DIGITAL NE WS PA PER

nARKOBA Di inDOneSiA

ATURAN
ATAU PRESTASI
HAL

Spirit Baru Jawa Timur
surabaya.tribunnews.com

surya.co.id

2

| KAMIS, 26 DESEMBER 2013 | Terbit 2 halaman

edisi pagi

PeMberanTasan korUPsi 2013

PENEGAK
HUKUM
BELUM
BERSIH
SURYA Online - Korupsi
memang tidak mungkin bisa
diberantas bersih dari muka
bumi ini. Bahkan dinegeri yang
secanggih Amerika pun tidak
lepas dari korupsi walaupun
sejatinya ditutup-tutupi
dengan sedemikian rupa.
Namun di Indonesia sudah
mencapai titik nadir, bahkan
perilaku korupsi ini tidak
hanya dilakukan beberapa
gelintir golongan seperti jaman
Soeharto, sekarang semua
golongan sudah tergoda untuk
melakukan korupsi. Fatalnya
lagi, perilaku korupsi itu justru
membayangi penguasa, mulai
dari eksekutif, yudikatif dan
legislatif.
Hal itu terungkap dari
kekecewaan Jaksa Agung
Basrief Arief yang tidak bisa
disembunyikan ketika berbicara mengungkap kasus Kepala
Kejaksaan Negeri (Kajari)
Praya, Subri, yang ditangkap
oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) ketika melakukan konferensi pers catatan
akhir tahun di Jakarta, Senin
(23/12/2013).
Akhir Tahun 2013 yang
seharusnya diakhiri dengan
prestasi yang membanggakan,
justru ditutup dengan malu yang
mencoreng muka Korps Adhyaksa, sebagai palang pintu terakhir
keadilan di Negeri tercinta.
Walaupun, kata Basrief Arief,
berbagai cara sudah dilakukan
untuk meminimalisasi perilaku
korup dari penegak hukum
dibawahnya, seperti pemberi-

an remunerasi dan peningkatan
pengawasan, tetapi tetap saja
mental korup itu masih lebih
menggoda aparatnya untuk
berbuat tidak benar.
“Sebenarnya kita harapkan
pada Tahun 2013 berakhir dengan kinerja baik. Akan tetapi
mendapatkan hantaman keras
terkait dengan kasus itu,” kata
Basrief terlihat kecewa.
Akhirnya tidak ada kata lain
yang lebih tepat selain maaf yang
sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia jika Kejaksaan
belum mencapai kesempurnaan
pengadilan yang diharapkan dan
diamanatkan rakyat.
Menurut Basrief, sepanjang
2013, Kejagung melalui Bidang
Pengawasan telah menjatuhkan
sanksi terhadap 98 jaksa nakal
yang melanggar kode etik.
“Para jaksa dijatuhi sanksi
karena melanggar berbagai
disiplin kepegawaian.”
Ke-98 jaksa yang dijatuhi
sanksi itu terdiri atas, 36 jaksa
mendapatkan hukuman ringan,
46 hukuman sedang dan 16 jaksa terkena sanksi berat. Selain
itu, Kejagung juga menghukum
pegawai yang nakal, seperti di
bagian tata usaha.
Tercatat 60 pegawai yang
dihukum, terdiri atas tiga
orang terkena hukuman ringan,
35 orang terkena hukuman
sedang, serta 22 orang terkena
hukuman berat.
Empat orang jaksa telah
mendapat penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama
tiga tahun, pembebasan dari

join facebook.com/suryaonline

jabatan fungsional jaksa, tiga
orang, pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan
sendiri sebanyak tiga orang.
Pembebasan dari jabatan
struktural sebanyak tiga orang
serta pemberhentian tidak
dengan hormat sebagai PNS
sebanyak dua orang jaksa.
Sanksi untuk pegawai nonjaksa, sebanyak 11 orang telah
dilakukan penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama
tiga tahun, enam orang dilakukan pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan
sendiri, serta enam orang
dilakukan pemberhentian tidak
dengan hormat sebagai PNS.
Basrief Arief menyesalkan
prestasi Kejaksaan pada akhir
2013 tercoreng dengan adanya
penangkapan Kepala Kejaksaan
Negeri (Kajari) Praya, Subri,
oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi yang diduga menerima
suap terkait dengan perkara
pemalsuan sertifikat dengan
terdakwa Sugiharta alias Along.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Laode Ida
menegaskan bahwa tertangkap
tangannya Kajari Praya, NTB,
Subri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi bukti
jajaran kejaksaan cenderung
memproyekkan kasus-kasus
korupsi di daerah.

Peningkatan Prestasi

Kendati citra Kejagung
tercoreng atas perilaku oknum
jaksanya, ada juga prestasi dari
keberhasilan yang telah dilaku-

kan oleh Kejagung selama 2013,
yang antara lain mengamankan
keuangan negara dari tindak
pidana korupsi yang mencapai
angka Rp 403.102.000.215 dan
500.000 dolar AS. “Penyelamatan keuangan negara tahap
penyidikan dan penuntutan
sebesar Rp 403 miliar,” kata
Basrief Arief.
Uang yang berhasil
diselamatkan itu, katanya,
meningkat dibandingkan
pada Tahun 2012 sebesar Rp
302.609.167.229 dan 500 dolar
AS, serta pada Tahun 2011
sebesar Rp198.210.963.791 dan
6.760,69 dolar AS.
Demikian pula kasus tindak
pidana korupsi yang disidik
pada Tahun 2013 mencapai
1.646 kasus atau meningkat
dibandingkan pada Tahun 2012
sebanyak 1.401 kasus dan
2011 tercatat 1.624 kasus.
Untuk tingkat penyelidikan
pada Tahun 2013 sebanyak
1.696 kasus, pada Tahun 2012
tercatat 833 kasus, dan 2011
sebanyak 699 kasus.
“Dalam penanganan perkara
tindak pidana korupsi oleh Kejaksaan mengalami peningkatan,
baik dari segi jumlah penanganan perkara korupsi maupun
jumlah penyelamatan keuangan
negara tahap penyidikan dan
penuntutan,” paparnya.
Basrief juga menyebutkan
dalam kurun waktu Januari
2012 sampai November 2013,
Kejaksaan telah melaksanakan
eksekusi pidana badan 815
terpidana.

Menyoroti soal laporan
Koalisi Masyarakat Antikorupsi/
Indonesian Corruption Watch
(ICW) yang menyebutkan
terdapat 57 terpidana belum
dieksekusi. Setelah dilakukan
klarifikasi dan pendataan,
ternyata 20 terpidana sudah
dieksekusi.
Lima terpidana diputus
bebas/ontslag oleh Mahkamah
Agung RI, dua terpidana belum
berkekuatan hukum tetap,
serta dua tidak terdapat
perkara tindak pidana korupsi
atas nama yang dilaporkan di
Kejaksaan Tinggi yang bersangkutan. “Sebanyak 25 terpidana
masuk dalam daftar pencarian
orang (DPO) dan tiga orang
dalam kondisi sakit,” tuturnya.
Dari hasil yang dibeberkan
Kepala Kejaksaan Agung Basrief
Arief tersebut, ternyata sangat
jauh dari yang dikorupsi
oleh koruptor-koruptor di
Indonesia. Tengok saja kasus
yang dituduhkan kepada Bupati
Banten Ratu Atut Choisiah,
dimana proyek yang digarap
kroni-kroninya dari APBD
mencapai Rp 1,6 triliun.
Belum lagi okum korutor yang
lain, tentu saja jika uanguang tersebut benar-benar
dibunakan untuk pembangunan
negeri ini, pasti rakyat akan
mendapatkan manfaat yang
luar biasa. Pendidikan murah,
pangan murah, sandang murah
dan papan murah. Semoga ke
depan makin banyak penegak
hukum kita yang insyaf.
(parmin)
follow @portalsurya
2

KAMIS, 26 DESEMBER 2013 | surya.co.id | surabaya.tribunnews.com

Penanganan Narkoba di Indonesia

ATURAN
atau
PRESTASI
SURYA Online - Penanganan barang
haram Narkoba di Indonesia masih
menjadi pertentangan yang sangat tajam, antara melaksanakan aturan atau
Undang-Undang atau prestasi kerja dari
korps Kepolisian.

Rehabilitasi dinilai sebagai cara
jitu dalam pemberantasan narkotika, setidaknya itu lah yang
diyakini lembaga penanganan
narkotika di negeri ini, Badan
Narkotika Nasional. Dengan
rehabilitasi, BNN meyakini bisa
mengurangi jumlah penyalah
guna dan mewujudkan program
Indonesia Bebas Narkotika pada
2015.
Karena dengan cara rehabilitasi, permintaan akan barang
haram tersebut berkurang,
sehingga ketersediaannya
menipis hingga habis.
Karena itu, Kepala BNN
Anang Iskandar menilai penyalah guna lebih baik direhabilitasi ketimbang dihukum pidana
sebab dihukum pidana justru
akan menyediakan penjara
sebagai tempat berkumpulnya
pengedar dan bandar yang
berpotensi akan semakin
gencar dalam bisnis narkoba
tersebut.
“Justru kalau dihukum, bandar dan pengedar narkoba akan
senang karena demandnya
tetap ada, sementara kalau
direhabilitasi akan nangisnangis dia karena kehilangan
pasar,” katanya baru-baru ini.
Langkah rehabilitasi untuk
penyalah guna semakin dikampanyekan oleh BNN juga karena
melihat sejumlah negara yang
jumlah penyalah gunanya terus
berkurang, seperti di Portugal
dan di negara-negara Asia.
Menurut Anang, langkah

rehabilitasi selaras dengan
tujuan atau roh UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009
dalam Pasal 4 huruf d tentang
Narkotika yang menyatakan
bahwa negara menjamin
pengaturan upaya rehabilitasi
medis dan sosial bagi penyalah
guna dan pecandu narkotika.
Pada kenyataannya, jumlah
penyalah guna yang mendapat
penanganan rehabilitasi
masih sekitar 18.000 orang
dari seluruhnya yang mencapai
empat juta orang.
Sementara itu, panti
rehabilitasi yang ditangani BNN
hanya ada tiga, di antaranya
dua di Lido Sukabumi dan di
Badokka Makassar dan satu
panti baru yang diresmikan di
Tanah Merah, Samarinda.
Berdasarkan data BNN,
hingga 27 November 2013, data
residen (penyalah guna yang
direhabilitasi) di Lido hanya

join facebook.com/surya-

sekitar 709 yang didominasi
laki-laki 669 orang dan
perempuan 40 orang. Sementara di Badokka total penghuni
305 orang, laki-laki 286 orang
dan perempuan 19 orang.
Sedangkan sisanya ditangani
pihak swasta. Itu pun belum
termasuk yang antre setiap
bulannya sekitar 100 calon
residen di Panti Rehabilitasi,
Lido, Sukabumi. Sehingga, jumlah panti masih dirasa sangat
kurang untuk menampung
empat juta penyalah guna di
seluruh Indonesia.

Perbedaan Pandangan

Langkah dekriminalisasi yang
diupayakan BNN sebetulnya
ingin mengubah paradigma
masyarakat tentang penyalah
guna narkotika, yakni menggunakan narkotika merupakan
perbuatan melanggar hukum
pidana, namun hukumannya
bukan hukuman penjara, melainkan hukuman rehabilitasi.
Namun yang masih terpatri

dalam sudut pandang masyarakat, bahkan aparat Kepolisian
adalah menggunakan narkotika
harus ditangkap dan dipenjara
yang semakin membuat mereka
takut untuk mengakui dan
melapor kepada institusi penerima wajib lapor atau disebut
dengan depenalisasi.
Konsep depenalisasi sudah
ditunjukkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Pasal 28 ayat (2) dan (3) beserta
aturan turunan lainnya, yaitu
Peraturan Pemerintah Nomor
25 Tahun 2011 tentang wajib
lapor bagi pecandu narkotika.
Dalam pasal tersebut, secara
konseptual perbuatan mengonsumsi narkoba tetap lah
merupakan hal yang melanggar
hukum, namun ketika penyalah
guna narkoba melaporkan diri
kepada institusi penerima
wajib lapor, baik di Puskesmas
atau rumah sakit yang sudah
ditunjuk Kementerian Kesehatan, maka orang tersebut bisa
lepas dari tuntutan pidana.

Namun untuk mengubah
paradigma ini tidak semudah
membalikan telapak tangan
agar mereka secara sadar mau
melaporkan diri. Apalagi bagi
Korps Kepolisian keberhasilan
menangkap pengguna narkoba
adalah prestasi besar.
“Wajib lapor kan masih kurang
bergairah karena masyarakat
masih takut dan ngumpet karena
secara empiris para penyalah
guna narkoba untuk diri sendiri
kan ditangkap dan dimasukkan
penjara,” kata mantan Kapolwiltabes Surabaya itu.
Untuk itu, paradigma harus
diubah bahwa apabila penyalah
guna narkoba menyerahkan
diri, maka tidak akan dipenjara, dengan begitu, masyarkat
akan banyak yang melapor.
Anang menilai depenalisasi
akan berjalan baik apabila
adanya penggabungan antara
rehabilitasi medis dan sosial.
“Kita berikan insentif
pascarehabilitasi dengan
mengembalikan cara berpikirnya sebagaimana manusia
yang sehat dengan pelatihan
dan suntikan modal agar bisa
bekerja kembali,” katanya.
Selain itu, belum bulatnya
suara akan rehabilitasi untuk
para penyalah guna di antara
sejumlah lembaga hukum masih
menjadi kendala bagi BNN.
Untuk itu diperlukan kebersamaan mengatasi persoalan besar
Bangsa ini, yakni dari ketegasan
pemimpin dan pelaksanaan di
lapangan penerapan ide bagus
dan terobosan cemerlang dari
BNN. (ant)
follow @portalsurya

Digital surya 26 desember 2013

  • 1.
    DIGITAL NE WSPA PER nARKOBA Di inDOneSiA ATURAN ATAU PRESTASI HAL Spirit Baru Jawa Timur surabaya.tribunnews.com surya.co.id 2 | KAMIS, 26 DESEMBER 2013 | Terbit 2 halaman edisi pagi PeMberanTasan korUPsi 2013 PENEGAK HUKUM BELUM BERSIH SURYA Online - Korupsi memang tidak mungkin bisa diberantas bersih dari muka bumi ini. Bahkan dinegeri yang secanggih Amerika pun tidak lepas dari korupsi walaupun sejatinya ditutup-tutupi dengan sedemikian rupa. Namun di Indonesia sudah mencapai titik nadir, bahkan perilaku korupsi ini tidak hanya dilakukan beberapa gelintir golongan seperti jaman Soeharto, sekarang semua golongan sudah tergoda untuk melakukan korupsi. Fatalnya lagi, perilaku korupsi itu justru membayangi penguasa, mulai dari eksekutif, yudikatif dan legislatif. Hal itu terungkap dari kekecewaan Jaksa Agung Basrief Arief yang tidak bisa disembunyikan ketika berbicara mengungkap kasus Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Praya, Subri, yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ketika melakukan konferensi pers catatan akhir tahun di Jakarta, Senin (23/12/2013). Akhir Tahun 2013 yang seharusnya diakhiri dengan prestasi yang membanggakan, justru ditutup dengan malu yang mencoreng muka Korps Adhyaksa, sebagai palang pintu terakhir keadilan di Negeri tercinta. Walaupun, kata Basrief Arief, berbagai cara sudah dilakukan untuk meminimalisasi perilaku korup dari penegak hukum dibawahnya, seperti pemberi- an remunerasi dan peningkatan pengawasan, tetapi tetap saja mental korup itu masih lebih menggoda aparatnya untuk berbuat tidak benar. “Sebenarnya kita harapkan pada Tahun 2013 berakhir dengan kinerja baik. Akan tetapi mendapatkan hantaman keras terkait dengan kasus itu,” kata Basrief terlihat kecewa. Akhirnya tidak ada kata lain yang lebih tepat selain maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia jika Kejaksaan belum mencapai kesempurnaan pengadilan yang diharapkan dan diamanatkan rakyat. Menurut Basrief, sepanjang 2013, Kejagung melalui Bidang Pengawasan telah menjatuhkan sanksi terhadap 98 jaksa nakal yang melanggar kode etik. “Para jaksa dijatuhi sanksi karena melanggar berbagai disiplin kepegawaian.” Ke-98 jaksa yang dijatuhi sanksi itu terdiri atas, 36 jaksa mendapatkan hukuman ringan, 46 hukuman sedang dan 16 jaksa terkena sanksi berat. Selain itu, Kejagung juga menghukum pegawai yang nakal, seperti di bagian tata usaha. Tercatat 60 pegawai yang dihukum, terdiri atas tiga orang terkena hukuman ringan, 35 orang terkena hukuman sedang, serta 22 orang terkena hukuman berat. Empat orang jaksa telah mendapat penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun, pembebasan dari join facebook.com/suryaonline jabatan fungsional jaksa, tiga orang, pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebanyak tiga orang. Pembebasan dari jabatan struktural sebanyak tiga orang serta pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS sebanyak dua orang jaksa. Sanksi untuk pegawai nonjaksa, sebanyak 11 orang telah dilakukan penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun, enam orang dilakukan pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri, serta enam orang dilakukan pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS. Basrief Arief menyesalkan prestasi Kejaksaan pada akhir 2013 tercoreng dengan adanya penangkapan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Praya, Subri, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang diduga menerima suap terkait dengan perkara pemalsuan sertifikat dengan terdakwa Sugiharta alias Along. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Laode Ida menegaskan bahwa tertangkap tangannya Kajari Praya, NTB, Subri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi bukti jajaran kejaksaan cenderung memproyekkan kasus-kasus korupsi di daerah. Peningkatan Prestasi Kendati citra Kejagung tercoreng atas perilaku oknum jaksanya, ada juga prestasi dari keberhasilan yang telah dilaku- kan oleh Kejagung selama 2013, yang antara lain mengamankan keuangan negara dari tindak pidana korupsi yang mencapai angka Rp 403.102.000.215 dan 500.000 dolar AS. “Penyelamatan keuangan negara tahap penyidikan dan penuntutan sebesar Rp 403 miliar,” kata Basrief Arief. Uang yang berhasil diselamatkan itu, katanya, meningkat dibandingkan pada Tahun 2012 sebesar Rp 302.609.167.229 dan 500 dolar AS, serta pada Tahun 2011 sebesar Rp198.210.963.791 dan 6.760,69 dolar AS. Demikian pula kasus tindak pidana korupsi yang disidik pada Tahun 2013 mencapai 1.646 kasus atau meningkat dibandingkan pada Tahun 2012 sebanyak 1.401 kasus dan 2011 tercatat 1.624 kasus. Untuk tingkat penyelidikan pada Tahun 2013 sebanyak 1.696 kasus, pada Tahun 2012 tercatat 833 kasus, dan 2011 sebanyak 699 kasus. “Dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi oleh Kejaksaan mengalami peningkatan, baik dari segi jumlah penanganan perkara korupsi maupun jumlah penyelamatan keuangan negara tahap penyidikan dan penuntutan,” paparnya. Basrief juga menyebutkan dalam kurun waktu Januari 2012 sampai November 2013, Kejaksaan telah melaksanakan eksekusi pidana badan 815 terpidana. Menyoroti soal laporan Koalisi Masyarakat Antikorupsi/ Indonesian Corruption Watch (ICW) yang menyebutkan terdapat 57 terpidana belum dieksekusi. Setelah dilakukan klarifikasi dan pendataan, ternyata 20 terpidana sudah dieksekusi. Lima terpidana diputus bebas/ontslag oleh Mahkamah Agung RI, dua terpidana belum berkekuatan hukum tetap, serta dua tidak terdapat perkara tindak pidana korupsi atas nama yang dilaporkan di Kejaksaan Tinggi yang bersangkutan. “Sebanyak 25 terpidana masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan tiga orang dalam kondisi sakit,” tuturnya. Dari hasil yang dibeberkan Kepala Kejaksaan Agung Basrief Arief tersebut, ternyata sangat jauh dari yang dikorupsi oleh koruptor-koruptor di Indonesia. Tengok saja kasus yang dituduhkan kepada Bupati Banten Ratu Atut Choisiah, dimana proyek yang digarap kroni-kroninya dari APBD mencapai Rp 1,6 triliun. Belum lagi okum korutor yang lain, tentu saja jika uanguang tersebut benar-benar dibunakan untuk pembangunan negeri ini, pasti rakyat akan mendapatkan manfaat yang luar biasa. Pendidikan murah, pangan murah, sandang murah dan papan murah. Semoga ke depan makin banyak penegak hukum kita yang insyaf. (parmin) follow @portalsurya
  • 2.
    2 KAMIS, 26 DESEMBER2013 | surya.co.id | surabaya.tribunnews.com Penanganan Narkoba di Indonesia ATURAN atau PRESTASI SURYA Online - Penanganan barang haram Narkoba di Indonesia masih menjadi pertentangan yang sangat tajam, antara melaksanakan aturan atau Undang-Undang atau prestasi kerja dari korps Kepolisian. Rehabilitasi dinilai sebagai cara jitu dalam pemberantasan narkotika, setidaknya itu lah yang diyakini lembaga penanganan narkotika di negeri ini, Badan Narkotika Nasional. Dengan rehabilitasi, BNN meyakini bisa mengurangi jumlah penyalah guna dan mewujudkan program Indonesia Bebas Narkotika pada 2015. Karena dengan cara rehabilitasi, permintaan akan barang haram tersebut berkurang, sehingga ketersediaannya menipis hingga habis. Karena itu, Kepala BNN Anang Iskandar menilai penyalah guna lebih baik direhabilitasi ketimbang dihukum pidana sebab dihukum pidana justru akan menyediakan penjara sebagai tempat berkumpulnya pengedar dan bandar yang berpotensi akan semakin gencar dalam bisnis narkoba tersebut. “Justru kalau dihukum, bandar dan pengedar narkoba akan senang karena demandnya tetap ada, sementara kalau direhabilitasi akan nangisnangis dia karena kehilangan pasar,” katanya baru-baru ini. Langkah rehabilitasi untuk penyalah guna semakin dikampanyekan oleh BNN juga karena melihat sejumlah negara yang jumlah penyalah gunanya terus berkurang, seperti di Portugal dan di negara-negara Asia. Menurut Anang, langkah rehabilitasi selaras dengan tujuan atau roh UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009 dalam Pasal 4 huruf d tentang Narkotika yang menyatakan bahwa negara menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalah guna dan pecandu narkotika. Pada kenyataannya, jumlah penyalah guna yang mendapat penanganan rehabilitasi masih sekitar 18.000 orang dari seluruhnya yang mencapai empat juta orang. Sementara itu, panti rehabilitasi yang ditangani BNN hanya ada tiga, di antaranya dua di Lido Sukabumi dan di Badokka Makassar dan satu panti baru yang diresmikan di Tanah Merah, Samarinda. Berdasarkan data BNN, hingga 27 November 2013, data residen (penyalah guna yang direhabilitasi) di Lido hanya join facebook.com/surya- sekitar 709 yang didominasi laki-laki 669 orang dan perempuan 40 orang. Sementara di Badokka total penghuni 305 orang, laki-laki 286 orang dan perempuan 19 orang. Sedangkan sisanya ditangani pihak swasta. Itu pun belum termasuk yang antre setiap bulannya sekitar 100 calon residen di Panti Rehabilitasi, Lido, Sukabumi. Sehingga, jumlah panti masih dirasa sangat kurang untuk menampung empat juta penyalah guna di seluruh Indonesia. Perbedaan Pandangan Langkah dekriminalisasi yang diupayakan BNN sebetulnya ingin mengubah paradigma masyarakat tentang penyalah guna narkotika, yakni menggunakan narkotika merupakan perbuatan melanggar hukum pidana, namun hukumannya bukan hukuman penjara, melainkan hukuman rehabilitasi. Namun yang masih terpatri dalam sudut pandang masyarakat, bahkan aparat Kepolisian adalah menggunakan narkotika harus ditangkap dan dipenjara yang semakin membuat mereka takut untuk mengakui dan melapor kepada institusi penerima wajib lapor atau disebut dengan depenalisasi. Konsep depenalisasi sudah ditunjukkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Pasal 28 ayat (2) dan (3) beserta aturan turunan lainnya, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang wajib lapor bagi pecandu narkotika. Dalam pasal tersebut, secara konseptual perbuatan mengonsumsi narkoba tetap lah merupakan hal yang melanggar hukum, namun ketika penyalah guna narkoba melaporkan diri kepada institusi penerima wajib lapor, baik di Puskesmas atau rumah sakit yang sudah ditunjuk Kementerian Kesehatan, maka orang tersebut bisa lepas dari tuntutan pidana. Namun untuk mengubah paradigma ini tidak semudah membalikan telapak tangan agar mereka secara sadar mau melaporkan diri. Apalagi bagi Korps Kepolisian keberhasilan menangkap pengguna narkoba adalah prestasi besar. “Wajib lapor kan masih kurang bergairah karena masyarakat masih takut dan ngumpet karena secara empiris para penyalah guna narkoba untuk diri sendiri kan ditangkap dan dimasukkan penjara,” kata mantan Kapolwiltabes Surabaya itu. Untuk itu, paradigma harus diubah bahwa apabila penyalah guna narkoba menyerahkan diri, maka tidak akan dipenjara, dengan begitu, masyarkat akan banyak yang melapor. Anang menilai depenalisasi akan berjalan baik apabila adanya penggabungan antara rehabilitasi medis dan sosial. “Kita berikan insentif pascarehabilitasi dengan mengembalikan cara berpikirnya sebagaimana manusia yang sehat dengan pelatihan dan suntikan modal agar bisa bekerja kembali,” katanya. Selain itu, belum bulatnya suara akan rehabilitasi untuk para penyalah guna di antara sejumlah lembaga hukum masih menjadi kendala bagi BNN. Untuk itu diperlukan kebersamaan mengatasi persoalan besar Bangsa ini, yakni dari ketegasan pemimpin dan pelaksanaan di lapangan penerapan ide bagus dan terobosan cemerlang dari BNN. (ant) follow @portalsurya