Cystitis dan Urinary Tract
              Infection
Adalah infeksi yang terjadi di sepanjang jalan
 saluran kemih, termasuk ginjal akibat proliferasi
 suatu mikroorganisme
Paling sering terjadi pada wanita, pada pria
 jarang, dan penderita diabetes juga beresiko
 terinfeksi.
Jenis-jenis infeksi:
 1. cystitis
 2. pielonefritis akut atau kronis
 Faktor resiko yang berpengaruh trhdp ISK:
    Panjang urethra
    Faktor usia
    Wanita hamil
    Faktor hormonal seperti menopause
    Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin
    Penderita diabetes, orng yng mnderita cedera korda
     spinalis, / mnggunakan kateter dpt mngalami
     pningkatan resiko infeksi
 Pd ISK brulang, prlu dpikirkn kmungkinan faktor
  risiko sprt :
    Klainan fungsi / kelainan anatomi saluran kemih
    Gngguan pngosongn kndung kemih (incomplete
     bladder emptying)
     Konstipasi
     Operasi sal kemih / instrumentasi lainny trhdp sal
     kemih → kemungkinan trjdinya kntaminasi dr luar
     Kekebalan tubuh yang rendah
Tabel 1. Distribusi mikroorganisme yang diisolasi dari bahan urine Msu yang diambil
       di Bag. Mikrobiologi FK USU menurut umur (tahun) dan jenis kelamin.
Gejala-gejala umum
Timbulnya dorongan untuk berkemih
Rasa terbakar dan perih saat berkemih
Oliguri
Hematuria
Urin berwarna gelap dan keruh
Rasa sakit pada daerah di atas pubis
Perasaan tertekan pada perut bagian bawah
Demam
Sering berkemih pada malam hari
Gejala yang tergantung pada
        daerah yang diinfeksi
1.   Pyelonefritis akut
     rasa sakit pada punggung atas dan panggul, demam
     tinggi, gemetar akibat kedinginan, mual dan muntah
2.   Cystitis
     rasa tertekan pada pelvis, ketidaknyamanan pada perut
     bagian bawah, rasa sakit pada saat urinasi, bau yang
     menyengat pada urin
3.   Uretritis
     rasa terbakar pada saat urinasi, gangguan pada penis
Gejala dengan infeksi yang sudah
             berat
1. Kedinginan
2. Demam tinggi dan gemetar
3. Mual
4. Muntah
5. Rasa sakit di bawah rusuk
6. Rasa sakit pada daerah sekitar abdome
 Paling sering disebabkan oleh bakteri di bagian saluran
  kemih, vagina, perineum, rektum
 Contoh bakteri:
    Kelompok anterobacteria, seperti: Escherichia coli,
     Klebsiella pneumoniae, Enterobacter aerogenes, Proteus,
     Providencia, Citrobacter
    Pseudomonas aeruginosa
    Acinetobacter
    Streptococcus
    Enterokokus faecalis
    Stafilokokus sarophyticus
 Dapat juga berasal dari jamur, seperti: Candida albicans, C.
  tropicalis
 Endogen (asending)
 Hematogen (desending)

 Limfogen

 Eksogen
Infeksi Hematogen (desending)

 daya tahan tubuh rendah (penyakit kronik) atau
  mendapat pengobatan imunosupresif
 adanya infeksi
 mikroorganisme yang dapat menyebar secara
  hematogen adalah Staphylococcus aureus,
  Salmonella sp, Pseudomonas, Candida sp, dan
  Proteus sp.
Faktor Hematogen
Adanya  bendungan total aliran urin
Adanya bendungan internal baik karena jaringan

   parut maupun terdapatnya presipitasi obat
intratubular, misalnya sulfonamide
Terdapat faktor vaskular misalnya kontriksi

pembuluh darah
Pemakaian obat analgetik atau estrogen

Penyakit ginjal polikistik

Penderita diabetes melitus
Infeksi Endogen (Asending)




Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran
kemih, (1) Kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman
melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada dinding buli-
buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.(2)
Con’d
Kolonisasi bakteri di uretra dan daerah introitus vagina
1.   distal uretra yang biasanya dihuni oleh bakteri normal flora kulit
     basil difteroid, streptokokus
2.   1/3 bagian distal uretra disertai jaringan periuretral dan vestibula
     vaginalis dihuni oleh bakteri yang berasal dari usus
3.   Pada bagian distal wanita : E.coli di samping enterobacter dan
     S.fecalis.
     Kolonisasi E.coli pada wanita didaerah tersebut karena :
     adanya perubahan flora normal di daerah perineum
     berkurangnya antibodi lokal
     bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita
Masuknya mikroorganisme dalam kandung
kemih

Faktor yang mempengaruhi :
1.  Faktor anatomi
2. Faktor tekanan urin pada waktu miksi
3. Faktor lain :
           Perubahan hormonal pada saat menstruasi

           Kebersihan alat kelamin bagian luar

           Adanya bahan antibakteri dalam urin

           Pemakaian obat kontrasepsi oral
Media Pembiakan
Agar darah , berasal dari darah
Agar mac conkey, untuk bakteri gram negatif
Diagnostik
Digunakan urin pagi
Bahan untuk sampel urin dapat diambil dari:
Urin porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna
 dicuci dulu dengan air sabun dan NaCl 0,9%.
Urin yang diambil dengan kateterisasi 1 kali.
Urin hasil aspirasi supra pubik.
Dianjurkan digunakan urin porsi setengah dan
 supra pubik
Pemeriksaan Laboratorium
 Analisa Urin (urinalisis) =Leukosuria (ditemukannya
  leukosit dalam urin),Hematuria (ditemukannya eritrosit
  dalam urin).
 Pemeriksaan bakteri (bakteriologis)
  =Mikroskopis,Biakan bakteri.
 Pemeriksaan kimia
 Tes Dip slide (tes plat-celup) = mementukan bakteri
  percc urin
 Pemeriksaan penunjang lain
  Meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena),
  USG dan Scanning.
  Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk
  mengetahui ada tidaknya batu atau kelainan lainnya.
Pemeriksaan Penunjang
 Bakteriologi / biakan urin
   plat agar konvensional,
  proper plating technique
  rapid methods
Interpretasi Hasil Biakan Urin
Yang dinilai jenis mikroorganisme, kuantitas
  koloni (dalam satuan CFU), serta tes sensitivitas
  terhadap antimikroba (dalam satuan millimeter
  luas zona hambatan
Con’d
bahan porsi tengah urin dan dari urin
  kateterisasi.
> 105 CFU/ml urin porsi tengah = bakteriuria
  bermakna
> 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis =
  bakteriuria asimtomatik
  102 – 103 CFU/ml urin kateter = infeksi saluran
  kemih.
bahan aspirasi supra pubik.
  berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin
  hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi saluran
  kemih.
Pemeriksaan Mikroskopik untuk
        Mencari Piuria
Urin tidak disentrifus (urin segar)
 Piuria apabila terdapat ≥10 leukosit/mm3 urin
Urin sentrifus
 Terdapatnya leukosit > 10/Lapangan Pandang
 Besar (LPB)
Urin hasil aspirasi suprapubik
 Piuria jika didapatkan >800 leukosit/ml urin
Tes Biokimia
Uji dengan glukosa, nitrat, atau uji protein karena
  ada sebagian bakteri dapat bereaksi dengan zat
  kimia
Lokalisasi Infeksi
 Non invasif
  Imunologik, ACB (Antibody-Coated Bacteria)
  terhadap protein saluran Tam-Horsfall
  Serum antibodi terhadap antigen polisakarida
  Komplemen C

  Nonimunologik, Enzim urin,Protein Creaktif,Foto polos
  abdomen,Ultrasonografi,dll

 Invasif
  Pielografi IV / Retrograde / MCU
  Kultur dari bahan urin kateterisasi ureteroan bilasan
  kandung kemih
  Biopsi ginjal (kultur pemeriksaan imunofluoresens)
Pemeriksaan Radiologis dan
      Penunjang Lainnya
Foto polos abdomen, mendeteksi 90% batu opak
Pielografi intravena (PIV)= Memberikan
 gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter,
 dan distorsi system pelviokalises
Sistouretrografi saat berkemih=Pemeriksaan ini
 dilakukan jika dicurigai terdapat refluks
 vesikoureteral.
Con’d
 Ultrasonografi ginjal
  Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis,
  scarring process, ukuran dan bentuk ginjal, permukaan
  ginjal, masa, batu, dan kista pada ginjal
 Pielografi antegrad dan retrograde
  Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter,
  bersifat invasive dan mengandung factor resiko yang cukup
  ting
 CT-scan
  Adanya infeksi pada parenkim ginjal, termasuk mikroabses
  ginjal dan abses perinefrik
 DMSA scanning
  Digunakan untuk anak – anak dengan infeksi saluran
  kemih akut dan biasanya ditunjang dengan
  sistoureterografi saat berkemih
Tujuan Pengobatan:
Menghilangkan bakteri penyebab ISK.
Menanggulangi keluhan (gejala).
Mencegah kemungkinan gangguan organ ( terutama
 ginjal).

Pemilihan antibiotika berdasarkan toleransi dan
  terabsorbsi dengan baik, perolehan konsentrasi yang
  tinggi dalam urin, serta spectrum yang spesifik
  terhadap mikroba pathogen.
Terbagi dua, yaitu antibiotika oral dan parenteral.
I. Antibiotik Oral
a. Sulfonamida
    Digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali.
    Umumnya diganti dengan antibiotika yang lebih
    aktif karena sifat resistensinya.
    Keuntungan :obat ini harganya murah
b. Trimetoprim-sulfametoksazol
    Kombinasi memiliki efektivitas tinggi dalam
    melawan bakteri aerob, kecuali Pseudomonas
    aeruginosa. Obat ini penting untuk mengobati
    infeksi dengan komplikasi, juga efektif sebagai
    profilaksis pada infeksi berulang.
     Dosis: 160 mg dan interval pemberiannya tiap 12
    jam.
c. Penicillin
  Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki
  aktivitas spektrum luas, termasuk terhadap bakteri
  penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin 1000
  mg dan interval pemberiannya tiap 6 jam
d. Cephaloporin
  Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama
  dibanding dengan antibiotika lain.
  Selain itu obat ini juga lebih mahal.
  Umumnya digunakan pada kasus resisten terhadap
  amoxsicillin dan trimetoprim-sulfametoksazol.
e. Tetrasiklin
   Antibiotika ini efektif untuk mengobati infeksi
   saluran kemih tahap awal. Sifat resistensi tetap ada
   dan penggunannya perlu dipantau dengan tes
   sensitivitas. Umumnya digunakan untuk mengobati
   infeksi yang disebabkan oleh chlamydial.
f. Quinolon
   Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif
   digunakan untuk mengobati infeksi tahap awal yang
   disebabkan oleh bakteri E. coli dan Enterobacteriaceae
   lain, tetapi tidak terhadap Pseudomonas aeruginosa.
   Ciprofloxacin dan ofloxacin diindikasikan untuk
   terapi sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50
   mg tiap 12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg
   tiap 12 jam.
g. Nitrofurantoin
   Efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien
   infeksi saluran kemih berulang.
   Keuntungan: hilangnya resistensi walaupun dalam
   terapi jangka panjang.
h. Azithromycin
   Berguna pada terapi dosis tunggal yang disebabkan
   oleh infeksi chlamydial.
i. Methanamin Hippurat dan Methanamin Mandalat
   Digunakan untuk terapi profilaksis dan supresif
   diantara tahap infeksi.
II. Antibiotik Parenteral
a. Amynoglycosida
    Gentamicin dan Tobramicin, efektivitas sama, tetapi
    gentamicin sedikit lebih mahal.
    Tobramicin, aktivitas lebih besar terhadap pseudomonas
    memilki peranan penting dalam pengobatan onfeksi
    sistemik yang serius.
    Amikasin umumnya digunakan untuk bakteri yang
    multiresisten. Dosis gentamicin sebesar 3-5 mg/kg berat
    badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan 1
    mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 8
    jam.
b. Penicillin
   Memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati
   infeksi akibat Pseudomonas aeruginosa dan enterococci.
   Digunakan pada pasien yang ginjalnya tidak sepasang atau
   ketika penggunaan amynoglycosida harus dihindari
c. Cephalosporin
   Generasi kedua dan ketiga memiliki aktivitas melawan
   bakteri gram negative, tetapi tidak efektif melawan
   Pseudomonas aeruginosa.
d. Imipenem/silastatin
   Spectrum yang sangat luas thd bakteri gram positif,
   negative, dan bakteri anaerob. Aktif melawan infeksi yang
   disebabkan enterococci dan Pseudomonas aeruginosa,
   Dosis obat ini sebesar 250-500 mg ddengan interval
   pemberian tiap 6-8 jam.
e. Aztreonam
 Obat ini aktif melawan bakteri gram negative, termasuk
 Pseudomonas aeruginosa.
 Umumnya digunakan pada infeksi nosokomial, ketika
 aminoglikosida dihindari, serta pada pasien yang sensitive
 terhadap penicillin.
 Dosis aztreonam sebesar 1000 mg dengan interval
 pemberian tiap 8-12 jam.
Preventif Infeksi Saluran Kemih
Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim
 dan saluran kemih.
Bagi perempuan, membersihkan organ intim dengan
 sabun khusus yang memiliki pH balanced (seimbang)
 sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup
 bersih.
Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet
 jongkok tidak menyentuh langsung permukaan toilet
 dan lebih higienis.
Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang
 menyerap keringat agar tidak lembab.
kelompok199

kelompok199

  • 2.
    Cystitis dan UrinaryTract Infection Adalah infeksi yang terjadi di sepanjang jalan saluran kemih, termasuk ginjal akibat proliferasi suatu mikroorganisme Paling sering terjadi pada wanita, pada pria jarang, dan penderita diabetes juga beresiko terinfeksi. Jenis-jenis infeksi: 1. cystitis 2. pielonefritis akut atau kronis
  • 4.
     Faktor resikoyang berpengaruh trhdp ISK:  Panjang urethra  Faktor usia  Wanita hamil  Faktor hormonal seperti menopause  Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin  Penderita diabetes, orng yng mnderita cedera korda spinalis, / mnggunakan kateter dpt mngalami pningkatan resiko infeksi
  • 5.
     Pd ISKbrulang, prlu dpikirkn kmungkinan faktor risiko sprt :  Klainan fungsi / kelainan anatomi saluran kemih  Gngguan pngosongn kndung kemih (incomplete bladder emptying) Konstipasi Operasi sal kemih / instrumentasi lainny trhdp sal kemih → kemungkinan trjdinya kntaminasi dr luar Kekebalan tubuh yang rendah
  • 6.
    Tabel 1. Distribusimikroorganisme yang diisolasi dari bahan urine Msu yang diambil di Bag. Mikrobiologi FK USU menurut umur (tahun) dan jenis kelamin.
  • 8.
    Gejala-gejala umum Timbulnya doronganuntuk berkemih Rasa terbakar dan perih saat berkemih Oliguri Hematuria Urin berwarna gelap dan keruh Rasa sakit pada daerah di atas pubis Perasaan tertekan pada perut bagian bawah Demam Sering berkemih pada malam hari
  • 9.
    Gejala yang tergantungpada daerah yang diinfeksi 1. Pyelonefritis akut rasa sakit pada punggung atas dan panggul, demam tinggi, gemetar akibat kedinginan, mual dan muntah 2. Cystitis rasa tertekan pada pelvis, ketidaknyamanan pada perut bagian bawah, rasa sakit pada saat urinasi, bau yang menyengat pada urin 3. Uretritis rasa terbakar pada saat urinasi, gangguan pada penis
  • 10.
    Gejala dengan infeksiyang sudah berat 1. Kedinginan 2. Demam tinggi dan gemetar 3. Mual 4. Muntah 5. Rasa sakit di bawah rusuk 6. Rasa sakit pada daerah sekitar abdome
  • 12.
     Paling seringdisebabkan oleh bakteri di bagian saluran kemih, vagina, perineum, rektum  Contoh bakteri:  Kelompok anterobacteria, seperti: Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Enterobacter aerogenes, Proteus, Providencia, Citrobacter  Pseudomonas aeruginosa  Acinetobacter  Streptococcus  Enterokokus faecalis  Stafilokokus sarophyticus  Dapat juga berasal dari jamur, seperti: Candida albicans, C. tropicalis
  • 14.
     Endogen (asending) Hematogen (desending)  Limfogen  Eksogen
  • 15.
    Infeksi Hematogen (desending) daya tahan tubuh rendah (penyakit kronik) atau mendapat pengobatan imunosupresif  adanya infeksi  mikroorganisme yang dapat menyebar secara hematogen adalah Staphylococcus aureus, Salmonella sp, Pseudomonas, Candida sp, dan Proteus sp.
  • 16.
    Faktor Hematogen Adanya bendungan total aliran urin Adanya bendungan internal baik karena jaringan parut maupun terdapatnya presipitasi obat intratubular, misalnya sulfonamide Terdapat faktor vaskular misalnya kontriksi pembuluh darah Pemakaian obat analgetik atau estrogen Penyakit ginjal polikistik Penderita diabetes melitus
  • 17.
    Infeksi Endogen (Asending) Gambar1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada dinding buli- buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.(2)
  • 18.
    Con’d Kolonisasi bakteri diuretra dan daerah introitus vagina 1. distal uretra yang biasanya dihuni oleh bakteri normal flora kulit basil difteroid, streptokokus 2. 1/3 bagian distal uretra disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis dihuni oleh bakteri yang berasal dari usus 3. Pada bagian distal wanita : E.coli di samping enterobacter dan S.fecalis. Kolonisasi E.coli pada wanita didaerah tersebut karena :  adanya perubahan flora normal di daerah perineum  berkurangnya antibodi lokal  bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita
  • 19.
    Masuknya mikroorganisme dalamkandung kemih Faktor yang mempengaruhi : 1. Faktor anatomi 2. Faktor tekanan urin pada waktu miksi 3. Faktor lain :  Perubahan hormonal pada saat menstruasi  Kebersihan alat kelamin bagian luar  Adanya bahan antibakteri dalam urin  Pemakaian obat kontrasepsi oral
  • 21.
    Media Pembiakan Agar darah, berasal dari darah Agar mac conkey, untuk bakteri gram negatif
  • 22.
    Diagnostik Digunakan urin pagi Bahanuntuk sampel urin dapat diambil dari: Urin porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna dicuci dulu dengan air sabun dan NaCl 0,9%. Urin yang diambil dengan kateterisasi 1 kali. Urin hasil aspirasi supra pubik. Dianjurkan digunakan urin porsi setengah dan supra pubik
  • 23.
    Pemeriksaan Laboratorium  AnalisaUrin (urinalisis) =Leukosuria (ditemukannya leukosit dalam urin),Hematuria (ditemukannya eritrosit dalam urin).  Pemeriksaan bakteri (bakteriologis) =Mikroskopis,Biakan bakteri.  Pemeriksaan kimia  Tes Dip slide (tes plat-celup) = mementukan bakteri percc urin  Pemeriksaan penunjang lain Meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan Scanning. Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya batu atau kelainan lainnya.
  • 24.
    Pemeriksaan Penunjang  Bakteriologi/ biakan urin plat agar konvensional, proper plating technique rapid methods
  • 25.
    Interpretasi Hasil BiakanUrin Yang dinilai jenis mikroorganisme, kuantitas koloni (dalam satuan CFU), serta tes sensitivitas terhadap antimikroba (dalam satuan millimeter luas zona hambatan
  • 26.
    Con’d bahan porsi tengahurin dan dari urin kateterisasi. > 105 CFU/ml urin porsi tengah = bakteriuria bermakna > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis = bakteriuria asimtomatik 102 – 103 CFU/ml urin kateter = infeksi saluran kemih. bahan aspirasi supra pubik. berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi saluran kemih.
  • 27.
    Pemeriksaan Mikroskopik untuk Mencari Piuria Urin tidak disentrifus (urin segar) Piuria apabila terdapat ≥10 leukosit/mm3 urin Urin sentrifus Terdapatnya leukosit > 10/Lapangan Pandang Besar (LPB) Urin hasil aspirasi suprapubik Piuria jika didapatkan >800 leukosit/ml urin
  • 28.
    Tes Biokimia Uji denganglukosa, nitrat, atau uji protein karena ada sebagian bakteri dapat bereaksi dengan zat kimia
  • 29.
    Lokalisasi Infeksi  Noninvasif Imunologik, ACB (Antibody-Coated Bacteria) terhadap protein saluran Tam-Horsfall Serum antibodi terhadap antigen polisakarida Komplemen C Nonimunologik, Enzim urin,Protein Creaktif,Foto polos abdomen,Ultrasonografi,dll  Invasif Pielografi IV / Retrograde / MCU Kultur dari bahan urin kateterisasi ureteroan bilasan kandung kemih Biopsi ginjal (kultur pemeriksaan imunofluoresens)
  • 30.
    Pemeriksaan Radiologis dan Penunjang Lainnya Foto polos abdomen, mendeteksi 90% batu opak Pielografi intravena (PIV)= Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi system pelviokalises Sistouretrografi saat berkemih=Pemeriksaan ini dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral.
  • 31.
    Con’d  Ultrasonografi ginjal Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process, ukuran dan bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada ginjal  Pielografi antegrad dan retrograde Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive dan mengandung factor resiko yang cukup ting  CT-scan Adanya infeksi pada parenkim ginjal, termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik  DMSA scanning Digunakan untuk anak – anak dengan infeksi saluran kemih akut dan biasanya ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih
  • 33.
    Tujuan Pengobatan: Menghilangkan bakteripenyebab ISK. Menanggulangi keluhan (gejala). Mencegah kemungkinan gangguan organ ( terutama ginjal). Pemilihan antibiotika berdasarkan toleransi dan terabsorbsi dengan baik, perolehan konsentrasi yang tinggi dalam urin, serta spectrum yang spesifik terhadap mikroba pathogen. Terbagi dua, yaitu antibiotika oral dan parenteral.
  • 34.
    I. Antibiotik Oral a.Sulfonamida Digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali. Umumnya diganti dengan antibiotika yang lebih aktif karena sifat resistensinya. Keuntungan :obat ini harganya murah b. Trimetoprim-sulfametoksazol Kombinasi memiliki efektivitas tinggi dalam melawan bakteri aerob, kecuali Pseudomonas aeruginosa. Obat ini penting untuk mengobati infeksi dengan komplikasi, juga efektif sebagai profilaksis pada infeksi berulang. Dosis: 160 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam.
  • 35.
    c. Penicillin Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas, termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin 1000 mg dan interval pemberiannya tiap 6 jam d. Cephaloporin Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama dibanding dengan antibiotika lain. Selain itu obat ini juga lebih mahal. Umumnya digunakan pada kasus resisten terhadap amoxsicillin dan trimetoprim-sulfametoksazol.
  • 36.
    e. Tetrasiklin Antibiotika ini efektif untuk mengobati infeksi saluran kemih tahap awal. Sifat resistensi tetap ada dan penggunannya perlu dipantau dengan tes sensitivitas. Umumnya digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh chlamydial. f. Quinolon Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan untuk mengobati infeksi tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan Enterobacteriaceae lain, tetapi tidak terhadap Pseudomonas aeruginosa. Ciprofloxacin dan ofloxacin diindikasikan untuk terapi sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50 mg tiap 12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg tiap 12 jam.
  • 37.
    g. Nitrofurantoin Efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien infeksi saluran kemih berulang. Keuntungan: hilangnya resistensi walaupun dalam terapi jangka panjang. h. Azithromycin Berguna pada terapi dosis tunggal yang disebabkan oleh infeksi chlamydial. i. Methanamin Hippurat dan Methanamin Mandalat Digunakan untuk terapi profilaksis dan supresif diantara tahap infeksi.
  • 38.
    II. Antibiotik Parenteral a.Amynoglycosida Gentamicin dan Tobramicin, efektivitas sama, tetapi gentamicin sedikit lebih mahal. Tobramicin, aktivitas lebih besar terhadap pseudomonas memilki peranan penting dalam pengobatan onfeksi sistemik yang serius. Amikasin umumnya digunakan untuk bakteri yang multiresisten. Dosis gentamicin sebesar 3-5 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan 1 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 8 jam.
  • 39.
    b. Penicillin Memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati infeksi akibat Pseudomonas aeruginosa dan enterococci. Digunakan pada pasien yang ginjalnya tidak sepasang atau ketika penggunaan amynoglycosida harus dihindari c. Cephalosporin Generasi kedua dan ketiga memiliki aktivitas melawan bakteri gram negative, tetapi tidak efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. d. Imipenem/silastatin Spectrum yang sangat luas thd bakteri gram positif, negative, dan bakteri anaerob. Aktif melawan infeksi yang disebabkan enterococci dan Pseudomonas aeruginosa, Dosis obat ini sebesar 250-500 mg ddengan interval pemberian tiap 6-8 jam.
  • 40.
    e. Aztreonam Obatini aktif melawan bakteri gram negative, termasuk Pseudomonas aeruginosa. Umumnya digunakan pada infeksi nosokomial, ketika aminoglikosida dihindari, serta pada pasien yang sensitive terhadap penicillin. Dosis aztreonam sebesar 1000 mg dengan interval pemberian tiap 8-12 jam.
  • 41.
    Preventif Infeksi SaluranKemih Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kemih. Bagi perempuan, membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH balanced (seimbang) sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih. Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh langsung permukaan toilet dan lebih higienis. Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar tidak lembab.