ANTI-ANGINA
Mata Kuliah : FARMAKOLOGI III
Jenjang studi : D-III
Dosen : dr. J. Hajadi
PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS
ISKEMIA MIOKARD :
Keadaan dimana terjadi ketidak seimbangan antara SUPLAI
oksigen dan KEBUTUHAN oksigen jantung.
KEBUTUHAN oksigen jantung ditentukan oleh :
▪ frekuensi denyut jantung,
▪ tegangan dinding ventrikel kiri (merupakan fungsi tekanan
darah sistemik, geometri ventrikel kiri, dll.)
▪ kontraktilitas miokard ( dipengaruhi oleh aktivitas
adrenoseptor, kanal Ca++, dll).
Besarnya SUPLAI oksigen ditentukan oleh :
▪ frekuensi denyut jantung (lamanya diastol),
▪ kapasitas angkut O2 oleh sel darah merah (eritrosit)
▪ kelainan pembuluh darah koroner (faktor utama).
PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS
Memperbaiki ketidak-seimbangan antara kebutuhan dan suplai diperbaiki
dengan cara :
- meningkatkan suplai (meningkatkan aliran darah koroner), atau
- menurunkan kebutuhan oksigen (menurunkan kerja jantung)
Penyebab umum iskemia jantung adalah aterosklerosis pembuluh darah
epikardia (arteri koroner).
Gangguan perfusi (suplai O2) miokardium pada insufisiensi koroner
menimbulkan perubahan ² pada :
▪ Biokimiawi,
▪ Elektrofisiologik
▪ Mekanik jantung
PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS
Perubahan biokimiawi :
Hipoksemia (kekurangan oksigen) pada bagian jantung yang mengalami
iskemia menyebabkan
a) pergeseran metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik, yang
menghasilkan :
- akumulasi asam laktat,
- penurunan pH intrasel,
- timbulnya nyeri angina yang khas.
b) berkurangnya produksi energi (ATP), menyebabkan penurunan
kontraktilitas dan kemampuan mempertahankan homeostasis intrasel.
Perubahan elektrofisiologi jantung :
a) inversi gelombang T, dan
b) perubahan segmen ST (depresi pada iskemia subendokard, elevasi
pada iskemia transmural)
PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS
Dasar kelainan ini adalah terganggunya homeostasis ion intrasel.
Ketidak-stabilan elektrofisiologik jantung dapat menyebabkan takikardia
atau fibrilasi ventrikel , dan aritmia maligna merupakan salah satu
penyebab kematian mendadak pada pasien iskemia jantung.
Daerah miokard yang paling rentan terhadap iskemia adalah
subendokard ventrikel kiri, karena :
- kerja miosit (memendek waktu sistol, memanjang waktu diastol) lebih
kuat dari bagian lain seperti subepikard,
- cadangan oksigen di subendokard lebih sedikit.
Pada iskemia berat, seluruh tebal mioard dapat terkena sehingga terjadi
iskemia transmural.
PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS
Berkurangnya suplai oksigen pada iskemia jantung menimbulkan gejala
angina pektoris, tetapi dapat juga berlangsung tanpa gejala (silent).
Gejala klasik A-P :
Referred pain (nyeri penjalaran) pada daerah dermatom yang
dipersyarafi oleh segmen T1 – T4, yaitu nyeri substernal yang menjalar
ke lengan kiri bagian medial.
Bila iskemia berlangsung lama dan berat, maka akan terjadi infark
jantung.
JENIS ANGINA PEKTORIS
Secara klinis, dikenal 3 jenis A-P :
1). Angina stabil kronik
Angina yang tidak mengalami perubahan dalam frekuensi, kuat
dan lamanya serangan , dalam beberapa bulan observasi.
Penyebab dasar adalah aterosklerosis koroner, tetapi nyeri AP tidak
berhubungan dengan luas atau beratnya aterosklerosis.
Jenis A-P ini paling umum ditemukan, dan terjadi setelah kerja fisik,
emosi atau makan. Angka kematian 3-4% setahun.
2). Angina tidak stabil
Serangan angina yang berulang dengan frekuensi dan lama
serangan yang progresif, serangan infark akut dan kematian
mendadak (dalam 1 jam sejak timbulnya gejala).
Serangan angina terjadi baik pada waktu istirahat maupun kerja fisik.
Mekanisme dasar dari angina ini adalah ketidak-stabilan plak
aterosklerotik koroner (berupa fissuring, splitting, rupturing).
JENIS ANGINA PEKTORIS
3). Angina varian
Dikemukakan pertama kali oleh M. Prinzmetal (1959) sebagai suatu
serangan angina yang terjadi saat istirahat , yang diikuti oleh
elevasi segmen ST pada EKG karena /disebabkan oleh
vasospasme koroner.
Perlu ditegaskan bahwa pada semua jenis angina termasuk angina
karena vasospasme koroner, terdapat juga komponen aterosklerosis
walaupun beratnya berbeda satu dengan lain.
OBAT² ANTI-ANGINA
1. NITRAT ORGANIK
2. PENGHAMBAT BETA
3. PENGHAMBAT KANAL Ca++
4. TERAPI KOMBINASI
1. NITRAT-ORGANIK
Manfaat nitrat organik sebagai anti-angina sudah dikenal sejak 1867
(Brunton), dengan 2 masalah utama : TOLERANSI dan HIPOTENSI.
Sampai kini masih merupakan obat penting untuk pengobatan
penyakit jantung iskemik.
Mekanisme kerja :
1) Secara in-vivo nitrat organik merupakan pro-drug, yaitu menjadi
aktif setelah dimetabolisme dan mengeluarkan nitrogen monoksida
(NO, EDRF / endothelial derived relaxing factor). NO meningkatkan
kadar cGMP, sehingga terjadi relaksasi otot polos. Efek ini bersifat
non-endothelium dependent.
2) Mekanisme ini bersifat endothelium-dependent, dimana NO akan
melepaskan prostasiklin (PGI2)dari endotelium, dan PGI2 ini bersifat
vasodilator. Pada keadaan dimana endotelium mengalami
kerusakan, efek ini hilang.
1) + 2) : vasodilatasi dan efek anti-agregasi trombosit.
1. NITRAT-ORGANIK
Efek Kardiovaskular :
Nitrat organik menurunkan kebutuhan dan meningkatkan suplai
oksigen dengan cara mempengaruhi tonus vaskular.
Akibatnya terjadi vasodilatasi semua sistem vaskuler.
Secara singkat :
Nitrat menurunkan kebutuhan O2 miokard melalui venodilatasi,
menurunnya beban ventrikel dan curah jantung sehingga beban hulu
(pre-load) dan beban hilir (after-load) berkurang.
Suplai O2 meningkat karena perbaikan aliran darah miokard ke
daerah iskemik dan karena berkurangnya beban hulu sehingga
perfusi subendokard membaik.
1. NITRAT-ORGANIK
Sediaan (dosis, mula kerja, lama kerja bervariasi)
I. Nitrat Kerja Singkat
a) Amilnitrit inhalasi
b) - Nitrogliserin sublingual
- Isosorbid dinitrat sublingual
- eritriltetranitrat sublingual
II. Nitrat Kerja Lama
a) Preparat oral
- Isosorbit dinitrat biasa, lepas lambat
- Isosorbit mononitrat biasa, lepas lambat
- Nitrogliserin lepas lambat
- eritritol tetranitrat
- pentaeritritol tetranitrat
1. NITRAT-ORGANIK
Sediaan
b) Preparat salep
- Nitrogliserin 2%
c) transdermal
- Nitrogliserin lepas lambat, (disc/patch)
d) bukal
- Nitrogliserin lepas lambat
e) Intravena
- Nitrogliserin
1. NITRAT-ORGANIK
Efek samping :
Berhubungan dengan efek vasodilatasinya : sakit kepala, flushing ,
hipotensi postural. Ketergantungan dan gejala rebound angina dapat
terjadi.
Kontra indikasi :
Pasien yang mendapatkan Sildenafil .
Indikasi :
1. Angina Pektoris (berbagai jenis A-P)
A-P tidak stabil : secara IV, kekurangan cepat terjadi toleransi.
Obat lain : aspirin, heparin, ß-bloker dan antagonis Ca++
Angina variant : nitrat kerja panjang, dikombinasi dengan
antagonis Ca++.(mengurangi mortalitas dan insidensi infark).
2. Penggunaan lain :
2.1. Infark miokard – hanya pada kasus tertentu.
2.2. Gagal jantung (kombinasi dengan hidralazin).
2. ß-BLOKER
(Penghambat Adrenoseptor Beta)
ß-bloker amat bermanfaat untuk mengobati AP stabil kronik.
Mekanisme kerja :
Menurunkan kebutuhan oksigen jantung dengan cara menurunkan
frekuensi denyut jantung , tekanan darah dan kontraktilitas.
Suplai oksigen meningkat karena penurunan frekuensi denyut
jantung menyebabkan perfusi koroner membaik selama diastole.
Sifat farmakologik berbagai ß-bloker , dibedakan dalam berbagai
tipe :
-jenis subtipe reseptor yang dihambat
- kelarutan dalam lemak
- metabolisme
- farmakodinamik
- ada/tidak aktivitas simpatomimetik intrinsik
2. ß-BLOKER
(Penghambat Adrenoseptor Beta)
Penggunaan klinis (=indikasi) :
• Angina stabil kronik
• Angina tidak stabil
• Angina vasospastik (kombinasi dengan penghambat kanal Ca++)
• Infark miokard (penggunaan jangka panjang BB tanpa aktivitas
simpatomimetik menurunkan mortalitas)
Efek samping :
- Menurunkan denyut nadi (bradikardia dan blok AV), efek lebih kecil
pada BB dengan aktivitas simpatomimetik intrinsik.
- Memperburuk penyakit Raynaud (gunakan BB kardioselektif)
- Bronkospasme pada pasien dengan penyakit paru
- Menurunkan kadar HDL dan meningkatkan Trigliserida (BB dengan
aktivitas simpatomimetik intrinsik mengurangi efek ini)
2. ß-BLOKER
(Penghambat Adrenoseptor Beta)
Kontra-indikasi :
1) Hipotensi
2) Bradikardia simtomatik
3) Blok AV derajat 2 – 3
4) Gagal jantung kongestif
5) Eksaserbasi serangan asma
6) Diabetes mellitus dengan episode hipoglikemi
2. ß-BLOKER
(Penghambat Adrenoseptor Beta)
Obat Kardioselektivitas Aktivitas simpatomimetik
(reseptor) intrinsik
1. Asebutolol + +
2. Atenolol + -
3. Bisoprolol - -
4. Labetalol* - -
5. Metoprolol + -
6. Nadolol - -
7. Penbutolol - +
8. Pindolol - +
9. Propanolol - -
* Juga mempunyai efek penghambat α
3. Calcium-Channel Blocker / CCB
(Penghambat Kanal Kalsium / PKC)
PKC yang pertama ditemukan adalah verapamil (1962), dan dikenal
berbagai derivat PKC sebagai berikut :
1) fenilalkilamin contoh : verapamil
2) dihidropiridin contoh : nifedipin, nikardipin, amlodipin
3) benzotiazepin contoh : diltiazem
4) difenilpiperazin contoh : sinarizin, flunarizin
5) diarilaminopropilamin contoh : bepridil
Golongan 1-3 : Penghambat kanal Ca++ yang selektif (90-100%)
Golongan 4-5 : Menghambat kanal Ca++ (50-70%) dan kanal Na+
3. Calcium-Channel Blocker / CCB
(Penghambat Kanal Kalsium / PKC)
Mekanisme kerja PKC secara umum :
a) Pengurangan kebutuhan oksigen miokard :
1. Vasodilatasi koroner dan perifer
2. Penurunan kontraktilitas jantung
3. Penurunan automatisitas serta kecepatan konduksi pada nodus SA
dan AV
b) Meningkatkan suplai oksigen kepada miokard :
1) Dilatasi koroner
2) Penurunan tekanan darah dan denyut jantung, ehingga perfusi
subendokardmembaik .
Efek samping :
Karena vasodilatasi berlebihan (sakit kepala, hipotensi, refleks takikardia, flushing,
mual, muntah, edema perifer, edema paru, dsb.), lebih sering dengan golongan
dihidropiridin. Kontraindikasi dalam kombinasi dengan ß-bloker, dan pada aritmia
akibat konduksi antegrad (sindrom WPW atau fibrilasi atrium)
3. Calcium-Channel Blocker / CCB
(Penghambat Kanal Kalsium / PKC)
Indikasi :
1) Angina varian :
PKC bermanfaat , dan ke 3 golongan obt (nifedipin /derivatnya, diltiazem dan
verapamil) dapat digunakan.
2) Angina stabil kronik :
PKC bermanfaat karena meningkatkan dilatasi koroner dan mengurangi
kebutuhan O2. Sejumlah PKC terutama dihidropiridin dapat memperberat
serangan angina, dan efek ini kurang nyata dengan verapamil dan diltiazem.
Untuk mengurangi efek ini, dihidropiridin dikombinasi dengan ß-bloker.
3) Angina tidak stabil :
PKC dapat digunakan sebagai tambahan , karena efek relaksasi terhadap
vasospasme pembuluh darah pada angina tidak stabil. Obat terpilih adalah nitrat
organik, ß-bloker, heparin dan asprin.
4) Penggunaan lain :
PKC bermanfaat untuk pengobatan aritmia (verapamil), hipertensi (dihidropiridin,
diltiazem, verapamil), kardiomiopati hipertrofik, penyakit Raynaud, spasme
serebral (nimodipin).
4. Terapi Kombinasi
Tujuan :
Meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping.
Contoh :
1) Nitrat organik + ß-bloker
Dapat meningkatkan efektivitas terapi pada angina stabil kronik.
2) PKC + ß-bloker
Terutama bila terdapat vasospasme koroner, sedangkan ß-bloker dapat
menghambat refleks takikardia yang ditimbulkan PKC.
3) PKC + Nitrat organik
Besifat additif, karena PKC mengurangi beban hilir, sedangkan nitrat
organik mengurangi beban hulu.
Kombinasi ini dianjurkan untuk pasien angina disertai gagal jantung,
sick sinus syndrome, gangguan konduksi AV.
Efek samping hipotensi berat dan takikardia.
4) PKC + ß-bloker + Nitrat organik.
Bila pemberian kombinasi 2 obat tidak memperbaiki angina, tetapi efek
samping juga akan meningkat.

fdokumen.com_anti-angina-559797c58def4 (1).ppt

  • 1.
    ANTI-ANGINA Mata Kuliah :FARMAKOLOGI III Jenjang studi : D-III Dosen : dr. J. Hajadi
  • 4.
    PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS ISKEMIAMIOKARD : Keadaan dimana terjadi ketidak seimbangan antara SUPLAI oksigen dan KEBUTUHAN oksigen jantung. KEBUTUHAN oksigen jantung ditentukan oleh : ▪ frekuensi denyut jantung, ▪ tegangan dinding ventrikel kiri (merupakan fungsi tekanan darah sistemik, geometri ventrikel kiri, dll.) ▪ kontraktilitas miokard ( dipengaruhi oleh aktivitas adrenoseptor, kanal Ca++, dll). Besarnya SUPLAI oksigen ditentukan oleh : ▪ frekuensi denyut jantung (lamanya diastol), ▪ kapasitas angkut O2 oleh sel darah merah (eritrosit) ▪ kelainan pembuluh darah koroner (faktor utama).
  • 5.
    PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS Memperbaikiketidak-seimbangan antara kebutuhan dan suplai diperbaiki dengan cara : - meningkatkan suplai (meningkatkan aliran darah koroner), atau - menurunkan kebutuhan oksigen (menurunkan kerja jantung) Penyebab umum iskemia jantung adalah aterosklerosis pembuluh darah epikardia (arteri koroner). Gangguan perfusi (suplai O2) miokardium pada insufisiensi koroner menimbulkan perubahan ² pada : ▪ Biokimiawi, ▪ Elektrofisiologik ▪ Mekanik jantung
  • 6.
    PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS Perubahanbiokimiawi : Hipoksemia (kekurangan oksigen) pada bagian jantung yang mengalami iskemia menyebabkan a) pergeseran metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik, yang menghasilkan : - akumulasi asam laktat, - penurunan pH intrasel, - timbulnya nyeri angina yang khas. b) berkurangnya produksi energi (ATP), menyebabkan penurunan kontraktilitas dan kemampuan mempertahankan homeostasis intrasel. Perubahan elektrofisiologi jantung : a) inversi gelombang T, dan b) perubahan segmen ST (depresi pada iskemia subendokard, elevasi pada iskemia transmural)
  • 7.
    PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS Dasarkelainan ini adalah terganggunya homeostasis ion intrasel. Ketidak-stabilan elektrofisiologik jantung dapat menyebabkan takikardia atau fibrilasi ventrikel , dan aritmia maligna merupakan salah satu penyebab kematian mendadak pada pasien iskemia jantung. Daerah miokard yang paling rentan terhadap iskemia adalah subendokard ventrikel kiri, karena : - kerja miosit (memendek waktu sistol, memanjang waktu diastol) lebih kuat dari bagian lain seperti subepikard, - cadangan oksigen di subendokard lebih sedikit. Pada iskemia berat, seluruh tebal mioard dapat terkena sehingga terjadi iskemia transmural.
  • 8.
    PATOFISIOLOGI ANGINA PEKTORIS Berkurangnyasuplai oksigen pada iskemia jantung menimbulkan gejala angina pektoris, tetapi dapat juga berlangsung tanpa gejala (silent). Gejala klasik A-P : Referred pain (nyeri penjalaran) pada daerah dermatom yang dipersyarafi oleh segmen T1 – T4, yaitu nyeri substernal yang menjalar ke lengan kiri bagian medial. Bila iskemia berlangsung lama dan berat, maka akan terjadi infark jantung.
  • 10.
    JENIS ANGINA PEKTORIS Secaraklinis, dikenal 3 jenis A-P : 1). Angina stabil kronik Angina yang tidak mengalami perubahan dalam frekuensi, kuat dan lamanya serangan , dalam beberapa bulan observasi. Penyebab dasar adalah aterosklerosis koroner, tetapi nyeri AP tidak berhubungan dengan luas atau beratnya aterosklerosis. Jenis A-P ini paling umum ditemukan, dan terjadi setelah kerja fisik, emosi atau makan. Angka kematian 3-4% setahun. 2). Angina tidak stabil Serangan angina yang berulang dengan frekuensi dan lama serangan yang progresif, serangan infark akut dan kematian mendadak (dalam 1 jam sejak timbulnya gejala). Serangan angina terjadi baik pada waktu istirahat maupun kerja fisik. Mekanisme dasar dari angina ini adalah ketidak-stabilan plak aterosklerotik koroner (berupa fissuring, splitting, rupturing).
  • 11.
    JENIS ANGINA PEKTORIS 3).Angina varian Dikemukakan pertama kali oleh M. Prinzmetal (1959) sebagai suatu serangan angina yang terjadi saat istirahat , yang diikuti oleh elevasi segmen ST pada EKG karena /disebabkan oleh vasospasme koroner. Perlu ditegaskan bahwa pada semua jenis angina termasuk angina karena vasospasme koroner, terdapat juga komponen aterosklerosis walaupun beratnya berbeda satu dengan lain.
  • 14.
    OBAT² ANTI-ANGINA 1. NITRATORGANIK 2. PENGHAMBAT BETA 3. PENGHAMBAT KANAL Ca++ 4. TERAPI KOMBINASI
  • 15.
    1. NITRAT-ORGANIK Manfaat nitratorganik sebagai anti-angina sudah dikenal sejak 1867 (Brunton), dengan 2 masalah utama : TOLERANSI dan HIPOTENSI. Sampai kini masih merupakan obat penting untuk pengobatan penyakit jantung iskemik. Mekanisme kerja : 1) Secara in-vivo nitrat organik merupakan pro-drug, yaitu menjadi aktif setelah dimetabolisme dan mengeluarkan nitrogen monoksida (NO, EDRF / endothelial derived relaxing factor). NO meningkatkan kadar cGMP, sehingga terjadi relaksasi otot polos. Efek ini bersifat non-endothelium dependent. 2) Mekanisme ini bersifat endothelium-dependent, dimana NO akan melepaskan prostasiklin (PGI2)dari endotelium, dan PGI2 ini bersifat vasodilator. Pada keadaan dimana endotelium mengalami kerusakan, efek ini hilang. 1) + 2) : vasodilatasi dan efek anti-agregasi trombosit.
  • 16.
    1. NITRAT-ORGANIK Efek Kardiovaskular: Nitrat organik menurunkan kebutuhan dan meningkatkan suplai oksigen dengan cara mempengaruhi tonus vaskular. Akibatnya terjadi vasodilatasi semua sistem vaskuler. Secara singkat : Nitrat menurunkan kebutuhan O2 miokard melalui venodilatasi, menurunnya beban ventrikel dan curah jantung sehingga beban hulu (pre-load) dan beban hilir (after-load) berkurang. Suplai O2 meningkat karena perbaikan aliran darah miokard ke daerah iskemik dan karena berkurangnya beban hulu sehingga perfusi subendokard membaik.
  • 17.
    1. NITRAT-ORGANIK Sediaan (dosis,mula kerja, lama kerja bervariasi) I. Nitrat Kerja Singkat a) Amilnitrit inhalasi b) - Nitrogliserin sublingual - Isosorbid dinitrat sublingual - eritriltetranitrat sublingual II. Nitrat Kerja Lama a) Preparat oral - Isosorbit dinitrat biasa, lepas lambat - Isosorbit mononitrat biasa, lepas lambat - Nitrogliserin lepas lambat - eritritol tetranitrat - pentaeritritol tetranitrat
  • 18.
    1. NITRAT-ORGANIK Sediaan b) Preparatsalep - Nitrogliserin 2% c) transdermal - Nitrogliserin lepas lambat, (disc/patch) d) bukal - Nitrogliserin lepas lambat e) Intravena - Nitrogliserin
  • 19.
    1. NITRAT-ORGANIK Efek samping: Berhubungan dengan efek vasodilatasinya : sakit kepala, flushing , hipotensi postural. Ketergantungan dan gejala rebound angina dapat terjadi. Kontra indikasi : Pasien yang mendapatkan Sildenafil . Indikasi : 1. Angina Pektoris (berbagai jenis A-P) A-P tidak stabil : secara IV, kekurangan cepat terjadi toleransi. Obat lain : aspirin, heparin, ß-bloker dan antagonis Ca++ Angina variant : nitrat kerja panjang, dikombinasi dengan antagonis Ca++.(mengurangi mortalitas dan insidensi infark). 2. Penggunaan lain : 2.1. Infark miokard – hanya pada kasus tertentu. 2.2. Gagal jantung (kombinasi dengan hidralazin).
  • 20.
    2. ß-BLOKER (Penghambat AdrenoseptorBeta) ß-bloker amat bermanfaat untuk mengobati AP stabil kronik. Mekanisme kerja : Menurunkan kebutuhan oksigen jantung dengan cara menurunkan frekuensi denyut jantung , tekanan darah dan kontraktilitas. Suplai oksigen meningkat karena penurunan frekuensi denyut jantung menyebabkan perfusi koroner membaik selama diastole. Sifat farmakologik berbagai ß-bloker , dibedakan dalam berbagai tipe : -jenis subtipe reseptor yang dihambat - kelarutan dalam lemak - metabolisme - farmakodinamik - ada/tidak aktivitas simpatomimetik intrinsik
  • 21.
    2. ß-BLOKER (Penghambat AdrenoseptorBeta) Penggunaan klinis (=indikasi) : • Angina stabil kronik • Angina tidak stabil • Angina vasospastik (kombinasi dengan penghambat kanal Ca++) • Infark miokard (penggunaan jangka panjang BB tanpa aktivitas simpatomimetik menurunkan mortalitas) Efek samping : - Menurunkan denyut nadi (bradikardia dan blok AV), efek lebih kecil pada BB dengan aktivitas simpatomimetik intrinsik. - Memperburuk penyakit Raynaud (gunakan BB kardioselektif) - Bronkospasme pada pasien dengan penyakit paru - Menurunkan kadar HDL dan meningkatkan Trigliserida (BB dengan aktivitas simpatomimetik intrinsik mengurangi efek ini)
  • 22.
    2. ß-BLOKER (Penghambat AdrenoseptorBeta) Kontra-indikasi : 1) Hipotensi 2) Bradikardia simtomatik 3) Blok AV derajat 2 – 3 4) Gagal jantung kongestif 5) Eksaserbasi serangan asma 6) Diabetes mellitus dengan episode hipoglikemi
  • 23.
    2. ß-BLOKER (Penghambat AdrenoseptorBeta) Obat Kardioselektivitas Aktivitas simpatomimetik (reseptor) intrinsik 1. Asebutolol + + 2. Atenolol + - 3. Bisoprolol - - 4. Labetalol* - - 5. Metoprolol + - 6. Nadolol - - 7. Penbutolol - + 8. Pindolol - + 9. Propanolol - - * Juga mempunyai efek penghambat α
  • 24.
    3. Calcium-Channel Blocker/ CCB (Penghambat Kanal Kalsium / PKC) PKC yang pertama ditemukan adalah verapamil (1962), dan dikenal berbagai derivat PKC sebagai berikut : 1) fenilalkilamin contoh : verapamil 2) dihidropiridin contoh : nifedipin, nikardipin, amlodipin 3) benzotiazepin contoh : diltiazem 4) difenilpiperazin contoh : sinarizin, flunarizin 5) diarilaminopropilamin contoh : bepridil Golongan 1-3 : Penghambat kanal Ca++ yang selektif (90-100%) Golongan 4-5 : Menghambat kanal Ca++ (50-70%) dan kanal Na+
  • 25.
    3. Calcium-Channel Blocker/ CCB (Penghambat Kanal Kalsium / PKC) Mekanisme kerja PKC secara umum : a) Pengurangan kebutuhan oksigen miokard : 1. Vasodilatasi koroner dan perifer 2. Penurunan kontraktilitas jantung 3. Penurunan automatisitas serta kecepatan konduksi pada nodus SA dan AV b) Meningkatkan suplai oksigen kepada miokard : 1) Dilatasi koroner 2) Penurunan tekanan darah dan denyut jantung, ehingga perfusi subendokardmembaik . Efek samping : Karena vasodilatasi berlebihan (sakit kepala, hipotensi, refleks takikardia, flushing, mual, muntah, edema perifer, edema paru, dsb.), lebih sering dengan golongan dihidropiridin. Kontraindikasi dalam kombinasi dengan ß-bloker, dan pada aritmia akibat konduksi antegrad (sindrom WPW atau fibrilasi atrium)
  • 26.
    3. Calcium-Channel Blocker/ CCB (Penghambat Kanal Kalsium / PKC) Indikasi : 1) Angina varian : PKC bermanfaat , dan ke 3 golongan obt (nifedipin /derivatnya, diltiazem dan verapamil) dapat digunakan. 2) Angina stabil kronik : PKC bermanfaat karena meningkatkan dilatasi koroner dan mengurangi kebutuhan O2. Sejumlah PKC terutama dihidropiridin dapat memperberat serangan angina, dan efek ini kurang nyata dengan verapamil dan diltiazem. Untuk mengurangi efek ini, dihidropiridin dikombinasi dengan ß-bloker. 3) Angina tidak stabil : PKC dapat digunakan sebagai tambahan , karena efek relaksasi terhadap vasospasme pembuluh darah pada angina tidak stabil. Obat terpilih adalah nitrat organik, ß-bloker, heparin dan asprin. 4) Penggunaan lain : PKC bermanfaat untuk pengobatan aritmia (verapamil), hipertensi (dihidropiridin, diltiazem, verapamil), kardiomiopati hipertrofik, penyakit Raynaud, spasme serebral (nimodipin).
  • 27.
    4. Terapi Kombinasi Tujuan: Meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping. Contoh : 1) Nitrat organik + ß-bloker Dapat meningkatkan efektivitas terapi pada angina stabil kronik. 2) PKC + ß-bloker Terutama bila terdapat vasospasme koroner, sedangkan ß-bloker dapat menghambat refleks takikardia yang ditimbulkan PKC. 3) PKC + Nitrat organik Besifat additif, karena PKC mengurangi beban hilir, sedangkan nitrat organik mengurangi beban hulu. Kombinasi ini dianjurkan untuk pasien angina disertai gagal jantung, sick sinus syndrome, gangguan konduksi AV. Efek samping hipotensi berat dan takikardia. 4) PKC + ß-bloker + Nitrat organik. Bila pemberian kombinasi 2 obat tidak memperbaiki angina, tetapi efek samping juga akan meningkat.

Editor's Notes

  • #3 Anatomi jantung -I
  • #4 Anatomi jantung - II