BAB II
LANDASAN TEORI
1. Riwayat Tes IST
Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi
individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada
tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur
dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes.
Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya
pada hasil atau prestasi suatu tes.
Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan
dari para koleganya, berikut adalah perkembangan tes IST dari tahun 1953 hingga
tahun 2000-an.
 Tes IST 1953
Tes IST yang pertama ini pada awalnya hanya digunakan untuk individu usia 14
sampai dengan 60 tahun. Proses penyusunan norma diambil dari 4000 subjek pada
tahun 1953.
 Tes IST 1955
Tes IST merupakan pengembangan dari IST 1953, pada IST 1955 rentang usia
untuk subjek diperluas menjadi berawal dari umur 13 tahun. Subjek dalam
penyusunan norma bertambah menjadi 8642 orang. Pada tes ini sudah ada
pengelompokan jenis kelamin dan kelompok usia.
 Tes IST 1970
Berdasarkan permintaan dan tuntutan pengguna yang menyarankan pengkoreksian
dengan mesin juga pengembangan tes setelah penggunaan lebih dari 10 tahun,
maka disusunlah IST 70. Dalam IST 70 ini tidak terlalu banyak perubahan, tes ini
memiliki 6 bentuk, setiap pemeriksaan dilakukan 2 tes sebagai bentuk parallel;
yaitu A1 dan B2, atau C3 dan D4. Dua bentuk lainnya untuk pemerintah dan
hanya bagi penggunaan khusus. Pada IST 70, rentang kelompok usia diperluas
menjadi berawal dari 12 tahun. Disamping itu telah ditambah tabel kelompok dan
pekerjaan. Namun demikian, pada IST 70 terdapat kekurangan yaitu penyebaran
bidang yang tidak merata dan menggunakan kalimat dalam subtes RA sehingga
jika subjek gagal dalam subtes ini dapat dimungkinkan karena tidak mampu
mengerjakan soal hitungannya atau tidak mengerti kalimatnya.
 Tes IST 2000
Sebagai koreksi dari IST 70, pada IST 2000 tidak terdapat soal kalimat pada soal
hitungan.
 Tes IST 2000-Revised
Pada IST 2000-R ini terdapat beberapa perkembangan subtes juga penambahan
subtes. IST ini terdiri dari 3 modul, yaitu sebagai berikut:
1. Grundmodul-Kurzform (Modul Dasar-Singkatan); terdiri dari subtes : SE,
AN, GE, RE, ZR, RZ, FA, WU, dan MA.
2. Modul ME: terdiri dari subtes ME Verbal dan ME Figural
3. Erweiterungmodul (Modul menguji pengetahuan); terdiri dari subtes
Wissentest (tes pengetahuan)
IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi Fakultas Psikologi
Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada IST-70. Tes ini
pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung, Jawa Barat
2. Latar Belakang Tes IST
IST (Intelligenz Structure Test) adalah tes inteligensi yang dikembangkan oleh
Rudolf Amthauer pada tahun 1953. Menurut Amthauer intelegensia ditanggapi
sebagai struktur tersendiri, di dalam kesleuruhan struktur kepribadian manusia.
Intelegensia merupakan suatu keseluruhan struktur yang terdiri dari kemampuan-
kemampuan jiwa dan rohani yang berfungsi sedemikian sehingga memberikan
kemampuan bagi manusia untuk bertindak. IST terdiri dari 9 sub tes yang maisng-
masing tes memiliki cara pengerjaan tersendiri dan dibatasi oleh waktu-watu
tertentu. IST ini dapat digunakan untuk tes klasikal maupun individual. Hasil
akhir dari IST ini adalah grafik dan angka yang menunjukkan taraf kecerdasan.
Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST
dengan hipotesis kerja sebagai berikut:
“Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya
bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang
yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan
menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”
Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori
bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki
faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan
suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu
dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama
(general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena
masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan
kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-
subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9
subtes.
3. Subtes-subtes dan hal-al yang diukur dalam IST
IST terdiri dari sembilan subtes yang keseluruhannya berjumlah 176 aitem.
Masing-masing subtes memiliki batas waktu yang berbeda-beda dan
diadministrasikan dengan menggunakan manual (Polhaupessy, dalam Diktat
Kuliah IST UNPAD, 2009). Sembilan subtes dalam IST, yaitu:
 IST terdiri dari 9 sub test:
1. SE (Satzerganzng) : Melengkapi kalimat
2. WA (Wortausuahl) : mencari kata yang berbeda
3. AN (Analogien) : mencari hubungan kata
4. GE (Gmeinsamkeiten) : mencari kata yang mencakup dua pengertian
5. RA (Rechen Aufgaben): Hitungan sederhana
6. ZR (Zahlen Reihen) : deret angka
7. FA (Form Ausuahl) : Menyusun bentuk
8. WU (Wurfal Aufgaben) : Kubus
9. ME (Merk Aufgaben) : Mengingat kata
 Hal-hal yang diukur pada setiap subtes IST
1. SE
 Berpikir konkrit praktis
 Berpikir logis
 Akal sehat (common sense)
 Pembentukan keputusan
 Pemaknaan realita
 Berpikir mandiri
2. WA
 Rasa bahasa
 Berpikir verbal
 Pengertian bahasa
 Kemampuan empati (menghayati)
 Komponen reseptif
3. AN
 Daya mengkombinasikan
 Fleksibilitas/kelincahanberfikir
 Menstransfer hubungan
 Kejelasan dan konsekuen dalam berpikir.
 Analisa yang bersifat dugaan
 Suatu perkiraan yang paling berarti bagi pengembangan studi ilmiah
4. GE
 Daya abstraksi verbal
 Pembentukan konsep (Pengertian)
 Berfikir logis dalam bentuk bahasa
5. RA
 Berpikir praktis dalam masalah hitungan
 Berpikir logis objektif
 Berfikir matematis.
 Mengambil keputusan
6. ZR
 Berpikir teoritis dalam berhitung
 Berfikir induktif angka
 Kelincahan berpikir
 Mengenali komponen ritmis
7. FA
 Kemampuan membayangkan
 Kemampuan mengamati
 Berpikir secara utuh menyeluruh.
 Mengenali komponen konstruktif
8. WU
 Daya bayang ruang
 Menganli konstruktif teknis
 Berpikir analitis.
9. ME
 Atensi
 Memori Mengingat kata yang telah dipelajari
4. Administrasi Pelaksanaan Tes IST
a. Tester membagikan lembar jawaban. Tiap testee diberi datu set.
b. Testee diminta, agar mengisi identitas masing-masing pada setiap lembar
jawaban (buku tes, tanggal dan kelas).
c. Tester membagikan buku tes. Tiap testee diberi satu buku, diletakkan
dihadapan testee (terbalik).
d. Tester memperhatikan lama waktu yang digunakan pada setiap sub tes.
e. Testee membacakan “Petunjuk Umum”. Apabila tidak ada yang bertanya,
tester mulai mebaca petunjuk khusus.
f. Sekiranya seluruh testee telah siap. Tester mempersilahkan testee
membalikkan buku.
g. Tester membacakan petunjuk sub tes. Sekiranya ada yang bertanya, tester
membacakan kembali petunjuk sub tes pertama tersebut.
h. Setelah waktu habis, lembar jawab tes pertama langsung dikumpul.
i. Tester mengingatkan testee untuk mengecek kembali identitasnya pada
lembar jawaban.
Petunjuk Umum:
a. Testee tidak diperkenankan membuka buku tes, sebelum ada instruksi dari
tester.
b. Testee tidak diperkenankan menulis atau mencoret buku tes.
c. Jawaban testee dituliskan pada lembar jawaban.
d. Pada setiap sub tes akan didahului oleh penjelaan-penjelasan dan perintah-
perintah dari tester. Hendaknya testee mendengarkan dan memperhatikan
instruksi dari tester karena kesalahan menangkap pesan akan merugikan
testee.
e. Sub tes mempunyai batas waktu tertentu. Bila testee tidak dapat
menyelesaikan seluruh persoalan dalam batas waktu yang telah ditetapkan,
hendaknya testee tetap tenang, tidak perlu gelisah dan tetap tenang
5. Metode skoring tes IST
Tahap skoring yang digunakan untuk setiap subtes adalah dengan memeriksa
setiap jawaban dengan menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan. Untuk
semua subtes (SE, WA, AN, RA, ZR, FA, WU, & ME), kecuali subtes 04-GE,
setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk jawaban salah diberi nilai 0. Khusus
untuk subtes 04-GE, tersedia nilai 2, 1, dan 0; karena subtes ini berbentuk isian
singkat maka nilai yang akan diberikan tergantung dengan jawaban yang
diberikan oleh subjek.
Total nilai benar yang sesuai dengan kunci jawaban merupakan Raw Score (RW);
nilai ini belum dapat diinterpretasi sesuai dengan norma yang digunakan. Nilai
RW yang sudah dibandingkan dengan norma disebut dengan Standardized Score
(SW). Nilai SW inilah yang dapat menjadi materi untuk tahap selanjutnya, yaitu
interpretasi.
6. Interpretasi tes
Setelah didapatkan Standardized Score, maka tahap interpretasi dapat dilakukan.
Kesembilan subtes saling berkaitan, sehingga harus dilakukan semuanya dan
interpretasinya harus dilakukan secara keseluruhan (Amthauer dalam Diktat
Kuliah IST UNPAD, 2009).
Interpretasi yang dapat dilakukan dari tes IST adalah sebagai berikut:
a. Taraf kecerdasan. Taraf kecerdasan didapat dari total SW. Nilai ini dapat
diterjemahkan menjadi Intelligent Quotient (IQ). Nilai ini dapat
menggambarkan perkembangan individu melalui pendidikan dan
pekerjaan. Nilai ini perlu dihubungkan dengan latar belakang sosial serta
dibandingkan dengan kelompok seusianya.
b. Dimensi Festigung-Flexibilität. Dimensi Festigung-Flexibilität
menggambarkan corak berpikir yang dimiliki oleh subjek. Dimensi
Festigung-Flexibilität merupakan dua kutub yang ekstrim, Keduanya
menggambarkan corak berpikir yang ekstrim pula. Kutub Festigung
memiliki arti corak berpikir yang eksak, sedangkan kutub Flexibilität
memiliki arti corak berpikir yang non-eksak. Corak berpikir ini
merupakan hasil perkembangan (pengalaman) individu yang akan
semakin mantap ke salah satu kutub seiring bertambahnya usia. Cara
menentukan seseorang subjek apakah memiliki kecenderungan
Festigung atau Flexibilitat adalah dengan membandingkan nilai GE+RA
dengan nilai AN+ZR. Jika nila GE+RA lebih besar maka subjek
memiliki kecenderungan Festigung, sebaliknya jika nilai AN+ZR lebih
besar maka subjek memiliki kecenderungan Flexibilitat.
c. Profil M-W. Profil M-W menggambarkan cara berpikir, apakah verbal-
teoritis atau praktis-konkrit. Untuk mendapatkan profil dalam bentuk
huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN,
GE) yang tampak pada grafik. Jika grafik menunjukkan bentuk huruf M
pada 4 subtes pertama maka profilnya adalah M (verbal-teoritis), jika
yang tampak adalah bentuk huruf W maka profilnya adalah W (praktis-
konkrit).
7. Angka IST untuk penjurusan
 IPA : lihat skor RA, ZR,FA, WU harus lebih tinggi dibandingkan yang
lain.
 IPS : Lihat skor SE, WA, GE, ME harus lebih tinggi dibandingkan yang
lain
 Untuk melanjutkan pendidikan setelah SMA, sebaiknya skor AN cukup
baik (rata-rata).
 Diprediksi berhasil menjalani pebdidikan di jenjang D3 dengan baik
jika IQ minimal pada rentang rata-rata (96 - 105).
 Diprediksi berhasil menjalani pendidikan di jenjang SI dengan baik jika
IQ minimal pada rentang rata-rata atas (106 - 110).
 Namun demikian tetap harus mempertimbangkan aspek-aspek
psikologis yang lain, seperti motivasi, minat, kegigihan dalam
mengatasi hambatan, keinginan untuk belajar dsb.
http://programpsikotes.blogspot.com/2013/05/tes-ist.html
http://www.psychologymania.com/2013/01/tes-ist-intelligenz-struktur-test.html

Tes ist

  • 1.
    BAB II LANDASAN TEORI 1.Riwayat Tes IST Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes. Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan dari para koleganya, berikut adalah perkembangan tes IST dari tahun 1953 hingga tahun 2000-an.  Tes IST 1953 Tes IST yang pertama ini pada awalnya hanya digunakan untuk individu usia 14 sampai dengan 60 tahun. Proses penyusunan norma diambil dari 4000 subjek pada tahun 1953.  Tes IST 1955 Tes IST merupakan pengembangan dari IST 1953, pada IST 1955 rentang usia untuk subjek diperluas menjadi berawal dari umur 13 tahun. Subjek dalam penyusunan norma bertambah menjadi 8642 orang. Pada tes ini sudah ada pengelompokan jenis kelamin dan kelompok usia.
  • 2.
     Tes IST1970 Berdasarkan permintaan dan tuntutan pengguna yang menyarankan pengkoreksian dengan mesin juga pengembangan tes setelah penggunaan lebih dari 10 tahun, maka disusunlah IST 70. Dalam IST 70 ini tidak terlalu banyak perubahan, tes ini memiliki 6 bentuk, setiap pemeriksaan dilakukan 2 tes sebagai bentuk parallel; yaitu A1 dan B2, atau C3 dan D4. Dua bentuk lainnya untuk pemerintah dan hanya bagi penggunaan khusus. Pada IST 70, rentang kelompok usia diperluas menjadi berawal dari 12 tahun. Disamping itu telah ditambah tabel kelompok dan pekerjaan. Namun demikian, pada IST 70 terdapat kekurangan yaitu penyebaran bidang yang tidak merata dan menggunakan kalimat dalam subtes RA sehingga jika subjek gagal dalam subtes ini dapat dimungkinkan karena tidak mampu mengerjakan soal hitungannya atau tidak mengerti kalimatnya.  Tes IST 2000 Sebagai koreksi dari IST 70, pada IST 2000 tidak terdapat soal kalimat pada soal hitungan.  Tes IST 2000-Revised Pada IST 2000-R ini terdapat beberapa perkembangan subtes juga penambahan subtes. IST ini terdiri dari 3 modul, yaitu sebagai berikut: 1. Grundmodul-Kurzform (Modul Dasar-Singkatan); terdiri dari subtes : SE, AN, GE, RE, ZR, RZ, FA, WU, dan MA. 2. Modul ME: terdiri dari subtes ME Verbal dan ME Figural 3. Erweiterungmodul (Modul menguji pengetahuan); terdiri dari subtes Wissentest (tes pengetahuan) IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada IST-70. Tes ini pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung, Jawa Barat
  • 3.
    2. Latar BelakangTes IST IST (Intelligenz Structure Test) adalah tes inteligensi yang dikembangkan oleh Rudolf Amthauer pada tahun 1953. Menurut Amthauer intelegensia ditanggapi sebagai struktur tersendiri, di dalam kesleuruhan struktur kepribadian manusia. Intelegensia merupakan suatu keseluruhan struktur yang terdiri dari kemampuan- kemampuan jiwa dan rohani yang berfungsi sedemikian sehingga memberikan kemampuan bagi manusia untuk bertindak. IST terdiri dari 9 sub tes yang maisng- masing tes memiliki cara pengerjaan tersendiri dan dibatasi oleh waktu-watu tertentu. IST ini dapat digunakan untuk tes klasikal maupun individual. Hasil akhir dari IST ini adalah grafik dan angka yang menunjukkan taraf kecerdasan. Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut: “Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.” Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes- subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes.
  • 4.
    3. Subtes-subtes danhal-al yang diukur dalam IST IST terdiri dari sembilan subtes yang keseluruhannya berjumlah 176 aitem. Masing-masing subtes memiliki batas waktu yang berbeda-beda dan diadministrasikan dengan menggunakan manual (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009). Sembilan subtes dalam IST, yaitu:  IST terdiri dari 9 sub test: 1. SE (Satzerganzng) : Melengkapi kalimat 2. WA (Wortausuahl) : mencari kata yang berbeda 3. AN (Analogien) : mencari hubungan kata 4. GE (Gmeinsamkeiten) : mencari kata yang mencakup dua pengertian 5. RA (Rechen Aufgaben): Hitungan sederhana 6. ZR (Zahlen Reihen) : deret angka 7. FA (Form Ausuahl) : Menyusun bentuk 8. WU (Wurfal Aufgaben) : Kubus 9. ME (Merk Aufgaben) : Mengingat kata  Hal-hal yang diukur pada setiap subtes IST 1. SE  Berpikir konkrit praktis  Berpikir logis  Akal sehat (common sense)  Pembentukan keputusan  Pemaknaan realita  Berpikir mandiri 2. WA  Rasa bahasa  Berpikir verbal  Pengertian bahasa  Kemampuan empati (menghayati)  Komponen reseptif 3. AN  Daya mengkombinasikan
  • 5.
     Fleksibilitas/kelincahanberfikir  Menstransferhubungan  Kejelasan dan konsekuen dalam berpikir.  Analisa yang bersifat dugaan  Suatu perkiraan yang paling berarti bagi pengembangan studi ilmiah 4. GE  Daya abstraksi verbal  Pembentukan konsep (Pengertian)  Berfikir logis dalam bentuk bahasa 5. RA  Berpikir praktis dalam masalah hitungan  Berpikir logis objektif  Berfikir matematis.  Mengambil keputusan 6. ZR  Berpikir teoritis dalam berhitung  Berfikir induktif angka  Kelincahan berpikir  Mengenali komponen ritmis 7. FA  Kemampuan membayangkan  Kemampuan mengamati  Berpikir secara utuh menyeluruh.  Mengenali komponen konstruktif 8. WU  Daya bayang ruang  Menganli konstruktif teknis  Berpikir analitis. 9. ME  Atensi  Memori Mengingat kata yang telah dipelajari
  • 6.
    4. Administrasi PelaksanaanTes IST a. Tester membagikan lembar jawaban. Tiap testee diberi datu set. b. Testee diminta, agar mengisi identitas masing-masing pada setiap lembar jawaban (buku tes, tanggal dan kelas). c. Tester membagikan buku tes. Tiap testee diberi satu buku, diletakkan dihadapan testee (terbalik). d. Tester memperhatikan lama waktu yang digunakan pada setiap sub tes. e. Testee membacakan “Petunjuk Umum”. Apabila tidak ada yang bertanya, tester mulai mebaca petunjuk khusus. f. Sekiranya seluruh testee telah siap. Tester mempersilahkan testee membalikkan buku. g. Tester membacakan petunjuk sub tes. Sekiranya ada yang bertanya, tester membacakan kembali petunjuk sub tes pertama tersebut. h. Setelah waktu habis, lembar jawab tes pertama langsung dikumpul. i. Tester mengingatkan testee untuk mengecek kembali identitasnya pada lembar jawaban. Petunjuk Umum: a. Testee tidak diperkenankan membuka buku tes, sebelum ada instruksi dari tester. b. Testee tidak diperkenankan menulis atau mencoret buku tes. c. Jawaban testee dituliskan pada lembar jawaban. d. Pada setiap sub tes akan didahului oleh penjelaan-penjelasan dan perintah- perintah dari tester. Hendaknya testee mendengarkan dan memperhatikan instruksi dari tester karena kesalahan menangkap pesan akan merugikan testee. e. Sub tes mempunyai batas waktu tertentu. Bila testee tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam batas waktu yang telah ditetapkan, hendaknya testee tetap tenang, tidak perlu gelisah dan tetap tenang
  • 7.
    5. Metode skoringtes IST Tahap skoring yang digunakan untuk setiap subtes adalah dengan memeriksa setiap jawaban dengan menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan. Untuk semua subtes (SE, WA, AN, RA, ZR, FA, WU, & ME), kecuali subtes 04-GE, setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk jawaban salah diberi nilai 0. Khusus untuk subtes 04-GE, tersedia nilai 2, 1, dan 0; karena subtes ini berbentuk isian singkat maka nilai yang akan diberikan tergantung dengan jawaban yang diberikan oleh subjek. Total nilai benar yang sesuai dengan kunci jawaban merupakan Raw Score (RW); nilai ini belum dapat diinterpretasi sesuai dengan norma yang digunakan. Nilai RW yang sudah dibandingkan dengan norma disebut dengan Standardized Score (SW). Nilai SW inilah yang dapat menjadi materi untuk tahap selanjutnya, yaitu interpretasi. 6. Interpretasi tes Setelah didapatkan Standardized Score, maka tahap interpretasi dapat dilakukan. Kesembilan subtes saling berkaitan, sehingga harus dilakukan semuanya dan interpretasinya harus dilakukan secara keseluruhan (Amthauer dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009). Interpretasi yang dapat dilakukan dari tes IST adalah sebagai berikut: a. Taraf kecerdasan. Taraf kecerdasan didapat dari total SW. Nilai ini dapat diterjemahkan menjadi Intelligent Quotient (IQ). Nilai ini dapat menggambarkan perkembangan individu melalui pendidikan dan pekerjaan. Nilai ini perlu dihubungkan dengan latar belakang sosial serta dibandingkan dengan kelompok seusianya. b. Dimensi Festigung-Flexibilität. Dimensi Festigung-Flexibilität menggambarkan corak berpikir yang dimiliki oleh subjek. Dimensi Festigung-Flexibilität merupakan dua kutub yang ekstrim, Keduanya menggambarkan corak berpikir yang ekstrim pula. Kutub Festigung
  • 8.
    memiliki arti corakberpikir yang eksak, sedangkan kutub Flexibilität memiliki arti corak berpikir yang non-eksak. Corak berpikir ini merupakan hasil perkembangan (pengalaman) individu yang akan semakin mantap ke salah satu kutub seiring bertambahnya usia. Cara menentukan seseorang subjek apakah memiliki kecenderungan Festigung atau Flexibilitat adalah dengan membandingkan nilai GE+RA dengan nilai AN+ZR. Jika nila GE+RA lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Festigung, sebaliknya jika nilai AN+ZR lebih besar maka subjek memiliki kecenderungan Flexibilitat. c. Profil M-W. Profil M-W menggambarkan cara berpikir, apakah verbal- teoritis atau praktis-konkrit. Untuk mendapatkan profil dalam bentuk huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN, GE) yang tampak pada grafik. Jika grafik menunjukkan bentuk huruf M pada 4 subtes pertama maka profilnya adalah M (verbal-teoritis), jika yang tampak adalah bentuk huruf W maka profilnya adalah W (praktis- konkrit). 7. Angka IST untuk penjurusan  IPA : lihat skor RA, ZR,FA, WU harus lebih tinggi dibandingkan yang lain.  IPS : Lihat skor SE, WA, GE, ME harus lebih tinggi dibandingkan yang lain  Untuk melanjutkan pendidikan setelah SMA, sebaiknya skor AN cukup baik (rata-rata).  Diprediksi berhasil menjalani pebdidikan di jenjang D3 dengan baik jika IQ minimal pada rentang rata-rata (96 - 105).  Diprediksi berhasil menjalani pendidikan di jenjang SI dengan baik jika IQ minimal pada rentang rata-rata atas (106 - 110).  Namun demikian tetap harus mempertimbangkan aspek-aspek psikologis yang lain, seperti motivasi, minat, kegigihan dalam mengatasi hambatan, keinginan untuk belajar dsb.
  • 9.