• Like
Tafsir al aminuddin,Tentang wudhu.
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Tafsir al aminuddin,Tentang wudhu.

  • 282 views
Uploaded on

kajian surah al maidah ayat 6

kajian surah al maidah ayat 6

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
282
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A TENTANG WUDHU’, MANDI dan TAYAMUM (KAJIAN TAFSIR SURAT AL-MAIDAH : 6) A. Firman Allah SWT ;                                                                 B. ‫( معا نئ ا لمؤر دات‬Makna Satuan Kata) ‫يَا أَيُّهَا‬ َ‫الَّذين‬ ِ ‫آمنُوا‬ َ ‫إِذَا‬ ‫قُمتُم‬ ْ ْ ‫إِلَى‬ َ ‫الصََّلة‬ ‫فَاغسلُوا‬ ِ ْ َُ ‫وجُوهكم‬ ُ ْ ‫وأَيديَكُم‬ ِْ َ ‫إِلَى المرافِق‬ ِ ََْ ‫وامسحُوا‬ َ ْ َ ‫بِرءوسكُم‬ ِ ُ ُ ‫وأَرجلَكم‬ ُْ ُ ْ َ ‫إِلَى الكعبَيْن‬ ِ َْْ ‫وإن كنتُم‬ ْ ُْ ْ ِ َ ‫جنُبا‬ ُ ‫فَاطهَّروا‬ ُ َّ ‫وإن كنتُم‬ ْ ُْ ْ ِ َ ‫مرضَى‬ َْ ‫أَو‬ ْ ‫علَى‬ َ ‫سفَر‬ َ ‫أَو‬ ْ ‫تَجدُوا‬ ِ ‫ماء‬ َ ‫فَتَيَمموا‬ ُ َّ ‫صعِيدا‬ َ َ ‫طيبا‬ ِ ‫فَامسحُوا‬ َ ْ ‫بِوجُوهكم‬ ُ ُْ ِ ُ ْ َ ‫وأَيدِيكم‬ ْ ْ ُ‫مِ نه‬ َّ ُ ‫ما يُريدُ اّلل‬ ِ َ ‫ليَجْ عَل‬ َ ِ ُْ َ ‫علَيكم‬ ْ ‫مِ ن حَرج‬ َ ْ ْ َ ‫ولَكِن‬ ُ ‫يُريد‬ ِ ‫ليُطهركم‬ ُْ َِ َ ِ ‫وليُتِم‬ َّ ِ َ ُ‫نِعمتَه‬ َْ ُْ َ ‫علَيكم‬ ْ ‫لَعَلَّكم‬ ُْ َ‫تَشكُرون‬ ُ ْ Hai Sekalian Orang-orang yang beriman apabila Hendak (berdiri) mengerjakan Solat Maka basuhlah Mukamu Dan tanganmu Sampai siku Dan sapulah Kepala kalian Dan (basuh) kaki Sampai mata kaki Dan jika kamu junub Maka mandilah Dan apabila kamu sakit atau dalam perjalanan Atau 1 memperoleh air Maka bertayamumlah Dengan tanah Yang baik (bersih) sapulah mukamu Dan tanganmu Dengan tanah itu Allah tidak menjadikan kamu menyulitkan tetapi Dia hendak membersihkanmu Dan menyempurnakan Nikmat-Nya kepadamu Supaya kamu bersyukur
  • 2. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A َ‫أَحدٌ مِ نكم مِ ن‬ ُْْ َ ْ ِ‫الغَائِط‬ ‫أَو‬ ْ ‫َلمستُم‬ ُ ْ َ َ ‫النِساء‬ َ َ ‫فَلَم‬ ْ Kembali dari Tempat buang air Atau Menyentuh Wanita Kamu tidak C. ‫( ا لتر جمة‬TERJEMAH AYAT) Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit1 atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh2 perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih) sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. D. ‫) معا نى ا ال جما لى‬MAKSUD SECARA GLOBAL( Secara garis besar, Allah SWT menjelaskan 4 hal : 1. Perintah bersuci dan penjelasan tatacara berwudhu, mandi, dan tayammum. 2. Penjelasan tentang uzur yang dapat memindahkan dari wudhu ke tayammum dan sebab-sebabnya. 3. Syukur merupakan alasan pemberian nikmat E. ‫( ا لتفسى اآلسالم‬PENJELASAN AYAT SECARA GLOBAL) 1. ‫يا أَيها الَّذِينَ آمنُوا إذَا قُمتُم إلَى الصالة‬ ِ َ َّ ِ ْ ْ ِ َ َ ُّ َ َ َّ Dalam kamus Al-Munawir, ‫ الصالة‬artinya doa. Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat – syarat yang telah ditentukan (Sidi Gazalba,88). Adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan didalam jiwa rasa kebesaran-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya atau mendzahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua-duanya. (Hasbi Asy-Syidiqi, 59). Dalam konteks ayat di atas, dapat dipahami bahwa perintah berwudhu hanya diwajibkan kepada mereka yang tidak dalam keadaan suci Tatacara Berwudhu :‫فَاغسلُوا وجوهكم وأ َْيديَكم إِلَى المرافِق وامسحوا بِرءوسكم وأَرجلَكم إِلَى الكعبَيْن‬ ُ َ ْ َ ِ َ َْ ُْ ُ ْ َ ُْ ِ ُ ُ ُْ ِ َ ُْ َ ُ ُ ِ ْ ِ َْْ ‫( الغسل‬mencuci/mandi) adalah mengalirkan air atas segala sesuatu yang bertujuan untuk menghilangkan kotoran atau yang lainnya. Sementara ulama menambahkan keharusan menggosok anggota badan saat mengalirkan air. ‫( الوجوه‬jamak dari Wajh/wajah). Dan batas-batas wajah adalah memanjang dari puncak permukaan kening sampai ke bagian paling bawah dagu,dan melebar dari telinga kiri sampai telinga kanan. Mengenai sampai dimanakah orang yang 1 Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air. Artinya: menyentuh. Menurut jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian mufassirin ialah: menyetubuhi. 2 2
  • 3. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A berjanggut panjang mencucinya,terdapat dua pendapat pertama mengatakan wajib membasuhnya dengan air karena ia bertempat pada wajah.Pendapat kedua disunahkan untuk menyela-nyelakan air ke janggut yang tebal 3x (HR.Tirmizi)3. ‫( االىدى‬jamak dari yad/tangan) Batas-batasnya dalam wudhu adalah dari ujung jari sampai ke siku,yang merupakan pangkal zira dan ujung lengan atas (a’dud)4. ‫( الرأس‬kepala, bagian yang diusap adalah bagian selain wajah) Namun,para fuqaha di berbagai kota berbeda pendapat mengenai ukuran minimal yang seharusnya mencapai kefardhuan mengusap kepala. Menurut Asy-Syafi’i, dalam hal ini cukup dengan hanya mengusap sehelai rambut, selama sudah bisa dikatakan mengusap. Sedangkan menurut Iman Malik berkata , “seluruh kepala wajib diusap,untuk ihtiyat (hati-hati). Lalu Menurut Abu Hanifah mewajibkan mengusap seperempat saja karena mengusap dilakukan dengan telapak tangan,sedangkan telapak tangan itu kira-kira seperempat bagian kepala. ‫( الكعبين‬dua mata kaki,yaitu dua tulang yang tampak menonjol di kiri-kanan persendian betis) Maksudnya basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki 2. uzur yang dapat memindahkan dari wudhu ke tayammum dan sebab sebabnya ‫وإِن كنتُم جنُبًا فَاطهروا وإِن كنتُم مرضى أَو علَى سفَر أَو جاء أَحدٌ منكم منَ الغَائِط أَو‬ ُ ْ ُْ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ ْ ُ ْ َ ُ َّ َّ ْ ِ ْ ِ ُِْْ َ َ َ ْ ٍ َ ِْ ُْ ُ‫المستُم النِِّساء فَلَم ت َجد ُوا ماء فَتَيَمموا صعيدًا طيِّبًا فَامسحوا بوجوهكم وأ َْيدِيكم منه‬ َِ ُ َّ ً َ ِ ْ َ َ ُ ْ َ َِ َ ُْ ِ ُ ُِ ُ َ ْ ‫( الجنب‬mufrod,musanna,dan jamak. Juga sebagai muzakkar dan muannas. Yang dimaksud adalah hubungan kelamin ) Maksud ayat,dan apabila junub sebelum mengerjakan salat maka mandilah5 Termasuk keluarnya mani karena mimpi. Kalau kamu sakit,yakni sakit umpamanya seperti cacar,kudis,koreng,luka dan penyakit kulit berbahaya lainnya jika terkena air. Atau kamu dalam perjalanan yang apapun alasannya,sulit melakukan wudhu dan mandi. ‫ ( الغَائط‬secara etimologi artinya tempat atau tanah yang rendah, sedangkan ِ ِ ْ dalam syara’,maksudnya buang air besar atau kecil) maksud ayat atau kamu berhadas dengan hadas yang mewajibkan wudu ketika hendak mengerjakan salat dan lainnya seperti tawaf,yakni hadas kecil. Yang dimaksud mulasamah disini adalah bersentuhan,yang sama-sama dilakukan oleh kedua belah pihak,laki-laki dan perempuan (senggama),yang mewajibkan mandi,yakni disebut hadas besar. Apabila kamu mengalami salah satu dari ketiga keadaan tersebut,yakni sakit,bepergian,atau tidak ada air untuk wudhu atau mandi,maka ambilah tanah (debu) atau suatu tempat permukaan tanah yang suci tanpa najis. Menurut Imam Syafei, tanah yang dapat menyuburkan tumbuhan. Lalu pukulkanlah kedua tanganmu,kemudian usapkan pada wajah dan tangan sampai pergelangan tangan,sehingga bekas tanah itu mengenainya. ْ ِ َ َ َ ْ ِ ُْ ْ َ َ َ َّ 3. Syukur merupakan alasan pemberian nikmat ‫ما يُريد ُ اَّللُ ِليَجْ عل علَيكم من حرجٍ ولَكن‬ ِ َ ُ‫يُريد ُ ِليُطهركم و ِليُتِم نعمتَهُ علَيكم لَعَلَّكم تَشك‬ ُ ْ َ َ ْ ِ َّ َ ْ ُ َ ِِّ َ ْ ُْ َ‫رون‬ ُ ْ ِ 3 Muhammad Nasib Ar-Rifai,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,Jakarta:Gema Insani,2004,jilid 2,hlm 42 Ahmad Mustafa Al-Maraghi,Terjemah Tafsir al maraghi,Semarang: Pt Karya Toha Putra,Jilid 6,hlm. 118 5 Jalaluddin al-Mahally,Jalaluddin Asy-Syuyuthi,Terjemah Tafsir Jalalaen,Bandung:Sinar Baru Gresindo hlm 431 4 3
  • 4. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A Allah tidak menghendaki dalam syariat kesulitan dengan kewajiban-kewajiban berwudhu, mandi dan tayamum itu. Dia tidak memberikan syariat selain yang memuat kebaikan dan manfaat. Akan tetapi,dia hendak membersihkan kamu dari kotoran,kehinaan,kemungkaran. Sehingga kamu menjadi umat yang bertubuh paling bersih,berjiwa paling suci. Dan agar sempurnakan nikmatnya bagimu. Yaitu Islam telah menerangkan syariatsyariat agamanya. Maka disyariatkan keduanya yakni taharah jasmani dan ruhani.di samping membiasakan untuk tetap dekat dan taat kepada Allah,takut jika melakukan kesalahan. Taharah yang Allah jadikan syarat sah solat adalah berfungsi sebagai pembersih jasmani dan pemberi semangat. Dengan mempermudah ibadah,betapa agung nikmat Allah dan betapa wajibnya hamba-hambaNya untuki senantiasa bersyukur,bersyukur atas segala nikmat yang nampak maupun tidak terlihat. F. ‫( التفسىر التفصىلى‬PENJELASAN AYAT SECARA RINCI) Asbabunnuzul ayat (Sebab Turunnya Ayat). Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang isinya antara lain: bahwa dalam suatu perjalanan, kalung Aisyah yang hilang di tempat yang bernama: Baida, sehingga terpaksa rombongan Nabi bermalam di tempat itu. Pada waktu subuh Rasulullah bangun lalu mencari air untuk berwudu tetapi beliau tidak mendapat air, maka turunlah ayat ini. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebagian safar Beliau, sehingga ketika kami berada di tengah lapangan atau berada dalam pasukan, tiba-tiba kalungku lepas, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim beberapa orang untuk mencari kalung itu, sedangkan sebagian lagi tetap bersama Beliau. Saat itu, mereka tidak berada di dekat air dan tidak ada orang yang membawa air, lalu sebagian orang mendatangi Abu Bakar Ash Shiddiq dan berkata, "Tidakkah kamu melihat apa yang dilakukan Aisyah, ia telah membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam di tempat, demikian juga para sahabatnya padahal mereka tidak di dekat air dan tidak ada yang memilikinya." Maka Abu Bakar datang, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertidur meletakkan kepalanya di pahaku. Abu Bakar berkata, "Kamu telah membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat berhenti, padahal mereka tidak di dekat air dan tidak membawa air." Aisyah berkata, "Abu Bakar mencelaku dan berkata kepadaku apa yang dikehendaki Allah. Ia memicit pinggangku dengan tangannya dan tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangun di pagi harinya tanpa memiliki air, maka Allah menurunkan ayat tayammum, lalu mereka pun bertayammum." Usaid bin Khudhair berkata, "Ini bukanlah berkah pertama kali yang datang kepadamu wahai Abu Bakar." Aisyah berkata, "Maka kami bangunkan unta, di mana aku berada di atasnya, lalu kami menemukan kalung di bawahnya." 6 6 Imam Bukhari meriwayatkan di beberapa tempat dalam kitab shahihnya, namun di sana (juz 9 hal. 321) disebutkan, "Kalung milik Asmaa' hilang, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim beberapa orang untuk mencarinya…dst.", sedangkan di juz 11 hal. 135 disebutkan, bahwa Aisyah meminjam kalung itu dari Asmaa'. Dengan demikian kalung tersebut milik Asmaa' yang dipinjam oleh Aisyah radhiyallahu 'anha. 4
  • 5. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A Adapun penjelasan Al-Maidah ayat 6 antara lain : َ َّ 1) ‫ /يا أَيها الَّذِينَ آمنُوا إذَا قُمتُم إلَى الصالة‬Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu ِ ْ ْ ِ َ َ ُّ َ hendak mengerjakan shalat sedangkan kamu dalam keadaan berhadats – batasan ini disebutkan dalam hadits-, maka berwudhulah, yakni basuhlah muka kamu seluruhnya dan tangan kamu ke siku, yakni sampai siku, dan sapulah, sedikit atau sebagian atau seluruh kepala kamu dan basuhlah atau sapulah kedua kaki-kaki sampai kamu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, yakni keluar mani dengan sebab apapun dan atau berhalangan shalat bagi wanita maka mandilah, yakni basahilah seluruh bagian badanmu. sebab Allah tidak menerima shalat tanpa wudhu.7 Menurut jumhur ulama bahwa bersuci itu tidak wajib atas orang yang hendak melakukan salat,kecuali kalau dia hadas. Menurut Quraisy Shihab, “menunjukkan perlunya niat bersuci guna sahnya wudhu, karena kalimat telah akan mengerjakan berarti adanya tujuan mengerjakan, dan tujuan itu adalah niat, dan niat yang dimaksud adalah untuk melaksanakan shalat, bukan untuk membersihkan diri atau semacamnya, baik diucapkan maupun tidak”. Sedangkan menurut Imam Al-Maraghi, “ada dua janji antara seorang hamba dengan Robbnya : janji rububiyyah dan janji ketaatan. Setelah Allah memenuhi janji yang pertama kepada hamba, yaitu dengan menjelaskan yang halal dan haram dalam makanan dan perkawinan, maka Allah meminta kepada hamba untuk memenuhi janji yang kedua, yaitu janji ketaatan. Ketaatan yang paling besar setelah keimanan adalah shalat. Shalat tidak akan sah kecuali dengan bersuci (thaharah). Oleh karena itu Allah menyebutkan fardhu-fardhu wudhu. Jika yang mau mengerjakan shalat dalam keadaan berhadats, ia wajib berwudhu ِّ sesuai dengan sabda Rasulullah saw : “ ‫/ال يقبل اَّلل صالة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ‬Allah tidak menerima shalat salah seorang kamu jika ia berhadats sampai ia berwudhu”. (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim) Tapi jika dalam keadaan berwudhu, maka ia sunnah berwudhu. Sabda Rasululah saw : “ ‫/الوضوء على الوضوء نور على نور‬Wudhu di atas wudhu adalah cahaya di atas cahaya”. (HR. Rozin). Fardhu (rukun) wudhu sebagaimana disebutkan dalam ayat ada 4 : ( ‫ , /فَاغسلُوا وجوهكم وأ َْيديَكم إِلَى المرافِق وامسحوا بِرءوسكم وأَرجلَكم إِلَى الكعبَيْن‬maka basuhlah ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ َْ ُْ ُ ْ َ ُْ ِ ُ ُ ُْ ِ َ َُْ ُ ُ ِ ْ َْ mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki), yaitu : 1. Membasuh muka, yaitu mulai dari rambut sebelah muka atau dahi sampai dengan dagu dan dari telinga kanan sampai telinga kiri. 2. Membasuh dua tangan dengan air bersih mulai dari ujung jari sampai dengan dua siku. 3. Menyapu kepala, cukup menyapu sebagian kecil dari kepala menurut mazhab Syafii. (Menurut mazhab Maliki: harus menyapu seluruh kepala, sedang menurut mazhab Hanafi: cukup menyapu seperempat kepala saja.) 7 M.Quraisy Shihab,Tafsir Al-Misbah,Jakarta:Lentera Hati,jilid 3,hlm 34 5
  • 6. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A 4. Membasuh dua kaki mulai dari jari-jari sampai dengan dua mata kaki. Kesemuanya itu dengan menggunakan air. Perbedaan membasuh dengan menyapu adalah : membasuh adalah mengalirkan air pada sesuatu (yang dibasuh) agar kotoran yang ada padanya hilang, sedangkan menyapu adalah menyentuh sesuatu yang disapu dengan tangan yang basah. Sedang dua rukun lagi yang diambil dari Hadis ialah: a. Niat, pekerjaan hati dan tidak disebutkan dalam ayat ini tetapi niat itu diharuskan pada setiap ibadah sesuai dengan hadis: “ ‫"/ إنما األعمال بالنيات‬Sesungguhnya segala amalan adalah dengan niat". (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab) b. Tertib, artinya mengurutkan pekerjaan tersebut di atas sesuai dengan urutan yang disebutkan Allah dalam ayat ini. Jika diamati ayat di atas, terlihat bahwa anggota badan yang diperintahkan untuk disapu dan dibasuh, disebut dalam susunan urutan dari wajah, tangan, kemudian kembali lagi ke atas yaitu kepala dan terakhir kaki. Jika diambil urutan tubuh manusia, maka seharusnya yang disebut terlebih dahulu adalah kepala, wajah, tangan, dan kaki. Di sisi lain, kata yang digunakan pun berbeda. Ini menunjukkan keharusan adanya urutan dalam melakukan wudhu sesuai dengan urutan yang disebut ayat ini. Demikian pendapat mayoritas ulama, sesuai pula dengan sabda Nabi SAW yang berbunyi : “ ‫/ابدأوا بما بدأ هللا‬Kamu mulailah dengan apa yang dimulai oleh Allah”. (H.R. An Nasa'i dari Jabir bin Abdillah) 2) Setelah Allah menjelaskan wajib menggunakan air dalam berwudhu dan mandi ketika mau shalat, Allah menjelaskan bahwa kewajiban menggunakan air itu terikat dengan dua hal : adanya air dan mampu menggunakan air tanpa menimbulkan bahaya. Jika orang yang mau mengerjakan shalat dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan yang tidak mendapatkan air, maka Allah memberikan kemurahan kepadanya untuk bertayammum lantaran hadats kecil dan hadats besar. Inilah yang disebutkan dalam ayat : ( ‫وإن كنتُم مرضى أَو علَى سفَر أَو جاء أَحد ٌ منكم منَ الغَائِط أَو‬ َ ْ َ ْ َ ْ ُْ ْ ِ َ ْ ِ ْ ِ ُْ ِْ َ َ َ ْ ٍ َ َ ُ ِ ُ ُ ُ َ ْ ِْ ُْ ُ‫ /المستُم النِِّساء فَلَم ت َجد ُوا ماء فَتَيمموا صعيدًا طيِِّبًا فَامسحوا بِوجوهكم وأ َْيدِيكم منه‬dan jika kamu َِ ُ َّ َ ً َ ِ ْ َ َ ُ ْ َ َ َ ْ sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Imam Syafei berpendapat bahwa tanah tersebut berpotensi menumbuhan tumbuhan, sesuai FimanNya : “ Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah” (Q.S.Al-Araf : 58). Imam Ibn Hanbal juga berpendapat sama berpegang kepada hadits Nabi SAW yang menyatakan : “kita diistimewakan atas (umat) manusia yang lain dalam tiga hal ; shaf (barisan) kita seperti shaf-shaf malaikat, dijadikan buat kita semua bumi sebagai masjid (tempat sujud) dan dijadikan tanahnya sebagai sarana penyucian jika kita tidak mendapatkan air” (HR. Muslim). 6
  • 7. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A Iman Abu Hanifah memahaminya segala sesuatu yang merupakan bagian dari bumi termasuk pasir, batu yang tidak najis. Sedangkan Imam Malik lebih memperluas pengertian kata Sha’idan, pepohonan tumbuhan atau semacamnya. Kesimpulan dari perbedaan pendapat di atas adalah tidak ada perbedaan pendapat, semua sepakat menggunakan tanah yang suci. Dalam ayat ini Allah menyebutkan 4 hal yang membolehkan tayammum : 1. dalam keadaan sakit yang tidak bisa menggunakan air karena dikhawatirkan akan memberatkan penyakit. 2. dalam perjalanan yang tidak mendapatkan air (sebetulnya perjalanan itu tidak dimaksud dalam ayat ini, tapi yang dimaksud adalah tidak adanya air, karena biasanya dalam perjalanan orang sulit mendapatkan air). 3. dalam keadaan berhadats kecil yang diungkapkan dengan kembali dari tempat buang air (kakus). Asal arti (‫ )الغَائِط‬adalah tempat yang ِ ْ rendah dari permukaan tanah. Yaitu kiasan dari buang air besar atau kecil. Ayat yang digunakan mengajarkan bagaimana menggunakan kata-kata sopan dalam menceritakan hal-hal yang seharusnya dirahasiakan, untuk menghindari masing-masing lawan bicara tidak diketahui orang, atau malu jika menyebutnya. 4. persentuhan kulit laki-laki dengan perempuan, yang oleh Ali, Ibnu Abbas dan lainnya dari kalangan sahabat, dan sebagian ulama fiqh diartikan jima’; dan oleh Umar dan Ibnu Mas’ud, dan sebagian ulama fiqh diartikan dengan persentuhan kulit biasa. Cara tayammum ialah dengan meletakkan kedua belah telapak tangan kepada debu tanah yang bersih lalu disapukan ke muka, kemudian meletakkan lagi kedua telapak tangan ke atas debu tanah yang bersih, lalu telapak tangan yang kiri menyapu tangan kanan mulai dari belakang jari-jari tangan terus ke pergelangan sampai dengan siku dari siku turun ke pergelangan tangan lagi untuk menyempurnakan penyapuan yang belum tersapu, sedang telapak tangan yang sebelah kanan yang berisi debu tanah untuk disapukan pula ke tangan sebelah kiri dengan cara yang sama seperti menyapu tangan kanan. Demikianlah cara Nabi bertayamum. Menyapu tangan dengan debu sampai siku ini adalah pendapat madzhab Hanafi dan Syafi’I karena tayammum adalah pengganti wudhu, sebagaimana dalam wudhu membasuh tangan sampai siku, maka dalam tayammum juga menyapu tangan sampai siku. Juga berdasarkan hadits mauquf dari Ibnu Umar : “ ‫/التيمم ضربتان: ضربة للوجه، وضربة لليدين إلى المرفقين‬Tayammum itu dua tepukan, pertama untuk wajah, dan kedua untuk kedua tangan sampai kedua siku”. Sedangkan Mazhab Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa bertayamum cukup dengan memukulkan atau menyentuhkan telapak tangan sekali ke tanah, lalu dengan tanah yang ada di telapak tangan itu wajah dan tangan dibasuh. Kemudian di akhir ayat Allah swt berfirman : َّ 3) ( َ‫ /ما يُريد ُ اَّللُ ِليَجْ عَل علَيكم من حرجٍ ولَكن يُريد ُ ِليُطهركم و ِليُتِم نِعمتَهُ علَيكم لَعَلَّكم تَشكرون‬Allah ُ ُ ْ ْ ُ ْ ُ ْ َ َ ْ َّ َ ْ ُ َ ِّ ِ َ ِ ْ ِ َ َ َ ْ ِ ُْ ْ َ َ ِ َ tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur). Pada 7
  • 8. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A akhir ayat ini Allah menyebutkan hikmah disyari’atkannya wudhu dan tayammum, yaitu memberikan kemudahan kepada manusia dan menghilangkan kesulitan dari mereka. Sekali-kali Allah tidak menginginkan kesulitan dalam syari’atnya tentang wudhu, mandi, dan tayammum, karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap mereka. Wudhu dikaitkan/difahami dengan keimanan8; yaitu dibalik wudhu ada nilai syariat yang besar, thaharah ini adalah tindakan aktivitas menyucikan fisik dan ruh sekaligus dalam satu aktivitas,akan tetapi kesucian ruhani lebih kuat. Karena apabila berhalangan menggunakan air,maka yang bersangkutan diharuskan mengganti dengan tayamum ,yang tidak lain untuk mewujudkan aspek ruhani yang lebih kuat,lebih lagi karena Islam ini adalah manhaj umum segala kondisi,hikmah ini tidak hilang oleh kondisi bagaimanapun. Orang beriman mempunyai kekhasan akan adzar/tanda wudhu dan akhlaqnya yang lain. Nanti di hari kiamat adzar wudhu akan terlihat sinarnya, sehingga di sunahkan oleh Rasulullah agar yang terbasuh dilebihkan. Jika membasuh sikut dilebihkan, kepala hendaknya diusap semuanya (walau dalam rukunnya boleh hanya sebagian), dalam rukunnya membasuh hanya sampai mata kaki maka hendaknya membasuhnya dilebihkan hingga kaki. Wajah adalah bagian terpenting hingga dijadikan yang pertama untuk dibasuh. Orang yang berwudhu dianjurkan untuk membasuh lengan atasnya beserta kedua tangannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. Ia mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W bersabda,"Sesunggunya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjaliin (putih bercahaya) karena bekas air wudhu. Barang siapa diantara kalian yang sanggup untuk memperpanjang cahaya putihnya, maka lakukanlah.9 Ketika peristiwa Fathul Mekkah, Rosulullah SAW masuk ke dalam kota Mekkah untuk menaklukannya setelah 11 tahun dia terasing di Madinah, dengan penuh rindu agar satu waktu tanah tumpah darahnya itu dapat hendak dibebaskannya dari masyarakat jahiliyyah. Seketika beliau memasuki kota itu, dengan penuh kemenangan, dan orang-orang yang dahulu memusuhi dan mengusirnya telah berdiri di pinggir jalan menonton kedatangannya dengan penuh ketakutan, kalau-kalau Nabi Muhammad SAW membalas dendam, tetapi apa yang diperbuat ? Beliau mengendarai tunggangannya, tetapi beliau merunduk serendahrendahnya ke bumi, sampai tangannya dapat mencapai tanah. Diambilnya tanah pasir itu segenggam, lalu ditaburkannya ke atas kepalanya sendiri. Untuk menekan perasaannya, jangan sampai merasa sombong atas kemenangannya. 10 Inilah satu analisa mengenai penggantian air dengan tanah untuk tayamum, tujuannya adalah kebersihan lahir dan batin. Apa yang disyariatkan Allah pasti akan membawa kebaikan dan manfaat bagi mereka. Yang diinginkan Allah adalah membersihkan mereka dari segala kotoran fisik dan kotoran non fisik dengan menghilangkan rasa malas dan lesu setelah junub, membangkitkan semangat, membuat jiwa bersih dan tenang dalam bermunajat kepada Allah. Allah juga menginginkan untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka dengan memadukan antara kesucian fisik dengan 8 Sayyid Quthb,Tafsir Fi Zhilalil Quran,Jakarta:Gema Insani,2004,jilid 6,hlm 276 (Fat-hul Baari (I/283);dan Muslim(I/216).[Al-Bukhari no.136, Muslim no.246) 10 Prof Dr Hamka,Tafsir al-azhar,Jakarta: PT Pustaka Panjimas,Juz 6,hlm 145 9 8
  • 9. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A kesucian rohani, menjelaskan cara ibadah, agar mereka dapat menunaikan syukur dan terus bersyukur yang diwajibkan kepada mereka atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Syaikh As Sa'diy membuat kesimpulan dari ayat ini, yang penulis ringkas sbb.: 1. Mengamalkan apa yang disebutkan dalam ayat di atas termasuk bagian dari keimanan, karena Allah memulainya dengan kata-kata "Wahai orang-orang yang beriman!...dst" yakni wahai orang-orang yang beriman! Kerjakanlah apa yang disyari'atkan kepadamu sebagai konsekuensi imanmu. 2. Perintah memasang niat ketika hendak shalat. Hal ini diambil dari katakata "Idzaa qumtum ilash shalaah". 3. Suci (dari hadats kecil dan hadats besar) termasuk syarat sah shalat. 4. Bersuci tidaklah wajib karena masuknya waktu shalat, tetapi wajib karena hendak mengerjakan shalat. 5. Semua perbuatan yang disebut sebagai shalat, baik shalat fardhu maupun sunat, demikian juga yang fardhu kifayah seperti shalat jenazah disyaratkan harus bersuci. Bahkan menurut kebanyakan ulama untuk sujud (saja) disyaratkan harus suci, seperti untuk sujud syukur dan sujud tilawah. 6. Yang wajib adalah mengusap (untuk kepala), oleh karenanya jika seseorang mencuci kepalanya dan tidak menjalankan tangannya, maka belum cukup, karena sama saja ia tidak mengerjakan yang diperintahkan Allah. 7. Perintah membasuh kedua kaki sampai mata kaki, dan dalam hal ini pembahasannya sama dengan membasuh tangan. 8. Di dalam ayat tersebut terdapat bantahan kepada kaum Rafidhah jika menggunakan qira'at (bacaan) jumhur yaitu dengan difat-hahkan lafaz "arjulakum", dan tidak bolehnya mengusap kedua kaki ketika terbuka. 9. Di dalamnya terdapat isyarat menyapu kedua sepatu (khuffain) ketika memakai sepatu, jika lafaz "arjulakum" dikasrahkan menjadi "arjulikum". 10. Perintah tertib adalah dalam keempat anggota badan yang disebutkan dalam ayat di atas (wajah, tangan, kepala dan kaki), adapun tertib dalam hal berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung), atau antara yang kanan dengan kiri (baik tangan atau kaki), maka tidak wajib, namun dianjurkan mendahulukan berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan mendahulukan yang kanan daripada yang kiri serta mendahulukan mengusap kepala daripada mengusap telinga. 11. Perintah mandi dari junub. 12. Wajib meratakan membasuh ke seluruh badan dalam mandi (yakni meratakan air ke seluruh badan), karena Allah menyandarkan kata "tathahhur" (menjadi suci) kepada badan. 13. Hadats kecil ikut masuk ke dalam hadats besar, oleh karenanya hal itu dapat diwakili dengan memasang niat untuk mandi, lalu meratakan air ke seluruh badan, karena Allah tidak menyebut selain "faththahharuu" dan tidak menyebutkan harus mengulangi wudhu'. 9
  • 10. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A 14. Junub mencakup kepada orang yang keluar mani baik dalam keadaan sadar atau sedang tidur atau berjima' meskipun tidak keluar maninya. 15. Barang siapa yang ingat bahwa dirinya mimpi, namun tidak mendapatkan basahnya, maka ia tidak wajib mandi karena belum terwujud junub. 16. Disebutkan nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dengan adanya syari'at tayammum. 17. Termasuk sebab yang membolehkan tayammum adalah sakit yang membahayakan dirinya jika menggunakan air. 18. Termasuk sebab yang membolehkan tayammum adalah safar dan selesai dari buang air kecil atau besar ketika tidak ada air. Untuk sakit boleh bertayammum meskipun ada air jika merasa bahaya menggunakannya, sedangkan yang lain (safar dan buang air) membolehkan tayammum ketika tidak ada air meskipun tidak safar. 19. Yang keluar dari dua jalan; buang air kecil atau buang air besar dapat membatalkan wudhu'. 20. Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini untuk menetapkan tidak batalnya wudhu' kecuali karena dua perkara ini (keluar dari dua jalan), oleh karenanya tidak batal karena memegang kemaluan. 21. Dianjurkan menggunakan kata-kata kiasan untuk hal-hal yang nampak buruk jika diucapkan. 22. Menyentuh wanita dengan syahwat membatalkan wudhu' pembahasan lebih jelasnya lihat catatan kaki sebelumnya]. 23. Syarat tidak adanya air untuk sahnya tayammum. 24. Ketika ada air meskipun sedang dalam shalat, menjadikan tayammumnya batal. 25. Jika telah masuk waktu shalat dan tidak ada air, maka seseorang harus mencarinya di tempatnya atau di sekitarnya, berdasarkan kata-kata "lam yajid". 26. Barang siapa yang mendapatkan air namun kurang cukup untuk menyucikan sebagiannya anggota badannya, maka ia tetap menggunakan air itu, selebiihnya ia tayammumkan. 27. Air yang berubah karena sesuatu yang suci lebih didahulukan daripada bertayammum. Hal itu, karena air yang berubah, tetap dianggap sebagai air sehingga masih masuk dalam kata-kata "falam tajiduu maa'an". 28. Bertayammum harus disertai niat, berdasarkan kata-kata "Fa tayammamuu". 29. Tayammum dianggap cukup dengan segala sesuatu yang nampak di permukaan bumi baik berupa tanah maupun lainnya. Oleh karena itu, ayat "famsahuu biwujuuhikum wa aidiikum minh" bisa karena melihat kepada ghalibnya, yakni pada umumnya ada debu, di mana ia mengusap wajah darinya, bisa juga sebagai pengarahan kepada yang lebih utama, yakni jika permukaan bumi itu ada debunya, maka hal itu lebih utama. 30. Yang ditayammumkan adalah wajah dan tangan saja, tidak anggota badan yang lain. 10
  • 11. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A 31. Lafaz "Biwujuuhikum" mencakup semua wajah, yakni semua wajahnya dikenakan dalam tayammum, hanya saja dikecualikan bagian hidung dan mulut serta yang berada di bawah rambut meskipun tidak lebat. 32. Kedua tangan yang diusap adalah sampai pergelangan saja, karena "kedua tangan" jika disebut secara mutlak adalah sampai pergelangan. Jika disyaratkan sampai ke siku tentu Allah akan sebutkan sebagaimana dalam wudhu'. 33. Ayat ini umum tentang bolehnya bertayammum untuk semua hadats, baik hadts besar maupun hadats kecil, bahkan ketika badan bernajis. Karena Allah menjadikan tayammum sebagai pengganti bersuci dengan menggunakan air. Namun menurut jumhur ulama, tayammum tidak ditujukan jika badan bernajis, karena susunan ayat ini berkenaan dengan hadats. 34. Bagian yang diusap dalam tayammum baik untuk hadats besar maupun hadats kecil adalah sama, yaitu wajah dan tangan. 35. Mengusap dalam tayammum dikatakan cukup dengan apa saja, baik dengan tangan atau lainnya, karena Allah berfirman, "fam sahuuu" dan tidak menyebutkan sesuatu yang digunakan untuk mengusap, sehingga dengan apa saja boleh. 36. Disyaratkan harus tertib dalam bertayammum sebagaimana dalam wudhu', karena Allah memulainya dengan wajah kemudian kedua tangan. 37. Syari'at yang ditetapkan Allah tidak ada sedikit pun kesempitan dan kesulitan, bahkan hal itu merupakan rahmat untuk menyucikan mereka dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka. 38. Sucinya bagian luar dengan air atau tanah merupakan penyempurnaan terhadap kesucian batin seseorang dengan tauhid dan tobat yang sesungguhnya. 39. Bertayammum, meskipun tidak dirasa dan dilihat kesucian seseorang, namun di dalamnya terdapat penyucian maknawi yang muncul dari mengikuti perintah Allah. 40. Sepatutnya seorang hamba mentadabburi hikmah dan rahasia di balik syari'at Allah, baik dalam syari'at bersuci maupun syari'at lainnya agar bertambah pengetahuan dan ilmunya, serta bertambah rasa syukur dan cinta kepada-Nya, di mana syari'at-syari'at itu mencapaikan seseorang kepada derajat-derajat yang tinggi.11 G. ‫( الخال ص‬KESIMPULAN) 1. Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bersuci dan menjelaskan tata caranya. 2. Uzur yang dapat memindahkan dari wudhu ke tayammum adanya air dan mampu menggunakan air tanpa menimbulkan bahaya dan sebab yang disebut adalah junub, sakit dan berpergian (musafir) atau berhadas 11 http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-maidah-ayat-6.html#sthash.YEy1mWd6.dpuf diakses 28 November 2013 pukul 21.00 11
  • 12. Tafsir Al-Quran ; Tentang Wudhu’, Mandi dan Tayammum Rifki Aminuddin_PAI 3A 3. Manusia wajib bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Daftar Pustaka Nasib Ar-Rifai, Muhammad. 2004.Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,Jakarta:Gema Insani, ,jilid 2 Mustafa Al-Maraghi, Ahmad .2004.Terjemah Tafsir al maraghi,Semarang: Pt Karya Toha Putra,Jilid 6 al-Mahally,Asy-Syuyuthi,Jalaluddin.2008.TerjemahTafsir Jalalaen,Bandung:Sinar Baru Gresindo Shihab, M.Quraisy.2002.Tafsir Al-Misbah,Jakarta:Lentera Hati,jilid 3 Quthb, Sayyid . 2004.Tafsir Fi Zhilalil Quran,Jakarta:Gema Insani ,jilid 6 Hamka,Tafsir al-azhar,Jakarta: PT Pustaka Panjimas,Juz 6 http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-maidah-ayat6.html#sthash.YEy1mWd6.dpuf diakses 28 November 2013 pukul 21.00 12