JAKA TARUB DAN 7 BIDADARI 
Dahulu kala di desa terpencil, tinggallah seorang Ibu dan anaknya yang bernama Jaka 
Tarub. Jaka Tarub sudah ditinggal ayahnya sejak ia masih kecil. Ia adalah anak yang 
baik. Ia suka menolong dan membantu ibunya bekerja. 
Jaka Tarub semakin dewasa. Rambut ibunya pun semakin memutih karena dimakan 
usia. Suatu hari mereka sedang bertani di sawah. 
Ibu Jaka Tarub : “Uhuk.. uhuk..” (batuk) 
Jaka Tarub : “Ibu kenapa?” 
Ibu Jaka Tarub : “Ibu tidak apa-apa nak. Hanya batuk biasa saja” 
Jaka Tarub : “Kalau begitu biar saya saja yang menyelesaikan pekerjaan Ibu 
1 
hari ini” 
Ibu Jaka Tarub : “Terima kasih nak. Ibu beruntung memiliki anak seperti kamu” 
Hari sudah semakin petang. Mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah. 
Sesampainya di rumah Ibu Jaka Tarub pun berbicara pada anaknya. 
Ibu Jaka Tarub : “Nak, ada yang ingin Ibu katakana padamu” 
Jaka Tarub : “Ada apa bu?” 
Ibu Jaka Tarub : “Nak, Ibu lihat kamu sudah dewasa, sudah pantas untuk meminang 
gadis. Lekaslah menikah, Ibu ingin menimang cucu sebelum Ibu 
pergi” 
Jaka Tarub : “Tapi saya belum ingin menikah bu” 
Ibu Jaka Tarub : “Tapi jika ibu sudah tiada nanti, siapa yang akan mengurusmu?” 
Jaka Tarub : “Jangan berbicara seperti itu bu” 
Ibu Jaka Tarub : “Ibu hanya merasa semakin lelah nak…” 
Jaka Tarub bingung dengan perkataan ibunya. Ada sesuatu hal yang aneh dari ibunya. 
Di subuh hari Ibu tidak seperti biasanya ibu Jaka Tarub menyiapkan secangkir kopi 
dan makanan untuk Jaka Tarub. 
Jaka Tarub : “Tumben ibu yang menyiapkan semuanya hari ini” 
Ibu Jaka Tarub : “Sudahlah, tidak apa-apa. Ibu ingin kamu tidak terlalu kelelahan 
saat bekerja” 
Jaka Tarub : “Terimakasih bu” 
Ibu Jaka Tarub : “Ya, sama-sama nak. Sepertinya hari ini ibu tidak bias pergi 
bertani denganmu” 
Ibu Jaka Tarub : “Ya sudah. Ibu istirahat saja di rumah. Saya pergi dulu bu” 
Jaka Tarub : “Iya nak. Hati-hati ya” 
Jaka pun menuju sawahnya untuk bertani. Walaupun hanya pergi bekerja sendirian ia 
tetap semangat demi ibunya yang sedang lemah di rumah. Tanpa ia sadari ada 
seorang gadis yang sedang berjalan mengikutinya. Ia adalah Laras, anak dari kepala 
desa. 
Laras : “Andai saja dia jadi suamiku. Aku pasti bahagia”
Hari sudah petang. Saatnya Jaka Tarub pulang ke rumah membawa hasil panennya. 
Jaka Tarub : “Assalamu’alaikum bu. Bu.. bu.. Ibu kemana ya? Kok rumah 
2 
berantakan?” 
Tak lama kemudian Jaka Tarub menemukan ibunya tergeletak di lantai. 
Jaka Tarub : “Ibuuuuuuuuuuu!!” (menghampiri ibunya) 
Ibu Jaka Tarub : “Maafkan semua kesalahan ibu nak. Ibu harus pergi. Ini 
permintaan terakhir ibu, carilah pendamping hidupmu” 
Jaka Tarub : “Jangan tinggalkan Jaka buuuuuuuuu” (menangis) 
Jaka Tarub menyesali perbuatannya yang telah membiarkan ibunya yang lemah di 
rumah sendirian. Ia kemudian menyendiri dan terlihat selalu murung. 
Hari berganti hari, Jaka Tarub selalu teringat pada permintaan terakhir ibunya. Ia 
mempunyai obsesi untuk mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa 
suci agar dia dapat mempunyai keturunan yang mulia. Namun sampai saat ini ia belum 
juga menemukan sang kekasih. Hasil panen Jaka Tarub semakin sedikit, ia semakin 
terpuruk hidup sendiri. 
Suatu hari Jaka Tarub pergi ke hutan untuk menghilangkan beban pikirannya. 
(Di Kahyangan) 
Terlihat 7 bidadari cantik sedang meminta ijin kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke 
mayapada (bumi). 
Bidadari 1 : “Ayah, Ibu, saya dan adik-adik mohon izin untuk pergi ke 
mayapada” 
Raja Ajisaka : “Pergilah nak, tapi ingat pada saat terompet kerajaan berbunyi 
kalian semua harus segera kembali ke istana” 
Bidadari 2 : “Iya ayah, kami semua mengerti” 
Bidadari 3 : “Kami akan segera kembali ketika terompet kerajaan berbunyi” 
Ratu SkarDewi : “Berhati- hatilah nak” 
7 Bidadari : “Baik bu” 
Tanpa disengaja Jaka Tarub mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang 
bercanda. Sampai akhirnya ia menemukan 7 wanita cantik yang sedang mandi di 
sebuah danau. 
Jaka Tarub : “Wah.. wah.. ada 7 wanita cantik ternyata. Mungkin salah diantara 
mereka adalah jodohku” 
Dengan mengendap-ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat menuju danau. Kemudian 
ia menemukan pakaian wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah 
memilih, ia mencuri salah selendang dan menyembunyikannya. 
(Terompet Kerajaan dari kahyangan berbunyi) 
Bidadari 1 : “Cepat adik-adikku, saatnya kita kembali ke kahyangan. Ayah 
sudah memanggil kita untuk pulang”
Nawang Wulan : “Tapi kak, selendang merahku tidak ada. Aku tidak bias pulang 
3 
tanpa selendang itu” 
(Bidadari yang lain sibuk mencari selendang Nawang Wulan) 
Bidadari 4 : “Bagaimana ini..? Padalah selendang adik Nawang Wulan tadi ada 
di sebelah selendangku” 
Bidadari 5 : “Aku sudah mencoba mencari selendang adik Nawang Wulan, tapi 
tak kunjung ku temukan juga” 
Bidadari 6 : “Ya, aku juga sudah mencoba mencarinya, apa yang harus kita 
lakukan kakak?” 
Bidadari 1 : “Kita tidak bias terus-terusan berada di mayapada. Kita harus 
pulang ke kahyangan sekarang juga. Maafkan kami adik Nawang 
Wulan, mungkin sudah takdir adik untuk tinggal di mayapada” 
Nawang Wulan : “Tapi kak, bagaimana dengan aku disini?” 
Bidadari 1 : “Kami tidak bias berbuat apa-apa Nawang Wulan. Jaga dirimu 
baik-baik. Selamat tinggal adik Nawang Wulan” 
Nawang Wulan : “Kakaaaaaaaaaaaaaaaak!!” (menangis) 
Keenam bidadari cantik itu pun meninggalkan Nawang Wulan sendirian. Selendang 
merah Nawang Wulan masih belum ia temukan. Nawang Wulan merasa kesepian dan 
menangis di tepi danau. 
Jaka Tarub pun akhirnya keluar dari persembunyiannya. Ia mendekati Nawang Wulan 
dan menghiburnya. 
Jaka Tarub : “Mengapa engkau menangis gadis cantik?” 
Nawang Wulan : “Selendang merahku hilang. Aku tidak bias kembali ke kahyangan 
tanpa selendang itu” 
Jaka Tarub : “Kahyangan? Jadi kau adalah seorang bidadari?” 
Nawang Wulan : (diam karena takut untuk menjawab) 
Jaka Tarub : “Tidak usah takut begitu, aku tak akan melukaimu bidadari cantik. 
Daripada tinggal di hutan ini sendirian, bagaimana jika kau ikut ke 
rumahku? Kau bias tinggal di rumahku untuk sementara” 
Nawang Wulan : ”Benarkah?” 
Jaka Tarub : “Ya, kau bias tinggal selama apapun kau mau. Pakailah ini” 
(memberikan sebuah selendang) 
Nawang Wulan : “Terima kasih” 
Jaka Tarub : “Oh ya, siapa namamu?” 
Nawang Wulan : “Aku Nawang Wulan” 
Jaka Tarub : “Nama yang bagus. Aku Jaka Tarub. Ayo ikuti aku” 
Dengan senangnya Nawang Wulan mengikuti Jaka Tarub menuju rumah Jaka Tarub. 
Ia menerima ajakan Jaka Tarub karena tidak tahu harus berbuat apalagi. 
(Di kahyangan) 
Kakak-kakak dari Nawang Wulan merasa takut untuk menghadapi ayah mereka. 
Mereka takut ayah dan ibu mereka akan marah karena mereka pulang ke kahyangan 
tanpa Nawang Wulan.
Ketakutan mereka pun akhirnya benar-benar terjadi. 
Raja Ajisaka : “Kemana adik kalian Nawang Wulan?” 
7 Bidadari : (saling menatap 1 sama lain karena ketakutan) 
Ratu Sekar Dewi : “Kemana dia..? Kenapa kalian pulang tanpa adik kalian?” 
(menghampiri ke 6 bidadari dan bertanya dengan lembut) 
Bidadari 1 : “Maafkan kami ayah, ibu.. Nawang Wulan tidak bias kembali ke 
kahyangan karena selendangnya hilang” 
Bidadari 2 : “Iya ibu, selendang adik Nawang Wulan tak kunjung kami 
temukan meskipun sudah kami cari” 
Raja Ajisaka : “Ayah kecewa pada kalian karena tidak bias menjaga adik kalian” 
(bicara dengan nada keras) 
7 Bidadari : “Maafkan kami ayah..” 
Ratu Sekar Dewi : “Sudahlah… jangan menyalahkan mereka. Mungkin sudah takdir 
Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada” (sedih) 
Raja Ajisaka : “Apa yang harus kita lakukan untuk Nawang Wulan patih 
4 
hadiyawarman?” 
Patih : “Hamba setuju dengan perkataan Ratu Sekar Dewi, Raja.. 
Mungkin sudah takdir Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada. 
Jadi kita tidak perlu melakukan apa-apa. Berharaplah semoga hal 
buruk tidak terjadi pada Nawang Wulan” 
Raja Ajisaka : “Baiklah kalau begitu” 
Hari demi hari antara Jaka Tarub dan Nawang Wulan pun telah berlalu. Mereka 
semakin menyatu dan saling mengenal satu sama lain. Akhirnya mereka memutuskan 
untuk menikah. Tapi ada beberapa pihak yang tidak suka dengan pernikahan mereka. 
Orang itu adalah Laras dan Arya. 
Laras dan Arya pun berencana untuk menghancurkan pernikahan Nawang Wulan dan 
Jaka Tarub. 
Laras : “Aku benci dengan pernikahan mereka” 
Arya : “Aku pun sama halnya dengan kamu” 
Laras : “Kita harus menghancurkan pernikahan mereka” 
Arya : “Tapi apa rencana mu?” 
Laras : “Kamu harus membantu aku untuk mendapatkan Jaka” 
Arya : “Baik, aku akan membantumu, tapi apa imbalannya untukku?” 
Laras : “Sebagai imbalannya aku akan membantumu untuk mendapatkan 
Nawang Wulan” 
Arya : “Baiklah, aku setuju” 
Mereka berdua pun terus berusaha untuk mengancurkan pernikahan Nawang Wulan 
dan Jaka Tarub. Namun akhirnya usaha mereka gagal. 
Setelah pernikahan Nawang Wulan dan Jaka Tarub sudah cukup lama, mereka 
dikaruniai anak kembar. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Anak mereka 
bernama Nawang Asih dan Jaka Tengil. 
Setelah Nawang Asih dan Jaka Tengil beranjak dewasa. Permasalahan antara Jaka 
Tarub dan Nawang Wulan pun semakin bertambah. 
Terusiklah rasa ingin tahu JakaTarub tentang Nawang Wulan karena hasutan Arya 
dan kedua teman Jaka Tarub yaitu Banyu dan Indra.
Arya : “Jaka, apakah kamu tidak curiga pada istrimu?” 
Jaka Tarub : “Apa maksudmu?” 
Arya : “Bukankah selama ini istrimu Nawang Wulan selalu melarangmu 
untuk tidak membuka bakul yang ia gunakan untuk menanak 
nasi?” 
Jaka Tarub : “Iya, itu memang benar. Tapi apa masalahnya?” 
IndrA : “Apa kamu tidak curiga kenapa beras di lumbung mu masih utuh, 
seolah-olah tidak pernah digunakan” 
Banyu : “Jaka tidak akan pernah curiga teman-teman, karena dia sudah 
merasa bahagia mendapatkan istri secantik Nawang Wulan” 
Jaka Tarub : (diam merenungi perkataan teman-temannya). 
Pada saat Jaka Tarub pulang ke rumah ia melihat istrinya Nawang Wulan sedang 
memasak. 
Jaka Tarub : “Assalamu’alaikum…” 
Nawang Wulan : “Wa’alaikumsalam. Akang sudah pulang rupanya” 
Jaka Tarub : “Iya, ada apa memangnya Dinda?” 
Nawang Wulan : “Bolehkah aku meminta tolong?” 
Jaka Tarub : “Meminta tolong untuk apa dinda?” 
Nawang Wulan : “Tolong jagakan api ini karena aku sedang memasak nasi” 
Jaka Tarub : “Memangnya dinda mau pergi kemana?” 
Nawang Wulan : “Aku hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, kang” 
Jaka Tarub : “Baiklah, dinda” 
Nawang Wulan : “Tapi ingat, akang tidak boleh membuka tutup kukusan ini. Akang 
harus ingat dengan janji akang” 
Jaka Tarub : “Tenang saja Dinda. Akang tidak akan lupa dengan janji akang” 
Setelah Nawang Wulan pergi. Jaka Tarub ingat dengan perkataan teman-temannya. 
Karena hatinya dipenuh dengan rasa penasaran. Jaka Tarub pun membuka tutup 
kukusan yang ada di depannya. 
Jaka Tarub : “Hah, ternyata selama ini dinda Nawang Wulan hanya memasak 
dengan setangkai padi. Pantas saja selama ini padi di lumbung 
masih banyak. 
Nawang Wulan tiba-tiba datang sepulang dari mencuci pakaian di sungai. 
Nawang Wulan : “Sedang apakah kau akang?” (bertanya dengan nada keras) 
Jaka Tarub : “A… a… akang tidak sedang apa-apa dinda” (dengan terbata-bata). 
“Akang harus pergi ke ladang, ada pekerjaan yang harus 
5 
akang selesaikan” 
Setelah Jaka pergi Nawang Wulan pun membuka isi kukusannya. Pada saat itu juga 
Nawang Wulan curiga pada suaminya Jaka Tarub karena setangkai padi masih 
tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan itu hingga 
kesaktiannya hilang. 
Sejak saat itulah Nawang Wulan harus menumbuk dan menapi beras untuk dimasak, 
seperti wanita pada umumnya. Karena tumpukan padinya terus berkurang, suatu hari
Nawang Wulan menemukan selendang bidadarinya yang terselip diantara tumpukan 
padi. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang telah menyembunyikan selendang itu. 
Nawang Wulan : “Ternyata selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan 
selendangku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada 
akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi 
kehendak yang diatas” (Nawang Wulan bergumam) 
Setelah Nawang Wulan mengetahui bahwa selendangnya dicuri oleh suaminya Jaka 
Tarub, Nawang Wulan pun memutuskan untuk kembali ke kahyangan dan 
meninggalkan Jaka Tarub dan kedua anaknya. 
Nawang Wulan : “Kakang, maafkan aku, aku harus pergi” 
Jaka Tarub : “Tapi dinda bagaimana dengan anak kita Jaka Tengil dan Nawang 
6 
Asih?” 
Nawang Wulan : “Jaga kedua anak kita, kang” 
Jaka Tarub : “Tapi dinda aku tidak sanggup menjaga mereka berdua seorang 
diri” 
Nawang Wulan : “Aku percaya kakang bisa menjaga kedua anak kita” 
Nawang Asih : “Ibu, jangan tinggalkan Asih sendiri” (menangis sambil memeluk 
Ibunya) 
Jaka Tengil : “Iya bu, jangan tinggalkan kami sendiri” 
Nawang Wulan : “Kalian kan tidak sendiri, ada ayah kalian disini” 
Jaka Tengil dan Nawang Asih : “Tapi bu, kami ingin ibu bersama kami disini” 
Jaka Tarub : “Apa dinda tega meninggalkan Asih dan Tengil sendiri tanpa 
dinda disisi mereka” 
Nawang Wulan : “Tapi disini bukan tempatku. Tempatku adalah di kahyangan, 
bukan disini kang” (menangisi kedua anaknya) 
Akhirnya dengan penuh rasa keterpaksaan jaka dan kedua anaknya mengikhlaskan 
kepergian Nawang Wulan. Bahkan mereka mengantarkan kepergian Nawang Wulan. 
Nawang Asih : “Ibuuuuuuuuuuuu…” (menangis dan menggengam tangan 
Nawang Wulan) 
Jaka Tengil : “Ibuuuuuuuu.. jangan tinggalkan Tengil bu” 
Nawang Wulan : “Ibu tidak akan pergi jauh dari kalian, ibu akan mengawasi kalian 
dari kahyangan” 
Jaka Tarub : “Hati-hati dinda” 
Nawang Wulan pun pergi. Tapi setelah Nawang Wulan kembali ke kahyangan, Nawang 
Wulan tidak merasakan kebahagiaan, melainkan penderitaan. Penderitaan Nawang 
Wulan dan keluarganya adalah ketika kahyangan mereka di laingit diserbu oleh 
segerombolan jin jahat pimpinan raja bintara yang sudah lama ingin mempersunting 
Nawang Wulan dan ke 6 kakaknya. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah 
oleh ke 7 bidadari maupun kedua orang tua mereka. 
Raja Bintara : “Mana ke 7 calon istriku?” 
Raja Ajisaka : “Apa maksudmu?” 
Raja Bintara : “Mana Nawang Wulan dan ke 6 saudarinya?” 
Ratu Sekar Dewi : “Apa maksudmu berbicara seperti itu?”
Raja Bintara : “Dulu kan saya sudah mengatakan pada kalian bahwa saya akan 
mempersunting ke 7 putri kalian” 
Bidadari 1 : “Itu kan dulu, sekarang lain lagi” 
7 Bidadari : “Iya, itu kan dulu” 
Ratu Sekar Dewi : “Lagi pula saya sebagai ibu tidak akan mengijinkan ke 7 putri ku 
untuk menikah denganmu” 
Raja Bintara : “Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan pada kalian” 
Bidadari 5 : “Kami tidak takut dengan ancaman mu Bintara!” 
Raja Bintara : “Jangan salahakan aku jika terjadi sesuatu pada putri kalian” 
(menarik tangan Nawang Wulan) 
Raja Ajisaka : “Lepaskan putriku!” 
Raja Bintara : “Tidak, putrimu akan aku jadikan istri.. ha…ha..ha..” 
Raja Ajisaka : “Patih Hadiyawarman, bawa putriku kembali” 
Patih : “Baik Raja” 
Raja Bintara : “Prajurit, seraaaaaaaaang!” 
Peperangan antara jin dan keluarga kerajaan pun tak dielakkan lagi. Namun akhirnya 
Raja Bintara dan jinnya kalah. 
7 
Bidadari 2 : “Musnahlah kau” 
Setelah selesainya peperangan itu Nawang Wulan kembali ke mayapada untuk 
menemui kedua anaknya. 
Jaka Tengil dan Nawang Asih: “Ibuuuuuuuu” 
Nawang Wulan : “Iya anakku” 
Nawang Asih : “Apakah ibu kembali lagi?” 
Nawang Wulan : “Tidak anakku..” 
Jaka Tengil : “Kenapa bu?” 
Nawang Wulan : “Karena rumah ibu bukan disini nak” 
Jaka Tarub : “Apakah dinda akan kembali lagi ke kahyangan?” 
Nawang Wulan : “Iya kang” 
Jaka Tarub : “Lalu bagaimana kalau kami merindukanmu dinda?” 
Nawang Wulan : “Kenanglah aku ketika kalian melihat bulan. Maka aku akan 
menghibur kalian dari atas sana” 
Nawang Wulan pun kembali ke kahyangan, meninggalkan Jaka Tarub dan kedua 
anaknya. Sejak saat itu Jaka Tarub dan kedua anaknya selalu menatap rembulan di 
malam hari untuk mengenang Nawang Wulan. 
-Selesai-

Jaka tarub

  • 1.
    JAKA TARUB DAN7 BIDADARI Dahulu kala di desa terpencil, tinggallah seorang Ibu dan anaknya yang bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub sudah ditinggal ayahnya sejak ia masih kecil. Ia adalah anak yang baik. Ia suka menolong dan membantu ibunya bekerja. Jaka Tarub semakin dewasa. Rambut ibunya pun semakin memutih karena dimakan usia. Suatu hari mereka sedang bertani di sawah. Ibu Jaka Tarub : “Uhuk.. uhuk..” (batuk) Jaka Tarub : “Ibu kenapa?” Ibu Jaka Tarub : “Ibu tidak apa-apa nak. Hanya batuk biasa saja” Jaka Tarub : “Kalau begitu biar saya saja yang menyelesaikan pekerjaan Ibu 1 hari ini” Ibu Jaka Tarub : “Terima kasih nak. Ibu beruntung memiliki anak seperti kamu” Hari sudah semakin petang. Mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Ibu Jaka Tarub pun berbicara pada anaknya. Ibu Jaka Tarub : “Nak, ada yang ingin Ibu katakana padamu” Jaka Tarub : “Ada apa bu?” Ibu Jaka Tarub : “Nak, Ibu lihat kamu sudah dewasa, sudah pantas untuk meminang gadis. Lekaslah menikah, Ibu ingin menimang cucu sebelum Ibu pergi” Jaka Tarub : “Tapi saya belum ingin menikah bu” Ibu Jaka Tarub : “Tapi jika ibu sudah tiada nanti, siapa yang akan mengurusmu?” Jaka Tarub : “Jangan berbicara seperti itu bu” Ibu Jaka Tarub : “Ibu hanya merasa semakin lelah nak…” Jaka Tarub bingung dengan perkataan ibunya. Ada sesuatu hal yang aneh dari ibunya. Di subuh hari Ibu tidak seperti biasanya ibu Jaka Tarub menyiapkan secangkir kopi dan makanan untuk Jaka Tarub. Jaka Tarub : “Tumben ibu yang menyiapkan semuanya hari ini” Ibu Jaka Tarub : “Sudahlah, tidak apa-apa. Ibu ingin kamu tidak terlalu kelelahan saat bekerja” Jaka Tarub : “Terimakasih bu” Ibu Jaka Tarub : “Ya, sama-sama nak. Sepertinya hari ini ibu tidak bias pergi bertani denganmu” Ibu Jaka Tarub : “Ya sudah. Ibu istirahat saja di rumah. Saya pergi dulu bu” Jaka Tarub : “Iya nak. Hati-hati ya” Jaka pun menuju sawahnya untuk bertani. Walaupun hanya pergi bekerja sendirian ia tetap semangat demi ibunya yang sedang lemah di rumah. Tanpa ia sadari ada seorang gadis yang sedang berjalan mengikutinya. Ia adalah Laras, anak dari kepala desa. Laras : “Andai saja dia jadi suamiku. Aku pasti bahagia”
  • 2.
    Hari sudah petang.Saatnya Jaka Tarub pulang ke rumah membawa hasil panennya. Jaka Tarub : “Assalamu’alaikum bu. Bu.. bu.. Ibu kemana ya? Kok rumah 2 berantakan?” Tak lama kemudian Jaka Tarub menemukan ibunya tergeletak di lantai. Jaka Tarub : “Ibuuuuuuuuuuu!!” (menghampiri ibunya) Ibu Jaka Tarub : “Maafkan semua kesalahan ibu nak. Ibu harus pergi. Ini permintaan terakhir ibu, carilah pendamping hidupmu” Jaka Tarub : “Jangan tinggalkan Jaka buuuuuuuuu” (menangis) Jaka Tarub menyesali perbuatannya yang telah membiarkan ibunya yang lemah di rumah sendirian. Ia kemudian menyendiri dan terlihat selalu murung. Hari berganti hari, Jaka Tarub selalu teringat pada permintaan terakhir ibunya. Ia mempunyai obsesi untuk mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai keturunan yang mulia. Namun sampai saat ini ia belum juga menemukan sang kekasih. Hasil panen Jaka Tarub semakin sedikit, ia semakin terpuruk hidup sendiri. Suatu hari Jaka Tarub pergi ke hutan untuk menghilangkan beban pikirannya. (Di Kahyangan) Terlihat 7 bidadari cantik sedang meminta ijin kepada ayah dan ibunya untuk pergi ke mayapada (bumi). Bidadari 1 : “Ayah, Ibu, saya dan adik-adik mohon izin untuk pergi ke mayapada” Raja Ajisaka : “Pergilah nak, tapi ingat pada saat terompet kerajaan berbunyi kalian semua harus segera kembali ke istana” Bidadari 2 : “Iya ayah, kami semua mengerti” Bidadari 3 : “Kami akan segera kembali ketika terompet kerajaan berbunyi” Ratu SkarDewi : “Berhati- hatilah nak” 7 Bidadari : “Baik bu” Tanpa disengaja Jaka Tarub mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang bercanda. Sampai akhirnya ia menemukan 7 wanita cantik yang sedang mandi di sebuah danau. Jaka Tarub : “Wah.. wah.. ada 7 wanita cantik ternyata. Mungkin salah diantara mereka adalah jodohku” Dengan mengendap-ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat menuju danau. Kemudian ia menemukan pakaian wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah selendang dan menyembunyikannya. (Terompet Kerajaan dari kahyangan berbunyi) Bidadari 1 : “Cepat adik-adikku, saatnya kita kembali ke kahyangan. Ayah sudah memanggil kita untuk pulang”
  • 3.
    Nawang Wulan :“Tapi kak, selendang merahku tidak ada. Aku tidak bias pulang 3 tanpa selendang itu” (Bidadari yang lain sibuk mencari selendang Nawang Wulan) Bidadari 4 : “Bagaimana ini..? Padalah selendang adik Nawang Wulan tadi ada di sebelah selendangku” Bidadari 5 : “Aku sudah mencoba mencari selendang adik Nawang Wulan, tapi tak kunjung ku temukan juga” Bidadari 6 : “Ya, aku juga sudah mencoba mencarinya, apa yang harus kita lakukan kakak?” Bidadari 1 : “Kita tidak bias terus-terusan berada di mayapada. Kita harus pulang ke kahyangan sekarang juga. Maafkan kami adik Nawang Wulan, mungkin sudah takdir adik untuk tinggal di mayapada” Nawang Wulan : “Tapi kak, bagaimana dengan aku disini?” Bidadari 1 : “Kami tidak bias berbuat apa-apa Nawang Wulan. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal adik Nawang Wulan” Nawang Wulan : “Kakaaaaaaaaaaaaaaaak!!” (menangis) Keenam bidadari cantik itu pun meninggalkan Nawang Wulan sendirian. Selendang merah Nawang Wulan masih belum ia temukan. Nawang Wulan merasa kesepian dan menangis di tepi danau. Jaka Tarub pun akhirnya keluar dari persembunyiannya. Ia mendekati Nawang Wulan dan menghiburnya. Jaka Tarub : “Mengapa engkau menangis gadis cantik?” Nawang Wulan : “Selendang merahku hilang. Aku tidak bias kembali ke kahyangan tanpa selendang itu” Jaka Tarub : “Kahyangan? Jadi kau adalah seorang bidadari?” Nawang Wulan : (diam karena takut untuk menjawab) Jaka Tarub : “Tidak usah takut begitu, aku tak akan melukaimu bidadari cantik. Daripada tinggal di hutan ini sendirian, bagaimana jika kau ikut ke rumahku? Kau bias tinggal di rumahku untuk sementara” Nawang Wulan : ”Benarkah?” Jaka Tarub : “Ya, kau bias tinggal selama apapun kau mau. Pakailah ini” (memberikan sebuah selendang) Nawang Wulan : “Terima kasih” Jaka Tarub : “Oh ya, siapa namamu?” Nawang Wulan : “Aku Nawang Wulan” Jaka Tarub : “Nama yang bagus. Aku Jaka Tarub. Ayo ikuti aku” Dengan senangnya Nawang Wulan mengikuti Jaka Tarub menuju rumah Jaka Tarub. Ia menerima ajakan Jaka Tarub karena tidak tahu harus berbuat apalagi. (Di kahyangan) Kakak-kakak dari Nawang Wulan merasa takut untuk menghadapi ayah mereka. Mereka takut ayah dan ibu mereka akan marah karena mereka pulang ke kahyangan tanpa Nawang Wulan.
  • 4.
    Ketakutan mereka punakhirnya benar-benar terjadi. Raja Ajisaka : “Kemana adik kalian Nawang Wulan?” 7 Bidadari : (saling menatap 1 sama lain karena ketakutan) Ratu Sekar Dewi : “Kemana dia..? Kenapa kalian pulang tanpa adik kalian?” (menghampiri ke 6 bidadari dan bertanya dengan lembut) Bidadari 1 : “Maafkan kami ayah, ibu.. Nawang Wulan tidak bias kembali ke kahyangan karena selendangnya hilang” Bidadari 2 : “Iya ibu, selendang adik Nawang Wulan tak kunjung kami temukan meskipun sudah kami cari” Raja Ajisaka : “Ayah kecewa pada kalian karena tidak bias menjaga adik kalian” (bicara dengan nada keras) 7 Bidadari : “Maafkan kami ayah..” Ratu Sekar Dewi : “Sudahlah… jangan menyalahkan mereka. Mungkin sudah takdir Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada” (sedih) Raja Ajisaka : “Apa yang harus kita lakukan untuk Nawang Wulan patih 4 hadiyawarman?” Patih : “Hamba setuju dengan perkataan Ratu Sekar Dewi, Raja.. Mungkin sudah takdir Nawang Wulan untuk tinggal di mayapada. Jadi kita tidak perlu melakukan apa-apa. Berharaplah semoga hal buruk tidak terjadi pada Nawang Wulan” Raja Ajisaka : “Baiklah kalau begitu” Hari demi hari antara Jaka Tarub dan Nawang Wulan pun telah berlalu. Mereka semakin menyatu dan saling mengenal satu sama lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tapi ada beberapa pihak yang tidak suka dengan pernikahan mereka. Orang itu adalah Laras dan Arya. Laras dan Arya pun berencana untuk menghancurkan pernikahan Nawang Wulan dan Jaka Tarub. Laras : “Aku benci dengan pernikahan mereka” Arya : “Aku pun sama halnya dengan kamu” Laras : “Kita harus menghancurkan pernikahan mereka” Arya : “Tapi apa rencana mu?” Laras : “Kamu harus membantu aku untuk mendapatkan Jaka” Arya : “Baik, aku akan membantumu, tapi apa imbalannya untukku?” Laras : “Sebagai imbalannya aku akan membantumu untuk mendapatkan Nawang Wulan” Arya : “Baiklah, aku setuju” Mereka berdua pun terus berusaha untuk mengancurkan pernikahan Nawang Wulan dan Jaka Tarub. Namun akhirnya usaha mereka gagal. Setelah pernikahan Nawang Wulan dan Jaka Tarub sudah cukup lama, mereka dikaruniai anak kembar. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Anak mereka bernama Nawang Asih dan Jaka Tengil. Setelah Nawang Asih dan Jaka Tengil beranjak dewasa. Permasalahan antara Jaka Tarub dan Nawang Wulan pun semakin bertambah. Terusiklah rasa ingin tahu JakaTarub tentang Nawang Wulan karena hasutan Arya dan kedua teman Jaka Tarub yaitu Banyu dan Indra.
  • 5.
    Arya : “Jaka,apakah kamu tidak curiga pada istrimu?” Jaka Tarub : “Apa maksudmu?” Arya : “Bukankah selama ini istrimu Nawang Wulan selalu melarangmu untuk tidak membuka bakul yang ia gunakan untuk menanak nasi?” Jaka Tarub : “Iya, itu memang benar. Tapi apa masalahnya?” IndrA : “Apa kamu tidak curiga kenapa beras di lumbung mu masih utuh, seolah-olah tidak pernah digunakan” Banyu : “Jaka tidak akan pernah curiga teman-teman, karena dia sudah merasa bahagia mendapatkan istri secantik Nawang Wulan” Jaka Tarub : (diam merenungi perkataan teman-temannya). Pada saat Jaka Tarub pulang ke rumah ia melihat istrinya Nawang Wulan sedang memasak. Jaka Tarub : “Assalamu’alaikum…” Nawang Wulan : “Wa’alaikumsalam. Akang sudah pulang rupanya” Jaka Tarub : “Iya, ada apa memangnya Dinda?” Nawang Wulan : “Bolehkah aku meminta tolong?” Jaka Tarub : “Meminta tolong untuk apa dinda?” Nawang Wulan : “Tolong jagakan api ini karena aku sedang memasak nasi” Jaka Tarub : “Memangnya dinda mau pergi kemana?” Nawang Wulan : “Aku hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, kang” Jaka Tarub : “Baiklah, dinda” Nawang Wulan : “Tapi ingat, akang tidak boleh membuka tutup kukusan ini. Akang harus ingat dengan janji akang” Jaka Tarub : “Tenang saja Dinda. Akang tidak akan lupa dengan janji akang” Setelah Nawang Wulan pergi. Jaka Tarub ingat dengan perkataan teman-temannya. Karena hatinya dipenuh dengan rasa penasaran. Jaka Tarub pun membuka tutup kukusan yang ada di depannya. Jaka Tarub : “Hah, ternyata selama ini dinda Nawang Wulan hanya memasak dengan setangkai padi. Pantas saja selama ini padi di lumbung masih banyak. Nawang Wulan tiba-tiba datang sepulang dari mencuci pakaian di sungai. Nawang Wulan : “Sedang apakah kau akang?” (bertanya dengan nada keras) Jaka Tarub : “A… a… akang tidak sedang apa-apa dinda” (dengan terbata-bata). “Akang harus pergi ke ladang, ada pekerjaan yang harus 5 akang selesaikan” Setelah Jaka pergi Nawang Wulan pun membuka isi kukusannya. Pada saat itu juga Nawang Wulan curiga pada suaminya Jaka Tarub karena setangkai padi masih tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan itu hingga kesaktiannya hilang. Sejak saat itulah Nawang Wulan harus menumbuk dan menapi beras untuk dimasak, seperti wanita pada umumnya. Karena tumpukan padinya terus berkurang, suatu hari
  • 6.
    Nawang Wulan menemukanselendang bidadarinya yang terselip diantara tumpukan padi. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang telah menyembunyikan selendang itu. Nawang Wulan : “Ternyata selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan selendangku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi kehendak yang diatas” (Nawang Wulan bergumam) Setelah Nawang Wulan mengetahui bahwa selendangnya dicuri oleh suaminya Jaka Tarub, Nawang Wulan pun memutuskan untuk kembali ke kahyangan dan meninggalkan Jaka Tarub dan kedua anaknya. Nawang Wulan : “Kakang, maafkan aku, aku harus pergi” Jaka Tarub : “Tapi dinda bagaimana dengan anak kita Jaka Tengil dan Nawang 6 Asih?” Nawang Wulan : “Jaga kedua anak kita, kang” Jaka Tarub : “Tapi dinda aku tidak sanggup menjaga mereka berdua seorang diri” Nawang Wulan : “Aku percaya kakang bisa menjaga kedua anak kita” Nawang Asih : “Ibu, jangan tinggalkan Asih sendiri” (menangis sambil memeluk Ibunya) Jaka Tengil : “Iya bu, jangan tinggalkan kami sendiri” Nawang Wulan : “Kalian kan tidak sendiri, ada ayah kalian disini” Jaka Tengil dan Nawang Asih : “Tapi bu, kami ingin ibu bersama kami disini” Jaka Tarub : “Apa dinda tega meninggalkan Asih dan Tengil sendiri tanpa dinda disisi mereka” Nawang Wulan : “Tapi disini bukan tempatku. Tempatku adalah di kahyangan, bukan disini kang” (menangisi kedua anaknya) Akhirnya dengan penuh rasa keterpaksaan jaka dan kedua anaknya mengikhlaskan kepergian Nawang Wulan. Bahkan mereka mengantarkan kepergian Nawang Wulan. Nawang Asih : “Ibuuuuuuuuuuuu…” (menangis dan menggengam tangan Nawang Wulan) Jaka Tengil : “Ibuuuuuuuu.. jangan tinggalkan Tengil bu” Nawang Wulan : “Ibu tidak akan pergi jauh dari kalian, ibu akan mengawasi kalian dari kahyangan” Jaka Tarub : “Hati-hati dinda” Nawang Wulan pun pergi. Tapi setelah Nawang Wulan kembali ke kahyangan, Nawang Wulan tidak merasakan kebahagiaan, melainkan penderitaan. Penderitaan Nawang Wulan dan keluarganya adalah ketika kahyangan mereka di laingit diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan raja bintara yang sudah lama ingin mempersunting Nawang Wulan dan ke 6 kakaknya. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun kedua orang tua mereka. Raja Bintara : “Mana ke 7 calon istriku?” Raja Ajisaka : “Apa maksudmu?” Raja Bintara : “Mana Nawang Wulan dan ke 6 saudarinya?” Ratu Sekar Dewi : “Apa maksudmu berbicara seperti itu?”
  • 7.
    Raja Bintara :“Dulu kan saya sudah mengatakan pada kalian bahwa saya akan mempersunting ke 7 putri kalian” Bidadari 1 : “Itu kan dulu, sekarang lain lagi” 7 Bidadari : “Iya, itu kan dulu” Ratu Sekar Dewi : “Lagi pula saya sebagai ibu tidak akan mengijinkan ke 7 putri ku untuk menikah denganmu” Raja Bintara : “Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan pada kalian” Bidadari 5 : “Kami tidak takut dengan ancaman mu Bintara!” Raja Bintara : “Jangan salahakan aku jika terjadi sesuatu pada putri kalian” (menarik tangan Nawang Wulan) Raja Ajisaka : “Lepaskan putriku!” Raja Bintara : “Tidak, putrimu akan aku jadikan istri.. ha…ha..ha..” Raja Ajisaka : “Patih Hadiyawarman, bawa putriku kembali” Patih : “Baik Raja” Raja Bintara : “Prajurit, seraaaaaaaaang!” Peperangan antara jin dan keluarga kerajaan pun tak dielakkan lagi. Namun akhirnya Raja Bintara dan jinnya kalah. 7 Bidadari 2 : “Musnahlah kau” Setelah selesainya peperangan itu Nawang Wulan kembali ke mayapada untuk menemui kedua anaknya. Jaka Tengil dan Nawang Asih: “Ibuuuuuuuu” Nawang Wulan : “Iya anakku” Nawang Asih : “Apakah ibu kembali lagi?” Nawang Wulan : “Tidak anakku..” Jaka Tengil : “Kenapa bu?” Nawang Wulan : “Karena rumah ibu bukan disini nak” Jaka Tarub : “Apakah dinda akan kembali lagi ke kahyangan?” Nawang Wulan : “Iya kang” Jaka Tarub : “Lalu bagaimana kalau kami merindukanmu dinda?” Nawang Wulan : “Kenanglah aku ketika kalian melihat bulan. Maka aku akan menghibur kalian dari atas sana” Nawang Wulan pun kembali ke kahyangan, meninggalkan Jaka Tarub dan kedua anaknya. Sejak saat itu Jaka Tarub dan kedua anaknya selalu menatap rembulan di malam hari untuk mengenang Nawang Wulan. -Selesai-