PERAWATAN HERPES LABIALIS REKUREN PADA PASIEN DENGAN SISTEM
IMUN YANG MENURUN – LAPORAN KASUS
Joslei Carlos Bohn1 , Lucimari Teixeira1, Cassiano Lima Chaiben1 , Adriano Kuczynksi1 ,
Francisca Berenice Dias Gil2 , Antonio Adilson Soares de Lima1*
1. Bagian stomatologi, Sekolah Kedokteran Gigi, Universitas Federal do Parana – UFPR, Curitiba/PR,
Brazil
2. Bagian dari Kedokteran Gigi, Rumah Sakit Oswaldo Cruz, Curitiba/PR/Brazil.
Abstrak
Manifestasi klinis herpes simpleks virus (HSV-1 dan HSV-2) ditemukan pada pasien
dengan imunokompetent dan pada pasien dengan imunokompresan. Bagaimanapun, lesi tipe ini
ditemukan dikebanyakan pasien yang imunosupresi yang selalu menjadi lebih parah, bertahan
lama dan memerlukan perlakuan yang berbeda pada setiap individu yang system kekebalan
tubuhnya tidak dapat melawan infeksi. Infeksi kedua atau rekuren dari HSV-1 terjadi melalui
pengaktifan kembali virus, meskipun banyak pasien yang hanya memperlihatkan infeksi yang
tidak disertai dengan gejala pada saliva.
Tanda dari herpes labialis rekuren memiliki karakteristik adanya sensi rasa terbakar,
gatal, kebas atau panas yang lokal diikuti dengan munculnya ruam sebelum timbulnya lesi bula
dan vesicular. Sebagian besar kasus dilakukan perawatan dengan obat antiretrovirus. Untuk
alasan ini, para dokter memerlukan perhatian untuk setiap kasus yang menyarankan
imunosupresi klinis yang belum didiagnosis.
Tujuan dari artikel ini adalah untuk melaporkan sebuah kasus herpes labialis rekuren dari
seorang pasien dengan system imun yang menurun.
Laporan kasus (J lnt Dent Med Res 2011; 4 : (2), pp. 70-73)
Kata Kunci : Herpes Labialis, HIV, Imunosupresi, Lip.
Tanggal diterima : 10 Juni 2011 Tanggal menerima : 18 Juli 2011
PENDAHULUAN
Dari banyak penyakit infeksi yang terjadi di mulut, yang paling banyak ditemukan adalah HSV-
1. Kontak dengan virus ini biasanya terjadi sebelum masa pubertas. Ketika pasien terinfeksi,
virus tetap menjadi laten di daerah neural ganglia. Meskipun awal infeksi diperlihatkan pada
pasien muda, banyak individu yang memiliki tanda dan gejala seperti mual dan kemungkinan
adanya demam ketika perkembangan herpes gingivostomatitis masuk tahap awal1. Namun,
pasien sering merasakn sakit, pembengkakan dan perhatian terhadap pemakaian kosmetik yang
dihubungkan dengan tahap rekuren dan adanya ketakutan akan virus herpes simpleks yang
menular ke orang lain2.
Lesi rekuren muncul selama individu tersebut terinfeksi, biasanya sisi yang mengandung
epitel seperti mata (hepatitis keratitis), kulit, rongga mulut (herpes stomatitis), bibir (herpes
labialis), dan orofasial yang kompleks (herpes labialis). Pada orang yang system imunnya
menurun, biasanya tingkat rekurensi terbatas dan pada jaringan perifer yang disarafi oleh saraf
yang terinfeksi secara laten3.
Herpes labialis rekuren yang menginfeksi bibir oleh diinfeksi oleh virus herpes simpleks
(HSV-1). Meskipun kebanyakan pasien dengan herpes labialis rekuren memiliki kurang dari 2
episode tahunan, persentase pasien yang kecil dari pasien yang mengalami rekurensi (5% sampai
10%) ditemukan dari enam atau lebih per tahun2. Pemicu umum yang dapat mengaktifkan virus
tersebut adalah jika kelelahan demam, radiasi ultraviolet, pecah-pecah, abrasi, menstruasi,
trauma pada kulit dan sistem imun yang menurun4-5. Kelompok vesikel kecil atau luka yang
melibatkan bagian-bagian tertenu dari dermatom yang infeksi awalnya muncul dalam dua hari
yang massuk ke epitel3.
Herpes labialis rekuren memiliki karakteristik vesikel kecil yang melepuh yang berrisi
cairan kuning. Lesi ini bermanifestasi secara tiba-tiba, setelah mati rasa dan gatal di bibir selama
4-6 hari. Vesikel ulser yang menutupi bekas luka. Penyembuhan luka terjadi antara tujuh dan
sepuluh hari dan tanpa meninggalkan bekas luka1.
Diagnosis dari infeksi HSV-1 atau HSV-2 biasanya berdasarkan dari riwayat medis
pasien, untuk simptomatologi dan temuan klinis. Bagaimanapun, konfirmasi dari laboratory
mungkin dibutuhkan ketika gambaran klinis tidak khas atau pada pasien dengan sistem imun
yang menurun6. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan kasus dari herpes labialis
rekuren pada pasien dengan penyakit HIV.
Laporan Kasus
Seorang pria kulit putih berusia 36 tahun yang dirujuk ke Rumah Sakit Oswaldo Cruz di
Curitiba (Brail) dengan gejala turunnya berat badan dan dengan disertai diare, batuk, berkeringat
(biasanya pada malam hari, vesikel yang disertai rasa sakit dan bekas luka yang hemorargik di
bibir. Pasien mengalami penurunan 14kg berat badan pada empat bulan terakhir.
Pasien dengan riwayat medis memperlihatkan diagnosis dini dari infeksi HIV dan
penggunaan obat peradangan. pemeriksaan awal dari laboraorium menunjukkan keadaan hati
yang normal dan uji fungsi ginjal dan tingkat gula darah; hemogram lengkap menunjukkan
anemia dan leucopenia; dan tingkat pengendapan eritrosit ; 110 mm. jumlah CD4 adalah 84
sel/µL dan perkembangan virus ada 287.256 sel.
Gambar 1. Vesikel dan hemorargi di daerah yang bewarna merah dan sekitar bibir
Gambar 2. Ciri klinis ini muncul pada pasien setelah 7 hari dari perawatan dengan acyclovir
Pemeriksaan fisik secara intraoral menunjukan adanya candidiasis oral (thrus), gingivitis,
karies gigi, dan beberapa sisa akar gigi. Selain itu, adanya beberapa vesikel kuning dan ulser
yang ditutupi bekas luka yang berwarna kecoklatan diatas dan dibawah bibir (gambar 1). Vesikel
juga ada dikulit sekitar bibir.
Berdasarkan pasien, lesi ini muncul lima hari yang lalu disertai dengan demam tinggi.
Lesi ini disertai rasa sakit dan menyebabkan ketidaknyamanan yang mengarah ke estetik. Lesi ini
membatasinya untuk melakukan oral hygiene dan mengkonsumsi makanan, tetapi rehidrasi
intravena tida dibutuhkan. dimana tidak disertai pembengkakan lymph node.
Pemeriksaan lengkap medis untuk tuberculosis telah dilakukan suspek dari tuberculosis
paru perlu dikesampingkan. Uji serologi telah dikonfirmsi bahwa pasien positif HSV (dengan
IgG dan IgM positif). Gambaran klinis dari lesi ini menguatkan sau diagnostic yang mana
hipotesisnya : herpes labialis rekuren.
Pasien telah dirawat dengan pemberian acyclovir (600 mg/hari) selama 12 hari yang
dihubungkan dengan acyclovir topikal (ointment 5%). Dengan kombinasi dari perawatan ini,
penyakit dapat dikontol. Setelah 12 hari dari perawatan ini, kulit dan lesi pada bibir setelah di
kontrol (gambar 2). Candidisis oral dapat dirawat dengan flucanazol yang dihubungkan dengan
nytatin topikal. Lesi ini hilang dan pasien boleh meninggalkan Rumah Sakit. Pada kondisi ini,
pasien yang dirawat dengan terapi antiretrovirus aktif yang cukup tinggi dikarenakan jumlah
CD4 yang rendah. Pasien digolongkan menjadi pasien luar dan tidak menunjukkan HSV yang
rekuren.
KESIMPULAN
The World Healtht Organization (WHO) mengidentifikasi HIV/AIDS sebagai salah satu
kesehatan umum yang paling urgen di dunia, karena AIDS menyebabkan angka kematian
tertinggi dari riwayat terkini. Infeksi HIV biasanya dihubungkan dengan aktivasi dan diseminasi
dari beberapa virus pathogen lain, termasuk virus herpes simpleks 1 dan 2, dan human
papilomavirus, human sytomegalovirus, human herpesvirus 8, Epstein Barr virus, virus varisella
zoster, dan human papiloma virus yang mana penebab dari penyakit ini adalah sistem imun yang
menurun1,7.
Peningkatan frekuensi dan keparahan dari penyakit disebabkan oleh virus HIV yang
menginfeksi individu yang mengarah pada disfungsi dari kedua respon imun adaptif dan bawaan
untuk virus patogen8. Infeksi dengan herpes simplek virus tipe 1 dan 2 (HSV-1 dan HSV-2)
adalah penting, biasa terjadi dan distribusinya bisa dseluruh dunia9.
89% dari lesi herpes simplek virus menyebabkan penyakit yang reaktif dengan
karakteristik yang cukup besar, dimana lesi ulser sangat sakit disekitar mulut10. Pada laporan
kasus ini, herpes labialis bilateral rekuren yang didiagnosa disekitar bibir pasien. Beberapa
pemicu pasti telah mengaktifkan virus, seperti kelelahan yang sangat, demam, radiasi ultraviolet,
pecah-pecah, abrasi, menstruasi, trauma dikulit dan sistem imun yang menurun4-5. Pada kasus
ini, jumlah CD4 yang rendah memiliki tangung jawab yang tinggu untuk mengaktifkan HSV,
karena pasien memilki jumlah CD4 = 84 sel/µL.
Meskipun diagnosis dari infeksi HSV yang biasanya membuat cirri-ciri klinis, uji
Tzanck, mikroskopi electron, pengembangbiakan virus dan reaksi polimerisasi rantai (PCR) yang
mendeteksi HSV DNA dapat digunakan untuk memastikan diagnosis11-12. Virus herpes simpleks
tipe 1 (HSV-1) dan 2 (HSV-2) menyebabkan variasi dari infeksi yang signifikan dibidang
kesehatan, khususnya pada pasien dengan sistem imun yang menurun. HSV juga berperan
penting dalan perkembangan penyakit dari infeksi HSV. Infeksi kronis dari HSV-1 telah
dikemukakan oleh WHO sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit
HIV/AIDS. Infeksi HSV-1 biasanya bertransmisi selama masa kanak-kanak dan remaja dan lebih
sering bertransmisi tidak melalui hubungan sesuai1.
Meskipuin infeksi ini memiliki prekiraan klinis dimana perkembangannya menjadi auto-
regresi, pada kasus ini, beberapa lesi menyebar luas dan berada dibeberapa daerah di wajah yang
mana menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien. Pada kondisi ini, uji laboratorium
menunjukkan bahwa virus memiliki jumlah CD4 yang tinggi dan rendah. HIV merusak limposit
CD4 dan jumlahnya berhubungan dengan tingkat keparahan penyakt ini. Berdasarkan Duggal
dkk.13 perubahan rongga mulut saat munculnya lesi meningkat pada pasien secara signifikan
berhubungan dengan aktifitas virus dan jumlah CD4 yang rendah. Bagaimanapun, lesi pada
individu yang sistem imunnya menurun harus sesegera mungkin ditangani. Oleh karena itu,
perawatan termasuk obat topikal dan sistemik dibuat untuk merawat herpes labialis rekuren dan
candidiasis oral.
Acyclovir, hydrochloride valacyclovir, dan famciclovir adalah 3 obat antivirus yang
harus digunakan secara rutin utnuk menangani herpes simpleks virus tanpa gejala (HSV)14.
CDC- pusat untuk kontrol penyakit dan pencegahan telah direkomendasikan perawatan untuk
HSV-1 dan HSV-2 ; i) acyclovir 400 mg secara oral tiga kali sehari untuk 7-10 hari; atau ii)
acyclovir 200 mg secara oral lima kali sehari untuk 7-10 hari atau iii) famciclovir 250 mg secara
oral tiga kali sehari untuk 7-10 hari; atau iv) valacyclovir 1 g secara oral dua kali sehari untuk 7-
10 hari. Perawatan harus diperluas jika penyembuhan tidak sempurna setelah 10 hari dari terapi.
Intervena (IV) terapi acyclovir harus dilakukan pada pasien yang menderia penyakit HSV atau
komplikasi yang membutuhkan perawatan Rumah Sakit (contoh, infeksi diseminasi, pneumonia
atau hepatitis) atau komplikasi CNS (contoh meningoencephalitis). Saran untuk perawatan
acyclovir 5-10 mg/kg IV setiap 8 jam untuk 2-7 hari atau hingga peningkatan klinis, mengikuti
terapi antivirus secara oral dilakukan sedikitnya 10 hari dari total terapi keseluruhan. Dosis
acyclovir biasanya disarankan untuk memperbaik fungsi renal15. Pada kasus kita ini, pasien telah
dirawat dengan kombinasi dari topikal dan acyclovir sistemik. Terapi acyclovir untuk
menunjukkan keamanan untuk keadaan yang cukup lama dari infeksi herpes pad akelamin dan
herpes labialis rekuren2,16,17.
Kesimpulan
Herpes labialis rekuren adalah lesi dengan gambaran klinis yang unik tetapi itu dapat
menjadi lebih buruk pada pasien dengan sistem imun yang menurun. Oleh karena itu para dokter
memerlukan perhatian untuk kondisi ini untuk mendiagnosis dan perawatan apa yang akan
dilakukan.
Penghargaan
Dr Roberto Francisco Hoffman- Rumah Sakir Oswaldo Cruz (Curitiba/PR Brazil).
Pengakuan menarik
Seluruh penulis tidak ada memperlihatkan konflik yang menarik yang dapat memberikan
pengaruh yang tidak perlu dari laporan kasus ini

Decil

  • 1.
    PERAWATAN HERPES LABIALISREKUREN PADA PASIEN DENGAN SISTEM IMUN YANG MENURUN – LAPORAN KASUS Joslei Carlos Bohn1 , Lucimari Teixeira1, Cassiano Lima Chaiben1 , Adriano Kuczynksi1 , Francisca Berenice Dias Gil2 , Antonio Adilson Soares de Lima1* 1. Bagian stomatologi, Sekolah Kedokteran Gigi, Universitas Federal do Parana – UFPR, Curitiba/PR, Brazil 2. Bagian dari Kedokteran Gigi, Rumah Sakit Oswaldo Cruz, Curitiba/PR/Brazil. Abstrak Manifestasi klinis herpes simpleks virus (HSV-1 dan HSV-2) ditemukan pada pasien dengan imunokompetent dan pada pasien dengan imunokompresan. Bagaimanapun, lesi tipe ini ditemukan dikebanyakan pasien yang imunosupresi yang selalu menjadi lebih parah, bertahan lama dan memerlukan perlakuan yang berbeda pada setiap individu yang system kekebalan tubuhnya tidak dapat melawan infeksi. Infeksi kedua atau rekuren dari HSV-1 terjadi melalui pengaktifan kembali virus, meskipun banyak pasien yang hanya memperlihatkan infeksi yang tidak disertai dengan gejala pada saliva. Tanda dari herpes labialis rekuren memiliki karakteristik adanya sensi rasa terbakar, gatal, kebas atau panas yang lokal diikuti dengan munculnya ruam sebelum timbulnya lesi bula dan vesicular. Sebagian besar kasus dilakukan perawatan dengan obat antiretrovirus. Untuk alasan ini, para dokter memerlukan perhatian untuk setiap kasus yang menyarankan imunosupresi klinis yang belum didiagnosis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk melaporkan sebuah kasus herpes labialis rekuren dari seorang pasien dengan system imun yang menurun. Laporan kasus (J lnt Dent Med Res 2011; 4 : (2), pp. 70-73) Kata Kunci : Herpes Labialis, HIV, Imunosupresi, Lip. Tanggal diterima : 10 Juni 2011 Tanggal menerima : 18 Juli 2011 PENDAHULUAN Dari banyak penyakit infeksi yang terjadi di mulut, yang paling banyak ditemukan adalah HSV- 1. Kontak dengan virus ini biasanya terjadi sebelum masa pubertas. Ketika pasien terinfeksi, virus tetap menjadi laten di daerah neural ganglia. Meskipun awal infeksi diperlihatkan pada pasien muda, banyak individu yang memiliki tanda dan gejala seperti mual dan kemungkinan adanya demam ketika perkembangan herpes gingivostomatitis masuk tahap awal1. Namun, pasien sering merasakn sakit, pembengkakan dan perhatian terhadap pemakaian kosmetik yang
  • 2.
    dihubungkan dengan tahaprekuren dan adanya ketakutan akan virus herpes simpleks yang menular ke orang lain2. Lesi rekuren muncul selama individu tersebut terinfeksi, biasanya sisi yang mengandung epitel seperti mata (hepatitis keratitis), kulit, rongga mulut (herpes stomatitis), bibir (herpes labialis), dan orofasial yang kompleks (herpes labialis). Pada orang yang system imunnya menurun, biasanya tingkat rekurensi terbatas dan pada jaringan perifer yang disarafi oleh saraf yang terinfeksi secara laten3. Herpes labialis rekuren yang menginfeksi bibir oleh diinfeksi oleh virus herpes simpleks (HSV-1). Meskipun kebanyakan pasien dengan herpes labialis rekuren memiliki kurang dari 2 episode tahunan, persentase pasien yang kecil dari pasien yang mengalami rekurensi (5% sampai 10%) ditemukan dari enam atau lebih per tahun2. Pemicu umum yang dapat mengaktifkan virus tersebut adalah jika kelelahan demam, radiasi ultraviolet, pecah-pecah, abrasi, menstruasi, trauma pada kulit dan sistem imun yang menurun4-5. Kelompok vesikel kecil atau luka yang melibatkan bagian-bagian tertenu dari dermatom yang infeksi awalnya muncul dalam dua hari yang massuk ke epitel3. Herpes labialis rekuren memiliki karakteristik vesikel kecil yang melepuh yang berrisi cairan kuning. Lesi ini bermanifestasi secara tiba-tiba, setelah mati rasa dan gatal di bibir selama 4-6 hari. Vesikel ulser yang menutupi bekas luka. Penyembuhan luka terjadi antara tujuh dan sepuluh hari dan tanpa meninggalkan bekas luka1. Diagnosis dari infeksi HSV-1 atau HSV-2 biasanya berdasarkan dari riwayat medis pasien, untuk simptomatologi dan temuan klinis. Bagaimanapun, konfirmasi dari laboratory mungkin dibutuhkan ketika gambaran klinis tidak khas atau pada pasien dengan sistem imun yang menurun6. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan kasus dari herpes labialis rekuren pada pasien dengan penyakit HIV. Laporan Kasus Seorang pria kulit putih berusia 36 tahun yang dirujuk ke Rumah Sakit Oswaldo Cruz di Curitiba (Brail) dengan gejala turunnya berat badan dan dengan disertai diare, batuk, berkeringat (biasanya pada malam hari, vesikel yang disertai rasa sakit dan bekas luka yang hemorargik di bibir. Pasien mengalami penurunan 14kg berat badan pada empat bulan terakhir. Pasien dengan riwayat medis memperlihatkan diagnosis dini dari infeksi HIV dan penggunaan obat peradangan. pemeriksaan awal dari laboraorium menunjukkan keadaan hati yang normal dan uji fungsi ginjal dan tingkat gula darah; hemogram lengkap menunjukkan anemia dan leucopenia; dan tingkat pengendapan eritrosit ; 110 mm. jumlah CD4 adalah 84 sel/µL dan perkembangan virus ada 287.256 sel.
  • 3.
    Gambar 1. Vesikeldan hemorargi di daerah yang bewarna merah dan sekitar bibir Gambar 2. Ciri klinis ini muncul pada pasien setelah 7 hari dari perawatan dengan acyclovir Pemeriksaan fisik secara intraoral menunjukan adanya candidiasis oral (thrus), gingivitis, karies gigi, dan beberapa sisa akar gigi. Selain itu, adanya beberapa vesikel kuning dan ulser yang ditutupi bekas luka yang berwarna kecoklatan diatas dan dibawah bibir (gambar 1). Vesikel juga ada dikulit sekitar bibir. Berdasarkan pasien, lesi ini muncul lima hari yang lalu disertai dengan demam tinggi. Lesi ini disertai rasa sakit dan menyebabkan ketidaknyamanan yang mengarah ke estetik. Lesi ini
  • 4.
    membatasinya untuk melakukanoral hygiene dan mengkonsumsi makanan, tetapi rehidrasi intravena tida dibutuhkan. dimana tidak disertai pembengkakan lymph node. Pemeriksaan lengkap medis untuk tuberculosis telah dilakukan suspek dari tuberculosis paru perlu dikesampingkan. Uji serologi telah dikonfirmsi bahwa pasien positif HSV (dengan IgG dan IgM positif). Gambaran klinis dari lesi ini menguatkan sau diagnostic yang mana hipotesisnya : herpes labialis rekuren. Pasien telah dirawat dengan pemberian acyclovir (600 mg/hari) selama 12 hari yang dihubungkan dengan acyclovir topikal (ointment 5%). Dengan kombinasi dari perawatan ini, penyakit dapat dikontol. Setelah 12 hari dari perawatan ini, kulit dan lesi pada bibir setelah di kontrol (gambar 2). Candidisis oral dapat dirawat dengan flucanazol yang dihubungkan dengan nytatin topikal. Lesi ini hilang dan pasien boleh meninggalkan Rumah Sakit. Pada kondisi ini, pasien yang dirawat dengan terapi antiretrovirus aktif yang cukup tinggi dikarenakan jumlah CD4 yang rendah. Pasien digolongkan menjadi pasien luar dan tidak menunjukkan HSV yang rekuren. KESIMPULAN The World Healtht Organization (WHO) mengidentifikasi HIV/AIDS sebagai salah satu kesehatan umum yang paling urgen di dunia, karena AIDS menyebabkan angka kematian tertinggi dari riwayat terkini. Infeksi HIV biasanya dihubungkan dengan aktivasi dan diseminasi dari beberapa virus pathogen lain, termasuk virus herpes simpleks 1 dan 2, dan human papilomavirus, human sytomegalovirus, human herpesvirus 8, Epstein Barr virus, virus varisella zoster, dan human papiloma virus yang mana penebab dari penyakit ini adalah sistem imun yang menurun1,7. Peningkatan frekuensi dan keparahan dari penyakit disebabkan oleh virus HIV yang menginfeksi individu yang mengarah pada disfungsi dari kedua respon imun adaptif dan bawaan untuk virus patogen8. Infeksi dengan herpes simplek virus tipe 1 dan 2 (HSV-1 dan HSV-2) adalah penting, biasa terjadi dan distribusinya bisa dseluruh dunia9. 89% dari lesi herpes simplek virus menyebabkan penyakit yang reaktif dengan karakteristik yang cukup besar, dimana lesi ulser sangat sakit disekitar mulut10. Pada laporan kasus ini, herpes labialis bilateral rekuren yang didiagnosa disekitar bibir pasien. Beberapa pemicu pasti telah mengaktifkan virus, seperti kelelahan yang sangat, demam, radiasi ultraviolet, pecah-pecah, abrasi, menstruasi, trauma dikulit dan sistem imun yang menurun4-5. Pada kasus ini, jumlah CD4 yang rendah memiliki tangung jawab yang tinggu untuk mengaktifkan HSV, karena pasien memilki jumlah CD4 = 84 sel/µL. Meskipun diagnosis dari infeksi HSV yang biasanya membuat cirri-ciri klinis, uji Tzanck, mikroskopi electron, pengembangbiakan virus dan reaksi polimerisasi rantai (PCR) yang mendeteksi HSV DNA dapat digunakan untuk memastikan diagnosis11-12. Virus herpes simpleks
  • 5.
    tipe 1 (HSV-1)dan 2 (HSV-2) menyebabkan variasi dari infeksi yang signifikan dibidang kesehatan, khususnya pada pasien dengan sistem imun yang menurun. HSV juga berperan penting dalan perkembangan penyakit dari infeksi HSV. Infeksi kronis dari HSV-1 telah dikemukakan oleh WHO sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit HIV/AIDS. Infeksi HSV-1 biasanya bertransmisi selama masa kanak-kanak dan remaja dan lebih sering bertransmisi tidak melalui hubungan sesuai1. Meskipuin infeksi ini memiliki prekiraan klinis dimana perkembangannya menjadi auto- regresi, pada kasus ini, beberapa lesi menyebar luas dan berada dibeberapa daerah di wajah yang mana menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien. Pada kondisi ini, uji laboratorium menunjukkan bahwa virus memiliki jumlah CD4 yang tinggi dan rendah. HIV merusak limposit CD4 dan jumlahnya berhubungan dengan tingkat keparahan penyakt ini. Berdasarkan Duggal dkk.13 perubahan rongga mulut saat munculnya lesi meningkat pada pasien secara signifikan berhubungan dengan aktifitas virus dan jumlah CD4 yang rendah. Bagaimanapun, lesi pada individu yang sistem imunnya menurun harus sesegera mungkin ditangani. Oleh karena itu, perawatan termasuk obat topikal dan sistemik dibuat untuk merawat herpes labialis rekuren dan candidiasis oral. Acyclovir, hydrochloride valacyclovir, dan famciclovir adalah 3 obat antivirus yang harus digunakan secara rutin utnuk menangani herpes simpleks virus tanpa gejala (HSV)14. CDC- pusat untuk kontrol penyakit dan pencegahan telah direkomendasikan perawatan untuk HSV-1 dan HSV-2 ; i) acyclovir 400 mg secara oral tiga kali sehari untuk 7-10 hari; atau ii) acyclovir 200 mg secara oral lima kali sehari untuk 7-10 hari atau iii) famciclovir 250 mg secara oral tiga kali sehari untuk 7-10 hari; atau iv) valacyclovir 1 g secara oral dua kali sehari untuk 7- 10 hari. Perawatan harus diperluas jika penyembuhan tidak sempurna setelah 10 hari dari terapi. Intervena (IV) terapi acyclovir harus dilakukan pada pasien yang menderia penyakit HSV atau komplikasi yang membutuhkan perawatan Rumah Sakit (contoh, infeksi diseminasi, pneumonia atau hepatitis) atau komplikasi CNS (contoh meningoencephalitis). Saran untuk perawatan acyclovir 5-10 mg/kg IV setiap 8 jam untuk 2-7 hari atau hingga peningkatan klinis, mengikuti terapi antivirus secara oral dilakukan sedikitnya 10 hari dari total terapi keseluruhan. Dosis acyclovir biasanya disarankan untuk memperbaik fungsi renal15. Pada kasus kita ini, pasien telah dirawat dengan kombinasi dari topikal dan acyclovir sistemik. Terapi acyclovir untuk menunjukkan keamanan untuk keadaan yang cukup lama dari infeksi herpes pad akelamin dan herpes labialis rekuren2,16,17. Kesimpulan Herpes labialis rekuren adalah lesi dengan gambaran klinis yang unik tetapi itu dapat menjadi lebih buruk pada pasien dengan sistem imun yang menurun. Oleh karena itu para dokter memerlukan perhatian untuk kondisi ini untuk mendiagnosis dan perawatan apa yang akan dilakukan.
  • 6.
    Penghargaan Dr Roberto FranciscoHoffman- Rumah Sakir Oswaldo Cruz (Curitiba/PR Brazil). Pengakuan menarik Seluruh penulis tidak ada memperlihatkan konflik yang menarik yang dapat memberikan pengaruh yang tidak perlu dari laporan kasus ini