EFEKTIFITAS INHALASI DENGAN PEMBERIAN POSISI
SEMIFOWLER DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP
PENGELUARAN SPUTUM DAN BERSIHAN JALAN NAPAS
PADA PASIEN TB PARU DI RSUP. PERSAHABATAN
JAKARTA TAHUN 2016
ARLIN RIDHANIA1
ARLIN RIDHANIA : PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS
ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA,
Kampus FIK Muhammadiyah Hakarta, Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta
Pusat 10510
ABSTRAK
Ketidakmampuan pasien untuk memobilisasi sekret dapat mengakibatkan
penumpukan sekret dijalan napas dan menyebabkan bersihan jalan napas menjadi
tidak efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk memudahkan pengeluaran sputum
dan mengatasi masalah bersihan jalan napas. Tindakan untuk mengencerkan
sekret yang terlalu kental adalah dengan mengurangi viskositasnya dan
meningkatkan kandungan air melalui hidrasi yang adequat dan inhalasi larutan
yang mengandung aerosol dengan menggunakan nebuliser. Pemberian posisi
semifowler dapat memaksimalkan ekspansi paru sehingga dapat menggerakan
sekret ke jalan napas besar agar mudah dikeluarkan. Batuk efektif adalah tindakan
yang diperlukan untuk membersihkan sekresi, meningkatkan ekspansi paru,
memobilisasi sekret dan mencegah efek samping dari retensi sekresi. Desain
penelitian ini menggunakan quasy experiment dengan rancangan one-group pre-
post test design, dengan sampel sebanyak 12 orang responden yang dibagi
menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi dimana masing-masing
kelompok berjumlah 6 orang responden. Analisis dilakukan secara bertahap
melalui analisa univariat dan analisa bivariat. Hasil penelitian didapatkan P.value
0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α menunjukan adanya perbedaan
jumlah sputum dan bersihan jalan napas dengan pemberian posisi semifowler dan
batuk efektif. Untuk teman sejawat dipelayanan sebaiknya pada saat inhalasi
diberikan posisi yang tepat yaitu semifowler dan setelah inhalasi dilakukan
tindakan batuk efektif untuk meningkatkan efektifitas pengeluaran sputum dan
bersihan jalan napas.
Kata Kunci : TB Paru, Inhalasi, Semifowler, Batuk Efektif,
Pengeluaran Sputum, Bersihan Jalan Napas
PENDAHULUAN
Tuberculosis (TB) adalah suatu
penyakit infeksi yang disebabkan
bakteri mycrobacterium tuberculosis
yang dapat menyerang berbagai
organ terutama paru-paru. Penyakit
TB bila tidak diobati atau
pengobatannya tidak tuntas dapat
menimbulkan komplikasi berbahaya
hingga kematian (Pusdatin, 2015).
TB paru menduduki urutan teratas
penyakit infeksius yang mematikan
didunia. Ditahun 2014 dari 9,6 juta
orang dengan TB, 1,5 juta (15,6%)
meninggal dunia karenanya (WHO,
2015 ).
Indonesia saat ini menduduki
peringkat ke dua sebagai negara
dengan jumlah pasien TB terbesar
setelah negara India. Diperkirakan
terdapat 2,9 juta kasus TB pada
tahun 2012 dengan jumlah kematian
pasien dengan TB paru mencapai
410.000 kasus (14,1%). Persentase
jumlah kematian pada pasien TB
laki-laki lebih banyak 61% dari pada
wanita. Sekitar 75% pasien TB
adalah kelompok usia yang paling
produktif sekitar 15-50 tahun
(Kemkes, 2014).
Diperkirakan seorang pasien TB
dewasa akan kehilangan rata-rata
waktu kerjanya 3-4 bulan kedepan,
hal tersebut berakibat pada
kehilangan pendapatan tahunan
rumah tangganya sekitar 20-30%.
Jika ia meninggal karena TB, maka
keluarga akan kehilangan
pendapatannya sekitar 15 tahun.
Selain merugikan secara ekonomi,
TB juga memberikan dampak buruk
lainnya secara sosial, seperti
dikucilkan oleh masyarakat
(Kemkes, 2014).
Pada tahun 2013 muncul usulan dari
beberapa negara anggota WHO
(World Health Organization) yang
mengusulkan adanya strategi baru
untuk mengendalikan TB yang
mampu menahan laju infeksi baru
dan mencegah kematian akibat TB.
Pada siding WHA (World Health
Assembly) ke 67 tahun 2014
ditetapkan resolusi mengenai strategi
pengendalian TB global yang
bertujuan untuk menghentikan
epidemi global pada tahun 2035 yang
ditandai dengan penurunan angka
kematian TB sebesar 95% dan
penurunan angka insidensi TB
sebesar 90% (menjadi 10/100.000
penduduk) (Kemkes, 2014).
Data rekam medis RSUP
Persahabatan Jakarta menempatkan
TB paru sebagai penyakit dengan
jumlah kunjungan terbanyak yaitu
27.478 pasien atau 9,8% dimana
batuk merupakan gejala utama dari
pasien dengan TB paru tersebut.
Ketidakmampuan pasien untuk
memobilisasi sekret dapat
mengakibatkan penumpukan sekret
dijalan nafas dan menyebabkan
bersihan jalan nafas menjadi tidak
efektif. Dari observasi pendahuluan
yang dilakukan dibulan November
tahun 2015 di ruangan Mawar
Bawah, 2 orang yang mendapatkan
terapi inhalasi dengan menggunakan
posisi semi fowler dan tindakan
batuk efektif, dimana sebelumnya
pasien diberikan edukasi tentang
batuk efektif dengan menggunakan
leaflet sebagai media penyampaian,
mengatakan lebih mudah untuk
mengeluarkan sputum dan diperoleh
frekuensi pernapasan dengan jumlah
16-20x/menit, irama pernapasan
lebih teratur, kedalaman pernapasan
baik dan tidak terdapat bunyi nafas
yang abnormal.
Berdasarkan uraian diatas, maka
peneliti tertarik untuk meneliti
tentang “Efektifitas inhalasi dengan
pemberian posisi semi fowler dan
batuk efektif terhadap pengeluaran
sputum dan bersihan jalan nafas pada
pasien TB paru di RSUP
Persahabatan Jakarta”.
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan
quasy experiment yaitu
mengungkapkan hubungan sebab
akibat dengan cara melibatkan
kelompok kontrol disamping
kelompok eksperimental dan tidak
menggunakan teknik acak dengan
rancangan one-group pre-post test
design yaitu kelompok subjek
diobservasi sebelum dilakukan
intervensi, kemudian diobservasi lagi
setelah dilakukan observasi
(Nursalam, 2014).
Waktu Penelitian Dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada minggu
ketiga bulan Februari 2016 di ruang
rawat inap RSUP Persahabatan
Jakarta.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian adalah
subjek (misalnya manusia; pasien)
yang memenuhi kriteria yang
ditetapkan (Nursalam, 2014).
Populasi dalam penelitian ini adalah
pasien dengan TB paru yang
mendapatkan therapi inhalasi diruang
rawat inap RSUP Persahabatan
Jakarta yang berjumlah 42 orang.
Sampel
Sampel terdiri atas bagian populasi
terjangkau yang dapat dipergunakan
sebagai subjek penelitian melalui
sampling. Sampling adalah proses
menyeleksi porsi dari populasi yang
dapat mewakili populasi yang ada
(Nursalam, 2014). Pada penelitian ini
diambil dengan non random
sampling (purposive sampling atau
judgement sampling) yaitu teknik
penetapan sampel dengan cara
memilih sampel diantara populasi
sesuai dengan yang dikehendaki
peneliti (tujuan/masalah dalam
penelitian), sehingga sampel tersebut
dapat mewakili karakteristik populasi
yang telah dikenal sebelumnya
(Nursalam, 2014).
Etika Penelitian
Etika membantu manusia untuk
melihat atau menilai secara kritis
moralitas yang dihayati dan dianut
oleh masyarakat. Etika dalam
penelitian menunjuk pada prinsip-
prinsip etis yang diterapkan dalam
kegiatan penelitian dan proposal
penelitian, sampai dengan publikasi
hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010).
Etika penelitian ilmu keperawatan
yang hampir 90% menggunakan
manusia sebagai subjek harus
memahami prinsip-prinsip etika
penelitian yang tidak melanggar hak-
hak otonomi manusia yang menjadi
subjek penelitian. Secara umum
prinsip etika dalam
penelitian/pengumpulan data dapat
dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
prinsip manfaat, prinsip menghargai
hak-hak subjek dan prinsip keadilan
(Nursalam, 2014).
Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu
proses pendekatan kepada subjek dan
proses pengumpulan karakteristik
subjek yang diperlukan dalam suatu
penelitian (Nursalam, 2014).
Jenis alat penggumpulan data yang
digunakan penelitian ini adalah
dengan melakukan observasi yang
mengacu pada kerangka konsep.
Pengumpulan data pada penelitian
ini berupa lembar observasi yang
berisi identitas pasien (nama, umur,
jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan), volume sputum,
frekuensi napas, irama napas,
kedalaman napas, bunyi napas yang
dibagi menjadi 2 kelompok
responden yaitu kelompok yang
diberikan posisi posisi semi fowler
pada saat inhalasi dan kelompok
yang diberikan posisi supine pada
saat inhalasi.
Cara pengumpulan data dilakukan
ditempat penelitian dengan prosedur
sebagai berikut :
1) Mengajukan permohonan surat
izin penelitian kepada ketua
program PSIK UMJ setelah
proposal disetujui oleh
pembimbing.
2) Menyerahkan surat pengantar
untuk melakukan penelitan
kepada direktur umum, sumber
daya manusia dan pendidikan.
3) Mendatangi responden untuk
melakukan pendekatan pada
responden dengan memberikan
penjelasan tentang maksud dan
tujuan penelitian, kemudian
meminta responden untuk
mengisi dan menandatangani
lembar informed consent.
4) Strategi pengambilan data
dengan penelitian quasi
experiment dimulai dari
kelompok intervensi yaitu
kelompok pasien TB paru yang
mendapatkan terapi inhalasi
dengan posisi semi fowler dan
batuk efektif. Lalu
mengobservasi pasien tersebut
sebelum dilakukan inhalasi,
dan sesudah melakukan
inhalasi. Kemudian
membandingkannya dengan
kelompok pasien TB paru yang
mendapatkan terapi inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Yang di observasi dan dinilai
adalah volume sputum,
frekuensi napas, irama napas,
kedalaman, dan bunyi napas
selama 3 hari.
Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan suatu
proses untuk memperoleh data atau
data ringkasan berdasarkan suatu
kelompok data mentah dengan
menggunakan rumus tertentu
sehingga menghasilkan informasi
yang diperlukan (Setiadi, 2007).
Analisa Data
Analisa data bertujuan untuk
memperoleh gambaran/deskripsi
masing-masing variabel,
membandingkan dan menguji teori
atau konsep dengan informasi yang
ditemukan, menemukan adanya
konsep baru dari data yang
dikumpulkan dan mencari penjelasan
apakah konsep baru yang diuji
berlaku umum atau hanya berlaku
pada kondisi tertentu (Hastono,
2007).
Setelah data dikumpulkan dan
diproses kemudian data dianalisa
untuk mengetahui Perbandingan
efektifitas inhalasi dengan posisi
semifowler dan posisi supine
terhadap pengeluaran sputum pada
pasien dengan TB paru.
Analisa Univariat (Deskriptif)
Tujuan analisis ini adalah untuk
mendeskripsikan karakteristik
masing-masing variabel yang diteliti
(Hastono, 2007).
Analisa Bivariat
Bertujuan untuk mengetahui apakah
ada hubungan yang signifikan antara
dua variabel atau bisa juga
digunakan untuk mengetahui apakah
ada perbedaan yang signifikan antara
dua atau lebih kelompok sampel.
Analisa bivariat dilakukan dengan
menggunakan uji statistik yaitu uji T-
Independent (Hastono, 2007).
HASIL PENELITIAN
Hasil Analisa Univariat
Analisa univariat mendeskripsikan
karakteristik variabel yang diteliti,
terdiri dari karakteristik responden
yang ditampilkan dalam bentuk
distribusi frekuensi yaitu:
1) Usia
2) Jenis kelamin
3) Pendidikan
4) Pekerjaan
5) Status hidrasi pasien.
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia, Jenis
Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan dan Status Hidrasi Pasien TB paru
yang Mendapatkan Therapi Inhalasi di RSUP Persahabatan Jakarta
Tahun 2016
NO Variabel
Kelompok Intervensi
(n=6)
Kelompok Kontrol
(n=6)
Frekuensi % Frekuensi %
1. Usia
20 - < 45 tahun
≥ 45 - ≤ 60 tahun
5
1
83,3
16,7
5
1
83,3
16,7
2. Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
5
1
83,3
16,7
2
4
33,3
66,7
3 Pendidikan
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
2
0
3
1
33,3
0
50,0
16,7
1
0
4
1
16,7
0
66,7
16,7
4. Pekerjaan
Bekerja
Tidak bekerja
5
1
83,3
16,7
5
1
83,3
16,7
5. Status Hidrasi
Normal
Tidak Normal
6
0
100
0
6
0
100
0
Tabel 5.1 menunjukan distribusi usia
responden kelompok intervensi dan
kelompok kontrol sama, yaitu 5
orang (83,3%) berusia 20 s.d < 45
tahun dan 1 orang (16,7%) berusia ≥
45 s.d ≤ 60 tahun. Jadi dapat
disimpulkan usia responden
terbanyak adalah pada rentang usia
20 s.d <45 tahun.
Pada distribusi jenis kelamin
responden kelompok intervensi yaitu
laki-laki 5 orang (83,3%) dan 1
orang perempuan (16,7%).
Sedangkan pada kelompok kontrol
didapatkan responden jenis kelamin
laki-laki 2 orang (33,3%) dan
perempuan 4 orang (66,7%). Dapat
disimpulkan responden dengan jenis
kelamin laki-laki berjumlah 7 orang
(58,3%) lebih banyak dibandingkan
responden perempuan 41,7%.
Pada distribusi pendidikan terakhir
responden, didapatkan jumlah paling
banyak yaitu pendidikan SMA
dengan jumlah 7 orang (58,3%),
pendidikan SD 25%, perguruan
tinggi 16,7% dan tidak ada satu pun
responden yang mempunyai
pendidikan terakhir SMP.
Pada distribusi pekerjaan, dimana
responden lebih banyak yang bekerja
dengan jumlah 10 orang (83,3%) dan
yang tidak bekerja 16,7%, pada
status hidrasi responden menunjukan
bahwa 100% responden memiliki
status hidrasi yang baik.
Analisa Bivariat
Analisa bivariat menjelaskan
pengaruh variabel independent
terhadap variabel dependent. Pada
penelitian ini peneliti ingin
mengetahui efektifitas posisi semi
fowler dan batuk efektif pada pasien
inhalasi dengan TB paru terhadap
pengeluaran sputum dan bersihan
jalan napas. Hasil analisis bivariat ini
akan mengidentifikasi perbedaan
pengeluaran sputum dan bersihan
jalan napas pada kelompok
intervensi yaitu kelompok yang
diberikan posisi semi fowler dan
melakukan batuk efektif dan
kelompok kontrol yaitu kelompok
yang hanya diberikan posisi semi
fowler tanpa melakukan batuk efektif
dengan menggunakan uji T-
dependen dan uji T-independen.
Tabel 5.2 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang
diberikan Posisi Semi Fowler dan Batuk Efektif terhadap
Pengeluaran Sputum Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi
Inhalasi pada Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama
dengan Hari Ketiga di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada
Kelompok Intervensi
Pengeluaran Sputum n
Mean
Standar Deviasi
P value
V. Sputum I
V. Sputum II
6
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,33
SD 0,516
0,176
V. Sputum I
V. Sputum III
X� 1,67
SD 0,516
X� 1, 00
SD 0.00
0,025
Tabel 5.2 menunjukan rata-rata
volume sputum dihari pertama
dengan mean 1,67 dan standar
deviasi 0,516 dengan volume sputum
dihari kedua dengan mean 1,33 dan
standar deviasi 0,516 didapatkan P
value sebesar 0,176 berarti pada
alpha 5% tidak terdapat perbedaan
yang signifikan jumlah volume
sputum dihari pertama dan kedua.
Sedangkan pada hari pertama dan
ketiga, dimana dihari ketiga
didapatkan mean 1,00 dengan
standar deviasi 0,00 didapatkan P
value 0,025 yang berarti pada alpha
5% (0,05) dapat disimpulkan P < α
maka H0 ditolak, sehingga ada
pengaruh dari pemberian posisi semi
fowler dan batuk efektif terhadap
pengeluaran sputum.
Tabel 5.3 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang
diberikan Posisi Semi Fowler dan Batuk Efektif terhadap Bersihan
Jalan Napas Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada
Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga
di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok
Intervensi
Variabel
Intervensi
P value
Pre Post
Frek.Pernapasan I
Frek.Pernapasan II
Frek.Pernapasan III
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,50
SD 0,548
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
0,025
0,076
0,025
Irama Pernapasan I
Irama Pernapasan II
Irama Pernapasan III
X� 1,50
SD 0,548
X� 1,83
SD 0,408
X� 1,80
SD 0,477
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
0,076
0,004
0,016
K.dlm Pernapasan I
K.dlm Pernapasan II
K.dlm Pernapasan III
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,83
SD 0,408
X� 1,83
SD 0,408
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
X� 1,00
SD 0,00
0,025
0,025
0,004
Bunyi Napas I
Bunyi Napas II
Bunyi Napas III
X� 1,33
SD 0,516
X� 2,00
SD 0,00
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,17
SD 0,408
X� 1,17
SD 0,408
X� 1,17
SD 0,408
0,611
0,004
0.004
Tabel 5.3 menunjukan frekuensi
pernapasan pada hari pertama
didapatkan P value 0,025 yang
berarti pada alpha 5% ada pengaruh
dan ada perbedaan jumlah frekuensi
pernapasan sebelum dan sesudah
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif. Di hari
kedua, P value 0,076 yang berarti
tidak ada perubahan yang signifikan
jumlah frekuensi pernapasan
sebelum dan sesudah dilakukan
inhalasi dengan pemberian posisi
semi fowler dan batuk efektif
terhadap bersihan jalan napas dan
pada hari ketiga didapatkan P value
0,025 yang berarti pada α = 0,05
dimana P < α maka H0 ditolak, yang
berarti ada pengaruh dan ada
perbedaan jumlah frekuensi
pernapasan sebelum dan sesudah
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh frekuensi pernapasan
sebelum dan sesudah diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif terhadap bersihan
jalan napas.
Pada irama pernapasan di hari
pertama didapatkan P value 0,076
yang berarti pada alpha 5% tidak ada
perbedaan yang signifikan pada
irama pernapasan sebelum dan
sesudah dilakukan inhalasi dengan
posisi semi fowler dan batuk efektif.
Pada hari kedua didapatkan P value
0,004 dan pada hari ketiga
didapatkan P value 0,016 yang
berarti pada α = 0,05 P < α maka H0
ditolak, yang berarti ada pengaruh
dan ada perbedaan yang signifikan
pada irama pernapasan sebelum dan
sesudah diberikan inhalasi dengan
posisi semi fowler dan batuk efektif.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh irama pernapasan
sebelum dan sesudah diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif terhadap bersihan
jalan napas.
Pada kedalaman pernapasan dihari
pertama dan kedua didapatkan P
value 0,025, dihari ketiga P value
0,004 yang dapat disimpulkan pada α
= 0,05 dan P < α maka H0 ditolak
berarti ada pengaruh pada kedalaman
pernapasan sebelum dan sesudah
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif terhadap
bersihan jalan napas.
Pada bunyi napas dihari pertama
didapatkan P value dihari pertama
0,611 yang berarti pada α = 0,05dan
P > α maka H0 gagal ditolak, berarti
tidak ada perbedaan yang signifikan
pada bunyi napas sebelum dan
sesudah dilakukan inhalasi dengan
pemberian posisi semi fowler dan
batuk efektif. Sedangkan pada hari
kedua dan ketiga didapatkan P value
0,004 yang berarti pada α 0,05
didapatkan P < α maka H0 ditolak
sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh pada bunyi napas
sebelum dan sesudah diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif terhadap bersihan
jalan napas.
Tabel 5.4 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang
diberikan Posisi Semi Fowler terhadap Pengeluaran Sputum Pasien
TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan
Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Kontrol
Pengeluaran Sputum n
Mean
Standar Deviasi
P value
V. Sputum I
V. Sputum II
6
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,50
SD 0,548
0,076
V. Sputum I
V. Sputum III
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,50
SD 0,548
0,076
Tabel 5.4 menunjukan P value
volume sputum pada hari pertama
dan kedua serta P value pada hari
pertama dan ketiga dengan jumlah
yang sama yaitu 0,076 yang berarti
pada α 0,05 didapatkan P > α maka
H0 gagal ditolak, menunjukan tidak
ada nya perubahan volume sputum
atau tidak adanya hubungan yang
bermakna sebelum dan sesudah
dilakukan inhalasi dengan pemberian
posisi semi fowler terhadap
pengeluaran sputum.
Tabel 5.5 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang
diberikan Posisi Semi Fowler terhadap Bersihan Jalan Napas Pasien
TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan
Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Kontrol
Variabel
Intervensi
P value
Pre Post
Frek.Pernapasan I
Frek.Pernapasan II
Frek.Pernapasan III
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,50
SD 0,548
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,00
SD 0,00
0,076
0,363
0,025
Irama Pernapasan I
Irama Pernapasan II
Irama Pernapasan III
X� 1,83
SD 0,408
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,33
SD 0,516
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,00
SD 0,00
0,363
0,465
0,175
K.dlm Pernapasan I
K.dlm Pernapasan II
K.dlm Pernapasan III
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,00
SD 0,00
0,175
1,000
0,175
Bunyi Napas I
Bunyi Napas II
Bunyi Napas III
X� 2,00
SD 0,00
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,33
SD 0,516
X� 1,67
SD 0,516
X� 1,50
SD 0,548
X� 1,00
SD 0,00
0,175
0,363
0,175
Tabel 5.5 menunjukan pada
frekuensi pernapasan hari pertama
didapatkan P value 0,076 dan hari
kedua 0,363 yang berarti dengan
alpha 5% menunjukan tidak adanya
perubahan yang signifikan pada
frekuensi pernapasan sebelum dan
sesudah dilakukan inhalasi dengan
pemberian posisi semi fowler
terhadap bersihan jalan napas.
Sedangkan pada hari ketiga
didapatkan P value 0,025 yang
berarti pada α 0,05 didapatkan P < α
maka H0 ditolak, menunjukan adanya
perubahan yang signifikan pada
frekuensi pernapasan sebelum dan
sesudah inhalasi dengan pemberian
posisi semi fowler terhadap bersihan
jalan napas.
Pada irama pernapasan hari pertama
didapatkan P value 0,363, hari kedua
didapatkan P value 0,465 dan pada
hari ketiga didapatkan P value 0,175
yang berarti pada α 0,05 didapatkan
P > α maka H0 gagal ditolak,
menunjukan tidak adanya perubahan
yang signifikan pada irama
pernapasan sebelum dan sesudah
inhalasi dengan pemberian posisi
semi fowler terhadap bersihan jalan
napas.
Pada kedalaman pernapasan dihari
pertama didapatkan P value 0,175,
dihari kedua P value 1,000 dan pada
hari ketiga P value 0,175 yang berarti
pada alpha 5% menunjukan tidak
adanya perubahan yang signifikan
pada kedalaman pernapasan sebelum
dan sesudah inhalasi dengan
pemberian posisi semi fowler pada
terhadap bersihan jalan napas.
Pada bunyi napas dihari pertama
didapatkan P value 0,175, dihari
kedua didapatkan P value 0,363 dan
pada hari ketiga didapatkan P value
0,175 yang berarti pada α 0,05
didapatkan P > α maka H0 gagal
ditolak, menunjukan tidak adanya
perubahan yang signifikan pada
bunyi napas sebelum dan sesudah
dilakukan inhalasi dengan pemberian
posisi semi fowler terhadap bersihan
jalan napas
Tabel 5.6 Distribusi Perbandingan Rata-rata Jumlah Sputum
Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif
pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian
Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP.
Persahabatan Jakarta Tahun 2016
Tindakan yang
diberikan
Mean
Standar
Deviasi
Hari
I
P.
Value I
Hari
II
P.
Value
II
Hari
III
P.
Value
III
Semifowler
dan Batuk
Efektif
X�
SD
1,67
0,516
0,49
1,50
0,548
0,599
1,00
0,000
0,010
Semifowler X�
SD
1,50
0,548
2,00
0,000
1,67
0,516
Tabel 5.6 menunjukan jumlah
sputum pada hari pertama didapatkan
P value 0,599 pada α 0,005
menunjukan P > α yang berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja. Pada
hari kedua P value 0,49 dan hari
ketiga didapatkan P value 0,010 yang
berarti pada α 0,05 dimana P < α dan
H0 ditolak, berarti ada perbedaan
jumlah sputum antara responden
yang diberikan inhalasi dengan
posisi semi fowler dan batuk efektif
dengan responden inhalasi dengan
posisi semifowler saja.
Tabel 5.7 Distribusi Perbandingan Rata-rata Frekuensi Pernapasan
Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif
pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian
Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016
Tindakan
yang
diberikan
Mean
Standar
Deviasi
Hari
I
P. Value
I
Hari
II
P. Value
II
Hari
III
P. Value
III
Semifowler
dan Batuk
Efektif
X�
SD
1,6667
0,516
0,599
1,6667
0,51640
2,90
1,6667
0,51640
0,010
Semifowler X�
SD
1,5000
0,5477
1,3333
0,5164
1,0000
0,0000
Tabel 5.7 menunjukan frekuensi
pernapasan pada hari pertama
didapatkan P value 0,599 dan hari
kedua didapatkan P value 2,90 yang
berarti pada α 0,05 P > α dan H0
diterima, menunjukan bahwa tidak
ada perbedaan frekuensi pernapasan
antara responden yang diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif dengan responden
yang diberikan inhalasi dengan
posisi semifowler saja. Tetapi pada
hari ketiga didapatkan P value 0,010
yang berarti pada α 0,05 dimana P <
α maka H0 ditolak, yang berarti ada
perbedaan frekuensi pernapasan
antara responden yang diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif dengan responden
inhalasi dengan posisi semifowler
saja.
Tabel 5.8 Distribusi Perbandingan Rata-rata Irama Pernapasan
Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif
pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian
Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016
Tindakan
yang
diberikan
Mean
Standar
Deviasi
Hari
I
P. Value
I
Hari
II
P. Value
II
Hari
III
P. Value
III
Semifowler
dan Batuk
Efektif
X�
SD
1,6667
0,5164
0,145
1,6667
0,5164
0,000
1,6667
0,5164
0,010
Semifowler X�
SD
2,0000
0,0000
1,6667
0,5164
1,0000
0,0000
Pada Tabel 5.8 menunjukan irama
pernapasan pada hari pertama
dengan P value 0,145 yang berarti
pada α 0,05 dimana P > α maka H0
diterima, yang berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Sedangkan pada hari kedua
didapatkan P value 0,000 dan hari
ketiga didapatkan P value 0,010 yang
pada alpha 5% P < α maka H0
ditolak, yang berarti ada perbedaan
irama pernapasan antara responden
yang diberikan inhalasi dengan
posisi semi fowler dan batuk efektif
dengan responden inhalasi dengan
posisi semifowler saja.
Tabel 5.9 Distribusi Perbandingan Rata-rata Kedalaman Pernapasan
Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif
pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian
Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016
Tindakan
yang
diberikan
Mean
Standar
Deviasi
Hari
I
P. Value
I
Hari
II
P. Value
II
Hari
III
P. Value
III
Semifowler
dan Batuk
Efektif
X�
SD
1,6667
0,5164
1,0000
1,6667
0,5164
0,290
1,0000
0,0000
0,145
Semifowler X�
SD
1,6667
0,5164
1,3333
0,5164
1,3333
0,5164
Tabel 5.9 menunjukan P value
kedalaman pernapasan hari pertama
1,00, P value hari kedua 0,290 dan P
value pada hari ketiga 0,145 yang
berarti pada α 0,05 dimana P > α
maka H0 diterima, yang berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan pada
kedalaman pernapasan antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Tabel 5.10 Distribusi Perbandingan Rata-rata Bunyi Pernapasan
Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif
pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian
Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP
Persahabatan Jakarta Tahun 2016
Tindakan
yang
diberikan
Mean
Standar
Deviasi
Hari
I
P. Value
I
Hari
II
P. Value
II
Hari
III
P. Value
III
Semifowler
dan Batuk
Efektif
X�
SD
1,6667
0,5164
1,000
1,6667
0,5164
0,599
1,6667
0,0000
0,010
Semifowler X�
SD
1,6667
0,5164
1,5000
0,5477
1,0000
0,0000
Tabel 5.10 menunjukan rata-rata
bunyi pernapasan responden hari
pertama dengan P value 1,000 dan
hari kedua didapatkan P value 0,599
yang berarti pada α 0,05 maka P > α
dan H0 diterima, hal ini menunjukan
bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan antara responden yang
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif dengan
responden inhalasi dengan posisi
semifowler saja. Tetapi pada hari
ketiga didapatkan P value 0,010 yang
berarti pada α 0,05 maka P < α dan
H0 ditolak, hal ini menunjukan
adanya perbedaan pada bunyi
pernapasan antara responden yang
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif dengan
responden inhalasi dengan posisi
semifowler saja.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan
bahwa distribusi responden pada
kelompok intervensi dan kelompok
kontrol dilihat dari jumlah sputum
didapatkan P value 0,010 dimana
pada α 0,05 P < α , H0 ditolak yang
berarti ada perbedaan jumlah sputum
antara responden yang diberikan
inhalasi dengan posisi semi fowler
dan batuk efektif dengan responden
inhalasi dengan posisi semifowler saja.
PEMBAHASAN
Analisa Univariat
Karakteristik Responden
Dari karakteristik usia responden,
yang terbanyak adalah rentang usia
20 s.d < 45 tahun yang berjumlah
83,3 %. Hal ini sesuai dengan konsep
yang menyatakan individu yang
beresiko tinggi tertular dan terkena
penyakit TB paru adalah usia dewasa
muda antara 15 sampai dengan 44
tahun (Depkes, 2008). Pasien TB
paru 75% menyerang kelompok usia
produktif (Kemkes, 2014). Orang-
orang pada usia produktif biasanya
memiliki lebih banyak aktivitas yang
mengharuskan bertemu dengan
banyak orang sehingga kemungkinan
tertular dari penderita lain juga lebih
besar. Gaya hidup yang kurang sehat
pada usia produktif seperti keluar
malam dan merokok dapat dapat juga
menjadi salah satu faktor resiko
penyebab terjadinya TB paru.
Dari karakterisitik jenis kelamin
didapatkan 58,3% berjenis kelamin
laki-laki sedangkan perempuan
41,7%. Hal ini sesuai dengan konsep
yang menyatakan penyakit TB paru
cenderung lebih banyak laki-laki
dibandingkan perempuan (Hiswani,
2009). Laki-laki memiliki
kecenderungan lebih besar karena
mayoritas dari laki-laki memiliki
gaya hidup yang tidak sehat seperti
merokok, penggunaan obat-obatan
terlarang yang dapat menurunkan
daya tahan tubuh sehingga mudah
tertular penyakit TB paru.
Dari karakteristik tingkat pendidikan,
didapatkan pendidikan SMA adalah
yang terbanyak 58,3%. Hal ini sesuai
konsep bahwa yang mempengaruhi
kesehatan seseorang adalah perilaku.
Perilaku sendiri terbentuk karena
adanya proses pendidikan
(Notoatmojo, 2007). Tingkat
pendidikan sangat berpengaruh
terhadap kemampuan pasien untuk
menerima informasi tentang penyakit
TB paru, sedangkan kurangnya
pengetahuan menyebabkan
kurangnya kepatuhan terhadap
pengobatan (Hiswani, 2009).
Kenyataannya semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang, semakin
tinggi pula tingkat intelektualnya
dalam menerima informasi yang
diberikan. Sehingga informasi yang
diberikan sampai sesuai dengan
keinginan peneliti.
Dari karakteristik Pekerjaan, 83,3%
responden adalah bekerja. Menurut
Amira (2005) dalam buku
Pemberantasan penyakit TB paru dan
strategi DOTS menyatakan bahwa
bila pasien bekerja dilingkungan
berdebu, paparan partikel debu akan
mempengaruhi terjadinya gangguan
pada saluran pernapasan. Paparan
kronis udara yang tercemar tersebut
dapat meningkatkan gejala penyakit
saluran pernapasan seperti penyakit
TB paru.
Dari karakteristik status hidrasi
100% responden memiliki status
hidrasi yang baik yang baik sesuai
dengan konsep tindakan untuk
mengencerkan sputum yang terlalu
kental sebaiknya mengurangi
viskositasnya dengan
meningkatkankan kandungan air
melalui hidrasi dan minum air
sehingga adequat (Brunner &
Sudarth, 2008). Cairan hangat dapat
menurunkan spasme bronkus.
Hidrasi yang baik membantu
menurunkan kekentalan sekret dan
membantu pengeluaran sputum.
Analisa Bivariat
Efektifitas Pengeluaran Sputum
Pada Pasien TB Paru Setelah
Dilakukan
Inhalasi Dengan Menggunakan
Posisi Semifowler dan Batuk
Efektif
Dari rata-rata distribusi responden
dengan efektifitas pengeluaran
sputum pada pasien TB. paru,
didapatkan P.value 0,010 yang
berarti pada α 0,05 dimana P < α dan
H0 ditolak, yang berarti ada
perbedaan jumlah sputum antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Hal ini sesuai dengan konsep bahwa
batuk efektif bertujuan untuk
membersihkan laring, trakea dan
bronkiolus dari sekret atau benda
asing dijalan napas (Hidayat, 2006)
dan sesuai dengan penelitian Alie, Y.
Rodiyah (2013) dalam jurnal
Metabolisme volume 2 yang berjudul
Pengaruh Batuk Efektif terhadap
Pengeluaran Sputum pada Pasien
Tuberkulosis di Puskesmas
Peterongan Kabupaten Jombang
didapatkan p value = 0,021 (p <
0,05) yang artinya H0 ditolak, berarti
ada pengaruh batuk efektif terhadap
pengeluaran sputum pada pasien TB
di Puskesmas Peterongan Kabupaten
Jombang.
Pemberian posisi semifowler pada
saat inhalasi membuat obat yang
masuk kedalam paru menjadi lebih
maksimal, hal ini terjadi karena pada
posisi semifowler meningkatkan
ekspansi pada otot-otot pernapasan.
Dengan tekhnik batuk efektif yang
tepat, pengeluaran sputum menjadi
lebih mudah tanpa harus mengalami
kelelahan.
Efektifitas Bersihan Jalan Napas
Pada Pasien TB Paru Setelah
Dilakukan Inhalasi Dengan
Menggunakan Posisi Semifowler
dan Batuk Efektif
Dari rata-rata distribusi responden
dengan efektifitas bersihan jalan
napas pada pasien TB. Paru, dilihat
dari frekuensi pernapasan didapatkan
P.value 0,010 yang berarti pada α
0,05 dimana P < α maka H0 ditolak,
yang berarti ada perbedaan frekuensi
pernapasan antara responden yang
diberikan inhalasi dengan posisi semi
fowler dan batuk efektif dengan
responden inhalasi dengan posisi
semifowler saja.
Dari irama pernapasan didapatkan
P.value 0,010 yang pada alpha 5% P
< α maka H0 ditolak, yang berarti ada
perbedaan irama pernapasan antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Dari bunyi pernapasan didapatkan
P.value 0,010 yang berarti pada α
0,05 maka P < α dan H0 ditolak, hal
ini menunjukan adanya perbedaan
pada bunyi pernapasan antara
responden yang diberikan inhalasi
dengan posisi semi fowler dan batuk
efektif dengan responden inhalasi
dengan posisi semifowler saja.
Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya Suryati, A. Nurhayati
(2010) dalam Jurnal Kedokteran dan
Kesehatan tahun 2010 volume 6
tentang Pengaruh Tindakan
Perawatan Batuk Efektif terhadap
Bersihan Jalan Napas Pasien TB paru
Batuk Produktif di RS. Islam Pondok
Kopi Jakarta Timur. Berdasarkan
karakteristik responden, dari 10
orang responden intervensi tindakan
perawatan batuk efektif ternyata baik
frekuensi napas maupun bunyi napas
menjadi normal. Didapatkan p value
sebesar 0,021. Oleh karena p < 0,05
maka H0 ditolak, sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh
tindakan perawatan batuk efektif
terhadap bersihan jalan napas pada
pasien TB paru batuk produktif.
Posisi semifowler pada saat inhalasi
memaksimalkan ekspansi paru dan
memaksimalkan ventilasi area
atelektasis sehingga dapat
meningkatkan gerakan sekret kejalan
napas besar dan sekret mudah untuk
dikeluarkan. Pemberian batuk efektif
setelah dilakukan inhalasi dapat
membersihkan laring, trakea dan
bronkiolus dari sekret yang ada
dijalan napas sehingga membuat
frekuensi pernapasan menjadi
normal, irama pernapasan menjadi
lebih teratur dan tidak terdengar
bunyi suara napas tambahan seperti
rale, whezzing, crackle ataupun
ronkhi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
mengenai “Efektifitas Inhalasi
dengan Pemberian Posisi Semifowler
dan Batuk Efektif terhadap
Pengeluaran Sputum dan Bersihan
Jalan Napas pada Pasien TB Paru di
RSUP Persahabatan Jakarta” yang
dilakukan pada minggu ketiga
Februari 2016, dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1) Rata-rata karakteristik responden
yang mendapatkan terapi inhalasi
dengan TB Paru dari rentang usia
terbanyak adalah antara 20 s.d <
45 tahun (83,3%). Dari
karakteristik jenis kelamin
terbanyak adalah laki-laki
(58,3%). Berdasarkan tingkat
pendidikan responden terbanyak
adalah SMA (58,3%). Rata-rata
responden yang bekerja adalah
(83,3%) dan 100% responden TB
Paru yang mendapatkan terapi
inhalasi memiliki status hidrasi
yang baik.
2) Efektifitas pengeluaran sputum
pada pasien TB Paru menunjukan
ada nya perbedaan jumlah volume
sputum antara responden yang
diberikan inhalasi dengan posisi
semi fowler dan batuk efektif
dengan responden inhalasi dengan
posisi semifowler saja dengan P.
value 0,010.
3) Efektifitas bersihan jalan napas
pada pasien TB Paru yang
meliputi frekuensi pernapasan,
irama pernapasan dan bunyi
pernapasan menunjukan adanya
perbedaan antara responden yang
diberikan inhalasi dengan posisi
semi fowler dan batuk efektif
dengan responden yang
mendapatkan terapi inhalasi
dengan posisi semifowler saja,
dimana responden yang
mendapatkan terapi inhalasi
dengan posisi semifowler dan
batuk efektif menunjukan
frekuensi pernapasan menjadi
lebih baik, irama pernapasan
menjadi lebih teratur dan bunyi
pernapasan menjadi vesikuler
dengan P. value 0,010.
Saran
Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat diterapkan
pada pasien TB paru dengan bersihan
jalan napas tidak efektif yang
mendapatkan therapi inhalasi. Bahwa
selain posisi semifowler pada saat
inhalasi, batuk efektif juga sangat
membantu pasien dalam
mengeluarkan sputum dan mengatasi
bersihan jalan napas.
Bagi Pemberi Asuhan
Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat diterapkan
dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien TB paru
dengan bersihan jalan napas tidak
efektif yang mendapatkan terapi
inhalasi bahwa selain posisi
semifowler pada saat inhalasi,
pemberian asuhan keperawatan batuk
efektif setelah dilakukan inhalasi
juga membantu pasien dalam
mengeluarkan sputum dan mengatasi
bersihan jalan napas.
Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian dapat diterapkan di
institusi pendidikan terutama dalam
asuhan keperawatan dengan
gangguan bersihan jalan napas dalam
mata ajar Keperawatan Medikal
Bedah (KMB), bahwa dari hasil
penelitian, selain posisi semifowler,
batuk efektif juga berdampak dalam
memudahkan pasien untuk
mengeluarkan sputum sehingga
bersihan jalan napas menjadi lebih
efektif.
Bagi Penelitian
Data hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai acuan awal untuk
penelitian selanjutnya seperti
efektifitas inhalasi dengan tindakan
keperawatan yang lain seperti
fisioterapi dada atau jenis
penggunaan farmakoterapi yang lain
pada saat inhlasi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis juga
ingin mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya atas dukungan
nya kepada:
1. Dr. Muhammad Hadi, SKM, M.
Kes. selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas
Muhamadiyah Jakarta.
2. Dr. Irna Nursanti, M. Kep., Sp.
Kep., Mat. selaku Kepala
Program Studi Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas
Muhamadiyah Jakarta.
3. Dr. Tri Kurniati, S. Kp., M. Kes.
selaku dosen pembimbing yang
senantiasa meluangkan waktunya
dalam memberikan bimbingan,
arahan serta masukan dengan
penuh kesabaran selama
penyusunan skripsi ini
4. dr. Mohammad Ali Toha,
MARS. selaku Direktur Utama
RSUP. Persahabatan Jakarta.
5. Seluruh Dosen dan Staff
akademik Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Jakarta.
6. Orang tua, Suami dan kedua anak
saya atas do’a, cinta kasih dan
support yang senantiasa tercurah
tak putus-putusnya.
7. Semua teman-teman
seperjuangan mahasiswa transfer
angkatan 2014 terutama kelas A
transfer Fakultas Ilmu
keperawatan Universitas
Muhamadiyah Jakarta.
8. Seluruh teman-teman perawat di
RSUP. Persahabatan Jakarta.
9. Kepada seluruh pihak yang tidak
dapat disebutkan satu persatu
yang telah membantu saya dalam
menyelesaikan penelitian ini.
Semoga ALLAH SWT. memberikan
balasan atas semua kebaikan yang
telah Bapak/ Ibu/ Saudara/i berikan
dan hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan dalam memberikan
pelayanan asuhan keperawatan.
Akhir kata Wabbilahi Taufik
Walhidayah Wassalamuallaikum Wr.
Wb.
DAFTAR PUSTAKA
Arjatmo & Sudarsono. (2004).
Metodologi Penelitian
Bidang Kedokteran . Jakarta :
FKUI.
Aryani Ratna, dkk. (2009). Prosedur
Klinik Keperawatan Pada
Mata Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia. Jakarta : CV. Trans
Info Media.
Amira, P (2005). Pemberantasan
Penyakit TB Paru dan
Strategi DOTS. Sumatera
Utara : Bagian Paru fakultas
Kedokteran.
Asih, N, G, Y. & Effendy,
Christantie (2004).
Keperawatan Medikal
Bedah: Klien dengan
Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : EGC
Batticaca, F.B. (2008). Asuhan
Keperawatan Pada Klien
dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta:
Salemba Medika.
Brunner & Sudart. (2014).
Keperawatan Medikal Bedah.
Alih Bahasa Devi Yulianti,
Amelia Kimi. Edisi 12.
Jakarta : EGC.
Carpenito, M.L (2007). Buku Saku
Diagnosa Keperawatan .
Alih Bahasa Yasmin Asih.
Edisi 10. Jakarta : EGC.
Depkes RI. (2008). Pedoman Nasi
onal Penanggulangan TBC
Edisi 2. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik
Indonesia.
Dorland, W.A Newman. (2013).
Kamus Kedokteran Dorland
Edisi 29. Jakarta : EGC.
Graha, Chairinniza (2008). Terapi
untuk Anak Asma. Jakarta:
PT. Elex Media komputindo.
Hudak & Gallo. (2010).
Keperawatan Kritis
Pendekatan Holistik. Alih
Bahasa Alleni Dakenia, dkk.
Vol. 1. Edisi VI. Jakarta :
EGC
Hastono, S.P. (2007). Analisis Data
Kesehatan. Jakarta: Fakultas
Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
Hiswani. (2006). Tuberkulosis
merupakan Penyakit Infeksi
yang Masih Menjadi Masalah
Kesehatan Masyarakat.
Sumatera Utara : Bagian Paru
fakultas Kedokteran.
Isselbacher, K.J. (2006). Harrison
Prinsip-Prinsip Ilmu
Penyakit Dalam. Alih Bahasa
Ahmad H. Asdie. Vol.3.
Edisi 13. Jakarta: EGC.
KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi 4. Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
Kemenkes. (2014). Pedoman
Nasional Pengendalian
Tuberkulosis . Jakarta:
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia
Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit Dan
Penyehatan Lingkungan.
Kozier, Erb, Berman, Snyder.
(2010). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan.
Alih Bahasa Pamilih Eko
Karyuni, dkk. Vol.1 Edisi 7.
Jakarta: EGC.
Lewis, Sharon. (2011). Medical
Surgical Nursing Assesment
and Management of Clinnical
Problem. Vol.2 Edisi 8, USA:
Elsevier Mosby
Muttaqin, A. (2008). Asuhan
Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem
Pernapasan . Jakarta:
Salemba Medika.
Nanda. (2006). Diagnosa Panduan
Keperawatan Nanda. Alih
Bahasa Budi Santosa.
Jakarta: Prima Medika
Nursalam. (2014). Metodologi
Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Notoatmodjo, PS. (2010).
Metodologi Penelitian
Kesehatan Edisi 2. Jakarta:
PT. Rineka Cipta
Potter, P. (2005). Fundamental
Keperawatan : Konsep,
Proses dan Praktik. Alih
Bahasa Retna Komalasari.
Jakarta: EGC.
Purwoko, T. (2007). Fisiologi
Mikroba. Jakarta: Bumi
Aksara.
Rebeiro, G. Jack, L. Scully, N &
Wilson, D. (2015).
Keperawatan Dasar Manual
Keterampilan Klinis. Alih
Bahasa Enie Novieastari,
Yupi Supartini. Jakarta:
Elsevier..
Somantri, I. (2008). Asuhan
Keperawatan Pada Pasien
dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta:
Salemba Medika.
Setiadi. (2007). Konsep dan
Penulisan Riset
Keperawatan. Jogjakarta:
Nuha Medika.
Wilkinson, JM. Ahern, NR. (2012).
Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Alih Bahasa
Esti Wahyuningsih. Edisi 9.
Jakarta: EGC.
Alie, Y. Rodiyah. (2013). Pengaruh
Batuk Efektif terhadap
Pengeluaran Sputum pada
PasienTuberkulosis di
Puskesmas Peterongan
Kabupaten Jombang. Jurnal
Metabolisme, Volume 2. Juli
2013; 3.
Lannefors, L. (2006). Inhalation
Therapy : Practocal
Considerations for
Nebulisation Therapy.
Sweden. Department of
Respiratory Medicine Lund
University Hospital Lund
Sweden. Physical Therapy
Reviews. 2006; 11: 21-27.
Safitri, R. Andriyani, A. (2011).
Keefektifan Pemberian Posisi
Semi Fowler terhadap
Penurunan Sesak Nafas pada
Pasien Asma di Ruang Rawat
InapKelas III RSUD. Dr.
Moewardi Surakarta. Gaster,
Volume 8. Agustus 2011; 2:
783-792.
Suryati, A. Nurhayati. (2010).
Pengaruh Tindakan
Perawatan Batuk Efektif
terhadap Bersihan jalan
Nafas Pasien TB Paru Batuk
Produktif di RS. Islam
Pondok Kopi Jakarta Timur.
Jurnal Kedokteran dan
Kesehatan, Volume 6. Juli
2010; 2.
Putri, H. Soemarno, S (2013).
Perbedaan Postural
Drainage dan Latihan Batuk
Efektif pada Intervensi
Nebulizer terhadap
Penurunan Frekuensi Batuk
pada Asma Bronchiale anak
usia 3-5 tahun. Jurnal
Fisioterapi volume 13 nomor
1.
Wijaya, A.A (2012). Merokok dan
Tuberkulosis. Jurnal
Tuberkulosis Indonesia
volume 8 : 23-28.
Anonim. (2009). Penyakit TBC.
http://www.medicastore.com/
tbc/penyakit.tbc.htm. diunduh
pada tanggal 3 Oktober 2015.
Anonim. (2015). Kamus Kesehatan.
http://kamuskesehatan.com/ar
ti/sputum. diunduh pada
tanggal 30 September 2015.
Anonim, (2015). Terapi Inhalasi
pada Anak,
www.parenting.co.id/balita/te
rapi%inhalasi. diunduh pada
tanggal 5 Februari 2016.
Kresnawati, W. (2012). Whats the
Difference Between a
Nebulizer and an inhaler?.
http://m.kidshealth.org/kid/as
thma_basics/monitoring/nebu
lizer_inhaler.html. diunduh
pada tanggal 10 Oktober
2015.
Oktariyandi. Yunus. (2015).
Nebulizer.
http://dokumen.tips/dokumen
/nebulizer. diunduh pada
tanggal 29 September 2015.
Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI.
(2015). Tuberkulosis.
http://www.depkes.go.id/reso
urces/download/pusdatin/info
datin/infodatin_TB. diunduh
pada tanggal 11 Oktober
2015.
Pusat Data dan Informasi PERSI.
(2012). Indonesia Masih di
Empat Besar Kasus
Tuberkulosis.
http://www.pdpersi.co.id/cont
ent/news.php?mid=5&catid=
23&nid=1009. Diunduh pada
tanggal 11 Oktober 2015.
Supriyatno, B. Nataprawira, HMD.
(2012). Terapi Inhalasi Pada
Asma Anak.
http://saripediatri.idai.or.id.
Diunduh pada tanggal 29
September 2015.

EFEKTIFITAS INHALASI DENGAN PEMBERIAN POSISI SEMIFOWLER DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENGELUARAN SPUTUM DAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA PASIEN TB PARU DI RSUP. PERSAHABATAN JAKARTA TAHUN 2016

  • 1.
    EFEKTIFITAS INHALASI DENGANPEMBERIAN POSISI SEMIFOWLER DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENGELUARAN SPUTUM DAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA PASIEN TB PARU DI RSUP. PERSAHABATAN JAKARTA TAHUN 2016 ARLIN RIDHANIA1 ARLIN RIDHANIA : PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA, Kampus FIK Muhammadiyah Hakarta, Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510 ABSTRAK Ketidakmampuan pasien untuk memobilisasi sekret dapat mengakibatkan penumpukan sekret dijalan napas dan menyebabkan bersihan jalan napas menjadi tidak efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk memudahkan pengeluaran sputum dan mengatasi masalah bersihan jalan napas. Tindakan untuk mengencerkan sekret yang terlalu kental adalah dengan mengurangi viskositasnya dan meningkatkan kandungan air melalui hidrasi yang adequat dan inhalasi larutan yang mengandung aerosol dengan menggunakan nebuliser. Pemberian posisi semifowler dapat memaksimalkan ekspansi paru sehingga dapat menggerakan sekret ke jalan napas besar agar mudah dikeluarkan. Batuk efektif adalah tindakan yang diperlukan untuk membersihkan sekresi, meningkatkan ekspansi paru, memobilisasi sekret dan mencegah efek samping dari retensi sekresi. Desain penelitian ini menggunakan quasy experiment dengan rancangan one-group pre- post test design, dengan sampel sebanyak 12 orang responden yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi dimana masing-masing kelompok berjumlah 6 orang responden. Analisis dilakukan secara bertahap melalui analisa univariat dan analisa bivariat. Hasil penelitian didapatkan P.value 0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α menunjukan adanya perbedaan jumlah sputum dan bersihan jalan napas dengan pemberian posisi semifowler dan batuk efektif. Untuk teman sejawat dipelayanan sebaiknya pada saat inhalasi diberikan posisi yang tepat yaitu semifowler dan setelah inhalasi dilakukan tindakan batuk efektif untuk meningkatkan efektifitas pengeluaran sputum dan bersihan jalan napas. Kata Kunci : TB Paru, Inhalasi, Semifowler, Batuk Efektif, Pengeluaran Sputum, Bersihan Jalan Napas PENDAHULUAN Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri mycrobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ terutama paru-paru. Penyakit TB bila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian (Pusdatin, 2015). TB paru menduduki urutan teratas penyakit infeksius yang mematikan
  • 2.
    didunia. Ditahun 2014dari 9,6 juta orang dengan TB, 1,5 juta (15,6%) meninggal dunia karenanya (WHO, 2015 ). Indonesia saat ini menduduki peringkat ke dua sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbesar setelah negara India. Diperkirakan terdapat 2,9 juta kasus TB pada tahun 2012 dengan jumlah kematian pasien dengan TB paru mencapai 410.000 kasus (14,1%). Persentase jumlah kematian pada pasien TB laki-laki lebih banyak 61% dari pada wanita. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif sekitar 15-50 tahun (Kemkes, 2014). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3-4 bulan kedepan, hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal karena TB, maka keluarga akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomi, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial, seperti dikucilkan oleh masyarakat (Kemkes, 2014). Pada tahun 2013 muncul usulan dari beberapa negara anggota WHO (World Health Organization) yang mengusulkan adanya strategi baru untuk mengendalikan TB yang mampu menahan laju infeksi baru dan mencegah kematian akibat TB. Pada siding WHA (World Health Assembly) ke 67 tahun 2014 ditetapkan resolusi mengenai strategi pengendalian TB global yang bertujuan untuk menghentikan epidemi global pada tahun 2035 yang ditandai dengan penurunan angka kematian TB sebesar 95% dan penurunan angka insidensi TB sebesar 90% (menjadi 10/100.000 penduduk) (Kemkes, 2014). Data rekam medis RSUP Persahabatan Jakarta menempatkan TB paru sebagai penyakit dengan jumlah kunjungan terbanyak yaitu 27.478 pasien atau 9,8% dimana batuk merupakan gejala utama dari pasien dengan TB paru tersebut. Ketidakmampuan pasien untuk memobilisasi sekret dapat mengakibatkan penumpukan sekret dijalan nafas dan menyebabkan bersihan jalan nafas menjadi tidak efektif. Dari observasi pendahuluan yang dilakukan dibulan November tahun 2015 di ruangan Mawar Bawah, 2 orang yang mendapatkan terapi inhalasi dengan menggunakan posisi semi fowler dan tindakan batuk efektif, dimana sebelumnya pasien diberikan edukasi tentang batuk efektif dengan menggunakan leaflet sebagai media penyampaian, mengatakan lebih mudah untuk mengeluarkan sputum dan diperoleh frekuensi pernapasan dengan jumlah 16-20x/menit, irama pernapasan lebih teratur, kedalaman pernapasan baik dan tidak terdapat bunyi nafas yang abnormal. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Efektifitas inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap pengeluaran sputum dan bersihan jalan nafas pada pasien TB paru di RSUP Persahabatan Jakarta”. METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan quasy experiment yaitu
  • 3.
    mengungkapkan hubungan sebab akibatdengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental dan tidak menggunakan teknik acak dengan rancangan one-group pre-post test design yaitu kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah dilakukan observasi (Nursalam, 2014). Waktu Penelitian Dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada minggu ketiga bulan Februari 2016 di ruang rawat inap RSUP Persahabatan Jakarta. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia; pasien) yang memenuhi kriteria yang ditetapkan (Nursalam, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dengan TB paru yang mendapatkan therapi inhalasi diruang rawat inap RSUP Persahabatan Jakarta yang berjumlah 42 orang. Sampel Sampel terdiri atas bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2014). Pada penelitian ini diambil dengan non random sampling (purposive sampling atau judgement sampling) yaitu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2014). Etika Penelitian Etika membantu manusia untuk melihat atau menilai secara kritis moralitas yang dihayati dan dianut oleh masyarakat. Etika dalam penelitian menunjuk pada prinsip- prinsip etis yang diterapkan dalam kegiatan penelitian dan proposal penelitian, sampai dengan publikasi hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010). Etika penelitian ilmu keperawatan yang hampir 90% menggunakan manusia sebagai subjek harus memahami prinsip-prinsip etika penelitian yang tidak melanggar hak- hak otonomi manusia yang menjadi subjek penelitian. Secara umum prinsip etika dalam penelitian/pengumpulan data dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu prinsip manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek dan prinsip keadilan (Nursalam, 2014). Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2014). Jenis alat penggumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah dengan melakukan observasi yang mengacu pada kerangka konsep. Pengumpulan data pada penelitian ini berupa lembar observasi yang berisi identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan), volume sputum, frekuensi napas, irama napas, kedalaman napas, bunyi napas yang dibagi menjadi 2 kelompok
  • 4.
    responden yaitu kelompokyang diberikan posisi posisi semi fowler pada saat inhalasi dan kelompok yang diberikan posisi supine pada saat inhalasi. Cara pengumpulan data dilakukan ditempat penelitian dengan prosedur sebagai berikut : 1) Mengajukan permohonan surat izin penelitian kepada ketua program PSIK UMJ setelah proposal disetujui oleh pembimbing. 2) Menyerahkan surat pengantar untuk melakukan penelitan kepada direktur umum, sumber daya manusia dan pendidikan. 3) Mendatangi responden untuk melakukan pendekatan pada responden dengan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian, kemudian meminta responden untuk mengisi dan menandatangani lembar informed consent. 4) Strategi pengambilan data dengan penelitian quasi experiment dimulai dari kelompok intervensi yaitu kelompok pasien TB paru yang mendapatkan terapi inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif. Lalu mengobservasi pasien tersebut sebelum dilakukan inhalasi, dan sesudah melakukan inhalasi. Kemudian membandingkannya dengan kelompok pasien TB paru yang mendapatkan terapi inhalasi dengan posisi semifowler saja. Yang di observasi dan dinilai adalah volume sputum, frekuensi napas, irama napas, kedalaman, dan bunyi napas selama 3 hari. Pengolahan Data Pengolahan data merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi, 2007). Analisa Data Analisa data bertujuan untuk memperoleh gambaran/deskripsi masing-masing variabel, membandingkan dan menguji teori atau konsep dengan informasi yang ditemukan, menemukan adanya konsep baru dari data yang dikumpulkan dan mencari penjelasan apakah konsep baru yang diuji berlaku umum atau hanya berlaku pada kondisi tertentu (Hastono, 2007). Setelah data dikumpulkan dan diproses kemudian data dianalisa untuk mengetahui Perbandingan efektifitas inhalasi dengan posisi semifowler dan posisi supine terhadap pengeluaran sputum pada pasien dengan TB paru. Analisa Univariat (Deskriptif) Tujuan analisis ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti (Hastono, 2007). Analisa Bivariat Bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara dua variabel atau bisa juga digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua atau lebih kelompok sampel. Analisa bivariat dilakukan dengan
  • 5.
    menggunakan uji statistikyaitu uji T- Independent (Hastono, 2007). HASIL PENELITIAN Hasil Analisa Univariat Analisa univariat mendeskripsikan karakteristik variabel yang diteliti, terdiri dari karakteristik responden yang ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi yaitu: 1) Usia 2) Jenis kelamin 3) Pendidikan 4) Pekerjaan 5) Status hidrasi pasien. Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan dan Status Hidrasi Pasien TB paru yang Mendapatkan Therapi Inhalasi di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 NO Variabel Kelompok Intervensi (n=6) Kelompok Kontrol (n=6) Frekuensi % Frekuensi % 1. Usia 20 - < 45 tahun ≥ 45 - ≤ 60 tahun 5 1 83,3 16,7 5 1 83,3 16,7 2. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 5 1 83,3 16,7 2 4 33,3 66,7 3 Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi 2 0 3 1 33,3 0 50,0 16,7 1 0 4 1 16,7 0 66,7 16,7 4. Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja 5 1 83,3 16,7 5 1 83,3 16,7 5. Status Hidrasi Normal Tidak Normal 6 0 100 0 6 0 100 0 Tabel 5.1 menunjukan distribusi usia responden kelompok intervensi dan kelompok kontrol sama, yaitu 5 orang (83,3%) berusia 20 s.d < 45 tahun dan 1 orang (16,7%) berusia ≥ 45 s.d ≤ 60 tahun. Jadi dapat disimpulkan usia responden terbanyak adalah pada rentang usia 20 s.d <45 tahun. Pada distribusi jenis kelamin responden kelompok intervensi yaitu laki-laki 5 orang (83,3%) dan 1 orang perempuan (16,7%). Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan responden jenis kelamin laki-laki 2 orang (33,3%) dan perempuan 4 orang (66,7%). Dapat disimpulkan responden dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 7 orang (58,3%) lebih banyak dibandingkan responden perempuan 41,7%. Pada distribusi pendidikan terakhir responden, didapatkan jumlah paling banyak yaitu pendidikan SMA dengan jumlah 7 orang (58,3%), pendidikan SD 25%, perguruan tinggi 16,7% dan tidak ada satu pun responden yang mempunyai pendidikan terakhir SMP. Pada distribusi pekerjaan, dimana responden lebih banyak yang bekerja dengan jumlah 10 orang (83,3%) dan yang tidak bekerja 16,7%, pada status hidrasi responden menunjukan bahwa 100% responden memiliki status hidrasi yang baik.
  • 6.
    Analisa Bivariat Analisa bivariatmenjelaskan pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent. Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui efektifitas posisi semi fowler dan batuk efektif pada pasien inhalasi dengan TB paru terhadap pengeluaran sputum dan bersihan jalan napas. Hasil analisis bivariat ini akan mengidentifikasi perbedaan pengeluaran sputum dan bersihan jalan napas pada kelompok intervensi yaitu kelompok yang diberikan posisi semi fowler dan melakukan batuk efektif dan kelompok kontrol yaitu kelompok yang hanya diberikan posisi semi fowler tanpa melakukan batuk efektif dengan menggunakan uji T- dependen dan uji T-independen. Tabel 5.2 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang diberikan Posisi Semi Fowler dan Batuk Efektif terhadap Pengeluaran Sputum Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Intervensi Pengeluaran Sputum n Mean Standar Deviasi P value V. Sputum I V. Sputum II 6 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,33 SD 0,516 0,176 V. Sputum I V. Sputum III X� 1,67 SD 0,516 X� 1, 00 SD 0.00 0,025 Tabel 5.2 menunjukan rata-rata volume sputum dihari pertama dengan mean 1,67 dan standar deviasi 0,516 dengan volume sputum dihari kedua dengan mean 1,33 dan standar deviasi 0,516 didapatkan P value sebesar 0,176 berarti pada alpha 5% tidak terdapat perbedaan yang signifikan jumlah volume sputum dihari pertama dan kedua. Sedangkan pada hari pertama dan ketiga, dimana dihari ketiga didapatkan mean 1,00 dengan standar deviasi 0,00 didapatkan P value 0,025 yang berarti pada alpha 5% (0,05) dapat disimpulkan P < α maka H0 ditolak, sehingga ada pengaruh dari pemberian posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap pengeluaran sputum. Tabel 5.3 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang diberikan Posisi Semi Fowler dan Batuk Efektif terhadap Bersihan Jalan Napas Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Intervensi
  • 7.
    Variabel Intervensi P value Pre Post Frek.PernapasanI Frek.Pernapasan II Frek.Pernapasan III X� 1,67 SD 0,516 X� 1,50 SD 0,548 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 0,025 0,076 0,025 Irama Pernapasan I Irama Pernapasan II Irama Pernapasan III X� 1,50 SD 0,548 X� 1,83 SD 0,408 X� 1,80 SD 0,477 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 0,076 0,004 0,016 K.dlm Pernapasan I K.dlm Pernapasan II K.dlm Pernapasan III X� 1,67 SD 0,516 X� 1,83 SD 0,408 X� 1,83 SD 0,408 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 X� 1,00 SD 0,00 0,025 0,025 0,004 Bunyi Napas I Bunyi Napas II Bunyi Napas III X� 1,33 SD 0,516 X� 2,00 SD 0,00 X� 2,00 SD 0,00 X� 1,17 SD 0,408 X� 1,17 SD 0,408 X� 1,17 SD 0,408 0,611 0,004 0.004 Tabel 5.3 menunjukan frekuensi pernapasan pada hari pertama didapatkan P value 0,025 yang berarti pada alpha 5% ada pengaruh dan ada perbedaan jumlah frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif. Di hari kedua, P value 0,076 yang berarti tidak ada perubahan yang signifikan jumlah frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah dilakukan inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas dan pada hari ketiga didapatkan P value 0,025 yang berarti pada α = 0,05 dimana P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada pengaruh dan ada perbedaan jumlah frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas. Pada irama pernapasan di hari pertama didapatkan P value 0,076 yang berarti pada alpha 5% tidak ada perbedaan yang signifikan pada irama pernapasan sebelum dan
  • 8.
    sesudah dilakukan inhalasidengan posisi semi fowler dan batuk efektif. Pada hari kedua didapatkan P value 0,004 dan pada hari ketiga didapatkan P value 0,016 yang berarti pada α = 0,05 P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada pengaruh dan ada perbedaan yang signifikan pada irama pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh irama pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas. Pada kedalaman pernapasan dihari pertama dan kedua didapatkan P value 0,025, dihari ketiga P value 0,004 yang dapat disimpulkan pada α = 0,05 dan P < α maka H0 ditolak berarti ada pengaruh pada kedalaman pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas. Pada bunyi napas dihari pertama didapatkan P value dihari pertama 0,611 yang berarti pada α = 0,05dan P > α maka H0 gagal ditolak, berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada bunyi napas sebelum dan sesudah dilakukan inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler dan batuk efektif. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga didapatkan P value 0,004 yang berarti pada α 0,05 didapatkan P < α maka H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pada bunyi napas sebelum dan sesudah diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas. Tabel 5.4 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang diberikan Posisi Semi Fowler terhadap Pengeluaran Sputum Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Kontrol Pengeluaran Sputum n Mean Standar Deviasi P value V. Sputum I V. Sputum II 6 X� 2,00 SD 0,00 X� 1,50 SD 0,548 0,076 V. Sputum I V. Sputum III X� 2,00 SD 0,00 X� 1,50 SD 0,548 0,076
  • 9.
    Tabel 5.4 menunjukanP value volume sputum pada hari pertama dan kedua serta P value pada hari pertama dan ketiga dengan jumlah yang sama yaitu 0,076 yang berarti pada α 0,05 didapatkan P > α maka H0 gagal ditolak, menunjukan tidak ada nya perubahan volume sputum atau tidak adanya hubungan yang bermakna sebelum dan sesudah dilakukan inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler terhadap pengeluaran sputum. Tabel 5.5 Distribusi Perbandingan Nilai Rata-rata Responden yang diberikan Posisi Semi Fowler terhadap Bersihan Jalan Napas Pasien TB Paru setelah Mendapat Therapi Inhalasi pada Hari Pertama dan Hari Kedua dan hari Pertama dengan Hari Ketiga di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 pada Kelompok Kontrol Variabel Intervensi P value Pre Post Frek.Pernapasan I Frek.Pernapasan II Frek.Pernapasan III X� 2,00 SD 0,00 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,50 SD 0,548 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,00 SD 0,00 0,076 0,363 0,025 Irama Pernapasan I Irama Pernapasan II Irama Pernapasan III X� 1,83 SD 0,408 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,33 SD 0,516 X� 2,00 SD 0,00 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,00 SD 0,00 0,363 0,465 0,175 K.dlm Pernapasan I K.dlm Pernapasan II K.dlm Pernapasan III X� 2,00 SD 0,00 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,00 SD 0,00 0,175 1,000 0,175 Bunyi Napas I Bunyi Napas II Bunyi Napas III X� 2,00 SD 0,00 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,33 SD 0,516 X� 1,67 SD 0,516 X� 1,50 SD 0,548 X� 1,00 SD 0,00 0,175 0,363 0,175 Tabel 5.5 menunjukan pada frekuensi pernapasan hari pertama didapatkan P value 0,076 dan hari kedua 0,363 yang berarti dengan
  • 10.
    alpha 5% menunjukantidak adanya perubahan yang signifikan pada frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah dilakukan inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler terhadap bersihan jalan napas. Sedangkan pada hari ketiga didapatkan P value 0,025 yang berarti pada α 0,05 didapatkan P < α maka H0 ditolak, menunjukan adanya perubahan yang signifikan pada frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler terhadap bersihan jalan napas. Pada irama pernapasan hari pertama didapatkan P value 0,363, hari kedua didapatkan P value 0,465 dan pada hari ketiga didapatkan P value 0,175 yang berarti pada α 0,05 didapatkan P > α maka H0 gagal ditolak, menunjukan tidak adanya perubahan yang signifikan pada irama pernapasan sebelum dan sesudah inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler terhadap bersihan jalan napas. Pada kedalaman pernapasan dihari pertama didapatkan P value 0,175, dihari kedua P value 1,000 dan pada hari ketiga P value 0,175 yang berarti pada alpha 5% menunjukan tidak adanya perubahan yang signifikan pada kedalaman pernapasan sebelum dan sesudah inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler pada terhadap bersihan jalan napas. Pada bunyi napas dihari pertama didapatkan P value 0,175, dihari kedua didapatkan P value 0,363 dan pada hari ketiga didapatkan P value 0,175 yang berarti pada α 0,05 didapatkan P > α maka H0 gagal ditolak, menunjukan tidak adanya perubahan yang signifikan pada bunyi napas sebelum dan sesudah dilakukan inhalasi dengan pemberian posisi semi fowler terhadap bersihan jalan napas Tabel 5.6 Distribusi Perbandingan Rata-rata Jumlah Sputum Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP. Persahabatan Jakarta Tahun 2016 Tindakan yang diberikan Mean Standar Deviasi Hari I P. Value I Hari II P. Value II Hari III P. Value III Semifowler dan Batuk Efektif X� SD 1,67 0,516 0,49 1,50 0,548 0,599 1,00 0,000 0,010 Semifowler X� SD 1,50 0,548 2,00 0,000 1,67 0,516 Tabel 5.6 menunjukan jumlah sputum pada hari pertama didapatkan P value 0,599 pada α 0,005 menunjukan P > α yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Pada hari kedua P value 0,49 dan hari ketiga didapatkan P value 0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α dan H0 ditolak, berarti ada perbedaan jumlah sputum antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja.
  • 11.
    Tabel 5.7 DistribusiPerbandingan Rata-rata Frekuensi Pernapasan Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 Tindakan yang diberikan Mean Standar Deviasi Hari I P. Value I Hari II P. Value II Hari III P. Value III Semifowler dan Batuk Efektif X� SD 1,6667 0,516 0,599 1,6667 0,51640 2,90 1,6667 0,51640 0,010 Semifowler X� SD 1,5000 0,5477 1,3333 0,5164 1,0000 0,0000 Tabel 5.7 menunjukan frekuensi pernapasan pada hari pertama didapatkan P value 0,599 dan hari kedua didapatkan P value 2,90 yang berarti pada α 0,05 P > α dan H0 diterima, menunjukan bahwa tidak ada perbedaan frekuensi pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semifowler saja. Tetapi pada hari ketiga didapatkan P value 0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada perbedaan frekuensi pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Tabel 5.8 Distribusi Perbandingan Rata-rata Irama Pernapasan Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 Tindakan yang diberikan Mean Standar Deviasi Hari I P. Value I Hari II P. Value II Hari III P. Value III Semifowler dan Batuk Efektif X� SD 1,6667 0,5164 0,145 1,6667 0,5164 0,000 1,6667 0,5164 0,010 Semifowler X� SD 2,0000 0,0000 1,6667 0,5164 1,0000 0,0000 Pada Tabel 5.8 menunjukan irama pernapasan pada hari pertama dengan P value 0,145 yang berarti pada α 0,05 dimana P > α maka H0 diterima, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Sedangkan pada hari kedua didapatkan P value 0,000 dan hari ketiga didapatkan P value 0,010 yang pada alpha 5% P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada perbedaan irama pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja.
  • 12.
    Tabel 5.9 DistribusiPerbandingan Rata-rata Kedalaman Pernapasan Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 Tindakan yang diberikan Mean Standar Deviasi Hari I P. Value I Hari II P. Value II Hari III P. Value III Semifowler dan Batuk Efektif X� SD 1,6667 0,5164 1,0000 1,6667 0,5164 0,290 1,0000 0,0000 0,145 Semifowler X� SD 1,6667 0,5164 1,3333 0,5164 1,3333 0,5164 Tabel 5.9 menunjukan P value kedalaman pernapasan hari pertama 1,00, P value hari kedua 0,290 dan P value pada hari ketiga 0,145 yang berarti pada α 0,05 dimana P > α maka H0 diterima, yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedalaman pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Tabel 5.10 Distribusi Perbandingan Rata-rata Bunyi Pernapasan Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk efektif pada Kelompok Intervensi terhadap Responden dengan Pemberian Posisi Semifowler pada Kelompok Kontrol pasien TB paru di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2016 Tindakan yang diberikan Mean Standar Deviasi Hari I P. Value I Hari II P. Value II Hari III P. Value III Semifowler dan Batuk Efektif X� SD 1,6667 0,5164 1,000 1,6667 0,5164 0,599 1,6667 0,0000 0,010 Semifowler X� SD 1,6667 0,5164 1,5000 0,5477 1,0000 0,0000 Tabel 5.10 menunjukan rata-rata bunyi pernapasan responden hari pertama dengan P value 1,000 dan hari kedua didapatkan P value 0,599 yang berarti pada α 0,05 maka P > α dan H0 diterima, hal ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Tetapi pada hari ketiga didapatkan P value 0,010 yang berarti pada α 0,05 maka P < α dan H0 ditolak, hal ini menunjukan adanya perbedaan pada bunyi pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa distribusi responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dilihat dari jumlah sputum didapatkan P value 0,010 dimana pada α 0,05 P < α , H0 ditolak yang berarti ada perbedaan jumlah sputum antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden
  • 13.
    inhalasi dengan posisisemifowler saja. PEMBAHASAN Analisa Univariat Karakteristik Responden Dari karakteristik usia responden, yang terbanyak adalah rentang usia 20 s.d < 45 tahun yang berjumlah 83,3 %. Hal ini sesuai dengan konsep yang menyatakan individu yang beresiko tinggi tertular dan terkena penyakit TB paru adalah usia dewasa muda antara 15 sampai dengan 44 tahun (Depkes, 2008). Pasien TB paru 75% menyerang kelompok usia produktif (Kemkes, 2014). Orang- orang pada usia produktif biasanya memiliki lebih banyak aktivitas yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang sehingga kemungkinan tertular dari penderita lain juga lebih besar. Gaya hidup yang kurang sehat pada usia produktif seperti keluar malam dan merokok dapat dapat juga menjadi salah satu faktor resiko penyebab terjadinya TB paru. Dari karakterisitik jenis kelamin didapatkan 58,3% berjenis kelamin laki-laki sedangkan perempuan 41,7%. Hal ini sesuai dengan konsep yang menyatakan penyakit TB paru cenderung lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan (Hiswani, 2009). Laki-laki memiliki kecenderungan lebih besar karena mayoritas dari laki-laki memiliki gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, penggunaan obat-obatan terlarang yang dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah tertular penyakit TB paru. Dari karakteristik tingkat pendidikan, didapatkan pendidikan SMA adalah yang terbanyak 58,3%. Hal ini sesuai konsep bahwa yang mempengaruhi kesehatan seseorang adalah perilaku. Perilaku sendiri terbentuk karena adanya proses pendidikan (Notoatmojo, 2007). Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemampuan pasien untuk menerima informasi tentang penyakit TB paru, sedangkan kurangnya pengetahuan menyebabkan kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan (Hiswani, 2009). Kenyataannya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula tingkat intelektualnya dalam menerima informasi yang diberikan. Sehingga informasi yang diberikan sampai sesuai dengan keinginan peneliti. Dari karakteristik Pekerjaan, 83,3% responden adalah bekerja. Menurut Amira (2005) dalam buku Pemberantasan penyakit TB paru dan strategi DOTS menyatakan bahwa bila pasien bekerja dilingkungan berdebu, paparan partikel debu akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernapasan. Paparan kronis udara yang tercemar tersebut dapat meningkatkan gejala penyakit saluran pernapasan seperti penyakit TB paru. Dari karakteristik status hidrasi 100% responden memiliki status hidrasi yang baik yang baik sesuai dengan konsep tindakan untuk mengencerkan sputum yang terlalu kental sebaiknya mengurangi viskositasnya dengan meningkatkankan kandungan air melalui hidrasi dan minum air sehingga adequat (Brunner & Sudarth, 2008). Cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Hidrasi yang baik membantu
  • 14.
    menurunkan kekentalan sekretdan membantu pengeluaran sputum. Analisa Bivariat Efektifitas Pengeluaran Sputum Pada Pasien TB Paru Setelah Dilakukan Inhalasi Dengan Menggunakan Posisi Semifowler dan Batuk Efektif Dari rata-rata distribusi responden dengan efektifitas pengeluaran sputum pada pasien TB. paru, didapatkan P.value 0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α dan H0 ditolak, yang berarti ada perbedaan jumlah sputum antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Hal ini sesuai dengan konsep bahwa batuk efektif bertujuan untuk membersihkan laring, trakea dan bronkiolus dari sekret atau benda asing dijalan napas (Hidayat, 2006) dan sesuai dengan penelitian Alie, Y. Rodiyah (2013) dalam jurnal Metabolisme volume 2 yang berjudul Pengaruh Batuk Efektif terhadap Pengeluaran Sputum pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Peterongan Kabupaten Jombang didapatkan p value = 0,021 (p < 0,05) yang artinya H0 ditolak, berarti ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran sputum pada pasien TB di Puskesmas Peterongan Kabupaten Jombang. Pemberian posisi semifowler pada saat inhalasi membuat obat yang masuk kedalam paru menjadi lebih maksimal, hal ini terjadi karena pada posisi semifowler meningkatkan ekspansi pada otot-otot pernapasan. Dengan tekhnik batuk efektif yang tepat, pengeluaran sputum menjadi lebih mudah tanpa harus mengalami kelelahan. Efektifitas Bersihan Jalan Napas Pada Pasien TB Paru Setelah Dilakukan Inhalasi Dengan Menggunakan Posisi Semifowler dan Batuk Efektif Dari rata-rata distribusi responden dengan efektifitas bersihan jalan napas pada pasien TB. Paru, dilihat dari frekuensi pernapasan didapatkan P.value 0,010 yang berarti pada α 0,05 dimana P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada perbedaan frekuensi pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Dari irama pernapasan didapatkan P.value 0,010 yang pada alpha 5% P < α maka H0 ditolak, yang berarti ada perbedaan irama pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Dari bunyi pernapasan didapatkan P.value 0,010 yang berarti pada α 0,05 maka P < α dan H0 ditolak, hal ini menunjukan adanya perbedaan pada bunyi pernapasan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya Suryati, A. Nurhayati (2010) dalam Jurnal Kedokteran dan Kesehatan tahun 2010 volume 6 tentang Pengaruh Tindakan Perawatan Batuk Efektif terhadap
  • 15.
    Bersihan Jalan NapasPasien TB paru Batuk Produktif di RS. Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Berdasarkan karakteristik responden, dari 10 orang responden intervensi tindakan perawatan batuk efektif ternyata baik frekuensi napas maupun bunyi napas menjadi normal. Didapatkan p value sebesar 0,021. Oleh karena p < 0,05 maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh tindakan perawatan batuk efektif terhadap bersihan jalan napas pada pasien TB paru batuk produktif. Posisi semifowler pada saat inhalasi memaksimalkan ekspansi paru dan memaksimalkan ventilasi area atelektasis sehingga dapat meningkatkan gerakan sekret kejalan napas besar dan sekret mudah untuk dikeluarkan. Pemberian batuk efektif setelah dilakukan inhalasi dapat membersihkan laring, trakea dan bronkiolus dari sekret yang ada dijalan napas sehingga membuat frekuensi pernapasan menjadi normal, irama pernapasan menjadi lebih teratur dan tidak terdengar bunyi suara napas tambahan seperti rale, whezzing, crackle ataupun ronkhi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Efektifitas Inhalasi dengan Pemberian Posisi Semifowler dan Batuk Efektif terhadap Pengeluaran Sputum dan Bersihan Jalan Napas pada Pasien TB Paru di RSUP Persahabatan Jakarta” yang dilakukan pada minggu ketiga Februari 2016, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Rata-rata karakteristik responden yang mendapatkan terapi inhalasi dengan TB Paru dari rentang usia terbanyak adalah antara 20 s.d < 45 tahun (83,3%). Dari karakteristik jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (58,3%). Berdasarkan tingkat pendidikan responden terbanyak adalah SMA (58,3%). Rata-rata responden yang bekerja adalah (83,3%) dan 100% responden TB Paru yang mendapatkan terapi inhalasi memiliki status hidrasi yang baik. 2) Efektifitas pengeluaran sputum pada pasien TB Paru menunjukan ada nya perbedaan jumlah volume sputum antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden inhalasi dengan posisi semifowler saja dengan P. value 0,010. 3) Efektifitas bersihan jalan napas pada pasien TB Paru yang meliputi frekuensi pernapasan, irama pernapasan dan bunyi pernapasan menunjukan adanya perbedaan antara responden yang diberikan inhalasi dengan posisi semi fowler dan batuk efektif dengan responden yang mendapatkan terapi inhalasi dengan posisi semifowler saja, dimana responden yang mendapatkan terapi inhalasi dengan posisi semifowler dan batuk efektif menunjukan frekuensi pernapasan menjadi lebih baik, irama pernapasan menjadi lebih teratur dan bunyi pernapasan menjadi vesikuler dengan P. value 0,010.
  • 16.
    Saran Bagi Rumah Sakit Hasilpenelitian ini dapat diterapkan pada pasien TB paru dengan bersihan jalan napas tidak efektif yang mendapatkan therapi inhalasi. Bahwa selain posisi semifowler pada saat inhalasi, batuk efektif juga sangat membantu pasien dalam mengeluarkan sputum dan mengatasi bersihan jalan napas. Bagi Pemberi Asuhan Keperawatan Hasil penelitian ini dapat diterapkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien TB paru dengan bersihan jalan napas tidak efektif yang mendapatkan terapi inhalasi bahwa selain posisi semifowler pada saat inhalasi, pemberian asuhan keperawatan batuk efektif setelah dilakukan inhalasi juga membantu pasien dalam mengeluarkan sputum dan mengatasi bersihan jalan napas. Bagi Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian dapat diterapkan di institusi pendidikan terutama dalam asuhan keperawatan dengan gangguan bersihan jalan napas dalam mata ajar Keperawatan Medikal Bedah (KMB), bahwa dari hasil penelitian, selain posisi semifowler, batuk efektif juga berdampak dalam memudahkan pasien untuk mengeluarkan sputum sehingga bersihan jalan napas menjadi lebih efektif. Bagi Penelitian Data hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan awal untuk penelitian selanjutnya seperti efektifitas inhalasi dengan tindakan keperawatan yang lain seperti fisioterapi dada atau jenis penggunaan farmakoterapi yang lain pada saat inhlasi. UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan nya kepada: 1. Dr. Muhammad Hadi, SKM, M. Kes. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta. 2. Dr. Irna Nursanti, M. Kep., Sp. Kep., Mat. selaku Kepala Program Studi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta. 3. Dr. Tri Kurniati, S. Kp., M. Kes. selaku dosen pembimbing yang senantiasa meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan, arahan serta masukan dengan penuh kesabaran selama penyusunan skripsi ini 4. dr. Mohammad Ali Toha, MARS. selaku Direktur Utama RSUP. Persahabatan Jakarta. 5. Seluruh Dosen dan Staff akademik Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. 6. Orang tua, Suami dan kedua anak saya atas do’a, cinta kasih dan support yang senantiasa tercurah tak putus-putusnya. 7. Semua teman-teman seperjuangan mahasiswa transfer angkatan 2014 terutama kelas A transfer Fakultas Ilmu keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta. 8. Seluruh teman-teman perawat di RSUP. Persahabatan Jakarta.
  • 17.
    9. Kepada seluruhpihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini. Semoga ALLAH SWT. memberikan balasan atas semua kebaikan yang telah Bapak/ Ibu/ Saudara/i berikan dan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan. Akhir kata Wabbilahi Taufik Walhidayah Wassalamuallaikum Wr. Wb. DAFTAR PUSTAKA Arjatmo & Sudarsono. (2004). Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran . Jakarta : FKUI. Aryani Ratna, dkk. (2009). Prosedur Klinik Keperawatan Pada Mata Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : CV. Trans Info Media. Amira, P (2005). Pemberantasan Penyakit TB Paru dan Strategi DOTS. Sumatera Utara : Bagian Paru fakultas Kedokteran. Asih, N, G, Y. & Effendy, Christantie (2004). Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : EGC Batticaca, F.B. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika. Brunner & Sudart. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa Devi Yulianti, Amelia Kimi. Edisi 12. Jakarta : EGC. Carpenito, M.L (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan . Alih Bahasa Yasmin Asih. Edisi 10. Jakarta : EGC. Depkes RI. (2008). Pedoman Nasi onal Penanggulangan TBC Edisi 2. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Dorland, W.A Newman. (2013). Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC. Graha, Chairinniza (2008). Terapi untuk Anak Asma. Jakarta: PT. Elex Media komputindo. Hudak & Gallo. (2010). Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Alih Bahasa Alleni Dakenia, dkk. Vol. 1. Edisi VI. Jakarta : EGC Hastono, S.P. (2007). Analisis Data Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Hiswani. (2006). Tuberkulosis merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Sumatera Utara : Bagian Paru fakultas Kedokteran. Isselbacher, K.J. (2006). Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Alih Bahasa Ahmad H. Asdie. Vol.3. Edisi 13. Jakarta: EGC. KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. Kemenkes. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis . Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
  • 18.
    Pengendalian Penyakit Dan PenyehatanLingkungan. Kozier, Erb, Berman, Snyder. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Alih Bahasa Pamilih Eko Karyuni, dkk. Vol.1 Edisi 7. Jakarta: EGC. Lewis, Sharon. (2011). Medical Surgical Nursing Assesment and Management of Clinnical Problem. Vol.2 Edisi 8, USA: Elsevier Mosby Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan . Jakarta: Salemba Medika. Nanda. (2006). Diagnosa Panduan Keperawatan Nanda. Alih Bahasa Budi Santosa. Jakarta: Prima Medika Nursalam. (2014). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Notoatmodjo, PS. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi 2. Jakarta: PT. Rineka Cipta Potter, P. (2005). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Alih Bahasa Retna Komalasari. Jakarta: EGC. Purwoko, T. (2007). Fisiologi Mikroba. Jakarta: Bumi Aksara. Rebeiro, G. Jack, L. Scully, N & Wilson, D. (2015). Keperawatan Dasar Manual Keterampilan Klinis. Alih Bahasa Enie Novieastari, Yupi Supartini. Jakarta: Elsevier.. Somantri, I. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Jogjakarta: Nuha Medika. Wilkinson, JM. Ahern, NR. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Alih Bahasa Esti Wahyuningsih. Edisi 9. Jakarta: EGC. Alie, Y. Rodiyah. (2013). Pengaruh Batuk Efektif terhadap Pengeluaran Sputum pada PasienTuberkulosis di Puskesmas Peterongan Kabupaten Jombang. Jurnal Metabolisme, Volume 2. Juli 2013; 3. Lannefors, L. (2006). Inhalation Therapy : Practocal Considerations for Nebulisation Therapy. Sweden. Department of Respiratory Medicine Lund University Hospital Lund Sweden. Physical Therapy Reviews. 2006; 11: 21-27. Safitri, R. Andriyani, A. (2011). Keefektifan Pemberian Posisi Semi Fowler terhadap Penurunan Sesak Nafas pada Pasien Asma di Ruang Rawat InapKelas III RSUD. Dr. Moewardi Surakarta. Gaster, Volume 8. Agustus 2011; 2: 783-792. Suryati, A. Nurhayati. (2010). Pengaruh Tindakan Perawatan Batuk Efektif terhadap Bersihan jalan Nafas Pasien TB Paru Batuk Produktif di RS. Islam
  • 19.
    Pondok Kopi JakartaTimur. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Volume 6. Juli 2010; 2. Putri, H. Soemarno, S (2013). Perbedaan Postural Drainage dan Latihan Batuk Efektif pada Intervensi Nebulizer terhadap Penurunan Frekuensi Batuk pada Asma Bronchiale anak usia 3-5 tahun. Jurnal Fisioterapi volume 13 nomor 1. Wijaya, A.A (2012). Merokok dan Tuberkulosis. Jurnal Tuberkulosis Indonesia volume 8 : 23-28. Anonim. (2009). Penyakit TBC. http://www.medicastore.com/ tbc/penyakit.tbc.htm. diunduh pada tanggal 3 Oktober 2015. Anonim. (2015). Kamus Kesehatan. http://kamuskesehatan.com/ar ti/sputum. diunduh pada tanggal 30 September 2015. Anonim, (2015). Terapi Inhalasi pada Anak, www.parenting.co.id/balita/te rapi%inhalasi. diunduh pada tanggal 5 Februari 2016. Kresnawati, W. (2012). Whats the Difference Between a Nebulizer and an inhaler?. http://m.kidshealth.org/kid/as thma_basics/monitoring/nebu lizer_inhaler.html. diunduh pada tanggal 10 Oktober 2015. Oktariyandi. Yunus. (2015). Nebulizer. http://dokumen.tips/dokumen /nebulizer. diunduh pada tanggal 29 September 2015. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2015). Tuberkulosis. http://www.depkes.go.id/reso urces/download/pusdatin/info datin/infodatin_TB. diunduh pada tanggal 11 Oktober 2015. Pusat Data dan Informasi PERSI. (2012). Indonesia Masih di Empat Besar Kasus Tuberkulosis. http://www.pdpersi.co.id/cont ent/news.php?mid=5&catid= 23&nid=1009. Diunduh pada tanggal 11 Oktober 2015. Supriyatno, B. Nataprawira, HMD. (2012). Terapi Inhalasi Pada Asma Anak. http://saripediatri.idai.or.id. Diunduh pada tanggal 29 September 2015.