PENGARUH PROGRAM INTERVENSI KEPERAWATAN BERBASIS MODEL
KONSEPTUAL LEVINE TERHADAP PEMULIHAN PASIEN FRAKTUR
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
HENRIANTO KAROLUS SIREGAR
177046041/KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Kamis, 2 Januari 2020
Komisi Penguji
Ketua : Dr. Dudut Tanjung, S.Kp., M.Kep., Sp.KMB.
Anggota : Nunung Febriany Sitepu, S.Kep.,Ns. MNS
Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp. BS (K)
Ns. Asrizal, M.Kep., RN., WOC(ET)N.,CHt.N
MAGISTER ILMU KEPERAWATAN USU
SEMINAR HASIL TESIS
BAB 1
PENDAHULUAN
 5,6 juta orang meninggal disebabkan karena kecelakaan
 1,3 juta orang mengalamai kecacatan fisik secara permanen
 60 juta penduduk Amerika Serikat mengalami trauma berat
 50 % akan memerlukan perawatan di rumah sakit.
(Data WHO, 2011).
• Fraktur
Di Indonesia bahwa kejadian fraktur
mengakibatkan kegiatan sehari-hari terganggu
yaitu:
 Tahun 2013 mengalami fraktur 8,2 %
 Tahun 2018 megalami fraktur 9,2%.
(Riskesdas, 2018)
Prevalensi kejadian fraktur di Sumatera Utara
terdapat 864 orang yaitu:
 Fraktur ekstremitas bawah sebanyak 549 orang
(63,5%)
 Fraktur ekstremitas atas sebanyak 250 orang
(28,9%)
 Fraktur panggul sebanyak 39 orang (4,5%)
 Fraktur tulang belakang sebanyak 26 orang
(3,1%).
(Moesbar, 2013).
Prevalensi Fraktur di RSUP H. Adam Malik Sebanyak 196
orang yaitu :
 Fraktur ekstremitas bawah sebanyak 94 orang
 Fraktur ekstremitas atas sebanyak 45 orang
 Fraktur bahu dan lengan atas sebanyak 31 orang
 Fraktur kaki sebanyak 26 orang.
(Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan, 2018).
(Einhorn &
Gerstenfeld,
2015).
• Pemulihan fraktur tergantung pada faktor usia dimana semakin tua usia seseorang
maka semakin lama proses pemulihan fraktur tersebut.
(Potter,
Perry,
Stockert, &
Hall, 2016).
• Pasien fraktur sering mengalami perubahan baik secara fisik maupun perubahan dari
psikologisnya.
(Alexiou,
Roushias,
Varitimidis,
& Malizos,
2018).
• Perubahan psikologis yang dialami akibat fraktur adalah depresi yang dapat
meningkatkan intensitas nyeri dan stres emosional. Hal ini dapat menghambat
pemulihan pasien fraktur.
(Corrarino,
2015).
• Faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan fraktur yaitu tingkat pemindahan,
stabilitas mekanik, integritas tulang, infeksi, usia, status nutrisi, dan komplikasi
penyakit.
Pemulihan
Fraktur
Prevalensi pemulihan fraktur di Amerika Serikat menyatakan
bahwa sekitar 7,9 juta individu mengalami fraktur yang terjadi
setiap tahun adalah 5-10% mengalami gangguan pemulihan (Buza
& Einhorn, 2016)
Di Swedia terdapat 61 orang
pemulihan fraktur secara normal
dengan waktu pemulihan dalam 17
minggu, 27 orang pemulihan fraktur
yang lambat dengan waktu pemulihan
35 minggu (Karladani et al., 2001).
Di United Kingdom menyatakan kekuatan fisik individu yang kuat
dapat mempercepat pemulihan fraktur dengan rata-rata 30%
pemulihan dipercepat dalam waktu 12 minggu (Mirhadi, Ashwood, &
Karagkevrekis, 2013).
Hal tersebut dipengaruhi
berbagai faktor yang dirasakan
individu pada saat pengobatan
fraktur.
Individu yang mengalami fraktur sering mengalami masalah yang
kompleks seperti gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan
keluarga yang rendah.
Untuk menjaga kemampuan individu dalam melawan rintangan, melakukan
adaptasi yang sesuai, dan menghadapi ketidakmampuan maka digunakan
model konsepetual konservasi Levine.
Model konseptual Levine ini bertujuan untuk dapat memelihara kebutuhan
individu yang akan menggunakan prinsip konservasi yang diharapkan dapat
berperan meningkatkan kemampuan individu melalui intervensi yang dilakukan
(Alligood & Tomey, 2014).
Model
Konseptual
Levine
Prinsip
Konservasi
Energi
Konservasi
Integritas
Struktural
Konservasi
Integritas
Pribadi
Konservasi
Integritas
Sosial
(Delmore
, 2006).
• Konservasi energi bertujuan untuk menghindari penggunaan energi yang berlebihan yang dapat
mengakibatkan gangguan tidur.
(Klafke et
al., 2015).
• Konservasi integritas struktural bertujuan untuk melakukan perawatan secara efektif, perawat
berperan sebagai conservator yang mendukung untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien
tersebut.
(Delmore,
2006).
• Konservasi integritas pribadi bertujuan untuk meningkatkan keyakinan diri dan mengurangi
kecemasan yang dirasakan oleh pasien tersebut selama perawatan di rumah sakit.
(Leach,
2006).
• Konservasi integritas sosial bertujuan untuk meningkatkan hubungan individu dengan keluarga, dan
masyarakat agar tercapai hubungan yang baik.
Tujuan
umum
• Untuk mengidentifikasi pengaruh program intevensi keperawatan berbasis model
konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan.
Tujuan
khusus
• Mengidentifikasi pengaruh pemulihan fraktur sesudah dilakukan program intervensi
keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP
H. Adam Malik Medan.
• Mengidentifikasi pengaruh pemulihan fraktur sesudah dilakukan program intervensi
keperawatan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam
Malik Medan.
• Mengidentifikasi perbedaan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual
Levine dengan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam
Malik Medan.
Tujuan Penelitian
Hipotesis
• Hipotesis penelitian ini adalah meningkatakan efektifitas pada program intervensi
keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP
H. Adam Malik Medan.
Manfaat
Penelitian
• Pendidikan Keperawatan
• Pelayanan Keperawatan
• Penelitian Keperawatan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Fraktur Konsep Pemulihan Konsep Pemulihan
Fraktur
Konsep Model
Konservasi Levine
 Pengertian
 Penyebab
 Manifestasi klinis
 Klasifikasi
 Komplikasi
 Penatalaksanaan
 Faktor-faktor yang
mempengaruhi fraktur
 Pengertian
 Mekanisme
 Faktor yang
mempengaruhi
pemulihan.
 Pengertian
 Proses pemulihan
fraktur
 Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pemulihan fraktur.
 Indikator Pemulihan
Fraktur
 Pengertian
 Metaparadigma model
konservasi Levine
 Teori keperawatan
 Intervensi keperawatan
model konservasi Levine
Variabel Independen:
Program Intervensi Keperawatan Berbasis
Model Konseptual Levine
Variabel Dependen:
Pemulihan Pasien Fraktur
Faktor Perancu
 Usia
 Lama Rawat Pasien Fraktur
Kerangka Konsep Penelitian
BAB 3
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
- Quasi Experiment
- Metode equivalent
control group design.
Lokasi dan Waktu
Penelitian
- RB 3 RSUP HAM
- 26 Agustus s/d 24
Oktober 2019
Populasi dan Sampel
- Seluruh pasien Fraktur
yang di rawat di ruang
RB 3 RSUP HAM
- 62 orang
Metode Pengumpulan Data
Tahap Persiapan
• Mengurus Surat
Penelitian Dari
Pimpinan Fakultas
Keperawatan
• Ethical Clearance
• Izin Surat
Penelitian
• Mengidentifikasi
Sampel Penelitian
• Informed Consent
Pre test
• Pre test dengan
menggunakan
kuesioner Sleep
Quality Scale
(SQS), Numeric
Rating Scale
(NRS), Hamilton
Anxiety Rating
Scale (HARS),
Family Support
Scale (FSS).
Intervensi
• Memberikan
intervensi kepada
responden yang
termasuk dalam
kelompok intervensi
yaitu intervensi
keperawatan teknik
relaksasi Benson,
teknik relaksasi napas
dalam, teknik
relaksasi otot
progresif, dan
pendidikan kesehatan.
Post test
• Setelah intervensi
dilakukan selama 6
hari, peneliti menilai
pemulihan fraktur
yang dirasakan oleh
responden.
• Penilaian dilakukan
lembar kuesioner
Sleep Quality Scale
(SQS), Numeric
Rating Scale (NRS),
Hamilton Anxiety
Rating Scale (HARS),
Family Support Scale
(FSS)
Variabel dan Defenisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel
Independen:
Program Intervensi
Keperawatan
Berbasis Model
Konseptual Levine.
Suatu program
keperawatan
menggunakan teori
Levine dengan
intervensi keperawatan
yang terdiri dari: teknik
relaksasi benson, teknik
relaksasi napas dalam,
teknik relaksasi otot
progresif, dan
pendidikan kesehatan.
Variabel dan Defenisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel Dependen:
Pemulihan Pasien
Fraktur
Suatu proses yang
membutuhkan waktu dan
usaha yang keras untuk
dapat pulih. Sehingga dapat
melalui peningkatan kualitas
tidur, penurunan nyeri,
kecemasan, dan dukungan
keluarga meningkat.
Sleep Quality Scale
Numeric rating
scale
Hamilton anxiety
rating scale
Family support
scale
0-21: kualitas tidur sangat
buruk, 22-42: kualitas tidur
buruk, 43-62: kualitas tidur
baik, 63-84: kualitas tidur
sangat baik.
1-3: nyeri ringan
4-6: nyeri sedang
7-10 : nyeri berat
0-17: kecemasan ringan, 18-24:
kecemasan sedang, 25-30:
kecemasan berat.
0-21: dukungan keluarga baik
22-43: dukungan keluarga
cukup
44-64: dukungan keluarga
buruk.
Ordinal
Variabel dan Defenisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Faktor perancu:
Usia
Lama rawat pasien
fraktur
Rentang kehidupan yang
diukur dengan tahun
terhitung sejak lahir
sampai dengan sekarang.
Periode lama pasien
dirawat dirumah sakit
yang dihitung mulai dari
pasien masuk rumah
sakit sampai pulang dari
rumah sakit.
Kuesioner data
demografi
Kuesioner data
demografi
1= 17-25 tahun: remaja
akhir, 2= 26-35 tahun:
dewasa awal, 3= 36-45
tahun: dewasa akhir, 4= 46-
55 tahun: lansia awal, 5=
56-65 tahun: lansia akhir, 6=
>65 masa manula.
1= 1 hari- 1 minggu
2= 2 minggu- 3 minggu
3= 1 bulan-2 bulan
4= 3 bulan
Rasio
Ordinal
Metode Pengukuran
Instrument:
Kuesioner:
Sleep Quality
Scale (SQS),
Numeric Rating
Scale, Hamilton
Anxiety Rating
Scale, dan
Family support
scale.
Validitas:
- Content validity
Index (CVI)
instrument Sleep
Quality Scale (SQS)
adalah 0,94,
Hamilton Anxiety
Rating Scale
adalah 0,97, Family
support scale adalah
0,98.
- Uji valid kepada
3 orang experts.
Reliabilitas:
- Reliabilitas
instrument dilakukan
di RSUD DR Pirngadi
Kota Medan sebanyak
30 responden.
- Nilai cronbach’s
alpha Sleep Quality
Scale (SQS) yaitu
0.80, Hamilton
Anxiety Rating Scale
yaitu 0.86, Family
support scale yaitu
0.81.
Pilot Study:
Peneli sudah melakukan
pilot study di RSUD DR
Pirngadi Kota Medan
dan hasil pilot studi ini
menunjukkan bahwa
program intervensi
keperawatan berbasis
model konseptual Levine
memiliki pengaruh
signifikan terhadap
gangguan tidur yaitu
0,000, kecemasan yaitu
0,004, dan dukungan
keluarga yaitu 0,000.
Pengolahan Data
Editing
Coding
EntryCleaning
Prosesing
Metode Analisis Data
Analisis Univariat Analisis Bivariat Analisis Multivariat
Distribusi frekuensi dan persentasi
data seperti usia, jenis kelamin,
suku, pendidikan, pekerjaan, status
pernikahan, dan lama menderita
fraktur.
Wilcoxon signed ranks test :
Sebelum dan sesudah intervensi
Melihat hubungan variabel perancu
Data hasil penelitian terhadap
pemulihan pasien fraktur sesudah
diberikan intervensi program
intervensi keperawatan berbasis
model konseptual Levine.
Mann-Whitney Test :
Membandingkan perbedaan
kelompok intervensi dan kontrol.
Menggunakan regresi logistik
metode enter
Pertimbangan Etik
Asas Manfaat (Beneficience)
Bebas Dari Kerugian dan Ketidaknyamanan
Bebas Dari Eksploitasi
Asas Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect For Human
Dignity)
Hak untuk memperoleh informasi (the right to full disclosure)
Asas keadilan(justice)
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Data Demografi
Responden
Pemulihan Pasien
Fraktur
Analisis Bivariat
Wilcoxon Signed
Rank Test
Analisis bivariat uji
Mann Whitney Test
Analisis Multivariat
regresi logistik
Usia Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan
Lama Rawat Pasien
Fraktur
Intervensi 29 67.7 74.2 32.3 45.2
Kontrol 32.3 83.9 77.4 54.8 74.2
Remaja Akhir 29%
Laki-Laki 67.7%
SMA 74.2%
Wiraswasta 32.3%
1 Hari- 1 Minggu 45.2%
Dewasa Awal
32.3%
Laki-Laki
83.9% SMA 77.4%
Wiraswasta
54.8%
1 Hari- 1
Minggu 74.2%
0
20
40
60
80
100
120
Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Karakteristik Demografi Responden pada
Kelompok Intervensi dan Kontrol (n=62)
ANALISIS UNIVARIAT
Gangguan Tidur Nyeri Kecemasan
Dukungan
Keluarga
Pre Intervensi 83.9 74.2 100 77.4
Post Intervensi 74.2 100 96.8 100
Sangat Buruk 83.9%
Sedang 74.2%
Berat 100%
Cukup 77.4%
Sangat Baik 74.2%
Ringan 100%
Sedang 96.8%
Baik 100%
0
20
40
60
80
100
120
Distribusi Frekuensi dan Persentase Pemulihan Pasien Fraktur pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah diberikan Program Intervensi Keperawatan
Berbasis Model Konseptual Levine (n=62)
Gangguan Tidur Nyeri Kecemasan
Dukungan
Keluarga
Pre Kontrol 100 64.5 100 100
Post Kontrol 100 74.2 100 100
Buruk 100%
Ringan 64.5%
Berat 100% Buruk 100%
Buruk 100%
Ringan 74.2%
Berat 100% Buruk 100%
0
20
40
60
80
100
120
Distribusi Frekuensi dan Persentase Pemulihan Pasien Fraktur pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah diberikan Program Intervensi Keperawatan
Berbasis Model Konseptual Levine (n=62)
Gangguan Tidur
Kecemasan
Nyeri
Dukungan Keluarga
Nyeri
Dukungan Keluarga
Kecemasan
Gangguan Tidur
AnalisisBivariat(WilcoxonSignedRankTest,)
Intervensi
Kontrol
0.000
0.000
0.000
0.000
0.042
0.083
0.109
0.137
Pengaruh Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Terhadap
Pemulihan Pasien Fraktur Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol (n=62)
Nyeri
Dukungan keluarga
Kecemasan
ANALISISBIVARIAT(MannWhitneyTest)
Gangguan Tidur 0.000
0.000
0.000
0.000
Perbedaaan Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Dengan Program
Intervensi Keperawatan Standar Rumah Sakit Terhadap Pemulihan Pasien Fraktur (n=62)
Usia
• p= 0.061
Lama rawat
pasien fraktur
• p= 0.064
Tidak ada variabel
interaksi
Analisis Multivariat
(Regresi Logistik)
KARAKTERISTIK RESPONDEN
PEMULIHAN PASIEN FRAKTUR
PENGARUH PROGRAM INTERVENSI KEPERAWATAN
BERBASIS MODEL KONSEPTUAL LEVINE TERHADAP
PEMULIHAN PASIEN FRAKTUR PADA KELOMPOK
INTERVENSI DAN KELOMPOK KONTROL
1
2
3
PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Hasil penelitian jika dilihat dari usia menunjukkan bahwa responden yang
mengalami fraktur bervariasi antara usia remaja akhir sampai pada usia dewasa awal,
yaitu berkisar antara 17 sampai dengan 35 tahun. Penelitian Liang & Chikritzhs (2016)
menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur berada pada rentang usia 18 sampai
dengan usia 40 tahun.
Usia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden baik dari kelompok intervensi
maupun kelompok kontrol adalah laki-laki dimana kelompok intervensi sebanyak 21
(67.70%) responden dan kelompok kontrol sebanyak 26 (83.90%) responden. Penelitian
Wang et al. (2013) menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur lebih banyak pada
laki-laki daripada perempuan.
Jenis Kelamin
Pendidikan
Jika dilihat dari pendidikan terakhir responden, hasil penelitian menunjukkan
bahwa mayoritas responden pada kelompok intervensi memiliki jenjang pendidikan SMA
sebanyak 23 (74.20%) responden. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas responden
dengan jenjang pendidikan SMA sebanyak 24 (77.40%) responden. Penelitian Lemone,
Burke, & Bauldoff (2016) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk memahami dan mengikuti petunjuk agar dapat hidup sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden baik dari
kelompok intervensi maupun kelompok kontrol bekerja sebagai wiraswasta,
dimana kelompok intervensi sebanyak 10 (32.30%) responden dan kelompok
kontrol sebanyak 17 (54.80%) responden. Penelitian Mock et al. (2005)
menyatakan bahwa responden yang bekerja dan memiliki mobilisasi diluar
rumah akan beresiko terhadap kejadian fraktur.
Jenis
Pekerjaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lama rawat pasien
fraktur responden pada kelompok intervensi yaitu 1 hari sampai 1 minggu
sebanyak 14 (45.20%) responden. Sedangkan pada kelompok kontrol
mayoritas lama rawat pasien fraktur yaitu 1 hari sampai 1 minggu sebanyak
23 (74.20%). Lama rawatan rata-rata pasien yang mengalami fraktur 4-7 hari
baik fraktur tertutup maupun fraktur terbuka (Sinukaban & Jemadi, 2014) dan
rata-rata lama rawat pasien fraktur adalah 7-10 hari (Nursalam & Sri, 2011).
Lama Rawat
Pasien Fraktur
Pemulihan Pasien Fraktur
• Penelitian Crowley (2011) menyatakan bahwa lebih dari setengah jumlah responden dewasa dengan
riwayat jatuh mengalami masalah gangguan tidur yang meliputi durasi dan kualitas tidur.
• Penelitian Andri, Panzilion & Sutrisno (2019) menyatakan dari 30 orang responden didapatkan hasil
sebanyak 22 orang pasien fraktur mengalami kualitas buruk dan 8 orang memiliki kualitas tidur baik (p
value 0.002).
Gangguan Tidur
• Usia bisa menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nyeri.
• Penelitian ini berbeda dengan yang diungkapkan oleh Boggero et al. (2015) dalam penelitiannya
bahwa mayoritas responden adalah lansia awal dengan usia 46-55 tahun dan memiliki skala nyeri
sedang. Hal ini disebabkan karena nyeri meningkat ketika responden tumbuh menjadi dewasa dan
menurun secara bertahap pada usia lanjut.
Nyeri
Pemulihan Pasien Fraktur
• Usia juga bisa menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan. Rata-rata usia
pada kelompok intervensi adalah remaja akhir dengan usia 17-25 tahun dan memiliki kecemasan berat.
Sedangkan rata-rata usia pada kelompok kontrol adalah dewasa awal dengan usia 26-35 tahun dan
memiliki kecemasan berat.
• Penelitian Thomas & D’Silva (2015) menyatakan usia 31 sampai 50 tahun dapat mempengaruhi
tingkat kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan meningkat seiring dengan
bertambahnya usia responden.
Kecemasan
• Penelitian Lin & Lu (2005) menjelaskan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan fraktur
pada pasien dengan hip fraktur salah satunya adalah dukungan keluarga.
Dukungan Keluarga
Pengaruh Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual
Levine Terhadap Pemulihan Fraktur
Gangguan Tidur
Kelompok Intervensi
Gangguan Tidur
Kelompok Kontrol
0.000 0.042
Pieter (2017).
Rahman, Handayani
& Sholehah (2019)
Muliantino,
Herawati & Masfuri
(2018)
Tidur merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berfungsi untuk mengembalikan
keseimbangan fungsi-fungsi normal tubuh, pengaturan suhu dan cadangan energi yang normal.
Berdasarkan hasil penelitian ini intervensi tersebut memberikan pengaruh terhadap tidur
responden (p value 0.000). Teknik relaksasi Benson dapat meningkatkan kualitas tidur pada
pasien lansia.
Teknik relaksasi Benson dapat meningkatkan durasi tidur pasien dengan penyakit jantung
koroner. Relaksasi Benson dapat meningkatkan kualitas tidur karena dapat menstimulasi
pengeluaran hormon endorphin.
Brunner (2010).
Seheno (2010)
Aini & Reskita
(2018)
Pasien fraktur yang mengalami nyeri dapat menggunakan tindakan manajemen nonfarmakologis
salah satu diantaranya adalah teknik relaksasi napas dalam.
Teknik relaksasi napas dalam efektif untuk menurunkan nyeri pasca operasi pasien fraktur.
Sebelum dilakukan tindakan teknik relaksasi napas dalam pasien fraktur mengalami nyeri sedang,
sedangkan setelah dilakukan tindakan teknik relaksasi napas dalam pasien fraktur mengalami
nyeri ringan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi napas dalam efektif dalam
menurunkan nyeri pada pasien fraktur.
Nyeri
Kelompok Intervensi
Nyeri
Kelompok Kontrol
0.000 0.083
Stuart & Laraia,
(2005).
Astuti & Ruhyana
(2015)
Zhao et al. (2012)
Kecemasan merupakan respon atau perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak bisa
dibenarkan sehingga sering dijumpai dengan gejala gelisah, takut, dan berupa rasa sakit pada
tulang dan otot.
Teknik relaksasi otot progresif dapat mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi
yang mengalami fraktur.
Teknik relaksasi otot progresif dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan yang dapat
menekan saraf simpatis dan menekan rasa tegang yang dialami oleh responden secara timbal balik
sehingga akan timbul counter conditioning (penghilang) rasa tegang.
Kecemasan
Kelompok Intervensi
Kecemasan
Kelompok Kontrol
0.000 0.109
Friedman, Browden,
& Jones, (2010).
Wijayanto & Abdullah
(2015).
Dukungan keluarga ini dapat berupa orientasi tugas yang dapat diberikan untuk keluarga, teman,
bahkan tetangga sekalipun.
Berdasarkan hasil penelitian ini intervensi tersebut memberikan pengaruh terhadap dukungan
keluarga responden (p value 0.000). Menyatakan ada pengaruh pendidikan kesehatan
terstruktur terhadap tingkat kecemasan pada pasien preoperasi fraktur.
Dukungan Keluarga
Kelompok Intervensi
Dukungan Keluarga
Kelompok Kontrol
0.000 0.137
KESIMPULAN
1
• Terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan berbasis
model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan
dukungan keluarga) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberikan program intervensi
keperawatan berbasis model konseptual Levine.
2
• Tidak terdapat pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan standar rumah
sakit terhadap pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga).
3
• Terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan
berbasis model konseptual Levine dengan program intervensi keperawatan standar rumah sakit terhadap
pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga).
SARAN
Pendidikan
Keperawatan
Pelayanan
Keperawatan
Penelitian
Keperawatan
TERIMAKASIH

2. ppt seminar hasisl tesisi

  • 1.
    PENGARUH PROGRAM INTERVENSIKEPERAWATAN BERBASIS MODEL KONSEPTUAL LEVINE TERHADAP PEMULIHAN PASIEN FRAKTUR DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN HENRIANTO KAROLUS SIREGAR 177046041/KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Kamis, 2 Januari 2020 Komisi Penguji Ketua : Dr. Dudut Tanjung, S.Kp., M.Kep., Sp.KMB. Anggota : Nunung Febriany Sitepu, S.Kep.,Ns. MNS Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp. BS (K) Ns. Asrizal, M.Kep., RN., WOC(ET)N.,CHt.N MAGISTER ILMU KEPERAWATAN USU SEMINAR HASIL TESIS
  • 2.
    BAB 1 PENDAHULUAN  5,6juta orang meninggal disebabkan karena kecelakaan  1,3 juta orang mengalamai kecacatan fisik secara permanen  60 juta penduduk Amerika Serikat mengalami trauma berat  50 % akan memerlukan perawatan di rumah sakit. (Data WHO, 2011). • Fraktur Di Indonesia bahwa kejadian fraktur mengakibatkan kegiatan sehari-hari terganggu yaitu:  Tahun 2013 mengalami fraktur 8,2 %  Tahun 2018 megalami fraktur 9,2%. (Riskesdas, 2018) Prevalensi kejadian fraktur di Sumatera Utara terdapat 864 orang yaitu:  Fraktur ekstremitas bawah sebanyak 549 orang (63,5%)  Fraktur ekstremitas atas sebanyak 250 orang (28,9%)  Fraktur panggul sebanyak 39 orang (4,5%)  Fraktur tulang belakang sebanyak 26 orang (3,1%). (Moesbar, 2013). Prevalensi Fraktur di RSUP H. Adam Malik Sebanyak 196 orang yaitu :  Fraktur ekstremitas bawah sebanyak 94 orang  Fraktur ekstremitas atas sebanyak 45 orang  Fraktur bahu dan lengan atas sebanyak 31 orang  Fraktur kaki sebanyak 26 orang. (Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan, 2018).
  • 3.
    (Einhorn & Gerstenfeld, 2015). • Pemulihanfraktur tergantung pada faktor usia dimana semakin tua usia seseorang maka semakin lama proses pemulihan fraktur tersebut. (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2016). • Pasien fraktur sering mengalami perubahan baik secara fisik maupun perubahan dari psikologisnya. (Alexiou, Roushias, Varitimidis, & Malizos, 2018). • Perubahan psikologis yang dialami akibat fraktur adalah depresi yang dapat meningkatkan intensitas nyeri dan stres emosional. Hal ini dapat menghambat pemulihan pasien fraktur. (Corrarino, 2015). • Faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan fraktur yaitu tingkat pemindahan, stabilitas mekanik, integritas tulang, infeksi, usia, status nutrisi, dan komplikasi penyakit.
  • 4.
    Pemulihan Fraktur Prevalensi pemulihan frakturdi Amerika Serikat menyatakan bahwa sekitar 7,9 juta individu mengalami fraktur yang terjadi setiap tahun adalah 5-10% mengalami gangguan pemulihan (Buza & Einhorn, 2016) Di Swedia terdapat 61 orang pemulihan fraktur secara normal dengan waktu pemulihan dalam 17 minggu, 27 orang pemulihan fraktur yang lambat dengan waktu pemulihan 35 minggu (Karladani et al., 2001). Di United Kingdom menyatakan kekuatan fisik individu yang kuat dapat mempercepat pemulihan fraktur dengan rata-rata 30% pemulihan dipercepat dalam waktu 12 minggu (Mirhadi, Ashwood, & Karagkevrekis, 2013). Hal tersebut dipengaruhi berbagai faktor yang dirasakan individu pada saat pengobatan fraktur.
  • 5.
    Individu yang mengalamifraktur sering mengalami masalah yang kompleks seperti gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga yang rendah. Untuk menjaga kemampuan individu dalam melawan rintangan, melakukan adaptasi yang sesuai, dan menghadapi ketidakmampuan maka digunakan model konsepetual konservasi Levine. Model konseptual Levine ini bertujuan untuk dapat memelihara kebutuhan individu yang akan menggunakan prinsip konservasi yang diharapkan dapat berperan meningkatkan kemampuan individu melalui intervensi yang dilakukan (Alligood & Tomey, 2014).
  • 6.
  • 7.
    (Delmore , 2006). • Konservasienergi bertujuan untuk menghindari penggunaan energi yang berlebihan yang dapat mengakibatkan gangguan tidur. (Klafke et al., 2015). • Konservasi integritas struktural bertujuan untuk melakukan perawatan secara efektif, perawat berperan sebagai conservator yang mendukung untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien tersebut. (Delmore, 2006). • Konservasi integritas pribadi bertujuan untuk meningkatkan keyakinan diri dan mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh pasien tersebut selama perawatan di rumah sakit. (Leach, 2006). • Konservasi integritas sosial bertujuan untuk meningkatkan hubungan individu dengan keluarga, dan masyarakat agar tercapai hubungan yang baik.
  • 8.
    Tujuan umum • Untuk mengidentifikasipengaruh program intevensi keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. Tujuan khusus • Mengidentifikasi pengaruh pemulihan fraktur sesudah dilakukan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. • Mengidentifikasi pengaruh pemulihan fraktur sesudah dilakukan program intervensi keperawatan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. • Mengidentifikasi perbedaan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine dengan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. Tujuan Penelitian
  • 9.
    Hipotesis • Hipotesis penelitianini adalah meningkatakan efektifitas pada program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. Manfaat Penelitian • Pendidikan Keperawatan • Pelayanan Keperawatan • Penelitian Keperawatan
  • 10.
    BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA KonsepFraktur Konsep Pemulihan Konsep Pemulihan Fraktur Konsep Model Konservasi Levine  Pengertian  Penyebab  Manifestasi klinis  Klasifikasi  Komplikasi  Penatalaksanaan  Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur  Pengertian  Mekanisme  Faktor yang mempengaruhi pemulihan.  Pengertian  Proses pemulihan fraktur  Faktor-faktor yang mempengaruhi pemulihan fraktur.  Indikator Pemulihan Fraktur  Pengertian  Metaparadigma model konservasi Levine  Teori keperawatan  Intervensi keperawatan model konservasi Levine
  • 11.
    Variabel Independen: Program IntervensiKeperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Variabel Dependen: Pemulihan Pasien Fraktur Faktor Perancu  Usia  Lama Rawat Pasien Fraktur Kerangka Konsep Penelitian
  • 12.
    BAB 3 METODE PENELITIAN JenisPenelitian - Quasi Experiment - Metode equivalent control group design. Lokasi dan Waktu Penelitian - RB 3 RSUP HAM - 26 Agustus s/d 24 Oktober 2019 Populasi dan Sampel - Seluruh pasien Fraktur yang di rawat di ruang RB 3 RSUP HAM - 62 orang
  • 13.
    Metode Pengumpulan Data TahapPersiapan • Mengurus Surat Penelitian Dari Pimpinan Fakultas Keperawatan • Ethical Clearance • Izin Surat Penelitian • Mengidentifikasi Sampel Penelitian • Informed Consent Pre test • Pre test dengan menggunakan kuesioner Sleep Quality Scale (SQS), Numeric Rating Scale (NRS), Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), Family Support Scale (FSS). Intervensi • Memberikan intervensi kepada responden yang termasuk dalam kelompok intervensi yaitu intervensi keperawatan teknik relaksasi Benson, teknik relaksasi napas dalam, teknik relaksasi otot progresif, dan pendidikan kesehatan. Post test • Setelah intervensi dilakukan selama 6 hari, peneliti menilai pemulihan fraktur yang dirasakan oleh responden. • Penilaian dilakukan lembar kuesioner Sleep Quality Scale (SQS), Numeric Rating Scale (NRS), Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), Family Support Scale (FSS)
  • 14.
    Variabel dan DefenisiOperasional Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala Variabel Independen: Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine. Suatu program keperawatan menggunakan teori Levine dengan intervensi keperawatan yang terdiri dari: teknik relaksasi benson, teknik relaksasi napas dalam, teknik relaksasi otot progresif, dan pendidikan kesehatan.
  • 15.
    Variabel dan DefenisiOperasional Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala Variabel Dependen: Pemulihan Pasien Fraktur Suatu proses yang membutuhkan waktu dan usaha yang keras untuk dapat pulih. Sehingga dapat melalui peningkatan kualitas tidur, penurunan nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga meningkat. Sleep Quality Scale Numeric rating scale Hamilton anxiety rating scale Family support scale 0-21: kualitas tidur sangat buruk, 22-42: kualitas tidur buruk, 43-62: kualitas tidur baik, 63-84: kualitas tidur sangat baik. 1-3: nyeri ringan 4-6: nyeri sedang 7-10 : nyeri berat 0-17: kecemasan ringan, 18-24: kecemasan sedang, 25-30: kecemasan berat. 0-21: dukungan keluarga baik 22-43: dukungan keluarga cukup 44-64: dukungan keluarga buruk. Ordinal
  • 16.
    Variabel dan DefenisiOperasional Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala Faktor perancu: Usia Lama rawat pasien fraktur Rentang kehidupan yang diukur dengan tahun terhitung sejak lahir sampai dengan sekarang. Periode lama pasien dirawat dirumah sakit yang dihitung mulai dari pasien masuk rumah sakit sampai pulang dari rumah sakit. Kuesioner data demografi Kuesioner data demografi 1= 17-25 tahun: remaja akhir, 2= 26-35 tahun: dewasa awal, 3= 36-45 tahun: dewasa akhir, 4= 46- 55 tahun: lansia awal, 5= 56-65 tahun: lansia akhir, 6= >65 masa manula. 1= 1 hari- 1 minggu 2= 2 minggu- 3 minggu 3= 1 bulan-2 bulan 4= 3 bulan Rasio Ordinal
  • 17.
    Metode Pengukuran Instrument: Kuesioner: Sleep Quality Scale(SQS), Numeric Rating Scale, Hamilton Anxiety Rating Scale, dan Family support scale. Validitas: - Content validity Index (CVI) instrument Sleep Quality Scale (SQS) adalah 0,94, Hamilton Anxiety Rating Scale adalah 0,97, Family support scale adalah 0,98. - Uji valid kepada 3 orang experts. Reliabilitas: - Reliabilitas instrument dilakukan di RSUD DR Pirngadi Kota Medan sebanyak 30 responden. - Nilai cronbach’s alpha Sleep Quality Scale (SQS) yaitu 0.80, Hamilton Anxiety Rating Scale yaitu 0.86, Family support scale yaitu 0.81. Pilot Study: Peneli sudah melakukan pilot study di RSUD DR Pirngadi Kota Medan dan hasil pilot studi ini menunjukkan bahwa program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine memiliki pengaruh signifikan terhadap gangguan tidur yaitu 0,000, kecemasan yaitu 0,004, dan dukungan keluarga yaitu 0,000.
  • 18.
  • 19.
    Metode Analisis Data AnalisisUnivariat Analisis Bivariat Analisis Multivariat Distribusi frekuensi dan persentasi data seperti usia, jenis kelamin, suku, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dan lama menderita fraktur. Wilcoxon signed ranks test : Sebelum dan sesudah intervensi Melihat hubungan variabel perancu Data hasil penelitian terhadap pemulihan pasien fraktur sesudah diberikan intervensi program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine. Mann-Whitney Test : Membandingkan perbedaan kelompok intervensi dan kontrol. Menggunakan regresi logistik metode enter
  • 20.
    Pertimbangan Etik Asas Manfaat(Beneficience) Bebas Dari Kerugian dan Ketidaknyamanan Bebas Dari Eksploitasi Asas Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect For Human Dignity) Hak untuk memperoleh informasi (the right to full disclosure) Asas keadilan(justice)
  • 21.
    BAB 4 HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN Data Demografi Responden Pemulihan Pasien Fraktur Analisis Bivariat Wilcoxon Signed Rank Test Analisis bivariat uji Mann Whitney Test Analisis Multivariat regresi logistik
  • 22.
    Usia Jenis KelaminPendidikan Pekerjaan Lama Rawat Pasien Fraktur Intervensi 29 67.7 74.2 32.3 45.2 Kontrol 32.3 83.9 77.4 54.8 74.2 Remaja Akhir 29% Laki-Laki 67.7% SMA 74.2% Wiraswasta 32.3% 1 Hari- 1 Minggu 45.2% Dewasa Awal 32.3% Laki-Laki 83.9% SMA 77.4% Wiraswasta 54.8% 1 Hari- 1 Minggu 74.2% 0 20 40 60 80 100 120 Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Karakteristik Demografi Responden pada Kelompok Intervensi dan Kontrol (n=62) ANALISIS UNIVARIAT
  • 23.
    Gangguan Tidur NyeriKecemasan Dukungan Keluarga Pre Intervensi 83.9 74.2 100 77.4 Post Intervensi 74.2 100 96.8 100 Sangat Buruk 83.9% Sedang 74.2% Berat 100% Cukup 77.4% Sangat Baik 74.2% Ringan 100% Sedang 96.8% Baik 100% 0 20 40 60 80 100 120 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pemulihan Pasien Fraktur pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah diberikan Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine (n=62)
  • 24.
    Gangguan Tidur NyeriKecemasan Dukungan Keluarga Pre Kontrol 100 64.5 100 100 Post Kontrol 100 74.2 100 100 Buruk 100% Ringan 64.5% Berat 100% Buruk 100% Buruk 100% Ringan 74.2% Berat 100% Buruk 100% 0 20 40 60 80 100 120 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pemulihan Pasien Fraktur pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah diberikan Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine (n=62)
  • 25.
    Gangguan Tidur Kecemasan Nyeri Dukungan Keluarga Nyeri DukunganKeluarga Kecemasan Gangguan Tidur AnalisisBivariat(WilcoxonSignedRankTest,) Intervensi Kontrol 0.000 0.000 0.000 0.000 0.042 0.083 0.109 0.137 Pengaruh Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Terhadap Pemulihan Pasien Fraktur Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol (n=62)
  • 26.
    Nyeri Dukungan keluarga Kecemasan ANALISISBIVARIAT(MannWhitneyTest) Gangguan Tidur0.000 0.000 0.000 0.000 Perbedaaan Program Intervensi Keperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Dengan Program Intervensi Keperawatan Standar Rumah Sakit Terhadap Pemulihan Pasien Fraktur (n=62)
  • 27.
    Usia • p= 0.061 Lamarawat pasien fraktur • p= 0.064 Tidak ada variabel interaksi Analisis Multivariat (Regresi Logistik)
  • 28.
    KARAKTERISTIK RESPONDEN PEMULIHAN PASIENFRAKTUR PENGARUH PROGRAM INTERVENSI KEPERAWATAN BERBASIS MODEL KONSEPTUAL LEVINE TERHADAP PEMULIHAN PASIEN FRAKTUR PADA KELOMPOK INTERVENSI DAN KELOMPOK KONTROL 1 2 3 PEMBAHASAN
  • 29.
    Karakteristik Responden Hasil penelitianjika dilihat dari usia menunjukkan bahwa responden yang mengalami fraktur bervariasi antara usia remaja akhir sampai pada usia dewasa awal, yaitu berkisar antara 17 sampai dengan 35 tahun. Penelitian Liang & Chikritzhs (2016) menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur berada pada rentang usia 18 sampai dengan usia 40 tahun. Usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden baik dari kelompok intervensi maupun kelompok kontrol adalah laki-laki dimana kelompok intervensi sebanyak 21 (67.70%) responden dan kelompok kontrol sebanyak 26 (83.90%) responden. Penelitian Wang et al. (2013) menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Jenis Kelamin Pendidikan Jika dilihat dari pendidikan terakhir responden, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden pada kelompok intervensi memiliki jenjang pendidikan SMA sebanyak 23 (74.20%) responden. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas responden dengan jenjang pendidikan SMA sebanyak 24 (77.40%) responden. Penelitian Lemone, Burke, & Bauldoff (2016) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memahami dan mengikuti petunjuk agar dapat hidup sehat.
  • 30.
    Hasil penelitian menunjukkanbahwa mayoritas responden baik dari kelompok intervensi maupun kelompok kontrol bekerja sebagai wiraswasta, dimana kelompok intervensi sebanyak 10 (32.30%) responden dan kelompok kontrol sebanyak 17 (54.80%) responden. Penelitian Mock et al. (2005) menyatakan bahwa responden yang bekerja dan memiliki mobilisasi diluar rumah akan beresiko terhadap kejadian fraktur. Jenis Pekerjaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lama rawat pasien fraktur responden pada kelompok intervensi yaitu 1 hari sampai 1 minggu sebanyak 14 (45.20%) responden. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas lama rawat pasien fraktur yaitu 1 hari sampai 1 minggu sebanyak 23 (74.20%). Lama rawatan rata-rata pasien yang mengalami fraktur 4-7 hari baik fraktur tertutup maupun fraktur terbuka (Sinukaban & Jemadi, 2014) dan rata-rata lama rawat pasien fraktur adalah 7-10 hari (Nursalam & Sri, 2011). Lama Rawat Pasien Fraktur
  • 31.
    Pemulihan Pasien Fraktur •Penelitian Crowley (2011) menyatakan bahwa lebih dari setengah jumlah responden dewasa dengan riwayat jatuh mengalami masalah gangguan tidur yang meliputi durasi dan kualitas tidur. • Penelitian Andri, Panzilion & Sutrisno (2019) menyatakan dari 30 orang responden didapatkan hasil sebanyak 22 orang pasien fraktur mengalami kualitas buruk dan 8 orang memiliki kualitas tidur baik (p value 0.002). Gangguan Tidur • Usia bisa menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nyeri. • Penelitian ini berbeda dengan yang diungkapkan oleh Boggero et al. (2015) dalam penelitiannya bahwa mayoritas responden adalah lansia awal dengan usia 46-55 tahun dan memiliki skala nyeri sedang. Hal ini disebabkan karena nyeri meningkat ketika responden tumbuh menjadi dewasa dan menurun secara bertahap pada usia lanjut. Nyeri
  • 32.
    Pemulihan Pasien Fraktur •Usia juga bisa menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan. Rata-rata usia pada kelompok intervensi adalah remaja akhir dengan usia 17-25 tahun dan memiliki kecemasan berat. Sedangkan rata-rata usia pada kelompok kontrol adalah dewasa awal dengan usia 26-35 tahun dan memiliki kecemasan berat. • Penelitian Thomas & D’Silva (2015) menyatakan usia 31 sampai 50 tahun dapat mempengaruhi tingkat kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan meningkat seiring dengan bertambahnya usia responden. Kecemasan • Penelitian Lin & Lu (2005) menjelaskan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan fraktur pada pasien dengan hip fraktur salah satunya adalah dukungan keluarga. Dukungan Keluarga
  • 33.
    Pengaruh Program IntervensiKeperawatan Berbasis Model Konseptual Levine Terhadap Pemulihan Fraktur Gangguan Tidur Kelompok Intervensi Gangguan Tidur Kelompok Kontrol 0.000 0.042 Pieter (2017). Rahman, Handayani & Sholehah (2019) Muliantino, Herawati & Masfuri (2018) Tidur merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berfungsi untuk mengembalikan keseimbangan fungsi-fungsi normal tubuh, pengaturan suhu dan cadangan energi yang normal. Berdasarkan hasil penelitian ini intervensi tersebut memberikan pengaruh terhadap tidur responden (p value 0.000). Teknik relaksasi Benson dapat meningkatkan kualitas tidur pada pasien lansia. Teknik relaksasi Benson dapat meningkatkan durasi tidur pasien dengan penyakit jantung koroner. Relaksasi Benson dapat meningkatkan kualitas tidur karena dapat menstimulasi pengeluaran hormon endorphin.
  • 34.
    Brunner (2010). Seheno (2010) Aini& Reskita (2018) Pasien fraktur yang mengalami nyeri dapat menggunakan tindakan manajemen nonfarmakologis salah satu diantaranya adalah teknik relaksasi napas dalam. Teknik relaksasi napas dalam efektif untuk menurunkan nyeri pasca operasi pasien fraktur. Sebelum dilakukan tindakan teknik relaksasi napas dalam pasien fraktur mengalami nyeri sedang, sedangkan setelah dilakukan tindakan teknik relaksasi napas dalam pasien fraktur mengalami nyeri ringan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi napas dalam efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien fraktur. Nyeri Kelompok Intervensi Nyeri Kelompok Kontrol 0.000 0.083
  • 35.
    Stuart & Laraia, (2005). Astuti& Ruhyana (2015) Zhao et al. (2012) Kecemasan merupakan respon atau perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak bisa dibenarkan sehingga sering dijumpai dengan gejala gelisah, takut, dan berupa rasa sakit pada tulang dan otot. Teknik relaksasi otot progresif dapat mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi yang mengalami fraktur. Teknik relaksasi otot progresif dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan yang dapat menekan saraf simpatis dan menekan rasa tegang yang dialami oleh responden secara timbal balik sehingga akan timbul counter conditioning (penghilang) rasa tegang. Kecemasan Kelompok Intervensi Kecemasan Kelompok Kontrol 0.000 0.109
  • 36.
    Friedman, Browden, & Jones,(2010). Wijayanto & Abdullah (2015). Dukungan keluarga ini dapat berupa orientasi tugas yang dapat diberikan untuk keluarga, teman, bahkan tetangga sekalipun. Berdasarkan hasil penelitian ini intervensi tersebut memberikan pengaruh terhadap dukungan keluarga responden (p value 0.000). Menyatakan ada pengaruh pendidikan kesehatan terstruktur terhadap tingkat kecemasan pada pasien preoperasi fraktur. Dukungan Keluarga Kelompok Intervensi Dukungan Keluarga Kelompok Kontrol 0.000 0.137
  • 37.
    KESIMPULAN 1 • Terdapat pengaruhyang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine terhadap pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberikan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine. 2 • Tidak terdapat pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga). 3 • Terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan program intervensi keperawatan berbasis model konseptual Levine dengan program intervensi keperawatan standar rumah sakit terhadap pemulihan pasien fraktur (gangguan tidur, nyeri, kecemasan, dan dukungan keluarga).
  • 38.
  • 39.