JARINGAN KOMPUTER
WEEK #5
STMIK INDONESIA
JAKARTA
2013
LATAR BELAKANG
 Salah satu topik penting dalam
membicarakan TCP/IP
 Sebagai pengidentifikasian dengan
angka kepada setiap mesin di dalam
jaringan IP
 Alamat IP adalah software , bukan
hardware
 Diperlukan untuk komunikasi antar host
Terminologi
 Bit  1 bit sama dengan satu digit; Bernilai 0 atau 1. Simbol
“b”
 Byte  Satu byte sama dengan 8 bit. Simbol “B”
 Octet  Octet terdiri atas 8 bit, yang merupakan bilangan
biner 8 bit umumnya.
 Network Address  Digunakan dalam routing untuk
menunjukkan pengiriman paket ke remote network. Contoh:
10.0.0.0, 172.16.0.0,dan 192.168.10.0
 Broadcast address  Alamat yang digunakan oleh aplikasi
dan host untuk mengirim informasi ke semua titik di dalam
jaringan. Contoh: 255.255.255.255 (broadcast ke semua
jaringan), 172.16.255.255 (broadcast ke semua subnet dan
host pada network address 172.16.0.0, dst
 Host address  Alamat yang memberikan identifikasi secara
unik pada tiap mesin di dalam network
Skema Hierarki Pengalamatan
IP
 Untuk IP versi 4, Alamat IP terdiri atas 32 bit. Bit ini
terbagi menjadi 4 bagian yang dikenal sebagai octet
atau byte,dimana masing-masing terdiri atas 1 byte (8
bit)
 3 Metode pengalamatan IP:
 Dotted-decimal, contoh: 172.16.30.56
 Biner, contoh:
10101100.0010000.00011110.00111000
 Heksadesimal, contoh: AC.10.1E.38
STMIK INDONESIA JK-002
Sebuah komputer dapat memiliki lebih dari satu IP, tergantung sistem
operasinya. Windows 9x hanya mengijinkan 1 (satu) IP untuk setiap
komputer sedangkan Windows NT dan Linux mengijinkan sebuah
komputer memiliki lebih dari 1 IP address.
Angka 0 dipakai untuk menunjukkan network id (net id) sedangkan 255
dipakai untuk broadcast, jadi IP 15.10.10.2 berarti net id =
15.10.10.0, hal ini berarti angka 0 dan 255 tidak boleh dipakai sebagai
nomor IP komputer menurut aturan resmi.
IP address
STMIK INDONESIA JK-003
Desimal 192 168 10 100
Binner 11000000 10101000 00001010 01100100
IP address
Contoh Merubah Desimal Ke Binner:
192 : 2 = 96 Sisa 0
96 : 2 = 48 Sisa 0
48 : 2 = 24 Sisa 0
24 : 2 = 12 Sisa 0
12 : 2 = 6 Sisa 0
6 : 2 = 3 Sisa 0
3 : 2 = 1 Sisa 1
1
168 : 2 = 84 Sisa 0
84 : 2 = 42 Sisa 0
42 : 2 = 21 Sisa 0
21 : 2 = 10 Sisa 1
10 : 2 = 5 Sisa 0
5 : 2 = 2 Sisa 1
2 : 2 = 1 Sisa 0
1
10 : 2 = 5 Sisa 0
5 : 2 = 2 Sisa 1
2 : 2 = 1 Sisa 0
1
100 : 2 = 50 Sisa 0
50 : 2 = 25 Sisa 0
25 : 2 = 12 Sisa 1
12 : 2 = 6 Sisa 0
6 : 2 = 3 Sisa 0
3 : 2 = 1 Sisa 1
1
STMIK INDONESIA JK-004
128 64 32 16 8 4 2 1 = 255
27 26 25 24 23 22 21 20 = 255
IP address
Contoh Merubah Binner Ke Desimal:
0 1 1 0 0 1 0 0 = 100
STMIK INDONESIA JK-005
Di dalam IP Address terdapat kelas-kelas yang berkaitan dengan Network
Address dan Host Address. Kelas-kelas tersebut adalah kelas A, B, C, D, dan
E. Kita hanya akan membahas kelas A, B dan C saja, karena yang paling
sering digunakan.
Kelas A 1 – 127 1 – 255 1 – 255 1 – 255
Kelas B 128 – 191 1 – 255 1 – 255 1 – 255
Kelas C 192 – 223 1 – 255 1 – 255 1 – 255
Kelas D 224 – 239 1 – 255 1 – 255 1 – 255
Kelas E 240 – 255 1 – 255 1 – 255 1 – 255
 Class D sebagai alamat multicast dan
Class E untuk penelitian
 Alamat spesial:
 Alamat network ketika semuanya 0
○ Diartikan sebagai jaringan / segmen ini
 Alamat network semuanya 1
○ Diartikan sebagai semua jaringan
 Network 127.0.0.1
○ Digunakan untuk loopback test. Memungkinkan
sebuah node/host mengirimkan paket ke dirinya
sendiri tanpa mengganggu traffic jaringan
IP address
STMIK INDONESIA JK-006
Sebuah alamat IP terdiri dari 2 (dua) bagian, yakni:
Network ID
Merupakan identitas alamat dari sebuah jalur. Semua device yang terhubung
pada jalur fisik yang sama harus memiliki Network ID yang sama.
Host ID
Merupakan identitas bagi host (workstation, server, interface router dan
device lain yang terhubung ke jaringan TCP/IP).
IP address
Kelas A 10 1 – 255 1 – 255 1 – 255
Kelas B 172 16 – 31 1 – 255 1 – 255
Kelas C 192 168 1 – 255 1 – 255
STMIK INDONESIA JK-007
Kelas Format Default Subnet Mask
A Net.Node.Node.Node 255.0.0.0
B Net.Net.Node.Node 255.255.0.0
C Net.Net.Net.Node 255.255.255.0
IP address
Mekanisme pembagian NetworkID dan Host ID diatur oleh nilai Subnet
Mask. Masing – masing kelas telah memiliki nilai default Subnet Mask.
Private IP Address
 Not routeable to internet
 Ditujukan untuk kebutuhan keamanan
 Penghematan jumlah alamat IP yang berharga
 Private IP address yang disediakan adalah sebagai
berikut:
 Class A : 10.0.0.0 sampai 10.255.255.255
 Class B : 172.16.0.0 sampai 172.31.255.255
 Class C: 192.168.0.0 sampai 192.168.255.255
Broadcast Address
 Broadcast layer 2
 Akan mengirimkan ke semua node dalam LAN (jaringan lokal)
 Dikenal juga dengan hardware broadcast
 Tidak bisa melalui router kecuali berubah menjadi paket unicast
 Broadcast layer 3
 Berupa network broadcast dengan semua bit host dalam kondisi on
(bernilai 1)
 Contoh broadcast message adalah ARP (Address Resolution Protocol)
 Unicast
 Broadcast yang mempunyai alamat tujuan IP yang pasti atau ditujukan
untuk host yang spesifik
 Multicast
 Multicast memungkinkan komunikasi point-to-multipoint yang berbeda
dari broadcast.
 Memungkinkan beberapa peneria menerima pesan tanpa membanjiri
pesan ke semua host pada satu broadcast domain
 Hanya meneruskan paket ke host yang berlangganan. Contoh: IPTV
Network Address Translation
(NAT)
 Ide utama  Menghemat alamat global internet
 Meningkatkan keamanan jaringan dengan
menyembunyikan alamat IP internal dari jaringan di luar
 Inside network menjadi sasaran penerjemahan dari
alamat private menjadi alamat global/public
 Beberapa ciri khas NAT:
 Static NAT
○ Pemetaan one to one
 Dynamic NAT
○ Mapping private IP ke salah satu public IP dari beberapa public
IP yang ter-register
 Overloading NAT (NAT overload)
○ Dynamic NAT yang memetakan beberapa unregistered IP ke IP
tunggal yang terregister (many to one) dengan menggunakan
port yang berlainan
○ Dikenal juga dengan PAT (Port Address Transalation)
STMIK INDONESIA JK-008
Merupakan sebuah teknik peminjaman bagian host untuk dijadikan
bagian network, yang berakibat memperbanyak jumlah subnet dan
memperkecil jumlah host dalam tiap-tiap subnet. Alasannya:
Mengurangi trafik jaringan, jika tidak menggunakan router sebuah host
tidak dapat berkomunikasi dengan host yang memiliki alamat network
yang berbeda.
Meningkatkan performance jaringan, yang merupakan akibat dari
berkurangnya trafik.
Menyederhanakan managemen, lebih mudah mengidentifikasi dan
mengisolasi masalah yang terjadi dalam jaringan.
STMIK INDONESIA JK-009
Teknik subnetting pada implementasinya akan berkaitan dengan subnet
mask. Sama halnya dengan IP Address, subnet mask dibentuk dari
bilangan binner. Agar pengguna lebih mudah mengenal dan
menggunakan subnet mask, bilangan subnet mask dikonversi ke dalam
bentuk bilangan desimal.
Subnetting
Desimal 255 255 0 0
Binner 11111111 11111111 00000000 00000000
Bit 1 menandai bagian network address, bit 0 menandai bagian host
address.
STMIK INDONESIA JK-010
Desimal Binner
IP Address 10.16.15.1 00001010 00010000 00001111 00000001
Default
Subnet Mask
255.0.0.0 11111111 00000000 00000000 00000000
Network
Address
10.0.0.0 00001010 00000000 00000000 00000000
Desimal Binner
IP Address 10.16.15.1 00001010 00010000 00001111 00000001
Subnet Mask 255.255.255.0 11111111 11111111 11111111 00000000
Network
Address
10.16.15.0 00001010 00010000 00001111 00000000
Subnetting
Setelah di Subnet
STMIK INDONESIA JK-011
Cara Menghitung Subnetting
Contoh:
IP Network Address: 192.168.1.0/26
Artinya:
IP Address: 192.168.1.0
Subnet Mask: 11111111.11111111.11111111.11000000
: 255.255.255.192
Yang mesti dihitung dalam teknik subnetting adalah
1. Jumlah Subnet
2. Jumlah Host per Subnet
3. Blok Subnet
4. Alamat Host dan Broadcast
STMIK INDONESIA JK-012
Cara Menghitungnya:
1. Jumlah Subnet = 2ˣ
dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2
oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi
Jumlah Subnet adalah 2² = 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2y– 2
dimana y adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet
terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host.
3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64.
Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet
lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Alamat Host dan Broadcast = host pertama adalah 1 angka setelah
subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
STMIK INDONESIA JK-013
Subnet 192.168.1.0 192.168.1.64 192.168.1.128 192.168.1.192
Host Pertama 192.168.1.1 192.168.1.65 192.168.1.129 192.168.1.193
Host Terakhir 192.168.1.62 192.168.1.126 192.168.1.190 192.168.1.254
Broadcast 192.168.1.63 192.168.1.127 192.168.1.191 192.168.1.255
STMIK INDONESIA JK-014
Contoh Kasus:
Anda seorang administrator jaringan yang ditugaskan di sebuah
kantor cabang. Kantor cabang tersebut terdiri dari 20 departemen dan
masing-masing departemen terdiri dari 5 user. Anda ditugaskan untuk
membentuk sistem pengalamatan jaringan yang terdapat dikantor
cabang tersebut. Agar dapat berkomunikasi dengan kantor pusat,
administrator kantor pusat memberi satu alamat network: 201.222.5.0.
manager dikantor cabang menginginkan masing-masing departemen
memiliki network address yang berbeda.
STMIK INDONESIA JK-015
Solusi:
IP Network Address: 201.222.5.0
Default Subnet Mask: 255.255.255.0
: 11111111.11111111.11111111.00000000
Jumlah minimal subnet (Departemen) yang harus dibentuk: 20 Subnet
Jumlah minimal host (User) pada tiap-tiap subnet: 5 Host
Yang mesti dihitung dalam teknik subnetting adalah:
1. Jumlah Subnet
2. Jumlah Host per Subnet
3. Blok Subnet
4. Alamat Host dan Broadcast
STMIK INDONESIA JK-016
1. Jumlah Subnet (2ˣ) / Departemen
2ˣ = 20
Kita harus mencari nilai X agar hasil perpangkatannya = 20 atau
lebih besar dari 20 (>20)
X = 5
32 > 20
Dari hasil diatas kita dapat menentukan bahwa nilai bit 0 yang
harus diubah/dipinjam menjadi bit 1 adalah sebanyak 5
11111111.11111111.11111111.00000000
11111111.11111111.11111111.11111000
Jadi Subnet Mask baru yang digunakan setelah di Subneting
adalah:
255.255.255.248
STMIK INDONESIA JK-017
2. Jumlah Host per Subnet (2y– 2) / User
2y– 2 = 5
Kita harus mencari nilai Y agar hasil perpangkatannya = 5 atau
lebih besar dari 5 (>5)
Y = 3
6 > 5
3. Blok Subnet
256 – 248 = 8
Hasil dari pengurangan diatas mengindikasikan bahwa alamat
Subnet selalu kelipatan 8
0, 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64, 72, 80, 88, 96,
104, 112, 120, 128, 136, 144, 152.
STMIK INDONESIA JK-018
4. Alamat Host dan Broadcast
Subnet 201.222.5.0 201.222.5.8 ........... 201.222.5.152
Host Pertama 201.222.5.1 201.222.5.9 ........... 201.222.5.153
Host Terakhir 201.222.5.6 201.222.5.14 ........... 201.222.5.158
Broadcast 201.222.5.7 201.222.5.15 ........... 201.222.5.159
Depart - 1 Depart – 2 Depart ...... Depart – 20
STMIK INDONESIA JK-19
TERIMA KASIH

05 week 5_ip_addressing

  • 1.
    JARINGAN KOMPUTER WEEK #5 STMIKINDONESIA JAKARTA 2013
  • 2.
    LATAR BELAKANG  Salahsatu topik penting dalam membicarakan TCP/IP  Sebagai pengidentifikasian dengan angka kepada setiap mesin di dalam jaringan IP  Alamat IP adalah software , bukan hardware  Diperlukan untuk komunikasi antar host
  • 3.
    Terminologi  Bit 1 bit sama dengan satu digit; Bernilai 0 atau 1. Simbol “b”  Byte  Satu byte sama dengan 8 bit. Simbol “B”  Octet  Octet terdiri atas 8 bit, yang merupakan bilangan biner 8 bit umumnya.  Network Address  Digunakan dalam routing untuk menunjukkan pengiriman paket ke remote network. Contoh: 10.0.0.0, 172.16.0.0,dan 192.168.10.0  Broadcast address  Alamat yang digunakan oleh aplikasi dan host untuk mengirim informasi ke semua titik di dalam jaringan. Contoh: 255.255.255.255 (broadcast ke semua jaringan), 172.16.255.255 (broadcast ke semua subnet dan host pada network address 172.16.0.0, dst  Host address  Alamat yang memberikan identifikasi secara unik pada tiap mesin di dalam network
  • 4.
    Skema Hierarki Pengalamatan IP Untuk IP versi 4, Alamat IP terdiri atas 32 bit. Bit ini terbagi menjadi 4 bagian yang dikenal sebagai octet atau byte,dimana masing-masing terdiri atas 1 byte (8 bit)  3 Metode pengalamatan IP:  Dotted-decimal, contoh: 172.16.30.56  Biner, contoh: 10101100.0010000.00011110.00111000  Heksadesimal, contoh: AC.10.1E.38
  • 5.
    STMIK INDONESIA JK-002 Sebuahkomputer dapat memiliki lebih dari satu IP, tergantung sistem operasinya. Windows 9x hanya mengijinkan 1 (satu) IP untuk setiap komputer sedangkan Windows NT dan Linux mengijinkan sebuah komputer memiliki lebih dari 1 IP address. Angka 0 dipakai untuk menunjukkan network id (net id) sedangkan 255 dipakai untuk broadcast, jadi IP 15.10.10.2 berarti net id = 15.10.10.0, hal ini berarti angka 0 dan 255 tidak boleh dipakai sebagai nomor IP komputer menurut aturan resmi. IP address
  • 6.
    STMIK INDONESIA JK-003 Desimal192 168 10 100 Binner 11000000 10101000 00001010 01100100 IP address Contoh Merubah Desimal Ke Binner: 192 : 2 = 96 Sisa 0 96 : 2 = 48 Sisa 0 48 : 2 = 24 Sisa 0 24 : 2 = 12 Sisa 0 12 : 2 = 6 Sisa 0 6 : 2 = 3 Sisa 0 3 : 2 = 1 Sisa 1 1 168 : 2 = 84 Sisa 0 84 : 2 = 42 Sisa 0 42 : 2 = 21 Sisa 0 21 : 2 = 10 Sisa 1 10 : 2 = 5 Sisa 0 5 : 2 = 2 Sisa 1 2 : 2 = 1 Sisa 0 1 10 : 2 = 5 Sisa 0 5 : 2 = 2 Sisa 1 2 : 2 = 1 Sisa 0 1 100 : 2 = 50 Sisa 0 50 : 2 = 25 Sisa 0 25 : 2 = 12 Sisa 1 12 : 2 = 6 Sisa 0 6 : 2 = 3 Sisa 0 3 : 2 = 1 Sisa 1 1
  • 7.
    STMIK INDONESIA JK-004 12864 32 16 8 4 2 1 = 255 27 26 25 24 23 22 21 20 = 255 IP address Contoh Merubah Binner Ke Desimal: 0 1 1 0 0 1 0 0 = 100
  • 8.
    STMIK INDONESIA JK-005 Didalam IP Address terdapat kelas-kelas yang berkaitan dengan Network Address dan Host Address. Kelas-kelas tersebut adalah kelas A, B, C, D, dan E. Kita hanya akan membahas kelas A, B dan C saja, karena yang paling sering digunakan. Kelas A 1 – 127 1 – 255 1 – 255 1 – 255 Kelas B 128 – 191 1 – 255 1 – 255 1 – 255 Kelas C 192 – 223 1 – 255 1 – 255 1 – 255 Kelas D 224 – 239 1 – 255 1 – 255 1 – 255 Kelas E 240 – 255 1 – 255 1 – 255 1 – 255
  • 9.
     Class Dsebagai alamat multicast dan Class E untuk penelitian  Alamat spesial:  Alamat network ketika semuanya 0 ○ Diartikan sebagai jaringan / segmen ini  Alamat network semuanya 1 ○ Diartikan sebagai semua jaringan  Network 127.0.0.1 ○ Digunakan untuk loopback test. Memungkinkan sebuah node/host mengirimkan paket ke dirinya sendiri tanpa mengganggu traffic jaringan IP address
  • 10.
    STMIK INDONESIA JK-006 Sebuahalamat IP terdiri dari 2 (dua) bagian, yakni: Network ID Merupakan identitas alamat dari sebuah jalur. Semua device yang terhubung pada jalur fisik yang sama harus memiliki Network ID yang sama. Host ID Merupakan identitas bagi host (workstation, server, interface router dan device lain yang terhubung ke jaringan TCP/IP). IP address Kelas A 10 1 – 255 1 – 255 1 – 255 Kelas B 172 16 – 31 1 – 255 1 – 255 Kelas C 192 168 1 – 255 1 – 255
  • 11.
    STMIK INDONESIA JK-007 KelasFormat Default Subnet Mask A Net.Node.Node.Node 255.0.0.0 B Net.Net.Node.Node 255.255.0.0 C Net.Net.Net.Node 255.255.255.0 IP address Mekanisme pembagian NetworkID dan Host ID diatur oleh nilai Subnet Mask. Masing – masing kelas telah memiliki nilai default Subnet Mask.
  • 12.
    Private IP Address Not routeable to internet  Ditujukan untuk kebutuhan keamanan  Penghematan jumlah alamat IP yang berharga  Private IP address yang disediakan adalah sebagai berikut:  Class A : 10.0.0.0 sampai 10.255.255.255  Class B : 172.16.0.0 sampai 172.31.255.255  Class C: 192.168.0.0 sampai 192.168.255.255
  • 13.
    Broadcast Address  Broadcastlayer 2  Akan mengirimkan ke semua node dalam LAN (jaringan lokal)  Dikenal juga dengan hardware broadcast  Tidak bisa melalui router kecuali berubah menjadi paket unicast  Broadcast layer 3  Berupa network broadcast dengan semua bit host dalam kondisi on (bernilai 1)  Contoh broadcast message adalah ARP (Address Resolution Protocol)  Unicast  Broadcast yang mempunyai alamat tujuan IP yang pasti atau ditujukan untuk host yang spesifik  Multicast  Multicast memungkinkan komunikasi point-to-multipoint yang berbeda dari broadcast.  Memungkinkan beberapa peneria menerima pesan tanpa membanjiri pesan ke semua host pada satu broadcast domain  Hanya meneruskan paket ke host yang berlangganan. Contoh: IPTV
  • 14.
    Network Address Translation (NAT) Ide utama  Menghemat alamat global internet  Meningkatkan keamanan jaringan dengan menyembunyikan alamat IP internal dari jaringan di luar  Inside network menjadi sasaran penerjemahan dari alamat private menjadi alamat global/public  Beberapa ciri khas NAT:  Static NAT ○ Pemetaan one to one  Dynamic NAT ○ Mapping private IP ke salah satu public IP dari beberapa public IP yang ter-register  Overloading NAT (NAT overload) ○ Dynamic NAT yang memetakan beberapa unregistered IP ke IP tunggal yang terregister (many to one) dengan menggunakan port yang berlainan ○ Dikenal juga dengan PAT (Port Address Transalation)
  • 15.
    STMIK INDONESIA JK-008 Merupakansebuah teknik peminjaman bagian host untuk dijadikan bagian network, yang berakibat memperbanyak jumlah subnet dan memperkecil jumlah host dalam tiap-tiap subnet. Alasannya: Mengurangi trafik jaringan, jika tidak menggunakan router sebuah host tidak dapat berkomunikasi dengan host yang memiliki alamat network yang berbeda. Meningkatkan performance jaringan, yang merupakan akibat dari berkurangnya trafik. Menyederhanakan managemen, lebih mudah mengidentifikasi dan mengisolasi masalah yang terjadi dalam jaringan.
  • 16.
    STMIK INDONESIA JK-009 Tekniksubnetting pada implementasinya akan berkaitan dengan subnet mask. Sama halnya dengan IP Address, subnet mask dibentuk dari bilangan binner. Agar pengguna lebih mudah mengenal dan menggunakan subnet mask, bilangan subnet mask dikonversi ke dalam bentuk bilangan desimal. Subnetting Desimal 255 255 0 0 Binner 11111111 11111111 00000000 00000000 Bit 1 menandai bagian network address, bit 0 menandai bagian host address.
  • 17.
    STMIK INDONESIA JK-010 DesimalBinner IP Address 10.16.15.1 00001010 00010000 00001111 00000001 Default Subnet Mask 255.0.0.0 11111111 00000000 00000000 00000000 Network Address 10.0.0.0 00001010 00000000 00000000 00000000 Desimal Binner IP Address 10.16.15.1 00001010 00010000 00001111 00000001 Subnet Mask 255.255.255.0 11111111 11111111 11111111 00000000 Network Address 10.16.15.0 00001010 00010000 00001111 00000000 Subnetting Setelah di Subnet
  • 18.
    STMIK INDONESIA JK-011 CaraMenghitung Subnetting Contoh: IP Network Address: 192.168.1.0/26 Artinya: IP Address: 192.168.1.0 Subnet Mask: 11111111.11111111.11111111.11000000 : 255.255.255.192 Yang mesti dihitung dalam teknik subnetting adalah 1. Jumlah Subnet 2. Jumlah Host per Subnet 3. Blok Subnet 4. Alamat Host dan Broadcast
  • 19.
    STMIK INDONESIA JK-012 CaraMenghitungnya: 1. Jumlah Subnet = 2ˣ dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 2² = 4 subnet 2. Jumlah Host per Subnet = 2y– 2 dimana y adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host. 3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192. 4. Alamat Host dan Broadcast = host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
  • 20.
    STMIK INDONESIA JK-013 Subnet192.168.1.0 192.168.1.64 192.168.1.128 192.168.1.192 Host Pertama 192.168.1.1 192.168.1.65 192.168.1.129 192.168.1.193 Host Terakhir 192.168.1.62 192.168.1.126 192.168.1.190 192.168.1.254 Broadcast 192.168.1.63 192.168.1.127 192.168.1.191 192.168.1.255
  • 21.
    STMIK INDONESIA JK-014 ContohKasus: Anda seorang administrator jaringan yang ditugaskan di sebuah kantor cabang. Kantor cabang tersebut terdiri dari 20 departemen dan masing-masing departemen terdiri dari 5 user. Anda ditugaskan untuk membentuk sistem pengalamatan jaringan yang terdapat dikantor cabang tersebut. Agar dapat berkomunikasi dengan kantor pusat, administrator kantor pusat memberi satu alamat network: 201.222.5.0. manager dikantor cabang menginginkan masing-masing departemen memiliki network address yang berbeda.
  • 22.
    STMIK INDONESIA JK-015 Solusi: IPNetwork Address: 201.222.5.0 Default Subnet Mask: 255.255.255.0 : 11111111.11111111.11111111.00000000 Jumlah minimal subnet (Departemen) yang harus dibentuk: 20 Subnet Jumlah minimal host (User) pada tiap-tiap subnet: 5 Host Yang mesti dihitung dalam teknik subnetting adalah: 1. Jumlah Subnet 2. Jumlah Host per Subnet 3. Blok Subnet 4. Alamat Host dan Broadcast
  • 23.
    STMIK INDONESIA JK-016 1.Jumlah Subnet (2ˣ) / Departemen 2ˣ = 20 Kita harus mencari nilai X agar hasil perpangkatannya = 20 atau lebih besar dari 20 (>20) X = 5 32 > 20 Dari hasil diatas kita dapat menentukan bahwa nilai bit 0 yang harus diubah/dipinjam menjadi bit 1 adalah sebanyak 5 11111111.11111111.11111111.00000000 11111111.11111111.11111111.11111000 Jadi Subnet Mask baru yang digunakan setelah di Subneting adalah: 255.255.255.248
  • 24.
    STMIK INDONESIA JK-017 2.Jumlah Host per Subnet (2y– 2) / User 2y– 2 = 5 Kita harus mencari nilai Y agar hasil perpangkatannya = 5 atau lebih besar dari 5 (>5) Y = 3 6 > 5 3. Blok Subnet 256 – 248 = 8 Hasil dari pengurangan diatas mengindikasikan bahwa alamat Subnet selalu kelipatan 8 0, 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56, 64, 72, 80, 88, 96, 104, 112, 120, 128, 136, 144, 152.
  • 25.
    STMIK INDONESIA JK-018 4.Alamat Host dan Broadcast Subnet 201.222.5.0 201.222.5.8 ........... 201.222.5.152 Host Pertama 201.222.5.1 201.222.5.9 ........... 201.222.5.153 Host Terakhir 201.222.5.6 201.222.5.14 ........... 201.222.5.158 Broadcast 201.222.5.7 201.222.5.15 ........... 201.222.5.159 Depart - 1 Depart – 2 Depart ...... Depart – 20
  • 26.