TEMPLATE ANALISA MATERI TUGAS PROJECT BASED LEARNING (PJBL)
MODUL MODERASI BERAGAMA DAN KURIKULUM MERDEKA LPTK UIN SALATIGA TAHUN 2024
Nama : Joni Setiawan
Kelas : K2 PAI D
Modul : Langkah -2
Tema/Pokok Masalah : Kurangnya Motivasi Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Penguatan Kurikulum Merdeka Belajar Karena Kurangnya
Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Visual
Dosen Pengampu : Agung Guritno, S.S., M.Pd.
NO MODUL KEGIATAN DESKRIPSI
1 Modul
Moderasi
Beragama
Langkah -
1
IDENTIFIKASI MASALAH
DAN EKSPLORASI
PENYEBAB MASALAH
(Review Literatur).
• Menemukan beberapa
masalah pembelajaran
dan melakukan
perincian masalah
tersebut yang berkaitan
dengan tugas guru
dalam pembelajaran
yang berkaitan dengan
moderasi beragama
atau kurikulum
merdeka
• Menggali penyebab
masalah pembelajaran
dengan cara
melakukan kajian
literatur (literature
review) melalui
1. Kurangnya Motivasi Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Penguatan Kurikulum
Merdeka Belajar
Pendidik yang “berhasil” adalah mereka yang peka bahwa peserta didiknya mengalami
hambatan dan segera memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan. Terkait
dengan itu, pendidik harus mampu mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik
(Husamah et al., 2016). Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
kesulitan belajar peserta didik (Jamaris, 2014). Adapun tingkat kesulitan belajar yang dapat
dialami oleh peserta didik, antara lain ringan (peserta didik kurang memperhatikan saat
pembelajaran berlangsung), sedang (peserta didik mengalami gangguan dari luar diri), dan
berat (peserta didik yang mengalami ketunaan). Guru bisa memilih berbagai perangkat ajar
sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik
.Peran orang tua dalam pendidikan merupakan hal yang penting dan menjadi salah satu faktor
yang mempengaruhi ketercapaian belajar anak. Peran orang tua juga merupakan salah satu
faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi belajar anak. Dimana anak mampu memiliki
motivasi belajar yang maksimal atau kurang maksimal dipengaruhi oleh peran orang tua.
Motivasi belajar juga ditemukan memiliki hubungan positif dengan manajemen kelas.
Manajemen kelas yang baik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yang pada gilirannya
dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka.
Hasil dari penelitian sebelumnya oleh Mansoor Fahim dan Arezoo Hajmaghsoodi (2014),
menyatakan bahwa motivasi adalah faktor penting yang mempengaruhi peningkatan
kemampuan berpikir kritis. Motivasi memberikan dorongan bagi siswa untuk menggunakan
keterampilan kognitif dalam berpikir kritis secara terarah, beralasan, dan bertujuan. Motivasi
pencarian konsep dari
artikel jurnal, buku dan
dokumen yang relevan
belajar yang tinggi membuat siswa lebih terfokus dan aktif dalam proses pembelajaran, yang
memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik.
Ada beberapa fungsi motivasi sebagai berikut: mendorong manusia untuk berbuat, yaitu
sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, menentukan arah perbuatan, yaitu ke
arah tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi perbuatan, yaitu mengarahkan perbuatanperbuatan
yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan dan menyisihkan perbuatan yang tidak
bermanfaat untuk tujuan tersebut. Indikator motivasi belajar adalah sebagai berikut: (1) tekun
menghadapi tugas, (2) tidak pernah putus asa, tidak cepat puas dengan prestasi yang telah
dicapai, (3) menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa, (4) lebih
senang bekerja mandiri, (5) cepat bosan pada tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan
pendapatnya kalua sudah yakin tentang sesuatu, (6) tidak mudah melepaskan hal yang sudah
diyakini, dan (7) senang mencari dan menyelesaikan masalah soal-soal.
Guru memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses
pembelajaran merupakan inti dari kegiatan mengajar dan mencakup semua keterampilan yang
harus dimiliki seorang guru. Ketika suasana kelas kondusif dan menyenangkan, siswa lebih
termotivasi untuk belajar dan mereka merasa nyaman dan senang ketika berada di dalam
kelas. Manajemen kelas adalah kemampuan guru untuk menjaga, memelihara dan memajukan
suasana di dalam kelas. Namun, peran guru sebagai fasilitator dan motivator harus mampu
memotivasi dan memotivasi siswa untuk belajar. Kemampuan guru dalam melaksanakan
proses pembelarajan sangat memperngaruhi motivasi belajar siswa.
Keberhasilan dalam manajemen kelas tentunya adalah harapan setiap guru. Guru yang berhasil
dalam manajemen kelas akan berpengaruh positif kepada semangat belajar dan hasil belajar
para siswanya. Terdapat enam indikator keberhasilan manajemen kelas yaitu sebagai berikut:
1. Guru mengerti perbedaan mengelola dan mendisiplinkan kelas
Guru dapat memberikan perlakuan yang berbeda antara mengelola kelas dan mendisiplinkan
kelas. Mengelola kelas meliputi manajemen peserta didik, desain ruang kelas, penataan
tempat duduk, serta pengelolaan pembelajaran.
2. Guru tidak akan pulang dalam keadaan Lelah
Keberhasilan pengelolaan kelas berarti semua aktivitas yang ada di kelas berjalan sesuai
harapan sehingga guru tidak perlu banyak mengatur, membimbing, atau memperhatikan
secara penuh setiap keadaan di dalam kelas. Semua kegiatan di kelas berjalan sesuai dengan
aturan.
3. Guru dapat mengerti perbedaan antara prosedur dan rutinitas kelas
Rutinitas kelas yaitu apa yang peserta didik lakukan secara otomatis, contohnya tata cara
masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain. Sedangkan prosedur kelas yaitu lebih berhubungan
dengan suatu cara yang sering dilakukan sehingga menjadi kebiasaan.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan cara mengorganisir prosedur-prosedur
Prosedur mengajarkan kepada peserta didik tentang pentingnya tanggung jawab.
Keberhasilan manajemen kelas dapat dilihat dari karakter peserta didik, salah satunya yaitu
tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan peserta didik dengan ancaman atau konsekuensi
Membrikan ancaman atau konsekuensi kepada peserta didik yang melanggar aturan tidak
menjamin peserta didik akan dapat berubah. Hal yang dilakukan seorang guru sebaiknya
memberikan tauladan.
6. Guru mengerti bawa perilaku peserta didik bukanlah tanpa alas an
Guru harus sangat memahami bahwa perliaku tidak menaati aturan yang dilakukan peserta
didik bukanlah tanpa alasan. Oleh karena itu, guru harus bisa melakukan pendekatan secara
persuasive kepada peserta didik yang sedang menghadapi masalah. Sehingga guru dapat
memahami permasalahan yang dihadapi peserta didik dan mencari solusinya.
Referensi:
https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1869/pdf
https://drive.google.com/file/d/1zEG_GpsmxDbpbqftxqoc4JtzRnLCG7jL/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1cOkvF-7j3s1mFzEbJVry3ooXX_O0f4xq/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1FUmWTvVPk5H5sTBXCRRqC5aS-
mEf3WwK/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1iEGhAfexesySNJ3k-IbgDFEWSerpCt1u/view?usp=drive_link
2. Kurangnya penggunaan media pembelajaran berbasis visual
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mana telah menghasilkan
upaya-upaya pembaharuan yang semakin mendorong dalam pemanfaatan hasil teknologi di
dalam proses belajar, maka dengan begitu pendidikan akan mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Semua itu juga perlu adanya penyesuaian-penyesuaian terlebih
yang berkaitan dan bersangkutan dengan faktor-faktor pengajaran yang dilakukan di sekolah.
Dari beberapa faktor pengajaran tersebut yakni media pembelajaran yang wajib dipelajari
dan dikuasai oleh guru, sehingga mereka mampu menyampaikan mata pelajaran kepada
peserta didik dengan berhasil guna. Media memiliki kelebihan dan kekuatan yang positif dan
sinergi yang mampu mengubah sikap dan tingkah laku siswa kearah yang kreatif dan
dinamis. Dengan begitu peranan media sangatlah penting dalam pembelajaran dimana
dalam perkembangannya media bukan lagi sekedar alat bantu akan tetapi merupakan bagian
yang integral dalam system pendidikan dan pembelajaran. (M. Basyirudin, 1998).
Sarana pembelajaran memegang peran penting dalam tahap pembelajaran, mampu
membangun motivasi, ketertarikan, dan pengaruh psikologis kepada siswa (Sapriyah, 2019).
Penerapan sarana pembelajaran bertujuan membantu peserta didik memahami konsep yang
abstrak, memberikan pengalaman praktis, dan mendukung guru dalam proses pengajaran.
Fungsi-fungsi penggunaan media pembelajaran termasuk fungsi personal, motivasi,
komunikasi, kognitif, dan makna (Zahwa & Syafi’i, 2022). Pemanfaatan media pembelajaran,
terutama audio visual, memberikan keuntungan dalam standarisasi penyampaian materi,
meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan memberikan fleksibilitas waktu dan tempat
dalam proses pembelajaran (Wafi et al., 2020).
Media dalam sebuah kegiatan pembelajaran mempunyai fungsi yang sangat besar,
diantaranya adalah sebagai perantara penyampai atau untuk menyebarkan ide, gagasan
maupun pendapat dalam belajar sehingga apa yang disampaikan oleh guru atau pengajar
dapat sampai kepada penerima yang dituju. Dalam pembelajaran kooperatif, salah satu
media yang di gunakan adalah media visual. Media visual menampilkan gambar yamg
semenarik mungkin sehingga bisa membuat siswa lebih aktif dalam mengikuti proses
pembelajaran di kelas.
Menurut Vandayo dan Hilmi (2020) media pembelajaran yang berbasis visual berkaitan erat
dengan pengembangan keterampilan berbicara. secara tidak langsung media visual akan
memberikan pengaruh terhadap peserta didik agar mau dan terbiasa berbicara
menggunakan teks (kata dan kalimat). Menurut Khoryyanti dan Suhendra (2022) menyatakan
bahwa media pembelajaran dapat membantu siswa memahami materi dengan memberikan
gambaran nyata dari objek – objek yang di maksud. Media visual adalah media yang hanya
mengandalkan indera penglihatan. Selain itu, menurut Sulastri (2022) manfaat media visual
dalam pembelajaran yaitu membangkitkan keinginan dan minat baru serta meningkatkan
daya tarik dan perhatian siswa.
Gaya belajar ada beberapa terkait belajar dengan: Visual (melihat) untuk mempertajam
pemahaman terhadap siatu objek belajar, Audio yang mengandalkan kemampuan
mendengar untuk memperdalam pemahaman suatu objek Kinestik dengan mengekspresikan
dirinnya melalui gerakan sisa dengan kecenderungan belajar secara Kinestik senang
melalukan aktivitas di luar ruangan. Pembelajaran diferensiasi menggunakan beberapa
pendekatan yaitu konten,proses,dan produk, Konten berkaitan juga dengan konsep/
keterampilan yang akan mereka pelajari. Proses merupakan bagaimana cara/ metode siswa
mendapatkan informasi atau pengetahuan produk merupakan bukti, karya, atau hasil secara
konkrit. (3) Minat adalah motivator terpenting dalam mencapai sebuah tujuan.Dalam
pembelajaran, ditemukan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar kurikulum
merdeka masih rendah. Motivasi belajar sendiri adalah salah satu faktor yang sangat
berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Motivasi belajar mengacu pada
dorongan internal atau eksternal yang mendorong siswa untuk terlibat dan berpartisipasi aktif
dalam proses pembelajaran. Motivasi belajar yang tinggi dapat meningkatkan keterlibatan
siswa dalam kegiatan pembelajaran, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis mereka.
Media pembelajaran memiliki beberapa jenis, salah satunya media visual. Media visual
dibagi menjadi beberapa kelompok, menurut Seels dan Glasgow (Cahyo, 2017), media visual
dikelompokkan menjadi:
1. Media yang tidak diproyeksikan
Media yang tidak diproyeksikan merupakan media yang sering digunakan dalam proses
mengajar, baik yang berkarakter dua dimensi maupun tiga dimensi. Media visual yang tidak
diproyeksikan terdiri dari:
a. Media grafis, media grafis merupakan media berbasis visual yang tidak diproyeksikan.
Menurut Sadiman, dkk (Sardiman,2011), bentuk umum dari media gambar terangkum dalam
pengertian media grafis. Media grafis adalah suatu media berbasis visual yang terdiri dari
simbol-simbol, gambar, titik, garis untuk menggambarkan dan merangkum suatu ide dan
peristiwa. Media grafis dibagi menjadi beberapa jenis, Asyhar (Cahyo, 2017), membagi jenis-
jenis media grafis sebagai berikut:
b. Gambar, yaitu coretan yang sengaja diwujudkan secara visual berbentuk dua dimensi
sebagai curahan pikiran seseorang. Media gambar memberikan banyak fungsi, salah
satunya fungsi kognitif. Kajian-kajian ilmiah yang mengemukakan bahwa lambag visual atau
gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau
pesan yang terkandung dalam gambar.
c. Sketsa, yaitu gambar yang sederhana melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail.
d. Diagram, yaitu gambar sederhana menggunakan garis-garis dan simbol dari objek secara
garis besar.
e. Bagan/chart, yaitu menyajikan ide-ide atau konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara
tertulis.
f. Grafik, yaitu gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar.
g. Poster, yaitu penggambaran yang ditunjukkan sebagai pemberitahuan, peringatan,
penggugah selera, dalam desain dan warna mencolok sehingga sepintas mudah ditangkap
maknanya.
h. Peta dan globe, yaitu menyajikan data-data lokasi.
2. Media Visual Diam yang Diproyeksi
Media proyeksi merupakan salah satu media yang terklasifikasi pada media visual. Media ini
memberikan rangsangan visual yaitu melalui penglihatan. Beberapa media yang termasuk ke
dalam media yang proyeksi adalah (Cahyo, 2017):
a. Transparansi Over Head Projector, merupakan alat bantu mengajar tatap muka, yaitu
meliputi perangkat lunak overhead transparency dan perangkat keras overhead projector.
b. Film bingkai/slide adalah film transparansi yang pada umumnya berukuran 35 mm dan diberi
bingkai 2x2 inci.
Konsep pembelajaran yang harus dihayati guru adalah bagaimana cara mendesain
pembelajaran agar berjalan efektif dan efesien untuk mencapai tujuan. Proses kegiatan
belajar mengajar yang diterapkan guru di sekolah lebih banyak menggunakan metode
ceramah dan terpaku pada teks buku. Paradigma tersebut melekat pada guru yang enggan
membangkitkan minat belajar siswa. Guru tidak menggunakan media pembelajaran dengan
alasan membuat media sulit, biayanya mahal, memerlukan waktu lama. Padahal kompetensi
dan tuntutan seorang guru harus diaplikasikan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Referensi:
https://drive.google.com/file/d/1sc8WQPeSERrpNeZniHr0-LL12Fednx4J/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1KzuPeuaLDhrrTBlI0NKXT91nSqw8pHDq/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/19meEFAW24VcWYUmb_1ugN0nZ8AK3z-
vq/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1qUM6RRPKG7zxNB101llCpgjslj1o70ya/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1zEG_GpsmxDbpbqftxqoc4JtzRnLCG7jL/view?usp=drive_link
https://drive.google.com/file/d/1GP5Ghenf7Nm6ogYtHSwOiM2-
KI5BMrgs/view?usp=drive_link
2 Modul
Kurikulum
Merdeka
Langkah-2
ANALISIS PENENTU
PENYEBAB MASALAH
DAN DESAIN RENCANA
AKSI
• Melakukan analisis
penentu penyebab
masalah paedagogi
yang telah ditetapkan
sebelumnya yang
sudah diidentifikasi,
diekplorasi review
literatur yang
didasarkan dari konsep,
dari artikel dan buku
ANALISIS PENENTU PENYEBAB MASALAH
1. Kurangnya Minat atau Motivasi Belajar pada Peserta Didik
Factor Internal:
a. Kemauan atau Minat Belajar Siswa yang Kurang
Minat merupakan dorongan internal yang kuat bagi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran.
Jika siswa tidak memiliki minat terhadap materi pelajaran, mereka akan cenderung tidak aktif
dan tidak bersemangat dalam belajar.
b. Kurang Percaya Diri
Ketidakpercayaan diri dapat menghambat partisipasi aktif siswa dalam kelas dan mengurangi
keinginan mereka untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Siswa yang merasa tidak mampu
cenderung menghindari tantangan.
c. Disiplin Belajar yang Rendah
Disiplin belajar yang rendah dapat menyebabkan siswa tidak mengikuti jadwal belajar yang
teratur, mengurangi kualitas dan kuantitas waktu yang dihabiskan untuk belajar.
• Menyusun desain
rencana aksi, evaluasi
dan refleksi terhadap
pilihan pemecahan
masalah, langkah-
langkah, solusi dan
rencana aksi yang
efektif untuk
memecahkan masalah
paedagogi yang telah
ditentukan pada tahap
sebelumnya.
Factor Eksternal:
a. Pengaruh Teman Sebaya
Tekanan dari teman sebaya yang tidak memiliki minat belajar dapat mempengaruhi sikap
dan perilaku siswa terhadap belajar.
b. Factor Guru
Guru yang tidak mampu menarik perhatian siswa atau tidak menggunakan metode
pengajaran yang efektif dapat mengurangi minat siswa dalam belajar.
c. Factor Keluarga
Dukungan dan perhatian dari keluarga sangat penting. Keluarga yang kurang memberikan
perhatian pada pendidikan anak dapat membuat siswa merasa kurang dihargai dan tidak
termotivasi untuk belajar.
2. Sulitnya Akses untuk Pembelajaran dengan Media Pembelajaran
a. Keterbatasan Kondisi
Akses terhadap media pembelajaran seperti video dan teknologi lainnya sangat penting
untuk pembelajaran yang efektif. Siswa yang tidak memiliki akses tersebut mungkin
kesulitan untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
b. Pembelajaran yang Tidak Efektif
c. Pembelajaran yang aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif dapat membuat proses
pembelajaran menjadi tidak bermakna. Pembelajaran harus mencapai tujuan yang telah
ditetapkan agar efektif.
3. Pendampingan dan Dukungan yang Kurang dari Orang Tua di Rumah
a. Kurangnya Komunikasi yang Efektif antara Orang Tua dan Anak
Komunikasi yang kurang efektif antara orang tua dan anak dapat menghalangi proses
pendampingan belajar yang optimal. Anak mungkin merasa tidak didukung atau tidak
memahami apa yang diinginkan oleh orang tua.
b. Orang Tua yang Tidak Mendengarkan Anak secara Reflektif
Ketika orang tua tidak mendengarkan anak dengan baik, anak mungkin merasa tidak
dihargai dan tidak didengar, sehingga mereka kurang termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan analisis di atas, Rendahnya motivasi belajar siswa dapat ditentukan oleh
beberapa faktor dominan, baik internal maupun eksternal.
Faktor internal seperti kemauan belajar, kepercayaan diri, dan disiplin belajar sangat
mempengaruhi minat dan motivasi siswa. Faktor eksternal seperti pengaruh teman
sebaya, peran guru, dan dukungan keluarga juga memiliki peran penting. Upaya untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa harus mencakup pendekatan holistik yang melibatkan
semua pihak terkait, termasuk sekolah, guru, keluarga, dan teman sebaya.
ANALISIS SOLUSI MASALAH
1. Kurangnya Minat atau Motivasi Belajar pada Peserta Didik
Faktor Internal
a. Kemauan atau Minat Belajar Siswa yang Kurang
Solusi:
1) Pendekatan Interdisipliner
Mengaitkan materi pelajaran dengan minat dan hobi siswa untuk meningkatkan relevansi
dan daya tarik pembelajaran.
2) Penggunaan Teknologi Edukasi
Mengintegrasikan teknologi seperti game edukatif, aplikasi interaktif, dan platform e-
learning untuk membuat pembelajaran lebih menarik.
b. Kurang Percaya Diri
Solusi:
1) Pemberian Umpan Balik yang Konstruktif
Guru memberikan umpan balik yang mendukung dan membangun untuk membantu
siswa mengatasi rasa tidak percaya diri.
2) Program Mentorship
Mengadakan program bimbingan di mana siswa yang lebih tua atau mentor mendukung
siswa yang kurang percaya diri.
c. Disiplin Belajar yang Rendah
Solusi: Pembentukan Kebiasaan Belajar yang Baik
1) Penjadwalan Rutin
Membantu siswa membuat dan mematuhi jadwal belajar yang konsisten.
2) Penggunaan Teknik Manajemen Waktu
Mengajarkan teknik seperti time blocking untuk membantu siswa mengelola waktu
belajar mereka secara efektif.
Faktor Eksternal
a. Pengaruh Teman Sebaya
Solusi: Pembentukan Kelompok Belajar Positif
1) Membentuk klub atau kelompok belajar yang mendukung dan memotivasi siswa untuk
belajar bersama.
2) Mendorong siswa untuk saling membantu dan belajar dalam kelompok.
b. Faktor Guru
Solusi: Peningkatan Kualitas Pengajaran
1) Pelatihan Guru
Memberikan pelatihan untuk guru dalam metode pengajaran yang inovatif dan menarik.
2) Pemberian Umpan Balik dari Siswa
Melibatkan siswa dalam memberikan umpan balik tentang metode pengajaran yang
efektif.
c. Faktor Keluarga
Solusi: Meningkatkan Keterlibatan Orang Tua
1) Program Edukasi Orang Tua
Mengadakan workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya dukungan
pendidikan di rumah.
2) Komunikasi Rutin
Meningkatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua melalui pertemuan rutin.
RENCANA AKSI
Rencana dan Desain Pembelajaran untuk Meningkatkan Minat atau Motivasi Belajar Peserta
Didik
Tujuan Pembelajaran:
1. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
2. Mengembangkan rasa percaya diri siswa.
3. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
4. Mendorong interaksi positif di antara siswa.
5. Meningkatkan kualitas pengajaran oleh guru.
6. Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam proses belajar.
Langkah-langkah:
1. Penerapan dalam Materi:
Rancang proyek atau tugas yang mengaitkan materi pelajaran dengan minat siswa.
2. Game Edukatif:
Integrasikan game edukatif seperti Quizizz untuk menguji pemahaman siswa secara interaktif.
3. Memberi Umpan Balik Positif:
Guru memberikan umpan balik yang fokus pada usaha dan kemajuan siswa, bukan hanya hasil
akhir.
4. Kegiatan Kolaboratif:
Merancang kegiatan kolaboratif yang memotivasi siswa untuk belajar bersama, seperti proyek
kelompok atau studi kasus.
5. Workshop Orang Tua:
Mengadakan workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya dukungan pendidikan
di rumah.
6. Pertemuan Rutin:
Menjadwalkan pertemuan rutin antara guru dan orang tua untuk membahas perkembangan
siswa Menggunakan berbagai media komunikasi seperti pertemuan tatap muka, email, atau
grup WhatsApp

Project Base Learning (PjBL) KuMer Modul 12 Joni.pdf

  • 1.
    TEMPLATE ANALISA MATERITUGAS PROJECT BASED LEARNING (PJBL) MODUL MODERASI BERAGAMA DAN KURIKULUM MERDEKA LPTK UIN SALATIGA TAHUN 2024 Nama : Joni Setiawan Kelas : K2 PAI D Modul : Langkah -2 Tema/Pokok Masalah : Kurangnya Motivasi Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Penguatan Kurikulum Merdeka Belajar Karena Kurangnya Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Visual Dosen Pengampu : Agung Guritno, S.S., M.Pd. NO MODUL KEGIATAN DESKRIPSI 1 Modul Moderasi Beragama Langkah - 1 IDENTIFIKASI MASALAH DAN EKSPLORASI PENYEBAB MASALAH (Review Literatur). • Menemukan beberapa masalah pembelajaran dan melakukan perincian masalah tersebut yang berkaitan dengan tugas guru dalam pembelajaran yang berkaitan dengan moderasi beragama atau kurikulum merdeka • Menggali penyebab masalah pembelajaran dengan cara melakukan kajian literatur (literature review) melalui 1. Kurangnya Motivasi Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Penguatan Kurikulum Merdeka Belajar Pendidik yang “berhasil” adalah mereka yang peka bahwa peserta didiknya mengalami hambatan dan segera memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan. Terkait dengan itu, pendidik harus mampu mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik (Husamah et al., 2016). Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar peserta didik (Jamaris, 2014). Adapun tingkat kesulitan belajar yang dapat dialami oleh peserta didik, antara lain ringan (peserta didik kurang memperhatikan saat pembelajaran berlangsung), sedang (peserta didik mengalami gangguan dari luar diri), dan berat (peserta didik yang mengalami ketunaan). Guru bisa memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik .Peran orang tua dalam pendidikan merupakan hal yang penting dan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketercapaian belajar anak. Peran orang tua juga merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi belajar anak. Dimana anak mampu memiliki motivasi belajar yang maksimal atau kurang maksimal dipengaruhi oleh peran orang tua. Motivasi belajar juga ditemukan memiliki hubungan positif dengan manajemen kelas. Manajemen kelas yang baik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Hasil dari penelitian sebelumnya oleh Mansoor Fahim dan Arezoo Hajmaghsoodi (2014), menyatakan bahwa motivasi adalah faktor penting yang mempengaruhi peningkatan kemampuan berpikir kritis. Motivasi memberikan dorongan bagi siswa untuk menggunakan keterampilan kognitif dalam berpikir kritis secara terarah, beralasan, dan bertujuan. Motivasi
  • 2.
    pencarian konsep dari artikeljurnal, buku dan dokumen yang relevan belajar yang tinggi membuat siswa lebih terfokus dan aktif dalam proses pembelajaran, yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik. Ada beberapa fungsi motivasi sebagai berikut: mendorong manusia untuk berbuat, yaitu sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi perbuatan, yaitu mengarahkan perbuatanperbuatan yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan dan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat untuk tujuan tersebut. Indikator motivasi belajar adalah sebagai berikut: (1) tekun menghadapi tugas, (2) tidak pernah putus asa, tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai, (3) menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa, (4) lebih senang bekerja mandiri, (5) cepat bosan pada tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapatnya kalua sudah yakin tentang sesuatu, (6) tidak mudah melepaskan hal yang sudah diyakini, dan (7) senang mencari dan menyelesaikan masalah soal-soal. Guru memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan mengajar dan mencakup semua keterampilan yang harus dimiliki seorang guru. Ketika suasana kelas kondusif dan menyenangkan, siswa lebih termotivasi untuk belajar dan mereka merasa nyaman dan senang ketika berada di dalam kelas. Manajemen kelas adalah kemampuan guru untuk menjaga, memelihara dan memajukan suasana di dalam kelas. Namun, peran guru sebagai fasilitator dan motivator harus mampu memotivasi dan memotivasi siswa untuk belajar. Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelarajan sangat memperngaruhi motivasi belajar siswa. Keberhasilan dalam manajemen kelas tentunya adalah harapan setiap guru. Guru yang berhasil dalam manajemen kelas akan berpengaruh positif kepada semangat belajar dan hasil belajar para siswanya. Terdapat enam indikator keberhasilan manajemen kelas yaitu sebagai berikut: 1. Guru mengerti perbedaan mengelola dan mendisiplinkan kelas Guru dapat memberikan perlakuan yang berbeda antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas. Mengelola kelas meliputi manajemen peserta didik, desain ruang kelas, penataan tempat duduk, serta pengelolaan pembelajaran. 2. Guru tidak akan pulang dalam keadaan Lelah Keberhasilan pengelolaan kelas berarti semua aktivitas yang ada di kelas berjalan sesuai
  • 3.
    harapan sehingga gurutidak perlu banyak mengatur, membimbing, atau memperhatikan secara penuh setiap keadaan di dalam kelas. Semua kegiatan di kelas berjalan sesuai dengan aturan. 3. Guru dapat mengerti perbedaan antara prosedur dan rutinitas kelas Rutinitas kelas yaitu apa yang peserta didik lakukan secara otomatis, contohnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain. Sedangkan prosedur kelas yaitu lebih berhubungan dengan suatu cara yang sering dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. 4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan cara mengorganisir prosedur-prosedur Prosedur mengajarkan kepada peserta didik tentang pentingnya tanggung jawab. Keberhasilan manajemen kelas dapat dilihat dari karakter peserta didik, salah satunya yaitu tanggung jawab. 5. Guru tidak mendisiplinkan peserta didik dengan ancaman atau konsekuensi Membrikan ancaman atau konsekuensi kepada peserta didik yang melanggar aturan tidak menjamin peserta didik akan dapat berubah. Hal yang dilakukan seorang guru sebaiknya memberikan tauladan. 6. Guru mengerti bawa perilaku peserta didik bukanlah tanpa alas an Guru harus sangat memahami bahwa perliaku tidak menaati aturan yang dilakukan peserta didik bukanlah tanpa alasan. Oleh karena itu, guru harus bisa melakukan pendekatan secara persuasive kepada peserta didik yang sedang menghadapi masalah. Sehingga guru dapat memahami permasalahan yang dihadapi peserta didik dan mencari solusinya. Referensi: https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/1869/pdf https://drive.google.com/file/d/1zEG_GpsmxDbpbqftxqoc4JtzRnLCG7jL/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1cOkvF-7j3s1mFzEbJVry3ooXX_O0f4xq/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1FUmWTvVPk5H5sTBXCRRqC5aS- mEf3WwK/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1iEGhAfexesySNJ3k-IbgDFEWSerpCt1u/view?usp=drive_link 2. Kurangnya penggunaan media pembelajaran berbasis visual Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mana telah menghasilkan
  • 4.
    upaya-upaya pembaharuan yangsemakin mendorong dalam pemanfaatan hasil teknologi di dalam proses belajar, maka dengan begitu pendidikan akan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu juga perlu adanya penyesuaian-penyesuaian terlebih yang berkaitan dan bersangkutan dengan faktor-faktor pengajaran yang dilakukan di sekolah. Dari beberapa faktor pengajaran tersebut yakni media pembelajaran yang wajib dipelajari dan dikuasai oleh guru, sehingga mereka mampu menyampaikan mata pelajaran kepada peserta didik dengan berhasil guna. Media memiliki kelebihan dan kekuatan yang positif dan sinergi yang mampu mengubah sikap dan tingkah laku siswa kearah yang kreatif dan dinamis. Dengan begitu peranan media sangatlah penting dalam pembelajaran dimana dalam perkembangannya media bukan lagi sekedar alat bantu akan tetapi merupakan bagian yang integral dalam system pendidikan dan pembelajaran. (M. Basyirudin, 1998). Sarana pembelajaran memegang peran penting dalam tahap pembelajaran, mampu membangun motivasi, ketertarikan, dan pengaruh psikologis kepada siswa (Sapriyah, 2019). Penerapan sarana pembelajaran bertujuan membantu peserta didik memahami konsep yang abstrak, memberikan pengalaman praktis, dan mendukung guru dalam proses pengajaran. Fungsi-fungsi penggunaan media pembelajaran termasuk fungsi personal, motivasi, komunikasi, kognitif, dan makna (Zahwa & Syafi’i, 2022). Pemanfaatan media pembelajaran, terutama audio visual, memberikan keuntungan dalam standarisasi penyampaian materi, meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan memberikan fleksibilitas waktu dan tempat dalam proses pembelajaran (Wafi et al., 2020). Media dalam sebuah kegiatan pembelajaran mempunyai fungsi yang sangat besar, diantaranya adalah sebagai perantara penyampai atau untuk menyebarkan ide, gagasan maupun pendapat dalam belajar sehingga apa yang disampaikan oleh guru atau pengajar dapat sampai kepada penerima yang dituju. Dalam pembelajaran kooperatif, salah satu media yang di gunakan adalah media visual. Media visual menampilkan gambar yamg semenarik mungkin sehingga bisa membuat siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Menurut Vandayo dan Hilmi (2020) media pembelajaran yang berbasis visual berkaitan erat dengan pengembangan keterampilan berbicara. secara tidak langsung media visual akan memberikan pengaruh terhadap peserta didik agar mau dan terbiasa berbicara
  • 5.
    menggunakan teks (katadan kalimat). Menurut Khoryyanti dan Suhendra (2022) menyatakan bahwa media pembelajaran dapat membantu siswa memahami materi dengan memberikan gambaran nyata dari objek – objek yang di maksud. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Selain itu, menurut Sulastri (2022) manfaat media visual dalam pembelajaran yaitu membangkitkan keinginan dan minat baru serta meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa. Gaya belajar ada beberapa terkait belajar dengan: Visual (melihat) untuk mempertajam pemahaman terhadap siatu objek belajar, Audio yang mengandalkan kemampuan mendengar untuk memperdalam pemahaman suatu objek Kinestik dengan mengekspresikan dirinnya melalui gerakan sisa dengan kecenderungan belajar secara Kinestik senang melalukan aktivitas di luar ruangan. Pembelajaran diferensiasi menggunakan beberapa pendekatan yaitu konten,proses,dan produk, Konten berkaitan juga dengan konsep/ keterampilan yang akan mereka pelajari. Proses merupakan bagaimana cara/ metode siswa mendapatkan informasi atau pengetahuan produk merupakan bukti, karya, atau hasil secara konkrit. (3) Minat adalah motivator terpenting dalam mencapai sebuah tujuan.Dalam pembelajaran, ditemukan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar kurikulum merdeka masih rendah. Motivasi belajar sendiri adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Motivasi belajar mengacu pada dorongan internal atau eksternal yang mendorong siswa untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Motivasi belajar yang tinggi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Media pembelajaran memiliki beberapa jenis, salah satunya media visual. Media visual dibagi menjadi beberapa kelompok, menurut Seels dan Glasgow (Cahyo, 2017), media visual dikelompokkan menjadi: 1. Media yang tidak diproyeksikan Media yang tidak diproyeksikan merupakan media yang sering digunakan dalam proses mengajar, baik yang berkarakter dua dimensi maupun tiga dimensi. Media visual yang tidak diproyeksikan terdiri dari: a. Media grafis, media grafis merupakan media berbasis visual yang tidak diproyeksikan.
  • 6.
    Menurut Sadiman, dkk(Sardiman,2011), bentuk umum dari media gambar terangkum dalam pengertian media grafis. Media grafis adalah suatu media berbasis visual yang terdiri dari simbol-simbol, gambar, titik, garis untuk menggambarkan dan merangkum suatu ide dan peristiwa. Media grafis dibagi menjadi beberapa jenis, Asyhar (Cahyo, 2017), membagi jenis- jenis media grafis sebagai berikut: b. Gambar, yaitu coretan yang sengaja diwujudkan secara visual berbentuk dua dimensi sebagai curahan pikiran seseorang. Media gambar memberikan banyak fungsi, salah satunya fungsi kognitif. Kajian-kajian ilmiah yang mengemukakan bahwa lambag visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. c. Sketsa, yaitu gambar yang sederhana melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. d. Diagram, yaitu gambar sederhana menggunakan garis-garis dan simbol dari objek secara garis besar. e. Bagan/chart, yaitu menyajikan ide-ide atau konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis. f. Grafik, yaitu gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar. g. Poster, yaitu penggambaran yang ditunjukkan sebagai pemberitahuan, peringatan, penggugah selera, dalam desain dan warna mencolok sehingga sepintas mudah ditangkap maknanya. h. Peta dan globe, yaitu menyajikan data-data lokasi. 2. Media Visual Diam yang Diproyeksi Media proyeksi merupakan salah satu media yang terklasifikasi pada media visual. Media ini memberikan rangsangan visual yaitu melalui penglihatan. Beberapa media yang termasuk ke dalam media yang proyeksi adalah (Cahyo, 2017): a. Transparansi Over Head Projector, merupakan alat bantu mengajar tatap muka, yaitu meliputi perangkat lunak overhead transparency dan perangkat keras overhead projector. b. Film bingkai/slide adalah film transparansi yang pada umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2x2 inci. Konsep pembelajaran yang harus dihayati guru adalah bagaimana cara mendesain
  • 7.
    pembelajaran agar berjalanefektif dan efesien untuk mencapai tujuan. Proses kegiatan belajar mengajar yang diterapkan guru di sekolah lebih banyak menggunakan metode ceramah dan terpaku pada teks buku. Paradigma tersebut melekat pada guru yang enggan membangkitkan minat belajar siswa. Guru tidak menggunakan media pembelajaran dengan alasan membuat media sulit, biayanya mahal, memerlukan waktu lama. Padahal kompetensi dan tuntutan seorang guru harus diaplikasikan agar tujuan pembelajaran tercapai. Referensi: https://drive.google.com/file/d/1sc8WQPeSERrpNeZniHr0-LL12Fednx4J/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1KzuPeuaLDhrrTBlI0NKXT91nSqw8pHDq/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/19meEFAW24VcWYUmb_1ugN0nZ8AK3z- vq/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1qUM6RRPKG7zxNB101llCpgjslj1o70ya/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1zEG_GpsmxDbpbqftxqoc4JtzRnLCG7jL/view?usp=drive_link https://drive.google.com/file/d/1GP5Ghenf7Nm6ogYtHSwOiM2- KI5BMrgs/view?usp=drive_link 2 Modul Kurikulum Merdeka Langkah-2 ANALISIS PENENTU PENYEBAB MASALAH DAN DESAIN RENCANA AKSI • Melakukan analisis penentu penyebab masalah paedagogi yang telah ditetapkan sebelumnya yang sudah diidentifikasi, diekplorasi review literatur yang didasarkan dari konsep, dari artikel dan buku ANALISIS PENENTU PENYEBAB MASALAH 1. Kurangnya Minat atau Motivasi Belajar pada Peserta Didik Factor Internal: a. Kemauan atau Minat Belajar Siswa yang Kurang Minat merupakan dorongan internal yang kuat bagi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran. Jika siswa tidak memiliki minat terhadap materi pelajaran, mereka akan cenderung tidak aktif dan tidak bersemangat dalam belajar. b. Kurang Percaya Diri Ketidakpercayaan diri dapat menghambat partisipasi aktif siswa dalam kelas dan mengurangi keinginan mereka untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Siswa yang merasa tidak mampu cenderung menghindari tantangan. c. Disiplin Belajar yang Rendah Disiplin belajar yang rendah dapat menyebabkan siswa tidak mengikuti jadwal belajar yang teratur, mengurangi kualitas dan kuantitas waktu yang dihabiskan untuk belajar.
  • 8.
    • Menyusun desain rencanaaksi, evaluasi dan refleksi terhadap pilihan pemecahan masalah, langkah- langkah, solusi dan rencana aksi yang efektif untuk memecahkan masalah paedagogi yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Factor Eksternal: a. Pengaruh Teman Sebaya Tekanan dari teman sebaya yang tidak memiliki minat belajar dapat mempengaruhi sikap dan perilaku siswa terhadap belajar. b. Factor Guru Guru yang tidak mampu menarik perhatian siswa atau tidak menggunakan metode pengajaran yang efektif dapat mengurangi minat siswa dalam belajar. c. Factor Keluarga Dukungan dan perhatian dari keluarga sangat penting. Keluarga yang kurang memberikan perhatian pada pendidikan anak dapat membuat siswa merasa kurang dihargai dan tidak termotivasi untuk belajar. 2. Sulitnya Akses untuk Pembelajaran dengan Media Pembelajaran a. Keterbatasan Kondisi Akses terhadap media pembelajaran seperti video dan teknologi lainnya sangat penting untuk pembelajaran yang efektif. Siswa yang tidak memiliki akses tersebut mungkin kesulitan untuk mengikuti pelajaran dengan baik. b. Pembelajaran yang Tidak Efektif c. Pembelajaran yang aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif dapat membuat proses pembelajaran menjadi tidak bermakna. Pembelajaran harus mencapai tujuan yang telah ditetapkan agar efektif. 3. Pendampingan dan Dukungan yang Kurang dari Orang Tua di Rumah a. Kurangnya Komunikasi yang Efektif antara Orang Tua dan Anak Komunikasi yang kurang efektif antara orang tua dan anak dapat menghalangi proses pendampingan belajar yang optimal. Anak mungkin merasa tidak didukung atau tidak memahami apa yang diinginkan oleh orang tua. b. Orang Tua yang Tidak Mendengarkan Anak secara Reflektif Ketika orang tua tidak mendengarkan anak dengan baik, anak mungkin merasa tidak dihargai dan tidak didengar, sehingga mereka kurang termotivasi untuk belajar. Berdasarkan analisis di atas, Rendahnya motivasi belajar siswa dapat ditentukan oleh beberapa faktor dominan, baik internal maupun eksternal.
  • 9.
    Faktor internal sepertikemauan belajar, kepercayaan diri, dan disiplin belajar sangat mempengaruhi minat dan motivasi siswa. Faktor eksternal seperti pengaruh teman sebaya, peran guru, dan dukungan keluarga juga memiliki peran penting. Upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa harus mencakup pendekatan holistik yang melibatkan semua pihak terkait, termasuk sekolah, guru, keluarga, dan teman sebaya. ANALISIS SOLUSI MASALAH 1. Kurangnya Minat atau Motivasi Belajar pada Peserta Didik Faktor Internal a. Kemauan atau Minat Belajar Siswa yang Kurang Solusi: 1) Pendekatan Interdisipliner Mengaitkan materi pelajaran dengan minat dan hobi siswa untuk meningkatkan relevansi dan daya tarik pembelajaran. 2) Penggunaan Teknologi Edukasi Mengintegrasikan teknologi seperti game edukatif, aplikasi interaktif, dan platform e- learning untuk membuat pembelajaran lebih menarik. b. Kurang Percaya Diri Solusi: 1) Pemberian Umpan Balik yang Konstruktif Guru memberikan umpan balik yang mendukung dan membangun untuk membantu siswa mengatasi rasa tidak percaya diri. 2) Program Mentorship Mengadakan program bimbingan di mana siswa yang lebih tua atau mentor mendukung siswa yang kurang percaya diri. c. Disiplin Belajar yang Rendah Solusi: Pembentukan Kebiasaan Belajar yang Baik 1) Penjadwalan Rutin Membantu siswa membuat dan mematuhi jadwal belajar yang konsisten.
  • 10.
    2) Penggunaan TeknikManajemen Waktu Mengajarkan teknik seperti time blocking untuk membantu siswa mengelola waktu belajar mereka secara efektif. Faktor Eksternal a. Pengaruh Teman Sebaya Solusi: Pembentukan Kelompok Belajar Positif 1) Membentuk klub atau kelompok belajar yang mendukung dan memotivasi siswa untuk belajar bersama. 2) Mendorong siswa untuk saling membantu dan belajar dalam kelompok. b. Faktor Guru Solusi: Peningkatan Kualitas Pengajaran 1) Pelatihan Guru Memberikan pelatihan untuk guru dalam metode pengajaran yang inovatif dan menarik. 2) Pemberian Umpan Balik dari Siswa Melibatkan siswa dalam memberikan umpan balik tentang metode pengajaran yang efektif. c. Faktor Keluarga Solusi: Meningkatkan Keterlibatan Orang Tua 1) Program Edukasi Orang Tua Mengadakan workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya dukungan pendidikan di rumah. 2) Komunikasi Rutin Meningkatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua melalui pertemuan rutin. RENCANA AKSI Rencana dan Desain Pembelajaran untuk Meningkatkan Minat atau Motivasi Belajar Peserta Didik Tujuan Pembelajaran: 1. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
  • 11.
    2. Mengembangkan rasapercaya diri siswa. 3. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. 4. Mendorong interaksi positif di antara siswa. 5. Meningkatkan kualitas pengajaran oleh guru. 6. Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam proses belajar. Langkah-langkah: 1. Penerapan dalam Materi: Rancang proyek atau tugas yang mengaitkan materi pelajaran dengan minat siswa. 2. Game Edukatif: Integrasikan game edukatif seperti Quizizz untuk menguji pemahaman siswa secara interaktif. 3. Memberi Umpan Balik Positif: Guru memberikan umpan balik yang fokus pada usaha dan kemajuan siswa, bukan hanya hasil akhir. 4. Kegiatan Kolaboratif: Merancang kegiatan kolaboratif yang memotivasi siswa untuk belajar bersama, seperti proyek kelompok atau studi kasus. 5. Workshop Orang Tua: Mengadakan workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya dukungan pendidikan di rumah. 6. Pertemuan Rutin: Menjadwalkan pertemuan rutin antara guru dan orang tua untuk membahas perkembangan siswa Menggunakan berbagai media komunikasi seperti pertemuan tatap muka, email, atau grup WhatsApp