Growth Mindset
Change: Paradigma
Baru Pendidikan
Kejuruan
Oleh :Resha Dwi Ayu Pangesti Mulyono, SE, MA, Ak,
CSRS, CSRA, CRP, CFRM.
Dosen Akuntansi Universitas Jember
Pembina Kelompok Kewirausahaan Muda FEB UNEJ
6394
7714
2003
6277
1954
1313
477
829
219
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
9000
Teknologi dan
Rekayasa
TIK Agribisnis dan
Agroteknologi
Bisnis dan
Manajemen
Pariwisata Kesehatan dan
Pekerjaan Sosial
Kemaritiman Seni dan Industri
Kreatif
Energi dan
Pertambangan
Jumlah SMK Berdasarkan Rumpun Ilmu
2.6
4.99
6.69
8.42
6.69
5.7
3.61
6.46
9.86
13.56
8.08
7.35
3.13
5.87
8.56
11.45
6.61 6.97
0
2
4
6
8
10
12
14
16
<SD SMP SMA SMK DIPLOMA I/II/III UNIVERSITAS
Februari 2020 Agustus 2020 Februari 2021
PERMASALAHAN?
TPT Menurut Tingkat Pendidikan (Persen)
Ketidakcocokan antara pengalaman pendidikan siswa dan praktik "dunia nyata”
(Zopiatis & Constanti, 2007)
Kesenjangan keterampilan pada saat rekrutmen dengan kebutuhan industri
(Jauhari, 2006)
Kesenjangan yang signifikan antara harapan industri dan persepsi siswa
terhadap keterampilan kunci bagi lulusan (Raybould & Wilkins, 2005)
Lulusan pendidikan kejuruan sangat kekurangan beberapa keterampilan dasar atau
kompetensi kunci yang sebagian besar merupakan keterampilan umum (Ayonmike &
Okeke, 2016)
Penyebabnya?
Saatnya Mereformasi Pendidikan Kejuruan
Fixed
Mindset
Growth
Mindset
Growth Mindset Dalam Konteks Pendidikan Kejuruan
“Growth Midset adalah keyakinan bahwa
kecerdasan dan kemampuan sesorang bisa
dikembangkan secara tak terbatas lewat
proses belajar dan usaha”
Pengembangan Growth Mindset: Pendidikan Kejuruan
• Prinsip pengembangan growth mindset dalam
pembelajaran yaitu menghadirkan tantangan kepada
siswa.
• Tanpa tantangan siswa tidak akan mendapat
kesempatan untuk mengambil resiko dan sense of
progress.
• Sementara, kondisi kenyamanan tanpa adanya
kesempatan mengambil resiko akan mendorong fixed
mindset.
Lalu apa tantangan SMK?
“Bagaimana menyiapkan lulusan yang
memiliki kualifikasi kompetensi (hard skill
dan soft skills) sesuai dengan kebutuhan
dan tuntutan dunia industri dan dunia
kerja?”
Dari penguasaan "kompetensi
sempit" kita perlu mengalihkan
penekanan kita ke penguasaan
"kompetensi luas". Atau dengan
kata lain: Dari berkonsentrasi
pada "pekerjaan" tertentu kita
perlu beralih ke memasukkan
perubahan melalui konsentrasi
pada "proses kerja".
Paradigma Kompetensi
01
Dari fokus pada "pendidikan
kejuruan", sebagai persiapan
kejuruan langsung, kita perlu
mengalihkan fokus kita ke "tahap
pengembangan kejuruan" sebagai
proses seumur hidup individu
dalam membangun karier dan
menerapkan keberlanjutan dan
kendali manusia atas teknologi
dengan memasukkan unsur
tanggung jawab.
Paradigma Pendidikan
Kejuruan
02
Meta-Orientasi
untuk
Pengembangan
Pendidikan
Kejuruan
01
Proses produksi dan proses layanan era RI 4.0 berbasis
Cyber Physical Production System (CPPS) merubah
sistem kerja, prosedur dan proses kerja.
Hadirnya Otomasi Mesin dan Robot di era RI 4.0
02
Pemanfaatan teknologi baru diyakini mampu membantu
tenaga kerja untuk bekerja secara efisien dan produktif
Teknologi RI 4.0 membantu peningkatan produktifitas kerja
03
Banyak pekerjaan unskilled dan semi skilled akan
tergantikan dengan otomasi mesin dan robot. Bahkan,
akan bermunculan fenomena hilangnya jenis pekerjaan
lama dan munculnya jenis pekerjaan baru pada era RI 4.0.
Perubahan Struktur Pola Pekerjaan di era RI 4.0
04
Sistem monitoring keterampilan dan informasi pasar kerja
sangat perlu dilakukan oleh dunia pendidikan untuk menjamin
kesesuaian kualifikasi lulusan dengan kebutuhan dunia
industri.
Skill Matching antara dunia pendidikan dan dunia industri
TUNTUTAN DUNIA KERJA
70%
of predictable tasks
such as collecting
and processing
data and physical
activities have high
potential to be
automated
TANTANGAN
Saat ini, SMK masih sulit menjawab kebutuhan dunia kerja
sehingga kondisi ini perlu dibenahi.
Kesempatan peningkatan kompetensi
guru, kepala sekolah, dan pengawas SMK
sesuai kebutuhan dunia kerja masih sedikit
Belum semua SMK memiliki fasilitas yang
sesuai standar
Sinergi pemangku kepentingan,
termasuk dunia kerja, pada program
pengembangan SMK masih kurang
Belum semua SMK mengembangkan
kurikulum bersama dunia kerja
Manajemen sekolah masih cenderung
terbebani hal-hal administratif
Perlu ada solusi komprehensif
untuk menjawab tantangan
dalam rangka pembenahan
kondisi SMK sejalan dengan
kebutuhan dunia kerja.
Penguatan Kerjasama dengan IDUKA
Model sinkronisasi: Triple Helix, Penta Helix ….
Meningkatkan relevansi, kualitas dan daya tarik dengan:
1. Mengaktifkan WBL Pembelajaran Berbasis Kerja
2. Mencocokkan kebutuhan pasar tenaga kerja:
 Sebagian besar sistem TVET digerakkan oleh pasokan, terutama di negara
dengan pendekatan pendidikan akademis;
 Sistem yang digerakkan oleh permintaan bekerja seperti pasar.
3. Memastikan pelatihan praktis berkualitas tinggi:
 Sekolah tidak dapat menyediakan teknologi terkini;
 Guru TVET di sekolah seringkali tidak memiliki kompetensi praktis;
Stakeholders
SDM dan Pelatih DUDI
Ekonomi / Masyarakat
05
02
03
04
01
Orang Tua
Payung Organisasi
• Semua pemangku
kepentingan memiliki
perbedaan; Hak,
tuntutan, dan
kepentingan tetapi juga
tugas dan tanggung
jawab
• Jika mereka semua pada
dasarnya terpenuhi dan
sejalan, maka Kerja
sama TVET akan
berhasil
Lembaga TVET Pengajar
TVET
Keselarasan Pasokan dan Permintaan
Supply Demand
Kebutuhan kualifikasi
tenaga kerja
Jumlah kebutuhan
tenaga kerja
Pemetaaan kebutuhan
sektor industri
Waktu kebutuhannya
Kualitas lulusan SMK
Jumlah lulusan SMK
Distribusi kerja
Pasokan lulusan setiap
tahunnya
LINK
&
MATCH
Keselarasan Pasokan dan Permintaan
Mekanisme Kerjsama IDUKA dan SMK
Keuntungan Keterkaitan
WBL adalah pembelajaran yang terjadi ketika orang melakukan pekerjaan nyata.
Pekerjaan ini bisa dibayar atau tidak, tetapi harus pekerjaan nyata yang
mengarah pada produksi barang dan jasa nyata. WBL di TVET biasanya
digabungkan dengan pembelajaran berbasis kelas.
WBL + kebutuhan
pasar naker + jaminan
kualitas pelatihan kerja
Meningkatkan kualitas
dan daya tarik TVET
Tantangan Kerjasama IDUKA
 Di banyak negara, sektor bisnis enggan terlibat dalam pendidikan.
 Kerja sama seringkali hanya dengan basa-basi
 Terutama sistem berbasis sekolah dan akademis menderita karenanya
 Mungkin tidak ada tradisi untuk melatih tenaga terampil yang berkualitas.
 TVET didefinisikan sebagai tugas negara
 Sektor bisnis tidak melihat hubungan biaya-manfaat yang positif
 Jika perusahaan terlibat, mereka lebih memilih institusi pendidikan tinggi
 Tidak ada cara lain untuk secara proaktif meyakinkan perusahaan untuk
terlibat
Bisnis
(Modal
Uang) vs
Modal
Manusia
School Based Learning on-the-job
Cooperation
BAGAIMANA BENTUK KESELARASAN MENDALAM DAN
MENYELURUH SMK PUSAT KEUNGGULAN DENGAN DUNIA KERJA?
Tidak hanya MoU, tapi juga dengan:
i
Link & Match
Keterlibatan dunia kerja di
segala aspek penyelenggaraan
pendidikan vokasi
Kurikulum disusun bersama
termasuk penguatan aspek softskills dan karakter
kebekerjaan untuk melengkapi aspek hardskills
yang sesuai kebutuhan dunia kerja
Pembelajaran berbasis project riil dari dunia
kerja (PBL)
untuk memastikan hardskills akan
disertai softskills dan karakter yang kuat
Jumlah dan peran guru/instruktur dari industri
dan ahli dari dunia kerja ditingkatkan secara
signifikan (sampai minimal mencapai 50
jam/semester/ program keahlian)
Praktik kerja
lapangan/industri
minimal 1 semester
1
2
3
4
Sertifikasi kompetensi yang
sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja (bagi
lulusan dan bagi guru/instruktur)
Riset terapan mendukung teaching factory
yang bermula dari kasus atau kebutuhan
Komitmen serapan
lulusan oleh dunia kerja
5
6
7
8
i
Update teknologi dan pelatihan
bagi guru/instruktur
secara rutin dari dunia kerja
Berbagai kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan dengan dunia
kerja, antara lain:
✔ Beasiswa dan/atau ikatan dinas
✔ Donasi dalam bentuk peralatan laboratorium, atau dalam bentuk lainnya
✔ dan lain sebagainya
Pengaruh Pengalaman Belajar Siswa
M.Bruri Triyono
Kunjungan
ke DUDI
Proyek
Latihan
Praktik
Industri
Magang
Kelas
Industri
Pengalaman Belajar
Rendah
Pengalaman
Belajar
Tinggi
KETERSERAPAN LULUSAN
PUSAT KEUNGGULAN
KESELARASAN DUNIA KERJA
KUALITAS & KINERJA
Meningkatkan kualitas dan
kinerja manajemen
pengelolaan dan
penyelenggaraan SMK
Mencapai keselarasan
pendidikan vokasi yang
mendalam dan menyeluruh
dengan dunia usaha, dunia
industri, dan dunia kerja lainnya
Menghasilkan lulusan yang
terserap di dunia usaha, dunia
industri, dan dunia kerja lainnya
atau menjadi wirausaha
Menciptakan pusat peningkatan
kualitas dan kinerja dan menjadi
inspirasi serta rujukan /
pengimbasan bagi SMK lainnya.
Target Program SMK Pusat Keunggulan
TERIMA KASIH

Growth mindset change.pptx

  • 1.
    Growth Mindset Change: Paradigma BaruPendidikan Kejuruan Oleh :Resha Dwi Ayu Pangesti Mulyono, SE, MA, Ak, CSRS, CSRA, CRP, CFRM. Dosen Akuntansi Universitas Jember Pembina Kelompok Kewirausahaan Muda FEB UNEJ
  • 2.
    6394 7714 2003 6277 1954 1313 477 829 219 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 Teknologi dan Rekayasa TIK Agribisnisdan Agroteknologi Bisnis dan Manajemen Pariwisata Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Kemaritiman Seni dan Industri Kreatif Energi dan Pertambangan Jumlah SMK Berdasarkan Rumpun Ilmu
  • 3.
    2.6 4.99 6.69 8.42 6.69 5.7 3.61 6.46 9.86 13.56 8.08 7.35 3.13 5.87 8.56 11.45 6.61 6.97 0 2 4 6 8 10 12 14 16 <SD SMPSMA SMK DIPLOMA I/II/III UNIVERSITAS Februari 2020 Agustus 2020 Februari 2021 PERMASALAHAN? TPT Menurut Tingkat Pendidikan (Persen)
  • 4.
    Ketidakcocokan antara pengalamanpendidikan siswa dan praktik "dunia nyata” (Zopiatis & Constanti, 2007) Kesenjangan keterampilan pada saat rekrutmen dengan kebutuhan industri (Jauhari, 2006) Kesenjangan yang signifikan antara harapan industri dan persepsi siswa terhadap keterampilan kunci bagi lulusan (Raybould & Wilkins, 2005) Lulusan pendidikan kejuruan sangat kekurangan beberapa keterampilan dasar atau kompetensi kunci yang sebagian besar merupakan keterampilan umum (Ayonmike & Okeke, 2016) Penyebabnya?
  • 5.
    Saatnya Mereformasi PendidikanKejuruan Fixed Mindset Growth Mindset
  • 6.
    Growth Mindset DalamKonteks Pendidikan Kejuruan “Growth Midset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan sesorang bisa dikembangkan secara tak terbatas lewat proses belajar dan usaha”
  • 7.
    Pengembangan Growth Mindset:Pendidikan Kejuruan • Prinsip pengembangan growth mindset dalam pembelajaran yaitu menghadirkan tantangan kepada siswa. • Tanpa tantangan siswa tidak akan mendapat kesempatan untuk mengambil resiko dan sense of progress. • Sementara, kondisi kenyamanan tanpa adanya kesempatan mengambil resiko akan mendorong fixed mindset.
  • 9.
    Lalu apa tantanganSMK? “Bagaimana menyiapkan lulusan yang memiliki kualifikasi kompetensi (hard skill dan soft skills) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia industri dan dunia kerja?”
  • 10.
    Dari penguasaan "kompetensi sempit"kita perlu mengalihkan penekanan kita ke penguasaan "kompetensi luas". Atau dengan kata lain: Dari berkonsentrasi pada "pekerjaan" tertentu kita perlu beralih ke memasukkan perubahan melalui konsentrasi pada "proses kerja". Paradigma Kompetensi 01 Dari fokus pada "pendidikan kejuruan", sebagai persiapan kejuruan langsung, kita perlu mengalihkan fokus kita ke "tahap pengembangan kejuruan" sebagai proses seumur hidup individu dalam membangun karier dan menerapkan keberlanjutan dan kendali manusia atas teknologi dengan memasukkan unsur tanggung jawab. Paradigma Pendidikan Kejuruan 02 Meta-Orientasi untuk Pengembangan Pendidikan Kejuruan
  • 11.
    01 Proses produksi danproses layanan era RI 4.0 berbasis Cyber Physical Production System (CPPS) merubah sistem kerja, prosedur dan proses kerja. Hadirnya Otomasi Mesin dan Robot di era RI 4.0 02 Pemanfaatan teknologi baru diyakini mampu membantu tenaga kerja untuk bekerja secara efisien dan produktif Teknologi RI 4.0 membantu peningkatan produktifitas kerja 03 Banyak pekerjaan unskilled dan semi skilled akan tergantikan dengan otomasi mesin dan robot. Bahkan, akan bermunculan fenomena hilangnya jenis pekerjaan lama dan munculnya jenis pekerjaan baru pada era RI 4.0. Perubahan Struktur Pola Pekerjaan di era RI 4.0 04 Sistem monitoring keterampilan dan informasi pasar kerja sangat perlu dilakukan oleh dunia pendidikan untuk menjamin kesesuaian kualifikasi lulusan dengan kebutuhan dunia industri. Skill Matching antara dunia pendidikan dan dunia industri
  • 12.
  • 15.
    70% of predictable tasks suchas collecting and processing data and physical activities have high potential to be automated
  • 16.
    TANTANGAN Saat ini, SMKmasih sulit menjawab kebutuhan dunia kerja sehingga kondisi ini perlu dibenahi. Kesempatan peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah, dan pengawas SMK sesuai kebutuhan dunia kerja masih sedikit Belum semua SMK memiliki fasilitas yang sesuai standar Sinergi pemangku kepentingan, termasuk dunia kerja, pada program pengembangan SMK masih kurang Belum semua SMK mengembangkan kurikulum bersama dunia kerja Manajemen sekolah masih cenderung terbebani hal-hal administratif Perlu ada solusi komprehensif untuk menjawab tantangan dalam rangka pembenahan kondisi SMK sejalan dengan kebutuhan dunia kerja.
  • 17.
    Penguatan Kerjasama denganIDUKA Model sinkronisasi: Triple Helix, Penta Helix …. Meningkatkan relevansi, kualitas dan daya tarik dengan: 1. Mengaktifkan WBL Pembelajaran Berbasis Kerja 2. Mencocokkan kebutuhan pasar tenaga kerja:  Sebagian besar sistem TVET digerakkan oleh pasokan, terutama di negara dengan pendekatan pendidikan akademis;  Sistem yang digerakkan oleh permintaan bekerja seperti pasar. 3. Memastikan pelatihan praktis berkualitas tinggi:  Sekolah tidak dapat menyediakan teknologi terkini;  Guru TVET di sekolah seringkali tidak memiliki kompetensi praktis;
  • 18.
    Stakeholders SDM dan PelatihDUDI Ekonomi / Masyarakat 05 02 03 04 01 Orang Tua Payung Organisasi • Semua pemangku kepentingan memiliki perbedaan; Hak, tuntutan, dan kepentingan tetapi juga tugas dan tanggung jawab • Jika mereka semua pada dasarnya terpenuhi dan sejalan, maka Kerja sama TVET akan berhasil Lembaga TVET Pengajar TVET
  • 19.
    Keselarasan Pasokan danPermintaan Supply Demand Kebutuhan kualifikasi tenaga kerja Jumlah kebutuhan tenaga kerja Pemetaaan kebutuhan sektor industri Waktu kebutuhannya Kualitas lulusan SMK Jumlah lulusan SMK Distribusi kerja Pasokan lulusan setiap tahunnya
  • 20.
  • 21.
  • 22.
    Keuntungan Keterkaitan WBL adalahpembelajaran yang terjadi ketika orang melakukan pekerjaan nyata. Pekerjaan ini bisa dibayar atau tidak, tetapi harus pekerjaan nyata yang mengarah pada produksi barang dan jasa nyata. WBL di TVET biasanya digabungkan dengan pembelajaran berbasis kelas. WBL + kebutuhan pasar naker + jaminan kualitas pelatihan kerja Meningkatkan kualitas dan daya tarik TVET
  • 23.
    Tantangan Kerjasama IDUKA Di banyak negara, sektor bisnis enggan terlibat dalam pendidikan.  Kerja sama seringkali hanya dengan basa-basi  Terutama sistem berbasis sekolah dan akademis menderita karenanya  Mungkin tidak ada tradisi untuk melatih tenaga terampil yang berkualitas.  TVET didefinisikan sebagai tugas negara  Sektor bisnis tidak melihat hubungan biaya-manfaat yang positif  Jika perusahaan terlibat, mereka lebih memilih institusi pendidikan tinggi  Tidak ada cara lain untuk secara proaktif meyakinkan perusahaan untuk terlibat Bisnis (Modal Uang) vs Modal Manusia School Based Learning on-the-job Cooperation
  • 24.
    BAGAIMANA BENTUK KESELARASANMENDALAM DAN MENYELURUH SMK PUSAT KEUNGGULAN DENGAN DUNIA KERJA? Tidak hanya MoU, tapi juga dengan: i Link & Match Keterlibatan dunia kerja di segala aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi Kurikulum disusun bersama termasuk penguatan aspek softskills dan karakter kebekerjaan untuk melengkapi aspek hardskills yang sesuai kebutuhan dunia kerja Pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja (PBL) untuk memastikan hardskills akan disertai softskills dan karakter yang kuat Jumlah dan peran guru/instruktur dari industri dan ahli dari dunia kerja ditingkatkan secara signifikan (sampai minimal mencapai 50 jam/semester/ program keahlian) Praktik kerja lapangan/industri minimal 1 semester 1 2 3 4 Sertifikasi kompetensi yang sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja (bagi lulusan dan bagi guru/instruktur) Riset terapan mendukung teaching factory yang bermula dari kasus atau kebutuhan Komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja 5 6 7 8 i Update teknologi dan pelatihan bagi guru/instruktur secara rutin dari dunia kerja Berbagai kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan dengan dunia kerja, antara lain: ✔ Beasiswa dan/atau ikatan dinas ✔ Donasi dalam bentuk peralatan laboratorium, atau dalam bentuk lainnya ✔ dan lain sebagainya
  • 25.
    Pengaruh Pengalaman BelajarSiswa M.Bruri Triyono Kunjungan ke DUDI Proyek Latihan Praktik Industri Magang Kelas Industri Pengalaman Belajar Rendah Pengalaman Belajar Tinggi
  • 26.
    KETERSERAPAN LULUSAN PUSAT KEUNGGULAN KESELARASANDUNIA KERJA KUALITAS & KINERJA Meningkatkan kualitas dan kinerja manajemen pengelolaan dan penyelenggaraan SMK Mencapai keselarasan pendidikan vokasi yang mendalam dan menyeluruh dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja lainnya Menghasilkan lulusan yang terserap di dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja lainnya atau menjadi wirausaha Menciptakan pusat peningkatan kualitas dan kinerja dan menjadi inspirasi serta rujukan / pengimbasan bagi SMK lainnya. Target Program SMK Pusat Keunggulan
  • 27.