Perencanaan dalam strategi belajar (tjoetnyak)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Perencanaan dalam strategi belajar (tjoetnyak)

  • 408 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
408
On Slideshare
408
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
3
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan menurut pandangan Islam adalah merupakan bagian dari tugas kekhalifahan manusia yang harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. Di dalam Al Quran banyak ushlub ayat yang menekankan agar melaksanakan aktivitas pendidikan terhadap manusia untuk manusia. Anak sebagai bagian dari faktor pendidikan mempunyai hak untuk menerima pengajaran dan pendidikan, dimana ia sedang tumbuh dan berkembang kea rah kedewasaan disamping memiliki potensi dasar yang benar dan lurus. Anak dilahirkan dalam keadaan suci lewat hati nuraninya fitrahnya sering membisikan kejujuran, kesucian, ketaatan, atau berakhlakul karimah, tetapi ia juga makhluk lemah, sering dalam perjalanan hidupnya ia terpedaya oleh haawa nafsunya dan meninggalkan fitrahnya yang semula. Kemampuan dasar anak yang cenderung kepada fitrah Islamiyah, tentunya tak statis dan tidak mengandung implikasi kependidikan yang berkomunitas kepada paham naticisme belaka melainkan dinamis dan responsif terhadap pengaruh dari luar dirinya, dalam hal ini peranan pendidikan akhlak sebagai bagian pendidikan Islam merupakan pembimbing dan pengarah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak menuju terbentuknya kepribadiaan yang sempurna. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang sangat memerlukan keterampilan profesional dan banyak dari apa yang harus dikerjakan oleh guru di luar maupun dalam kelas, guru perlu memperhatikan strategi pembelajaran melalui perencanaan, disamping juga dapat memilih serangkaian alternative tindakan berdasarkan asumsi yang mereka buat mengenai hakekat pengajaran dan tujuan yang ingin dicapai.
  • 2. 2 B. Pembatasan Masalah Untuk membatasi masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini perlu dikemukakan batasan-batasan pengertian yang berhubungan dengan judul sebagai berikut : 1. Strategi adalah suatu rencana mengenai kegiatan untuk mencapai tujuan. Guru membuat keputusan yang berkesan pada pemilihan alternative-alternatif, namun tetap memperhatikan urutan keputusan itu yang meliputi kerangka dasar dimana guru dan siswa harus bekerja sama. 2. Perencanaan yang dimaksud di sini adalah pekerjaan yang dilakukan guru untuk menganalisa tugas, merumuskan tujuan belajar dan membuat langkah- langkah dalam lesson plan. 3. Belajar adalah upaya untuk perubahan pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan yang pada gilirannya akan ada pengaruhnya dalam perubahan tingkah laku. Perubahan yang dimaksud selalu berhubungan dengan peningkatan. Dengan demikian seseorang dikatakan belajar kalau ada perubahan atau peningkatan kualitas tingkah lakunya. C. Tujuan Penulisan Adapun beberapa tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini diantaranya : 1. Ingin mengubah kebiasaan guru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan perencanaan dalam pengajaran. 2. Ingin mengetahui sejauh mana guru dalam menggunakan perencanaan dalam strategi belajar. 3. Ikut serta menyumbangkan pemikiran terutama dalam masalah perencanaan pengajaran yang sesuai dengan strategi belajar.
  • 3. 3 D. Metode Penulisan Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan dengan menggunakan metode : 1. Studi kepustakaan, untuk mengembangkan teori-teori ilmiah sebagai rumusan yang berhubungan dengan strategi belajar sebagai bagian proses belajar mengajar. 2. Deduktif dan induktif, yaitu menarik konkulusi logis yang berhubungan dengan suatu problem dari peraturan-peraturan atau prinsif-prinsif umum atau bertolak dari suatu kenyataan umum kepada kenyataan yang khusus. Sedangkan yang dimaksud dengan metode induktif yaitu menarik konkulusi dari hasil pengalaman-pengalaman atau bertolak dari suatu kenyataan khusus kepada kenyataan umum.
  • 4. 4 BAB II STRATEGI DAN PERENCANAAN A. Tinjauan Umum Pendidikan 1. Pengertian Pendidikan Pendidikan merupakan segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan atau lebih jelas lagi pendidikan ialah pimpinan diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri dan bagi masyarakat. (Drs. M. Naglim Purwanto, MP, 1997:10). Menurut Lodge (1974:23), secara sempit pendidikan adalah pendidikan di sekolah, jadi pendidikan adalah pendidikan formal. Percobaan membuat definisi pendidikan yang mencakup seluruh aspek kepribadian dapat dilakukan, tetapi dengan menyadari lebih dahulu bahwa rumusan itu akan menghasilkan definisi yang kabur, atau definisi yang panjang sehingga tetap tidak jelas. Atau definisi yang pendek tetapi tidak mencakup seluruh aspek binaan pendidikan (usaha pendidikan). Seandainya definisi pendidikan yang mencakup itu diperlukan agaknya rumusan ini dapat ditawarkan “Definisi ini mencakup kegiatan pendidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru (pendidik), mencakup pendidikan formal, maupun non formal serta informal. (DR. Ahmad Tapsir, 1992:6).
  • 5. 5 2. Komponen Pendidikan a. Tujuan pendidikan Penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari Tujuan Pendidikan yang hendak dicapainya. Suatu tujuan dalam pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan prilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran menyatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar proses dari pengajaran itu sendiri. Seperti dikatakan Magor (1975:5), sedikitnya ada 3 alasan pokok kenapa guru harus memperhatikan/merumuskan tujuan pengajarannya. Pertama, jika guru tidak merumuskan tujuan / menentukan tujuan pengajaran, tetapi kurang jelas, maka ia tidak akan dapat memilih atau merancang bahan pengajaran, isi, ataupun, metode yang tepat untuk dipergunakan dalam pengajaran itu. Kedua, tidak adanya rumusan tujuan pengajaran yang jelas bagi guru sehingga sukar mengukur atau menilai sampai sejauh mana keberhasilan dalam pengajaran itu. Ketiga, tanpa adanya rumusan tujuan yang jelas, sukar bagi guru untuk mengorganisasikan kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha siswa dalam mencapai tujuan pengajaran itu. (Drs. Naglim Purwanto, MP, 1995:39). b. Guru Guru adalah orang yang diserahi tanggung jawab sebagai pendidik di dalam lingkungan kedua (sekolah). Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan
  • 6. 6 Negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan. Guru sebagai pendidik adalah seorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan Negara. Tinggi rendahnya kebudayaan suatu masyarakat dan negara sebagian besar bertanggung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru. Makin tinggi pendidian guru, makin baik pula mutu pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak-anak, dan makin tinggi pula derajat masyarakat. Oleh sebab itu guru harus berkeyakinan dan bangga bahwa ia dapat menjalankan tugas itu. Guru hendaklah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian masyarakat menginsafi sungguh-sungguh betapa berat dan mulianya pekerjaan guru. (Drs. M. Naglim Purwanto, 1997:138). c. Siswa Siswa SD adalah anak-anak yang berusia antara 6 – 12 tahun. Dari batas usia ini dapat kita ketahui bahwa siswa SD berbeda dari siswa SLTP atau SLTA, baik dari segi fisik kemampuan mental. Anak-anak usia SD mempunyai kemampuan yang berbeda dari siswa satuan pendidikan lainnya. Siswa SD terutama yang di kelas-kelas awal, masih memandang dunia ini sebagai suatu keseluruhan yang terpadu (pandangan holistic), serta belum mampu melihat sesuatu sebagai bagian yang terpisah-pisah. Di samping itu, variasi kemampuan siswa SD jauh lebih besar dari variasi kemampuan siswa SLTP atau SLTA. Kita dapat mencari penyebabnya, dimana SD wajib menerima semua anak usia SD dalam rangka menuntaskan wajib belajar di tingkat SD. Tidak ada seleksi,
  • 7. 7 semua anak dengan segala jenis kemampuan dan latar belakang sosial wajib diterima di SD. Tidak demikian halnya dengan SLTP atau SLTA. Anak-anak yang diterima diseleksi melalui NEM (Nilai Ebtanas Murni), sehingga kemampuan siswa dalam satu sekolah relatif sama atau variasinya tidak begitu besar. (Prof. Dr. HM. Surya, dkk, 1998:35). d. Bahan Pengajaran Pengajaran ialah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata, yaitu supaya anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berpikir kritis, sistematis, dan objektif, serta terampil dalam mengerjakan sesuatu, misalnya terampil menulis, membaca, lari cepat, loncat tinggi, berenang, dan sebagainya. Seseorang yang akan membuat lesson plan tidak cukup hanya mempunyai kemampuan membuat rumusan tujuan pengajaran. Ia juga harus menguasai bahan pengajaran, bahkan rumusan tujuan itu sebenarnya diilhami antara lain oleh bahan pengajaran, karena itu guru harus menguasai bahan pengajaran. Yang harus dikuasai sekurang- kurangnya ialah bahan pengajaran untuk tingkat/jenis sekolah yang akan menggunakan lesson plan tersebut. Guru yang akan membuat lesson plan Agama Islam untuk SD misalnya, harus menguasai benar-benar materi Agama Islam yang kan diajarkan di SD. Sebagaimana tertulis di dalam buku kurikulum Agama Islam SD. Pengetahuan yang mendalam dan luas tentang bahan pengajaran yang akan diajarkan sangat diperlukan dalam memberikan kemampuan lesson plan yang baik. Pengetahuan yang luas dan dalam sangat
  • 8. 8 membantu pula dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar. (DR. Ahmad Tapsir, 1992:22). e. Lingkungan (environment) Lingkungan (environment) ialah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kecuali gen-gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan (to provide environment) bagi gen yang lain. Lingkungan itu dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu sebagai berikut : 1. Lingkungan alam/luar (external or physical environment). Lingkungan alam/luar adalah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusia, seperti : rumah, tumbuh-tumbuhan, air, iklim, hewan, dan sebagainya. 2. Lingkungan dalam (internal environment) Lingkungan dalam ialah segala sesuatu yang termasuk lingkungan luar/dalam. Akan tetapi makanan yang sudah di dalam perut kita, kita katakan berada antara external dan internal environment kita. 3. Lingkungan sosial/Masyarakat (sosial environment) Lingkungan sosial, ialah semua orang / manusia lain yang mempengaruhi kita. (Drs. M. Naglim Purwanto, MP, 1995:28). f. Strategi sebagai bagian proses belajar mengajar. Secara singkat strategi belajar mengajar dapat diartikan sebagai pola umum kegiatan guru-murid di dalam perwujudan proses belajar
  • 9. 9 mengajar untuk mencapai tujuan tertentu. Stretegi belajar mengajar meliputi : Mengidentifikasikan dan menetapkan spesifikasi perubahan perilaku peserta didik yang diharapkan. Memilih system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Memilih dan menetapkan prosedur, metode atau teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan tugasnya. Memilih dan menetapkan norma atau kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru untuk melakukan evaluasi. Keempat dasar strategi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, diantara dasar yang satu dengan yang lain saling menompang tidak bisa dipisahkan. (Drs. H. Mansyur, 1995:5). B. Pengertian Strategi dan Perencanaan Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai tujuan, keputusan strategis merupakan keputusan yang berarti bagi terlaksananya proses kegiatan belajar mengajar. Sedangkan perencanaan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang berorientasi kepada aspek kepribadian siswa yaitu tingkah laku siswa dianalisis kedalam tujuan kognitif tujuan apektif maupun tujuan psikomotor. Pada dasarnya istilah strategi dan perencanaan mempunyai pengertian yang hampir sama, namun sebagian ahli pendidikan menganggapnya strategi sebagai
  • 10. 10 rencana yang memuat garis-garis besar yang menggambarkan cara mengelola tugas- tugas melaksanakan proses belajar mengajar. Sedangkan perencanaan memuat langkah-langkah khusus atau spesifik membuat rencana pembelajaran setiap kali pertemuan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pemilihan strategi melalui perencanaan dalam mengajar dan belajar yang tepat merupakan masalah mengelola waktu, memilih apa yang harus disampaikan, mengetahui dimana dan bagaimana menerapkan kekuatan seefektif mungkin. Menentukan skala prioritas yang tepat, kemudian menjalin semua itu yang satu dengan yang lain untuk memperoleh keputusan yang efektif. Dalam memilih strategi, guru harus berpedoman kepada 3 kriteria yaitu : Kemampuan siswa yang tercakup dalam tugas, Sikap dari tujuan belajar yang harus dicapai, Kebutuhan untuk memperkaya pengalaman belajar seperti meningkatkan motivasi intrinsic dan ekstrinsic. (Ivor. K. Davies, 1991:230). C. Perencanaan dan Task Analysis Salah satu langkah awal dalam mengembangkan program pendidikan atau latihan adalah menganalisa tugas atau menganalisa soal dalam kegiatan belajar yang akan dilakukan. Beberapa tugas merupakan kegiatan akademis atau intelektual, sedangkan lainnya terutama berhubungan dengan keterampilan fisik. Terlepas dari hakikat tugas yang harus dikerjakan dalam kegiatan belajar mengajar, kiranya perlu menentukan unsur-unsur dan ciri-ciri topik atau pekerjaan yang harus dipelajari oleh para siswa . hanya apabila karakteristik tugas ini secara tepat dapat diketahui, maka kebutuhan belajar dapat diidentifikasikan dan tujuan belajar dapat dirumuskan. Yang dimaksud Task Analysis (analisis tugas) disini adalah diartikan sebagai penjabaran tugas ke dalam bagian-bagiannya. Hal ini sebenarnya hanya
  • 11. 11 menerangkan sebagian saja dari proses, karena sebenarnya juga penting untuk berfikir bagaimana bagian-bagian tersebut berhubungan dan diorganisasikan satu sama lain. Karena itu, analisis tugas adalah berhubungan dengan kegiatan analisis sintesis. Tanpa suatu analisis tugas yang benar, maka tidak mungkin dapat dikemukan apa yang sebenarnya akan diajarkan dan juga tidak dapat diputuskan strategi mengajar secara optimal. Ada beberapa analisis tugas, antara lain : Analisis topik, ini meliputi suatu analisis secara terperinci tugas-tugas intelektual seperti : hokum menuntut ilmu, hokum minuman keras, menyebut sifat-sifat para sahabat dan cendikiawan muslim. Analisa pekerjaan ini meliputi suatu analisa secara detail atau terperinci tugas yang menyangkut keterampilan psikomotor. Hal ini lebih banyak berhubungan dengan apa yang dikerjakan bilamana tugas tersebut dikerjakan. Analisis meliputi tugas suatu pekerjaan dengan mengikutsertakan siswa seperti membagi-bagikan daging qurban, dan sebagainya. Perlu diketahui bahwa analisis tugas harus memisahkan tindakan-tindakan lahiriyah tersebut yang merupakan ciri penguasaan bahan pelajaran atau pekerjaan. Satu cara untuk mengerjakan hal ini adalah dengan memandang suatu topik atau pekerjaan sebagai organisasi hirarkis dari tingkatan atau komponen-komponen, masing-masing menerangkan pekerjaan dalam urutan detil yang lebih meningkat. Pada tingkatan yang tertinggi adalah topik atau pekerjaan itu sendiri ini terdiri dari sejumlah kewajiban dan setiap kewajiban meliputi sejumlah tugas dan setiap tugas mempunyai sejumlah unsur tugas. Contoh hirarki tingkat perilaku dalam suatu
  • 12. 12 analisis tugas : seorang beriman mempunyai ciri yaitu baginya sejumlah kewajiban, taat kepada Allah, berbuat baik kepada sesama manusia, dan sebagainya. Masing-masing dari kewajiban itu terdiri dari sejumlah tugas terpisah, tetapi semuanya erat hubungannya satu sama lain, misalnya : taat kepada Allah, mentaati segala perintahnya yang telah diwajibkan, kewajiban terhadap orangtua menasehatinya, kewajiban berbuat baik kepada sesama manusia, memberikan haknya. Hubungan unsur-unsur yang terdapat dalam kewajiban itu sangat erat kaitannya, seorang siswa yang tidak menghormati orangtuanya dan sesama manusia tentunya tidak dikategorikan taat kepada Allah. D. Rumusan Tujuan Tujuan tidak hanya merupakan arah yang dapat membentuk atau mewarnai rancangan pengajaran tetapi juga dapat menjadikan spesifikasi secara terinci bagi penyusunan dan penggunaan teknik-teknik evaluasi. Mungkin tidak dapat suatu kegiatan pun yang begitu penting dalam pelaksanaan pendidikan dan evaluasi. Selain menulis tujuan belajar para guru dalam melaksanakan tugasnya sering menekankan kepada pentingnya rumusan tujuan belajar, namun demikian pernyataan dan spesifikasi tentang tujuan pendidikan dan latihan lebih banyak diucapkan dan ditulis daripada dilaksanakan atau dipraktekkan. Pedagog Jhon Dewey menekankan bahwa setiap tujuan mempunyai nilai sejauh hal itu dapat membantu pengamatan pemilihan dan perencanaan dari waktu ke waktu. Dalam artian yang luas tujuan belajar adalah suatu pernyataan tentang perubahan yang diharapkan akan terjadi dalam pikiran, perbuatan dan perasaan siswa sebagai hasil dari pengalaman pendidikan dan latihan. Tidak ada suatu pengalaman pun dapat dinilai sebagai baik atau buruk hanya berdasarkan itu sendiri. Cara untuk
  • 13. 13 menilai kualitas pengalaman terletak pada berhasil atau tidaknya pengalaman tersebut dalam membawa perubahan yang diinginkan pada tingkah laku. Dalam rumusan tujuan dikenal adanya tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah suatu pernyataan umum tentang tujuan karenanya kurang jelas arahnya. Hal ini kurang bermanfaat bagi guru kelas dan tidak membantu dalam menentukan strategi mengajar yang harus dipergunakan. Tujuan khusus adalah jauh lebih bersifat spesifik dan jelas. Tujuan khusus dapat membantu secara nyata memberikan arah yang jelas kepada guru dan siswa (Ivor. K. Davies. 1991 :95). Para ahli pendidikan mengemukakan perlunya merumuskan tujuan secara khusus, karena pendidikan dan latihan telah mengalami latihan. Kecendurannya sekarang diarahkan kepada penekanan secara lebih jelas dan berdasarkan tingkah laku yang dapat diamati dan diukur menjadi semakin penting. Hal ini disebabkan menulis tujuan khusus secara jelas dan berdasarkan tingkah laku yang dapat diamati dan diukur dapat : Membatasi tugas dan menghilangkan segala kekaburan dan kesulitan dalam penafsiran. Memungkinkan guru dan siswa dapat membedakan diantar macam dan kelompok tingkah laku yang tidak sama, maka dapat membentuk mereka dalam memutuskan strategi yang paling optimal untuk keberhasilan belajar. Menjamin dilaksanakannya proses pengukuran dan penilaian yang tepat, dan karenanya dapat membantu di dalam menetapkan kualitas dan efektifitas pengalaman belajar siswa.
  • 14. 14 Merupakan suatu rangkuman yang lengkap untuk pelajaran yang akan diberikan dan dapat berfungsi sebagai pedoman dan tujuan khusus yang bersifat tingkah laku adalah tepat untuk melaksanakan tugas ini. Metode pengklasifikasian tujuan pendidikan yang disebut teksonomi oleh Benyamin S Bloom, menyebutkan bahwa tujuan khusus belajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok tujuan : Tujuan kognitif, berisi tujuan mengembangkan atau membina pemahaman atau informasi pengetahuan, karena itu usaha untuk mewujudkan tercapainya tujuan kognitif adalah suatu kegiatan pokok program pendidikan. Tujuan efektif, menentukan sikap nilai perasaan dan emosi, bertujuan agar siswa menerima ajaran kebenaran yang telah dipahami. Tujuan psikomotor, berhubungan dengan keterampilan motorik bertujuan agar siswa terampil melakukan ajaran kebenaran yang telah diterima (Ivor. K. Davies. 1991 :97). E. Strategi Dan Teknik Mengajar Yang Tepat Tujuan mengajar adalah untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku seorang pelajar. Perubahan ini biasanya dilakukn seorang guru dengan menggunakan suatu strategi mengajar untuk mencapai tujuan-tujuan. Dalam hal ini dipergunakan 2 cara mengajar dan taktik mengajar : Strategi mengajar ini meliputi garis-garis besar metode mengajar, yang akan sesuai. Hal tersebut antara lain meliputi strategi mengajar, strategi pelajaran, strategi dari studi kasus, tanpa melihat macam-macam apa yang ada, guru dapat menganggapnya sebagai garis-garis besar yang menggambarkan cara mengerjakan dan mengolah tugas-tugas mengajar.
  • 15. 15 Taktik mengajar. Ini meliputi aspek-aspek pengajaran yang lebih terinci dari strategi, memang suatu tektik dpat muncul dalam setiap strategi. Misalnya, guru mungkin memutuskan untuk mengganti ceramah dengan diskusi sebagai strategi. Perbedaan antara strategi mengajar merupakan hal yang penting, memang baik buruknya suatu pengajaran mungkin terletak lebih banyak pada taktiknya daripada strategi dan kepribadian guru. Selanjutnya cukup beralasan untuk menyakini bahwa siswa yang dapat menghargai suatu taktik tersebut dengan baik, dengan tujuan meningkatkan kualitas pengalaman belajarnya sendiri (Ivor. K. Davies. 199 : 121). Dalam kaitan ini, untuk menemukan dan memberikan komponen-komponen serta urutan komponen, perlu adanya struktur, baik bagi pengajaran maupun belajar. Hal ini disebabkan sifat struktur tersebut dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan taktik pengajaran secara optimal. Struktur sebenarnya merupakan factor utama dalam hamper semua bentuk belajar manusia. Guru mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyakinkan agar para sisw mencapai tujuannya dengan menggunakan struktur tugas, sebab inti dari pengajaran yang baik biasanya terletak pada pengorganisasian yang baik dari belajar tersebut. Jika telah disadari pentingnya struktur yang mendasari tugas yang harus dilaksanakan dan disajikan sebagai seperangkat pengetahuan yang terorganisasi dan pendekatan ini mempunyai kebaikan-kebaikan sebagai berikut : 1. Kebaikan bagi guru a. Memilih taktik mengajar yang tepat yang didasarkan pada struktur yang membentuk tugas.
  • 16. 16 b. Dapat menunjukkan hubungan antara bermacam-macam kelompok struktur. c. Dapat meningkatkan pengertian mendalam dari para siswa dengan menggunakan struktur tugas sebagai sarana pengajaran fakta-fakta sebagai penambah pengetahuan ke dalam khasanah pengetahuan siswa. 2. Kebaikan bagi siswa a. Dapat memiliki taktik belajar yang tepat yang didasarkan pada struktur yang membentuk tugas tersebut. b. Memahami hubungan antara kelompok-kelompok tugas belajar dengan kelompok truktur. c. Meningkatkan pengertian mendalam dengan menggunakan struktur tugas sebagai sarana untuk mempelajari fakta-fakta sebagai penambah untuk menambah khasanah pengetahuan siswa (Dr. Prof. H. M. Surya, 1997 : 25) Salah satu contoh struktur belajar dari beberapa macam struktur yaitu struktur konsep, yang merupakan prinsip yang meliputi serentetan konsep, misalnya : suatu kebenaran yang dijadikan prinsip hukum taat kepada Allah, hukum menghormati kedua orangtua dan hukum berbuat baik kepada sesama manusia. Dalam proses pengajaran yang tepat siswa akan berkembang kea rah pembentukan manusia sebagaimana tersirat dalam tujuan pendidikan. Agar pengajaran dapat berlangsung secara efektif, maka proses pengajaran yang tepat dapat terbentuk melalui pengajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Berpusat pada anak. Interaksi edukatif antara guru dengan anak. Suasana demokratis.
  • 17. 17 Variasi metode mengajar. Guru profesional. Bahan yang sesuai dan bermanfaat. Lingkungan yang kondusif. Sarana belajar yang menunjang. Adapun suatu penelitian yang dilakukan oleh A. M. Mackay, tentang pembelajaran yang efektif (Le Prancis, 1991:8.83) disarankan mengenai tingkah laku untuk mengajar efektif, sebagai berikut : Menggunakan suatu sistem aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal pribadi atau prosedur. Mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak berketerusan. Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat. Bergerak ke seluruh ruang kelas untuk mengamati siswa. Situasi-situasi yang mengganggu diatasi dengan cara-cara yang baik (dengan cara non-verbal, isyarat, pesan-pesan, kedekatan kontak mata dan sebagainya). Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas. Menggunakan cara yang memungkinkan siswa melaksanakan tugas-tugas arahan semaksimal mungkin. Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran. Menggunakan teknik-teknik mengajar bervariasi dan menyesuaikan pembelajaran dengan keperluan pembelajaran (Prof. Dr. H. M. Surya. 1997:8.35).
  • 18. 18 F. Strategi Pembelajaran Dengan Langkah Pembuatan Lesson Plan Kemampuan mambuat lesson plan, bentuk satpel, modul, rencana pembelajaran atau bentuk lainnya, perlu dimiliki oleh guru yang mengandung profesi sebagai guru. Menurut Glasser (De Cecco, 1968:11) ada 4 langkah lesson plan, yaitu : 1. Tujuan Pembelajarn (Intrucsional Objectives) Disini instruksi berarti pembelajarn. Tujuan pembelajran itu tidak boleh menyimpang dari tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Tujuan pembelajaran yang dimaksud dalam model ialah suatu pola tingkah laku yang khusus yang diharapkan dimiliki murid setelah proses belajar mengajar selesai. Tujuan inilah yang dimaksud tujuan instruksional khusus (TIK), kemudian disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK). Tujuan pembelajaran khusus harus dirumuskan secara spesifik dan operasional, spesifik artinya khusus, operasional artinya jelas, cirinya mudah diukur dan mudah di tes. Mengapa tujuan pembelajaran khusus harus dirumuskan secara operasional ?. Pertama, rumusan yang operasional itu akan membimbing dalam merencanakan tindakan belajar mengajar, guru harus menentukan terlebih dahulu apa yang seharusnya dapat dilakukan siswa bila telah diajar kelak, rumusan yang diteliti itu akan membantu guru merencanakan langkah- langkah yang akan dilakukan siswa dalam mencapai tujuan itu juga langkah guru. Kedua, perlunya tujuan pembelajaran dirumuskan secara operasional itu agar siswa dapat menyiapkan dirinya sendiri. Tujuan itu hendaknya telah diketeahui siswa sebelum pembelajaran dimulai, dengan demikian
  • 19. 19 menyiapkan dirinya dengan baik untuk mencapai tujuan itu. Contoh istilah (kata) yang dapat digunakan untuk membuat rumusan yang operasional : menuliskan, siswa dapat menuliskan Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 24-25, menyebutkan, siswa dapat menyebutkan perbuatan baik sesama teman, mendemonstrasikan, siswa dapat mendemonstrasikan sholat jum’at. 2. Entering Behavior Bagian ini harus menggambarkan tingkat kemampuan siswa sebelum pembelajaran dimulai. Untuk ini perlu diadakan pra-tes. Bagian ini harus menjelaskan apa-apa yang telah dipelajari siswa sebelumnya, kemampuan intelektualnya, keadaan emosinya, determinan sosial yang mempengaruhi situasi belajarnya. Lebih sederhana entering behavior ialah gambaran keadaan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam hubungannya dengan pembelajaran khusus. Jadi entering behavior harus menjelaskan dimana pengajaran harus dimiliki sehingga membawa siswa dari keadaannya ke sisi tujuan pembelajaran khusus. Contoh, dalam pembelajaran akhlak kelas V, siswa dapat mempraktekkan perbuatan baik terhadap teman, maka entering behaviornya harus sudah melaksanakan sikap rendah hati kepada teman seperti mengingat sabda Nabi Muhammad Saw, menolong teman. Jadi test dalam awal guru mesti mengukur apakah siswa telah menghapal hadits Nabi untuk/tentang rendah hati. Ada dua sifat pokok entering behavior itu : pertama bersifat khusus dan operasional dalam hal ini sama dengan tujuan pembelajaran khusus. Dalam contoh diatas, siswa di test mengenai hapalan hadits tentang rendah hati (khusus), diketahui juga (mentaati perintah Allah) dalam bab puasa.
  • 20. 20 Selengkapnya, guru mempertimbangkan sekurang-kurangnya empat konsep dalam menentukan entering behavior, yaitu kesiapan, kematangan, perbedaan individu dan kepribadian siswa (Drs. Ahmad Tapsir. 1992:56). 3. Proses Belajar Mengajar (instrucsional procedure) Pada bagian ini berkenaan dengan perencanaan proses belajar mengajar. Bagian ini harus menjelaskan langkah-langkah interaksi yang dilakukan dalam rangka mencapai sasaran yang telah dirumuskan. Kalau dalam tujuan pembelajaran khusus, guru mengajar ia harus menentukan apa yang harus diajarkan, dan dalam enterin behavior menentukan keadaan siswa yang diajarinya, maka bagian ini membicarakan bagaimana guru menentukan prosedur belajar mengajar. Ada beberapa konsep yang dibicarakan dalam bagian ini, antara lain belajar, faktor yang mempengaruhi belajar dan kondisi dasar belajar. Beberapa bentuk yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu : Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relative mantap, harus merupakan akhir dari sebuah periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir
  • 21. 21 dari satu periode yang mungkin berlangsung sehari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut beberapa arti baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian pemecahan suatu masalah keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap. Dengan demikian seseorang dikatakan belajar kalau ada perubahan atau peningkatan kualitas tingkah lakunya. Setelah diketahui bahwa suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam menimbulkan terjadinya tingkah laku atau kecakapan, sampai dimanakah perubahan itu dapat tercapai dengan kata lain berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam- macam faktor (Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp. 1990:85). Adapun faktor-faktor itu, dapat kita bedakan dua golongan : Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut individual. Faktor yang ada di luar yang kita sebut faktor sosial. Yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain faktor kematangan, pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat yang digunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial. Kemudian dalam hal ini kondisi dasar belajar yang berupa contiquity, praktek, ceinforcement, generalisasi dan diskriminasi. Contiquity adalah suatu kondisi belajar yang diperlukan agar respons diberikan dengan tepat. Bila diperlihatkan gambar mesjid maka siswa menyebut mesjid. Keberurutan itu dekat sekali jaraknya sehingga hampir bersamaan. Prinsip ini penting dalam
  • 22. 22 pembuatan lesson plan. Memperpanjang jarak antara stimulus dan respons akan memperlambat proses belajar (Dr. Ahmad Tapsir. 1992:1961). 4. Evaluasi Hasil Pembelajaran (performance assessment) Bagian ini merupakan tahapan evaluasi apakah proses belajar mengajar itu telah dapat mencapai tujuan dan seberapa jauh tujuan itu tercapai. Evaluasi dalam model Glasser lebih ditekankan kepada kegunaan dan sebagai upaya mencari ketenangan dalam memperbaiki rencana pembelajaran bukan sebagai upaya hanya untuk mengetahui prestasi siswa. Hasil evaluasi harus mempunyai nilai umpan balik yang efektif dan efesien. Ada tiga istilah yang hampir sama pengertiannya dengan evaluasi berarti menilai yaitu test, measurement (pengukuran) dan ketiga evaluasi. Test atau testing artinya yang umum ialah menggunakan test, berarti mengetes sebuah kelas tentang sesuatu bidang studi dan dapat juga berarti mengetes kecerdasan seseorang. Sekaran test itu telah meluas artinya di sekolah, sehingga dapat berarti measurement di dapat juga makna evaluasi. Measurement biasanya berarti penilaian yang sifatnya lebih luas dibanding testing, biasanya menggunakan instrumennya lebih luas disbanding instrument yang digunakan pada testing begitu pula mengenai interprestasi hasil pengukuran. Adapun evaluasi mengandung pengertian lebih luas daripada measurement. Evaluasi menggunakan instrument yang lebih banyak. Menggunakan data kuantitatif dan kualitatif, memerlukan waktu yang lebih panjang dalam pelaksanaannya. Misalnya guru menggunakan catatan pribadi sebagai bahan menilai murid, juga dengan cara mengamati semuai ini memerlukan waktu penilaian-penilaian yang lama.
  • 23. 23 Tes hasil belajar berarti memeriksa hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Tes juga menyangkut kemampuan siswa sebelum pembelajaran dimulai yang disebut pre-tes. Tes kedua yang diselenggarakan setelah proses pembelajaran yang disebut post-test (tes akhir), selain dua macam itu evaluasi diperlukan juga diadakan pada akhir suatu program misalnya akhir minggu, akhir catur wulan, atau pada akhir suatu jenjang pendidikan. Dalam mengukur hasil belajar itu ada dua standar atau ukuran yang umum digunakan, yaitu standar absolut dan standar relatif. Standar absolut menggambarkan prestasi siswa dalam menjawab soal tes. Prestasi itu memperlihatkan presentase materi pelajaran atau tujuan pembelajaran yang telah dikuasai siswa. Penguasaan ini menentukan apakah siswa boleh meneruskan unit pelajaran selanjutnya, atau harus meningkatkan penguasaannya lebih dahulu. Jadi hasil tes menggunakan standar absolut digunakan untuk menyatakan tingkat penguasaan materi pelajaran atau tujuan pembelajaran oleh siswa. Tes yang menggunakan standar relatif menggambarkan kemampuan seorang siswa lain dalam kelompoknya (Dr. Ahmad Tapsir. 1992:78) Standar absolut mempunyai tiga kegunaan. Pertama, dengan tes ini dapat diketahui apakah siswa telah mencapai tingkat penguasaan bahan (tujuan pembelajaran) sebesar yang diharapkan sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran khusus. Kedua, dapat diketahui apakah siswa mencapai tingkat penguasaan tertentu terhadap seluruh tujuan pembelajaran khusus bukan satu persatu TPK. Ketiga, standar absolute menentukan pembuatan tes. Tes yang menggunakan standar relatif menggambarkan kemampuan siswa yang lain dalam kelompoknya. Hasil tes ini dapat memberitahukan kepada guru, apakah seorang siswa kurang, sama atau lebih baik prestasinya dengan
  • 24. 24 siswa-siswa lainnya dalam kelompoknya. Kelompok yang dimaksud adalah kelas
  • 25. 25 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dalam bab ini, penulis berusaha menarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut : 1. Supaya tujuan pembelajaran berhasil, perlu seorang guru yang sanggup bekerja lebih baik dengan strategi pembelajaran melalui perencanan sehingga membawa hasil terdapat proses belajar mengajar. 2. Seorang guru yang akan membuat lesson plan, ia dituntut mempunyai kemampuan untuk merumuskan tujuan pembelajaran secara spesifik, meneliti kesiapan siswa sebelum pembelajaran dimulai (entering behavior), menentukan langkah-langkah mengajar serta mengadakan evaluasi yang biasa disebut post test. 3. Kebaikan-kebaikan dalam proses belajar mengajar dapat disederhanakan dan disajikan sebagi seperangkat pengetahuan yang terorganisasi dan pendekatan sebagi berikut : a. Kebaikan bagi guru b. Kebaikan bagi siswa c. Perubahan dalam tingkah laku d. Latihan atau pengalaman e. Perubahan yang relatif mantap f. Perubahan fisik dan psikis
  • 26. 26 B. Saran Berdasarkan pembahasan pada bab-bab terdahulu penulis perlu menyampaikan saran-saran sebagi berikut : 1. Hendaknya para pelaku pendidikan selalu memperhatikan dan menggariskan secara sistematis dan pragmatis model pendidikan yang akan dilalui siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran melalui perencanan untuk mencapai hakekat tujuan pendidikan. 2. Mengingat ruang lingkup bahan pengajaran pendidikan Islam meliputi 7 unsur pokok, maka sebaiknya alokasi jam atau tatap muka ditambah satu atau disesuaikan. 3. Seorang guru hendaknya menggunakn pengetahuannya tentang kode etik mendidik dan kecekatannya untuk digunakan dalam mendiagnosa anak didiknya sejauh mana anak itu ada perubahan baik perubahan aspek intelektualnya dan aspek akhlaknya. 4. Penulis menyarankan dan sangat mengharapkan pihak pengelola pada program pembuatan karya tulis ilmiah agar mengadakan koreksi yang transparan dan konstruktif agar dapat dirasakan manfatnya, khususnya bagi pembuat makalah karya ilmiah.
  • 27. 27 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Tapsir Dr. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. Bandung. Remaja Rosdakarya, 1992. Ali Supilah, HA. Antara Filsafat Pendidikan, Suranaya Usaha Nasional, 1983. Arifin H. M.M. Ed.Prof. Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, Jakarta. Bumi Aksara, 1995. Badudu J.S.Dr.Prof.Zain Mohammad Sutan Prof, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994. Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahan. Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an.