Dimanakah wilayah yang cocok untuk
pengembangan sawit?
Pengkajian secara tahap demi
tahap atas semua faktor yang
terlibat dalam Investigasi Lahan
dan Persiapan
pembangunan perkebunan
kelapa sawit perlu didalami
dengan seksama sebelum
membuat keputusan
membangun perkebunan kelapa
sawit, antara lain :
1. Lokasi dan Kesesuaian Lahan
2. Aspek Sosial
3. Pemilihan Benih
4. Asumsi dan Proyeksi
5. Manajemen Proyek
Kriteria kesesuaian Tanah untuk produktifitas tanaman kelapa sawit
di klasifikasikan dalam empat kelas dari Sangat Sesuai (S1), Sesuai
dengan faktor pembatas minor(S2), Bisa Sesuai dengan banyak
faktor pembatas (S3) dan Tidak Sesuai (N), seperti dipaparkan pada
tabel berikut ini :
Kondisi Tanah S1 S2 S3 N
Kedalaman
Tanah (cm)
> 90 60 - 90 30 - 60 < 30
Kemiiringan 0 – 12 ° 12 – 16 ° 16 – 24 ° > 24 °
Tekstur
Sandy Clay
Loam
Loam, Sandy loam Sandy loam Sand
Struktur
Strongly
Developed
Moderate.Develope
d
Buruk Sangat Buruk
Konsistensi Gembur Agak Gembur Padat Sangat Padat
pH >4 3,5 - 4 3 – 3,5 < 3
Permeabilitas Tidak Tergenang
Tergenang karena
sumbat
Tergenang musiman Tergenang permanen
Fragmen Batuan Tidak ada Tidak ada s/d 25 % laterit >25 % laterit
Status Hara Subur Cukup Subur Kurang Subur Tidak Subur
2. Aspek Sosial
Idealnya ”sosialisasi” dimaknai sebagai proses diseminasi dan pembelajaran tentang
norma-norma yang berlaku sehingga dapat berperan dan diakui oleh kelompok
masyarakat yang menjadi sasaran program/proyek. Pada tingkat implementasi
program/proyek, sosialisasi pada dasarnya merupakan upaya penyebarluasan
informasi (program, kebijakan, peraturan) dari satu pihak (pemrakarsa program,
kebijakan, peraturan) kepada pihak-pihak lain (aparat, masyarakat yang terkena
program, dan masyarakat umum). Isi informasi yang disebarluaskan harus
menyeluruh sesuai dengan tujuan program, seperti : Informasi dan materi yang
disosialisaikan meliputi : kebijakan operasional program/rencana usaha pada
seluruh tahapan kegiatan baik pada tahap pra-operasi, operasi, panduan dan
standar kinerja yang digunakan, hasil kegiatan, lessons learned dari pengalaman
baik (best practices) proyek yang sama untung ruginya ada proyek, dampak positip
dan negatip proyek, program CD atau CSR yang dirancang untuk masyarakat, pola
kemitraan, system rekruitmen tenaga kerja, hak dan kewajiban perusahaan
dan masyarakat, kebijakan exit strategy dan rencana pasca operasi.
3. Benih Kelapa Sawit
Sasaran utama dari perkebunan kelapa sawit adalah menghasilkan YIELD atau produktifitas
TBS ton per hektar atau produktifitas CPO ton per hektar yang tinggi. Faktor faktor yang
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas tanaman, diantaranya adalah
kualitas dan karakteristik bahan tanaman atau benih yang ditanam.
Benih dan Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya
tanaman kelapa sawit dan bersifat monumental, artinya kesalahan memilih benih hari ini,
risikonya akan ditanggung selama 30 tahun.
Produksi Benih
Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai
induk jantan
DURA x PISIFERA (D x P)
Kebanyakan berbasis pada Deli dura yang berasal dari
– Chemara, Banting, DOA/MARDI/MPOB, Dami, Socfindo, Dabou
Sumber Utama pisifera
– AVROS, NIFOR (Calabar), Ekona, Yangambi, La Me
4. Asumsi dan Proyeksi
adalah membuat perencanaan pembiayaan proyek (Master Budget). Seperti diketahui,
sebuah master budget akan memerlukan asumsi-asumsi dan proyeksi yang menyangkut
produksi dan penjualan.
Penetapan asumsi antara lain didasarkan atas ;
a. karakteristik harga CPO dengan tinjauan trend perubahan harganya selama satu
kurun waktu tertentu (misalnya 5 – 10 tahun terakhir), untuk kemudian dihitung
besarnya harga rata rata dari periode waktu tersebut.
b. karakteristik produktifitas berdasarkan perubahan umur tanaman dan zona
kesesuaian lahan serta kerapatan tanam per hektar seperti berikut :
Kerapatan Tanam 136 pohon per hektar,
Panen dimulai pada tahun ke 4 setelah tanam, produksi maximum dicapai
antara tahun ke 9 hingga tahun ke 15
Produksi TBS per hektar bervariasi antara 17 - 30 ton per hektar, tergantung
umur tanaman , kesuburan tanah and perlakuan teknis agronomis.
Rendemen CPO bervariasi antara 21 - 23 % and Kernel antara 3 - 5 % ;
Contoh Potensi Produksi Kelapa Sawit
PERAWATAN TBM 3
PERAWATAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) 3
URAIAN KEBUTUHAN HK HARGA JUMLAH URAIAN KEBUTUHAN HK HARGA JUMLAH
PERALATAN/BAHAN/D
LL
PEMUPUKAN PMLT
PIRINGAN MANUAL HERBISIDA
GAWANGAN MANUAL PESTISIDA
DONGKEL ANAK KAYU RODENTISIDA
BURU LALANG ALAT BANTU
KONSOLIDASI TRANSPORTASI
RAWAT PARIT MANDOR
PENYULAMAN
BUAT PASAR PIKUL
RAWAT JALAN
SENSUS HAMA
KASTRASI
LAIN-LAIN
SUBTOTAL SUB TOTAL
TOTAL
DAFTAR HARGA MATERIAL
Selanjutnya adalah menghitung biaya perawatan pada tanaman
menghasilkan (TM), yang dimulai pada tahun ke empat sejak
tanam.
Pengelompokan umur TM umumnya dilakukan dalam pembuatan
budget, dengan mempertimbangkan kesamaan phisik dan
kebutuhan hara tanaman yang serupa. Kelompok Muda yaitu umur 3
s/d 8 tahun, Kelompok Dewasa yaitu umur 9 s/d 13 tahun dan
Kelompok Matang umur 14 s/d 20 tahun serta Kelompok Tua
adalah umur 21 tahun keatas. Intensitas Pengendalian Gulma dan
Pengendalian Hama Penyakit tanaman akan menurun, namun
pemupukan akan meningkat kebutuhannya yang akan ditetapkan
berdasarkan hasil analisa daun. Namun untuk keperluan
penyusunan Budget, besarnya dosis pupuk dapat dilihat pada Dosis
Pemupukan TM di tanah mineral atau Gambut
sedangkan Kebutuhan Tenaga Kerja relatif sama dengan pada saat
TBM.
ESTIMASI KEBUTUHAN BIAYA
BERBANDING PRODUKSI
Luas areal kebun desa Pinggir Kecamatan
Pinggir Kabupaten Bengkalis, Riau adalah 100
hektar dengan ukuran 1000 x 1000 x 1m
Dengan jarak tanam 8,5 x 8,5 x 1m maka
kerapatan tegakan tanaman adalah 138 pokok/ ha
atau 13800 pokok per 100 hektar
Estimasi kegagalan pembuahan 10% maka
jumlah tegakan kelapa sawit di kebun ini adalah
12420 pokok
ASUMSI PENDAPATAN KEBUN KELAPA SAWIT DENGAN LUASAN 100 HA (12420 POKOK)
TM KE
HASIL
TBS/HA/THN (KG)
RATA-RATA
JUMLAH TANDAN/
POHON
HARGA TBS PER KG
(RP)
PENDAPATAN
BRUTO
PER HA/ THN
RATA-RATA BIAYA
PENGELUARAN PER
HA/ THN
PENDAPATAN NETTO
PER HA/ THN
1 S/D 3 immature 30 30
4 13000 18.2 1,100 14,300,000 4,290,000 10,010,000
5 16000 19.2 1,200 19,200,000 5,760,000 13,440,000
6 18000 19.2 1,400 25,200,000 7,560,000 17,640,000
7 23000 16.2 1,600 36,800,000 11,040,000 25,760,000
8 25000 16 1,600 40,000,000 12,000,000 28,000,000
9 28000 15.3 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000
10 28000 14 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000
11 28000 12.9 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000
12 28000 12.2 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000
13 27000 11.6 1,600 43,200,000 12,960,000 30,240,000
14 26000 11.3 1,600 41,600,000 12,480,000 29,120,000
15 25000 10.3 1,600 40,000,000 12,000,000 28,000,000
16 24000 9.3 1,600 38,400,000 11,520,000 26,880,000
17 23000 8.5 1,600 36,800,000 11,040,000 25,760,000
18 22000 8 1,600 35,200,000 10,560,000 23,520,000
19 21000 7.4 1,600 33,600,000 10,080,000 23,520,000
20 21000 6.7 1,600 33,600,000 10,080,000 23,520,000
21 19000 6.2 1,600 30,400,000 9,120,000 21,280,000
22 18000 5.8 1,600 28,800,000 8,640,000 20,160,000
23 17000 5.1 1,600 27,200,000 8,160,000 19,040,000
24 16000 4.8 1,600 25,600,000 7,680,000 17,920,000
25 15000 4.4 1,600 24,000,000 7,200,000 16,800,000
JUMLAH 481000 242.6 34,100 753,100,000 225,930,000 526,050,000
RATA-RATA 21863.6 11.0 1550 34,231,818 9,037,200 23,911,364
Jika pada tahun produksi didapatkan rata-rata
produksi buah sebesar 1822 kg per bulan
Maka produksi TBS rata-rata per tahun adalah
21864kg atau 13,2kg/ tandan/pohon.
Jika dilihat dari fluktuasi harga dari tahun 2010
sampai dengan triwulan pertama 2013, maka
harga rata-rata TBS di pasar adalah Rp 1,550,-
Maka dengan produksi TBS sebesar 1822 kg/ha/bln
Dikalikan dengan harga TBS Rp 1.550,- :
1822 kg x Rp 1.550 = Rp 2.824.100/bulan/ha
Atau
Rp 282.410.000,-/bulan/100 ha
Atau
Rp 3,388,920,000,-/tahun/100 ha
BIAYA PENYUSUTAN
Biaya Penyusutan untuk kebun seluas 100 ha dalam setahun
dapat dihitung yaitu
Modal Tetap dibagi Nilai Ekonomis Lahan
Modal Tetap di kebun ini adalah investasi awal yang telah
dikeluarkan dibagi usia produktif tanaman (25 tahun), maka
Modal Tetap : Rp 80,000,000,-/25 tahun = Rp 3,200,000,-
Nilai Ekonomis Tanaman adalah Kemampuan tanaman untuk
berproduksi : 21 tahun
Maka Biaya Penyusutan dalam 1 tahun adalah :
Rp 3,200,000.- / 21 tahun = Rp 152,381.-/ha/thn
BIAYA OPERASIONAL
Biaya operasional yang harus dikeluarkan dalam setahun
adalah semua program kerja terealisasi yang telah
dijalankan, baik item kerja, kebutuhan material, upah kerja,
dan biaya tak terduga yang muncul.
Secara umum Biaya Operasional yang harus dikeluarkan
adalah 30% dari pendapatan kotor dalam 1 tahun
Atau
30% x Rp 33,889,200.- = Rp 10,166,760.-/ha/thn
Total modal investasi kebun Kelapa Sawit dalam 1 tahun
adalah Modal Tetap + Modal Kerja (Biaya Operasional) :
Rp 10,166,760.- + Rp 3,200,000.- = Rp 13,366,760.-/ha/thn
BIAYA PRODUKSI
Biaya Produksi yang muncul untuk mengelola kebun
seluas 100 hektar dapat dihitung dengan
Menambahkan Biaya Penyusutan dengan Modal Kerja,
yaitu :
Rp 152,381.- + Rp 10,166,760.- = Rp 10,319,141.-
PENDAPATAN BERSIH
(NET PROFIT)
Yaitu Pendapatan rata-rata per tahun dikurangi Biaya Produksi,
maka didapat hasil :
Rp 33,889,200 - Rp 10,319,141 = Rp 23,570,059/ha/tahun
atau
Rp 2,357,005,900,-/tahun/100 ha
BEP PRODUKSI DALAM HA
adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang
sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan.
BEP = FC
1 – (VC / P)
dengan
•FC : Biaya Tetap
•P : Harga jual per unit
•VC : Biaya Variabel per unit
Dari rumus diatas didapatkan hasil untuk BEP
unit adalah Rp 19,095,371 /ha/tahun
BENEFIT / COST RATIO
• BENEFIT / COST RATIO:
PENDAPATAN BERSIH / TOTAL BIAYA PRODUKSI
• Rp 23,570,059 / Rp 10,319,141 = 2,28
ASUMSI PENDAPATAN KEBUN KELAPA SAWIT DENGAN LUASAN 100 HA (12420 POKOK)
N0 KETERANGAN DAN ASUMSI URAIAN
1 Luas Areal 100 ha ( 1000 x 1000 x 1m)
2 Harga lahan per hektar (Rp) Rp 80,000,000
3 Jarak tanam Kelapa Sawit 8,5 m x 9 m
4 Kerapatan tanaman 138 pokok per hektar
5 Jumlah tanaman dalam 100 ha 13800 pokok
6 Estimasi tanaman produktif 90% x 13800 pokok = 12420 pokok
7 Asumsi bobot TBS per pohon 13,2 kg
8 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ ha/ bulan 1822 kg
9 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ ha/ tahun 21864 kg
10 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ 100 ha/ tahun 2186400 kg
11 Asumsi rata-rata harga TBS per kg Rp 1,550
12 Pendapatan rata-rata/ bulan/ ha Rp 2,824,100
13 Pendapatan rata-rata/ tahun/ ha Rp 33,889,200
14 Pendapatan rata-rata/ tahun/ 100 ha Rp 3,388,920,000
15 Usia Produktif Tanaman 25 tahun
16 Nilai Ekonomis Tanaman 21 tahun
17 Biaya Operasional (Modal Kerja)/ ha/ thn Rp 10,166,760
18 Modal Tetap/ ha Rp 3,200,000
19 Total Modal dalam setahun Rp 13,366,760
20 Biaya Penyusutan /ha/ tahun Rp 152,381
21 Biaya Produksi per tahun Rp 10,319,141
22 Pendapatan Bersih (Net Profit) Rp 23,570,059
24 BEP Produksi 555 kg
25 BEP Harga Rp 457
26 Benefit/Cost Ratio 2,28 (>1)
ANALISA SAWIT.pptx

ANALISA SAWIT.pptx

  • 2.
    Dimanakah wilayah yangcocok untuk pengembangan sawit?
  • 3.
    Pengkajian secara tahapdemi tahap atas semua faktor yang terlibat dalam Investigasi Lahan dan Persiapan pembangunan perkebunan kelapa sawit perlu didalami dengan seksama sebelum membuat keputusan membangun perkebunan kelapa sawit, antara lain : 1. Lokasi dan Kesesuaian Lahan 2. Aspek Sosial 3. Pemilihan Benih 4. Asumsi dan Proyeksi 5. Manajemen Proyek
  • 4.
    Kriteria kesesuaian Tanahuntuk produktifitas tanaman kelapa sawit di klasifikasikan dalam empat kelas dari Sangat Sesuai (S1), Sesuai dengan faktor pembatas minor(S2), Bisa Sesuai dengan banyak faktor pembatas (S3) dan Tidak Sesuai (N), seperti dipaparkan pada tabel berikut ini : Kondisi Tanah S1 S2 S3 N Kedalaman Tanah (cm) > 90 60 - 90 30 - 60 < 30 Kemiiringan 0 – 12 ° 12 – 16 ° 16 – 24 ° > 24 ° Tekstur Sandy Clay Loam Loam, Sandy loam Sandy loam Sand Struktur Strongly Developed Moderate.Develope d Buruk Sangat Buruk Konsistensi Gembur Agak Gembur Padat Sangat Padat pH >4 3,5 - 4 3 – 3,5 < 3 Permeabilitas Tidak Tergenang Tergenang karena sumbat Tergenang musiman Tergenang permanen Fragmen Batuan Tidak ada Tidak ada s/d 25 % laterit >25 % laterit Status Hara Subur Cukup Subur Kurang Subur Tidak Subur
  • 5.
    2. Aspek Sosial Idealnya”sosialisasi” dimaknai sebagai proses diseminasi dan pembelajaran tentang norma-norma yang berlaku sehingga dapat berperan dan diakui oleh kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program/proyek. Pada tingkat implementasi program/proyek, sosialisasi pada dasarnya merupakan upaya penyebarluasan informasi (program, kebijakan, peraturan) dari satu pihak (pemrakarsa program, kebijakan, peraturan) kepada pihak-pihak lain (aparat, masyarakat yang terkena program, dan masyarakat umum). Isi informasi yang disebarluaskan harus menyeluruh sesuai dengan tujuan program, seperti : Informasi dan materi yang disosialisaikan meliputi : kebijakan operasional program/rencana usaha pada seluruh tahapan kegiatan baik pada tahap pra-operasi, operasi, panduan dan standar kinerja yang digunakan, hasil kegiatan, lessons learned dari pengalaman baik (best practices) proyek yang sama untung ruginya ada proyek, dampak positip dan negatip proyek, program CD atau CSR yang dirancang untuk masyarakat, pola kemitraan, system rekruitmen tenaga kerja, hak dan kewajiban perusahaan dan masyarakat, kebijakan exit strategy dan rencana pasca operasi.
  • 6.
    3. Benih KelapaSawit Sasaran utama dari perkebunan kelapa sawit adalah menghasilkan YIELD atau produktifitas TBS ton per hektar atau produktifitas CPO ton per hektar yang tinggi. Faktor faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas tanaman, diantaranya adalah kualitas dan karakteristik bahan tanaman atau benih yang ditanam. Benih dan Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit dan bersifat monumental, artinya kesalahan memilih benih hari ini, risikonya akan ditanggung selama 30 tahun. Produksi Benih Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan DURA x PISIFERA (D x P) Kebanyakan berbasis pada Deli dura yang berasal dari – Chemara, Banting, DOA/MARDI/MPOB, Dami, Socfindo, Dabou Sumber Utama pisifera – AVROS, NIFOR (Calabar), Ekona, Yangambi, La Me
  • 7.
    4. Asumsi danProyeksi adalah membuat perencanaan pembiayaan proyek (Master Budget). Seperti diketahui, sebuah master budget akan memerlukan asumsi-asumsi dan proyeksi yang menyangkut produksi dan penjualan. Penetapan asumsi antara lain didasarkan atas ; a. karakteristik harga CPO dengan tinjauan trend perubahan harganya selama satu kurun waktu tertentu (misalnya 5 – 10 tahun terakhir), untuk kemudian dihitung besarnya harga rata rata dari periode waktu tersebut. b. karakteristik produktifitas berdasarkan perubahan umur tanaman dan zona kesesuaian lahan serta kerapatan tanam per hektar seperti berikut : Kerapatan Tanam 136 pohon per hektar, Panen dimulai pada tahun ke 4 setelah tanam, produksi maximum dicapai antara tahun ke 9 hingga tahun ke 15 Produksi TBS per hektar bervariasi antara 17 - 30 ton per hektar, tergantung umur tanaman , kesuburan tanah and perlakuan teknis agronomis. Rendemen CPO bervariasi antara 21 - 23 % and Kernel antara 3 - 5 % ;
  • 8.
  • 10.
    PERAWATAN TBM 3 PERAWATANTANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) 3 URAIAN KEBUTUHAN HK HARGA JUMLAH URAIAN KEBUTUHAN HK HARGA JUMLAH PERALATAN/BAHAN/D LL PEMUPUKAN PMLT PIRINGAN MANUAL HERBISIDA GAWANGAN MANUAL PESTISIDA DONGKEL ANAK KAYU RODENTISIDA BURU LALANG ALAT BANTU KONSOLIDASI TRANSPORTASI RAWAT PARIT MANDOR PENYULAMAN BUAT PASAR PIKUL RAWAT JALAN SENSUS HAMA KASTRASI LAIN-LAIN SUBTOTAL SUB TOTAL TOTAL
  • 11.
  • 12.
    Selanjutnya adalah menghitungbiaya perawatan pada tanaman menghasilkan (TM), yang dimulai pada tahun ke empat sejak tanam. Pengelompokan umur TM umumnya dilakukan dalam pembuatan budget, dengan mempertimbangkan kesamaan phisik dan kebutuhan hara tanaman yang serupa. Kelompok Muda yaitu umur 3 s/d 8 tahun, Kelompok Dewasa yaitu umur 9 s/d 13 tahun dan Kelompok Matang umur 14 s/d 20 tahun serta Kelompok Tua adalah umur 21 tahun keatas. Intensitas Pengendalian Gulma dan Pengendalian Hama Penyakit tanaman akan menurun, namun pemupukan akan meningkat kebutuhannya yang akan ditetapkan berdasarkan hasil analisa daun. Namun untuk keperluan penyusunan Budget, besarnya dosis pupuk dapat dilihat pada Dosis Pemupukan TM di tanah mineral atau Gambut sedangkan Kebutuhan Tenaga Kerja relatif sama dengan pada saat TBM.
  • 14.
    ESTIMASI KEBUTUHAN BIAYA BERBANDINGPRODUKSI Luas areal kebun desa Pinggir Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis, Riau adalah 100 hektar dengan ukuran 1000 x 1000 x 1m Dengan jarak tanam 8,5 x 8,5 x 1m maka kerapatan tegakan tanaman adalah 138 pokok/ ha atau 13800 pokok per 100 hektar Estimasi kegagalan pembuahan 10% maka jumlah tegakan kelapa sawit di kebun ini adalah 12420 pokok
  • 15.
    ASUMSI PENDAPATAN KEBUNKELAPA SAWIT DENGAN LUASAN 100 HA (12420 POKOK) TM KE HASIL TBS/HA/THN (KG) RATA-RATA JUMLAH TANDAN/ POHON HARGA TBS PER KG (RP) PENDAPATAN BRUTO PER HA/ THN RATA-RATA BIAYA PENGELUARAN PER HA/ THN PENDAPATAN NETTO PER HA/ THN 1 S/D 3 immature 30 30 4 13000 18.2 1,100 14,300,000 4,290,000 10,010,000 5 16000 19.2 1,200 19,200,000 5,760,000 13,440,000 6 18000 19.2 1,400 25,200,000 7,560,000 17,640,000 7 23000 16.2 1,600 36,800,000 11,040,000 25,760,000 8 25000 16 1,600 40,000,000 12,000,000 28,000,000 9 28000 15.3 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000 10 28000 14 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000 11 28000 12.9 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000 12 28000 12.2 1,600 44,800,000 13,440,000 31,360,000 13 27000 11.6 1,600 43,200,000 12,960,000 30,240,000 14 26000 11.3 1,600 41,600,000 12,480,000 29,120,000 15 25000 10.3 1,600 40,000,000 12,000,000 28,000,000 16 24000 9.3 1,600 38,400,000 11,520,000 26,880,000 17 23000 8.5 1,600 36,800,000 11,040,000 25,760,000 18 22000 8 1,600 35,200,000 10,560,000 23,520,000 19 21000 7.4 1,600 33,600,000 10,080,000 23,520,000 20 21000 6.7 1,600 33,600,000 10,080,000 23,520,000 21 19000 6.2 1,600 30,400,000 9,120,000 21,280,000 22 18000 5.8 1,600 28,800,000 8,640,000 20,160,000 23 17000 5.1 1,600 27,200,000 8,160,000 19,040,000 24 16000 4.8 1,600 25,600,000 7,680,000 17,920,000 25 15000 4.4 1,600 24,000,000 7,200,000 16,800,000 JUMLAH 481000 242.6 34,100 753,100,000 225,930,000 526,050,000 RATA-RATA 21863.6 11.0 1550 34,231,818 9,037,200 23,911,364
  • 16.
    Jika pada tahunproduksi didapatkan rata-rata produksi buah sebesar 1822 kg per bulan Maka produksi TBS rata-rata per tahun adalah 21864kg atau 13,2kg/ tandan/pohon. Jika dilihat dari fluktuasi harga dari tahun 2010 sampai dengan triwulan pertama 2013, maka harga rata-rata TBS di pasar adalah Rp 1,550,- Maka dengan produksi TBS sebesar 1822 kg/ha/bln Dikalikan dengan harga TBS Rp 1.550,- : 1822 kg x Rp 1.550 = Rp 2.824.100/bulan/ha Atau Rp 282.410.000,-/bulan/100 ha Atau Rp 3,388,920,000,-/tahun/100 ha
  • 17.
    BIAYA PENYUSUTAN Biaya Penyusutanuntuk kebun seluas 100 ha dalam setahun dapat dihitung yaitu Modal Tetap dibagi Nilai Ekonomis Lahan Modal Tetap di kebun ini adalah investasi awal yang telah dikeluarkan dibagi usia produktif tanaman (25 tahun), maka Modal Tetap : Rp 80,000,000,-/25 tahun = Rp 3,200,000,- Nilai Ekonomis Tanaman adalah Kemampuan tanaman untuk berproduksi : 21 tahun Maka Biaya Penyusutan dalam 1 tahun adalah : Rp 3,200,000.- / 21 tahun = Rp 152,381.-/ha/thn
  • 18.
    BIAYA OPERASIONAL Biaya operasionalyang harus dikeluarkan dalam setahun adalah semua program kerja terealisasi yang telah dijalankan, baik item kerja, kebutuhan material, upah kerja, dan biaya tak terduga yang muncul. Secara umum Biaya Operasional yang harus dikeluarkan adalah 30% dari pendapatan kotor dalam 1 tahun Atau 30% x Rp 33,889,200.- = Rp 10,166,760.-/ha/thn Total modal investasi kebun Kelapa Sawit dalam 1 tahun adalah Modal Tetap + Modal Kerja (Biaya Operasional) : Rp 10,166,760.- + Rp 3,200,000.- = Rp 13,366,760.-/ha/thn
  • 19.
    BIAYA PRODUKSI Biaya Produksiyang muncul untuk mengelola kebun seluas 100 hektar dapat dihitung dengan Menambahkan Biaya Penyusutan dengan Modal Kerja, yaitu : Rp 152,381.- + Rp 10,166,760.- = Rp 10,319,141.- PENDAPATAN BERSIH (NET PROFIT) Yaitu Pendapatan rata-rata per tahun dikurangi Biaya Produksi, maka didapat hasil : Rp 33,889,200 - Rp 10,319,141 = Rp 23,570,059/ha/tahun atau Rp 2,357,005,900,-/tahun/100 ha
  • 20.
    BEP PRODUKSI DALAMHA adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan. BEP = FC 1 – (VC / P) dengan •FC : Biaya Tetap •P : Harga jual per unit •VC : Biaya Variabel per unit Dari rumus diatas didapatkan hasil untuk BEP unit adalah Rp 19,095,371 /ha/tahun
  • 21.
    BENEFIT / COSTRATIO • BENEFIT / COST RATIO: PENDAPATAN BERSIH / TOTAL BIAYA PRODUKSI • Rp 23,570,059 / Rp 10,319,141 = 2,28
  • 22.
    ASUMSI PENDAPATAN KEBUNKELAPA SAWIT DENGAN LUASAN 100 HA (12420 POKOK) N0 KETERANGAN DAN ASUMSI URAIAN 1 Luas Areal 100 ha ( 1000 x 1000 x 1m) 2 Harga lahan per hektar (Rp) Rp 80,000,000 3 Jarak tanam Kelapa Sawit 8,5 m x 9 m 4 Kerapatan tanaman 138 pokok per hektar 5 Jumlah tanaman dalam 100 ha 13800 pokok 6 Estimasi tanaman produktif 90% x 13800 pokok = 12420 pokok 7 Asumsi bobot TBS per pohon 13,2 kg 8 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ ha/ bulan 1822 kg 9 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ ha/ tahun 21864 kg 10 Asumsi rata-rata bobot TBS kg/ 100 ha/ tahun 2186400 kg 11 Asumsi rata-rata harga TBS per kg Rp 1,550 12 Pendapatan rata-rata/ bulan/ ha Rp 2,824,100 13 Pendapatan rata-rata/ tahun/ ha Rp 33,889,200 14 Pendapatan rata-rata/ tahun/ 100 ha Rp 3,388,920,000 15 Usia Produktif Tanaman 25 tahun 16 Nilai Ekonomis Tanaman 21 tahun 17 Biaya Operasional (Modal Kerja)/ ha/ thn Rp 10,166,760 18 Modal Tetap/ ha Rp 3,200,000 19 Total Modal dalam setahun Rp 13,366,760 20 Biaya Penyusutan /ha/ tahun Rp 152,381 21 Biaya Produksi per tahun Rp 10,319,141 22 Pendapatan Bersih (Net Profit) Rp 23,570,059 24 BEP Produksi 555 kg 25 BEP Harga Rp 457 26 Benefit/Cost Ratio 2,28 (>1)