1
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN DIAGNOSA
MEDIS CVA INFARK DI RUANG ICU RUMAH SAKIT
SUDIRAN MANGUN SUMARSO
BAB I Perspektif Kasus
1. Definisi
CVA (Cerebro Vascular Accident) merupakan kelainan fungsi otak
yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan
peredaran darah otak yang dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja
dengan gejala-gejala berlangsung selama 24 jam atau lebih yang
menyebabakan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan
bicara, proses berpikir, daya ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain
hingga menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008:234).
CVA Infark adalah sindrom klinik yang awal timbulnya mendadak,
progresif cepat, berupa defisit neurologi fokal atau global yang
berlangsung 24 jam terjadi karena trombositosis dan emboli yang
menyebabkan penyumbatan yang bisa terjadi di sepanjang jalur
pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh
dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini
merupakan cabang dari lengkung aorta jantung (arcus aorta) (Suzanne,
2002: 2131)
2. Etiologi
Beberapa penyebab CVA infark (Muttaqin, 2008: 235)
a. Trombosis serebri
2
Terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan edema
dan kongesti disekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua
yang sedang tidur atau bangun tidur. Terjadi karena penurunan
aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah. Trombosis serebri ini
disebabkan karena adanya:
1) Aterosklerostis: mengerasnya/berkurangnya kelenturan dan
elastisitas dinding pembuluh darah.
2) Hiperkoagulasi: darah yang bertambah kental yang akan
menyebabkan viskositas hematokrit meningkat sehingga dapat
melambatkan aliran darah cerebral
3) Arteritis: radang pada arteri
b. Emboli
Dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluhan darah
otak oleh bekuan darah, lemak, dan udara. Biasanya emboli berasal
dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri
serebri. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan emboli:
1) Penyakit jantung, reumatik
2) Infark miokardium
3) Fibrilasi dan keadaan aritmia : dapat membentuk gumpalan-
gumpalan kecil yang dapat menyebabkan emboli cerebri
4) Endokarditis : menyebabkan gangguan pada endokardium
3. Manisfestasi klinis
Menurut Hudak dan Gallo dalam buku keperawatn Kritis (1996: 258-
260), yaitu:
a. Lobus Frontal
1) Deficit Kognitif: kehilangan memori, rentang perhatian singkat,
peningkatan distraktibilitas (mudah buyar), penilaian buruk, tidak
mampu menghitung, memberi alasan atau berpikir abstrak.
3
2) Deficit Motorik: hemiparese, hemiplegia, distria (kerusakan otot-
otot bicara), disfagia (kerusakan otot-otot menelan).
3) Defici aktivitas mental dan psikologi antara lain: labilitas
emosional, kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial,
penurunan toleransi terhadap stres, ketakutan, permusuhan
frustasi, marah, kekacuan mental dan keputusasaan, menarik diri,
isolasi, depresi.
b. Lobus Parietal
1) Dominan
a) Defisit sensori antara lain defisit visual (jarak visual terpotong
sebagian besar pada hemisfer serebri), hilangnya respon
terhadap sensasi superfisial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas
dan dingin), hilangnya respon terhadap proprioresepsi
(pengetahuan tentang posisi bagian tubuh).
b) Defisit bahasa/komunikasi
-Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi
pola-pola bicara yang dapat dipahami)
-Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata yang
diucapkan)
-Afasia global (tidak mampu berkomunikasi pada setiap
tingkat)
-Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang
dituliskan)
-Agrafasia (ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide-ide
dalam tulisan).
2) Non Dominan
-Defisit perseptual (gangguan dalam merasakan dengan tepat
dan menginterpretasi diri/lingkungan) antara lain:
-Gangguan skem/maksud tubuh (amnesia atau menyangkal
terhadap ekstremitas yang mengalami paralise)
4
-Disorientasi (waktu, tempat dan orang)
-Apraksia (kehilangan kemampuan untuk menggunakan objek-
objak dengan tepat)
-Agnosia (ketidakmampuan untuk mengidentifikasi
lingkungan melalui indra)
-Kelainan dalam menemukan letak obyek dalam ruangan
-Kerusakan memori untuk mengingat letak spasial obyek atau
tempat
-Disorientasi kanan kiri
c. Lobus Occipital: defisit lapang penglihatan penurunan ketajaman
penglihatan, diplobia(penglihatan ganda), buta.
d. Lobus Temporal: defisit pendengaran, gangguan keseimbangan
tubuh.
4. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi CVA infark (Muttaqin, 2008: 253)
a. Dalam hal imobilisasi:
Infeksi pernafasan (Pneumoni), nyeri tekan pada decubitus,
Konstipasi
b. Dalam hal paralisis:
Nyeri pada punggung,Dislokasi sendi, deformitas
c. Dalam hal kerusakan otak:
Epilepsy, Sakit kepala
d. Hipoksia serebral
e. Herniasi otak
5. Patofisiologi
a. Klasifikasi ( Arief Mansoer, dkk, 2000) berdasarkan Klinik
1) Stroke Hemoragik (SH)
5
Stroke yang terjadi karena perdarahan Sub arachnoid, mungkin
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah
tertentu, biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas atau saat
aktif. Namun bisa juga terjadi saat istirahat, kesadaran pasien
umumnya menurun.
2) Stroke Non Hemoragik (SNH)
Dapat berupa iskemia, emboli dan trombosis serebral, biasanya
terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau dipagi
hari. Tidak terjadi iskemi yang menyebabkan hipoksia dan
selanjutnya dapat timbul edema sekunder, kesadaran pasien
umumnya baik.
b. Berdasarkan Perjalanan Penyakit
1) Trancient Iskemik Attack (TIA) atau serangan iskemik sepintas
merupakan gangguan neurologis fokal yang timbul mendadak dan
hilang dalam beberapa menit (durasi rata-rata 10 menit) sampai
beberapa jam (24 jam)
2) Stroke Involution atau Progresif
Adalah perjalanan penyakit stroke berlangsung perlahan meskipun
akut. Munculnya gejala makin bertambah buruk, proses progresif
beberapa jam sampai beberapa hari.
3) Stroke Complete
Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen,
maksimal sejak awal serangan dan sedikit memperlihatkan
parbaikan dapat didahului dengan TIA yang berulang.
6
Pathways
7
6. Penatalaksanaan
Pemeriksaan penunjang pada pasien CVA infark:
a. Laboratorium :
b. Pada pemeriksaan paket stroke: Viskositas darah pada apsien CVA
ada peningkatan VD > 5,1 cp, Test Agresi Trombosit (TAT), Asam
Arachidonic (AA), Platelet Activating Factor (PAF), fibrinogen
(Muttaqin, 2008: 249-252)
c. Analisis laboratorium standar mencakup urinalisis, HDL pasien CVA
infark mengalami penurunan HDL dibawah nilai normal 60 mg/dl,
Laju endap darah (LED) pada pasien CVA bertujuan mengukur
kecepatan sel darah merah mengendap dalam tabung darah LED yang
tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan
apakah itu radang jangka lama, misalnya artritis, panel metabolic dasar
(Natrium (135-145 nMol/L), kalium (3,6- 5,0 mMol/l), klorida,)
(Prince, dkk ,2005:1122)
d. Pemeriksaan sinar X toraks: dapat mendeteksi pembesaran jantung
(kardiomegali) dan infiltrate paru yang berkaitan dengan gagal
jantung kongestif (Prince,dkk,2005:1122)
e. Ultrasonografi (USG) karaois: evaluasi standard untuk mendeteksi
gangguan aliran darah karotis dan kemungkinan memmperbaiki kausa
stroke (Prince, dkk, 2005:1122).
f. Angiografi serebrum: membantu menentukan penyebab dari stroke
secara Spesifik seperti lesi ulseratrif, stenosis, displosia
fibraomuskular, fistula arteriovena, vaskulitis dan pembentukan
thrombus di pembuluh besar (Prince, dkk, 2005:1122).
g. Pemindaian dengan Positron Emission Tomography (PET):
mengidentifikasi seberapa besar suatu daerah di otak menerima dan
memetabolisme glukosa serta luas cedera (Prince, dkk ,2005:1122)
8
h. Ekokardiogram transesofagus (TEE): mendeteksi sumber
kardioembolus potensial (Prince, dkk, 2005:1123).
i. CT scan: pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema,
posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan
hiperdens fokal, kadang pemadatan terlihat di ventrikel atau menyebar
ke permukaan otak (Muttaqin, 2008:140).
j. MRI: menggunakan gelombang magnetik untuk memeriksa posisi dan
besar / luasnya daerah infark (Muttaqin, 2008:140).
Penatalaksanaan medis :
Ada bebrapa penatalaksanaan pada pasien dengan CVA infark (Muttaqin,
2008:14):
a. Untuk mengobati keadaan akut, berusaha menstabilkan TTV dengan :
1) Mempertahankan saluran nafas yang paten
2) Kontrol tekanan darah
3) Merawat kandung kemih, tidak memakai keteter
4) Posisi yang tepat, posisi diubah tiap 2 jam, latihan gerak pasif.
b. Terapi Konservatif
1) Vasodilator untuk meningkatkan aliran serebral
2) Anti agregasi trombolis: aspirin untuk menghambat reaksi
pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi
alteroma.
3) Anti koagulan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya
trombosisiatau embolisasi dari tempat lain ke sistem
kardiovaskuler.
4) Bila terjadi peningkatan TIK, hal yang dilakukan:
c. Hiperventilasi dengan ventilator sehingga PaCO2 30-35 mmHg
d. Osmoterapi antara lain:
9
Infus manitol 20% 100 ml atau 0,25-0,5 g/kg BB/ kali dalam waktu
15-30 menit, 4-6 kali/hari.
Infus gliserol 10% 250 ml dalam waktu 1 jam, 4 kali/hari
e. Posisi kepala head up (15-30⁰)
f. Menghindari mengejan pada BAB
g. Hindari batuk
h. Meminimalkan lingkungan yang panas
BAB II Resume Kasus
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama Klien : Ny. S
Alamat : Gunungsari Jatisrono
Umur : 73 thn
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Tgl/Jam masuk RS : 20 Juni 2015 pukul 20. 00
Tgl dan waktu kajian : 21 Juni 2015 pukul 14.00
Metode pengkajian : Tanya jawab
Diagnosa Medis : CVA Infark
10
No. Registrasi : 502753
2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan utama : Nyeri Kepala
b. Riwayat masuk rumah sakit
Keluarga mengatakan klien belum pernah masuk rumah sakit
c. Riwayat Kesehatan sekarang
Sudah empat hari kepala pusing , tengkuk terasa kaku, klien berobat
di Rumah Sakit Amal sehat, disuruh opname, setelah 2 hari klien
dirujuk ke Rumah Sakit Sudiran Mangun Sumarso
3. Data Fokus
a. Breathing
Pergerakan dada simetris, tidak ada nyeri tekan, bunyi napas
bronkovesikuler, tidak terdengar bunyi tambahan seperti Wheezing atau
ronchi, bunyi resonan pada paru.
b. Blood
Terjad peningkatanTekananDarahdisertai denganpelebarannadi dan
penurunanjumlahnadi.
c. Brain
sakitkepalahebat,danada penurunankesadaran,pupil normal nilai 2
d. Blader
tidak ada tanda tanda inkontinensia urine
e. Bowel
tidak ada tanda tanda inkontinensia alfi
11
4. Data Tambahan
Tanda-tanda vital :
- Tekanan darah : 136/64 mmhg
- Nadi : 80x/menit
- Frekuensi : 92x/menit
- Irama : teratur
- Kekuatan : baik
- Pernapasan : 18x/ menit
- Irama : teratur
- Suhu : 37°C
Hari/Tgl
/Jam
Jenis Pemeriksaan
Nilai
normal
Satuan Hasil
Ket
hasil
senin/21-
06-
15/10.00
Asam urat
Colesterol tot
Trigliserid
HDL colest
LDL colest
Glukosa sewaktu
Ureum
Creatinine
SGOT
SGPT
2.4-5.7
50-200
50-200
>45
<190
<170
10-50
0.5-0.9
<31
<32
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
u/l
u/l
6.50
116
99
25
71.2
182
22
0.9
26
9
12
5. Pemeriksaan Diagostik
a. Dilakukan pemeriksaan CT scan dengan hasil didapatkan hiperdens fokal,
pemadatan terlihat di ventrikel menyebar ke permukaan otak .
7. Terapi
Hari/tanggal/jam Jenis Terapi Dosis
Golongan &
Kandungan
Fungsi &
Garmakologi
senin/21-06-
15/12.00
Cairan IV
Manitol
Obat Parenteral
Bralin
Somerol
Antalgin
Ranitidin
Obat oral
Aspilet
125 ml
4x1 gr
2x12 mg
3x1 amp
2x1 amp
1x1 mg
13
B. Analisa Data
Nama : Ny. S No. CM : 502753
Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark
N
o
Hari/Tgl/jam Data Fokus Problem Etilogi Ttd
1 Senin/21-06-
15/15.00
DS : -
DO : Kesadaran
Samnolent
Tensi 130/64
Ketidakefektifan
perfusi jaringan
otak
Gangguan
aliran arteri
2 Senin/21-06-
15/15.00
DS : -
DO : terpasang sonde
Di lubang hidung
kanan
Gangguan
menelan
Penurunan
fungsi
nerfus
vagus
C. Diagnosa Keperawatan
Muncul dua diagnosa keperawatn dalam asuhan keparawatan Ny.S yaitu :
1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
gangguan aliran arteri
2. Gangguan menelan berhubungan dengan penurunan fungsi nerfus vagus
14
D. Intervensi Keperawatan
Nama : Ny. S No. CM : 502753
Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark
Hari/Tgl No.
Dx
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Ttd
Senin/21-
06-2015
Jam 1500
2 NOC : Status menelan fase
esophagus;penyaluran cairan
atau partikel padat dari faring
kelambung
Tujuan dan kriteria hasil
 Kemampuan menelan
adekuat
 Dapat mentoleransi
ingesti makanan tanpa
tersedak
 Tidak ada kerusakan
otot tenggorok untuk
menelan dan
menggerakkan lidah
atau reflek muntah
 Tidak terjadi
gangguan neurologis
NIC : Aspirasi Precaution
 Memantau tingat
kesadaran, reflek
batuk, reflek muntah,
dan kemapuan
menelan
 Memonitor status
paru untuk menjaga
dan
mempertahankan
jalan nafas
 Berikan makanan
atau minuman lewat
sonde dalam keadaan
hangat
 Monitor tanda dan
gejala aspirasi
 Hindari cairan yang
kental
15
Senin
21-6-15
Jam 1600
1 NOC : Cirkulation sta
tus.
Tissue Prefusion
Cerebral
Tujuan dan kriteria
hasil:
 Tekanan systole
dan diastole
dalam rentang
yang
diharapkan
 Tidak ada
ortostatik
hipertensi
 Tidak ada
tanda-tanda
peningkatan
intrakranial
NIC : Manajemen sensasi perife
 Monitor adanya paretese
 Batasi gerakan pada kepala,
leher dan punggung
 Monitor kemampuan bab
 Monitor adanya
tromboplebitis
 Kolaborasi pemberian
analgetik
E. Implementasi Keperawatan
Nama : Ny. S No. CM : 502753
Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark
Hari/Tgl/jam No Dx Implementasi Respon Ttd
Senin/21-06-
15/17.00
2 - Memantau tingat
kesadaran, reflek batuk,
reflek muntah, dan
kemapuan menelan
S : -
O : masih terpasang NGT
16
Senin/21-06-
15/17.10
2 - Memonitor status paru
untuk menjaga dan
mempertahankan jalan
nafas
S : -
O : tidak ada wheezing
Senin/21-06-
15/17.20
2 - Berikan makanan atau
minuman lewat sonde
dalam keadaan hangat
S : -
O : makanan dapat masuk
semua lewat sonde
Senin/21-06-
15/17.50
2 - Monitor tanda dan gejala
aspirasi
S : -
O : tidak ada wheezing
Senin/21-06-
15/18.10
2 - Monitor lingkar lengan S : -
O : BB : 60 kg
Senin/21-06-
15/18.20
2 - Monitor hidrasi tubuh
(intake, out put, turgor
kulit, membrane mukosa)
S : -
O : turgor baik, mukosa
lembab
Senin/21-06-
15/18.30
2 Bantu untuk
mempertahankan intake
kalori dan cairan
S : -
O : turgor baik, mukosa
lembab
Senin/21-06-
15/18.45
2 - Tentukan factor
penyebab
S :-
O : perfusi jaringan
Senin/21-06-
15/18.45
2 - Monitor status neurologi S : -
O : kesadaran samnolent
Senin/21-06-
15/17.00
2 - Monitor vital sign S :
O : Tensi 130/90, respirasi
17
18x/menit, nadi 80x/menit
Suhu 370c
Senin/21-06-
15/17.10
2 - Auskultasi denyut
jantung dan irama, serta
adanya mur mur
S :
O :Denyut jantung teraba
Tidak ada bunyi tamba-
han
Senin/21-06-
15/17.20
2 - Amati respirasi, bentuk
dan irama seperti cheyne
stroke
-
S :
O :Jalan napas tidak ada
Sumbatan.
Napas adekuat 18x/mnt
Senin/21-06-
15/18.45
2 - Evaluasi pupil, amati
ukuran, ketajaman dan
reaksi terhadap cahaya
-
S :
O : Reaksi pupil +
Besar pupil 2
Senin
21-6-2015
Jam 1730
2 - Pertahankan istirahat di
tempat tidur, beri
lingkungan yang tenang,
batasi pengunjung dan
aktivitas sesuai dengan
indikasi
S : -
O : Pasien dijenguk anak
Dan keluarganya
Senin/21-06-
15/17.50
2 - Kaji adanya kaku kuduk,
kelelahan, iritabilitas, dan
onset kejang
S : -
O : Pasien tidak kejang
Tidak ada iritasi kulit
Dipantat
Senin 21-06-
15/ 16.00
1 - Monitor adanya paretese S : -
O : Klien tidak dapat
bergerak
18
- Batasi gerakan pada
kepala, leher dan
punggung
- Monitor kemampuan bab
- Monitor adanya
tromboplebitis
- Kolaborasi pemberian
analgetik
S : -
O : klien tidak dapat
menggerakan kepala, leher
dan punggung
S : -
O : Klien mampu
melakukan BAB tanpa obat
pencahar
S : -
O : tempat pemasangan
infuse tidak mengalami
pembengkakan
S : -
O : Antalgin
Ranitidin
Aspilet
F. EVALUASI
Nama : Ny. S No. CM : 502753
Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark
19
NO
DX
Hari/tgl/jam Evaluasi Ttd
1
2
Senin
21-6-2015
Jam 17.00
Senin21-6-
2015
S : -
O : PasienKesadaranmenurun(Samnolentt)
Tensi 130/90
RRi18x/menit, nadi 80x/menit Suhu 370c
A : Masalah belum teratasi
P : Rencana dilanjutkan
S : K
O : tidak
A : Masalah belum teratasi
P : Rencana dilanjutkan

Askep cva

  • 1.
    1 ASUHAN KEPERAWATAN PADANY. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA INFARK DI RUANG ICU RUMAH SAKIT SUDIRAN MANGUN SUMARSO BAB I Perspektif Kasus 1. Definisi CVA (Cerebro Vascular Accident) merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak yang dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja dengan gejala-gejala berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabakan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir, daya ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain hingga menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008:234). CVA Infark adalah sindrom klinik yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat, berupa defisit neurologi fokal atau global yang berlangsung 24 jam terjadi karena trombositosis dan emboli yang menyebabkan penyumbatan yang bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung (arcus aorta) (Suzanne, 2002: 2131) 2. Etiologi Beberapa penyebab CVA infark (Muttaqin, 2008: 235) a. Trombosis serebri
  • 2.
    2 Terjadi pada pembuluhdarah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti disekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah. Trombosis serebri ini disebabkan karena adanya: 1) Aterosklerostis: mengerasnya/berkurangnya kelenturan dan elastisitas dinding pembuluh darah. 2) Hiperkoagulasi: darah yang bertambah kental yang akan menyebabkan viskositas hematokrit meningkat sehingga dapat melambatkan aliran darah cerebral 3) Arteritis: radang pada arteri b. Emboli Dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluhan darah otak oleh bekuan darah, lemak, dan udara. Biasanya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebri. Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan emboli: 1) Penyakit jantung, reumatik 2) Infark miokardium 3) Fibrilasi dan keadaan aritmia : dapat membentuk gumpalan- gumpalan kecil yang dapat menyebabkan emboli cerebri 4) Endokarditis : menyebabkan gangguan pada endokardium 3. Manisfestasi klinis Menurut Hudak dan Gallo dalam buku keperawatn Kritis (1996: 258- 260), yaitu: a. Lobus Frontal 1) Deficit Kognitif: kehilangan memori, rentang perhatian singkat, peningkatan distraktibilitas (mudah buyar), penilaian buruk, tidak mampu menghitung, memberi alasan atau berpikir abstrak.
  • 3.
    3 2) Deficit Motorik:hemiparese, hemiplegia, distria (kerusakan otot- otot bicara), disfagia (kerusakan otot-otot menelan). 3) Defici aktivitas mental dan psikologi antara lain: labilitas emosional, kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial, penurunan toleransi terhadap stres, ketakutan, permusuhan frustasi, marah, kekacuan mental dan keputusasaan, menarik diri, isolasi, depresi. b. Lobus Parietal 1) Dominan a) Defisit sensori antara lain defisit visual (jarak visual terpotong sebagian besar pada hemisfer serebri), hilangnya respon terhadap sensasi superfisial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas dan dingin), hilangnya respon terhadap proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh). b) Defisit bahasa/komunikasi -Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi pola-pola bicara yang dapat dipahami) -Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata yang diucapkan) -Afasia global (tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat) -Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang dituliskan) -Agrafasia (ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide-ide dalam tulisan). 2) Non Dominan -Defisit perseptual (gangguan dalam merasakan dengan tepat dan menginterpretasi diri/lingkungan) antara lain: -Gangguan skem/maksud tubuh (amnesia atau menyangkal terhadap ekstremitas yang mengalami paralise)
  • 4.
    4 -Disorientasi (waktu, tempatdan orang) -Apraksia (kehilangan kemampuan untuk menggunakan objek- objak dengan tepat) -Agnosia (ketidakmampuan untuk mengidentifikasi lingkungan melalui indra) -Kelainan dalam menemukan letak obyek dalam ruangan -Kerusakan memori untuk mengingat letak spasial obyek atau tempat -Disorientasi kanan kiri c. Lobus Occipital: defisit lapang penglihatan penurunan ketajaman penglihatan, diplobia(penglihatan ganda), buta. d. Lobus Temporal: defisit pendengaran, gangguan keseimbangan tubuh. 4. Komplikasi Ada beberapa komplikasi CVA infark (Muttaqin, 2008: 253) a. Dalam hal imobilisasi: Infeksi pernafasan (Pneumoni), nyeri tekan pada decubitus, Konstipasi b. Dalam hal paralisis: Nyeri pada punggung,Dislokasi sendi, deformitas c. Dalam hal kerusakan otak: Epilepsy, Sakit kepala d. Hipoksia serebral e. Herniasi otak 5. Patofisiologi a. Klasifikasi ( Arief Mansoer, dkk, 2000) berdasarkan Klinik 1) Stroke Hemoragik (SH)
  • 5.
    5 Stroke yang terjadikarena perdarahan Sub arachnoid, mungkin disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu, biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas atau saat aktif. Namun bisa juga terjadi saat istirahat, kesadaran pasien umumnya menurun. 2) Stroke Non Hemoragik (SNH) Dapat berupa iskemia, emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau dipagi hari. Tidak terjadi iskemi yang menyebabkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder, kesadaran pasien umumnya baik. b. Berdasarkan Perjalanan Penyakit 1) Trancient Iskemik Attack (TIA) atau serangan iskemik sepintas merupakan gangguan neurologis fokal yang timbul mendadak dan hilang dalam beberapa menit (durasi rata-rata 10 menit) sampai beberapa jam (24 jam) 2) Stroke Involution atau Progresif Adalah perjalanan penyakit stroke berlangsung perlahan meskipun akut. Munculnya gejala makin bertambah buruk, proses progresif beberapa jam sampai beberapa hari. 3) Stroke Complete Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen, maksimal sejak awal serangan dan sedikit memperlihatkan parbaikan dapat didahului dengan TIA yang berulang.
  • 6.
  • 7.
    7 6. Penatalaksanaan Pemeriksaan penunjangpada pasien CVA infark: a. Laboratorium : b. Pada pemeriksaan paket stroke: Viskositas darah pada apsien CVA ada peningkatan VD > 5,1 cp, Test Agresi Trombosit (TAT), Asam Arachidonic (AA), Platelet Activating Factor (PAF), fibrinogen (Muttaqin, 2008: 249-252) c. Analisis laboratorium standar mencakup urinalisis, HDL pasien CVA infark mengalami penurunan HDL dibawah nilai normal 60 mg/dl, Laju endap darah (LED) pada pasien CVA bertujuan mengukur kecepatan sel darah merah mengendap dalam tabung darah LED yang tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan apakah itu radang jangka lama, misalnya artritis, panel metabolic dasar (Natrium (135-145 nMol/L), kalium (3,6- 5,0 mMol/l), klorida,) (Prince, dkk ,2005:1122) d. Pemeriksaan sinar X toraks: dapat mendeteksi pembesaran jantung (kardiomegali) dan infiltrate paru yang berkaitan dengan gagal jantung kongestif (Prince,dkk,2005:1122) e. Ultrasonografi (USG) karaois: evaluasi standard untuk mendeteksi gangguan aliran darah karotis dan kemungkinan memmperbaiki kausa stroke (Prince, dkk, 2005:1122). f. Angiografi serebrum: membantu menentukan penyebab dari stroke secara Spesifik seperti lesi ulseratrif, stenosis, displosia fibraomuskular, fistula arteriovena, vaskulitis dan pembentukan thrombus di pembuluh besar (Prince, dkk, 2005:1122). g. Pemindaian dengan Positron Emission Tomography (PET): mengidentifikasi seberapa besar suatu daerah di otak menerima dan memetabolisme glukosa serta luas cedera (Prince, dkk ,2005:1122)
  • 8.
    8 h. Ekokardiogram transesofagus(TEE): mendeteksi sumber kardioembolus potensial (Prince, dkk, 2005:1123). i. CT scan: pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang pemadatan terlihat di ventrikel atau menyebar ke permukaan otak (Muttaqin, 2008:140). j. MRI: menggunakan gelombang magnetik untuk memeriksa posisi dan besar / luasnya daerah infark (Muttaqin, 2008:140). Penatalaksanaan medis : Ada bebrapa penatalaksanaan pada pasien dengan CVA infark (Muttaqin, 2008:14): a. Untuk mengobati keadaan akut, berusaha menstabilkan TTV dengan : 1) Mempertahankan saluran nafas yang paten 2) Kontrol tekanan darah 3) Merawat kandung kemih, tidak memakai keteter 4) Posisi yang tepat, posisi diubah tiap 2 jam, latihan gerak pasif. b. Terapi Konservatif 1) Vasodilator untuk meningkatkan aliran serebral 2) Anti agregasi trombolis: aspirin untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma. 3) Anti koagulan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosisiatau embolisasi dari tempat lain ke sistem kardiovaskuler. 4) Bila terjadi peningkatan TIK, hal yang dilakukan: c. Hiperventilasi dengan ventilator sehingga PaCO2 30-35 mmHg d. Osmoterapi antara lain:
  • 9.
    9 Infus manitol 20%100 ml atau 0,25-0,5 g/kg BB/ kali dalam waktu 15-30 menit, 4-6 kali/hari. Infus gliserol 10% 250 ml dalam waktu 1 jam, 4 kali/hari e. Posisi kepala head up (15-30⁰) f. Menghindari mengejan pada BAB g. Hindari batuk h. Meminimalkan lingkungan yang panas BAB II Resume Kasus A. Pengkajian 1. Identitas Klien Nama Klien : Ny. S Alamat : Gunungsari Jatisrono Umur : 73 thn Agama : Islam Status Perkawinan : Kawin Pendidikan : SD Pekerjaan : Swasta Tgl/Jam masuk RS : 20 Juni 2015 pukul 20. 00 Tgl dan waktu kajian : 21 Juni 2015 pukul 14.00 Metode pengkajian : Tanya jawab Diagnosa Medis : CVA Infark
  • 10.
    10 No. Registrasi :502753 2. Riwayat Penyakit a. Keluhan utama : Nyeri Kepala b. Riwayat masuk rumah sakit Keluarga mengatakan klien belum pernah masuk rumah sakit c. Riwayat Kesehatan sekarang Sudah empat hari kepala pusing , tengkuk terasa kaku, klien berobat di Rumah Sakit Amal sehat, disuruh opname, setelah 2 hari klien dirujuk ke Rumah Sakit Sudiran Mangun Sumarso 3. Data Fokus a. Breathing Pergerakan dada simetris, tidak ada nyeri tekan, bunyi napas bronkovesikuler, tidak terdengar bunyi tambahan seperti Wheezing atau ronchi, bunyi resonan pada paru. b. Blood Terjad peningkatanTekananDarahdisertai denganpelebarannadi dan penurunanjumlahnadi. c. Brain sakitkepalahebat,danada penurunankesadaran,pupil normal nilai 2 d. Blader tidak ada tanda tanda inkontinensia urine e. Bowel tidak ada tanda tanda inkontinensia alfi
  • 11.
    11 4. Data Tambahan Tanda-tandavital : - Tekanan darah : 136/64 mmhg - Nadi : 80x/menit - Frekuensi : 92x/menit - Irama : teratur - Kekuatan : baik - Pernapasan : 18x/ menit - Irama : teratur - Suhu : 37°C Hari/Tgl /Jam Jenis Pemeriksaan Nilai normal Satuan Hasil Ket hasil senin/21- 06- 15/10.00 Asam urat Colesterol tot Trigliserid HDL colest LDL colest Glukosa sewaktu Ureum Creatinine SGOT SGPT 2.4-5.7 50-200 50-200 >45 <190 <170 10-50 0.5-0.9 <31 <32 Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl u/l u/l 6.50 116 99 25 71.2 182 22 0.9 26 9
  • 12.
    12 5. Pemeriksaan Diagostik a.Dilakukan pemeriksaan CT scan dengan hasil didapatkan hiperdens fokal, pemadatan terlihat di ventrikel menyebar ke permukaan otak . 7. Terapi Hari/tanggal/jam Jenis Terapi Dosis Golongan & Kandungan Fungsi & Garmakologi senin/21-06- 15/12.00 Cairan IV Manitol Obat Parenteral Bralin Somerol Antalgin Ranitidin Obat oral Aspilet 125 ml 4x1 gr 2x12 mg 3x1 amp 2x1 amp 1x1 mg
  • 13.
    13 B. Analisa Data Nama: Ny. S No. CM : 502753 Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark N o Hari/Tgl/jam Data Fokus Problem Etilogi Ttd 1 Senin/21-06- 15/15.00 DS : - DO : Kesadaran Samnolent Tensi 130/64 Ketidakefektifan perfusi jaringan otak Gangguan aliran arteri 2 Senin/21-06- 15/15.00 DS : - DO : terpasang sonde Di lubang hidung kanan Gangguan menelan Penurunan fungsi nerfus vagus C. Diagnosa Keperawatan Muncul dua diagnosa keperawatn dalam asuhan keparawatan Ny.S yaitu : 1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan aliran arteri 2. Gangguan menelan berhubungan dengan penurunan fungsi nerfus vagus
  • 14.
    14 D. Intervensi Keperawatan Nama: Ny. S No. CM : 502753 Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark Hari/Tgl No. Dx Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Ttd Senin/21- 06-2015 Jam 1500 2 NOC : Status menelan fase esophagus;penyaluran cairan atau partikel padat dari faring kelambung Tujuan dan kriteria hasil  Kemampuan menelan adekuat  Dapat mentoleransi ingesti makanan tanpa tersedak  Tidak ada kerusakan otot tenggorok untuk menelan dan menggerakkan lidah atau reflek muntah  Tidak terjadi gangguan neurologis NIC : Aspirasi Precaution  Memantau tingat kesadaran, reflek batuk, reflek muntah, dan kemapuan menelan  Memonitor status paru untuk menjaga dan mempertahankan jalan nafas  Berikan makanan atau minuman lewat sonde dalam keadaan hangat  Monitor tanda dan gejala aspirasi  Hindari cairan yang kental
  • 15.
    15 Senin 21-6-15 Jam 1600 1 NOC: Cirkulation sta tus. Tissue Prefusion Cerebral Tujuan dan kriteria hasil:  Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan  Tidak ada ortostatik hipertensi  Tidak ada tanda-tanda peningkatan intrakranial NIC : Manajemen sensasi perife  Monitor adanya paretese  Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung  Monitor kemampuan bab  Monitor adanya tromboplebitis  Kolaborasi pemberian analgetik E. Implementasi Keperawatan Nama : Ny. S No. CM : 502753 Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark Hari/Tgl/jam No Dx Implementasi Respon Ttd Senin/21-06- 15/17.00 2 - Memantau tingat kesadaran, reflek batuk, reflek muntah, dan kemapuan menelan S : - O : masih terpasang NGT
  • 16.
    16 Senin/21-06- 15/17.10 2 - Memonitorstatus paru untuk menjaga dan mempertahankan jalan nafas S : - O : tidak ada wheezing Senin/21-06- 15/17.20 2 - Berikan makanan atau minuman lewat sonde dalam keadaan hangat S : - O : makanan dapat masuk semua lewat sonde Senin/21-06- 15/17.50 2 - Monitor tanda dan gejala aspirasi S : - O : tidak ada wheezing Senin/21-06- 15/18.10 2 - Monitor lingkar lengan S : - O : BB : 60 kg Senin/21-06- 15/18.20 2 - Monitor hidrasi tubuh (intake, out put, turgor kulit, membrane mukosa) S : - O : turgor baik, mukosa lembab Senin/21-06- 15/18.30 2 Bantu untuk mempertahankan intake kalori dan cairan S : - O : turgor baik, mukosa lembab Senin/21-06- 15/18.45 2 - Tentukan factor penyebab S :- O : perfusi jaringan Senin/21-06- 15/18.45 2 - Monitor status neurologi S : - O : kesadaran samnolent Senin/21-06- 15/17.00 2 - Monitor vital sign S : O : Tensi 130/90, respirasi
  • 17.
    17 18x/menit, nadi 80x/menit Suhu370c Senin/21-06- 15/17.10 2 - Auskultasi denyut jantung dan irama, serta adanya mur mur S : O :Denyut jantung teraba Tidak ada bunyi tamba- han Senin/21-06- 15/17.20 2 - Amati respirasi, bentuk dan irama seperti cheyne stroke - S : O :Jalan napas tidak ada Sumbatan. Napas adekuat 18x/mnt Senin/21-06- 15/18.45 2 - Evaluasi pupil, amati ukuran, ketajaman dan reaksi terhadap cahaya - S : O : Reaksi pupil + Besar pupil 2 Senin 21-6-2015 Jam 1730 2 - Pertahankan istirahat di tempat tidur, beri lingkungan yang tenang, batasi pengunjung dan aktivitas sesuai dengan indikasi S : - O : Pasien dijenguk anak Dan keluarganya Senin/21-06- 15/17.50 2 - Kaji adanya kaku kuduk, kelelahan, iritabilitas, dan onset kejang S : - O : Pasien tidak kejang Tidak ada iritasi kulit Dipantat Senin 21-06- 15/ 16.00 1 - Monitor adanya paretese S : - O : Klien tidak dapat bergerak
  • 18.
    18 - Batasi gerakanpada kepala, leher dan punggung - Monitor kemampuan bab - Monitor adanya tromboplebitis - Kolaborasi pemberian analgetik S : - O : klien tidak dapat menggerakan kepala, leher dan punggung S : - O : Klien mampu melakukan BAB tanpa obat pencahar S : - O : tempat pemasangan infuse tidak mengalami pembengkakan S : - O : Antalgin Ranitidin Aspilet F. EVALUASI Nama : Ny. S No. CM : 502753 Umur : 73 tahun Diagnosa Medis : CVA Infark
  • 19.
    19 NO DX Hari/tgl/jam Evaluasi Ttd 1 2 Senin 21-6-2015 Jam17.00 Senin21-6- 2015 S : - O : PasienKesadaranmenurun(Samnolentt) Tensi 130/90 RRi18x/menit, nadi 80x/menit Suhu 370c A : Masalah belum teratasi P : Rencana dilanjutkan S : K O : tidak A : Masalah belum teratasi P : Rencana dilanjutkan