Desentralisasi sistem kesehatan di Indonesia dimulai pasca-reformasi pada tahun 1999-2000 dengan lahirnya UU No. 32 Tahun 2004, yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengelola kesehatan secara lebih mandiri. Proses ini bertujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, meningkatkan partisipasi publik, dan memastikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan lokal. Desentralisasi juga melibatkan berbagai faktor dukungan, termasuk pembiayaan dan kerjasama lintas sektor, untuk mengoptimalkan pembangunan kesehatan di daerah.