i
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Telah Memberikan Segala Nikmat
Dan Rahmatnya Sehingga Penulis Dapat Menyelesaikan Refarat Dengan Judul “ Dermatitis
Kontak Toksik ” Yang Diajukan Sebagai Persyarat Untuk Mengikuti Kks Ilmu Penyakit Kulit
Dan Kelamin.
Pada Kesempatan Ini Penulis Mengucapkan Terimakasih Kepada Dr. Hj. Hervina,
Sp.Kk FINDV, MKM Selaku Pembimbing Saya Sehingga Refarat Ini Dapat Selesai Pada
Waktunya.
Mohon Maaf Jika Dalam Penulisan Refarat Ini Masih Terdapat Kesalahan. Kritikan
Dan Saran Sangat Saya Harapkan Sebagai Penyempurnaan Laporan Kasus Ini. Atas Perhatian
Dan Sarannya Saya Ucapkan Terima Kasih.
Binjai, November 2020
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ................................................................................... I
Daftar Isi ............................................................................................ II
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang............................................................ 1
Bab Ii Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi......................................................................... 2
2.2 Etiologi ...................................................................... 2
2.3 Epidemiologi............................................................... 2
2.4 Faktor Resiko.............................................................. 3
2.5 Diagnosis ................................................................... 3
2.5.1 Anamnesa ......................................................... 3
2.5.2 Pemeriksaan Fisik ............................................ 3
2.5.3 Pemeriksaan Penunjang ................................... 3
2.6 Patogenesis ................................................................ 4
2.7 Patofisiologi ............................................................. 4
2.8 Diagnosa Banding ..................................................... 5
2.9 Penatalaksanaan ........................................................ 5
2.9.1 Non Farmakologi ............................................. 5
2.9.2 Farmakologi ..................................................... 5
2.10 Edukasi ................................................................... 6
2.11 Komplikasi .............................................................. 6
2.12 Prognosis ................................................................ 6
2.13 Profesionalisme......................................................... 6
Bab V Penutup
3.1 Kesimpulan......................................................................... 7
Daftar Pustaka .................................................................................... III
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dermatitis adalah suatu peradangan kulit yang terjadi sebagai adanya respon tubuh
terhadap faktor eksogen dan atau faktor endogen, sehingga nantinya akan menimbulkan
suatu keadaan klinis yaitu berupa timbulnya efloresensi yang polimorfik berupa eritema,
edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi dan disertai keluhan gatal yang terjadi pada
bagian kulit dermis dan epidermis. Inflamasi akut atau kronis dari suatu zat yang
bersentuhan dengan kulit. Dibagi menjadi dua jenis dermatitis kontak yaitu, dermatitis
kontak iritan (DKI) disebabkan oleh iritasi kimia, memunculkan reaksi hipersensitivitas
tipe IV, yaitu cell-mediated atau tipe lambat. Karena DKI bersifat toksik, maka reaksi
inflamasi hanya terbatas pada daerah paparan, batasnya tegas dan tidak pernah menyebar.
(Nanto et al., 2015)
Indonesia sekitar 90% penyakit kulit akibat kerja merupakan dermatitis kontak, baik
iritan maupun alergik.2 Penyakit kulit akibat kerja dapat berupa dermatitis dan urtikaria.
Dermatitis kontak merupakan 50% dari semua penyakit akibat kerja, terbanyak bersifat
nonalergi atau iritan. Dermatitis kontak akibat kerja merupakan salah satu kelainan kulit
yang sering dijumpai.Kelainan kulit ini dapat ditemukan sekitar 85% sampai 98% dari
seluruh penyakit kulit akibat kerja. Insiden dermatitis kontak akibat kerja diperkirakan
sebanyak 0,5 sampai 0,7 kasus per 1000 pekerja per tahun. Dermatitis kontak akibat kerja
biasanya terjadi di tangan dan angka insiden untuk dermatitis bervariasi antara 2% sampai
10%.Perlu dicatat bahwa 80% dari dermatitis kontak akibat kerja atau dan 20% alergi.
Namun, data terakhir dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persentase
dermatitis kontak akibat kerja karena alergi mungkin jauh lebih tinggi, berkisar antara 50
dan 60 persen, sehingga meningkatkan dampak ekonomi dari kerja DKA. (Nanto et al.,
2015)
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan lokal non
imunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun
endogen. Dengan patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung tanpa
didahului proses sensitisasi. (Indrawan et al., 2015) (Nanto et al., 2015)
Gambar. 2.1 Dermatitis Kontak Toksisk
2.2 Etiologi
Disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Faktor eksogen
berupa bahan-bahan iritan (kimiawi, fisik, maupun biologik) dan faktor endogen
memegang peranan penting pada penyakit ini. Dermatitis Kontak Iritan ini merupakan
salah satu penyakit kulit akibat kerja. Penyakit ini ditandai dengan peradangan kulit
polimorfik yang mempunyai ciri-ciri yang luas, meliputi : rasa gatal, kemerahan, skuama,
vesikel, dan krusta papulovesikel. (Indrawan et al., 2015)
2.3 Epidemiologi
Besarnya insidensi penyakit kulit akibat kerja yang merupakan dermatitis
kontak sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit
karena sebab lain. Pada studi epidemiologi, diIndonesia memperlihatkan bahwa 97%
dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis
3
kontak iritan dan 33,7% adalah dermatitis kontak alergi.5 Pada wilayah Lampung
sendiri, didapatkan data prevalensi pekerja terkenanya dermatitis kontak sekitar 63%,
ini didapat menurut survailence tahunan yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi
Lampung pada tahun 2012 dan menjadi peringkat pertama penyakit kulit yang paling
sering dialami. (Nanto et al., 2015)
2.4 Faktor Risiko
Beberapa peneltian sebelumnya mengenai hubungan insidensi terkenanya dermatitis
kontak akibat kerja pada pekerja yang berkontak langsung dengan bahan-bahan alergen
dan iritan, menunjukkan bahwa dermatitis kontak terjadi dikarenakan tidak maksimalnya
penggunaan alat pelindung diri dalam bekerja dan buruknya kebersihan diri atau personal
hygiene para pekerja setelah melakukan pekerjaan Berdasarkan penelitian, dermatitis
kontak itu sendiri banyak ditemukan pada pekerja, khususnya pada pekerja selokan dan
tukang sapu jalan yang langsung berkontak dengan bahan-bahan alergen, iritan tanpa
perlindungan diri yang memadai dan tingkat kebersihan diri yang buruk. Hal ini diperkuat
dengan beberapa peneltian sebelumnya mengenai hubungan insidensi terkenanya
dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja yang berkontak langsung dengan bahan-bahan
alergen dan iritan, menunjukkan bahwa dermatitis kontak terjadi dikarenakan tidak
maksimalnya penggunaan alat pelindung diri dalam bekerja dan buruknya kebersihan diri
para pekerja setelah melakukan pekerjaan. . (Nanto et al., 2015)
2.5 Diagnosa
2.5.1 Anamnessa.
Biasanya kelainan kulit timbul beberapa saat sesudah kontak pertama dengan
kontaktan eksternal. Penderita akan mengeluh rasa panas, nyeri atau gatal. (Sefri
Hardiansyah, 2018)
2.5.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik berdasarkan efloresensi kulit yang terlihat seperti adanya
macula eritema berbatas tegas, hyperkeratosis, fisura, vesikel, penampilan epidermis yang
mengkilap, kering atau melepuh.(Smf et al., 2016)
2.5.2 Pemeriksaan Penunjang
Tes tempel dan uji KOH, tes temple (patch test) adalah tes definitif untuk
memastikan jenis dermatitis yang diderita oleh pasien. Pelaksanaan uji tempel
4
dilaksanakan setelah gejala dermatitis yang diderita sembuh, bila memungkinkan
lakukan setelah 3 minggu dari gejala pertama muncul. Lokasi untuk melakukan uji
temple biasanya dilakukan pada permukaan kulit punggung atau dilakukan pada
permukaan kulit lengan atas. Hasil positif dapat berupa eritema dengan utikaria sampai
vesikel atau bula, jika penyebabnya karena iritasi, reaksi akan menurun setelah 48 jam
(reaksi tipe descrendo), sedangkan pada dermatitis alergi reaksi akan meningkat (reaksi
tipe crescendo). Uji KOH merupakan pemerksaan laboratorium untuk mengetahi adanya
hifa dan spora jamur. Pasien ini tidak dilakukan tes temple, namun dilakukan tes KOH
yang bertujuan untuk menyingkirkan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur, hasil
KOH pada pasien ini tidak ditemukan adanya hifa maupun spora jamur. (Smf et al.,
2016).
2.5 Patogenesis
meskipun patogenesis biokimia di belakang SCd tetap dijelaskan sepenuhnya, itu
diteorikan untuk melibatkan reaksi hipersensitivitas tipe iV yang dimediasi sel-t, seperti
yang terlihat di aCd. antigen presenting cells (aPCs) yang berada di epidermis, ( misalnya
immature dendritic cells [dCs]), secara strategis diposisikan sebagai sensor sentral untuk
sistem imun bawaan dan adaptif. DC ini secara aktif mengambil haptens dan, bersama
dengan keratinosit, selanjutnya mengeluarkan sitokin inflamasi: IL-1β, TNF-α, il-6, il-12,
dan Gm-CSF, yang mendorong emigrasinya. 5 dC yang teraktivasi bermigrasi ke sel t
yang dominan zona parakortikal kelenjar getah bening dan limpa tempat mereka
merangsang sel-sel t naif dengan memasukkannya ke antigen. Aktivasi oleh antigen
spesifik menghasilkan ekspresi sel T penanda kulit seperti antigen limfosit kulit, penanda
migrasi yang memungkinkan sel t kembali ke jaringan perifer ( misalnya kulit, usus, dan
paru-paru) dan menemukan kembali antigennya. (Rundle et al., 2019)
2.6 Patofisiologi
Sedangkan Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan kulit
nonimunologik, dengan patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung
tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan sangat berbeda dengan
dermatitis kontak alergi dari proses terjadinya yaitu dimana bahan iritan atau toksin
merusak membrane lemak keratinosit, tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan
merusak lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Kerusakan membran akan
mengaktifkan enzim fosfolipase yang akan merubah fosfolipid menjadi asam arakhidonat
5
(AA), diasilgliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), dan inositida (IP3). AA
diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT). PG dan LT menginduksi
vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga mempermudah transudasi
komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk
limfosit dan neutrofil, serta mengaktivasi sel mast melepaskan histamin, PG dan LT lain,
sehingga memperkuat perubahan vaskular. (Nanto et al., 2015)
2.7 Diagnosis Banding
 Dermatitits seboroik
Ketombe merupakan spektrum berkelanjutan dari penyakit yang sama yang
memengaruhi area seboroik tubuh. Ketombe terbatas pada kulit kepala, dan
melibatkan kulit yang gatal dan mengelupas tanpa peradangan yang terlihat.
(Forbes et al., 2018)
 Dermatitits Tinea Barbae
Tinea barbae adalah infeksi dermatofita di daerah jenggot pada muka dan leher
dan hanya terbatas pada laki-laki dewasa. Jamur pada janggut ini juga dikenal
sebagai tinea sycosis dan umumnya juga sering disebut sebagai barber’s
itchPenderita biasanya mengeluh gatai dan pedih pada daerah yang terkena, disertai
bintik-bintik kemerahan yang terkadang bemanah. (gunawan, 2016). (Sefri
Hardiansyah, 2018)
2.8 Penatalaksanaan
2.9.1 Non Farmakologi
TIDAK ADA
2.9.2 farmakologi
2.9.2.1 Sistemik
- Kortikosteroid seperti prednison 40-60 mg/hari pada orang dewasa.(Sefri
Hardiansyah, 2018)
- prednisone dan metilprednisolon. Dosis awal pemberian prednisone 30 mg
pada hari pertama, kemudian diturunkan secara berkala sebanyak 5 mg setiap
harinya. Antihistamin diberikan untuk mendapatkan efek sedatif guna
mengurangi gejala gatal, dosis dan jenis antihistamin yang diberikan ialah
CTM 4 mg 3-4 kali sehari.(Smf et al., 2016)
6
2.9.2.2 Topikal
kortikosteroid digunakan sebagai antiinflamasi, supresi aktivitas mitotik, dan
vasokonstriksi. Efek steroid juga dapat mensupresi pengeluaran histamine, sehingga
bisa juga sebagai antipruritus. (Pustaka,2017)
2.10 Edukasi
1. Menghindari Alergen Setelah kemungkinan penyebab masalah dermatologi
pasien telah ditentukan oleh uji tempel, sangat penting untuk menyampaikan
informasi ini kepada pasien dengan cara yang mudah dimengerti. Ini melibatkan
penjelasan cermat terhadap bahan yang mengandung alergen.
2. Menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri. (Nanto et al., 2015)
3. menggunakan sarung tangan saat berkerja agar tidak terpapar bahan iritan. (Smf
et al., 2016)
2.11 Komplikasi
1. Peningkatan risiko sensitisasi terhadap terapi topikal
2. Lesi pada kulit dapat dikolonisasi oleh bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini
dipermudah jika terjadi lesi sekunder, seperti fissure akibat manipulasi yang
dilakukan penderita.
3. Secondary neurodermatitis (lichen simplex chronicus) akibat penderita
dermatitis kontak iritan yang mengalami stress psikis.
4. Pada fase post inflamasi dapat terjadi hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
5. Scar, biasanya setelah terkena agen korosif.(Pustaka, 2017)
2.12 Prognosis
Prognosis dermatitis kontak alergi umumnya baik, sejauh bahan kontaktannya
dapat disingkirkan. Prognosis kurang baik dan menjadi kronis, bila bersamaan dengan
dermatitis oleh faktor endogen (dermatitis atopik, dermatitis numularis, atau
psoriasis), atau pajanan dengan bahan iritan yang tidak mungkin dihindari.
(DKI_dan_DKA, n.d. 2015)
2.13 Profesionalisme
7
Membantu mengontrol kesembuhan pasien dengan pemberian obat dan dosis
yang tepat. Dan kontrol ulang, bila keadaan tidak membaik bisa dirujuk ke dokter
spesialis kulit dan kelamin. (tiyas et al., 2015)
BAB III
KESIMPULAN
Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan lokal non imunologik
pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Dengan
patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses
sensitisasi. (Indrawan et al., 2015) (Nanto et al., 2015)
Besarnya insidensi penyakit kulit akibat kerja yang merupakan dermatitis kontak
sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit karena sebab lain.
Pada studi epidemiologi, diIndonesia memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah
dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak. (Smf et al., 2016)
Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan: Biasanya
kelainan kulit timbul beberapa saat sesudah kontak pertama dengan kontaktan eksternal.
Penderita akan mengeluh rasa panas, nyeri atau gatal. (Sefri Hardiansyah, 2018)
Umum: Hindari sumber toksik. Pengobatan bergantung jenis iritan; jika asam kuat,
tindakan berupa pencucian dengan air, kemudian basa dan natrium bikarbonat. Setelah dicuci
diberi salep atau krim kortikosteroid. Sistemik: Kortikosteroid seperti prednison 40-60
mg/hari pada orang dewasa. (Sefri Hardiansyah, 2018)
8
DAFTAR PUSTAKA
1. Forbes, M. K., Eaton, N. R., & Krueger, R. F. (2018). Akses Publik HHS Naskah
penulis. 305, 1–24.
2. Gunawan, I. (2016). Tinea Barbae poză. 1–16.
http://medicinembbs.blogspot.ro/2013/03/fungal-infections.html
3. Indrawan, I., Suwondo, A., & Lestantyo, D. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan Pada Pekerja Bagian Premix Di PT. X
Cirebon. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 2(2), 110–118.
4. Nanto, S. S., Kedokteran, F., & Lampung, U. (2015). Kejadian Timbulnya Dermatitis
Kontak Pada Petugas Kebersihan Contact DermatitisEventsDue toWorkOnHygiene
Personnel. 4(November), 147–152.
5. Pustaka, T. (2017). Dermatitis kontak alergi. Referat_tentang_DKI_dan_DKA. (n.d.).
6. Rundle, C. W., Machler, B. C., & Jacob, S. E. (2019). Pathogenesis and causations of
systemic contact dermatitis. Giornale Italiano Di Dermatologia e Venereologia,
154(1), 42–49. https://doi.org/10.23736/S0392-0488.18.06113-8
7. Sefri Hardiansyah, E. (2018). 済無No Title No Title. In Jurnal Abdimas Dewantara
(Vol. 53, Issue 9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
8. Smf, B., Kesehatan, I., Fakultas, K., Universitas, K., Rumah, U., Umum, S., &
Sanglah, P. (2016). EDUKASI DAN PENATALAKSANAAN DERMATITIS KONTAK
IRITAN KRONIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI TAHUN 2014 / 2015 I Putu
9. Gilang Iswara Wijaya , IGK Darmada , Luh Made Mas Rusyati. 5(8), 2014–2017.
10. Tiyas, M., Basuki, R., Ratnaningrum, K., & Indrastiti, R. (2015). Buku ajar sistim
integumen.

Full text dd dkt

  • 2.
    i KATA PENGANTAR Puji SyukurKepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Telah Memberikan Segala Nikmat Dan Rahmatnya Sehingga Penulis Dapat Menyelesaikan Refarat Dengan Judul “ Dermatitis Kontak Toksik ” Yang Diajukan Sebagai Persyarat Untuk Mengikuti Kks Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Pada Kesempatan Ini Penulis Mengucapkan Terimakasih Kepada Dr. Hj. Hervina, Sp.Kk FINDV, MKM Selaku Pembimbing Saya Sehingga Refarat Ini Dapat Selesai Pada Waktunya. Mohon Maaf Jika Dalam Penulisan Refarat Ini Masih Terdapat Kesalahan. Kritikan Dan Saran Sangat Saya Harapkan Sebagai Penyempurnaan Laporan Kasus Ini. Atas Perhatian Dan Sarannya Saya Ucapkan Terima Kasih. Binjai, November 2020 Penulis
  • 3.
    ii DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar................................................................................... I Daftar Isi ............................................................................................ II Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang............................................................ 1 Bab Ii Tinjauan Pustaka 2.1 Definisi......................................................................... 2 2.2 Etiologi ...................................................................... 2 2.3 Epidemiologi............................................................... 2 2.4 Faktor Resiko.............................................................. 3 2.5 Diagnosis ................................................................... 3 2.5.1 Anamnesa ......................................................... 3 2.5.2 Pemeriksaan Fisik ............................................ 3 2.5.3 Pemeriksaan Penunjang ................................... 3 2.6 Patogenesis ................................................................ 4 2.7 Patofisiologi ............................................................. 4 2.8 Diagnosa Banding ..................................................... 5 2.9 Penatalaksanaan ........................................................ 5 2.9.1 Non Farmakologi ............................................. 5 2.9.2 Farmakologi ..................................................... 5 2.10 Edukasi ................................................................... 6 2.11 Komplikasi .............................................................. 6 2.12 Prognosis ................................................................ 6 2.13 Profesionalisme......................................................... 6 Bab V Penutup 3.1 Kesimpulan......................................................................... 7 Daftar Pustaka .................................................................................... III
  • 4.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Dermatitis adalah suatu peradangan kulit yang terjadi sebagai adanya respon tubuh terhadap faktor eksogen dan atau faktor endogen, sehingga nantinya akan menimbulkan suatu keadaan klinis yaitu berupa timbulnya efloresensi yang polimorfik berupa eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi dan disertai keluhan gatal yang terjadi pada bagian kulit dermis dan epidermis. Inflamasi akut atau kronis dari suatu zat yang bersentuhan dengan kulit. Dibagi menjadi dua jenis dermatitis kontak yaitu, dermatitis kontak iritan (DKI) disebabkan oleh iritasi kimia, memunculkan reaksi hipersensitivitas tipe IV, yaitu cell-mediated atau tipe lambat. Karena DKI bersifat toksik, maka reaksi inflamasi hanya terbatas pada daerah paparan, batasnya tegas dan tidak pernah menyebar. (Nanto et al., 2015) Indonesia sekitar 90% penyakit kulit akibat kerja merupakan dermatitis kontak, baik iritan maupun alergik.2 Penyakit kulit akibat kerja dapat berupa dermatitis dan urtikaria. Dermatitis kontak merupakan 50% dari semua penyakit akibat kerja, terbanyak bersifat nonalergi atau iritan. Dermatitis kontak akibat kerja merupakan salah satu kelainan kulit yang sering dijumpai.Kelainan kulit ini dapat ditemukan sekitar 85% sampai 98% dari seluruh penyakit kulit akibat kerja. Insiden dermatitis kontak akibat kerja diperkirakan sebanyak 0,5 sampai 0,7 kasus per 1000 pekerja per tahun. Dermatitis kontak akibat kerja biasanya terjadi di tangan dan angka insiden untuk dermatitis bervariasi antara 2% sampai 10%.Perlu dicatat bahwa 80% dari dermatitis kontak akibat kerja atau dan 20% alergi. Namun, data terakhir dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persentase dermatitis kontak akibat kerja karena alergi mungkin jauh lebih tinggi, berkisar antara 50 dan 60 persen, sehingga meningkatkan dampak ekonomi dari kerja DKA. (Nanto et al., 2015)
  • 5.
    2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Definisi Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan lokal non imunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Dengan patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. (Indrawan et al., 2015) (Nanto et al., 2015) Gambar. 2.1 Dermatitis Kontak Toksisk 2.2 Etiologi Disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi, fisik, maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada penyakit ini. Dermatitis Kontak Iritan ini merupakan salah satu penyakit kulit akibat kerja. Penyakit ini ditandai dengan peradangan kulit polimorfik yang mempunyai ciri-ciri yang luas, meliputi : rasa gatal, kemerahan, skuama, vesikel, dan krusta papulovesikel. (Indrawan et al., 2015) 2.3 Epidemiologi Besarnya insidensi penyakit kulit akibat kerja yang merupakan dermatitis kontak sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit karena sebab lain. Pada studi epidemiologi, diIndonesia memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis
  • 6.
    3 kontak iritan dan33,7% adalah dermatitis kontak alergi.5 Pada wilayah Lampung sendiri, didapatkan data prevalensi pekerja terkenanya dermatitis kontak sekitar 63%, ini didapat menurut survailence tahunan yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi Lampung pada tahun 2012 dan menjadi peringkat pertama penyakit kulit yang paling sering dialami. (Nanto et al., 2015) 2.4 Faktor Risiko Beberapa peneltian sebelumnya mengenai hubungan insidensi terkenanya dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja yang berkontak langsung dengan bahan-bahan alergen dan iritan, menunjukkan bahwa dermatitis kontak terjadi dikarenakan tidak maksimalnya penggunaan alat pelindung diri dalam bekerja dan buruknya kebersihan diri atau personal hygiene para pekerja setelah melakukan pekerjaan Berdasarkan penelitian, dermatitis kontak itu sendiri banyak ditemukan pada pekerja, khususnya pada pekerja selokan dan tukang sapu jalan yang langsung berkontak dengan bahan-bahan alergen, iritan tanpa perlindungan diri yang memadai dan tingkat kebersihan diri yang buruk. Hal ini diperkuat dengan beberapa peneltian sebelumnya mengenai hubungan insidensi terkenanya dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja yang berkontak langsung dengan bahan-bahan alergen dan iritan, menunjukkan bahwa dermatitis kontak terjadi dikarenakan tidak maksimalnya penggunaan alat pelindung diri dalam bekerja dan buruknya kebersihan diri para pekerja setelah melakukan pekerjaan. . (Nanto et al., 2015) 2.5 Diagnosa 2.5.1 Anamnessa. Biasanya kelainan kulit timbul beberapa saat sesudah kontak pertama dengan kontaktan eksternal. Penderita akan mengeluh rasa panas, nyeri atau gatal. (Sefri Hardiansyah, 2018) 2.5.2 Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik berdasarkan efloresensi kulit yang terlihat seperti adanya macula eritema berbatas tegas, hyperkeratosis, fisura, vesikel, penampilan epidermis yang mengkilap, kering atau melepuh.(Smf et al., 2016) 2.5.2 Pemeriksaan Penunjang Tes tempel dan uji KOH, tes temple (patch test) adalah tes definitif untuk memastikan jenis dermatitis yang diderita oleh pasien. Pelaksanaan uji tempel
  • 7.
    4 dilaksanakan setelah gejaladermatitis yang diderita sembuh, bila memungkinkan lakukan setelah 3 minggu dari gejala pertama muncul. Lokasi untuk melakukan uji temple biasanya dilakukan pada permukaan kulit punggung atau dilakukan pada permukaan kulit lengan atas. Hasil positif dapat berupa eritema dengan utikaria sampai vesikel atau bula, jika penyebabnya karena iritasi, reaksi akan menurun setelah 48 jam (reaksi tipe descrendo), sedangkan pada dermatitis alergi reaksi akan meningkat (reaksi tipe crescendo). Uji KOH merupakan pemerksaan laboratorium untuk mengetahi adanya hifa dan spora jamur. Pasien ini tidak dilakukan tes temple, namun dilakukan tes KOH yang bertujuan untuk menyingkirkan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur, hasil KOH pada pasien ini tidak ditemukan adanya hifa maupun spora jamur. (Smf et al., 2016). 2.5 Patogenesis meskipun patogenesis biokimia di belakang SCd tetap dijelaskan sepenuhnya, itu diteorikan untuk melibatkan reaksi hipersensitivitas tipe iV yang dimediasi sel-t, seperti yang terlihat di aCd. antigen presenting cells (aPCs) yang berada di epidermis, ( misalnya immature dendritic cells [dCs]), secara strategis diposisikan sebagai sensor sentral untuk sistem imun bawaan dan adaptif. DC ini secara aktif mengambil haptens dan, bersama dengan keratinosit, selanjutnya mengeluarkan sitokin inflamasi: IL-1β, TNF-α, il-6, il-12, dan Gm-CSF, yang mendorong emigrasinya. 5 dC yang teraktivasi bermigrasi ke sel t yang dominan zona parakortikal kelenjar getah bening dan limpa tempat mereka merangsang sel-sel t naif dengan memasukkannya ke antigen. Aktivasi oleh antigen spesifik menghasilkan ekspresi sel T penanda kulit seperti antigen limfosit kulit, penanda migrasi yang memungkinkan sel t kembali ke jaringan perifer ( misalnya kulit, usus, dan paru-paru) dan menemukan kembali antigennya. (Rundle et al., 2019) 2.6 Patofisiologi Sedangkan Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, dengan patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan sangat berbeda dengan dermatitis kontak alergi dari proses terjadinya yaitu dimana bahan iritan atau toksin merusak membrane lemak keratinosit, tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Kerusakan membran akan mengaktifkan enzim fosfolipase yang akan merubah fosfolipid menjadi asam arakhidonat
  • 8.
    5 (AA), diasilgliserida (DAG),platelet activating factor (PAF), dan inositida (IP3). AA diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktivasi sel mast melepaskan histamin, PG dan LT lain, sehingga memperkuat perubahan vaskular. (Nanto et al., 2015) 2.7 Diagnosis Banding  Dermatitits seboroik Ketombe merupakan spektrum berkelanjutan dari penyakit yang sama yang memengaruhi area seboroik tubuh. Ketombe terbatas pada kulit kepala, dan melibatkan kulit yang gatal dan mengelupas tanpa peradangan yang terlihat. (Forbes et al., 2018)  Dermatitits Tinea Barbae Tinea barbae adalah infeksi dermatofita di daerah jenggot pada muka dan leher dan hanya terbatas pada laki-laki dewasa. Jamur pada janggut ini juga dikenal sebagai tinea sycosis dan umumnya juga sering disebut sebagai barber’s itchPenderita biasanya mengeluh gatai dan pedih pada daerah yang terkena, disertai bintik-bintik kemerahan yang terkadang bemanah. (gunawan, 2016). (Sefri Hardiansyah, 2018) 2.8 Penatalaksanaan 2.9.1 Non Farmakologi TIDAK ADA 2.9.2 farmakologi 2.9.2.1 Sistemik - Kortikosteroid seperti prednison 40-60 mg/hari pada orang dewasa.(Sefri Hardiansyah, 2018) - prednisone dan metilprednisolon. Dosis awal pemberian prednisone 30 mg pada hari pertama, kemudian diturunkan secara berkala sebanyak 5 mg setiap harinya. Antihistamin diberikan untuk mendapatkan efek sedatif guna mengurangi gejala gatal, dosis dan jenis antihistamin yang diberikan ialah CTM 4 mg 3-4 kali sehari.(Smf et al., 2016)
  • 9.
    6 2.9.2.2 Topikal kortikosteroid digunakansebagai antiinflamasi, supresi aktivitas mitotik, dan vasokonstriksi. Efek steroid juga dapat mensupresi pengeluaran histamine, sehingga bisa juga sebagai antipruritus. (Pustaka,2017) 2.10 Edukasi 1. Menghindari Alergen Setelah kemungkinan penyebab masalah dermatologi pasien telah ditentukan oleh uji tempel, sangat penting untuk menyampaikan informasi ini kepada pasien dengan cara yang mudah dimengerti. Ini melibatkan penjelasan cermat terhadap bahan yang mengandung alergen. 2. Menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri. (Nanto et al., 2015) 3. menggunakan sarung tangan saat berkerja agar tidak terpapar bahan iritan. (Smf et al., 2016) 2.11 Komplikasi 1. Peningkatan risiko sensitisasi terhadap terapi topikal 2. Lesi pada kulit dapat dikolonisasi oleh bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini dipermudah jika terjadi lesi sekunder, seperti fissure akibat manipulasi yang dilakukan penderita. 3. Secondary neurodermatitis (lichen simplex chronicus) akibat penderita dermatitis kontak iritan yang mengalami stress psikis. 4. Pada fase post inflamasi dapat terjadi hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. 5. Scar, biasanya setelah terkena agen korosif.(Pustaka, 2017) 2.12 Prognosis Prognosis dermatitis kontak alergi umumnya baik, sejauh bahan kontaktannya dapat disingkirkan. Prognosis kurang baik dan menjadi kronis, bila bersamaan dengan dermatitis oleh faktor endogen (dermatitis atopik, dermatitis numularis, atau psoriasis), atau pajanan dengan bahan iritan yang tidak mungkin dihindari. (DKI_dan_DKA, n.d. 2015) 2.13 Profesionalisme
  • 10.
    7 Membantu mengontrol kesembuhanpasien dengan pemberian obat dan dosis yang tepat. Dan kontrol ulang, bila keadaan tidak membaik bisa dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin. (tiyas et al., 2015) BAB III KESIMPULAN Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan lokal non imunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Dengan patofisiologi yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. (Indrawan et al., 2015) (Nanto et al., 2015) Besarnya insidensi penyakit kulit akibat kerja yang merupakan dermatitis kontak sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit karena sebab lain. Pada studi epidemiologi, diIndonesia memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak. (Smf et al., 2016) Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan: Biasanya kelainan kulit timbul beberapa saat sesudah kontak pertama dengan kontaktan eksternal. Penderita akan mengeluh rasa panas, nyeri atau gatal. (Sefri Hardiansyah, 2018) Umum: Hindari sumber toksik. Pengobatan bergantung jenis iritan; jika asam kuat, tindakan berupa pencucian dengan air, kemudian basa dan natrium bikarbonat. Setelah dicuci diberi salep atau krim kortikosteroid. Sistemik: Kortikosteroid seperti prednison 40-60 mg/hari pada orang dewasa. (Sefri Hardiansyah, 2018)
  • 11.
    8 DAFTAR PUSTAKA 1. Forbes,M. K., Eaton, N. R., & Krueger, R. F. (2018). Akses Publik HHS Naskah penulis. 305, 1–24. 2. Gunawan, I. (2016). Tinea Barbae poză. 1–16. http://medicinembbs.blogspot.ro/2013/03/fungal-infections.html 3. Indrawan, I., Suwondo, A., & Lestantyo, D. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan Pada Pekerja Bagian Premix Di PT. X Cirebon. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 2(2), 110–118. 4. Nanto, S. S., Kedokteran, F., & Lampung, U. (2015). Kejadian Timbulnya Dermatitis Kontak Pada Petugas Kebersihan Contact DermatitisEventsDue toWorkOnHygiene Personnel. 4(November), 147–152. 5. Pustaka, T. (2017). Dermatitis kontak alergi. Referat_tentang_DKI_dan_DKA. (n.d.). 6. Rundle, C. W., Machler, B. C., & Jacob, S. E. (2019). Pathogenesis and causations of systemic contact dermatitis. Giornale Italiano Di Dermatologia e Venereologia, 154(1), 42–49. https://doi.org/10.23736/S0392-0488.18.06113-8 7. Sefri Hardiansyah, E. (2018). 済無No Title No Title. In Jurnal Abdimas Dewantara (Vol. 53, Issue 9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 8. Smf, B., Kesehatan, I., Fakultas, K., Universitas, K., Rumah, U., Umum, S., & Sanglah, P. (2016). EDUKASI DAN PENATALAKSANAAN DERMATITIS KONTAK IRITAN KRONIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI TAHUN 2014 / 2015 I Putu 9. Gilang Iswara Wijaya , IGK Darmada , Luh Made Mas Rusyati. 5(8), 2014–2017. 10. Tiyas, M., Basuki, R., Ratnaningrum, K., & Indrastiti, R. (2015). Buku ajar sistim integumen.