AL ISLAM KEMUHAMMDIYAHAN IV
ULUMUL QUR’AN
DISUSUN OLEH :
‘SEMESTER IV’
1. ANISAH NURJANAH (13040003)
2. DIAN AIDA ARDI (13040008)
3. LINDA KRIATIANINGSIH (13040022)
4. MAYSELA A.P (13040024)
5. NINA INDAH LESTARI (13040028)
SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH TANGERANG
2014-2015
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alikumwr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah AzzaWajalla, atas luasnya limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan sebagaimana
mestinya. Shalawat dan salam tidak luput kami kirimkan atas qudwah kita
Rasulullah Muhammad Shallallahu’AaihiWasalam, senantiasa iltizam diatas
kebenaran hingga akhir zaman.
Penulisan makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah “AIK
IV” pada Jurusan Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang.
Selain itu, makalah ini tidak hanya sekedar wacana, namun dapat menjadi wahana
dalam menjaga dan mengamalkan ajaran agama islam.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini
penuh keterbatasan dan masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, saran yang
konstruktif merupakan bagian yang tak terpisahkan dan senantiasa penulis
harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit kesulitan yang penulis temui,
namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat. Amin YaRabbal’Alamin.
BillahiFisabililHaqFastabiqulKhaerat.
Wassalamu’alaikumwr.wb
Tangerang, 27 Februari 2015
Penulis
1
BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman bagi umat Islam. Al-Qur’an juga
mengandung dan membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia, hampir
dua pertiga ayat-ayat al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat
Islam.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi
Rasulullah Muhammad saw. sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim dan
sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya
dan bernilai abadi. Sebagai mu’jizat, al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab
pula bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama
Islam, dan menjadi sebab pula bagi masuknya orang-orang sekarang dan (insya
Allah) pada masa-masa yang akan datang.
Al Qur'an sebagai dasar hukum yang pertama, dan tidak di ragukan lagi
oleh umat islam bahwa al qur'an adalah sumber yang asasi bagi syariat islam. Dari
al qur'an inilah dasar-dasar hukum islam beserta cabang-cabangnya digali. Agama
islam, agama yang dianut oleh umat muslim di seluruh dunia, merupakan way of
life yang menjamin kebahagian hidup pemeluknya di dunia dan di akherat kelak.
Agama islam datang dengan al qur'annya membuka lebar-lebar mata
manusia agar mereka menyadari jati diri dan hakekat keberadaan manusia di atas
bumi ini. Juga, agar manusia tidak terlena dengan kehidupan ini, sehingga
manusia tidak menduga bahwa hidup mereka hanya di mulai denga kelahiran dan
kematian saja.
Al-qur'an mengajak manusia berpikir tentang kekuasaan Allah SWT. Dan
dengan berbagai dalil, al qur'an juga mengajarkan kepada manusia untuk
membuktikan keharusan adanya hari kebangkitan, dan bahwa kebahagiaan
manusia pada hari itu akan di tentukan oleh sikap persesuaian hidup mereka
dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ulumul Qur’an
1. Pengertian Ulumul Qur’an
Perkataan ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua
kata, yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata “Ulum” adalah bentuk jamak dari kata
“ilm” yang berarti ilmu-ilmu.1 Secara etimologis, kata “al-qur’an” merupakan
bentuk mashdar dari kata Qara’a-Yaqra’u-Qira’atan-Wa Qur’anan yang berarti
bacaan. Secara lengkap Dr. Bakri Syaikh Amin mendefinisikan Al-Qur’an sebagai
berikut:
“Al-Qur’an adalah kalam Allah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada
penutup para nabi dan rasul (Nabi Muhammad saw.) dengan perantaraan
al-Amin (jibril as.), ditulis dalam mashahif, terpelihara dalam dada-dada
manusia, disampaikan secara mutawatir, bacaannya diberi nilai ibadah,
dimulai dengan surat Al-Fatihah, dan diakhiri dengan surat An-Nas.”2
Ungkapan Ulumul Qur’an telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu
dalam kajian islam. Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Al-Qur’an. Kata
“ulumul” yang disandarkan kepada kata “Al-Qur’an” telah memberikan
pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan
dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun dari
segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Dengan
demikian, ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu rasmil Qur’an, ilmu i’jazi Qur’an, ilmu
asbabin nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan Al-Qur’an menjadi
bagian dari ulumul Qur’an.
1 Ramli Abdul Wahid. Ulumul Qur’an edisi revisi, cetakan ke empat. (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002), hlm. 7
2 Moh Matsna. Pendidikan Agama Islam Al-Qur’an Hadits, cetakan pertama. (Semarang,
PT.Karya Toha Putra, 2008), hlm. 4
3
Secara istilah, para ulama telah merumuskan definisi ulumul Qur’an. Al-
Zarqani merumuskan definisi ulumul Qur’an sebagai berikut:3
“Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an al-Karim,
dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya,
bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh dan mansukhnya,
penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan
sebagainya”.
Manna’ al-Qaththan memberikan definisi berikut.
“Ilmu yang mencangkup pembahasan-pembahasan yang berhubungan
dengan Al-Qur’an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya,
pengumpulan Al-Qur’an dan urutan-urutannya, pengetahuan tentang ayat-
ayat makiyah dan madaniah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya
dengan Al-Qur’an.”
Kedua definisi di atas pada dasarnya sama. Keduannya menunjukan bahwa
Ulumul Qur’an adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya
merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu-ilmu ini tidak ke luar dari lmu
agama dan bahasa. Masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan
yang dianggapnya penting. Objek pembahasannya adalah Al-Qur’an.
Adapun perbedaan diantaranya terletak pada tiga hal. Pertama, pada aspek
pembahasannya. Definisi pertama menampilkan sembilan aspek pembahasan dan
yang kedua menampilkan hanya lima daripadanya. Kedua, meskipun keduanya
tidak membataskan pembahasnnya pada aspek-aspek yang ditampilkan, namun
definis pertama lebih luas cakupannya daripada yang kedua. Sebab, definisi
pertama diawali dengan kata mabaahitsu yangmerupakan bentuk jamak yang tak
berhingga (shghah muntaha al-jumu’) dan menyebutkan secara eksplisit
penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keragu-raguan terhadap Al-Qur’an
sebagai bagian dari pembahasannya. Sedangkan definisi yang kedua tidak
demikian. Perbedaan ketiga ialah pada perbedaan aspek pembahasan yang
ditampilkan tidak semuanya sama diantara keduanya. Misalnya, dalam definisi
3 Ramli Abdul Wahid, op.cit. hlm. 8
4
pertama disebutkan bahwa penulisan Al-Qur’an, qiraat, penafsiran, dan
kemukjizatan Al-Qur’an sebagai bagian pembahasannya. Sementara itu, dalam
definisi kedua, semua itu tidak disebutkan. Namun, pengetahuan tentang ayat-ayat
muhkamat dan mutasyabihat yang tidak tersebut dalam definisi pertama
disebutkan dalam definisi kedua.
Dengan melihat persamaan dan perbedaan antara kedua definisi di atas
dapat diketahui bahwa definisi di atas dapat diketahui bahwa definisi pertama
lebih lengkap dibanding dengan definisi kedua. Sebab, cakupan definisi pertama
lebih luas dari yang kedua. Dengan sifat yang luas ini, definisi pertama menjadi
lebih akomodatif terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an yang selalu berkembang.
Penjelasan-penjelasan di atas juga menunjukan adanya dua unsur penting dalam
Ulumul Qur’an. Pertama, bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah
pembahasn. Kedua, pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan
Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun aspek
pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia.4
2. Pembagian Dan Cabang – Cabang Ulumul Qur’an
Ilmu-ilmu Al-Qur’an pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategri.
Pertama, ilmu riwayah, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan
riwayat, seperti bentuk-bentuk qiraat, tempat-tempat turunnya Al-Qur’an, waktu-
waktu turunnya, dan sebab-sebab turunnya. Kedua, ilmu dirayah, yaitu ilmu-ilmu
yang diketahui melalui jalan perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti
mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum,
dan penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.5
Menurut T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu Al-Qur’an
yang terpokok.6
1) Ilmu Mawathin al-Nuzul
4 Ibid., hlm. 9-10
5 Ibid., hlm. 23
6 Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir. (Jakarta; Bulan
Bintang, 1972), hlm. 105-108
5
Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turun ayat, masanya, awalnya dan
akhirnya. Diantara kitab yang membahasa ilmu ini adalah Al-Itqan fi
'Ulum al Qur’an karya Al-Suyuthi.
2) Ilmu Tawarikh al-Nuzul
Ilmu ini menjelaskan masa turun ayat dan urutan turunnya satu persatu,
dari permulaan turunnya sampai akhirnya serta urutan turun surah dengan
sempurna.
3) Ilmu Asbab al-Nuzul
Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turun ayat. Diantara kitab yang penting
dalam hal ini adalah kitab Lubab al-Nuqul karya Al-Suyuthi. Namun,
perlu diingat bahwa banyak riwayat dalam kitab ini yang idak shahih.
4) Ilmu Qiraat
Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan Al-Qur’an yang telah
diterima dari Rasul SAW. ada sepuluh qiraat yang sah dan ada beberapa
macam pula yang tidak sah. Tulisan Al-Qur’an yang beredar di Indonesia
adalah menurut qiraat Hafsh, salah satu qiraat yang tujuh. Kitab yang
paling baik untuk mempelajari ilmu ini adalah Al-Nasyr fi al-Qiraat al-
‘Asyr karangan imam Ibn al-Jazari.
5) Ilmu Tajwid
Ilmu ini menerangkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Ilmu ini
menerangkan di mana tempat memulai, berhati, bacaan yang panjang dan
yang pendek dan sebagainya.
6) Ilmu Gharib al-Qur’an
Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat
dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam
percakapan sehari-hari. Diantara kitab penting dalam ilmu ini adalah Al-
Mufradat li Alfaz al-Qur’an al-Karim karangan Al-Raghib al-Ashfahani.
Kitab seperti ini sangat penting bagi seorang mufassir atau penerjemah Al-
Qur’an.
7) Ilmu I’rab al-Qur’an
6
Ilmu ini menerangkan baris kata-kata Al-Qur’an dan kedudukannya dalam
susunan kalimat. Diantara kitab penting dalam ilmu ini adalah Imla’al-
Rahman karangan Abd al-Baqa al-‘Ukbari.
8) Ilmu Wujuh wa al-Nazair
Ilmu ini menerangkan kata-kata Al-Qur’an yang mengandung banyak arti
dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu. Ilmu ini
dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran karangan Al-Suyuthi.
9) Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih
Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas
maknanya) dan yang Mutasyabih ( samar maknanya, perlu ditakwil). Salah
satu kitab yang menyangkut ilmu ini ialah Al-Manzumah al-Sakhawiah
karangan Al-Sakhawi.
10) Ilmu Nasikh wa al-Mansukh
Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh (yang
dihapuskan) oleh para mufassir. Diantara kitab-kitab yang membahas hal
ini ialah Al-Nasikh wa al-Mansukh karangan Abu Ja’far al-Nahhas, Al-
itqan karangan Al-Suyuti, Tarikh Tasyri’ dan Ushul al-fiqh karangan Al-
Khudhari.
11) Ilmu Badai’ al-Qur’an
Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan Al-Qur’an, dari
sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketiggian balaghahnya. Al-
Suyuti mengungkapkan yang demikian dalam kitabnya Al-Itqan dari
halaman 83 sampai dengan 96 dalam jilid II.
12) Ilmu I’jaz al-Qur’an
Ilmu ini menerangkan keutamaan susunan dan kandngan ayat-ayat Al-
Qur’an sehingga dapat membungkemkan para sastrawan Arab. Diantara
kitab yang membahas ilmu ini adalah I’Jaz Al-Qur’an karangan Al-
Bagillani.
13) Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an
Ilmu ini menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan
ayat yang di depan dan yang di belakangnya. Diantara kitab yang
memaparkan ilmu ini ialah Nazm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqa’i.
7
14) Ilmu Aqsam al-Qur’an
Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah tuhan yang
dikemukakan Al-Qur’an. Ibn al-Qayyim telah membahasnya dalam
kitabnya Al-Tibyan.
15) Ilmu Amtsal Al-Qur’an
Ilmu ini menerangkan maksud perumpamaan-perumpamaan yang
dikemukakan Al-Qur’an. Al-Mawardi telah membahasnya dalam kitabnya
yang berjudul Amtsal al-Qur’an.
16) Ilmu jidad al-Qur’an
Ilmu ini membahas bentukbentuk dan cara-cara debat dan bantahan Al-
Qur’an yang dihadpkan kepada kaum musyrik yang tidamk bersedia
menerima kebenaran dari Tuhan. Najmuddin telah mengumpulkan ayat-
ayat yang menyangkut ilmu ini.
17) Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an
Ilmu ini memaparkan tata cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika
membaca Al-Qur’an. Imam Al-Nawawi talah memaparkanya dalam
kitabnya yang berjudul Kitab al-Tibyan.
B. Nama-Nama Al-Qur’an
Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan beberapa nama. Imam Suyuthi
menyebutkan dalam kitabnya, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, lebih dari lima puluh
nama, yaitu sebagai berikut7 :
1) Al-kitab
2) Al-mubin
3) Al-Qur’an
4) Al-karim
5) Al-kalam
6) An-Nur
7) Al-Huda
8) Ar-Rahman
7 Fatih Masrur. Samudera Ulumul Qur’an jilid 1. (Surabaya,Pt. Bina Ilmu; 2011), hlm. 10
8
9) Al-Furqan
10) Asy-Syif’
11) Al-Mauidzah
12) Adz-Dzikr
13) Al-Mubarak
14) Al-Aliy
15) Al-Hikmah
16) Al-Hakim
17) Al-Muhaimin
18) Al-Habl
19) Ash-Shirat al-Mustaqim
20) Al-Qayyim
21) Al-Qaul
22) Al-Fashl
23) An-Naba’al-‘Adzim
24) Ahsanul Hadits
25) Al-Mutasyabih
26) At-Tanzil
27) Ar-ruh
28) Al-wahyu
29) Al-‘Arabiy
30) Al-Bashair
31) Al-Bayyan
32) Al-‘llm
33) Al-Haq
34) Al-Hadi
35) Al-‘Ajab
36) At-Tadzkirah
37) Al-‘Urwah al-Wutsqa
38) Ash-Shidq
39) Al-‘Adl
40) Al-Amr
9
41) Al-Munadi
42) Al-Busyra
43) Al-Majid
44) Az-Zabur
45) Al-Basyir
46) An-Nadzir
47) Al-‘Aziz
48) Al-Balagh
49) Al-Qashash
50) Ash-Shuhuf
51) Al-Mukarramah
52) Al-Marfu’ah
53) Al-Muthahharah
Abu syahbah menilai, as-Suyuthi telah mencampur-adukkan antara nama
dengan sifat. Beberapa nama Al-Qur’an yang disebutkan as-Suyuthi diatas
sejatinya sejatinya adalah sifat-sifat al-Qur’an, bukannya nama. Lafadz al-Karim
dan al-Mubarak misalnya adalah sifat al-Qur’an, dan bukannya nama baginya.
Demikian pula Lafadz al-Munaidy dan az-Zabur bukanlah nama al-Qur’an,
karena yang dimaksud al-Munadiy ialah Rasul, sedangkan az-Zabur ialah kitab
yang diturunkan Allah kepada Nabi Dawud.
Menurut Masduki Nawawi, nama-nama al-Qur’an antara lain adalah8 :
1) Al-Qur’an, karena al-Qur’an itu disamping berfungsi untuk dipelajari dan
diamalkan ia juga harus dibaca sebagai ibadah yang berpahala.
2) Al-kitab, karena al-Qur’an merupakan kalamullah yang tertulis.
- Firman Allah dalam surat al-Baqarah : 2
Artinya : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 2)
- Firman Allah dalam surat Ali Imran : 3
8 Ibid., hlm. 11-12
10
Artinya : “Dia menurunkan al-kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan
sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan
sebelumnya....”. (QS. Ali Imran : 3)
3) Al-Furqan, sebab al-Qur’an pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
- Firman Allah dalam surat al-Furqan ayat 1
Artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Al-Qur’an)
kepada Hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam.” (QS. Al- Furqan : 1)
Hanya saja perlu diketahui bahwa, pemakaian kedua nama diatas (al-kitab
dan al-Furqan) tidak hanya untuk al-Qr’an saja, tetapi juga untuk selain al-Qur’an.
Sebagai contoh adalah penggunaan al-kitab untuk kitab suci Nabi Musa, misalnya
dalam surat al-Mukminun ayat 49.
Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-kitab (Taurat) kepada
Musa agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk.” (al-
Mukminun : 49)
Juga penggunaan nama al-Furqan untuk kitab suci Nabi Musa dan Nabi
Harun, terdapat dalam surat al-Anbiya’ ayat 48.
11
Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun
kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang
yang bertakwa.” (QS. Al-Anbiya’ : 48)
4) Adz-Dzikr, sebab al-Qur’an berisi peringatan-peringatan kepada manusia.
Firman allah dalam surat al-Hijr ayat 9
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-
Hijr : 9)
5) At-Tanzil, karena al-Qur’an merupakan kalamullah yang diwahyukan dan
diturunkan dari Allah swt.
- Firman Allah dalam surat asy-Syu’ara’ ayat 192
Artinya : “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh
Tuhan semesta alam.”(QS. Asy-Syu’ara : 192)
6) Dan lain-lain
Abdullah Daraz berpendapat bahwa diantara nama-nama tersebut, yang
paling populer ialah al-Qur’an dan al-Kitab.
C. SIFAT-SIFAT AL-QUR’AN
Al-Qur’an mensifati dirinya dengan banyak sifat. Diantaranya adalah9 :
1) Huda (petunjuk), Syifa (obat), rahmat, dan mauidzah (nasehat). Hal ini
tampak jelas dalam firman Allah surat Yunus ayat 57 :
9 Ibid., hlm. 12-14
12
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit–penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang
yang beriman.”(QS. Yunus : 57)
2) Nur (cahaya). Hal ini teridentifikasi dari surat an-Nisa’ ayat 174 :
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti
kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya)
dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang
benderang (al-Qur’an).” (QS. An-Nisa’ : 174)
3) Mubarak (yang diberkahi atau mengandung berkah). Sifat ini nampak
dalam surat al-An’am ayat 92 :
Artinya : “Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang
diberkahi ....”. (QS. Al-An’am : 92)
4) Mubin (menjelaskan). Lihat misalnya surat al-Maidah ayat 15 :
Artinya : “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kapadamu Rasul
Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang
kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya.
13
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan
kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah : 15)
5) Busyra ( kabar gembira). Hal ini tampak dalam surat al-Baqarah ayat 97 :
Artinya : “Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka
Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) kedalam hatimu
dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi
orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah : 97)
6) Aziz (mulia). Lihat dalam surat Fusshilat ayat 41 :
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika
al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan
celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang
mulia.” (QS. Fusshilat : 41)
7) Majid (mulia,agung). Firman Allah dalam surat al-Buruj ayat 21 :
Artinya : “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang
mulia.” (QS. Al-Buruj : 21)
8) Basyir ( pembawa kabar gembira) dan Nadzir (pembawa peringatan). Hal
ini terlihat misalnya dalam surat Fusshilat ayat 4 :
14
Artinya : “Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan,
tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.
”(QS. Fusshilat : 4)
9) Dan lain-lain.
D. Kedudukan Al-Qur’an dalam Islam
Jelaslah bahwa Al-Qur’an adalah sumber yang asasi bagi syari’at (hukum)
islam. Dari Al-Qur’an-lah dasar-dasar hukum islam beserta cabang-cabangnya
digali.
Agama islam merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup
pemeluknya di dunia dan di akhirat.
Agama islam datang dengan Al-Qur’annya membuka lebar-lebar mata
manusia, agar mereka menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di
pentas bumi ini. Juga agar mereka tidak terlena dengan kehiduoan ini, sehingga
mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan
berakhir dengan kematiaan.
Al-Qur’an mengajak mereka berfikir tentang kekuasaan Allah. Dan
dengan berbagai dalil, kitab suci itu juga mengajak mereka untuk membuktikan
keharusan adanya hari kebangkitan, dan bahwa kebahagiaan mereka pada hari itu
akan ditentukan oleh persesuaian sikap hidup mereka dengan apa yang
dikehendaki oleh Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa.
Untuk mencapai kebahagian hidup di akhirat kelak manusia memerlukan
peraturan-peraturan. Manusia memiliki kelemahan-kelemahan, antara lain ia
sering bersifat egoistis. Di samping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran
itu, jika ia yang diserahi tugas untuk membuat peraturan-peraturan untuk
mencapai kebahagiaan hidup di akhirat, maka diduga keras bahwa ia di sampin
hanya akan mementingkan dan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan terbatas
bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.
Jika demikian, maka “sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Maha Mrngetahui,
Allah SWT. dan peraturan yang dibuatnya itu disebut “ agama”.
15
Namun tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas
dengan Tuhan, maka untuk memperoleh informasi-Nya itu, Tuhan memilih orang-
orang tertentu yang memilki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk
menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terplih itu
dinamai nabi atau rasul.
Dan para nabi atau rasul yang menerima informasi dari Tuhan untuk
disampaikan kepada manusia itu, harus diberi bukti-bukti agar manusia mau
menerimanya. Bukti-bukti itu dalam islam disebut Mukjizat. Dan mukjizat yang
diberikan kepada nai akhir zaman, penutup para nabi dan rasul adalah Al-Qur’an
Al-Karim.
Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama bagi hukum islam dan
pedoman hidup manusia.10
Dalam sumber yang berbeda disebutkan Kedudukan Al-Qur’an dalam
Islam sebagai berikut :
1. Al-Qur’an sebagai sumber berbagai disiplin ilmu keislaman
Disiplin ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an di antaranya yaitu:
a. Ilmu Tauhid (Teologi)
b. Ilmu Hukum
c. Ilmu Tasawuf
d. Ilmu Filasafat Islam
e. Ilmu Sejarah Islam
f. Ilmu Pendidikan Islam
2. Al-Quran sebagai Wahyu Allah SWT yaitu seluruh ayat Al-Qur’an adalah
wahyu Allah; tidak ada satu kata pun yang datang dari perkataan atau
pikiran Nabi.
3. Kitabul Naba wal akhbar (Berita dan Kabar) arinya, Al-Qur’an merupakan
khabar yang di bawah nabi yang datang dari Allah dan di sebarkan kepada
manusia.
4. Minhajul Hayah (Pedoman Hidup), sudah seharusnya setiap Muslim
menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan terhadap setiap problem yang di
hadapi.
10 Moh Matsna,op.cit. hlm. 56-57
16
5. Al-Quran sebagai suatu yang bersifat Abadi artinya, Al-Qur’an itu tidak akan
terganti oleh kitab apapun sampai hari kiamat baik itu sebagai sumber hukum,
sumber ilmu pengetahuan dan lain-lain.
6. Sebagai salah satu sebab masuknya orang arab ke agama Islam pada zaman
rasulallah dan masuknya orang-orang sekarang dan yang akan datang.
7. Al-Qur’an di nukil secara mutawattir artinya, Al-Qur’an disampaikan kepada
orang lain secara terus-menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin
bersepakat untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan berbeda-
bedanya tempat tinggal mereka.
8. Al-Qur’an sebagai sumber hukum, seluruh mazhab sepakat Al-Qur’an
sebagai sumber utama dalam menetapkan hukum, dalam kata lain bahwa Al-
Qur’an menempati posisi awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah.15
9. Al-Qur’an di sampaikan kepada nabi Muhammad secara lisan artinya, baik
lafaz ataupun maknanya dari Allah SWT.
10. Al-Qur’an termaktub dalam Mushaf, artinya bahwa setiap wahyu Allah
yang lafaz dan maknanya berasal dari-Nya itu termaktub dalam Mushaf
(telah di bukukan).
11. Agama islam datang dengan al qur'annya membuka lebar-lebar mata
manusia agar mereka manyadari jati diri dan hakikat hidup di muka bumi.
E. Fungsi dan Tujuan Al-Qur’an Diturunkan
1. Petunjuk Bagi Manusia
Sudah tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT.
sebagai petunjuk bagi manusia yang bertaqwa kepada-Nya, dan menjadi pedoman
bagi kehidupan mereka.11
Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah,
syari’ah, dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai
persoalan-persoalan tersebut.; dan Allah menugaskan Rasul saw., untuk
memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu.
Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 2-4 yang artinya:
11 Ibid., hlm. 52-55
17
“ Kitab ( Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada
yang gaib, melaksanakan salat, menginfakan sebagian rezeki yang
kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada
(Al-Qur’an) yang diturunkan kepdamu (Muhammad) dan (kitab-
kitab) yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan
adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah : 2-4)
Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan ke dunia ini,
disamping menjadi petunjuk, juga berfungsi untuk mewujudkan ishlah
(perbaikan) hal ihwal manusia. Hal-hal yang akan membawa kebaikan hidup
manusia diperingatkan agar dikerjakan dengan sebaik-baiknya, dan hal-hal yang
akan membawa kerugian agar ditinggalkannya. Untuk itulah Allah SWT.
menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar (amar makruf nahi munkar),
menhalalkan yang baik dan suci, serta mengharamkan yang buruk dan kotor.
Melalui Rasulullah, Allah SWT. menyuruh dan melarang hal-hal tersebut di atas.
2. Sumber Pokok Ajaran Islam
Allah SWT. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 89
Artinya: “ Dan kami turunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk
menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl : 89)
Sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa di dalam Al-Qur’an Allah
terangkan segala sesuatu yang diperlukan manusia, baik mengenai urusan akhirat
maupun dunia. Penerangan-penerangan itu adakalanya disampaikan secara garis
besarnya saja (mujmal), adakalanya secara rinci (mufashshal).
Di dalam Al-Qur’an, Allah menerangkan kaidah-kaidah syari’at serta
hukum-hukum-Nya yang cocok diterapkan di segala zaman dan tempat, serta
diperuntukan bagi seluruh umat manusia, tidak dibatasi untuk suatu golongan atau
suatu bangsa saja. Di dalam Al-Qur’an Allah menerangkan hukum yang kully
18
(menyeluruh), akidah yang tegas, dalil atau hujjah yang kuat dan akurat untuk
menyatakan kebenaran agama islam. Karena itulah, maka Al-Qur’an dapat
berlaku sepanjang Zaman, hukum-hukumnya yang kully terus dijadikan sumber
hukum bagi hukum-hukum yang lain.
3. Peringatan dan Pelajaran Bagi Manusia
Di dalam Al-Qur’an bnayk terdapat kisah para nabi atau rasul beserta
rasul-Nya. Ada yang mengungkapkan kebaikan-kebaikannya yaitu keatuhan dan
ketaatan umat kepada rasulnya, dan ada yang mengungkapkan keburukan-
keburikannya yaitu keingkaran dan kesombongan umat kepada Rasulnya.
Kesemuaannya itu merupakan peringatan dan pelajara bagi kita. Kisah-kisah
dalam Al-Qur’an itu hanya diamksudkan untuk menguraikan sejarah, melainkan
yang terpenting ialah menggambarkan bagaimana cara yang ditempuh oleh para
nabi atau para rasuldahulu dalam mengembangkan dan menyerukepada kebaikan.
Juga bagaimana tantangan dan penderitaan yang mereka hadapi yang merupakan
peringatan dan penjalaran bagi para penegak agama yang membawa kebenaran
yang hakiki.
Di samping kisah-kisah bisa dijadikan peingatan dan pelajaran bagi
manusia, di dalam Al-Qur’an juga terdapat banyak perumpamaan-perumpamaan
atau amtsal, seperti Al-Qur’an menggambarkan orang yang baik, banyak berguna
bagi manusia lainnya dengan perumpamaan lebah.
Allah SWT. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 68-69 yang artinya,
“ Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘buatlah sarang di gunung-
gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)’. Dari perut
lebah itu keluar minuman (madu) bermacam-macam warnanya, di
dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda ( kebesaran Allah)
bagi orang yang berfikir “( QS. An-Nahl: 68-69).
19
F. Fungsi Al-Qur’an Dari Sudut Subtansinya
Dari sudut subtansinya, fungsi Al-Qur’an sebagaimana tersurat nama-
namanya dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
a. Al-Huda (petunjuk), Dalam al-Qur'an terdapat tiga kategori tentang
posisi al-Qur'an sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia
secara umum. Kedua, al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang-orang
bertakwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang yang beriman.12
b. Al-Furqon (pemisah), Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia adalah
ugeran untuk membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak
dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
c. Al-Asyifa (obat). Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia berfungsi sebagai
obat bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada (mungkin yang
dimaksud disini adalah penyakit Psikologis)
d.Al-Mau’izah (nasihat), Didalam Al-Qur’an di katakan bahwa ia
berfungsi sebagai penasihat bagi orang-orang yang bertakwa.
G. Fungsi Al-Qur’an di lihat dari realitas kehidupan manusia
Di lihat dari realitas kehidupan manusia yakni:
a. Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang lurus bagi kehidupan manusia
b. Al-Qur’an sebagai mukjizat bagi Rasulallah SAW.13
c. Al-Qur’an menjelaskan kepribadian manusia dan ciri-ciri umum yang
membedakannya dari makhluk lain.14
d. Al-Qur’an sebagai korektor dan penyempurna kitab-kitab Allah
sebelumnya
e. Menjelaskan kepada manusia tentang masalah yang pernah
di perselisikan ummat Islam terdahulu.
f. Al-Qur’an berfungsi Memantapkan Iman.13
g. Tuntunan dan hukum untuk menempuh kehiduapan.
12 Nur Kholis. Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadits. (Yogyakarta; TERAS, 2008), hlm.32
13 Muhammad Bambang Irawam, Fungsi-fungsi Al-Qur’an
14 Anwar Rosihan, Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Bandung; CV Pustaka Setia,2009), hlm.15
20
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang di Wahyukan kepada Nabi
Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril. Para ulama banyak yang
berbeda menafsirkan makna Al-Qur’an tetapi kesemuanya mempunyai tujuan
yang sama dan semuanya mensepakati bahwa AL-Qur’an itu memang benar di
bawah oleh Nabi Muhammad SAW.
Al-Qur’an mempunyai nama-nama lain serta fungsi dan kedudukan yang
sangat besar bagi manusia untuk mamahami tentang jati diri dan hakikat hidupnya
di permukaan bumi ini. Al-Qur’an merupakan pedoman pertama bagi manusia
setelah yang keduanya Hadits, yang merupakan sumber hukum pertama bagi
manusia dan tidak ada satupun yang dapat mengganti kedudukan Al-Qu’an
sebagai sumber hukum Isalam, Al-Qur’an itu membahas segala sesuatu secara
global misalnya, Al-Qur’an membahas tentang Sastra tapi Al-Qur’an bukan
merupakan buku sastra tetapi ia membahas sastra yang sangat tinggi dan
sebagainya.
B. SARAN
Setelah kita memahami fungsi dan kadudukan Al-Qur’an tersebut secara
utuh maka kita dapat menjadikan Al-Qur’an sesuatu yang sangat berperan secara
langsung bagi keberlangsungan kehiduapan ummat manusia di permukaan bumi
ini, karna tanpa adanya Al-Qur’an tersebut maka peradapan manusia saat ini akan
kacau, tidak ada rasa hormat antara manusia, tidak terjalinnya silaturahim antara
Muslim, keadaan kehidupan manusia semraut, terjadinya penghardian terhadap
anak yatim dan sebagainya.
21
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1972. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-
Qur’an/Tafsir. Bulan Bintang: Jakarta
Masrur, Fatih. 2011. Samudera Ulumul Qur’an jilid 1. PT Bina Ilmu:
Surabaya
Matsna. 2008. Pendidikan Agama Islam Al-Qur’an Hadits. PT karya
Toha Putra: Semarang
Wahid, Ramli Abdul. 2002. Ulumul Qur’an edisi revisi, cetakan
keempat. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta
Drs. Hafidz Abdurrahman, M.A. 2003. Ulumul Qur’an Praktis
(Pengantar Untuk Memahami Al-Qur’an), cetakan pertama. CV.
IdeA Pustaka Utama: Bogor
Nur Kholis,M.Ag. 2008. Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadits , Penerbit
Teras: Depok Sleman Yogyakarta
Bambang Irawan Muhammad. Fungsi-Fungsi Al-Qur’an
Dr.Anwar Rosihan, M.Ag, 2009. Pengantar Ilmu Al-Qur’an. CV Pustaka
Setia: Bandung

ulumul qur'an

  • 1.
    AL ISLAM KEMUHAMMDIYAHANIV ULUMUL QUR’AN DISUSUN OLEH : ‘SEMESTER IV’ 1. ANISAH NURJANAH (13040003) 2. DIAN AIDA ARDI (13040008) 3. LINDA KRIATIANINGSIH (13040022) 4. MAYSELA A.P (13040024) 5. NINA INDAH LESTARI (13040028) SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH TANGERANG 2014-2015
  • 2.
    i KATA PENGANTAR Assalamu’alikumwr.wb. Puji syukurpenulis panjatkan kehadirat Allah AzzaWajalla, atas luasnya limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam tidak luput kami kirimkan atas qudwah kita Rasulullah Muhammad Shallallahu’AaihiWasalam, senantiasa iltizam diatas kebenaran hingga akhir zaman. Penulisan makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah “AIK IV” pada Jurusan Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang. Selain itu, makalah ini tidak hanya sekedar wacana, namun dapat menjadi wahana dalam menjaga dan mengamalkan ajaran agama islam. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini penuh keterbatasan dan masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, saran yang konstruktif merupakan bagian yang tak terpisahkan dan senantiasa penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit kesulitan yang penulis temui, namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amin YaRabbal’Alamin. BillahiFisabililHaqFastabiqulKhaerat. Wassalamu’alaikumwr.wb Tangerang, 27 Februari 2015 Penulis
  • 3.
    1 BAB I PENDAHULUAN Al-Qur’an berfungsisebagai pedoman bagi umat Islam. Al-Qur’an juga mengandung dan membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia, hampir dua pertiga ayat-ayat al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat Islam. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw. sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya dan bernilai abadi. Sebagai mu’jizat, al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab pula bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab pula bagi masuknya orang-orang sekarang dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Al Qur'an sebagai dasar hukum yang pertama, dan tidak di ragukan lagi oleh umat islam bahwa al qur'an adalah sumber yang asasi bagi syariat islam. Dari al qur'an inilah dasar-dasar hukum islam beserta cabang-cabangnya digali. Agama islam, agama yang dianut oleh umat muslim di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagian hidup pemeluknya di dunia dan di akherat kelak. Agama islam datang dengan al qur'annya membuka lebar-lebar mata manusia agar mereka menyadari jati diri dan hakekat keberadaan manusia di atas bumi ini. Juga, agar manusia tidak terlena dengan kehidupan ini, sehingga manusia tidak menduga bahwa hidup mereka hanya di mulai denga kelahiran dan kematian saja. Al-qur'an mengajak manusia berpikir tentang kekuasaan Allah SWT. Dan dengan berbagai dalil, al qur'an juga mengajarkan kepada manusia untuk membuktikan keharusan adanya hari kebangkitan, dan bahwa kebahagiaan manusia pada hari itu akan di tentukan oleh sikap persesuaian hidup mereka dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa.
  • 4.
    2 BAB II PEMBAHASAN A. UlumulQur’an 1. Pengertian Ulumul Qur’an Perkataan ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata “Ulum” adalah bentuk jamak dari kata “ilm” yang berarti ilmu-ilmu.1 Secara etimologis, kata “al-qur’an” merupakan bentuk mashdar dari kata Qara’a-Yaqra’u-Qira’atan-Wa Qur’anan yang berarti bacaan. Secara lengkap Dr. Bakri Syaikh Amin mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah kalam Allah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul (Nabi Muhammad saw.) dengan perantaraan al-Amin (jibril as.), ditulis dalam mashahif, terpelihara dalam dada-dada manusia, disampaikan secara mutawatir, bacaannya diberi nilai ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah, dan diakhiri dengan surat An-Nas.”2 Ungkapan Ulumul Qur’an telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian islam. Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Al-Qur’an. Kata “ulumul” yang disandarkan kepada kata “Al-Qur’an” telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu rasmil Qur’an, ilmu i’jazi Qur’an, ilmu asbabin nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an. 1 Ramli Abdul Wahid. Ulumul Qur’an edisi revisi, cetakan ke empat. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 7 2 Moh Matsna. Pendidikan Agama Islam Al-Qur’an Hadits, cetakan pertama. (Semarang, PT.Karya Toha Putra, 2008), hlm. 4
  • 5.
    3 Secara istilah, paraulama telah merumuskan definisi ulumul Qur’an. Al- Zarqani merumuskan definisi ulumul Qur’an sebagai berikut:3 “Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an al-Karim, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya”. Manna’ al-Qaththan memberikan definisi berikut. “Ilmu yang mencangkup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan Al-Qur’an dan urutan-urutannya, pengetahuan tentang ayat- ayat makiyah dan madaniah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an.” Kedua definisi di atas pada dasarnya sama. Keduannya menunjukan bahwa Ulumul Qur’an adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu-ilmu ini tidak ke luar dari lmu agama dan bahasa. Masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan yang dianggapnya penting. Objek pembahasannya adalah Al-Qur’an. Adapun perbedaan diantaranya terletak pada tiga hal. Pertama, pada aspek pembahasannya. Definisi pertama menampilkan sembilan aspek pembahasan dan yang kedua menampilkan hanya lima daripadanya. Kedua, meskipun keduanya tidak membataskan pembahasnnya pada aspek-aspek yang ditampilkan, namun definis pertama lebih luas cakupannya daripada yang kedua. Sebab, definisi pertama diawali dengan kata mabaahitsu yangmerupakan bentuk jamak yang tak berhingga (shghah muntaha al-jumu’) dan menyebutkan secara eksplisit penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keragu-raguan terhadap Al-Qur’an sebagai bagian dari pembahasannya. Sedangkan definisi yang kedua tidak demikian. Perbedaan ketiga ialah pada perbedaan aspek pembahasan yang ditampilkan tidak semuanya sama diantara keduanya. Misalnya, dalam definisi 3 Ramli Abdul Wahid, op.cit. hlm. 8
  • 6.
    4 pertama disebutkan bahwapenulisan Al-Qur’an, qiraat, penafsiran, dan kemukjizatan Al-Qur’an sebagai bagian pembahasannya. Sementara itu, dalam definisi kedua, semua itu tidak disebutkan. Namun, pengetahuan tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang tidak tersebut dalam definisi pertama disebutkan dalam definisi kedua. Dengan melihat persamaan dan perbedaan antara kedua definisi di atas dapat diketahui bahwa definisi di atas dapat diketahui bahwa definisi pertama lebih lengkap dibanding dengan definisi kedua. Sebab, cakupan definisi pertama lebih luas dari yang kedua. Dengan sifat yang luas ini, definisi pertama menjadi lebih akomodatif terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an yang selalu berkembang. Penjelasan-penjelasan di atas juga menunjukan adanya dua unsur penting dalam Ulumul Qur’an. Pertama, bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah pembahasn. Kedua, pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia.4 2. Pembagian Dan Cabang – Cabang Ulumul Qur’an Ilmu-ilmu Al-Qur’an pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategri. Pertama, ilmu riwayah, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan riwayat, seperti bentuk-bentuk qiraat, tempat-tempat turunnya Al-Qur’an, waktu- waktu turunnya, dan sebab-sebab turunnya. Kedua, ilmu dirayah, yaitu ilmu-ilmu yang diketahui melalui jalan perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum, dan penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.5 Menurut T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu Al-Qur’an yang terpokok.6 1) Ilmu Mawathin al-Nuzul 4 Ibid., hlm. 9-10 5 Ibid., hlm. 23 6 Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir. (Jakarta; Bulan Bintang, 1972), hlm. 105-108
  • 7.
    5 Ilmu ini menerangkantempat-tempat turun ayat, masanya, awalnya dan akhirnya. Diantara kitab yang membahasa ilmu ini adalah Al-Itqan fi 'Ulum al Qur’an karya Al-Suyuthi. 2) Ilmu Tawarikh al-Nuzul Ilmu ini menjelaskan masa turun ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan turunnya sampai akhirnya serta urutan turun surah dengan sempurna. 3) Ilmu Asbab al-Nuzul Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turun ayat. Diantara kitab yang penting dalam hal ini adalah kitab Lubab al-Nuqul karya Al-Suyuthi. Namun, perlu diingat bahwa banyak riwayat dalam kitab ini yang idak shahih. 4) Ilmu Qiraat Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan Al-Qur’an yang telah diterima dari Rasul SAW. ada sepuluh qiraat yang sah dan ada beberapa macam pula yang tidak sah. Tulisan Al-Qur’an yang beredar di Indonesia adalah menurut qiraat Hafsh, salah satu qiraat yang tujuh. Kitab yang paling baik untuk mempelajari ilmu ini adalah Al-Nasyr fi al-Qiraat al- ‘Asyr karangan imam Ibn al-Jazari. 5) Ilmu Tajwid Ilmu ini menerangkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhati, bacaan yang panjang dan yang pendek dan sebagainya. 6) Ilmu Gharib al-Qur’an Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Diantara kitab penting dalam ilmu ini adalah Al- Mufradat li Alfaz al-Qur’an al-Karim karangan Al-Raghib al-Ashfahani. Kitab seperti ini sangat penting bagi seorang mufassir atau penerjemah Al- Qur’an. 7) Ilmu I’rab al-Qur’an
  • 8.
    6 Ilmu ini menerangkanbaris kata-kata Al-Qur’an dan kedudukannya dalam susunan kalimat. Diantara kitab penting dalam ilmu ini adalah Imla’al- Rahman karangan Abd al-Baqa al-‘Ukbari. 8) Ilmu Wujuh wa al-Nazair Ilmu ini menerangkan kata-kata Al-Qur’an yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu. Ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran karangan Al-Suyuthi. 9) Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang Mutasyabih ( samar maknanya, perlu ditakwil). Salah satu kitab yang menyangkut ilmu ini ialah Al-Manzumah al-Sakhawiah karangan Al-Sakhawi. 10) Ilmu Nasikh wa al-Mansukh Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh (yang dihapuskan) oleh para mufassir. Diantara kitab-kitab yang membahas hal ini ialah Al-Nasikh wa al-Mansukh karangan Abu Ja’far al-Nahhas, Al- itqan karangan Al-Suyuti, Tarikh Tasyri’ dan Ushul al-fiqh karangan Al- Khudhari. 11) Ilmu Badai’ al-Qur’an Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan Al-Qur’an, dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketiggian balaghahnya. Al- Suyuti mengungkapkan yang demikian dalam kitabnya Al-Itqan dari halaman 83 sampai dengan 96 dalam jilid II. 12) Ilmu I’jaz al-Qur’an Ilmu ini menerangkan keutamaan susunan dan kandngan ayat-ayat Al- Qur’an sehingga dapat membungkemkan para sastrawan Arab. Diantara kitab yang membahas ilmu ini adalah I’Jaz Al-Qur’an karangan Al- Bagillani. 13) Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an Ilmu ini menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang di belakangnya. Diantara kitab yang memaparkan ilmu ini ialah Nazm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqa’i.
  • 9.
    7 14) Ilmu Aqsamal-Qur’an Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah tuhan yang dikemukakan Al-Qur’an. Ibn al-Qayyim telah membahasnya dalam kitabnya Al-Tibyan. 15) Ilmu Amtsal Al-Qur’an Ilmu ini menerangkan maksud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Al-Qur’an. Al-Mawardi telah membahasnya dalam kitabnya yang berjudul Amtsal al-Qur’an. 16) Ilmu jidad al-Qur’an Ilmu ini membahas bentukbentuk dan cara-cara debat dan bantahan Al- Qur’an yang dihadpkan kepada kaum musyrik yang tidamk bersedia menerima kebenaran dari Tuhan. Najmuddin telah mengumpulkan ayat- ayat yang menyangkut ilmu ini. 17) Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an Ilmu ini memaparkan tata cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca Al-Qur’an. Imam Al-Nawawi talah memaparkanya dalam kitabnya yang berjudul Kitab al-Tibyan. B. Nama-Nama Al-Qur’an Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan beberapa nama. Imam Suyuthi menyebutkan dalam kitabnya, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, lebih dari lima puluh nama, yaitu sebagai berikut7 : 1) Al-kitab 2) Al-mubin 3) Al-Qur’an 4) Al-karim 5) Al-kalam 6) An-Nur 7) Al-Huda 8) Ar-Rahman 7 Fatih Masrur. Samudera Ulumul Qur’an jilid 1. (Surabaya,Pt. Bina Ilmu; 2011), hlm. 10
  • 10.
    8 9) Al-Furqan 10) Asy-Syif’ 11)Al-Mauidzah 12) Adz-Dzikr 13) Al-Mubarak 14) Al-Aliy 15) Al-Hikmah 16) Al-Hakim 17) Al-Muhaimin 18) Al-Habl 19) Ash-Shirat al-Mustaqim 20) Al-Qayyim 21) Al-Qaul 22) Al-Fashl 23) An-Naba’al-‘Adzim 24) Ahsanul Hadits 25) Al-Mutasyabih 26) At-Tanzil 27) Ar-ruh 28) Al-wahyu 29) Al-‘Arabiy 30) Al-Bashair 31) Al-Bayyan 32) Al-‘llm 33) Al-Haq 34) Al-Hadi 35) Al-‘Ajab 36) At-Tadzkirah 37) Al-‘Urwah al-Wutsqa 38) Ash-Shidq 39) Al-‘Adl 40) Al-Amr
  • 11.
    9 41) Al-Munadi 42) Al-Busyra 43)Al-Majid 44) Az-Zabur 45) Al-Basyir 46) An-Nadzir 47) Al-‘Aziz 48) Al-Balagh 49) Al-Qashash 50) Ash-Shuhuf 51) Al-Mukarramah 52) Al-Marfu’ah 53) Al-Muthahharah Abu syahbah menilai, as-Suyuthi telah mencampur-adukkan antara nama dengan sifat. Beberapa nama Al-Qur’an yang disebutkan as-Suyuthi diatas sejatinya sejatinya adalah sifat-sifat al-Qur’an, bukannya nama. Lafadz al-Karim dan al-Mubarak misalnya adalah sifat al-Qur’an, dan bukannya nama baginya. Demikian pula Lafadz al-Munaidy dan az-Zabur bukanlah nama al-Qur’an, karena yang dimaksud al-Munadiy ialah Rasul, sedangkan az-Zabur ialah kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Dawud. Menurut Masduki Nawawi, nama-nama al-Qur’an antara lain adalah8 : 1) Al-Qur’an, karena al-Qur’an itu disamping berfungsi untuk dipelajari dan diamalkan ia juga harus dibaca sebagai ibadah yang berpahala. 2) Al-kitab, karena al-Qur’an merupakan kalamullah yang tertulis. - Firman Allah dalam surat al-Baqarah : 2 Artinya : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 2) - Firman Allah dalam surat Ali Imran : 3 8 Ibid., hlm. 11-12
  • 12.
    10 Artinya : “Diamenurunkan al-kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya....”. (QS. Ali Imran : 3) 3) Al-Furqan, sebab al-Qur’an pembeda antara kebenaran dan kebatilan. - Firman Allah dalam surat al-Furqan ayat 1 Artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Al-Qur’an) kepada Hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al- Furqan : 1) Hanya saja perlu diketahui bahwa, pemakaian kedua nama diatas (al-kitab dan al-Furqan) tidak hanya untuk al-Qr’an saja, tetapi juga untuk selain al-Qur’an. Sebagai contoh adalah penggunaan al-kitab untuk kitab suci Nabi Musa, misalnya dalam surat al-Mukminun ayat 49. Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-kitab (Taurat) kepada Musa agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk.” (al- Mukminun : 49) Juga penggunaan nama al-Furqan untuk kitab suci Nabi Musa dan Nabi Harun, terdapat dalam surat al-Anbiya’ ayat 48.
  • 13.
    11 Artinya : “Dansesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Anbiya’ : 48) 4) Adz-Dzikr, sebab al-Qur’an berisi peringatan-peringatan kepada manusia. Firman allah dalam surat al-Hijr ayat 9 Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al- Hijr : 9) 5) At-Tanzil, karena al-Qur’an merupakan kalamullah yang diwahyukan dan diturunkan dari Allah swt. - Firman Allah dalam surat asy-Syu’ara’ ayat 192 Artinya : “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.”(QS. Asy-Syu’ara : 192) 6) Dan lain-lain Abdullah Daraz berpendapat bahwa diantara nama-nama tersebut, yang paling populer ialah al-Qur’an dan al-Kitab. C. SIFAT-SIFAT AL-QUR’AN Al-Qur’an mensifati dirinya dengan banyak sifat. Diantaranya adalah9 : 1) Huda (petunjuk), Syifa (obat), rahmat, dan mauidzah (nasehat). Hal ini tampak jelas dalam firman Allah surat Yunus ayat 57 : 9 Ibid., hlm. 12-14
  • 14.
    12 Artinya : “Haimanusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit–penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Yunus : 57) 2) Nur (cahaya). Hal ini teridentifikasi dari surat an-Nisa’ ayat 174 : Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (QS. An-Nisa’ : 174) 3) Mubarak (yang diberkahi atau mengandung berkah). Sifat ini nampak dalam surat al-An’am ayat 92 : Artinya : “Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi ....”. (QS. Al-An’am : 92) 4) Mubin (menjelaskan). Lihat misalnya surat al-Maidah ayat 15 : Artinya : “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kapadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya.
  • 15.
    13 Sesungguhnya telah datangkepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah : 15) 5) Busyra ( kabar gembira). Hal ini tampak dalam surat al-Baqarah ayat 97 : Artinya : “Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) kedalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah : 97) 6) Aziz (mulia). Lihat dalam surat Fusshilat ayat 41 : Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.” (QS. Fusshilat : 41) 7) Majid (mulia,agung). Firman Allah dalam surat al-Buruj ayat 21 : Artinya : “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia.” (QS. Al-Buruj : 21) 8) Basyir ( pembawa kabar gembira) dan Nadzir (pembawa peringatan). Hal ini terlihat misalnya dalam surat Fusshilat ayat 4 :
  • 16.
    14 Artinya : “Yangmembawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. ”(QS. Fusshilat : 4) 9) Dan lain-lain. D. Kedudukan Al-Qur’an dalam Islam Jelaslah bahwa Al-Qur’an adalah sumber yang asasi bagi syari’at (hukum) islam. Dari Al-Qur’an-lah dasar-dasar hukum islam beserta cabang-cabangnya digali. Agama islam merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat. Agama islam datang dengan Al-Qur’annya membuka lebar-lebar mata manusia, agar mereka menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di pentas bumi ini. Juga agar mereka tidak terlena dengan kehiduoan ini, sehingga mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematiaan. Al-Qur’an mengajak mereka berfikir tentang kekuasaan Allah. Dan dengan berbagai dalil, kitab suci itu juga mengajak mereka untuk membuktikan keharusan adanya hari kebangkitan, dan bahwa kebahagiaan mereka pada hari itu akan ditentukan oleh persesuaian sikap hidup mereka dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa. Untuk mencapai kebahagian hidup di akhirat kelak manusia memerlukan peraturan-peraturan. Manusia memiliki kelemahan-kelemahan, antara lain ia sering bersifat egoistis. Di samping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi tugas untuk membuat peraturan-peraturan untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat, maka diduga keras bahwa ia di sampin hanya akan mementingkan dan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian. Jika demikian, maka “sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Maha Mrngetahui, Allah SWT. dan peraturan yang dibuatnya itu disebut “ agama”.
  • 17.
    15 Namun tidak semuamanusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan, maka untuk memperoleh informasi-Nya itu, Tuhan memilih orang- orang tertentu yang memilki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terplih itu dinamai nabi atau rasul. Dan para nabi atau rasul yang menerima informasi dari Tuhan untuk disampaikan kepada manusia itu, harus diberi bukti-bukti agar manusia mau menerimanya. Bukti-bukti itu dalam islam disebut Mukjizat. Dan mukjizat yang diberikan kepada nai akhir zaman, penutup para nabi dan rasul adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama bagi hukum islam dan pedoman hidup manusia.10 Dalam sumber yang berbeda disebutkan Kedudukan Al-Qur’an dalam Islam sebagai berikut : 1. Al-Qur’an sebagai sumber berbagai disiplin ilmu keislaman Disiplin ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an di antaranya yaitu: a. Ilmu Tauhid (Teologi) b. Ilmu Hukum c. Ilmu Tasawuf d. Ilmu Filasafat Islam e. Ilmu Sejarah Islam f. Ilmu Pendidikan Islam 2. Al-Quran sebagai Wahyu Allah SWT yaitu seluruh ayat Al-Qur’an adalah wahyu Allah; tidak ada satu kata pun yang datang dari perkataan atau pikiran Nabi. 3. Kitabul Naba wal akhbar (Berita dan Kabar) arinya, Al-Qur’an merupakan khabar yang di bawah nabi yang datang dari Allah dan di sebarkan kepada manusia. 4. Minhajul Hayah (Pedoman Hidup), sudah seharusnya setiap Muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan terhadap setiap problem yang di hadapi. 10 Moh Matsna,op.cit. hlm. 56-57
  • 18.
    16 5. Al-Quran sebagaisuatu yang bersifat Abadi artinya, Al-Qur’an itu tidak akan terganti oleh kitab apapun sampai hari kiamat baik itu sebagai sumber hukum, sumber ilmu pengetahuan dan lain-lain. 6. Sebagai salah satu sebab masuknya orang arab ke agama Islam pada zaman rasulallah dan masuknya orang-orang sekarang dan yang akan datang. 7. Al-Qur’an di nukil secara mutawattir artinya, Al-Qur’an disampaikan kepada orang lain secara terus-menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan berbeda- bedanya tempat tinggal mereka. 8. Al-Qur’an sebagai sumber hukum, seluruh mazhab sepakat Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam menetapkan hukum, dalam kata lain bahwa Al- Qur’an menempati posisi awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah.15 9. Al-Qur’an di sampaikan kepada nabi Muhammad secara lisan artinya, baik lafaz ataupun maknanya dari Allah SWT. 10. Al-Qur’an termaktub dalam Mushaf, artinya bahwa setiap wahyu Allah yang lafaz dan maknanya berasal dari-Nya itu termaktub dalam Mushaf (telah di bukukan). 11. Agama islam datang dengan al qur'annya membuka lebar-lebar mata manusia agar mereka manyadari jati diri dan hakikat hidup di muka bumi. E. Fungsi dan Tujuan Al-Qur’an Diturunkan 1. Petunjuk Bagi Manusia Sudah tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT. sebagai petunjuk bagi manusia yang bertaqwa kepada-Nya, dan menjadi pedoman bagi kehidupan mereka.11 Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut.; dan Allah menugaskan Rasul saw., untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu. Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 2-4 yang artinya: 11 Ibid., hlm. 52-55
  • 19.
    17 “ Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, menginfakan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepdamu (Muhammad) dan (kitab- kitab) yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah : 2-4) Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan ke dunia ini, disamping menjadi petunjuk, juga berfungsi untuk mewujudkan ishlah (perbaikan) hal ihwal manusia. Hal-hal yang akan membawa kebaikan hidup manusia diperingatkan agar dikerjakan dengan sebaik-baiknya, dan hal-hal yang akan membawa kerugian agar ditinggalkannya. Untuk itulah Allah SWT. menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar (amar makruf nahi munkar), menhalalkan yang baik dan suci, serta mengharamkan yang buruk dan kotor. Melalui Rasulullah, Allah SWT. menyuruh dan melarang hal-hal tersebut di atas. 2. Sumber Pokok Ajaran Islam Allah SWT. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 89 Artinya: “ Dan kami turunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl : 89) Sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa di dalam Al-Qur’an Allah terangkan segala sesuatu yang diperlukan manusia, baik mengenai urusan akhirat maupun dunia. Penerangan-penerangan itu adakalanya disampaikan secara garis besarnya saja (mujmal), adakalanya secara rinci (mufashshal). Di dalam Al-Qur’an, Allah menerangkan kaidah-kaidah syari’at serta hukum-hukum-Nya yang cocok diterapkan di segala zaman dan tempat, serta diperuntukan bagi seluruh umat manusia, tidak dibatasi untuk suatu golongan atau suatu bangsa saja. Di dalam Al-Qur’an Allah menerangkan hukum yang kully
  • 20.
    18 (menyeluruh), akidah yangtegas, dalil atau hujjah yang kuat dan akurat untuk menyatakan kebenaran agama islam. Karena itulah, maka Al-Qur’an dapat berlaku sepanjang Zaman, hukum-hukumnya yang kully terus dijadikan sumber hukum bagi hukum-hukum yang lain. 3. Peringatan dan Pelajaran Bagi Manusia Di dalam Al-Qur’an bnayk terdapat kisah para nabi atau rasul beserta rasul-Nya. Ada yang mengungkapkan kebaikan-kebaikannya yaitu keatuhan dan ketaatan umat kepada rasulnya, dan ada yang mengungkapkan keburukan- keburikannya yaitu keingkaran dan kesombongan umat kepada Rasulnya. Kesemuaannya itu merupakan peringatan dan pelajara bagi kita. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu hanya diamksudkan untuk menguraikan sejarah, melainkan yang terpenting ialah menggambarkan bagaimana cara yang ditempuh oleh para nabi atau para rasuldahulu dalam mengembangkan dan menyerukepada kebaikan. Juga bagaimana tantangan dan penderitaan yang mereka hadapi yang merupakan peringatan dan penjalaran bagi para penegak agama yang membawa kebenaran yang hakiki. Di samping kisah-kisah bisa dijadikan peingatan dan pelajaran bagi manusia, di dalam Al-Qur’an juga terdapat banyak perumpamaan-perumpamaan atau amtsal, seperti Al-Qur’an menggambarkan orang yang baik, banyak berguna bagi manusia lainnya dengan perumpamaan lebah. Allah SWT. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 68-69 yang artinya, “ Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘buatlah sarang di gunung- gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)’. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda ( kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir “( QS. An-Nahl: 68-69).
  • 21.
    19 F. Fungsi Al-Qur’anDari Sudut Subtansinya Dari sudut subtansinya, fungsi Al-Qur’an sebagaimana tersurat nama- namanya dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: a. Al-Huda (petunjuk), Dalam al-Qur'an terdapat tiga kategori tentang posisi al-Qur'an sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang yang beriman.12 b. Al-Furqon (pemisah), Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia adalah ugeran untuk membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah. c. Al-Asyifa (obat). Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada (mungkin yang dimaksud disini adalah penyakit Psikologis) d.Al-Mau’izah (nasihat), Didalam Al-Qur’an di katakan bahwa ia berfungsi sebagai penasihat bagi orang-orang yang bertakwa. G. Fungsi Al-Qur’an di lihat dari realitas kehidupan manusia Di lihat dari realitas kehidupan manusia yakni: a. Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang lurus bagi kehidupan manusia b. Al-Qur’an sebagai mukjizat bagi Rasulallah SAW.13 c. Al-Qur’an menjelaskan kepribadian manusia dan ciri-ciri umum yang membedakannya dari makhluk lain.14 d. Al-Qur’an sebagai korektor dan penyempurna kitab-kitab Allah sebelumnya e. Menjelaskan kepada manusia tentang masalah yang pernah di perselisikan ummat Islam terdahulu. f. Al-Qur’an berfungsi Memantapkan Iman.13 g. Tuntunan dan hukum untuk menempuh kehiduapan. 12 Nur Kholis. Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadits. (Yogyakarta; TERAS, 2008), hlm.32 13 Muhammad Bambang Irawam, Fungsi-fungsi Al-Qur’an 14 Anwar Rosihan, Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Bandung; CV Pustaka Setia,2009), hlm.15
  • 22.
    20 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Al-Qur’anmerupakan kalamullah yang di Wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril. Para ulama banyak yang berbeda menafsirkan makna Al-Qur’an tetapi kesemuanya mempunyai tujuan yang sama dan semuanya mensepakati bahwa AL-Qur’an itu memang benar di bawah oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an mempunyai nama-nama lain serta fungsi dan kedudukan yang sangat besar bagi manusia untuk mamahami tentang jati diri dan hakikat hidupnya di permukaan bumi ini. Al-Qur’an merupakan pedoman pertama bagi manusia setelah yang keduanya Hadits, yang merupakan sumber hukum pertama bagi manusia dan tidak ada satupun yang dapat mengganti kedudukan Al-Qu’an sebagai sumber hukum Isalam, Al-Qur’an itu membahas segala sesuatu secara global misalnya, Al-Qur’an membahas tentang Sastra tapi Al-Qur’an bukan merupakan buku sastra tetapi ia membahas sastra yang sangat tinggi dan sebagainya. B. SARAN Setelah kita memahami fungsi dan kadudukan Al-Qur’an tersebut secara utuh maka kita dapat menjadikan Al-Qur’an sesuatu yang sangat berperan secara langsung bagi keberlangsungan kehiduapan ummat manusia di permukaan bumi ini, karna tanpa adanya Al-Qur’an tersebut maka peradapan manusia saat ini akan kacau, tidak ada rasa hormat antara manusia, tidak terjalinnya silaturahim antara Muslim, keadaan kehidupan manusia semraut, terjadinya penghardian terhadap anak yatim dan sebagainya.
  • 23.
    21 DAFTAR PUSTAKA Ash-Shiddieqy, T.M.Hasbi. 1972. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al- Qur’an/Tafsir. Bulan Bintang: Jakarta Masrur, Fatih. 2011. Samudera Ulumul Qur’an jilid 1. PT Bina Ilmu: Surabaya Matsna. 2008. Pendidikan Agama Islam Al-Qur’an Hadits. PT karya Toha Putra: Semarang Wahid, Ramli Abdul. 2002. Ulumul Qur’an edisi revisi, cetakan keempat. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta Drs. Hafidz Abdurrahman, M.A. 2003. Ulumul Qur’an Praktis (Pengantar Untuk Memahami Al-Qur’an), cetakan pertama. CV. IdeA Pustaka Utama: Bogor Nur Kholis,M.Ag. 2008. Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadits , Penerbit Teras: Depok Sleman Yogyakarta Bambang Irawan Muhammad. Fungsi-Fungsi Al-Qur’an Dr.Anwar Rosihan, M.Ag, 2009. Pengantar Ilmu Al-Qur’an. CV Pustaka Setia: Bandung