Brush up yourself

499 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
499
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Brush up yourself

  1. 1. BRUSH UP YOURSELF (MENGASAH DIRI JADI PRIBADI SUKSES MULIA) BRUSH UP YOURSELF (MENGASAH DIRI JADI PRIBADI SUKSES MULIA) Leonardus Nana DAFTAR ISI 1.Kebiasaan 2.Pikiran Pikiran Sadar& Bawah Sadar, Otak Kiri&Kanan (IQ, EQ dan SQ) 3.Karakter 4.Talenta 5.Kompetensi 6.Pengetahuan Pengetahuan Sumber Pilihan 7.Citra Diri Peranan Citra Diri Senjata Diri 8.Kebiasaan Asah Gergaji 9.Belajar Mengasah Gergaji (meningkatkan Keahlian Eksekusi) Apa itu Belajar Mengapa perlu Belajar Darimana Belajar 10.Pelajaran Mengasah Gergaji Belajar mengkonsepkan praktek (Conceptual) Inspirational story “Berlari – dan Berlarilah Lebih Cepat Atau Mati” Sasaran yang SMART Inspirational story “Selamat dari Kolam Buaya” Belajar Mengkonsepkan Praktek (Practical Learning) Inspirational story “Si Tukang (penjual) Air Vs Jagoan Panah” Belajar meningkatkan Kecakapan Skill/Teknik (Technical Learning)
  2. 2. Belajar Berhubungan Dalam Diri (Intrapersonal relationship Learning) Belajar Berhubungan dengan Orang Lain (Inter-personal relationship) Inspirational story “Belajar Dari Katak” BRUSH UP YOURSELF (MENGASAH DIRI JADI PRIBADI SUKSES MULIA) “But you my friends, keep on building yourselves up on your most sacred faith- Jude 1:20 1. Kebiasaan The excellence is not an action only, but habitual – Aristotle Kita sering mendengar orang berkata “ala bisa karena biasa.” Anda bisa apa karena terbiasa apa? Setiap orang pasti memiliki keinginan menunjukan diri sebagai pribadi yang berbeda dari orang lain. Berbeda dalam pola pikir, tutur-kata, sikap dan juga berbeda dalam tingkah laku. Dan tidak kalah penting adalah ia ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tidak dimiliki orang lain. Apakah anda sering menemui seseorang dengan kebiasan-kebiasaan seperti yang dilukiskan berikut ini? 1.BIASA (selalu) menyapa dan menanyakan kabar setiap orang yang ia temui baik itu rekan kerja, teman, bawahan maupun pimpinan, termasuk orang asing sekalipun 2.BIASA (selalu) bertutur-kata dalam bahasa yang santun, bahasa yang penuh motivatif dan inspiratif 3.BIASA (selalu) membuka diri terhadap siapa saja (mendengarkan orang lain dan terus belajar dari setiap orang termasuk dari para gelandangan). 4.BIASA (selalu) menanamkan nilai-nilai positif (memberi pengaruh) lewat kata dan perbuatan terhadap teman kerja, pimpinan dan juga customernya. 5.BIASA (selalu) menginspirasi orang lain untuk memahami bahwa adalah sebuah keuntungan jika ia dapat melakukan sesuatu dengan baik dan benar. 6.BIASA (selalu) memotivasi orang lain untuk tetap memiliki mimpi, harapan, visi dan misi dalam hidup 7.BIASA (selalu) menolong orang lain untuk menyukuri apa saja yang dialami
  3. 3. 8.BIASA (selalu) memberi teladan dengan menunjukkan sebuah integritas yang tinggi (satu kata dalam perbuatan), bersosialisasi (team building) dan terus berinovasi. Kebiasaan-kebiasaan diatas tampak sederhana dan bahkan sepele, namun sebenarnya mengandung nilai yang sangat besar. Nilai yang dapat menunjukan suatu kepribadian yang kuat dan berkualitas; berkualitas dalam Integritas, Interrelation (intrarelation & interrelation) dan Innovation. Selain itu kebiasaan-kebiasaan diatas dapat menghasilkan nilai-nilai yang dapat melahirkan Citra Diri yang kuat yang dapat membentuk sebuah Karakter yang baik; Karakter yang agung dan mulia. Suatu kebiasan tidak lahir begitu saja, melainkan terbentuk dari serangkaian upaya dalam bentuk belajar, bergaul dan pengalaman. Apakah anda juga memiliki kebiasaan-kebiasaan sejenis diatas atau yang lainnya? Anda pasti ingin kebiasaan-kebiasaan anda tersebut memberi pengaruh, baik kepada diri anda sendiri maupun kepada orang lain dan lingkungan, bukan? Disadari atau tidak, setiap kebiasaan yang lahir memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan dan pengembangan diri (Brush Up Yourself). Ini bukanlah sebuah tugas mudah, namun manusia dapat mengawali tugas membangun dan mengembangkan diri dengan membentuk kebiasaankebiasaan seperti: 1.Selalu (Biasa) meluangkan sedikit waktu guna merenung dan mengisi otaknya untuk berpikir; berpikir besar, positif dan konstruktif. Bandingkan dengan: Fill your mind with those things that are good and that deserve praise: things that are true, noble, right, pure, lovely and honorable. Philippians 4:8 2.Selalu (Biasa) berusaha mengartikulasikan hasil olah pikirnya dalam sebuah rumusan bahasa yang inspiratif dan penuh motivasi, dan menuangkannya dalam sebuah konsep. Bandingkan dengan: A person‟s thoughts are like water in deep well, but someone with insight can draw them out – Proverb 20:5 3.Selalu (Biasa) merumuskan konsep yang ada dalam pikirannya dengan menetapkannya menjadi sebuah target yang SMART. 4.Selalu (Biasa) merumuskan cara bagaimana mencapai target yang ditetapkan. Bandingkan dengan: Planning and thought lie behind everything that is done” – Sirach 37:16. 5.Selalu (Biasa) membentuk diri terlebih dahulu dengan mempelajari sasaran yang ia tetapkan,
  4. 4. dan mempelajari cara yang ia rumuskan. Bandingkan dengan: : ………. learn all we can; then remember or do what we learn and we will prosper.” – proverb 19:8, Always remember what you have learned. Your education is your life. Guard it well-Proverb 4:13 6.Selalu (Biasa) mengutamakan perencanaan dalam setiap sasaran (pekerjaan) yang ia akan kerjakan. Karena ia yakin bahwa perencanaan bukan hanya sebuah tuntunan tetapi juga kepastian akan hasil yang akan ia capai. Bandingkan dengan: Plan carefully and you will have plenty; if you act too quickly, you will never have enough-Proverb 21:5 7.Selalu (Biasa) membangun pemahaman dan keyakinan diri bahwa dengan tekun bekerja, ia akan mencapai apa (kebahagian dan kesejahteraan) yang ia tetapkan. Bandingkan dengan: Your work will provide for your needs; you will be happy and prosperous – Proverb 128: 2 8.Selalu (Biasa) melaksanakan cara yang telah ia rumuskan itu dengan segenap akal, budi, kekuatan dan roh yang ia miliki guna mencapai target yang telah ia tetapkan. Bandingkan dengan: The more easily you get your wealth, the sooner you will lose it. The harder it is to earn, the more you will have-proverb 13:11 dan Work hard don‟t be lazy. Serve the Lord with a heart full of devotion. Let your hopes keep you joyful. Be patient in all your troubles and pray all the times” – Rome: 12:11 Kebiasaan-kebiasaan diatas mungkin sederhana dan bahkan tak penting karena Anda memiliki kebiasaan yang lebih besar. Oleh karena tunjukkan kebiasaan yang anda miliki kepada orang lain, walau yang sangat sederhana dan terkecil sekalipun. Saya tidak terbiasa terlambat masuk kerja. Masuk kerja tepat waktu sudah menjadi sebuah ‟Kebiasaan.‟ Agar tidak gagal datang sebelum jam kerja dimulai, saya telah merumuskan sebuah formula sebagai berikut: 1.Membiasakan diri berpikir bahwa masuk kerja tepat waktu adalah sebuah tanggung jawab besar dan juga menyenangkan. 2.Menetapkan bahwa saya harus selalu masuk kerja tepat waktu 3.Memikirkan cara bagaimana tidak terlambat: antara lain tidak tidur larut malam, mengaktifkan alarm pada jam tertentu dipagi hari serta berangkat kerja lebih pagi 4.Melaksanakan cara tepat seperti pada point 3 diatas. 5.Setelah berada di tempat kerja, saya membiasakan diri (selalu) membersihkan tempat kerja, menyiapkan pekerjaan dan peralatannya serta merapikan tempat kerja dan alat-alat kerja yang
  5. 5. berada disekitarnya Formula masuk kerja tepat waktu sama sekali tidak menjadi beban karena saya sudah terbiasa melakukannya. Jadi bangun pagi, berangkat kerja lebih pagi sudah merupakan sebuah KEBIASAAN bagi saya. Formula saya diatas sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat kecil bagi orang lain, tetapi bagi saya ia merupakan sebuah latihan yang baik. Bagaimana mungkin saya dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu jika saya tidak lulus masuk kerja tepat waktu. Sebab sesungguhnya orang sering terlambat masuk kerja bukan karena ia tidur larut malam atau bangun terlambat dan/atau macet di jalanan. Namun ia terlambat karena sudah terbangun dalam pikirannya bahwa ia masih memiliki waktu cukup untuk sampai di kantor. Ia beranggapan ia bukan-bukan satu-satunya orang yang biasa terlambat, atau bahkan ia merasa bahwa tidak ada pengaruh bagi kinerjanya jika terlambat satu atau dua menit. Demikianpula ada orang yang terlambat menyelesaikan tugas sesungguhnya bukan karena ia tidak bisa kerja atau tak mampu memecahkan masalah yang timbul. Namun lebih disebabkan oleh pola kebiasaan menunda-nunda hingga menit terakhir. Atau karena ia tidak menetapkan proritas terhadap target penyelesaiaan. Bahkan ia merasa bahwa menyelesaikan sebagian dari tugasnya adalah sebuah keberhasilan sedangkan sisanya bisa menyusul. Ada kebiasaan-kebiasaan lain seperti: seorang pendatang dengan mudah dan cepat bertutur-kata dalam bahasa setempat, tentu saja bukan karena ia tekun mempelajari bahasa itu, tapi karena ia membiasakan diri berinteraksi dengan para penuturnya. Seorang hobist tanaman/hewan akan merasa stress jika ia tak sempat bercengkerama dengan tanaman/hewan piaraan walau hanya sehari saja. Demikianpula orang yang terbiasa memperhatikan keunggulan orang lain, memiliki banyak sahabat dan lebih berhasil dari pada orang yang cendrung menonjolkan kelebihan diri. Orang ini akan terbiasa menolong baik dalam motivasi, bimbingan dan bahkan materi. Dan bagi dia tak akan ada agenda untuk mengabaikan seseorang yang membutuhkannya. Kebiaasaan juga dimiliki oleh hewan. Seekor kucing/anjing piaraan akan setia menunggu didepan gerbang setiap sore hari karena tahu kebiasaan jam pulang kerja tuannya. Kucing/anjing piaraan tersebut tidak bisa tenang dan bisa stress jika tak tuannya tak datang pada jam biasanya. Tentu masih ada banyak kebisaan lain, baik yang positif maupun negatif. Selain kebiasaan pribadi, ada kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat: Orang selalu
  6. 6. berkumpul pada waktu luang untuk melakukan hobby, bertukar pikiran dan atau menyelesaikan suatu pekerjaan (gotong royong). Tujuannya untuk mempererat persaudaraan, menemukan solusi terhadap sebuah masalah, membuat perencanaan dan meningkatkan semangat kerja sama. Apa itu kebiasaan? Oxford Dictionary for Advanced Learners menjelaskan “Habit is a settled practice, especially, something that can not easily be given up. Habit is a usual behavior. Kebiasaan adalah sebuah perbuatan/tindakan/praktek yang telah memasyarakat dan tidak mudah (sulit) untuk diabaikan atau ditinggalkan begitu saja. Merujuk pada batasan oxford diatas, kebiasaan adalah sebuah pola hidup yang terjadi dengan melibatkan seluruh aspek kehidupan seseorang. Kebiasaan merupakan cara pandang, expresi dan tindakan yang mencerminkan diri seseorang dan berpengaruh baik terhadap diri maupun orang lain. Kebiasaan terbentuk dari hal-hal kecil dan dilakukan dalam kreatifitas dan innovatisi secara terus-menerus, akan mampu mendorong lahirnya kekuatan mental/spirit atau moral (karakter) seseorang. Mental/spirit atau moral (karakter) yang terbangun dari kebiasaan yang efektif dalam kreatifitas dan innovatisi dapat melahirkan sebuah kehebatan, demikian Aristotle berkata “The excellence is not an action only, but habitual.” Bagaimana seseorang dapat membangun dan memiliki sebuah kebiasaan yang baik dan efektif. Termasuk kebiasaan yang bisa mendorong lahirnya sebuah kemampuan/keahlian tertentu? Kebiasaan yang dipenuhi dengan kreatifitas dan innovasi dan berjalan secara baik dan efektif memiliki pengaruh bagi seseorang untuk membangun dan mengembangkan diri menjadi Pribadi yang Besar. Kebiasaan tersebut dapat terbangun dari hal-hal seperti diuraikan dalam pelajaranpelajaran berikut. 2. Pikiran Manusia berbeda dari ciptaan yang lain karena memiliki pikiran; berpikir tentang siapa diri dan siapa yang menjadikan dirinya. Juga berpikir tentang apa yang harus ia katakan dan juga apa yang akan ia lakukan. Berpikir memberi pengakuan dan peneguhan tentang keberadaan diri. Berpikir dapat menjadi identitas diri, oleh karena itu manusia telah menempatkan Pikiran sebagai dasar dari apa yang ia katakan dan menjadi rujukan dari apa yang ia lakukan, seperti dinyatakan dalam ayat suci ”Planning and thought lie behind everything that is done” – Sirach 37:16.
  7. 7. Ayat suci ini mengajari bahwa dengan berpikir, kita dapat merencanakan sesuatu dan dengan merencanakan kita sudah menyelesaikan sebagian dari apa yang akan kita kerjakan-Pikiran merupakan awal dari segala pekerjaan. Selanjutnya: apa yang kita kerjakan akan dapat berhasil dengan baik jikalau kita mendasarinya dengan perhitungan/pertimbangan yang matang. Perbuatan mengambarkan kepribadian, karena itu hendaklah Pertimbangan mesti mendahului setiap perbuatan Anda. Jenis dan Cara Kerja Pikiran A person‟s thoughts are like water in deep well, but someone with insight can draw them out – Proverb 20:5 Dalamnya samudra dapat diukur, tetapi siapakah sanggup mengetahui pikiran manusia? Pikiran seseorang ibarat air yang berada didalam sebuah sumur yang dalam, tapi hanya orang-orang yang berpengertian bisa menimbanya keluar. Sesuatu yang indah dan bermanfaat tidak mudah ditemukan karena berada pada tempat yang khusus disediakan baginya. Sesuatu yang indah dan bermanfaat juga tidak mudah untuk dipergunakan kecuali melalui sebuah usaha serius atau perjuangan. Ayat suci Proverb (Amsal) 20:5 ini telah menjadi pedoman dasar bagi penelitian para ahli untuk menemukan apa dan bagaimana pikiran dapat bekerja. Para ahli menemukan dua bagian pokok dari pikiran (otak) manusia yakni bagian pertama tentang pikiran sadar, pikiran bawah sadar, dan bagian kedua tentang otak kiri dan otak kanan yang merupakan wadah bagi kerja kecerdasan (IQ, EQ & SQ). Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah Sadar Pikiran manusia terbagi dalam Conscious Mind and Subconscious Mind, keduanya mempunyai tugas: 1. Conscious Mind (Pikiran Sadar) menerima dan menyaring informasi-informasi dari luar, lalu melalui sebuah proses berpikir logis, conscious mind memberi alasana-alasan apakah sebuah informasi dapat diterima atau ditolak 2.Subconscious Mind (Pikiran Bawah Sadar) menyimpan semua informasi yang masuk secara utuh tanpa proses seleksi. Kemudian subconscious mind melakukan pengolahan terhadap informasi-informasi yang disimpan melalui programming process berikut:
  8. 8. aVisual - Membayangkan hasil apa yang diinginkan bImagine - Melihat dan memfokuskan pada hasil dengan seolah-olah telah dicapai cMeneguhkan dan memperkuat keyakinan bahwa hal yang diimpikan bisa dicapai dMemberdayakan tindakan berdasarkan keyakinan nyata Secara sederhana kita dapat mengambarkan kerja otak sebagai berikut: Manusia memiliki indera dan otak. Indera menginput data berupa gambar, bunyi, rasa, cita-rasa dan bebauan dan dipasok kepada otak. Otak menerima dan meramu data-data tersebut menjadi bahasa otak. Bahasa otak tersebut digunakan untuk mengambarkan sesuatu disekitarnya melalui penalaran atau imaginasi yang berbeda. Pengambaran itu biasanya merujuk pada apa yang dilihat (visual), apa yang didengar (auditory) dan atau apa yang dirasakan (kinetic). Jadi mulanya, manusia mengisi otak untuk berpikir; otak yang sudah terisi difungsikan untuk Analysing, Synthesizing & imaging dan Valuing terhadap apa yang dilihat (visual), apa yang didengar (auditory) dan atau apa yang dirasakan (kinetic). Melalui ketiga fungsi otak tersebut, manusia mampu berpikir secara logis dan sistematis (cermat konsep), bertutur kata yang penuh inspirasi dan motivasi dan bertindak secara tepat dan konsruktif (sesuai konsep), hingga terbangun kebiasaan yang baik dan terpuji. Sebagai imbalannya, manusia dapat memiliki sebuah Karakter Yang Mulia. Dengan kata lain, isi otak diwujudkan dalam kata, kata dinyatakan dalam tindakan, tindakan menjelma jadi kebiasaan dan kebiasaan akan meneguhkan sebuah karakter. Oleh karena itu, pastikan Anda hanya mengisi otak/pikiran Anda dengan berbagai hal yang layak mendatangkan kebaikan dan juga melahirkan pujian: yakni hal-hal yang benar, mulia, agung, murni, terhormat dan menyenangkan seperti dinyatakan dalam ayat suci: Fill your mind with those things that are good and that deserve praise: things that are true, noble, right, pure, lovely and honorable. Philippians 4:8 Namun, perlu disadari bahwa pemikiran setiap orang tidak sama. Melalui pikiran yang berbeda itu, orang dapat menilai segala sesuatu sesuai kandungan pikirannya. Oleh karena itu sering kita temui suatu kebiasaan, paham dan nilai, yang dianut seseorang, sekelompok orang atau ras tertentu kadang tak dapat diterima oleh yang lain. Demikian juga tutur kata, tindakan, kebiasaan dan karakter yang dihasilkan oleh seseorang, sekelompok orang atau ras terkadang tak sama. Maka patutlah kita pahami bahwa ternyata pikiran memiliki kekuatan yang dapat menyebabkan tidak hanya persamaan tetapi juga perbedaan dalam pesan, tindakan, kebiasaan dan karakter.
  9. 9. Mengapa PIKIRAN dapat menyebabkan pesan, tindakan, kebiasaan dan karakter seseorang, sekelompok orang atau ras tertentu berbeda dari yang lain? Otak bawah sadar membaca (scan) keadaan sekitar dan memilih informasi penting untuk diperhatikan. Walau demikian, orang tidak hanya memperhatikan sesuatu seperti apa adanya, tetapi juga cendrung memperhatikan sesuatu berdasarkan harapan dan keinginan mereka. Setiap individu memiliki pilihan cara yang berbeda dalam memikirkan dan mengkomunikasikan apa yang dialaminya – Ada yang mengungkapkan sesuatu berdasarkan gambaran yang dilihat, yang lain berbicara tentang bunyi yang didengar dan yang lain lagi memperbincangkan sesuatu berdasarkan rasa yang dialami. Hal ini sesuai dengan pendapat Sandra Blakeslee, an award winning science writer for the New York Times bahwa “umumnya persepsi orang tentang sesuatu tidak didasarkan pada aliran informasi dari luar diri menuju otak, tetapi didasarkan pada apa yang otak alami sebelumnya, dan apa yang otak inginkan terjadi berikutnya.” Otak Kiri dan Otak Kanan A person‟s thoughts are like water in deep well, but someone with insight can draw them out – Proverb 20:5. Proverb 20:5 tidak hanya membantu untuk menemukan otak sadar dan otak bawah sadar, tetapi juga membantu untuk menemukan kandungan otak kiri dan otak kanan (IQ, EQ dan SQ) dan juga cara kerjanya seperti penjelasan berikut. Berpedoman pada Proverb 20:5 kita dapat belajar bahwa pikiran (otak) adalah anugrah besar yang Tuhan berikan untuk difungsikan sebesar-besar kesejahteraan diri, orang lain dan juga kelestarian alam sekitar. Banyak orang berusaha mengoptimalkan kerja otak guna meningkatkan kemampuan kognitifnya dengan belajar baik itu di sekolah, kursus, pelatihan maupun dengan mengikuti seminar dan lain sebagainya. Disamping itu mereka juga tidak lupa memenuhi kebutuhan Mental dan Rohani (Jiwa/spiritual) dengan bersoasilisasi, melakukan hoby, berekreasi, beribadah, dan juga tak kalah penting adalah berderma. Ada sebagian orang menganggap daya kognitif (kemampuan bahasa, berhitung dan logika) lebih penting daripada kebutuhan mental dan spiritualnya (hoby, sosialisasi, bersedekah dan/atau ibadah). Namun, kejeniusan otak bukan satu-satunya jaminan. Sebab keberhasilan membutuhkan hubungan yang seimbang dan harmonis antara Intelektual, Mental dan Spirit. Oleh karena itu
  10. 10. tidak mustahil ada orang yang mulanya dianggap memiliki kemampuan akademik biasa-biasa saja, bahkan dicap „bodoh‟ saat sekolah, ternyata sangat sukses dalam kehidupan (karir, keluarga dan sosial) dikemudian hari. Para ahli tentang otak juga menemukan bahwa ada sebagian orang dikenal sebagai penemu hebat, tetapi gagal dalam memproduksi temuannya. Atau ada juga yang diakui sebagai manager hebat, tapi lemah dalam kepemimpinan. Mengapa bisa terjadi demikian? Mari kita ikuti uraian-uraian berikut: Selain ada pikiran (otak) sadar dan pikiran (otak) bawah sadar, para peneliti juga menemukan dua bagian otak lain; otak kiri dan otak kanan. Setiap bagian otak (otak kiri dan otak kanan) memiliki kekhususan yang berbeda dalam fungsi, jenis informasi yang diproses dan juga berbeda dalam jenis permasalahan yang ditangani. Otak Kiri lebih banyak bekerja pada bidang yang berhubungan dengan Kecerdasan Bawaan seperti Logika dan Analisis (Intellectual Quotient). Sedangkan Otak Kanan lebih banyak menangani hal-hal yang bersinggungan dengan Emosi dan Imaginasi. Otak kanan juga bertugas menangani hal-hal yang berkenaan dengan intuisi, emosi dan Kreatifitas. Otak kanan merupakan wadah bagi kecerdasaan yang bertumbuh dari emosi, usaha dan pengaruh dari luar (Emotional Quotient). Berpedoman pada penemuan diatas, para ahli menyarankan agar setiap orang sebisa mungkin menciptakan sebuah keseimbangan kerja antara otak kiri dan otak kanan. Sebab otak yang seimbang akan menghasilkan Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosi (EQ) Dan Kecerdasan Rohani (SQ) yang seimbang dan saling menopang. Intellectual Quotient (IQ) Alfred Binet (1857-1910) menemukan kecerdasan bawaan manusia yang disebut Intellectual Quotient (IQ); sebuah kecerdasan yang mengukur kemampuan verbal (bahasa), hitung (matematika), dan nalar/logika (reasoning). Dengan kemampuan bahasa, matematika, dan logika yang baik, seseorang mampu menciptakan sebuah management yang rapi, system operational procedur yang baku, unggul dan terorganisir serta pembagian kerja yang rapi dan terperinci (detailed job descriptions). Sebagai kecerdasan bawaan, IQ dapat memberi anda motivasi internal yang baik bagi sebuah kesuksesan. Namun kesuksesan itu harus terus anda optimalkan. Caranya? Belajarlah mengisi otak kiri dengan
  11. 11. Informasi, Ilmu, Pengetahuan, dan Ketrampilan yang dapat meningkatkan Kecerdasan Intelektual. Harvard University pada 1990an menemukan, keberhasilan seseorang ditentukan oleh 15% bawaan (IQ) sedangkan 85% oleh usaha. Berdasaarkan temuan diatas, anda seharusnya tak hanya mengandalkan kerja IQ saja karena bisa membuat anda tumbuh sebagai pribadi yang berpikir dan bekerja terlalu mekanis, formal dan protektif. Anda bisa meremehkan pekerjaan yang menolong anda untuk memahami dan menyenangkan diri seperti merekoleksi diri, meredefenisi nilai diri, melakukan hoby, bersosialisasi dengan keluarga, dan orang lain. Juga Anda bisa tumbuh menjadi pribadi yang kaku, mengabaikan kreatifitas, tidak peka terhadap perasaan dan suara hati. Anda kehilangan Kearifan. Emotional Quotient (EQ) Setiap orang tentu menghendaki menjadi Manager (peran IQ) sekaligus Leader (peran EQ) dalam hidupnya. Maka pada saat yang bersamaan, Anda jangan lupa mengisi Otak Kanan dengan Informasi, Ilmu, Pengetahuan, Ketrampilan dan Nilai yang dapat menumbuhkembangkan Keseimbangan Emosi, Kemampuan Imaginasi dan Kemampuan Sosialisasi serta hal-hal lain yang memberi kemampuan dalam membaca dan mengembangkan Suara Hati, Kearifan, Intuisi, Kreatifitas, Seni dan Hoby. Pada 1990an, Daniel Goleman melakukan penelitian, analisis dan study lapangan dibidang Psychology menemukan sebuah kemampuan yang dapat mengelola perasaan yang dikenal dengan Emotional Quotient/EQ (kecerdasan emosi). Emotional Quotient adalah kecerdasan yang mengelola hubungan dengan diri, orang lain dan lingkungan. Tujuannya untuk menciptakan keseimbangan dan keharmonisan didalam diri dan juga diluar diri. Goleman dalam penelitian tersebut menyimpulkan Intellectual Quotient (IQ) hanya bisa menyumbang 20% dari keberhasilan sedangkan 80% merupakan sumbangan dari sekumpulan kecerdasan lain yang terumus dalam sebuah Kecerdasan Emosi (EQ). Artinya pengelolaan Emotional Quotient yang baik dapat menopang dan memperlancar kerja Intellectual Quotient (IQ) (nalar). Pendapat Goleman tentang peran EQ sebagai penopang IQ diperkuat oleh Steve Hein. Steve Hein menjelaskan bahwa IQ akan berfungsi optimal jika setiap orang memiliki kualitas Emosi yang baik yang ia singkat ”BARE” berikut ini: B.– Balance (Keseimbangan diri)
  12. 12. A.– Awareness (Kesadaran diri) R.– Responsibility (Tanggung jawab diri) E.– Emphathy (Empati) Keseimbangan Diri, Kesadaran Diri, Rasa Tanggung Jawab dan Empati merupakan pilar pokok yang dapat menopang keberhasilan kerja IQ. Artinya, EQ akan menentukan seberapa baik kualitas diri anda dalam menerapkan keahlian (IQ) yang anda miliki, oleh karena itu IQ yang tinggi tidak dapat menolong anda menjadi pribadi yang berkualitas jikalau: Hidup anda dipenuhi kecemasan dan kekuatiran, Hidup tanpa Kesadaran (Aware) untuk menggali dan menumbuhkan potensi diri Hidup tanpa Tanggung Jawab (Responsibility) baik terhadap diri, pekerjaan maupun orang lain Hidup tanpa melibatkan diri untuk turut merasakan dan mengambil peran aktif (Empaty) dalam kehidupan diri dan orang lain.. Sedangkan Richard Charlson mengungkapkan bahwa orang-orang sukses umumnya memiliki kualitas emosi seperti yang terumus dalam 3R berikut ini: R.– Responsive: Bertindak tepat sesuai masalah yang dihadapi, memiliki kemampuan mempertahankan perspective dan memiliki solusi alternative atau tindakan terbaik saat menghadapi situasi yang unik – karena ia mampu melihat sebuah gambaran keseluruhan dengan baik. R.– Receptive: Terbuka terhadap saran dan gagasan, baik berupa data, kreatifitas maupun gagasan baru. Orang Receptive bersedia mendudukan diri dalam posisi ”Beginner – Pemula,” sebuah posisi yang selalu mendorong untuk mau dan terus belajar apa saja dan dari siapa saja walau ia sebenarnya tergolong pakar. Ia suka bekerja sama. R.– Reasonable: Orang reasonable memiliki kemampuan melihat segala sesuatu secara bebas tanpa kecendrungan membenarkan diri; Karena ia tahu kecendrungan membenarkan diri sering menjadi penghambat terhadap pandangan baru yang lebih perspective dan maju. Ia memiliki kualitas menempatkan diri dalam posisi orang lain, melihat gambaran lebih besar serta mampu mempertahankan perspective. Oleh karena itu orang reasonable biasanya menempatkan diri sebagai pendengar yang baik, memiliki kepedulian dan suka menolong. Orang berkualitas tiga R tidak mempersoalkan hal-hal kecil dalam hidup (pekerjaan, keluarga dan pergaulan) walau bertentangan dengan logika atau nalar mereka. Sebaliknya setiap persoalan yang dihadapi dijadikan sumber belajar dan evaluasi lebih lanjut.
  13. 13. Namun baik kualitas BARE maupun 3R harus terus diasah dan dilatih hingga menjadi B-CARE (Balance-Keseimbangan, Control-Pengendalian Diri, Awareness-Kesadaran Diri, ResponsibilityTanggung Jawab dan Empathy-Empati) secara baik, sebab jika tidak orang tersebut pada akhirnya akan cendrung mengalami: Tak mampu menghadapi/menerima sesuatu yang baru (mudah kalut oleh perubahan buruk-bad handling change). Tidak mampu membangun diri dan tidak percaya pada diri dan orang lain, karena itu ia tak mampu bekerja sama (membetuk team) Tak tahu membangun hubungan dengan diri dan mudah patah semangat dalam menjalin hubungan dengan orang lain. (sering putus hubungan dengan diri dan tak bisa menghadapi orang lain senhingga gampang kalap) Gampang mengabaikan tugas dan melempar tanggung jawab terhadap orang lain Mudah kehilangan motivasi, inspirasi dan strategy/cara dalam bereaksi (mudah burn-out and missing action.”) Gegabah dalam bertindakan (bisa kebablasan untuk mencari perhatian) (over action) dan juga sering tak bisa berbuat apa-apa karena karena over caution (terlalu berhati-hati) Pengelolaan Emosi yang baik dapat menciptakan keseimbangan dalam menciptakan keharmonisan dalam membangun hubungan dengan diri, orang lain dan lingkungan. Keseimbangan dan pengelolaan Emosi ini sangat penting karena hidup ini ibarat permainan Ketangkasan Lima Bola; ada yang disebut bola keluarga, bola persahabatan, bola kesehatan, bola rohani dan bola pekerjaan. Diperlukan keseimbangan dan keharmonisan gerak saat melemparkan bola-bola itu ke udara agar tidak terjatuh. Kebanyakan orang lebih mencemaskan bola pekerjaan tapi ternyata ia hanyalah sebuah bola karet yang bisa memantul lagi saat terjatuh. Sedangkan empat bola sisa terbuat dari gelas/kristal. Mereka akan tergores, terluka, retak, bahkan hancur berkeping-keping jika terjatuh dan tak akan kembali ke rupa mereka yang semula. Spiritual Quotient (SQ) Ada pepatah berbunyi ”Cerdik (akal) tanpa ketulusan (hati nurani) adalah licik dan hati nurani (ketulusan) tanpa akal (cerdik) adalah kebodohan.” Pepatah ini memberi gambaran: Kecerdasan membuat seseorang mendapat dan menguasai ilmu,
  14. 14. pengetahuan dan teknologi. Namun apakah kecerdasan itu dapat menciptakan sesuatu yang dapat membangun atau sebaliknya menghancurkan, sangat bergantung pada ada tidaknya Hati Nurani. Artinya, kecerdasan harus didukung oleh Emosi yang seimbang dan matang; dan Emosi harus dijiwai oleh Hati Nurani /Roh/Spirit/Iman yang teguh. Kecerdasan dan Emosi yang tidak dibalut oleh Spiritual/Hati Nurani/Iman yang teguh rawan mendorong hati melahirkan segala Pikiran Jahat. Pikiran untuk menyesatkan, membunuh, berzinah dan bercabul. Juga melahirkan pikiran jahat untuk merampok, menipu, bersumpah palsu, menghujat dan memfitnah. Mateus 15:19 dan Markus 7:21 Berhati-hatilah dalam berpikir karena Pikiran menentukan siapa diri anda seperti tertuang dalam ayat suci: „what he thinks is what he is‟ – Proverb 23:7b. Pikiran yang tidak dialaskan pada pertimbangan dan kebenaran dapat membuat Emosi dan Hati menjadi labil hingga mendorong anda bertumbuh menjadi Penipu, Penjahat, Pencuri, Pezinah dan Pembunuh. Oleh karena itu, anda harus memiliki kerelaan diri untuk berserah agar Tuhan memberi anda Hati Baru dan Pikiran Baru seperti tertulis dalam ayat suci: “I will give you a new heart and new mind. I will take away your stubborn heart of stone and give you an obedient heart – Ezekiel 36:26. Pikiran Baru dan Hati Baru menolong anda memiliki sebuah Pikiran yang Tulus dan Hati yang Taat; Taat pada Tuhan dan Tulus pada sesama. Dan percayalah bahwa barang siapa memiliki pikiran baru dan hati baru akan berjuang untuk mengisi diri dengan hal-hal baik dan mulia seperti tertuang dalam ayat suci: Fill your mind with those things that are good and that deserve praise: things that are true, noble, right, pure, lovely and honorable. Philippians 4:8 Setiap orang yang memiliki Pikiran Baru dan Hati Baru mampu menyangkal dirinya yang lama dan mau memperbaharui diri menjadi pribadi yang baru. Sebab sesungguhnya Pikiran Lama dan Hati Lama tak layak untuk menyimpan hal-hal yang melahirkan kebaikan, kebenaran, kehormatan, kemurnian, kasih dan pujian seperti tertulis dalam ayat suci: Sesungguhnya tak seorangpun mau mengisikan Anggur Baru kedalam Kantong Kulit lama, karena jika demikian, Anggur baru itu akan mengoyakkan kantong kulit lama itu, dan anggur itu akan terbuang dan kantong kulit itupun akan hancur. Akan tetapi Anggur Baru hanya boleh diisi dalam Kantong kulit Baru. Lukas 5:37-38 No one wants to pour new wine into used wineskins, because the new wine will burst the skins,
  15. 15. the wine will pour out and the wineskins will be ruined. Instead new wine must be poured into fresh wineskins. Luke 5:37-38 Setiap pribadi yang memiliki Pikiran Baru dan Hati Baru akan bertumbuh menjadi pribadi yang besar, sukses dan rendah hati. Karena itu, Tuhan pasti menjadikan dia sebagai Mesbah/Tahta bagi RohNya (1Corinthians 3:16). Dan diatas Mesbah inilah Tuhan akan menempatkan RohNya yang Kudus, Agung dan Mulia; yaitu Roh yang memberdayakan setiap pribadi untuk tidak hanya untuk membangun masa depan yang penuh pengharapan, tetapi juga untuk memberitakan Kabar Baik (Ilahi) seperti tertuang dalam ayat suci: Afterward, I will pour out My Spirit on everyone: your sons and daughters will proclaim my message; your old men will have dreams and your young men will see visions- Joel 2:28 Tujuan Tuhan mengisi setiap pribadi dengan RohNya adalah agar dari dalam Mesbah Roh itu terpancar Titik-titik Kebenaran yang menopang keahlian (Kecerdasa Intelektual), membentuk kualitas diri (Kecerdasan Emosi) dan menanamkan harapan dan keyakinan (Kecerdasan Spiritual/Iman) bahwa hati baru dan pikiran baru dapat melahirkan kualitas hidup seperti yang tertuang dalam ayat suci: “But Spirit produces love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, humility and self control. There is no law against such things as these – Galatians 5:22-23 Oleh karena itu, hendaklah kita memohon dengan rendah hati dan penuh harapan agar doa Nabi Musa berikut ini dapat dikabulkan bagi kita juga: “Semoga seluruh umat memiliki kualitas Nabi karena Tuhan berkenan mengisi seluruh umatNya dengan RohNya.” -bandingkan Bilangan 11:29; Namun perlu disadari bahwa Tuhan tentu akan memberikan karunia Hati Baru dan Pikiran Baru tidak kepada semua orang. Tetapi hanya kepada orang-orang yang siap menerimanya; yakni orang-orang yang siap untuk Lahir Baru; lahir baru dalam Roh dan Kebenaran. Sebab sesungguhnya tidak seorangpun akan bertumbuh menjadi pribadi besar dan mampu melakukan karya-karya besar dan agung jikalu ia tidak dilahirkan kembali (lahir baru)-bandingkan Johanes 3:3 – 8. Berpedoman pada 1Corinthians 3:16 (Anda dan saya adalah Mesbah Roh Tuhan), para ahli terus menggali kecerdasan manusia dan menemukan sekumpulan kecerdasan lain yang merupakan pusat dari semua kecerdasan yang ada. Donah Zohar dan Ian Marshall menyebut kecerdasan ini ‟God Spot – Ruang Tuhan‟ yakni sebuah ruang yang berisi Titik-Titik Kebenaran. God Spot
  16. 16. dikenal sebagai Spiritual Quotient (SQ) atau oleh Peter Sepherd disebut Heart Intelligence (Kecerdasan Hati). Lebih lanjut Donah Zohar dan Ian Marshal menjelaskan bahwa orang yang mampu mencerdaskan Spiritual Quotient-nya memiliki kualitas hidup yang prima. Kualitas Hidup Prima ini tercipta dari keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup; Seimbang dalam mendayagunakan nalar/logika, dan Harmonis dalam mengelola emosi serta Teguh dalam membangun spirit/iman. Demikian Anne Ahira, Internet Marketer Kelas Dunia dari Indonesia mengatakan “Berpikir itu Pelita Hati, sukses, keunggulan dan kelebihan itu milik semua orang yang mau berusaha.” Anne Ahira tentu benar karena dengan pikiran berkualitas pelita (prima); maka setiap orang dapat melihat masa depan dan terus berusaha untuk meraihnya. Karena setiap orang terus berjuang untuk memperbesar kapasitasnya, menciptakan keseimbangan dalam mendaya-gunakan nalar/logika dan membangun keharmonisan dalam mengelola emosi serta tak henti-hentinya memperteguh Spirit/Iman. Peranan SQ Intellectual Quotient (IQ) tanpa dukungan Emosi dapat membuat seseorang bertumbuh jadi pribadi sombong dan jahat karena bisa salah mengunakan kemampuan atau kepintarannya. Demikian juga Emotional Quotient yang tak dibalut oleh Iman/Spirit membuat seseorang dapat menerima potensi, kompetensi atau kapasitas diri sebagai beban hidup; hidup yang diliputi oleh Kecemasan dan Kekuatiran belaka. Oleh karena itu, setiap orang harus berusaha mengasah Spiritual Quotient (SQ) secara optimal. Karena Spiritual Quotient (SQ) atau yang juga disebuat kecerdasan Hati Nurani, Jiwa, Rohani atau Iman merupakan dasar atau pusat atau sumber dari semua kecerdasan yang ada pada setiap manusia. Sebab Spiritual Quotient (SQ) yang terasah dengan baik dapat berperan untuk: 1.memampukan seseorang mengasah otaknya dengan ilmu dan pengetahuan yang baik dan membentuknya menjadi pribadi yang mampu mempergunakan KEAHLIANNYA (IQ) untuk halhal yang positif dan konstruktif. 2.menjadikan EMOSI lebih tenang, lebih seimbang dan lebih harmonis sehingga dapat menghasilkan KUALITAS DIRI (EQ) yang prima untuk menerima, menempatkan dan mengelola sesegala sesuatu, baik yang bersifat positif maupun negative secara proporsional
  17. 17. seperti tertuang dalam ayat suci: ……..having the same thoughts, sharing the same love, and being one in soul and mind. Don not do anything from selfish ambition or from a cheap desire to boast. Philippians 2:2-3a 3.Selanjutnya bahwa Spiritual Quotient (SQ) berperan menyinergikan Keahlian (Intellectual Quotient) dan Kualitas Diri (Emotional Quotient) menjadi sebuah Inner Power yang besar atau yang disebut Kompetensi guna menggapai semua sasaran yang ditetapkan. Hal itu sesuai dengan makna dari kata Jiwa yang berasal dari kata “PSUCHE” dalam Bahasa Yunani yang berarti: Napas kehidupan, pusat kepribadian yang dengannya orang merasa, menyatakan, mengira, menginginkan: kebutuhan, keinginan, kedudukan, dan tujuan serta hasrat Spiritual Quotient yang terasah baik dapat memancarkan sebuah kualitas hidup yang penuh cahaya. Dan cahaya itu sungguh dapat menjadi penerang bagi jalan kehidupan. Lebih dari itu bahwa cahaya yang terpancar dari setiap perbuatan anda juga dapat mengantarkan orang lain berserah diri pada pencipta (praise your Father in Heaven) seperti tertera dalam ayat suci: In the same way, your light must shine before the people so that they will see the good things you do and praise your Father in Heaven.-Mathew 5:16 Artinya kecerdasan Rohani (Spiritual Quotient) adalah cahaya bagi setiap perbuatan dan kebiasaan baik. Melalui cahaya itu, orang akan melihat hal-hal baik yang anda lakukan.” Hal baik yang dimaksudkan dalam ayat suci diatas tidak lain adalah Kasih (love), Suka-Cita (joy), Damai Sejahtera (peace), Kesabaran (patience), Kemurahan Hati (kindness), Kebaikan (goodness), Ketulusan (faithfulness), Lemah-lembut (humility) dan Pengendalian Diri (self control). Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Spiritual Quotient (SQ) atau yang juga disebuat Kecerdasan Hati Nurani, Kecerdasan Jiwa, Kecerdasan Rohani atau Kecerdasan Iman sebenarnya adalah dasar dari segala sesutu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat seperti tertuang dalam ayat suci: To have Faith is to be sure of the things we hope for, to be certain of the things we cannot see. Hebrew 11:1 Multiple Intelligence Apakah anda dapat menemui dalam masyarakat, ada orang yang dikenal sebagai Manager hebat, sekaligus Leader panutan atau Ada orang yang dikenal sebagai Conceptor ulung sekaligus
  18. 18. Producer handal? Apakah ada orang yang dikenal sebagai Ahli dalam bidang Science dan Technologi sekaligus Ahli dalam Ilmu-ilmu Social dan Humaniora? Mungkin benar bahwa ada banyak orang yang sudah tercatat sebagai ahli dalam multi discipline ilmu, namun dalam masyarakat kita sering menemui anomaly seperti: 1.Ada orang yang hebat mengatur atau mengajari bagaimana mengerjakan sesuatu, namun gagal menanamkan pengaruhnya atau menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu. (Manager mendapatkan bawahan/anak buah versus Leader mendapatkan pengikut) 2.Ada orang yang hebat mengkonsepkan sesuatu tapi gagal mewujudkan dalam praktek (Conceptor versus Practitioner). 3.Ada orang yang melakukan penemuan besar tapi gagal melihat nilai kemanfaatannya sehingga gagal memproduksinya (Inventor versus Marketer/ Producer) 4.Ada orang yang jenius dalam science dan matematika namun lemah dalam ilmu social dan humaniora. Anomaly diatas menunjukkan ada banyak Inner Power (Kecerdasan) dalam setiap pribadi, tapi sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan antar satu Inner Power berbeda dari yang lain. Artinya tidak semua Inner Power dapat bertumbuh dan berkembang secara setara sebab ada yang dominant. Bagaimana dengan anda? Apakah anda merasa rendah diri karena tidak memiliki kecerdasan kognitif yang baik, atau minder karena tidak memiliki suatu ketrampilan yang lagi ngetrend? Apakah anda bisa memerintah dan mengatur orang untuk melakukan sesuatu namun tidak mampu mempengaruhi/menginspirasi mereka? Atau apakah anda sulit bergaul, sulit mempercayai orang atau sulit menyampaikan suatu pesan (informasi, instruksi dan saran) kepada orang lain? Katakan Tidak pada semua perasaan tersebut karena sesungguhnya Tuhan telah menciptakan anda dengan sejuta kemampuan yang sangat kompleks. Ada Kecerdasan Bahasa, Berhitung, Logika, Spatial (kemampuan mengkonsep) Kinetics (Olah tubuh untuk Seni dan sport), Art dan keindahan, Social, Rohani, Natural (adaptasi dengan Alam), dll. Semua kemampuan diatas tertata rapi dalam sekumpulan kecerdasan yang oleh Prof Howard Gardner disebut dengan Multiple Intelligences. Dari manakah anda memperoleh Multiple Intelligence diatas? Tuhan adalah sumber dari segala Ilmu dan Pengertian dan barang siapa menerimanya akan menjadi cerdas dan barangsiapa
  19. 19. berusaha menjadi cerdas akan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik seperti tertuang dalam ayat suci: She sends knowledge and understanding like the rain, and increase the honor of those who receive her-Sirach 1:19. Tuhan mengirimkan ilmu pengetahuan dan pengertian sama seperti Dia menurunkan hujan bagi kehidupan dan pertumbuhan semua maklukNya. Barangsiapa yang menerima dan mengusahakan ilmu pengetahuan dan pengertian tersebut dalam hidup dapat memiliki Multiple Intelligences untuk mengaktualkan diri melalui: 1.Keahlian (Intellectual Quotient): Kecerdasan yang memampukan kita untuk melakukan sesuatu 2.Motivasi, kesadaran, Panca indera, indera ke-6, pikiran bawah sadar: Potensi atau semangat yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Namun hasil dari usaha potensi ini akan memberi manfaat atau menghancurkan bergantung bagaimana kita menggunakannya. Juga bahwa potensi/semangat diatas tak akan bermanfaat apa-apa jika tak diberdayakan secara optimal 3.Mental (Emotional Quotient): Kecerdasan yang menentukan kualitas kita dalam melakukan sesuatu 4.Iman/Roh (Spiritual Quotient): Kecerdasan yang memberi keyakinan, harapan dan optimisme bahwa hasil terbaik akan kita raih jika kita mau berusaha dengan keahlian kita, jika kita mau berusaha dengan motivasi yang benar dan dengan sikap mental yang positif, seimbang dan harmonis dalam kasih. Setiap kecerdasan dari Multiple Intelligence yang terasah dengan baik, memberi manusia optimesme dan harapan, serta menjauhkan segala kekuatiran, kecemasan dan kecerobohan yang menjerumuskan. Juga memampukan manusia untuk melaksanakan tugas dengan penuh keyakinan dan sepenuh hati seperti dicatatkan dalam ayat-ayat suci berikut: 1.“Be concerned above everything else with the kingdom of God and with what he requires of you and he will provide you with all these other things. So do not worry about tomorrow, it will have enough worries of its own. There is no need to add to the troubles each day brings”.– Mathew 6:33-34 2.“Work hard don‟t be lazy. Serve the Lord with a heart full of devotion. Let your hopes keep you joyful. Be patient in all your troubles and pray all the times” – Rome: 12:11 Yakinkah anda akan mendapatkan sesuatu dengan kualitas istimewa jikalau anda telah bekerja
  20. 20. seperti tertulis dalam ayat-ayat suci diatas? Ibu Terasa berkata bahwa setiap orang yang giat bekerja dan meyakini bahwa Tuhan sedang menggunakannya untuk menyalurkan AnugrahNya, maka Tuhan akan menetapkan hasil yang terbaik sebagai Kasih Karunia bagi dia. Hal itu sesuai dengan bunyi ayat suci: “For God will reward every person according to what he has done. Some people keep on doing good and seek glory, honor and immortal life. To them God will give eternal life.” – Rome 2: 6 – 7 KASIH sebagai PILAR Multiple Intelligence. KASIH merupakan pilar pokok dari Multiple Intelligence. Dengan kasih anda dapat memahami bahwa Pengetahuan, Penegertian, Inspirasi dan Hikmat bersifat sementara dan tidak sempurna. Kasih itu sempurna dan tak berkesudahan. Sebab sesungguhnya sesuatu yang sempurna tiba maka yang tak sempurna akan lenyap Oleh karena itu kejarlah Kasih karena setiap pribadi yang memiliki Kasih berbeda kualitasnya dari pribadi yang lain. Ia akan senantiasa tampil sebagai pribadi yang sabar, murah hati, tak cemburu, tak memegahkan diri dan tidak sombong. Dia yang memiliki Kasih itu sopan dan tak mencari keuntungan diri. Dia tidak pemarah dan tidak juga pendendam. Dia tak bersukacita atas kelaliman tapi atas kebenaran. Oleh karena itu adalah paradox bahwa Seseorang bisa saja memberikan segala yang dimiliki bahkan nyawanya sekalipun tak membawa manfaat sedikitpun jika ia tidak mendasarkan semua perbuatannya pada Kasih-1Korintus 13: 3 – 10. Jika demikian, hendaklah anda senantiasa mengusahakan dan berbagi Kasih tanpa pamrih dalam perbuatan dan menjadikan Kasih bagian dari hidup anda. Karena dengan Kasih anda dapat dipercaya sebagai pembawa Kabar Baik bagi umat manusia seperti tertulis dalam ayat suci: It is love, then, you should strive for. Set your heart on Spiritual Gift, especially the gift of proclaiming God‟s message-1Corinthians 14:1. Akhirnya pastikan bahwa anda dapat membangun diri untuk terus bertumbuh karena dengan kecerdasan yang anda miliki, anda sesunggunya bisa: 1.melakukan sesuatu sama seperti yang orang lain bisa lakukan karena anda juga memiliki keahlian (IQ) yang sama 2.melakukan sesuatu yang sulit dilakukan orang lain karena anda memiliki kulitas diri (EQ) yang
  21. 21. lebih baik 3.melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan orang lain karena anda Iman. Iman adalah sebuah karunia yang membuat anda lebih mampu untuk berserah (membuka) diri guna menghadirkan Roh Tuhan dalam diri (Spiritual); Roh yang memberi anda keyakinan, harapan dan optimisme bahwa hasil terbaik akan anda raih jika kita mau berusaha dengan keahlian anda, dalam motivasi yang benar dan dengan sikap mental yang positif, seimbang dan harmonis dalam kasih. Dengan demikian, anda akan bertumbuh menjadi pribadi yang begitu kaya dalam hidup. Anda sungguh kaya dalam tutur kata, ilmu & pengetahuan, harkat dan martabat. Anda akan sungguh kaya dalam hasrat untuk melayani, kaya dalam Iman, Harapan dan Kasih. Bandingkan 2Korintus 8:7. 3. Karakter Setiap orang dilahirkan dengan modal moral atau kekuatan/kualitas mental yang mencerminkan keseluruhan kepribadian orang tersebut. Dan kualitas mental tersebut berperan sebagai pedoman masa depan. Moral atau kualitas mental juga dapat membuat seseorang, sekelompok orang atau suatu ras berbeda dari yang lain, itulah yang disebut Karakter. Karakter terbentuk dari bagaimana kita berpikir tentang diri. Pikiran akan mempengaruhi dan menentukan apa yang kita katakan, apa yang kita katakana mempengaruhi dan menentukan apa yang kita lakukan. Dan apa yang kita lakukan adalah wujud dari bagaimana kita menanggapi/meresponse dan menila sesuatu. Sungguh apa yang anda pikirkan, itulah apa diri anda. Pikiran menentukan siapa diri anda seperti tertuang dalam ayat suci: „what he thinks is what he is‟ – Proverb 23:7b. Apa yang dipikirkan itulah yang dikatakan, apa yang dikatakan itulah yang dilakukan, dan apa yang dilakukan itulah kebiasaan anda. Kebiasaan anda adalah Karakter anda. Sebab apa yang keluar dari hatimu bisa berupa sebuah pancaran kasih (karaketer terpuji) yang dapat memberi suka-cita atau sebaliknya merupakan sebuah racun yang membinasakan. Hal itu dengan tegas dinyatakan dalam ayat suci: Be careful how you think; your life is shaped by your thoughts – Proverb 4:25 Bangunlah karakter anda dengan membiasakan diri berpikiran besar dan positif. Pikiran positif menghasilkan kata/bahasa yang santun, bermakna dan berhikmat. Bahasa yang santun dan berhikmat menuntun sebuah tindakan konstruktif dan tindakan konstruktif membentuk kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik inilah yang membentuk sebuah karakter yang mulia. Seseorang
  22. 22. yang memiliki karakter mulia akan jujur menerima potensi diri dan mengembangkannya menjadi kompetensi. Kompetensi yang terbangun dengan baik dapat merekonstruksi kembali pandangan diri (citra diri) terhadap hal-hal yang membangun maupun yang menghambat baik dari dalam diri maupun luar diri menjadi potensi yang mendorong kemajuan. Orang berkarakter umumnya tidak hanya cerdas dan berkompetensi (ahli), tetapi lebih dari itu, ia memiliki perhatian dan kepedulian besar (kualitas diri) terhadap diri dan juga terhadap apa yang ada diluar dirinya. Orang berkarakter tidak hanya memiliki kemampuan untuk mendapatkan suatu pencapaian tetapi juga dapat melindungi diri dari pengaruh- pengaruh negative baik dari dalam diri maupun dari luar. Mengapa? Orang berkarakter tak takut menghadapi masalah karena ia tahu jalan keluarnya. Orang berkarakter biasanya bijaksana dan berhikmat, sebaliknya orang dungu tak memiliki tuntunan hidup seperti isi ayat suci: “Sensible people will see trouble coming and avoid it, but unthinking person will walk right into it and regret it later”- Proverb 22:3 Sedangkan orang dungu mendapatkan masalah sebagai sebuah belenggu bagi kehidupannya. Ia tak memiliki hikmat dan pengertian; ia cendrung membanggakan skill atau pengetahuannya tentang sesuatu namun tak mampu mewujudkannya melalui sebuah tindakan nyata seperti tertulis: “Clever person is wise because he knows what to do, but stupid person is foolish because he only thinks he knows”-Proverb 14:8 Namun yang menjadi keutamaan dari seorang yang berkarakter adalah bahwa keberadaannya menjadi sangat penting bagi orang lain. Segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya dapat menjadi cerminan positif dan orang lain sangat termotivasi dan terinspirasi karenanya. Orang berkarakter tidak hadir untuk menguasai, mengatur atau memerintah orang lain; melainkan dapat mempengaruhi karena segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya penuh inspiratif. Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kepribadian orang berkarakter merupakan cahaya.yang menerangi langkah orang yang masih berada dalam kegelapan dan juga merupakan garam yang dapat mengarami setiap hati yang tawar akibat kegagalan, ketidak berdayaan, kepahitan, dan lain-lain. Bandingkan Mateus 5:13-16 dan Markus 9:50 4. Talenta
  23. 23. Ketika dilahirkan, seorang bayi sudah memiliki keinginan dan tuntutan; keinginan untuk mendapatkan susu dan sekaligus tuntutan untuk dibantu agar ia mudah mendapatkan susu tersebut. Setelah dilahirkan seorang bayi akan memanjat perut ibu untuk mencari puting susu ibunya, jika ada hambatan, ia akan menangis sebagai pertanda perintah atau permintaan untuk dilayani. Tanpa diberitahu, seorang bayi sudah tahu letak susu ibu dan tanpa diajari ia tahu cara meminta bantuan. Dia akan menangis jika sulit menemukan susu ibu. Menangis adalah potensi awal yang dikenal dan digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan awalnya: minum susu. Manusia diciptakan dengan sebuah kekuatan besar yang terkandung didalam dirinya. Kekuatan itu akan bertumbuh dan membentuk setiap pribadi menjadi apa yang dikehendaki dirinya. Kekuatan itu disebut Talenta. Talenta bermanfaat membentuk kemampuan, dan kualitas yang dapat membedakan seseorang dari orang lain bergantung bagaimana memperlakukannya. Oleh karena itu, talenta harus dikenali dan dikembangkan terlebih dahulu, jika tidak ia tak memberi manfaat apa-apa. Mengubur/Mempertahankan Talenta Ada orang yang ingin menjalani hidup apa adanya; hidup bergantung pada keadaan dimana ia berada. Ia merasa nyaman dengan hasil yang diberikan. Ia merasa nyaman dengan zonanya sekarang. Orang ini berkeinginan kuat untuk mempertahankan sesuatu yang biasa ditanganninya. Atau ia engan meninggalkan tempat atau keadaan dimana ia biasa berada. Ia menolak untuk mengganti peralatan baru atau belajar ketrampilan tertentu yang dibutuhkan pekerjaan. Atau ia akan menolak pindah ke posisi lain atau tidak mau menerima tantangan dengan memilih pekerjaan baru. Orang semacam ini selalu memiliki kekuatiran terhadap setiap perubahan, baik perubahan dalam diri, orang lain dan lingkungan. Ia kuatir tak mampu menangani setiap perubahan yang terjadi. Karena itu ia engan mengembangkan diri apalagi berbagi sesuatu yang dimilikinya. Ia sudah merasa nyaman dengan kemampuan dan keberadaan (Zona) dirinya. Artinya ia takut menunjukan potensi diri dan membaginya dengan orang lain karena takut: gagal, ditiru, disaingi atau bahkan ducurangi. Hal ketakutan menyembunyikan potensi/talenta diri dapat dibaca dalam ayat suci: Nevertheless, the servant who had received one thousand talents went off, dug a hole in the ground, and hid his master‟s talents (money). I was afraid, so I went off and hid your money in the ground. Matthew 25:18 & 25
  24. 24. Menginvestasikan Talenta Berbeda dari orang yang meneyembunyikan telentanya, ada orang lain yang tidak merasa cukup dan puas. Ia tak akan membentengi atau ia tak takut kehilangan talenta yang ada padanya. Karena ia percaya pada sabda Tuhan bahwa “ Sebuah Biji Gandum akan tetap satu biji saja jikalau ia tidak jatuh kedalam tanah dan mati; sebab jika ia mati, ia akan menghasilkan Banyak Biji. I am telling you the truth: A grain of wheat remains no more than a single grain unless it is dropped into the ground and dies. If it does die, then it produces many grains. John 12:24 Benih anda yang jatuh kedalam tanah dan mati berarti Anda tidak hanya kehilangan satu benih saja; benih yang jatuh itu juga meninggalkan suatu ruang kosong. Sebab jika benih itu tidak jatuh dan mati, tentu tak akan ada sebuah pertumbuhan baru, sebuah ruang baru dan juga sebuah panenan baru. Artinya bahwa tanpa kematian, tak akan ada hidup baru dan tanpa kehilangan, tak akan ada ruang baru untuk diisi dengan hal-hal baru yang lebih besar, lebih baik dan lebih bernilai.” Orang yang menginvestasikan talenta memiliki keberanian menghadapi tantangan, memiliki hasrat belajar yang tinggi, dan berusaha menyatakan (kekurangan dan kelebihan) diri. Ia suka berbagi (ilmu, pengetahuan, pengalaman dan bahkan materi) untuk saling mendukung dan memberdayakan. Anda termasuk kelompok kenyamanan atau kelompok yang haus akan pertumbuhan dan perubahan? Setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Keluarkan talentamu, walau yang terkecil sekalipun dari zona nyaman. Investasikan talenta itu melalui belajar, latihan/praktek dan membangun hubungan hingga menjadikan talenta itu sebuah kompetensi. Orang yang tak kuatir kehilangan talenta tetapi berjuang untuk mengembangkannya akan mendapatkan keberutungan seperti tertuang dalam ayat suci: The servant who had received five thousand talents went at once, invested his money, and earned another five thousand talents. In the same way, the servant who had received two thousand talents earned another two thousand talents. Matthew 25: 16-17 Talenta yang telah bertumbuh dan menjelma menjadi kompetensi inilah yang akan mendatangkan sebuah pencapain diri yang luar biasa. Sekecil apapun talenta yang bertumbuh dapat mengubah anda, orang lain dan lingungan dan bahkan dapat mengubah dunia.
  25. 25. 5. Kompetensi Setiap orang yang menginvestasikan talentanya akan menjadikan talenta itu sebuah kompetensi. Dan setiap orang yang memiliki kompetensi, memiliki kemampuan (ability), kekuatan (power), kekuasaan (authority), ketrampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kompetensi adalah talenta pilihan (unggul) yang dapat berkembang menjadi pengetahuan, ketrampilan, sifat atau nilai. Dengan kompetensi, seseorang memiliki kemampuan untuk mengalami sebuah perubahan pada pola pikir, pola sikap dan tingkah laku. Perubahan-perubahan dimaksud dapat membentuk sebuah keahlian/kemampuan yang dapat meningkatkan kapasitas dan kapasitas itu dapat meningkatkan kualitas hidup. Pertumbuhan dan perkembangan kompetensi secara baik dapat memberdayakan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan baik dan benar, menyediakan nilai terhadap diri, dan orang lain. Juga dapat menciptakan kebaikan atau memberi nilai tambah bagi diri, masyarakat dan lingkungannya. Setiap usaha berbasis kompetensi menciptakan suatu perubahan menuju arah yang lebih baik. Namun setiap usaha baru akan bermanfaat jika dapat diterima bukan sebagai sebuah rutinitas melainkan sebagai sebuah proses pembiasaan. Pengetahuan Pengembangan talenta menjadi kompetensi dapat berwujud sebuah pengetahuan, dan pengetahuan merupakan dasar bagi semua tindakan yang berpotensi memberi keberhasilan. Pengetahuan (talenta dan kompetensi) dapat diusahakan melalui proses belejar berkelanjutan berdasakan konsep dasar dalam hidup; yakni konsep untuk membentuk diri menjadi apa dan untuk mendapatkan hasil apa sesuai keyakinan dasar yang ditetapkan. Demikan Rasul Judas menulis “But you my friends, keep on building yourselves up on your most sacred faith- Jude 1:20. Setiap orang tidak ingin hidup biasa-biasa saja, ia memiliki niat dan semangat besar untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan kompetitif. Namun, ia perlu melengkapi diri dengan pengetahuan dan sabar mengembangkannya, sebab sesungguhnya niat dan semangat saja tidaklah cukup untuk mendorong pencapaia suatu keberhasilan, hal itu telah ditulis dalam ayat suci: Enthusiasm without knowledge is not good; impatient will get you into trouble-Proverb 19:2.
  26. 26. Pengetahuan diperoleh melalui belajar dan belajar sesungguhnya menuntut kemampuan membuka diri untuk menerima semua hal (informasi, ide, gagasan, pengetahuan) yang ada diluar diri kita. Selanjutnya kita harus mengelola dan mendaya-fungsikannya informasi, ide, gagasan, pengetahuan bagi pertumbuhan dan perkembangan kemampuan kita seperti tertulis Be like newborn babies, always thirsty for the pure spiritual milk, so that by drinking it, you may grow up and be saved. 1Peter 2:2 Namun, satu hal yang perlu diperhatikan bahwa belajar bukan sekedar membuka diri untuk menerima dan mengikuti setiap masukan (informasi, ide, gagasan, pengetahuan) saja, tetapi juga kita harus siap melakukannya dalam hidup seperti tertera dalam ayat suci: Put into practice what you learned, what you learned and received from me; both from my words and from my actions. Philippians 4:9 Pengetahuan yang memadai merupakan anugrah memberdayakan seseorang untuk berhasil tidak hanya dalam hal-hal biasa, tetapi juga untuk melakukan hal-hal ajaib (luar biasa) sehingga nama Tuhan dipermuliakan didalamnya, demikian ada ayat suci yang berbunyi: God gave knowledge to human beings so that we would praise him for the miracles he performs – Sirach 38:6 Orang beriman bisa melakukan sesuatu yang menakjubkan/ajaib. Anda tidak percaya? Tuhan sendiri telah menjamin hal itu seperti yang dicatat dalam ayat suci: Those who believe In me will be capable of doing even greater things than the ones I myself did. John 14:12 Pengetahuan Sumber Pilihan Pengetahuan yang sempurna adalah ilmu yang tidak hanya memberdayakan, tetapi juga dapat memberi lebih banyak pilihan; pilihan cara, pilihan taktik atau strategi, pilihan teknik dan juga pilihan solusi dalam mewujudkan keinginan. Banyak pilihan akan membantu kita untuk tidak terpaku dalam cara yang biasa-biasa saja. Selain itu dengan bertambah pengetahuan, seseorang akan mengetahui lebih banyak dan juga memiliki ketajaman dalam membedakan suatu informasi atau tindakan yang memberi manfaat atau menyesatkan. Pilihan tepat dari sebuah pengetahuan akan mampu memberdayakan seseorang untuk menemukan, mengenal dan memperbaharui diri (citra diri) secara utuh dan sempurna. Pengetahuan ibarat titik-titik embun di tengah Gurun tandus, selain dapat memuaskan dahaga
  27. 27. setiap makhluk penerimanya, juga dapat memberi mereka kemampuan untuk bertahan, melanjutkan dan memperbaharui hidup. Barangsiapa menerima dan mengamalkan pengetahuan, ia akan mendapatkan sebuah hidup yang penuh kebahagian, kehormatan dan kemulian; sebuah dambaan hidup yang agung dan mulia tentunya seperti terukir dalam ayat suci: She sends knowledge and understanding like the rain, and increase the honor of those who receive her-Sirach 1:19 6. Citra Diri Belajar, pengajaran dan pengalaman menghasilkan ilmu, ilmu meningkatkan pengetahuan dan pengetahuan memberdayakan dan mempembaharui diri. Dengan kata lain, pengetahuan memberdayakan seseorang untuk menemukan, mengenali dan memperbaharui diri (citra diri) secara utuh dan sempurna. Atkin berpendapat: ilmu yang kita peroleh, selain membuat kita berisi pengetahuan yang memadai, juga menolong kita memperbaharui defenisi tentang diri atau membantu kita memperbaiki citra diri. Citra diri adalah sebuah unsur alamiah yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri setiap orang. Citra diri adalah keunggulan diri yang digali dari dalam guna menemukan kunci diri atau yang biasa disebut NASIB. Orang yang mengenal citra diri akan selalu melihat kedalam diri dan menemukan kekuatan besar untuk bangkit. Tetapi mereka yang melihat keluar tak akan mengenal diri dengan baik. Mereka yang melihat keluar hanya akan menghayal saja, demikian nasehat Carl Jung. Citra diri menolong diri untuk mencitrakan diri sebagai pribadi yang utuh, unik dan berbeda seturut pembaharuan akal budi kita dan bukan seturut kehendak orang lain atau lingkungan sekitar. Setiap orang yang ingin bertumbuh lebih baik memerlukan pola pikir baru dan tatanan baru yang memperbaharui. Orang yang terus berkembang tidak membiarkan hidup dipengaruhi oleh arus duniawi tetapi menjadikan hidupnya sebuah agen perubahan dan pembaharuan (agent of change). Citra diri juga dapat menuntun seseorang ke arah mana hidup ini harus dituju. Hal pembaharuan diri bukanlah sekedar sebuah keinginan untuk berubah tetapi adalah sebuah perintah suci yang harus dipatuhi seperti tertulis: „Don‟t conform yourselves to the standard of this world but let God transforms you inwardly by a complete change of your mind.‟– Rome 12: 2
  28. 28. Peranan Citra Diri Citra diri sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan setiap orang! Citra diri menolong anda dan saya untuk tidak menjadi seperti apa yang orang lain atau lingkungan kehendaki, tetapi menjadi diri sendiri seperti apa yang dikehendaki diri. Keberhasilan adalah sebuah cita-cita yang hendak diraih oleh setiap pribadi, namun keberhasilan itu akan semakin sulit dijangkau jika anda tak memiliki Citra Diri atau yang biasa disebut kesimpulan tentang diri. Setiap orang boleh berusaha meningkatkan kemampuan atau menciptakan metoda, alat atau rumusan tujuan (keberhasilan) sedemikian rupa guna mendapatkan kemudahan bagi sebuah pencapaian. Namun ternyata Citra Diri jauh lebih berperan bagi suatu pencapaian tujuan (keberhasilan) dari pada rumusan tujuan yang dibuat, atau kemampuan yang dimiliki. Demikianlah Gordon Dryden pernah mengatakan bahwa: Materi Pendidikan terbaik penting bagi keberhasilan, tetapi ternyata peranan citra diri jauh lebih penting bagi keberhasilan pendidikan itu sendiri. Hal ini benar adanya karena Citra diri memampukan seseorang untuk mengkonsepkan tentang siapa dirinya sebelum menjadi apa dirinya kelak. Konsep seseorang tentang siapa dirinya sebelum menjadi apa dirinya dapat dipahami dalam doktrin-doktrin berikut: Doktrin Samurai : Jadilah PEMENANG sebelum menjadi PETARUNG Doktrin Militer : Jadilah PENAKLUK sebelum menjadi PRAJURIT Doktrin Olahraga : Jadilah JUARA sebelum menjadi ATLET Artinya opini diri (sebagai pemenang, penakluk dan juara) dapat secara otomatis meneguhkan pengakuan terhadap diri (sebagai petarung, prajurit dan atau atlet) anda. Senjata Diri Berbeda dari Hewan, kekuatan fisik tidak mampu melindungi manusia dari serangan makluk hidup lain dan dari perubahan alam. Manusia lemah dalam fisik, karena itu ia tak mengandalkan fisik saja untuk membangun diri. Ada Akal Budi yang berperan mengambil Ilmu Pengetahuan, Ketrampilan dan Tehnologi sebagai senjata penopang fisik. Manusia menerima Ilmu Pengetahuan, Ketrampilan dan Tehnologi sebagai senjata diri yang sangat penting karena bermanfaat untuk mengaktualkan konsep diri secara tepat. Oleh karena itu kenali, pelajari, kuasai dan pergunakan senjata diri secara baik dan benar. Ada dua senjata yang berbeda; spirit dan fisik. Pilihlah satu dari senjata-senjata ini untuk
  29. 29. mempermudah tugas anda. “Pergunakanlah senjata SPIRIT terlebih dahulu sebelum senjata FISIK/kekuatan (pedang). Karena untuk jangka panjang, spirit akan mengalahkan fisik/pedang.”nasehat Napoleon Bonaparte Orang yang berhasil mengunakan senjata diri dapat memberi kekuatan kepada citra diri untuk memberdayakan dirinya menjadi pribadi bernilai dan bermanfaat bagi diri dan orang lain, serta membuat kehidupan masyarakat lebih baik (to provide value to people and to make community better). Namun perlu dicatat bahwa jika anda tak sanggup membangun hubungan baik dengan diri sendiri, maka teknik/senjata yang benarpun tidak akan bekerja dengan benar. 7. MENGASAH GERGAJI (DIRI) Dalam dunia kerja, kita mengenal Kebiasaan Karyawan Efektif (KKE), salah satu dari kebiasaan-kebiasaan itu adalah „ASAH GERGAJI.‟ Asah gergaji? Orang tentu akan bertanya “apa itu asah gergaji dan apakah seorang karyawan memerlukan gergaji. Tentu tidak! Namun gergaji disini merupakan metamorfosis dari apa yang dikenal dengan KEAHLIAN, KECAKAPAN dan/atau PENGETAHUAN. Mengasah Gergaji adalah proses mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, sifat atau nilai tertentu yang berfungsi untuk memfasilitasi kerja manusia. Mengasah Gergaji dapat dilakukan melalui belajar, pengalaman atau pengajaran serta membangun hubungan yang dapat menciptakan sebuah pembaharuan pada pola pikir, sikap dan tingkah laku. Untuk apa mengasah gergaji? Untuk mendapatkan kemampuan eksekusi, yakni sebuah keahlian menjalankan sebuah tindakan yang tepat, pada saat yang tepat. Mengasah Gergaji yang berhasil memberdayakan Anda memformulasikan pandangan terhadap apa yang hendak dikerjakan dan apa yang hendak dicapai darinya. Juga dapat merekonstruksi kembali pandangan diri terhadap hal-hal negatif (menghambat) menjadi potensi yang mendorong kemajuan. 8. Belajar Mengasah Gergaji Tuhan menganugerahi manusia dengan akal budi; sebuah anugrah yang dapat membedakannya dari ciptaan yang lain. Akal budi mengandung semangat ingin tahu (Spirit of Curiosity), sebuah semangat yang membuat manusia terus berkembang dari makluk yang primitive menjadi manusia modern. Berkembang dari makluk yang lemah dalam fisik menjadi pribadi superior.
  30. 30. Superiority manusia terbentuk dari ketekunan untuk mengisi diri dengan ilmu/pengetahuan, ketrampilan, sikap atau nilai guna mengembangkan diri lebih baik, seperti tertera dalam ayat suci: Intelligent people are always eager and ready to learn – Proverb 18:15 Apa itu belajar Mengasah Gergaji (Mengasah diri)? Manusia memiliki hasrat untuk mengisi diri dengan pengetahuan, ketrampilan, sikap atau nilai. Proses pengisian diri ini dilakukan melaui belajar. Manusia dapat belajar melalui pembelajaran, pengalaman atau pengajaran serta membangun hubungan. Proses belajar sangat penting dan tidak dapat ditolak karena dapat menciptakan sebuah pembaharuan pola pikir, sikap dan tingkah-laku yang meneguhkan, terukur dan spesifik. Proses belajar dapat memberdayakan setiap individu memformulasikan sebuah tatanan mental baru dan/atau memperbaharui tatanan mental sebelumnya. Orang berpengharapan tak pernah meninggalkan apa yang ia pelajari. Dia mencintai didikan dan selalu siap menerimanya sebagai bagian dari hidupnya. Mengapa? Karena Pendidikan adalah sebuah proses yang dapat memberi nilai dan mendorong perubahan tingkah laku jangka panjang; proses yang dapat membentuk setiap pribadi menjadi manusia seutuhnya; demikian ada ayat suci berbunyi: Always remember what you have learned. Your education is your life. Guard it well-Proverb 4:13 Mengapa perlu belajar Mengasah diri? Setiap orang mempunyai perasaan selalu berkekurangan (tidak sempurna) dalam segala hal dan ingin memenuhinya melalui belajar. Belajar berarti kita sedang berusaha mengisi diri dengan hal-hal (pengetahuan) positif yang memberdayakan. Sebab ketika kita berdaya, kita mampu melakukan sesuatu yang terbaik bagi hidup dan kehidupan seperti ditegaskan ayat suci ini: Be like newborn babies, always thirsty for the pure spiritual milk, so that by drinking it, you may grow up and be saved. 1Peter 2:2 Orang yang belajar akan bertumbuh dan orang yang bertumbuh memiliki kemampuan melakukan sesuatu. Dan orang yang bisa melakukan sesuatu memiliki hasrat untuk berbagi (memberi) dengan orang lain. Namun, tentu ia harus terlebih dahulu berbagi dengan diri sendiri. Adalah omong kosong seseorang dapat berbagi (mengasihi) dengan orang lain sebelum ia sendiri
  31. 31. mengetahui bagaimana menyenangkan dirinya. Hal ini dengan tegas dinyatakan dalam ayat suci berikut: “Do ourselves a favor and learn all we can; then remember or do what we learn and we will prosper.” – proverb 19:8 Seseorang yang engan berbagi sesungguhnya tak memiliki apa-apa karena tidak mampu mendapatkan sesuatu dalam belajarnya. Ia hanya bertumbuh menjadi pribadi yang merasa pintar dan berhikmat dalam kebodohannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi hanya beranganangan tentang sesuatu yang sebetulnya tak ia ketahui, seperti dinyatakan dalam ayat suci: “Clever person is wise because he knows what to do, but stupid person is foolish because he only thinks he knows”-Proverb 14:8 Dalam belajar, kita sesungguhnya tak hanya mengisi diri guna mendapatkan keahlian teknis saja tetapi juga kualitas Rohani (Hikmat dan Saleh). Karena ilmu pengetahuan dapat memberi keahliah (skill) yang akan membuat langkah kita maju dan terus maju demi pencapaian yang lebih baik. Sedangkan Rohani akan memberi karakter moral yang akan membuat langkah kita focus (terarah & teratur) dan tak tersesat, dan juga dapat meningkatkan harkat dan martabat kita. Oleh karena itu carilah ilmu dan hikmat dalam hidup karena orang berilmu memiliki kecerdasan, pengertian (empati) dan hikmat untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup. Orang berilmu, berpengertian dan berhikmat tak akan pernah menyesali kehidupannya karena ia akan terus maju dan tak akan pernah terjerumus dalam godaan hidup itu sendiri seperti ditulis dalam ayat suci: Sensible people will see trouble coming and avoid it, but unthinking person will walk right into it and regret it later- Proverb 22:3 Orang berilmu belum tentu memiliki pengertian dan hikmat, tetapi orang berhikmat pasti memiliki ilmu dan pengertian. Hikmat yang didapat lewat belajar merupakan Harta Karung yang Tuhan siapkan sebagai tuntunan. Sebuah tuntunan bagi setiap pribadi untuk mengunakan ilmu dan pengetian guna keluar dari kegelapan dan kekuatiran dan berjalan dalam terang seperti tertuang dalam ayat-ayat suci: 1.Wisdom takes care of those who look for her; she raises them to greatness-Sirach 4:11 2.At first wisdom will lead you along difficult path. She will make you so afraid that you will think you can not go on – Sirach 4:17
  32. 32. 3.Nothing will stand in your way if you walk wisely, and you will not stumble when you runProverb 4:12 4.Anyone who obtains wisdom will be greatly honored – Sirach 4:13 5.Wisdom can make your life pleasant and lead you safely through it – Proverb 3:17 6.Wisdom offers you long life, as well as wealth and honor – Proverb 3:16 7.So do not worry about tomorrow, it will have enough worries of its own. There is no need to add to the troubles each day brings”.– Mathew 6: 34 Dari mana belajar Mengasah diri? Segala sesuatu yang ada disekitar kita adalah sumber yang baik bagi proses belajar berkelanjutan. Pengalaman dan pergaulan juga dapat menjadi sumber belajar yang baik. Belajarlah pada pribadi, tempat atau situasi yang berperan sebagai sumber pencerahan. Sebuah sumber yang dapat memberi pemahaman, peneguhan (kekuatan) dan pengertian. Orang yang belajar dari sumber yang tepat sesungguhnya akan menemukan peneguhan (kekuatan) dan pengertian, ia akan mendapatkan tuntunan dan damai sejahtera serta ia akan memiliki hidup yang sempurna, seperti tertuang dalam ayat suci: “Learn where understanding, strength and insight are to be found. Then you will know where to find a long and full life, light to guide you and peace.”-Baruch 3:14 Oleh karena itu, berusahalah mengambil pelajaran dari setiap situasi, kejadian dan juga tempat anda berada. Juga pastikan anda dapat berhubungan, berinteraksi dan berkomunikasi intens dengan Rekan, Advisers/Coachers, Consultants, Team Members, Suppliers, Customers dan juga Competitors. Mereka adalah pilar-pilar belajar yang harus diperhatikan seperti telah difirmankan: People learn from one another just as iron sharpens iron-Proverb 27:17 Belajar sesungguhnya menuntut kemampuan membuka diri untuk menerima semua hal (informasi, ide, gagasan, pengetahuan dan nilai) yang ada diluar diri kita, mengelola dan mendaya-fungsikannya bagi pertumbuhan dan perkembangan kemampuan kita seperti tertulis Be like newborn babies, always thirsty for the pure spiritual milk, so that by drinking it, you may grow up and be saved. 1Peter 2:2 Sesungguhnya belajar bukan sekedar membuka diri untuk menerima dan mengikuti setiap masukan (informasi, ide, gagasan, pengetahuan dan nilai) saja, tetapi harus melakukannya seperti tertera dalam ayat suci: Put into practice what you learned, what you learned and received from me; both from my words
  33. 33. and from my actions. Philippians 4:9 Namun satu hal yang harus menjadi pelajaran bagi mu adalah janganlah belajar dari pribadi, tempat atau situasi yang dapat menjerumuskan agar anda tidak jatuh dalam pencobaan seperti tertulis: If you touch tar, it will stick to you and if you keep company with arrogant people, you will come to be just like them-Sirach 13:1 9. Bagaimana Mengasah Gergaji (Diri) Setiap orang tidak ingin menjadi pribadi yang biasa-biasa saja, tetapi senantiasa berusaha membentuk dan memberdayakan dirinya guna melakukan sesuatu dengan lebih baik. Tujuannya untuk menunjukkan diri berbeda dan lebih baik dari orang lain dalam pemikiran, konsep, tindakan, kebiasaan dan teladan yang diwujudkan melalui suatu keahlian tertentu. Setiap keahlian yang telah dimiliki akan terus ditingkatkan guna melaksanakan atau mengeksekusi sesuatu (pekerjaan) secara tepat, yakni tepat sasaran dan tepat waktu guna mendapatkan hasil yang tepat pula. Keahlian eksekusi inilah yang dianalogikan dengan istilah kemampuan “Mengasah Gergaji.” Musashi, seorang Samurai berpendapat kemampuan eksekusi adalah “keahlian yang dimiliki seseorang untuk menjalankan sebuah tindakan yang tepat, pada saat yang tepat.” Untuk apa? Untuk meraih sebuah sasaran yang tepat (do a proper action in a proper time). Bagaimana dan dari mana kita bisa mengasah gergaji atau meningkatkan keahlian eksekusi itu? Mulanya kita harus mengisi diri dengan ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan nilai melalui belajar, praktek dan pengelaman. Kita juga dapt mengisi diri dengan membangun hubungan baik dengan diri maupun orang lain. Ada beberapa pelajaran yang menolong setiap pribadi mengasah gergajinya. Mari kita belajar mengasah Gergaji dengan berpedoman pada rujukan pelajaran dibawah ini: 10. Pelajaran Mengasah Gergaji (Diri) Seperti yang diuraikan diatas bahwa setiap orang bercita-cita menjadi pribadi yang luar biasa. Karena itu ia senantiasa berusaha membentuk dan memberdayakan dirinya guna melakukan sesuatu dengan lebih baik. Tujuannya untuk menunjukkan diri berbeda dan lebih baik dari orang lain dalam pemikiran, konsep, tindakan, kebiasaaan dan pengalaman yang diwujudkan melalui
  34. 34. suatu keahlian tertentu. Setiap keahlian yang telah dimiliki akan terus diasah atau ditingkatkan guna mencapai cita-citanya. Hal itu dapat dilakukan tepat seperti diuraikan dalam pelajaranpelajaran bernilai berikut: A.Conceptual Learning B.Practical Learning C.Technical Learning D.Intra-personal relationship Learning E.Interpersonal relationship Learning A. Belajar Mengkonsepkan Praktek (Conceptual) Sejak awal-mula, manusia sudah mengetahui bahwa ia diciptakan seturut gambaran dan citra Pencipta (Yahwe). Sebagai wakil pencipta, manusia diberi peran untuk mengelola dan membudidayakan Alam Raya dan segala isinya. Tugas dan tanggung jawab ini tak asal diberikan karena, Tuhan sudah menganugerahinya dengan Akal Budi. Akal Budi adalah sebuah anugrah yang memberi manusia kemampuan untuk menerima, menyimpan dan mengelola informasi tentang siapa penciptanya, siapa dirinya, dan apa tugasnya, serta bagaimana menjalankan tugas yang diberikan pencipta. Dan yang terpenting dari semua itu, ia mengetahui ia dapat menjadi APA dan APA yang akan diperoleh dari tugas yang ia jalankan tersebut. Akal budi membuat manusia tidak dapat melakukan segala sesuatu (tugasnya) secara asal. Manusia akan terlebih dahulu berpikir, berpikir dan berpikir berkali-kali, baru melakukan sekali. Tetapi tidak sebaliknya melakukan sesuatu berulang-ulang baru memikirkan cara/strateginya saat menemui hambatan. Artinya, manusia akan terlebih dahulu merumuskan apa yang akan dikerjakan, lalu ia memikirkan cara mengerjakan sasaran yang sudah dirumuskan dan selanjutnya ia dapat melakukan tepat sesuai cara yang telah dipikirkan. Ini menunjukkan bahwa, Manusia akan terlebih dahulu melakukan sebuah analysing, synthesezing & imaging dan valuing. Manusia sudah terlebih dahulu membuat gambaran dan juga pertimbangan tentang apa yang akan dikerjakan dalam sebuah perencaan dan yang terumus dalam sebuah konsep yang matang. seperti tertulis dalam ayat suci berikut: “Planning and thought lie behind everything that is done” – Sirach 37:16. Merujuk pada sabda ilahi diatas, Conceptual Learning bukanlah sebuah hal baru. Tetapi sudah menjadi sebuah formula rohani yang dapat mendorong terciptanya sebuah keberhasilan. Artinya,
  35. 35. apapun pekerjaan yang akan dikerjakan harus diawali dari sebuah pemikiran dan apapun perbuatan (bagaimana melakukannya) harus didasari pertimbangan. Pernyataan ini memberi pencerahan bahwa konsep adalah awal dari sebuah keberhasilan dan akan menolong Anda berprestasi dalam dunia yang penuh persaingan ini. Sebab tanpa konsep yang jelas dan tepat, Anda ibarat berada dalam sebuah rimba belantara; tidak tahu dari arah mana Anda telah datang/masuk dan ke arah mana Anda akan keluar/tuju. Bagaimana Anda bisa menerapkan Conceptual Learning bagi prestasi Anda, mari simak cerita Berlari – dan Berlarilah Lebih Cepat Atau Mati berikut: Berlari – dan Berlarilah Lebih Cepat Atau Mati Konon di sebuah hutan belantara Timor, ketika fajar menyingsing, berkatalah seekor Singa jantan muda kepada dirinya. „Hari ini saya harus makan jika tidak saya pasti akan mati.‟ Tetapi bagaimana saya bisa makan, ya? Ia bertanya pada diri sendiri - oh saya tahu lanjutnya, hari ini saya harus menangkap seekor Kijang kesukaan saya. Namun, ada pikiran yang menghantui, karena ia tahu tidak mudah menangkap seekor Kijang. Kijang itu makluk paling cepat berlari, tapi saya tahu cara menangkapnya, Singa muda itu mencoba membesarkan hatinya. Caranya, saya harus berlari, berlari dan berlari dengan cepat – minimal lebih cepat dari lari kijang yang paling lambat. Karena hanya dengan demikian saya bisa mendapatkan sasaran saya, seekor Kijang untuk makanan hari ini. Sebaliknya, Kijang pun tahu bahwa ada ancaman kematian yang mengintai. Untuk luput darinya, ia memiliki konsep yang hampir sama dengan singa muda tadi. Bahwa hari ini ia tidak ingin mati diterkam oleh Singa. Untuk itu selain selalu waspada terhadap serangan, ia harus siap berlari, berlari dan berlari dengan cepat – minimal lebih cepat dari singa yang berlari paling cepat. Jika tidak maka Kijang itu akan menjadi santapan Singa hari itu. Begitu keluar dari hutan, Singa itu mulai menetapkan sasarannya yakni menangkap seekor Kijang. Lalu ia mulai memikir cara menangkap mangsanya, yakni dengan cara mendekati, mengejar dan menerkam. Ketika dari kejauhan tampak sekawanan Kijang yang sedang merumput; Singa itu mulai merayap mendekati dan tepatlah seperti yang telah ditetapkannya.
  36. 36. Singa itu mulai mengejar dengan berlari dan berlari saat para Kijang mulai berusaha menyelamatkan diri. Jika Singa itu bisa berlari lebih cepat dari pada lari kijang yang paling lambat, maka ia akan berhasil menangkap seekor dan terluput dari ancaman kematian. Sebaliknya kijang pun tidak mau mati, ia harus berlari dan berlari minimal lebih cepat dari pada lari singa yang paling cepat. Dengan demikian, ia tak dapat ditangkap dan terluput dari kematian. Fabel diatas mengajari bahwa sebagai pelaku business, apakah Anda itu market leader (singa) atau market follower (kijang), Anda harus memiliki konsep yang jelas tentang sasaran apa yang diinginkan, apa rencana/strategi yang akan diterapkan dan keyakinan untuk melaksanakan strategi tersebut. Bahwa apapun yang anda hasilkan harus kreatif dalam rancangan, unggul dalam kualitas, cepat dalam penyampaian/delivery dan peduli dalam pelayanan pra&purna jual. Sebab jika tidak, apakah anda itu market leader (singa) atau market follower (kijang) pasti akan ditinggalkan (mati). Akan tetapi jika pekerjaan anda telah didasarkan pada sebuah motivasi yang baik dalam sebuah kesungguhan hati yang dalam, maka sekecil apapun pekerjaan yang dipercayakan kepada anda akan meningkatkan kualitas diri bagi pekerjaan yang lebih besar. Kesungguhan mutlak diperlukan dalam mengeksekusi sebuah sasaran. Kesungguhan hanya tercipta jika anda mencintai pekerjaan itu. Dan cinta pada pekerjaan akan melahirkan Hati yang Berkepenuhan dalam Suka-Cita. Selanjutnya bahwa Hati yang penuh suka-cita memiliki cukup Rasa Syukur untuk menyongsong keberhasilan yang anda idam-idamkan. Dengan Kesungguhan dan Suka-Cita, anda tidak akan bertanya untuk siapa anda bekerja melainkan bekerja adalah sebuah bentuk keterlibatan mulia dalam karya keselamatan seperti tertulis dalam ayat suci: Whatever you do, work at it with all your hearts as though you were working for the Lord and not for men. Colossians 3: 23 Selanjutnya Rasa Syukur akan membantu anda menempatkan asas KEGUNAAN/MANFAAT sebagai prioritas dari setiap hasil yang anda peroleh. Artinya anda akan memanfaatkan sebaikbaiknya apapun hasil yang diperoleh bagi diri, orang lain dan juga lingkungan. Sasaran yang SMART Setiap orang memiliki cita-cita/keinginan untuk hidup lebih baik. Hidup lebih baik menuntut
  37. 37. keinginan lebih tinggi dan keinginan lebih tinggi menuntut kemampuan lebih besar. Tetapkanlah keinginan dan usahakanlah kemampuan untuk memperbesar kapasitas. Karena hanya dengan kapasitas besar, sebuah sasaran/keinginan/cita-cita mudah dicapai. Adalah lebih baik gagal mencapai sebuah keinginan besar dari pada berhasil mewujudkan suatu keinginan sederhana saja. Bagaimana mewujudkannya? Mulailah dari sesuatu yang sederhana/kecil; mulailah dengan sebuah langkah kecil dan biarkanlah keberhasilan kecil dari langkah kecil itu memberi keberanian untuk mengambil langkah seterusnya dan seterusnya. Jangan berhenti melangkah hanya oleh hambatan yang belum tentu mematikan langkah anda sebelum sampai ke tujuan. Yakinlah bahwa sekecil apapun langkah yang dibuat pasti mencapai sebuah tujuan dan tujuan yang telah dicapai oleh langkah kecil itu akan terus bertumbuh dan bertambah hingga tujuan utama tercapai. Oleh karena itu, orang-orang sukses menyarankan: Gantungkanlah cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang, dan berjuanglah untuk menggapainya selangkah demi selangkah. Philosophy “Gantungkanlah cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang” ini sangat indah, namun memiliki dua makna yang harus disikapi secara proporsional. 1.Gantungkanlah cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang, dapat memacu diri untuk menumbuhkan semangat pembentukan diri, mengisi diri dengan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan guna memperbesar kapasitas diri bagi pengapaian cita-cita diatas. 2.Gantungkanlah cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang, mungkin sebuah cita-cita yang terlalu besar, dan terlalu tinggi karena itu mustahil untuk mengapainya. Oleh karena itu, gantungkanlah cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang hanya akan melemahkan dan bahkan mematikan semangat juang. Jika demikian, apakah anda tidak boleh membuat cita-cita/harapan tinggi atau hanya boleh menetapkan sasaran yang kecil dan sederhana saja. Atau bahkan anda harus mundur dan hidup tanpa cita-cita, harapan atau target hidup – hidup apa adanya? Tidak!!! Anda harus tetap mengantungkan cita-cita atau harapan atau sasaranmu diatas bintang-bintang. Sebab sesungguhnya cita-cita/keinginan itu ditetapkan sedangkan kemampuan itu diusahakan. Oleh karena itu, mulanya kenalilah potensi diri yang Tuhan taburkan dalam dirimu. Pakailah potensi itu untuk membentuk dan memperbesar kapasitas dirimu terlebih dahulu, maka anda akan mampu membuat setiap target menjadi mudah dicapai karena target itu menjadi lebih khusus, lebih logis, lebih relefan, lebih terukur, lebih mudah, dan lebih cepat menyelesaikannya
  38. 38. seperti telah ditulis dalam ayat suci: ……..do not think yourself more highly than you should. Instead, be modest in your thinking and judge yourself according to the amount of faith that God has given you. Rome 12:3 Satu hal yang harus dicatat adalah: setiap sasaran yang terkonsep dengan baik bisa saja menjelma menjadi sebuah batu sandungan yang tidak menghasilkan kesejahteraan, sebaliknya penderitaan belaka. Oleh Karena itu, guna menghindari kerumitan yang mungkin terjadi dan menjadikan sebuah target menjadi lebih khusus, lebih logis, lebih relefan, lebih terukur, lebih mudah, dan lebih cepat diselesaikan, maka, Anda harus smart (cerdas) dalam menetapkan sasaran anda yang telah terkonsep itu secara SMART pula antara lain: S.Specific artinya sasaran yang ditetapkan harus jelas, utuh dan berupa sebuah kesimpulan tunggal. Ibarat sasaran menendang bola adalah gawang, bukan yang lain. M.Measurable artinya kita harus memiliki ukuran yang jelas untuk mengetahui sudah seberapa jauh kita telah mencapai sasaran yang specific tersebut A.Attainable artinya memiliki kelayakan rasional untuk bisa dicapai. Bahwa secara rasional sasaran itu dapat kita capai secara bertahap dari terkecil hingga terbesar. Bukan langsung melompat kepada sasarang yang terbesar tanpa melewati tahapan – tahapan awal yang kecil R.Relevant memberi pemahaman bahwa sasaran itu memiliki tingkatan relevansi yang tinggi dengan keadaan diri kita sehingga mengajari kita untuk tak berpuas diri. Tetapi dapat mendorong/memotifasi untuk terus berprestasi T.Time Scale artinya sasaran dapat dicapai berdasar jenjang waktu yang jelas dan terukur. Setiap sasaran yang ditetapkan secara SMART akan memberikan hasil yang tidak mengecewakan. Mengapa? Karena sasaran/target yang dikerjakan menjadi lebih khusus, lebih logis, lebih relefan, lebih terukur, lebih mudah, dan lebih cepat diselesaikan. Namun sebuah pencapaian yang lebih besar akan anda raih jikalau sebelum mengeksekusi sasaran itu, anda terlebih dahulu mengembangkan kapasitas diri secara SMART pula seperti berikut: 1.Specific : Temukan dan kembangkan potensi diri, dan bekali diri dengan pengetahuan dan skill khusus yang diperlukan untuk mengeksekusi sasaran yang ditetapkan. 2.Measurable : Perbesar kapasitas diri dengan pengetahuan dan skill hingga menjadi terampil guna mengeksekusi sasaran yang ditetapkan
  39. 39. 3.Attainable : Capailah hasil mulai dari yang lebih kecil karena hasil kecil itu dapat memupuk harapan dan keyakinan bahwa tidak ada hasil lebih besar yang mustahil untuk dicapai. 4.Relevant : Mulailah dengan langkah-langkah kecil karena hasil dari langkah kecil itu akan memberi keberanian untuk melangkah lebih besar guna mencapai hasil lebih besar 5.Time Scale : Belajar memperbesar kapasitas diri setiap saat dan tetapkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah keahlian yang dibutuhkan. Ke-5 langkah diatas menegaskan agar setiap kita harus: 1. menerima apapun bentuk dan seberapapun besar talenta yang Tuhan berikan. 2. melaksanakan dan mengembangkan talenta yang kita terima (miliki) dengan sepenuh hati. 3. maka kita akan mendapatkan tidak hanya sebuah kapasitas yang bertambah besar (hasil/tanggung jawab lebih besar) tetapi juga sebuah hasil berupa suka-cita, kehormatan, kemulian, kelimpahan, dan kehidupan. Pencerahan ini dapat dibaca dalam cerita suci ini: The servant who had received five thousand talents went at once, invested his money, and earned another five thousand talents. In the same way, the servant who had received two thousand talents earned another two thousand talents. Matthew 25: 16-17 The servant who received five thousand talents came in and handed over the other five thousand coins; sir he said, look! There are another five thousand talents that I have earned. Well done, you good and faithful servant! Said his master. You have been faithful in managing small amounts, so I will put you in charge of larger amounts. Come on in and share my happiness. Mathew 25: 20-21 Ayat suci Mathew 25:16-17 dan Mathew 25:20-21 memberi pencerahan bahwa setiap orang yang menerima dan tekun melaksanakan talentanya, tidak hanya mendapatkan tambahan kapasitas (dukungan moral maupun material) untuk keberhasilan, tetapi juga ia akan diberi hak untuk turut berbagi dalam kesuksesan dari pemilik talenta tersebut. Kontrakdiksi terhadap Mathew 25:16-17 dan 25: 20-21 diatas, Matthew 25:18 & 25 yang berbunyi: Nevertheless, the servant who had received one thousand talents went off, dug a hole in the ground, and hid his master‟s talents (money). I was afraid, so I went off and hid your money in the ground. Dan seterusnya dalam Mathew 25:18-30 menyadarkan kita bahwa sesungguhnya tak ada orang yang mau mendukung secara moral maupun material (motivasi, semangat, , strategi, teknologi,
  40. 40. usaha dan modal) kepada mereka yang tidak bertanggung jawab untuk mengerjakan talentannya. Artinya tidak ada hasil yang dicapai tanpa usaha dan tak ada orang akan membantu jika Anda tidak terlebih dahulu mengusahakan keinginan anda tersebut. Merujuk pada cara menetapkan dan mencapai target seperti diuraikan diatas, Thomas Watson, pendiri IBM memberikan formula Concepttual Learning berikut ini: 1.SASARAN : Rumuskan di kepalamu sasaran apa yang Anda ingin capai dalam hidup (Anda ingin menjadi Apa atau Anda ingin miliki apa) 2.CARA : Aktifkan pikiranmu untuk merumus dan menetapkan cara atau strategi yang tepat yang membantu Anda mencapai sasaran tersebut 3.TINDAKAN : Pilihlah cara/strategi yang tepat dari cara/strategi yang telah anda pikirkan. Lakukan cara tersebut dengan tekun dan sepenuh hati untuk meraih sasaran yang Anda tetapkan. Formula Thomas Watson diatas mengajari kita untuk tidak melakukan sesuatu tanpa sebuah konsep yang smart. Konsep/perencanaan dapat menolong seseorang menetapkan seberapa besar dan sulit sasaranya, mengetahui seberapa besar kemampuan untuk mencapai sasaran, menetapkan tahapan pencapaian, memahami relevansi pencapaian terhadap kemajuan yang lebih tinggi dan mengetahui seberapa lama pencapaian dapat terpenuhi. Konsep sebagai Rancangan Tuhan Konsep berfungsi selain sebagai sebuah kompas/panduan untuk menetapkan skala proritas, juga membantu mengontrol akal budi untuk tidak melenceng/menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Konsep bukanlah sekedar hasil pengembangan pemikiran manusia belaka, tetapi sesungguhnya, konsep merupakan sebuah rancangan Tuhan. Sejak awal penciptaan, Tuhan telah lebih dahulu memiliki rancangan bagi manusia yakni bukan rancangan kecelakaan dan penderitaan, tetapi rancangan suka cita dan damai-sejahtera; sebuah rancangan yang menjadi harapan setiap insan seperti tertuang dalam sabda: I alone know the plans I have for you, plans to bring you prosperity and not disaster. The plans to bring about the future you hope for.- Jeremiah 29: 11 Merujuk pada Firman diatas, sepatutnya kita harus memahami bahwa sebuah sasaran tidak akan
  41. 41. gagal jika telah didasarkan pada sebuah pemikiran & perencaan yang matang. Perencanaan yang baik (pemikiran & perencaan yang matang) dapat memberi hasil yang lebih baik. Sebuah perencanaan dapat menyingkirkan ketergesaan dan inkonsistensi, karena itu anda dapat menghasilkan lebih dari cukup, sebaliknya anda akan terus berkekurangan jika tak memiliki konsep kerja seperti tertulis: Plan carefully and you will have plenty; if you act too quickly, you will never have enoughProverb 21:5 Manusia berpengharapan sekali-kali tidak mengandalkan kemampuannya sendiri untuk melakukan rancanganya. Dia akan datang, dan berserah agar Tuhan memberkati rancangannya. Dan berkat Tuhan dapat memberinya kapasitas dan otoritas lebih besar untuk menyelesaikannya secara optimal seperti ditulis: Ask God to bless your plans and you will be successfully in carrying them out – Proverb 16: 3 Konsep sebagai Alternatif Manusia tidak selamanya memiliki kapasitas cukup untuk menyelesaikan semua sasaranya. Tetapi melalui konsep yang baik, dia dapat menemukan alternatif atau solusi lain jika sasaran terlalu besar baginya. Hal itu dengan jelas tertuang dalam ayat suci berikut: If a king goes out with ten thousands men to fight another king who comes against him with twenty thousands men, he will sit down first and decide if he is strong enough to face that other king. If he is not he will send messengers to meet the other king to ask for terms of peace while he is still a long way off-Luke 14:31-32 Ayat suci diatas mengajari bahwa Raja yang kalah kekuatan, tidak kalah dalam strategi. Dia tahu bagaimana menghadapi raja yang lebih kuat daripadanya tapi tidak akan kalah dalam peperangan. Dengan soft skillnya atau dengan kekuatan negosiasi, ia dapat menghindari penderitaan yang akan mengancam rakyat (kerajaan)nya. Dia memilih negosiasi sebagai strateginya yang tepat. Konsep sebagai Landasan Praktek Orang-orang sukses memiliki tradisi unik dan kita patut menirunya; Mereka biasanya melandasi praktek dengan ide, teori, filsafat atau konsep yang matang. Sebab sesungguhnya sebuah ide tanpa praktek akan mandul, tetapi praktek tanpa ide akan statis. Demikian Nagome mengatakan
  42. 42. “Praktek membutuhkan pemikiran. Jika pemikiran tidak diterapkan dalam praktek, praktek tidak akan lebih baik.” Dalam penelusuran yang dilakukan Quin Spitzer dan Ron Evan, penulis buku “Heads you win, how the best company think” (1997) terhadap sejumlah pengusaha sukses di dunia ini, termasuk Morita dari Sony dan Sam Walton dari Wal Mart, ditemukan fakta bahwa: mereka hebat bukan hanya karena mereka banyak tahu (teori) dan bukan pula karena hanya banyak melakukan (practice). Mereka hebat karena mereka adalah orang praktek sekaligus orang konsep (people of action and people of thought) Marilyn King, mantan atlet USA, mengatakan bahwa Astronot, Atlet dan Eksekutif dapat meraih sasaran mereka dengan pencapaian yang gemilang karena mereka benar-benar menerapkan formula Ide dan Praktek dalam satu-kesatuan tindakan berikut: 1.GAIRAH : Sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Sesuatu yang benar-benar yang ingin mereka capai. 2.VISI : Sesutu yang memberi mereka ruang untuk memandang tujuan mereka dan menbayangkannya secara ajaib. Oleh karena itu, tujuan itu tampak begitu indah dan kuat dan mendorong mereka untuk membayangkan menapaki langkah-langkah kecil dalam perjalanan menujuan TUJUAN itu. 3.AKSI : Suatu tindakan yang mereka lakukan setiap hari sesuai rencana. Tindakan yang akan mengantar mereka selangkah lebih dekat menuju mimpi mereka Mereka berhasil karena mereka sesungguhnya telah menerapkan pemikiran mereka dalam suatu tindakan yang dilandasi sebuah perencanaan/konsep. Mereka kerjakan konsep dan tindakan tersebut dengan prinsip kehati-hatian dan kesabaran. Mereka sama sekali tidak gegabah seperti tertuang dalam ayat suci berikut: Plan carefully and you will have plenty; if you act too quickly, you will never have enoughProverb 21:5 Kesuksesan yang kini mereka nikmati tidak datang secara instant dan mendadak, tapi melalui suatu usaha yang berjalan dalam waktu yang lama. Dalam suatu perjuangan yang besar, keras dan tentu saja penuh dengan pengorbanan. Kesuksesan yang diraih melalui kesabaran dan kehatihatian akan semakin bertambah dan tidak mudah tergerus oleh persainagan yang ketat dan tidak sehat sekalipun. Namun apapun yang diraih dengan mudah, akan lenyap semudah anda
  43. 43. memperolehnya seperti tertulis dalam ayat suci: The more easily you get your wealth, the sooner you will lose it. The harder it is to earn, the more you will have-proverb 13:11. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang sukses akan selalu meraih keberhasilan lebih besar karena ia tidak hanya menetapkan target, membuat konsep/rencana, dan mengalisis strateginya saja, tetapi juga ia dapat mengeksekusi targetnya dengan kesabaran dan ketekunan melalui langkah berikut: 1.Selalu (Biasa) meluangkan sedikit waktu guna mengisi otaknya dengan berbagai hal yang layak mendatangkan kebaikan dan juga melahirkan pujian: yakni hal-hal yang benar, mulia, agung, murni, terhormat dan menyenangkan. Bandingkan dengan: Fill your mind with those things that are good and that deserve praise: things that are true, noble, right, pure, lovely and honorable. Philippians 4:8 2.Selalu (Biasa) berusaha mengartikulasikan hasil olah pikirnya dalam sebuah rumusan bahasa dan menuangkannya dalam sebuah konsep. Bandingkan dengan: A person‟s thoughts are like water in deep well, but someone with insight can draw them out – Proverb 20:5 3.Selalu (Biasa) merumuskan konsep yang ada dalam pikirannya dengan menetapkan menjadi sebuah target yang SMART. 4.Selalu (Biasa) merumuskan cara bagaimana mencapai target yang ditetapkan. Bandingkan dengan: Planning and thought lie behind everything that is done” – Sirach 37:16. 5.Selalu (Biasa) membentuk diri terlebih dahulu dengan mempelajari sasaran yang ia sudah tetapkan, mempelajari cara yang ia sudah rumuskan. Bandingkan dengan: : …….. learn all we can; then remember or do what we learn and we will prosper.” – proverb 19:8, Always remember what you have learned. Your education is your life. Guard it well-Proverb 4:13 6.Selalu (biasa) mengutamakan perencanaan dalam setiap sasaran (pekerjaan) yang ia kerjakan. Karena ia yakin bahwa perencanaan bukan hanya sebuah tuntunan tetapi juga kepastian akan hasil yang akan ia capai. Bandingkan dengan: Plan carefully and you will have plenty; if you act too quickly, you will never have enough-Proverb 21:5 7.Selalu (Biasa) membangun pemahaman dan keyakinan diri bahwa dengan tegun bekerja, ia akan mencapai apa (kebahagian dan kesejahteraan) yang ia tetapkan. Bandingkan dengan: Your work will provide for your needs; you will be happy and prosperous – Proverb 128: 2 8.Selalu (biasa) melaksanakan cara yang telah dirumuskan itu dengan segenap akal, budi,
  44. 44. kekuatan dan roh yang ia miliki guna mencapai target yang telah ia tetapkan. Bandingkan dengan: The more easily you get your wealth, the sooner you will lose it. The harder it is to earn, the more you will have-proverb 13:11 dan Work hard don‟t be lazy. Serve the Lord with a heart full of devotion. Let your hopes keep you joyful. Be patient in all your troubles and pray all the times” – Rome: 12:11nana. Kesabaran adalah kunci sukses sebuah Konsep Setiap sasaran yang sudah terkonsep secara matang akan sulit direalisasikan jika anda tak memiliki kesabaran; kesabaran untuk melakukan selangkah demi selangkah sesuai dengan konsep yang telah tersusun. Sebab kesabaran akan mengenyahkan kemalasan dan kecerobohan, dan kesabaran itu membimbing pada penyerahan diri pada pencipta. Oleh karena itu, miliki Hati yang Sabar dalam menghadapi setiap rintangan yang muncul dalam pekerjaan, maka harapan akan diteguhkan melalui setiap doa anda. Dengan demikian, Dia yang telah merancang harapan itu akan senantiasa menuntun anda hingga pencapaian harapan itu. Hal ini dapat kita baca dalam ayat suci: Work hard, don‟t be lazy. Serve the Lord with a heart full of devotion. Let your hopes keep you joyful. Be patient in all your troubles and pray all the times – Rome: 12:11 Tujuan Tanpa Visi Misi Pengalaman mencatat ada orang yang hidupnya jauh dari jalan Tuhan, tapi ia berkelimang harta dan tahta. Orang yang dimaksud tak mustahil telah mencapai harta dan tahtanya tanpa menetapkan sasaran yang benar, tanpa rencana yang tepat dan juga tanpa melalui pelaksaan rencana secara akurat. Tujuan yang ia capai tak didasarkan motivasi yang tulus dan memberdayakan. Sungguh tujuannya jauh dari asas keadilan dan kasih. Tentu saja tujuannya itu tidak sama dengan tujuan yang biasa ditetapkan berdasarkan visi dan misi yang tepat. Cerita selamat dari kolam buaya berikut dapat menolong Anda mengetahui bagaimana seseorang dapat mencapai tujuan yang tidak didasarkan pada visi-misi yang ditetapkan. Selamat dari Kolam Buaya Konon suksesi harus segera dilaksanakan di sebuah Kerajaan yang menjunjung tinggi paham patriaki. Namun, permasalahanya, sang Raja hanya memiliki seorang putri saja.

×