PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA Oleh S UTARSO, S.P.d Guru SDN 2 Cendana
Agenda <ul><li>Unsur Negara </li></ul><ul><li>Bentuk Negara </li></ul><ul><li>Bentuk Pemerintahan </li></ul><ul><li>Sistem...
Pengertian Negara <ul><li>KANSIL (1978) </li></ul><ul><li>Negara adalah suatu organisasi kekuasaan daripada manusia-manusi...
lanjutan <ul><li>G. JELLINEK </li></ul><ul><li>Negara ialah  organisasi kekuasaan  dari sekelompok manusia yang telah berk...
lanjutan <ul><li>R. DJOKOSOETONO </li></ul><ul><li>Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada...
UNSUR   NEGARA <ul><li>OPPENHEIMER DAN LAUTERPACHT : </li></ul><ul><li>RAKYAT </li></ul><ul><li>WILAYAH </li></ul><ul><li>...
lanjutan <ul><li>Unsur Konstitutif </li></ul><ul><li>- wilayah </li></ul><ul><li>- rakyat </li></ul><ul><li>- pemerintah y...
RAKYAT <ul><li>Rakyat adalah semua manusia yang berada di wilayah suatu negara. (Penghuni negara) </li></ul><ul><li>Rakyat...
lanjutan <ul><li>Bukan penduduk </li></ul><ul><li>Setiap orang yang berada di wilayah suatu negara tetapi hanya untuk seme...
lanjutan <ul><li>Penduduk suatu negara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : </li></ul><ul><li>Warga Negara, yaitu ; </li></u...
lanjutan <ul><li>Warga Negara Asing/Bukan Warga Negara </li></ul><ul><li>-  setiap orang yang berada di wilayah suatu  </l...
KEWARGANEGARAAN <ul><li>Azas kewarganegaraan ada 2 : </li></ul><ul><li>Ius Soli </li></ul><ul><li>Azas yang digunakan suat...
lanjutan <ul><li>Akibat penggunaan azas tersebut : </li></ul><ul><li>Apatride    tidak berkewarganegaraan </li></ul><ul><...
WILAYAH <ul><li>Wilayah suatu negara : </li></ul><ul><li>Daratan </li></ul><ul><li>Lautan </li></ul><ul><li>Udara </li></u...
BATAS   WILAYAH <ul><li>Batas alamiah </li></ul><ul><li>-  gunung-gunung </li></ul><ul><li>-  sungai </li></ul><ul><li>-  ...
lanjutan <ul><li>Batas buatan </li></ul><ul><li>-  tembok </li></ul><ul><li>-  pagar kawat berduri </li></ul><ul><li>-  be...
Batas wilayah laut Indonesia <ul><li>Tahun 1938 berdasarkan Territoriale Zee En Maritieme Kringen Ordonatie ditentukan  ba...
Batas wilayah Udara <ul><li>Ketentuan yang mengatur batas wilayah udara suatu negara prinsipnya tidak dipastikan, tetapi m...
PERKEMBANGAN WILAYAH Wilayah suatu negara dimungkinkan  mengalami perkembangan yang terjadi karena pemekaran, penggabungan...
1945 <ul><li>Sumatera </li></ul><ul><li>Jawa barat </li></ul><ul><li>Jawa Tengah </li></ul><ul><li>Jawa Timur </li></ul><u...
1950 <ul><li>Tambahan provinsi karena pemekaran : </li></ul><ul><li>Sumatera   Sumut , Sumteng dan Sumsel </li></ul><ul><...
1956 <ul><li>Sumatera utara    Sumut dan DI Aceh </li></ul><ul><li>Jawa Barat    Jabar dan DKI </li></ul><ul><li>Kaliman...
1957 <ul><li>Sumatera Tengah    Sumbar, Riau dan Jambi </li></ul><ul><li>Kalimantan Selatan    Kalsel dan Kalteng </li><...
1958 <ul><li>Sunda Kecil    Bali </li></ul><ul><li>  Nusa Tenggara Barat </li></ul><ul><li>  Nusa Tenggara Timur </li></ul>
1959 <ul><li>Sumatera Selatan    Sumatera Selatan </li></ul><ul><li>  Lampung </li></ul>
1960 <ul><li>Sulawesi     Sul. Utara dan Tengah </li></ul><ul><li>  Sul. Selatan dan Tenggara </li></ul>
1964 <ul><li>-  Sulawesi Utara dan Tengah    Sulut </li></ul><ul><li>  Sulteng </li></ul><ul><li>Sulawesi Selatan dan Ten...
1967 <ul><li>Sumatera Selatan    Sumatera Selatan </li></ul><ul><li>  Bengkulu </li></ul>
1969 <ul><li>Irian Jaya </li></ul>
1976 <ul><li>Nusa Tenggara Timur    Nusa Tenggara Timur </li></ul><ul><li>Timor Timur </li></ul>
1999 <ul><li>-  Timor Timur lepas (menjadi negara baru) </li></ul><ul><li>-  Maluku    Maluku  </li></ul><ul><li>  Maluku...
2000 <ul><li>Sumatera    Sumatera Selatan </li></ul><ul><li>  Bangka Belitung </li></ul><ul><li>Jawa Barat    Jawa Barat...
2002 <ul><li>Riau    Riau  </li></ul><ul><li>  Kepulauan Riau </li></ul>
2004 <ul><li>Sulawesi selatan    Sulawesi selatan </li></ul><ul><li>Sulawesi Barat </li></ul><ul><li>Jumlah 33 provinsi <...
Wilayah Ekstrateritorial <ul><li>Adalah wilayah yang diakui secara hukum sebagai bagian dari wilayah suatu negara, walaupu...
PEMERINTAH YANG BERDAULAT <ul><li>Pemerintah    lembaga beserta aparaturnya  yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan ...
KEDAULATAN <ul><li>Kedaulatan    kekuasaan tertinggi suatu negara </li></ul><ul><li>Teori Kedaulatan : </li></ul><ul><li>...
BENTUK NEGARA <ul><li>Negara Kesatuan (Unitaris) </li></ul><ul><li>Negara yang merdeka dan berdaulat di mana hanya ada sat...
LANJUTAN <ul><li>NEGARA BERSUSUN TUNGGAL </li></ul><ul><li>TIDAK TERDAPAT NEGARA DALAM NEGARA </li></ul><ul><li>SATU PEMER...
lanjutan <ul><li>Negara Serikat (Federasi) </li></ul><ul><li>Gabungan beberapa negara yang menjadi negara-negara bagian da...
REPUBLIK <ul><li>KEPALA NEGARA DIANGKAT/DIPILIH OLEH RAKYAT </li></ul><ul><li>MASA JABATAN KEPALA NEGARA DIBATASI </li></u...
KERAJAAN/MONARKI <ul><li>KEPALA NEGARA DIANGKAT BERDASARKAN KETURUNAN </li></ul><ul><li>MASA JABATAN KEPALA NEGARA TIDAK D...
SISTEM PRESIDENSIAL <ul><li>Presiden sebagai kepala negara dan  kepala pemerintahan </li></ul><ul><li>Presiden tidak dapat...
SISTEM PARLEMENTER <ul><li>PM bersama kabinet bertanggungjawab kpd parlemen </li></ul><ul><li>Pembentukan kabinet didasark...
LANJUTAN <ul><li>Lamanya masa jabatan kabinet tidak dapat ditentukan dengan pasti </li></ul><ul><li>Presiden hanya sebagai...
PERKEMBANGAN SEJARAH   SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA <ul><li>Sejak 18-8-1945 (UUD 1945) </li></ul><ul><li>Bentuk negara ...
lanjutan <ul><li>Sejak 27 Des 1949 (K RIS) </li></ul><ul><li>Bentuk negara serikat </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan  ...
lanjutan <ul><li>Sejak 5 Juli 1959 (UUD 1945) </li></ul><ul><li>Bentuk negara kesatuan </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintah...
SISTEM PEMERINTAHAN <ul><li>Sentralisasi </li></ul><ul><li>Azas pemerintahan dimana segala kewenangan pemerintah pusat dan...
lanjutan <ul><li>Dekonsentrasi  </li></ul><ul><li>Penyerahan sebagian dari kekuasaan pemerintah pusat kepada alat-alat (pe...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Materi ips vi.1.1

9,184 views

Published on

perkembangan wilayah indonesia

2 Comments
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
9,184
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3,665
Actions
Shares
0
Downloads
261
Comments
2
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Materi ips vi.1.1

  1. 1. PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA Oleh S UTARSO, S.P.d Guru SDN 2 Cendana
  2. 2. Agenda <ul><li>Unsur Negara </li></ul><ul><li>Bentuk Negara </li></ul><ul><li>Bentuk Pemerintahan </li></ul><ul><li>Sistem Pemerintahan </li></ul><ul><li>Perkembangan wilayah </li></ul>
  3. 3. Pengertian Negara <ul><li>KANSIL (1978) </li></ul><ul><li>Negara adalah suatu organisasi kekuasaan daripada manusia-manusia (masyarakat) dan merupakan alat yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan bersama. </li></ul><ul><li>J.H.A. LOGEMAAN (Neg. sbg. Orgn. Kekuasaan) </li></ul><ul><li>Keberadaan negara bertujuan untuk mengatur dan menyelenggaraan masyarakat yang dilengkapi dengan kekuasaan tertinggi. </li></ul><ul><li>(Diikuti oleh : H.J. Laski, Max Weber, Leon Duguit) </li></ul>
  4. 4. lanjutan <ul><li>G. JELLINEK </li></ul><ul><li>Negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu. </li></ul><ul><li>GEORGE WILHELM FREDRICH HEGEL </li></ul><ul><li>Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesa dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal </li></ul>
  5. 5. lanjutan <ul><li>R. DJOKOSOETONO </li></ul><ul><li>Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. </li></ul><ul><li>SOENARKO </li></ul><ul><li>Negara ialah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu di mana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai souvereign (kedaulatan) </li></ul>
  6. 6. UNSUR NEGARA <ul><li>OPPENHEIMER DAN LAUTERPACHT : </li></ul><ul><li>RAKYAT </li></ul><ul><li>WILAYAH </li></ul><ul><li>PEMERINTAH YANG BERDAULAT, DAN MENDAPAT PENGAKUAN DARI NEGARA LAIN </li></ul><ul><li>KANSIL : </li></ul><ul><li>WILAYAH </li></ul><ul><li>RAKYAT </li></ul><ul><li>PEMERINTAH YANG BERKUASA </li></ul><ul><li>TUJUAN </li></ul>
  7. 7. lanjutan <ul><li>Unsur Konstitutif </li></ul><ul><li>- wilayah </li></ul><ul><li>- rakyat </li></ul><ul><li>- pemerintah yang berdaulat </li></ul><ul><li>Unsur Deklaratif </li></ul><ul><li>- pengakuan negara lain </li></ul>
  8. 8. RAKYAT <ul><li>Rakyat adalah semua manusia yang berada di wilayah suatu negara. (Penghuni negara) </li></ul><ul><li>Rakyat dibedakan menjadi 2 golongan : </li></ul><ul><li>Penduduk </li></ul><ul><li>Setiap orang yang berada di wilayah suatu negara dalam jangka waktu yang lama (berdomisili). </li></ul>
  9. 9. lanjutan <ul><li>Bukan penduduk </li></ul><ul><li>Setiap orang yang berada di wilayah suatu negara tetapi hanya untuk sementara waktu (tidak untuk berdomisili). </li></ul><ul><li>Contoh : </li></ul><ul><li>- para wisatawan asing </li></ul><ul><li>- tim / delegasi olah raga </li></ul><ul><li>- tim/ delegasi seni </li></ul><ul><li>- tamu negara </li></ul><ul><li>- tim kunjungan/study banding, dsb. </li></ul>
  10. 10. lanjutan <ul><li>Penduduk suatu negara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : </li></ul><ul><li>Warga Negara, yaitu ; </li></ul><ul><li>setiap orang yang tinggal di wilayah suatu negara dalam jangka waktu lama </li></ul><ul><li>secara hukum merupakan anggota dari negara tersebut, serta </li></ul><ul><li>Mengakui bahwa negara dan pemerintahan tempat negara tersebut adalah negara dan pemerintahnya. </li></ul>
  11. 11. lanjutan <ul><li>Warga Negara Asing/Bukan Warga Negara </li></ul><ul><li>- setiap orang yang berada di wilayah suatu </li></ul><ul><li>negara dalam jangka waktu yang lama </li></ul><ul><li>- secara hukum bukan anggota negara </li></ul><ul><li>tersebut </li></ul><ul><li>- tidak mengakui bahwa negara dan </li></ul><ul><li>pemerintahan negara tersebut sebagai </li></ul><ul><li>negara dan pemerintahnya . </li></ul>
  12. 12. KEWARGANEGARAAN <ul><li>Azas kewarganegaraan ada 2 : </li></ul><ul><li>Ius Soli </li></ul><ul><li>Azas yang digunakan suatu negara dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat kelahiran. </li></ul><ul><li>Ius Sanguinis </li></ul><ul><li>Azas yang digunakan suatu negara dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan/kewarganegaraan orang tuanya. </li></ul>
  13. 13. lanjutan <ul><li>Akibat penggunaan azas tersebut : </li></ul><ul><li>Apatride  tidak berkewarganegaraan </li></ul><ul><li>Bipatride  berkewarganegaraan ganda </li></ul>
  14. 14. WILAYAH <ul><li>Wilayah suatu negara : </li></ul><ul><li>Daratan </li></ul><ul><li>Lautan </li></ul><ul><li>Udara </li></ul><ul><li>Ekstrateritorial </li></ul>
  15. 15. BATAS WILAYAH <ul><li>Batas alamiah </li></ul><ul><li>- gunung-gunung </li></ul><ul><li>- sungai </li></ul><ul><li>- danau </li></ul><ul><li>- hutan </li></ul><ul><li>- perbukitan </li></ul><ul><li>dsb. </li></ul>
  16. 16. lanjutan <ul><li>Batas buatan </li></ul><ul><li>- tembok </li></ul><ul><li>- pagar kawat berduri </li></ul><ul><li>- benteng </li></ul><ul><li>- tugu tapal batas </li></ul><ul><li>- dsb </li></ul>
  17. 17. Batas wilayah laut Indonesia <ul><li>Tahun 1938 berdasarkan Territoriale Zee En Maritieme Kringen Ordonatie ditentukan batas laut teritorial 3 mil laut. </li></ul><ul><li>Berdasarkan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 batas wilayah laut, meliputi ; </li></ul><ul><li>- batas laut teritorial 12 mil laut </li></ul><ul><li>- batas zona bersebelahan 12 mil laut </li></ul><ul><li>- batas Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil laut </li></ul><ul><li>- batas Landas kontinen lebih dari 200 mil laut </li></ul><ul><li>3. Klaim atas batas laut teritorial diperjuangkan di tingkat internasional pada saat Konvensi hukum laut int 1982 dan diterima masyarakat dunia, bahkan diikuti negara lain. </li></ul>
  18. 18. Batas wilayah Udara <ul><li>Ketentuan yang mengatur batas wilayah udara suatu negara prinsipnya tidak dipastikan, tetapi menurut Perjanjian Paris 1919 suatu negara dapat mengklaim batas wilayah udara sampai dengan : </li></ul><ul><li>Kurang lebih 36.000 kaki </li></ul><ul><li>GSO (geo stasionary orbit) </li></ul><ul><li>Sampai batas negara tersebut mampu mempertahankannya. </li></ul>
  19. 19. PERKEMBANGAN WILAYAH Wilayah suatu negara dimungkinkan mengalami perkembangan yang terjadi karena pemekaran, penggabungan, dan pengurangan.
  20. 20. 1945 <ul><li>Sumatera </li></ul><ul><li>Jawa barat </li></ul><ul><li>Jawa Tengah </li></ul><ul><li>Jawa Timur </li></ul><ul><li>Borneo (Kalimantan) </li></ul><ul><li>Sulawesi </li></ul><ul><li>Sunda Kecil (Nusa Tenggara) </li></ul><ul><li>Maluku </li></ul>
  21. 21. 1950 <ul><li>Tambahan provinsi karena pemekaran : </li></ul><ul><li>Sumatera  Sumut , Sumteng dan Sumsel </li></ul><ul><li>Jawa Tengah  Jateng dan DIY </li></ul>
  22. 22. 1956 <ul><li>Sumatera utara  Sumut dan DI Aceh </li></ul><ul><li>Jawa Barat  Jabar dan DKI </li></ul><ul><li>Kalimantan  Kalbar, Kaltim dan Kalsel </li></ul>
  23. 23. 1957 <ul><li>Sumatera Tengah  Sumbar, Riau dan Jambi </li></ul><ul><li>Kalimantan Selatan  Kalsel dan Kalteng </li></ul>
  24. 24. 1958 <ul><li>Sunda Kecil  Bali </li></ul><ul><li> Nusa Tenggara Barat </li></ul><ul><li> Nusa Tenggara Timur </li></ul>
  25. 25. 1959 <ul><li>Sumatera Selatan  Sumatera Selatan </li></ul><ul><li> Lampung </li></ul>
  26. 26. 1960 <ul><li>Sulawesi  Sul. Utara dan Tengah </li></ul><ul><li> Sul. Selatan dan Tenggara </li></ul>
  27. 27. 1964 <ul><li>- Sulawesi Utara dan Tengah  Sulut </li></ul><ul><li> Sulteng </li></ul><ul><li>Sulawesi Selatan dan Tenggara  Sulsel </li></ul><ul><li> Sultra </li></ul>
  28. 28. 1967 <ul><li>Sumatera Selatan  Sumatera Selatan </li></ul><ul><li> Bengkulu </li></ul>
  29. 29. 1969 <ul><li>Irian Jaya </li></ul>
  30. 30. 1976 <ul><li>Nusa Tenggara Timur  Nusa Tenggara Timur </li></ul><ul><li>Timor Timur </li></ul>
  31. 31. 1999 <ul><li>- Timor Timur lepas (menjadi negara baru) </li></ul><ul><li>- Maluku  Maluku </li></ul><ul><li> Maluku Utara </li></ul><ul><li>Irian Jaya  Papua </li></ul><ul><li> Irian jaya Barat </li></ul>
  32. 32. 2000 <ul><li>Sumatera  Sumatera Selatan </li></ul><ul><li> Bangka Belitung </li></ul><ul><li>Jawa Barat  Jawa Barat </li></ul><ul><li> Banten </li></ul><ul><li>Sulawesi Utara  Sulawesi Utara </li></ul><ul><li> Gorontalo </li></ul>
  33. 33. 2002 <ul><li>Riau  Riau </li></ul><ul><li> Kepulauan Riau </li></ul>
  34. 34. 2004 <ul><li>Sulawesi selatan  Sulawesi selatan </li></ul><ul><li>Sulawesi Barat </li></ul><ul><li>Jumlah 33 provinsi </li></ul>
  35. 35. Wilayah Ekstrateritorial <ul><li>Adalah wilayah yang diakui secara hukum sebagai bagian dari wilayah suatu negara, walaupun tidak berada di dalam wilayah negara tersebut. </li></ul><ul><li>Tempat kantor/gedung perwakilan asing </li></ul><ul><li>Kapal yang berlayar di bawah bendera suatu negara. (Floating Island) </li></ul>
  36. 36. PEMERINTAH YANG BERDAULAT <ul><li>Pemerintah  lembaga beserta aparaturnya yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan negara. </li></ul><ul><li>Pemerintah dalam arti luas meliputi seluruh lembaga negara. </li></ul><ul><li>Pemerintah dalam arti sempit dipegang oleh lembaga eksekutif. </li></ul>
  37. 37. KEDAULATAN <ul><li>Kedaulatan  kekuasaan tertinggi suatu negara </li></ul><ul><li>Teori Kedaulatan : </li></ul><ul><li>Teori kedaulatan Tuhan </li></ul><ul><li>Teori kedaulatan Raja </li></ul><ul><li>Teori kedaulatan Hukum </li></ul><ul><li>Teori kedaulatan Negara </li></ul><ul><li>Teori kedaulatan Rakyat. </li></ul>
  38. 38. BENTUK NEGARA <ul><li>Negara Kesatuan (Unitaris) </li></ul><ul><li>Negara yang merdeka dan berdaulat di mana hanya ada satu Pemerintah (Pusat) yang mengatur seluruh daerah. </li></ul><ul><li>Azas Pemerintahan : </li></ul><ul><li>Sistem Sentralisasi </li></ul><ul><li>Sistem Desentralisasi </li></ul><ul><li>Sistem Dekonsentrasi </li></ul><ul><li>Sistem Tugas Perbantuan (medebewind) </li></ul>
  39. 39. LANJUTAN <ul><li>NEGARA BERSUSUN TUNGGAL </li></ul><ul><li>TIDAK TERDAPAT NEGARA DALAM NEGARA </li></ul><ul><li>SATU PEMERINTAHAN PUSAT </li></ul><ul><li>SATU UUD </li></ul><ul><li>SATU PARLEMEN </li></ul><ul><li>SATU KABINET </li></ul><ul><li>SATU BENDERA </li></ul><ul><li>KEDAULATAN KE DALAM DAN KE LUAR </li></ul>
  40. 40. lanjutan <ul><li>Negara Serikat (Federasi) </li></ul><ul><li>Gabungan beberapa negara yang menjadi negara-negara bagian dari negara serikat itu </li></ul><ul><li>NEGARA FEDERASI </li></ul><ul><li>NEGARA BERSUSUN JAMAK </li></ul><ul><li>TERDAPAT NEGARA DALAM NEGARA </li></ul><ul><li>SETIAP NEGARA BAGIAN MEMILIKI UUD, KEPALA NEGARA, PARLEMEN, KABINET, UUD, BENDERA SENDIRI </li></ul><ul><li>KEDAULATAN DI PEMERINTAH FEDERAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN URUSAN LUAR NEGERI, HANKAM, KEUANGAN, POSTEL </li></ul>
  41. 41. REPUBLIK <ul><li>KEPALA NEGARA DIANGKAT/DIPILIH OLEH RAKYAT </li></ul><ul><li>MASA JABATAN KEPALA NEGARA DIBATASI </li></ul><ul><li>TIDAK ADA DINASTI </li></ul><ul><li>KEPALA NEGARANYA BIASANYA PRESIDEN </li></ul>
  42. 42. KERAJAAN/MONARKI <ul><li>KEPALA NEGARA DIANGKAT BERDASARKAN KETURUNAN </li></ul><ul><li>MASA JABATAN KEPALA NEGARA TIDAK DIBATASI/SEUMUR HIDUP </li></ul><ul><li>ADA DINASTI </li></ul><ul><li>KEPALA NEGARA, RAJA, RATU, SULTAN, YANG DIPERTUAN AGUNG, KAISAR, </li></ul>
  43. 43. SISTEM PRESIDENSIAL <ul><li>Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan </li></ul><ul><li>Presiden tidak dapat membubarkan parlemen </li></ul><ul><li>Masa jabatan presiden dan parlemen ditentukan dengan pasti </li></ul><ul><li>Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara yang dipilih dan bertanggungjawab kpdnya </li></ul><ul><li>Presiden dan para menteri tidak bertanggungjawab kpd parlemen </li></ul>
  44. 44. SISTEM PARLEMENTER <ul><li>PM bersama kabinet bertanggungjawab kpd parlemen </li></ul><ul><li>Pembentukan kabinet didasarkan pd kekuatan dlm parlemen </li></ul><ul><li>Para anggota kabinet mungkin seluruhnya mungkin sebagian anggota parlemen </li></ul><ul><li>Kabinet dapat dijatuhkan setiap saat oleh parlemen dengan mosi tidak percaya, sebaliknya kepala negara dengan saran PM dapat membubarkan parlemen </li></ul>
  45. 45. LANJUTAN <ul><li>Lamanya masa jabatan kabinet tidak dapat ditentukan dengan pasti </li></ul><ul><li>Presiden hanya sebagaikepala negara </li></ul><ul><li>Kedudukan kepala negara tidak dapat diganggugugat atau diminta pertanggungjawaban ttg jalannya pemerintahan </li></ul>
  46. 46. PERKEMBANGAN SEJARAH SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA <ul><li>Sejak 18-8-1945 (UUD 1945) </li></ul><ul><li>Bentuk negara kesatuan </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan republik </li></ul><ul><li>Sistem Pemerintahan presidensial </li></ul><ul><li>Sejak November 1945 (UUD 1945) </li></ul><ul><li>Bentuk negara kesatuan </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan republik </li></ul><ul><li>Sistem pemerintahan parlementer </li></ul>
  47. 47. lanjutan <ul><li>Sejak 27 Des 1949 (K RIS) </li></ul><ul><li>Bentuk negara serikat </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan republik </li></ul><ul><li>Sistem pemerintahan parlementer </li></ul><ul><li>Sejak 17 Agustus 1950 (UUD S) </li></ul><ul><li>Bentuk negara kesatuan </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan republik </li></ul><ul><li>Sistem pemerintahan parlementer </li></ul>
  48. 48. lanjutan <ul><li>Sejak 5 Juli 1959 (UUD 1945) </li></ul><ul><li>Bentuk negara kesatuan </li></ul><ul><li>Bentuk pemerintahan republik </li></ul><ul><li>Sistem pemerintahan presidensial </li></ul>
  49. 49. SISTEM PEMERINTAHAN <ul><li>Sentralisasi </li></ul><ul><li>Azas pemerintahan dimana segala kewenangan pemerintah pusat dan daerah dipegang oleh pemerintah pusat </li></ul><ul><li>Desentralisasi </li></ul><ul><li>Penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah pusat atau daerah tingkat atasnya kepada daerah, menjadi urusan rumah tangga sendiri. (azas ini melahirkan daerah otonom) </li></ul>
  50. 50. lanjutan <ul><li>Dekonsentrasi </li></ul><ul><li>Penyerahan sebagian dari kekuasaan pemerintah pusat kepada alat-alat (pejabat) pemerintah pusat yang ada di daerah. </li></ul><ul><li>Atau </li></ul><ul><li>pelimpahan wewenang dari pemerintah atau kepala wilayah atau kepala instansi vertikal tingkat atasnya kepada pejabat-pejabatnya di daerah. </li></ul>

×