1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dampak kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat diamati dari
besarnya angka kesakitan dan kematian maternal, peningkatan angka
kesakitan dan kematian janin, serta peningkatan resiko terjadinya berat
badan lahir rendah. Penyebab utama kematian maternal antara lain
adalah perdarahan pasca partum (disamping eklampsia, dan penyakit
infeksi) dan plasenta previa yang semuanya berangkat dari pada anemia
difesiensi (Arisman.2004)
Menurut World Healt Organization (WHO) memperkirakan lebih
dari 500.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin.
(http://who-int/reproductive-health, diakses 28 Maret 2009), sedangkan
angka kejadian anemia menurut who berkisar antara 20% sampal 89%
dengan menetapkan Hb 11 grm% sebagai dasarnya. Angka kehamilan di
Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Hoo Swi Tjiong
menemukan angka anemia kehamilan pada trimester I, 3,8%, trimester II,
13,6 dan pada trimester Ill, 24,8%. Akrib Simanjuntak menemukan
sebesar 40,1% di Bogor.( Manuaba ,1998).
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003,
Angka Kematian Ibu mencapai 307 per 100,000 kelahiran hidup. ini
merupakan Angka Kematian Ibu tertinggi di ASEAN. Setiap tahun angka
2

kelahiran mencapai lima juta. Dari angka itu sekitar 20 ribu kehamilan
berakhir dengan kematian akibat komplikasi dan melahirkan.
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan propinsi Sulawesi
Selatan, pada tahun 2007 jumlah kasus adalah 220 orang. Dengan
klasifikasi sebagai berikut : anemia ringan 89 orang (40,56%), anemia
sedang 96 orang (43,67%), dan anemia berat 35 orang (15,90%) (Propil
Dinas Kesehatan 2008).
Tingginya kematian ibu yang berhubungan dengan kehamilan dan
persalinan dipengaruhi antara lain : karena perdarahan (45%) eklampsia
atau kejang-kejang, dan tekanan darah tinggi (12 %), infeksi (12%), aborsi
(10%) dan sisanya karena hal-hal medis lain (Manuaba, 2001).
Di Puskesmas Segeri Pangkep pada tahun 2008 data yang
didapatkan dari Medical Record terdapat 307 orang ibu hamil yang
memeriksakan kehamilannya, dan jumlah ibu yang menderita anemia
sebanyak 199 orang meliputi anemia berat sebanyak 23 orang, anemia
sedang sebanyak 62 orang , dan anemia ringan sebanyak 114 orang.
Anemia gizi sebagian besar dapat dicegah melalui promosi dan
pendidikan kesehatan sebelum maupun selama hamil. Cara mengatasi
anemia selama kehamilan telah ditetapkan melalui kebijakan Departemen
Kesehatan dengan melaksanakan program penanggulangan anemia zat
besi (AZB) dengan memberikan tablet besi atau tablet tambah darah Fe
9320 Mg, Fe Sulfat dan 0,5 asam folat untuk semua ibu hamil sebanyak 1
3

tablet setiap hari berturut - turut selama 90 hari pada masa kehamilan
(Modul Pendidikan dan Pelatihan Bidan, 1998)
Dengan melihat pengaruh anemia terhadap ibu hamil, ibu
melahirkan, nifas dan janin yang dikandungnya yang dapat berpengaruh
secara

tidak

langsung

terhadap

kuálitas

sumber

daya

manusia

(Widyastuti, 2004).
Oleh karena masalah anemia gizi pada ibu hamil merupakan
masalah penting yang erat hubungannya dengan masalah mortalitas
maternal maka dianggap penting untuk dilakukannya suatu identifikasi
berbagai gambaran melalui suatu penelitian mengenai Gambaran tentang
kejadian Anemia pada ibu hamil yang dibatasi pada masalah umur ibu,
paritas, dan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut :
1.

Bagaimana gambaran anemia pada ibu hamil menurut ibu di

Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ?
2.

Bagaimana gambaran anemia pada ibu hamil menurut paritas

Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ?
3.

Bagaimana gambaran

anemia pada

ibu

hamil

pendidikan Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ?

menurut
4

C. Tujuan Penelitian
1.

Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran tentang anemia pada ibu hamil di
Puskesmas Segeri tahun 2008.
2.

Tujuan Khusus
a.

Diperolehnya gambaran tentang anemia pada ibu

hamil menurut

umur ibu di Puskesmas Segeri tahun 2008.

b.

Diperolehnya gambaran tentang anemia ibu hamil

menurut paritas di Puskesmas Segeri tahun 2008.
c.

Diperolehnya gambaran tentang anemia pada ibu

hamil menurut pendidikan ibu di Puskesmas Segeri 2008.
D. Manfaat Penelitian
1.

Manfaat Institusi

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi Dinas
Kesehatan dan institusi terkait Iainnya dalam rangka menentukan
kebijakansanaan untuk pencegahan dan penanganan anemia pada
ibu hamil
2.

Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi informasi dan bahan
bacaan bagi penelitian selanjutnya.
5

3.

Manfaat Praktis

Merupakan
meningkatkan

pengalaman

ilmiah

pengétahuan

dan

gambaran anemia pada ibu hamil.

yang

berharga

menambah

yang

wawasan

dapat
tentang
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Anemia
1.

Pengertian anemia
a.

Keadaan dimana kadar haemoglobin, hematokrit dan

sel darah merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari
defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial
yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Menurut
kemampuan darah untuk mengikat oksigen yang dapat disebabkan
oleh menurunnya sel darah merah, berkurangnya konsentrasi
haemoglobin atau kombinasi keduanya dalam sirkulasi darah
dengan kadar haemoglobin dibawah 11gr% pada trimester I dan III
atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5gr % pada trimester II
(Saifuddin, 2001).
b.

Berkurangnya kadar haemoglobin (Hb) dalam darah

kurang dari 12 mgr% dimana Hb adalah komponen di dalam sel
darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurkan oksigen
keseluruh tubuh. Jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan
oksigen ( Lis Sinsin ,2008).
c.

Anemia yang secara umum dapat diterima adalah

turunnya kadar haemoglobin kurang dari 12,0gr/l00mI darah pada
7

wanita yang tidak hamil., anemia yang terkait dengan kehamilan
adalah anemia defisiensi besi hampir 95% (Varney , 2000).
2.

Patofisiologi anemia dalam kehamilan (Wiknjasastro,2000)
Anemia merupakan gangguan medis yang paling umum ditemui

pada masa hamil, mempengaruhi sekurang-kurangnya 20% wanita
hamil. Hal ini disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zatzat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan dalam darah dan
susunan tulang.
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut
anemia atau hipervelomia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah
kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi
pengenceran darah . Pertambahan tersebut yaitu plasma 30% sel
darah 18% dan haemoglobin 19%.
Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian dini secara
fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita :
a.

Pertama-tama pengenceran itu meringankan beban

jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena
sebagai akibat hidremia viskositas darah rendah, resistensi, perifer
berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik
b.

Kedua pada perdarahan waktu persalinan, banyak

unsur zat besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan
apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam
8

kehamilan sudah mulai naik sejak umur kehamilan 10 minggu dan
mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 34 minggu.
Faktor Penyebab Terjadinya Anemia pada Ibu Hamil ( Muchtar

3.

R, 1998)
Berdasarkan fakta yang dapat menyebabkan timbulnya anemia
dalam kehamilan diantaranya:
a. Kurang gizi ( Malnutrisi)
b. Kurang zat besi dalam diet
c. Malabsorbsi
d. Kehilangan darah yang banyak dalam persalinan yang lalu.
e. Terjadi pengenceran darah selama kehamilan
Macam - macam anemia (Winkjosastro, 2005)

4.
a.

Anemia defisiensi besi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia
akibat kekurangan zat besi, kekurangan ini dapat disebabkan
karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan karena
gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau
banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b.
Anemia

Anemia megaloblastik
megaloblastik

dalam

kehamilan

disebabkan karena

defisiensi asam folik ( pteroyglutamic acid ), jarang sekali karena
defisisensi vitamin B12.
9

c.

Anemia hypoblastik

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum
tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan
anemia hipoblastik dalam kehamilan.
d.

Anemia hemolitik

Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung
Iebih cepat dari pembuatannya, wanita dengan anemia hemolitik
sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemia biasanya
menjadi Iebih berat.
5.

Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan

janin (Manuaba, 2001)
a.

Pengaruh anemia dalam kehamilan

1) Resiko terjadi abortus
2) Persalinan prematurus.
3) Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
4) Mudah terjadi infeksi
5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb<6gr%)
6) Merigancam jiwa dengan kehidupan ibu.
b.

Pengaruh anemia dalam persalinan
1)

Gangguan kekuatan his yang mengakibatkan terjadinya

partus lama
10

2)

Anemia dalam kehamilan dapat mengakibatkan atonia

uteri atau inertia dalam semua kala persalinan dan terjadinya
perdarahan post partum.
3)

Dalam persalinan dapat mengakibatkan kematian ibu.
Pengaruh anemia dalam nifas.

c.
1)

Pedarahan post partum karena atonia uteri dan involusio

uteri
2)

Memudahkan infeksi puerperium

3)

Pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang

d.

Pengaruh anemia terhadap janin:
1)

Bayi berat lahir rendah

2)

Cacat bawaan

3)

Intelegensia rendah oleh karena kekurangan oksigen

dan nutrisi yang menghambat pertumbuhan janin.
4)

Morbiditas dan mortalitas perinatal tinggi jika kadar Hb <

6 gr%.
6.

Diagnosa anemia

Diagnosa anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan :
a.

Anamnese

Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering
pusing, mata berkunang – kunang, nafsu makan berkurang dan
11

keluhan muntah - muntah Iebih hebat pada kehamian muda (I.G.B.
Manuaba ,1998).

b.

Pemeriksaan fisik

Keluhan Iemah ,kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih
dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan kunjungtiva
oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah
kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan (Saifuddin ,2001)
c.

Pemeriksaan darah

Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi. Pemeriksaan minimal 2 kali
selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester Ill. Dengan
melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa
dapat

dipastikan

dengan

pemeriksaan

kadar

Hb

dengan

menggunakan alat sahli ( Safiuddin ,2001).
Batasan anemia yang digunakan WHO pada tahun 1991 sebagai
berikut :
1)

Normal ≥ 12 gram %

2)

Anemia ringan ≤11 gram %

3)

Anemia sedang ≥ 10 gram %

4)

Anemia berar ≤ 10 gram %

Departemen Kesehatan tahun 1998 sebagai berikut
12

1)

Normal ≥ 10,5 gram %

2)

Anemia ringan 9 -10,4 gram %

3)

Anemia sedang 7,6 - 8,9 gram %

4)

Anemia berat <7,5 gram %

Hasil pemeriksaan haemoglobin dengan alat sahli (IManuaba, 1998)
1) Normal ≥ 11 gram %
2) Anemia ringan 9 -10,9 gram %
3) Anemia sedang 7 - 8,9 gram %
4) Anemia berat <7,5 gram %
7.

Pencegahan anemia dan penanganan anemia
a. Pencegahan anemia
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil
melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui
data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksan
kesehatan

disertai

pemeriksaan

laboratorium

termasuk

pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit
( Manuaba, 1998)
Di daerah dengan frekwensi anemia kehamilan yang tinggi
sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfa ferosus atau glukosnas
ferosus 1 tablet sehari, wanita dinasehati pula untuk makan lebih
banyak protein, mineral dan vitamin.
13

Dengan pertimbangan bahwa sebagian ibu hamil mengalami
anemia, pemerintah telah menyediakan preparat besi (tablet besi /
Fe) untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke posyandu,
maka dilakukan pemberian suplemen langsung zat besi yang
mengandung 200 mg sulfa feosus 0,25 mg asam folat yang diikat
dengan lactosa, diberikan setiap hari sejak kehamilan 20 minggu
dan diharapkan ibu hamil mengkonsumsi minimal 90 tablet dan
dilanjutkan 30 tablet selama masa nifas (Manuaba, 1998)
b. Penanganan anemia (Winkjosastro,2000)
1)

Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb < 11 gr% masih

dianggap ringan sehingga perlu diberikan kombinasi 60 mg dan
400 mg asam folat peroral sekali sehäri.
2)

Anemia sedang
Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi ferosus

600 - 1000 mg/han seperti sulfat ferosus atau glokonat ferosus
3)

Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum

dextran sebanyak 1000 mg ( 20 ml) Intravena atau 2 x 10 ml
intramuskuler - transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan
walaupun sangat jarang diberikan karena transfusi darah dapat
berisiko bagi ibu dan janin.
14

B. Tinjauan Umum Tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Terjadinya Anemia Pada Ibu hamil.
1.

Umur Ibu
Kebanyakan wanita mengalami anemia pada usia remaja

karena pada kehamilan remaja banyak masalah yang timbul baik
dalam masalah sosial masyarakat maupun dalam bidang obstetric,
selain remaja (< 20 tahun), wanita yang berisiko tinggi mengalami
anemia adalah wanita yang berumur di atas 35 tahun.
Pada wanita hamil usia terlalu muda < 20 tahun, secara fisik
alat reproduksinya belum siap untuk menerima hasil konsepsi dan
secara psikiogis belum cukup dewasa dan matang untuk menjadi
seorang ibu, sedangkan wanita hamil pada usia lanjut yaitu > 35
tahun, proses faal tubuhnya sudah mengalami kemunduran berupa
elastisitas otot-otot panggul di sekitar organ-organ reproduksi lainnya,
keseimbangan hormonnya mulai terganggu sehingga kemungkinan
terjadi berbagai resiko kehamilan (Wiknjosastro,2000).
Wanita usia di bawah 18 tahun mempunyai kekurangan dimana
ia memiliki resiko yang sama tingginya dengan kehamilan di usia 35
tahun ke atas, seperti bayi lahir dengan berat badan lahir rendah atau
gangguan kesehatan lainnya, umumnya hal ini terjadi karena mereka
kurang memperhatikan asupan gizi selama hamil, khususnya yang
mengandung zat besi, kalsium dan Vit. A sedangkan pada wanita usia
15

di atas 35 tahun ke atas kesuburan sudah mulai menurun, juga
kehamilan maupun persalinan pada usia ini memiliki resiko yang lebih
besar pada kesehatan ibu dan bayinya dan juga meningkatkan resiko
menderita komplikasi seperti preekiamsia, tekanan darah tinggi,
diabetes, kelahiran dini, pertumbuhan janin terganggu, ibu hamil pada
usia ini juga lebih mudah lelah, mereka juga memiliki resiko keguguran
lebih besar. (Retno, 2001).
2.

Paritas
Paritas adalah frekuensi kehamilan dan persalinan yang pernah

dialami oleh ibu dengan umur kehamilan lebih dari 28 minggu dengan
berat badan janin mencapai 1000 gram, termasuk kehamilan
sekarang, paritas 1 - 2 merupakan paritas yang paling aman ditinjau
dari sudut kesehatan, sedangkan ≥ 3 merupakan paritas yang berisiko
tinggi untuk terjadinya anemia ( Prawirohaijo,2002).
Setiap kehamilan yang disusul dengan persalinan akan
menyebabkan kelainan - kelainan pada uterus, dalam hal ini
kehamilan yang berulang ulang menimbulkan kerusakan pada
pembuluh darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke
janin dimana jumlah nutrisi akan semakin berkurang dibanding
kehamilan sebelumnya (Wikjosastro,2003).
Kehamilan yang berulang ( paritas tinggi ) akan membuat
uterus menjadi renggang, sehingga dapat menyebabkan kelainan letak
16

janin dan plasenta yang akhirnya akan berpengaruh buruk pada
proses persalinan. Hal - hal tersebut dapat menimbulkan komplikasi
yang dapat menjadi penyulit dalam persalinan dan menjadi indikasi
dilakukannya operasi caesar. Paritas 2 - 3 merupakan paritas paling
aman ditinjau dari sudut kesehatan dan kematian maternal, tetapi ini
akan berkurang tingkat keamanannya apabila persalinan sebelumnya
telah melalui bedah caesar sehingga masih perlu untuk tetap
memperhatikan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan saat
persalinan ( Prawirohardjo,2003).
3.

Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku

seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan dan cara
mendidik orang yang berpendidikan umumnya mudah mengerti
tentang hal yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah
kebiasaan yang tidak baik dalam bentuk sikap, sehingga ibu yang
berpendidikan

lebih

( Notoadmojo,2003).

memperhatikan

keadaan

kehamilannya
17

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel Yang diteliti
Anemia dalam kehamilan merupakan hal yang fisiologis pada ibu
hamil, namun apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik akan
menimbulkan pengaruh yang kurang baik pada ibu hamil selama
kehamilan dan persalinan maupun nifas. Dalam hal ini anemia terbagi
menjadi anemia ringan, anemia sedang, dan anemia berat, namun pada
setiap kehamilan diharapkan akan berakhir baik tanpa menimbulkan
kelainan pada ibu maupun janin yang dilahirkan.
Berdasarkan tinjauan pustaka telah dijelaskan tinjauan umum
tentang anemia dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia
pada ibu hamil, adapun variabel yang ingin diteliti adalah pendidikan,
umur, dan paritas.
Untuk memperjelas pemahaman, maka akan diuraikan secara
singkat dan sederhana variabel penelitian, dimana variabel penelitian ini
terbagi dua antara lain :
18

1. Variabel dependen ( anemia ibu hamil)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah
haemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah
berada di bawah normal (< 11 gr%)

2. Variabel Independen (umur, paritas dan pendidikan)
a.

Umur

Ibu yang hamil pada usia terlalu muda (< 20 tahun), pertumbuhan
alat reproduksinya belum optimal (dinding rahim belum sempurna)
sehingga pertumbuhan janin akan terganggu. Disamping itu ibu
muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilanya
termasuk

kontrol

kehamilan

dan

akan

berdampak

pada

meningkatnya berbagai resiko kehamilan. Sedangkan bagi ibu
hamil di usia tua (> 35 tahun) proses faal dalam tubuh mengalami
kemunduran termasuk fungsi alat reproduksinya mengalami
kemunduran, keseimbangan hormone mulai terganggu sehingga
kemungkinan terjadi berbagai resiko kehamilan.
b.

Paritas

Paritas adalah suatu penggambaran berapa jumlah anak yang
dihasilkan dan telah dilahirkan oleh seorang ibu. Biasanya ibu
19

dengan paritas lebih dari 3 kali memiliki kemungkinan lebih besar
untuk terjadinya anemia
c.

Pendidikan

Ibu yang berpendidikan umumnya mudah mengerti tentang hal
yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah kebiasaan
yang

tidak baik dalam

bentuk sikap, sehingga ibu yang

berpendidikan lebih memperhatikan keadaan kehamilannya. Ibu
yng berpendidikan minimal SMU lebih memiliki kemungkinan
berisiko rendah untuk mengalami anemia sedangkan tingkat
pendidikan SMP adalah resiko tinggi untuk terjadinya anemia
(http//www.bpk.penabur.or.id/kps-jakarta/berita/pendidik

2.htm,

diakses tanggal,18 agustus 2007)
B. Kerangka Konsep Penelitian
Umur Ibu
Umur Ibu

Paritas
Paritas

Pendidikan
Pendidikan

Sosial Ekonomi
Sosial Ekonomi

Penyakit Ibu
Penyakit Ibu

Anemia pada Ibu
Anemia pada Ibu
Hamil
Hamil
20

Keterangan :
: Variabel Dependent
: Variabel Independent
: Variabel yang Diteliti
: Variabel yang tidak Diteliti
C. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.

Anemia pada ibu hamil

Anemia pada ibu hamil yang dimaksud adalah kadar Hb ibu hamil dari
hasil pengukuran kadar Hb dalam darah ibu yang dinyatakan dalam gr
% pada trimester III yang tercatat pada rekam medik.
Kriteria Objektif
a. Anemia

: Jika kadar Hb < 11 gr%

b. Normal

: Jika kadar Hb ≥ 11 gr%

2.

umur ibu

Umur ibu hamil pada penelitian adalah satuan yang mana dihitung
berdasarkan umur ibu pada tahun yang berjalan, saat kehamilan
berlangsung.
Kriteria obyektif
a. Berisiko

: Jika umur ibu waktu hamil < 20 atau > 35 tahun
21

b. tidak berisiko

3.

: Jika umur ibu waktu hamil 20 - 35 tahun

paritas

Paritas adalah suatu penggambaran berapa jumlah anak yang telah
dilahirkan oleh seorang ibu. biasanya ibu dengan paritas lebih dari 3
kali memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami anemia.
Kriteria Objektif
a. Berisiko

: Jika paritas < 2 dan > 3

b. Tidak berisiko

: Jika paritas 2 - 3

4.

Pendidikan

Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang pernah
ditempuh oleh ibu berdasarkan hasil pencatatan yang tertera dalam
buku register ( rekam medik rumah sakit bersalin pertiwi)
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Bila tingkat pendidikan ≤ SMP
b. Risiko rendah

: Bila tingkat pendidikan ≥ SMA
22

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan
metode deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh “gambaran tentang
anemia pada ibu hamil di Puskesmas Segeri Periode Januari – Dsember
2008”
B. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diIaksanakan selama 14 hari terhitung
mulai bulan Maret –April 2009
C. Lokasi Penelitian
Lokasi

yang

dipilih

untuk

Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep

pelaksanaan

penelitian

adalah
23

D. Populasi Dan Sampel
1.

Populasi.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan

diteliti, populasi pada penelitian inii adalah semua ibu hamil yang
datang berkunjung ( memeriksakan kehamilannya ) di Puskesmas
Segeri Periode Januari – Desember 2008 dengan populasi sebanyak
307 orang.

2.

Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut, sampel dalam penelitian ini adalah
Semua ibu hamil yang mengalami anemia di Puskesmas Segeri
Periode Januari – Desember 2008 yaitu sebanyak 198 orang
3.

Teknik Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel secara total sampling yaitu semua

ibu hamil yang mengalami anemia di Puskesmas Segeri Periode
Januari – Desember 2008.
E. Pengumpulan data
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder
tentang ibu hamil yang mengalami anemia yang diperoleh dan catatan
rekam medik di Puskesmas Segeri 2008.
24

F. Pengolahan Dan Penyajian Data
Pengolahan data dilakukan secara sederhana yaitu data diperoleh
dan diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator, kemudian
dianalisa secara deskriptif dalam bentuk tabel dan narasi.
G. Analisa Data:
Data

yang

dianalissa

berdasarkan rumus:
P=

f
x100%
N
Keterangan:
P : Persentase yang dicari
f : Frekuensi yang diteliti
N : Jumlah sampel

dengan

menggunakan

presentase
25

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2009 di
Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep. Sumber data dari penelitian ini
diperoleh dari kartu status ibu hamil yang tercatat pada bagian rekam
medik di Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep. Hasil penelitian tersebut
disajikan dalam bentuk tabel dan narasi sebagal berikut :
1.

Distribusi Populasi
Tabel 1
Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
di Puskesmas Segeri Tahun 2008
Ibu Hamil
Anemia

Tidak Anemia
JUMLAH
Sumber Data Sekunder

Frekuensi (f)
198

Persentase (%)
64,50

109
307

35,50
100

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa ibu hamil yang terbanyak
mengalami anemia adalah sebanyak 198 orang (64,50%) sedangkan
ibu hamil yang tidak anemia adalah sebanyak 109 orang (35,50%)
26

2.

Distribusi Sampel
a.

Umur Ibu

Tabel .2
Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Umur Ibu
di Puskesmas Segeri Tahun 2008
Umur Ibu
Resiko Tinggi (<20 dan >35 Tahun)

Frekuensi (f)
37

Persentase (%)
18,69

161
198

81,31
100

Resiko Rendah (20 – 30 Tahun)
JUMLAH
Sumber : Data sekunder

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa umur ibu yang terbanyak
mengalami anemia adalah resiko tinggi < 20 - >35 Tahun sebanyak 37
responden (18,69%) sedangkan umur resiko rendah 20 - 35 tahun
mengalami nemia adalah sebanyak 161 responden (81,31%).
b.

Paritas
Tabel .3
Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Paritas
Di Puskesmas Segeri Tahun 2008

Paritas Ibu
Berisiko < 2 dan > 3
Tidak Berisiko 2 - 3
JUMLAH
Sumber : Data sekunder

Frekuensi (f)
71

Persentase (%)
35,86

127
198

64,14
100
27

Tabel 3 menunjukkan bahwa paritas yang berisiko mengalami
anemia adalah berisiko ( paritas <2 dan >3 ) sebanyak 71 responden
(35,86%) dan paritas yang tidak berisko (Paritas 2 -3) mengalami
anemia adalah sebanyak 127 responden (64,14%).
c.

Pendidikan

Tabel .4
Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Pendidikan
di Puskesmas Segeri Tahun 2008
Pendidikan
Resiko Tinggi ≤ SMP

Frekuensi (f)
147

Persentase (%)
74,24

51
198

25,76
100

Resiko Rendah ≥ SMA
JUMLAH
Sumber : Data sekunder

Tabel .4 menunjukkan bahwa pendidikan ibu yang terbanyak
mengalami anemia adalah pendidikan resiko tinggi ≤ SMP sebanyak
147

responden

(74,24%)

sedangkan

yang

pendidikan

tinggi

mengalami anemia adalah sebanyak 51 responden (25,76%).
B. Pembahasan
Setelah melakukan penelitian tentang kejadian anemia pada ibu
hamil di Puskesmas Segeri Pangkep periode Januari - Desember 2008
menunjukkan bahwa dari 307 orang yang memeriksakan kehamilannya
diketahui yang anemia sebanyak 199 orang (64,50%) dan yang tidak
anemia sebanyak 109 orang (35,50%).
28

Berdasarkan hasil telaah teoritis di dalam bab pustaka tentang
landasan teori yang menjadi dasar penyusunan kerangka konsep dan
penelitian ini yakni bahwa kejadian anemia berhubungan dengan
beberapa faktor resiko antara lain umur ibu, paritas dan pendidikan.
1.

Umur Ibu
Umur ibu adalah usia saat kehamilan sekarang yang diukur

dalam tahun berdasarkan hasil pencatatan yang tertera dalam buku
register dan apabila lebih bulan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu
yang terbanyak mengalami anemia adalah resiko tinggi < 20 - >35
Tahun sebanyak 37 responden (18,69%) sedangkan umur resiko
rendah 20

- 35 tahun mengalami nemia adalah sebanyak 161

responden (81,31%). Yang secara teoritisnya dianggap risiko rendah.
Usia 20 - 30 tahun adalah periode yang paling aman untuk hamil dan
melahirkan. Umur ibu yang terlalu muda (<20 tahun) dan tenlalu tua
(>35 tahun) mempunyai resiko yang lebih besar untuk mengalami
anemia.
Hal

ini

sesuai

dengan

teori

yang

menjelaskan

bahwa

kebanyakan wanita mengalami anemia pada usia remaja karena pada
kehamilan remaja banyak masalah yang timbul baik dalam masalah
sosial masyarakat maupun dalam bidang obstetric, selain remaja ( <
29

20 Tahun ) wanita yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah
wanita yang berumur (> 35 tahun)
Sedangkan pada ibu yang hamil pada usia terialu tua
mengalami kemampuan adaptasi yang menurun terhadap perubahan
hormonal
2.

Paritas
Paritas adalah frekuensi kehamilan dan persalinan yang pernah

dialami oleh ibu dengan umur kehamilan lebih dan 28 minggu dengan
berat badan janin mencapai 1000 gram, termasuk kehamilan
sekarang, panitas ≥ 3 merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk
terjadinya anemia.
Berdasasrkan hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas ibu
yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah berisko ( paritas <2 dan
>3 ) sebanyak 71 responden (35,86%) dan paritas yang tidak berisko
(Paritas 2 -3) mengalami anemia adalah sebanyak 127 responden
(64,14%)
Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa paritas 2 3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dan sudut kesehatan,
sehingga digolongkan sebagai resiko rendah. Sedangkan paritas > 3
merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk terjadinya anemia,
karena semakin sering ibu hamil akan mudah terjadi defisiensi zat besi
atau semakin tinggi jumlah paritas semakin tinggi pula resiko anemia.
30

3.

Pendidikan
Pendidikan

yang

dimaksud

dalam

penelitian

ini

adalah

pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh ibu. Tingkat pendidikan
penduduk terutama pada wanita dewasa yang masih rendah biasanya
mempunyai pengaruh besar terhadap pelayanan ke bidan, dimana
pendidikan dikatakan tinggi apabila seseorang sampai pada tingkat
SMA dan seterusnya dengan kata lain, pendidikan SMA termasuk
resiko rendah dan tingkat pendidikan ≤ SMP adalah resiko tinggi untuk
terjadinya anemia.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan
ibu yang terbanyak mengalami anemia adalah pendidikan resiko tinggi
≤ SMP

sebanyak

147 responden (74,24%) sedangkan yang

pendidikan tinggi mengalami anemia adalah sebanyak 51 responden
(25,76%).
Hal

ini

sesuai

dengan

teori

yang

menjelaskan

bahwa

pendidikan juga mempengaruhi pengetahuan seseorang, dimanana
semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pengetahuan,
sehingga ibu tahu kapan harus memeriksakan kehamilannya.
Orang yang berpendidikan umumnya mudah mengerti tentang
hal yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah kebiasaan
31

yang tidak baik dalam bentuk sikap, sehingga ibu yang berpendidikan
lebihi memperhatikan keadaan kehamilannya.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran kejadian anemia di
Puskesmas Segeri periode Januari Desember 2008 yang datanya telah
diolah dan dianalisis maka dapat disimpulkan bahwa :
1.

Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada

umur ibu resiko rendah 20 – 35 tahun sebanyak 161 responden
(81,31%)
2.

Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada

paritas tidak berisiko 2 - 3 sebanyak 127 responden (64,14%).
3.

Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada

yang berpendidikan Resiko Tinggi ≤ SMP yaitu sebanyak 147
responden (74,24%).
B. Saran
1.

Diharapkan

kepada

petugas

khususnya

bidan

dapat

memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil dan memberikan
penyuluhan kepada mereka utamanya yang berpendidikan rendah,
agar melakukan pemeriksaan secara teratur sejak hamil sampai
melahirkan.
32

2.

Disarankan kepada pasangan suami istri khususnya istri agar

waspada terhadap kehamilan di bawah umur 20 tahun atau di atas
usia 30 tahun.
3.

Ibu

hendaknya

membiasakan

diri

untuk

mengkonsumsi

makanan yang yang tinggi kandungan zat gizinya guna memenuhi
kebutuhan ibu dan janin yang dikandungnya dan mengkonsumsi tablet
sulfa ferrosus yang diberikan secara teratur
4.

Perlunya penyuluhan yang lebih intensif tentang faktor resiko

kejadian anemia dalam hubungannya dengan jumlah paritas, umur ibu
dan tingkat pendidikan khususnya pada pemeriksaan antenatal
sebagai usaha preventif.
33

DAFTAR PUSTAKA

Arisman MB, 2004. Gizi Daur Kehidupan Penerbit Buku Kedokteran EGG,
Jakarta
http // www/ bpk Penabur or.id / KPS — Jkt/ berita 9806 / Pendidikan 2. htm,
diakses tangal 18 April 2009
Http : whi - Int/ reproductive - helath / diaksese, 18-03 - 2009
Manuaba, LB.G. 1999. Ilmu Kebidanan penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana. Jakarta: EGG
Manuaba, l.B.G. 1998: Ilmu Kebidanan, Penvakit Kandungan dan
Keluarga Berencana Untuk pendidikan Bidan , Pnenerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Manuaba, l.B.G. 2001. Kapita selekta Pelaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan Keluarga Berencana . Jakarta : EGG
Notoatmojo.S. 2003 Pendidikan dan Perilaku Kesehatan . Rineka Cipta
Jakarta
Saifuddin , Abdula Bari, dkk. 2001, Buku Acuan Pelayanan Bina Pustaka.
Sarwono Prawirahardjo. Jakarta
Sinsin Lis, 2008 .Masa Kehamilan dan Persalinan. Penerbit PT Elec Media
Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta
Varney,S,

2000. Buku Saku
E.G.C.Jakarta

Bidan.

Penerbit

buku

kedokteran

Wiknjosastro Hanifa, 2000, llmu Kebidanan Edisi 3, yayasan Bina Pustaka
sarwono Prawirahardjo. Jakarta
34

Wiknjosastro Hanifa, 2005. Ilmu Kebidanan Edisi 3, Yayasana Bina Pustaka
sarwono Prawirahardjo. Jakarta
Dini Kasdu, Meiliasari Mila, Purwaningsih R, 2001 info lenkap kehamilan
dan persalinan Penerbit 3 G. Publisher Jakarta
Prawirohardjo, 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal - Yayasan Bina Pustaka Jakarta
Winkjosastro Hanifa, 2003. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
Prawirahardjo, 2003, Buku Acuan Nasional Yayasan Bina Pustaka.
Jakarta
Profil Dinkes Sulawesi Selatan. 2009 Data tentang Kejadian Anemia Pada
Ibu hamil.
Mochtar, R. 1998 Sinopsis obstetri. obstetri fisiologi. obstetric patologi jilid
1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

132562099 kejadian-anemia

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Dampak kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat diamati dari besarnya angka kesakitan dan kematian maternal, peningkatan angka kesakitan dan kematian janin, serta peningkatan resiko terjadinya berat badan lahir rendah. Penyebab utama kematian maternal antara lain adalah perdarahan pasca partum (disamping eklampsia, dan penyakit infeksi) dan plasenta previa yang semuanya berangkat dari pada anemia difesiensi (Arisman.2004) Menurut World Healt Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 500.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. (http://who-int/reproductive-health, diakses 28 Maret 2009), sedangkan angka kejadian anemia menurut who berkisar antara 20% sampal 89% dengan menetapkan Hb 11 grm% sebagai dasarnya. Angka kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Hoo Swi Tjiong menemukan angka anemia kehamilan pada trimester I, 3,8%, trimester II, 13,6 dan pada trimester Ill, 24,8%. Akrib Simanjuntak menemukan sebesar 40,1% di Bogor.( Manuaba ,1998). Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003, Angka Kematian Ibu mencapai 307 per 100,000 kelahiran hidup. ini merupakan Angka Kematian Ibu tertinggi di ASEAN. Setiap tahun angka
  • 2.
    2 kelahiran mencapai limajuta. Dari angka itu sekitar 20 ribu kehamilan berakhir dengan kematian akibat komplikasi dan melahirkan. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan propinsi Sulawesi Selatan, pada tahun 2007 jumlah kasus adalah 220 orang. Dengan klasifikasi sebagai berikut : anemia ringan 89 orang (40,56%), anemia sedang 96 orang (43,67%), dan anemia berat 35 orang (15,90%) (Propil Dinas Kesehatan 2008). Tingginya kematian ibu yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan dipengaruhi antara lain : karena perdarahan (45%) eklampsia atau kejang-kejang, dan tekanan darah tinggi (12 %), infeksi (12%), aborsi (10%) dan sisanya karena hal-hal medis lain (Manuaba, 2001). Di Puskesmas Segeri Pangkep pada tahun 2008 data yang didapatkan dari Medical Record terdapat 307 orang ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan jumlah ibu yang menderita anemia sebanyak 199 orang meliputi anemia berat sebanyak 23 orang, anemia sedang sebanyak 62 orang , dan anemia ringan sebanyak 114 orang. Anemia gizi sebagian besar dapat dicegah melalui promosi dan pendidikan kesehatan sebelum maupun selama hamil. Cara mengatasi anemia selama kehamilan telah ditetapkan melalui kebijakan Departemen Kesehatan dengan melaksanakan program penanggulangan anemia zat besi (AZB) dengan memberikan tablet besi atau tablet tambah darah Fe 9320 Mg, Fe Sulfat dan 0,5 asam folat untuk semua ibu hamil sebanyak 1
  • 3.
    3 tablet setiap hariberturut - turut selama 90 hari pada masa kehamilan (Modul Pendidikan dan Pelatihan Bidan, 1998) Dengan melihat pengaruh anemia terhadap ibu hamil, ibu melahirkan, nifas dan janin yang dikandungnya yang dapat berpengaruh secara tidak langsung terhadap kuálitas sumber daya manusia (Widyastuti, 2004). Oleh karena masalah anemia gizi pada ibu hamil merupakan masalah penting yang erat hubungannya dengan masalah mortalitas maternal maka dianggap penting untuk dilakukannya suatu identifikasi berbagai gambaran melalui suatu penelitian mengenai Gambaran tentang kejadian Anemia pada ibu hamil yang dibatasi pada masalah umur ibu, paritas, dan pendidikan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana gambaran anemia pada ibu hamil menurut ibu di Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ? 2. Bagaimana gambaran anemia pada ibu hamil menurut paritas Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ? 3. Bagaimana gambaran anemia pada ibu hamil pendidikan Puskesmas Segeri Pangkep periode 2008 ? menurut
  • 4.
    4 C. Tujuan Penelitian 1. TujuanUmum Untuk memperoleh gambaran tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Segeri tahun 2008. 2. Tujuan Khusus a. Diperolehnya gambaran tentang anemia pada ibu hamil menurut umur ibu di Puskesmas Segeri tahun 2008. b. Diperolehnya gambaran tentang anemia ibu hamil menurut paritas di Puskesmas Segeri tahun 2008. c. Diperolehnya gambaran tentang anemia pada ibu hamil menurut pendidikan ibu di Puskesmas Segeri 2008. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Institusi Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi Dinas Kesehatan dan institusi terkait Iainnya dalam rangka menentukan kebijakansanaan untuk pencegahan dan penanganan anemia pada ibu hamil 2. Manfaat Ilmiah Hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi informasi dan bahan bacaan bagi penelitian selanjutnya.
  • 5.
    5 3. Manfaat Praktis Merupakan meningkatkan pengalaman ilmiah pengétahuan dan gambaran anemiapada ibu hamil. yang berharga menambah yang wawasan dapat tentang
  • 6.
    6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Tinjauan Umum Tentang Anemia 1. Pengertian anemia a. Keadaan dimana kadar haemoglobin, hematokrit dan sel darah merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Menurut kemampuan darah untuk mengikat oksigen yang dapat disebabkan oleh menurunnya sel darah merah, berkurangnya konsentrasi haemoglobin atau kombinasi keduanya dalam sirkulasi darah dengan kadar haemoglobin dibawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar haemoglobin kurang dari 10,5gr % pada trimester II (Saifuddin, 2001). b. Berkurangnya kadar haemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari 12 mgr% dimana Hb adalah komponen di dalam sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurkan oksigen keseluruh tubuh. Jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen ( Lis Sinsin ,2008). c. Anemia yang secara umum dapat diterima adalah turunnya kadar haemoglobin kurang dari 12,0gr/l00mI darah pada
  • 7.
    7 wanita yang tidakhamil., anemia yang terkait dengan kehamilan adalah anemia defisiensi besi hampir 95% (Varney , 2000). 2. Patofisiologi anemia dalam kehamilan (Wiknjasastro,2000) Anemia merupakan gangguan medis yang paling umum ditemui pada masa hamil, mempengaruhi sekurang-kurangnya 20% wanita hamil. Hal ini disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zatzat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan dalam darah dan susunan tulang. Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut anemia atau hipervelomia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah . Pertambahan tersebut yaitu plasma 30% sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian dini secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita : a. Pertama-tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia viskositas darah rendah, resistensi, perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik b. Kedua pada perdarahan waktu persalinan, banyak unsur zat besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam
  • 8.
    8 kehamilan sudah mulainaik sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 34 minggu. Faktor Penyebab Terjadinya Anemia pada Ibu Hamil ( Muchtar 3. R, 1998) Berdasarkan fakta yang dapat menyebabkan timbulnya anemia dalam kehamilan diantaranya: a. Kurang gizi ( Malnutrisi) b. Kurang zat besi dalam diet c. Malabsorbsi d. Kehilangan darah yang banyak dalam persalinan yang lalu. e. Terjadi pengenceran darah selama kehamilan Macam - macam anemia (Winkjosastro, 2005) 4. a. Anemia defisiensi besi Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan zat besi, kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. b. Anemia Anemia megaloblastik megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik ( pteroyglutamic acid ), jarang sekali karena defisisensi vitamin B12.
  • 9.
    9 c. Anemia hypoblastik Anemia padawanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam kehamilan. d. Anemia hemolitik Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung Iebih cepat dari pembuatannya, wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemia biasanya menjadi Iebih berat. 5. Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan janin (Manuaba, 2001) a. Pengaruh anemia dalam kehamilan 1) Resiko terjadi abortus 2) Persalinan prematurus. 3) Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim. 4) Mudah terjadi infeksi 5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb<6gr%) 6) Merigancam jiwa dengan kehidupan ibu. b. Pengaruh anemia dalam persalinan 1) Gangguan kekuatan his yang mengakibatkan terjadinya partus lama
  • 10.
    10 2) Anemia dalam kehamilandapat mengakibatkan atonia uteri atau inertia dalam semua kala persalinan dan terjadinya perdarahan post partum. 3) Dalam persalinan dapat mengakibatkan kematian ibu. Pengaruh anemia dalam nifas. c. 1) Pedarahan post partum karena atonia uteri dan involusio uteri 2) Memudahkan infeksi puerperium 3) Pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang d. Pengaruh anemia terhadap janin: 1) Bayi berat lahir rendah 2) Cacat bawaan 3) Intelegensia rendah oleh karena kekurangan oksigen dan nutrisi yang menghambat pertumbuhan janin. 4) Morbiditas dan mortalitas perinatal tinggi jika kadar Hb < 6 gr%. 6. Diagnosa anemia Diagnosa anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan : a. Anamnese Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang – kunang, nafsu makan berkurang dan
  • 11.
    11 keluhan muntah -muntah Iebih hebat pada kehamian muda (I.G.B. Manuaba ,1998). b. Pemeriksaan fisik Keluhan Iemah ,kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan kunjungtiva oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan (Saifuddin ,2001) c. Pemeriksaan darah Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi. Pemeriksaan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester Ill. Dengan melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb dengan menggunakan alat sahli ( Safiuddin ,2001). Batasan anemia yang digunakan WHO pada tahun 1991 sebagai berikut : 1) Normal ≥ 12 gram % 2) Anemia ringan ≤11 gram % 3) Anemia sedang ≥ 10 gram % 4) Anemia berar ≤ 10 gram % Departemen Kesehatan tahun 1998 sebagai berikut
  • 12.
    12 1) Normal ≥ 10,5gram % 2) Anemia ringan 9 -10,4 gram % 3) Anemia sedang 7,6 - 8,9 gram % 4) Anemia berat <7,5 gram % Hasil pemeriksaan haemoglobin dengan alat sahli (IManuaba, 1998) 1) Normal ≥ 11 gram % 2) Anemia ringan 9 -10,9 gram % 3) Anemia sedang 7 - 8,9 gram % 4) Anemia berat <7,5 gram % 7. Pencegahan anemia dan penanganan anemia a. Pencegahan anemia Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit ( Manuaba, 1998) Di daerah dengan frekwensi anemia kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfa ferosus atau glukosnas ferosus 1 tablet sehari, wanita dinasehati pula untuk makan lebih banyak protein, mineral dan vitamin.
  • 13.
    13 Dengan pertimbangan bahwasebagian ibu hamil mengalami anemia, pemerintah telah menyediakan preparat besi (tablet besi / Fe) untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke posyandu, maka dilakukan pemberian suplemen langsung zat besi yang mengandung 200 mg sulfa feosus 0,25 mg asam folat yang diikat dengan lactosa, diberikan setiap hari sejak kehamilan 20 minggu dan diharapkan ibu hamil mengkonsumsi minimal 90 tablet dan dilanjutkan 30 tablet selama masa nifas (Manuaba, 1998) b. Penanganan anemia (Winkjosastro,2000) 1) Anemia ringan Pada kehamilan dengan kadar Hb < 11 gr% masih dianggap ringan sehingga perlu diberikan kombinasi 60 mg dan 400 mg asam folat peroral sekali sehäri. 2) Anemia sedang Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi ferosus 600 - 1000 mg/han seperti sulfat ferosus atau glokonat ferosus 3) Anemia berat Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg ( 20 ml) Intravena atau 2 x 10 ml intramuskuler - transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan karena transfusi darah dapat berisiko bagi ibu dan janin.
  • 14.
    14 B. Tinjauan UmumTentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Anemia Pada Ibu hamil. 1. Umur Ibu Kebanyakan wanita mengalami anemia pada usia remaja karena pada kehamilan remaja banyak masalah yang timbul baik dalam masalah sosial masyarakat maupun dalam bidang obstetric, selain remaja (< 20 tahun), wanita yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah wanita yang berumur di atas 35 tahun. Pada wanita hamil usia terlalu muda < 20 tahun, secara fisik alat reproduksinya belum siap untuk menerima hasil konsepsi dan secara psikiogis belum cukup dewasa dan matang untuk menjadi seorang ibu, sedangkan wanita hamil pada usia lanjut yaitu > 35 tahun, proses faal tubuhnya sudah mengalami kemunduran berupa elastisitas otot-otot panggul di sekitar organ-organ reproduksi lainnya, keseimbangan hormonnya mulai terganggu sehingga kemungkinan terjadi berbagai resiko kehamilan (Wiknjosastro,2000). Wanita usia di bawah 18 tahun mempunyai kekurangan dimana ia memiliki resiko yang sama tingginya dengan kehamilan di usia 35 tahun ke atas, seperti bayi lahir dengan berat badan lahir rendah atau gangguan kesehatan lainnya, umumnya hal ini terjadi karena mereka kurang memperhatikan asupan gizi selama hamil, khususnya yang mengandung zat besi, kalsium dan Vit. A sedangkan pada wanita usia
  • 15.
    15 di atas 35tahun ke atas kesuburan sudah mulai menurun, juga kehamilan maupun persalinan pada usia ini memiliki resiko yang lebih besar pada kesehatan ibu dan bayinya dan juga meningkatkan resiko menderita komplikasi seperti preekiamsia, tekanan darah tinggi, diabetes, kelahiran dini, pertumbuhan janin terganggu, ibu hamil pada usia ini juga lebih mudah lelah, mereka juga memiliki resiko keguguran lebih besar. (Retno, 2001). 2. Paritas Paritas adalah frekuensi kehamilan dan persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan umur kehamilan lebih dari 28 minggu dengan berat badan janin mencapai 1000 gram, termasuk kehamilan sekarang, paritas 1 - 2 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kesehatan, sedangkan ≥ 3 merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk terjadinya anemia ( Prawirohaijo,2002). Setiap kehamilan yang disusul dengan persalinan akan menyebabkan kelainan - kelainan pada uterus, dalam hal ini kehamilan yang berulang ulang menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dimana jumlah nutrisi akan semakin berkurang dibanding kehamilan sebelumnya (Wikjosastro,2003). Kehamilan yang berulang ( paritas tinggi ) akan membuat uterus menjadi renggang, sehingga dapat menyebabkan kelainan letak
  • 16.
    16 janin dan plasentayang akhirnya akan berpengaruh buruk pada proses persalinan. Hal - hal tersebut dapat menimbulkan komplikasi yang dapat menjadi penyulit dalam persalinan dan menjadi indikasi dilakukannya operasi caesar. Paritas 2 - 3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kesehatan dan kematian maternal, tetapi ini akan berkurang tingkat keamanannya apabila persalinan sebelumnya telah melalui bedah caesar sehingga masih perlu untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan saat persalinan ( Prawirohardjo,2003). 3. Pendidikan Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan dan cara mendidik orang yang berpendidikan umumnya mudah mengerti tentang hal yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah kebiasaan yang tidak baik dalam bentuk sikap, sehingga ibu yang berpendidikan lebih ( Notoadmojo,2003). memperhatikan keadaan kehamilannya
  • 17.
    17 BAB III KERANGKA KONSEP A.Dasar Pemikiran Variabel Yang diteliti Anemia dalam kehamilan merupakan hal yang fisiologis pada ibu hamil, namun apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik akan menimbulkan pengaruh yang kurang baik pada ibu hamil selama kehamilan dan persalinan maupun nifas. Dalam hal ini anemia terbagi menjadi anemia ringan, anemia sedang, dan anemia berat, namun pada setiap kehamilan diharapkan akan berakhir baik tanpa menimbulkan kelainan pada ibu maupun janin yang dilahirkan. Berdasarkan tinjauan pustaka telah dijelaskan tinjauan umum tentang anemia dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil, adapun variabel yang ingin diteliti adalah pendidikan, umur, dan paritas. Untuk memperjelas pemahaman, maka akan diuraikan secara singkat dan sederhana variabel penelitian, dimana variabel penelitian ini terbagi dua antara lain :
  • 18.
    18 1. Variabel dependen( anemia ibu hamil) Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah haemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal (< 11 gr%) 2. Variabel Independen (umur, paritas dan pendidikan) a. Umur Ibu yang hamil pada usia terlalu muda (< 20 tahun), pertumbuhan alat reproduksinya belum optimal (dinding rahim belum sempurna) sehingga pertumbuhan janin akan terganggu. Disamping itu ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilanya termasuk kontrol kehamilan dan akan berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan. Sedangkan bagi ibu hamil di usia tua (> 35 tahun) proses faal dalam tubuh mengalami kemunduran termasuk fungsi alat reproduksinya mengalami kemunduran, keseimbangan hormone mulai terganggu sehingga kemungkinan terjadi berbagai resiko kehamilan. b. Paritas Paritas adalah suatu penggambaran berapa jumlah anak yang dihasilkan dan telah dilahirkan oleh seorang ibu. Biasanya ibu
  • 19.
    19 dengan paritas lebihdari 3 kali memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadinya anemia c. Pendidikan Ibu yang berpendidikan umumnya mudah mengerti tentang hal yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah kebiasaan yang tidak baik dalam bentuk sikap, sehingga ibu yang berpendidikan lebih memperhatikan keadaan kehamilannya. Ibu yng berpendidikan minimal SMU lebih memiliki kemungkinan berisiko rendah untuk mengalami anemia sedangkan tingkat pendidikan SMP adalah resiko tinggi untuk terjadinya anemia (http//www.bpk.penabur.or.id/kps-jakarta/berita/pendidik 2.htm, diakses tanggal,18 agustus 2007) B. Kerangka Konsep Penelitian Umur Ibu Umur Ibu Paritas Paritas Pendidikan Pendidikan Sosial Ekonomi Sosial Ekonomi Penyakit Ibu Penyakit Ibu Anemia pada Ibu Anemia pada Ibu Hamil Hamil
  • 20.
    20 Keterangan : : VariabelDependent : Variabel Independent : Variabel yang Diteliti : Variabel yang tidak Diteliti C. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. Anemia pada ibu hamil Anemia pada ibu hamil yang dimaksud adalah kadar Hb ibu hamil dari hasil pengukuran kadar Hb dalam darah ibu yang dinyatakan dalam gr % pada trimester III yang tercatat pada rekam medik. Kriteria Objektif a. Anemia : Jika kadar Hb < 11 gr% b. Normal : Jika kadar Hb ≥ 11 gr% 2. umur ibu Umur ibu hamil pada penelitian adalah satuan yang mana dihitung berdasarkan umur ibu pada tahun yang berjalan, saat kehamilan berlangsung. Kriteria obyektif a. Berisiko : Jika umur ibu waktu hamil < 20 atau > 35 tahun
  • 21.
    21 b. tidak berisiko 3. :Jika umur ibu waktu hamil 20 - 35 tahun paritas Paritas adalah suatu penggambaran berapa jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu. biasanya ibu dengan paritas lebih dari 3 kali memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami anemia. Kriteria Objektif a. Berisiko : Jika paritas < 2 dan > 3 b. Tidak berisiko : Jika paritas 2 - 3 4. Pendidikan Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh ibu berdasarkan hasil pencatatan yang tertera dalam buku register ( rekam medik rumah sakit bersalin pertiwi) Kriteria objektif a. Risiko Tinggi : Bila tingkat pendidikan ≤ SMP b. Risiko rendah : Bila tingkat pendidikan ≥ SMA
  • 22.
    22 BAB IV METODE PENELITIAN A.Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh “gambaran tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Segeri Periode Januari – Dsember 2008” B. Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian ini diIaksanakan selama 14 hari terhitung mulai bulan Maret –April 2009 C. Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih untuk Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep pelaksanaan penelitian adalah
  • 23.
    23 D. Populasi DanSampel 1. Populasi. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti, populasi pada penelitian inii adalah semua ibu hamil yang datang berkunjung ( memeriksakan kehamilannya ) di Puskesmas Segeri Periode Januari – Desember 2008 dengan populasi sebanyak 307 orang. 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, sampel dalam penelitian ini adalah Semua ibu hamil yang mengalami anemia di Puskesmas Segeri Periode Januari – Desember 2008 yaitu sebanyak 198 orang 3. Teknik Pengambilan Sampel Metode pengambilan sampel secara total sampling yaitu semua ibu hamil yang mengalami anemia di Puskesmas Segeri Periode Januari – Desember 2008. E. Pengumpulan data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder tentang ibu hamil yang mengalami anemia yang diperoleh dan catatan rekam medik di Puskesmas Segeri 2008.
  • 24.
    24 F. Pengolahan DanPenyajian Data Pengolahan data dilakukan secara sederhana yaitu data diperoleh dan diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator, kemudian dianalisa secara deskriptif dalam bentuk tabel dan narasi. G. Analisa Data: Data yang dianalissa berdasarkan rumus: P= f x100% N Keterangan: P : Persentase yang dicari f : Frekuensi yang diteliti N : Jumlah sampel dengan menggunakan presentase
  • 25.
    25 BAB V HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2009 di Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep. Sumber data dari penelitian ini diperoleh dari kartu status ibu hamil yang tercatat pada bagian rekam medik di Puskesmas Segeri Kabupaten Pangkep. Hasil penelitian tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan narasi sebagal berikut : 1. Distribusi Populasi Tabel 1 Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Segeri Tahun 2008 Ibu Hamil Anemia Tidak Anemia JUMLAH Sumber Data Sekunder Frekuensi (f) 198 Persentase (%) 64,50 109 307 35,50 100 Tabel 5.1 menunjukkan bahwa ibu hamil yang terbanyak mengalami anemia adalah sebanyak 198 orang (64,50%) sedangkan ibu hamil yang tidak anemia adalah sebanyak 109 orang (35,50%)
  • 26.
    26 2. Distribusi Sampel a. Umur Ibu Tabel.2 Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Umur Ibu di Puskesmas Segeri Tahun 2008 Umur Ibu Resiko Tinggi (<20 dan >35 Tahun) Frekuensi (f) 37 Persentase (%) 18,69 161 198 81,31 100 Resiko Rendah (20 – 30 Tahun) JUMLAH Sumber : Data sekunder Tabel 5.2 menunjukkan bahwa umur ibu yang terbanyak mengalami anemia adalah resiko tinggi < 20 - >35 Tahun sebanyak 37 responden (18,69%) sedangkan umur resiko rendah 20 - 35 tahun mengalami nemia adalah sebanyak 161 responden (81,31%). b. Paritas Tabel .3 Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Paritas Di Puskesmas Segeri Tahun 2008 Paritas Ibu Berisiko < 2 dan > 3 Tidak Berisiko 2 - 3 JUMLAH Sumber : Data sekunder Frekuensi (f) 71 Persentase (%) 35,86 127 198 64,14 100
  • 27.
    27 Tabel 3 menunjukkanbahwa paritas yang berisiko mengalami anemia adalah berisiko ( paritas <2 dan >3 ) sebanyak 71 responden (35,86%) dan paritas yang tidak berisko (Paritas 2 -3) mengalami anemia adalah sebanyak 127 responden (64,14%). c. Pendidikan Tabel .4 Distribusi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Menurut Pendidikan di Puskesmas Segeri Tahun 2008 Pendidikan Resiko Tinggi ≤ SMP Frekuensi (f) 147 Persentase (%) 74,24 51 198 25,76 100 Resiko Rendah ≥ SMA JUMLAH Sumber : Data sekunder Tabel .4 menunjukkan bahwa pendidikan ibu yang terbanyak mengalami anemia adalah pendidikan resiko tinggi ≤ SMP sebanyak 147 responden (74,24%) sedangkan yang pendidikan tinggi mengalami anemia adalah sebanyak 51 responden (25,76%). B. Pembahasan Setelah melakukan penelitian tentang kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Segeri Pangkep periode Januari - Desember 2008 menunjukkan bahwa dari 307 orang yang memeriksakan kehamilannya diketahui yang anemia sebanyak 199 orang (64,50%) dan yang tidak anemia sebanyak 109 orang (35,50%).
  • 28.
    28 Berdasarkan hasil telaahteoritis di dalam bab pustaka tentang landasan teori yang menjadi dasar penyusunan kerangka konsep dan penelitian ini yakni bahwa kejadian anemia berhubungan dengan beberapa faktor resiko antara lain umur ibu, paritas dan pendidikan. 1. Umur Ibu Umur ibu adalah usia saat kehamilan sekarang yang diukur dalam tahun berdasarkan hasil pencatatan yang tertera dalam buku register dan apabila lebih bulan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu yang terbanyak mengalami anemia adalah resiko tinggi < 20 - >35 Tahun sebanyak 37 responden (18,69%) sedangkan umur resiko rendah 20 - 35 tahun mengalami nemia adalah sebanyak 161 responden (81,31%). Yang secara teoritisnya dianggap risiko rendah. Usia 20 - 30 tahun adalah periode yang paling aman untuk hamil dan melahirkan. Umur ibu yang terlalu muda (<20 tahun) dan tenlalu tua (>35 tahun) mempunyai resiko yang lebih besar untuk mengalami anemia. Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa kebanyakan wanita mengalami anemia pada usia remaja karena pada kehamilan remaja banyak masalah yang timbul baik dalam masalah sosial masyarakat maupun dalam bidang obstetric, selain remaja ( <
  • 29.
    29 20 Tahun )wanita yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah wanita yang berumur (> 35 tahun) Sedangkan pada ibu yang hamil pada usia terialu tua mengalami kemampuan adaptasi yang menurun terhadap perubahan hormonal 2. Paritas Paritas adalah frekuensi kehamilan dan persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan umur kehamilan lebih dan 28 minggu dengan berat badan janin mencapai 1000 gram, termasuk kehamilan sekarang, panitas ≥ 3 merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk terjadinya anemia. Berdasasrkan hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas ibu yang berisiko tinggi mengalami anemia adalah berisko ( paritas <2 dan >3 ) sebanyak 71 responden (35,86%) dan paritas yang tidak berisko (Paritas 2 -3) mengalami anemia adalah sebanyak 127 responden (64,14%) Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa paritas 2 3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dan sudut kesehatan, sehingga digolongkan sebagai resiko rendah. Sedangkan paritas > 3 merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk terjadinya anemia, karena semakin sering ibu hamil akan mudah terjadi defisiensi zat besi atau semakin tinggi jumlah paritas semakin tinggi pula resiko anemia.
  • 30.
    30 3. Pendidikan Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yangpernah ditempuh oleh ibu. Tingkat pendidikan penduduk terutama pada wanita dewasa yang masih rendah biasanya mempunyai pengaruh besar terhadap pelayanan ke bidan, dimana pendidikan dikatakan tinggi apabila seseorang sampai pada tingkat SMA dan seterusnya dengan kata lain, pendidikan SMA termasuk resiko rendah dan tingkat pendidikan ≤ SMP adalah resiko tinggi untuk terjadinya anemia. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu yang terbanyak mengalami anemia adalah pendidikan resiko tinggi ≤ SMP sebanyak 147 responden (74,24%) sedangkan yang pendidikan tinggi mengalami anemia adalah sebanyak 51 responden (25,76%). Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa pendidikan juga mempengaruhi pengetahuan seseorang, dimanana semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pengetahuan, sehingga ibu tahu kapan harus memeriksakan kehamilannya. Orang yang berpendidikan umumnya mudah mengerti tentang hal yang baru dan mudah mengikuti serta dapat merubah kebiasaan
  • 31.
    31 yang tidak baikdalam bentuk sikap, sehingga ibu yang berpendidikan lebihi memperhatikan keadaan kehamilannya. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran kejadian anemia di Puskesmas Segeri periode Januari Desember 2008 yang datanya telah diolah dan dianalisis maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada umur ibu resiko rendah 20 – 35 tahun sebanyak 161 responden (81,31%) 2. Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada paritas tidak berisiko 2 - 3 sebanyak 127 responden (64,14%). 3. Ibu hamil yang menderita anemia ditemukan terbanyak pada yang berpendidikan Resiko Tinggi ≤ SMP yaitu sebanyak 147 responden (74,24%). B. Saran 1. Diharapkan kepada petugas khususnya bidan dapat memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil dan memberikan penyuluhan kepada mereka utamanya yang berpendidikan rendah, agar melakukan pemeriksaan secara teratur sejak hamil sampai melahirkan.
  • 32.
    32 2. Disarankan kepada pasangansuami istri khususnya istri agar waspada terhadap kehamilan di bawah umur 20 tahun atau di atas usia 30 tahun. 3. Ibu hendaknya membiasakan diri untuk mengkonsumsi makanan yang yang tinggi kandungan zat gizinya guna memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang dikandungnya dan mengkonsumsi tablet sulfa ferrosus yang diberikan secara teratur 4. Perlunya penyuluhan yang lebih intensif tentang faktor resiko kejadian anemia dalam hubungannya dengan jumlah paritas, umur ibu dan tingkat pendidikan khususnya pada pemeriksaan antenatal sebagai usaha preventif.
  • 33.
    33 DAFTAR PUSTAKA Arisman MB,2004. Gizi Daur Kehidupan Penerbit Buku Kedokteran EGG, Jakarta http // www/ bpk Penabur or.id / KPS — Jkt/ berita 9806 / Pendidikan 2. htm, diakses tangal 18 April 2009 Http : whi - Int/ reproductive - helath / diaksese, 18-03 - 2009 Manuaba, LB.G. 1999. Ilmu Kebidanan penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGG Manuaba, l.B.G. 1998: Ilmu Kebidanan, Penvakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk pendidikan Bidan , Pnenerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Manuaba, l.B.G. 2001. Kapita selekta Pelaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga Berencana . Jakarta : EGG Notoatmojo.S. 2003 Pendidikan dan Perilaku Kesehatan . Rineka Cipta Jakarta Saifuddin , Abdula Bari, dkk. 2001, Buku Acuan Pelayanan Bina Pustaka. Sarwono Prawirahardjo. Jakarta Sinsin Lis, 2008 .Masa Kehamilan dan Persalinan. Penerbit PT Elec Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta Varney,S, 2000. Buku Saku E.G.C.Jakarta Bidan. Penerbit buku kedokteran Wiknjosastro Hanifa, 2000, llmu Kebidanan Edisi 3, yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirahardjo. Jakarta
  • 34.
    34 Wiknjosastro Hanifa, 2005.Ilmu Kebidanan Edisi 3, Yayasana Bina Pustaka sarwono Prawirahardjo. Jakarta Dini Kasdu, Meiliasari Mila, Purwaningsih R, 2001 info lenkap kehamilan dan persalinan Penerbit 3 G. Publisher Jakarta Prawirohardjo, 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal - Yayasan Bina Pustaka Jakarta Winkjosastro Hanifa, 2003. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta Prawirahardjo, 2003, Buku Acuan Nasional Yayasan Bina Pustaka. Jakarta Profil Dinkes Sulawesi Selatan. 2009 Data tentang Kejadian Anemia Pada Ibu hamil. Mochtar, R. 1998 Sinopsis obstetri. obstetri fisiologi. obstetric patologi jilid 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.