2.1 Tinjauan umum Mall
2.1.1 Pengertian Mall
Rinorthen dalam Shopping Centres a Developer Guide to Planning and Design
menyebutkan bahwa mall merupakan a pedestriannised shopping street (jalur
pertokoan pejalan kaki) yang dibuat untuk menciptakan kesan ruang yang luas,
berkualitas, dan lebih mewah daripada arcade-arcade biasa.1
Pengertian mall menurut Harvey M Rubenstein dalam bukunya yang berjudul
Central City Mall (1978) menyebutkan bahwa mall merupakan sebuah area pergerakan
linier pada central city business area yang diorientasikan bagi pejalan kaki dengan
bentuk pedestrian yang dikombinasikan oleh ruang-ruang interaksional2.
“Mall is a level shaded walk, a public walk, a shop lined street, for pedestrians
only”, 3 artinya adalah sebuah area pejalan kaki yang ternaungi, sebuah area publik
untuk berjalan, sebuah jalan yang terbentuk dari sederetan toko, khusus untuk pejalan
kaki..
Mall adalah suatu ruang yang memanjang yang berfungsi sebagai tempat
berbelanja bagi pejalan kaki, yang terbentuk oleh deretan pertokoan, dimana deretan
pertokoan itu berorientasi keluar.4
Melihat perkembangan selanjutnya, maka mall dapat didefinisikan sebagai “pusat
perbelanjaan atau kompleks pertokoan yang terdari dari retail store, dengan status sewa
(tenant) dan dilengkapi dengan department store, Cineplex, food center, dan fasilitas
hiburan lain yang berfungsi sebagai Anchor tenant, yang berorientasi ke suatu ruang
memanjang yang digunakan untuk berjalan kaki”.
2.2 Karakter Non Fisik Mall
2.2.1 Jenis Mall
Menurut Joseph de Chiara dan John Hancock Calendar dalam Time Saver
Standards for Building Type (1981:577), jenis-jenis dari pusat perbelanjaan
adalah sebagai berikut :
1. Neighbourhood Center
Merupakan deretan pertokoan yang biasanya berbentuk linier, sejajar dengan
jalan raya, dan fasade toko yang menghadap ke arah jalan tersebut, dengan
1 op.cit hal. II-15
2 Dikutip dari Paramita dkk, Lifestyle Mall di Semarang, LP3A Perancangan Arsitektur 5 UNDIP, hal. 7
3 Webster’s New Dictionary and Thesaurus Concise Edition.1990. hlm.329
4 Joseph de Chiara, Time Saver Standard for Building Types, 1973
parkir di antaranya. Perkembangan baru dari jenis ini adalah unit-unit
pertokoan berbentuk mini mall.
2. Intermediate/Communit-Size Center,
Merupakan pertokoan yang juga berbentuk linier tetapi lebih besar daripada
neighborhood center dan sering disebut junior department store. Bentuk
parkir sama dengan neighborhood center.
3. Regional Center
Terdiri dari satu sampai empat department store atau supermarket lima
puluh sampai seratus lebih toko-toko satelit dan fasilitas lain, yang semua
menghadap ke jalur pejalan kaki utama (mall). Bangunan ini terletak di
daerah sub-urban.
4. Renewal Project
Merupakan pusat pertokoan yang terletak di pusat kota (downtown) yang
merupakan bangunan bertingkat yang terdiri dari department store dan
pertokoan. Pusat perbelanjaan ini dihubungkan langsung dengan fasilitas-
fasilitas lain seperti hotel, kantor, teater, tempat parkir, dan lain-lain. Karena
mahalnya harga lahan biasanya areal parkir dibuat multidecked, di bawah
atau akan lebih baik bila di samping pusat perbelanjaan.
Ciri-ciri jenis pusat perbelanjaan tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Ciri-ciri pusat perbelanjaan
Sumber : de Chiara, Joseph & Lee Koppelman, Planning Design Crietria, van Nostrand
Reinhold Company, New York, 1969, hal 234
No Ciri-ciri Utama Neighborhood Center Community Center Regional Center
1 Fungsi Utama Menjual barang
kebutuhan sehari-hari
dan pelaksanaan
perorangan
Beberapa fungsi dari
neighborhood center
ditambah penjualan
barang-barang belanja
Beberapa fungsi dari
community center
ditambah penjualan
barang-barang umum
2 Pertokoan
Utama
Supermarket dan toko
obat
Berbagai macam toko
dan departemen store
kecil
Satu atau lebih
departemen store
utama
3 Lokasi Persilangan jalan
kolektor atau jalan
sekunder
Persilangan jalan-jalan
utama atau jalan jalur
cepat
Persilangan jalan jalur
cepat atau jalan tol
4 Radius area
pelayanan
0,5 mil 2 mil 4 mil
5 Minimal jumlah
penduduk yang
dilayani
4000 jiwa 35.000 jiwa 400.000 jiwa
6 Total luas lahan 1,62-3,2 ha 4,05-12,1 ha 16,2-40,46 ha
7 Luas lantai
keseluruhan
2700-6900 m2 6900-23000 m2 23000-36800 m2
8 Jumlah 5-20 15-40 40-80
pertokoan
9 Penyediaan
parkir
Rasio area parkir 4:1 (luas area parkir 4 kali luas lantai keseluruhan)
2.2.2 Pengelompokan Individu
Individu yang melakukan kegiatan dalam mall dapat dikelompokkan sebagai
berikut :
1. Pengunjung, merupakan factor yang paling menentukan dalam aktivitas
perbelanjaan. Pengunjung dapat dibedakan menjadi tiga macam:
 Pengunjung yang datang khusus berbelanja
 Pengunjung yang mempunyai tujuan berbelanja dan berekreasi
 Pengunjung yang mempunyai tujuan hanya berekreasi
2. Penyewa, merupakan individu atau badan usaha yang menggunakan ruang
dan fasilitas yang disediakan untuk usaha komersial, hak untuk
menggunakan tersebut dinyatakan dalam system sewa.
3. Pengelola, merupakan individu yang tergabung dalam suatu badan yang
mempunyai tugas mengelola, mengatur, dan mengorganisasi mall agar dapat
berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan dari mall itu sendiri.
2.2.3 Jenis Penjualan dalam Mall
Menurut Morris Ketchum Jr dalam Shop and Stores (1962:31) terdapat
dua jenis penjualan dalam mall yaitu barang dan jasa. Kedua jenis
penjualan tersebut bervariasi macam dan harganya, perbandingan
antara bagian penjualan barang dan jasa adalah 70 : 30.
Frederich Gibberd dalam Town Design (1959:16) menyebutkan
bahwa sesuai dengan frekuensi pembelian dan tingkat kebutuhan,
barang yang dapat dijual dapat dibagi dengan tiga bagian yaitu :
1. Convenience Goods, merupakan barang kebutuhan sehari-hari
dengan frekuensi penjualan yang tinggi seperti : daging, ikan, obat,
tembakau, rokok, dan sebagainya.
2. Demands Goods, merupakan barang yang dibutuhkan dengan
frekuensi pemakaian yang tidak sebesar convenience goods, seperti
pakaian, elektronika, arloji, perabotan, dan sebagainya.
3. Impulse Goods, merupakan barang untuk memenuhi kenikmatan
dan kepuasan, berupa barang-barang mewah, seperti perhiasan,
berlian, parfum, makanan eksklusif, dan sebagainya. Jenis barang
ini jarang didapat di pusat perbelanjaan.
2.3 Elemen dalam Mall
Menurut Harvey M. Rubenstein dalam Central City Malls (1978:17)
menyebutkan bahwa Mall pada dasarnya merupakan penggambaran dari kota
yang terbentuk oleh beberapa elemen, yaitu sebagai berikut :
1. Magnet Primer, merupakan transformasi dari node yang berfungsi sebagai
titik konsentrasi dan dapat pula berfungsi sebagai landmark. Perwujudannya
berupa plaza dalam mall.
2. Magnet Sekunder, merupakan transformasi dari district. Perwujudannya
berupa toko-toko pengecer, misalnya retail store, department store,
supermarket, Cineplex, dan sebagainya.
3. Street Mall, merupakan transformasi dari path. Perwujudannya merupakan
jalur pejalan kaki yang menghubungkan antara magnet-magnet tersebut.
Sedangkan elemen-elemen yang terdapat dalam suatu mall dapat diuraikan
sebagai berikut :
1. Magnet Primer (Main Anchor), menurut Harvey M Rubenstein, magnet
merupakan transformasi dari node kota yang berfungsi sebagai titik
konsentrasi dan dapat pula berfungsi sebagai landmark. Perwujudannya
dapat berupa plaza atau court. Konsep lay out dari mall pada umumnya
membentuk garis lurus atau membentuk setengah lingkaran. Bila berbentuk
garis lurus maka diperlukan dua buah magnet pada tiap-tiap ujung
pengakhiran koridor. Sedangkan yang berbentuk L, T, atau lengkung
memerlukan tiga buah magnet. Dalam perkembangannya sering pula dipakai
magnet perantara, yaitu bila jarak antarmagnet utama terlalu jauh, sehingga
terasa terlalu monoton.
Gambar 2.1 Pemakaian Magnet dalam Mall
Sumber : Central City Malls, Harvey M Rubenstein, 1978
Menurut Nadine Benddington dalam Design for Shopping Center (1982:16),
magnet utama atau main anchor berada dalam setiap pengakhiran koridor
dalam hubungan horizontal, sedangkan pada plaza lebih ditekankan
perletakan secara vertical (lantai atas dan basement) jarak antar magnet
maksimal 250 meter, disebabkan agar pengunjung tidak merasa lelah.
2. Magnet Sekunder, magnet sekunder merupakan transformasi dari district
kota. Perwujudannya bisa berupa toko-toko pengecer atau fasilitas-fasilitas
menarik lainnya. Toko merupakan salah satu bagian terpenting dari mall
yang dianggap sebagai district pada pusat perbelanjaan. Penempatan toko
erat kaitannya dengan penempatan magnet primer (court atau plaza) sebagai
daya tarik utama dalam pusat perbelanjaan tersebut. Pemanfaatan daya tarik
dengan mengarahkan arus pengunjung sedemikian rupa sehingga dengan
sendirinya arus tersebut dapat melewati toko-toko kecil sebelum akhirnya
menuju ke magnet primer di pusat perbelanjaan tersebut, yang terdapat di
depan anchor tenant yang berupa department store, supermarket, atau
Cineplex.
3. Koridor, merupakan ruang yang digunakan oleh pengunjung untuk berjalan
kaki. Sirkulasi pejalan kaki harus memenuhi kenyamanan, keamanan, dan
tidak membingungkan pengunjung. Terdapat dua macam koridor, yaitu
koridor utama dan koridor tambahan. Koridor utama merupakan orientasi
dari toko-toko yang ada di sepanjangnya. Sedangkan koridor tambahan
merupakan koridor yang terletak pada perpanjangan koridor utama, yang
memudahkan pencapaian dari area parkir dan mempersingkat jarak dari
pintu masuk bila terjadi keadaan darurat. Koridor tambahan ini bias
berhubungan dengan magnet utama (main anchor), dapat pula tidak
berhubungan. Menurut Nadine Benddington dalam Design for Shopping
Center (1982:16), lebar koridor utama minimal 15 meter, sedangkan koridor
tambahan minimal 6 meter.
4. Atrium, definisi atrium pada saat ini adalah suatu ruang kosong yang secara
horizontal diapit oleh lapisan-lapisan lantai di kedua atau lebih sisinya,
dengan ketinggian minimal dua lantai atau lebih, yang mendapat
pencahayaan alami pada siang hari dan menjadi pusat orientasi bangunan.
Dalam bangunan-banguna modern khususnya bangunan komersil,
membutuhkan atrium sebagai daya tarik pada perancangan ruang dalam
maupun luar bangunan tersebut. Begitu pula dalam EMAC (Enclosed Malls
Air Conditioned), atrium sangat penting dalam perancangannya.
Berdasarkan bentuk penutupnya atrium tersebut dapat berupa : vault skylight
(bentuk lengkung atau setengah lingkaran), Pyramid atau Dome (bentuk
pyramid atau kubah), Ridge Skylight (bentuk segitiga), Glazed Wall (bentuk
dinding kaca), Multiple Linear Skylight (bentuk dengan beberapa atrium
linear) dan Multiple Unit Skylight (bentuk dengan beberapa unit atrium).
5. Konteks dan Karakter Bentuk, menurut Harvey M Rubenstein dalam
Pedestrian Malls, Streetscape, and Urban Spaces (1992:45), menyebutkan
bahwa pengembangan suatu mall harus dipandang sesuai dengan konteks
dari lingkungan sekitarnya. Hal ini menandakan bahwa perlu suatu studi
terhadap hubungan fisik antara mal dengan pusat kota dan memperkuat
identitas atau imaji mal tersebut dengan lingkungan sekitarnya, tata ruang
kota (urban space), serta konteks yang lebih besar lagi, yaitu pusat kota
secara keseluruhan. Konteks yang dimaksudkan di sini adalah imaji dari
pusat kota. Imaji ini berlandaskan pada wujud, warna, tekstur, pengaturan,
dan kualitas pandangan yang kesemuanya memberikan pada pengamat
kunci identitas. Imaji sendiri dapat diklasifikasikan pada lima elemen yaitu
paths, modes, edges, district, dan landmark. Karakter Bentuk yang
dimaksud adalah bahwa karakteristik mall yang timbul harus memberikan
kualitas rancangan atau estetika pada ruang kota (urban space). Hal tersebut
dapat dicapai melalui : figure-ground, continuity, repetition, rhytm, size and
scale, shape, proportion, hierarchy, dominance, texture and pattern,
transparency, direction, similarity, volume and enclosure, motion, time, dan
sensory quality.
6. Penataan mall Penataan (lay out) mall yang dimaksud di sini adalah
penempatan elemen-elemen mall seperti magnet primer, magnet tambahan,
dan koridor. Salah satu bagian yang terpenting yang dibutuhkan setiap pusat
perbelanjaan menurut buku Enclosed Shopping Centers adalah penempatan
retail-retail dalam keseimbangan yang tepat. Itulah mengapa penempatan
Magnet Primer secara akurat menjadi penting. Ada beberapa lokasi efektif
untuk Magnet Primer, sebagai berikut :
Gambar 2.2 Penataan Bentuk Linier
Gambar 2.3 Penataan Bentuk L
Gambar 2.4 Penataan Bentuk T
Gambar 2.5 Penataan Bentuk Setengah Lingkaran
Sumber : Design for Shopping Center, Nadine Benddington, 1982

tinjauan mall

  • 1.
    2.1 Tinjauan umumMall 2.1.1 Pengertian Mall Rinorthen dalam Shopping Centres a Developer Guide to Planning and Design menyebutkan bahwa mall merupakan a pedestriannised shopping street (jalur pertokoan pejalan kaki) yang dibuat untuk menciptakan kesan ruang yang luas, berkualitas, dan lebih mewah daripada arcade-arcade biasa.1 Pengertian mall menurut Harvey M Rubenstein dalam bukunya yang berjudul Central City Mall (1978) menyebutkan bahwa mall merupakan sebuah area pergerakan linier pada central city business area yang diorientasikan bagi pejalan kaki dengan bentuk pedestrian yang dikombinasikan oleh ruang-ruang interaksional2. “Mall is a level shaded walk, a public walk, a shop lined street, for pedestrians only”, 3 artinya adalah sebuah area pejalan kaki yang ternaungi, sebuah area publik untuk berjalan, sebuah jalan yang terbentuk dari sederetan toko, khusus untuk pejalan kaki.. Mall adalah suatu ruang yang memanjang yang berfungsi sebagai tempat berbelanja bagi pejalan kaki, yang terbentuk oleh deretan pertokoan, dimana deretan pertokoan itu berorientasi keluar.4 Melihat perkembangan selanjutnya, maka mall dapat didefinisikan sebagai “pusat perbelanjaan atau kompleks pertokoan yang terdari dari retail store, dengan status sewa (tenant) dan dilengkapi dengan department store, Cineplex, food center, dan fasilitas hiburan lain yang berfungsi sebagai Anchor tenant, yang berorientasi ke suatu ruang memanjang yang digunakan untuk berjalan kaki”. 2.2 Karakter Non Fisik Mall 2.2.1 Jenis Mall Menurut Joseph de Chiara dan John Hancock Calendar dalam Time Saver Standards for Building Type (1981:577), jenis-jenis dari pusat perbelanjaan adalah sebagai berikut : 1. Neighbourhood Center Merupakan deretan pertokoan yang biasanya berbentuk linier, sejajar dengan jalan raya, dan fasade toko yang menghadap ke arah jalan tersebut, dengan 1 op.cit hal. II-15 2 Dikutip dari Paramita dkk, Lifestyle Mall di Semarang, LP3A Perancangan Arsitektur 5 UNDIP, hal. 7 3 Webster’s New Dictionary and Thesaurus Concise Edition.1990. hlm.329 4 Joseph de Chiara, Time Saver Standard for Building Types, 1973
  • 2.
    parkir di antaranya.Perkembangan baru dari jenis ini adalah unit-unit pertokoan berbentuk mini mall. 2. Intermediate/Communit-Size Center, Merupakan pertokoan yang juga berbentuk linier tetapi lebih besar daripada neighborhood center dan sering disebut junior department store. Bentuk parkir sama dengan neighborhood center. 3. Regional Center Terdiri dari satu sampai empat department store atau supermarket lima puluh sampai seratus lebih toko-toko satelit dan fasilitas lain, yang semua menghadap ke jalur pejalan kaki utama (mall). Bangunan ini terletak di daerah sub-urban. 4. Renewal Project Merupakan pusat pertokoan yang terletak di pusat kota (downtown) yang merupakan bangunan bertingkat yang terdiri dari department store dan pertokoan. Pusat perbelanjaan ini dihubungkan langsung dengan fasilitas- fasilitas lain seperti hotel, kantor, teater, tempat parkir, dan lain-lain. Karena mahalnya harga lahan biasanya areal parkir dibuat multidecked, di bawah atau akan lebih baik bila di samping pusat perbelanjaan. Ciri-ciri jenis pusat perbelanjaan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 2.1 Ciri-ciri pusat perbelanjaan Sumber : de Chiara, Joseph & Lee Koppelman, Planning Design Crietria, van Nostrand Reinhold Company, New York, 1969, hal 234 No Ciri-ciri Utama Neighborhood Center Community Center Regional Center 1 Fungsi Utama Menjual barang kebutuhan sehari-hari dan pelaksanaan perorangan Beberapa fungsi dari neighborhood center ditambah penjualan barang-barang belanja Beberapa fungsi dari community center ditambah penjualan barang-barang umum 2 Pertokoan Utama Supermarket dan toko obat Berbagai macam toko dan departemen store kecil Satu atau lebih departemen store utama 3 Lokasi Persilangan jalan kolektor atau jalan sekunder Persilangan jalan-jalan utama atau jalan jalur cepat Persilangan jalan jalur cepat atau jalan tol 4 Radius area pelayanan 0,5 mil 2 mil 4 mil 5 Minimal jumlah penduduk yang dilayani 4000 jiwa 35.000 jiwa 400.000 jiwa 6 Total luas lahan 1,62-3,2 ha 4,05-12,1 ha 16,2-40,46 ha 7 Luas lantai keseluruhan 2700-6900 m2 6900-23000 m2 23000-36800 m2 8 Jumlah 5-20 15-40 40-80
  • 3.
    pertokoan 9 Penyediaan parkir Rasio areaparkir 4:1 (luas area parkir 4 kali luas lantai keseluruhan) 2.2.2 Pengelompokan Individu Individu yang melakukan kegiatan dalam mall dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Pengunjung, merupakan factor yang paling menentukan dalam aktivitas perbelanjaan. Pengunjung dapat dibedakan menjadi tiga macam:  Pengunjung yang datang khusus berbelanja  Pengunjung yang mempunyai tujuan berbelanja dan berekreasi  Pengunjung yang mempunyai tujuan hanya berekreasi 2. Penyewa, merupakan individu atau badan usaha yang menggunakan ruang dan fasilitas yang disediakan untuk usaha komersial, hak untuk menggunakan tersebut dinyatakan dalam system sewa. 3. Pengelola, merupakan individu yang tergabung dalam suatu badan yang mempunyai tugas mengelola, mengatur, dan mengorganisasi mall agar dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan dari mall itu sendiri. 2.2.3 Jenis Penjualan dalam Mall Menurut Morris Ketchum Jr dalam Shop and Stores (1962:31) terdapat dua jenis penjualan dalam mall yaitu barang dan jasa. Kedua jenis penjualan tersebut bervariasi macam dan harganya, perbandingan antara bagian penjualan barang dan jasa adalah 70 : 30. Frederich Gibberd dalam Town Design (1959:16) menyebutkan bahwa sesuai dengan frekuensi pembelian dan tingkat kebutuhan, barang yang dapat dijual dapat dibagi dengan tiga bagian yaitu : 1. Convenience Goods, merupakan barang kebutuhan sehari-hari dengan frekuensi penjualan yang tinggi seperti : daging, ikan, obat, tembakau, rokok, dan sebagainya. 2. Demands Goods, merupakan barang yang dibutuhkan dengan frekuensi pemakaian yang tidak sebesar convenience goods, seperti pakaian, elektronika, arloji, perabotan, dan sebagainya. 3. Impulse Goods, merupakan barang untuk memenuhi kenikmatan dan kepuasan, berupa barang-barang mewah, seperti perhiasan,
  • 4.
    berlian, parfum, makananeksklusif, dan sebagainya. Jenis barang ini jarang didapat di pusat perbelanjaan. 2.3 Elemen dalam Mall Menurut Harvey M. Rubenstein dalam Central City Malls (1978:17) menyebutkan bahwa Mall pada dasarnya merupakan penggambaran dari kota yang terbentuk oleh beberapa elemen, yaitu sebagai berikut : 1. Magnet Primer, merupakan transformasi dari node yang berfungsi sebagai titik konsentrasi dan dapat pula berfungsi sebagai landmark. Perwujudannya berupa plaza dalam mall. 2. Magnet Sekunder, merupakan transformasi dari district. Perwujudannya berupa toko-toko pengecer, misalnya retail store, department store, supermarket, Cineplex, dan sebagainya. 3. Street Mall, merupakan transformasi dari path. Perwujudannya merupakan jalur pejalan kaki yang menghubungkan antara magnet-magnet tersebut. Sedangkan elemen-elemen yang terdapat dalam suatu mall dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Magnet Primer (Main Anchor), menurut Harvey M Rubenstein, magnet merupakan transformasi dari node kota yang berfungsi sebagai titik konsentrasi dan dapat pula berfungsi sebagai landmark. Perwujudannya dapat berupa plaza atau court. Konsep lay out dari mall pada umumnya membentuk garis lurus atau membentuk setengah lingkaran. Bila berbentuk garis lurus maka diperlukan dua buah magnet pada tiap-tiap ujung pengakhiran koridor. Sedangkan yang berbentuk L, T, atau lengkung memerlukan tiga buah magnet. Dalam perkembangannya sering pula dipakai magnet perantara, yaitu bila jarak antarmagnet utama terlalu jauh, sehingga terasa terlalu monoton. Gambar 2.1 Pemakaian Magnet dalam Mall Sumber : Central City Malls, Harvey M Rubenstein, 1978
  • 5.
    Menurut Nadine Benddingtondalam Design for Shopping Center (1982:16), magnet utama atau main anchor berada dalam setiap pengakhiran koridor dalam hubungan horizontal, sedangkan pada plaza lebih ditekankan perletakan secara vertical (lantai atas dan basement) jarak antar magnet maksimal 250 meter, disebabkan agar pengunjung tidak merasa lelah. 2. Magnet Sekunder, magnet sekunder merupakan transformasi dari district kota. Perwujudannya bisa berupa toko-toko pengecer atau fasilitas-fasilitas menarik lainnya. Toko merupakan salah satu bagian terpenting dari mall yang dianggap sebagai district pada pusat perbelanjaan. Penempatan toko erat kaitannya dengan penempatan magnet primer (court atau plaza) sebagai daya tarik utama dalam pusat perbelanjaan tersebut. Pemanfaatan daya tarik dengan mengarahkan arus pengunjung sedemikian rupa sehingga dengan sendirinya arus tersebut dapat melewati toko-toko kecil sebelum akhirnya menuju ke magnet primer di pusat perbelanjaan tersebut, yang terdapat di depan anchor tenant yang berupa department store, supermarket, atau Cineplex. 3. Koridor, merupakan ruang yang digunakan oleh pengunjung untuk berjalan kaki. Sirkulasi pejalan kaki harus memenuhi kenyamanan, keamanan, dan tidak membingungkan pengunjung. Terdapat dua macam koridor, yaitu koridor utama dan koridor tambahan. Koridor utama merupakan orientasi dari toko-toko yang ada di sepanjangnya. Sedangkan koridor tambahan merupakan koridor yang terletak pada perpanjangan koridor utama, yang memudahkan pencapaian dari area parkir dan mempersingkat jarak dari pintu masuk bila terjadi keadaan darurat. Koridor tambahan ini bias berhubungan dengan magnet utama (main anchor), dapat pula tidak berhubungan. Menurut Nadine Benddington dalam Design for Shopping Center (1982:16), lebar koridor utama minimal 15 meter, sedangkan koridor tambahan minimal 6 meter. 4. Atrium, definisi atrium pada saat ini adalah suatu ruang kosong yang secara horizontal diapit oleh lapisan-lapisan lantai di kedua atau lebih sisinya, dengan ketinggian minimal dua lantai atau lebih, yang mendapat pencahayaan alami pada siang hari dan menjadi pusat orientasi bangunan. Dalam bangunan-banguna modern khususnya bangunan komersil,
  • 6.
    membutuhkan atrium sebagaidaya tarik pada perancangan ruang dalam maupun luar bangunan tersebut. Begitu pula dalam EMAC (Enclosed Malls Air Conditioned), atrium sangat penting dalam perancangannya. Berdasarkan bentuk penutupnya atrium tersebut dapat berupa : vault skylight (bentuk lengkung atau setengah lingkaran), Pyramid atau Dome (bentuk pyramid atau kubah), Ridge Skylight (bentuk segitiga), Glazed Wall (bentuk dinding kaca), Multiple Linear Skylight (bentuk dengan beberapa atrium linear) dan Multiple Unit Skylight (bentuk dengan beberapa unit atrium). 5. Konteks dan Karakter Bentuk, menurut Harvey M Rubenstein dalam Pedestrian Malls, Streetscape, and Urban Spaces (1992:45), menyebutkan bahwa pengembangan suatu mall harus dipandang sesuai dengan konteks dari lingkungan sekitarnya. Hal ini menandakan bahwa perlu suatu studi terhadap hubungan fisik antara mal dengan pusat kota dan memperkuat identitas atau imaji mal tersebut dengan lingkungan sekitarnya, tata ruang kota (urban space), serta konteks yang lebih besar lagi, yaitu pusat kota secara keseluruhan. Konteks yang dimaksudkan di sini adalah imaji dari pusat kota. Imaji ini berlandaskan pada wujud, warna, tekstur, pengaturan, dan kualitas pandangan yang kesemuanya memberikan pada pengamat kunci identitas. Imaji sendiri dapat diklasifikasikan pada lima elemen yaitu paths, modes, edges, district, dan landmark. Karakter Bentuk yang dimaksud adalah bahwa karakteristik mall yang timbul harus memberikan kualitas rancangan atau estetika pada ruang kota (urban space). Hal tersebut dapat dicapai melalui : figure-ground, continuity, repetition, rhytm, size and scale, shape, proportion, hierarchy, dominance, texture and pattern, transparency, direction, similarity, volume and enclosure, motion, time, dan sensory quality. 6. Penataan mall Penataan (lay out) mall yang dimaksud di sini adalah penempatan elemen-elemen mall seperti magnet primer, magnet tambahan, dan koridor. Salah satu bagian yang terpenting yang dibutuhkan setiap pusat perbelanjaan menurut buku Enclosed Shopping Centers adalah penempatan retail-retail dalam keseimbangan yang tepat. Itulah mengapa penempatan Magnet Primer secara akurat menjadi penting. Ada beberapa lokasi efektif untuk Magnet Primer, sebagai berikut :
  • 7.
    Gambar 2.2 PenataanBentuk Linier Gambar 2.3 Penataan Bentuk L Gambar 2.4 Penataan Bentuk T Gambar 2.5 Penataan Bentuk Setengah Lingkaran Sumber : Design for Shopping Center, Nadine Benddington, 1982