Nama : Sufi Akhmad
No.UKG : 201698316068
Tugas : LK. 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi
Masalah terpilih
No
yang akan
.
diselesaikan
Akar Penyebab masalah Eksplorasi alternatif solusi Analisis alternatif solusi
1 semangat
(motivasi) belajar
siswa tergolong
rendah”
Pembelajaran yang
dilakukan dikelas
cenderung monoton dan
kurang variatif
Dari Kajian Literatur
1. Strategi dalam pembelajaran sangat
dibutuhkan oleh guru pengajar
dalam pemecahan berbagai masalah
pembelajaran pada mata pelajaran
matematika. Agar anak didik merasa
senang, aktif dan tidak merasa
tertekan dalam mengikuti proses
belajar mengajar matematika di
kelas. Sehingga dengan sikap yang
demikian guru dan anak didik dapat
mencapai tujuan yang di inginkan
dalam belajar. (Maswar, 2019)
2. Menurut Learning Teoris and
Educational Perspective (Schunk,
2012) menyatakan bahwa
“permainan juga mempengaruhi
pembelajaran dengan meningkatkan
motivasi. Motivasi semakin besar
ketika hubungan endogenous
(alamiah) muncul diantara konten
dan makna (pengaruh khusus),
dimana permainan atau simulasi
menampilkan konten.”. Dalam
proses pembelajarannya, metode
mathemagic akan meningkatkan
rasa percaya diri anak sehingga
Dari kajian literatur dan hasil
wawancara yang diperoleh,
Eksplorasi alternatif Solusi
yang dapat diterapkan adalah
1. Guru harus menggunakan
Strategi Pembelajaran
yang tepat agar anak didik
merasa senang dan tidak
tertekan dalam mengikuti
proses belajar mengajar
matematika di kelas.
2. Guru diharapkan
menggunakan metode
yang dapat
menumbuhkan daya
minat atau antusias siswa
dalam pembelajaran
matematika.
3. Guru harus
memaksimalkan
penggunaan media
pembelajaran untuk
meningkatkan motivasi
Siswa
4. Guru harus melakukan
pendekatan personal
mereka akan mampu dan berani
untuk mengerjakan soal dan
mencoba untuk menyelesaikannya.
Selain itu, metode mathemagic
dapat menumbuhkan daya minat
atau antusias siswa dalam
mempelajari matematika.
3. Pelaksanaan pendidikan erat
kaitannya dengan kegiatan
pembelajaran. Pembelajaran adalah
suatu proses untuk mengatur dan
mengorganisasi lingkungan sekitar
siswa, sehingga siswa dapat
memotivasi siswa melaksanakan
proses belajar (Pane & Darwis
Dasopang, 2017). Dalam kegiatan
pembelajaran, mengandung konsep
interaksi antara siswa dengan guru,
siswa dengan sumber belajar, serta
siswa dengan lingkungan sekitar
(Faizah, 2017). Oleh karena itu,
diperlukan adanya minat dan
motivasi siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran, serta
si
u
sm
wa
be
d
ripa
b
se
tl
ik
aj
a
a
n
r tid
ya
ak
ng
terb
d
a
ig
ta
u
s
n
,a
b
k
a
a
in
k
dengan lingkungan sekitar maupun
media pembelajaran pendukung
lainnya agar pembelajaran yang
dialami siswa dapat berjalan
efektif dan bermakna.
Matematikamerupakan
salah satu mata
pelajaran yang memiliki peranan
yang penting dalam kehidupan
terhadap siswa
5. Guru diharapkan mampu
merancang pembelajaran
yang menyenangkan dan
tidak monoton
6. Guru diharapkan mampu
menerapkan model-model
pembelajaran inovatif
7. Guru harus pintar
memilah media yang
sesuai dengan materi dan
kondisi siswa.
sehari-hari. Matematika adalah ilmu
yang berperan penting dalam
pembentukan kemampuan
matematis siswa dalam penyelesaian
suatu permasalahan (Utami et al.,
2020). Sehingga mata pelajaran
matematika ini perlu diajarkan
kepada siswa sejak dini. Mata
pelajaran matematika yang lebih
memfokuskan kepada pemecahan
masalah menggunakan cara atau
rumus matematika, membuat
sebagian siswa tidak menyukai
pelajaran matematika. Diperlukan
media untuk mengkonkritkan
materi pelajaran, penggunaan media
pembelajaran dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa, dengan
penggunaan media pembelajaran
siswa mendapatkan pengalaman
belajar yang bermakna (Supriyono,
2018). Peningkatan efektivitas dan
efisiensi pembelajaran diperoleh
dengan adanya pengembangan
m
da
e
n
dia
kre
p
a
e
tm
if b(
e
A
la
u
jd
ar
ie
a
,n20
y1
an
9g
). H
in
a
o
lv
a
it
n
if
i dilakukan agar dalam
kegiatan pembelajaran siswa tidak
merasabosan dengan alur
pembelajaran
yang monoton. (Pinarti dan Wiarta,
2022)
4. Guru yang kreatif dapat
memanfaatkan segala yang ada agar
interaksi belajar mengajar dapat
berlangsung dengan menyenangkan
dan membuat peserta didik
termotivasi untuk mengikuti
pembelajaran. Guru dapat
mengoptimalkan kreativitasnya
memotivasi peserta didik baik dari
dalam maupun dari luar. Dari dalam
misalnya guru harus pandai
menjadi pribadi yang dekat dengan
peserta didik. Sedangkan dari luar
misalnya guru dapat memilih
metode yang tepat dan
menggunakan media yang sesuai
sehingga peserta didik termotivasi
untuk belajar (Oktiani, 2017)
5. Motivasi belajar peserta didik
berasal dari dalam (intrinsik) dan
dari luar (ekstrinsik). Agar motivasi
belajar dapat tumbuh dalam diri
siswa, maka diperlukan stimulan
salah satunya adalah guru yang
kreatif. Kreativitas guru dalam
pembelajaran dapat diterapkan
dalam dua hal yaitu dalam
m
da
a
n
naje
d
m
al
e
a
n
m pem
pe
b
n
eg
la
gj
u
a
n
ra
an
a ndi m
ked
la
ia
s
pembelajaran. Guru dapat
menggunakan potensi yang
dimilikinya untuk membuat siswa
termotivasi untuk belajar. Beberapa
cara yang dapat dilakukan oleh guru
untuk menumbuhkan motivasi
belajar peserta didik yaitu, memberi
angka/nilai, hadiah,
saingan/kompetisi, ego-involment,
memberi ulangan, mengetahui hasil,
pujian, hukuman, hasrat untuk
belajar, minat, dan memaparkan
tujuan yang hendak dicapai kepada
peserta didik. (Oktiani, 2017)
6. Upaya meningkatkan motivasi
belajar anak dalam kegiatan belajar
di sekolah, ada beberapa langkah
yang dapat dilakukan oleh guru
diungkapkan Sardiman (2005:92),
yaitu: a) Memberi angka. Angka
dalam hal ini sebagai simbol dari
nilai kegiatan belajarnya. Banyak
siswa yang justru untuk mencapai
angka/nilai yang baik. Sehingga
yang dikejar hanyalah nilai ulangan
atau nilai raport yang baik. Angka-
angka yang baik itu bagi para siswa
merupakan motivasi yang sangat
kuat. Yang perlu diingat oleh guru,
bahwa pencapaian angka-angka
tersebut belum merupakan hasil
belajar yang sejati dan bermakna.
d
Hia
k
r
a
a
ip
tk
aa
n
n
nya
dea
nn
ga
gn
ka-a
nn
ilg
ak
i a at
fek
rse
in
by
ua
t
bukan sekedar kognitifnya saja. b)
Hadiah dapat menjadi motivasi yang
kuat, dimana siswa tertarik pada
bidang tertentu yang akan diberikan
hadiah. Tidak demikian jika hadiah
diberikan untuk suatu pekerjaan
yang tidak menarik menurut siswa.
c) Kompetisi Persaingan, baik yang
individu atau kelompok, dapat
menjadi sarana untuk
meningkatkan motivasi belajar.
Karena terkadang jika ada saingan,
siswa akan menjadi lebih
bersemangat dalam mencapai hasil
yang terbaik. d) Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada
siswa agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai
tantangan sehingga bekerja keras
adalah sebagai salah satu bentuk
motivasi yang cukup penting.
Bentuk kerja keras siswa dapat
terlibat secara kognitif yaitu dengan
mencari cara untuk dapat
meningkatkan motivasi. e) Memberi
Ulangan Para siswa akan giat
belajar kalau mengetahui akan
diadakan ulangan. Tetapi ulangan
jangan terlalu sering dilakukan
karena akan membosankan dan
akan jadi rutinitas belaka. f)
Mengetahui Hasil Mengetahui hasil
b
m
e
o
la
ti
jv
a
a
rsib
. is
D
a
en
d
g
ij
a
a
n
dim
ka
e
n
ngs
ee
ta
bh
au
ga
i i ha
als
ait
l
belajarnya, siswa akan terdorong
untuk belajar lebih giat. Apalagi jika
hasil belajar itu mengalami
kemajuan, siswa pasti akan
berusaha mempertahankannya atau
bahkan termotivasi untuk dapat
meningkatkannya. g) Pujian Apabila
ada siswa yang berhasil
menyelesaikan tugasnya dengan
baik, maka perlu diberikan pujian.
Pujian adalah bentuk reinforcement
yang positif dan memberikan
motivasi yang baik bagi siswa.
Pemberiannya juga harus pada
waktu yang tepat, sehingga akan
memupuk suasana yang
menyenangkan dan mempertinggi
motivasi belajar serta sekaligus akan
membangkitkan harga diri. h)
Hukuman Hukuman adalah bentuk
reinforcement yang negatif, tetapi
jika diberikan secara tepat dan
bijaksana, bisa menjadi alat
motivasi. Oleh karena itu, guru
harus memahami prinsip prinsip
pemberian hukuman tersebut.
(Suprihatin, 2015)
Sumber Wawancara kepada
Pakar/Ahli:
1. Guru harus melakukan pendekatan
personal dengan siswa. Untuk
s
m
sis
ew
m
a
bua
ht
ar
su
is
swam
le
eb
niy
h
ub
ka
er
iseg
m
u
a
rn
ug
na
y
t
a
,
terlebih dahulu, setelah itu, mereka
akan menyenangi pelajaran yang
diberikan. Selain itu, gaya
mengajar guru dikelas harus lebih
inovatif (berubah-ubah), tidak
monoton sehingga siswa menjadi
penasaran dan menimbulkan minat
dan motivasi belajar siswa.
2. Guru sebaiknya merancang
pembelajaran yang
menarik/menyenangkan, sehingga
siswa tidak merasa bosan di kelas.
Guru bisa mempelajari berbagai
model pembelajaran inovatif di
internet dan disesuaikan dengan
kondisi kelas yang akan di ajar.
3. Guru diharapkan mampu
menerapkan model-model
pembelajaran inovatif. Model
pembelajaran yang dapat
meningkatkan motivasi belajar
siswa biasanya adalah yang
membuat siswa bekerja, berpikir,
dan bertanya. Model pembelajaran
yang dapat di coba adalah model
PBL (Problem Based Learning),
Discovery Inquiry, dan sebagainya.
4. Penggunaan media cukup
berpengaruh, akan tetapi tidak
terlalu signifikan. Apabila
memungkinkan, guru sebaiknya
tetap menggunakan media ajar dan
dapat memilah media ajar yang
cocok dengan materi ajar dan
karakteristik siswa.
2. ”Guru belum
mengoptimalkan
model
pembelajaran yang
inovatif”.
Guru kurang mempelajari
cara penerapan model
pembelajaran inovatif di
kelas dari berbagai
sumber.
Dari Kajian Literatur
1. Model pembelajaran blended
learning mengemas
pembelajarannya dengan sistem
tatap muka dan online (Banggur et
al., 2018). Driscoll dalam
Dari kajian literatur dan hasil
wawancara yang diperoleh,
Eksplorasi alternatif Solusi
yang dapat diterapkan adalah
1. Guru Harus mempelajari
tentang model
(Hendarrita et al., 2018) menyatakan
terdapat empat konsep dalam
pembelajaran Blended learning
yakni 1) blended learning
pembelajaran mengkombinasikan
berbagai teknologi untuk mencapai
tujuan Pendidikan, 2) blended
learning kombinasi pendekatan
pembelajaran behaviorisme,
konstruktivisme dan kognitivisme
kombinasi dari berbagai pendekatan
ini diharapkan dapat menghasilkan
suatu pencapaian pembelajaran
dengan teknologi atau tanpa
teknologi, 3) blended learning
mengkombinasikan berbagai
teknologi pembelajaran misalnya
web, video, film dan lain sebagainya,
4) blended learning menggabungkan
teknologi dan tugas untuk
menciptakan pengaruh baik dalam
pembelajaran. Berdasarkan
pemaparan diatas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran
blended learning dapat dilakukan
dengan tatap muka dan online. Pada
kegiatan pembelajaran
mengintegrasikan teknologi dan
tugas agar pembelajarannya
maksimal. Unsur- unsur
pembelajaran dengan blended
learning disebutkan oleh
(Suhartono, 2017) yaitu
pembelajaran tatap muka di kelas,
pembelajaran inovatif yang
dapat di terapkan pada
pembelajaran matematika.
2. Guru harus mempelajari
tentang model
pembelajaran inovatif dan
menyesuaikan dengan
karakteristik materi ajar.
3. Guru diharapkan mampu
menerapkan model
pembelajaran inovatif di
kelas.
4. Guru harus termotivasi /
memotivasi diri untuk
terus belajar tentang
model-model pembelajaran
inovatif
5. Guru harus meningkatkan
kompetensi untuk
memilah model
pembelajaran yang akan
diterapkan
6. Guru harus membiasakan
diri dalam menerapkan
model pembelajaran
inovatif
7. Guru diharapkan
menerapkan model
pembelajaran
inovatif secara kontinu
8. Guru diharapkan
bersinergi dengan rekan
sejawat dalam
merencanakan
pembelajaran secara mandiri di luar
kelas, memanfaatkan aplikasi atau
platform online, adanya tutorial,
Kerjasama dan evaluasi. Peran guru
hanya sebagai fasilitator dan
mediator dalam mengelola unsur
pembelajaran tersebut. Pada model
blended learning terdapat dua model
pembelajaran yaitu 1) model offline
dilaksanakan secara tatap muka
dengan penambahan media online
yang telah diunduh sebelumnya
seperti video atau gambar serta
informasi lain. 2) Hybrid learning
dilaksanakan langsung terhubung
dengan online namun dipadukan
dengan tatap muka. Pembelajaran
dengan online dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai
macam platform online seperti portal
rumah belajar
https://belajar.kemdikbud.go.id/,
google classroom, Edmodo, web,
kipin school dan sebagainya. (Sari,
2021)
2. Pembelajaran blended learning
dapat diterapkan di sekolah dengan
cara offline ataupun hybrid learning.
Pembelajaran dengan blended
learning dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai macam
platform online seperti portal rumah
belajar
https://belajar.kemdikbud.go.id/ ,
pelaksanaan pembelajaran
menggunakan model
pembelajaran inovatif.
google classroom, Edmodo, web,
kipin school dan sebagainya.
Pembelajaran dengan blended
learning memiliki kelebihan
diantaranya: siswa menjadi lebih
mandiri dalam belajar, memiliki
motivasi belajar, belajar menjadi
menyenangkan dan siswa tertarik,
dapat meningkatkan hasil belajar
dan keterampilan berpikir kritis.
Kelemahan pada pembelajaran
blended learning beberapa siswa
tidak aktif dalam pembelajaran
secara online karena kurang diawasi
secara langsung oleh guru, guru
harus berupaya melakukan segala
cara untuk dapat
mengimplementasikan pembelajaran
blended learning.
Namun hal itu tidak menjadi
masalah jika melihat tuntutan
pembelajaran era abad ke-21 bahwa
pembelajaran harus bisa
mengintegrasikan teknologi sesuai
perkembangan zaman. (Sari, 2021)
3. Model Problem Solving Menurut
Moffit (Ratnaningsih, 2007 : 3)
menyatakan bahwa model
pembelajaran Problem Solving
adalah suatu model yang
melibatkan siswa aktif secara
optimal, memungkinkan siswa
melakukan eksplorasi, observasi
eksperimen, investigasi, pemecahan
masalah yang mengintegrasikan
keterampilan dan konsep konsep
dasar dari berbagai konten area
Menurut Polya (Andri dan Sthepen,
2006) tentang langkah Problem
Solving, yaitu: a) Memahami
masalah ( understand) Siswa
membaca, memahami dan
kemudian menuliskan masalah
dengan kata-kata sendiri. Untuk
memudahkan siswa dalam
memahami masalah, siswa
diperbolehkan untuk membuat
tabel, diagram, gambar, atau
visualisasi lainnya. b) Membuat
rencana pemecahan masalah (plan).
Siswa menuliskan langkah yang
akan ditempuh dalam memecahkan
masalah/soal. Siswa juga
menuliskan rumus yang akan
digunakan saat memecahkan
masalah nantinya. c) Memecahkan
masalah sesuai rencana (solve)
Siswa memecahkan masalah/soal
dan melakukan perhitungan sesuai
rencana yang telah dibuat
sebelumnya. d) Memeriksa kembali
(look back) Siswa memeriksa
kembali langkah pemecahan
masalah yang telah dikerjakan
(tanpa menuliskannya di lembar
jawab), kemudian menuliskan
kesimpulan yang telah didapatkan
atau mengkomunikasikan jawaban
sesuai apa yang ditanyakan pada
soal/masalah. (Pinahayu, 2017)
4. Kelebihan dan kekurangan problem
solving a) Kelebihan model problem
solving 1) Pemecahan masalah
merupakan teknik yang cukup
bagus untuk lebih memahami isi
pelajaran; 2) Pemecahan masalah
dapat menantang kemampuan siswa
serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi
siswa; 3) Pemecahan masalah dapat
meningkatkan aktivitas siswa; 4)
Pemecahan masalah dapat
membantu siswa bagaimana
mentransfer pengetahuan mereka
untuk memahami masalah dalam
kehidupan nyata. Kelemahan model
problem solving 1) Manakala siswa
tidak memiliki minat atau tidak
mempunyai kepercayaan bahwa
masalah yang dipelajari sulit untuk
dipecahkan maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba; 2)
Keberhasilan strategi pembelajaran
melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan; 3) Tanpa pemahaman
mengapa mereka berusahaa untuk
memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan
belajar apa yang mereka ingin
pelajari. (Pinahayu, 2017)
5. Setiap model memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan model
PBL menurut Shoimin (2016) antara
lain: 1) peserta didik dilatih
untuk memiliki kemampuan
memecahkan masalah dalam keadaan
nyata, 2) mempunyai
kemampuan membangun
pengetahuannya sendiri
melalui aktivitas belajar, 3)
pembelajaran berfokus pada
masalah sehingga materi yang tidak
ada hubungannya tidak perlu
dipelajari oleh peserta didik. Hal ini
mengurangi beban peserta didik
dengan menghafal atau menyimpan
informasi, 4) terjadi aktivitas ilmiah
pada peserta didik melalui kerja
kelompok, 5) peserta didik terbiasa
menggunakan sumber-sumber
pengetahuan, baik dari
perpustakaan, internet, wawancara,
dan observasi, 6) peserta didik
memiliki kemampuan menilai
kemajuan belajarnya sendiri, 7)
peserta didik memiliki kemampuan
untuk melakukan komunikasi
ilmiah dalam kegiatan diskusi atau
presentasi hasil pekerjaan mereka,
dan 8) kesulitan belajar peserta
didik secara individual dapat diatasi
melalui kerja kelompok dalam
bentuk peer teaching. Sedangkan,
kekurangan model PBL (Shoimin,
2016) antara lain: 1) pembelajaran
berbasis masalah (PBM) tidak dapat
diterapkan untuk setiap materi
pelajaran, ada bagian guru berperan
aktif dalam menyajikan materi. PBM
lebih cocok untuk pembelajaran
yang menuntut kemampuan
tertentu yang kaitannya dengan
pemecahan masalah, dan 2) dalam
suatu kelas yang memiliki tingkat
keragaman peserta didik yang tinggi
akan terjadi kesulitan dalam
pembagian tugas. (Rerung, Sinon,
dan Widyaningsih, 2017)
6. Model pembelajaran inovatif lainnya
yang juga mulai banyak dipakai
para pendidik adalah model SOLE
(Self-Organised Learning
Environment). Model SOLE lahir dari
pemikiran bahwa setiap orang yang
lahir telah dibekali dengan rasa
ingin tahu. Kehadiran dan
perkembangan TIK memberikan
kemudahan dalam mengakses
informasi. Dua proses ini yang
dipertemukan dan dioptimalisasi
oleh model pembelajaran SOLE.
Model pembelajaran SOLE
menitikberatkan proses
pembelajaran mandiri yang
dilakukan oleh siapapun yang
berkeinginan untuk belajar dengan
memanfaatkan internet dan
perangkat pintar yang dimilikinya.
Dalam konteks pembelajaran yang
dilakukan di sekolah, model
pembelajaran SOLE digunakan guru
dalam mengeksplorasi kedalaman
pemahaman peserta didik tentang
materi pelajaran dengan
memanfaatkan rasa keingintahuan
peserta didik tersebut (Soleh, 2018).
Sintaks atau alur pembelajaran
pada model SOLE terdiri dari 3 (tiga)
langkah besar, yaitu: ( 1) big
question, pertanyaan dasar sebagai
tantangan bagi siswa untuk dapat
mencari jawaban atas pertanyaan
tersebut, (2) investigation, dalam
proses ini, siswa melakukan
pencarian jawaban atas pertanyaan
tersebut melalui berbagai upaya
eksplorasi, searching, browsing,
googling, dll. sampai dengan mereka
mendapat kesimpulan, (3) review,
pada tahap ini, siswa melihat ulang
(cross check) dan mengkonfirmasi
jawaban yang mereka hasilkan.
(Koesnandar, 2020)
7. SOLE (self organized learning
environments) merupakan model
pembelajaran yang awal mula
dikenalkan pada tahun 1999 oleh
seorang ilmuwan Pendidikan
bernama Sugata Mitra. Titik berat
dari penerapan model pembelajaran
SOLE adalah pembelajaran mandiri
yaitu siswa belajar sendiri dengan
menggunakan internet dan
perangkat pintar yang dimiliki.
Model pembelajaran SOLE
dirancang agar bisa membantu guru
mendorong siswa pada rasa ingin
tahu yang ada dalam dirinya dengan
melaksanakan kegiatan
pembelajaran berbasis siswa.
Pembelajaran berbasis siswa
komponennya meliputi rasa ingin
tahu, kerjasama, terorganisir
sendiri, diikutsertakan, sosial, dan
adanya fasilitas berupa motivasi dari
orang dewasa (Mitra, 2015).
Langkah-langkah penerapan model
pembelajaran SOLE: 1) Question
atau Pertanyaan. Guru memberikan
pertanyaan, 2) Investigate atau
Investigasi. Siswa menginvestigasi
pertanyaan dari guru yaitu dengan
cara mencari lewat internet atau e-
book atau rumah belajar, dan 3)
Review atau Pencermatan. Guru
mereview hasil investigasi siswa
(Sidik, 2020). (Suciati, 2021)
8. Bertolak dari kesimpulan dan
pembahasan pada penelitian ini,
maka disarankan pada guru untuk
menerapkan model pembelajaran
self organized learning environment
(SOLE) pada pembelajaran jarak
jauh diera pandemi Covid-19. Pada
saat menerapkan model
pembelajaran SOLE pada siklus I,
dijumpai kendala ketidakseragaman
sumber belajar dan tidak ada
kerjasama antar siswa. Oleh karena
itu, peneliti berikutnya disarankan
untuk mengantsipasi kendala
tersebut. (Suciati, 2021)
Sumber Wawancara kepada
Pakar/Ahli:
1. Selain dari motivasi diri dari guru
itu sendiri, kepala sekolah sebagai
atasan, dan kami sebagai pengawas
harus aktif mendukung guru
tersebut dengan memberi masukkan
dan motivasi dan dengan
mengadakan pelatihan-pelatihan
tentang model pembelajaran
inovatif. Kepala sekolah khususnya
bisa memaksa guru tersebut
menggunakan model pembelajaran
inovatif pada saat supervisi
mengajar.
2. Diperlukan kompetensi guru dalam
memilah model pembelajaran yang
cocok diterapkan di kelas,
d
ka
is
r
e
a
s
k
u
t
a
e
i
r
k
is
a
t
n
ik s
d
is
e
w
ng
a
a
.
n
Jad
m
i,
a
g
te
u
r
r
i
u t
s
i
e
d
r
a
t
k
a
harus selalu menggunakan model
pembelajaran inovatif, tetapi
diharapkan mampu menerapkan
dalam satu dua materi mengajar
dengan model pembelajaran inovatif.
3. Tujuan mempelajari model
pembelajaran inovatif adalah untuk
membiasakan guru mengajar
dengan model pembelajaran inovatif.
Meningkatkan kompetensi guru,
meningkatkan mutu pembelajaran,
dan yang paling utama adalah
ketika guru sudah terbiasa
menggunakan pembelajaran
inovatif, guru bisa memilah secara
mandiri model yang akan
digunakan, mengkondisikan siswa,
sehingga penerapan pembelajaran
inovatif ini efektif dan tepat sasaran
serta memiliki dampak pada siswa
dan proses pembelajaran.
4. Kendala utama dalam penerapan
pembelajaran inovatif ada di guru.
Guru harus mau/percaya diri dalam
menerapkan model pembelajaran
inovatif. Terkadang guru merasa
malas karena tidak memiliki waktu
yang cukup untuk merancang
pembelajaran yang inovatif. Cara
mengoptimalkan nya adalah dengan
bersinergi dengan guru sejawat
(Team Teaching) dalam merancang
dan mengembangkan perangkat
rencana pembelajaran, sehingga ada
take and give antar guru serumpun.
Narasumber Dra. Masuji Mando
Pengawas Matematika SMA Wilayah
Sumbawa.

kupdf.net_lk-21-eksplorasi-alternatif-solusi.docx

  • 1.
    Nama : SufiAkhmad No.UKG : 201698316068 Tugas : LK. 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi Masalah terpilih No yang akan . diselesaikan Akar Penyebab masalah Eksplorasi alternatif solusi Analisis alternatif solusi 1 semangat (motivasi) belajar siswa tergolong rendah” Pembelajaran yang dilakukan dikelas cenderung monoton dan kurang variatif Dari Kajian Literatur 1. Strategi dalam pembelajaran sangat dibutuhkan oleh guru pengajar dalam pemecahan berbagai masalah pembelajaran pada mata pelajaran matematika. Agar anak didik merasa senang, aktif dan tidak merasa tertekan dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika di kelas. Sehingga dengan sikap yang demikian guru dan anak didik dapat mencapai tujuan yang di inginkan dalam belajar. (Maswar, 2019) 2. Menurut Learning Teoris and Educational Perspective (Schunk, 2012) menyatakan bahwa “permainan juga mempengaruhi pembelajaran dengan meningkatkan motivasi. Motivasi semakin besar ketika hubungan endogenous (alamiah) muncul diantara konten dan makna (pengaruh khusus), dimana permainan atau simulasi menampilkan konten.”. Dalam proses pembelajarannya, metode mathemagic akan meningkatkan rasa percaya diri anak sehingga Dari kajian literatur dan hasil wawancara yang diperoleh, Eksplorasi alternatif Solusi yang dapat diterapkan adalah 1. Guru harus menggunakan Strategi Pembelajaran yang tepat agar anak didik merasa senang dan tidak tertekan dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika di kelas. 2. Guru diharapkan menggunakan metode yang dapat menumbuhkan daya minat atau antusias siswa dalam pembelajaran matematika. 3. Guru harus memaksimalkan penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi Siswa 4. Guru harus melakukan pendekatan personal
  • 2.
    mereka akan mampudan berani untuk mengerjakan soal dan mencoba untuk menyelesaikannya. Selain itu, metode mathemagic dapat menumbuhkan daya minat atau antusias siswa dalam mempelajari matematika. 3. Pelaksanaan pendidikan erat kaitannya dengan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu proses untuk mengatur dan mengorganisasi lingkungan sekitar siswa, sehingga siswa dapat memotivasi siswa melaksanakan proses belajar (Pane & Darwis Dasopang, 2017). Dalam kegiatan pembelajaran, mengandung konsep interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, serta siswa dengan lingkungan sekitar (Faizah, 2017). Oleh karena itu, diperlukan adanya minat dan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, serta si u sm wa be d ripa b se tl ik aj a a n r tid ya ak ng terb d a ig ta u s n ,a b k a a in k dengan lingkungan sekitar maupun media pembelajaran pendukung lainnya agar pembelajaran yang dialami siswa dapat berjalan efektif dan bermakna. Matematikamerupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan yang penting dalam kehidupan terhadap siswa 5. Guru diharapkan mampu merancang pembelajaran yang menyenangkan dan tidak monoton 6. Guru diharapkan mampu menerapkan model-model pembelajaran inovatif 7. Guru harus pintar memilah media yang sesuai dengan materi dan kondisi siswa.
  • 3.
    sehari-hari. Matematika adalahilmu yang berperan penting dalam pembentukan kemampuan matematis siswa dalam penyelesaian suatu permasalahan (Utami et al., 2020). Sehingga mata pelajaran matematika ini perlu diajarkan kepada siswa sejak dini. Mata pelajaran matematika yang lebih memfokuskan kepada pemecahan masalah menggunakan cara atau rumus matematika, membuat sebagian siswa tidak menyukai pelajaran matematika. Diperlukan media untuk mengkonkritkan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dengan penggunaan media pembelajaran siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna (Supriyono, 2018). Peningkatan efektivitas dan efisiensi pembelajaran diperoleh dengan adanya pengembangan m da e n dia kre p a e tm if b( e A la u jd ar ie a ,n20 y1 an 9g ). H in a o lv a it n if i dilakukan agar dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak merasabosan dengan alur pembelajaran yang monoton. (Pinarti dan Wiarta, 2022) 4. Guru yang kreatif dapat memanfaatkan segala yang ada agar interaksi belajar mengajar dapat
  • 4.
    berlangsung dengan menyenangkan danmembuat peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Guru dapat mengoptimalkan kreativitasnya memotivasi peserta didik baik dari dalam maupun dari luar. Dari dalam misalnya guru harus pandai menjadi pribadi yang dekat dengan peserta didik. Sedangkan dari luar misalnya guru dapat memilih metode yang tepat dan menggunakan media yang sesuai sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar (Oktiani, 2017) 5. Motivasi belajar peserta didik berasal dari dalam (intrinsik) dan dari luar (ekstrinsik). Agar motivasi belajar dapat tumbuh dalam diri siswa, maka diperlukan stimulan salah satunya adalah guru yang kreatif. Kreativitas guru dalam pembelajaran dapat diterapkan dalam dua hal yaitu dalam m da a n naje d m al e a n m pem pe b n eg la gj u a n ra an a ndi m ked la ia s pembelajaran. Guru dapat menggunakan potensi yang dimilikinya untuk membuat siswa termotivasi untuk belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik yaitu, memberi angka/nilai, hadiah,
  • 5.
    saingan/kompetisi, ego-involment, memberi ulangan,mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat, dan memaparkan tujuan yang hendak dicapai kepada peserta didik. (Oktiani, 2017) 6. Upaya meningkatkan motivasi belajar anak dalam kegiatan belajar di sekolah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh guru diungkapkan Sardiman (2005:92), yaitu: a) Memberi angka. Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka- angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. d Hia k r a a ip tk aa n n nya dea nn ga gn ka-a nn ilg ak i a at fek rse in by ua t bukan sekedar kognitifnya saja. b) Hadiah dapat menjadi motivasi yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa. c) Kompetisi Persaingan, baik yang
  • 6.
    individu atau kelompok,dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik. d) Ego-involvement Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi. e) Memberi Ulangan Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka. f) Mengetahui Hasil Mengetahui hasil b m e o la ti jv a a rsib . is D a en d g ij a a n dim ka e n ngs ee ta bh au ga i i ha als ait l belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya. g) Pujian Apabila ada siswa yang berhasil
  • 7.
    menyelesaikan tugasnya dengan baik,maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri. h) Hukuman Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip prinsip pemberian hukuman tersebut. (Suprihatin, 2015) Sumber Wawancara kepada Pakar/Ahli: 1. Guru harus melakukan pendekatan personal dengan siswa. Untuk s m sis ew m a bua ht ar su is swam le eb niy h ub ka er iseg m u a rn ug na y t a , terlebih dahulu, setelah itu, mereka akan menyenangi pelajaran yang diberikan. Selain itu, gaya mengajar guru dikelas harus lebih inovatif (berubah-ubah), tidak monoton sehingga siswa menjadi penasaran dan menimbulkan minat dan motivasi belajar siswa.
  • 8.
    2. Guru sebaiknyamerancang pembelajaran yang menarik/menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa bosan di kelas. Guru bisa mempelajari berbagai model pembelajaran inovatif di internet dan disesuaikan dengan kondisi kelas yang akan di ajar. 3. Guru diharapkan mampu menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa biasanya adalah yang membuat siswa bekerja, berpikir, dan bertanya. Model pembelajaran yang dapat di coba adalah model PBL (Problem Based Learning), Discovery Inquiry, dan sebagainya. 4. Penggunaan media cukup berpengaruh, akan tetapi tidak terlalu signifikan. Apabila memungkinkan, guru sebaiknya tetap menggunakan media ajar dan dapat memilah media ajar yang cocok dengan materi ajar dan karakteristik siswa. 2. ”Guru belum mengoptimalkan model pembelajaran yang inovatif”. Guru kurang mempelajari cara penerapan model pembelajaran inovatif di kelas dari berbagai sumber. Dari Kajian Literatur 1. Model pembelajaran blended learning mengemas pembelajarannya dengan sistem tatap muka dan online (Banggur et al., 2018). Driscoll dalam Dari kajian literatur dan hasil wawancara yang diperoleh, Eksplorasi alternatif Solusi yang dapat diterapkan adalah 1. Guru Harus mempelajari tentang model
  • 9.
    (Hendarrita et al.,2018) menyatakan terdapat empat konsep dalam pembelajaran Blended learning yakni 1) blended learning pembelajaran mengkombinasikan berbagai teknologi untuk mencapai tujuan Pendidikan, 2) blended learning kombinasi pendekatan pembelajaran behaviorisme, konstruktivisme dan kognitivisme kombinasi dari berbagai pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu pencapaian pembelajaran dengan teknologi atau tanpa teknologi, 3) blended learning mengkombinasikan berbagai teknologi pembelajaran misalnya web, video, film dan lain sebagainya, 4) blended learning menggabungkan teknologi dan tugas untuk menciptakan pengaruh baik dalam pembelajaran. Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran blended learning dapat dilakukan dengan tatap muka dan online. Pada kegiatan pembelajaran mengintegrasikan teknologi dan tugas agar pembelajarannya maksimal. Unsur- unsur pembelajaran dengan blended learning disebutkan oleh (Suhartono, 2017) yaitu pembelajaran tatap muka di kelas, pembelajaran inovatif yang dapat di terapkan pada pembelajaran matematika. 2. Guru harus mempelajari tentang model pembelajaran inovatif dan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. 3. Guru diharapkan mampu menerapkan model pembelajaran inovatif di kelas. 4. Guru harus termotivasi / memotivasi diri untuk terus belajar tentang model-model pembelajaran inovatif 5. Guru harus meningkatkan kompetensi untuk memilah model pembelajaran yang akan diterapkan 6. Guru harus membiasakan diri dalam menerapkan model pembelajaran inovatif 7. Guru diharapkan menerapkan model pembelajaran inovatif secara kontinu 8. Guru diharapkan bersinergi dengan rekan sejawat dalam merencanakan
  • 10.
    pembelajaran secara mandiridi luar kelas, memanfaatkan aplikasi atau platform online, adanya tutorial, Kerjasama dan evaluasi. Peran guru hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam mengelola unsur pembelajaran tersebut. Pada model blended learning terdapat dua model pembelajaran yaitu 1) model offline dilaksanakan secara tatap muka dengan penambahan media online yang telah diunduh sebelumnya seperti video atau gambar serta informasi lain. 2) Hybrid learning dilaksanakan langsung terhubung dengan online namun dipadukan dengan tatap muka. Pembelajaran dengan online dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam platform online seperti portal rumah belajar https://belajar.kemdikbud.go.id/, google classroom, Edmodo, web, kipin school dan sebagainya. (Sari, 2021) 2. Pembelajaran blended learning dapat diterapkan di sekolah dengan cara offline ataupun hybrid learning. Pembelajaran dengan blended learning dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam platform online seperti portal rumah belajar https://belajar.kemdikbud.go.id/ , pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inovatif.
  • 11.
    google classroom, Edmodo,web, kipin school dan sebagainya. Pembelajaran dengan blended learning memiliki kelebihan diantaranya: siswa menjadi lebih mandiri dalam belajar, memiliki motivasi belajar, belajar menjadi menyenangkan dan siswa tertarik, dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan berpikir kritis. Kelemahan pada pembelajaran blended learning beberapa siswa tidak aktif dalam pembelajaran secara online karena kurang diawasi secara langsung oleh guru, guru harus berupaya melakukan segala cara untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran blended learning. Namun hal itu tidak menjadi masalah jika melihat tuntutan pembelajaran era abad ke-21 bahwa pembelajaran harus bisa mengintegrasikan teknologi sesuai perkembangan zaman. (Sari, 2021) 3. Model Problem Solving Menurut Moffit (Ratnaningsih, 2007 : 3) menyatakan bahwa model pembelajaran Problem Solving adalah suatu model yang melibatkan siswa aktif secara optimal, memungkinkan siswa melakukan eksplorasi, observasi eksperimen, investigasi, pemecahan
  • 12.
    masalah yang mengintegrasikan keterampilandan konsep konsep dasar dari berbagai konten area Menurut Polya (Andri dan Sthepen, 2006) tentang langkah Problem Solving, yaitu: a) Memahami masalah ( understand) Siswa membaca, memahami dan kemudian menuliskan masalah dengan kata-kata sendiri. Untuk memudahkan siswa dalam memahami masalah, siswa diperbolehkan untuk membuat tabel, diagram, gambar, atau visualisasi lainnya. b) Membuat rencana pemecahan masalah (plan). Siswa menuliskan langkah yang akan ditempuh dalam memecahkan masalah/soal. Siswa juga menuliskan rumus yang akan digunakan saat memecahkan masalah nantinya. c) Memecahkan masalah sesuai rencana (solve) Siswa memecahkan masalah/soal dan melakukan perhitungan sesuai rencana yang telah dibuat sebelumnya. d) Memeriksa kembali (look back) Siswa memeriksa kembali langkah pemecahan masalah yang telah dikerjakan (tanpa menuliskannya di lembar jawab), kemudian menuliskan kesimpulan yang telah didapatkan atau mengkomunikasikan jawaban
  • 13.
    sesuai apa yangditanyakan pada soal/masalah. (Pinahayu, 2017) 4. Kelebihan dan kekurangan problem solving a) Kelebihan model problem solving 1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran; 2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa; 3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa; 4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. Kelemahan model problem solving 1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba; 2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan; 3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusahaa untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. (Pinahayu, 2017) 5. Setiap model memiliki kelebihan dan
  • 14.
    kekurangan. Kelebihan model PBLmenurut Shoimin (2016) antara lain: 1) peserta didik dilatih untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam keadaan nyata, 2) mempunyai kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar, 3) pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh peserta didik. Hal ini mengurangi beban peserta didik dengan menghafal atau menyimpan informasi, 4) terjadi aktivitas ilmiah pada peserta didik melalui kerja kelompok, 5) peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi, 6) peserta didik memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri, 7) peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka, dan 8) kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching. Sedangkan, kekurangan model PBL (Shoimin, 2016) antara lain: 1) pembelajaran berbasis masalah (PBM) tidak dapat
  • 15.
    diterapkan untuk setiapmateri pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi. PBM lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah, dan 2) dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman peserta didik yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas. (Rerung, Sinon, dan Widyaningsih, 2017) 6. Model pembelajaran inovatif lainnya yang juga mulai banyak dipakai para pendidik adalah model SOLE (Self-Organised Learning Environment). Model SOLE lahir dari pemikiran bahwa setiap orang yang lahir telah dibekali dengan rasa ingin tahu. Kehadiran dan perkembangan TIK memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Dua proses ini yang dipertemukan dan dioptimalisasi oleh model pembelajaran SOLE. Model pembelajaran SOLE menitikberatkan proses pembelajaran mandiri yang dilakukan oleh siapapun yang berkeinginan untuk belajar dengan memanfaatkan internet dan perangkat pintar yang dimilikinya. Dalam konteks pembelajaran yang dilakukan di sekolah, model
  • 16.
    pembelajaran SOLE digunakanguru dalam mengeksplorasi kedalaman pemahaman peserta didik tentang materi pelajaran dengan memanfaatkan rasa keingintahuan peserta didik tersebut (Soleh, 2018). Sintaks atau alur pembelajaran pada model SOLE terdiri dari 3 (tiga) langkah besar, yaitu: ( 1) big question, pertanyaan dasar sebagai tantangan bagi siswa untuk dapat mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, (2) investigation, dalam proses ini, siswa melakukan pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut melalui berbagai upaya eksplorasi, searching, browsing, googling, dll. sampai dengan mereka mendapat kesimpulan, (3) review, pada tahap ini, siswa melihat ulang (cross check) dan mengkonfirmasi jawaban yang mereka hasilkan. (Koesnandar, 2020) 7. SOLE (self organized learning environments) merupakan model pembelajaran yang awal mula dikenalkan pada tahun 1999 oleh seorang ilmuwan Pendidikan bernama Sugata Mitra. Titik berat dari penerapan model pembelajaran SOLE adalah pembelajaran mandiri yaitu siswa belajar sendiri dengan menggunakan internet dan perangkat pintar yang dimiliki.
  • 17.
    Model pembelajaran SOLE dirancangagar bisa membantu guru mendorong siswa pada rasa ingin tahu yang ada dalam dirinya dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis siswa. Pembelajaran berbasis siswa komponennya meliputi rasa ingin tahu, kerjasama, terorganisir sendiri, diikutsertakan, sosial, dan adanya fasilitas berupa motivasi dari orang dewasa (Mitra, 2015). Langkah-langkah penerapan model pembelajaran SOLE: 1) Question atau Pertanyaan. Guru memberikan pertanyaan, 2) Investigate atau Investigasi. Siswa menginvestigasi pertanyaan dari guru yaitu dengan cara mencari lewat internet atau e- book atau rumah belajar, dan 3) Review atau Pencermatan. Guru mereview hasil investigasi siswa (Sidik, 2020). (Suciati, 2021) 8. Bertolak dari kesimpulan dan pembahasan pada penelitian ini, maka disarankan pada guru untuk menerapkan model pembelajaran self organized learning environment (SOLE) pada pembelajaran jarak jauh diera pandemi Covid-19. Pada saat menerapkan model pembelajaran SOLE pada siklus I, dijumpai kendala ketidakseragaman sumber belajar dan tidak ada
  • 18.
    kerjasama antar siswa.Oleh karena itu, peneliti berikutnya disarankan untuk mengantsipasi kendala tersebut. (Suciati, 2021) Sumber Wawancara kepada Pakar/Ahli: 1. Selain dari motivasi diri dari guru itu sendiri, kepala sekolah sebagai atasan, dan kami sebagai pengawas harus aktif mendukung guru tersebut dengan memberi masukkan dan motivasi dan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan tentang model pembelajaran inovatif. Kepala sekolah khususnya bisa memaksa guru tersebut menggunakan model pembelajaran inovatif pada saat supervisi mengajar. 2. Diperlukan kompetensi guru dalam memilah model pembelajaran yang cocok diterapkan di kelas, d ka is r e a s k u t a e i r k is a t n ik s d is e w ng a a . n Jad m i, a g te u r r i u t s i e d r a t k a harus selalu menggunakan model pembelajaran inovatif, tetapi diharapkan mampu menerapkan dalam satu dua materi mengajar dengan model pembelajaran inovatif. 3. Tujuan mempelajari model pembelajaran inovatif adalah untuk membiasakan guru mengajar dengan model pembelajaran inovatif.
  • 19.
    Meningkatkan kompetensi guru, meningkatkanmutu pembelajaran, dan yang paling utama adalah ketika guru sudah terbiasa menggunakan pembelajaran inovatif, guru bisa memilah secara mandiri model yang akan digunakan, mengkondisikan siswa, sehingga penerapan pembelajaran inovatif ini efektif dan tepat sasaran serta memiliki dampak pada siswa dan proses pembelajaran. 4. Kendala utama dalam penerapan pembelajaran inovatif ada di guru. Guru harus mau/percaya diri dalam menerapkan model pembelajaran inovatif. Terkadang guru merasa malas karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk merancang pembelajaran yang inovatif. Cara mengoptimalkan nya adalah dengan bersinergi dengan guru sejawat (Team Teaching) dalam merancang dan mengembangkan perangkat rencana pembelajaran, sehingga ada take and give antar guru serumpun. Narasumber Dra. Masuji Mando Pengawas Matematika SMA Wilayah Sumbawa.