TAUHID 
Mengesakan Allah semata dalam beribadah dan tidak 
menyekutukan-Nya. Dan hal ini merupakan ajaran semua 
Rasul alaihimusshalatuwassalam 
Disarikan dari Tauhid (Abduloh Haidir )
Tauhid adalah 
• Mengesakan Allah semata dalam beribadah dan 
tidak menyekutukan-Nya. Dan hal ini merupakan 
ajaran semua Rasul alaihimusshalatuwassalam. 
• Bahkan tauhid merupakan pokok yang dibangun 
diatasnya semua ajaran, maka jika pokok ini tidak 
ada, amal perbuatan menjadi tidak bermanfaat 
dan gugur, karena tidak sah sebuah ibadah tanpa 
tauhid.
Tauhid terbagi tiga 
1. Tauhid Rububiyah, 
2. Tauhid Asma’ dan Sifat 
3. Tauhid Uluhiyah.
1. Tauhid Rububiyah 
• Tidak ada Tuhan Penguasa seluruh alam kecuali Allah yang menciptakan mereka 
dan memberinya rizki. 
• Tauhid macam ini juga telah dinyatakan oleh orang2 musyrik pada masa2 pertama 
dahulu. Mereka menyatakan bahwa Allah semata yang Maha Pencipta, Penguasa, 
Pengatur, Yang Menghidupkan,Yang Mematikan, tidak ada sekutu bagi-Nya. 
• “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang 
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu 
mereka akan menjawab: “Allah” maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari 
jalan yang benar)” (Al Ankabut 61) 
• Akan tetapi pernyataan dan persaksian mereka tidak membuat mereka masuk 
Islam dan tidak membebaskan mereka dari api neraka serta tidak melindungi harta 
dan darah mereka, karena mereka tidak mewujudkan tauhid Uluhiyah, bahkan 
mereka berbuat syirik kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya dengan 
memalingkannya kepada selain mereka
2. Tauhid Asma’ dan Sifat 
• Beriman bahwa Allah ta’ala memiliki zat yg tidak 
serupa dg berbagai zat yg ada, serta memiliki sifat yg 
tidak serupa dg berbagai sifat yg ada. Dan bahwa 
nama2-Nya merupakan petunjuk yg jelas akan sifat-Nya 
yg sempurna secara mutlak. 
• “Tidak ada yang meyerupainya sesuatupun, dan Dia 
Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (As Syuro 110)
Keterangan 
• Begitu juga halnya (beriman kepada Asma’ dan Sifat Allah) berarti 
menetapkan apa yg Allah tetapkan untuk diri-Nya dlm Kitab-Nya atau apa 
yg telah ditetapkan oleh Rasul-Nya saw dg penetapan yg layak sesuai 
kebesaran-Nya tanpa ada penyerupaan dg sesuatupun, tidak juga 
memisalkannya dan meniadakannya, tidak merubahnya, tidak 
menafsirkannya dg penafsiran yg lain dan tidak menanyakan bagaimana 
hal-Nya. Kita tidak boleh berusaha baik dg hati kita, perkiraan kita, lisan 
kita untuk ber-tanya2 tentang bagaimana sifat2-Nya dan juga tidak boleh 
menyamakan-Nya dg sifat2 makhluk .
3. Tauhid Uluhiyah 
• Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh 
amalan ibadah yang Allah perintahkan seperti berdoa, khouf (takut), raja’ (harap), 
tawakkal, raghbah (berkeinginan), rahbah (takut), Khusyu’, Khasyah (takut disertai 
pengagungan), taubat, minta pertolongan, menyembelih, nazar dan ibadah yang 
lainnya yang diperintahkan-Nya. 
• “Dan sesungguhnya mesjid2 itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu 
menyembah seseorangpun didalamnya di samping (menyembah) Allah” (Al Jin 18) 
• Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun ibadahnya kepada selain Allah ta’ala, 
tidak kepada malaikat, kepada para Nabi dan tidak juga kepada para wali yang 
sholeh dan tidak kepada siapapun makhluk yang ada. 
• Karena ibadah tidak sah kecuali jika untuk Allah, maka siapa yang memalingkannya 
kepada selain Allah dia telah berbuat syirik yang besar dan semua amalnya gugur.
Keterangan 
• Kesimpulannya adalah seseorang harus berlepas diri dari penghambaan 
(ibadah) kepada selain Allah, menghadapkan hati sepenuhnya hanya 
untuk beribadah kepada Allah. 
• Tidak cukup dalam tauhid sekedar pengakuan dan ucapan syahadat saja 
jika tidak menghindar dari ajaran orang-orang musyrik serta apa yang 
mereka lakukan seperti berdoa kepada selain Allah misalnya kepada orang 
yang telah mati dan semacamnya, atau minta syafaat kepada mereka 
(orang-orang mati) agar Allah menghilangkan kesusahannya dan 
menyingkirkannya, dan minta pertolongan kepada mereka atau yang 
lainnya yang merupakan perbuatan syirik. 
• hakikatnya adalah mengarahkan ruhani dan hati kepada Allah baik dalam 
hal mencintai, takut (khouf), taubat, tawakkal, berdoa, ikhlas, 
mengagunggkan-Nya, membesarkan-Nya dan beribadah kepada-Nya
Dasar-dasar Memahami Tauhid 
Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi 
Ibrahim 'alaihis salam adalahberibadah kepada Allah 
secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. 
Allahberfirman [artinya]: "Dan Aku tidak menciptakan 
jin dan manusia melainkan supayamereka beribadah 
kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)
disebut ibadah kecuali bila disertai dg 
tauhid 
• Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai 
dengan bersuci. 
• Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, 
sebagaimana rusaknya shalat biladisertai adanya hadatz (tidak 
suci). Allah berfirman :" Tidaklah pantas orang2 musyrik itu 
memakmurkan mesjid2 Allah, sedang mereka mengakui bahwa 
mereka sendiri kafir. Itulah orang2 yg sia2 pekerjaannya, dan 
mereka itu kekal di dlm neraka" (At-Taubah: 17) 
• Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur 
dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah 
yang bercampur dengan syirik itu akanmenggugurkan amal 
sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman 
• "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia 
mengampunisegala dosa yg selain dari (syirik) itu, bagi siapa yg 
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yg mempersekutukan Allah, maka 
sungguh ia telah berbuat dosa yg besar." (An-Nisaa': 48)
Kemurnian ibadah memahami 4 kaidah 
• Kaidah Pertama 
• Engkau harus mengetahui bahwa orang2 kafir yg diperangi 
oleh Rasulullah SAW mereka meyakini bahwa Allah sebagai 
Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang 
mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi 
madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). 
Tetapi semuanya itu tidakmenyebabkan mereka sebagai 
muslim, Allah berfirman: 
• "Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit 
dan bumi, atau siapa yang kuasa[menciptakan] pendengaran 
dan penglihatan, dan siapa yg mengeluarkan yang mati dari 
yg hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka 
mereka akan menjawab:'Allah'. Makakatakanlah:'Mengapa 
kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)
Kemurnian ibadah memahami kaidah Kedua 
• Mereka (musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada 
mereka (Nabi, orang-2 shalih dll) kecuali agar bisa 
mendekatkan kpd Allah dan mereka nantinya akan memberi 
syafa'at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. 
• Namun hal tersebut dilakukan dg cara melalui syafaat dan 
mendekatkan diri kepada mereka".Dalil tentang 
mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang2 yg 
mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak 
menyembah mereka melainkan supaya mereka 
mendekatkan kami kepada Allah dg sedekat2 nya". 
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka 
tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya 
Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan 
sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)
Kemurnian ibadah memahami kaidah Kedua 
• Adapun dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah 
[artinya]:"Dan mereka menyembah selainAllah apa 
yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan 
kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan 
mereka berkata:"Mereka itu adalah pemberi syafa'at 
kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu 
mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui- 
Nya dilangit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah 
dan Maha Tinggi dari apa yang mereka 
mempersekutukan [itu]." (Yuunus: 18)
Kemurnian ibadah 
• Syafa'at itu ada 2 macam: 
• • Syafa'at munfiyah (yang ditolak) 
• • Syafa'at mutsbitah (yang diterima) 
• Syafa'at munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab 
tidak seorangpunyang berkuasa dan berhak untuk memberikannya 
kecuali Allah, Allah berfirman]:"Hai orang2 yg beriman, belanjakanlah 
[di jalan Allah] sebagian dari rezki yg telah Kami berikan kepadamu 
sebelum datang hari yg pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak 
ada lagi persahabatan yg akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang2 
kafir itulah orang2 yg zalim. (Al-Baqarah: 254) 
• Adapun syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yg dicari dari Allah. Pemberi 
syafa'at itu dimuliakan dg syafa'at, sedangkan yg diberi hak untuk 
memberikan syafa'at adalah orang yg diridhai Allah, baik ucapan 
maupun perbuatannya setelah memperoleh izinNya
Kemurnian ibadah kaidah Ketiga 
• Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan 
kapada manusia tentang macam2 sistem peribadatan yg dilakukan 
oleh manusia. Diantara mereka adayang menyembah matahari dan 
bulan, diantara mereka ada pula yg menyembah orang2 shaleh, para 
malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.Mereka semua 
diperangi oleh Rasulullah saw dalilnya adalah firmanAllah 
[artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan 
dien ini menjadi milik Allah semuanya."(Al-Baqarah:193) 
• Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan 
adalah firman Allah "Dan sebagian dari tanda2 kekuasaan-Nya ialah 
malam, siang, matahari dan bulan.Janganlah bersujud kepada 
matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah 
kepada Allah Yg menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja 
menyembah."(Fushilat:37)
Kemurnian ibadah kaidah Ketiga 
• Dan dalil larangan beribadah kepada orang2 shaleh adalah: 
"Katakanlah:'Panggillah mereka yg kamu anggap selain Allah, maka mereka 
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya 
daripadamu dan tidak pula memindahkannya'. 
• Orang2 yg mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kpd Rabb mereka 
siapa di antara mereka yg lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan 
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah 
sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57) Adapun dalil tentang 
larangan beribadah kpd para malaikat adalah: "Dan [ingatlah] hari [yang di 
waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah 
berfirman kepada malaikat:"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" 
Malaikat2 itu menjawab:"Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, 
bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka 
beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa 
[untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kpd 
sebahagian yg lain.Dan Kami katakan kepada orang2 yg zalim:"Rasakanlah 
olehmu azab neraka yg dahulunya kamu dustakan itu". (Sabaa': 40-42)
Kemurnian ibadah kaidah Ketiga 
• Larangan beribadah kpd para Nabi :"Dan [ingatlah] ketika Allah 
berfirman"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kpd 
manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 
• 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa 
yg bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakan nya maka 
tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak 
mengetahui apa yg ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha 
Mengetahui perkara yg ghaib2"Aku tidak pernah mengatakan kpd mereka 
kecuali apa yg Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya 
yaitu:"Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi 
saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, 
Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan 
atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya 
adalah hamba2 Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, 
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al- 
Maidah:116-118)
Kemurnian ibadah kaidah keempat 
• Orang2 musyrik pada masa kita justru lebih parah kesyirikannya 
daripada orang2 musyrik zaman dahulu. Sebab orang2terdahulu 
hanya berbuat syirik di kala lapang dan beribadah (berdoa) dg ikhlas 
di kala sempit. Adapun orang2 musyrik di masa kita melakukan 
syirik secara terus menerus, baik ketika lapang ataupun ketika 
terjepit. 
• Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang 
artinya), “Apabila mereka sudah naik di atas kapal (dan diterpa 
ombak yang hebat, pen) maka mereka pun menyeru (berdoa) 
kepada Allah dengan penuh ikhlas mempersembahkan amalnya. 
Namun setelah Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba 
mereka kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 65)
Kesimpulannya tidak ada dalam hati seorang hamba sesuatupun 
selain Allah, dan tidak ada keinginan terhadap apa yang Allah 
tidak inginkan dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah, maksiat 
yang besar maupun kecil, dan tidak ada kebencian terhadap apa 
yang Allah perintahkan. 
Itulah hakikat tauhid dan hakikat Laa Ilaaha Illallah.

Tauhid maknanya

  • 1.
    TAUHID Mengesakan Allahsemata dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan hal ini merupakan ajaran semua Rasul alaihimusshalatuwassalam Disarikan dari Tauhid (Abduloh Haidir )
  • 2.
    Tauhid adalah •Mengesakan Allah semata dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan hal ini merupakan ajaran semua Rasul alaihimusshalatuwassalam. • Bahkan tauhid merupakan pokok yang dibangun diatasnya semua ajaran, maka jika pokok ini tidak ada, amal perbuatan menjadi tidak bermanfaat dan gugur, karena tidak sah sebuah ibadah tanpa tauhid.
  • 3.
    Tauhid terbagi tiga 1. Tauhid Rububiyah, 2. Tauhid Asma’ dan Sifat 3. Tauhid Uluhiyah.
  • 4.
    1. Tauhid Rububiyah • Tidak ada Tuhan Penguasa seluruh alam kecuali Allah yang menciptakan mereka dan memberinya rizki. • Tauhid macam ini juga telah dinyatakan oleh orang2 musyrik pada masa2 pertama dahulu. Mereka menyatakan bahwa Allah semata yang Maha Pencipta, Penguasa, Pengatur, Yang Menghidupkan,Yang Mematikan, tidak ada sekutu bagi-Nya. • “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah” maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” (Al Ankabut 61) • Akan tetapi pernyataan dan persaksian mereka tidak membuat mereka masuk Islam dan tidak membebaskan mereka dari api neraka serta tidak melindungi harta dan darah mereka, karena mereka tidak mewujudkan tauhid Uluhiyah, bahkan mereka berbuat syirik kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya dengan memalingkannya kepada selain mereka
  • 5.
    2. Tauhid Asma’dan Sifat • Beriman bahwa Allah ta’ala memiliki zat yg tidak serupa dg berbagai zat yg ada, serta memiliki sifat yg tidak serupa dg berbagai sifat yg ada. Dan bahwa nama2-Nya merupakan petunjuk yg jelas akan sifat-Nya yg sempurna secara mutlak. • “Tidak ada yang meyerupainya sesuatupun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (As Syuro 110)
  • 6.
    Keterangan • Begitujuga halnya (beriman kepada Asma’ dan Sifat Allah) berarti menetapkan apa yg Allah tetapkan untuk diri-Nya dlm Kitab-Nya atau apa yg telah ditetapkan oleh Rasul-Nya saw dg penetapan yg layak sesuai kebesaran-Nya tanpa ada penyerupaan dg sesuatupun, tidak juga memisalkannya dan meniadakannya, tidak merubahnya, tidak menafsirkannya dg penafsiran yg lain dan tidak menanyakan bagaimana hal-Nya. Kita tidak boleh berusaha baik dg hati kita, perkiraan kita, lisan kita untuk ber-tanya2 tentang bagaimana sifat2-Nya dan juga tidak boleh menyamakan-Nya dg sifat2 makhluk .
  • 7.
    3. Tauhid Uluhiyah • Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh amalan ibadah yang Allah perintahkan seperti berdoa, khouf (takut), raja’ (harap), tawakkal, raghbah (berkeinginan), rahbah (takut), Khusyu’, Khasyah (takut disertai pengagungan), taubat, minta pertolongan, menyembelih, nazar dan ibadah yang lainnya yang diperintahkan-Nya. • “Dan sesungguhnya mesjid2 itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun didalamnya di samping (menyembah) Allah” (Al Jin 18) • Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun ibadahnya kepada selain Allah ta’ala, tidak kepada malaikat, kepada para Nabi dan tidak juga kepada para wali yang sholeh dan tidak kepada siapapun makhluk yang ada. • Karena ibadah tidak sah kecuali jika untuk Allah, maka siapa yang memalingkannya kepada selain Allah dia telah berbuat syirik yang besar dan semua amalnya gugur.
  • 8.
    Keterangan • Kesimpulannyaadalah seseorang harus berlepas diri dari penghambaan (ibadah) kepada selain Allah, menghadapkan hati sepenuhnya hanya untuk beribadah kepada Allah. • Tidak cukup dalam tauhid sekedar pengakuan dan ucapan syahadat saja jika tidak menghindar dari ajaran orang-orang musyrik serta apa yang mereka lakukan seperti berdoa kepada selain Allah misalnya kepada orang yang telah mati dan semacamnya, atau minta syafaat kepada mereka (orang-orang mati) agar Allah menghilangkan kesusahannya dan menyingkirkannya, dan minta pertolongan kepada mereka atau yang lainnya yang merupakan perbuatan syirik. • hakikatnya adalah mengarahkan ruhani dan hati kepada Allah baik dalam hal mencintai, takut (khouf), taubat, tawakkal, berdoa, ikhlas, mengagunggkan-Nya, membesarkan-Nya dan beribadah kepada-Nya
  • 9.
    Dasar-dasar Memahami Tauhid Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalahberibadah kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allahberfirman [artinya]: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supayamereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)
  • 10.
    disebut ibadah kecualibila disertai dg tauhid • Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci. • Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat biladisertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman :" Tidaklah pantas orang2 musyrik itu memakmurkan mesjid2 Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang2 yg sia2 pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dlm neraka" (At-Taubah: 17) • Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akanmenggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman • "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampunisegala dosa yg selain dari (syirik) itu, bagi siapa yg dikehendaki-Nya. Barangsiapa yg mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yg besar." (An-Nisaa': 48)
  • 11.
    Kemurnian ibadah memahami4 kaidah • Kaidah Pertama • Engkau harus mengetahui bahwa orang2 kafir yg diperangi oleh Rasulullah SAW mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidakmenyebabkan mereka sebagai muslim, Allah berfirman: • "Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa[menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yg mengeluarkan yang mati dari yg hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Allah'. Makakatakanlah:'Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)
  • 12.
    Kemurnian ibadah memahamikaidah Kedua • Mereka (musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada mereka (Nabi, orang-2 shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kpd Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. • Namun hal tersebut dilakukan dg cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka".Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang2 yg mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dg sedekat2 nya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)
  • 13.
    Kemurnian ibadah memahamikaidah Kedua • Adapun dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah [artinya]:"Dan mereka menyembah selainAllah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka berkata:"Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui- Nya dilangit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]." (Yuunus: 18)
  • 14.
    Kemurnian ibadah •Syafa'at itu ada 2 macam: • • Syafa'at munfiyah (yang ditolak) • • Syafa'at mutsbitah (yang diterima) • Syafa'at munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpunyang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman]:"Hai orang2 yg beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yg telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yg pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yg akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang2 kafir itulah orang2 yg zalim. (Al-Baqarah: 254) • Adapun syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yg dicari dari Allah. Pemberi syafa'at itu dimuliakan dg syafa'at, sedangkan yg diberi hak untuk memberikan syafa'at adalah orang yg diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izinNya
  • 15.
    Kemurnian ibadah kaidahKetiga • Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam2 sistem peribadatan yg dilakukan oleh manusia. Diantara mereka adayang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yg menyembah orang2 shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.Mereka semua diperangi oleh Rasulullah saw dalilnya adalah firmanAllah [artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya."(Al-Baqarah:193) • Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah "Dan sebagian dari tanda2 kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yg menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah."(Fushilat:37)
  • 16.
    Kemurnian ibadah kaidahKetiga • Dan dalil larangan beribadah kepada orang2 shaleh adalah: "Katakanlah:'Panggillah mereka yg kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya'. • Orang2 yg mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kpd Rabb mereka siapa di antara mereka yg lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57) Adapun dalil tentang larangan beribadah kpd para malaikat adalah: "Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat2 itu menjawab:"Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kpd sebahagian yg lain.Dan Kami katakan kepada orang2 yg zalim:"Rasakanlah olehmu azab neraka yg dahulunya kamu dustakan itu". (Sabaa': 40-42)
  • 17.
    Kemurnian ibadah kaidahKetiga • Larangan beribadah kpd para Nabi :"Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kpd manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". • 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yg bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakan nya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yg ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yg ghaib2"Aku tidak pernah mengatakan kpd mereka kecuali apa yg Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya yaitu:"Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba2 Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al- Maidah:116-118)
  • 18.
    Kemurnian ibadah kaidahkeempat • Orang2 musyrik pada masa kita justru lebih parah kesyirikannya daripada orang2 musyrik zaman dahulu. Sebab orang2terdahulu hanya berbuat syirik di kala lapang dan beribadah (berdoa) dg ikhlas di kala sempit. Adapun orang2 musyrik di masa kita melakukan syirik secara terus menerus, baik ketika lapang ataupun ketika terjepit. • Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apabila mereka sudah naik di atas kapal (dan diterpa ombak yang hebat, pen) maka mereka pun menyeru (berdoa) kepada Allah dengan penuh ikhlas mempersembahkan amalnya. Namun setelah Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 65)
  • 19.
    Kesimpulannya tidak adadalam hati seorang hamba sesuatupun selain Allah, dan tidak ada keinginan terhadap apa yang Allah tidak inginkan dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah, maksiat yang besar maupun kecil, dan tidak ada kebencian terhadap apa yang Allah perintahkan. Itulah hakikat tauhid dan hakikat Laa Ilaaha Illallah.