayu Agung Pemanfaatan Kebun untuk tanaman sayuran
Kebun Percobaan Karang Agung adalah salah satu Kebun Percobaan yang
ada di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, dan di bawah Badan
Litbang Pertanian. Ada 118 Kebun Percobaan yang tersebar diseluruh Indonesia.
Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian, demonstrasi plot teknologi spesifik lokasi, koleksi plasma nutfah dan
memproduksi benih sumber.
Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Karang Agung
Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin yang memiliki agroekosistem lahan rawa
pasang surut, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi teknologi yang
dilakukan oleh BPTP Sumatera Selatan. Yang bertujuan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan Kebun Percobaan Karang Agung agar berfungsi sebagai media
pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara memperlihatkan,
memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan rawa pasang
surut menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi
petani.
Kegiatan yang dilaksanakan pada musim tanam Th 2016 di Kebun Percobaan
Karang Agung meliputi demonstrasi plot beberapa varietas/ galur padi rawa, jagung
manis, kelapa sawit, kelapa, koleksi plasma nutfah durian, manggis dan duku.
Kegiatan kerja sama dengan Balai Besar Padi Sukamandi.
Pertumbuhan tanaman padi secara umum baik. Padi yang ditanam di KP
Karang Agung pada MT1 yaitu ; Mendawak, Inpara 3, Inpara 7 dan Banyuasin
diperoleh hasil 3100 kg Benih Pokok (BP). Dan pada MT2 tanam pada bulan
Desember 2016 yang ditanam adalah Mendawak, Banyuasin, Inpara 3 dan Inpara 7.
Penanaman jagung manis seluas 0,05 ha. Diperoleh hasil 700 kg. Pemeliharaan kebun
37
kelapa sawit seluas 2,5 ha terdiri dari 350 batang usia produktif TM, diperoleh hasil
4150 kg Tandan Buah Segar (TBS). Pemeliharaan kelapa sebanyak 40 batang
diperoleh hasil 1200 butir. Kebun Pengelolaan Sumber Daya Genetik buah- buahan
seluas 1 ha, tanam bulan Desember 2013.
Tanaman Padi di KP Karang Agung Tanaman Kelapa Sawit
II.2.4. Pengelolaan Perpustakaan
Sebagai salah satu bagian dari unit kerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sumatera Selatan, Perpustakaan BPTP Sumatera Selatan memilki peran
dalam mendukung fungsi dan tugas pokok melalui penyediaan informasi-informasi
pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan pada era
teknologi informasi dan komunikasi saat ini ingin meningkatkan pelayanan informasi
38
pertanian. Untuk mewujudkan keinginan ini, BPTP Sumatera selatan melakukan
kegiatan pengelolaan perpustakaan. Ruang lingkup kegiatan ini,meliputi: 1.)
pengumpulan data 2.) pengolahan data, 3.) pelatihan, 4.) pengambilan materi dan 5.)
pembuatan laporan. Harapan dari kegiatan ini, BPTP Sumatera Selatan dapat
memberikan pelayanan informasi pertanian dengan cepat dan lengkap sehingga
memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi pemustaka.
Kegiatan pengelolaan perpustakaan TA. 2016 telah dilakukan dengan baik dan
benar. Kegiatan tersebut antara lain meliputi; a). Penerimaan bahan koleksi, sebanyak
195 judul 442 eks, b). Jumlah pemustaka yang berkunjung, kunjungan pemustaka ke
perpustakaan BPTP Sumsel sebanyak 28 orang, c). Jumlah pencarian bahan koleksi,
pencarian bahan koleksi sebanyak 34, d). Pengolahan bahan pustaka, dengan rincian
klasifikasi & pelabelan 52 judul dari rencana target 50 judul, unggahan ke data
simpertan V2 10 judul, e). Pengambilan beberapa materi pertanian baik berupa foto
koleksi, file video terbaru sebagai bahan untuk membuat buletin atau publikasi lainnya
ataupun juknis-juknis pertanian. Koordinasi tim perpustakaan BPTP Sumatera Selatan
dilakukan dalam bentuk rapat ataupun diskusi kecil. Untuk pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) pengelola perpustakaan khusus BPTP Sumsel, telah
mengikutsertakan satu orang pengelola ke kegiatan yang diadakan oleh PUSTAKA,
yaitu 1).Produksi Workshop dan Bahan Promosi Teknologi Pertanian Lingkup Badan
Litbang Pertanian, Kementan yang berlangsung di Aula BP2TP Bogor 29 Juni – 2 Juli
2015. 2). Temu Teknis pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian dengan
tema “Peningkatan Kinerja Pengelolaan perpustakaan melalui Sistem Informasi
Manajemen Perpustakaan Pertanian” yang dilaksanakan di Makasar pada tanggal 7 –
10 Mei 2015.
39
II.2.5. Pengelolaan Website
Kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat
dan dinamis sangat membantu untuk pengelolaan informasi terutama dalam
menyajikan produk informasi kepada para pimpinan, pengelola dan perlaksana
program serta pengguna lain yang membutuhkannya. Dengan kemajuan di bidang
teknologi informasi dan komunikasi, pelayanan informasi dapat dikemas dan disajikan
secara lebih menarik, cepat, dan meluas melalui jaringan elektronik, sehingga dapat
menjembatani kesejangan komunikasi antara pembuat kebijakan di tingkat pusat
dengan para pengelola dan pelaksana program di lapangan. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sebagai salah satu lembaga publik
memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses informasi yang terbuka kepada
masyarakat. Kewajiban tersebut sebagai bagian dari fungsi birokrasi pemerintah yang
dituangkan dengan disyahkannya Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang
40
Aktivitas kunjungan di perpustakaan
Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Penetapan UU tersebut bertujuan untuk
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab (good
governence) melalui penerapan prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi dan
suupremasi hukum serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap proses
kebijakan publik. Website perlu dikelola dengan baik sehingga dapat memberikan
kepuasan tersendiri bagi pengguna. Pada tahun ini dilakukan perubahan tampilan
website secara keseluruhan agar lebih menarik dan informatif. Sampai akhir tahun
2016, kegiatan yang telah dilakukan meliputi perbaikan tampilan Website dengan
memperbahrui isi tautan sesuai informasi terkini, peningkatan jaringan, dan
peningkatan kompentensi SDM Tim Pengelola. Updating berita sampai akhir tahun
telah dilakukan sebanyak 66 (enam puluh enam) kali, dengan rincian berita sebanyak
62 (enam puluh dua) kali dan infotek sebanyak 4 (empat) kali. Pembahruan informasi
juga dilakukan pada Tautan Beranda, Profil, Fasilitas, Program, Produk, Publikasi, Info
Publik, Video, Kerjasama, UPBS, SDM, dan Galeri Kegiatan.
Pelatihan pengisian konten website
II.2.6. Pengelolaan Laboratorium
41
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 20/Permentan/OT.140/3/2013,
BPTP memiliki lima fungsi tiga diantaranya yaitu 1) pelaksanaan inventarisasi dan
kebutuhan pengguna teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi, 2) melakukan
penelitian, pengkajian, dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi,
dan 3) pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta
perakitan materi penyuluh. Menyelaraskan dengan fungsi-fungsi tersebut dan dengan
mempertimbangkan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada, pada tahun ini
kegiatan pengelolaan laboratorium memiliki ruang lingkup sebagai berikut; a)
melakukan pemeliharaan alat-alat laboratorium, dengan tujuan meningkatkan
pelayanan pengguna dalam melakukan penelitian dan pengkajian teknologi tepat guna
spesifik lokasi dan b) menfasilitasi pengguna laboratorium dalam melakukan kajian dan
kebutuhan informasi teknologi. Sampai akhir tahun, pelaksanaan pengelolaan
laboratorium cukup baik. Pemeliharaan dan penyediaan sarana yang dibutuhkan telah
seoptimal mungkin dilaksanakan. Laboratorium dapat dimanfaatkan oleh pengguna
dalam melaksanakan kajian kegiatan, baik dibantu langsung oleh pengelola
laboratorium maupun yang dikerjakan secara mandiri. Pada tahun 2016 tercatat total
kunjungan pengguna laboratorium sebanyak 121 kunjungan.
42
Kegiatan pencatatan sampel
2.2.7. Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian
Dalam mempercepat upaya pembangunan pertanian di Sumatera Selatan,
sudah banyak inovasi yang sudah dihasilkan untuk memacu peningkatan produktivitas
berbagai komoditas baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun
peternakan. Semua inovasi yang sudah dihasilkan tersebut akan berarti apabila bisa
disebarkan dan diadopsi oleh para pengguna dan mampu meningkatkan produktivitas
dan mutu tanaman yang diusahakan. Fasilitas fasilitas yang dapat dijadikan sarana
untuk memfasilitasi keterbukaan akses informasi publik dan juga sebagai sarana
publikasi dan promosi informasi seperti ; sarana media cetak, dan media elektronik.
Adapun Media cetak yang telah dipublikasikan tahun 2016 antara lain Juknis, Leaflet,
Sedangkan untuk Media Elektronik berupa Siaran Televisi dan Siaran radio untuk
Siaran Pedesaan. Hasil kegiatan Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian tahun 2016,
adalah tersiarnya Naskah Siaran Radio sebanyak 14 Judul, bekerjasama dengan
Lembaga Penyiaran Publik (LPP)-RRI stasiun Palembang, dan untuk Siaran Televisi
sebanyak 2 kali berupa Derap Sriwijaya dan Sahabat tani, bekerjasama dengan
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) – TVRI Stasiun Sumatera Selatan dan Babel di
Palembang. Bahan Cetakan Publikasi dan Diseminasi tersebut diatas telah
didistribusikan kepada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan (BP4K) dan Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan (BP3K) se Sumatera Selatan, Perpustakaan BPTP Sumatera Selatan,
Perpustakaan Daerah, Kebun Percobaan Kayu Agung dan Kebun Percobaan Karang
Agung.
2.2.8. Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran
43
Inovasi teknologi diperlukan dalam upaya meningkatkan produktivitas, stabilitas
serta equitabilitas produksi. Sejak dibentuk, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Sumatera Selatan berperan dan terus berupaya untuk menghasilkan berbagai inovasi
di bidang pertanian. Agar inovasi tersebut diadopsi petani, diperlukan berbagai upaya
seperti sosialisasi, pameran dan display. Untuk itu kegiatan ini bertujuan :
Mendiseminasikan hasil litkaji melalui pameran dan pembuatan display untuk
mendorong pemanfaatan teknologi inovasi untuk perbaikan sistem usaha pertanian
dan pengolahan hasil-hasil pertanian dan ikutannya. Dengan demikian yang menjadi
ruang lingkup kegiatan ini adalah: (1). Melakukan Sosialisasi Inovasi Teknologi Badan
Litbang Pertanian; (2) Melakukan pameran sesuai permintaan atau undangan
penyelenggara; (3). Melakukan peragaan berupa display beberapa contoh tanaman
dengan cara tanamnya. Selama tahun 2016, kegiatan Sosialisasi, Temu Informasi dan
Pameran yang telah dilaksanakan meliputi : (1). Melakukan Sosialisasi Inovasi
Teknologi Badan Litbang Pertanian melalui Gelar Teknologi pada acara PEDA XII KTNA
Sumatera Selatan di Kota Lubuk Linggau, (2) Turut berpartisipasi dengan melaksanakan
display pada acara HPS ke 36 tingkat provinsi di Kota Palembang (3). Turut
berpartisipasi dengan melakukan pameran dalam rangka Hari Krida Pertanian ke 44
dan PEDA 2016 Jambi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, (4). Turut berpartisipasi
dengan melakukan pameran pada Linggau EXPO 2016, (5). Turut berpartisipasi
dengan melakukan pameran pada Seminar Nasional Lahan Sub Optimal di
Palembang, (6) Turut berpartisipasi pada pameran HPS ke 36 tingkat nasional di
kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, (7) Turut berpartisipasi dengan melakukan pameran
pada acara Launchingh dan Bedah Buku Akbar di Kota Palembang. Display tanaman
dilakukan di visitor plot lingkungan kantor BPTP Sumatera selatan. Untuk lebih
44
mempercepat penyebaran teknologi inovasi pertanian di wilayah Sumsel, perlu
peningkatan hubungan melalui koordinasi dan kerjasama yang lebih intensif dengan
dinas instansi terkait.
Penjelasan alat pasca panen SLB Display tanaman sorgum Super 1
2.3. Penelitian, Pengkajian dan Diseminasi
2.3.1. Taman Teknologi Pertanian Tanjung Lago
Pelaksanaan kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tanjung Lago pada
T.A. 2016 sebagian besar masih berupa pembangunan fisik, yaitu pembangunan
kantor utama, RMU, bangunan produksi, bangunan untuk pembuatan kompos,
laboratorium diseminasi, bangunan gudang pakan, bangunan pengering padi berbahan
sekam, dan kandang. Kantor utama ini terdari dari ruang manajer, staf, pendamping,
dan pertemuan. Ruang pendamping dipersiapkan untuk tim pendamping yang berasal
dari BPTP, dinas, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Ruang pertemuan
digunakan untuk pelatihan atau pertemuan dengan petani dan petugas lapang dalam
rangka transfer teknologi atau bisnis. RMU dibangun untuk memproduksi beras
bermutu dan TTP sudah bekerja sama dengan UKM dalam pemasarannya. Bangunan
produksi dibangun untuk memproduksi silase dengan bahan utamanya limbah
pertanian (jerami padi atau limbah tanaman jagung). Bangunan untuk pembuatan
45
kompos dibangun untuk memproduksi kompos dari kotoran sapi dan limbah pertanian.
Laboratorium diseminasi dibangun sebagai tempat mendiseminasikan dan menjual
produk TTP dan produk yang lain yang dapat menunjang kegiatan TTP. Bangunan
gudang pakan digunakan untuk menyimpan pakan yang telah diproduksi di bangunan
produksi. Bangunan pengering padi berbahan bakar sekam digunakan untuk
mengeringkan padi pada saat cuaca hujan. Bangunan kandang terbagi menjadi dua,
yaitu kandang untuk penggemukan dan pembibitan. Pada T.A. 2016 ini kandang
penggemukan sudah terisi lima ekor sapi jantan, sedangkan kandang pembibitan dua
ekor sapi betina. Untuk T.A. 2017, jumlah sapi jantan direncanakan akan ditambah
delapan ekor. Bangunan kantor utama, RMU, kandang dan gudang pakan pada bulan
Desember 2016 sudah dapat digunakan. Selain pembangunan fisik, kegiatan
diseminasi juga dilakukan, antara lain: mendiseminasikan varietas unggul baru
tanaman pangan (padi dan jagung), hortikultura (jeruk dan semangka), hijauan pakan
ternak (rumput raja, indigofera, gamal), cara tanam jajar legowo, dan pemupukan
berimbang, serta penggunaan alsintan. Varietas unggul baru padi yang
didesiminasikan, yaitu Inpari 22. Cara tanam jajar legowo yang didesiminasikan, yaitu:
jajar legowo 2:1 dan 4:1. Sementara itu untuk tanaman hijauan pakan ternak dan jeruk
sudah ditanam pada kegiatan TTP T.A. 2015.
46
2.3.2. Taman Teknologi Pertanian (TTP) Sungai Lilin
Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh
Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap
didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam
mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan
komitmen Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat
kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan
mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya.
Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai
kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis melalui upaya antara lain: 1)
membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan pertanian,
perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang agroteknologi dan agribisnis, 2)
mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan
mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung upaya peningkatan
produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian. TTP Semidang
Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di Desa Raksa Jiwa Kecamatan Semidang
Aji. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama yang
diusahakan adalah padi, karet dan kopi. Beberapa rumah tangga petani juga
memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih
47
Surjan di lahan pasang surut Pemanfaatan surjan untuk tanaman hortikultura
relatif rendah, ini disebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran.
Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasan TTP Semidang Aji, telah
disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara
lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi, Akselerasi
Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen, Pengembangan
Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani,
Peningkataan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen
Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari
terlaksananya Pre Launching TTP OKU dan Peletakan Batu Pertama, Pembangunan
Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan implementasi inovasi
teknologi di kawasan TTP Semidang Aji berupa demfarm varietas unggul baru (VUB)
Varietas Inpari 30 sistem jajar legowo 2:1 dengan pemupukan spesifik lokasi seluas 10
hektar. Beberapa permasalahan dalam implementasi TTP Semidang Aji adalah: 1).
Pemahaman tim mengenai TTP yang masih beragam, 2). Organisasi pengelola di
tingkat lapangan baru dibentuk, belum memahami peran dan tugas masing-masing, 3).
Belum ada sinergi dana dari Pemda (APBD) untuk implementasi TTP ini.
Kunjungan Kepala BBP2TP Pembangunan Gedung Kantor
2.3.3 Taman Teknologi Pertanian (TTP) Kabupaten Ogan Komering Ulu
48
Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh
Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap
didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam
mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan
komitmen Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat
kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan
mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya.
Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai
kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis melalui upaya antara lain: 1)
membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan pertanian,
perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang agroteknologi dan agribisnis, 2)
mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan
mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung upaya peningkatan
produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian. TTP Semidang
Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di Desa Raksa Jiwa Kecamatan Semidang
Aji. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama yang
diusahakan adalah padi, karet dan kopi. Beberapa rumah tangga petani juga
memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih
relatif rendah, ini disebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran.
Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasanTTP Semidang Aji, telah
disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara
lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi, Akselerasi
Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pasca panen, Pengembangan
49
Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani,
Peningkataan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen
Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari
terlaksananya Pre Launching TTP OKU dan Peletakan Batu Pertama, Pembangunan
Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan implementasi inovasi
teknologi di kawasan TTP Semidang Aji berupa demfarm varietas unggul baru (VUB)
Varietas Inpari 30 sistem jajar legowo 2:1 dengan pemupukan spesifik lokasi seluas 10
hektar. Beberapa permasalahan dalam implementasi TTP Semidang Aji adalah: 1).
Pemahaman tim mengenai TTP yang masih beragam, 2). Organisasi pengelola di
tingkat lapangan baru dibentuk, belum memahami peran dan tugas masing-masing, 3).
Belum ada sinergi dana dari Pemda (APBD) untuk implementasi TTP ini.
Gedung Kantor Gedung Pengelolaan Pupuk Organik
2.3.4. Taman Agroinovasi
Salah satu indikator keberhasilan program pengkajian teknologi pertanian
adalah seberapa besar hasil-hasil pengkajian tersebut diadopsi oleh pengguna
(terutama petani) untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kegiatan usahatani. Untuk
50
mewujudkan hal tersebut berbagai upaya dilakukan, dengan mengupayakan
kemudahan dan menimbulkan ketertarikan pengguna teknologi. Tahun 2015 BPTP
Sumatera Selatan membuat taman yang menarik, dengan menimbulkan kesan
nyaman dan rilek diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengguna untuk
mengunjunginya dan mempelajari inovasi yang diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah:
1) Mendiseminasi teknologi tepat guna hasil inovasi Balitbangtan, 2) Membentuk
entitas bisnis yang melakukan fungsi diseminasi inovasi. Inovasi teknologi ditampilkan
dalam bentuk display/visitor plot dan demo. Display ditampilkan berupa penggunaan
media pertanaman untuk tanaman sayuran, penggunaan varietas unggul. Sedangkan
dalam bentuk demo, dapat dipertunjukkan cara pembuatan pupuk organik, aplikasi
penggunaan pestisida nabati. Selain itu pada Taman Agroinovasi ini juga disediakan
wadah untuk berkonsultasi tentang pertanian yang dapat diperoleh di klinik agribisnis.
Pada tahun 2015 telah dilakukan perencanaan penataan lahan dan pertanaman,
pendalaman kolam, pengolahan lahan, perbaikan screen house, penanaman tanaman
sayuran dan padi. Pada Tahun 2016 akan dilanjutkan peragaan berbagai inovasi
melalui penggunaan varietas unggul dengan pertanaman yang ramah lingkungan,
peragaan pertanaman sayuran menggunakan rak vertikultur, tegakan paralon,
bedengan dengan dan tanpa mulsa plastik, pembuatan pakan ternak fermentasi, dan
pembuatan pupuk organik.
51
Tanaman Kangkung Pemeliharaan Ayam KUB untuk pembibitan
2.3.5. Model Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman Palawija Di
Lahan
Kering Sumatera Selatan
Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman
palawija di lahan kering di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: 1) Memfasilitasi
penumbuhan dan pembinaan percontohan sistem dan usaha agibisnis bioindustri
jagung dan kedelai berbasis pengetahuan dan teknologi inovatif, 2) Mendorong
berkembangnya diversifikasi usaha ekonomi yang berkelanjutan di perdesaan yang
mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, 3) Memberdayakan
kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha
bioindustri berkelanjutan berbasis jagung, dan 4) Memantapkan model
pengembangan bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering. Lokasi
penelitian di Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan mulai tahun
2015 sampai dengan 2017. Pendekatan yang digunakan yakni identifikasi potensi
wilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi potensi produk dan
perancangan model. Produksi jagung varietas Sukma Raga sebesar 4,6 ton/ha dan
Bisma 3,2 t/ha pipilan kering. Sedangkan untuk produksi kedelai varietas Grobokan
1,5 t/ha dan Dena-1 1,2 ton/ha, Penerapan pakan fermentasi limbah jagung dan
limbah pertanian lainnya pada ternak induk sapi secara add-libitum selama sebulan
sebelum dikawinkan diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan S/C 2-3 menjadi S/C
1-2 dan memperpendek jarak beranak dari 14-16 bulan menjadi 13-14 bulan,
Populasi ternak pada awal kegiatan tahun 2016 sebanyak 120 ekor, Perkembangan
populasi ternak selama kegiatan meningkat sebanyak 180 ekor dengan melibatkan
52
37 petani. Terjadi peningkatan popilasi ternak sebanyak 60 ekor yang merupakan
perkembangan ternak selama kegiatan tahun 2016, Ternak sapi yang dikelola
dikandang kolektif sebanyak 120 ekor menghasilkan kotoran rata-rata 600 kg per
hari, sehingga rata-rata per ekor sapi menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan
populasi ternak sapi di untuk satu bulan menghasilkan 18.000 kotoran sapi basah
atau 9 ton pupuk kompos, Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 40 liter per
hari sehingga produksi urine per bulan 1200 liter yang telah diproses menjadi pupuk
urine, Instalasi biogas diaplikasikan yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan Provinsi
Sumatera Selatan dengan kapasitas 17 m3 digunakan untuk 15 titik lampu dan 15
buah lampu di tempatkan di kandang kolektif kelompok dan Kelembagaan yang ada
masih perlu ditingkatkan peran dan kemampuannya, sehingga saling mendukung
satu dengan yang lainnya.
Pelatihan petani Pembuatan kompos cair
2.3.6. Model Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman Pangan Di Lahan
Pasang Surut Sumatera Selatan
Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangandi
lahan pasang surut di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: Mengimplementasikan dan
53
memantapkan model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangan lahan pasang
surut. Lokasi kegiatan dilaksanakan pada salah satu kelopok tani dan ternak yaitu
kelompoktani Mekar Tani yang termasuk kedalam Gapoktan Sari Mulya, di Kabupaten
BanyuasinProvinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2017.
Pengembangan budidaya padi dan jagung melalui pendekatan teknologi ramah
lingkungan dilakukan pada satu kelompoktani yang berada dalam satu hamparan
dengan luasan seluas 60 ha dengan demfarm seluas 6 hektar. Model Pertanian
Bioindustri berbasis pangan akan diimplementasikan melalui pendekatan Pengelolaan
Tanaman dan Sumberdaya Terpadu berbasis Teknologi bioindustri dalam kerangka
pengembangan sistem pertanian bioindustri.Produksi jagung diperoleh dari kinerja
sistem budidaya jagung di lahan pasang surut Desa Banyu Urip Sumsel adalah 6,2 –
8,3 t/ha jagung pipilan kering untuk dosis pupuk di bawah KATAM; 6,8 -8,5 sesuai
rekomendasi KATAM dan 6,2 – 9,6 untuk di atas rekomendasi KATAM. Populasi
ternak pada kegiatan tahun 2016 sebanyak 80 ekor, melibatkan 15 petani. Produksi
kotoran rata-rata per hari sekitar 800 kg setara dengan 15 ton kompos per
pulan.Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 60 liter per hari sehingga produksi
urine per bulan 1800 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine.Kinerja pelatihan
dan pembuatan demplot sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan
keterampilan petani yaitu sebesar 52,6 % ( efektip ) untuk aktivitas penyuluhan dan
90,38 % ( sangat efektip ) untuk perubahan prilaku.
54
2.3.7. Kajian Peningkatan Produksi Daging di Sumatera Selatan
Sapi potong merupakan bagian penting dalam sistem pertanian terpadu dan
kehidupan peternak rakyat di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia,
menyebabkan permintaan terhadap daging khususnya daging sapi terus meningkat.
Meningkatkan produksi daging merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan
ketahanan pangan sekaligus memajukan tingkat kecerdasan sumberdaya manusia
Indonesia. Daging sapi adalah salah satu sumber protein hewani yang memliki
peranan dalam peningkatan kecerdasan masyarakat Indonesia. Provinsi Sumatera
Selatan memiliki program peningkatan produksi daging melalui pengembangan sapi
potong. Produktivitas sapi terutama di peternak rakyat relatif masih rendah. Salah satu
faktor tata laksana pemeliharaan yang memiliki pengaruh pada produktivitas sapi
adalah pakan dan kesehatan hewan. Pakan merupakan biaya produksi terbesar (70-
80%) dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan dalam pemeliharaan sapi. Bahan
pakan yang tidak berguna yang dimiliki petani dapat diberikan kepada sapi untuk
menjadi daging dan dapat dirubah menjadi kotoran sapi yang dapat diolah menjadi
pupuk organik yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa
formulasi ransum berbasis limbah pertanian untuk penggemukan sapi dengan target
pertambahan bobot badan 0,3-0,5 kg/ekor/hari, mengetahui efisiensi berbagai
55
Pengolahan limbah cair
Proses pemipilan jagung
formulasi ransum berbasis limbah pertanian untuk penggemukan sapi, mengetahui
persepsi peternak terhadap berbagai formulasi ransum berbasis limbah pertanian
untuk penggemukan sapi. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif petani.
Pelaksaan penelitian meliputi perlakuan pakan,analisa ekonomi dan persepsi peternak.
Bahan yang digunakan antara lain rumput, limbah pertanian, dedak,mineral, timbangan
sapi dan obat hewan. Perlakuan pakan yang diberikan adalah P1 (kontrol) berupa
rumput sebanyak 40 Kg/ekor/hari, P2 berupa campuran dedak (3 Kg) + jerami (13 Kg)
dan mineral (0,02 Kg), P3 berupa dedak (3 Kg) + rumput (6,5 Kg) + jerami (6,5 Kg) dan
mineral (0,02 Kg) dan P4 berupa dedak (3 Kg) + rumput (13 Kg) dan mineral (0,02
Kg). Parameter yang diukur dalam perlakuan pakan adalah kandungan gizi pakan,
pertambahan bobot badan, analisis raba rugi dan B/C ratio. Data perlakuan pakan dan
analisa ekonomi dianalisis dengan analisis variansi (ANOVA). Apabila ada perbedaan
rerata diantara perlakuan akan dilanjutkan dengan uji beda nyata (LSD). Data hasil
wawancara peternak dianalisa secara deskriptif dengan menampilkan persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan proksimat pakan tidak menunjukkan
bahwa pada kandungan protein kasar P1 sebesar 6,69; P2 sebesar 7,19; P3 sebesar
7,39 dan P4 sebesar 7,95; PBBH P1 sebesar 0,28
a
, P2 sebesar 0,33
ab
, P3 sebesar
0,55
ab
dan P4 sebesar 0,55
b
. Berdasarkana analisa usaha tani B/C pada P1 sebesar
0.43 ; P2 sebesar 0.38 ; P3 sebesar 1.18 dan P4 sebesar 1.86.
56
2.3.8. Peningkatan Komunikasi, Koordinasi, dan Diseminasi Inovasi
Pertanian Sumatera Selatan
Keberhasilan Pembangunan Pertanian di Sumatera Selatan, tidak terlepas dari
peran aktif antara penyuluh pertanian dan petani yang disertai program pemerintah
pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. Disamping itu juga adanya peran aktif
dari Dinas/intansi terkait, sehingga keberhasilan pembangunan pertanian tidak berdiri
sendiri, tetapi diperlukan adanya keterkaitan berbagai pihak.
Untuk melaksanakan pembangunan pertanian diperlukan SDM (Sumber Daya
Manusia) aparat pertanian tangguh dengan ciri profesional, mandiri, inovatif, kreatif
dan berwawasan global yang mampu menjadikan fasilitator, diseminator, propokator,
motivator dan regulator pelaku usaha pertanian serta mampu membangun sistem
agribisnis yang berdaya saing tinggi.Kegiatan peningkatan komunikan, koordinasi dan
diseminasi inovasi pertanian di Sumatera Selatan yang dilakukan di 4 (empat)
Kabupaten dilakukan di Kabupaten OKI, Lahat, OKU dan Lubuk Linggau. Tujuan
kegiatan ini antara lain a) Mensosialisasikan dan atau mendampingi implementasi
Gelar Teknolologi dan Temu lapang Inovasi Pertanian untuk komoditas (padi, jagung,
cabe, bawang merah, kedelai) pada agro ekosistem lahan kering; b)
57
Dedak padi Kegiatan CPCL
Mendiseminasikan hasil kegiatan Gelar Teknologi dan Temu Lapang untuk
komoditas strategis kementan (padi, jagung, bawang merah, kedelai) melalui media
cetak, klinik agribisnis, dan cyber extension.
Ruang lingkup kegiatan: a) Peningkatan Kapasitas komunikasi dan
Diseminasi Program Starategis Badan Litbangtan dan Kementan, b) Pendayagunaan
Inovasi Hasil Litkaji melalui berbagai media (elektronik, multimedia, interaksi dan
tercetak) dan narasumber dalam berbagai pertemuan, c) Bimbingan lanjutan bagi
petani/ Kelembagaan Tani Kooperator Kegiatan pengkajian/Diseminasi Teknologi
Pertanian.
Pada kegiatan ini telah dilaksanakan temu koordinasi, gelar teknologi dan
temu lapang dan temu teknis di 4 kabupaten/kota (OKI, Lahat, OKU dan Lubuk
Linggau). Komoditas Strategis Kementan yang di kembangkan adalah padi,
jagung,Kedelai, bawang dan cabe. Hasil yang diperoleh dari teknologi inovasi yang
diterapkan untuk tanaman kedelai, yang dilaksanakan di kelompok tani Muda
Sepakat, Desa Merapi Kec.Merapi Barat Kabupten Lahat seluas 2 Ha, dengan
varietas grobokan dan kaba. Produksi yang diperoleh dari varietas grobokan 2 ton/ha
dan Kaba 1,8 ton/ha. Komoditas padi di tanam di Gapoktan Sinar Haraan II, Desa
Cahaya Maju, Kec.Lempuing Kab. OKI seluas 5 Ha (Varietas Inpari 15,20,22, 27, 29,
dan 30) hasil yang diperoleh rata-rata 7,8 ton, telah dijadikan benih 21,845 ton yang
digunakan untuk tanam berikutnya oleh petani setempat. Disamping itu juga
dilakukan tanam bawang 0,25 ha hasil yang diperoleh hasil basah 4.462 kg,
sedang hasil kering 2.483 kg. Sebagai bahan pendukung bagi penyuluh mau petani
dalam menggunakan inovasi teknologi telah diterbitkan Petunjuk Teknis Kedelai dan
bawang merah serta 8 judul leaflet. Disamping itu juga telah dibentuk klinik agribisnis
58
di Kab.OKI, Lahat, OKU dan Lubuk Linggau. Selanjutnya telah dilakukan bimbingan
terhadap penyuluh dan petani sebagai narasumber pada pertemuan penyuluh di
BP3K .
2.3.9. Pendampingan PUAP di Sumatera Selatan
Pelaksanaan PUAP di perdesaan dimulai tahun 2008 sampai dengan tahun
2015, telah disalurkan kepada 1330 gapoktan/desa PUAP di Provinsi Sumatera
Selatan, atau senilai Rp 119,6 Milyar. Dalam pelaksanaan PUAP secara substansi
terdapat 3 kegiatan pokok yang harus dilaksanakan yaitu : (1) pengembangan
kelembagaan Gapoktan, (2) pengembangan kelembagaan LKM yang dikelola
Gapoktan, dan (3) pengembangan usaha agribisnis yang dilakukan petani miskin
peserta PUAP. Pendampingan PUAP tahun 2016 ini bertujuan : 1) Melaksanakan
inventarisasi dan validasi LKM-A Gapoktan PUAP 2016 Kabupaten/kota di Provinsi
Sumatera Selatan, 2) Melaksananya rapat/pertemuan dengan PMT Kabupaten/Kota se
Sumatera Selatan dan anggota kelompoktani/LKM-A , 3)
Mensosialisasikan/menyebarluaskan pedoman teknis dan pedoman pemberdayaan
dan penguatan LKMA tahun 2016 dan Pedoman Asuransi Usaha Tani, masing-masing
sebanyak 500 expl, 4) Melaksanakan pembinaan dan pendampingan anggota LKM-A
dalam dalam penerapan inovasi teknologi pertanian (demplot/display varietas unggul
59
Pelatihan Budidaya Jagung di BP3K Raksa Jiwa
Panen raya padi hasil dari gelar
teknologi Varitas Unggul Baru
padi pada LKM-A gapoktan PUAP Model, 5) Menyusun database Gapoktan PUAP
tahun 2008-2015. Koordinasi Pendampingan PUAP dilaksanakan di 16 Kabupaten/
kota dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Waktu pelaksanaan dilaksanakan
pada bulan Januari s/d Desember 2016. Cakupan kegiatan pendampingan PUAP
meliputi : 1) Persiapan (Penyusunan RODHP, Pedum/Juknis Pendampingan PUAP,
2) Kesekretariatan (adminnistrasi surat-menyusurat, fasilitasi pelaporan pelaporan
rutin PMT , dan 3) Koordinasi pendampingan PUAP dengan Tim Teknis PUAP
Kabupaten/kota dan PMT dalam hal : (1) Updating data LKM-A Gapoktan PUAP, (2)
Pembinaan dan exit strategi pendampingan PUAP, (3) Penyebaran Pedoman/Juknis,
(4) Pendampingan dalam penerapan teknologi oleh petani pada LKM-A PUAP Model,
(5) Penyusunan database gapoktan 2008-2015. 4) Pelaporan, sebagai bentuk
pertanggung jawaban kegiatan dan administrasi keuangan. Berdasarkan hasil
pelaksanaan Pendampingan PUAP Tahun 2015 diperolah sebagai berikut : 1) BPTP
Sumatera Selatan telah melaksanakan kegiatan pendampingan PUAP, sesuai dengan
tugas dan fungsinya selaku Sekretariat PUAP Provinsi, antara lain melakukan
koordinasi dengan tim teknis PUAP kabupaten/kota untuk meregistrasi, inventarisasi
dan validasi sebanyak 239 LKM-A gapoktan PUAP di Sumatera Selatan. Sedangkan
yang sudah berbadan hukum sebanyak 28 LKM-A, 2) BPTP Sumsel telah
melaksanakan fasilitasi pertemuan/rapat dengan PMT se Sumatera Selatan yang
berjumlah sebanyak 29 orang yang tersebar di 16 kabupaten/kota, sebanyak 2 (empat)
kali dan melakukan pertemuan dengan kelompoktani/LKM-A sebanyak 4 (empat) kali,
3) Untuk mendukung penumbuhan dan penguatan kinerja gapoktan PUAP di Sumatera
Selatan telah dilakukan dicetak dan disebarkan sebanyak 1000 eksemplar buku, yang
berjudul Pedoman Penguatan LKM- A dan Pedoman Premi Asuransi Usahatani Padi
60
(AUTP), dan Pedoman Teknis Pendampingan PUAP, 4) Berdasarkan hasil demplot
usahatani padi pada LKM-A Model, produksi dan pendapatan usahatani padi
meningkat yang semula 3,8 ton/ha menjadi 4,6 ton/ha (12,11 %) melalui introduksi
teknologi varietas unggul baru (Inpari 22), Jajar Legowo, pemupukan spesifik lokasi,
pengendalian hama penyakit dengan konsep PHT., dan 5) Database gapoktan
penerima dana PUAP di Sumatera Selatan telah tersusun, yang memuat nama
gapoktan/desa, pengurus, tahun penerima dana PUAP di Provinsi Sumatera Selatan.
Database ini bermanfaat untuk monitoring dan evaluasi dan pembinaan gapoktan
lanjutan oleh tim teknis PUAP kabupaten/kota dan dinas instansi
terkait lainnya.
Temu Lapang Implementasi Inovasi Teknologi Padi pada LKM-A PUAP Model
2.3.10. Analisis Kebijakan (Rekomendasi Kebijakan Pembangunan
Pertanian Komoditas Strategis)
Meningkatnya kebutuhan akan bahan pangan mendorong diperlukannya
ketersediaan benih berkualitas. Selain mampu meningkatkan produktivitas, benih yang
berkualitas baik relatif aman karena tidak menimbulkan polusi dan kerusakan
lingkungan. Untuk dapat diakses, maka benih tersebut harus tersedia dan mudah
61
diperoleh. Analisis kebijakan ini bertujuan untuk: 1). Manganalisis potensi,
ketersediaan benih di lembaga perbenihan formal yaitu Balai Bebih Induk (BBI), UPBS
BPTP Sumsel, Balai Benih Utama (BBU) dan informal (penangkar benih dikelola
masyarakat) dalam memenuhi kebutuhan wilayah Sumsel, 2). Menganalisis kinerja
pembinaan/ pendampingan pada masing-masing lembaga (BBI, UPBS BPTP Sumsel,
BBU dan penangkar informal) untuk menghasilkan benih padi berkualitas, 3).
Merekomendasi kebijakan dalam upaya memenuhi kebutuhan akan benih padi di
Sumsel. Sebagai sampel lembaga perbenihan diperoleh dari dua BBI (di Kabupaten
OKU Timur dan Banyuasin), lima BBU (di Kabupaten Lahat, Muara Enim, Banyuasin,
OKI, dan Musi Rawas) dan enam kelompok penangkar di Kabupaten OKU Timur,
Banyuasin, Lahat, Muara Enim, OKI dan Musi Rawas). Data primer dikumpulkan
melalui wawancara pada lembaga perbenihan dan data sekunder diperoleh dari BPSB
Sumsel, dianalisis secara deskriptif, ditampilkan keberadaan kuadran kepentingan
kinerja dan tingkat kepuasan customer. Hasil analisis memperlihatkan bahwa benih
yang dihasilkan, baik di BBI, BBU terlebih lagi dari kelompok penangkar secara
kwantitas sebenarnya masih dapat ditingkatkan. Varietas unggul baru dari Balitbangtan
mendominasi jenis benih yang dihasilkan. Di BBI Deta Upang (Banyuasin), luas lahan
18 ha dengan kondisi agro ekosistem pasang surut. Meskipun dapat ditanami padi
dua kali dalam satu tahun namun yang terbaik hanya satu kali yaitu pada Musim Hujan
(MH) dengan rata-rata produksi gabah kering panen (GKP) 4 t/ha. BBI Belitang
dengan luas lahan 9 ha, sebenarnya dapat ditanami tiga kali namun hanya ditanami
dua kali dalam satu tahun. Potensi produksi tertinggi diperoleh pada MH. Unit
Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) BPTP Sumsel, berada di Desa Sidakersa
Kecamatan Kota Kayu Agung kabupaten OKI yang menyatu dengan Kebun Percobaan
62
(KP) Kayu Agung. Untuk mengelola penangkarannya di KP Kayu Agung, saat ini
penggunaannya diperhadapkan pada kendala dimana dengan adanya penimbunan
lahan untuk dibuat ruko dan terminal, menyebabkan air mengalami kesulitan untuk
masuk dan keluar dari dan ke petakan sawah. Sehingga lahan mengalami kekeringan
pada MK dan kebanjiran di MH. Hal inilah yang mendorong dilakukannya kerjasama
dengan petani untuk penangkaran padi di antaranya dengan petani di sawah irigasi
Kab. OKU Timur tahun 2013 dengan luas 20 ha, di sawah irigasi di Kabupaten OKU
Timur dan MURA tahun 2014 dengan total luas 25 ha. Ternyata cara yang ditempuh ini
juga efektif karena dengan cara ini maka terjadi penderasan diseminasi VUB padi ke
petani. Dari lima BBU yang menjadi sampel, maka yang memiliki lahan terluas adalah
BBU Telang 18,5 ha, sedangkan tersempit adalah BBU Pandan Enim seluas 2 ha.
Dilihat dari potensi penggunaan lahannya, meskipun di BBU Tanjung Tebat, Telang
dan Jejawi berpotensi untuk ditanami dua kali dalam satu tahun, namun hanya
ditanami satu kali. Ha ini disebabkan untuk penangkaran dibutuhkan kondisi lahan
yang optimal dan lingkungan yang memenuhi syarat untuk dilakukannya penangkaran.
Sedangkan di lahan lebak dan pasang surut, jika di sekitar lokasi tersebut tidak
dilakukan pertanaman padi maka penangkaran akan menghadapi risiko besar
terhadap serangan hama tikus. Di BBU Jejawi dengan lahan sawah lebak, maka
penanaman dapat dilakukan pada MK I. BBU Pandan Enim dan Tani Mulya dapat
ditanami padi masing-masing dua dan tiga kali dalam satu tahun. Dari enam kelompok
penangkar yang menjadi sampel, potensi lahan yang besar tersedia pada kelompok
penangkar Widhatama, Mitra Tani dan Kelueh untuk menghasilkan benih, masing-
masing seluas 250, 200 dan 90 ha, sedangkan luasan terendah ada pada kelompok
penangkar Tani Sejati yaitu 10 ha. Semua kelompok penangkar tersebut menanam
63
padi dua kali dalam satu tahun, meskipun kelompok penangkar Usaha Bersama dan
Mitra Tani berpotensi untuk ditanami tiga kali. Selain potensi luasan lahan yang besar,
maka produktivitas GKP pada masing-masing kelompok tersebut juga terbilang tinggi
yang pada umumnya di atas 6 t/ha pada MH. Benih yang disertifikasi dalam tahun
2016 (Maret, Agustus dan Oktober) sebanyak 5.178,83 ton. Sasaran luas tanam padi
tahun 2016 di Sumsel 913.090 ha. Jika diasumsikan seluruh lahan tersebut
membutuhkan benih 25 kg/ha, maka dibutuhkan benih padi sebanyak 22.827 ton.
Dengan demikian masih terdapat kekurangan benih sebanyak 17.648 ton. Terdapat
kesenjangan yang menyolok antara kepuasan dan kepentingan pada beberapa atribut
pendampingan. Rendahnya indeks kepuasan terhadap pendampingan pada beberapa
lembaga perbenihan, ditunjukkan juga dengan rendahnya kinerja yang dapat dilihat
dari jumlah benih yang dihasilkan demikian rendah dibanding potensi yang mampu
dicapai. Saran Kebijakan dari hasil analisis ini adalah menumbuhkembangkan
kelembagaan perbenihan informal di masyarakat dan pendampingannya mendukung
kebutuhan akan benih padi di Sumsel. Pada Kajian Kebijakan Budidaya Padi Jajar
Legowo Super yang dilakukan di Desa Bangun Harjo, Kecamatan Buay Madang Timur
Kabupaten OKU Timur yng dilakukan Bulan November- Desember tahun 2016,
bertujuan untuk 1). mengetahui persepsi petani terhadap budidaya padi jarwo super,
2). Mengetahui efisiensi penerapannya, dan 3). mengkaji prospek pengembangannya.
Pada petani bukan peserta kegiatan, masih lebih banyak komponen teknologi yang
mereka nyatakan tidak dimengerti, tidak bermanfaat, sulit diterapkan bahkan tidak
berminat untuk diadopsi, dibanding dengan petani peserta. Ini menunjukkan adanya
pengaruh keikutsertaan petani terhadap persepsi mereka akan teknologi jarwo super.
Budidaya padi dengan jarwo super lebih efisien dengan R/C = 2,29 sedangkan yang
64
tidak menerapkan R/C nya 2,19. Nilai MBCR akibat penerapan budidaya padi jarwo
super sebesar 3,62. Budidaya padi jarwo super ini prospektif dilakukan ditunjukkan
dengan meningkatnya jumlah adopter setelah jarwo super ini diaplikasikan, adanya
petani yang meminta benih VUB padi Inpari 30,32 dan 33, petani yang meminta
biodekomposer M-Dec dan pupuk hayati Agrimeth, serta adanya penyuluh yang
berminat menyebarkan informasi teknologi jarwo super. Untuk pelaksanaan di wilayah
lain, sebaiknya petani peserta juga menerapkan cara yang biasa mereka lakukan
(existing technology) pada saat bersamaan, agar mereka dapat membandingkannya
keunggulan teknologi budidaya jarwo super tersebut secara langsung.
Kegiatan wawancara
2.3.11. Produksi Benih Sumber Padi
Kehidupan dimuka bumi sangat dipengaruhi oleh iklim, utamanya adalah
tanaman pangan. Daya adaptasi, jadwal tanam dan teknik budidaya suatu jenis
tanaman akan dipengaruhi iklim sehingga pemahaman tentang iklim dalam sektor
pertanian sangat penting. Produksi tanaman akan sangat berpengaruh jika terjadi
perubahan iklim. Subsektor tanaman pangan, merupakan sektor yang paling rentan
terhadap perubahan iklim terkait tiga faktor utama, yaitu biofisik, genetik, dan
65
manajemen. Kerentanan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan
sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, dan tanaman, serta varietas
tanaman. Perubahan iklim berimplikasi terhadap pergeseran awal musim tanam dan
pola tanam, ancaman kekeringan, banjir, dan serangan organisme penggangu
tanaman (OPT). Sistem Kalender Tanam Terpadu disusun dengan tujuan untuk
mengantisipasi penurunan atau kegagalan produksi yang disebabkan perubahan iklim.
Kalender Tanam Terpadu memuat peta kerawanan bencana, jadwal tanam, dosis
pupuk, dan varietas. Kalender Tanam Terpadu disusun berdasarkan dasarian.
Kegiatan dilakukan di 17 kabupaten kota lingkup Provinsi Sumatera Selatan mulai dari
bulan Januari sampai dengan Desember 2016. Kegiatan yang dilakukan meliputi
sosialisasi. verifikasi dan validasi data. Data yang diamati adalah luas baku sawah,
waktu tanam, luas realisasi tanam, varietas yang digunakan petani, jenis pupuk dan
dosisnya, serta kemungkinan terjadinya ancaman banjir, kekeringan, dan serangan
OPT. Verifikasi dilakukan melalui wawancara petani/FGD yang dilakukan terhadap
kelompok tani.
Verifikasi Standing Crop fase penggenangan/bera Wilayah di kec Pemulutan Kab. Ogan Ilir
(agroekosistem Lebak)
66
2.3.12. Pendampingan Pengembangan Kawasan Jagung di Sumatera
Selatan
Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi
karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua
setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di
Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri
pakan ternak khususnya pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industri
pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin
meningkat pula (BPTP Sumsel, 2007). Kementerian Pertanian telah menetapkan
upaya khusus pencapaian swasembada berkelanjutan jagung melalui kegiatan
rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan kegiatan pendukung lainnya antara lain
pengembangan jaringan irigasi, optimalisasi lahan, Gerakan Penerapan Pengelolaan
Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung, Perluasan Areal Tanam jagung (PAT Jagung),
Penyediaan sarana dan prasaranan pertanian (benih, pupuk, pestisida dan alat mesin
pertanian), dan pengawalan/pendampingan. Untuk mendukung program upsus agar
terlaksana dengan baik, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera
Selatan telah melaksanakan pengawalan kegaitan tersebut dengan tujuan 1)
melaksanakan pendampingan pengembangan kawasan jagung, 2) menyiapkan dan
67
menyampaikan materi dalam pendampingan, 3) menyusun inovasi teknologi yang
diterapkan dalam pendampingan, 4) melaksanakan sosialisasi jagung VUB Badan
Litbangtan. Hasilnya adalah 1). Terlaksananya pendampingan pada satu kawasan
pengembangan jagung di kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten Ogan
Komering Ulu Timur, meliputi gabungan kelompok tani jagung pada lahan seluas 1.098
ha, serta terlaksana sosialisasi varietas jagung hibrida dan jagungn komposit
sukmaraga/demplot 3 varietas unggul baru (VUB) seluas 1ha yang dilaksanakan di
kelompok tani Marga Jaya dengan jumlah anggota 117 orang, Desa Taraman. Adapun
produksi masing-masing jagung yang ditanam adalah Bima 19 :47 ku/ha (panen
muda), Bima 20 : 48 ku/ha, dan Varietas Sukmaraga 42 ku/ha (panen muda). 2). Telah
tersusun dan tersampaikannya materi dalam pendampingan berupa : Buku Juknis
Tanaman Jagung, Buku Deskripsi Varietas Unggul Jagung, serta terdistribusinya
materi tersebut ke BP3K dan petani pelaksana GP-PTT jagung. 3). Telah diterapkan
inovasi teknologi budidaya jagung dalam pendampingan (Pengolahan lahan, VUB
Jagung, pemupukan, jarak tanam, Pengelolaan Tanaman Terpadu).
Koordinasi Penanaman Jagung
2.3.13. Pendampingan Pengembangan Kawasan Kedelai di Sumatera
Selatan
68
Sumatera Selatan mempunyai peluang sebagai salah satu provinsi pemasok
kedelai untuk mendukung program swasembada kedelai nasional, dengan produksi
kedelai baru mencapai 5.140 ton dengan produktivitas rata-rata biji kering 14,42 ku/ha
(ATAP Tahun 2013, BPS) serta masih besarnya potensi lahan yang dimiliki pada
berbagai tipologi lahan yang ada. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu
(GP-PTT)Kedelai, adalah program nasional untuk meningkatkanproduksi kedelai,
melalui pendekatan gerakan atau anjuransecara massal kepada Petani/kelompok Tani
untukmelaksanaan teknologi Pengelolaan Tanaman terpadu (PTT)dalam mengelola
usaha tani kedelai, dengan tujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, dan
kelestarian lingkungan Tujuan jangka panjang kegiatan pendampingan pengembangan
kawasan Kedelai di Sumatera Selatan adalah Peningkatan produksi dan provitas yang
dihasilkan oleh petani pada kawasan kedelai di Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan
Tujuan tahun 2016 adalah; (1) Memberikan pendampingan dan pengawalan teknologi
budidaya kedelai pada kegiatan peningkatan produktifitas dii Kawasan Kedelai
Sumatera Selatan, (2) Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan
pendampingan Kawasan kedelai di Sumatera Selatan, dan (3) Memperlihatkan dan
memberikan contoh kepada petani/ masyarakat keunggulan dan tata cara penerapan
teknologi budidaya kedelai spesifik yang direkomendasikan dalam bentuk demfarm
sosialisasi VUB seluas 3 (tiga) ha. Ruang lingkup kegiatan meliputi: (1) Koordinasi dan
sosialisas kegiatan pengawalan dan pendampingan, (2) Memberikan informasi
budidaya kedelai dengan pendekatan PTT dalam bentuk bahan cetakan kepada
petugas lapang, (3) Pembuatan demplot farm (demfram) sosialisasi VUB kedelai
seluas 3 (tiga) ha yang dilaksanakan pada lahan petani dibawah bimbingan BPTP
Sumatera Selatan melalui pendekatan PTT, (4) Menjadi nara sumber pada saat
69
pelatihan atau pertemuan kelompok di tingkat kabupaten, BPP serta desa, gelar atau
temu lapang yang diselenggarakan bersama dengan Dinas Kabupaten, dan (5)
Memberikan supervisi teknologi pada denfarm yang dilaksanakan oleh Dinas
Kabupaten. Secara umum Kegiatan Pendampingan dilaksanakan untuk mendukung
kegiatan peningkatan produktifitas kedelai di Propinsi Sumatera Selatan, sedangkan
secara khusus pendampingan difokuskan mendukung kegiatan peningkatan
produktifitas di kawasan Kedelai Kabupaten Banyuasin. Waktu pelaksanaan dimulai
dari bulan Januari sampai Desember 2016. BPTP Sumatera Selatan telah menyusun
rekomendasi teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi di lokasi pengembangan
kawasan di Kabupaten Banyuasin yang didominasi tipologi lahan pasang surut tipe
luapan C dan D dan sebagian juga dilaksanakan pada tipe luapan A dan B.
Rekomendasi tersebut kemudian disediakan dalam bentuk leafet atau brosur yang
selanjutnya didistribusikan kepada petani, kelompok tani, PPL dan Dinas Pertanian di
Kabupaten Banyuasin. Kegiatan koordinasi, pendampingan dan pengawalan teknologi
budidaya kedelai telah dilaksanakan pada wilayah pengembangan kawasan kedelai di
Kabupaten Banyuasin dan non kawasan di Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi iklim
yang tidak mendukung dan penggunaan varietas yang tidak sesuai serta serangan
hama tikus menyebabkan produktivitas tanaman kedelai di lokasi demplot sangat
rendah ((Anjasmoro 5,2 ku/ha; Gema 4,3 ku/ha; Dering 1 5,0 ku/ha; dan Dena 4,0
ku/ha), ,kondisi hampir sama juga terjadi pada hamparan IP 300 di Kecamatan Muara
Telang (Grobogan; 5,0 ku/ha) dan untuk skala luas program intensifikasi tingkat
kabupaten (Grobogan; 7,5 ku/ha).
70
Perbandingan pertumbuhan tanaman kedelai masing-masing Varietas
2.3.14. Pengembangan Kawasan Peternakan Kerbau Di Sumatera
Selatan
Sumatera Selatan memiliki potensi cukup besar untuk pembangunan
peternakan terutama kerbau potong dan kerbau. Program Pendampingan
Pengembangan Kawasan Peternakan Kerbau ini dilaksanakan melalui optimalisasi
sumberdaya lokal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan
sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian mendapat mandat untuk melakukan
pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan kerbau yang ada di daerah.
Untuk itu mulai tahun 2015 BPTP Sumsel telah melaksanakan kegiatan pendampingan
pengembangankawasan peternakan kerbau Pampangan bertempat di kecamatan
Pampangan dan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Tujuan
kegiatan tahun 2015 meliputi pendampingan teknologi pakan fermentasi untuk
persiapan menghadapi musim kemarau dan membandingkan pemberian pakan
71
fermentasi dengan pemberian pakan sesuai kebiasaan petani dalam hal meningkatkan
angka kebuntingan. Hasil kegiatan tahun 2015 yang telah dilaksanakan adalah
terdesiminasinya paket teknologi pakan fermentasi jerami padi dan aplikasi pemberian
pakan fermentasi jerami padi ke ternak kerbau betina menjelang bunting pada musim
kemarau. Untuk melihat dampak dari hasil penerapan pakan fermentasi tersebut maka
kegiatan pendampingan dilanjutkan tahun 2016 dengan tujuan: (a) pemantapan
pemberian pakan fermentasi pada saat Pre dan Post Partum, (b) melakukan
pendampingan teknologi pengolahan limbah ternak kerbau serta (c) membentuk
kelembagaan kelompok tani ternak perbibitan pampangan yang kuat. Dampak dan
manfaat kegiatan yang diharapkan adalah (a) meningkatkan produktivitas ternak
kerbau, (b) meningkatkan pendapatan petani dan (c) mengurangi permasalahan yang
dihadapi petani.
2.3.15. Pendampingan Sumber Daya Genetik Tanaman Padi Lokal di
Sumatera Selatan
72
Pembinan kelompok
Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman padi merupakan bagian dari plasma
nutfah dan memiliki arti yang sangat penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan
pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sejumlah varietas komoditas
tanaman telah dimanfaatkan secara intensif sebagai pangan dan menjadi produk
strategis bagi upaya ketahanan pangan nasional. Sejumlah species tanaman lainnya
yang belum dimanfaatkan diketahui memiliki potensi dalam mendukung program
pemuliaan tanaman. Disisi lain perubahan iklim secara global merupakan isu penting
yang memiliki potensi dapat mengancam ketersediaan SDG tanaman. Pemanasan
global dan bencana alam dapat memacu terjadinya erosi genetik terhadap SDG
tanaman yang ada. Oleh karena itu, SDG tanaman perlu dilestarikan agar dapat
tersedia secara berkelanjutan dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan pangan.
Langkah awal upaya pelestarian terhadap SDG tanaman dapat dilakukan melalui
serangkaian kegiatan inventarisasi dan dokumentasi data SDG tanaman, untuk
selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan konservasi (pemeliharaan) baik
secara in situ (lekat lahan) maupun ex situ (koleksi di bank gen) kemudian dilakukan
evaluasi bilamana mungkin untuk menemukan sifat-sifat unggul dari sumber daya
genetik tersebut sehingga dihasilkan varietas unggul baru.
Kegiatan penelitian plasma nutfah meliputi koleksi, rejuvinasi, karakterisasi dan
evaluasi kultivar lokal, kultivar liar atau introduksi dari luar negeri, kultivar unggul masa
lalu dan masa kini. Dari hasil kegiatan inventarisasi sumber daya genetik Tahun 2013
dan 2015, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan telah memiliki
koleksi padi lokal sebanyak 56 varietas yang terdiri dari; 9 varietas padi lokal existing
di lahan rawa lebak, 26 varietas padi lokal existing di lahan kering, dan 21 varietas padi
lokal existing di lahan rawa pasang surut. Hasil koleksi ex situ pada tahun 2015 di
73
Kebun Percobaan Kayuagung ada 3 varietas padi lokal yang telah tanam dan
dikarakterisasi, yaitu padi Bone, Siam, dan Siputih. Pada Tahun 2016, karakterisasi
dilanjutkan di Kebun Percobaan Karang Agung.
Dengan adanya kegiatan karakterisasi dan evaluasi yang lebih intensif varietas
padi lokal maka akan semakin banyak informasi berupa varietas yang potensial
dikembangkan sebagai varietas unggul.
Identifikasi dan Karakterisasi secara in-situ dan ex-situ telah dilakukan terhadap
21 varietas padi lokal, baik di lahan petani maupun di KP Karang Agung. Dari 21
varietas padi lokal di lahan rawa pasang yang telah diidentifikasi, terdapat 8 varietas
yang terpilih untuk dilakukan karakterisasi secara ex-situ di kebun koleksi, KP Karang
Agung. Delapan varietas padi lokal tersebut adalah; Sanapi, Lembu Sawah, Lembu
Kuning, Nona Cantik, Ketek Muri, Tapanuli, Talang I dan Talang II. Padi varietas lokal
tersebut ditanam di kebun koleksi, KP Karang Agung pada bulan Agustus/September
2016, namun hasilnya belum dapat dilaporkan karena datanya belum lengkap, setelah
penanaman, tanaman mengalami kekeringan sehingga banyak yang mati. Dilaporkan
juga bahwa telah dipeliharanya kebun koleksi SDG tanaman spesifik lokasi di Kebun
Percobaan Karang Agung dan Kayuagung, masing-masing-masing ± setengah (0,5
Ha). Selanjutnya telah dilakukan koordinasi dan sinkronisasi program dalam bentuk
pertemuan/rapat sosialisasi dan penyusunan program untuk memperkuat
kelembagaan Komisi Daerah (KOMDA) Provinsi Sumatera Selatan.
74
2.3.16 Pendampingan Pengembangan Kawasan Padi di Sumatera Selatan
Pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi telah dilakukan di dua
Kabupaten, yaitu: OI dan OKI. Kegiatan pendampingan ini bertujuan: 1).
mendiseminasikan varietas unggul baru padi di lahan rawa lebak, 2).
mendiseminasikan cara tanam jajar legowo di lahan rawa lebak, dan 3).
mendiseminasikan pemupukan berimbang di lahan rawa lebak. Keluaran yang
diharapkan dari kegiatan pendampingan ini, yaitu: 1). terdiseminasinya varietas unggul
baru padi di lahan rawa lebak, 2). terdiseminasinya cara tanam jajar legowo di lahan
rawa lebak, dan 3). terdiseminasinya pemupukan berimbang di lahan rawa lebak.
Tahapan kegiatan meliputi: penyusunan RODHP, koordinasi, penentuan lokasi dan
kelompok tani, pelatihan, pembuatan demplot, mencetak materi diseminasi,
pengumpulan data dan pelaporan. Kegiatan yang telah dilakukan, yaitu: 1).
mendiseminasikan varietas unggul baru Inpari 22, 2). mendiseminasikan cara tanam
jajar legowo, 3). mendiseminasikan pemupukan berimbang (urea 100 kg/ha, TSP 100
75
Kultivar Kemis Umur 75 hari
kg/ha, KCl 100 kg/ha, kompos 2,5 ton/ha dan 5 ton/ha), dan 4). pelatihan. Materi
pelatihan, yaitu tentang varietas unggul baru, pemupukan berimbang, dan cara tanam
jajar legowo). Rata-rata produksi padi hasil diseminasi varietas unggul baru, yaitu: 7,8
ton/ha GKP untuk di demplot di desa Kamal. Sementara itu produksi padi di lahan
petani sekitar 3-4 ton/ha GKP.
2.3.17. Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional
Tanaman Hortikultura Di Sumatera Selatan
Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura di
Sumatera Selatan bertujuan untuk ; a)Mendiseminasikan inovasi teknologi budidaya
cabai merah di Kabupaten OKI dan bawang merah di Kabupaten Mura, b)Memberikan
dukungan teknologi untuk pengembangan kawasan pertanian hortikultura dalam
bentuk; demplot, pelatihan, penyediaan bahan/materi penyuluhan serta menjadi nara
sumber pada pelatihan/pertemuan petani dan petugas lapang di wilayah
pendampingan, dan c) Meningkatkan percepatan penyebaran inovasi teknologi cabai
76
Tanaman padi dan pengambilan ubinan
merah dan bawang merah ke petani/pelaku usaha. Kegiatan telah dilaksanakan di 2
lokasi wilayah pendampingan yang ada di 2 Kabupaten yakni Kabupaten OKI dan Musi
Rawas. Pelaksanaan pendampingan dimulai dari bulan Januari hingga Desember
2015. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini meliputi; 1) koordinasi, persiapan, 2)
identifikasi potensi wilayah, 3) pelatihan/pertemuan bagi penyuluh/petani/kelompok
tani, 4)pendampingan dan pengawalan teknologi, 5) pelaksanaan demplot/display VUB
dan teknologi pemupukan pada tanaman cabe dan bawang merah, 6) Pengumpulan
dan pengolahan data, dan 7) Pelaporan hasil kegiatan.
Kegiatan Pendampingan Kawasan Tanaman hortikultura meliputi 2 (dua)
komoditi yakni; Cabai merah dan bawang merah. Hasil kegiatan yang telah
dilaksanakan adalah; 1) koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas
Kabupaten OKI dan Musi Rawas. Hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi
bahwa pendampingan untuk demplot diarahkan di Kab OKI untuk pendampingan
kawasan cabai merah dan demplot tanaman bawang merah di Kabupaten Musi
Rawas. 2) Identifikasi Potensi sudah dilaksanakan pada 2 (dua) kelompok yakni
kelompok tani Karya Tunas Muda yang merupakan kawasan Cabai merah di Desa
Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI, dan kelompok Melati Jaya
yang merupakan kawasan Bawang merah di Desa Sukorejo Kecamatan SLTU
Terawas Kabupaten Musi Rawas. 3) Pendampingan dalam bentuk Pelatihan Budidaya
dan PHT Cabai Merah dilaksanakan di Desa Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten OKI, sedangkan Pelatihan Panen dan pasca panen bawang merah
dilaksanakan di Desa Sukorejo Kecamatan SLTU Terawas Kabupaten Musi Rawas. 4)
Pendampingan Teknologi dalam Bentuk Demplot Cabai Merah varietas Kencana
77
dilaksanakan di Desa Sungai Belida pada lahan petani dengan luasan ± 2500 m².
Sedangkan demplot bawang merah dilaksanakan di Desa Sukorejo Kec. SLTU
Terawas Kabupaten Mura, menggunakan varietas BIMA Brebes seluas ±2500 m².
Hasil demplot cabai merah varietas Kencana, di persemaian menunjukkan daya
tumbuh > dari 95%. Pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman pada umur 20 HST (27,8
cm), 40 HST (44,6 cm) dan 60 HST (53,8 cm), rata-rata jumlah cabang pada tanaman
sampel umur 20 HST rata-rata 6,7 buah; umur 40 HST 8,6 buah dan umur 60 HST
mencapai 9,5 cm. Sedangkan hasil panen hanya 12 kali petik dengan total hasil 86 kg.
hal ini disebabkan Karena demplot terkena virus kuning dan trips.
Hasil demplot bawang merah varietas Bima Brebes; brangkasan pada saat
panen berdasarkan hasil ubinan yang diulang sebanyak 5 kali ubinan, dengan luas
ubinan 1 x 1 m, rata-rata mencapai 2,98 kg/m². jika dikonversi dengan hektar (10.000
m²) dengan efisiensi lahan 7500 m², maka produksinya adalah ; 2,98 x 7500 = 22.350
kg/hektar. Dengan asumsi penyusutan ± 50%, maka produksinya mencapai 11,175
ton/ha kering jual
Kondisi pertanaman bawang merah di Kab. Mura Lokasi demplot bawang merah
78
2.3.17 Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional
Kopi dan Karet
Provinsi Sumatera Selatan termasuk dalam provinsi yang telah ditetapkan
untuk pengembangan kawasan beberapa komoditas unggulan. Menurut Keputusan
Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 46/Kpts/PD.300/1/2015 tentang
Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional, kabupaten Musi Rawas ditetapkan
sebagai Kawasan Perkebunan dengan komoditas karet, dan kabupaten Muara Enim
ditetapkan sebagai Kawasan Perkebunan dengan komoditas kopi.
Pendampingan pada kawasan pengembangan kopi di kabupaten Muara Enim
dilakukan dengan melakukan diskusi dengan petani melalui pertemuan kelompok.
Hasil diskusi dilanjutkan dengan melakukan perbaikan teknologi budidaya pada
kelompok tani percontohan, meliputi pemupukan sesuai dosis anjuran, pembersihan
lahan, pembuatan rorak, dan teras. Hasil perlakuan pada kelompok tani percontohan
ini berupa peningkatan hasi panen di tahun 2017.
Kondisi tanaman karet di kawasan pengembangan di kabupaten Musi Rawas pada
umumnya perlu ditingkatkan produktivitasnya. Populasi tanaman yang terlalu padat per
satuan luas menyebabkan produktivitas yang rendah dan meningkatkan ancaman
serangan OPT. Selain itu, petani karet di kawasan pengembangan perlu menerapkan
inovasi jarak tanam agar dapat melakukan diversifikasi tanaman pangan dengan
tanaman karet.
79
Pertemuan kelompok
2.3.18 Pengembangan Varietas Padi Inpara dan Inpari serta
Penyiapan Penangkar Benih di Lahan Rawa Lebak Sumatera
Selatan
Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan
Banyuasin Sumatera Selatan di lahan petani, dimulai pada musim kemarau (Januari-
Desember) 2016. Lokasi dan petani dipilih secara sengaja. Jumlah varietas unggul
yang dikaji sebanyak 4 varietas yaitu Inpari 15, Inpari 30, Inpari 22 dan Inpara 4.
Petani yang terlibat 4 orang sebagai ulangan. Luasan dari masing-masing petani 0,25
hektar. Sehingga total luasan kajian 1 hektar untuk satu kabupaten. Rancangan yang
digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK), dimana varietas padi sebagai
perlakuan dan petani sebagai ulangan.
Persiapan lahan dilakukan dengan menebas rumput, dibersihkan lalu
dikumpulkan kepinggir sebagai galengan. Benih disemai dua kali, kemudian
penanaman dilakukan dengan menggunakan bibit dari persemaian ke-2 umur bibit 30
HST, jarak tanam 25 x 25 cm dengan jumlah bibit 2-3 bibit/rumpun. Pupuk yang
digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2
kali yaitu pada umur 1 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea, 100
80
kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan
takaran 75 kg urea/ha, diberikan secara disebar. Penyulaman dilakukan seminggu
setelah tanam, sedangkan penyiangan pertama dan kedua dilakukan masing-masing
pada 30 hari dan 60 hari setelah tanam. Bila perlu dilakukan penyiangan ketiga,
tergantung keadaan di lapangan. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan
mengikuti cara pengendalian terpadu berdasarkan ambang kendali. Penentuan sampel
dilakukan secara acak, masing-masing varietas sebanyak 5 tanaman. Data yang
dikumpulkan meliputi : 1). Aspek agronomis terdiri dari tinggi tanaman, jumlah anakan
produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah bernas per malai
dan produksi. 2) Aspek sosial ekonomi terdiri dari sarana produksi dan tenaga
kerja.Data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dianalisis dengan uji statistik
sidik ragam (Anova) dan analisis yang digunakan yaitu analisis penerimaan dan
pendapatan, dan analisis imbangan pendapatan atas biaya (B/C). Hasil kajian
menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman dari empat varietas yang dikaji pada
Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir tergolong rendah sampai
sedang, jumlah anakan produktif per rumpun tergolong sedang sampai tinggi.
Persentase gabah isi tergolong baik rata-rata 83%. Produksi gabah Inpari 15, Inpari 22,
Inpari 30 dan Inpara 4 di Desa Sako Kabupaten Banyuasin rata-rata 6,2 ton gkp/ha,
produksi gabah Inpari di Desa Pelabuhan Dalam Kabupaten Ogan Ilir rata-rata 5,0 ton
gkp/ha dan produksi gabah inpari di Desa Berkat Kabupaten OKI rata-rata 3,0 ton
gkp/ha. Reaksi terhadap penyakit blast dimana inpari 22 termasuk tahan, inpari 15
agak rentan, inpari 30 agak tahan dan inpara 4 tahan.Keuntungan yang diperoleh oleh
petani di Desa Sako, di Desa Pelabuhan Dalam dan di Desa Berkat berturut-turut yaitu
Rp 12.780.000, Rp 9.604.000 dan Rp 2.364.000 dengan nilai BC ratio berturut-turut
81
yaitu 1,0 ; 0,8 dan 0,2. Keragaan dari empat varietas unggul tersebut dipilih oleh petani
dari ke tiga kelompok tani yaitu varietas Inpara 4, Inpari 22 dan Inpari 30 karena
produksinya baik dan tahan terhadap penyakit blast. Maka kelompok penangkar “Maju
Bersama” di Desa Sako, Kelompok penangkar “Sumber Karya di Desa Pelabuhan
dalam dan Kelompok penangkar “Bangun Sari” di Desa Berkat akan mengembangkan
varietas tersebut pada musim berikutnya dan sebagai penyedia benih varietas unggul
untuk anggota kelompok atau di luar anggota kelompok baik dalam desa maupun di
luar desa.
Persemaian Inpari dan Inpara Kunjungan anggota Koramil
2.3.19 Kajian Adaptif Inroduksi Pengering Untuk Meningkatkan
Mutu Gabah di Lahan Lebak Provinsi Sumatera Selatan
Kesulitan terbesar yang dihadapi petani rawa lebak adalah ketika panen raya
yang bersamaan dengan musim penghujan, sementara fasilitas penjemuran dan
tenaga kerja yang tersedia terbatas.Kondisi alam dan keterbatasan ketersediaan lantai
jemur di lahan lebak menyebabkan penggunaan mesin pengering sangat dianjurkan.
Tujuan dari kajian ini adalah : a) mengintroduksikan teknologi pengering di petani lahan
82
lebak, b) mengkaji penggunaan alat pengering “solar bubble dryer” terhadap mutu
beras di lahan rawa lebak, c) mengkaji dan menganalisa nilai ekonomi dari
penggunaan pengering “solar bubble dryer” di lahan rawa lebak, d) mengkaji persepsi
petani terhadap teknologi “solar bubble dryer” yang dikenalkan. Kajian adaptif
pengeringan ini dilakukan melalui pendekatansecara partisipatif dan direncanakan
akan dilaksanakan sejak bulan Januari hingga Desember 2016. Bahan yang digunakan
diantaranya adalah gabah kering panen, sedangkan alat yang digunakan adalah
bubble solar dryer, timbangan, karung, terpal, RH meter, moisture tester, termokopel,
alat pengukur suhu, alat pengukur kadar air. Sedangkan metode yang digunakan
adalah a) survei RRA di lokasi kajian, b) mengkaji penggunaan alat pengering “solar
bubble dryer” terhadap mutu gabah dan beras, c) mengitung analisis ekonomi, d)
mengukur persepsi petani terhadap teknologi solar bubble dryer
Temu Lapang
2.3.20 Kajian Adaptif Pola Tanam Padi dan Palawija di Lahan
Rawa Lebak
83
Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan
Pengkajian dilaksanakan di Desa Kota Daro II, Kecamatan Rantau panjang
Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, yang akan dilaksanakan pada bulan Januari
sampai dengan Desember 2016. Pemanfaatan lahan rawa lebak dengan
menggunakan pola tanam rawa lebak dangkal (padi – Palawija/sayuran – Padi).
kajian adaptif pola tanam padi dan palawija menggunakan model Superimposed,
dalam pelaksanaannya bersifat partisipatif petani dan dilaksanakan dilahan petani
yang dikawal dan dibimbing oleh peneliti, penyuluh dan teknisi. Luas pengkajian 0,5
ha, dengan pola tanam masing-masing petani (A). Padi – Kacang tanah – Padi; B)
Padi-kacang hijau-padi; C) Padi-jagung-padi; dan D) padi-pare-padi). Adapun tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan pola tanam sistem usahatani pada lahan
lebak dangkal dan meningkatkan pendapatan petani .Hasil analisis usahatani pola
tanam di rawa lebak dangkal menunjukkan bahwa pendapatan pola tanam beragam.
Masing-masing pendapatan pola tanam padi dan palawija adalah (padi+pare) sebesar
Rp 27.160.000,- (padi +Kc tanah) sebesar Rp 25.540.000; (padi + kacang hijau)
sebesar Rp 17.970,- (padi + Jagung) sebesar 12.150.000,- .Pola tanam yang bisa
untuk dikembangkan terutama di lahan rawa lebak dangkal, berdasarkan hasil kajian
adalah pola tanam (padi + pare) dan pola tanam (padi + kacang tanah).
2.3.21.
Produksi Benih
Sumber Kedelai
7 Ton
Pemerintah
sudah
menetapkan 3
(tiga) komoditas
84
PolatanamMKI (Februari-Juli)2016
tanaman pangan yang harus dapat diproduksi didalam negeri dengan meminalisir
import dari luar selama 3 (tiga) taun mulai 2015-2017 yang sering kita dengar sebagai
upaya khusus peningkatan produksi padi-jagung-kedelai (Pajale). Salah satu
komponen produksi yang dibutuhkan petani adalah benih bermutu. Ketersediaan benih
bermutu dinilai strategis karena akan sangat menentukan keberhasilan budidaya
tanaman. Peran benih sangat menentukan kapasitas produksi yang akan dihasilkan
dan berkembangnya agribisnis, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai
dengan preferensi konsumen dan sistem produksi benih secara berkelanjutan menjadi
sangat penting. Untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan benih unggul bermutu
kedelai di tingkat daerah secara berkelanjutan guna mendukung program pemerintah
dalam upaya peningkatan produksi kedelai. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan
kelembagaan kelompok penangkar yang sudah ada dengan melibatkan instansi terkait
di daerah melalui pembinaan dan pelatihan secara intensif serta dengan memberikan
dukungan sarana prasarana yang memadai.Kegiatan Produksi Benih Sumber Kedelai
(2 ton FS dan 5 ton SS) bertujuan untuk; (1) Menyediakan dan memproduksi benih
sumber kedelai sebanyak (2 ton FS, 5 ton SS) secara tepat (varietas, mutu, jumlah,
dan waktu) sesuai dengan kebutuhan masyarakat, (2) Mengembangkan dan
menyebarluaskan penggunaan VUB kedelai yang sesuai dengan preferensi
konsumen/masyarakat tani dan mampu meningkatkan produksi, produktivitas, dan
mutu hasil, dan (3) Membina minimal 1 (satu) kelompok penangkar benih. Dari
hasil pelaksanaan kegiatan produksi benih atau penangkaran yang dikerjasamakan
dengan petani, dapat disimpulkan antara lain, (1) Pertanaman kedelai untuk produksi
kedelai dapat terlaksana seluas 8 (delapan) ha dan diperkirakan dapat memproduksi
dan menyediakan benih sebanyak 7 ton, namun karena Varietas yang ditanam tidak
85
adaftif untuk lahan pasang surut dan tidak sesuai kebutuhan masyarakat (tergantung
stok yang ada di Balitkabi) dan ditambah lagi kondisi iklim yang ekstrem pada MK 2016
menyebabkan target produksi benih sumber kedelai tidak tercapai ; (2) pengembangan
dan penyebarluasan penggunaan VUB kedelai yang sesuai dengan preferensi
konsumen/masyarakat tani dan mampu meningkatkan produksi, produktivitas, dan
mutu hasil belum dapat dicapai sesuai tujuan kegiatan, namun (3) Pembinaan
terhadap minimal 1 (satu) kelompok penangkar benih sudah dapat dilaksanakan.
Pertanaman Kedelai Varietas Gema
2.3.22. Produksi Benih Sumber Padi
Varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam
peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kontribusi nyata varietas unggul
terhadap peningkatan produksi padi Nasional antara lain tercermin dari pencapaian
swasembada beras pada tahun 1984. Hal ini terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh
86
varietas unggul padi, antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan
penyakit utama, umur genjah sehingga sesuai dikembangkan dalam pola tanam
tertentu, dan rasa nasi enak (pulen) dengan kadar protein relatif tinggi. Adapun tujuan
dari kegiatan ini adalah 1) Meningkatkan produksi, mutu dan distribusi benih sumber
(FS 14 ton, dan SS 29 ton) padi agar selalu terjamin ketersediaanya sesuai dengan
kebutuhan pengguna. 2) Memantapkan kelembagaan perbenihan untuk menjamin
distribusi benih berjalan dengan cepat dan tepat, dan 3) Mendukung upaya penyediaan
benih unggul bermutu bagi petani.Kegiatan produksi benih sumber dilaksanakan dari
bulan Januari sampai Desember 2016 di lahan sawah irigasi Kabupaten Ogan
Komering Ulu Timur dan di kabupaten Musi Rawas (Mura). Untuk Sentra Prosesing
Unit ditempatkan Di Kebun Percobaan Kayuagung. Secara teknis, waktu pelaksanaan
kegiatan lapangan menyesuaikan kondisi lapangan. Produksi benih sebar padi di
Sumatera Selatan klas FS, dan SS, direncanakan menggunakan varietas Inpai 1,
Inpari 6, Inpari 9, Inpari 22, Inpari 29, Inpari 30, 32, dan Inpara 4 dengan luas tanam
40, rencana target produksi benih dari varietas tersebut adalah 14 ton kelas FS, 29 ton
kelas SS.Data yang dikumpulkan meliputi data keragaan pertumbuhan dan hasil. Data
yang dikumpulkan ditabulasikan dan dianalisa (kuantitatif). Sebagai
pertanggungjawaban akhir dari pelaksanaan kegiatan disusun akhir. Hasil akhir dari
kegiatanini adalah Produksi benih yang disertifikasi pada tahun 2016 milik UPBS BPTP
Sumatera selatan sebanyak 43.970 kg , yang terdiri dari varietas Inpari 1 (FS) sebesar
1300 kg, Inpari 6 (FS) 3130 kg), Inpari 22 (FS) 8500 kg, Inpari 30 (FS) 12.221 kg,
Inpari 32 (FS) 1560 kg, Inpari 9 (FS) 4050 kg, Inpari2 9 (SS) 540, Inpari 30 (SS) 4000
kg Inpari 30 (SS) 3500 kg, Inpari 9 (SS) 1000, dan Inpara4(SS) 3669 kg. Sedangkan
87
benih yang sudah di distribusikan ke pengguna benih sumber sampai bulan Januari
2016 sebanyak 25.940kg, dari total produksi 43.470 kg.
88
III. PENUTUP
Pada Tahun 2016 berdasarkan jumlah dari masing-masing dana, maka secara
keseluruhan terdapat 41 kegiatan di BPTP Sumsel. Selain kegiatan
penelitian/pengkajian, diseminasi, analisis kebijakan dan kegiatan pendampingan, juga
terdapat kegiatan yang termasuk dalam koordinasi sub bagian ketatausahaan dan
seksi kerjasama dan pelayanan pengkajian. Realisasi penggunaan dana dari DIPA
BPTP tahun 2016 tersebut sebesar 87.15%.
Kegiatan tersebut telah diupayakan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya, namun
demikian pelaksanaannya juga tidak terlepas dari berbagai kendala seperti cuaca yang
pada bulan-bulan tertentu sangat ekstrim, hama dan penyakit tanaman serta aspek
kelembagaan yang masih terbatas dari segi kualitas, dan realisasi pencairan dana
yang terlambat akibat revisi anggaran juga berdampak pada kelancaran pelaksanaan
kegiatan.
Untuk pelaksanaan kegiatan yang matang, tentunya sejak awal perlu
perencanaan dan perancangan, dibahas dalam tim dan selanjutnya yang tidak kalah
penting adalah pelaksanaan dari monitoring dan evaluasi kegiatan. Hal ini diperlukan
agar permasalahan yang terjadi segera dicari jalan keluarnya sebelum menjelang
berakhirnya kegiatan tersebut.
Untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan litkaji, peningkatan
kualitas SDM secara berkelanjutan yang mampu mengiringi perkembangan zaman,
peningkatan sarana dan prasarana tentu akan menjadikan output kegiatan semakin
bermanfaat dan berdampak luas.
89
90

Laphir bptp sumsel ta 2016

  • 1.
    I. PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang Perubahan lingkungan strategis global dan domestik pada sektor pertanian secara langsung maupun tidak langsung telah dan akan mempengaruhi pembangunan pertanian nasional maupun wilayah spesifik lokasi. Mencermati dinamika perubahan lingkungan strategis tersebut, program dan kegiatan pengkajian dan pengembangan teknologi spesifik lokasi diarahkan untuk merakit berbagai inovasi pertanian spesifik agroekosistem yang menghasilkan produk berdaya saing tinggi baik di pasar domestik maupun internasional. Ini dilakukan dalam rangka mengakselerasi pembangunan pertanian wilayah, dengan mengembangkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan berbasis sumberdaya lokal. Secara umum, arah kebijakan pembangunan pertanian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 antara lain: 1. Meningkatkan kapasitas produksi melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal pertanian. 2. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah komoditi pertanian. 3. Meningkatkan produksi dan diversifikasi sumber daya pertanian. 4. Pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. 5. Memperkuat kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sebagai institusi pusat yang berada di daerah dan merupakan ujung tombak Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) dalam 1
  • 2.
    melakukan pengkajian bidangpertanian, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan pada Tahun 2016 tetap berperan aktif dalam menumbuhkan inovasi serta mengembangkan teknologi pertanian spesifik lokasi di daerah melalui impementasi kegiatan-kegiatannya (Peraturan Menteri Pertanian No:20/Permentan/OT.140/3/2013). Hal ini terkait dengan arah, visi, misi, dan sasaran utama pembangunan pertanian dalam Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, dimana pembangunan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan nasional, dan penempatan sektor pertanian dalam pembangunan nasional merupakan kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Diyakini, bahwa berkembangnya sektor pertanian yang maju akan mendorong berkembangnya sektor lain, terutama sektor hilir (agriculture industries and services) yang maju pula. Laporan Akhir Tahun BPTP Sumsel ini disusun untuk menginformasikan implementasi pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel selama Tahun 2016. Laporan ini pun tentunya dapat dijadikan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan lain yang sejenis agar lebih baik lagi di masa mendatang. 1.2. Tugas, Visi dan Misi BPTP Sumatera Selatan 1.2.1. Tugas Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.16/Permentan/OT.140/3/2006, BPTP Sumsel mempunyai tugas pokok melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Beberapa fungsi yang diselenggarakan oleh BPTP Sumsel untuk melaksanakan tugasnya antara lain: 2
  • 3.
    a. Pelaksanaan inventarisasidan indentifikasi kebutuhan teknologi pertanian spesifik lokasi b. Pelaksanaan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi c. Pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta perakitan materi penyuluhan d. Menyiapkan kerja sama, informasi, dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi e. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai I.2.2. Visi Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan pertanian terkemuka di dunia dalam mewujudkan sistem pertanian bio-industri tropika berkelanjutan. I.2.3. Misi a. Merakit, menguji dan mengembangkan inovasi pertanian tropika unggul berdaya saing mendukung pertanian bio-industri. b. Mendiseminasikan inovasi pertanian tropika unggul dalam rangka peningkatan scientific recognition dan impact recognition. I.3. Struktur Organisasi 3
  • 4.
    Untuk menjalankan tugaspokok dan fungsinya, BPTP Sumatera Selatan yang merupakan unit kerja Eselon IIIa, berada di bawah lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). Dalam pelaksanaan kegiatan, secara struktural Kepala Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Sub Bag. TU), Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP). Secara fungsional dibantu oleh Tim Program dan 4 (empat) Kelompok Pengkaji (kelji) yang terdiri dari: (1). Kelji. Sumberdaya, (2). Kelji. Budidaya, (3). Kelji. Pasca Panen dan (4). Kelji. Sosial Ekonomi. Tugas penelitian dan pengkajian dari masing-masing kelji berbeda- beda, namun saling mendukung dan bekerjasama. Pada Seksi KSPP terdapat unsur penting yang mendukung pelaksanaan kegiatan yaitu kebun percobaan (KP), laboratorium dan perpustakaan. Sub Bag. TU bertugas dalam urusan administrasi, keuangan, kepegawaian dan rumah tangga Balai. Seksi KSPP bertugas dalam penyiapan dan pengelolaan informasi, komunikasi, diseminasi hasil penelitian dan pengkajian (litkaji), sarana laboratorium dan sarana lapangan. Dalam tugasnya Kepala Balai dibantu Tim Program dalam menyiapkan, penyusunan dan perumusan program litkaji. Tim Program bekerjasama dengan Kelji yang didukung oleh Seksi KSPP dan Sub Bag. TU. 4 Kepal Ka. Sie KSPP Ka. Sub Bag. TU
  • 5.
    Gambar 1. StrukturOrganisasi BPTP Sumatera Selatan I.4. Sarana dan Prasarana Keberhasilan pelaksanaan penelitian dan pengkajian perlu ditunjang dengan tersedianya sarana dan prasarana. Kantor BPTP Sumsel berada di atas lahan seluas 5.100 m 2 . Di tanah ini berdiri beberapa gedung yang difungsikan untuk kegiatan administrasi dan tenaga fungsional dengan luas lantai dasar 369,36 m 2 , gedung keuangan 178,22 m 2 , gedung pelayanan teknis (laboratorium, perpustakaan) dengan luas lantai dasar 470,69 m 2 , luas garasi kendaraan bagian bawah 173,46 m 2 dengan bagian belakang berlantai dua, Pos Satpam 36,19 m 2 , gudang 78,59 m 2 , menara air 14,34 m 2 dan luas aula 648,65 m 2 . Kebun Percobaan Kayuagung dengan luas lahan 26,6 ha, status tanahnya adalah hak guna pakai. Berada di Desa Sidakersa Kecamatan Kota Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan agroekosistem Lebak. Kebun ini dapat dijangkau dengan mudah dari Palembang dengan kendaraan roda empat. Berada di tepi jalan Trans Sumatera. Berdasarkan tipenya maka KP ini memiliki lahan lebak dalam 49,4%, lebak tengahan 19,4% dan lebak dangkal 31,2% dari luas lahan. Kebun ini berada pada ketinggian 31 m di atas permukaan laut. Adapun KP. Karang Agung dengan luas 20 ha, status tanahnya adalah pinjaman. Berada di Desa Sukamulia Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin. Untuk menjangkau kebun ini, setelah 5 Kelji Sosial Ekonomi Kelji Pasca Panen Kelji Budidaya Kelji Sumberday
  • 6.
    mengendarai kendaraan rodaempat dari Palembang kurang lebih 3,5 jam, maka dilanjutkan dengan menggunakan speed boat selama 30 menit. Agroekosistem kebun ini pasang surut, bertipe luapan B/C yang berada pada ketinggian 29 m di atas permukaan laut. Untuk menunjang pelaksanaan tugasnya, maka di lingkup BPTP Sumsel saat ini terdapat 8 kendaraan dinas roda empat, sedangkan fasilitas lapangan terdiri dari alat angkut bermotor roda tiga 4 unit, traktor tangan 4 unit, Transplanter 1 unit, perontok gabah 2 unit, box dryer 2 unit dan ditunjang dengan beberapa fasilitas untuk pengolahan benih. Lebih lanjut mengenai keadaan kekayaan barang bergerak lingkup BPTP Sumatera Selatan sampai akhir tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini. 6
  • 7.
    Tabel 1. KeadaanKekayaan Barang Bergerak yang Dikelola Lingkup BPTP Sumatera Selatan tahun 2016 No Jenis Kendaraan No. Polisi Pemakai Keterangan 1. Toyota Kijang Innova(Bensin) BG 1342 RZ Ka. Balai Kendaraan R.4 2. Toyota Kijang Innova(Solar) BG 1073 RZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 3. Suzuki Vitara BG 1501 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 4. Toyota Kijang Kapsul BG 1472 LZ Pool Kendaraan Kendaraan R.4 5. Toyota Kijang Kapsul BG 1993 LZ KP. Karang Agung Kendaraan R.4 6. Toyota Hilux Double Kabin BG 9786 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4 7. Toyota Hilux Pickup BG 9505 MZ Pool kendaraan Kendaraan R.4 8. Toyota Hilux Pickup F 8466 A KP. Kayuagung Kendaraan R.4 9. Yamaha YT 125 BG. 6291 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2 10. Yamaha YT 125 BG. 6292 NZ KP. Kayu Agung Kendaraan R.2 11. Yamaha YT 125 BG. 6295 NZ Susno Kendaraan R.2 12. Yamaha YT 125 BG. 6294 NZ M. Arif Sidik P Kendaraan R.2 13. Yamaha YT 125 BG. 6290 NZ Juwedi Kendaraan R.2 14. Yamaha YT 125 BG 6296 NZ Budi Raharjo Kendaraan R.2 15. Yamaha YT 125 BG. 6293 NZ Tukiran Kendaraan R.2 16. Suzuki Trail BG. 5849 NZ KP. Karang Agung Kendaraan R.2 7
  • 8.
    17. Honda Vario150cc BG 2508 ABA Ka. Balai Kendaraan R.2 18. Viar BG 6414 PZ KP Kayuagung Kendaraan R.3 19. Viar F 5371 A KP Kayuagung Kendaraan R.3 20. Viar F 5398 A KP Kayugung Kendaraan R.3 21. Viar BG 6415 PZ KP Karang Agung Kendaraan R.3 22. Suzuki A100 BG 5844 NZ Pool Kendaraan R.2 1.5. Sumber Daya Manusia Untuk menjalankan program dalam wujud beberapa kegiatan, BPTP Sumsel memiliki sumber daya manusia sebanyak 83 orang. Tenaga-tenaga ini menyebar di kantor BPTP Sumsel 65 orang, Kebun Percobaan Kayuagung di Kabupaten OKI 12 orang dan Kebun Percobaan Karang Agung di Kabupaten Banyuasin 6 orang. Ditinjau dari tingkat pendidikannya, saat ini terdapat 3 orang yang berpendidikan strata 3; 17 orang berpendidikan strata 2 dan 35 orang berpendidikan strata 1. Pegawai yang berpendidikan Diploma (2-4) sebanyak 6 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 18 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 2 orang dan yang berpendidikan Sekolah Dasar 2 orang. Bila dilihat dari fungsinya, maka SDM yang sudah memiliki fungsional peneliti 21 orang, fungsional penyuluh 10 orang, fungsional pustakawan 1 orang, fungsional tehnisi litkayasa 1 orang dan fungsional umum 49 orang. Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan kegiatan BPTP Sumsel, maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan dengan menyekolahkan staf ke jenjang yang lebih tinggi. Ini sudah merupakan komitmen Badan Litbang Pertanian untuk 8
  • 9.
    meningkatkan kemampuan SDMmelalui pendidikan tinggi. Saat ini terdapat satu orang staf peneliti yang mengikuti pendidikan Strata 3 dan 1 orang yang mengikuti pendidikan Strata 2. Berikut rekapitulasi pegawai menurut beberapa kriteria per Desember 2016. Tabel 2. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan Ruang per Desember 2016 No Golongan Ruang A B C D Jumlah 1 Golongan I 0 0 2 0 2 2 Golongan II 3 3 3 2 11 3 Golongan III 13 23 7 14 57 4 Golongan IV 6 5 2 0 13 Total 22 31 14 16 83 Tabel 3. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan/Ruang dan Pendidikan Akhir per Desember 2016 No Gol/Ruang S3 S2 S1 D4 D3 SLT A SLTP SD Jumlah 1 I/c 2 2 2 I/d - - 3 II/a 2 1 3 4 II/b 2 1 3 5 II/c 1 2 3 6 II/d 1 1 2 7 III/a 6 1 1 5 13 8 III/b 2 13 1 1 6 23 9 III/c 4 3 7 10 III/d 1 4 9 14 11 IV/a 1 4 1 6 12 IV/b 1 2 2 5 9
  • 10.
    13 IV/c 11 2 Jumlah 3 17 35 2 4 18 2 2 83 Tabel 4. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Kelompok Umur per Desember 2016 N O Gol/ Ruang 21-25 tahun 26-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun 41-45 tahun 46-50 tahun 51-55 tahun 56-60 Tahu n Jumlah 1 I 2 2 2 II 1 2 1 4 3 11 3 III 4 10 7 6 8 15 7 57 4 IV 1 7 5 13 Jumlah 5 12 7 8 12 25 14 83 Tabel 5. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan dan Pendidikan Akhir per Desember 2016 N O Gol/ Ruang S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLTP SD Jumlah 1 I 2 2 2 II 2 7 2 11 3 III 1 10 31 2 2 11 57 4 IV 2 7 4 13 Jumla h 3 17 35 2 4 18 2 2 83 Tabel 6. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional per Desember 2016 No . Nama Fungsional Jumlah 1. Peneliti 21 2. Penyuluh 10 10
  • 11.
    3. Pustakawan 1 4.Teknisi Litkayasa 1 Tabel 7. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Peneliti per Desember 2016 Tabel 8. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Penyuluh per Desember 2016 No. Nama Fungsional Jumlah 1 Penyuluh Pertanian Madya 4 2 Penyuluh Pertanian Muda 3 3 Penyuluh Pertanian Pertama 3 4 Penyuluh Terampil Penyelia 0 5 Penyuluh Terampil Pelaksana L 0 6 Penyuluh Terampil Pelaksana 0 7 Penyuluh Terampil Pelaksana P 0 8 Penyuluh Non Klasifikasi 2 Jumlah 12 Tabel 9. Rekapitulasi Pegawai Menurut Kelompok Fungsional Pustakawan No . Nama Fungsional Jumlah 1 Pustakawan Pertama 1 Jumlah 1 11 No. Nama Fungsional Jumlah 1. Peneliti Utama 0 2. Peneliti Madya 6 3. Peneliti Muda 9 4. Peneliti Pertama 6 5. Peneliti Non Klasifikasi - Jumlah 21
  • 12.
    Tabel 10. RekapitulasiPegawai Menurut Kelompok Fungsional Litkayasa No. Nama Fungsional JUMLAH 1 Teknisi Litkaya Pemula 1 Jumlah 1 Tabel 11. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur per Desember 2016 No Jenis kelamin 20-25 Tahun 26-30 Tahun 31-35 Tahun 36-40 Tahun 41-45 Tahun 46-50 Tahun 51-55 Tahun 56-60 Tahun Jumlah 1 Laki-Laki 2 2 2 4 9 20 7 46 2 Perempua n 3 10 5 4 3 5 7 37 Jumlah 5 12 7 8 12 25 14 83 Tabel 12. Rekapitulasi Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Golongan/Ruang per Desember 2016 N o Golongan Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan 1 I/c 2 - 2 2 I/d - - - Jumlah Gol. I 2 - 2 3 II/a 3 - 3 12
  • 13.
    II/b 3 3 4II/c 2 1 3 5 II/d 2 - 2 Jumlah Gol. II 10 1 11 6 III/a 7 6 13 7 III/b 10 13 23 8 III/c 1 6 7 9 III/d 7 7 14 Jumlah Gol. III 25 32 57 10 IV/a 4 2 6 11 IV/b 4 1 5 12 IV/C 1 1 2 Jumlah Gol. IV 9 4 13 Total 46 37 83 Tabel 13. Rekapitulasi Pegawai Menurut Golongan, Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin per Desember 2016 N o Golonga n /Ruang Pendidikan Akhir dan Jenis Kelamin S3 S2 S1 D4 D3 SLTA SLT P SD Jumla h L P L P L P L P L P L P L P L P 1 GOL. I - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2 2 GOL. II - - - - - - - - 1 1 7 - 2 - - - 11 3 GOL. III 1 - 3 7 9 22 1 1 2 - 9 2 - - - - 57 4 GOL. IV 1 1 6 1 2 2 - - - - - - - - - - 13 Jumlah 2 1 9 8 1 1 2 4 1 1 3 1 1 6 2 2 - 2 - 83 13
  • 14.
    II. HASIL KEGIATAN 2.1.Sub Bagian Tata Usaha 2.1.1. Pendidikan dan Latihan Untuk meningkatkan pendidikan tenaga peneliti dan non peneliti telah dilakukan berbagai upaya melalui jalur formal dengan biaya pemerintah maupun dengan biaya sendiri. Jenjang pendidikan yang diikuti adalah S2 dan S3 dengan berbagai disiplin Ilmu seperti terlihat pada Tabel 14. Tabel 14. Pegawai BPTP Sumsel yang sedang mengikuti pendidikan N o Nama Progra m Jurusan Tempat Sumber Biaya Tahu n mulai Tahun Selesa i 1. Herwenita, SP S2 Community Development UPLB Filipina Badan Litbang 2013 Belum Selesa i 2. Agus Suprihatin, SP, M.Sc S3 Ilmu Tanah UGM Yogyakart a Badan Litbang 2015 Belum Selesa i Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Penanggung Jawab Kepegawaian pada tahun anggaran 2016 sejak triwulan pertama sampai pada triwulan keempat adalah sebagai berikut : 1) Kenaikan Gaji Berkala, 2) Kenaikan Pangkat, 3) Pembuatan Karpeg, 4) Taspen, 5) Pembuatan Karis dan Karsu dan 6) Pembuatan Askes. 14
  • 15.
    Untuk pengoperasian SoftwareSIMPEG tersebut pada tahun anggaran 2016 telah dapat dilaksanakan dengan baik, dengan demikian diharapkan dalam penampilan dan penyajian data-data kepegawaian dapat lebih akurat dan cepat seperti penampilan daftar Nominatif pegawai berdasarkan tingkat pendidikan, umur, pangkat/golongan dan Eselon, penampilan kapan kenaikan pangkat pegawai, kenaikan gaji berkala, kapan pensiun dan pembebasan sementara. 2.1.2. Perlengkapan Perlengkapan BPTP Sumatera Selatan meliputi barang tidak bergerak dan barang bergerak. Barang tidak bergerak antara lain meliputi tanah dan bangunan, sedangkan barang bergerak berupa kendaraan dan alat mesin lainnya. Pada tahun 2016 telah dilakukan pemeliharaan kantor BPTP, rumah dinas dan mess BPTP, dengan melakukan pengecatan . Pemasangan awning 2.1.3. Keuangan Sebagai unit pelaksana teknis dibidang pengkajian dan alih teknologi spesifik lokasi, dalam melaksanakan tupoksinya BPTP Sumsel pada TA. 2016 didukung oleh sumber dana yang berasal dari APBN dalam bentuk Rupiah Murni (RM) sebesar Rp 29,330,772,000.00,- Anggaran BPTP Sumsel dicairkan sesuai dengan Surat Pengesahan DIPA Tahun Anggaran 2016 dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Apabila dana tersebut dirinci menurut jenis belanjanya, maka persentase realisasi belanja pegawai sebesar 99.64%, belanja barang 83.70% dan belanja modal 98.94% seperti pada tabel berikut 15
  • 16.
    Tabel 15. Realisasipenggunaan dana dari DIPA BPTP Sumsel Tahun 2016 No. Jenis PAGU (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (%) 1. Belanja Pegawai 5,811,652,000.00 5,790,892,918.00 99.64 2. Belanja Barang 22,963,631,000.00 19,220,683,763.00 83.70 3. Belanja Modal 555,489,000.00 549,619,200.00 98.94 JUMLAH 29,330,772,000.00 25,561,195,881.00 87.15 Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP tahun 2016 tersebut sebesar 87.15%. Realisasi belanja barang yang hanya 83,70% tersebut disebabkan oleh terlambatnya pencairan dana kegiatan karena adanya revisi anggaran dan terlambatnya pencairan dana kegiatan setelah diajukannya rencana kerja. Realisasi belanja dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan dan efisiensi, namun tetap menjamin terlaksananya kegiatan-kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA- KL). Selain dari DIPA BPTP Sumsel 2016, juga terdapat dana dari SMARTD yaitu sebesar Rp 924.633.000,- yang terdiri dari kegiatan: 1. Implementasi Teknologi Penanganan Segar Cabai untuk Memperpanjang Umur Simpan , dengan pagu Rp. 145.470.000,- dan terealisasi 100%. 2. Percepatan Diseminasi VUB Padi Melalui Demfarm Teknologi Jarwo Super di Sumatera Selatan, dengan pagu Rp. 232.705.000,- dan terealisasi 99,62%. 16
  • 17.
    3. Kajian danUji Pengolahan Air Payau untuk Suplai Air Irigasi di Musim Kemarau untuk Mendukung IP 300 di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan, dengan pagu Rp. 135.000.000,- dan terealisasi 100%. 4. Perbaikan Teknologi Proses Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Rendemen Giling Padi dan Mutu Beras yang Dihasilkan di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan, dengan pagu Rp. 124.280.000,- dan terealisasi 99,16%. 5. Penggunaan Bahan Pakan Lokal Sumber Protein Potensial untuk Meningkatkan Produksi Telur Itik Pegagan di Lahan Rawa, dengan pagu Rp. 148.278.000,- dan terealisasi 97,37%. 6. Revitalisasi KP Kayu Agung, dengan pagu Rp. 138.900.000,- dan terealisasi 81,26%. Tabel 16. Realisasi penggunaan kegiatan yang di danai SMARTD Tahun 2016 Judul kegiatan Pagu (Rp) Realisasi Rp % Implementasi Teknologi Penanganan Segar Cabai untuk Memperpanjang Umur Simpan 145.470.000 145.470.000 100,00 Percepatan Diseminasi VUB Padi Melalui Demfarm Teknologi Jarwo Super di Sumatera Selatan 232.705.000 231.829.150 99,62 Kajian dan Uji Pengolahan Air Payau untuk Suplai Air Irigasi di Musim Kemarau untuk Mendukung IP 300 di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan 135.000.000 135.000.000 100,00 Perbaikan Teknologi Proses Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Rendemen Giling Padi dan Mutu Beras yang Dihasilkan di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan 124.280.000 123.240.000 99,16 Penggunaan Bahan Pakan Lokal Sumber Protein Potensial untuk Meningkatkan Produksi Telur Itik 148.278.000 144.375.000 97,37 17
  • 18.
    Pegagan di LahanRawa Revitalisasi KP Kayu Agung 138.900.000 112.869.200 81,26 Total 924.633.000 892.783.350 96,56 Kegiatan yang didanai oleh SMARTD dan Badan Litbang tahun 2016 rata-rata terealisasi keuangannya 96,245 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan juga menyetorkan hasil Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2016 sebesar Rp 452.975.950,- yang terdiri dari penerimaan fungsional dan penerimaan umum dengan rincian seperti pada Tabel 17. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2016 Penerimaan Jumlah (Rp) Fungsional KP. Kayuagung 10.235.000,- KP. Karangagung 21.180.000,- Unit Pengelolaan Benih Sumber 365.768.200,- Jumlah penerimaan fungsional 397.183.200,- Jumlah Penerimaan umum 55.792.750,- Jumlah PNBP 452.975.950,- Dari PNBP tersebut, maka 73,40% merupakan penerimaan fungsional dan 26,60% dari penerimaan umum. Adapun anggaran dan realisasi dana pada masing-masing kegiatan (kegiatan rutin, penelitian, penunjang penelitian) yang dilaksanakan di BPTP Sumsel terlampir. 2.1.4. Penyusunan Laporan Keuangan SAI pada Sekretariat UAPPA/B-W 18
  • 19.
    Dengan semakin meningkatnyakebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Negara, maka diperlukan perangkat hukum yang didasarkan atas prinsip umum yang sehat, modern dan dinamis. Untuk menjawab tantangan tersebut, maka pemerintah telah membuat suatu program Sistem Akutansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang telah diperbaharui untuk memonitor apakah keuangan Negara telah dijalankan secara efektif dan efisien serta telah sesuai dengan tujuan pengeluaran belanja sebagaimana tercantum dalam Daftar Isian Pengguna Anggaran (DIPA), maka diperlukan informasi yang relevan dalam bentuk laporan-laporan yang seragam untuk seluruh instansi pusat sampai ketingkat satuan unit kerja di daerah. Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akutansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan adalah sebagai penanggung jawab UAKPA, yang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan BPTP berupa laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan. Dengan demikian penyusunan dan penyajian laporan BPTP ini merupakan perwujudan pertanggung jawaban atas penggunaan anggaran maupun barang pada BPTP Sumatera Selatan. Untuk menunjang pelaksanaan program SAI pada Satuan Kerja dengan mempergunakan Sistem Akutansi Berbasis Akrual (SAIBA) pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan pada tahun 2016 telah dibentuk Unit Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Untuk pelaksanaan operasional kegiatan tersebut BPTP Sumatera Selatan telah dilengkapi dengan struktur organisasi dan telah 19
  • 20.
    mendapat alokasi danamelalui DIPA Nomor DIPA-018.09.2.567495/2016 tanggal 7 Desember 2015 Tahun Anggaran 2016 sebesar Rp. 29,330,772,000.00,- (Dua puluh Sembilan milyar tiga ratus tiga puluh juta tujuh ratus tujuh puluh dua ribu rupiah) Laporan akhir kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) tahun 2016 ini disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akutansi Pemerintah (SAP). Dari hasil pelaksanaan kegiatan Sistem Akutansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA) yang dilaksanakan BPTP Sumatera Selatan untuk tahun anggaran 2016 maka dihasilkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan laporan keuangan satker serta disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standard Akutansi Pemerintah. Secara kumulatif, realisasi anggaran pada TA 2016 mengalami penurunan dibandingkan dengan TA 2015, hal ini disebabkan adanya pemblokiran dana (savebloking) senilai Rp 2.000.000.000,- . Pada TA 2016, pencairan anggaran selain belanja pegawai/gaji baru terealisasi pada bulan Februari. Perkembangan pencairan dana dari bulan April hingga Oktober terlihat membentuk garis lurus dengan gradien yang hampir sama, yang berarti pada bulan-bulan tersebut terjadi pencairan anggaran dalam jumlah yang hampir sama. Pada bulan–bulan berikutnya (Nopember dan Desember), pencairan anggaran berlangsung lebih cepat, hingga akhirnya mencapai prosentase realisasi anggaran DIPA Umum sebesar 87.15%. Angka ini berdasarkan pencairan anggaran melalui Surat perintah Membayar (SPM) yang Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) nya diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Palembang. 20
  • 21.
    Peningkatan pencairan danapada bulan Nopember dan Desember disebabkan transaksi pembayaran belanja modal pada umumnya baru dilaksanakan pada bulan- bulan tersebut. Neraca Semester II 2016 per 31 Desember disusun berdasarkan atas Laporan Keuangan Kementerian Pertanian tahun 2016, dan adanya proses kapitalisasi SIMAK-BMN. Gambaran perkembangan neraca tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Posisi Neraca BPTP Sumsel pada Semester II/ 31 Desember 2016 seperti terbaca berikut ini: A. Aset Tetap sebesar Rp 229.827.844.344,- terdiri dari: 1) Tanah Rp 212.122.829.960,- 2) Peralatan dan Mesin Rp 7.404.807.699,- 3) Gedung dan Bangunan Rp 19.557.235.512,- 4) Jalan Irigasi dan Jaringan Rp 21.002.460.850,- , 5) Aset Tetap Lainnya Rp 87.435.346 6) Konstruksi dalam pengerjaan Rp 112.869.200,- dan akumulasi penyusutan senilai Rp 30.459.794.223,- B. Aset Lainnya sebesar 19.615.259,- terdiri dari : 1). Aset tak berwujud Rp 10.637.700,- 8) Aset lain-lain Rp 303.220.739,- sedangkan total akumulasi penyusutan sebesar Rp 294.243.180,- Pengelolaan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan telah dapat dilaksanakan/dioperasionalkan sebagaimana mestinya walaupun masih terdapat kendala dan hambatan. 2.1.5. Sistem Pengendalian Intern/Wilayah Bebas Korupsi Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan 21
  • 22.
    wewenang, praktek KKN,dan lemahnya pengawasan. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik. Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainnya. Untuk itu, perlu secara konkret dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) maka diperlukan sistem pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilaksanakan dengan berpedoman pada Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. SPI diselenggarakan secara menyeluruh baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. 22
  • 23.
    Pengawasan Intern (PI)adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Sistem pengendalian intern ini dilandasi pada pemikiran bahwa sistem pengendalian intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia untuk memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak. Penyusunan dan pengembangan unsur SPI berfungsi sebagai pedoman penyelenggara dan tolok ukur pengujian efektivitas penyelenggaraan SPI. Pengembangan SPI perlu mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat (cost and benefit), sumber daya manusia, kejelasan kriteria, pengukuran efektivitas dan perkembangan teknologi informasi, serta dilaksanakan secara komprehensif. Di dalam Undang-undang No. 28 tahun 1999, UU No. 17 Tahun 2003, UU No. 1 Tahun 2004, PP No. 8 Tahun 2006, PP No. 60 Tahun 2008, Kepres No. 80 Tahun 2003, Perpres No. 95 Tahun 2007, Perpres No. 9 Tahun 2005, Perpres No. 20 Tahun 2008, Permentan No. 341/Kpts/OT.140/ 9/2005, dan Permentan No. 12/Permentan/OT.140/2/2007, bahwa Sistem Pengendalian Intern (SPI) harus berjalan sebagaimana yang diindikasikan dan diisaratkan. Sejalan dengan hal tersebut, maka diterbitkan Keputusan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan Nomor : 025/SK/PW.420/1.12.8/01/2016 tanggal 4 Januari 2016 Pembentukan Tim Sistem Pengendalian Intern di BPTP Sumatera Selatan. 23
  • 24.
    Sebenarnya ada atautidak ada Satlak SPI, sistem pengendalian intern harus berjalan, karena SPI ada dan melekat pada pimpinan. Keberadaan Satlak SPI hanyalah sebagai “alat”, sehingga berjalan atau tidaknya Satlak SPI sangat bergantung kepada komitmen pimpinan, apakah “alat” tersebut mau digunakan atau tidak digunakan. Sistem Pengendalian Intern bertujuan untuk: (1) Mewujudkan sistem pengendalian intern; (2) Mendorong terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif (3) Mendorong terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Mendorong terlaksananya pengamanan aset negara; dan (5) Mendorong meningkatnya ketaatan terhadap peraturan perundangan. Sedangkan keluaran yang diharapkan adalah: (1) Terwujudnya sistem pengendalian; (2) Terlaksananya kegiatan organisasi yang efisien dan efektif; (3) Terwujudnya kehandalan laporan keuangan; (4) Terlaksananya pengamanan aset negara; (5) Meningkatnya ketaatan terhadap peraturan perundangan. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-1 tahun 2016 ini, telah melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi pembuatan Surat Keputusan yang diperlukan dalam memulai kegiatan tahun anggaran 2016, pembahasan proposal kegiatan, pemaparan RKTM/ROPP/RDHP serta membuat rencana kerja SPI tahun 2016. Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain pelaksanaan masing-masing kegiatan sesuai surat keputusan yang telah dibuat, melakukan penajaman proposal dan perbaikan RKTM/ROPP/RODHP. Di samping itu, pemantauan yang dilakukan Satlak PI sehubungan dengan awal tahun anggaran, kami mencoba memantau terhadap persiapan pelaksanaan kegiatan yang sangat berkaitan 24
  • 25.
    dengan kegiatan perencanaan.Selain itu dilakukan Penyelesaian Tindak Lanjut LHP Irjen pemeriksaan TA 2015.. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-II tahun 2016 ini, telah melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi persiapan audit external oleh tim survilence Masing-masing kegiatan tersebut telah menghasilkan rekomendasi antara lain Revisi dokumen yang telah dilakukan belum mencakup usulan perubahan dokumen sesuai yang dipersyaratkan, dan melakukan analisa data secara kontinu terhadap penyedia pengadaan barang dan jasa. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-III tahun 2016 ini, telah melaksanakan kegiatan pengendalian inventarisasi ulang terkait DIR dan DBR pada aseet di kantor BPTP Sumsel, karena adanya perpindahan ruangan dan telah menghasilkan rekomendasi yaitu segera melakukan penataan kelengkapan dokumen di masing-masing bagian ruangan . Melakukan persiapan penyelesaian BAST barang persediaan TTP di 3 (tiga) Kabupaten. Melakukan pendampingan dengan tim monitoring dan Evaluasi dari Puslit Balitbangtan terhadapkegiatan TTP Banyuasin dan TTP Musi Banyuasin. Kegiatan Satlak PI BPTP Sumsel pada triwulan-IV tahun 2016 ini, telah melaksanakan Pengamaan Asset Balit Penelitian sembawa terkait dengan Pembangunan Pagar Permanen oleh BPTU-HPT Sembawa yang memanfatkan lahan kementerian dengan sertifikat Hak Pakai Nomor 02/1979 ± 1.950 M yang termasuk asset BMN Balitbangtan Palembang. 25
  • 26.
    Melakukan Sistem PengendaluianIntern terhadap pembanguan dan pengadaan Barang dan Jasa pada kegiatan TTP Kabupaten OKU dan TTP MUBA dari Tim Satlak PI BPTP Sumatera Selatan. Audit PNBP atas Pemanfaatan BMN Kementan oleh PT RPN/Ex LPRI (Balit Sembawa) yang dicatat pada SIMAK BMN Satker BPTP Sumsel. Monitoring dan Evaluasi Kegiata Tim Monev dari Puslitbangtan dan telah dilakukan Monitoring dan Evalausi di kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) oleh Tim dari Balitbangtan Kementerian Pertanian. Masing-masing telah menghasilkan rekomendasi yaitu Untuk mempercepat pelaksanaan realisasi bangunan fisik pada kegiatan Taman Teknologi Pertanian yang masuk tahun pertama Tabel 18. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-1 Tahun 2016 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala BPTP 26
  • 27.
    1 Pembuatan SK StrukturOrganisasi BPTP Sumsel, SK Organisasi Satlak PI, SK Pengelola Keuangan, SK Pengadaan Barang Jasa, SK Pemeriksaan Barang dan Jasa, SK Pengelola Asset, SK penanganan tindak lanjut LHP Pembuatan SK berdasarkan tupoksi dan kompetensi masing-masing penanggung jawab Setelah SK dikeluarkan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan kegiatan berdasarkan tugas masing- masing penanggung jawab Untuk di laksanakan dengan baik 2 Pembahasan proposal Pembahasan dihadiri oleh semua penanggung jawab kegiatan Proposal kegiatan dipersempit, agar lebih fokus dalam pelaksanaannya Untuk dilaksanakan dengan baik dan memperbaiki proposal 3 Pemaparan RKTM/ROPP/RODH P Pemaparan dihadiri oleh semua penanggung jawab kegiatan dan tm TPK Perbaikan RKTM/ROPP/R ODHP agar segera dilakukan Untuk laksanakan dan secepatnya melakukan perbaikan proposal 4 Pembuatan Rencana Kerja SPI tahun 2016 Dilakukan oleh Tim Satlak SPI Rencana Kerja SPI perlu dukungan penuh dari pimpinan dan pegawai BPTP Sumsel Untuk dilaksanakan pembuatan rencana kerja berkoordinasi dengan kepala balai 27
  • 28.
    Tabel 19. JenisKegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-II Tahun 2016 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala BPTP 1 Persiapan Audit External oleh tim Survilence Mempersiapkan Dokumen- dokumen terkait Merevisi apabila terdapat ketidaksesuaian Di laksanakan dan segera dikoordinasikan dengan Tim SPI 2 Pembinaan SDM Telah dilakukan relokasi pegawai dengan memperhatikan kompetensi agar kegiatan dapat berjalan secara efektif Pembinaan Disiplin Pegawai Kedepan harus dilakukan evaluasi terhadap kompetensi seluruh pegawai sehingga bisa disusun roadmap pengembangan pegawai Dilaksanakan evaluasi SDM sesuai kompetensi Tabel 20. Jenis Kegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwulan-III Tahun 2016 No Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala BPTP 1 Pengendalian • Tim Melakukan Update Untuk segera 28
  • 29.
    Inventarisasi Penyusunan Daftar Barang Ruangan dikantor BPTP Sumsel Pengendalia n berasal dari BPTP Sumsel • Pelaksanaan audit dilakukan selama 3 hari • Dalam pelaksanaan tim mengajukan pertanyaan dan kelengkapan dokumen ke bagian perlengkapa n DBR pada masing- masing ruangan karena adanyan perindahan ruangan dan terbatasnya SDM melaksanakan penataan ulang barang pada masing-masing ruangan 2. Penyelesaian BAST barang persediaan pada kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) di 3 kabupaten Provinsi Sumatera Selatan • Persiapan dokumen dengan melakukan rekapitulasi barang- barang persedian • Koordinasi dengan pemerintah daerah dan melakukan pengecekan fisik • Penyelesaian kelengkapan dokumen dan Penanda tanganan BAST dilakukan akhir tahun 2016. Untuk dilengkapi dan dilaksanakan segera. 29
  • 30.
    dilapangan. Tabel 21. JenisKegiatan, Ringkasan Hasil, dan Rekomendasi Hasil Pelaksanaan Kegiatan Satlak PI BPTP SUMSEL Triwula IV Tahun 2016 No. Jenis kegiatan Ringkasan hasil Rekomendasi Catatan Tindak Lanjut Dari Kepala BPTP 1 Pengendalian Asset Balit Penelitian sembawa terkait dengan pembangunan pagar Permanen oleh BPTU-HPT Sembawa yang memanfatkan lahan kementerian dengan sertifikat jal pakai Nomor 02/1979 ± 1.950 M yang teramsuk asset BMN Balitbangtan Palembang. • Audit dilakukan oleh Tim BPTP pada Bulan Oktober 2016 • Pengendalian Asset Pembangunan Pagar permanen seluas ± 1.950 m yang termasuk asset BMN Balitbangtan Palembang • Melakukan pembangunan pemagaran berdasarkan dengan Sertifikat Hak Pakai No 2 tahun 1980 danGambar situasi Nomor 4 tahun 1979 yang • dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional Untuk dilaksanakan sesuai dengan hasil pemeriksaan. 2 Audit PNBP atas Pemanfaatan BMN • Tim Audit berasal dari • Kuasa Pengguna 30
  • 31.
    Kementan oleh PT RPN/ExLPRI (Balit Sembawa) yang dicatat pada SIMAK BMN Satker BPTP Sumsel. Inspektorat Jenderal • Pelaksanaan audit dilakukan selama 8 hari kerja terhitung tanggal 7 Desember sampai dengan 14 Desember 2016. • Audit ini adalah menindak lanjuti temuan BPK RI dengan Melakukan penilaian terhadap pemanfaatan asset milik Kementerian pertanian tyang dikuasai oleh ex LPRI Barang (KPB) bersama PT RPN Balit Sembawa untuk melakukan koordinasi dengan kantor Dispenda/Pajak Kab Banyuasin • Kuasa Pengguna Barang (KPB) melakukan koordinasi dengan KPKNL Palembang terkait IP ulang, penghapusan dan perjanjian sewa • BPTP berkoordinasi dengan Balit Sembawa untuk Melengkapi dokumen proses Penetapan Status Pengguna (PSP) dan Perjanjian sewa atas Bangunan. • KPB melakukan pemantauan terhadap 31
  • 32.
    pemeliharaan dan pengamanan asset BMN Kementerian Pertanian. 3 MONEVkegiatan TTP Balitbangtan Monev dilakukan oleh tim Monev Balitbangtan Untuk mempercepat realisasi pengadaan Alsin, bangunan dan melakukan pada Taman Teknologi Pertanian dan melakukan mempercepat realisasi pembangunan fisik bangunan Untuk segera melakukan percepatan realisasi tanam dan realisasi pengadaan barang dan jasa Tabel 22. Program Kerja Satuan Pelaksanaan Pengendalian Intern BPTP Sumsel (Satlak PI BPTP Sumsel) Tahun 2016 No. Judul Kegiatan Target Waktu Keterangan 1 Penetapan SK Struktur Organisasi BPTP Sumsel TA. 2016 Februari 2 Membentuk struktur organisasi Satlak PI Maret 32
  • 33.
    dengan Keputusan KepalaBalai berikut uraian tugas dan fungsinya 3 Penyusunan RKTM Februari 4 Penyusunan program kerja PI April-Mei 5 Penyusunan juknis PI Juni 6 Rapat Koordinasi Pertemuan Rutin Berkala Satlak PI Juni-November 7 Penyusunan/penambahan SOP April 8 Pengendalian Internal/Audit Juni-Desember 9 Monev Ex-Ante dan SPI Mei dan November 10 Monev On-Going dan SPI Maret, Juni, September, Desember 11 Monev Ex-Post dan SPI Insidentil 12 Penyusunan Laporan • Laporan Bulanan • Laporan Triwulan • Laporan Semester • Laporan Tahunan September-Oktober 13 Melakukan penataan arsip yang tertib (bisa dalam hard copy, soft copy, rekaman suara digital, video, dll). November 14 Menyiapkan pelaksanaan audit surveillance dan resertifikasi ISO 9001:2008 Juni 15 Penyelesaian LHP (BPK;Itjen:Lembaga Pemeriksa Lainnya) Paling lambat dua bulan setelah menerima LHP 16 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Setiap 6 bulan 2.2. Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian 2.2.1. Kerjasama Penelitian 33
  • 34.
    Balai Pengkajian TeknologiPertanian Sumatera Selatan sebagai salah satu lembaga publik yang mengkaji dan menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi dituntut untuk lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). Tujuan kegiatan kerjasama ini adalah: 1). Mencari informasi kegiatan yang diperlukan dalam pembangunan pertanian di daerah saat ini, 2). Menginformasikan kinerja pelaksanaan kerjasama BPTP Sumsel dengan berbagai stakeholder. Pada tahun 2016 akan dilakukan kerjasama dalam dan luar negeri. Kerjasama dalam negeri terdiri dari: 1) kerjasama antara BPTP Sumsel dengan BMKG Stasiun Klas I Kenten Palembang, 2) kerjasama luar negeri , yaitu Closing Rice Yield Gaps in Asia (CORIGAP). 2.2.2. Pengelolaan Kebun Percobaan Kayuagung Kebun Percobaan Kayu Agung adalah salah satu kebun percobaan yang ada di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ( BPTP Sumsel ) dan dibawah Badan Litbang Pertanian,yaitu dari 118 Kebun Percobaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi pertanian, koleksi plasma nuftah dan memproduksi benih sumber. Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Kayuagung Kecamatan Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang memiliki agro 34
  • 35.
    ekosistem lahan rawalebak, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi teknologi yang dilakukan oleh BPTP Sumatera Selatan. Yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Kebun Percobaan Kayu Agung agar berfungsi sebagai media pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara memperlihatkan, memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan rawa lebak menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi petani. Pada kegiatan pengelolaan KP Kayuagung ini dilakukan penanaman percobaan dan penelitian padi kerjasama dengan Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. Penelitian tersebut diantaranya: Pengendalian Penyakit BLAST, Uji Daya Hasil Pendahuluan (UDHP) Padi Rawa Lebak MT.1 2016, OBSERVASI Pengelolaan dan Identifikasi Gulma Padi Rawa Set 1. Untuk tanaman jagung komposit ditanam di surjan seluas 500 m2 terdiri dari 2 varietas yaitu Sukmaraga dan Srikandi Putih. Pemeliharaan kebun karet yang siap sadap sebanyak 300 batang umur 6 tahun, dan kelapa sawit 75 batang sudah mulai produksi, dengan pendekatan pemupukan,pembersihan gulma, pengendalian penyakit. Pemeliharaan kebun entres karet adalah kerjasama dengan Balai Penelitian Sungai Putih Medan yang terdiri dari 6 klon yaitu IRR 104, GT 1, BP 260,BPM 1,BPM 24 dan RRIC 100, masing-masing 600 batang. Dengan jarak tanam 1,2 X 1,2 m , waktu tanam 13 Nopember 2012.Budidaya ikan nila sebanyak 2000 ekor dan ikan Patin sebanyak 2000 ekor dengan pemeliharaan secara intensif dengan sistim waring ukuran 4 x 6 m. Pada kegiatan pengelolaan KP Kayu Agung dilakukan juga perbanyakan bibit buah untuk sebagai koleksi (SDG), Pembesaran ayam kampung unggul baru(KUB) merupakan upaya pengembangan ayam di Kebun percobaan dengan jumlah induk ayam 16 ekor, /pejantan 8 ekor,dan anakan, 9 DOC. Pemeliharaan kebun koleksi penanaman tahun 35
  • 36.
    2013 yang meliputitanaman Duku 60 batang, Durian 50 batang dan tanaman manggis 50 batang. Sementara untuk penanaman tahun 2015 ini 10 duku, 10 Manggis dan 10 Durian untuk penyulaman disamping itu dilakukan pendataan tanaman koleksi yang ada di lingkungan komplek KP Kayuagung.Budidaya ternak sapi dengan sistem kandang komunal sejumlah 5 ekor betina dan 1 jantan ditahun ini untuk pakan ternak menggunakan pakan fermentasi disamping pakan hijauan. Hasil kebun percobaan Kayu Agung berupa padi kosumsi 1.500 kg, Ikan Nila 68 kg, Ikan Patin 95 kg, Jagung Manis 105 kg Kangkung 45 kg Jagung Pipilan 100 kg dan Kacang hijau 18 kg. Secara umum dapat disampaikan bahwa kegiatan Pengelolaan KP Kayuagung di lahan rawa lebak sudah berjalan dengan baik sesuai dengan rencana namun masih dirasakan adanya kekurangan yang disebabkan oleh faktor alam, iklim dan hama penyakit tumbuhan. II.2.3. Pengelolaan Kebun Percobaan Karang Agung 36 Kegiatan penelitian di KP Kayu Agung Pemanfaatan Kebun untuk tanaman sayuran
  • 37.
    Kebun Percobaan KarangAgung adalah salah satu Kebun Percobaan yang ada di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, dan di bawah Badan Litbang Pertanian. Ada 118 Kebun Percobaan yang tersebar diseluruh Indonesia. Fungsinya adalah sebagai lokasi melaksanakan Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, demonstrasi plot teknologi spesifik lokasi, koleksi plasma nutfah dan memproduksi benih sumber. Pengelolaan Kebun Percobaan dilaksanakan di lokasi KP Karang Agung Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin yang memiliki agroekosistem lahan rawa pasang surut, kegiatan ini termasuk kegiatan desiminasi inovasi teknologi yang dilakukan oleh BPTP Sumatera Selatan. Yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Kebun Percobaan Karang Agung agar berfungsi sebagai media pendidikan dan transfer teknologi kepada pengguna dengan cara memperlihatkan, memperagakan dan memberikan contoh keunggulan sehingga lahan rawa pasang surut menjadi lahan pertanian produktif, meningkatkan produktifitas dan produksi petani. Kegiatan yang dilaksanakan pada musim tanam Th 2016 di Kebun Percobaan Karang Agung meliputi demonstrasi plot beberapa varietas/ galur padi rawa, jagung manis, kelapa sawit, kelapa, koleksi plasma nutfah durian, manggis dan duku. Kegiatan kerja sama dengan Balai Besar Padi Sukamandi. Pertumbuhan tanaman padi secara umum baik. Padi yang ditanam di KP Karang Agung pada MT1 yaitu ; Mendawak, Inpara 3, Inpara 7 dan Banyuasin diperoleh hasil 3100 kg Benih Pokok (BP). Dan pada MT2 tanam pada bulan Desember 2016 yang ditanam adalah Mendawak, Banyuasin, Inpara 3 dan Inpara 7. Penanaman jagung manis seluas 0,05 ha. Diperoleh hasil 700 kg. Pemeliharaan kebun 37
  • 38.
    kelapa sawit seluas2,5 ha terdiri dari 350 batang usia produktif TM, diperoleh hasil 4150 kg Tandan Buah Segar (TBS). Pemeliharaan kelapa sebanyak 40 batang diperoleh hasil 1200 butir. Kebun Pengelolaan Sumber Daya Genetik buah- buahan seluas 1 ha, tanam bulan Desember 2013. Tanaman Padi di KP Karang Agung Tanaman Kelapa Sawit II.2.4. Pengelolaan Perpustakaan Sebagai salah satu bagian dari unit kerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, Perpustakaan BPTP Sumatera Selatan memilki peran dalam mendukung fungsi dan tugas pokok melalui penyediaan informasi-informasi pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan pada era teknologi informasi dan komunikasi saat ini ingin meningkatkan pelayanan informasi 38
  • 39.
    pertanian. Untuk mewujudkankeinginan ini, BPTP Sumatera selatan melakukan kegiatan pengelolaan perpustakaan. Ruang lingkup kegiatan ini,meliputi: 1.) pengumpulan data 2.) pengolahan data, 3.) pelatihan, 4.) pengambilan materi dan 5.) pembuatan laporan. Harapan dari kegiatan ini, BPTP Sumatera Selatan dapat memberikan pelayanan informasi pertanian dengan cepat dan lengkap sehingga memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi pemustaka. Kegiatan pengelolaan perpustakaan TA. 2016 telah dilakukan dengan baik dan benar. Kegiatan tersebut antara lain meliputi; a). Penerimaan bahan koleksi, sebanyak 195 judul 442 eks, b). Jumlah pemustaka yang berkunjung, kunjungan pemustaka ke perpustakaan BPTP Sumsel sebanyak 28 orang, c). Jumlah pencarian bahan koleksi, pencarian bahan koleksi sebanyak 34, d). Pengolahan bahan pustaka, dengan rincian klasifikasi & pelabelan 52 judul dari rencana target 50 judul, unggahan ke data simpertan V2 10 judul, e). Pengambilan beberapa materi pertanian baik berupa foto koleksi, file video terbaru sebagai bahan untuk membuat buletin atau publikasi lainnya ataupun juknis-juknis pertanian. Koordinasi tim perpustakaan BPTP Sumatera Selatan dilakukan dalam bentuk rapat ataupun diskusi kecil. Untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola perpustakaan khusus BPTP Sumsel, telah mengikutsertakan satu orang pengelola ke kegiatan yang diadakan oleh PUSTAKA, yaitu 1).Produksi Workshop dan Bahan Promosi Teknologi Pertanian Lingkup Badan Litbang Pertanian, Kementan yang berlangsung di Aula BP2TP Bogor 29 Juni – 2 Juli 2015. 2). Temu Teknis pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian dengan tema “Peningkatan Kinerja Pengelolaan perpustakaan melalui Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan Pertanian” yang dilaksanakan di Makasar pada tanggal 7 – 10 Mei 2015. 39
  • 40.
    II.2.5. Pengelolaan Website Kemajuanbidang teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat dan dinamis sangat membantu untuk pengelolaan informasi terutama dalam menyajikan produk informasi kepada para pimpinan, pengelola dan perlaksana program serta pengguna lain yang membutuhkannya. Dengan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, pelayanan informasi dapat dikemas dan disajikan secara lebih menarik, cepat, dan meluas melalui jaringan elektronik, sehingga dapat menjembatani kesejangan komunikasi antara pembuat kebijakan di tingkat pusat dengan para pengelola dan pelaksana program di lapangan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sebagai salah satu lembaga publik memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses informasi yang terbuka kepada masyarakat. Kewajiban tersebut sebagai bagian dari fungsi birokrasi pemerintah yang dituangkan dengan disyahkannya Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang 40 Aktivitas kunjungan di perpustakaan
  • 41.
    Keterbukaan Informasi Publik(KIP). Penetapan UU tersebut bertujuan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab (good governence) melalui penerapan prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi dan suupremasi hukum serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap proses kebijakan publik. Website perlu dikelola dengan baik sehingga dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi pengguna. Pada tahun ini dilakukan perubahan tampilan website secara keseluruhan agar lebih menarik dan informatif. Sampai akhir tahun 2016, kegiatan yang telah dilakukan meliputi perbaikan tampilan Website dengan memperbahrui isi tautan sesuai informasi terkini, peningkatan jaringan, dan peningkatan kompentensi SDM Tim Pengelola. Updating berita sampai akhir tahun telah dilakukan sebanyak 66 (enam puluh enam) kali, dengan rincian berita sebanyak 62 (enam puluh dua) kali dan infotek sebanyak 4 (empat) kali. Pembahruan informasi juga dilakukan pada Tautan Beranda, Profil, Fasilitas, Program, Produk, Publikasi, Info Publik, Video, Kerjasama, UPBS, SDM, dan Galeri Kegiatan. Pelatihan pengisian konten website II.2.6. Pengelolaan Laboratorium 41
  • 42.
    Berdasarkan Peraturan MenteriPertanian No. 20/Permentan/OT.140/3/2013, BPTP memiliki lima fungsi tiga diantaranya yaitu 1) pelaksanaan inventarisasi dan kebutuhan pengguna teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi, 2) melakukan penelitian, pengkajian, dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi, dan 3) pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta perakitan materi penyuluh. Menyelaraskan dengan fungsi-fungsi tersebut dan dengan mempertimbangkan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada, pada tahun ini kegiatan pengelolaan laboratorium memiliki ruang lingkup sebagai berikut; a) melakukan pemeliharaan alat-alat laboratorium, dengan tujuan meningkatkan pelayanan pengguna dalam melakukan penelitian dan pengkajian teknologi tepat guna spesifik lokasi dan b) menfasilitasi pengguna laboratorium dalam melakukan kajian dan kebutuhan informasi teknologi. Sampai akhir tahun, pelaksanaan pengelolaan laboratorium cukup baik. Pemeliharaan dan penyediaan sarana yang dibutuhkan telah seoptimal mungkin dilaksanakan. Laboratorium dapat dimanfaatkan oleh pengguna dalam melaksanakan kajian kegiatan, baik dibantu langsung oleh pengelola laboratorium maupun yang dikerjakan secara mandiri. Pada tahun 2016 tercatat total kunjungan pengguna laboratorium sebanyak 121 kunjungan. 42
  • 43.
    Kegiatan pencatatan sampel 2.2.7.Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian Dalam mempercepat upaya pembangunan pertanian di Sumatera Selatan, sudah banyak inovasi yang sudah dihasilkan untuk memacu peningkatan produktivitas berbagai komoditas baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun peternakan. Semua inovasi yang sudah dihasilkan tersebut akan berarti apabila bisa disebarkan dan diadopsi oleh para pengguna dan mampu meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman yang diusahakan. Fasilitas fasilitas yang dapat dijadikan sarana untuk memfasilitasi keterbukaan akses informasi publik dan juga sebagai sarana publikasi dan promosi informasi seperti ; sarana media cetak, dan media elektronik. Adapun Media cetak yang telah dipublikasikan tahun 2016 antara lain Juknis, Leaflet, Sedangkan untuk Media Elektronik berupa Siaran Televisi dan Siaran radio untuk Siaran Pedesaan. Hasil kegiatan Publikasi Inovasi Teknologi Pertanian tahun 2016, adalah tersiarnya Naskah Siaran Radio sebanyak 14 Judul, bekerjasama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP)-RRI stasiun Palembang, dan untuk Siaran Televisi sebanyak 2 kali berupa Derap Sriwijaya dan Sahabat tani, bekerjasama dengan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) – TVRI Stasiun Sumatera Selatan dan Babel di Palembang. Bahan Cetakan Publikasi dan Diseminasi tersebut diatas telah didistribusikan kepada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) dan Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) se Sumatera Selatan, Perpustakaan BPTP Sumatera Selatan, Perpustakaan Daerah, Kebun Percobaan Kayu Agung dan Kebun Percobaan Karang Agung. 2.2.8. Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran 43
  • 44.
    Inovasi teknologi diperlukandalam upaya meningkatkan produktivitas, stabilitas serta equitabilitas produksi. Sejak dibentuk, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan berperan dan terus berupaya untuk menghasilkan berbagai inovasi di bidang pertanian. Agar inovasi tersebut diadopsi petani, diperlukan berbagai upaya seperti sosialisasi, pameran dan display. Untuk itu kegiatan ini bertujuan : Mendiseminasikan hasil litkaji melalui pameran dan pembuatan display untuk mendorong pemanfaatan teknologi inovasi untuk perbaikan sistem usaha pertanian dan pengolahan hasil-hasil pertanian dan ikutannya. Dengan demikian yang menjadi ruang lingkup kegiatan ini adalah: (1). Melakukan Sosialisasi Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian; (2) Melakukan pameran sesuai permintaan atau undangan penyelenggara; (3). Melakukan peragaan berupa display beberapa contoh tanaman dengan cara tanamnya. Selama tahun 2016, kegiatan Sosialisasi, Temu Informasi dan Pameran yang telah dilaksanakan meliputi : (1). Melakukan Sosialisasi Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian melalui Gelar Teknologi pada acara PEDA XII KTNA Sumatera Selatan di Kota Lubuk Linggau, (2) Turut berpartisipasi dengan melaksanakan display pada acara HPS ke 36 tingkat provinsi di Kota Palembang (3). Turut berpartisipasi dengan melakukan pameran dalam rangka Hari Krida Pertanian ke 44 dan PEDA 2016 Jambi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, (4). Turut berpartisipasi dengan melakukan pameran pada Linggau EXPO 2016, (5). Turut berpartisipasi dengan melakukan pameran pada Seminar Nasional Lahan Sub Optimal di Palembang, (6) Turut berpartisipasi pada pameran HPS ke 36 tingkat nasional di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, (7) Turut berpartisipasi dengan melakukan pameran pada acara Launchingh dan Bedah Buku Akbar di Kota Palembang. Display tanaman dilakukan di visitor plot lingkungan kantor BPTP Sumatera selatan. Untuk lebih 44
  • 45.
    mempercepat penyebaran teknologiinovasi pertanian di wilayah Sumsel, perlu peningkatan hubungan melalui koordinasi dan kerjasama yang lebih intensif dengan dinas instansi terkait. Penjelasan alat pasca panen SLB Display tanaman sorgum Super 1 2.3. Penelitian, Pengkajian dan Diseminasi 2.3.1. Taman Teknologi Pertanian Tanjung Lago Pelaksanaan kegiatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tanjung Lago pada T.A. 2016 sebagian besar masih berupa pembangunan fisik, yaitu pembangunan kantor utama, RMU, bangunan produksi, bangunan untuk pembuatan kompos, laboratorium diseminasi, bangunan gudang pakan, bangunan pengering padi berbahan sekam, dan kandang. Kantor utama ini terdari dari ruang manajer, staf, pendamping, dan pertemuan. Ruang pendamping dipersiapkan untuk tim pendamping yang berasal dari BPTP, dinas, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Ruang pertemuan digunakan untuk pelatihan atau pertemuan dengan petani dan petugas lapang dalam rangka transfer teknologi atau bisnis. RMU dibangun untuk memproduksi beras bermutu dan TTP sudah bekerja sama dengan UKM dalam pemasarannya. Bangunan produksi dibangun untuk memproduksi silase dengan bahan utamanya limbah pertanian (jerami padi atau limbah tanaman jagung). Bangunan untuk pembuatan 45
  • 46.
    kompos dibangun untukmemproduksi kompos dari kotoran sapi dan limbah pertanian. Laboratorium diseminasi dibangun sebagai tempat mendiseminasikan dan menjual produk TTP dan produk yang lain yang dapat menunjang kegiatan TTP. Bangunan gudang pakan digunakan untuk menyimpan pakan yang telah diproduksi di bangunan produksi. Bangunan pengering padi berbahan bakar sekam digunakan untuk mengeringkan padi pada saat cuaca hujan. Bangunan kandang terbagi menjadi dua, yaitu kandang untuk penggemukan dan pembibitan. Pada T.A. 2016 ini kandang penggemukan sudah terisi lima ekor sapi jantan, sedangkan kandang pembibitan dua ekor sapi betina. Untuk T.A. 2017, jumlah sapi jantan direncanakan akan ditambah delapan ekor. Bangunan kantor utama, RMU, kandang dan gudang pakan pada bulan Desember 2016 sudah dapat digunakan. Selain pembangunan fisik, kegiatan diseminasi juga dilakukan, antara lain: mendiseminasikan varietas unggul baru tanaman pangan (padi dan jagung), hortikultura (jeruk dan semangka), hijauan pakan ternak (rumput raja, indigofera, gamal), cara tanam jajar legowo, dan pemupukan berimbang, serta penggunaan alsintan. Varietas unggul baru padi yang didesiminasikan, yaitu Inpari 22. Cara tanam jajar legowo yang didesiminasikan, yaitu: jajar legowo 2:1 dan 4:1. Sementara itu untuk tanaman hijauan pakan ternak dan jeruk sudah ditanam pada kegiatan TTP T.A. 2015. 46
  • 47.
    2.3.2. Taman TeknologiPertanian (TTP) Sungai Lilin Pembangunan dan pengembangan TTP sangat tepat dilaksanakan oleh Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis melalui upaya antara lain: 1) membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan pertanian, perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang agroteknologi dan agribisnis, 2) mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian. TTP Semidang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di Desa Raksa Jiwa Kecamatan Semidang Aji. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama yang diusahakan adalah padi, karet dan kopi. Beberapa rumah tangga petani juga memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih 47 Surjan di lahan pasang surut Pemanfaatan surjan untuk tanaman hortikultura
  • 48.
    relatif rendah, inidisebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasan TTP Semidang Aji, telah disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi, Akselerasi Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pascapanen, Pengembangan Jaringan Pemasaran Hasil, Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani, Peningkataan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari terlaksananya Pre Launching TTP OKU dan Peletakan Batu Pertama, Pembangunan Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan implementasi inovasi teknologi di kawasan TTP Semidang Aji berupa demfarm varietas unggul baru (VUB) Varietas Inpari 30 sistem jajar legowo 2:1 dengan pemupukan spesifik lokasi seluas 10 hektar. Beberapa permasalahan dalam implementasi TTP Semidang Aji adalah: 1). Pemahaman tim mengenai TTP yang masih beragam, 2). Organisasi pengelola di tingkat lapangan baru dibentuk, belum memahami peran dan tugas masing-masing, 3). Belum ada sinergi dana dari Pemda (APBD) untuk implementasi TTP ini. Kunjungan Kepala BBP2TP Pembangunan Gedung Kantor 2.3.3 Taman Teknologi Pertanian (TTP) Kabupaten Ogan Komering Ulu 48
  • 49.
    Pembangunan dan pengembanganTTP sangat tepat dilaksanakan oleh Balitbangtan yang telah menghasilkan banyak inovasi pertanian yang siap didiseminasikan kepada masyarakat. Namun demikian, keberhasilan TTP dalam mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian juga bergantung pada keterlibatan dan komitmen Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya. Tujuan pengembangan kawasan TTP dalam jangka pendek (3 tahun) adalah mencapai kemandirian dalam pengelolaan usaha agribisnis melalui upaya antara lain: 1) membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan pertanian, perternakan, dalam satu siklus produksi dibidang agroteknologi dan agribisnis, 2) mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan mandiri di bidang agroteknologi dan agribisnis, 3) mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani atau pelaku pertanian. TTP Semidang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di Desa Raksa Jiwa Kecamatan Semidang Aji. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani dengan komoditi utama yang diusahakan adalah padi, karet dan kopi. Beberapa rumah tangga petani juga memelihara ayam kampung, sapi dan kambing. Produktivitas komoditi pertanian masih relatif rendah, ini disebabkan cara budidaya yang belum menerapkan inovasi anjuran. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan kawasanTTP Semidang Aji, telah disusun program (Bussiness Plan) untuk jangka waktu mulai 2016 hingga 2019, antara lain: Pengembangan Perbenihan, Pengembangan Ternak Sapi, Akselerasi Peningkatan Produktivitas, Optimalisasi Penanganan Pasca panen, Pengembangan 49
  • 50.
    Jaringan Pemasaran Hasil,Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Petani, Peningkataan SDM Pengelola TTP , Implementasi Inovasi Teknologi, Manajemen Pengelolaan TTP. Kemajuan Pelaksanaan Pembangunan TTP dapat dilihat dari terlaksananya Pre Launching TTP OKU dan Peletakan Batu Pertama, Pembangunan Sarana Prasarana, Penyediaan alat dan mesin pertanian dan implementasi inovasi teknologi di kawasan TTP Semidang Aji berupa demfarm varietas unggul baru (VUB) Varietas Inpari 30 sistem jajar legowo 2:1 dengan pemupukan spesifik lokasi seluas 10 hektar. Beberapa permasalahan dalam implementasi TTP Semidang Aji adalah: 1). Pemahaman tim mengenai TTP yang masih beragam, 2). Organisasi pengelola di tingkat lapangan baru dibentuk, belum memahami peran dan tugas masing-masing, 3). Belum ada sinergi dana dari Pemda (APBD) untuk implementasi TTP ini. Gedung Kantor Gedung Pengelolaan Pupuk Organik 2.3.4. Taman Agroinovasi Salah satu indikator keberhasilan program pengkajian teknologi pertanian adalah seberapa besar hasil-hasil pengkajian tersebut diadopsi oleh pengguna (terutama petani) untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kegiatan usahatani. Untuk 50
  • 51.
    mewujudkan hal tersebutberbagai upaya dilakukan, dengan mengupayakan kemudahan dan menimbulkan ketertarikan pengguna teknologi. Tahun 2015 BPTP Sumatera Selatan membuat taman yang menarik, dengan menimbulkan kesan nyaman dan rilek diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengguna untuk mengunjunginya dan mempelajari inovasi yang diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah: 1) Mendiseminasi teknologi tepat guna hasil inovasi Balitbangtan, 2) Membentuk entitas bisnis yang melakukan fungsi diseminasi inovasi. Inovasi teknologi ditampilkan dalam bentuk display/visitor plot dan demo. Display ditampilkan berupa penggunaan media pertanaman untuk tanaman sayuran, penggunaan varietas unggul. Sedangkan dalam bentuk demo, dapat dipertunjukkan cara pembuatan pupuk organik, aplikasi penggunaan pestisida nabati. Selain itu pada Taman Agroinovasi ini juga disediakan wadah untuk berkonsultasi tentang pertanian yang dapat diperoleh di klinik agribisnis. Pada tahun 2015 telah dilakukan perencanaan penataan lahan dan pertanaman, pendalaman kolam, pengolahan lahan, perbaikan screen house, penanaman tanaman sayuran dan padi. Pada Tahun 2016 akan dilanjutkan peragaan berbagai inovasi melalui penggunaan varietas unggul dengan pertanaman yang ramah lingkungan, peragaan pertanaman sayuran menggunakan rak vertikultur, tegakan paralon, bedengan dengan dan tanpa mulsa plastik, pembuatan pakan ternak fermentasi, dan pembuatan pupuk organik. 51
  • 52.
    Tanaman Kangkung PemeliharaanAyam KUB untuk pembibitan 2.3.5. Model Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman Palawija Di Lahan Kering Sumatera Selatan Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: 1) Memfasilitasi penumbuhan dan pembinaan percontohan sistem dan usaha agibisnis bioindustri jagung dan kedelai berbasis pengetahuan dan teknologi inovatif, 2) Mendorong berkembangnya diversifikasi usaha ekonomi yang berkelanjutan di perdesaan yang mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, 3) Memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha bioindustri berkelanjutan berbasis jagung, dan 4) Memantapkan model pengembangan bioindustri berbasis tanaman palawija di lahan kering. Lokasi penelitian di Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2017. Pendekatan yang digunakan yakni identifikasi potensi wilayah, identifikasi cabang usaha yang produktif identifikasi potensi produk dan perancangan model. Produksi jagung varietas Sukma Raga sebesar 4,6 ton/ha dan Bisma 3,2 t/ha pipilan kering. Sedangkan untuk produksi kedelai varietas Grobokan 1,5 t/ha dan Dena-1 1,2 ton/ha, Penerapan pakan fermentasi limbah jagung dan limbah pertanian lainnya pada ternak induk sapi secara add-libitum selama sebulan sebelum dikawinkan diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan S/C 2-3 menjadi S/C 1-2 dan memperpendek jarak beranak dari 14-16 bulan menjadi 13-14 bulan, Populasi ternak pada awal kegiatan tahun 2016 sebanyak 120 ekor, Perkembangan populasi ternak selama kegiatan meningkat sebanyak 180 ekor dengan melibatkan 52
  • 53.
    37 petani. Terjadipeningkatan popilasi ternak sebanyak 60 ekor yang merupakan perkembangan ternak selama kegiatan tahun 2016, Ternak sapi yang dikelola dikandang kolektif sebanyak 120 ekor menghasilkan kotoran rata-rata 600 kg per hari, sehingga rata-rata per ekor sapi menghasilkan 5 kg kotoran sapi dengan populasi ternak sapi di untuk satu bulan menghasilkan 18.000 kotoran sapi basah atau 9 ton pupuk kompos, Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 40 liter per hari sehingga produksi urine per bulan 1200 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine, Instalasi biogas diaplikasikan yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan dengan kapasitas 17 m3 digunakan untuk 15 titik lampu dan 15 buah lampu di tempatkan di kandang kolektif kelompok dan Kelembagaan yang ada masih perlu ditingkatkan peran dan kemampuannya, sehingga saling mendukung satu dengan yang lainnya. Pelatihan petani Pembuatan kompos cair 2.3.6. Model Pertanian Bioindustri Berbasis Tanaman Pangan Di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan Penelitian tentang model pertanian bioindustri berbasis tanaman pangandi lahan pasang surut di Sumatera Selatan, bertujuan untuk: Mengimplementasikan dan 53
  • 54.
    memantapkan model pertanianbioindustri berbasis tanaman pangan lahan pasang surut. Lokasi kegiatan dilaksanakan pada salah satu kelopok tani dan ternak yaitu kelompoktani Mekar Tani yang termasuk kedalam Gapoktan Sari Mulya, di Kabupaten BanyuasinProvinsi Sumatera Selatan mulai tahun 2015 sampai dengan 2017. Pengembangan budidaya padi dan jagung melalui pendekatan teknologi ramah lingkungan dilakukan pada satu kelompoktani yang berada dalam satu hamparan dengan luasan seluas 60 ha dengan demfarm seluas 6 hektar. Model Pertanian Bioindustri berbasis pangan akan diimplementasikan melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu berbasis Teknologi bioindustri dalam kerangka pengembangan sistem pertanian bioindustri.Produksi jagung diperoleh dari kinerja sistem budidaya jagung di lahan pasang surut Desa Banyu Urip Sumsel adalah 6,2 – 8,3 t/ha jagung pipilan kering untuk dosis pupuk di bawah KATAM; 6,8 -8,5 sesuai rekomendasi KATAM dan 6,2 – 9,6 untuk di atas rekomendasi KATAM. Populasi ternak pada kegiatan tahun 2016 sebanyak 80 ekor, melibatkan 15 petani. Produksi kotoran rata-rata per hari sekitar 800 kg setara dengan 15 ton kompos per pulan.Produksi urine ternak sapi di kandang kolektif 60 liter per hari sehingga produksi urine per bulan 1800 liter yang telah diproses menjadi pupuk urine.Kinerja pelatihan dan pembuatan demplot sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan keterampilan petani yaitu sebesar 52,6 % ( efektip ) untuk aktivitas penyuluhan dan 90,38 % ( sangat efektip ) untuk perubahan prilaku. 54
  • 55.
    2.3.7. Kajian PeningkatanProduksi Daging di Sumatera Selatan Sapi potong merupakan bagian penting dalam sistem pertanian terpadu dan kehidupan peternak rakyat di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia, menyebabkan permintaan terhadap daging khususnya daging sapi terus meningkat. Meningkatkan produksi daging merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan sekaligus memajukan tingkat kecerdasan sumberdaya manusia Indonesia. Daging sapi adalah salah satu sumber protein hewani yang memliki peranan dalam peningkatan kecerdasan masyarakat Indonesia. Provinsi Sumatera Selatan memiliki program peningkatan produksi daging melalui pengembangan sapi potong. Produktivitas sapi terutama di peternak rakyat relatif masih rendah. Salah satu faktor tata laksana pemeliharaan yang memiliki pengaruh pada produktivitas sapi adalah pakan dan kesehatan hewan. Pakan merupakan biaya produksi terbesar (70- 80%) dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan dalam pemeliharaan sapi. Bahan pakan yang tidak berguna yang dimiliki petani dapat diberikan kepada sapi untuk menjadi daging dan dapat dirubah menjadi kotoran sapi yang dapat diolah menjadi pupuk organik yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa formulasi ransum berbasis limbah pertanian untuk penggemukan sapi dengan target pertambahan bobot badan 0,3-0,5 kg/ekor/hari, mengetahui efisiensi berbagai 55 Pengolahan limbah cair Proses pemipilan jagung
  • 56.
    formulasi ransum berbasislimbah pertanian untuk penggemukan sapi, mengetahui persepsi peternak terhadap berbagai formulasi ransum berbasis limbah pertanian untuk penggemukan sapi. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif petani. Pelaksaan penelitian meliputi perlakuan pakan,analisa ekonomi dan persepsi peternak. Bahan yang digunakan antara lain rumput, limbah pertanian, dedak,mineral, timbangan sapi dan obat hewan. Perlakuan pakan yang diberikan adalah P1 (kontrol) berupa rumput sebanyak 40 Kg/ekor/hari, P2 berupa campuran dedak (3 Kg) + jerami (13 Kg) dan mineral (0,02 Kg), P3 berupa dedak (3 Kg) + rumput (6,5 Kg) + jerami (6,5 Kg) dan mineral (0,02 Kg) dan P4 berupa dedak (3 Kg) + rumput (13 Kg) dan mineral (0,02 Kg). Parameter yang diukur dalam perlakuan pakan adalah kandungan gizi pakan, pertambahan bobot badan, analisis raba rugi dan B/C ratio. Data perlakuan pakan dan analisa ekonomi dianalisis dengan analisis variansi (ANOVA). Apabila ada perbedaan rerata diantara perlakuan akan dilanjutkan dengan uji beda nyata (LSD). Data hasil wawancara peternak dianalisa secara deskriptif dengan menampilkan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan proksimat pakan tidak menunjukkan bahwa pada kandungan protein kasar P1 sebesar 6,69; P2 sebesar 7,19; P3 sebesar 7,39 dan P4 sebesar 7,95; PBBH P1 sebesar 0,28 a , P2 sebesar 0,33 ab , P3 sebesar 0,55 ab dan P4 sebesar 0,55 b . Berdasarkana analisa usaha tani B/C pada P1 sebesar 0.43 ; P2 sebesar 0.38 ; P3 sebesar 1.18 dan P4 sebesar 1.86. 56
  • 57.
    2.3.8. Peningkatan Komunikasi,Koordinasi, dan Diseminasi Inovasi Pertanian Sumatera Selatan Keberhasilan Pembangunan Pertanian di Sumatera Selatan, tidak terlepas dari peran aktif antara penyuluh pertanian dan petani yang disertai program pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. Disamping itu juga adanya peran aktif dari Dinas/intansi terkait, sehingga keberhasilan pembangunan pertanian tidak berdiri sendiri, tetapi diperlukan adanya keterkaitan berbagai pihak. Untuk melaksanakan pembangunan pertanian diperlukan SDM (Sumber Daya Manusia) aparat pertanian tangguh dengan ciri profesional, mandiri, inovatif, kreatif dan berwawasan global yang mampu menjadikan fasilitator, diseminator, propokator, motivator dan regulator pelaku usaha pertanian serta mampu membangun sistem agribisnis yang berdaya saing tinggi.Kegiatan peningkatan komunikan, koordinasi dan diseminasi inovasi pertanian di Sumatera Selatan yang dilakukan di 4 (empat) Kabupaten dilakukan di Kabupaten OKI, Lahat, OKU dan Lubuk Linggau. Tujuan kegiatan ini antara lain a) Mensosialisasikan dan atau mendampingi implementasi Gelar Teknolologi dan Temu lapang Inovasi Pertanian untuk komoditas (padi, jagung, cabe, bawang merah, kedelai) pada agro ekosistem lahan kering; b) 57 Dedak padi Kegiatan CPCL
  • 58.
    Mendiseminasikan hasil kegiatanGelar Teknologi dan Temu Lapang untuk komoditas strategis kementan (padi, jagung, bawang merah, kedelai) melalui media cetak, klinik agribisnis, dan cyber extension. Ruang lingkup kegiatan: a) Peningkatan Kapasitas komunikasi dan Diseminasi Program Starategis Badan Litbangtan dan Kementan, b) Pendayagunaan Inovasi Hasil Litkaji melalui berbagai media (elektronik, multimedia, interaksi dan tercetak) dan narasumber dalam berbagai pertemuan, c) Bimbingan lanjutan bagi petani/ Kelembagaan Tani Kooperator Kegiatan pengkajian/Diseminasi Teknologi Pertanian. Pada kegiatan ini telah dilaksanakan temu koordinasi, gelar teknologi dan temu lapang dan temu teknis di 4 kabupaten/kota (OKI, Lahat, OKU dan Lubuk Linggau). Komoditas Strategis Kementan yang di kembangkan adalah padi, jagung,Kedelai, bawang dan cabe. Hasil yang diperoleh dari teknologi inovasi yang diterapkan untuk tanaman kedelai, yang dilaksanakan di kelompok tani Muda Sepakat, Desa Merapi Kec.Merapi Barat Kabupten Lahat seluas 2 Ha, dengan varietas grobokan dan kaba. Produksi yang diperoleh dari varietas grobokan 2 ton/ha dan Kaba 1,8 ton/ha. Komoditas padi di tanam di Gapoktan Sinar Haraan II, Desa Cahaya Maju, Kec.Lempuing Kab. OKI seluas 5 Ha (Varietas Inpari 15,20,22, 27, 29, dan 30) hasil yang diperoleh rata-rata 7,8 ton, telah dijadikan benih 21,845 ton yang digunakan untuk tanam berikutnya oleh petani setempat. Disamping itu juga dilakukan tanam bawang 0,25 ha hasil yang diperoleh hasil basah 4.462 kg, sedang hasil kering 2.483 kg. Sebagai bahan pendukung bagi penyuluh mau petani dalam menggunakan inovasi teknologi telah diterbitkan Petunjuk Teknis Kedelai dan bawang merah serta 8 judul leaflet. Disamping itu juga telah dibentuk klinik agribisnis 58
  • 59.
    di Kab.OKI, Lahat,OKU dan Lubuk Linggau. Selanjutnya telah dilakukan bimbingan terhadap penyuluh dan petani sebagai narasumber pada pertemuan penyuluh di BP3K . 2.3.9. Pendampingan PUAP di Sumatera Selatan Pelaksanaan PUAP di perdesaan dimulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, telah disalurkan kepada 1330 gapoktan/desa PUAP di Provinsi Sumatera Selatan, atau senilai Rp 119,6 Milyar. Dalam pelaksanaan PUAP secara substansi terdapat 3 kegiatan pokok yang harus dilaksanakan yaitu : (1) pengembangan kelembagaan Gapoktan, (2) pengembangan kelembagaan LKM yang dikelola Gapoktan, dan (3) pengembangan usaha agribisnis yang dilakukan petani miskin peserta PUAP. Pendampingan PUAP tahun 2016 ini bertujuan : 1) Melaksanakan inventarisasi dan validasi LKM-A Gapoktan PUAP 2016 Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan, 2) Melaksananya rapat/pertemuan dengan PMT Kabupaten/Kota se Sumatera Selatan dan anggota kelompoktani/LKM-A , 3) Mensosialisasikan/menyebarluaskan pedoman teknis dan pedoman pemberdayaan dan penguatan LKMA tahun 2016 dan Pedoman Asuransi Usaha Tani, masing-masing sebanyak 500 expl, 4) Melaksanakan pembinaan dan pendampingan anggota LKM-A dalam dalam penerapan inovasi teknologi pertanian (demplot/display varietas unggul 59 Pelatihan Budidaya Jagung di BP3K Raksa Jiwa Panen raya padi hasil dari gelar teknologi Varitas Unggul Baru
  • 60.
    padi pada LKM-Agapoktan PUAP Model, 5) Menyusun database Gapoktan PUAP tahun 2008-2015. Koordinasi Pendampingan PUAP dilaksanakan di 16 Kabupaten/ kota dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Waktu pelaksanaan dilaksanakan pada bulan Januari s/d Desember 2016. Cakupan kegiatan pendampingan PUAP meliputi : 1) Persiapan (Penyusunan RODHP, Pedum/Juknis Pendampingan PUAP, 2) Kesekretariatan (adminnistrasi surat-menyusurat, fasilitasi pelaporan pelaporan rutin PMT , dan 3) Koordinasi pendampingan PUAP dengan Tim Teknis PUAP Kabupaten/kota dan PMT dalam hal : (1) Updating data LKM-A Gapoktan PUAP, (2) Pembinaan dan exit strategi pendampingan PUAP, (3) Penyebaran Pedoman/Juknis, (4) Pendampingan dalam penerapan teknologi oleh petani pada LKM-A PUAP Model, (5) Penyusunan database gapoktan 2008-2015. 4) Pelaporan, sebagai bentuk pertanggung jawaban kegiatan dan administrasi keuangan. Berdasarkan hasil pelaksanaan Pendampingan PUAP Tahun 2015 diperolah sebagai berikut : 1) BPTP Sumatera Selatan telah melaksanakan kegiatan pendampingan PUAP, sesuai dengan tugas dan fungsinya selaku Sekretariat PUAP Provinsi, antara lain melakukan koordinasi dengan tim teknis PUAP kabupaten/kota untuk meregistrasi, inventarisasi dan validasi sebanyak 239 LKM-A gapoktan PUAP di Sumatera Selatan. Sedangkan yang sudah berbadan hukum sebanyak 28 LKM-A, 2) BPTP Sumsel telah melaksanakan fasilitasi pertemuan/rapat dengan PMT se Sumatera Selatan yang berjumlah sebanyak 29 orang yang tersebar di 16 kabupaten/kota, sebanyak 2 (empat) kali dan melakukan pertemuan dengan kelompoktani/LKM-A sebanyak 4 (empat) kali, 3) Untuk mendukung penumbuhan dan penguatan kinerja gapoktan PUAP di Sumatera Selatan telah dilakukan dicetak dan disebarkan sebanyak 1000 eksemplar buku, yang berjudul Pedoman Penguatan LKM- A dan Pedoman Premi Asuransi Usahatani Padi 60
  • 61.
    (AUTP), dan PedomanTeknis Pendampingan PUAP, 4) Berdasarkan hasil demplot usahatani padi pada LKM-A Model, produksi dan pendapatan usahatani padi meningkat yang semula 3,8 ton/ha menjadi 4,6 ton/ha (12,11 %) melalui introduksi teknologi varietas unggul baru (Inpari 22), Jajar Legowo, pemupukan spesifik lokasi, pengendalian hama penyakit dengan konsep PHT., dan 5) Database gapoktan penerima dana PUAP di Sumatera Selatan telah tersusun, yang memuat nama gapoktan/desa, pengurus, tahun penerima dana PUAP di Provinsi Sumatera Selatan. Database ini bermanfaat untuk monitoring dan evaluasi dan pembinaan gapoktan lanjutan oleh tim teknis PUAP kabupaten/kota dan dinas instansi terkait lainnya. Temu Lapang Implementasi Inovasi Teknologi Padi pada LKM-A PUAP Model 2.3.10. Analisis Kebijakan (Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Pertanian Komoditas Strategis) Meningkatnya kebutuhan akan bahan pangan mendorong diperlukannya ketersediaan benih berkualitas. Selain mampu meningkatkan produktivitas, benih yang berkualitas baik relatif aman karena tidak menimbulkan polusi dan kerusakan lingkungan. Untuk dapat diakses, maka benih tersebut harus tersedia dan mudah 61
  • 62.
    diperoleh. Analisis kebijakanini bertujuan untuk: 1). Manganalisis potensi, ketersediaan benih di lembaga perbenihan formal yaitu Balai Bebih Induk (BBI), UPBS BPTP Sumsel, Balai Benih Utama (BBU) dan informal (penangkar benih dikelola masyarakat) dalam memenuhi kebutuhan wilayah Sumsel, 2). Menganalisis kinerja pembinaan/ pendampingan pada masing-masing lembaga (BBI, UPBS BPTP Sumsel, BBU dan penangkar informal) untuk menghasilkan benih padi berkualitas, 3). Merekomendasi kebijakan dalam upaya memenuhi kebutuhan akan benih padi di Sumsel. Sebagai sampel lembaga perbenihan diperoleh dari dua BBI (di Kabupaten OKU Timur dan Banyuasin), lima BBU (di Kabupaten Lahat, Muara Enim, Banyuasin, OKI, dan Musi Rawas) dan enam kelompok penangkar di Kabupaten OKU Timur, Banyuasin, Lahat, Muara Enim, OKI dan Musi Rawas). Data primer dikumpulkan melalui wawancara pada lembaga perbenihan dan data sekunder diperoleh dari BPSB Sumsel, dianalisis secara deskriptif, ditampilkan keberadaan kuadran kepentingan kinerja dan tingkat kepuasan customer. Hasil analisis memperlihatkan bahwa benih yang dihasilkan, baik di BBI, BBU terlebih lagi dari kelompok penangkar secara kwantitas sebenarnya masih dapat ditingkatkan. Varietas unggul baru dari Balitbangtan mendominasi jenis benih yang dihasilkan. Di BBI Deta Upang (Banyuasin), luas lahan 18 ha dengan kondisi agro ekosistem pasang surut. Meskipun dapat ditanami padi dua kali dalam satu tahun namun yang terbaik hanya satu kali yaitu pada Musim Hujan (MH) dengan rata-rata produksi gabah kering panen (GKP) 4 t/ha. BBI Belitang dengan luas lahan 9 ha, sebenarnya dapat ditanami tiga kali namun hanya ditanami dua kali dalam satu tahun. Potensi produksi tertinggi diperoleh pada MH. Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) BPTP Sumsel, berada di Desa Sidakersa Kecamatan Kota Kayu Agung kabupaten OKI yang menyatu dengan Kebun Percobaan 62
  • 63.
    (KP) Kayu Agung.Untuk mengelola penangkarannya di KP Kayu Agung, saat ini penggunaannya diperhadapkan pada kendala dimana dengan adanya penimbunan lahan untuk dibuat ruko dan terminal, menyebabkan air mengalami kesulitan untuk masuk dan keluar dari dan ke petakan sawah. Sehingga lahan mengalami kekeringan pada MK dan kebanjiran di MH. Hal inilah yang mendorong dilakukannya kerjasama dengan petani untuk penangkaran padi di antaranya dengan petani di sawah irigasi Kab. OKU Timur tahun 2013 dengan luas 20 ha, di sawah irigasi di Kabupaten OKU Timur dan MURA tahun 2014 dengan total luas 25 ha. Ternyata cara yang ditempuh ini juga efektif karena dengan cara ini maka terjadi penderasan diseminasi VUB padi ke petani. Dari lima BBU yang menjadi sampel, maka yang memiliki lahan terluas adalah BBU Telang 18,5 ha, sedangkan tersempit adalah BBU Pandan Enim seluas 2 ha. Dilihat dari potensi penggunaan lahannya, meskipun di BBU Tanjung Tebat, Telang dan Jejawi berpotensi untuk ditanami dua kali dalam satu tahun, namun hanya ditanami satu kali. Ha ini disebabkan untuk penangkaran dibutuhkan kondisi lahan yang optimal dan lingkungan yang memenuhi syarat untuk dilakukannya penangkaran. Sedangkan di lahan lebak dan pasang surut, jika di sekitar lokasi tersebut tidak dilakukan pertanaman padi maka penangkaran akan menghadapi risiko besar terhadap serangan hama tikus. Di BBU Jejawi dengan lahan sawah lebak, maka penanaman dapat dilakukan pada MK I. BBU Pandan Enim dan Tani Mulya dapat ditanami padi masing-masing dua dan tiga kali dalam satu tahun. Dari enam kelompok penangkar yang menjadi sampel, potensi lahan yang besar tersedia pada kelompok penangkar Widhatama, Mitra Tani dan Kelueh untuk menghasilkan benih, masing- masing seluas 250, 200 dan 90 ha, sedangkan luasan terendah ada pada kelompok penangkar Tani Sejati yaitu 10 ha. Semua kelompok penangkar tersebut menanam 63
  • 64.
    padi dua kalidalam satu tahun, meskipun kelompok penangkar Usaha Bersama dan Mitra Tani berpotensi untuk ditanami tiga kali. Selain potensi luasan lahan yang besar, maka produktivitas GKP pada masing-masing kelompok tersebut juga terbilang tinggi yang pada umumnya di atas 6 t/ha pada MH. Benih yang disertifikasi dalam tahun 2016 (Maret, Agustus dan Oktober) sebanyak 5.178,83 ton. Sasaran luas tanam padi tahun 2016 di Sumsel 913.090 ha. Jika diasumsikan seluruh lahan tersebut membutuhkan benih 25 kg/ha, maka dibutuhkan benih padi sebanyak 22.827 ton. Dengan demikian masih terdapat kekurangan benih sebanyak 17.648 ton. Terdapat kesenjangan yang menyolok antara kepuasan dan kepentingan pada beberapa atribut pendampingan. Rendahnya indeks kepuasan terhadap pendampingan pada beberapa lembaga perbenihan, ditunjukkan juga dengan rendahnya kinerja yang dapat dilihat dari jumlah benih yang dihasilkan demikian rendah dibanding potensi yang mampu dicapai. Saran Kebijakan dari hasil analisis ini adalah menumbuhkembangkan kelembagaan perbenihan informal di masyarakat dan pendampingannya mendukung kebutuhan akan benih padi di Sumsel. Pada Kajian Kebijakan Budidaya Padi Jajar Legowo Super yang dilakukan di Desa Bangun Harjo, Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten OKU Timur yng dilakukan Bulan November- Desember tahun 2016, bertujuan untuk 1). mengetahui persepsi petani terhadap budidaya padi jarwo super, 2). Mengetahui efisiensi penerapannya, dan 3). mengkaji prospek pengembangannya. Pada petani bukan peserta kegiatan, masih lebih banyak komponen teknologi yang mereka nyatakan tidak dimengerti, tidak bermanfaat, sulit diterapkan bahkan tidak berminat untuk diadopsi, dibanding dengan petani peserta. Ini menunjukkan adanya pengaruh keikutsertaan petani terhadap persepsi mereka akan teknologi jarwo super. Budidaya padi dengan jarwo super lebih efisien dengan R/C = 2,29 sedangkan yang 64
  • 65.
    tidak menerapkan R/Cnya 2,19. Nilai MBCR akibat penerapan budidaya padi jarwo super sebesar 3,62. Budidaya padi jarwo super ini prospektif dilakukan ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah adopter setelah jarwo super ini diaplikasikan, adanya petani yang meminta benih VUB padi Inpari 30,32 dan 33, petani yang meminta biodekomposer M-Dec dan pupuk hayati Agrimeth, serta adanya penyuluh yang berminat menyebarkan informasi teknologi jarwo super. Untuk pelaksanaan di wilayah lain, sebaiknya petani peserta juga menerapkan cara yang biasa mereka lakukan (existing technology) pada saat bersamaan, agar mereka dapat membandingkannya keunggulan teknologi budidaya jarwo super tersebut secara langsung. Kegiatan wawancara 2.3.11. Produksi Benih Sumber Padi Kehidupan dimuka bumi sangat dipengaruhi oleh iklim, utamanya adalah tanaman pangan. Daya adaptasi, jadwal tanam dan teknik budidaya suatu jenis tanaman akan dipengaruhi iklim sehingga pemahaman tentang iklim dalam sektor pertanian sangat penting. Produksi tanaman akan sangat berpengaruh jika terjadi perubahan iklim. Subsektor tanaman pangan, merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim terkait tiga faktor utama, yaitu biofisik, genetik, dan 65
  • 66.
    manajemen. Kerentanan sangatberhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, dan tanaman, serta varietas tanaman. Perubahan iklim berimplikasi terhadap pergeseran awal musim tanam dan pola tanam, ancaman kekeringan, banjir, dan serangan organisme penggangu tanaman (OPT). Sistem Kalender Tanam Terpadu disusun dengan tujuan untuk mengantisipasi penurunan atau kegagalan produksi yang disebabkan perubahan iklim. Kalender Tanam Terpadu memuat peta kerawanan bencana, jadwal tanam, dosis pupuk, dan varietas. Kalender Tanam Terpadu disusun berdasarkan dasarian. Kegiatan dilakukan di 17 kabupaten kota lingkup Provinsi Sumatera Selatan mulai dari bulan Januari sampai dengan Desember 2016. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi. verifikasi dan validasi data. Data yang diamati adalah luas baku sawah, waktu tanam, luas realisasi tanam, varietas yang digunakan petani, jenis pupuk dan dosisnya, serta kemungkinan terjadinya ancaman banjir, kekeringan, dan serangan OPT. Verifikasi dilakukan melalui wawancara petani/FGD yang dilakukan terhadap kelompok tani. Verifikasi Standing Crop fase penggenangan/bera Wilayah di kec Pemulutan Kab. Ogan Ilir (agroekosistem Lebak) 66
  • 67.
    2.3.12. Pendampingan PengembanganKawasan Jagung di Sumatera Selatan Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khususnya pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula (BPTP Sumsel, 2007). Kementerian Pertanian telah menetapkan upaya khusus pencapaian swasembada berkelanjutan jagung melalui kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan kegiatan pendukung lainnya antara lain pengembangan jaringan irigasi, optimalisasi lahan, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung, Perluasan Areal Tanam jagung (PAT Jagung), Penyediaan sarana dan prasaranan pertanian (benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian), dan pengawalan/pendampingan. Untuk mendukung program upsus agar terlaksana dengan baik, maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan telah melaksanakan pengawalan kegaitan tersebut dengan tujuan 1) melaksanakan pendampingan pengembangan kawasan jagung, 2) menyiapkan dan 67
  • 68.
    menyampaikan materi dalampendampingan, 3) menyusun inovasi teknologi yang diterapkan dalam pendampingan, 4) melaksanakan sosialisasi jagung VUB Badan Litbangtan. Hasilnya adalah 1). Terlaksananya pendampingan pada satu kawasan pengembangan jagung di kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, meliputi gabungan kelompok tani jagung pada lahan seluas 1.098 ha, serta terlaksana sosialisasi varietas jagung hibrida dan jagungn komposit sukmaraga/demplot 3 varietas unggul baru (VUB) seluas 1ha yang dilaksanakan di kelompok tani Marga Jaya dengan jumlah anggota 117 orang, Desa Taraman. Adapun produksi masing-masing jagung yang ditanam adalah Bima 19 :47 ku/ha (panen muda), Bima 20 : 48 ku/ha, dan Varietas Sukmaraga 42 ku/ha (panen muda). 2). Telah tersusun dan tersampaikannya materi dalam pendampingan berupa : Buku Juknis Tanaman Jagung, Buku Deskripsi Varietas Unggul Jagung, serta terdistribusinya materi tersebut ke BP3K dan petani pelaksana GP-PTT jagung. 3). Telah diterapkan inovasi teknologi budidaya jagung dalam pendampingan (Pengolahan lahan, VUB Jagung, pemupukan, jarak tanam, Pengelolaan Tanaman Terpadu). Koordinasi Penanaman Jagung 2.3.13. Pendampingan Pengembangan Kawasan Kedelai di Sumatera Selatan 68
  • 69.
    Sumatera Selatan mempunyaipeluang sebagai salah satu provinsi pemasok kedelai untuk mendukung program swasembada kedelai nasional, dengan produksi kedelai baru mencapai 5.140 ton dengan produktivitas rata-rata biji kering 14,42 ku/ha (ATAP Tahun 2013, BPS) serta masih besarnya potensi lahan yang dimiliki pada berbagai tipologi lahan yang ada. Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT)Kedelai, adalah program nasional untuk meningkatkanproduksi kedelai, melalui pendekatan gerakan atau anjuransecara massal kepada Petani/kelompok Tani untukmelaksanaan teknologi Pengelolaan Tanaman terpadu (PTT)dalam mengelola usaha tani kedelai, dengan tujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan Tujuan jangka panjang kegiatan pendampingan pengembangan kawasan Kedelai di Sumatera Selatan adalah Peningkatan produksi dan provitas yang dihasilkan oleh petani pada kawasan kedelai di Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan Tujuan tahun 2016 adalah; (1) Memberikan pendampingan dan pengawalan teknologi budidaya kedelai pada kegiatan peningkatan produktifitas dii Kawasan Kedelai Sumatera Selatan, (2) Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan pendampingan Kawasan kedelai di Sumatera Selatan, dan (3) Memperlihatkan dan memberikan contoh kepada petani/ masyarakat keunggulan dan tata cara penerapan teknologi budidaya kedelai spesifik yang direkomendasikan dalam bentuk demfarm sosialisasi VUB seluas 3 (tiga) ha. Ruang lingkup kegiatan meliputi: (1) Koordinasi dan sosialisas kegiatan pengawalan dan pendampingan, (2) Memberikan informasi budidaya kedelai dengan pendekatan PTT dalam bentuk bahan cetakan kepada petugas lapang, (3) Pembuatan demplot farm (demfram) sosialisasi VUB kedelai seluas 3 (tiga) ha yang dilaksanakan pada lahan petani dibawah bimbingan BPTP Sumatera Selatan melalui pendekatan PTT, (4) Menjadi nara sumber pada saat 69
  • 70.
    pelatihan atau pertemuankelompok di tingkat kabupaten, BPP serta desa, gelar atau temu lapang yang diselenggarakan bersama dengan Dinas Kabupaten, dan (5) Memberikan supervisi teknologi pada denfarm yang dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten. Secara umum Kegiatan Pendampingan dilaksanakan untuk mendukung kegiatan peningkatan produktifitas kedelai di Propinsi Sumatera Selatan, sedangkan secara khusus pendampingan difokuskan mendukung kegiatan peningkatan produktifitas di kawasan Kedelai Kabupaten Banyuasin. Waktu pelaksanaan dimulai dari bulan Januari sampai Desember 2016. BPTP Sumatera Selatan telah menyusun rekomendasi teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi di lokasi pengembangan kawasan di Kabupaten Banyuasin yang didominasi tipologi lahan pasang surut tipe luapan C dan D dan sebagian juga dilaksanakan pada tipe luapan A dan B. Rekomendasi tersebut kemudian disediakan dalam bentuk leafet atau brosur yang selanjutnya didistribusikan kepada petani, kelompok tani, PPL dan Dinas Pertanian di Kabupaten Banyuasin. Kegiatan koordinasi, pendampingan dan pengawalan teknologi budidaya kedelai telah dilaksanakan pada wilayah pengembangan kawasan kedelai di Kabupaten Banyuasin dan non kawasan di Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi iklim yang tidak mendukung dan penggunaan varietas yang tidak sesuai serta serangan hama tikus menyebabkan produktivitas tanaman kedelai di lokasi demplot sangat rendah ((Anjasmoro 5,2 ku/ha; Gema 4,3 ku/ha; Dering 1 5,0 ku/ha; dan Dena 4,0 ku/ha), ,kondisi hampir sama juga terjadi pada hamparan IP 300 di Kecamatan Muara Telang (Grobogan; 5,0 ku/ha) dan untuk skala luas program intensifikasi tingkat kabupaten (Grobogan; 7,5 ku/ha). 70
  • 71.
    Perbandingan pertumbuhan tanamankedelai masing-masing Varietas 2.3.14. Pengembangan Kawasan Peternakan Kerbau Di Sumatera Selatan Sumatera Selatan memiliki potensi cukup besar untuk pembangunan peternakan terutama kerbau potong dan kerbau. Program Pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan Kerbau ini dilaksanakan melalui optimalisasi sumberdaya lokal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian mendapat mandat untuk melakukan pendampingan Pengembangan Kawasan Peternakan kerbau yang ada di daerah. Untuk itu mulai tahun 2015 BPTP Sumsel telah melaksanakan kegiatan pendampingan pengembangankawasan peternakan kerbau Pampangan bertempat di kecamatan Pampangan dan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Tujuan kegiatan tahun 2015 meliputi pendampingan teknologi pakan fermentasi untuk persiapan menghadapi musim kemarau dan membandingkan pemberian pakan 71
  • 72.
    fermentasi dengan pemberianpakan sesuai kebiasaan petani dalam hal meningkatkan angka kebuntingan. Hasil kegiatan tahun 2015 yang telah dilaksanakan adalah terdesiminasinya paket teknologi pakan fermentasi jerami padi dan aplikasi pemberian pakan fermentasi jerami padi ke ternak kerbau betina menjelang bunting pada musim kemarau. Untuk melihat dampak dari hasil penerapan pakan fermentasi tersebut maka kegiatan pendampingan dilanjutkan tahun 2016 dengan tujuan: (a) pemantapan pemberian pakan fermentasi pada saat Pre dan Post Partum, (b) melakukan pendampingan teknologi pengolahan limbah ternak kerbau serta (c) membentuk kelembagaan kelompok tani ternak perbibitan pampangan yang kuat. Dampak dan manfaat kegiatan yang diharapkan adalah (a) meningkatkan produktivitas ternak kerbau, (b) meningkatkan pendapatan petani dan (c) mengurangi permasalahan yang dihadapi petani. 2.3.15. Pendampingan Sumber Daya Genetik Tanaman Padi Lokal di Sumatera Selatan 72 Pembinan kelompok
  • 73.
    Sumber Daya Genetik(SDG) tanaman padi merupakan bagian dari plasma nutfah dan memiliki arti yang sangat penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sejumlah varietas komoditas tanaman telah dimanfaatkan secara intensif sebagai pangan dan menjadi produk strategis bagi upaya ketahanan pangan nasional. Sejumlah species tanaman lainnya yang belum dimanfaatkan diketahui memiliki potensi dalam mendukung program pemuliaan tanaman. Disisi lain perubahan iklim secara global merupakan isu penting yang memiliki potensi dapat mengancam ketersediaan SDG tanaman. Pemanasan global dan bencana alam dapat memacu terjadinya erosi genetik terhadap SDG tanaman yang ada. Oleh karena itu, SDG tanaman perlu dilestarikan agar dapat tersedia secara berkelanjutan dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan pangan. Langkah awal upaya pelestarian terhadap SDG tanaman dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan inventarisasi dan dokumentasi data SDG tanaman, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan konservasi (pemeliharaan) baik secara in situ (lekat lahan) maupun ex situ (koleksi di bank gen) kemudian dilakukan evaluasi bilamana mungkin untuk menemukan sifat-sifat unggul dari sumber daya genetik tersebut sehingga dihasilkan varietas unggul baru. Kegiatan penelitian plasma nutfah meliputi koleksi, rejuvinasi, karakterisasi dan evaluasi kultivar lokal, kultivar liar atau introduksi dari luar negeri, kultivar unggul masa lalu dan masa kini. Dari hasil kegiatan inventarisasi sumber daya genetik Tahun 2013 dan 2015, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan telah memiliki koleksi padi lokal sebanyak 56 varietas yang terdiri dari; 9 varietas padi lokal existing di lahan rawa lebak, 26 varietas padi lokal existing di lahan kering, dan 21 varietas padi lokal existing di lahan rawa pasang surut. Hasil koleksi ex situ pada tahun 2015 di 73
  • 74.
    Kebun Percobaan Kayuagungada 3 varietas padi lokal yang telah tanam dan dikarakterisasi, yaitu padi Bone, Siam, dan Siputih. Pada Tahun 2016, karakterisasi dilanjutkan di Kebun Percobaan Karang Agung. Dengan adanya kegiatan karakterisasi dan evaluasi yang lebih intensif varietas padi lokal maka akan semakin banyak informasi berupa varietas yang potensial dikembangkan sebagai varietas unggul. Identifikasi dan Karakterisasi secara in-situ dan ex-situ telah dilakukan terhadap 21 varietas padi lokal, baik di lahan petani maupun di KP Karang Agung. Dari 21 varietas padi lokal di lahan rawa pasang yang telah diidentifikasi, terdapat 8 varietas yang terpilih untuk dilakukan karakterisasi secara ex-situ di kebun koleksi, KP Karang Agung. Delapan varietas padi lokal tersebut adalah; Sanapi, Lembu Sawah, Lembu Kuning, Nona Cantik, Ketek Muri, Tapanuli, Talang I dan Talang II. Padi varietas lokal tersebut ditanam di kebun koleksi, KP Karang Agung pada bulan Agustus/September 2016, namun hasilnya belum dapat dilaporkan karena datanya belum lengkap, setelah penanaman, tanaman mengalami kekeringan sehingga banyak yang mati. Dilaporkan juga bahwa telah dipeliharanya kebun koleksi SDG tanaman spesifik lokasi di Kebun Percobaan Karang Agung dan Kayuagung, masing-masing-masing ± setengah (0,5 Ha). Selanjutnya telah dilakukan koordinasi dan sinkronisasi program dalam bentuk pertemuan/rapat sosialisasi dan penyusunan program untuk memperkuat kelembagaan Komisi Daerah (KOMDA) Provinsi Sumatera Selatan. 74
  • 75.
    2.3.16 Pendampingan PengembanganKawasan Padi di Sumatera Selatan Pendampingan pengembangan kawasan tanaman padi telah dilakukan di dua Kabupaten, yaitu: OI dan OKI. Kegiatan pendampingan ini bertujuan: 1). mendiseminasikan varietas unggul baru padi di lahan rawa lebak, 2). mendiseminasikan cara tanam jajar legowo di lahan rawa lebak, dan 3). mendiseminasikan pemupukan berimbang di lahan rawa lebak. Keluaran yang diharapkan dari kegiatan pendampingan ini, yaitu: 1). terdiseminasinya varietas unggul baru padi di lahan rawa lebak, 2). terdiseminasinya cara tanam jajar legowo di lahan rawa lebak, dan 3). terdiseminasinya pemupukan berimbang di lahan rawa lebak. Tahapan kegiatan meliputi: penyusunan RODHP, koordinasi, penentuan lokasi dan kelompok tani, pelatihan, pembuatan demplot, mencetak materi diseminasi, pengumpulan data dan pelaporan. Kegiatan yang telah dilakukan, yaitu: 1). mendiseminasikan varietas unggul baru Inpari 22, 2). mendiseminasikan cara tanam jajar legowo, 3). mendiseminasikan pemupukan berimbang (urea 100 kg/ha, TSP 100 75 Kultivar Kemis Umur 75 hari
  • 76.
    kg/ha, KCl 100kg/ha, kompos 2,5 ton/ha dan 5 ton/ha), dan 4). pelatihan. Materi pelatihan, yaitu tentang varietas unggul baru, pemupukan berimbang, dan cara tanam jajar legowo). Rata-rata produksi padi hasil diseminasi varietas unggul baru, yaitu: 7,8 ton/ha GKP untuk di demplot di desa Kamal. Sementara itu produksi padi di lahan petani sekitar 3-4 ton/ha GKP. 2.3.17. Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura Di Sumatera Selatan Kegiatan Pendampingan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Hortikultura di Sumatera Selatan bertujuan untuk ; a)Mendiseminasikan inovasi teknologi budidaya cabai merah di Kabupaten OKI dan bawang merah di Kabupaten Mura, b)Memberikan dukungan teknologi untuk pengembangan kawasan pertanian hortikultura dalam bentuk; demplot, pelatihan, penyediaan bahan/materi penyuluhan serta menjadi nara sumber pada pelatihan/pertemuan petani dan petugas lapang di wilayah pendampingan, dan c) Meningkatkan percepatan penyebaran inovasi teknologi cabai 76 Tanaman padi dan pengambilan ubinan
  • 77.
    merah dan bawangmerah ke petani/pelaku usaha. Kegiatan telah dilaksanakan di 2 lokasi wilayah pendampingan yang ada di 2 Kabupaten yakni Kabupaten OKI dan Musi Rawas. Pelaksanaan pendampingan dimulai dari bulan Januari hingga Desember 2015. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini meliputi; 1) koordinasi, persiapan, 2) identifikasi potensi wilayah, 3) pelatihan/pertemuan bagi penyuluh/petani/kelompok tani, 4)pendampingan dan pengawalan teknologi, 5) pelaksanaan demplot/display VUB dan teknologi pemupukan pada tanaman cabe dan bawang merah, 6) Pengumpulan dan pengolahan data, dan 7) Pelaporan hasil kegiatan. Kegiatan Pendampingan Kawasan Tanaman hortikultura meliputi 2 (dua) komoditi yakni; Cabai merah dan bawang merah. Hasil kegiatan yang telah dilaksanakan adalah; 1) koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Kabupaten OKI dan Musi Rawas. Hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi bahwa pendampingan untuk demplot diarahkan di Kab OKI untuk pendampingan kawasan cabai merah dan demplot tanaman bawang merah di Kabupaten Musi Rawas. 2) Identifikasi Potensi sudah dilaksanakan pada 2 (dua) kelompok yakni kelompok tani Karya Tunas Muda yang merupakan kawasan Cabai merah di Desa Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI, dan kelompok Melati Jaya yang merupakan kawasan Bawang merah di Desa Sukorejo Kecamatan SLTU Terawas Kabupaten Musi Rawas. 3) Pendampingan dalam bentuk Pelatihan Budidaya dan PHT Cabai Merah dilaksanakan di Desa Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI, sedangkan Pelatihan Panen dan pasca panen bawang merah dilaksanakan di Desa Sukorejo Kecamatan SLTU Terawas Kabupaten Musi Rawas. 4) Pendampingan Teknologi dalam Bentuk Demplot Cabai Merah varietas Kencana 77
  • 78.
    dilaksanakan di DesaSungai Belida pada lahan petani dengan luasan ± 2500 m². Sedangkan demplot bawang merah dilaksanakan di Desa Sukorejo Kec. SLTU Terawas Kabupaten Mura, menggunakan varietas BIMA Brebes seluas ±2500 m². Hasil demplot cabai merah varietas Kencana, di persemaian menunjukkan daya tumbuh > dari 95%. Pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman pada umur 20 HST (27,8 cm), 40 HST (44,6 cm) dan 60 HST (53,8 cm), rata-rata jumlah cabang pada tanaman sampel umur 20 HST rata-rata 6,7 buah; umur 40 HST 8,6 buah dan umur 60 HST mencapai 9,5 cm. Sedangkan hasil panen hanya 12 kali petik dengan total hasil 86 kg. hal ini disebabkan Karena demplot terkena virus kuning dan trips. Hasil demplot bawang merah varietas Bima Brebes; brangkasan pada saat panen berdasarkan hasil ubinan yang diulang sebanyak 5 kali ubinan, dengan luas ubinan 1 x 1 m, rata-rata mencapai 2,98 kg/m². jika dikonversi dengan hektar (10.000 m²) dengan efisiensi lahan 7500 m², maka produksinya adalah ; 2,98 x 7500 = 22.350 kg/hektar. Dengan asumsi penyusutan ± 50%, maka produksinya mencapai 11,175 ton/ha kering jual Kondisi pertanaman bawang merah di Kab. Mura Lokasi demplot bawang merah 78
  • 79.
    2.3.17 Pendampingan PengembanganKawasan Pertanian Nasional Kopi dan Karet Provinsi Sumatera Selatan termasuk dalam provinsi yang telah ditetapkan untuk pengembangan kawasan beberapa komoditas unggulan. Menurut Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 46/Kpts/PD.300/1/2015 tentang Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional, kabupaten Musi Rawas ditetapkan sebagai Kawasan Perkebunan dengan komoditas karet, dan kabupaten Muara Enim ditetapkan sebagai Kawasan Perkebunan dengan komoditas kopi. Pendampingan pada kawasan pengembangan kopi di kabupaten Muara Enim dilakukan dengan melakukan diskusi dengan petani melalui pertemuan kelompok. Hasil diskusi dilanjutkan dengan melakukan perbaikan teknologi budidaya pada kelompok tani percontohan, meliputi pemupukan sesuai dosis anjuran, pembersihan lahan, pembuatan rorak, dan teras. Hasil perlakuan pada kelompok tani percontohan ini berupa peningkatan hasi panen di tahun 2017. Kondisi tanaman karet di kawasan pengembangan di kabupaten Musi Rawas pada umumnya perlu ditingkatkan produktivitasnya. Populasi tanaman yang terlalu padat per satuan luas menyebabkan produktivitas yang rendah dan meningkatkan ancaman serangan OPT. Selain itu, petani karet di kawasan pengembangan perlu menerapkan inovasi jarak tanam agar dapat melakukan diversifikasi tanaman pangan dengan tanaman karet. 79
  • 80.
    Pertemuan kelompok 2.3.18 PengembanganVarietas Padi Inpara dan Inpari serta Penyiapan Penangkar Benih di Lahan Rawa Lebak Sumatera Selatan Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan Banyuasin Sumatera Selatan di lahan petani, dimulai pada musim kemarau (Januari- Desember) 2016. Lokasi dan petani dipilih secara sengaja. Jumlah varietas unggul yang dikaji sebanyak 4 varietas yaitu Inpari 15, Inpari 30, Inpari 22 dan Inpara 4. Petani yang terlibat 4 orang sebagai ulangan. Luasan dari masing-masing petani 0,25 hektar. Sehingga total luasan kajian 1 hektar untuk satu kabupaten. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK), dimana varietas padi sebagai perlakuan dan petani sebagai ulangan. Persiapan lahan dilakukan dengan menebas rumput, dibersihkan lalu dikumpulkan kepinggir sebagai galengan. Benih disemai dua kali, kemudian penanaman dilakukan dengan menggunakan bibit dari persemaian ke-2 umur bibit 30 HST, jarak tanam 25 x 25 cm dengan jumlah bibit 2-3 bibit/rumpun. Pupuk yang digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 1 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea, 100 80
  • 81.
    kg SP-36 dan100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea/ha, diberikan secara disebar. Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam, sedangkan penyiangan pertama dan kedua dilakukan masing-masing pada 30 hari dan 60 hari setelah tanam. Bila perlu dilakukan penyiangan ketiga, tergantung keadaan di lapangan. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan mengikuti cara pengendalian terpadu berdasarkan ambang kendali. Penentuan sampel dilakukan secara acak, masing-masing varietas sebanyak 5 tanaman. Data yang dikumpulkan meliputi : 1). Aspek agronomis terdiri dari tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah bernas per malai dan produksi. 2) Aspek sosial ekonomi terdiri dari sarana produksi dan tenaga kerja.Data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dianalisis dengan uji statistik sidik ragam (Anova) dan analisis yang digunakan yaitu analisis penerimaan dan pendapatan, dan analisis imbangan pendapatan atas biaya (B/C). Hasil kajian menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman dari empat varietas yang dikaji pada Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir tergolong rendah sampai sedang, jumlah anakan produktif per rumpun tergolong sedang sampai tinggi. Persentase gabah isi tergolong baik rata-rata 83%. Produksi gabah Inpari 15, Inpari 22, Inpari 30 dan Inpara 4 di Desa Sako Kabupaten Banyuasin rata-rata 6,2 ton gkp/ha, produksi gabah Inpari di Desa Pelabuhan Dalam Kabupaten Ogan Ilir rata-rata 5,0 ton gkp/ha dan produksi gabah inpari di Desa Berkat Kabupaten OKI rata-rata 3,0 ton gkp/ha. Reaksi terhadap penyakit blast dimana inpari 22 termasuk tahan, inpari 15 agak rentan, inpari 30 agak tahan dan inpara 4 tahan.Keuntungan yang diperoleh oleh petani di Desa Sako, di Desa Pelabuhan Dalam dan di Desa Berkat berturut-turut yaitu Rp 12.780.000, Rp 9.604.000 dan Rp 2.364.000 dengan nilai BC ratio berturut-turut 81
  • 82.
    yaitu 1,0 ;0,8 dan 0,2. Keragaan dari empat varietas unggul tersebut dipilih oleh petani dari ke tiga kelompok tani yaitu varietas Inpara 4, Inpari 22 dan Inpari 30 karena produksinya baik dan tahan terhadap penyakit blast. Maka kelompok penangkar “Maju Bersama” di Desa Sako, Kelompok penangkar “Sumber Karya di Desa Pelabuhan dalam dan Kelompok penangkar “Bangun Sari” di Desa Berkat akan mengembangkan varietas tersebut pada musim berikutnya dan sebagai penyedia benih varietas unggul untuk anggota kelompok atau di luar anggota kelompok baik dalam desa maupun di luar desa. Persemaian Inpari dan Inpara Kunjungan anggota Koramil 2.3.19 Kajian Adaptif Inroduksi Pengering Untuk Meningkatkan Mutu Gabah di Lahan Lebak Provinsi Sumatera Selatan Kesulitan terbesar yang dihadapi petani rawa lebak adalah ketika panen raya yang bersamaan dengan musim penghujan, sementara fasilitas penjemuran dan tenaga kerja yang tersedia terbatas.Kondisi alam dan keterbatasan ketersediaan lantai jemur di lahan lebak menyebabkan penggunaan mesin pengering sangat dianjurkan. Tujuan dari kajian ini adalah : a) mengintroduksikan teknologi pengering di petani lahan 82
  • 83.
    lebak, b) mengkajipenggunaan alat pengering “solar bubble dryer” terhadap mutu beras di lahan rawa lebak, c) mengkaji dan menganalisa nilai ekonomi dari penggunaan pengering “solar bubble dryer” di lahan rawa lebak, d) mengkaji persepsi petani terhadap teknologi “solar bubble dryer” yang dikenalkan. Kajian adaptif pengeringan ini dilakukan melalui pendekatansecara partisipatif dan direncanakan akan dilaksanakan sejak bulan Januari hingga Desember 2016. Bahan yang digunakan diantaranya adalah gabah kering panen, sedangkan alat yang digunakan adalah bubble solar dryer, timbangan, karung, terpal, RH meter, moisture tester, termokopel, alat pengukur suhu, alat pengukur kadar air. Sedangkan metode yang digunakan adalah a) survei RRA di lokasi kajian, b) mengkaji penggunaan alat pengering “solar bubble dryer” terhadap mutu gabah dan beras, c) mengitung analisis ekonomi, d) mengukur persepsi petani terhadap teknologi solar bubble dryer Temu Lapang 2.3.20 Kajian Adaptif Pola Tanam Padi dan Palawija di Lahan Rawa Lebak 83
  • 84.
    Kabupaten Ogan IlirSumatera Selatan Pengkajian dilaksanakan di Desa Kota Daro II, Kecamatan Rantau panjang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, yang akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2016. Pemanfaatan lahan rawa lebak dengan menggunakan pola tanam rawa lebak dangkal (padi – Palawija/sayuran – Padi). kajian adaptif pola tanam padi dan palawija menggunakan model Superimposed, dalam pelaksanaannya bersifat partisipatif petani dan dilaksanakan dilahan petani yang dikawal dan dibimbing oleh peneliti, penyuluh dan teknisi. Luas pengkajian 0,5 ha, dengan pola tanam masing-masing petani (A). Padi – Kacang tanah – Padi; B) Padi-kacang hijau-padi; C) Padi-jagung-padi; dan D) padi-pare-padi). Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan pola tanam sistem usahatani pada lahan lebak dangkal dan meningkatkan pendapatan petani .Hasil analisis usahatani pola tanam di rawa lebak dangkal menunjukkan bahwa pendapatan pola tanam beragam. Masing-masing pendapatan pola tanam padi dan palawija adalah (padi+pare) sebesar Rp 27.160.000,- (padi +Kc tanah) sebesar Rp 25.540.000; (padi + kacang hijau) sebesar Rp 17.970,- (padi + Jagung) sebesar 12.150.000,- .Pola tanam yang bisa untuk dikembangkan terutama di lahan rawa lebak dangkal, berdasarkan hasil kajian adalah pola tanam (padi + pare) dan pola tanam (padi + kacang tanah). 2.3.21. Produksi Benih Sumber Kedelai 7 Ton Pemerintah sudah menetapkan 3 (tiga) komoditas 84 PolatanamMKI (Februari-Juli)2016
  • 85.
    tanaman pangan yangharus dapat diproduksi didalam negeri dengan meminalisir import dari luar selama 3 (tiga) taun mulai 2015-2017 yang sering kita dengar sebagai upaya khusus peningkatan produksi padi-jagung-kedelai (Pajale). Salah satu komponen produksi yang dibutuhkan petani adalah benih bermutu. Ketersediaan benih bermutu dinilai strategis karena akan sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman. Peran benih sangat menentukan kapasitas produksi yang akan dihasilkan dan berkembangnya agribisnis, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen dan sistem produksi benih secara berkelanjutan menjadi sangat penting. Untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan benih unggul bermutu kedelai di tingkat daerah secara berkelanjutan guna mendukung program pemerintah dalam upaya peningkatan produksi kedelai. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan kelembagaan kelompok penangkar yang sudah ada dengan melibatkan instansi terkait di daerah melalui pembinaan dan pelatihan secara intensif serta dengan memberikan dukungan sarana prasarana yang memadai.Kegiatan Produksi Benih Sumber Kedelai (2 ton FS dan 5 ton SS) bertujuan untuk; (1) Menyediakan dan memproduksi benih sumber kedelai sebanyak (2 ton FS, 5 ton SS) secara tepat (varietas, mutu, jumlah, dan waktu) sesuai dengan kebutuhan masyarakat, (2) Mengembangkan dan menyebarluaskan penggunaan VUB kedelai yang sesuai dengan preferensi konsumen/masyarakat tani dan mampu meningkatkan produksi, produktivitas, dan mutu hasil, dan (3) Membina minimal 1 (satu) kelompok penangkar benih. Dari hasil pelaksanaan kegiatan produksi benih atau penangkaran yang dikerjasamakan dengan petani, dapat disimpulkan antara lain, (1) Pertanaman kedelai untuk produksi kedelai dapat terlaksana seluas 8 (delapan) ha dan diperkirakan dapat memproduksi dan menyediakan benih sebanyak 7 ton, namun karena Varietas yang ditanam tidak 85
  • 86.
    adaftif untuk lahanpasang surut dan tidak sesuai kebutuhan masyarakat (tergantung stok yang ada di Balitkabi) dan ditambah lagi kondisi iklim yang ekstrem pada MK 2016 menyebabkan target produksi benih sumber kedelai tidak tercapai ; (2) pengembangan dan penyebarluasan penggunaan VUB kedelai yang sesuai dengan preferensi konsumen/masyarakat tani dan mampu meningkatkan produksi, produktivitas, dan mutu hasil belum dapat dicapai sesuai tujuan kegiatan, namun (3) Pembinaan terhadap minimal 1 (satu) kelompok penangkar benih sudah dapat dilaksanakan. Pertanaman Kedelai Varietas Gema 2.3.22. Produksi Benih Sumber Padi Varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Kontribusi nyata varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi Nasional antara lain tercermin dari pencapaian swasembada beras pada tahun 1984. Hal ini terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh 86
  • 87.
    varietas unggul padi,antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama, umur genjah sehingga sesuai dikembangkan dalam pola tanam tertentu, dan rasa nasi enak (pulen) dengan kadar protein relatif tinggi. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah 1) Meningkatkan produksi, mutu dan distribusi benih sumber (FS 14 ton, dan SS 29 ton) padi agar selalu terjamin ketersediaanya sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2) Memantapkan kelembagaan perbenihan untuk menjamin distribusi benih berjalan dengan cepat dan tepat, dan 3) Mendukung upaya penyediaan benih unggul bermutu bagi petani.Kegiatan produksi benih sumber dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2016 di lahan sawah irigasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan di kabupaten Musi Rawas (Mura). Untuk Sentra Prosesing Unit ditempatkan Di Kebun Percobaan Kayuagung. Secara teknis, waktu pelaksanaan kegiatan lapangan menyesuaikan kondisi lapangan. Produksi benih sebar padi di Sumatera Selatan klas FS, dan SS, direncanakan menggunakan varietas Inpai 1, Inpari 6, Inpari 9, Inpari 22, Inpari 29, Inpari 30, 32, dan Inpara 4 dengan luas tanam 40, rencana target produksi benih dari varietas tersebut adalah 14 ton kelas FS, 29 ton kelas SS.Data yang dikumpulkan meliputi data keragaan pertumbuhan dan hasil. Data yang dikumpulkan ditabulasikan dan dianalisa (kuantitatif). Sebagai pertanggungjawaban akhir dari pelaksanaan kegiatan disusun akhir. Hasil akhir dari kegiatanini adalah Produksi benih yang disertifikasi pada tahun 2016 milik UPBS BPTP Sumatera selatan sebanyak 43.970 kg , yang terdiri dari varietas Inpari 1 (FS) sebesar 1300 kg, Inpari 6 (FS) 3130 kg), Inpari 22 (FS) 8500 kg, Inpari 30 (FS) 12.221 kg, Inpari 32 (FS) 1560 kg, Inpari 9 (FS) 4050 kg, Inpari2 9 (SS) 540, Inpari 30 (SS) 4000 kg Inpari 30 (SS) 3500 kg, Inpari 9 (SS) 1000, dan Inpara4(SS) 3669 kg. Sedangkan 87
  • 88.
    benih yang sudahdi distribusikan ke pengguna benih sumber sampai bulan Januari 2016 sebanyak 25.940kg, dari total produksi 43.470 kg. 88
  • 89.
    III. PENUTUP Pada Tahun2016 berdasarkan jumlah dari masing-masing dana, maka secara keseluruhan terdapat 41 kegiatan di BPTP Sumsel. Selain kegiatan penelitian/pengkajian, diseminasi, analisis kebijakan dan kegiatan pendampingan, juga terdapat kegiatan yang termasuk dalam koordinasi sub bagian ketatausahaan dan seksi kerjasama dan pelayanan pengkajian. Realisasi penggunaan dana dari DIPA BPTP tahun 2016 tersebut sebesar 87.15%. Kegiatan tersebut telah diupayakan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya, namun demikian pelaksanaannya juga tidak terlepas dari berbagai kendala seperti cuaca yang pada bulan-bulan tertentu sangat ekstrim, hama dan penyakit tanaman serta aspek kelembagaan yang masih terbatas dari segi kualitas, dan realisasi pencairan dana yang terlambat akibat revisi anggaran juga berdampak pada kelancaran pelaksanaan kegiatan. Untuk pelaksanaan kegiatan yang matang, tentunya sejak awal perlu perencanaan dan perancangan, dibahas dalam tim dan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pelaksanaan dari monitoring dan evaluasi kegiatan. Hal ini diperlukan agar permasalahan yang terjadi segera dicari jalan keluarnya sebelum menjelang berakhirnya kegiatan tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan litkaji, peningkatan kualitas SDM secara berkelanjutan yang mampu mengiringi perkembangan zaman, peningkatan sarana dan prasarana tentu akan menjadikan output kegiatan semakin bermanfaat dan berdampak luas. 89
  • 90.