ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyakit Menular Dan Kronik
Oleh :
FRIESKA PIESESHA
101514153005
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
MINAT KESEHATAN IBU DAN ANAK
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Salah satu agenda yang harus dipenuhi dalam Millenium Development Goals
(MDGs) adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu dengan indikator turunnya Angka
Kematian Ibu (AKI) hingga 102/100.000 KH dan menurunkan Angka Kematian Bayi
(AKB) hingga 23/1000 KH pada tahun 2015. Provinsi Jawa Timur termasuk 10 besar
daerah dengan AKI dan AKB tertinggi di Indonesia. Ironisnya, daerah penyumbang
angka kematian ibu terbanyak adalah Kota Surabaya dengan 49 kasus kematian ibu
(Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2014).
Berdasarkan target MDGS, angka kematian ibu di Jawa Timur sudah melampaui
target, dimana AKI Jatim tahun 2013 adalah 97,39/100.000 kelahiran hidup, dan tahun
2014 93,52 / 100.000 kelahiran hidup. Namun bila dilihat jumlah absolut kematian ibu
di Jawa Timur pada tahun 2012, masih tinggi yakni terdapat 449 kasus ibu meninggal.
Angka ini kemudian meningkat pada tahun 2013. Tercatat 474 kasus kematian ibu pada
tahun 2013 di Jawa Timur (97,39/100.000 KH).
Menurut Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan ada sekitar 82
persen kematian karena melahirkan terjadi pada perempuan muda yang masih berusia
kurang dari 15 tahun hingga usia 20 tahun, jumlah kematian ibu muda kebanyakan
meninggal dunia akibat melakukan aborsi. Hal ini ditengarai karena tingginya kawin
muda dan perilaku seks bebas mencapai sekitar 77%. Selain itu, faktor kematian ibu
hamil juga dikarenakan terjadinya eklampsia atau kejang karena tekanan darah tinggi
pada kehamilan, yang disebabkan tidak mendapat penanganan yang tepat akibat minim
pengetahuan ibu terhadap tanda dan bahaya pada kehamilan sekitar 31%, faktor kedua
yang paling rentan adalah pendarahan, apabila pendarahan pada ibu melahirkan
terlambat ditangani dengan baik maka dapat membahayakan nyawa ibu. (Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2014).
Perdarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu di Indonesia
(28%). Anemia dan kekurangan energi kronis pada ibu hamil menjadi penyebab utama
terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Seorang
wanita yang mengalami perdarahan setelah melahirkan dapat menderita akibat
kekurangan darah yang berat (anemia) berat dan mengalami masalah kesehatan yang
berkepanjangan. Anemia merupakan sebuah kondisi kesehatan yang seringkali
ditemukan pada masyarakat terutama masyarakat dengan ekonomi rendah. Anemia yang
paling sering ditemukan adalah anemia defisiensi zat besi (ADB). Wanita usia
reproduktif, hamil-menyusui dan bayi serta balita berisiko tinggi mengalami anemia.
Anemia pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena
prevalensinya diatas 20%. Remaja yang kekurangan besi menimbulkan apatis, mudah
tersinggung, menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar. Wilayah
perkotaan atau pedesaan berpengaruh melalui mekanisme yang berhubungan dengan
ketersediaan sarana fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan yang pada
gilirannya berpengaruh pada pelayanan kesehatan dan asupan zat besi khususnya bagi
remaja (Almatsier, 2010). Anemia remaja pada usia 10-17 tahun merupakan keadaan
dimana kadar hemoglobin < 12g/dl (Soetjiningsih, 2012).
Alasan wanita usia reproduktif dan wanita hamil mengalami anemia akibat
defisiensi zat besi adalah karena adanya peningkatan kebutuhan zat besi akibat
menstruasi dan hamil. Kebutuhan zat besi wanita dewasa sekitar 1,36 mg per hari dan
kebutuhan remaja yang sedang menstruasi adalah sekitar 1,73 mg per hari.
Namun sekitar 15% wanita dewasa yang sedang menstruasi memiliki kebutuhan
lebih dari 2 mg per hari dan sekitar 5% membutuhkan sekitar 2,84 mg per hari. Remaja
perempuan yang sedang dalam masa pertumbuhan dan mengalami menstruasi
membutuhkan zat besi yang lebih banyak; sekitar 30% butuh menyerap zat besi lebih 2
mg per hari; 10 % membutuhkan 2,65 mg dan 5% membutuhkan 3,21 mg. Kebutuhan
ini akan sulit dicapai bila asupan makanan harian yang mengandung zat besi tidak
tercukupi dengan baik.
TINJAUAN PUSTAKA
ANEMIA DALAM KEHAMILAN
1. Anemia
1.1. Definisi Anemia
Anemia adalah kondisi dimana terdapat penurunan kadar hemoglobin (hb) atau
jumlah eritrosit dalam darah (Taseer et al, 2011). Anemia telah menjadi salah satu
masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang yang diperkirakan
30% penduduk dunia menderita anemia, anemia banyak terjadi pada masyarakat
terutama pada remaja dan ibu hamil. Tingginya angka kejadian anemia ini
mengindikasikan status nutrisi dan kesehatan masyarakat yang masih buruk. Anemia
dapat terjadi pada semua kelompok usia namun paling sering ditemui pada anak-anak
dan ibu hamil (WHO, 2008).
Anemia adalah keadaan dengan kadar hemoglobin, hematokrit dan sel darah
merah yang lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau
beberapa unsur makanan esensial yang dapat memengaruhi timbulnya defisiensi
tersebut (Arisman, 2010).
Anemia adalah sebagai suatu kondisi tidak mencukupinya cadangan zat besi
sehingga berkurangnya penyaluran zat besi ke jaringan tubuh. Tingkat kekurangan zat
besi yang lebih parah dihubungkan dengan anemia yang secara klinis ditentukan dengan
turunnya kadar hemoglobin sampai kurang dari 11,5 gr/gl (Miller, 2008).
1.2. Penyebab Anemia
Anemia dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi tiga mekanisme utama yang
menyebabkan anemia adalah:
1. Penghancuran Sel Darah Merah yang Berlebihan
Sel-sel darah normal yang dihasilkan oleh sumsum tulang akan beredar melalui
darah ke seluruh tubuh. Pada saat sintesis, sel darah yang berlebihan belum matur
(muda) dapat juga disekresi ke dalam darah. Sel darah yang usianya muda biasanya
gampang pecah sehingga terjadi anemia (Proverawati, 2011).
Ketika sel-sel darah merah yang rapuh dan tidak bisa menahan tekanan, sel darah
merah akan pecah dan hancur secara prematur (sebelum waktunya), yang disebut
anemia hemolitik. Anemia hemolitik dapat terjadi saat lahir atau berkembang di
kemudian hari. Kadang-kadang penyebabnya tidak diketahui. Penyebab anemia
hemolitik dapat mencakup:
a. Kondisi warisan, seperti anemia sel sabit dan talasemia
b. Stresor seperti infeksi, obat-obatan, racun ular atau laba-laba atau kelajengking,
atau makanan tertentu
c. Racun penyakit liver atau penyakit ginjal
d. Serangan sistem kekebalan tubuh (disebut eritroblastosis fetalis ketika terjadi
pada janin dari wanita hamil)
e. Cangkok vaskular, katup jantung prostetik, tumor, luka bakar parah, paparan
bahan kimia tertentu, tekanan darah tinggi yang berat, dan gangguan pembekuan
darah
f. Dalam kasus yang jarang terjadi, pembesaran limpa justru menjadi perangkap
untuk menghancurkan sel darah merah seperti pada penyakit malaria, atau
demam berdarah
2. Kehilangan Darah
Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya
jumlah darah dalam tubuh, sehingga terjadi anemia. Anemia karena perdarahan besar
dan dalam waktu singkat ini jarang terjadi. Keadaan ini biasanya terjadi pada
kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya (Sadikin, 2001). Pada laki-laki dewasa,
sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses perdarahan akibat penyakit
atau trauma, atau akibat pengobatan suatu penyakit. Sementara pada wanita, terjadi
kehilangan darah secara alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar selama menstruasi
sangat banyak akan terjadi anemia defisiensi zat besi (Arisman, 2010).
3. Penurunan Produksi Sel Darah Merah
Jumlah sel darah yang diproduksi dapat menurun ketika terjadi kerusakan pada
daerah sumsum tulang atau bahan dasar produksi tidak tersedia (Proverawati, 2011).
Beberapa faktor kebiasaan dan sosial budaya turut memperburuk kondisi anemia di
kalangan perempuan yaitu :
a. Kurang mengkonsumsi bahan makanan hewani
b. Kebiasaan diet untuk mengurangi berat badan
c. Budaya atau kebiasaan dikeluarga sering menomorduakan perempuan dalam hal
makanan
d. Pantangan tertentu yang tidak jelas kebenarannya seperti perempuan hamil
jangan makan ikan karena bayinya akan bau amis.
e. Kemiskinan yang menyebabkan mereka tidak mampu mengkonsumsi makanan
yang bergizi (Hasmi, dkk, 2005).
Mengetahui penyebab anemia sangat penting, karena atas dasar penyebab inilah
pengobatan semestinya diberikan. Pengobatan anemia yang diberikan tidak dengan
pengetahuan yang teliti akan menjadi sangat berbahaya, Pada mereka yang cenderung
melakukan otomedikasi (mengobati diri sendiri), apalagi di bawah pengaruh yang kuat
dari informasi sepihak dan tidak lengkap yang diperoleh dari lingkungan (Sadikin,
2001).
1.3. Tanda dan Gejala Anemia
Tanda dan gejala anemia biasanya tidak khas dan sering tidak jelas seperti : pucat,
mudah lelah, berdebar, takikardia, dan sesak nafas. Kepucatan bisa diperiksa pada
telapak tangan, kuku, dan konjungtiva palpebra (Arisman, 2010).
Gejala anemia ringan mungkin termasuk yang berikut:
a. Lemah, lesu, pusing
b. Tampak pucat terutama pada gusi dan kelopak mata atau bawah kuku
c. Jantung berdebar nafas pendek
d. Sariawan mulut dan lidah, bilur-bilur atau perdarahan tidak biasa.
e. Mati rasa atau kesemutan didaerah kaki
f. Mual dan diare
g. Keletihan, mudah lelah bilah berolahraga. (Syamsul,2011).
Beberapa tanda yang mungkin menunjukkan anemia berat pada seseorang dapat
mencakup:
a. Perubahan warna tinja
b. Denyut jantung cepat
c. Tekanan darah rendah
d. Frekuensi pernafasan cepat
e. Kulit kuning disebut jaundice jika anemia karena kerusakan sel darah merah
f. Murmur jantung
g. Pembesaran limpa
h. Nyeri dada
i. Pusing atau kepala terasa ringan (terutama ketika berdiri atau dengan
tenaga)
j. Kelelahan atau kekurangan energy
k. Sakit kepala
l. Tidak bisa berkonsentrasi
m. Sesak nafas (khususnya selama latihan)
n. Nyeri dada, angina, serangan jantung
o. Pingsan.(Proverawati, 2011).
2. Anemia Kehamilan
2.1 Frekuensi dan Anemia dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dengan kadar hemoglobin di bawah
11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5gr% pada trimester 2, nilai batas tersebut
dan perbedaannya terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin,
2014).
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau
menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan
organ-organ vital ibu dan 2 janin menjadi berkurang. Selama kehamilan indikasi anemia
adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr%
(Varney, 2007).
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang tidak diimbangi dengan jumlah
plasma menyebabkan pengenceran darah. Plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin
19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam
kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu meringankan
beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat
hidremia cardiac output meningkat .
Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10
minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan anatara 32-36 minggu, wanita hamil
dengan Hb antara 10-12 g/100ml tidak dianggap, para wanita hamil dengan hb antara
10-12 g/100ml tidak dianggap menderita anemia patologik akan tetapi anemia fisiologis
(Saifuddin, 2014).
Di dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar anatara 10%
dan 20%. Sedangkan frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu
63,5%. Defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya
anemia sehingga dapat dipahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negara yang
sedang berkembang dibandingkan dengan negara yang sudah maju. Frekuensi anemia
dalam kehamilan setinggi 18,5%, pseudoanemia 57,9%, dan wanita hamil dengan Hb 12
g/100 ml atau lebih sebanyak 23,6%, Hb rata-rata 12,3 g/ml dalam trimester III. Hal itu
disebabkan karena pengenceran darah menjadi makin nyata dengan bertambahnya umur
kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat pula (Prawiharjo,
2014).
2.2 Klasifikasi Anemia pada Kehamilan
Pemeriksaan hemoglobin secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan yang
umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia. Pemeriksaan darah minimal 2 kali
selama kehamilan yaitu pada trimester I dan III (Dep.Kes RI, 2002)
1. Klasifikasi menurut Dep. Kes RI
a. Normal : kadar Hb dalam darah .≥11 gr%
b. Anemia Ringan : kadar Hb dalam adarah 9-10 gr
c. Anemia sedang dengan Hb 7-8gr%
d. Anemia berat : kadar Hb dalam darah ,<7 gr%
2. Klasifikasi Menurut WHO
a. Normal : Kadar Hb dalam darah ≥ 11 gr%
b. Anemia ringan : Kadar Hb dalam darah 8 - 10 gr%
c. Anemia berat : Kadar Hb dalam darah < 8 gr%
3. Klasifikasi menurut (Manuaba, 2007)
a. Normal : Hb 11 g r%
b. Anemia ringan : Hb 9 – 10 gr %
c. Anemia sedang : Hb 7 – 8 gr %
d. Anemia berat : Hb < 7 gr %
2.3 Pembagian Anemia dalam Kehamilan
Berdasarkan penelitian anemia anemia dalam kehamilan dapat diklasifikasikan
menjadi anemia gizi besi 62,3%, anemia megaloblastik 29%, anemia hemolitik 8% dan
anemia hipoplastik 0,7% (Mochtar, 2012)
1. Anemia Defisiensi Besi
Anemia gizi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh
(depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang. Anemia
defisiensi besi disebabkan oleh kurangnya mineral Fe (besi) sebagai bahan yang
diperlukan untuk pematangan eritrosit. Di Indonesia sebagian besar anemia ini
disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) sehingga disebut anemia kekurangan zat
besi atau anemia gizi besi. (Bakta, 2007)
Anemia gizi besi atau anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi utama bagi
semua kelompok umur dengan prevalensi paling tinggi pada kelompok ibu hamil.
Sekitar 95% anemia terkait kehamilan tergolong anemia gizi besi.(Morgan dkk., 2009)
Penyebab utama anemia kekurangan besi pada wanita hamil disebabkan karena
kurang memadainya asupan makanan sumber zat besi, karena gangguan resorpsi atau
karena terlampau banyaknya besi keluar dari tubuh misalnya perdarahan, keperluan
akan zat besi bertambah dalam kehamilan terutama dalam trimester terakhir, apabila
masuknya besi tidak ditambah dalam kehamilan maka akan terjadi anemia defisiensi
besi. Pencegahan terjadinya anemia defisensi besi, sebaiknya wanita hamil diberi sulfas
ferrosus, cukup tablet sehari selain itu dinasehatkan untuk makan protein hewani dan
sayuran yang mengandung vitamin dan mineral (Saifuddin, 2014)
Kebutuhan ibu hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah
merah sebesar 200-300%. Perkiraan jumlah zat besi yang diperlukan selama hamil
adalah 1040 mg. Sebanyak 300 mg Fe ditransfer ke janin dengan rincian 50-75 mg
untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah dan 200
mg hilang ketika melahirkan. Kebutuhan Fe selama kehamilan trimester 1 relatif sedikit
yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester III yaitu 6,3 mg
sehari, jumlah sebanyak itu tidak mungkin tercukupi hanya melalui makanan (Arisman,
2010).
2. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik disebabkan oleh gangguan pembentukan DNA pada inti
eritroblast, terutama akibat defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Anemia defisiensi
vitamin B12 relatif jarang dijumpai di Indonesia, tetapi anemia defisiensi asam folat
cukup sering dijumpai, terutama pada wanita hamil. Anemia defisiensi asam folat
merupakan penyebab kedua anemia pada wanita hamil setelah defisiensi besi (Bakta,
2007).
Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup
baik. Pengobatan dengan asam folat hampir selalu berhasil. Apabila penderita mencapai
masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan, maka anemianya akan
sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak,
keperluan akan asam folat jauh berkurang. Sebaliknya anemia defisiensi vitamin B12
(anemia perniosa) memerlukan pengobatan terus-menerus, juga di luar kehamian
(Prawiharjo, 2014).
3. Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik pada wanita hamil adalah anemia yang disebabkan karena
sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Pengobatan dengan
berbagai obat penambah darah tidak memberi hasil sehingga satu-satunya cara untuk
memperbaiki keadaan penderita adalah transfusi darah, yang sering perlu diulang
sampai beberapa kali. (Prawiharjo, 2014).
4. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis
adalah pemecahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya (sebelum masa
hidup rata-rata eritrosit yaitu 120 hari). Hemolisis berbeda dengan proses penuaan yaitu
pemecahan eritrosit karena memang sudah cukup umurnya (Bakta, 2007).
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung
lebih cepat dari pembuatannya. Hal ini dapat disebabkan karena faktor intrakospukuler
(herediter, talasemia, anemia sel sabit) dan faktor ekstrakospukuler (malaria, sepsis,
keracunan zat logam, leukimia). (Mochtar, 2012).
Wanita dengan anemia hemolitik biasanya sulit hamil, apabila ia hamil maka
anemianya bisa menjadi lebih berat, pengobatan anemia hemolitik pada kehamilan
trgantung pada jenis dan beratnya, obat- obat penambah darah tidak memberikan hasil
transfuse darah yang kadang-kadang dilakukan berulang beberapa kali di beikan pada
anemia yang berat untuk mengurangi bahaya hipoksia janin. (Prawiharjo, 2014).
2.4 Pengaruh Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas
Menurut (Mochtar, 2012) mengemukakan pengaruh anemia pada hamil, bersalin
dan nifas adalah :
1. Keguguran.
2. Partus prematurus.
3. Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah.
4. Atonia uteri dan menyebabkan perdarahan.
5. Syok.
6. Afibrinogen dan hipofibrinogen.
7. Infeksi intrapartum dan dalam nifas.
8. Bila terjadi anemia gravis ( Hb dibawah 4 gr% ) terjadi payah jantung yang bukan
saja menyulitkan kehamilan dan persalinan tapi juga bisa fatal.
1) Bahaya selama kehamilan
a. Dapat terjadi abortus
b. Persalinan prematuritas
c. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
d. Mudah terjadi infeksi
e. Ancaman dekompensasi kordis ( Hb < 6 gr% )
f. Mola hidatidosa
g. Hiperemesis gravidarum
h. Perdarahan antepartum
i. Ketuban pecah dini (KPD)
2) Bahaya saat persalinan
a. Gangguan his-kekuatan mengejan.
b. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar.
c. Kala dua berlangsung lama, sehingga dapat melelahkan dan seringmemerlukan
tindakan operasi kebidanan.
d. Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena
atonia uteri.
e. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri.
3) Bahaya pada saat nifas
a. Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum
b. Memudahkan infeksi puerperium
c. Pengeluaran ASI berkurang
d. Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan
e. Anemia kala nifas
f. Mudah terjadi infeksi mamae
4) Bagi janin
a. Abortus
b. Terjadi kematian intra uteri
c. Persalinan prematuritas tinggi
d. Berat badan lahir rendah
e. Kelahiran dengan anemia
f. Dapat terjadi cacat bawaan
g. Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal
h. Inteligensia rendah
2.5 Penanganan Anemia dalam Kehamilan
Penatalaksanaan dan asuhan medis terhadap anemia yaitu:
1. Pemeriksaan ANC
Petugas kesehatan mengkaji penyebab anemia dari riwayat diet untuk mengetahui
adakah kemungkinan pica, kebiasaan mengidam berlebihan dan mengonsumsi
makanan-makanan tertentu dan riwayat medis yang adekuat dan uji yang tepat (Robson,
2011).
2. Nutrisi
Nutrisi yang baik adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya anemia. Makan
makanan yang tinggi kandungan zat besi (seperti sayuran berdaun hijau, daging merah,
sereal, telur, dan kacang tanah). (Proverawati, 2011).
3. Pemberian Fe
Pemberian tablet besi (Fe) kehamilan setiap harinya kemudian dievaluasi apakah
ada keluhan (misalnya mual, muntah, feses berwarna hitam), apabila tidak ada keluhan
maka pemberian sulfat ferosa dapat dilanjutkan hingga anemia terkoreksi, Apabila
pemberian zat besi peroral tidak berhasil (misalnya pasien tidak kooperatif) maka bisa
diberikan dosis parenteral (per IM atau per IV) dihitung sesuai berat badan dan defisit
zat besi (Robson, 2011).
Pemantauan konsumsi suplemen zat besi perlu juga diikuti dengan pemantauan cara
minum yang benar karena hal ini akan sangat mempengaruhi efektifitas penyerapan zat
besi. Vitamin C dan protein hewani merupakan elemen yang sangat membantu dalam
penyerapan zat besi, sedangkan kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat
(terkandung dalam kacang-kacangan) akan menghambat penyerapan zat besi. Ibu hamil
perlu diberikan konseling mengenai makanan yang banyak mengandung zat besi dan
cara pengolahannya. Beberapa contoh makanan yang kaya zat besi adalah: daging sapi,
ayam, sarden, roti gandum, kapri, buncis panggang, kacang merah, sayuran berdaun,
brokoli, daun bawang, bayam, buah-buahan kering, dan telur (Sulistyawati, 2009).
4. Transfusi Darah
Transfusi darah diindikasikan bila terjadi hipovolemia akibat kehilangan darah atau
prosedur operasi darurat. Wanita hamil dengan anemia sedang yang secara
hemodinamis stabil, dapat beraktifitas tanpa menunjukan gejala menyimpang dan tidak
septik, transfusi darah tidak diindikasikan, tetapi diberi terapi besi selama setidaknya 3
bulan (Cunningham, 2013)
5. Evaluasi
Pemberian terapi dengan cara pemantauan kadar Hb dapat dilakukan 3-7 hari setelah
hari pertama pemberian dosis sulfat ferosa (retikulosit meningkat mulai hari ketiga dan
mencapai puncaknya pada hari ketujuh). Sedangkan pemantauan kadar Hb pada pasien
yang mendapat terapi transfusi dilakukan minimal 6 jam setelah transfuse (Yan, 2011).
2.6 Tablet Fe
1. Pengertian
Zat besi adalah tablet tambah darah untuk menanggulangi anemia gizi besi yang
diberikan kepada ibu hamil. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi
untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah, janin,
dan plasenta. Makin sering seorang mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin
banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis (Manuaba, 2007).
2. Kebutuhan Zat Besi Pada Ibu Hamil
Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat saat hamil dan melahirkan.
Ketika hamil, seorang ibu tidak saja dituntut memenuhi kebutuhan zat besi untuk
dirinya, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janinnya.
Selain itu perdarahan saat melahirkan juga dapat menyebabkan seorang ibu kehilangan
lebih banyak lagi zat besi. Karena alasan tersebut, setiap ibu hamil disarankan
mengonsumsi tablet zat besi (Soebroto, 2009).
Menurut Arisman (2004) Kebutuhan akan zat besi selama trimester I relatif
sedikit, yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester II dan III,
yaitu 6,3 mg sehari. Pada masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari
7 menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup mengandung zat besi, ibu hamil
tetap memerlukan tambahan tablet besi (Prasetyono, 2010).
Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin, cadangan zat besi janin,
dan sebagainya. Bisa diperoleh dari daging berwarna merah, bayam, kangkung, kacang-
kacangan dan sebagainya (Maulana, 2009). Menurut Salmah, dkk (2006) Kebutuhan zat
besi pada kehamilan kurang lebih 1000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan
massa sel darah merah dan 300 mg untuk transportasi ke fetus dalam kehamilan 12
minggu, 300 mg lagi untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuh. Wanita hamil
perlu menyerap zat besi rata-rata 3,5 mg/hari, kebutuhannya meningkat secara
signifikan pada trimester akhir karena absorbsi usus yang tinggi.
Kebutuhan zat besi menurut triwulan adalah sebagai berikut:
Pada Triwulan I zat besi yang dibutuhkan adalah 1 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal
0,8 mg/hari ditambah dengan kebutuhan janin dan red cell mass 30-40 mg. Pada
Triwulan II zat besi yang dibutuhkan adalah 1 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal 0,8
mg/hari ditambah dengan kebutuhan janin dan red cell mass 30-40 mg dan pada
Triwulan III zat besi yang dibutuhkan adalah 5 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal 0,8
mg/hari ditambah dengan kebutuhan red cell mass 150 mg dan conceptus 223 mg
(Waryana, 2010).
3. Pemberian Tablet Zat Besi
Pemberian zat besi dimulai setelah rasa mual dan muntah hilang yaitu memasuki
usia kehamilan 16 minggu, dikonsumsi satu tablet sehari selama minimal 90 hari
(Salmah, dkk, 2006). Pemerintah Indonesia mulai menerapkan dan terfokus pada
pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. Ibu hamil mendapatkan tablet
tambah darah 90 tablet selama kehamilannya. program ini dilaksanakan dengan harapan
setiap ibu hamil secara teratur memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posyandu selama
masa kehamilannya (Depkes RI, 2010).
4. Efek samping
Efek samping tablet besi berupa pengaruh yang tidak menyenangkan seperti rasa
tidak enak di ulu hati, mual, muntah, dan diare (terkadang juga konstipasi). Penyulit ini
tidak jarang menyusutkan ketaatan pasien selama pengobatan berlangsung (Arisman,
2007). Untuk mengatasi agar tidak terjadi konstipasi sebaiknya makan buah-
buahan/makanan lain yang tinggi serat, serta minum sedikitnya delapan gelas cairan
perhari. Saat 9 minum tablet Fe kadang timbul mual, nyeri lambung, konstipasi, maupun
diare sebagai efek sampingnya (Soebroto, 2009).
Ditoleransikan untuk meminum tablet Fe pada saat sebelum tidur malam (bisa
mengurangi efek samping yang terjadi. Dalam konsumsi tablet Fe sebaiknya pada
malam hari sebelum tidur, biasakan pula menambahkan substansi yang memudahkan
penyerapan zat besi seperti vitamin C, air jeruk. Sebaliknya subtansi penghambat
penyerapan zat besi seperti teh, kopi dan susu yang patut dihindari (Salmah, dkk, 2006).
3. Anemia pada Remaja Putri
3.1. Pengertian Anemia pada Remaja Putri
Anemia adalah suatu kondisi medis di mana jumlah sel darah merah atau
hemoglobin kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal umumnya berbeda pada
laki-laki dan perempuan. Untuk pria anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar
hemoglobin kurang dari 13,5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang
dari 12 gram/100 ml (Proverawati, 2011). Anemia merupakan gejala dari kondisi yang
mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya
nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah hemoglobin (Hb) yang levelnya kurang
dari 11,5 gr/dl
Anemia merupakan salah satu kelainan darah yang umum terjadi ketika kadar
sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh menjadi terlalu rendah. Hal ini dapat
menyebabkan masalah kesehatan karena sel darah merah mengandung hemoglobin,
yang membawa oksigen ke jaringan tubuh. Anemia dapat menyebabkan berbagai
komplikasi termasuk kelelahan dan stres pada organ tubuh (Proverawati, 2011).
Dampak dari anemia mungkin tidak dapat langsung terlihat, tetapi dapat berlangsung
lama dan mempengaruhi kehidupan remaja selanjutnya. Anemia pada remaja
perempuan dapat berdampak panjang untuk dirinya dan juga untuk anak yang ia
lahirkan kelak. Pastikan kebutuhan zat besi remaja terpenuhi pada saat ini untuk
mencapai pertumbuhan yang optimal.
Dampak dari anemia adalah:
a. Terganggunya pertumbuhan dan perkembangan
b. Kelelahan
c. Meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang
menurun
d. Menurunkan fungsi dan daya tahan tubuh
e. Lebih rentan terhadap keracunan
f. Terganggunya fungsi kognitif
Kekurangan zat besi atau anemia yang berlanjut sampai dewasa dan hingga
perempuan tersebut hamil, dapat menimbulkan risiko terhadap bayinya. Remaja
perempuan yang sudah hamil dan menderita anemia dapat meningkatkan
risiko kelahiran prematur dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Oleh karena
itu, remaja perempuan disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi sebelum
hamil. Suplemen zat besi ini membantu memenuhi kebutuhan zat besi yang makin
tinggi saat kehamilan.
3.2 Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja putri
1. Pencegahan
Menurut Almatzier (2011), cara mencegah dan mengobati anemia adalah :
a. meningkatkan konsumsi makanan bergizi
ď‚· Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani
(daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan mkanan nabati (sayuran berwarna
hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
ď‚· Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin c
(daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, dan nanas) sangat
bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
b. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah
Darah (TTD). Tablet tambah darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet
mengandung 200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat.
Wanita dan remaja putri perlu minum tablet tambah darah karena wanita mengalami
haid sehingga memerlukan zat besi untuk mengganti darah yang hilanng. Wanita
mengalami hamil, menyusui sehingga sanggat tinggi yang perlu disiapkan sedini
mungkin semenjak remaja. Tablet tambah darah mampu mengobati wanita dan remaja
putri yang menderita anemia, meningkatkan kemampuan belajar, ke,a,puam kerja dan
kualitas sumberdaya manusia serta generasi penerus. Anjuran minum yaitu minum 1
tablet tambah darah seminggu sekali dan dianjurkan minum tablet 1 setiap hari selama
haid. Minumlah tablet tambah darah dengan air putih jangan minum dengan the, susu
dan kopi karena dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga
manfaatnya menjadi berkurang.
c. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memeperberat anemia seperti cacingan,
malaria dan penyakit TBC
2. Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri
Tindakan penting yang dilakukan untuk mencegah kekurangan besi antara
lain:
a. Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang cukup
secara rutin pada usia remaja.
b. Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan, unggas,
makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C (asam askorbat)
untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau mengurangi minum kopi, teh,
minuman ringan yang mengandung karbonat dan minum susu pada saat makan.
c. Suplementasi besi, merupakan cara untuk menanggulangi anemia di daerah dengan
prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1 mg/KgBB/hari.
d. Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi bersama
susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat, multivitamin yang
mengandung phosphate dan kalsium.
e. Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih merupakan
pilihan untuk skrining anemia (Lubis, 2008)
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2011. Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama
Arief, M. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Penerbitan Media
Aesculapius FKUI.
Arisman, M.B., 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.
Bakta, I.M., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Buku Kedokteran EGC, Denpasar
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrapm LC, Hauth JC, Wenstrom KD. 2013.
Obstetric Williams. Edisi 21. Alihbahasa oleh : Andry H, dkk. Jakarta : EGC
Dinkes Jatim. 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014. Surabaya ;
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012.
Jakarta : Kemenkes RI.
Manuaba, I.B.G., , 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Miller, R.D., 2008. Blood Disease of Infancy and Childhood, Iron Metabolism and Iron
Deficiency. Mosby Company. Washington DC.
Mochtar, R., 2012. Sinopsis Obstetri. Jilid 1. Ed.3 Buku Kedokteran Jakarta : EGC.
Morgan, G, Hamilton, C. 2009. Obstetri dan Ginekologi, Panduan Praktik.
Jakarta :EGC
Proverawati, Atikah.2011. Anemia dan Anemia kehamilan. Yogyakarta : Nuha
Medika
Proverawati, Atikah.2011. Anemia dan Anemia kehamilan. Yogyakarta : Nuha
Medika
Robson SE & Waugh J. 2011. Patologi Pada Kehamilan : Manajemem &
Asuhan Kebidanan. Alihbahasa oleh : Devi Y. Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta:
PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Salmah,dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta:EGC
Soebroto,I., 2009. Cara mudah mengatasi problem Anemia. Yogyakarta:
Bangkit
Soetjiningsih. 2012. Perkembangan Anak dan Permasalahannya dalam Buku Ajar I Ilmu
Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta :Sagungseto .Pp 86-90.
Sulistyawati,Ari.2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin.Jakarta:
Salemba Medika
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan kebidanan, Volume 1. Jakarta : EGC
Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Rihma.

Tugas anemia

  • 1.
    ANEMIA DALAM KEHAMILAN UntukMemenuhi Tugas Mata Kuliah Penyakit Menular Dan Kronik Oleh : FRIESKA PIESESHA 101514153005 PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT MINAT KESEHATAN IBU DAN ANAK FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2016
  • 2.
    PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Salahsatu agenda yang harus dipenuhi dalam Millenium Development Goals (MDGs) adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu dengan indikator turunnya Angka Kematian Ibu (AKI) hingga 102/100.000 KH dan menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) hingga 23/1000 KH pada tahun 2015. Provinsi Jawa Timur termasuk 10 besar daerah dengan AKI dan AKB tertinggi di Indonesia. Ironisnya, daerah penyumbang angka kematian ibu terbanyak adalah Kota Surabaya dengan 49 kasus kematian ibu (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2014). Berdasarkan target MDGS, angka kematian ibu di Jawa Timur sudah melampaui target, dimana AKI Jatim tahun 2013 adalah 97,39/100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2014 93,52 / 100.000 kelahiran hidup. Namun bila dilihat jumlah absolut kematian ibu di Jawa Timur pada tahun 2012, masih tinggi yakni terdapat 449 kasus ibu meninggal. Angka ini kemudian meningkat pada tahun 2013. Tercatat 474 kasus kematian ibu pada tahun 2013 di Jawa Timur (97,39/100.000 KH). Menurut Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan ada sekitar 82 persen kematian karena melahirkan terjadi pada perempuan muda yang masih berusia kurang dari 15 tahun hingga usia 20 tahun, jumlah kematian ibu muda kebanyakan meninggal dunia akibat melakukan aborsi. Hal ini ditengarai karena tingginya kawin muda dan perilaku seks bebas mencapai sekitar 77%. Selain itu, faktor kematian ibu hamil juga dikarenakan terjadinya eklampsia atau kejang karena tekanan darah tinggi pada kehamilan, yang disebabkan tidak mendapat penanganan yang tepat akibat minim pengetahuan ibu terhadap tanda dan bahaya pada kehamilan sekitar 31%, faktor kedua yang paling rentan adalah pendarahan, apabila pendarahan pada ibu melahirkan terlambat ditangani dengan baik maka dapat membahayakan nyawa ibu. (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2014). Perdarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu di Indonesia (28%). Anemia dan kekurangan energi kronis pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Seorang wanita yang mengalami perdarahan setelah melahirkan dapat menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia) berat dan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan. Anemia merupakan sebuah kondisi kesehatan yang seringkali
  • 3.
    ditemukan pada masyarakatterutama masyarakat dengan ekonomi rendah. Anemia yang paling sering ditemukan adalah anemia defisiensi zat besi (ADB). Wanita usia reproduktif, hamil-menyusui dan bayi serta balita berisiko tinggi mengalami anemia. Anemia pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena prevalensinya diatas 20%. Remaja yang kekurangan besi menimbulkan apatis, mudah tersinggung, menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar. Wilayah perkotaan atau pedesaan berpengaruh melalui mekanisme yang berhubungan dengan ketersediaan sarana fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan yang pada gilirannya berpengaruh pada pelayanan kesehatan dan asupan zat besi khususnya bagi remaja (Almatsier, 2010). Anemia remaja pada usia 10-17 tahun merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin < 12g/dl (Soetjiningsih, 2012). Alasan wanita usia reproduktif dan wanita hamil mengalami anemia akibat defisiensi zat besi adalah karena adanya peningkatan kebutuhan zat besi akibat menstruasi dan hamil. Kebutuhan zat besi wanita dewasa sekitar 1,36 mg per hari dan kebutuhan remaja yang sedang menstruasi adalah sekitar 1,73 mg per hari. Namun sekitar 15% wanita dewasa yang sedang menstruasi memiliki kebutuhan lebih dari 2 mg per hari dan sekitar 5% membutuhkan sekitar 2,84 mg per hari. Remaja perempuan yang sedang dalam masa pertumbuhan dan mengalami menstruasi membutuhkan zat besi yang lebih banyak; sekitar 30% butuh menyerap zat besi lebih 2 mg per hari; 10 % membutuhkan 2,65 mg dan 5% membutuhkan 3,21 mg. Kebutuhan ini akan sulit dicapai bila asupan makanan harian yang mengandung zat besi tidak tercukupi dengan baik.
  • 4.
    TINJAUAN PUSTAKA ANEMIA DALAMKEHAMILAN 1. Anemia 1.1. Definisi Anemia Anemia adalah kondisi dimana terdapat penurunan kadar hemoglobin (hb) atau jumlah eritrosit dalam darah (Taseer et al, 2011). Anemia telah menjadi salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang yang diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia, anemia banyak terjadi pada masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil. Tingginya angka kejadian anemia ini mengindikasikan status nutrisi dan kesehatan masyarakat yang masih buruk. Anemia dapat terjadi pada semua kelompok usia namun paling sering ditemui pada anak-anak dan ibu hamil (WHO, 2008). Anemia adalah keadaan dengan kadar hemoglobin, hematokrit dan sel darah merah yang lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan esensial yang dapat memengaruhi timbulnya defisiensi tersebut (Arisman, 2010). Anemia adalah sebagai suatu kondisi tidak mencukupinya cadangan zat besi sehingga berkurangnya penyaluran zat besi ke jaringan tubuh. Tingkat kekurangan zat besi yang lebih parah dihubungkan dengan anemia yang secara klinis ditentukan dengan turunnya kadar hemoglobin sampai kurang dari 11,5 gr/gl (Miller, 2008). 1.2. Penyebab Anemia Anemia dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi tiga mekanisme utama yang menyebabkan anemia adalah: 1. Penghancuran Sel Darah Merah yang Berlebihan Sel-sel darah normal yang dihasilkan oleh sumsum tulang akan beredar melalui darah ke seluruh tubuh. Pada saat sintesis, sel darah yang berlebihan belum matur (muda) dapat juga disekresi ke dalam darah. Sel darah yang usianya muda biasanya gampang pecah sehingga terjadi anemia (Proverawati, 2011). Ketika sel-sel darah merah yang rapuh dan tidak bisa menahan tekanan, sel darah merah akan pecah dan hancur secara prematur (sebelum waktunya), yang disebut
  • 5.
    anemia hemolitik. Anemiahemolitik dapat terjadi saat lahir atau berkembang di kemudian hari. Kadang-kadang penyebabnya tidak diketahui. Penyebab anemia hemolitik dapat mencakup: a. Kondisi warisan, seperti anemia sel sabit dan talasemia b. Stresor seperti infeksi, obat-obatan, racun ular atau laba-laba atau kelajengking, atau makanan tertentu c. Racun penyakit liver atau penyakit ginjal d. Serangan sistem kekebalan tubuh (disebut eritroblastosis fetalis ketika terjadi pada janin dari wanita hamil) e. Cangkok vaskular, katup jantung prostetik, tumor, luka bakar parah, paparan bahan kimia tertentu, tekanan darah tinggi yang berat, dan gangguan pembekuan darah f. Dalam kasus yang jarang terjadi, pembesaran limpa justru menjadi perangkap untuk menghancurkan sel darah merah seperti pada penyakit malaria, atau demam berdarah 2. Kehilangan Darah Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah darah dalam tubuh, sehingga terjadi anemia. Anemia karena perdarahan besar dan dalam waktu singkat ini jarang terjadi. Keadaan ini biasanya terjadi pada kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya (Sadikin, 2001). Pada laki-laki dewasa, sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses perdarahan akibat penyakit atau trauma, atau akibat pengobatan suatu penyakit. Sementara pada wanita, terjadi kehilangan darah secara alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar selama menstruasi sangat banyak akan terjadi anemia defisiensi zat besi (Arisman, 2010). 3. Penurunan Produksi Sel Darah Merah Jumlah sel darah yang diproduksi dapat menurun ketika terjadi kerusakan pada daerah sumsum tulang atau bahan dasar produksi tidak tersedia (Proverawati, 2011). Beberapa faktor kebiasaan dan sosial budaya turut memperburuk kondisi anemia di kalangan perempuan yaitu : a. Kurang mengkonsumsi bahan makanan hewani
  • 6.
    b. Kebiasaan dietuntuk mengurangi berat badan c. Budaya atau kebiasaan dikeluarga sering menomorduakan perempuan dalam hal makanan d. Pantangan tertentu yang tidak jelas kebenarannya seperti perempuan hamil jangan makan ikan karena bayinya akan bau amis. e. Kemiskinan yang menyebabkan mereka tidak mampu mengkonsumsi makanan yang bergizi (Hasmi, dkk, 2005). Mengetahui penyebab anemia sangat penting, karena atas dasar penyebab inilah pengobatan semestinya diberikan. Pengobatan anemia yang diberikan tidak dengan pengetahuan yang teliti akan menjadi sangat berbahaya, Pada mereka yang cenderung melakukan otomedikasi (mengobati diri sendiri), apalagi di bawah pengaruh yang kuat dari informasi sepihak dan tidak lengkap yang diperoleh dari lingkungan (Sadikin, 2001). 1.3. Tanda dan Gejala Anemia Tanda dan gejala anemia biasanya tidak khas dan sering tidak jelas seperti : pucat, mudah lelah, berdebar, takikardia, dan sesak nafas. Kepucatan bisa diperiksa pada telapak tangan, kuku, dan konjungtiva palpebra (Arisman, 2010). Gejala anemia ringan mungkin termasuk yang berikut: a. Lemah, lesu, pusing b. Tampak pucat terutama pada gusi dan kelopak mata atau bawah kuku c. Jantung berdebar nafas pendek d. Sariawan mulut dan lidah, bilur-bilur atau perdarahan tidak biasa. e. Mati rasa atau kesemutan didaerah kaki f. Mual dan diare g. Keletihan, mudah lelah bilah berolahraga. (Syamsul,2011). Beberapa tanda yang mungkin menunjukkan anemia berat pada seseorang dapat mencakup: a. Perubahan warna tinja b. Denyut jantung cepat c. Tekanan darah rendah d. Frekuensi pernafasan cepat
  • 7.
    e. Kulit kuningdisebut jaundice jika anemia karena kerusakan sel darah merah f. Murmur jantung g. Pembesaran limpa h. Nyeri dada i. Pusing atau kepala terasa ringan (terutama ketika berdiri atau dengan tenaga) j. Kelelahan atau kekurangan energy k. Sakit kepala l. Tidak bisa berkonsentrasi m. Sesak nafas (khususnya selama latihan) n. Nyeri dada, angina, serangan jantung o. Pingsan.(Proverawati, 2011). 2. Anemia Kehamilan 2.1 Frekuensi dan Anemia dalam Kehamilan Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dengan kadar hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5gr% pada trimester 2, nilai batas tersebut dan perbedaannya terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin, 2014). Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital ibu dan 2 janin menjadi berkurang. Selama kehamilan indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr% (Varney, 2007). Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang tidak diimbangi dengan jumlah plasma menyebabkan pengenceran darah. Plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat . Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan anatara 32-36 minggu, wanita hamil
  • 8.
    dengan Hb antara10-12 g/100ml tidak dianggap, para wanita hamil dengan hb antara 10-12 g/100ml tidak dianggap menderita anemia patologik akan tetapi anemia fisiologis (Saifuddin, 2014). Di dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar anatara 10% dan 20%. Sedangkan frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5%. Defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia sehingga dapat dipahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi di negara yang sedang berkembang dibandingkan dengan negara yang sudah maju. Frekuensi anemia dalam kehamilan setinggi 18,5%, pseudoanemia 57,9%, dan wanita hamil dengan Hb 12 g/100 ml atau lebih sebanyak 23,6%, Hb rata-rata 12,3 g/ml dalam trimester III. Hal itu disebabkan karena pengenceran darah menjadi makin nyata dengan bertambahnya umur kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat pula (Prawiharjo, 2014). 2.2 Klasifikasi Anemia pada Kehamilan Pemeriksaan hemoglobin secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan untuk mendeteksi anemia. Pemeriksaan darah minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan III (Dep.Kes RI, 2002) 1. Klasifikasi menurut Dep. Kes RI a. Normal : kadar Hb dalam darah .≥11 gr% b. Anemia Ringan : kadar Hb dalam adarah 9-10 gr c. Anemia sedang dengan Hb 7-8gr% d. Anemia berat : kadar Hb dalam darah ,<7 gr% 2. Klasifikasi Menurut WHO a. Normal : Kadar Hb dalam darah ≥ 11 gr% b. Anemia ringan : Kadar Hb dalam darah 8 - 10 gr% c. Anemia berat : Kadar Hb dalam darah < 8 gr% 3. Klasifikasi menurut (Manuaba, 2007) a. Normal : Hb 11 g r% b. Anemia ringan : Hb 9 – 10 gr % c. Anemia sedang : Hb 7 – 8 gr % d. Anemia berat : Hb < 7 gr %
  • 9.
    2.3 Pembagian Anemiadalam Kehamilan Berdasarkan penelitian anemia anemia dalam kehamilan dapat diklasifikasikan menjadi anemia gizi besi 62,3%, anemia megaloblastik 29%, anemia hemolitik 8% dan anemia hipoplastik 0,7% (Mochtar, 2012) 1. Anemia Defisiensi Besi Anemia gizi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang. Anemia defisiensi besi disebabkan oleh kurangnya mineral Fe (besi) sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) sehingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi. (Bakta, 2007) Anemia gizi besi atau anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi utama bagi semua kelompok umur dengan prevalensi paling tinggi pada kelompok ibu hamil. Sekitar 95% anemia terkait kehamilan tergolong anemia gizi besi.(Morgan dkk., 2009) Penyebab utama anemia kekurangan besi pada wanita hamil disebabkan karena kurang memadainya asupan makanan sumber zat besi, karena gangguan resorpsi atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari tubuh misalnya perdarahan, keperluan akan zat besi bertambah dalam kehamilan terutama dalam trimester terakhir, apabila masuknya besi tidak ditambah dalam kehamilan maka akan terjadi anemia defisiensi besi. Pencegahan terjadinya anemia defisensi besi, sebaiknya wanita hamil diberi sulfas ferrosus, cukup tablet sehari selain itu dinasehatkan untuk makan protein hewani dan sayuran yang mengandung vitamin dan mineral (Saifuddin, 2014) Kebutuhan ibu hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah sebesar 200-300%. Perkiraan jumlah zat besi yang diperlukan selama hamil adalah 1040 mg. Sebanyak 300 mg Fe ditransfer ke janin dengan rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah dan 200 mg hilang ketika melahirkan. Kebutuhan Fe selama kehamilan trimester 1 relatif sedikit yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester III yaitu 6,3 mg
  • 10.
    sehari, jumlah sebanyakitu tidak mungkin tercukupi hanya melalui makanan (Arisman, 2010). 2. Anemia Megaloblastik Anemia megaloblastik disebabkan oleh gangguan pembentukan DNA pada inti eritroblast, terutama akibat defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Anemia defisiensi vitamin B12 relatif jarang dijumpai di Indonesia, tetapi anemia defisiensi asam folat cukup sering dijumpai, terutama pada wanita hamil. Anemia defisiensi asam folat merupakan penyebab kedua anemia pada wanita hamil setelah defisiensi besi (Bakta, 2007). Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup baik. Pengobatan dengan asam folat hampir selalu berhasil. Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak, keperluan akan asam folat jauh berkurang. Sebaliknya anemia defisiensi vitamin B12 (anemia perniosa) memerlukan pengobatan terus-menerus, juga di luar kehamian (Prawiharjo, 2014). 3. Anemia Hipoplastik Anemia hipoplastik pada wanita hamil adalah anemia yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Pengobatan dengan berbagai obat penambah darah tidak memberi hasil sehingga satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita adalah transfusi darah, yang sering perlu diulang sampai beberapa kali. (Prawiharjo, 2014). 4. Anemia Hemolitik Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah pemecahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya (sebelum masa hidup rata-rata eritrosit yaitu 120 hari). Hemolisis berbeda dengan proses penuaan yaitu pemecahan eritrosit karena memang sudah cukup umurnya (Bakta, 2007). Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Hal ini dapat disebabkan karena faktor intrakospukuler
  • 11.
    (herediter, talasemia, anemiasel sabit) dan faktor ekstrakospukuler (malaria, sepsis, keracunan zat logam, leukimia). (Mochtar, 2012). Wanita dengan anemia hemolitik biasanya sulit hamil, apabila ia hamil maka anemianya bisa menjadi lebih berat, pengobatan anemia hemolitik pada kehamilan trgantung pada jenis dan beratnya, obat- obat penambah darah tidak memberikan hasil transfuse darah yang kadang-kadang dilakukan berulang beberapa kali di beikan pada anemia yang berat untuk mengurangi bahaya hipoksia janin. (Prawiharjo, 2014). 2.4 Pengaruh Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas Menurut (Mochtar, 2012) mengemukakan pengaruh anemia pada hamil, bersalin dan nifas adalah : 1. Keguguran. 2. Partus prematurus. 3. Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah. 4. Atonia uteri dan menyebabkan perdarahan. 5. Syok. 6. Afibrinogen dan hipofibrinogen. 7. Infeksi intrapartum dan dalam nifas. 8. Bila terjadi anemia gravis ( Hb dibawah 4 gr% ) terjadi payah jantung yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan tapi juga bisa fatal. 1) Bahaya selama kehamilan a. Dapat terjadi abortus b. Persalinan prematuritas c. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim d. Mudah terjadi infeksi e. Ancaman dekompensasi kordis ( Hb < 6 gr% ) f. Mola hidatidosa g. Hiperemesis gravidarum h. Perdarahan antepartum i. Ketuban pecah dini (KPD)
  • 12.
    2) Bahaya saatpersalinan a. Gangguan his-kekuatan mengejan. b. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar. c. Kala dua berlangsung lama, sehingga dapat melelahkan dan seringmemerlukan tindakan operasi kebidanan. d. Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonia uteri. e. Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri. 3) Bahaya pada saat nifas a. Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum b. Memudahkan infeksi puerperium c. Pengeluaran ASI berkurang d. Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan e. Anemia kala nifas f. Mudah terjadi infeksi mamae 4) Bagi janin a. Abortus b. Terjadi kematian intra uteri c. Persalinan prematuritas tinggi d. Berat badan lahir rendah e. Kelahiran dengan anemia f. Dapat terjadi cacat bawaan g. Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal h. Inteligensia rendah 2.5 Penanganan Anemia dalam Kehamilan Penatalaksanaan dan asuhan medis terhadap anemia yaitu: 1. Pemeriksaan ANC Petugas kesehatan mengkaji penyebab anemia dari riwayat diet untuk mengetahui adakah kemungkinan pica, kebiasaan mengidam berlebihan dan mengonsumsi
  • 13.
    makanan-makanan tertentu danriwayat medis yang adekuat dan uji yang tepat (Robson, 2011). 2. Nutrisi Nutrisi yang baik adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya anemia. Makan makanan yang tinggi kandungan zat besi (seperti sayuran berdaun hijau, daging merah, sereal, telur, dan kacang tanah). (Proverawati, 2011). 3. Pemberian Fe Pemberian tablet besi (Fe) kehamilan setiap harinya kemudian dievaluasi apakah ada keluhan (misalnya mual, muntah, feses berwarna hitam), apabila tidak ada keluhan maka pemberian sulfat ferosa dapat dilanjutkan hingga anemia terkoreksi, Apabila pemberian zat besi peroral tidak berhasil (misalnya pasien tidak kooperatif) maka bisa diberikan dosis parenteral (per IM atau per IV) dihitung sesuai berat badan dan defisit zat besi (Robson, 2011). Pemantauan konsumsi suplemen zat besi perlu juga diikuti dengan pemantauan cara minum yang benar karena hal ini akan sangat mempengaruhi efektifitas penyerapan zat besi. Vitamin C dan protein hewani merupakan elemen yang sangat membantu dalam penyerapan zat besi, sedangkan kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat (terkandung dalam kacang-kacangan) akan menghambat penyerapan zat besi. Ibu hamil perlu diberikan konseling mengenai makanan yang banyak mengandung zat besi dan cara pengolahannya. Beberapa contoh makanan yang kaya zat besi adalah: daging sapi, ayam, sarden, roti gandum, kapri, buncis panggang, kacang merah, sayuran berdaun, brokoli, daun bawang, bayam, buah-buahan kering, dan telur (Sulistyawati, 2009). 4. Transfusi Darah Transfusi darah diindikasikan bila terjadi hipovolemia akibat kehilangan darah atau prosedur operasi darurat. Wanita hamil dengan anemia sedang yang secara hemodinamis stabil, dapat beraktifitas tanpa menunjukan gejala menyimpang dan tidak septik, transfusi darah tidak diindikasikan, tetapi diberi terapi besi selama setidaknya 3 bulan (Cunningham, 2013)
  • 14.
    5. Evaluasi Pemberian terapidengan cara pemantauan kadar Hb dapat dilakukan 3-7 hari setelah hari pertama pemberian dosis sulfat ferosa (retikulosit meningkat mulai hari ketiga dan mencapai puncaknya pada hari ketujuh). Sedangkan pemantauan kadar Hb pada pasien yang mendapat terapi transfusi dilakukan minimal 6 jam setelah transfuse (Yan, 2011). 2.6 Tablet Fe 1. Pengertian Zat besi adalah tablet tambah darah untuk menanggulangi anemia gizi besi yang diberikan kepada ibu hamil. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah, janin, dan plasenta. Makin sering seorang mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis (Manuaba, 2007). 2. Kebutuhan Zat Besi Pada Ibu Hamil Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat saat hamil dan melahirkan. Ketika hamil, seorang ibu tidak saja dituntut memenuhi kebutuhan zat besi untuk dirinya, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janinnya. Selain itu perdarahan saat melahirkan juga dapat menyebabkan seorang ibu kehilangan lebih banyak lagi zat besi. Karena alasan tersebut, setiap ibu hamil disarankan mengonsumsi tablet zat besi (Soebroto, 2009). Menurut Arisman (2004) Kebutuhan akan zat besi selama trimester I relatif sedikit, yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester II dan III, yaitu 6,3 mg sehari. Pada masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari 7 menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup mengandung zat besi, ibu hamil tetap memerlukan tambahan tablet besi (Prasetyono, 2010). Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin, cadangan zat besi janin, dan sebagainya. Bisa diperoleh dari daging berwarna merah, bayam, kangkung, kacang- kacangan dan sebagainya (Maulana, 2009). Menurut Salmah, dkk (2006) Kebutuhan zat besi pada kehamilan kurang lebih 1000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan massa sel darah merah dan 300 mg untuk transportasi ke fetus dalam kehamilan 12 minggu, 300 mg lagi untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuh. Wanita hamil
  • 15.
    perlu menyerap zatbesi rata-rata 3,5 mg/hari, kebutuhannya meningkat secara signifikan pada trimester akhir karena absorbsi usus yang tinggi. Kebutuhan zat besi menurut triwulan adalah sebagai berikut: Pada Triwulan I zat besi yang dibutuhkan adalah 1 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal 0,8 mg/hari ditambah dengan kebutuhan janin dan red cell mass 30-40 mg. Pada Triwulan II zat besi yang dibutuhkan adalah 1 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal 0,8 mg/hari ditambah dengan kebutuhan janin dan red cell mass 30-40 mg dan pada Triwulan III zat besi yang dibutuhkan adalah 5 mg/hari yaitu untuk kebutuhan basal 0,8 mg/hari ditambah dengan kebutuhan red cell mass 150 mg dan conceptus 223 mg (Waryana, 2010). 3. Pemberian Tablet Zat Besi Pemberian zat besi dimulai setelah rasa mual dan muntah hilang yaitu memasuki usia kehamilan 16 minggu, dikonsumsi satu tablet sehari selama minimal 90 hari (Salmah, dkk, 2006). Pemerintah Indonesia mulai menerapkan dan terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. Ibu hamil mendapatkan tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya. program ini dilaksanakan dengan harapan setiap ibu hamil secara teratur memeriksakan diri ke Puskesmas atau Posyandu selama masa kehamilannya (Depkes RI, 2010). 4. Efek samping Efek samping tablet besi berupa pengaruh yang tidak menyenangkan seperti rasa tidak enak di ulu hati, mual, muntah, dan diare (terkadang juga konstipasi). Penyulit ini tidak jarang menyusutkan ketaatan pasien selama pengobatan berlangsung (Arisman, 2007). Untuk mengatasi agar tidak terjadi konstipasi sebaiknya makan buah- buahan/makanan lain yang tinggi serat, serta minum sedikitnya delapan gelas cairan perhari. Saat 9 minum tablet Fe kadang timbul mual, nyeri lambung, konstipasi, maupun diare sebagai efek sampingnya (Soebroto, 2009). Ditoleransikan untuk meminum tablet Fe pada saat sebelum tidur malam (bisa mengurangi efek samping yang terjadi. Dalam konsumsi tablet Fe sebaiknya pada malam hari sebelum tidur, biasakan pula menambahkan substansi yang memudahkan penyerapan zat besi seperti vitamin C, air jeruk. Sebaliknya subtansi penghambat penyerapan zat besi seperti teh, kopi dan susu yang patut dihindari (Salmah, dkk, 2006).
  • 16.
    3. Anemia padaRemaja Putri 3.1. Pengertian Anemia pada Remaja Putri Anemia adalah suatu kondisi medis di mana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal umumnya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Untuk pria anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13,5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12 gram/100 ml (Proverawati, 2011). Anemia merupakan gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah hemoglobin (Hb) yang levelnya kurang dari 11,5 gr/dl Anemia merupakan salah satu kelainan darah yang umum terjadi ketika kadar sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh menjadi terlalu rendah. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan karena sel darah merah mengandung hemoglobin, yang membawa oksigen ke jaringan tubuh. Anemia dapat menyebabkan berbagai komplikasi termasuk kelelahan dan stres pada organ tubuh (Proverawati, 2011). Dampak dari anemia mungkin tidak dapat langsung terlihat, tetapi dapat berlangsung lama dan mempengaruhi kehidupan remaja selanjutnya. Anemia pada remaja perempuan dapat berdampak panjang untuk dirinya dan juga untuk anak yang ia lahirkan kelak. Pastikan kebutuhan zat besi remaja terpenuhi pada saat ini untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Dampak dari anemia adalah: a. Terganggunya pertumbuhan dan perkembangan b. Kelelahan c. Meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun d. Menurunkan fungsi dan daya tahan tubuh e. Lebih rentan terhadap keracunan f. Terganggunya fungsi kognitif Kekurangan zat besi atau anemia yang berlanjut sampai dewasa dan hingga perempuan tersebut hamil, dapat menimbulkan risiko terhadap bayinya. Remaja perempuan yang sudah hamil dan menderita anemia dapat meningkatkan
  • 17.
    risiko kelahiran prematurdan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Oleh karena itu, remaja perempuan disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi sebelum hamil. Suplemen zat besi ini membantu memenuhi kebutuhan zat besi yang makin tinggi saat kehamilan. 3.2 Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja putri 1. Pencegahan Menurut Almatzier (2011), cara mencegah dan mengobati anemia adalah : a. meningkatkan konsumsi makanan bergizi ď‚· Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan mkanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe). ď‚· Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin c (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus. b. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD). Tablet tambah darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung 200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat. Wanita dan remaja putri perlu minum tablet tambah darah karena wanita mengalami haid sehingga memerlukan zat besi untuk mengganti darah yang hilanng. Wanita mengalami hamil, menyusui sehingga sanggat tinggi yang perlu disiapkan sedini mungkin semenjak remaja. Tablet tambah darah mampu mengobati wanita dan remaja putri yang menderita anemia, meningkatkan kemampuan belajar, ke,a,puam kerja dan kualitas sumberdaya manusia serta generasi penerus. Anjuran minum yaitu minum 1 tablet tambah darah seminggu sekali dan dianjurkan minum tablet 1 setiap hari selama haid. Minumlah tablet tambah darah dengan air putih jangan minum dengan the, susu dan kopi karena dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga manfaatnya menjadi berkurang. c. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memeperberat anemia seperti cacingan, malaria dan penyakit TBC 2. Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri
  • 18.
    Tindakan penting yangdilakukan untuk mencegah kekurangan besi antara lain: a. Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang cukup secara rutin pada usia remaja. b. Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan, unggas, makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C (asam askorbat) untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau mengurangi minum kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat dan minum susu pada saat makan. c. Suplementasi besi, merupakan cara untuk menanggulangi anemia di daerah dengan prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1 mg/KgBB/hari. d. Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi bersama susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat, multivitamin yang mengandung phosphate dan kalsium. e. Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih merupakan pilihan untuk skrining anemia (Lubis, 2008) DAFTAR PUSTAKA
  • 19.
    Almatsier, Sunita. 2011.Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Arief, M. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Penerbitan Media Aesculapius FKUI. Arisman, M.B., 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Bakta, I.M., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Buku Kedokteran EGC, Denpasar Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrapm LC, Hauth JC, Wenstrom KD. 2013. Obstetric Williams. Edisi 21. Alihbahasa oleh : Andry H, dkk. Jakarta : EGC Dinkes Jatim. 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014. Surabaya ; Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta : Kemenkes RI. Manuaba, I.B.G., , 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC. Miller, R.D., 2008. Blood Disease of Infancy and Childhood, Iron Metabolism and Iron Deficiency. Mosby Company. Washington DC. Mochtar, R., 2012. Sinopsis Obstetri. Jilid 1. Ed.3 Buku Kedokteran Jakarta : EGC. Morgan, G, Hamilton, C. 2009. Obstetri dan Ginekologi, Panduan Praktik. Jakarta :EGC Proverawati, Atikah.2011. Anemia dan Anemia kehamilan. Yogyakarta : Nuha Medika Proverawati, Atikah.2011. Anemia dan Anemia kehamilan. Yogyakarta : Nuha Medika Robson SE & Waugh J. 2011. Patologi Pada Kehamilan : Manajemem & Asuhan Kebidanan. Alihbahasa oleh : Devi Y. Jakarta : EGC
  • 20.
    Saifuddin, Abdul Bari.2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Salmah,dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta:EGC Soebroto,I., 2009. Cara mudah mengatasi problem Anemia. Yogyakarta: Bangkit Soetjiningsih. 2012. Perkembangan Anak dan Permasalahannya dalam Buku Ajar I Ilmu Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta :Sagungseto .Pp 86-90. Sulistyawati,Ari.2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin.Jakarta: Salemba Medika Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan kebidanan, Volume 1. Jakarta : EGC Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Rihma.