38 muara kakap

1,021 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,021
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
19
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

38 muara kakap

  1. 1. No. : 06/L/P2KPSL/P3GL/XI/2005 PROGRAM PENGEMBANGAN KAPASITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP TAHUN ANGGARAN 2005 EKSPLORASI PROSPEKTIF GAS BIOGENIK KELAUTAN PERAIRAN MUARA KAKAP DAN SEKITARNYA - KALIMANTAN BARAT OLEH: TIM MUARA KAKAP PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL 2005
  2. 2. LAPORAN EKSPLORASI PROSPEKTIF GAS BIOGENIK KELAUTAN PERAIRAN MUARA KAKAP DAN SEKITARNYA - KALIMANTAN BARAT Oleh: Yudi Darlan, drr PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL 2005
  3. 3. KATA PENGANTAR E ksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan Muara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat merupakan bagian dari kegiatan yang didanai oleh Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) Tahun Anggaran 2005. Kawasan pesisir Muara Kakap dan sekitarnya termasuk dalam komplek Delta Kapuas. Hutan mangrove dewasa yang masih terjaga menghiasi pulau-pulau; endapan lumpur mengalasi dasar cabang – cabang sungai, kanal - kanal pasang surut dan laut; endapan gambut membentuk gosong; lempung dan pasir hitam berbau busuk (H2S) yang mengandung kepingan moluska dan sisa-sisa tumbuhan tersebar di pulau-pulau; rembesan gas kepermukaan; dan bentuk lapisan sedimen bawah permukaan yang unik itu semua merupakan salah satu ciri khas Delta Kapuas yang berpotensi gas biogenik. Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi instansi terkait untuk kepentingan pengembangan dan pengelolaan sumberdaya kawasan pesisir Muara Kakap dan sekitarnya. Tentu laporan ini masih banyak kekurangan, saran dan kritik sangat kami harapkan. Terima kasih kami ucapkan kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Pimpinan instansi yang terkait serta semua rekan yang turut membantu atas terlaksananya penyelidikan lapangan dan proses pembuatan laporan ini. Bandung, Desember 2005 Kepala Tim Muara Kakap PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN IV
  4. 4. SARI Gelembung gas U saha Pemerintah melakukan pencarian sumber-sumber energi baru bertujuan untuk dapat menjamin tersedianya energi dalam jumlah cukup di setiap daerah, kualitas baik dan harga yang wajar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Kegiatan survey berupa eksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan Muara Kakap dan sekitarnya, Kalimantan Barat yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL) merupakan tahap pendahuluan yang diharapkan dapat mengidentifikasi potensi sumber energi gas alternatif, sehingga dapat memberikan dampak bagi pertumbuhan iklim usaha masyarakat setempat. Kawasan pesisir Muara Kakap dan sekitarnya termasuk dalam komplek Delta Kapuas yang terdiri atas pulau-pulau. Pulau-pulau tersebut sebagian besar ditumbuhi hutan mangrove dewasa yang masih terjaga, disusun oleh sedimen berupa lempung dan pasir hitam serta endapan gambut (“sepuk” istilah masyarakat setempat). Jenis lempung dan pasir hitam berbau bususk (H2S), rembesan gas kepermukaan, bentuk lapisan sedimen bawah permukaan yang unik berdasarkan data geolistrik, dan contoh sedimen dan gas dari bor inti mengindikasikan adanya gas biogenik/gas gambut di sebagian tempat Delta Kapuas. Daerah yang dianggap indikasi prospek gas biogenik adalah P. Sepuk Laut, P. Sepuk Prupuk, P. Sepuk Keladi, dan sebagian P. Nyamuk dan P.Tanjung Saleh. Semburan gas api dari lubang bor air milik masyarakat Pulau Sepuk Laut beberapa tahun sebelumnya menjadikan trauma terhadap bentuk penelitian gas di daerah ini. Sosialisasi sangat diperlukan sehingga keberadaan gas biogenik merupakan anugerah bagi masyarakat Muara Kakap dan sekitarnya. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN V
  5. 5. DAFTAR PERSONAL DAFTAR ISI KATA PENGANTAR Halaman IV SARI V DAFTAR ISI VI DAFTARGAMBAR X DAFTARTABEL XI DAFTAR PERSONAL XI BAB I P E N D A H U L U A N 1 1.1 Latar belakang 1 1.2 Maksud dan tujuan 2 1.3 Sasaran strategis 2 1.4 Ruang lingkup dan daerah kegiatan 3 1.5 Hasil yang diharapkan 4 BAB II STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH 6 2.1. Studi pustaka 6 2.2. Iklim dan tumbuh-tumbuhan 7 2.3. Populasi 7 2.4. Sarana Angkutan 8 2.5. Geologi regional 8 A. Fisiografi 9 B. Stratigrafi 9 2.6. Gas biogenik 10 2.7. Kajian Masalah 12 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN VI
  6. 6. DAFTAR PERSONAL BAB III METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN 15 3.1. Metoda 15 A. Geologi 15 B. Geofisika 16 C. Oseanografi fisika 17 D. Navigasi 17 E. Analisis lab 18 F. Metoda khusus geolistrik 23 G. Proses data/studio 32 3.2. Peralatan penyelidikan 32 A. Geologi 32 B. Geofisika 33 C. Hidro-oseanografi 33 D. Navigasi 33 E. Analisis laboratorium 33 F. Geolistrik 33 BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 34 4.1. Tekstur sedimen 34 4.2. Karakteristik pantai 43 A. Pantai Lumpur-mangrove rhizophora 43 B. Pantai Lumpur-mangrove nipah 44 4.3. Pasang surut 44 4.4. Arus 49 4.5. Batimetri 50 4.6. Seismik pantul dangkal 54 4.7. Analisis laboratorium 59 A. Analisi kandungan gas 59 B. Analisis karbon total 61 C. Analisis pollen 62 D. Analisis bakteri methanogenik 66 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN VII
  7. 7. DAFTAR PERSONAL E. Analisis radiocarbon dating C14 77 F. Analisis unsure utama 78 G. Analisis jenis mineral lempung 80 H. Unsur tanah jarang 81 I. Analisis logam berat 81 4.8. Geolistrik 85 A. Pulau Sepuk Laut B. Pulau Nyamuk 87 C. Pulau Tanjung Saleh 88 D. Pulau Sepuk Prupuk 89 E. Pulau Sepuk Keladi BAB V 85 90 PEMBAHASAN 91 BAB VI R E K O M E N D A S I 97 BAB VII KESIMPULAN 100 ACUAN 102 LAMPIRAN Lampiran Terikat Lampiran 1: 1. Deskripsi megaskopis contoh sedimen 2. Data analisis besar butir sedimen 3. Perian megaskopis contoh sedimen bor inti Lampiran 2: 1. Data pengamatan pasang-surut Muara Kakap 2. Hasil perhitungan besara-besaran konstanta pasang surut Lampiran 3: 1. Data analisis identifikasi gas 2. Data analisis karbon organik total 3. Data analisis polen 4. Data analisis bakteri metanogenik 5. Data analisis radiocarbon dating C14 6. Data analisis unsur utama 7. Data analisis jenis mineral lempung 8. Data analisis unsur tanah jarang PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN VIII
  8. 8. DAFTAR PERSONAL 9. Data analisis logam berat Lampiran 4: 1a. Data penampang 2 D geolistrik Schlumberger P. Sepuk Laut 1b. Data penampang 2 D geolistrik Wenner P. Sepuk Laut 2a. Data penampang 2 D geolistrik Schlumberger P. Nyamuk 2b. Data penampang 2 D geolistrik Wenner P. Nyamuk 3a. Data penampang 2 D geolistrik Schlumberger P.Tanjung Saleh 3b. Data penampang 2 D geolistrik Wenner P.Tanjung Saleh 4a. Data penampang 2 D geolistrik Schlumberger P. Sepuk Prupuk 4b. Data penampang 2 D geolistrik Wenner P. Sepuk Prupuk 5a. Data penampang 2 D geolistrik Schlumberger P. Sepuk Keladi 5b. Data penampang 2 D geolistrik Wenner P. Sepuk Keladi Lampiran Foto: 1. Foto karakteristik pantai Delta Kapuas 2. Foto indikasi gas biogenik 3. Foto lokasi pengambilan contoh gas biogenik 4. Foto peralatan survei lapangan 5. Foto pollen dan spora pada contoh sedimen 6. Foto bakteri metanogenik pada contoh sedimen PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN IX
  9. 9. DAFTAR PERSONAL DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Peta lokasi daerah penyelidikan 2 Peta geologi wilayah pesisir daerah penyelidikan 14 3 Garis sebaran arus dan ekipotensial 25 4 Konfigurasi Schlumberger 25 5 Bidang ekiptensial yang terukur pada sepasang elektroda potensial 26 6 Resistivitas semu variasi ketebalan dan resistivitas batuan 28 7 Prinsip dasar penelitian geolistrik 28 8 Konfigurasi elektroda arus dan potensial 29 9 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 1 29 10 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 2 30 11 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 3 30 12 Perancangan system akuisisi survey 3d metoda geolistrik 31 13 Model lintasan di lapangan 32 14 Peta sebaran tekstur sedimen 36 15 Peta Karakteristik pantai 45 16 Kurva kedudukan muka air laut di perairan Muara Kakap 46 17 Tinggi LWS terhadap rambu pasut 48 18 Pola arus permukaan saat air laut pasang dan surut 51 19 Peta lintasan pemeruman dan seismic 52 20 Peta batimetri 53 21 Peta isopach 56 22 Penafsiran seismik pantul dangkal penampang P1 dan P4 57 23 Penafsiran seismik pantul dangkal penampang P2 58 24 Penafsiran seismik pantul dangkal penampang P3 58 25 Penafsiran seismik pantul dangkal penampang P5 59 26 Diagram polen pada sedimen inti bor MKB-2 68 27 Diagram polen pada sedimen inti bor MKB-3 71 28 Diagram polen pada sedimen inti bor MKB-4 74 29 Peta indikasi prospek gas biogenik 96 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 5 X
  10. 10. DAFTAR PERSONAL DAFTAR TABEL Halaman 26 1. Persentase arus total berdasarkan radius sebaran 2. Data analisis besar butir sedimen permukaan dasar laut 35 3. Data analisis besar butir sedimen bawah permukaan bor MKB3 40 4. Data analisis besar butir sedimen bawah permukaan bor MKB4 41 5. Konstanta harmonik pasang-surut Muara Kakap 47 6. Data analisis mineral lempung (XRD) pada contoh sedimen 83 7. Data lintasan geolistrik di P. Sepuk Laut 86 8. Data lintasan geolistrik di P. Nyamuk 87 9. Data lintasan geolistrik di P. Tanjung Saleh 88 10. Data lintasan geolistrik di P. Sepuk Prupuk 89 11. Data lintasan geolistrik di P. Sepuk Keladi 90 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN XI
  11. 11. DAFTAR PERSONAL DAFTAR PERSONAL PELAKSANA KEGIATAN LAPANGAN DAN LAPORAN 1. Ir. Yudi Darlan, M.Sc. 2. Ir. Udaya Kamiludin 3. Ir. Hananto Kurnio, M.Sc. 4. Ir. Riza Rahardiawan, M.Sc. 5. Juniar P. Hutagaol, M.Sc. 6. Ir. Andi H. Sianipar 7. Adi Citrawan Sinaga, ST 8. Sunartono 9. Sangat 10. Drs. Didik Zaenasshodikin Hans 11. Supriatna 12. Mira Yosi, S.Si. 13. Ir. K. Hardjawidjaksana, M.Sc. 14. Basuki Sugiarto 15. Agus Setyanto, ST 16. Undang Hermawan, ST 17. Prijantono Astjario, M.Sc. 18. Ir. Ediar Usman, M.Sc. 19. Ir. I Wayan Lugra 20. Ir. Purnomo Raharjo 21. Ir. I Nyoman Astawa 22. Masagus Achmad, ST PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN XII
  12. 12. PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang U saha Pemerintah melakukan pencarian sumber-sumber energi baru bertujuan untuk dapat menjamin tersedianya energi dalam jumlah cukup di setiap daerah, kualitas baik dan harga yang wajar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Sumberdaya alam yang ada di wilayah pesisir dan laut Muara Kakap dan sekitarnya mempunyai keragaman yang sangat tinggi baik jenis maupun potensinya. Potensi-potensi tersebut antara lain potensi perikanan tangkap, potensi ekosistem pesisir, potensi wisata, dan potensi industri maritime. Potensi perikanan tangkap masih merupakan andalan utama bagi sektor usaha masyarakat pesisir daerah ini. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan sekitar 80% pasokan ikan ke kota Pontianak dan sekitarnya berasal dari perikanan tangkap Muara Kakap. Potensi perikanan tambak mulai dilirik meskipun belum memberikan hasil yang menggembirakan. Pembukaan lahan tambak yang disusul dengan penebangan hutan mangrove sering menimbulkan konflik. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi bahan bakar minyak dunia, maka dampaknya sangat terasa bagi masyarakat pesisir Muara Kakap dan sekitarnya, karena lebih dari 90% sektor usaha masyarakat ini berasal dari perikanan tangkap. Masyarakat dengan modal cukup masih bertahan dalam usaha ini. Kebutuhan energi BBM untuk keperluan penerangan umum mulai dibatasi. Untuk keperluan rumah tangga PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 1
  13. 13. PENDAHULUAN sebagian besar beralih ke cara lama menggunakan bahan bakar kayu, pohon kelapa, dan pohon mangrove. Perhatian pemerintah pusat untuk membantu masyarakat Muara Kakap dan sekitarnya dalam upaya penyediaan kebutuhan energi adalah dengan menyediakan dana kompensasi BBM serta melakukan pencarian sumber-sumber energi baru dan energi alternativ. Usaha pencarian sumber-sumber energi baru dlakukan secara bertahap mulai dari penyelidikan pendahuluan hingga pendistribusian, sehingga usaha pemerintah benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. 1.2 Maksud dan tujuan Maksud eksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan muara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat adalah untuk menginventarisasi sumberdaya energi gas biogenik di sekitar wilayah survey. Untuk mengetahui secara umum eksplorasi gas biogenik ini maka dipandang perlu dilakukannya penyelidikan untuk menghimpun, mengkompilasi dan menganalisis data dengan berbagi tujuan seperti: Mengetahui lebih rinci lokasi yang memperlihatkan keberadaan gas biogenik / gas dangkal. Mengetahui lapisan sedimen sebagai media keberadaan gas. Mengetahui lingkungan dan komposisi gas biogenik Mengetahui daerah prospek sumber gas biogenik 1.3 Sasaran Strategis Sasaran strategis yang akan didapat dari eksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan muara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat adalah sebagai berikut: Teridentifikasi tipologi dan perwatakan lingkungan kawasan yang terdapat potensi gas biogenik. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 2
  14. 14. PENDAHULUAN Teridentifikasi jenis dan lapisan sedimen, dan komposisi gas biogenik Teridentifikasi daerah-daerah prospek gas biogenik 1.4 Ruang Lingkup dan Daerah Kegiatan Ruang lingkup eksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan muara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat terdiri atas: Kajian pustaka Kegiatan lapangan : • Pengambilan contoh sedimen permukaan dasar laut dan pantai, dan contoh air. • Survei pemeruman dan seismik • Survei geolistrik pantai • Pengamatan pasang surut • Pemetaan karakteristik pantai • Pengukuran arus laut/sungai • Survei geologi teknik pemboran gas biogenik Analisis laboratorium : GC (Gas Chromatograph), analisis pollen, analisis bakteri metanogenik, analisis XRF, analisis XRD, analisis REE, analisis logam berat, analisis Total Organic Carbon (TOC), dan analisis C14. Penyusunan laporan melingkupi inventarisasi, kompilasi dan interpretasi prospektif gasbiogenik daerah penyelidikan. Daerah kajian adalah wilayah perairan pesisir Delta Kapuas secara administrasi masuk Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan barat secara geografis terletak 0º 00’ - 0º 25‘ 00” Lintang Selatan dan 108º 55’ 00” 109º 15’ 00” Bujur Timur. Secara geografis terletak pada posisi 100o01’ 100o47’ BT dan 0o29’ - 1o50’ LS (Gb.1). PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 3
  15. 15. PENDAHULUAN 1.5 Hasil yang diharapkan Dari data analisis geokimia akan memberikan gambaran umum informasi tentang indikasi sumberdaya gas biogenik antara lain sebagai berikut: • Jenis gas biogenik yang terdapat di daerah penyelidikan • Pola umum keterdapatan gas biogenik • Potensi sumberdaya gas biogenik Dari data seismik, bor, analisis biologi dan kimia maka informasi yang akan diperoleh yaitu: • Sebaran dan jenis sedimen yang diduga sebagai media gas biogenik • Lingkungan, kecepatan sedimentasi dan umur pembentukan gas Luaran penyelidikan sumberdaya biogenik gas di Muara kakap dan sekitarnya, Kalimantan Barat berdasarkan data lapangan kesuluruhan, maka diharapkan dapat memberikan infromasi potensi dan evaluasi lingkungan dan sumber daya gas biogenik untuk dijadikan sebagai pedoman teknis didalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya gas biogenik sebagai energi alternativ yang berwawasan lingkungan dan mudah di sosialisasikan dengan masyarakat setempat. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 4
  16. 16. PENDAHULUAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 5
  17. 17. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH BAB II STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH 2.1 Studi Pustaka B 1 2 3 P enelitian-penelitian baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah atau swasta sebelumnya telah ada di kawasan 4 5 6 perairan Muara Kakap dan sekitarnya. Informasi terakhir di daerah ini ada kegiatan survey migas yang dikerjakan oleh pihak swasta. Sanyoto drr (1993) telah memetakan keadaan geologi kawasan perairan Muara Kakap dan sekitarnya. Sedimen yang tersebar luas di kawasan Muara Kakap berupa endapan hasil rombakan dari batuan yang berumur lebih tua (alufial). Endapan ini terdiri atas material lepas seperti kerikil, pasir, lanau, lempung, dan endapan kepingan kayu dan gambut. Tim Lembar Peta 1315 (2001) telah melakukan penyelidikan geologi dan geofisika Kelautan di perairan Kalimantan Barat. Penyelidikan ini memetakan kondisi sedimen permukaan dan kedalaman air laut (batimetri) secara regional. Kamiludin drr (2004) menyelidiki sumberdaya mineral emas letakan (placer deposits) pada sedimen permukaan dasar laut di periaran Delta Kapuas. Hasil telitian mengungkapkan potensi sumberdaya mineral emas dan mineral berharga lainnya di daerah ini. Usaha masyarakat Pulau Sepuk Laut dalan pencarian air tanah dangkal (± 50m) beberapa tahun sebelumnya melalui pemboran mengalami kegagalan. Dari lubang bor tersebut keluar semburan gas api setinggi 3m untuk beberapa saat lamanya. Kejadian ini menjadi trauma bagi masyarakat setempat yang berkaitan dengan penelitian gas. Alasan yang dikemukakan masyarakat kepada Tim Muara Kakap (2005) antara lain pertama kekhawatiran terjadi kebakaran, jika gas diambil PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 6
  18. 18. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH akan terjadi amblesan tanah-tanah hunian dan ladang masyarakat bahkan pulau, pencemaran terhadap perairan yang akan mengurangi produk perikanan, terakhir khawatir gas di bawa ke luar daerah sehingga masyarakat setempat tidak menikmati. 2.2 Iklim dan tumbuh-tumbuhan Pontianak dan sekitarnya beriklim musim hujan sedikit pengaruh angin musim. Batas periode musim hujan dan kemarau tidak jelas. Bulan Mei sampai dengan Oktober umumnya lebih kering (terutama Agustus) dibandingkan periode November-April dalam setiap tahunnya. Rata-ata curah hujan di Potnianak dan sekitarnya berkisar antara 3.000 dan 3.500 mm. Temeperatur pada muka air berkisar antara 33°C d s n 21°C. Dataran aluvium dan pasang surut delta S. Kapuas di sebagian besar sebagai hutan rawa, dan sedikit tumbuhan kayu, padang rumput dan semak belukar. Mangrove b an y ak tumbuh di sekitar pulau-pulau Delta Kapuas. 2.3 Populasi Populasi penduduk terpusat di Kota Pontianak dan sekitarnya. Tempat lain yang banyak ditempati penduduk adalah lokasi sepanjang S. Kapuas dan cabang-cabang utamanya separti sungai Kakap. Di pedalaman, jauh dari S. Kapuas penduduk aslinya adalah suku Dayak; sedangkan di dekat atau di sepanjang S. Kapuas terdiri dari suku Melayu dan suku Dayak dan hanya sedikit suku Bugis, Jawa, dan Cina. Di Pontianak populasi suku-suku tersebut bercampur dan Cina lebih dari 30 persen. Sebagian besar suku Dayak bertani dengan sistem pengolahan berpindah-pindah dengan padi ladang dan jagung sebagai t an aman PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 7
  19. 19. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH u t a m a n y a . Menangkap ikan, berburu babi, merotan, menyadap karet dan beternak sapi adalah kegiatan sampingan suku Dayak. Suku Melayu, Cina dan suku-suku pendatang lainnya sebagai pedagang, nelayan, bercocok tanam sawah dan penjual hasil kebun (seperti buah-buahan, sayuran dan merica).. Perkebunan kelapa juga terdapat di sekitar dan selatan Pontianak. Industri-industri utama di Pontianak adalah berkaitan dengan pengolahan kayu dan karet. Agama yang dianuk sbegaian besar suku Dayak adalah animisme. Suku Melayu dan pendatang lainnya beragama Islam. Suku keturunan Cina umumnya masih menganut kepercayaan leluhurnya walaupun yang berpindah keagama lain hari demi hari kian bertambah. 2.4 Sarana Angkutan Pontianak adalah pintu gerbang bagi daerah Kalimantan Barat dan sebagai pusat perdagangan dan industri. Bandar udara dengan standar jet terletak 15 km selatan-tenggara dari pusat kota dan setiap hari didarati pesawat dari Jakarta. Pelabuhan laut dapat menerima kapal laut berukuran sampai 5000 dwt. Jaringan jalan di Pontianak dan sekitarnya umumnya telah beraspal. Di tempat lain di daerah pinggiran umumnya belum beraspal. Sarana angkutan di daerah sepanjang pantai, rawa-rawa dan sungai utama serta antar pulau sebagian menggunakan kapal motor dan perahu. Untuk daerah Sungai Kapuas yang merupakan jalur tradisional perahu motor masih diperlukan untuk mencapai daerahdaerah pedalaman di Kalimantan Barat. 2.5 Geologi Regional Proses yang terjadi di Delta Kapuas sangat berkaitan dengan keadaan geologi regional daerah setempat. Sedimen dan morfologi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN Delta Kapuas 8
  20. 20. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH sekarang merupakan kelanjutan proses pembentukan sebelumnya. Tatanan geologi regeional daerah stempat (Sanyoto drr, 1993 ) (Gb.2) sebagai berikut: A. FISIOGRAFI Sebagian besar barat Pontianak terdiri atas rawa-rawa sungai dan dataran pasang-surut. Di bagian timur Kalimantan Barat terdiri atas bukit-bukit yang membentuk kaki bukit timur dan tenggara Pegunungan Schwaner Dataran aluvial dan pasang surut. Sungai Kapuas mulai bercabang membentuk suatu sistem komplek mendaun di atas dataran aluvial dan pasang surut sebagai delta. Dataran lumpur bakau berkembang baik di muara S. Kapuas. Di bagian tengah dan hulu delta, saluran utama S. Kapuas mengikuti bentuk meander yang disayapi oleh komplek scroll dan ox-bow lake. Komplek scroll berkembang ke arah hilir Di bagian hilir laju arus sungai berkurang sejalan dengan berkurangnya gradien sungai. Proses ini berlanjut dengan terbentuknya meander dan gosong- gosong pasir. Inselbergs. adalah bukit di dataran aluvial atau pasang surut yang seragam. seperti Pegunungan Batuwangking, Ambarang dan Kubu dengan puncak tertingginya kira-kira 400 m. Bukit-bukit kecil lainnya (kurang dari 300 m) terdapat pada ujung Selat Padangtikar dan di sekitar Teluk Nuri. B. STRATIGRAFI Sebagian besar dataran aluvial delta Kapuas dan dataran pasang surut dialasi oleh batuan granit, g u n u n g a p i d a n terobosan mafik. Batuan-batuan tersebut adalah hasil busur magmatis pada jaman Kapur, dan sekarang merupakan bagian dari Batolit Schwaner yang PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 9
  21. 21. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH membentang dari Kalimantan Tengah ke barat-laut Kalimantan Barat sepanjang kira-kira 600 km. Kebanyakan "inselberg" yang mun-cul di dataran Kapuas disusun oleh granit. Busur magmatis ini membentang ke barat sampai L. Cina Selatan dan menyambung dengan gunungapi dan granit di SINGKAWANG yang berumur Kapur. Batuan-batuan busur magmatis ini telah diterobos dan menutupi batuan alas malihan. Sekarang sisanya hanya sedikit yang tersingkap berbentuk seperti atap, tabir atau layar. Batuan-batuan tersebut di utara di tutupi oleh batuan-batuan sedimen Tersier dari Cekungan Melawi. Setempat di selatan diterobos oleh sumbat-sumbat dan stock yang berkomposisi felsik sampai menengah. Cekungan Melawi terdiri atas For-masi Tebidah (Tot) dan Batupasir Sekayam (Tos) berumur Oilgosen Awal. Stock, sumbat-sumbat dan terobosan-terobosan kecil berupa lajur mempunyai lebar 150 km dan panjang sekitar 800 km. Lajur ini membentang dari Kalimantan Barat hingga Timur. Endapan aluvial, pasangsurut, danau dan rawa (Qa) menutupi dataran aluvial dan pasang-surut di bagian barat, lembah S. Kapuas dan lembah-lembah sungai besar lainnya. 2.6 Gas Biogenik Gas biogenik didefinisikan sebagai gas yang terbentuk pada lapisan sedimen dangkal, temperatur dan tekanan rendah oleh bakteri anaerobik yang mengubah komposisi sedimen organik menjadi sebagian besar gas methane, CH4 (www.geochem.com). Gas biogenik di beberepa negara seperti Cina, Korea dan Vietnam digunakan untuk industri kecil, penerangan dan keperluan rumah tangga. Berdasarkan keterdapatan dan prosesnya gas metan dikenal sebagai gas coal base methane (CBM), gas termogenik, dan gas hidrat. CBM dapat terbentuk akibat aktivitas bakteri matanogenik atau proses termal sebagai gas termogenik. Gas termogenik terbentuk pada lapisan dalam, tekanan PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 10
  22. 22. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH dan temperratur tinggi akibat proses kimia organik dalam kurun waktu pembentukan cukup lama (waktu geologi). Gas hydrates umumnya berupa methane biogenik yang terdapat di daerah temperatur sangat rendah seperti tepi benua dan kutub. Ada dua komponen utama didalam pembentukan gas metan biogenik yaitu pertama material organik (moluska, tumbuh-tumbuhan) dan bakteri metanogenik sebagai katalisator. Gas metan biogenik akan terbentuk jika tersedianyan material organik yang cukup dan berada dalam lingkungan anaerobik (tidak ada oksigen) sehingga terjadi proses kimiawi reduksi. Unsur karbon (C+4) yang terlepas dari material organik dan hydrogen (H-) yang berasal dari material organik, air tawar (H20) maka akan menghasilkan gas metan (CH4) akibat aktivitas bakteri anaerobik,. Bakteri anaerobic tersebut sebagai katalisator. Gas yang dihasilkan ini dikenal sebagai gas metan biogenik. Oleh karena itu kondisi lingkungan pembentukan gas biogenik menjadi sangat penting di antaranya: o Lingkungan harus bebar-benar bebas oksigen artinya bakteri anaerobik akan mati dalam lingkungan yang mengandung oksigen jenuh. o Lingkungan kondisi air tawar atau payau yang bebas dari konsentrasi sulfat agar tidak terjadi proses kimiawi oksidasi. o Lingkungan dengan temperatur yang sesuai untuk bakteri anaerobic hidup. Oleh sebab itu pada lapisan yang lebih dalam gas metan biogenik tidak akan terbentuk dimana pada lingkungan ini tekanan meningkat yang menghasilkan temperatur tinggi. Pada kondisi tersebut terjadi perubahaan komposisi organik akibat proses kimiafisika. o Media atau sedimen dengan porositas yang cukup merupakan salah satu lingkungan yang diperlukan oleh bakteri anaerobic untuk bisa bebas berkembang seperti lanau atau pasir halus. Pada sedimen berupa lempung yang sangat padu dan lengeket (stiffy clay) bakteri ini kemungkinan kecil sekali untuk berkembang. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 11
  23. 23. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH 2.7. Kajian Masalah Sebagaimana yang diungkapkan di dalam studi pustaka di atas, proses geologi menentukan pembentukan Delta Kapuas dan disusul dengan terbentuknya sumber-sumber gas biogenik di daerah ini. Sesuai dengan tema penyelidikan yaitu mengenai eksplorasi prospektif gas biogenik kelautan perairan Muara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat maka pendekatan kajian masalah adalah menganalisis beberapa data sekunder dan pendekatan metoda penyelidikan untuk mengetahui sumber gas biogenik. Pendekatan kajian masalah yang digunakan di antaranya: Mengidentifikasi dan mengevaluasi indikasi sumber gas biogenik di daerah penyelidikan. Data yang gigunakan meliputi kondisi geologi regional setempat, data bor air milik masyarakat yang mengeluarkan gas, dan kondisi lingkungan yang mengindikasikan adanya sumber gas biogenik di daerah ini. Mengidentifikasi dan mengevaluasi sedimen permukaan dan bawah permukaan yang diduga dapat memperlihatkan indikasi sumber gas biogenik di kawasan perairan daerah penyelidikan. Data yang digunakan meliputi sebaran sedimen permukaan dan rekaman seismik. Mengidentifikasi dan mengevaluasi konfigurasi lapisan bawah permukaan di kawasan pulau-pulau delta Kapuas yang mengindikasikan adanya sumber gas biogenik. Data yang digunakan adalah penampang dua dimensi geolistrik dan data bor gas biogenik Menentukan daerah prospek gas biogenik di daerah penyelidikan berdasarkan interpretasi data penyelidikan dan data sekunder. Pendekatan kajian masalah ini disajikan sebatas aspek sientifik dan aplikasi dan masih bersifat penyelidikan pendahuluan. Faktor prioritas yang akan digunakan oleh pengelola (user) didalam pemanfaatan data potensi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 12
  24. 24. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH sumber gas biogenik di kawasan Muara Kakap dan sekitarnya mungkin berbeda, sehingga keluarannyapun akan lain. Oleh karena itu perlu dikaji dan diselidikai lebih rinci dan terpadu. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 13
  25. 25. STUDI PUSTAKA DAN KAJIAN MASALAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 6
  26. 26. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN BAB III METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN B ab ini menjelaskan metoda dan peralatan yang gunakan pada eksplorasi dipros- pektif gas biogenik kelautan perairan Muarara Kakap dan sekitarnya Kalimantan Barat yang sesuai dengan kajian permasalahan agar didapat informasi yang diharapkan. Metoda yang digunakan terdiri atas penyelidikan geologi dan geofisika kelautan, oseanografi fisika, navigasi, analisis laboratorium dan proses data. 3.1 Metoda A. Geologi Metoda geologi meliputi pengambilan contoh sedimen dan air, pemboran, pemetaan karakteristik pantai, dan pemetaan perubahan garis pantai Pengambilan contoh sedimen permukaan adalah untuk mengetahui sebaran tekstur sedimen permukaan dasar laut secara lateral. Sedimen permukaan dasar laut diambil di wilayah pesisir dan sungai perairan Muara Kakap dengan jarak lokasi contoh satu sama lainnya antara 100 m dan 500m. Pengambilan contoh air permukaan adalah untuk mengetahui kandungan logam berat dan temparatur permukaan air laut yang ada hubungannya dengan kondisi lingkungan di kawasan perairan Muara Kakap dan sekitarnya. Sebanyak 6 contoh air diambil dari laut dan sungai. 3 contoh diambil dari lubang bor. Pemboran gas biogenik dimaksudkan untuk mengetahui perubahan dan susunan sedimen secara tegak (vertikal) yang menyusun kawasan PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 15
  27. 27. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN pesisir daerah penyelidikan, serta untuk mengetahui indikasi sumber gas biogenik. Tiga titik bor berada wilayah daratan pesisir dan satu lagi di laut pada kedalaman air pasang 3 m di atas bagan (platform). Metoda yang digunakan adalah bor inti (coring) dan inti utuh (undisturbed coring) untuk gas. Pemetaan karakteristik pantai gambaran digunakan untuk memberikan umum proses yang sedang terjadi di kawasan pesisir Muara Kakap dan sekitarnya. Metoda ini meliputi pengamatan sedimen pantai, morfologi, dan karakteristik garis pantai berdasarkan metoda Dollan (1975) di antaranya pemetaan daerah erosi dan sedimentasi, daerah hunian, bangunan pantai seperti tanggul pantai, groin, dan dermaga, serrta daerah pertambakan. B. Geofisika Metoda geofisika meliputi seismik pantul dangkal dan pemeruman, dan geolistrik. Seismik Pantul Dangkal adalah untuk mengetahui konfigurasi dan runtunan perlapisan sedimen bawah permukaan dasar laut. Cara kerjanya menggunakan Hukum Snellius yaitu pantulan dari lapisan sedimen yang berasal dari bunyi yang dipancarkan (boomer) pada frekuensi tertentu dan diterima oleh rangkaian hidrofon. Pemeruman digunakan untuk mengetahui kedalaman dan profil dasar laut. Prinsip kerjanya sama dengan seismik hanya frekuensi suara yang digunakan berbeda sebatas sampai permukaan dasar laut. Data perum ini terekam secara menerus (continues) dalam kertas rekam pada lintasanlintasan yang telah ditentukan. Dengan menggunakan koreksi data pasangsurut seterusnya didapat peta batimetri berdasarkan muka air rata-rata. Geolistrik digunakan di daerah pulau-pulau pada kawasan Muara Kakap untuk membantu dalam mengungkap indikasi sumber gas biogenik yang berada di bawah permukaan. Metoda ini dijelaskan pada kajian PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 16
  28. 28. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN khusus. C. Oseanografi fisika Metoda oseanografi fisika meliputi pengamatan pasang surut, dan pengukuran arus Pasang surut, perubahan (amplitudo) permukaan air laut setiap saat di suatu lokasi yang sama akan berbeda sebagai efek gaya tarik menarik antara bumi, matahari dan bulan. Metoda pasang surut adalah suatu metoda pemecahan masalah di atas yang digunakan untuk mendapatkan koreksi kedudukan permukaan air laut. Pengamatan pasang surut di daerah Muara Kakap dilakukaan setiap 1 (satu) jam pembacaan pada kurun waktu 15 hari (piantan). Data pasang-surut ini selain digunakan sebagai koreksi batimetri, juga parameter dan tipe pasang surut dapat diketahui. Pengukuran arus yaitu untuk mengetahui arah dan besar pola umum arus laut. Pengukuran arus yang dilakukan di Muara kakap adalah dilakukan dengan 1 (satu) metoda, yaitu: “Lagrangian”. Metoda lagrangian yaitu metoda dengan mengikuti jejak (tacki) masa air laut melalui benda yang diluncurkan berupa alat apung (floating drogue) seperti botol apung, bola apung, kantong apung, dll. Arah dan kecepatan arus melalui metoda ini dapat diketahui dengan mencatat posisi alat apung yang diluncurkan pada interval waktu yag telah ditentukan. D. Navigasi Penentuan posisi baik di laut atau darat sekarang ini umum digunakan metoda elektronik GPS (Global Positioning System). Metoda GPS bekerja berdasarkan kalibrasi kedudukan posisi satelit. Ketelitian metoda GPS ini berbeda-beda tergantung metoda yang dipakai, GPS dan DGPS (Differential Global Positioning System), serta jenis peralatan. Ketelitiannya mulai kurang dari 1m hingga 10 m. Di kawasan Muara Kakap sistim naviagsi yang digunakan adalah metoda GPS karena peta dasar yang digunakan berskala 1:50.000. Untuk ketelitian 10m dengan menggunakan metoda GPS masih PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 17
  29. 29. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN cukup akurat untuk sekala peta tersebut. E. Analisis lab Analisis laboratorium meliputi analisis besar butir sedimen yang terdiri atas metoda ayakan dan pipet, analisis kandungan gas alami menggunakan Gas Chromatograph (GC), analisis Total Carbon (TC), analisis Polen (Palinologi), analisis bakteri metanogenik, analisis C14 , analisis unsur utama (XRF), analisis jenis mineral lempung (XRD), dan analisis logam berat. Analisis ayakan dan pipet, pada dasarnya metoda ini sama yaitu bekerja untuk memisahkan ukuran butir (kasar – halus) dari endapan sedimen lepas (unconsolidated sediment). Cara kerjanya contoh sediment tersebut diayak dengan ayakan yang mempunyai ukuran kasa (mesh) tertentu dari yang halus hingga kasar. Metoda pipet digunakan untuk sedimen berukuran butir sangat halus seperti lanau dan lempung. Metoda ini bekerja berdasarkan “Hukum Stocks”, yaitu mengukur kecepatan pengendapan (settling velocity) setiap partikel sedimen pada setiap waktu yang ditentukan. Kecepatan pengendapan partikel sedimen berbanding lurus dengan ukuran partikel sedimen tersebut. Analisis kandungan gas alami menggunakan peralatan Gas Chromatograph (GC). Contoh yang dianalisi adalah contoh sedimen dan gas dari data bor. Setiap contoh sedimen ditambahkan air murni kemudian dimasukkan dalam kantong plastik dan diikat agar tidak ada udara yang masuk. Selanjutnya contoh tersebut dimasukkan dalam botol plasik dan direkat menggunakan lem plastik. Gas yang keluar dari lubang bor dimasukkan dalam kantong plastik yang ada di dalam tabung paralon hingga mengembang, kemudian diikat dan direkat. Terakhir tabung paralonnya ditutup menggunakan penutup paralon dan direkat menggunakan lem PVC. Contoh-contoh tersebut dimasukan dalam kotak contoh yang dijaga agak dingin temperaturnya dengan menaburkan butiran es. Gas yang diukur terutama gas metana dan gas lainnya bila terditeksi. Analisis kandungan karbon organik total adalah untuk mengetahui jumlah material organik yang terdapat dalam sedimen yang hubungannya dengan PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 18
  30. 30. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN pembentukkan hidrokarbon. Kandungan karbon lebih kecil dari 0.5% tidak berpotensi untuk terbentuknya hidrokarbon, sebaliknya total karbon >2.0% sangat berpotensi. Contoh yang dianalisis adalah sedimen yang berasal dari lubang bor. Setiap contoh sedimen dicuci, dikeringkan, digerus, diahaluskan, ditimbang, dan dilarutkan kedalam larutan asam klorida (HCL) untuk menghilangkan kandungan karbonatnya. Selanjtnya dianlisis total karbonnya. Analisis Palinologi adalah untuk mengetahui lingkungan pengendapan lapisan sedimen berdasarkan indikasi pollen tumbuhantumbuhan yang ada pada sedimen tersebut. Pada prinsipnya teknik preparasi batuan untuk analisis palinologi yang dilakukan adalah merupakan proses pemisahan butiran polen dan spora dari subtansi lain. Preses pemisahan tersebut dengan menggunakan zat kimia sebagai berikut : KOH, HCl, ZnCl2, HF, asam asetat anhyidrid, asam asetat glacial , asam sulfat, acetone, dan pewarna. Penyaringan: ambil sample seukuran 2x2cm, kemudian dikupas bagian luarnya. Sebelum ditreatment dangan berbagai macam zat kimia, sebaiknya sampe yang sudah dikupas kemudian direndam semalam dengan aquadestillata. Setelah itu disaring, sehingga kotoran dan batang ataupun sisa fosil lainnya bisa dihilangkan terlebih dahulu. Penghilangan asam Humat: asam humat adalah bahan organik yang berasal dari ektrasi tanah dan subtansi tumbuhan yang hancur atau membusuk. Bahan kimia yang dibutuhkan adalah Kalium Hidroksida (KOH) 10%. Tambahkan larutan KOH 10% sebanyak 2x volume residu. Kemudian diamkan semalam. Setelah itu cuci dengan aquades sampai netral. Tambahkan sekali lagi KOH 10% sekitar 10 ml, dan panaskan 10 menit diatas waterbath. Tujuannya adalah untuk menghilangkan sisa asam humat yang tertinggal. Kemudian dicuci lagi sampai netral. Penghilangan Unsur Karbonat: bahan kimia yang digunakan adalah Asam Chlorida (HCl) 50%. Tuangkan Asam Chlorida perlahan-lahan sebanyak 15ml dan aduk sampai residu tercampur rata. Diamkan selama 2 jam. Setelah itu tambahkan aquades dan dilakukan pencucian sampai netral. Pindahkan residu ke dalam tabung centrifuge 50ml Penghilangan Unsur Silika: bahan kimia yang PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 19
  31. 31. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN digunakan adalah HF 46% pekat. Tambahkan HF sebanyak 10ml kedalam residu. Kemudian diamkan semalam, lalu cuci bersih dengan menggunakan aquadest. Penghilangan Unsur Mineral Berat: bahan kimia yang digunakan untuk memisahkan polen dan spora dari mineral berat adalah ZnCl2 dengan BD 2.2. Tambahkan cairan ZnCl2 sebanyak volume residu yang ada. Aduk dengan memakai hadmixer sampai homogen, kemudian dicentrifuge selama 30menit. Setelah dikeluarkan akan terlihat mineral berat mengendendap dan cairan yang mungkin mengandung polen dibagian atas. Tambahkan aseton sebanyak 10ml kedalam tabung tersebut. Kemudian cairan tersebut dituangkan kedalam tabung centrifuge yang lain. Mineral berat dapat dibuang jika tidak akan dianalis lebih lanjut. Cairan yang sudah dipisahkan dicuci Penghilangan sampai Unsur netral Selulosa dengan menggunakan (Prosedur aquadest. Asetolisis): untuk menghilangkan selulosa diperlukan campuran 9 bagian asam acetate anhydrite (CH3COO)2O dengan 1 bagian asam sulfat (H2SO4). Campuran ini harus dalam kondisi fresh, jadi hanya dibuat ketika akan melakukan proses reaksi Asetolisis. Pembuatan Asetolisis harus hati-hati karena mudah meledak. Pertama 9 bagian asam acetate anhydride dituangkan kedalam gelas ukur, kemudian tuangkan asam sulfat pekat dengan pipet dengan menempelkan ujung pipet pada dinding gelas ukur. Hal ini untuk menghindari reaksi yang terlalu cepat (diindikasi dengan warna kuning). Campuran yang sudah jadi kemudian dituangkan pada residu sebanyak 5-10 ml, dikocok dan ditutup tidak terlalu rapat. Panaskan dalam waterbathselama 30 menit. Sebelum dan sesudah proses acetolisis ditambahkan asam asetat (CH3COOH) sebanyak 10ml. Kemudian dicuci dengan menggunakan aquadest sampai bersih. Pewarnaan: pewarnaan bertujuan untuk mempermudah membedakan bentuk polen / spora dari material lain. Untuk pewarnaan bisa dipakai bermacam zat pewarna: safranin merah, Bismarck kuning, fuchsin, netral merah, methyl hijau , dll. Pada residu yang sudah dihilangkan kandungan unsur unsur kimianya dan sudah dicuci bersih (air jangan dibuang) kedalamnya ditambahkan safranin PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 20
  32. 32. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN merah 2-3 tetes. Tutup dan kocok, kemudian panaskan dalam waterbath selama 5 menit. Setelah itu didinginkan, disetimbangkan dengan aquadest, di-mixer, di-cetrifuge selama 5 menit; 2000 rpm. Kemudian cuci sampai bersih dengan menggunakan aquadest. Penempelan Conto diatas Slide: untuk pemeriksaan polen dan spora, dilakukan pembuatan preparat dengan meeteskan 20mikron keatas kaca preparat dan tambahkan glycerin jelly, aduk kemudian tutup dengan cover glass. Panaskan diatas hot plate, sambil ditekan pelan-pelan dengan tusuk gigi. Setelah siap, bersihkan pinggiran kaca cover glass dan beri kutek disekeliling cover glass. Preparat siap untuk diperiksa dibawah mikroskop. Analisis bakteri metanogenik adalah untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri anaerob sebagai pembentuk gas metan pada contoh sedimen yang mengandung gas. Contoh sedimen yang dianalisis adalah jenis lempung dan lanau dari lubang bor yang ada indikasi gas metan. Analisis bakteri ini menghitung jumlah populasi bakteri dalam contoh sedimen. Setiap contoh seberat kurang lebih 1 g dilarutkan ke dalam air, dikocok hingga merata. Kemudian setiap 1 gram dari larutan tersebut diencerkan lagi dan seterusnya. Kemudian sample tersebut dianalisis bakteri dibawah mikroskop elektron. Analisis C14, metoda ini digunakan untuk mengetahui umur pengendapan sedimen yang diperkirakan sama dengan umur pembentukan gas biogenik. Metoda ini menggunakan waktu paruh unsur C14 pada setiap sedimen yang mempunyai umur relatif muda kurang dari 50.000 tahun. Semua sampel dari lapangan sebelum dilakukan pencucian, terlebih dahulu dipanaskan dalam oven + 80°C selama 3 jam..Setelah kering ditimbang berat sampel yang akan dicuci, dimasukkan dalam Beaker Glass 500ml., ditambahkan aquadest sampai sampel terendam semuanya, dipanaskan sampai mendidih selama 10 menit, kemudian disaring. (Pekerjaan ini dilakukan tiga kali berturut-turut).. Hal yang sama dilakukan pekerjaan diatas, tetapi larutan pencuci diganti dengan HCl 0,2N (dua kali berturutturut), kemudian larutan pencuci diganti lagi dengan larutan KOH 0,2N (tiga kali berturut-turut).. Sampel kembali dicuci dengan aquadest sampai sampel PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 21
  33. 33. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN betul-betul netral, dengan memakai indikasi kertas lakmus, terakhir dipanaskan di oven selama satu malam dengan temperatur 110°C, lalu ditimbang. Sebagian sampel dianalisis lebih lanjut, sebagian disimpan dalam botol plastik yang telah diberi etiket. Tahap pengerjaan yang dilakukan pada prinsipnya adalah pemisahan karbon (C) dari sampel. Karbon dipisahkan sebagai CO2 yang akan bereaksi dengan larutan amonium hidroksida. Selanjutnya diendapkan sebagai CaCO3 dan kemudian diubah menjadi SrCO3. Reduksi dilakukan dengan logam Mg terhadap SrCO3 pada temperatur 800°C untuk membentuk SrC2. Reaksi antara H2O dengan SrC2 akan menghasilkan gas asetilena (C2H2) dan gas ini digunakan untuk mengukur aktivitas 14 C dengan memakai detektor “Multi Anoda Anti Coincidence”. Analisis unsur utama (XRF) di daerah penyelidikan dilakukan pada sedimen bawah permukaan dari lubang bor untuk mengetahui jenis dan kandungan unsur utama pembentuk batuan yang dapat digunakan untuk menentukan sumber sedimen daerah kajian. Analisis mineral lempung (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis mineral lempung sejauh mana hubungannya terhadap gas biogenik. Preparasi sampel untuk pengujian analisis XRD adalah sistem preparasi bubuk (powder). Ada dua cara preparasi contoh sedimen yaitu sisten orientasi dan sistem bubuk. Preparasi dengan sistem orientasi dilakukan dengan mengambil contoh sedimen kering dicampur dengan air, diaduk dengan centrifugal, kemudian diendapkan selama kurang lebih 24 jam. Bagian teratasendapan contoh sedimen tersebut kemudian diambil dan diletakkan pada kaca preparat yang agak dimiringkan, dan terakhir sampel dikeringkan dalam udara normal. Untuk contoh sedimen dengan kondisi basah, sampel harus dikeringkan terlebih dahulu dengan oven suhu rendah selama ±24 jam. Sampel tersebut kemudian dihaluskan hingga berupa bubuk. Kedua preparasi tersebut mempunyai keunggulan masing-masing. Preparasi dengan sistem orientasi pada dasarnya cukup baik, akan tetapi pada saat pengambilan data, sampelnya statis (tidak terputar). Preparasi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 22
  34. 34. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN dengan sistem bubuk, pada dasarnya masih menyisakan mineral-mineral primer, seperti kuarsa yang mengganggu pick, terutama untuk studi mineral lempung. Namun demikian, preparasi sistem bubuk ini mempunyai keunggulan, yaitu tempat sampel (sample holder) yang ada di peralatan utama dengan keadaan terputar pada saat perekaman data. Dengan demikian, bidang identifikasi mineralnya tentu lebih luas jika dibandingkan dengan metode sampel statis. Analisis logam berat di daerah penyelidikan dilakukan pada beberapa contoh sedimen dari lubang bor dan air permukaan laut, sungai dan lubang bor untuk mengetahui jenis dan kandungan logam berat. Analisis ini untuk mengetahui kondisi lingkungan kawasan Muara Kakap. F. Metoda khusus geolistrik Metoda geolistrik multi channel adalah untuk mengungkap struktur dan pelapisan batuan berdasarkan sifat fisis resistivitas batuan bawah permukaan yang berkorelasi dengan jenis batuan bawah permukaan bumi. Nilai resistivitas batuan dan variasinya secara vertikal dan horisontal dapat diukur dengan metoda geolistrik baik dengan konfigurasi Schlumberger. Wienner, ataupunpun Dipole-dipole untuk metoda DC-Resistivitas. Dalam metoda DC-Resistivitas target kedalaman dari pengukuran diatur dengan panjang bentangan arus dan bentangan voltage yang di injeksikan ke bumi. Dengan mengukur nilai voltage dan arus dan parameter yang dihitung dari jarak elektroda arus dan voltage selanjutnya dapat dilakukan perhitungan nilai resistivitas semu. Setelah diperoleh nilai resistivitas semu nilai kedalaman dan resistivitas dari batuan yang merepresentasikan variasi reisitivitas batuan secara vertikal atau variasi resistivitas secara horisontal pada titik ukur tersebut dapat ditentukan baik metoda konvensional (Kurva Matching) maupun dengan pemodelan kedepan dan kebelakang (Forward dan Invers Modelling). Dalam penelitian ini konfigurasi pengukuran data (data acquisition) yang akan dipakai adalah sounding dan mapping. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 23
  35. 35. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Keberadaan fluida (khususnya gas dan air) dalam batuan ini sangat bergantung pada porositas dari batuan atau rekahan pada batuan, dan batuan penyangga (bedrock), dimana dengan diketahui nilai resistivitas batuan ini jenis batuan, besar porositas dan kedalaman permukaan air tanah dapat ditentukan. Aliran arus listrik didalam batuan/mineral dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, konduksi secara dielektrik. Konduksi secara elektronik terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus listrik dialirkan kedalam batuan/mineral tersebut oleh elektron-elektron bebas itu. Konduksi secara elektrolitik terjadi jika batuan/mineral bersifat porous dan rekahan tersebut diisi oleh fluida elektrolitik, sehingga arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit Metoda Geolistrik: pendekatan paling sederhana untuk kajian teori dari pengukuran resistivitas bumi pertama kali adalah mempertimbangkan bahwa bumi ini benar-benar homogen isotropis. Hubungan antara resistivitas dan struktur geologi adalah penting dan merupakan variable juga. Resistivitas ini berubah secara perlahan akibat formasi yang ada seperti variasi salinitas dari air pengisi pori batuan. Kebanyakan batuan menghantarkan arus listrik diakibatkan hanya oleh air atau fluida pengisi pori dan rekahan-rekahan pada batuan tersebut. Sedangkan jenis batuannya itu sendiri kurang signifikan pengaruhnya. Dalam pengukuran metoda resistivitas, besaran-besaran yang dapat diukur adalah beda potensial diantara dua titik dan kuat arus listrik (I) yang diterapkan. Bentuk penjalaran arus dan permukaan ekipotensialnya seperti pada gambar 3. Sedangkan kuat medan selalu dirata-ratakan sama dengan beda potensial diantara dua titik (V) dibagi dengan jarak kedua titik (r) tersebut (selanjutnya dikenal sebagai faktor konfigurasi). Rangkaian pengukuran resistivitas ini seperti pada gambar 4. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 24
  36. 36. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Gb. 3 Garis sebaran arus dan ekipotensial,(www.mine.edu) Gb. 4. Konfigurasi Schlumberger ,(www.mine.edu) Persamaan dasar yang digunakan adalam metoda ini dalah persamaan yang diturunkan dari hukum Ohm dan hukum Gauss, dan dengan permukaan ekipotensial berbentuk hemisfir dan aliran arus listrik secara radial (asumsi homogen isotropis) : V= Iρ 2πr (1) PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 25
  37. 37. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Besaran resistivitas ρ, merupakan besaran dari batuan yang diuji. Adapaun ditribusi potensial pada berbagai jarak dari elektroda arus digambarkan pada gambar 5. Gb.5 Bidang Ekipotensial yang terukur pada sepasang elektroda potensial. ,(www.mine.edu) Penembusan dari arus listrik yang mengalir ini ditentukan oleh jarak elektrodanya, sehingga kedalaman penembusan bisa diatur dari jarak bentangan. Pada table 1 di bawah ini proporsi dari enam lintasan seperti pada gambar 1. Tabel 1. Persentase arus total berdasarkan radius sebaran Lintasan Arus % dari Total Arus 1 17 2 32 3 43 4 49 5 51 6 57 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 26
  38. 38. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Lintasan-lintasan arus dari 1 sampai 6 yang mulai dari atas sampai ke lintasan terbawah persentase dari hasil perhitungan dan grafik aliran arus, tercatat hampir 50 % dari arus yang masuk ke bumi mengalir melalui batuan pada kedalaman lebih rendah atau sama dengan jarak elektroda aruis. Dengan memasukkan parameter lapangan seperti jarak antara elektroda arus dan potensial rumusan pada persamaan (1) dapat berubah, sebagai contoh untuk konfigurasi Schlumberger jarak antara elektroda arus adalah n kali jarak elektroda potensial sehingga resistivitas yang terukur dirumuskan sebagai berikut: (2 Dalam survey dilapangan dikenal ada beberapa konfigurasi yang sering digunakan yang tujuan untuk mapping (pemetaan) dan/atau sounding (pemetaan secara vertical). Konfigurasi-konfigurasi itu adalah Schlumberger, Wenner, Dipole-dipole, Bristow, dan Mise ala Masse. Adapun pemilihan konfigurasi ini disesuaikan dengan tujuan survey, seperti untuk eksplorasi geothermal, eksplorasi air tanah, eksplorasi di aluviasl, eksplorasi mineral, geologi teknik, dan pengkajian lingkungan. Bentuk respon berupa resistivitas semu , ρa, dari hasil pengukuran potensial dari arus yang diinjeksikan pada medium untuk berbagai bentangan seperti digambarkan pada gambar 6. Gambar tersebut menunjukkan respon untuk struktur dua lapis ( Tebal lapisan atas 5 meter dengan resistivitas 500 Ohm dan lapisan bawahnya tebal 15 meter dengan resistivitas 250 meter) dalam halfspace . Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, dan jarang memberikan informasi lapisan pada kedalaman lebih dari 1000 feet. Oleh karena itu metoda ini jarang digunakan untuk eksplorasi minyak tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang engineering geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 27
  39. 39. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN juga digunakan dalam eksplorasi geothermal (1),(2) . Gb.6 Resistivitas semu variasi ketebalan dan resistivitas batuan. ,(www.mine.edu) Berdasarkan kepada letak (konfigurasi) elektroda-elektroda potensial dan elektroda-elektroda arus (Gb.7) dikenal beberapa jenis metoda resistivitas tahanan jenis, antara lain :Metoda Schlumberger,Metoda Wienner, Metoda Dipole Sounding Transmiter Receiver Surface Gambar 1. Prinsip Dasar Penelitian Geolistrik Gambar 2.5. Prinsip Dasar Penelitian Geolistrik Gb. 7 Prinsip dasar penelitian geolistrik PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 28
  40. 40. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Teknik pengukuran DC – Resistivity yang digunakan di lapangan adalah konfigurasi Schlumberger. Posisi elektroda arus dan potensial untuk konfigurasi ini seperti pada gambar 8. I V A M N B Gb.8 Konfigurasi elektroda arus dan potensial. Terdapat beberapa cara perhitungan faktor geometris untuk konfigurasi ini, yaitu: Cara 1 (Gb.9) : a A M 0 p N B p Gb.9 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 1. K= 1 2 ⎡p2 a ⎤ − ⎥ ⎢ a 4⎥ ⎢ ⎣ ⎦ (1) maka nilai ρ untuk cara ini : V ⎡p2 a ⎤ ρa = π ⎢ − ⎥ I ⎣ a 4⎦ PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN (2) 29
  41. 41. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Cara 2 (Gb.10): a A M 0 N B L Gb.10 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 2 Untuk bentangan seperti ini nilai resistivitas semunya adalah: maka nilai ρ untuk cara ini : 2 ⎤ π V ⎡⎛ L ⎞ a ⎢⎜ ⎟ − 1⎥ ρa = 2 I ⎢⎝ a ⎠ ⎥ ⎣ ⎦ (3) Cara 3 (Gb11): a 0 A M N na B na Gb.11 Konfigurasi elektroda arus dan potensial Schlumberger 3 Untuk bentangan ini resistivitas semunya: ρa = π V na (n + 1) I (4) Untuk mendapatkan kedalaman dan sebarannya dalam arah lateral diperlukan kombinasi dari konfigurasi- konfigurasi di atas dan penentuan kofigurasi apa yang akan diterapkan sangat bergantung dari kondisi topografi daerah penelitian. Untuk daerah penelitian yang akan diteliti dominasinya adalah daerah dengan variasi topografi yang kecil sehingga konfigurasi Wenner dan Schlumberger akan lebih banyak digunakan. Dalam tahapan pengolahan data dan interpretasi akan digunakan kombinasi antara PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 30
  42. 42. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN cara manual dan penggunaan software. Pada penelitian ini direncakana akan digunakan software-software yang dibuat sendiri dan softwaresoftware paten (forward dan inverse modeling) yang ada. Perancangan system pengukuran pada survey 2D metoda geolistrik ini dilakukan beberapa tahapan: Perancangan system akuisisi meliputi, panjang bentangan yang ditentukan dengan spasi antara elektroda. Pada survey ini panjang bentangan bervariasi dari 20 m s.d. 30 m disesuaikan dengan panjang bentangan yang memungkinkan di lapangan (Gb.12) Gb.12 Perancangan system akuisisi survey 2D metoda geolistrik menggunakan Supersting R8/IP. Penentuan lintasan di lapangan disesuaikan dengan bentangan alam yang mungkin. Pada survey ini bentangan mengikuti kondisi alam yang ada dengan tetap mempertimbangan kondisi geologinya. Untuk mendapatkan hasil optimum terhadap kedalaman dilakukan overlapping PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 31
  43. 43. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN bentangan sepanjang satu kabel (enam kali rentang elektroda ) (Gb.13). Bentangan 1 Bentangan 2 Gb.13 Mogel lintasan di lapangan Pengolahan data dan interpretasi. terdiri atasdua tahap yaitu : A) Pengolahan data lapangan yaitu dilakukan selama akuisisi data di lapangan. Pengolahan data lapangan ini berguna untuk control kualitas data dan perbaikan-perbaikan sistem akuisisi dalam meningkatkan kualitas data. B) Pengolahan data setelah lapangan. Pada pengolahan data dilakukan proses-proses perbaikan data seperti : editing, mutting dan filtering data. Tahapan ini dilakukan untuk mempersiapkan data agar dapat dilakukan proses inversi data. C) Tapahan interpretasi adalah penafsiran data hasil pengolahan data untuk mendapatkan kondisi kedalaman dan nilai resistivitas riil dari daerah survey yang selanjutnya dilakukan penafsiran kondisi bawah permukaan bersama-sama dengan data penunjang lainnya seperti: data geologi, data sumur dan metoda lain yang pernah dilakukan di lokasi survey tersebut. G. Proses data/studio Data kegiatan lapangan dan laboratorium perlu dianalisis dan diproses melalui program paket komputer dan digitasi yang menghasilkan tabel-tabel dan peta yang lebih komunikatif serta memudahkan di dalam penyajian dan penyusunan laporan. 3.2 Peralatan Penyelidikan A. Geologi 1 (satu) unit pecontoh comot (grab sampler) PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 32
  44. 44. METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN 1 (satu) unit penginti jatuh bebas (gravity corer) 1 (satu) unti bor inti gas biogenik (coring) 1 (satu) buah kompas geologi, loupe tangan 1 (satu) buah kamera 1 (satu) buah tali ukur 5 (lima) lembar peta dasar kerja sekala 1:25.000 5 (lima) lembarpeta rupa bumi sekala 1:25.000 1 lembar peta citra B. Geofisika 1 (satu) unit 200 Khz echounder 1 (satu) sistem single channe seismic profiling (boomer) 1 (satu) unit komputer dan software navigasi 2 (dua) set alat komunikasi C. Hidro-Oseanografi 1 (satu) unit drouge tracking 1 (satu) buah rambu ukur D. Navigasi 1 (satu) unit theodolite 2 (dua) buah rambu ukur 2 (dua) unit GPS mobile E Analisis Laboratorium 1 (satu) unit alat ayakan besar butir 1 (unit) unit alat pipet besar butir F. Geolistrik 1 (satu) unit peralatan geolistrik multi channel yang teridir atas: Superstring R8 IP Multichannel AGI, perangkat komputer, GPS trimble, dan transceiver. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 33
  45. 45. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 4.1. Tekstur Sedimen Sejumlah contoh sedimen permukaan dasar laut daerah penyelidikan telah dianalisis besar butir untuk mendapatkan parameter tekstur sedimen. Data analisis besar butir dari penyelidikan sebelumnya (Udaya, drr., 2004) juga digunakan. Analisis megaskopis dilakukan untuk mengidentifikasi secara umum jenis sedimen serta mineral yang terdapat pada sedimen (Lampiran terikat 1:1).. Analisis besar butir mengikuti cara Folk (1968) digunakan untuk sedimen pasir dan kerikil. Contoh sedimen berupa lanau, dan lempung dianalisis pipet. Data baku analisis besar butir dan pipet diproses (Tabel 2, Lampiran terikat 1:2). Berdasarkan data analisis besar butir maka sedimen permukaan dasar laut di daerah penyelidikan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan tekstur sedimen yaitu: pasir (S), pasir lanauan (zS), lanau pasiran (sZ) dan lanau (Z) (Gb.14) Pasir, Sebarannya setempat-setempat, menempati kedalaman laut kurang dari 10 m dengan persentase pasir antara 99,5% - 100 %. Sifat fisik pasir berwarna kecoklatan, halus-sangat halus, membundar-menyudut tanggung, pemilahan baik-sangat baik dengan komposisi utama kuarsa, sedikit muskovit dan pecahan cangkang moluska. Pemisahan cangkang hasil preparasi granulometri memperlihatkan persentase 0% sampai dengan 0,9839 %. Pasir lanauan, sebaran ke arah lepas pantai menyempit, menempati kedalaman laut tidak lebih dari 10 m dengan persentase pasir, lanau dan lempung, masing-masing antara 0,3%-4,8 %. kecoklatan, 51% - 76,1 %, 22,4% - 44,2 % dan Perian megaskopik mempunyai sifat fisik abu kehijauanlumpuran, halus-sangat halus, membundar-menyudut tanggung, pemilahan baik, penyusun utama kuarsa, sedikit muskovit dan 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 34
  46. 46. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 35
  47. 47. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 34
  48. 48. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN organik sisa tumbuhan. Pemisahan cangkang hasil preparasi memperlihatkan persentase antara 0,0841 - 3,8014 %. Lanau pasiran, sebaran di sepanjang pantai menempati kedalaman laut kurang dari 15 m dan di lepas pantai lebih dari 20 m. Persentase pasir, lanau dan lempung, masing-masing antara 10,8 - 49,9 %, 45,7 87,3 % dan 0,2 - 6,3 %. Satuan ini secara megaskopik sebagai lumpur pasiran dengan sifat fisik dan kandungan mineral relatif sama dengan lanau. Perbedaan terlihat dari sebagian percontohnya berwarna gelap oleh karena organik sisa tumbuhannya. Pemisahan kandungan busukan cangkang memperlihatkan persentase antara 0,1178 -7,3876 %. Lanau, sebarannya menutupi kurang lebih 85 % dari luas daerah penelitian, berkembang mulai dari pantai hingga menerus ke arah lepas pantai dengan persentase lanau antara 78,5 - 96,6 %. Satuan ini secara megaskopik sebagai lempung dan lumpur, sifat fisiknya abu-abu kehijauan-kehitaman, permukaannya sebagian besar diselimuti oleh sedimen berwarna kecoklatan. Selimut endapan berwarna coklat diduga berkaitan dengan pengaruh suspensi sedimen asal Sungai Kapuas. Sebagian sedimennya teridentifikasi adanya kuarsa, pecahan cangkang moluska dan organik sisa tumbuhan. Keberadaan cangkang hasil preparasi granulometri sedimen menunjukan persentase antara 0,0307 – 9,9955 %. Organik sedimen (Sisa-sisa Tumbuhan), sebarannya menutupi kurang 1 % dari luas daerah penelitian (tidak terpetakan), berkembang di anak Sungai Pungur Besar (Kapuas). Secara visual berwarna coklat kegelapan dengan penyusun utama organik sisa-sisa tumbuhan yang masih jelas akan batang, ranting dan asal daunnya. Perian megaskopis sedimen bawah permukaan dilakukan dari lubang bor MKB1, MKB2, MKB3 dan MKB4 (Lampiran terikat 1.1). Analisis besar butir dan pipet dilakukan pada contoh sedimen bawah permukaan dari lubang bor MKB3 dan MKB4. Sedimen pada MKB1 dan MKB2 dapat 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 34
  49. 49. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN memberikan gambaran secara umum kondisi lingkungan sedimentasi daratan Muara Kakap. Sedimen pada MKB3 dan MKB4 menarik untuk dianalisis lebih rinci karena dari lubang bor MKB3 ada indikasi gas biogenik sedangkan sedimen dari lubang bor MKB4 dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan pembentukan Delta Kapuas. Bor MKB1 dan MKB2 terletak di daratan Muara Kakap, bor MKB3 berada di Pulau Sepauk Laut, dan bor MKB4 berada di laut Pulau Tanjung Saleh. Jarak bor MKB1 dengan MKB2 sekitar 500m. Penentuan lokasi bor di sini berdasarkan pertimbangan teknis dan kesepakatan masyarakat. Berdasarkan deskripsi megaskopis sedimen yang besaral dari bor MKB1 dan MKB2 hampir sama yaitu berupa perlapisan antara lumpur, lempung, lanau dan pasir dengan sisipan pasir dan gambut. Pada bor MKB1 lempung bertambah banyak ke arah kedalaman 50m, sebaliknya lanau untuk bor MKB2. Lapisan gambut di bor MKB1 lebih banyak ditemukan pada kedalaman antara kedalaman 26m dan 50m, sedangan lapisan gambut di bor MKB2 hanya ditemukan di kedalaman 25m. Dari kedua lubang bor tersebut terdapat sumber air tanah dangkal yang berasal dari lapisan pasir sebagai akifer. Pasirnya berwarna abu-abu gelap, berbutir halus, dan banyak mengandung material organuk berupa sisa-sisa tumbuhan dan pecahan cangkang moluska. Bor MKB3 mencapai kedalaman 45m. Secara megaskopis sedimen yang berasal dari bor MKB3 terdiri atas perselingan pasir lempung dan pasir. Sedimen yang berada dekat kepermukaan berupa lempung hitam kaya akan material organik, ke arah bagian dalam sedimen disusun oleh pasir halus berwarna abu-abu kecoklatan, tebal antara 20cm dan 50cm yang berselingan dengan lempung lunak berwarna hitam, hijau kecoklatan, mengandung kepingan organik berupa kayu dan tumbuh-tumbuhan, berbau busuk, tebal lebih dari 1 m. Pada kedalaman 43m dan 45m sedimennya terdiri atas pasir halus, berwarna abu-abu kecoklatan, sisa-sisa material organik. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 35
  50. 50. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Penetrasi bor MKB4 sedalam 100m. Sedimen yang terdapat pada bor MKB4 sebagian besar berupa lempung yang diselingi oleh lapisan material organik berupa gambut dan lempung hitam organik. Lapisan sedimen dekat permukaan terdiri atas gambut berwarna hitam kecoklatan, terurai, tebal mencapai 2.5m. Antara kedalaman 2.5m dan 45m sedimennya terdiri atas lempung hitam kecoklatan, lunak, material organik 30%. Antara kedalaman 45m dan 50m lempung hitam tersebut menjadi lebih kompak dan lengket. Antara kedalaman 50m dan 91m sedimennya berupa lempung abu-abu kehijauan, kompak, dan sangat lengket. Di antara lapisan lempung hitam kehiajaun dan hitam kecokalatan pada kedalaman 91m – 92m dan 96m – 97m terdapat lapisan gambut hitam sangat kompak, tebal antara 10cm dan 20cm. Pada kedalaman 99m dan 100m sedimennya terdiri atas kaolin sangat lengket, kompak berwarna coklat terang-coklat agak pudar. Analisiis besar butir pada contoh sedimen bor MKB3 dan MKB4 adalah untuk mengetahui perubahan tekstur sedimen secara tegak yang menggambarkan ligkungan sedimentasi. Berdasarkan data analisis besar butir sedimen dari kedua lubang bor tersebut, terdapat perbedaan tekstur sedimen terutama harga besar butir rata-ratanya (Tabel 3 dan Tabel 4). Besar butir rata-rata sedimen bor MKB3 beragam. Dekat permukaan (0m - 8m) nilai besar butir rata-rata berkisar antara 3phi dan 4phi. Di bagian tengah (8m - 34m) besar butir rata-rata antara 4phi dan 5phi. Lebih dalam lagi harga besar butir rata-rata umunya antara 2phi dan 3phi. Berdasarkan data tersebut di bagian atas sedimen lebih banyak disusun oleh pasir halus, di bagian tengah terdapat perselingan sedimen pasir halus dan lanau, dan dibagian dalam sebagian besar sedimen disusun oleh pasir halus dan pasir berbutir sedang. Besar butir rata-rata sedimen bor MKB4 tidak memperlihatkan perubahan yang mencolok berkisar antara 5phi dan 7phi. Nilai besar butir rata-rata tersebut termasuk sedimen lanau. Di sekitar permukaan harga besar butir rata-rata sekitar 5 phi. Harga ini berangsur naik menjadi sekitar 7phi sejalan dengan bertambahnya kedalaman. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 36
  51. 51. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 37
  52. 52. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 38
  53. 53. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 39
  54. 54. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 4.2. Karakteristik Pantai Karakteristik pantai menggambarkan keanekaragaman proses pembentukan morfologi, dimana perubahan morfologinya mencirikan hasil dari interaksi antara unsur oseanografisika (angin, gelombang, pasang naikturun dan arus) terhadap unsur geologi (struktur, batuan dan topografi) dan aspek antropogenik (pengguna). Pemetaan karakteristik pantai bergantung kepada skala peta dan obyek penyelidikan (Dolan, 1975). Pemetaan karakteristik pantai di daerah selidikan dilakukan dengan orientasi lapangan melalui jalan laut secara diskriptif, kualitatif terhadap parameter geologi, relief, karakteristik garis pantai dan proses dominan (Doland, 1975). Proses dominan meliputi marin, fluviatil, pencucian massa (mass wasting), kehidupan koral (coral life), pertumbuhan bakau (mangrove life) atau campurannya. Peta dasar yang diapakai peta Rupa Bumi Bakosurtanal skala 1 : 50.000, dan citra ETM7 2001. Daerah selidikan termasuk kedalam Delta Kapuas. Delta ini merupakan suatu sistem delta aktif yang dibentuk dalam kondisi lingkungan tropik. Pengaruh gelombang laut dan fluvial sangat besar dalam pembentukan. Delta Kapuas memperlihatkan suatu tipe morfologi hampiir berbentuk kipas simetri (symmetrical fan). Morfologi Delta Kapuas secara umum dapat dibagi kedalam tiga sistem konsentrik radial yaitu dataran delta (delta plain), muka delta (delta front) dan luar delta (prodelta). Berdasarkan pengamatan visual, kawasan Delta Kapuas terdiri atas pulau-pulau yang banyak ditumbuhi mangrove dan nipah. maka karakteristik pantai daerah selidikan dapat digolongkan ke dalam 2 jenis pantai yaitu pantai lumpur- mangrove-rhizophora dan 2 pantai lumpur mangrove-nipah (Gb. 15). A. Pantai lumpur- mangrove-rhizophora Pantai lumpur- mangrove-rhizophora berkembang sebagian di pantai Muara Kakap, pantai barat P. Tanjung Saleh, P. Sepuk Prupuk, P. Sepuk Keladi dan P. Sepuk Laut. Karakteristik garis pantai jenis ini terdiri atas 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 40
  55. 55. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN tanaman mangrove rhizophora dan lumpur. Endapan lumpurnya akan tampak jelas terutama pada saat air laut surut. Resistensi sedimen terhadap aksi gelombang laut dari jenis pantai ini tergolong rendah, sehingga di kawasan ini sering terjadi erosi pantai, terutama pada saat musim angin barat, yang mengakibatkan beberapa garis pantai mundur (abrasi). Di lapangan erosi pantai ini biasanya ditandai oleh adanya beberapa tanaman mangrove dewasa yang tumbang dan berada jauh di depan garis pantai baru. Sebaliknya pasokan sedimen dari sungai Kapuas pada pantai ini cukup tinggi, sehingga secara umum pantai ini tergolong stabil dengan sedimentasi aktif. Di lapangan kondisi ini diperlihatkan oleh banyaknya tanaman mangrove muda, dan gosong-gosong pasir (sand bar) di kawasan tersebut sebagai embrio pulau - pulau kecil (Lampiran Foto 1). B. Pantai lumpur mangrove-nipah Pantai lumpur mangrove-nipah berkembang di sepanjang tepi sungai, Kapuas dan anak-anak sungainya (Lampiran Foto 1), dan hampir semua di tepi pulaua-pulau yang ada di Delta Kapuas. Jenis pantai ini dapat dikatagorikan sebagai daerah peralihan atau daerah pertumbuhan dan perkembangan pengaruh mangrove nipah dalam lingkungan payau sebagai akibat campuran air sungai dan air laut. Jenis pantai ini umumnya dicirikan oleh adanya sedimen yang berlapis di sekitar tepian sungai. Pantai jenis ini relatif stabil terhadap erosi arus sungai. Gelombang dan arus sungai yang ditimbulkan oleh kendaraan laut berkecepatan tinggi sering menimbulkan erosi pada tepi sungai. 4.3. Pasang Surut Pengukuran pasang-surut dilakukan di sekitar Dermaga Muara Kakap dan Sungai Pulau selama 15 hari dengan pembacaan setiap 1 (satu) jam secara menerus (Lampiran terikat 2-1) dari tanggal 18 September 2005 s/d 2 Oktober 2005 (Gb.16). Metoda perhitungan perhitungan konstanta 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 41
  56. 56. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 34
  57. 57. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Kurva kedudukan muka air laut di perairan Muara Kakap Kalimantan Barat (18 SEPT. - 3 OKT. 2005) 24 22 Tinggi Air (dm) 20 18 16 14 12 10 Tinggi Air 8 MSL 6 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 0:00 12:00 4 Jam Gb.16 Kurva kedudukan muka air laut di perairan Muara Kakap Kalimantan Barat (18 Sept. – 3 Okt. 2005) (PPPGL, 2005) 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 34
  58. 58. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN harmonis yang digunakan adalah metoda The British Admiralti 15 hari (piantan). Berdasarkan perhitungan konstanta harmonis pasang surut di daerah penyelidikan maka diperoleh elevasi muka laut rata-rata (mean sea level) dari level nol rambu, dan 9 (sembilan) konstanta harmonik (M2, S2, N2, K1, O1, M4, MS4, K2, dan P1) Hasil akhir perhitungan konstanta harmonik ini adalah sebagai berikut (Tabel 5): Tabel 5. Konstanta harmonik pasang-surut Muara Kakap (PPPGL, 2005) FINAL RESULT So A cm g F= 136.02 M2 S2 17.9 395 5.5 164 N2 K2 0.002 63 1.5 164 K1 38.6 129 O1 30.7 332 P1 M4 12.7 129 1.7 247 MS4 2.4 353 2.96 Dimana : An : besaran amplitudo pasang surut komponen-n g : sudut kelambatan fasa So : tinggi muka laut rata-rata di atas titik nol rambu M2 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh posisi bulan S2 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh posisi matahari N2 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh jarak, akibat lintasan bulan yang berbentuk elips K2 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh jarak, akibat lintasan matahari yang berbentuk elips O1 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan P1 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi matahari K1 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan dan matahari M4 : konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh bulan sebanyak dua kali (2 x M2) 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 35
  59. 59. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN MS4 : konstanta harmonik yang diakibatkan oleh adanya interaksi antara M2 dengan S2 Sebagai datum vertikal untuk keperluan pemetaan hidrografi digunakan kedudukan muka air surutan terendah (LWS) yang letaknya 0.846 m di bawah MSL (Gb.17). Gb.17 Tinggi LWS terhadap rambu pasut Analisa kombinasi komponen utama pasang surut dilakukan untuk menentukan delay (keterlambatan) kejadian masing-masing komponen pasang surut. Hasil analisa kombinasi menggunakan 9 (sembilan) komponen utama adalah sbb.: a. Kombinasi Terhadap Pasang K1 dan M2 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 36
  60. 60. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Diperoleh air rendah yang ditimbulkan oleh anak komponen pasang surut konstanta K1, O1, M2, dan K2 adalah 67.8 cm di bawah duduk tengah. b. Pengaruh Pasang S2 Kedudukan air rendah yang disebabkan oleh pasang M2, S2, K1, O1, dan K2 adalah 67.8 cm di bawah duduk tengah. c. Pengaruh Gelombang P1 Air rendah yang disebabkan oleh komponen M2, S2, K1, O1, K2, dan P1 adalah 80.54 cm dibawah duduk tengah. d. Pengaruh N2, M4, dan MS4 Kedudukan air rendah terendah yang diakibatkan oleh komponen pasang surut M2, S2, K1, O1, K2, P1, N2, M4, dan MS4 adalah 84.6 cm di bawah duduk teng 4.4. Arus Arus laut yang terjadi yang diakibatkan oleh pasang surut dan merupakan salah satu parameter di dalam mengontrol dinamika pantai Delta Kapuas. Untuk mendapatkan gambaran kondisi arus di daerah penelitian dilakukan dengan pengukuran Lagrangian. Pengakuruan arus dengan metoda Lagrangian digunakan bola apung. Arah dan kecepatan arus diketahui dengan mengikuti arah dan gerak bola apung tersebut. Berdasarkan pengukuran arus dari bola apung yang berlokasi di Sungai Punggur Besar depan muara Sungai Kakap pola arus surut searah dengan aliran Sungai Punggur Besar menuju laut. Kecepatan rata-rata arus surut ini adalah 0.56m/detik. Pada saat pasang arus berlawanan arah dengan arah aliran sungai tersebut. Kecepatan rata-rata arus pasang lebih rendah dari arus surut yaitu 0.24m/detik (Gb.18). Dari data arus di atas menunjukkan bahwa pergerakan partikel sedimen yang diangkut oleh arus sungai dan arus surut condong ke arah laut. Dengan kata lain pengendapan atau sedimentasi akan berlangsung terus ke arah laut selama tidak ada hambatan akibat adanya penghalang (sediment trap) 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 37
  61. 61. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN yang dipasang oleh masyarakat pantai setempat seperti bagan, dan bubu laut (jaring perangkap ikan). 4.5. Batimetri Berdasarkan data lintasan peruman dan seismik (Gb.19), maka kedalaman air laut setiap titik tetap (fix point) di daerah penyelidikan dikoreksi pasut. Koreksi pasut yang digunakan adalah muka air laut ratarata (mean sea-level). Data yang telah dikoreksi diplot kembali ke dalam peta pada posisi titik yang sama, kemudian dari titik–titik tersebut ditarik garis yang mempunyai kedalaman yang sama berupa kontur kedalaman (batimetri). Batimetri tersebut diplot pada interval 1 m (Gb.20). Karena metoda yang digunakan bukan dikhususkan untuk survey hidrografi, maka peta kedalaman air laut yang dihasilkan ini tidak direkomendasikan untuk navigasi. Konfigurasi morfologi dasar laut mencerminkan kondisi geologi serta dinamika air lautnya. Berdasarkan data peruman maka secara umum pola kontur batimetri dasar laut daerah penyelidikan mengikuti pola morfologi Delta Kapuas. Morfologi dasar laut dekat pantai delta (delta front) menunjukkan pola datar dan merata dengan kedalaman antara 1m dan 5m. Di sekitar muara-muara sungai delta ini terdapat kanal masuk dan keluar (out/inlet) arus pasut/sungai dengan kedalaman mencapai lebih dari 5m. Morfologi dasar laut di bagian luar delta, P. Sepuk Laut, P. Sepuk Keladi, dan P. Sepuk Prupuk memperlihatkan pola kontur lebih rapat dibandingkan dengan tempat lainnya mulai dari kontur kedalaman 5m sampai dengan 20m. Pola kontur tersebut mencirikan adanya suatu kemiringan (slope) yang cukup terjal (Gb.20). Pola kontur-kontur tersebut merupakan bagian dari lingkungan luar delta atau tepian delta (shelf). 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 38
  62. 62. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 39
  63. 63. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 40
  64. 64. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 41
  65. 65. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 4.6 Seismik Pantul Dangkal Survei seimik dilakukan secara bersamaan dengan pemeruman, sumber ledak (source) sistem Boomer dengan catu daya 300 Joule, sapuan 1/4 per detik, kecepatan waktu ledak (firing rate) 1/4 detik, frekuensi 3004000 Hz dengan waktu bacaan posisi (fix position remark) pada kertas rekam setiap selang 10 menit. Interpretasi data seismik diproses secara manual dengan menarik batas dari sifat dan konfigurasi pantulan akustik. Ketebalan sekuen sesimik dihitung dengan menggunakan asumsi kecepatan rambat gelombang pada sedimen yaitu 1600 m/detik. Setiap sekuen seismik yang diiterpretasikan sebagai sedimen Holosen dan mempunyai ketebalan yang sama dihubungnkan dalam bentuk kontur isopah. Penarikan kontur isopakh dilakukan dengan menggunakan interval setiap 5 m (Gb.21). Lintasan seismik diarahkan memotong Delta Kapuas yaitu mulai dari muara induk Sungai Kapuas (delta plain) , kanal delta, hingga ke laut (prodelta). Berdasarkan peta isopah secara umum sedimen Holosen di bagian lepas pantai (pro-delta) lebih tebal dibandingkan dengan bagian dataran delta. Pola kontur isopahnya menyempit dengan ketebalan sediment mencapai 35 meter. Pola ini terdapat di utara dan tengah daerah selidikan. Data rekaman seismic juga menunjukkan di bagian lepas pantai (pro- delta) konfigurasi lapisan sedimen bawah dasar laut sebagian besar mencerminkan pola-pola alur purba dengan konfigurasi torehan dan isian kanal (cut and fill) (Gb.22). Sebaliknya ke arah dataran delta atau muara Sungai Kapuas bentuk cut and fill ini tidak tampak lagi karena tertutup oleh pola turbiditas akustik (acoustic turbidity). Pola-pola reflector yang menunjukkan adanya indikasi gas dalam sediment di daerah penyelidikan antara lain penggosongan akustik (acoustic blanking), turbiditas akustik, penguatan reflector (enhanced reflectors), reflector berganda (multiple reflectors) dan hiperbola difraksi (diffraction hyperbolas). 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 42
  66. 66. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Pengosongan akustik adalah fenomena area-area bebas refleksi yang mengindikasikan adanya daerah-daerah gas (Gb.23). Hal ini terjadi karena adanya absorbsi sinyal seismic dalam sediment mengandung gas. Efek yang sama dapat juga ditimbulkan oleh transparansi akustik karena tidak terdapatnya perlapisan sediment akibat migrasi gas. Turbiditas akustik adalah berupa rekaman kabur (diffuse) menutupi seluruh rekaman yang ada (Gb.24). Pola ini terjadi karena penyerapan (absorb)) energi akustik oleh lapisan sedimen sangat lunak atau rongaronga pada sedimen sangat porus yang diisi oleh gas. Adanya lapisanlapisan kerikil dan pasir juga memberikan efek akustik yang sama, sehingga dalam penafsiran keberadaan material-material ini perlu diperhatikan. Turbiditas akustik yang memotong secara tajam stratifikasi dalam rekaman seismic mengindikasikan tidak terdapatnya hubungan keberadaan gas dengan litologi. Sediment turbid ini juga tidak selalu menunjukkan adanya efek terhadap kecepatan rambat akustik yang nyata (pull-down effect). Penguatan reflector adalah variasi lokal reflektor seismik yang biasanya berada di bagian atas lapisan turbid yang mengindikasikan bertambahnya konsentrasi gas (Gb25). Kadang-kadang fenomena ini meluas secara lateral dari zone turbiditas akustik. Reflector berganda adalah fenomena perulangan secara kuat suatu reflector akibat dari pergerakan ke bawah energi gelombang seismic yang dipantulkan oleh permukaan bergas dan dipantulkan kembali oleh permukaan laut. Reflector berganda dasar laut yang kuat dapat juga dihubungkan dengan material sampah terutama di daerah-daerah dekat industri. Hiperbola difraksi adalah bentuk-bentuk reflector yang terutama terkonsentrasi di bagian paling atas kolom sediment atau pada dasar laut. Bentuk ini berhubungan dengan horizon gas dan bentuk morfologinya yang tidak beraturan adalah akibat adanya sediment bergas. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 43
  67. 67. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 44
  68. 68. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 45
  69. 69. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 46
  70. 70. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Gb,25 Penafsiran rekaman seismik pantul dangkal di sekitar Delta Kapuas penampang P5. Sumber energi Boomer 300 Joule waktu ledak ¼ detik (PPPGL, 2005). 4.7. Analisis laboratorium A. Analisis kandungan gas Analisis kandungan gas alami dilakukan pada beberapa gas dan sedimen yang berasal dari lubang bor MKB3. Lubang bor tersebut merupakan satu dari 4 lubang bor penelitian yang mengindikasikan adanya gas. Alat yang digunakan adalah jenis GCMS Shimadzu: GC-17A dan MS-QP5050A. Contoh gas yang dianalisis adalah gas yang langsung ditampung kedalam kantong plastik dan pipa pvc dari lubang bor MKB3. Tekanan gas alam dari lubang bor tersebut sangat kecil diperkirakan kurang dari 1 milibar. Contoh gas lainnya adalah berasal dari gas yang terbentuk berasal dari contoh sedimen organik MKB3 yang disimpan didalam kantong plastik tertutup rapat. Terakhir contoh gas yang dianalisis berasal dari ekstrasi contoh sedimen tersebut. Keluaran gas yang dianalisis adalah dalam bentuk jenis gas dan konsentrasi %. Berdasarkan analisis gas yang langsung dari lubang bor MKB3, gas tersebut sebagian besar mengandung kandungan gas nitrogen N2 di atas 70%, gas oksigen O2 lebih dari 15%, gas metana CH4 antara 2% dan 8%, dan gas hydrogen H2 dan karbon dioksida CO2 kurang dari 1% (Lampian terikat 3.1). Gas yang yang dianalisis tersebut tidak diketahui secara pasti 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 47
  71. 71. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN di kedalaman berapa pada lubang bor MKB3. Untuk itu dilakukan pengambilan contoh sedimen untuk dianalisis kandungan gasnya. Sebanyak 4 contoh sedimen yang diambil dari kedalaman yang berbeda telah dianalisis kandungan gasnya. Dari analisis kandungan gas yang dijeksikan berasal dari contoh sedimen tersebut sebagian besar memperlihatkan Konsentrasi konsentrasi gas metana CH4 yang cukup besar. gas metana CH4 pada setiap contoh yang dianalisis kebanyakan dalam bentuk senyawa dan bukan dalam bentuk gas metana bebas. Jenis dan konsentrasi gas yang dianalisis adalah sebagai berikut (Lampian terikat 3.1): Kandungan gas pada sedimen antara 0m dan 8m (MKB3-8) terdiri atas gas tetranitromethane lebih dari 90% dan kurang dari 1% gas octyl4-carboxylic acid. Pada contoh sedimen sekitar 11m di bawah permukaan (MKB3-11) gasnya terdiri atas tetranitromethane (93.78%), dan octyl-4-carboxylic acid kurang dari 2%. Di kedalaman sekitar 19m (MKB3-19) gas yang dapat diidentifikasi terdiri atas tetranitromethane lebih dominan (98%), dan sebagian kecil gas octyl-4-carboxylic acid. Pada kedalaman antara 23m dan 25m gas yang dihasilkan terdiri atas gas tetranitromethane (97%), dan sedikit gas Bis[4-(phenylsulphonyl) phenyl] carbonate (3%). Jenis gas yang dihasilkan pada sedimen paling bawah dari lubang bor MKB3 yaitu antara 39m dan 45m terdiri atas gas beta ionone epoxide lebih dari 90%, dan kurang dari 10% gas tetranitromethane. Selanjutnya analisis identifikasi gas dilakukan pada contoh sedimen yang sama yang diekstrasi. Berdasarkan analisis gasnya maka didapat jenis dan persentase gas yaitu (Lampian terikat 3.1): Untuk sedimen pada kedalaman sekitar 8m gas yang dihasilkan sebagian besar berupa methyl ester (27%), carotene (25%), propane 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 48
  72. 72. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN (20%), dan sekitar 10% terdiri atas dicloropehenyl, dan phenylpropyl isobutyrates. Pada contoh sedimen di kedalaman 11m gas yang dapat didentifikasi sebagian besar berupa methyl ester (62%), dan sebagian lagi terdiri atas ehtyphenyl, tetramethyl, dan chloromethoxyl. Gas yang dapat diidentifikasi pada contoh sedimen di kedalaman sekitar 19m dan 23m sebagian besar (98%) berupa gas ethane, ethyl ether. Pada sedimen yang paling bawah dari lubang bor (39m-45m) gas yang dihasilkan sebagian besar berupa gas ethane (80%), dan sebagian lagi (20%) terdiri atas propanol, butanol, dan phenol. B. Analisis karbon total Analisis kandungan karbon total dilakukan pada contoh-contoh sedimen yang berasal dari lubang bor MKB1, MKB2, MKB3, dan MKB4. Data analisis kandungan karbon dinyatakan dalam satuan % berat (Lampian terikat 3.2). Berdasarkan data analisis kandungan karbon total dari ke empat lokasi bor, persentase total kandungan karbonnya tinggi untuk sedimen MKB1, MKB2, dan MKB4 yang terdapat di sekitar permukaan. Persentase total karbonnya berangsur turun untuk sedimen yang berada lebih dalam lagi. Sebaliknya untuk sedimen yang berasal dari lubang bor MKB3 persentase total karbon meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Persentase karbon total untuk sedimen permukaan (0m dan 5m) dari lubang bor MKB1 dan MKB2 yaitu antara 7% dan 9%. Nilai total karbon tersebut cukup tinggi jika dibandingkan terhadap nilai karbon total pembentukan hidrokarbon. Hal ini sesuai dengan perian megaskopis sedimennya yang banyak mengandung material organik sisa tumbuhtumbuhan dan gambut. Pada kedalaman 40m dan 50m nilai total karbonnya menjadi rendah sekali yaitu antara 0.10% dan 0.20%. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 49
  73. 73. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN Kondisi tersebut diperlihatkan pula oleh sedimen yang berasal dari lubang bor MKB4. Nilai persentase karbon total pada sedimen permukaannya sangat tinggi yaitu mencapai 15.76%. Sedimen ini berupa material organik sisa tumbuhan (gambut). Sebaliknya pada kedalaman 100m persentase karbon totalnya menjadi rendah sekali (0.09%). Hal ini sesuai dengan jenis sedimennya berupa lempung kaolin yang masih segar. Berbeda dengan contoh sedimen sebelumnya, nilai persentase karbon total yang ada pada sedimen MKB3 di kedalaman 0m sampai dengan 30m tidak memperlihatkan perubahan yang mencolok yaitu berkisar antara 1.5% dan 3.5%. Kecuali pada kedalaman 30m dan 40m nilai karbon total ini menurun cukup berarti yaitu antara 0.7% dan 0.9%. Selanjutnya persentase karbon total tersebut naik menjadi sekitar 4% pada kedalaman 45m. C. Ananlisis polen Analisis polen dilakukan pada sedimen yang berasal dari lubang bor MKB1, MKB2, MKB3 dan MKB4. Berdasarkan analis polen pada contohcontoh sedimen tersebut, kelimpahan kandungan pollen dari setiap bor cukup beragam kecuali untuk contoh sedimen dari lubang bor MKB1 dan MKB2 memperlihatkan suatu kemiripan. Hal ini disebabkan lokasi titik bor MKB1 dan MKB2 agak berdekatan. Sedangakan dengan titik bor lainnya cukup jauh dengan kondisi lingkungan dan jenis sedimen yang berbeda. Data analisis pollen ditampilkan berupa jenis dan persentase kelimpahannya (Lampian terikat 3.3), dan karaktersitk setiap jenis pollen (Lampiran Foto). Contoh pollen yang berasal dari sedimen MKB2 yang dianalisis mengandung butiran polen yang cukup melimpah yaitu lebih dari seratus butir dalam tiap preparatnya (Gb.26). Diagram Polen ini dapat dibagi menjadi 2 zonasi polen. Zonasi 1 dibedakan dari zonasi 2 berdasarkan kelimpahan polen tumbuhan mangrove dan grassland-nya. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT Polen 50
  74. 74. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN mangrove hadir dalam frekuensi yang sangat kecil di Zonasi 1 dan meningkat pesat di Zonasi II. Pada bagian bawah Zonasi 2, mangrove didominasi oleh polen Rhizophora. Namun frekuensi Rhizophora menurun drastis ke bagian atas inti bor. Kondisi sebaliknya ditunjukkan oleh polen Sonneratia alba yang hadir dalam frekuensi kecil dibagian bawah Zonasi 2 namun memperlihatkan peningkatan frekuensi ke bagian atas bor. Frekuensi polen tumbuhan grassland menunjukkan gejala yang serupa dengan polen tumbuhan mangrove yaitu hadir dalam frekuensi yang kecil di Zonasi 1 dan meningkat di Zonasi 2. Peningkatan frekuensi polen tumbuhan grassland terutama disebabkan oleh peningkatan Gramineae dan Cyperaceae. Compositae yang absen di Zonasi 1 tampak hadir di bagian atas Zonasi 2. Polen tumbuhan dryland/petaland menunjukkan gejala yang berbalikkan dengan kondisi polen mangrove dan grassland yaitu memiliki frekuensi yang tinggi di Zonasi 1 dan berkurang di Zonasi 2. Sedangkan polen tumbuhan montane menunjukkan frekuensi yang relatif sama baik di Zonasi 1 maupun 2. Alga air tawar yaitu Concentricystes circulus hadir baik di Zonasi 1 maupun 2. Frekuensi alga ini memperlihat peningkatan di Zonasi 2. Diagram Polen yang terdapat pada contoh sedimen MKB3 dapat dibagi menjadi 2 zonasi polen (Gb.27). Zonasi 1 dapat dipisahkan dari Zonasi 2 berdasarkan kelimpahan polen tumbuhan grassland nya. Di Zonasi 1 frekuensi polen tumbuhan grassland sangat besar mencapai hingga lebih dari 40%. Gramineae mendominasi frekuensi polen tumbuhan grassland di Zonasi 1 ini. Sementara di Zonasi 2 frekuensi polen tumbuhan grassland memperlihatkan penurunan yang berarti mencapai kurang dari 5% di bagian bawah dan sedikit lebih besar pada bagian atasnya. Polen tumbuhan mangrove tidak memperlihatkan fluktuasi yang berarti, hadir dengan frekuensi sedang sekitar 10% baik di zonasi 1 maupun 2. Pada bagian bawah inti bor, kehadiran polen mangrove tampak 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 51
  75. 75. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN didominasi oleh Sonneratia alba. Ke bagian atas inti bor, Sonneratia alba, Avicennia dan Rhizophora memiliki frekuensi yang sebanding. Polen tumbuhan dryland/peatland memperlihatkan frekuensi yang relatif kecil di Zonasi 1 namun meningkat cukup signifikan di Zonasi. Polen tumbuhan darat yang hadir dengan frekuensi yang cukup besar adalah Elaeocarpus. Polen tumbuhan pegunungan hadir dengan frekuensi kecil di Zonasi 1 dan sedikit meningkat di Zonasi 2. Frequensi polen tumbuhan pegunungan ini tampak didominasi oleh Quercus. Concentricystes circulus hadir hanya di Zonasi 2, dengan frekuensi yang relatif kecil. Diagram Polen pad contoh sedimen MKB4 ini dapat dibagi menjadi 2 zonasi polen (Gb.28). Zonasi 1 dipisahkan dari Zonasi 2 berdasarkan kelimpahan polen dalam sampel. Zonasi 1 butiran polen yang kurang melimpah (kurang dari 100 butiran per preparat). Sebaliknya Zonasi 2 memiliki kandungan polen yag melimpah yaitu lebih dari 100 butiran tiap preparatnya. Meskipun memiliki perbedaan kelimpahan butiran polen, Zonasi 1 dan 2 memiliki komposisi polen tumbuhan mangrove, dryland/peatland, Montane dan grassland yang relatif tetap meskipun frekuensi mangrove terlihat memperlihatkan kecenderungan penurunan ke bagian atas inti bor. Alga air tawar, Concentricystes circulus tampak hadir secara signifikan di Zonasi 2. Alga ini juga hadir sedikit di bagian atas dari Zonasi 1. Bercampurnya polen tumbuhan dari berbagai lingkungan yaitu tumbuhan pegunungan, dryland/peatland, mangrove dan grassland mengindikasikan lingkungan pengendapan yang berkisar dari daerah transisi hingga lepas pantai. Relatif rendahnya frekuensi polen mangrove (kurang dari 30%) di ketiga inti bor mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan ketiga inti bor berada di lepas pantai yang tidak terlalu jauh dari pantai yang ditumbuhi hutan mangrove. Namun demikian fluktuasi 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 52
  76. 76. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN frekuensi polen mangrove mengindikasikan perubahan lingkungan dari waktu ke waktu. Pada inti bor MKB-2, rendahnya frekuensi polen mangrove di Zonasi 1 menunjukkan bahwa hutan mangrove belum berkembang secara intensif pada saat Zonasi 1 ini diendapkan. Lingkungan pengendapan zonasi ini diduga berupa lingkungan perairan lepas pantai,mungkin pada zona neritik dangkal. Terjadinya transgresi yang kemungkinan disebabkan oleh proses progradasi akibat sedimentasi yang cepat memungkinkan berkembangnya hutan mangrove secara lebih intensif. Meningkatnya frekuensi alga air tawar di Zonasi 2 memperkuat dugaan terjadinya peningkatan sedimentasi yang disebabkan oleh peningkatan beban sedimen yang dibawa oleh arus sungai yang masuk di sekitar lokasi bor. Hutan mangrove mungkin berkembang hingga di dekat lokasi bor MKB-2. Inti bor MBK-3 kemungkinan juga diendapkan di daerah transisi sebagaimana diindikasikan oleh percampuran polen yang berasal dari berbagai lingkungan. Frekuensi polen mangrove yang relatif rendah baik di Zonasi 1 maupun 2 mengindikasikan lingkungan pengendapan inti bor MKB-3 berada di zona neritik dangkal. Hutan mangrove tumbuh didaerah pantai yang berada di dekat lokasi bor. Dibelakang hutan mangrove kemungkinan berkembang lingkungan hutan terbuka yang diindikasikan oleh tingginya frekuensi polen tumbuhan rumput-rumputan (grassland). Sebaliknya hutan yang lebih tertutup kemungkinan telah berkembang di belakang hutan mangrove pada saat Zonasi 2 diendapkan.Hal ini diindikasikan oleh berkurangnya frekuensi polen rumput-rumputan di Zonasi 2 ini. Polen dari berbagai lingkungan pengendapan juga bercampur di sampel-sampel inti bor MKB-4. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan inti bor ini berada di sekitar daerah transisi. Rendahnya kandungan polen di Zonasi 1 inti bor MKB-4 kemungkinan disebabkan oleh kecepatan pengendapan yang terlalu tinggi atau oleh 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 53
  77. 77. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN proses oksidasi yang kuat setelah pengendapan sedimen, atau lingkungan pengendapan yang cukup jauh di lepas pantai. Namun demikian, warna sedimen yang cenderung coklat kekuningan lebih mengindikasikan kuatnya oksidasi yang terjadi yang mungkin telah menyebabkan rendahnya tingkat preservasi polen. Rendahnya kandungan spora mendukung argumentasi ini karena meskipun lingkungan pengendapan yang jauh dari pantai memiliki kandungan polen yang rendah, kandungan sporanya umumnya masih tinggi (Lorenta, 1986). Kuatnya proses oksidasi mengindikadikan kondisi lingkungan pengendapan yang seringkali terekspos ke permukaan (sub-aerial). Bisa jadi lingkungan pengendapan Zonasi 1 adalah lingkungan dataran banjir yang berada di daerah transisi. Sebaliknya tingginya kelimpahan polen pada Zonasi 2 menunjukkan tingkat preservasi polen yang baik. Ini mungkin berkaitan dengan berkembangnya lingkungan perairan yang tetap (stabil) di lokasi bor MKB-4 pada saat Zonasi 2 diendapkan. Sementara meningkatnya frekuensi alga air tawar di zonasi ini kemungkinan berkaitan dengan peningkatan proses sedimentasi yang berasal dari daratan. D. Analisis bakteri methanogenik Berdasarkan analisis bakteri pada contoh sedimen bawah permukaaan dari lubang bor MKB1, MKB2, MKB3, dan MKB4 sebagian besar contoh sedimen tersebut mengandung bakteri metanogenik. Dengan kata lain gas biogenik pada sedimen tersebut kemungkinan bisa terbentuk. Jumlah bakteri metanogenik terhadapat jumlah bakteri umum pada contoh sedimen tersebut sangat kecil berkisar antara 0.3% dan 1.5%. (Lampiran terikat 3.4). Pada contoh sedimen dari lubang bor MKB1, MKB2, dan MKB4, perubahan persentase bakteri metanogenik tidak mengindikasikan perubahan yang mencolok. Kandungan bakteri metanogenik pada sedimen dekat permukaan (1m-15m) dari lubang bor tersebut sekitar 0.3% atau berkisar antara 2.50x105 dan 3.00x105 dari jenis bakteri Methanolobus 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 54
  78. 78. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN tindarius. Bakteri ini di bawah mikroskop berbentuk bulat, koloni jingga cerah, mengkilap (Lampiran Foto). Jenis sedimen yang mengandung jenis bakteri ini umumnya terdiri atas lumpur abu-abu kehitaman, sangat lunak, mengandung sebagaian besar material organik dan berbau busuk. Pada contoh sedimen yang lebih dalam kandungan bakteri umum berangsur turun, begitu juga untuk bakteri metanogenik. Tetapi persentase bakteri metnogenik terhadap bakteri umum berangsur naik sekitar 0.7%. Jenis bakteri metanogeniknya yang dijumpai sebagain besar dari jenis Methanosphaera stadtmanae secara fisik berupa koloni putih tak beraturan, sel berbentuk bulat. Jenis sedimennya berupa lempung abuabu gelap, agak kompak, mengandung material organik dan berbau busuk. Untuk contoh sedimen MKB4 lebih dalam dari 65m kemungkinan sedikit sekali dijumpai bakteri metanogenik, karena sedimen di kedalaman tersebut kurang cocok untuk perkembangan bakteri metanogenik. Sedimennya berupa lempung yang sangat lengket, agak padu, dan sedikit sekali mengandung bahan organik Pada contoh sedimen di kedalaman antara 20m dan 30m dari bor MKB3 persentase bakteri memperlihatkan perubahan yang cukup berarti. Perbandingan persentase bakteri metanogeniknya terhadap total bakteri umum yaitu sekitar 1.5% yang mana lebih besar dibandingkan dengan contoh sedimen lainnya. Jenis bakteri metanogenik yang dominan pada contoh sedimen ini yaitu Methanoplanus endosymbiosus. Bakteri ini berbentuk koloni putih bening, dan selnya bebentuk bulat. Keberadaan bakteri metanogenik pada sedimen tersebut mungkin mengindikasikan suatu lingkungan yang cocok untuk perkembangan bakteri metanogenik itu sendiri. Jenis sedimennya berupa lempung, lumpur hitam, banyak mengandung material organik, dan berbau busuk. Pada contoh sedimen yang lebih dalam lagi (42m) persentase bakteri metanogenik berkurang. Jenis bakterinya sebagian besar berupa Methanosphaera stadtmanae. Sedimennya terdiri atas lumpur bercampur pasir halus abu-abu kehijauan, material organik kurang dari 10%, dan mineral kuarsa sekitar 50%. 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 55
  79. 79. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 56
  80. 80. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 57
  81. 81. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 58
  82. 82. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 59
  83. 83. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 60
  84. 84. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 61
  85. 85. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 62
  86. 86. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 63
  87. 87. PENGOLAHAN DATA DAN ULASAN 5/17/0757 PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN PUSAT 64

×