BAB II
RIWAYAT HIDUP DAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN FILOSOFIS
MICHEL FOUCAULT
2.1. RIWAYAT SINGKAT
Foucault dilahirkan di Poitiers, Prancis, pada 15 Oktober tahun 1926 dan
meninggal pada 25 Juni tahun 1984 di Paris. Ibunya bernama Anne Malapert,
anak dari seorang dokter ahli bedah. Ayahnya juga sebelumnya seorang dokter
ahli bedah, juga adalah guru besar dalam bidang anatomi di sekolah kedokteran
Poitiers. Pada masa kecil, Foucault dan kedua saudaranya bertumbuh dalam
keluarga yang ketat. Ibu dan ayahnya membangun sebuah garis keras dalam
pendidikan yang ditanam mulai dari dalam diri sendiri. Ibunya selalu kreatif dan
aktif dalam menyemangati belajar anak-anaknya. Pada dasarnya Foucault adalah
pribadi yang anti-klerikal. Hal ini merupakan faktor keturunan dari keluarga
Foucault. Nilai-nilai kultur lebih diprioritaskan dalam mendidik anak
dibandingkan dengan nilai-nilai agama.9
Foucault mulai mengenyam pendidikan dasarnya pada lycee Henry IV
dan College Saint Stanislas yang berada di Poitiers. Bakat dan minatnya
terhadap sejarah dan bahasa mulai tampak pada pendidikan dasarnya.
Kemampuan inilah yang memotivasi Foucault masuk Ecole Normale Superieure
(ENS).10
Namun, pilihan ini sangat bertentangan dengan keinginan sang ayah dan
kakeknya.
Dalam pendidikan di ENS, Foucault sangat cerdas dan sangat aneh. Guru
dan teman-temannya mengakuinya sebagai orang jenius, namun juga sering
9
K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001),
p. 296.
10
Ecole Normale Superieure adalah sekolah khusus diperuntukkan bagi siswa-siswi jenius di
Prancis. Bdk. Listiyono Santoso, at. al, Epistemologi Kiri (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), p. 164.
9
bertingkah aneh dan tidak masuk akal. Kebiasaan-kebiasaannya selalu eksentrik
sehingga dianggap sinting. Pada masa itu pula Foucault tertarik pada psikologi.
Pada tahun 1950-1984, Foucault menghasilkan kurang lebih sembilan
buku utama, selain ratusan artikel dan beberapa artikel hasil wawancara. Dalam
buku-buku utama, ia hanya berbicara tentang peristiwa dan sejarah dari tokoh-
tokoh besar. Misalnya orang gila atau tidak normal, kelompok narapidana dan
penyimpangan terhadap seksualitas. Pada musim gugur 1983, Foucault
mengakhiri pengembaraanya di San Fransisco dan mulai terserang penyakit. Pada
tahun berikutnya, ia kembali ke Prancis. Pada tanggal 25 Juni 1984 setelah
mengalami kemerosotan fisik yang drastis, Foucault menghembuskan napasnya
yang terakhir. Ia meninggal karena mengidap penyakit AIDS.11
Foucault sangat dikenal sebagai seorang intelektual postmodernis yang
sangat produktif dalam melakukan penelitian dan menerbitkan berbagai macam
karya semasa hidupnya. Foucault yakin bahwa filsafat adalah peralihan dan
transformasi dari kerangka-kerangka berpikir, modifikasi dari nilai-nilai yang
telah mapan dan semua usaha yang dibuat agar orang dapat berpikir lain, berbuat
lain dan menjadi orang lain.12
Foucault adalah lulusan Ĕcole Supérieure, yang belajar pada Louis
Althusser, seorang filsuf sosial. Mula-mula dia bekerja sebagai filsuf, namun
kemudian dia meninggalkan filsafat karena terlampau abstrak dan naif dalam
klaim kebenarannya. Maka dia mulai mendalami psikologi khususnya psikologi
patologi, dan bekerja membantu di rumah sakit mental. Dia pernah menjadi
pengajar dalam jurusan bahasa Prancis di Swedia, Jerman dan Polandia pada
tahun 1950-1960. Setelah peristiwa demonstrasi mahasiswa Mei tahun 1968, dia
menjadi ketua jurusan filsafat di Vincennes. Pada tahun 1970 dia diangkat
menjadi profesor dalam bidang Sejarah Sistem Berpikir di Collêge dę France,
tempat dia bekerja sampai kematiannya.13
Foucault pernah menjadi anggota partai
komunis Prancis, namun kemudian meninggalkan partai tersebut pada tahun
1951, karena partai ini dinilainya terlampau doktrinal dan mengekang kebebasan.
11
Paul Budi Kleden, “Memahami Posmodernisme (ms), p. 48.
12
Ibid.
13
Steven Best dan Douglas Kellner, Teori Postmodern, Interogasi Kritis, penterj. Indah
Rohmani (Malang: Boyan Publishing, 2003), p. 40.
10
Kendati demikian Foucault masih memiliki satu sikap yang ambigu terhadap
Marxisme. Luasnya cakupan minat ini menjadi sebab bahwa orang sulit
memahami Foucault. Foucault menggunakan gagasan dari orang lain sebagai
bahan, tetapi selalu diolah dan dimasukkan secara inovatif ke dalam bangunan
konsepnya sendiri.
Foucault mungkin adalah filsuf pertama sesudah PD II yang berbicara
tentang Nietzsche sebagai filsuf politik secara serius. Dia menjadikan uraian
Nietzsche tentang kekuasaan sebagai basis refleksi kebudayaan dan pandangan
filosofisnya. Perlu diketahui bahwa filsafat politik tradisional selalu berorientasi
pada soal legitimasi. Kekuasaan adalah sesuatu yang dilegitimasikan secara
metafisis kepada negara yang memungkinkan negara dapat mewajibkan semua
orang untuk mematuhinya. Namun menurut Foucault, kuasa bukanlah sesuatu
yang hanya dikuasai oleh negara atau sesuatu yang dapat diukur. Kuasa ada di
mana-mana, karena kuasa adalah satu dimensi dari relasi. Di mana ada relasi, di
sana ada kuasa. Kuasa ini muncul di mana-mana, datang dan pergi sesuai dengan
konteks.14
Foucault juga adalah seorang yang skeptis terhadap segala macam
kebenaran. Baginya segala macam klaim kebenaran adalah interpretasi atas
sebuah dunia, yang sebenarnya tidak ada sebagai sesuatu yang historis. Untuk itu
dia menyelidiki cara berpikir dan sejarah peradaban. Misalnya dalam Madness
and Civilization dia melukiskan bagaimana kegilaan itu didefinisikan dari
berbagai kelompok yang dominan pada masa tertentu. Karena itu dia meragukan
legitimasi eliminasi kegilaan dari kebudayaan yang resmi. Yang normal dan
patologis tidak dapat dibedakan secara tegas, sebab itu sungguh tergantung pada
definisi yang diberikan masyarakat yang ditentukan oleh berbagai kepentingan.
Pandangan yang serupa dituangkannya dalam buku The Birth of the Clinic. Di
sini Foucault menguraikan bahwa pandangan dan cara pengobatan seorang dokter
sungguh sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi pengetahuan, institusional,
pedagogis, keamanan dan seterusnya. Pemisahan antara yang gila dan normal
merupakan akibat dari wacana pengetahuan para psikolog. Secara umum subjek
manusia sebenarnya sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah konstelasi berbagai
14
Ibid.
11
struktur. Foucault pernah menulis bahwa untuk semua orang yang masih mau
berbicara tentang manusia, tentang kekuasaan atau pembebasannya, untuk semua
mereka yang masih bertanya tentang manusia dalam esensinya, bagi semua
mereka yang mau menjadikan manusia titik pijak pemikirannya untuk mencapai
kebenaran, dan kepada semua orang yang mengasalkan semua pengetahuan pada
kebenaran tentang manusia…bagi semua mereka ini tidak ada yang lebih tepat
dari sebuah gurauan filosofis.15
Dengan ini Foucault menempatkan diri pada posisi yang berseberangan
dengan filsafat yang berkembang luas di Prancis sesudah Perang Dunia II, yakni
eksistensialisme, dengan tokoh utama Jean-Paul Sartre.
Menurut Foucault, filsafat pada dasarnya merupakan diagnose.
Mendiagnosis masa sekarang berarti mengatakan apa masa sekarang itu,
mengatakan bagaimana perbedaan antara masa sekarang dengan yang bukan
masa sekarang, yakni masa lampau kita.16
Untuk memahami masa sekarang ini
dibuat analisis dan kritik atas masa lampau. Kita mengkritik masa lampau tentang
segala sesuatu yang menyimpang atau mengganggu pada masa sekarang. Segala
sesuatu yang negatif dikoreksi kembali secara efisien.
2.2. POKOK-POKOK PEMIKIRAN FOUCAULT DALAM KARYA-
KARYANYA
2.2.1. The Order of Things (1973)
Dalam buku The Order of Things: An Archaeology of The Human
Sciences,17
Foucault menunjukkan bahwa ada dua perubahan besar yang terjadi
dalam bentuk umum pemikiran dan teorinya. Yang pertama terjadi pada
pertengahan abad ketujuhbelas dan yang kedua pada awal abad kesembilan belas.
Perubahan ini tidak perlu disebut sebagai kemajuan, tetapi sebagai perubahan
bagaimana sesuatu dibicarakan dalam satu tatanan. Setelah menganalisis
15
Paul Budi Kleden, Op. Cit., p. 50.
16
Seperti dikutip oleh Barry Cooper, Michael Foucault: An Introduction to the Study of His
Though, Studies in Religion and Society. Vol. 2 (New York: The Edwin Mellen Press, 1981), p. 3.
17
Michel Foucault, The Order of Things: An Archaeology of the Human Science, penterj. G.
Gutting, (New York: Vintage Books, 1973), p. 11.
12
diskursus ilmu pengetahuan abad 17 dan 18 seputar sejarah alam, teori uang dan
nilai serta tata bahasa, Foucault mengambil kesimpulan bahwa pusat ilmu
pengetahuan pada waktu ini adalah tabel. Yang dimaksudkan bukanlah terutama
matematika murni, melainkan matematika terapan, yang menempatkan segala
sesuatu dalam kategori-kategori dan file-file empiris. Konsentrasi pada tabel ini
didasarkan pada anggapan utama bahwa setiap pengertian atau nama
mengungkapkan sesuatu dalam realitas. Dengan nama orang mengungkapkan
status dari satu kenyataan, dan nama itu dapat dipetakan pada tabel. Orang
hendak merepresentasikan realitas dalam tabel. Tabel adalah “satu sistem tanda,
satu bentuk taksonomi umum dan sistematis dari benda-benda”.18
Dengan
konsentrasi pada tabel, pengetahuan pada masa ini menjadi ahistoris.
Pada akhir abad ke18 (setelah revolusi Perancis) sampai pertengahan abad
20 (PD II), konsentrasi pada tabel lenyap. Konsentrasi wacana ilmiah pada masa
ini adalah sejarah dan manusia sebagai subjeknya. Diskursus ilmu pengetahuan
pada masa ini diwarnai oleh anggapan tentang subjek transendental yang berada
di belakang segala yang tampak, di balik semua nama. Subjek ini dibebaskan dari
segala mimpi eskatologis-religius dan serba spekulasi idealistis. Manusia
dibebaskan dari segala alienasi, bebas dari determinasi dan bebas dari segala
sesuatu. Foucault menganggap dirinya bukan subjek. Atau dengan kata lain,
manusia menjadi objek pengetahuan dari subjek transenden. Namun berkat
pengetahuan yang dimiliki tentang dirinya dia kembali menjadi tuan dan pemilik
dirinya sendiri dan dengan demikian dia menjadi subjek dari kebebasan dan
eksistensinya sendiri.19
Dengan karyanya pada tahun 1966 itu Foucault disebut sudah memulai
apa yang kemudian disebut sebagai poststrukturalisme. Subjek yang mengetahui
terikat pada kodeks utama kebudayaan, pada berbagai apriori historis, pada
berbagai fundamen pengetahuan yang tidak disadari. Sebab itu, jauh lebih
penting menyelidiki hal-hal ini daripada menyelidiki subjek-subjek. Buku ini
memuat hasil studinya tentang perkembangan ilmu pengetahuan sejak abad ke-
16. Objek penelitiannya adalah kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan lahirnya
18
Barry Cooper, Op.Cit., p. 5.
19
Ibid., p. 7.
13
satu diskursus. Foucault menemukan bahwa satu ilmu pengetahuan tidak berasal
dari subjek manusia atau pengarang, tetapi berasal dari aturan-aturan diskursif
dasar dan praktik-praktik yang masih ada pada situasi dan kondisi saat itu.
Obsesi Foucault dengan arkeologi ini adalah untuk menunjukkan bahwa
dominasi subjek dalam ranah ilmu pengetahuan modern sebenarnya adalah satu
bentukan dan bukan satu keharusan. Fokus antropologis dan prasangka
antropologis ini harus diatasi. Dengan munculnya filsafat bahasa yang menjadi
objek kajian dari strukturalisme, wajah manusia yang sekian dominan akan
menghilang, sebagaimana gambar wajah manusia di pasir di pantai akan hilang
tergusur gelombang.
Tentu Foucault sendiri sangat berorientasi pada Levi-Strauss, misalnya
tentang kematian manusia, sebab ternyata yang menjadi elemen pembentuk
subjek adalah struktur-struktur. Selain itu kesamaan terungkap pula dalam
pandangan bahwa berbagai konsep dan pengetahuan dalam satu epoche20
, yang
terkesan berbeda, sebenarnya merupakan manifestasi dari skema arkeologis yang
sama, yang bekerja secara tanpa disadari. Tetapi Levi-Strauss mencoba
menemukan satu struktur universal yang menjelaskan semua fenomen budaya
sampai segala pengalaman hidup manusia lainnya. Strukturalisme Levi-Strauss
berorientasi kepada satu integralisme universal. Bagi Foucault, kesamaan itu ada
apabila orang memperhatikannya secara sinkronis: artinya untuk masa yang sama
ada struktur yang sama. Tetapi kita akan memperoleh pluralitas struktur, apabila
kita membuat penelitian sejarah, artinya kalau kita mengamatinya secara
diakronis. Di sini kita menemukan heterogenitas. Jadi Foucault adalah seorang
poststrukturalis.
2.2.2. The Discourse on Language (1971)
Dalam keseluruhan kerangka filosofisnya Foucault menunjukkan
kecenderungan yang sangat kuat untuk menganalisis kuasa. Secara eksplisit
analisis ini terungkap dalam eseinya yang ditulis pada tahun 1971, The Discourse
20
Epoche (epoch: b. Inggris) adalah jangka waktu, jaman, masa. Bdk. John. Echols dan
Hassan Shadily, An English-Indonesian Dictionary (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003),
p. 216.
14
on Language. Di sini dia menunjukkan hubungan antara diskursus ilmu
pengetahuan dengan kuasa. Diskursus ilmu pengetahuan yang hendak
menemukan yang benar dan yang palsu pada dasarnya dimotori oleh kehendak
untuk berkuasa. Ilmu pengetahuan dilaksanakan untuk menetapkan apa yang
benar dan mengeliminasi apa yang dipandang palsu. Menjadi jelas bahwa
kehendak untuk kebenaran adalah ungkapan dari kehendak untuk berkuasa.
Penjelasan ilmiah yang satu berusaha menguasai dengan menyingkirkan
penjelasan ilmu-ilmu yang lain. Selain itu, ilmu pengetahuan yang terwujud
dalam teknologi gampang digunakan untuk memaksakan sesuatu kepada
masyarakat. Karena dalam zaman teknologi tinggi pun sebenarnya tetap ada
pemaksaan, maka kita tidak dapat berbicara tentang kemajuan peradaban. Yang
terjadi hanyalah pergeseran instrumen yang dipakai untuk memaksa.
Studi tentang bahasa merupakan satu pendekatan yang dipakai Foucault
untuk berfilsafat. Hal ini pun dipelajarinya dari Nietzsche, yang mendalami
filsafat bukan dari matematika atau fisika, melainkan dari filologi21
. Dalam
studinya tentang bahasa, yang menjadi inti penelitiannya adalah eksistensi
manusia dan dasar dunia. Dia hendak mengetahui siapa yang berbicara kalau
sesuatu dikatakan.
Filsafat perlu mempelajari arti dan kuasa. Dan karena kuasa ada dalam
wacana, dan wacana ditemukan dalam beragam cara, maka filsafat pun harus
terbuka terhadap berbagai wacana. Kalau kita hendak mendalami arti kuasa
(power), maka yang harus diselidiki adalah apa saja yang mengandung kuasa
tersebut. Sebab itu, filsafat akan secara niscaya mengantar orang kepada sastra,
hukum, politik, dan malahan ke penjara.
2.2.3. Madness and Civilization (1961)
Tentang kegilaan, Foucault pernah mengatakan dalam sebuah interview
bahwa pergumulannya dengan fenomen kegilaan dimulai setelah menamatkan
studi filsafatnya. Itu terjadi pada tahun 1950-an. “Saya sudah cukup gila untuk
belajar tentang pikiran, dan saya sudah cukup menjadi orang yang berpikir untuk
21
Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa
sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis. Bdk. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi
keempat. Op. Cit., p. 392.
15
mempelajari kegilaan”.22
Selama masa itu, dia dapat dengan mudah mendekati
para pasien dan para terapeut, karena dia tidak mempunyai satu peran yang
khusus. Itulah masa awal dari psikofarmakologi,23
masa kejayaan institusi
tradisional. Pada mulanya dia menerima semua itu. Namun setelah tiga bulan dia
bertanya: untuk apa semuanya ini? Setelah tiga tahun meninggalkan psikiatri
dengan satu keguncangan personal yang mendalam, Foucault lalu pergi ke
Swedia dan menulis tentang praktik kegilaan dan peradaban (Madness and
Civilization, 1961).
Di sini Foucault menerapkan metode arkeologi. Foucault menemukan
bahwa pada zaman Renaissance, kegilaan dan penalaran memiliki relasi yang
erat, dan tidak terpisahkan, sebab keduanya menggunakan bahasa yang sama.
Kegilaan adalah kebebasan imaginasi, dan masih menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat dalam zaman renaissance. Namun pada zaman klasik (1650-1800),
dialog antara kegilaan dan penalaran mengalami pembungkaman. Keduanya
dilaksanakan dalam bahasa yang berbeda, dan akhirnya bermuara pada
penaklukan kegilaan oleh penalaran. Tetapi perlahan kegilaan menjadi sesuatu
yang asing dan disingkirkan dari kehidupan yang harus dijiwai kelogisan.
Kegilaan ditaklukkan oleh kewarasan. Bersamaan dengan itu, kegilaan harus
disingkirkan dari masyarakat yang normal. Kegilaan telah menjadi satu tema
yang membuat masyarakat terpisah dan terpecah.24
Apa yang terjadi dengan orang gila atau orang ganjil yang berjalan
beriringan dengan apa yang terjadi dengan para penjahat, orang-orang miskin dan
gelandangan? Mereka semua mulai disingkirkan, dalam penjara, rumah sakit
umum, rumah sakit jiwa dan ditertibkan oleh sosok polisi dan pengadilan. Semua
lembaga ini adalah bentuk yang digunakan oleh penguasa untuk menerapkan
kekuasaannya atas masyarakat. Foucault menghubungkan proses ini dengan
konsep ekonomi yang berlaku waktu itu. Untuk mencegah pemberontakan orang-
orang miskin, semua orang diharuskan bekerja. Mereka yang tidak dapat
22
Michel Foucault, Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization) penterj. Yudi
Santoso, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002), pp., 26-29.
23
Psikofarmakologi adalah ilmu tentang kerja obat pada pelbagai fungsi psikologis dan status
kejiwaan; penggunaan obat-obat untuk mengubah fungsi psikologis dan status kejiwaan. Bdk.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi keempat. Op. Cit., p. 1109.
24
Barry Cooper, Op. Cit., pp. 14-15.
16
dipekerjakan harus dikurungkan di tempat-tempat seperti rumah-rumah sakit atau
rumah sakit jiwa. Lembaga-lembaga ini dilihat sebagai perwujudan mekanisme
kontrol sosial. Pengangguran adalah satu persoalan sosial, demikian juga semua
yang menjadi alasan pengangguran, seperti kegilaan atau sakit.
Inti dari teori Foucault dalam hal ini adalah menunjukkan bahwa sakit
mental hanya muncul sebagai sakit mental dalam satu kebudayaan yang
mendefinisikannya demikian. Karena soalnya adalah definisi, maka di dalam
sakit mental sebenarnya kuasa yang mendominasi. Dalam kebudayaan lain, boleh
jadi orang yang dicap gila itu dihormati sebagai orang kudus, yang memiliki
kuasa ilahi. Kegilaan adalah hal yang berbeda dari yang biasa, dan karena yang
biasa dicirikan oleh produktivitas, maka kegilaan adalah tidak adanya
produktivitas. Penanganan kegilaan adalah satu bentuk aplikasi kekuasaan
seseorang atau satu kelompok orang atas yang lain, bukan pertama-tama masalah
pengetahuan psikologis.25
Kehadiran rumah-rumah sakit sebagai satu bentuk
tanggapan terhadap fenomen kegilaan juga merupakan satu sarana pertobatan.
Orang gila adalah tanda kematian dan ketidakberimanan akan Allah.26
2.2.4. Archaeology of Knowledge (1969)27
Buku ini diterbitkan pada tahun 1969, setelah Foucault menjadi seorang
pengarang yang terkenal. Buku ini merangkum sejumlah gagasan yang telah
disampaikan dalam berbagai karya terdahulu. Buku ini mendapat tanggapan luas
dan berhasil secara komersial. Gilles Deleuze menyebut buku ini sebagai sebuah
puisi untuk karya-karya terdahulu.
Kendati demikian, buku ini menjadi penting karena dua alasan. Pertama,
di dalamnya Foucault menjawabi sejumlah kesalahpahaman yang muncul
terhadap gagasan-gagasannya, seperti konsep tentang manusia, sejarah dan ilmu-
ilmu humaniora. Foucault menegaskan bahwa baginya bahasa bukanlah terutama
struktur, melainkan peristiwa dan kejadian.
25
Paul Budi Kleden, Op. Cit., pp. 56-57.
26
Barry Cooper, Op. Cit., p. 16.
27
Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, penterj. A. M. Sheridan Smith, (London:
Tavistock 1972), p. 20.
17
Kedua, Foucault menegaskan bahwa wacana ilmu pengetahuan hanya
dapat dipahami dalam konteks historis tertentu. Sebab itu, kita tidak dapat
berbicara mengenai tradisi ilmu pengetahuan, sebab dengan menggunakan
pengertian ini, kita cenderung memulangkan segala sesuatu pada situasi awal dan
mengabaikan perkembangan-perkembangan baru. Juga kategori-kategori seperti
sastra, politik, dan ilmu, merupakan kategori-kategori yang selalu relatif.
Selain itu, Foucault juga berbicara mengenai kesatuan wacana ilmu
pengetahuan. Wacana ini hidup, dan situasi wacana berpengaruh terhadap wacana
itu sendiri. Sebab itu, kita sulit menentukan secara tetap kesatuan dari satu
wacana, juga wacana yang dibukukan.
2.2.5. Discipline and Punish (1975)
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagaimana dilukiskan dalam
Discipline and Punish, penyiksaan yang menyertai hukuman mati dikurangi.
Tetapi yang terjadi adalah hukuman fisik yang lebih halus. Namun bersamaan
dengan itu terjadi birokratisasi hukuman. Hukuman menjadi impersonal. Polisi-
polisi menjadi eksekutor, satu lembaga resmi negara. Eksekusi menjadi sekian
impersonal, sehingga para penembak itu menutup wajahnya dengan topeng.28
Di
sini efisiensi hukuman dan beban psikologis tidak terlalu berat bagi masyarakat
dan aparatnya menjadi penting. Bagi Foucault, disiplin adalah seperangkat
strategi, prosedur dan perilaku berhubungan dengan hubungan kalimat
kelembagaan yang tertentu yang mana kemudian meliputi perorangan pemikiran
umum dan perilaku.
Pada abad ke-17 dan 18, disiplin adalah sarana untuk mendidik tubuh.
Praktek disiplin diharapkan melahirkan tubuh-tubuh yang patuh. Hal ini tidak
hanya terjadi di penjara, tetapi juga dalam bidang pendidikan, tempat kerja,
tangsi militer dan sebagainya. Orang menerapkan disiplin di mana-mana.
Masyarakat selanjutnya berkembang menurut disiplin militer.
Tiga instrumen penerapan disiplin: pertama, melalui observasi hirarkis
atau kemampuan aparat untuk mengawasi semua yang berada di bawahnya
28
Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, penterj. Alan Sheridan,
(New York: Vintage Book, 1977), p. 19.
18
dengan satu kriterium tunggal. Panopticon 29
yang terungkap dalam menara
sebagai pusat penjara adalah bentuk fisik dari instrumen ini. Dari tempat seperti
ini, pemantauan atas sikap semua orang dapat dilakukan secara efektif dan
informasi dapat dikumpulkan dengan mudah. Dengan adanya panopticon ini
kekuasaan sipil menjadi sangat besar sebab para tawanan berusaha menahan diri
mereka sendiri. Mereka takut dipantau. Kehadiran struktur itu sendiri sudah
merupakan satu mekanisme kekuasaan dan disiplin yang luar biasa.
Kedua adalah menormalkan penilaian moral dan menghukum para
pelanggar moral. Instrumen ketiga adalah penyelidikan atas subjek. Orang
mendeteksi apa yang menjadi konsep moral seseorang dan menghukumnya kalau
konsep itu keliru. Masyarakat menggunakan semua lembaga yang dimilikinya
untuk menerapkan disiplin. Karena itu, bukanlah sesuatu yang kebetulan bahwa
pabrik, sekolah, barak, rumah sakit menyerupai penjara. Dengan ini kekuasaan
instrumen disiplin menjadi mutlak. Negara dan polisi menjadi agen yang sangat
berkuasa. Seluruh masyarakat menjadi objek pemantauan dan penerapan disiplin.
Ketiga adalah memfasilitasi agar orang-orang gila itu mengontrol dan
menilai diri mereka sendiri. Kepada mereka diberikan sejumlah petunjuk, dan
mereka mesti memberikan laporan tentang keadaan dirinya dari waktu ke waktu.
Foucault menilai hal ini sebagai satu bentuk represi yang sangat kejam. Orang
gila diharuskan untuk mengontrol diri mereka sendiri berdasarkan instrumen
yang diciptakan oleh orang lain, yang mendefinisikan yang benar dan yang palsu.
Dalam keseluruhan penanganan kegilaan, psikiater sebenarnya tidak
berperan sebagai ilmuwan, tetapi sebagai kekuasaan yang mengadili. Dia berada
sebagai jaminan hukum dan moral. Atau, psikiater berperan sebagai praktisi dari
satu bentuk sadisme moral, yang membungkus dirinya dalam slogan pembebasan
dan penyembuhan. Menurut Foucault, lebih tepat kalau dikatakan bahwa semua
pengetahuan psikologis adalah bentuk-bentuk utama dari penindasan.30
29
Panopticon atau panoptik (bahasa Indonesia) adalah bentuk pengawasan yang
memungkinkan untuk memperoleh ketaatan dan keteraturan dengan meminimalisasi tindakan-
tindakan yang sulit diperhitungkan atau tidak bisa diramalkan. Panoptik merupakan suatu bentuk
penjara yang dicetuskan oleh Jeremy Bentham untuk menampung semua narapidana. Bdk.
Haryatmoko, “Kekuasaan Melahirkan Anti Kekuasaan: Menelanjangi Mekanisme Kekuasaan
Bersama Foucault”, dalam BASIS: Nomor 01-02, Tahun Ke-51, Januari-February 2002, p. 15.
30
Barry Cooper, Op. Cit., p. 10.
19
2.2.6. The History of Sexuality I, II dan III (1976)
Konsep tentang dominasi kekuasaan juga dapat dilihat dalam analisis atas
tema seksualitas. Dalam The History of Sexuality jilid I (1978), Foucault melihat
seksualitas sebagai pengalihan pemahaman tentang kekuasaan. Bagaimana
seksualitas diwacanakan adalah ungkapan dari kekuasaan. Dalam alur arkeologis,
Foucault sekali lagi menunjukkan bahwa pada awal abab ke-17, seksualitas
merupakan satu tema yang sangat tertutup. Seks adalah sesuatu yang tabu, ruang
pembicaraannya adalah rumah dan keluarga. Penabuan ini bermuara pada
pembungkaman. Setelah itu, ada ledakan pembicaraan tentang seks. Di ruang
pengakuan dan dalam majalah-majalah, seks dibicarakan secara terbuka. Di
sekolah tema seksualitas dikupas secara terbuka. Di sini sebenarnya kekuasaan
mempunyai peranan dan kepentingan.31
Gagasan Foucault tentang seks adalah demi mengatur dan mencatat
jumlah angka kelahiran. Pertambahan jumlah bayi yang semakin banyak
merupakan persoalan seks. Masalah penduduk adalah masalah sosial, dan
masalah ini berhubungan dengan seksualitas. Karena itu, kekuasaan berusaha
mempelajari dan mengintervensi pembicaraan tentang seks demi pengaturan
pertumbuhan penduduk. Seksualitas menjadi masalah publik.
Sejarah seks mempunyai riwayat historis yang lama. Dalam pandangan
Yunani klasik hal yang berkaitan dengan seks bukanlah sesuatu yang tabu seperti
masyarakat Barat. Seks adalah sesuatu yang dialami, mendatangkan kenikmatan
dua insan dan dianggap mendatangkan ilham dalam ranah berpikir. Seks
berkaitan erat dengan etika dan moral.32
Sehingga wacana tentang seks
dibicarakan sebagai parrhesia33
. Disini, seks melibatkan subjek untuk terus
31
Michel Foucault, The History of Sexuality I: An Introduction, penterj. Robert Hurley, New
York: Pantheon Books, 1978; Michel Foucault, The History of of Sexuality II: The Use of
Pleasure, penterj. Robert Hurley, (New York: Pantheon Books, 1985), p. 23.
32
http://komunitas kembang merak.wordpress. com/2010/12/10/ selubung–kekuasaan–atas–
tubuh– membongkar– pembentukan–tubuh–masyarakat– eropa–bersama-foucault/ diakses jumat
8/3/2013
33
Parrhesia berasal dari kata bahasa Yunani “pan” yang berarti semua dan “rhesis” atau
“rhema” yang berarti ekspresi, apa yang dikatakan, pidato atau perkataan. Kata ini juga berarti
keterampilan berbicara, kehalusan, keterbukaan, keterus-terangan dan kebebasan dalam berbicara.
Parrhesia dalam arti yang sebenarnya ialah aktivitas untuk mengungkapkan segala sesuatu yang
ada dalam pikiran seseorang. Oleh karena itu, parrhesia berarti kemerdekaan berbicara,
20
berdialog dalam diskursus mengenai seks. Setiap dialog atau kontemplasi
melahirkan pandangan yang berbeda mengenai seks. Setiap individu mempunyai
pandangan sendiri-sendiri tentang praktik seksualitasnya. Tidak ada wacana seks
yang dominan dan universal. Setiap tubuh hanyut dalam kenikmatan seni
pengendalian diri dan penelurusan diri terhadap tubuhnya masing-masing.
Pandangan teoritis Michel Foucault terhadap sejarah seksualitas bersilang
sengkarut dengan sejarah kekuasaan. Dalam teorinya, Foucault menjelaskan
bahwa pemahaman tentang seksualitas adalah bagian dari sejarah yang panjang.
Seksualitas haruslah dipandang berdasarkan konsepsi sejarah dari tubuh manusia
yang berakar pada rezim kekuasaan dan politik terhadap seksualitas. Foucault
mengajukan konsep bahwa seksualitas merupakan agregasi relasi sosial yang dia
sebut sebagai apparatus of sexuality (peralatan seksualitas) yang secara sosial
dan historis sangat spesifik. Namun sejarah yang dimaksudkan Foucault bukan
sekedar kajian cermat tentang berbagai peristiwa, melainkan juga suatu silsilah,
nalar, kebenaran dan pengetahuan. Sejarah dibangun di atas satu episteme, yaitu
himpunan berbagai kaidah yang melandasi dan mengatur produksi wacana pada
suatu masa tertentu.34
Foucault menunjukkan hubungan antara seksualitas dengan kekuasaan itu
dalam pengakuan dosa dalam agama Kristen. Di sini sebuah rahasia dibongkar,
dan bersamaan dengan ini posisi dia yang mengetahui rahasia itu menjadi sangat
kuat. Pendengar menjadi penguasa kebenaran. Tampaknya dewasa ini masyarakat
sudah berkembang menjadi masyarakat pengaku dosa. Dengan bantuan
teknologi, berbagai rahasia pribadi orang disingkapkan. Yang menjadi pendengar
pengakuan dosa itu adalah para imam. Para imam mempunyai kuasa untuk
memberi pengakuan kepada setiap umat Kristen yang berdosa. Dosa merupakan
sesuatu yang dianggap buruk dan jahat. Dosa yang dibuat oleh manusia itu
mencakupi semua aspek kehidupan. Dengan demikian dosa dalam ruang
keterbukaan mengungkapkan sesuatu, berbicara dengan penuh keyakinan, berbicara secara
terbuka dan polos. Bdk. Konrad Kebung, SVD, Michel Foucault; Parrhesia dan Persoalan
Mengenai Etika (Jakarta: Obor, 1997), p. 10.
34
Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, penterj. Rahayu S. Hidayat,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), pp. xii-xiii.
21
seksualitas diungkapkan melalui pengakuan melalui para imam. Namun, imam
berbeda dengan psikiater. Dalam posisi seperti ini, psikiater menjadi penentu apa
yang dianggap normal dan apa yang dipandang sebagai patologi dalam perilaku
seksual.
Dalam jilid kedua dan ketiga penelitiannya atas tema sekualitas, yakni
dalam buku The Use of Pleasure (1984) dan The Care of the Self (1984),
Foucault memperhatikan tema seksualitas dalam kebudayaan Yunani-Romawi
dan meneliti hubungan antara tema seksualitas dan kesadaran diri atau kontrol
diri manusia. Di sini pertanyaan yang dibahas antara lain: kenapa seksualitas
menjadi masalah moral? Dengan memasukkan moralitas ke dalam seksualitas,
sebenarnya terjadi intervensi kekuasaan. Sebab itu, moralisasi seksualitas adalah
kehendak penguasa.
2.3. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILOSOFISNYA
Pemikiran Foucault sangat dipengaruhi Nietzsche, namun dia tidak
sepenuhnya adalah seorang pengikut Nietzsche, sebab baginya, Nietzsche yang
diikutinya adalah seseorang yang orisinal, begitu pun dengan dia yang harus
orisinal dengan pandangan pribadinya. Bahkan tidak jarang dia tidak sependapat
dengan filsuf pujaannya itu. Hal ini terdapat dalam teori Genealogi Foucault. Di
sini, bahasa bagi Foucault tidak bisa dikurung dalam apa yang ditulis dan apa
yang menjadi tafsirnya. Keduanya saling terjalin tanpa ada pemisahan. Hal ini
adalah salah satu dari pemikirannya tentang subjek dan objek, bahwa bahasa
yang ditulis dan menjadi tafsirnya tidak bisa dipisahkan dalam subjek dan objek.
Subjek menuliskan sesuatu tentang objek yang berada diluar dirinya. Subjek
dalam hal ini adalah manusia karena hanya manusia yang mampu menafsirkan
objek yang lain dari dirinya.
Tentang subjek dan objek, filsuf tahun 60-an adalah filsuf yang
merayakan kematian subjek (pengada awal) yang disejajarkan dengan Tuhan.
Penggabungan wacana-wacana intelektual dengan kekuasaan dapat menciptakan
cara-cara penindasan terhadap manusia lain yang tampak mustahil untuk
22
ditantang.35
Lalu setelah itu, jika Tuhan mati, maka manusia yang mengikuti
Tuhan juga mati. Sebab manusia yang mengikuti Tuhan itu tidak mempunyai
kuasa atas dirinya tanpa Tuhan yang memberi makna padanya. Maka dari sini
filsafat yang selama ini berkutat pada humanisme sudah tamat. Maka manusia
baru pun bisa 'dibangkitkan' lagi. Namun Foucault sendiri bersedih karena
kehilangan makna seiring hilangnya subjek (Tuhan) tadi. Dengan menekankan
asal usul subjek modern ini, Foucault tidak memisahkan pengetahuan dan
kuasa.36
Bagi Foucault, subjek yang sejajar dengan individu hanya akan bisa
ditelaah melalui kuasa. Kuasa baginya bukanlah nominalis, tidak pejal dan tidak
bisa dipegang, kuasa adalah pewacanaan dari multiplisitas dan jalinan kekuatan-
kekuatan dari setiap subjek. Kuasa bukan sesuatu yang bisa dimiliki. Kuasa tidak
didominasi oleh siapa-siapa, tidak bisa dipengaruhi oleh kepenuhan hukum atau
pun kebenaran, tidak tunduk pada teori politik normal, dan tidak bisa direduksi
oleh representasi hukum. Kemudian hubungan antara subjek dan kuasa adalah
bukan pelaku dan produk. Sebab bukan subjek (secara substantif) yang
menciptakan kuasa, namun kuasalah yang mempengaruhi adanya subjek.
Demikian manusia juga akhirnya dipengaruhi oleh kuasa, bukan manusia
mempengaruhi kuasa. Subjektivitas dan kebebasan manusia untuk menguasai
yang lain tidak dapat dilegalisasikan. Kehendak untuk berkuasa yang otoriter
dianggap nihil. Kuasa itu muncul dari struktur-struktur dan diskursus. Foucault
tidak mendefinisikan kuasa dan kekuasaan dalam artian yang sama. Kuasa tidak
sama dengan kekuasaan37
.
35
Gauri Viswanathan, Kekuasaan, Politik, dan Kebudayaan (New York: Pustaka Promethea,
2003), p. 242.
36
Haryatmoko, Op .Cit., p. 9.
37
Penulis membandingkan konsep kuasa Foucault dengan kekuasaan. Kuasa secara esensial
muncul dari relasi-relasi antara pelbagai kekuatan. Kuasa terjadi secara mutlak dan bersifat
apriori, tidak tergantung pada kesadaran manusia. Kuasa tidak terlepas dari diri manusia dan
selalu terjadi di mana-mana. Setiap relasi kuasa secara potensial mengandung suatu strategi
perjuangan dan tidak saling menindih. Kuasa juga dapat membantu kita untuk memahami gagasan
etis mengenai subjek. Kuasa dapat mengenal dirinya dan yang lain dalam relasinya. Pelaksanaan
kuasa itu akan menjadi mungkin apabila ada rezim wacana yang bersifat esensial dalam
masyarakat. Kuasa juga akan menghasilkan wacana. Sedangkan kekuasaan merupakan kata yang
sudah diberi prefik ke dan sufik an. Kata dasarnya adalah kuasa. Kata kuasa di beri prefik ke dan
sufik an menjadi kekuasaan. Kata kekuasaan mengacu kepada kemampuan, kesanggupan dan
kekuatan untuk memerintah dan menguasai yang lain. Dengan demikian, kekuasaan adalah
kemampuan, kekuatan dan kesanggupan untuk menguasai orang lain baik secara individu maupun
23
Pendefinisian kuasa dan kehendak itu kemudian dipakai untuk pengaturan
kehidupan seksualitas di Eropa pada masa Ratu Victoria I (1819-1901).38
Ratu
sangat dominan dalam mengendalikan rakyatnya, maka dia juga mengatur hal-hal
kecil dari rakyatnya. Kehidupan seksualitas yang bebas harus dipisahkan dari
kesopanan di Eropa. Di sini tampak bahwa kuasa yang diartikan oleh Foucault
yang berhubungan dengan kehendak itu harus dibatasi oleh sistem pemerintahan.
Pemikiran yang bersifat mekanis ini dinyatakan olehnya sebagai sesuatu yang
efektif, bukan mistis seperti yang ditawarkan fenomenologi. Menurut dia,
kekurangan dari fenomenologi bisa dijawab oleh sains (ilmu tentang manusia,
misalnya psikologi). Psikologi dapat membantu manusia untuk menemukan
dirinya melalui refleksi psikis tentang dirinya.
2.4 MICHEL FOUCAULT DAN STRUKTURALISME
Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis,
tetapi beberapa karyanya lahir di tengah-tengah masa jaya strukturalisme dan di
dalamnya dapat ditemukan kemiripan pemikiran dengan tokoh-tokoh
strukturalisme lainnya. Harus diakui bahwa pemikiran Foucault berkembang dan
mengalami perubahan, namun tetap saja strukturalisme masih membayanginya.
Strukturalisme adalah pendekatan yang melihat berbagai gejala budaya
dan alamiah sebagai sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling
berkaitan dalam satu kesatuan. Bagi kaum strukturalis, praktik sosial yang
tampak tidak beraturan di permukaan ini sebenarnya selalu didasari oleh struktur
dalam atau fundamental yang biasanya tidak nampak, yang beroperasi di bawah
kesadaran manusia. Oleh karena itu, strukturalisme juga mengandaikan individu
atau subjek pelaku yang tidak bebas karena ditentukan oleh struktur tersebut
oleh kelompok tertentu. Nilai rasa kata kekuasaan sangat negatif karena berorientasi pada
tindakan represif dan mengobjekkan yang lain. Tindakan seperti ini sangat menyimpang dari
konsep Foucault tentang kuasa.
38
Ratu Victoria I (1819-1901) adalah sosok untuk kaum Victorian dalam mengatur kerajaan
dan tingkah laku seksual rakyatnya. Ia sangat menekankan kesantunan puritan dalam kehidupan
bermasyarakat. Akibatnya tindakan seksual yang berbau otonom dan orisinal tetap ditolak dan
dibungkam. Namun, tidak mungkin dilarang sepenuhnya tindakan yang dianggap illegal itu, maka
disediakan tempat khusus seperti rumah pelacuran. Bdk. Michel Foucault, Histoire de la
Sêxualitê 1: La Volontê de Savior, penterj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1997), p. 202.
24
dalam praktik sosialnya. Karya Foucault yang sangat dekat dengan strukturalisme
adalah The Order of Things (1966) dan Archaeology of Knowledge (1969).
Melalui karyanya tersebut Foucault dianggap mampu menjadikan strukturalisme
sebagai filosofi baru bagi para intelektual Paris saat itu, menggantikan
eksistensialisme yang mulai surut. Filosofi baru dalam karya Foucault ini dengan
jelas menyetujui pernyataan bahwa subjek tidak memaknai dunia melalui
kebebasannya yang penuh dengan kecemasan seperti pemikiran kaum
eksistensialis, tetapi subjek ditentukan oleh struktur dalam yang ada di balik
kesadaran manusia. Dalam kedua karya tersebut Foucault memperkenalkan
istilah épistémè yang kemudian dapat dibaca sebagai struktur pengetahuan atau
wacana.
2.5 EPISTEME SEBAGAI STRUKTUR
Dalam The Order Of Things (1966) Foucault melahirkan istilah episteme
yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna,
stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan prapengandaian
pemikiran suatu jaman. Bambang Sugiharto menyebut episteme sebagai struktur
kognitif fundamental yang mendasari keseluruhan pola berpikir masyarakat di
suatu jaman. Beberapa kritikus lain menyebutkan bahwa episteme bisa
disejajarkan dengan paradigma menurut pandangan Thomas Kuhn.39
Sebagai sebuah struktur, episteme dapat dikenali dari salah satu sifat
struktur yang disepakati oleh para pemikir strukturalis, yaitu totalitas. Dalam
bukunya Archaeology of Knowledge (1969), Foucault menjelaskan episteme
sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita
memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Episteme tertentu hanya
berlaku pada suatu zaman tertentu. Ketika kita sadar akan episteme yang
mempengaruhi kita, kita telah berada dalam episteme yang berbeda, karena
menurut Foucault episteme tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di
dalamnya. Episteme tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara
39
I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius,
2000), p. 27.
25
mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan
suatu jaman. Pada saat kita menemukan “yang tabu”, kita telah mengetahui
sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila”, maka kita sebelumnya
telah tahu mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat
kita temukan, berarti kita ada di dalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah
yang sepenuhnya didasari oleh episteme suatu jaman. Oleh karena itulah Foucault
sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan, karena
melalui ketiga hal itulah dia bisa mengidentifikasi episteme suatu jaman.
2.6 TOKOH-TOKOH YANG BERPENGARUH TERHADAP FOUCAULT
Pemikiran filosofis Foucault dipengaruhi oleh banyak pemikir seperti
Friedrich Nietzsche, Karl Marx, Ferdinand de Saussure, Sigmund Freud,
Friedrich Holderin, George Bataille, Marquis de Sade, Van Gogh, Raymond
Roussel, Antonin Artaud, dan Charles Baudelaire. Foucault adalah sosok yang
sangat akrab dengan pribadi-pribadi mereka. Ia sangat terpesona dengan
paradigma hidup filsuf, sosiolog dan sastrawan diatas. Hal yang sangat menarik
bagi Foucault adalah pilihan-pilihan radikal dan natural yang ditempuh seperti
menghabisi nyawa mereka dengan kegilaan. Namun, di antara sekian banyak
filsuf yang berpengaruh terhadap pemikiran Foucault, penulis hanya menyebut
dua tokoh utama yang berpengaruh terhadap pemikiran Foucault, secara khusus
paham mengenai kuasa.
2.6.1 Friedrich Nietzsche.40
Nietzsche adalah salah seorang filsuf postmodernis yang sangat
mempengaruhi filsuf lain. Pemikirannya mampu menukik kedalaman essensi dari
segala sesuatu. Kajian genealogisnya adalah tentang konsep fundamental
metafisika barat, yakni Sang Aku, yang harus bertanggung jawab secara moral
40
Friedrich Nietzsche adalah anak dari Ludwig Nietzsche seorang pendeta Protestan yang
saleh. Nietzsche lahir pada tahun 1844 di Saxony. Pada tahun 1864, ia masuk Universitas Bonn
untuk mempelajari teologi dan kesustraan klasik. Nietzsche sangat akrab dengan Richard Wagner,
seorang komponis Jerman. Ketika berusia 24 tahun, ia diangkat menjadi profesor dalam filiologi
klasik di Basel. Nietzsche telah menghasilkan banyak karya dan diminati oleh banyak orang.
Tahun 1889 ia ditimpa serangan penyakit jiwa. Kemudian berakhirlah aktivitasnya sebagai filsuf
dan sastrawan. (Bdk. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1975), p. 85.
26
mengenai tindakannya, terutama dalam upaya mempertahankan identitas diri.
Sang aku dalam pandangannya harus menjadi pribadi bebas untuk mencapai titik
paling tinggi yang disebut Übermensch (manusia yang melampaui manusia masa
lampau dan juga manusia zaman sekarang, manusia yang di atas manusia atau
manusia di seberang manusia). Usaha untuk mencapai titik tertinggi itu memang
tidak mudah untuk manusia; usaha untuk mencapai suatu kesempurnaan atau
memerdekakan diri dari semua pertanyaan tentang nilai-nilai dalam kehidupan
manusia.
Selain itu, ide-ide rezim kekuasaan dalam pemikiran Foucault mendapat
rujukan pantas dari pemikiran Nietszche dalam “Will to Power”. Foucault
memperluas cakrawala berfikir Nietszchean yang mengatakan bahwa
pengetahuan adalah suatu bentuk kehendak untuk berkuasa. Bagi Nietszche, ide
tentang pengetahuan murni tidak dapat diterima, karena nalar dan kebenaran
tidak lebih dari sekedar sarana yang digunakan oleh ras dan kelompok tertentu.
Kebenaran bukan sekumpulan fakta, karena hanya mungkin ada interpretasi dan
tidak adanya batas terhadap apa yang diinterpretasikan. Jika kebenaran memiliki
sandaran historis, maka ia merupakan konsekuensi dari kekuasaan.
2.6.2 Karl Marx41
Karl Marx merupakan tokoh penting komunisme yang turut
mempengaruhi struktur berpikir Foucault, terutama mengenai kekuasaan. Dalam
ekonomi politik Karl Marx, aktivitas produksi dijadikan sebagai basis segala
aspek kehidupan sosial kemasyarakatan. Bidang ekonomi baginya merupakan
struktur dasar, sedangkan institusi-institusi sosial merupakan bangunan atas atau
bagian-bagiannya. Bagi Marx, ciri yang paling menentukan semua bentuk
aktivitas produksi atau ekonomi sampai sekarang adalah pemisahan antara para
pemilik dan pekerja. Dengan demikian, Marx membagi masyarakat ke dalam dua
41
Karl Marx lahir pada tahun 1818. Pada tahun 1836, ia masuk Universitas Berlin dan
mendapat gelar doctor dengan disertasinya tentang Demokritos dan Epikuros. Pada periode 1843-
1844, Karl Marx menjadi sosialis dan membangun kerja sama dengan Frederich Engels dan
mempelajari teori ekonomi. Salah satu Opus Magnum yang terkenal dalam sejarah pemikirannya
adalah Das Kapital. (Bdk.. Anthony Brewer, Kajian Kritis Das Kapital Marx, penterj. Joebaar
Ajoeb (Jakarta: TePLOK PRESS, 2000), pp. 4-5.
27
kelas yakni pemilik modal dan kelas pekerja, yang saling membedakan diri satu
sama lain berdasarkan kedudukan dan fungsi masing-masing dalam proses
produksi.
Pada umumnya yang lebih berkuasa dalam masyarakat adalah pemilik
modal atau kelas penguasa, sedangkan kelas pekerja adalah mereka yang tidak
memiliki modal, kelas yang menjadi objek dari penguasa. Realitas ini
menunjukkan bahwa kelas pemilik modal bertindak sewenang-wenang terhadap
individu atau kelompok yang lemah (tidak bermodal). Ini menunjukkan bahwa
dalam tatanan sosial ada pertarungan dan persaingan antara kelompok-kelompok
manusia. Persaingan ini bisa menimbulkan permusuhan yang fatal. Ada
kegoncangan-kegoncangan dan revolusi dalam kehidupan sosial. Perjuangan
menjadi pertentangan antara kelas-kelas yang berkuasa dan yang dikuasai. Setiap
kelas akan mempertahan dominasi kedudukannya. Marx menyimpulkan bahwa
struktur kekuasaan seperti ini tidak akan berakhir melainkan tetap dipertahankan
dalam tatanan sosial.
Namun, pandangan Marx sangat kontradiktif dengan konsep kekuasaan
Foucault. Foucault melihat bahwa gagasan kekuasaan Marx sangat kuat dengan
perspektif makrostruktur. Foucault tidak membatasi dirinya dengan masalah
ekonomis, tetapi ia lebih menitikberatkan pada lembaga sosial. Bagi Foucault,
kuasa bukan menjadi milik individu ataupun kelompok tertentu, melainkan
menyebar. Kuasa itu terletak di mana-mana (omnipresent), tidak bisa dimiliki dan
selalu ada dalam suatu matriks hubungan dengan kuasa yang lain. Foucault
tertarik dengan kuasa yang bersifat mikrostruktur yang menekankan teknik-
teknik koersif minor. Dengan demikian, kuasa bukan saja bersifat negatif,
melainkan bersifat produktif karena dapat menghasilkan suatu pengetahuan
dalam jejaringan relasi yang dibangun.
2.7 METODE FILSAFAT MICHEL FOUCAULT
Gagasan segar Nietszche diatas, kemudian dipikirkan kembali dan
diperluas secara metodologis oleh Foucault yaitu dengan apa yang disebutnya
arkeologi dan genealogi. Kedua metode ini adalah pendekatan yang bertujuan
28
untuk melakukan pembongkaran terhadap mitos dalam sebuah sistem
pengetahuan.
2.6.1 Metode Arkeologi
Arkeologi adalah pendekatan yang Foucault lakukan hingga 1970. Ia
mendefinisikan arkeologi42
sebagai eksplorasi sejumlah kondisi historis nyata dan
spesifik di mana berbagai pernyataan dikombinasikan dan diatur untuk
membentuk atau mendefinisikan suatu bidang pengetahuan/obyek yang terpisah
serta mensyaratkan adanya seperangkat konsep tertentu dan menghapus batas
rezim kedalaman tertentu.43
Arkeologi menekankan penggalian (excavation) masa
lalu di tempat tertentu. Foucault berusaha mencari jejak-jejak yang ditinggalkan
dari sebuah ritus atau monumen diskursif. Baginya setiap obyek historis yang
berubah, tidak boleh ditafsirkan dalam perpektif yang sama. Dalam hal ini,
diskursus senantiasa bersifat diskontinu. Pemahaman ini dibuktikan lewat
kenyataan bahwa selalu saja terjadi keterputusan historis, antara bagaimana suatu
obyek di konseptualisasikan dan dipahami. Selalu saja ada jarak dalam
menafsirkan obyek.
Kajian teoretik mengenai arkeologi Foucault terletak pada dua karyanya
yaitu Les mots et les choses (The Order of Things) (1966) dan L’archaeologie du
savoir (Archaeology of Knowledge) (1969). Dalam Les mots, Foucault
memperkenalkan istilah episteme yang merujuk kepada pengandaian, prinsip,
kemungkinan dan cara pendekatan tertentu yang dimiliki setiap zaman dan
membentuk suatu sistem yang kokoh. Episteme bekerja secara sembunyi,
menelusup dalam pemikiran, pengamatan dan pembicaraan yang muncul secara
nirsadar. Sangat wajar jika perspektif ini banyak dilihat orang sebagai
kecenderungan strukturalis. Dalam buku L’archaeologie du savoir, tema
mencolok yang dipaparkan Foucault adalah diskontinuitas dalam sejarah. Dahulu,
sejarah dipaparkan sebagai yang menekankan kontinuitas di mana sesuatu
berjalan secara linier dan evolutif. Sekarang, tugas sejarah justru sebaliknya yaitu
42
Arkeologi adalah ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda
peninggalannya seperti patung dan perkakas rumah tangga; ilmu purbakala. Bdk. Dendy Sugono,
Op.Cit., p. 86.
43
Chris Barker, Culture Studies (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), pp., 146-147.
29
memaparkan diskontinuitas. Jika kita membaca “kesatuan”, maka seharusnya
dibaca sebagai “ditafsirkan sebagai kesatuan”. Jadi setiap pemikiran atau fakta
sejarah harus dimengerti sebagai kumpulan pernyataan, yang berpangkal pada
titik intensi pengarang yang melahirkan pernyataan tersebut. Karena itu, dalam
obyek penelitiannya, Foucault lebih suka berbicara mengenai “bentuk diskursif”
dari pada tentang ilmu, teori dan sebagainya. Untuk itu yang harus dilihat adalah
aturan-aturan mana yang menguasai terbentuknya obyek diskursif itu.44
Sebagai
contoh adalah kajiannya tentang sejarah kegilaan.45
Karya ini berbicara tentang
eksklusi kegilaan dari cakupan hal-hal yang bersifat rasional yang ada dalam
sejarah psikiatri, dan ternyata kemudian berfungsi untuk mengokohkan
rasionalisme barat. Rasio sudah sangat monologal (bersifat individu dan satu),
sehingga melihat kegilaan sebagai obyek yang mesti disisihkan dan dibersihkan
dari subyek rasional, yaitu dengan mencampakkannya sebagai penyakit mental.
Padahal pada hakekatnya, kegilaan bersifat komplementer terhadap rasio.
Dalam studi ini, Foucault membedakan tiga zaman perjumpaan kegilaan
dan rasio, yaitu masa renaissance, klasik (abad 17) dan modern (abad 18). Pada
masa renaissance, terdapat dialog antara kegilaan dan rasio, karena kegilaan
masih dianggap menyimpan unsur kebenaran. Masa klasik, ilmu psikiatri mulai
muncul dan memandang kegilaan sebagai hal yang harus disisihkan dari wilayah
rasio. Untuk menanganinya maka di Perancis dan juga Inggris didirikan tempat
pengurungan bagi kegilaan dan juga tempat terapi bagi penyembuhannya. Pada
akhirnya di zaman modern, psikiatri benar-benar berkuasa dan kedua praktik
eksklusi ini sepakat mengeluarkan kegilaan sama-sekali dari wilayah rasio.
Dengan demikian, pengetahuan mengenai kegilaan setiap zaman senantiasa
berbeda. Hasil pengamatan Foucault tentang kegilaan menunjukkan bahwa
adanya perubahan konsep tentang kegilaan, sehingga kegilaan itu dikelompokkan
dalam tiga massa seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian bahwa
pandangan tentang kegilaan dari masa ke masa itu selalu berubah.
2.7.2 Metode Genealogi
44
K. Bertens, Filsafat Barat XX Jilid II Prancis, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), p. 313
45
Michel Foucault, Kegilaan dan Peradaban, Op. Cit., p. 47.
30
Pendekatan metodologis yang kedua adalah genealogi46
, yang mulai
dikembangkannya sejak ia memberi mata kuliah tentang Nietzsche di
Universitas Vincennes pada 1969.47
Istilah genealogi yang digunakan Foucault
yang dikembangkan dalam Discipline and Punish, tentu saja mengingatkan kita
kepada konsep genealogi Nietzsche dalam The Birth of Tragedy and Genealogy
Morals. Nietszche mendefinisikan genealogi sebagai antitesa kecenderungan
pencarian asal-usul yang bersifat alpha-omega, dengan kata lain Nietszche
menolak obyektivitas dan monopoli versi kebenaran.48
Pendefinisian Nietzsche diatas kemudian diambil alih oleh Foucault untuk
menunjukkan relasi kontinuitas-diskontiuntitas dalam sebuah diskursus. Jadi
dalam hal ini, genealogi mengambil bentuk berupa pencarian kontinuitas dan
diskontinuitas dari diskursus. Genealogi tidak mencari asal-usul, melainkan
menelusuri awal dari pembentukan diskursus yang dapat terjadi kapan saja.
Foucault dalam kerangka metodologis ini tidak menggunakan verstehen
(pemahaman) melainkan destruksi dan pembongkaran hubungan-hubungan
historis yang disangka ada antara sejarahwan dengan obyeknya. Jika dalam
arkeologi, proyek metodologi diarahkan untuk menggali situs lokal praktik
diskursif, maka genealogi beranjak lebih jauh yaitu untuk menelaah bagaimana
diskursus berkembang dan dimainkan dalam kondisi historis yang spesifik dan
tak dapat direduksi melalui operasi kekuasaan.49
Dengan demikian tanpa disadari
kekuasaan menelusup dalam setiap ruang. Pada titik inilah Foucault memperluas
obyek samar “kuasa” yang ditinggalkan Nietszche dan menjadikannya tema
terpenting bagi pemikirannya kemudian. Genealogi diarahkan Foucault untuk
menganalisa strategi kuasa yang berbelit-belit, yang harus dipahami dari dalam
lewat aturan, nilai yang berlaku bahkan juga tutur kata dan kebiasaan.
Sebagai contoh kajian genealogis ini adalah kajian Foucault mengenai
penjara, sekolah dan rumah sakit yang menunjukkan beroperasinya kekuasaan
46
Genealogi adalah ilmu yang mempelajari tentang garis keturunan atau sejarah manusia
dalam hubungan keluarga sedarah; garis pertumbuhan bintang (tumbuhan, bahasa, dsb) dari
bentuk-bentuk sebelumnya. Bdk. Dendy Sugono, Op.Cit., p. 439.
47
K. Bertens, Op, Cit., p. 318.
48
W.F Nietszche, Genealogi Moral (terjemahan Indonesia dari The Birth of Tragedy and
Geneanology Morals), (Yogyakarta: Jalasutra, 2001), p. 18.
49
Chris Barker, Op. Cit., p. 148.
31
dan disiplin dalam pembentukan atau penggunaan pengetahuan, termasuk
konstruksi subyek sebagai efek diskursus. Dalam Discipline and Punish (1975),
Foucault menggambarkan bagaimana strategi khusus kuasa menjaga dan
menghukum muncul sebagai fenomena Eropa abad ke-18. Ia melihat parade-
parade militer, pedoman tata-tertib sekolah, cara membangun panopticum
(sejenis penjara), rumah sakit dan tangsi adalah cara-cara untuk mengatasi sisi
gelap abad pencerahan, yaitu biara dan kastel tua, puisi romantik yang dinilai
bercita-rasa gelap dan kabur. Kekuatan masa modern, jelas tidak menyukai hal
itu, sehingga mitologi tersebut harus didisiplinkan dengan cara yang baru.50
Genealogi adalah sejarah kebenaran. Tentu saja sejarah kebenaran ini
masih berada dalam konteks kebenaran sebagai suatu diskursus. Jadi yang
ditelusuri dalam genealogi adalah bagaimana suatu wacana atau diskursus
diterima dan dipraktikkan oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain dia
menelusuri bagaimana kebenaran suatu diskursus dianggap sebagai sesuatu yang
natural. Yang juga menjadi perhatian dalam genealogi adalah bagaimana sebuah
pengetahuan atau wacana menjadi bagian integral dari cara berkuasa dan
menguasai yang kemudian dari sana melahirkan “kehendak untuk menjadi
benar”.51
Kehendak untuk menjadi benar ini terekam dalam suatu teks atau dalam
bahasa Foucault disebut sebagai jaringan scientifico-legal. Dari scientifico-legal
inilah kebenaran dalam suatu wacana memperoleh kekuatannya, yaitu kekuatan
untuk menghukum, melegitimasi dan mendelegitimasi praktik-praktik tertentu.
Oleh karena itu Foucault mengatakan bahwa genealogi berupaya mencari, “the
present scientifico-legal complex from which the power to punish derives its
bases, justification and rules, from which it extends its effect and by which it
masks its exorbitant singularity”52
(pengetahuan ilmiah sekarang sangat kompleks
yang mana kuasa untuk memperoleh hukum merupakan basis keadilan dan
aturan, yang mana dari perluasan ini adalah pengaruh atau dampak yang dapat
50
Michel Foucault, Discipline and Punish, Op. Cit., p. 27.
51
Ahmad, Baso, Islam Pasca‐Kolonial; Perselingkuhan Agama, Liberalisme, dan
Kolonialisme (Bandung: Mizan, 2004), p. 39.
52
Michel Foucault, Discipline and Punish;….., Op. Cit., p. 23.
32
menyembunyikan keistimewaan secara luas). Tetapi karena bukan hanya
pengetahuan merupakan suatu bentuk strategi kuasa melainkan pada saat yang
sama relasi kuasa juga menghasilkan pengetahuan maka genealogi juga berurusan
dengan sejarah. Dia mencari bagaimana suatu scientifico-legal mendapatkan
kuasanya dan relasi-relasi kuasa apa yang memungkinkan scientifico-legal
tersebut hadir. Oleh karena itu genealogi pada saat yang sama menolak asumsi
yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk kemajuan.
33

Bab 2

  • 1.
    BAB II RIWAYAT HIDUPDAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN FILOSOFIS MICHEL FOUCAULT 2.1. RIWAYAT SINGKAT Foucault dilahirkan di Poitiers, Prancis, pada 15 Oktober tahun 1926 dan meninggal pada 25 Juni tahun 1984 di Paris. Ibunya bernama Anne Malapert, anak dari seorang dokter ahli bedah. Ayahnya juga sebelumnya seorang dokter ahli bedah, juga adalah guru besar dalam bidang anatomi di sekolah kedokteran Poitiers. Pada masa kecil, Foucault dan kedua saudaranya bertumbuh dalam keluarga yang ketat. Ibu dan ayahnya membangun sebuah garis keras dalam pendidikan yang ditanam mulai dari dalam diri sendiri. Ibunya selalu kreatif dan aktif dalam menyemangati belajar anak-anaknya. Pada dasarnya Foucault adalah pribadi yang anti-klerikal. Hal ini merupakan faktor keturunan dari keluarga Foucault. Nilai-nilai kultur lebih diprioritaskan dalam mendidik anak dibandingkan dengan nilai-nilai agama.9 Foucault mulai mengenyam pendidikan dasarnya pada lycee Henry IV dan College Saint Stanislas yang berada di Poitiers. Bakat dan minatnya terhadap sejarah dan bahasa mulai tampak pada pendidikan dasarnya. Kemampuan inilah yang memotivasi Foucault masuk Ecole Normale Superieure (ENS).10 Namun, pilihan ini sangat bertentangan dengan keinginan sang ayah dan kakeknya. Dalam pendidikan di ENS, Foucault sangat cerdas dan sangat aneh. Guru dan teman-temannya mengakuinya sebagai orang jenius, namun juga sering 9 K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), p. 296. 10 Ecole Normale Superieure adalah sekolah khusus diperuntukkan bagi siswa-siswi jenius di Prancis. Bdk. Listiyono Santoso, at. al, Epistemologi Kiri (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), p. 164. 9
  • 2.
    bertingkah aneh dantidak masuk akal. Kebiasaan-kebiasaannya selalu eksentrik sehingga dianggap sinting. Pada masa itu pula Foucault tertarik pada psikologi. Pada tahun 1950-1984, Foucault menghasilkan kurang lebih sembilan buku utama, selain ratusan artikel dan beberapa artikel hasil wawancara. Dalam buku-buku utama, ia hanya berbicara tentang peristiwa dan sejarah dari tokoh- tokoh besar. Misalnya orang gila atau tidak normal, kelompok narapidana dan penyimpangan terhadap seksualitas. Pada musim gugur 1983, Foucault mengakhiri pengembaraanya di San Fransisco dan mulai terserang penyakit. Pada tahun berikutnya, ia kembali ke Prancis. Pada tanggal 25 Juni 1984 setelah mengalami kemerosotan fisik yang drastis, Foucault menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia meninggal karena mengidap penyakit AIDS.11 Foucault sangat dikenal sebagai seorang intelektual postmodernis yang sangat produktif dalam melakukan penelitian dan menerbitkan berbagai macam karya semasa hidupnya. Foucault yakin bahwa filsafat adalah peralihan dan transformasi dari kerangka-kerangka berpikir, modifikasi dari nilai-nilai yang telah mapan dan semua usaha yang dibuat agar orang dapat berpikir lain, berbuat lain dan menjadi orang lain.12 Foucault adalah lulusan Ĕcole Supérieure, yang belajar pada Louis Althusser, seorang filsuf sosial. Mula-mula dia bekerja sebagai filsuf, namun kemudian dia meninggalkan filsafat karena terlampau abstrak dan naif dalam klaim kebenarannya. Maka dia mulai mendalami psikologi khususnya psikologi patologi, dan bekerja membantu di rumah sakit mental. Dia pernah menjadi pengajar dalam jurusan bahasa Prancis di Swedia, Jerman dan Polandia pada tahun 1950-1960. Setelah peristiwa demonstrasi mahasiswa Mei tahun 1968, dia menjadi ketua jurusan filsafat di Vincennes. Pada tahun 1970 dia diangkat menjadi profesor dalam bidang Sejarah Sistem Berpikir di Collêge dę France, tempat dia bekerja sampai kematiannya.13 Foucault pernah menjadi anggota partai komunis Prancis, namun kemudian meninggalkan partai tersebut pada tahun 1951, karena partai ini dinilainya terlampau doktrinal dan mengekang kebebasan. 11 Paul Budi Kleden, “Memahami Posmodernisme (ms), p. 48. 12 Ibid. 13 Steven Best dan Douglas Kellner, Teori Postmodern, Interogasi Kritis, penterj. Indah Rohmani (Malang: Boyan Publishing, 2003), p. 40. 10
  • 3.
    Kendati demikian Foucaultmasih memiliki satu sikap yang ambigu terhadap Marxisme. Luasnya cakupan minat ini menjadi sebab bahwa orang sulit memahami Foucault. Foucault menggunakan gagasan dari orang lain sebagai bahan, tetapi selalu diolah dan dimasukkan secara inovatif ke dalam bangunan konsepnya sendiri. Foucault mungkin adalah filsuf pertama sesudah PD II yang berbicara tentang Nietzsche sebagai filsuf politik secara serius. Dia menjadikan uraian Nietzsche tentang kekuasaan sebagai basis refleksi kebudayaan dan pandangan filosofisnya. Perlu diketahui bahwa filsafat politik tradisional selalu berorientasi pada soal legitimasi. Kekuasaan adalah sesuatu yang dilegitimasikan secara metafisis kepada negara yang memungkinkan negara dapat mewajibkan semua orang untuk mematuhinya. Namun menurut Foucault, kuasa bukanlah sesuatu yang hanya dikuasai oleh negara atau sesuatu yang dapat diukur. Kuasa ada di mana-mana, karena kuasa adalah satu dimensi dari relasi. Di mana ada relasi, di sana ada kuasa. Kuasa ini muncul di mana-mana, datang dan pergi sesuai dengan konteks.14 Foucault juga adalah seorang yang skeptis terhadap segala macam kebenaran. Baginya segala macam klaim kebenaran adalah interpretasi atas sebuah dunia, yang sebenarnya tidak ada sebagai sesuatu yang historis. Untuk itu dia menyelidiki cara berpikir dan sejarah peradaban. Misalnya dalam Madness and Civilization dia melukiskan bagaimana kegilaan itu didefinisikan dari berbagai kelompok yang dominan pada masa tertentu. Karena itu dia meragukan legitimasi eliminasi kegilaan dari kebudayaan yang resmi. Yang normal dan patologis tidak dapat dibedakan secara tegas, sebab itu sungguh tergantung pada definisi yang diberikan masyarakat yang ditentukan oleh berbagai kepentingan. Pandangan yang serupa dituangkannya dalam buku The Birth of the Clinic. Di sini Foucault menguraikan bahwa pandangan dan cara pengobatan seorang dokter sungguh sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi pengetahuan, institusional, pedagogis, keamanan dan seterusnya. Pemisahan antara yang gila dan normal merupakan akibat dari wacana pengetahuan para psikolog. Secara umum subjek manusia sebenarnya sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah konstelasi berbagai 14 Ibid. 11
  • 4.
    struktur. Foucault pernahmenulis bahwa untuk semua orang yang masih mau berbicara tentang manusia, tentang kekuasaan atau pembebasannya, untuk semua mereka yang masih bertanya tentang manusia dalam esensinya, bagi semua mereka yang mau menjadikan manusia titik pijak pemikirannya untuk mencapai kebenaran, dan kepada semua orang yang mengasalkan semua pengetahuan pada kebenaran tentang manusia…bagi semua mereka ini tidak ada yang lebih tepat dari sebuah gurauan filosofis.15 Dengan ini Foucault menempatkan diri pada posisi yang berseberangan dengan filsafat yang berkembang luas di Prancis sesudah Perang Dunia II, yakni eksistensialisme, dengan tokoh utama Jean-Paul Sartre. Menurut Foucault, filsafat pada dasarnya merupakan diagnose. Mendiagnosis masa sekarang berarti mengatakan apa masa sekarang itu, mengatakan bagaimana perbedaan antara masa sekarang dengan yang bukan masa sekarang, yakni masa lampau kita.16 Untuk memahami masa sekarang ini dibuat analisis dan kritik atas masa lampau. Kita mengkritik masa lampau tentang segala sesuatu yang menyimpang atau mengganggu pada masa sekarang. Segala sesuatu yang negatif dikoreksi kembali secara efisien. 2.2. POKOK-POKOK PEMIKIRAN FOUCAULT DALAM KARYA- KARYANYA 2.2.1. The Order of Things (1973) Dalam buku The Order of Things: An Archaeology of The Human Sciences,17 Foucault menunjukkan bahwa ada dua perubahan besar yang terjadi dalam bentuk umum pemikiran dan teorinya. Yang pertama terjadi pada pertengahan abad ketujuhbelas dan yang kedua pada awal abad kesembilan belas. Perubahan ini tidak perlu disebut sebagai kemajuan, tetapi sebagai perubahan bagaimana sesuatu dibicarakan dalam satu tatanan. Setelah menganalisis 15 Paul Budi Kleden, Op. Cit., p. 50. 16 Seperti dikutip oleh Barry Cooper, Michael Foucault: An Introduction to the Study of His Though, Studies in Religion and Society. Vol. 2 (New York: The Edwin Mellen Press, 1981), p. 3. 17 Michel Foucault, The Order of Things: An Archaeology of the Human Science, penterj. G. Gutting, (New York: Vintage Books, 1973), p. 11. 12
  • 5.
    diskursus ilmu pengetahuanabad 17 dan 18 seputar sejarah alam, teori uang dan nilai serta tata bahasa, Foucault mengambil kesimpulan bahwa pusat ilmu pengetahuan pada waktu ini adalah tabel. Yang dimaksudkan bukanlah terutama matematika murni, melainkan matematika terapan, yang menempatkan segala sesuatu dalam kategori-kategori dan file-file empiris. Konsentrasi pada tabel ini didasarkan pada anggapan utama bahwa setiap pengertian atau nama mengungkapkan sesuatu dalam realitas. Dengan nama orang mengungkapkan status dari satu kenyataan, dan nama itu dapat dipetakan pada tabel. Orang hendak merepresentasikan realitas dalam tabel. Tabel adalah “satu sistem tanda, satu bentuk taksonomi umum dan sistematis dari benda-benda”.18 Dengan konsentrasi pada tabel, pengetahuan pada masa ini menjadi ahistoris. Pada akhir abad ke18 (setelah revolusi Perancis) sampai pertengahan abad 20 (PD II), konsentrasi pada tabel lenyap. Konsentrasi wacana ilmiah pada masa ini adalah sejarah dan manusia sebagai subjeknya. Diskursus ilmu pengetahuan pada masa ini diwarnai oleh anggapan tentang subjek transendental yang berada di belakang segala yang tampak, di balik semua nama. Subjek ini dibebaskan dari segala mimpi eskatologis-religius dan serba spekulasi idealistis. Manusia dibebaskan dari segala alienasi, bebas dari determinasi dan bebas dari segala sesuatu. Foucault menganggap dirinya bukan subjek. Atau dengan kata lain, manusia menjadi objek pengetahuan dari subjek transenden. Namun berkat pengetahuan yang dimiliki tentang dirinya dia kembali menjadi tuan dan pemilik dirinya sendiri dan dengan demikian dia menjadi subjek dari kebebasan dan eksistensinya sendiri.19 Dengan karyanya pada tahun 1966 itu Foucault disebut sudah memulai apa yang kemudian disebut sebagai poststrukturalisme. Subjek yang mengetahui terikat pada kodeks utama kebudayaan, pada berbagai apriori historis, pada berbagai fundamen pengetahuan yang tidak disadari. Sebab itu, jauh lebih penting menyelidiki hal-hal ini daripada menyelidiki subjek-subjek. Buku ini memuat hasil studinya tentang perkembangan ilmu pengetahuan sejak abad ke- 16. Objek penelitiannya adalah kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan lahirnya 18 Barry Cooper, Op.Cit., p. 5. 19 Ibid., p. 7. 13
  • 6.
    satu diskursus. Foucaultmenemukan bahwa satu ilmu pengetahuan tidak berasal dari subjek manusia atau pengarang, tetapi berasal dari aturan-aturan diskursif dasar dan praktik-praktik yang masih ada pada situasi dan kondisi saat itu. Obsesi Foucault dengan arkeologi ini adalah untuk menunjukkan bahwa dominasi subjek dalam ranah ilmu pengetahuan modern sebenarnya adalah satu bentukan dan bukan satu keharusan. Fokus antropologis dan prasangka antropologis ini harus diatasi. Dengan munculnya filsafat bahasa yang menjadi objek kajian dari strukturalisme, wajah manusia yang sekian dominan akan menghilang, sebagaimana gambar wajah manusia di pasir di pantai akan hilang tergusur gelombang. Tentu Foucault sendiri sangat berorientasi pada Levi-Strauss, misalnya tentang kematian manusia, sebab ternyata yang menjadi elemen pembentuk subjek adalah struktur-struktur. Selain itu kesamaan terungkap pula dalam pandangan bahwa berbagai konsep dan pengetahuan dalam satu epoche20 , yang terkesan berbeda, sebenarnya merupakan manifestasi dari skema arkeologis yang sama, yang bekerja secara tanpa disadari. Tetapi Levi-Strauss mencoba menemukan satu struktur universal yang menjelaskan semua fenomen budaya sampai segala pengalaman hidup manusia lainnya. Strukturalisme Levi-Strauss berorientasi kepada satu integralisme universal. Bagi Foucault, kesamaan itu ada apabila orang memperhatikannya secara sinkronis: artinya untuk masa yang sama ada struktur yang sama. Tetapi kita akan memperoleh pluralitas struktur, apabila kita membuat penelitian sejarah, artinya kalau kita mengamatinya secara diakronis. Di sini kita menemukan heterogenitas. Jadi Foucault adalah seorang poststrukturalis. 2.2.2. The Discourse on Language (1971) Dalam keseluruhan kerangka filosofisnya Foucault menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat untuk menganalisis kuasa. Secara eksplisit analisis ini terungkap dalam eseinya yang ditulis pada tahun 1971, The Discourse 20 Epoche (epoch: b. Inggris) adalah jangka waktu, jaman, masa. Bdk. John. Echols dan Hassan Shadily, An English-Indonesian Dictionary (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), p. 216. 14
  • 7.
    on Language. Disini dia menunjukkan hubungan antara diskursus ilmu pengetahuan dengan kuasa. Diskursus ilmu pengetahuan yang hendak menemukan yang benar dan yang palsu pada dasarnya dimotori oleh kehendak untuk berkuasa. Ilmu pengetahuan dilaksanakan untuk menetapkan apa yang benar dan mengeliminasi apa yang dipandang palsu. Menjadi jelas bahwa kehendak untuk kebenaran adalah ungkapan dari kehendak untuk berkuasa. Penjelasan ilmiah yang satu berusaha menguasai dengan menyingkirkan penjelasan ilmu-ilmu yang lain. Selain itu, ilmu pengetahuan yang terwujud dalam teknologi gampang digunakan untuk memaksakan sesuatu kepada masyarakat. Karena dalam zaman teknologi tinggi pun sebenarnya tetap ada pemaksaan, maka kita tidak dapat berbicara tentang kemajuan peradaban. Yang terjadi hanyalah pergeseran instrumen yang dipakai untuk memaksa. Studi tentang bahasa merupakan satu pendekatan yang dipakai Foucault untuk berfilsafat. Hal ini pun dipelajarinya dari Nietzsche, yang mendalami filsafat bukan dari matematika atau fisika, melainkan dari filologi21 . Dalam studinya tentang bahasa, yang menjadi inti penelitiannya adalah eksistensi manusia dan dasar dunia. Dia hendak mengetahui siapa yang berbicara kalau sesuatu dikatakan. Filsafat perlu mempelajari arti dan kuasa. Dan karena kuasa ada dalam wacana, dan wacana ditemukan dalam beragam cara, maka filsafat pun harus terbuka terhadap berbagai wacana. Kalau kita hendak mendalami arti kuasa (power), maka yang harus diselidiki adalah apa saja yang mengandung kuasa tersebut. Sebab itu, filsafat akan secara niscaya mengantar orang kepada sastra, hukum, politik, dan malahan ke penjara. 2.2.3. Madness and Civilization (1961) Tentang kegilaan, Foucault pernah mengatakan dalam sebuah interview bahwa pergumulannya dengan fenomen kegilaan dimulai setelah menamatkan studi filsafatnya. Itu terjadi pada tahun 1950-an. “Saya sudah cukup gila untuk belajar tentang pikiran, dan saya sudah cukup menjadi orang yang berpikir untuk 21 Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis. Bdk. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi keempat. Op. Cit., p. 392. 15
  • 8.
    mempelajari kegilaan”.22 Selama masaitu, dia dapat dengan mudah mendekati para pasien dan para terapeut, karena dia tidak mempunyai satu peran yang khusus. Itulah masa awal dari psikofarmakologi,23 masa kejayaan institusi tradisional. Pada mulanya dia menerima semua itu. Namun setelah tiga bulan dia bertanya: untuk apa semuanya ini? Setelah tiga tahun meninggalkan psikiatri dengan satu keguncangan personal yang mendalam, Foucault lalu pergi ke Swedia dan menulis tentang praktik kegilaan dan peradaban (Madness and Civilization, 1961). Di sini Foucault menerapkan metode arkeologi. Foucault menemukan bahwa pada zaman Renaissance, kegilaan dan penalaran memiliki relasi yang erat, dan tidak terpisahkan, sebab keduanya menggunakan bahasa yang sama. Kegilaan adalah kebebasan imaginasi, dan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam zaman renaissance. Namun pada zaman klasik (1650-1800), dialog antara kegilaan dan penalaran mengalami pembungkaman. Keduanya dilaksanakan dalam bahasa yang berbeda, dan akhirnya bermuara pada penaklukan kegilaan oleh penalaran. Tetapi perlahan kegilaan menjadi sesuatu yang asing dan disingkirkan dari kehidupan yang harus dijiwai kelogisan. Kegilaan ditaklukkan oleh kewarasan. Bersamaan dengan itu, kegilaan harus disingkirkan dari masyarakat yang normal. Kegilaan telah menjadi satu tema yang membuat masyarakat terpisah dan terpecah.24 Apa yang terjadi dengan orang gila atau orang ganjil yang berjalan beriringan dengan apa yang terjadi dengan para penjahat, orang-orang miskin dan gelandangan? Mereka semua mulai disingkirkan, dalam penjara, rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan ditertibkan oleh sosok polisi dan pengadilan. Semua lembaga ini adalah bentuk yang digunakan oleh penguasa untuk menerapkan kekuasaannya atas masyarakat. Foucault menghubungkan proses ini dengan konsep ekonomi yang berlaku waktu itu. Untuk mencegah pemberontakan orang- orang miskin, semua orang diharuskan bekerja. Mereka yang tidak dapat 22 Michel Foucault, Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization) penterj. Yudi Santoso, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002), pp., 26-29. 23 Psikofarmakologi adalah ilmu tentang kerja obat pada pelbagai fungsi psikologis dan status kejiwaan; penggunaan obat-obat untuk mengubah fungsi psikologis dan status kejiwaan. Bdk. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi keempat. Op. Cit., p. 1109. 24 Barry Cooper, Op. Cit., pp. 14-15. 16
  • 9.
    dipekerjakan harus dikurungkandi tempat-tempat seperti rumah-rumah sakit atau rumah sakit jiwa. Lembaga-lembaga ini dilihat sebagai perwujudan mekanisme kontrol sosial. Pengangguran adalah satu persoalan sosial, demikian juga semua yang menjadi alasan pengangguran, seperti kegilaan atau sakit. Inti dari teori Foucault dalam hal ini adalah menunjukkan bahwa sakit mental hanya muncul sebagai sakit mental dalam satu kebudayaan yang mendefinisikannya demikian. Karena soalnya adalah definisi, maka di dalam sakit mental sebenarnya kuasa yang mendominasi. Dalam kebudayaan lain, boleh jadi orang yang dicap gila itu dihormati sebagai orang kudus, yang memiliki kuasa ilahi. Kegilaan adalah hal yang berbeda dari yang biasa, dan karena yang biasa dicirikan oleh produktivitas, maka kegilaan adalah tidak adanya produktivitas. Penanganan kegilaan adalah satu bentuk aplikasi kekuasaan seseorang atau satu kelompok orang atas yang lain, bukan pertama-tama masalah pengetahuan psikologis.25 Kehadiran rumah-rumah sakit sebagai satu bentuk tanggapan terhadap fenomen kegilaan juga merupakan satu sarana pertobatan. Orang gila adalah tanda kematian dan ketidakberimanan akan Allah.26 2.2.4. Archaeology of Knowledge (1969)27 Buku ini diterbitkan pada tahun 1969, setelah Foucault menjadi seorang pengarang yang terkenal. Buku ini merangkum sejumlah gagasan yang telah disampaikan dalam berbagai karya terdahulu. Buku ini mendapat tanggapan luas dan berhasil secara komersial. Gilles Deleuze menyebut buku ini sebagai sebuah puisi untuk karya-karya terdahulu. Kendati demikian, buku ini menjadi penting karena dua alasan. Pertama, di dalamnya Foucault menjawabi sejumlah kesalahpahaman yang muncul terhadap gagasan-gagasannya, seperti konsep tentang manusia, sejarah dan ilmu- ilmu humaniora. Foucault menegaskan bahwa baginya bahasa bukanlah terutama struktur, melainkan peristiwa dan kejadian. 25 Paul Budi Kleden, Op. Cit., pp. 56-57. 26 Barry Cooper, Op. Cit., p. 16. 27 Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, penterj. A. M. Sheridan Smith, (London: Tavistock 1972), p. 20. 17
  • 10.
    Kedua, Foucault menegaskanbahwa wacana ilmu pengetahuan hanya dapat dipahami dalam konteks historis tertentu. Sebab itu, kita tidak dapat berbicara mengenai tradisi ilmu pengetahuan, sebab dengan menggunakan pengertian ini, kita cenderung memulangkan segala sesuatu pada situasi awal dan mengabaikan perkembangan-perkembangan baru. Juga kategori-kategori seperti sastra, politik, dan ilmu, merupakan kategori-kategori yang selalu relatif. Selain itu, Foucault juga berbicara mengenai kesatuan wacana ilmu pengetahuan. Wacana ini hidup, dan situasi wacana berpengaruh terhadap wacana itu sendiri. Sebab itu, kita sulit menentukan secara tetap kesatuan dari satu wacana, juga wacana yang dibukukan. 2.2.5. Discipline and Punish (1975) Dalam perkembangan selanjutnya, sebagaimana dilukiskan dalam Discipline and Punish, penyiksaan yang menyertai hukuman mati dikurangi. Tetapi yang terjadi adalah hukuman fisik yang lebih halus. Namun bersamaan dengan itu terjadi birokratisasi hukuman. Hukuman menjadi impersonal. Polisi- polisi menjadi eksekutor, satu lembaga resmi negara. Eksekusi menjadi sekian impersonal, sehingga para penembak itu menutup wajahnya dengan topeng.28 Di sini efisiensi hukuman dan beban psikologis tidak terlalu berat bagi masyarakat dan aparatnya menjadi penting. Bagi Foucault, disiplin adalah seperangkat strategi, prosedur dan perilaku berhubungan dengan hubungan kalimat kelembagaan yang tertentu yang mana kemudian meliputi perorangan pemikiran umum dan perilaku. Pada abad ke-17 dan 18, disiplin adalah sarana untuk mendidik tubuh. Praktek disiplin diharapkan melahirkan tubuh-tubuh yang patuh. Hal ini tidak hanya terjadi di penjara, tetapi juga dalam bidang pendidikan, tempat kerja, tangsi militer dan sebagainya. Orang menerapkan disiplin di mana-mana. Masyarakat selanjutnya berkembang menurut disiplin militer. Tiga instrumen penerapan disiplin: pertama, melalui observasi hirarkis atau kemampuan aparat untuk mengawasi semua yang berada di bawahnya 28 Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, penterj. Alan Sheridan, (New York: Vintage Book, 1977), p. 19. 18
  • 11.
    dengan satu kriteriumtunggal. Panopticon 29 yang terungkap dalam menara sebagai pusat penjara adalah bentuk fisik dari instrumen ini. Dari tempat seperti ini, pemantauan atas sikap semua orang dapat dilakukan secara efektif dan informasi dapat dikumpulkan dengan mudah. Dengan adanya panopticon ini kekuasaan sipil menjadi sangat besar sebab para tawanan berusaha menahan diri mereka sendiri. Mereka takut dipantau. Kehadiran struktur itu sendiri sudah merupakan satu mekanisme kekuasaan dan disiplin yang luar biasa. Kedua adalah menormalkan penilaian moral dan menghukum para pelanggar moral. Instrumen ketiga adalah penyelidikan atas subjek. Orang mendeteksi apa yang menjadi konsep moral seseorang dan menghukumnya kalau konsep itu keliru. Masyarakat menggunakan semua lembaga yang dimilikinya untuk menerapkan disiplin. Karena itu, bukanlah sesuatu yang kebetulan bahwa pabrik, sekolah, barak, rumah sakit menyerupai penjara. Dengan ini kekuasaan instrumen disiplin menjadi mutlak. Negara dan polisi menjadi agen yang sangat berkuasa. Seluruh masyarakat menjadi objek pemantauan dan penerapan disiplin. Ketiga adalah memfasilitasi agar orang-orang gila itu mengontrol dan menilai diri mereka sendiri. Kepada mereka diberikan sejumlah petunjuk, dan mereka mesti memberikan laporan tentang keadaan dirinya dari waktu ke waktu. Foucault menilai hal ini sebagai satu bentuk represi yang sangat kejam. Orang gila diharuskan untuk mengontrol diri mereka sendiri berdasarkan instrumen yang diciptakan oleh orang lain, yang mendefinisikan yang benar dan yang palsu. Dalam keseluruhan penanganan kegilaan, psikiater sebenarnya tidak berperan sebagai ilmuwan, tetapi sebagai kekuasaan yang mengadili. Dia berada sebagai jaminan hukum dan moral. Atau, psikiater berperan sebagai praktisi dari satu bentuk sadisme moral, yang membungkus dirinya dalam slogan pembebasan dan penyembuhan. Menurut Foucault, lebih tepat kalau dikatakan bahwa semua pengetahuan psikologis adalah bentuk-bentuk utama dari penindasan.30 29 Panopticon atau panoptik (bahasa Indonesia) adalah bentuk pengawasan yang memungkinkan untuk memperoleh ketaatan dan keteraturan dengan meminimalisasi tindakan- tindakan yang sulit diperhitungkan atau tidak bisa diramalkan. Panoptik merupakan suatu bentuk penjara yang dicetuskan oleh Jeremy Bentham untuk menampung semua narapidana. Bdk. Haryatmoko, “Kekuasaan Melahirkan Anti Kekuasaan: Menelanjangi Mekanisme Kekuasaan Bersama Foucault”, dalam BASIS: Nomor 01-02, Tahun Ke-51, Januari-February 2002, p. 15. 30 Barry Cooper, Op. Cit., p. 10. 19
  • 12.
    2.2.6. The Historyof Sexuality I, II dan III (1976) Konsep tentang dominasi kekuasaan juga dapat dilihat dalam analisis atas tema seksualitas. Dalam The History of Sexuality jilid I (1978), Foucault melihat seksualitas sebagai pengalihan pemahaman tentang kekuasaan. Bagaimana seksualitas diwacanakan adalah ungkapan dari kekuasaan. Dalam alur arkeologis, Foucault sekali lagi menunjukkan bahwa pada awal abab ke-17, seksualitas merupakan satu tema yang sangat tertutup. Seks adalah sesuatu yang tabu, ruang pembicaraannya adalah rumah dan keluarga. Penabuan ini bermuara pada pembungkaman. Setelah itu, ada ledakan pembicaraan tentang seks. Di ruang pengakuan dan dalam majalah-majalah, seks dibicarakan secara terbuka. Di sekolah tema seksualitas dikupas secara terbuka. Di sini sebenarnya kekuasaan mempunyai peranan dan kepentingan.31 Gagasan Foucault tentang seks adalah demi mengatur dan mencatat jumlah angka kelahiran. Pertambahan jumlah bayi yang semakin banyak merupakan persoalan seks. Masalah penduduk adalah masalah sosial, dan masalah ini berhubungan dengan seksualitas. Karena itu, kekuasaan berusaha mempelajari dan mengintervensi pembicaraan tentang seks demi pengaturan pertumbuhan penduduk. Seksualitas menjadi masalah publik. Sejarah seks mempunyai riwayat historis yang lama. Dalam pandangan Yunani klasik hal yang berkaitan dengan seks bukanlah sesuatu yang tabu seperti masyarakat Barat. Seks adalah sesuatu yang dialami, mendatangkan kenikmatan dua insan dan dianggap mendatangkan ilham dalam ranah berpikir. Seks berkaitan erat dengan etika dan moral.32 Sehingga wacana tentang seks dibicarakan sebagai parrhesia33 . Disini, seks melibatkan subjek untuk terus 31 Michel Foucault, The History of Sexuality I: An Introduction, penterj. Robert Hurley, New York: Pantheon Books, 1978; Michel Foucault, The History of of Sexuality II: The Use of Pleasure, penterj. Robert Hurley, (New York: Pantheon Books, 1985), p. 23. 32 http://komunitas kembang merak.wordpress. com/2010/12/10/ selubung–kekuasaan–atas– tubuh– membongkar– pembentukan–tubuh–masyarakat– eropa–bersama-foucault/ diakses jumat 8/3/2013 33 Parrhesia berasal dari kata bahasa Yunani “pan” yang berarti semua dan “rhesis” atau “rhema” yang berarti ekspresi, apa yang dikatakan, pidato atau perkataan. Kata ini juga berarti keterampilan berbicara, kehalusan, keterbukaan, keterus-terangan dan kebebasan dalam berbicara. Parrhesia dalam arti yang sebenarnya ialah aktivitas untuk mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam pikiran seseorang. Oleh karena itu, parrhesia berarti kemerdekaan berbicara, 20
  • 13.
    berdialog dalam diskursusmengenai seks. Setiap dialog atau kontemplasi melahirkan pandangan yang berbeda mengenai seks. Setiap individu mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang praktik seksualitasnya. Tidak ada wacana seks yang dominan dan universal. Setiap tubuh hanyut dalam kenikmatan seni pengendalian diri dan penelurusan diri terhadap tubuhnya masing-masing. Pandangan teoritis Michel Foucault terhadap sejarah seksualitas bersilang sengkarut dengan sejarah kekuasaan. Dalam teorinya, Foucault menjelaskan bahwa pemahaman tentang seksualitas adalah bagian dari sejarah yang panjang. Seksualitas haruslah dipandang berdasarkan konsepsi sejarah dari tubuh manusia yang berakar pada rezim kekuasaan dan politik terhadap seksualitas. Foucault mengajukan konsep bahwa seksualitas merupakan agregasi relasi sosial yang dia sebut sebagai apparatus of sexuality (peralatan seksualitas) yang secara sosial dan historis sangat spesifik. Namun sejarah yang dimaksudkan Foucault bukan sekedar kajian cermat tentang berbagai peristiwa, melainkan juga suatu silsilah, nalar, kebenaran dan pengetahuan. Sejarah dibangun di atas satu episteme, yaitu himpunan berbagai kaidah yang melandasi dan mengatur produksi wacana pada suatu masa tertentu.34 Foucault menunjukkan hubungan antara seksualitas dengan kekuasaan itu dalam pengakuan dosa dalam agama Kristen. Di sini sebuah rahasia dibongkar, dan bersamaan dengan ini posisi dia yang mengetahui rahasia itu menjadi sangat kuat. Pendengar menjadi penguasa kebenaran. Tampaknya dewasa ini masyarakat sudah berkembang menjadi masyarakat pengaku dosa. Dengan bantuan teknologi, berbagai rahasia pribadi orang disingkapkan. Yang menjadi pendengar pengakuan dosa itu adalah para imam. Para imam mempunyai kuasa untuk memberi pengakuan kepada setiap umat Kristen yang berdosa. Dosa merupakan sesuatu yang dianggap buruk dan jahat. Dosa yang dibuat oleh manusia itu mencakupi semua aspek kehidupan. Dengan demikian dosa dalam ruang keterbukaan mengungkapkan sesuatu, berbicara dengan penuh keyakinan, berbicara secara terbuka dan polos. Bdk. Konrad Kebung, SVD, Michel Foucault; Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika (Jakarta: Obor, 1997), p. 10. 34 Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, penterj. Rahayu S. Hidayat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), pp. xii-xiii. 21
  • 14.
    seksualitas diungkapkan melaluipengakuan melalui para imam. Namun, imam berbeda dengan psikiater. Dalam posisi seperti ini, psikiater menjadi penentu apa yang dianggap normal dan apa yang dipandang sebagai patologi dalam perilaku seksual. Dalam jilid kedua dan ketiga penelitiannya atas tema sekualitas, yakni dalam buku The Use of Pleasure (1984) dan The Care of the Self (1984), Foucault memperhatikan tema seksualitas dalam kebudayaan Yunani-Romawi dan meneliti hubungan antara tema seksualitas dan kesadaran diri atau kontrol diri manusia. Di sini pertanyaan yang dibahas antara lain: kenapa seksualitas menjadi masalah moral? Dengan memasukkan moralitas ke dalam seksualitas, sebenarnya terjadi intervensi kekuasaan. Sebab itu, moralisasi seksualitas adalah kehendak penguasa. 2.3. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILOSOFISNYA Pemikiran Foucault sangat dipengaruhi Nietzsche, namun dia tidak sepenuhnya adalah seorang pengikut Nietzsche, sebab baginya, Nietzsche yang diikutinya adalah seseorang yang orisinal, begitu pun dengan dia yang harus orisinal dengan pandangan pribadinya. Bahkan tidak jarang dia tidak sependapat dengan filsuf pujaannya itu. Hal ini terdapat dalam teori Genealogi Foucault. Di sini, bahasa bagi Foucault tidak bisa dikurung dalam apa yang ditulis dan apa yang menjadi tafsirnya. Keduanya saling terjalin tanpa ada pemisahan. Hal ini adalah salah satu dari pemikirannya tentang subjek dan objek, bahwa bahasa yang ditulis dan menjadi tafsirnya tidak bisa dipisahkan dalam subjek dan objek. Subjek menuliskan sesuatu tentang objek yang berada diluar dirinya. Subjek dalam hal ini adalah manusia karena hanya manusia yang mampu menafsirkan objek yang lain dari dirinya. Tentang subjek dan objek, filsuf tahun 60-an adalah filsuf yang merayakan kematian subjek (pengada awal) yang disejajarkan dengan Tuhan. Penggabungan wacana-wacana intelektual dengan kekuasaan dapat menciptakan cara-cara penindasan terhadap manusia lain yang tampak mustahil untuk 22
  • 15.
    ditantang.35 Lalu setelah itu,jika Tuhan mati, maka manusia yang mengikuti Tuhan juga mati. Sebab manusia yang mengikuti Tuhan itu tidak mempunyai kuasa atas dirinya tanpa Tuhan yang memberi makna padanya. Maka dari sini filsafat yang selama ini berkutat pada humanisme sudah tamat. Maka manusia baru pun bisa 'dibangkitkan' lagi. Namun Foucault sendiri bersedih karena kehilangan makna seiring hilangnya subjek (Tuhan) tadi. Dengan menekankan asal usul subjek modern ini, Foucault tidak memisahkan pengetahuan dan kuasa.36 Bagi Foucault, subjek yang sejajar dengan individu hanya akan bisa ditelaah melalui kuasa. Kuasa baginya bukanlah nominalis, tidak pejal dan tidak bisa dipegang, kuasa adalah pewacanaan dari multiplisitas dan jalinan kekuatan- kekuatan dari setiap subjek. Kuasa bukan sesuatu yang bisa dimiliki. Kuasa tidak didominasi oleh siapa-siapa, tidak bisa dipengaruhi oleh kepenuhan hukum atau pun kebenaran, tidak tunduk pada teori politik normal, dan tidak bisa direduksi oleh representasi hukum. Kemudian hubungan antara subjek dan kuasa adalah bukan pelaku dan produk. Sebab bukan subjek (secara substantif) yang menciptakan kuasa, namun kuasalah yang mempengaruhi adanya subjek. Demikian manusia juga akhirnya dipengaruhi oleh kuasa, bukan manusia mempengaruhi kuasa. Subjektivitas dan kebebasan manusia untuk menguasai yang lain tidak dapat dilegalisasikan. Kehendak untuk berkuasa yang otoriter dianggap nihil. Kuasa itu muncul dari struktur-struktur dan diskursus. Foucault tidak mendefinisikan kuasa dan kekuasaan dalam artian yang sama. Kuasa tidak sama dengan kekuasaan37 . 35 Gauri Viswanathan, Kekuasaan, Politik, dan Kebudayaan (New York: Pustaka Promethea, 2003), p. 242. 36 Haryatmoko, Op .Cit., p. 9. 37 Penulis membandingkan konsep kuasa Foucault dengan kekuasaan. Kuasa secara esensial muncul dari relasi-relasi antara pelbagai kekuatan. Kuasa terjadi secara mutlak dan bersifat apriori, tidak tergantung pada kesadaran manusia. Kuasa tidak terlepas dari diri manusia dan selalu terjadi di mana-mana. Setiap relasi kuasa secara potensial mengandung suatu strategi perjuangan dan tidak saling menindih. Kuasa juga dapat membantu kita untuk memahami gagasan etis mengenai subjek. Kuasa dapat mengenal dirinya dan yang lain dalam relasinya. Pelaksanaan kuasa itu akan menjadi mungkin apabila ada rezim wacana yang bersifat esensial dalam masyarakat. Kuasa juga akan menghasilkan wacana. Sedangkan kekuasaan merupakan kata yang sudah diberi prefik ke dan sufik an. Kata dasarnya adalah kuasa. Kata kuasa di beri prefik ke dan sufik an menjadi kekuasaan. Kata kekuasaan mengacu kepada kemampuan, kesanggupan dan kekuatan untuk memerintah dan menguasai yang lain. Dengan demikian, kekuasaan adalah kemampuan, kekuatan dan kesanggupan untuk menguasai orang lain baik secara individu maupun 23
  • 16.
    Pendefinisian kuasa dankehendak itu kemudian dipakai untuk pengaturan kehidupan seksualitas di Eropa pada masa Ratu Victoria I (1819-1901).38 Ratu sangat dominan dalam mengendalikan rakyatnya, maka dia juga mengatur hal-hal kecil dari rakyatnya. Kehidupan seksualitas yang bebas harus dipisahkan dari kesopanan di Eropa. Di sini tampak bahwa kuasa yang diartikan oleh Foucault yang berhubungan dengan kehendak itu harus dibatasi oleh sistem pemerintahan. Pemikiran yang bersifat mekanis ini dinyatakan olehnya sebagai sesuatu yang efektif, bukan mistis seperti yang ditawarkan fenomenologi. Menurut dia, kekurangan dari fenomenologi bisa dijawab oleh sains (ilmu tentang manusia, misalnya psikologi). Psikologi dapat membantu manusia untuk menemukan dirinya melalui refleksi psikis tentang dirinya. 2.4 MICHEL FOUCAULT DAN STRUKTURALISME Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis, tetapi beberapa karyanya lahir di tengah-tengah masa jaya strukturalisme dan di dalamnya dapat ditemukan kemiripan pemikiran dengan tokoh-tokoh strukturalisme lainnya. Harus diakui bahwa pemikiran Foucault berkembang dan mengalami perubahan, namun tetap saja strukturalisme masih membayanginya. Strukturalisme adalah pendekatan yang melihat berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan dalam satu kesatuan. Bagi kaum strukturalis, praktik sosial yang tampak tidak beraturan di permukaan ini sebenarnya selalu didasari oleh struktur dalam atau fundamental yang biasanya tidak nampak, yang beroperasi di bawah kesadaran manusia. Oleh karena itu, strukturalisme juga mengandaikan individu atau subjek pelaku yang tidak bebas karena ditentukan oleh struktur tersebut oleh kelompok tertentu. Nilai rasa kata kekuasaan sangat negatif karena berorientasi pada tindakan represif dan mengobjekkan yang lain. Tindakan seperti ini sangat menyimpang dari konsep Foucault tentang kuasa. 38 Ratu Victoria I (1819-1901) adalah sosok untuk kaum Victorian dalam mengatur kerajaan dan tingkah laku seksual rakyatnya. Ia sangat menekankan kesantunan puritan dalam kehidupan bermasyarakat. Akibatnya tindakan seksual yang berbau otonom dan orisinal tetap ditolak dan dibungkam. Namun, tidak mungkin dilarang sepenuhnya tindakan yang dianggap illegal itu, maka disediakan tempat khusus seperti rumah pelacuran. Bdk. Michel Foucault, Histoire de la Sêxualitê 1: La Volontê de Savior, penterj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), p. 202. 24
  • 17.
    dalam praktik sosialnya.Karya Foucault yang sangat dekat dengan strukturalisme adalah The Order of Things (1966) dan Archaeology of Knowledge (1969). Melalui karyanya tersebut Foucault dianggap mampu menjadikan strukturalisme sebagai filosofi baru bagi para intelektual Paris saat itu, menggantikan eksistensialisme yang mulai surut. Filosofi baru dalam karya Foucault ini dengan jelas menyetujui pernyataan bahwa subjek tidak memaknai dunia melalui kebebasannya yang penuh dengan kecemasan seperti pemikiran kaum eksistensialis, tetapi subjek ditentukan oleh struktur dalam yang ada di balik kesadaran manusia. Dalam kedua karya tersebut Foucault memperkenalkan istilah épistémè yang kemudian dapat dibaca sebagai struktur pengetahuan atau wacana. 2.5 EPISTEME SEBAGAI STRUKTUR Dalam The Order Of Things (1966) Foucault melahirkan istilah episteme yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan prapengandaian pemikiran suatu jaman. Bambang Sugiharto menyebut episteme sebagai struktur kognitif fundamental yang mendasari keseluruhan pola berpikir masyarakat di suatu jaman. Beberapa kritikus lain menyebutkan bahwa episteme bisa disejajarkan dengan paradigma menurut pandangan Thomas Kuhn.39 Sebagai sebuah struktur, episteme dapat dikenali dari salah satu sifat struktur yang disepakati oleh para pemikir strukturalis, yaitu totalitas. Dalam bukunya Archaeology of Knowledge (1969), Foucault menjelaskan episteme sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Episteme tertentu hanya berlaku pada suatu zaman tertentu. Ketika kita sadar akan episteme yang mempengaruhi kita, kita telah berada dalam episteme yang berbeda, karena menurut Foucault episteme tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di dalamnya. Episteme tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara 39 I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2000), p. 27. 25
  • 18.
    mengungkap “yang tabu,yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan suatu jaman. Pada saat kita menemukan “yang tabu”, kita telah mengetahui sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila”, maka kita sebelumnya telah tahu mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat kita temukan, berarti kita ada di dalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah yang sepenuhnya didasari oleh episteme suatu jaman. Oleh karena itulah Foucault sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan, karena melalui ketiga hal itulah dia bisa mengidentifikasi episteme suatu jaman. 2.6 TOKOH-TOKOH YANG BERPENGARUH TERHADAP FOUCAULT Pemikiran filosofis Foucault dipengaruhi oleh banyak pemikir seperti Friedrich Nietzsche, Karl Marx, Ferdinand de Saussure, Sigmund Freud, Friedrich Holderin, George Bataille, Marquis de Sade, Van Gogh, Raymond Roussel, Antonin Artaud, dan Charles Baudelaire. Foucault adalah sosok yang sangat akrab dengan pribadi-pribadi mereka. Ia sangat terpesona dengan paradigma hidup filsuf, sosiolog dan sastrawan diatas. Hal yang sangat menarik bagi Foucault adalah pilihan-pilihan radikal dan natural yang ditempuh seperti menghabisi nyawa mereka dengan kegilaan. Namun, di antara sekian banyak filsuf yang berpengaruh terhadap pemikiran Foucault, penulis hanya menyebut dua tokoh utama yang berpengaruh terhadap pemikiran Foucault, secara khusus paham mengenai kuasa. 2.6.1 Friedrich Nietzsche.40 Nietzsche adalah salah seorang filsuf postmodernis yang sangat mempengaruhi filsuf lain. Pemikirannya mampu menukik kedalaman essensi dari segala sesuatu. Kajian genealogisnya adalah tentang konsep fundamental metafisika barat, yakni Sang Aku, yang harus bertanggung jawab secara moral 40 Friedrich Nietzsche adalah anak dari Ludwig Nietzsche seorang pendeta Protestan yang saleh. Nietzsche lahir pada tahun 1844 di Saxony. Pada tahun 1864, ia masuk Universitas Bonn untuk mempelajari teologi dan kesustraan klasik. Nietzsche sangat akrab dengan Richard Wagner, seorang komponis Jerman. Ketika berusia 24 tahun, ia diangkat menjadi profesor dalam filiologi klasik di Basel. Nietzsche telah menghasilkan banyak karya dan diminati oleh banyak orang. Tahun 1889 ia ditimpa serangan penyakit jiwa. Kemudian berakhirlah aktivitasnya sebagai filsuf dan sastrawan. (Bdk. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1975), p. 85. 26
  • 19.
    mengenai tindakannya, terutamadalam upaya mempertahankan identitas diri. Sang aku dalam pandangannya harus menjadi pribadi bebas untuk mencapai titik paling tinggi yang disebut Übermensch (manusia yang melampaui manusia masa lampau dan juga manusia zaman sekarang, manusia yang di atas manusia atau manusia di seberang manusia). Usaha untuk mencapai titik tertinggi itu memang tidak mudah untuk manusia; usaha untuk mencapai suatu kesempurnaan atau memerdekakan diri dari semua pertanyaan tentang nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Selain itu, ide-ide rezim kekuasaan dalam pemikiran Foucault mendapat rujukan pantas dari pemikiran Nietszche dalam “Will to Power”. Foucault memperluas cakrawala berfikir Nietszchean yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk kehendak untuk berkuasa. Bagi Nietszche, ide tentang pengetahuan murni tidak dapat diterima, karena nalar dan kebenaran tidak lebih dari sekedar sarana yang digunakan oleh ras dan kelompok tertentu. Kebenaran bukan sekumpulan fakta, karena hanya mungkin ada interpretasi dan tidak adanya batas terhadap apa yang diinterpretasikan. Jika kebenaran memiliki sandaran historis, maka ia merupakan konsekuensi dari kekuasaan. 2.6.2 Karl Marx41 Karl Marx merupakan tokoh penting komunisme yang turut mempengaruhi struktur berpikir Foucault, terutama mengenai kekuasaan. Dalam ekonomi politik Karl Marx, aktivitas produksi dijadikan sebagai basis segala aspek kehidupan sosial kemasyarakatan. Bidang ekonomi baginya merupakan struktur dasar, sedangkan institusi-institusi sosial merupakan bangunan atas atau bagian-bagiannya. Bagi Marx, ciri yang paling menentukan semua bentuk aktivitas produksi atau ekonomi sampai sekarang adalah pemisahan antara para pemilik dan pekerja. Dengan demikian, Marx membagi masyarakat ke dalam dua 41 Karl Marx lahir pada tahun 1818. Pada tahun 1836, ia masuk Universitas Berlin dan mendapat gelar doctor dengan disertasinya tentang Demokritos dan Epikuros. Pada periode 1843- 1844, Karl Marx menjadi sosialis dan membangun kerja sama dengan Frederich Engels dan mempelajari teori ekonomi. Salah satu Opus Magnum yang terkenal dalam sejarah pemikirannya adalah Das Kapital. (Bdk.. Anthony Brewer, Kajian Kritis Das Kapital Marx, penterj. Joebaar Ajoeb (Jakarta: TePLOK PRESS, 2000), pp. 4-5. 27
  • 20.
    kelas yakni pemilikmodal dan kelas pekerja, yang saling membedakan diri satu sama lain berdasarkan kedudukan dan fungsi masing-masing dalam proses produksi. Pada umumnya yang lebih berkuasa dalam masyarakat adalah pemilik modal atau kelas penguasa, sedangkan kelas pekerja adalah mereka yang tidak memiliki modal, kelas yang menjadi objek dari penguasa. Realitas ini menunjukkan bahwa kelas pemilik modal bertindak sewenang-wenang terhadap individu atau kelompok yang lemah (tidak bermodal). Ini menunjukkan bahwa dalam tatanan sosial ada pertarungan dan persaingan antara kelompok-kelompok manusia. Persaingan ini bisa menimbulkan permusuhan yang fatal. Ada kegoncangan-kegoncangan dan revolusi dalam kehidupan sosial. Perjuangan menjadi pertentangan antara kelas-kelas yang berkuasa dan yang dikuasai. Setiap kelas akan mempertahan dominasi kedudukannya. Marx menyimpulkan bahwa struktur kekuasaan seperti ini tidak akan berakhir melainkan tetap dipertahankan dalam tatanan sosial. Namun, pandangan Marx sangat kontradiktif dengan konsep kekuasaan Foucault. Foucault melihat bahwa gagasan kekuasaan Marx sangat kuat dengan perspektif makrostruktur. Foucault tidak membatasi dirinya dengan masalah ekonomis, tetapi ia lebih menitikberatkan pada lembaga sosial. Bagi Foucault, kuasa bukan menjadi milik individu ataupun kelompok tertentu, melainkan menyebar. Kuasa itu terletak di mana-mana (omnipresent), tidak bisa dimiliki dan selalu ada dalam suatu matriks hubungan dengan kuasa yang lain. Foucault tertarik dengan kuasa yang bersifat mikrostruktur yang menekankan teknik- teknik koersif minor. Dengan demikian, kuasa bukan saja bersifat negatif, melainkan bersifat produktif karena dapat menghasilkan suatu pengetahuan dalam jejaringan relasi yang dibangun. 2.7 METODE FILSAFAT MICHEL FOUCAULT Gagasan segar Nietszche diatas, kemudian dipikirkan kembali dan diperluas secara metodologis oleh Foucault yaitu dengan apa yang disebutnya arkeologi dan genealogi. Kedua metode ini adalah pendekatan yang bertujuan 28
  • 21.
    untuk melakukan pembongkaranterhadap mitos dalam sebuah sistem pengetahuan. 2.6.1 Metode Arkeologi Arkeologi adalah pendekatan yang Foucault lakukan hingga 1970. Ia mendefinisikan arkeologi42 sebagai eksplorasi sejumlah kondisi historis nyata dan spesifik di mana berbagai pernyataan dikombinasikan dan diatur untuk membentuk atau mendefinisikan suatu bidang pengetahuan/obyek yang terpisah serta mensyaratkan adanya seperangkat konsep tertentu dan menghapus batas rezim kedalaman tertentu.43 Arkeologi menekankan penggalian (excavation) masa lalu di tempat tertentu. Foucault berusaha mencari jejak-jejak yang ditinggalkan dari sebuah ritus atau monumen diskursif. Baginya setiap obyek historis yang berubah, tidak boleh ditafsirkan dalam perpektif yang sama. Dalam hal ini, diskursus senantiasa bersifat diskontinu. Pemahaman ini dibuktikan lewat kenyataan bahwa selalu saja terjadi keterputusan historis, antara bagaimana suatu obyek di konseptualisasikan dan dipahami. Selalu saja ada jarak dalam menafsirkan obyek. Kajian teoretik mengenai arkeologi Foucault terletak pada dua karyanya yaitu Les mots et les choses (The Order of Things) (1966) dan L’archaeologie du savoir (Archaeology of Knowledge) (1969). Dalam Les mots, Foucault memperkenalkan istilah episteme yang merujuk kepada pengandaian, prinsip, kemungkinan dan cara pendekatan tertentu yang dimiliki setiap zaman dan membentuk suatu sistem yang kokoh. Episteme bekerja secara sembunyi, menelusup dalam pemikiran, pengamatan dan pembicaraan yang muncul secara nirsadar. Sangat wajar jika perspektif ini banyak dilihat orang sebagai kecenderungan strukturalis. Dalam buku L’archaeologie du savoir, tema mencolok yang dipaparkan Foucault adalah diskontinuitas dalam sejarah. Dahulu, sejarah dipaparkan sebagai yang menekankan kontinuitas di mana sesuatu berjalan secara linier dan evolutif. Sekarang, tugas sejarah justru sebaliknya yaitu 42 Arkeologi adalah ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya seperti patung dan perkakas rumah tangga; ilmu purbakala. Bdk. Dendy Sugono, Op.Cit., p. 86. 43 Chris Barker, Culture Studies (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), pp., 146-147. 29
  • 22.
    memaparkan diskontinuitas. Jikakita membaca “kesatuan”, maka seharusnya dibaca sebagai “ditafsirkan sebagai kesatuan”. Jadi setiap pemikiran atau fakta sejarah harus dimengerti sebagai kumpulan pernyataan, yang berpangkal pada titik intensi pengarang yang melahirkan pernyataan tersebut. Karena itu, dalam obyek penelitiannya, Foucault lebih suka berbicara mengenai “bentuk diskursif” dari pada tentang ilmu, teori dan sebagainya. Untuk itu yang harus dilihat adalah aturan-aturan mana yang menguasai terbentuknya obyek diskursif itu.44 Sebagai contoh adalah kajiannya tentang sejarah kegilaan.45 Karya ini berbicara tentang eksklusi kegilaan dari cakupan hal-hal yang bersifat rasional yang ada dalam sejarah psikiatri, dan ternyata kemudian berfungsi untuk mengokohkan rasionalisme barat. Rasio sudah sangat monologal (bersifat individu dan satu), sehingga melihat kegilaan sebagai obyek yang mesti disisihkan dan dibersihkan dari subyek rasional, yaitu dengan mencampakkannya sebagai penyakit mental. Padahal pada hakekatnya, kegilaan bersifat komplementer terhadap rasio. Dalam studi ini, Foucault membedakan tiga zaman perjumpaan kegilaan dan rasio, yaitu masa renaissance, klasik (abad 17) dan modern (abad 18). Pada masa renaissance, terdapat dialog antara kegilaan dan rasio, karena kegilaan masih dianggap menyimpan unsur kebenaran. Masa klasik, ilmu psikiatri mulai muncul dan memandang kegilaan sebagai hal yang harus disisihkan dari wilayah rasio. Untuk menanganinya maka di Perancis dan juga Inggris didirikan tempat pengurungan bagi kegilaan dan juga tempat terapi bagi penyembuhannya. Pada akhirnya di zaman modern, psikiatri benar-benar berkuasa dan kedua praktik eksklusi ini sepakat mengeluarkan kegilaan sama-sekali dari wilayah rasio. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kegilaan setiap zaman senantiasa berbeda. Hasil pengamatan Foucault tentang kegilaan menunjukkan bahwa adanya perubahan konsep tentang kegilaan, sehingga kegilaan itu dikelompokkan dalam tiga massa seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian bahwa pandangan tentang kegilaan dari masa ke masa itu selalu berubah. 2.7.2 Metode Genealogi 44 K. Bertens, Filsafat Barat XX Jilid II Prancis, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), p. 313 45 Michel Foucault, Kegilaan dan Peradaban, Op. Cit., p. 47. 30
  • 23.
    Pendekatan metodologis yangkedua adalah genealogi46 , yang mulai dikembangkannya sejak ia memberi mata kuliah tentang Nietzsche di Universitas Vincennes pada 1969.47 Istilah genealogi yang digunakan Foucault yang dikembangkan dalam Discipline and Punish, tentu saja mengingatkan kita kepada konsep genealogi Nietzsche dalam The Birth of Tragedy and Genealogy Morals. Nietszche mendefinisikan genealogi sebagai antitesa kecenderungan pencarian asal-usul yang bersifat alpha-omega, dengan kata lain Nietszche menolak obyektivitas dan monopoli versi kebenaran.48 Pendefinisian Nietzsche diatas kemudian diambil alih oleh Foucault untuk menunjukkan relasi kontinuitas-diskontiuntitas dalam sebuah diskursus. Jadi dalam hal ini, genealogi mengambil bentuk berupa pencarian kontinuitas dan diskontinuitas dari diskursus. Genealogi tidak mencari asal-usul, melainkan menelusuri awal dari pembentukan diskursus yang dapat terjadi kapan saja. Foucault dalam kerangka metodologis ini tidak menggunakan verstehen (pemahaman) melainkan destruksi dan pembongkaran hubungan-hubungan historis yang disangka ada antara sejarahwan dengan obyeknya. Jika dalam arkeologi, proyek metodologi diarahkan untuk menggali situs lokal praktik diskursif, maka genealogi beranjak lebih jauh yaitu untuk menelaah bagaimana diskursus berkembang dan dimainkan dalam kondisi historis yang spesifik dan tak dapat direduksi melalui operasi kekuasaan.49 Dengan demikian tanpa disadari kekuasaan menelusup dalam setiap ruang. Pada titik inilah Foucault memperluas obyek samar “kuasa” yang ditinggalkan Nietszche dan menjadikannya tema terpenting bagi pemikirannya kemudian. Genealogi diarahkan Foucault untuk menganalisa strategi kuasa yang berbelit-belit, yang harus dipahami dari dalam lewat aturan, nilai yang berlaku bahkan juga tutur kata dan kebiasaan. Sebagai contoh kajian genealogis ini adalah kajian Foucault mengenai penjara, sekolah dan rumah sakit yang menunjukkan beroperasinya kekuasaan 46 Genealogi adalah ilmu yang mempelajari tentang garis keturunan atau sejarah manusia dalam hubungan keluarga sedarah; garis pertumbuhan bintang (tumbuhan, bahasa, dsb) dari bentuk-bentuk sebelumnya. Bdk. Dendy Sugono, Op.Cit., p. 439. 47 K. Bertens, Op, Cit., p. 318. 48 W.F Nietszche, Genealogi Moral (terjemahan Indonesia dari The Birth of Tragedy and Geneanology Morals), (Yogyakarta: Jalasutra, 2001), p. 18. 49 Chris Barker, Op. Cit., p. 148. 31
  • 24.
    dan disiplin dalampembentukan atau penggunaan pengetahuan, termasuk konstruksi subyek sebagai efek diskursus. Dalam Discipline and Punish (1975), Foucault menggambarkan bagaimana strategi khusus kuasa menjaga dan menghukum muncul sebagai fenomena Eropa abad ke-18. Ia melihat parade- parade militer, pedoman tata-tertib sekolah, cara membangun panopticum (sejenis penjara), rumah sakit dan tangsi adalah cara-cara untuk mengatasi sisi gelap abad pencerahan, yaitu biara dan kastel tua, puisi romantik yang dinilai bercita-rasa gelap dan kabur. Kekuatan masa modern, jelas tidak menyukai hal itu, sehingga mitologi tersebut harus didisiplinkan dengan cara yang baru.50 Genealogi adalah sejarah kebenaran. Tentu saja sejarah kebenaran ini masih berada dalam konteks kebenaran sebagai suatu diskursus. Jadi yang ditelusuri dalam genealogi adalah bagaimana suatu wacana atau diskursus diterima dan dipraktikkan oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain dia menelusuri bagaimana kebenaran suatu diskursus dianggap sebagai sesuatu yang natural. Yang juga menjadi perhatian dalam genealogi adalah bagaimana sebuah pengetahuan atau wacana menjadi bagian integral dari cara berkuasa dan menguasai yang kemudian dari sana melahirkan “kehendak untuk menjadi benar”.51 Kehendak untuk menjadi benar ini terekam dalam suatu teks atau dalam bahasa Foucault disebut sebagai jaringan scientifico-legal. Dari scientifico-legal inilah kebenaran dalam suatu wacana memperoleh kekuatannya, yaitu kekuatan untuk menghukum, melegitimasi dan mendelegitimasi praktik-praktik tertentu. Oleh karena itu Foucault mengatakan bahwa genealogi berupaya mencari, “the present scientifico-legal complex from which the power to punish derives its bases, justification and rules, from which it extends its effect and by which it masks its exorbitant singularity”52 (pengetahuan ilmiah sekarang sangat kompleks yang mana kuasa untuk memperoleh hukum merupakan basis keadilan dan aturan, yang mana dari perluasan ini adalah pengaruh atau dampak yang dapat 50 Michel Foucault, Discipline and Punish, Op. Cit., p. 27. 51 Ahmad, Baso, Islam Pasca‐Kolonial; Perselingkuhan Agama, Liberalisme, dan Kolonialisme (Bandung: Mizan, 2004), p. 39. 52 Michel Foucault, Discipline and Punish;….., Op. Cit., p. 23. 32
  • 25.
    menyembunyikan keistimewaan secaraluas). Tetapi karena bukan hanya pengetahuan merupakan suatu bentuk strategi kuasa melainkan pada saat yang sama relasi kuasa juga menghasilkan pengetahuan maka genealogi juga berurusan dengan sejarah. Dia mencari bagaimana suatu scientifico-legal mendapatkan kuasanya dan relasi-relasi kuasa apa yang memungkinkan scientifico-legal tersebut hadir. Oleh karena itu genealogi pada saat yang sama menolak asumsi yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk kemajuan. 33