1
2
STRATEGI
PEMBELAJARN
Disusun Oleh:
Nurmasari (1411060361)
Nurul Wahidah (1411060364)
Meyshi Dwi Astute (1411060337)
Merlis Susanti (1411060342)
Oktaviana (1411060365)
Sunandar Alam.M (1411060329)
3
STRATEGI
PEMBELAJARAN
Penulis:Biologi F Kel.2.Sem VI
FAKULTAS TARBIYAH DAN
KEGURUAN UIN RADEN INTAN
LAMPUNG
2017
STRATEGI PEMBELAJARAN
4
UIN RADEN INTAN LAMPUNG
Dosen pengampu:
Laila Puspita, M.Pd
Penulis:
Biologi F Sem VI.Kel 2(nurma,nurul w,merlis, meishi, okta,dan sunandar)
Desain Cover:
Nurmasari
Konsep Desain:
Nurmasari
Copyright @ 2017
5
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan
karunia,taufik dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan buku yang berjusul
“strategi pendidikan.”
Dalam penyusunan Buku ini ditulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Laila
Puspita M,Pd. Selaku dosen pengampu strategi pembelajaran.dan penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara
materi maupun moril dalam pembuatan buku ini. Buku ini kami susun untuk
memenuhi tugas UAS strategi pembelajaran.
Di dalam buku ini terdapat beberapa strategi yang dapat melibatkan siswa
atau mahasiswa dalam proses pembelajaran. Buku ini dapat dijadikan pegangan
oleh dosen, guru atau siapa saja yang bergerak dalam bidang pembelajaran.
Harapan penulis, mudah-mudahan buku ini dapat memberikan bimbingan
sesuai dengan tugas yang diemban oleh guru, yakni mengajar dan mendidik.
Keterbatasan yang ada pada diri penulis menyebabkan kurang sempurnanya buku
ini. Oleh karena itu, demi penyempurnaannya penulis selalu mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk kedepannya. Dan semoga bermanfaat
untuk pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb
Penulis
6
Strategi
pembelajaran
aftar isi
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KONSEP DAN HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Pengertian strategi pembelajaran 1
B. Istilah strategi pembelajaran 8
C. Sasaran kegiatan pembelajaran 11
D. Tahapan kegiatan pembelajaran 19
BAB II KLASIFIKASI DAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Klasifikasi strategi pembelajaran 20
B. Strategi pembelajaran langsung 25
C. Strategi pembelajaran tidak langsung 29
D. Strategi pembelajaran interaktif 31
E. Strategi pembelajaran empiric 36
F. Strategi pembelajaran mandiri 36
G. Pemilihan strategi pembelajaran 45
BAB III STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A. Pengertian pembelajaran kooperatif 46
B. Tujuan dan manfaat model pembelajaran kooperatif 47
C. Cirri-ciri pembelajaran kooperatif 49
7
D. Keunggulan dan pembelajaran kooperatif 52
E. Metode pembelajaran kooperatif 56
BAB IV PEMBELAJARAN TEMATIK (Aktualisasi Model Pembelajaran
Terpadu)
A. Konsep pembelajaran terpadu 61
B. Tahapan perencanaanpembelajaran terpadu model webbed 63
C. Contoh persiapan pembelajaran terpadu (tematik) 66
BAB V TEKNIK DAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
A. Pengertian dan keterampilan dasar mengajar 70
B. Keterampilan dasar mengajar 72
DAFTAR PUSTAKA
8
BAB I
Konsep dan Hakikat Strategi Pembelajaran
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or
series of activities designed to achieves a particular education goal. Jadi strategi
pembelajaran sebagai sebuah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan
yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Adapun definisi
strategipembelajaran secara umum adalah suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan
dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum
kegiatan guru dan anakdidik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.
Berikut pengertian pembelajaran menurut para ahli :
1. Sanjaya, Wina (2007) pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam
perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Sifat pola umum maksudnya macam
dan urutan perbuatan yang dimaksud nampak dipergunakan dan/atau
dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam peristiwa
belajar. Sehingga strategi menunjuk kepada karakteristik abstrak rentetan
perbuatan guru-peserta didik di dalam peristiwa belajar-mengajar.
2. Gerlach dan Ely (1990): Strategi merupakan cara-cara yang dipilih untuk
menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran
tertentu. Selanjutnya mereka menjabarkan bahwa strategi pembelajaran
dimaksudkan meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang
dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
3. Gropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998): Strategi pembelajaran
merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Mereka menegaskan bahwa setiap
9
tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan
belajarnya harus dapat dipraktekkan.
4. Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya, 2007): Strategi Pembelajaran terdiri
atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan
kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta
didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran bukan
hanya sebatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan
termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan
disampaikan kepada peserta didik.
5. Sadiman, dkk (1986) dalam bukunya Warsita (2008: 266): Strategi
pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi
sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.
6. Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1995): Strategi pembelajaran adalah sebagai
pola-pola umum kegiatan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.1
Dari berbagai pendpat yang diungkapkan oleh para ahli dapat diambil
garis besarnya bahwa strategi pembelajaran adalah suatu rencana tindakan
(rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaat
berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa dalam
penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja
belum sampai pada tindakan.
B. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
Menurut Sanjaya (2007 : 177 – 286) ada beberapa strategi pembelajaran
yang harus dilakukan oleh seorang guru:
1. Strategi pembelajaran ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru.
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajran
1 Ngalimun, dkk, Strategi dan Model Pembelajaran, Yogyakarta: Aswaja Pressindo,
2015, Hal 32-35
10
yang berorientasi kepada guru, dikatakan demikian sebab dalam strategi ini guru
memegang peranan yang sangat penting atau dominan.
a) keunggulan
 Keunggulan strategi pembelajaran ekspositori, dengan strategi
pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi
pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa
menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
 Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi
pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang
dimiliki untuk belajar terbatas.
 Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar
melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus
siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
 Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk
jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi ekspositori ini
dilakukan melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian
materi tanpa tujuan pembelajaran. Karena itu sebelum strategi ini diterapkan
terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan
terukur. Hal ini sangat penting untuk dipaham, karena tujuan yang spesifik
memungkinkan untuk bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi
pembelajaran.
b) kelemahan
 Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa
yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik, untuk
siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi
yang lain.
 Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik
perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan
gaya belajar.
11
 Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit
mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi,
hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
 Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada
apa yang dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri,
semangat, antusiasme, motivasi dan berbagai kemampuan seperti
kemampuan bertutur (berkomunikasi) dan kemampuan mengelola kelas,
tanpa itu sudah pasti proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa secara umum tidak ada satu strategi
pembelajaran yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan strategi
pembelajaran yang lain, baik tidaknya suatu strategi pembelajaran isa dilihat
dari efektif tidaknya strategi tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditentukan.
2. Strategi pembelajaran inquiry
Pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristik, yang berasal
dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”.
Strategi pembelajaran inquiry merupakan bentuk dari pendekatan
pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa keunggulan dan
kelemahan dari strategi pembelajaran inquiry, yaitu:
a) Keunggulan / Kelebihan Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry)
 Strategi pembelajara inquiry merupakan strategi pembelajaran yang
menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini
dianggap lebih bermakna.
 Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
12
 Strategi pembelajaran inquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai
dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
 Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki
kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan
belajar baik tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
b) Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry)
 Jika strategi pembelajaran inquiry sebagai strategi pembelajaran, maka
akan sulit terkontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
 Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentuk
dengan kebiasaan siswa dalam beljar.
 Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu
yang telah ditentukan.
 Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inquiry akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inquiry ini
menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak
diberikan secara langsung, peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan
menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai
fasilitator dan membimbing siswa untuk belajar.
3. Strategi pembelajaran berbasis masalah
Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang
dihadapi secara ilmiah. Di dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ini
terdapat 3 ciri utama;
Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian
aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan siswa
hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran,
akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
13
Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.
Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci
dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses
pembelajaran.
Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah
proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara
sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui
tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah
didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
a) Keunggulan
 Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
 Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta
memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
 Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
 Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentrasfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
 Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang
mereka lakukan.
 Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai
siswa.
 Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk
berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
 Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
 Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus
menerus belajar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis
masalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus
14
dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya
kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.
Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa, pada tahapan ini adalah siswa
dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai
fenomena yang ada.
b) Kelemahan
 Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba.
 Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
 Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka
ingin pelajari.
4. Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan
strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa.
Dalam pembelajaran ini materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa,
akan tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus
dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan
pengalaman siswa.
Dari pengertian di atas terdapat beberapa hal yang terkandung di dalam
strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir. Pertama, strategi
pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan
kemampuan berpikir, artinya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran
adalah bukan sekedar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan
tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide
melalui kemampuan berbahasa secara verbal
Kedua, telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan
dasar pengembangan kemampuan berpikir, artinya pengembangan gagasan dan
ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari
dan berdasarkan kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan
15
mereka terhadap berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan
sehari-hari.
Ketiga, sasaran akhir strategi pembelajaran peningkatan kemampuan
berpikir adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial
sesuai dengan taraf perkembangan anak.
5. Strategi Pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam
strategi pembelajaran kooperatif yaitu:
a) Adanya peserta dalam kelompok,
b) Adanya aturan kelompok,
c) Adanya upaya belajar setiap kelompok, dan
d) Adanya tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam
orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras,
atau suku yang berbeda (heterogen), sistem penilaian dilakukan terhadap
kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika
kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.2
C. Istilah Terkait Dengan Strategi Pembelajaran
Dalam konteks pembelajaran, ada beberapa istilah yang terkait dengan
strategi pembelajaran. istilah tersebut meliputi pendekatan pembelajaran, metode
pembelajaran, teknik pebelajaran, dan taktik pembelajaran. Kelima hal tersebut
memiliki peranan penting demi tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.
1. Pendekatan pembelajaran.
2 Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah).
Bandung: FPTK-IKIP Bandung, 1999. Hal 134
16
Pendekatan dalam pembelajaran diartikan sebagai cara pandang
kita terhadap proses pembelajaran yang mengacu pada pandangan kita
tentang suatu yang bersifat umum. Pendekatan dalam pembelajaran ini
dibagi menjadi dua yakni: a). Pendekatan yang berorientasi atau berpusat
pada siswa (student centered approach) dan b). Pendekatan yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Kedua
pendekatan dalam pembelajaran ini bisa menjadi cikal bakal munculnya
model pembelajaran yang nantinya akan digunakan oleh seorang pendidk.
Pendekatan yang berorientasi atau berpussat pada siswa akan melahirkan
model pembelajaran discoveri (discovery learning), model pembelajaran
inkuiri (inquiry based learning), model pembelajaran kooperatif
(cooperative learning). Sedangkan pendektan yang berorientasi atau
berpusat pada guru akan melahirkan model pengajaran langsung (direct
instruction) dan model deduktif dan ekspositori (deductive approach).
2. Metode Pembelajaran.
Dalam arti sempit, strategi pembelajaran sama dengan metode
pembelajaran yaitu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Metode
adalah segala upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan pembelajaran yang diinginkan
dapat tercapai secara optimal. metode ini berhubungan erat dengan strategi
pembelajaran. Jika strategi itu dapat dinyatakan dalam bentuk
perencanaan, maka metode itu adalah bagaimana seorang guru
melaksanakan strategi pembelajaran atau melaksanakan rencana-rencana
yang disusun dalam strategi pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, suatu
strategi pembelajaran dapat dilaksanakan denan berbagai metode
pembelajaran.
3. Teknik Pembelajaran.
Teknik dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai cara khas yang
dilakukan oleh seorang pendidik dalam rangka mengimplementasikan
metode pembelajaran. Teknik yang bisa dilakukan oleh seorang pendidik,
17
misalnya menggabungkan metode ceramah dengan metode diskusi dalam
pembelajaran, atau mungkin mengkombinasikan metode belajar inquiri
dengan metode tanya jawab.
4. Taktik Pembelajaran.
Taktik dalam pembelajaran diartikan sebagai gaya seorang
pendidik dalam melaksanakan teknik atau metode tertentu dalam proses
pembelajaran. Taktik lebih bersifat khas individual. Setiap guru memiliki
cara khas yang berbeda satu dengan lainnya dalam melakukan taktik
pembelajaran. Misalnya dua orang pendidik yang sama-sama
menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama tetapi
teknik dan taktik yang diterapkannya tidak mungkin sama persis.
perbedaannya bisa terlihat pada teknik memanfaatkan alat bantu dan taktik
menggunakan ilustrasi ataupun gaya bahasa pengantar yag dipakai agar
materi ceramahnya menjadi menarik dan mudah dipahami.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya
dapat divisualisasikan sebagai berikut:
18
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga
istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan
pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain
pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem
lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika
dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai
kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah
gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan
kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan
cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang
diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria
penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah
ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya
secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki
keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model
pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di
Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka
pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian
(penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan
sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat
memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses
(beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka
pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan
model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat
kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model
pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya
khazanah model pembelajaran yang telah ada.
19
D. Sasaran Strategi Pembelajaran
Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan
itu bertahap dan berjenjang, mulai dari yang sangat operasioanal dan konkret takni
tujuan pembelajaran khusus, tujuan pembelajaran umum, tujuan kurikuler dan
tujuan nasioanl sampai pada tujuan yang bersifat universal. Persepsi guru atau
persepsi anak didik mengenal sasaran akhir kegiatan belajar mengajar akan
memengaruhi persepsi mereka terhadap “sasaran antara” dan sasaran kegiatan”.
Sasaran itu harus diterjemahkan ke dalam cirri-ciri perilaku kepribadian yang
didambakan.
Belajar mengajar sebagai suatu system instruksional mengacu kepada
pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain
untuk menvapai tujuan. Sebagai suatu system, belajar mengajar meliputi sejumlah
komponen, antara lain tujuan pelajaran : bahan ajar, siswa yang menerima
pelayanan belajar; guru; metode dan pendekatan;situasi; dan evaluasi kemajuan
belajar. Agar tujuan itu dapat tercapai, semua komponen yang ada harus
diorganisasikan dengan baik sehingga diantara komponen itu terjadi kerja sama.
Secara khusus, dalam proses belajar engajar guru berperan sebagai
pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan
lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak
didik seperti :
a. Kecerdasan dari bakat khusus
b. Prestasi sejak permulaan sekolah
c. Perkembangan jasamani dan kesehatan
d. Kecenderungan emosi dan karakternya
e. Sikap dan minat belajar
f. Cita-cita
g. Kebiasaan belajar dan bekerja
h. Hobi dan pengunaan waktu senggang
i. Hubungan social disekolah dan dirumah
j. Latar belakang keluarga
k. Lingkungan tempat tinggal
l. Sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik
20
Usaha untuk memahami anak didik ini bias dilakukan melalui evaluasi,
selain itu guru mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar
para siswa kepada kepala sekolah, orang tua , serta instansi yang terkait.
E. Tahapan Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau
tahapan. Fase-fase proses pembelajaran yang dimaksud meliputi: tahap
perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Adapun dari ketiganya ini
akan dibahas sebagaimana berikut:
a) Tahap Perencanaan.
Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang
matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang optimal
dalam pembelajaran.
Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan
perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka
tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih
utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan
mudah dan tepat sasaran. Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran,
yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai
subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun
berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode yang akan di
gunakan.3
Dalam konteks desentralisasi pendidikan seiring perwujudan
pemerataan hasil pendidikan yang bermutu, diperlukan standar kompetensi
mata pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks lokal,
nasional dan global.Secara umum guru itu harus memenuhi dua kategori,
3 Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit,Hlm.91.
21
yaitu memiliki capability dan loyality, yakni guru itu harus memiliki
kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan
teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi
sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-
tugas keguruan yang tidak semata di dalam kelas, tapi sebelum dan sesudah
kelas.4
Agama islam sebagai bidang studi, sebenarnya dapat diajarkan
sebagaimana mata pelajaran lainnya. Harus dikatakan memang ada sedikit
perbedaannya dengan bidang studi lain. Perbedaan itu ialah adanya bagian-
bagian yang amat sulit diajarkan dan amat sulit dievaluasi. Jadi, perbedaan itu
hanyalah perbedaan gradual, bukan perbedaan esensial.
Beberapa prinsip yang perlu diterapkan diterapkan dalam membuat persiapan
mengajar :
1. Memahami tujuan pendidikan.
2. Menguasai bahan ajar.
3. Memahami teori-teori pendidikan selain teori pengajaran.
4. Memahami prinsip-prinsip mengajar.
5. Memahami metode-metode mengajar.
6. Memahami teori-teori belajar.
7. Memahami beberapa model pengajaran yang penting.
8. Memahami prinsip-prinsi evaluasi.
9. Memahami langkah-langkah membuat lesson plan.
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut :
1. Analisis Hari Efektif dan analisis Program Pembelajaran
4 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2004, hlm. 112.
22
Untuk mengawali kegiatan penyusunan program pembelajaran, guru perlu
membuat analisis hari efektif selama satu semester. Dari hasil analisis hari
efektif akan diketahui jumlah hari efektif dan hari libur tiap pekan atau tiap
bulan sehingga memudahkan penyususnan program pembelajaran selama satu
semester. Dasar pembuatan analisis hari efektif adalah kalender pendidikan
dan kalender umum. Berdasarkan analisis hari efektif tersebut dapat disusun
analisis program pembelajaran.
a) Membuat Program Tahunan, Program Semester dan Program Tagihan
Program Tahunan. Penyusunan program pembelajaran selama tahun
pelajaran dimaksudkan agar keutuhan dan kesinambungan program
pembelajaran atau topik pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam dua
semester tetap terjaga.
Program Semester. Penyusunan program semester didasarkan pada hasil
anlisis hari efektif dan program pembelajaran tahunan.
Program Tagihan. Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, tagihan
merupakan tuntutan kegiatan yang harus dilakukan atau ditampilkan siswa.
Jenis tagihan dapat berbentuk ujian lisan, tulis, dan penampilan yang berupa
kuis, tes lisan, tugas individu, tugas kelompok, unjuk kerja, praktek,
penampilan, atau porto folio.
2. Menyusun Silabus
Silabus diartikan sebagai garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-
pokok isi atau materi pelajaran. Silabus merupakan penjabaran dari standard
kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta
uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai standard
kompetensi dan kompetensi dasar.
3. Menyusun Rencana Pembelajaran
23
Kalau penyusunan silabus bisa dilakukan oleh tim guru atau tim ahli mata
pelajaran, maka rencana pembelajaran seyogyanya disusun oleh guru
sebeleum melakukan kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran bersifat
khusus dan kondisional, dimana setiap sekolah tidak sama kondisi siswa dan
sarana prasarana sumber belajarnya. Karena itu, penyusunan rencana
pembelajaran didasarkan pada silabus dan kondisi pembelajaran agar kegiatan
pembelajaran dapat berlangsung sesuai harapan.
4. Penilaian Pembelajaran
Penilaian merupakan tindakan atau proses untuk menentukan nilai
terhadap sesuatu. Penilaian merupakan proses yang harus dilakukan oleh guru
dalam rangkaian kegiatan pembelajaran. Prinsip penilaian antara lain Valid,
mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka,
berkesinambungan, menyeluruh, bermakna.
b) Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap penerapan atas
desain perencanaan yang telah dibuat guru. Hakikat dari tahap pelaksanaan
adalah kegiatan operasional pembelajaran itu sendiri. Dalam tahap ini, guru
melakukan interaksi belajar-mengajar melalui penerapan berbagai strategi
metode dan tekhnik pembelajaran, serta pemanfaatan seperangkat media.5
Dalam proses ini, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh
seorang guru, diantaranya ialah:
1. Aspek pendekatan dalam pembelajaran
Pendekatan pembelajaran terbentuk oleh konsepsi, wawasan teoritik
dan asumsi-asumsi teoritik yang dikuasai guru tentang hakikat pembelajaran.
Mengingat pendekatan pembelajaran bertumpu pada aspek-aspek dari masing-
masing komponen pembelajaran, maka dalam setiap pembelajaran, akan
5 Dermawan, Hendro, dkk. 2011. Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Gramedia. Hlm 10
24
tercakup penggunaan sejumlah pendekatan secara serempak. Oleh karena itu,
pendekatan-pendekatan dalam setiap satuan pembelajaran akan bersifat multi
pendekatan.
2. Aspek Strategi dan Taktik dalam Pembelajaran
Pembelajaran sebagai proses, aktualisasinya mengimplisitkan adanya
strategi. Strategi berkaitan dengan perwujudan proses pembelajaran itu
sendiri. Strategi pembelajaran berwujud sejumlah tindakan pembelajaran
yang dilakukan guru yang dinilai strategis untuk mengaktualisasikan proses
pembelajaran.
Terkait dengan pelaksanaan strategi adalah taktik pembelajaran. Taktik
pembelajaran berhubungan dengan tindakan teknis untuk menjalankan
strategi. Untuk melaksanakan strategi diperlukan kiat-kiat teknis, agar nilai
strategis setiap aktivitas yang dilkukan guru-murid di kelas dapat terealisasi.
Kiat-kiat teknis tertentu terbentuk dalam tindakan prosedural. Kiat teknis
prosedural dari setiap aktivitas guru-murid di kelas tersebut dinamakan taktik
pembelajaran. Dengan perkataan lain, taktik pembelajaran adalah kiat-kiat
teknis yang bersifat prosedural dari suatu tindakan guru dan siswa dalam
pembelajaran aktual di kelas.6
3. Aspek Metode dan Tekhnik dalam Pembelajaran
Aktualisasi pembelajaran berbentuk serangkaian interaksi dinamis
antara guru-murid atau murid dengan lingkungan belajarnya. Interaksi guru-
murid atau murid dengan lingkungan belajarnya tersebut dapat mengambil
berbagai cara. Cara-cara interaksi guru-murid atau murid dengan lingkungan
belajarnya tersebut lazimnya dinamakan metode.
Metode merupakan bagian dari sejumlah tindakan strategis yang
menyangkut tentang cara bagaimana interaksi pembelajaran dilakukan.
6 Siti Kusrini.dkk, op.cit, hlm. 130-139.
25
Metode dilihat dari fungsinya merupakan seperangkat cara untuk melakukan
aktivitas pembelajaran. Ada beberapa cara dalam melakukan aktivitas
pembelajaran, misalnya dengan berceramah, berdiskusi, bekerja kelompok,
bersimulasi dan lain-lain. Setiap metode memiliki aspek teknis dalam
penggunaannya. Aspek teknis yang dimaksud adalah gaya dan variasi dari
setiap pelaksanaan metode pembelajaran
4. Prosedur Pembelajaran
Pembelajaran dari sisi proses keberlangsungannya, terjadi dalam
bentuk serangkaian kegiatan yang berjalan secara bertahap. Kegiatan
pembelajaran berlangsung dari satu tahap ke tahap selanjutnya, sehingga
terbentuk alur konsisten. Tahapan pembelajaran yang konsisten yang
berbentuk alur peristiwa pembelajaran tersebut merupakan prosedur
pembelajaran.
c) Tahap Evaluasi
Pada hakekatnya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk
mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil
belajar akan memberikan pengaruh dalam dua bentuk:
1. Peserta akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya
atas perilaku yang diinginkan;
2. Mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat
baik setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi
kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah
laku yang diinginkan.7
Pada tahap ini kegiatan guru adalah melakukan penilaian atas
proses pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi adalah alat untuk
7 E. Mulyasa,Implementasi Kurikulum2004 Panduan Pembelajaran KBK, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004, Hlm.169.
26
mengukur ketercapaian tujuan. Dengan evaluasi, dapat diukur kuantitas
dan kualitas pencapaian tujuan pembelajaran. Sebaliknya, oleh karena
evaluasi sebagai alat ukur ketercapaian tujuan, maka tolak ukur
perencanaan dan pengembangannya adalah tujuan pembelajaran.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran, Moekijat (seperti dikutip
Mulyasa) mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan,
keterampilan, dan sikap sebagai berikut:
1) Evaluasi belajar pengetahuan, dapat dilakukan dengan ujian tulis,
lisan, dan daftar isian pertanyaan;
2) Evaluasi belajar keterampilan, dapat dilakukan dengan ujian praktek,
analisis keterampilan dan analisis tugas serta evaluasi oleh peserta
didik sendiri;
3) Evaluasi belajar sikap, dapat dilakukan dengan daftar sikap isian dari
diri sendiri, daftar isian sikap yang disesuaikan dengan tujuan
program, dan skala deferensial sematik (SDS).
Apapun bentuk tes yang diberikan kepada peserta didik, tetap harus
sesuai dengan persyaratan yang baku, yakni tes itu harus:
1. Memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau
dinilai, terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang
telah dikaji);
2. Mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh
seorang peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama);
3. Menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur,
disamping perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak
menimbulkan interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan maksud
tes);
4. Pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis.8
8 Ibid, Hlm. 171.
27
BAB II
KLASIFIKASI DAN DAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Klasifikasi Strategi Penbelajaran
1).Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari bahasa yunani yaitu strategos yang artinya suatu
usaha untuk mencapai suatu kemenangan dalam suatu peperangan awalnya
digunakan dalam lingkungan militer namun istilah strategi digunakan dalam
berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam
konteks pembelajaran yang dikenal dalam istilah strategi pembelajaran.
Menurut J.R David (1976) strategi pembelajaran adalah perencanaan yang
berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Sementara itu dick and Carey (1985) berpendapat bahwa
strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang
digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa/peserta latih.
Pendapat dari moedjiono (1993) strategi pembelajaran adalah kegiatan guru untuk
memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsisiten antara aspek-aspek dari
komponen pembentuk sistem pembelajaran, dimana untuk itu guru menggunakan
siasat tertentu.
Merujuk dari beberapa pendapat diatas strategi pembelajaran dapat
dimaknai secara sempit dan luas. Secara sempit strategi mempuanyai kesamaan
dengan metoda yang berarti cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah
ditetapkan. Secara luas strategi dapat diartikan sebagai suatu cara penetakapan
keseluruhan aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran,
teramasuk perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.9
9 Dahar Ratna, 2013. Pembelajaran Terpadu. Bogor: Erlangga. Hlm 20
28
Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer dan
diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan
suatu peperangan. Seorang yangb erperang dalam mengatur strategi, untuk
memenagkan peperangan sebelum melakukan tindakan, ia akan menimbang
bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun
kualitasnya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun
tindakannya yang harus dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus
dilakukan, taktik dan teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk
melakukan serangan. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu
memperhitungkan berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar.
Istilah strategi, sebagaimana banyak istilah lainnya, dipakai dalam banyak
konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Didalam konteks belajar mengajar,
strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik didalam perwujudan
kegiatan balajar-mengajar. Sifat umum pola tersebut berarti bahwa macam dan
urutan perbuatan yang dimaksud tampak dipergunakan atau dipercayakan guru
dan peserta didik didalam macam-macam peristiwa belajar. Dengan demikian
maka komsep strategi dalam hal ini merujuk pada karakteristik abstrak rentetan
perbuatan guru dan peserta didik didalam peristiwa belajar-mengajar. Implisit
dibalik karakteristik abstrak itu adalah rasional yang membedakans trategi yang
satu dari strateegi yang lain secara fundamental. Istilah lain yang yang juga
dipergunakan untuk maksud ini adalah model-model mengajar. Sedangkan
rentetan perbuatan guru-peserta didik dalam suatu peristiwa belajar-mengajar
aktual tertentu, dinamakan prosedur instruksional. Setelah mencermati konsep
strategi pembelajaran, kita perlu mengkaji pula tentang istilah lain yang erat
kaitannya dengan strategi pembelajaran dan memiliki keterkaitan makna yaitu
pendekatan, metoda, dan teknik.
a. Pendekatan pembelajaran adalah suatu cara pandang dalam melihat dan
memahami situasi pembelajaran. Terdapat dua pendekatan dalam
pembelajaran yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centred
approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centred
approach)
29
b. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam
menyampaikan bahan agar tujuan atau kompetensi dasar tercapai.
Strategi pembelajaran berbeda dengan desain instruksional karena strategi
pembelajaranberkenaandengankemungkinanvariasi poladalamarti macam danurutan
umum perbuatan belajr-mengajar yang secar prinsip berbeda antara yang satu dengan
yang lain, sedangkan desain instruksional menunjuk pada cara-cara merencanakan
sesuatusistemlingkunganbelajartertentu,setelahditetapkanuntukmenggunakansatu
atau lebihstrategi pembelajarantertentu.Kalaudisejajarkan dalam pembuatan rumah,
pembicaraantentang(bermacam-macam)strategi pembelajaran adalah ibarat melacak
berbagai kemungkinan macam rumah yang akan dibangun, sedangkan desain
instruksional adalah penetapan cetak biru rumah yang akan dibangun itu serta bahan-
bahan yang diperlukan dan urutan langkah-laangkah konstruksinya maupun kreterian
penyelesaiandari tahapke tahap sampai denganpenyelesaianakhir,setelah ditetapkan
tipe rumah yang akan dibuat.10
2)..Konsep Dasar Strategi Pembelajaran
Menurut Mansur (1991) terdapat empat konsep dasar strategi pembelajaran:
1. Mengidentifikasikan serta menetapkan tingkah laku dari kepribadian anak didik
sebagaimana yang diharapkan sesuai tuntutan dan perubahan zaman.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem belajar mengajar yang tepat untuk
mencapai sasaran yang akurat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belaajr mengajar yang
dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam
menunaikan kegiatan mengajar.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta
standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam
melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan
dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional yang
bersangkutan secara keseluruhan.[3]
10 Ibid.hal 21
30
3).Pengelompokan Strategi Pembelajaran
Dalam hal ini ada dua pengelompokan yaitu pengelompokan dari Gagne dan
Briggs dan pengelompokan menurut Bruce Joyce dan Marsha Weil.
1.Pengelompokan Gagne dan Briggs
Kedua pakar ini mengelompokan strategi pengajaran menurut dasarnya menjadi
lima macam:
a.Pengaturan Guru Dan Peserta Didik
b.Struktur Even Dan Pengajaran
c.Peranan Guru-Peserta Didik Dalam Mengolah Pesen
d.Proses Pengolahan Pesan
e.Tujuan-Tujuan Belajar
2.Pengelompokan Bruce Joyce dan marsha Weil
Pengelompokan ini lebih komprehinsif dibandingkan dengann pengelompokan
Gagne dan Briggs sebagai mana yang diuraikan didepan.
Bruce Joyce dan Marsha Weil mengemukakan empat klasifikasi model-model
pengajaran/mengajar:
a.Klasifikasi Model-Model Interaksi Sosial
b.Klasifikasi Model-Model Pengolahan Informasi
c.Klasifikasi Model-Model Personal-Humanistik
d.Klasifikasi Model-Model Modifikasi Tingkah Laku.
4).Variabel-Variabel Strategi Pembelajaran
1.Tujuan dan Bahan Pelajaran
Belajar terjadi pada situasi tetentu, yang berbeda dari situasi lain yaitu yang
desebut pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar
yang terdiri dari komponen atau unsur: tujuan, bahan, strategi, alat, siswa, dan
31
guru. Seperti yang telah anda ketehui bahwa tujuan pembelajaran menurut Bloom
dkk meliputri tiga ranah, yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotorik) dan sikap (afektif).
Menurut pendapat Gagne (1988) mengelompokan kemampuan-kemampuan
sebagai hasil belajar didalam lima kelompok, yaitu:
a.Keterampilan Intelektual; merupakan ketermpilan pikiran, yang jika
dihubungkan dengan pendapat Bloom termasuk ranah kognitif. Keterampilan
intelektual terbagi atas beberapa tahapan.
1)Diskriminasi
2)Konsep-konsep konkrit
3)Konsep terdefinisi
4)Aturan-aturan
5)Aturan-aturan tingkat tinggi
b.Strategi Kognitif; merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses interrnal
yang digunakan seseorang untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan
perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir (gagne, 1985).
c.Invormasi Verbal; yang termasuk verbal ialah nama atau label, fakta dan
pengetahuan. Tujuan akhir pelajaran informasi verbal adalah seseorang
mengetahuinya (mampu mengingatnya). Informasi verbal diperoleh seseorang
melalui pendengaran (katak-kata ynag diucapkan oleh orang lain, radio, tv, dan
sejenisnya) dan melalui membaca.
d.Keterampilan Motorik; yang dimaksud ketermpilan-keterampilan motorik tidak
hanya mencakup kegiatan-kegiatan fisik, akan tetapi digabung dengan
keterampilan intelektual.
e.Sikap; Sikap (afektif) merupakan salah satu ranah perilaku manusia atau siswa
yang merupakan kegiatan dari tujuan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari
ranah kognitif dan psikomotorik. Jujur, sopan, ramah, suka menolong orang lain,
32
hati-hati, rajin, kreatif, kritis, disiplin, dan sejenisnya merupakan sikap-sikap
positif yang harus dibentuk dan dikembangkan pada diri setiap peserta didik.
5).Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Strategi dapat di klasifikasikan menjadi 4, yaitu:11
1.Strategi pembelajaran langsung
2.Strategi pembelajaran tak langsung
3.Strategi pembelajaran interaktif
4.Strategi pembelajaran empirik
5.Strategi pembelajaran mandiri
B.Strategi pembelajaran langsung
1). Pengertian Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak
diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau
membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya
bersifat deduktif.
Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan,
sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-
kemampuan, proses-proses, dan sikap yang dipergunakan untuk pemikiran kritis
dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat
mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi pembelajaran langsung perlu
dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.
2) .Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Langsung
11Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok,(Bandung :
Alfabeta, 2009), hlm 23.
33
Model Pembelajaran Langsung (DI) adalah pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru
kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi
pelajaran secara optimal. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu.
Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Wina Sanjaya (2008: 179), menyebut
model ini sebagai model Ekspositori, yang sering juga disebut dengan “chalk and
talk”.
Model DI ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang
berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab
dalam model ini guru memegang peran penting yang sangat dominan. Melalui
model ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan
harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapatdikuasai siswa dengan baik.
Fokus utama model ini adalah kemampuan akademiksiswa.
Model DI bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori
belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling), yang telah
dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar yang dialami
manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku
dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan) orang lain. Aliran psikologi belajar
yang sangat memengaruhi DI adalah aliran belajar behavioristik. Aliran belajar
behavioristik lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada
dasarnya keterkaitan antara stimulus dan respon, oleh karenanya dalam
implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang
sangat penting. Dari asumsi semacam inilah, muncul berbagai konsep bagaimana
agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respon itu bisa
berlangsung secara efektif.
Terdapat beberapa ciri / karakteristik model DI ini, yaitu: (a) DI dilakukan
dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara
lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering
diidentikkan dengan ceramah, (b) biasanya materi pelajaran yang disampaikan
adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep
tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berfikir ulang.
34
Ada yang menyebut dengan istilah pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratif, (c) tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu
sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat
memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi
yang telah diuraikan.
Model pembelajaran yang menggunakan pendekatan mengajar yang dapat
membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh pengetahuan
langkah demi langkah adalah model pengajaran langsung (direct intruction).
Menurut Arends (2001):”A teaching model that is aimed at helping student learn
basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our
purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Artinya:
“Sebuah model pengajaran yang bertujuan untuk membantu siswa mempelajari
keterampilan dasar dan pengetahuan yang dapat diajarkan langkah-demi-langkah.
Untuk tujuan tersebut, model yang digunakan dinamakan model pengajaran
langsung.12
Model pengajaran langsung (direct instruction) dilandasi oleh teori belajar
perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk
pemberian umpan balik. Satu penerapan teori perilaku dalam belajar adalah
pemberian penguatan. Umpan balik kepada siswa dalam pembelajaran merupakan
penguatan yang merupakan penerapan teori perilaku tersebut.
Arends (1997) menyatakan: “The direct instruction model was specifically
designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative
knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion”.
Artinya:Model pengajaranlangsung secara khusus dirancang untuk
mempromosikan belajar siswa dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah-demi-
langkah. Lebih lanjut Arends (2001) menyatakan: ”Direct instruction is a teacher-
centered model that has five steps: establishing set, explanation and/or
demonstration, guided practice, feedback, and extended practice a direct
instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning
12 Ibid.25
35
environment that businesslike and task-oriented”. Artinya: Pengajaran langsung
adalah model berpusat pada guru yang memiliki lima langkah: menetapkan
tujuan, penjelasan dan/atau demonstrasi, panduan praktek, umpan balik, dan
perluasan praktek. Pelajaran dalam pengajaran langsung memerlukan perencanaan
yang hati-hati oleh guru dan lingkungan belajar yang menyenangkandan
berorientasi tugas.
Model pengajaran langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan
mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan
gurunya. Oleh karena itu hal penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan
model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang
terlalu kompleks. Di samping itu, model pengajaran langsung mengutamakan
pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses belajar konsep dan
keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih
terstruktur.
Guru yang menggunakan model pengajaran langsung tersebut bertanggung
jawab dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran, struktur materi, dan
keterampilan dasar yang akan diajarkan. Kemudian menyampaikan pengetahuan
kepada siswa, memberikan pemodelan/demonstrasi, memberikan kesempatan
pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep/keterampilan yang telah dipelajari,
dan memberikan umpan balik.
3). Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Langsung
Sebelum diuraikan tahapan (sintaks) model pembelajaran DI ini, terlebih dahulu
diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan
menggunakan model DI ini, yaitu: Pertama, rumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan. Tujuan
yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku
yang spesifik yang berorientasikepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui
tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi
pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan model ini.
36
Kedua, kuasai materi pelajaran dengan baik. Penguasaan materi yang
sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan
muda mengelola kelas; ia akan bebas bergerak; berani menatap siswa; tidak takut
dengan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses
pembelajaran.
Ketiga, kenali medan dan berbagai hal yang dapat memengaruhi proses
penyampaian. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat
mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian
materi pelajaran.
C..Strategi pembelajaran tak langsung
1). Pengertian Strategi Pembelajaran Tidak Langsung
Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut induktif. Berlawanan
dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya
berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling
melengkapi. Peranan guru bergeser dari seseorang penceramah menjadi fasilitator.
Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesmpatan peserta didik
untuk terlibat.
Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi
siswa dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi
berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis. Dalam pembelajaran tidak
langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan
sumber personal (resource person).13
Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa
untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa
ketika mereka melakukan inkuiri.
Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-
bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.Strategi Pengajaran Tidak
Langsung (Indirect Instruction / Indirect teaching) bertentangan dengan strategi
13 Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik,(Bandung : Nusa Media, 2008),
hlm 100
37
pengajaran secara langsung, pengajaran tidak langsung lebih bersifat tumpuan
murid, walaupun kedua-dua strategi pengajaran tersebut (langsung dan tidak
langsung) merupakan dua strategi yang saling melengkapi antara satu dengan lain.
Strategi pengajaran tidak langsung memerlukan penglibatan yang tinggi dari
kalangan murid semasa membuat pemerhatian, penyiasatan, menghasilkan
inferens daripada data atau membentuk hipotesis. Strategi pengajaran tidak
langsung mengambil kira minat dan rasa ingin tahu murid yang akan
menggalakkan mereka untuk menjana alternative atau untuk menyelesaikan
masalah. Peranan guru beralih daripada pengajar / pengarah kepada fasilitator,
pemberi sokongan dan menjadi sumber rujukan. Guru akan menyusun serta
mengatur persekitaran pembelajaran dengan menyediakan peluang untuk
penglibatan murid, dan apabila dirasakan sesuai, akan memberikan maklum balas
kepada murid semasa mereka melakukan inkuiri (Martin, 1983).
Strategi pengajaran tidak langsung merupakan strategi berpusatkan
pembelajaran yang akan menggalakkan penglibatan murid dalam proses
pembelajaran. Dengan demikian strategi pengajaran tidak langsung ini dapat
menggalakkan pemahaman pembelajaran yang sebenar-benarnya.
Kaedah pengajaran dan pembelajaran yang terlibat adalah seperti berikut:
 Kajian kesan
 Prosedur cloze
 Pencapaian konsep
 Pembentukan konsep
 Pemetaan konsep
 Inkuiri
 Penyelesaian masalah
 Mencari makna
 Pembelajaran reflektif
2).Aplikasi pembelajaran non-directive
38
Model Pembelajaran Pengajaran Tidak Langsung (non directive) bisa
digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan
akademik.
Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam
masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain
dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap
orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang
kompetensi dan minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan
wawancara hams bersifat personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari
perasaan, pengalaman, pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti
dari istilah Tidak Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers.
3). Kelebihan dan kelemahan strategi pengajaran tidak langsung
a. Kelebihan
Strategi pengajaran tidak langsung membolehkan murid terlibat secara
aktif dalam pelajaran mereka. Proses dan aktiviti pembelajaran dilaksanakan oleh
murid dan bukan dipaksakan ke atas murid. Guru berperanan sebagai pemudah
acara atau fasilitator. Pembelajarn yang berasaskan sumber ini membolehkan
berlaku pengalaman pembelajaran secara lebih mendalam dan luassehingga
Mengekspresikan pemahaman. Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta
didik. Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah. Pemahaman yang lebih
baik.
b.Kelemahan
Strategi pengajaran secara tidak langsung lebih bersifat tumpuan
pembelajaran. Oleh yang demikian, tempo untuk berlaku pembelajaran yang
optimal akan mengambil masa yang panjang jika dibandingkan dengan
pengajaran secara langsung. Sebagai fasilitator, guru perlu berupaya untuk
mengawal pembelajaran murid-muridnya, dan ini mungkin boleh menyebabkan
rasa ketidakselesaan di kalangan murid. Selain itu, lebih banyak cabaran akan
dihadapi semasa pelaksaannya untuk membolehkan murid mencapai objektif
pembelajaran yang telah ditetapkan.
39
D. Strategi pembelajaran interaktif
1). Pengertian Strategi pembelajaran interaktif
Pembelajaran interaktif Yaitu cara belajar yang menekankan pada diskusi
dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan
peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan
pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk
berfikir dan merasakan.Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan
sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta
didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan
guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan
merasakan.
2).Perspektif Berbasis Interaktif
Pembelajaran interaktif terfokus pada upaya untuk mennciptkan situasi-
situasi yang komunikatif dan memungkinkan siswa untuk menyampaikan dan
menerima pesan-pesan yang otentik yang mengandung informasi yang menarik
bagi pengirim maupun penerima pesan.
3).Pola-pola interaksi kelas
Dalam kenyataannya interaksi antara guru dan siswa digambarkan sebagai
bentuk komunikasi yang sangat terbatas, misanya belajar untuk memberikan
jawaban yang diharapkan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru
bukan sebagai permintaan untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai
kesempatan untuk mengetahui penguasaan terhadap materi tersebut.Dalam banyak
situasi kelas, siswa berperan pasif, tidak pernah memulai diskusi dan biasanya
berbicara hanya bila disuruh atau ditunjuk oleh guru. Sifat percakapan antara guru
dan siswa diperngaruhi oleh faktor-faktor seperti isi pelajaran dan aktivitas kelas
(Green, 1983). Dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas, guru dapat
menggunakan berbagai strategi pembelajaran, seperti pengelompokan siswa : guru
dengan seluruh kelas, guru dengan kelompok kecil, siswa dalam kelompok-
kelompok kecil, siswa berpasang-pasangan, siswa bekerja sendiri-sendiri.
40
Persitiwa-peristiwa ini didasarkan pada serangkaian aktivitas rutin kelas yang
mungkin terjasi dalam suatu mata pelajaran tertentu.14
4).Kelas Interaktif
Menurut Rivers (1987:10-15) dianataranya : Mendorong siswa
mendengarkan materi-materi yang otentik (misalnya, pembicaraan guru, audio
dan videotape, dan penutur asli dimana memungkinkan). Menggunakan koran,
majalah, kartun, buku, surat, petunjuk-petunjuk bagi produk, menu, dan peta
sebagai bahan bacaan.Menekankan bahwa sejak dari awal para siswa
mendengarkan dan berbicara sambil berekasi terhadap gambar-gambar dan objek-
objek dalam situasi permainan peran dan diskusi (berpasangan, kelompok-
kelompok kecil, dan seluruh kelas).
Melibatkan para siswa dalam tugas-tugas bersama yang menuntut berbagai
fungsi-fungsi bahasa yang berbeda (misalnya, menyarankan, meminta,
mengarahkan , meminta, mengarahkan, meyakinkan, memuji, menjelaskan , dan
menginformasikan).
a.Menyajikan secara terus-menerus kepada para siswa film-film dan videotape
para penutur asli yang berinteraksi dalam situasi-situasi yang berbeda, dengan
demikian meningkatkan kesadaran terhadap perilaku-perilaku nonverbal, strategi-
strategi percakapan.
b.Menggunkan aktivitas membaca yang dbuat interaktif dengan meminta pembaca
utnuk menjawab ssecara kreatif (mislanya, mendiskusikan kemungkinan-
kemungkinans alternatif).
c.Menggunakan aktivitas menulis yang mencakup perubahan komunikasi pribadi
antara para siswa (berpasangan dan/atau dimana kelompok) atau anatara siswa
dan guru (jurnal diaolog mengatakan kembali ungkapan-ungkapan atau struktur-
struktur yang janggal).
d.Menjaga interaksi tetap sebagai masalah pokok berarti bahwa guru perlu
merencanakan aktivitas-aktivitas sehingga siswa dapat berpartisipasi dalam
14 Ibid.104
41
berbagai macam situasi interaktif. Ini dapat mencakup investigasi dan diskusi
kelompok untuk meningkatkan interaksi.
5). Aktivitas interaksi dapat sukses
Cohen (1986) menegaskan bahwa agar aktivitas-aktivitas interaksi dapat sukses,
maka harus :
1) Memiliki lebih dari satu jawaban atau lebih dari satu cara untuk memecahkan
persoalan.
2) Secara interistik menarik dan bermanfaat bagi sebagian besar siswa.
3) Memberikan kesempatan kepada para siswa yang berbeda untuk memberikan
konttribusis yang berbeda.
4) Melibatkan berbagai sumber multimedia.
5) Melibatkan penglihatan, suara, dan sentuhan.
6) Menuntut berbagai macam keterampilan dan prilaku.
7) Menuntut siswa untuk membaca dan menulis.
8) Menunjukkan tantangan.Bagian ini menyajikan berbagai macam interprestasi
berkaitan dengan konsep pengajaran berbasis interaksi. Berdasarkan atas
pembahasan ini, sejumlah prinsip kelas dapat ditetapkan.
6). Karakteristik prespektif berbasis interaksi :
1) Menekankan peran karakteristik siswa.
2) Menekankan kerja kolaboratif dan kelompok sebagai sarana untuk
meningkatkan komunikasi intruksional ataupun komunikasi alamiah.
3) Menggunakan aktivitas-aktivitas yang menarik, bermanfaat dan menantang
bagi siswa.
4) Memberikan kesempatan kepada para siswa yang berbeda untuk memberikan
kontribusi mereka.
42
5) Terfokus pada modalitas-modalitas belajar yang berbeda penglihatan, suara,
sentuhan, dan sumber-sumber multimedia.
6) Menempatkan siswa dalam situasi-situasi pemecahan persoalan khusus yang
memiliki berbagai macam solusi.Kelas berbasis interaksi terfokus pada kebutuhan
dan karakteristik para siswa. Tugas-tugas yang meningkatkan kolaborasi dan
reaksi pribadi terhadap teks-teks lisan dan tulis membentuk landasan bagi
perencanaan kurikulum. Beberapa aktivitas khusus seperti investigasi kelompoks,
situasi permainan peran, tugas-tugas pemecahan persoalan, dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan pendapat.
Guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berkomunikasi
dan berpendapat untuk berbagai aktivitas yang bermakana yang berkaitan dengan
pembelajaran yang berlangsung yang memiliki tujuan tertentu dan merangsang
situasi-situasi kehidupan yang nyata. Dengan menggunakan aktifitas-aktifitas
yang menonjol dapat menghasilkan keterampilan siswa untuk suskes
berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut.15
a Guru menggunakan berbagai macam pengelompokan siswa.
b.Sebagaina besar aktivitas pembelajaran terpusat pada siswa. c. Guru
menggunakan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang terjasi selama proses
pembelajaran 4) berlangsung.
d. Pengajaran harus sesuai dengan gaya belajar siswa.
e. Guru menciptakan iklim afektif dimana siswa merasa nyaman ketika
menghadapi risiko.
f. Guru menggunakan berbagai macam materi cetak dan non cetak, termasuk
materi-materi yang otentik.
g.Dukungan teknologi untuk mempermudah proses belajar dan mengajar.
h.Guru terlibat dalam pengembangan sprofesional secara berkelanjutan dalam
bidang-bidang keterampilan, pengetahuan budaya, dan metodologi terkini.
15 Siti Aisyah, 2012. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Airlangga University Press. Hlm 50-55
43
7). Kelebihan Dan Kekurangan
a.Kelebihan strategi ini antara lain
(1) peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun
keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, (2) mengorganisasikan
pemikiran dan membangun argumen yang rasional. Strategi pembelajaran
interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompokkelompokdan metode-
metode interaktif.
b.Kekurangan dari strategi ini
sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan
mengembangkan dinamika kelompok.
E. .Strategi pembelajaran empirik
1). Pengertian .Strategi pembelajaran empirik
Strategi pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif,
berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang
pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain
merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.Pembelajaran
empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan
berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi
perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis
dalam pembelajaran empirik yang efektif.
2).Kelebihan dan kekuranngan
a. Kelebihan dari startegi ini antara lain: (1) meningkatkan partisipasi peserta
didik, (2) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (3) meningkatkan analisis
peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. Sedangkan
kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada
hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.
F.Strategi pembelajaran mandiri
1).Pengertian Pembelajaran Mandiri
44
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk
membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya
adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru.
Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari
kelompok kecil.
Pembelajaran mandiri adalah suatu proses belajar yang mengajak siswa
melakukan tindakan mandiri yang melibatkan terkadang satu orang, biasanya satu
kelompok. Tindakan mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan
akademik dengan kehidupan sehari-hari secara sedemikian rupa untuk mencapai
tujuan yang bermakna
Strategi pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang
bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, peningkatan diri.
Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari
kelompok kecil.
2).Model-model pembelajaran mandiri
Beberapa model pembelajaran mandiri yaitu :
a.Model SAVI
Dave Meier menyajikan suatu sistem lengkap untuk melibatkan kelima
indera dan emosi dalam proses belajar yang dikenal dengan model SAVI, yaitu :
Somatis è belajar dengan bergerak dan berbuat
Auditori è belajar dengan berbicara dan mendengar
Visual è belajar dengan mengamati dan menggambarkan
Intelektual è belajar dengan memecahkan masalah dan menerangkan.
b.Model MASTER
Rose dan Nicholl memperkenalkan satu model belajar yang dikenalkan
dengan M-A-S-T-E-R, yaitu :
Mind è mendapatkan keadaan pikiran yang benar
45
Acquire è memperoleh informasi yang terdiri dari gagasan inti
Search Out è mencari makna melalui pembimbing mereka
Trigger è memicu memori
Exhibit è memamerkan apa yang diketahui
Reflect è merefleksikan cara belajar
3).Konsep pembelajaran mandiri
Sesuai dengan konsep belajar mandiri, bahwa seorang siswa
diharapkan dapat :
Menyadari bahwa hubungan antara pengajar dengan dirinya tetap ada, namun
hubungan tersebut diwakili oleh bahan ajar atau media belajar.
a. Mengetahui konsep belajar mandiri
b. Mengetahui kapan ia harus minta tolong, kapan ia membutuhkan
bantuan atau dukungan.
c. Mengetahui kepada siapa dan dari mana ia dapat atau harus
memperoleh bantuan/dukungan.
Bagian terpenting dari konsep belajar mandiri adalah bahwa setiap siswa
harus mampu mengidentifikasi sumber-sumber informasi, karena identifikasi
sumber informasi ini sangat dibutuhkan untuk memperlancar kegiatan belajar
seorang siswa pada saat siswa tersebut membutuhkan bantuan atau dukungan.
4).Penerapan/implementasi
a. Mengambil Tindakan
Siswa yang menghimpun, menyentuh, dan mengumpulkan pengetahuan
memiliki otak yang berbeda dibandingkan dengan siswa yang hanya menonton,
mendengar dan menyerap informasi.
b.Mengajukan pertanyaan
46
Untuk menjadi mandiri, harus bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan
menarik dan tajam yang dapat menyempurnakan keyakinan dan menjelaskan
kejadian.
c.Membuat Pilihan
Siswa memilih untuk berpartisipasi dalam rencana kerja yang paling
sesuai dengan minat pribadi dan bakat mereka. Serta gaya belajar yang paling
tepat bagi mereka sambil mencari keterkaitan antara tugas sekolah dengan
kehidupan keseharian mereka.
d.Membangun Kesadaran Diri
Kesadaran-diri ini meliputi pengetahuan tentang keterbatasan dan
kekuatan kita, mengetahui bagaimana pandangan orang lain kepada kita serta
pengendalian emosi.
Kerja Sama
Dengan bekerja sama, membantu siswa untuk menemukan bahwa ternyata cara
pandang mereka hanyalah satu diantara cara pandang yang lain dan bahwa cara
mereka melakukan sesuatu hanyalah satu kemungkinan dari berbagai
kemungkinan lain. Melalui kerja sama, dan bukannya persaingan atau kompetisi,
siswa menyerap kebijaksanaan orang lain.
5).Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah :
a. membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab
mahasiswa mendapatkan kepuasan belajar melalui tugas-tugas
yang diselesaikan
b. mahasiswa mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam hal
penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah,
jika dalam menyelesaikan tugas-tugasnya mahasiswa berkelompok
menjadi semakin bertambah, karena melalui kelompok tesebut
mahasiswa akan belajar tentang kerja sama, kepemimpinan dan
pengambilan keputusan.
47
c. mencapai tujuan akhir dan pendidikan yaitu mahasiswa dapat
menjadi guru bagi dirinya sendiri.
Kelemahannya adalah :
a. bila diterapkan kepada peserta didik yang belum dewasa, ia belum bisa
belajar secara mandiri (masih memerlukan bimbingan).
b. Apa yang didapat dalam pembelajaran mandiri masih belum tentu benar,
maka perlu melakukan pertanyaan atau diskusi.
G. Pemiliham Strategi Pembelajaran
1). Dasar Pemilihan Strategi Pembelajaran
Beberapa prinsip-prinsip yang mesti dilakukan oleh pengajar dalam
memilih strategi pembelajaran secara tepat dan akurat, pertimbangan tersebut
mesti berdasarkan pada penetapan.
a. Tujuan Pembelajaran
Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam
memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran.
Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir
pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat
terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Tujuan
pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang
diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran
tertentu. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang harus
digunakan guru. Misalnya, seorang guru Olahraga dan Kesehatan menetapkan
tujuan pembelajaran agar siswa dapat mendemontrasikan cara menendang bola
dengan baik dan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu siswa-siswa
mencapai tujuan adalah metode ceramah, guru memberi instruksi, petunjuk, aba-
aba dan dilaksanakan di lapangan, kemudian metode demonstrasi, siswa-siswa
mendemonstrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar, selanjutnya
dapat digunakan metode pembagian tugas, siswa-siswa kita tugasi, bagaimana
48
menjadi keeper, kapten, gelandang, dan apa tugas mereka, dan bagaimana mereka
dapat bekerjasama dan menendang bola.
Dalam contoh ini, terdapat kemampuan siswa pada tingkat kognitif dan
psikomotorik. Demikian juga diaplikasikan kemampuan Afektif, tentang
bagaimana kemampuan mereka dalam bekerjasama dalam bermain bola dari
metode pemberian tugas yang diberikan guru kepada setiap individu. Dalam
silabus telah dirumuskan indikator hasil belajar atau hasil yang diperoleh siswa
setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Terdapat empat komponen pokok
dalam merumuskan indikator hasil belajar yaitu:
a. Penentuan subyek belajar untuk menunjukkan sasaran belajar.
b. Kemampuan atau kompetensi yang dapat diukur atau yang dapat
ditampilkan melalui peformnce siswa.
c. Keadaan dan situasi dimana siswa dapat mendemonstrasikan performance
nya
Standar kualitas dan kuantitas hasil belajar.
Berdasarkan indikator dalam penentuan tujuan pembelajaran maka dapat
dirumuskan tujuan pembelajaran mengandung unsur; Audience (peserta didik),
Behavior (perilaku yang harus dimiliki), Condition (kondisi dan situasi) dan
Degree (kualitas dan kuantítas hasil belajar).
b. Aktivitas dan Pengetahuan Awal Siswa
Belajar merupakan berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat
mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan hanya terbatas pada
aktifitas fisik saja akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau
aktivitas mental.
Pada awal atau sebelum guru masuk ke kelas memberi materi pengajaran
kepada siswa, ada tugas guru yang tidak boleh dilupakan adalah untuk mengetahui
49
pengetahuan awal siswa. Sewaktu memberi materi pengajaran kelak guru tidak
kecewa dengan hasil yang dicapai siswa, untuk mendapat pengetahuan awal siswa
guru dapat melakukan pretes tertulis, tanya jawab di awal pelajaran. Dengan
mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat menyusun strategi memilih
metode pembelajaran yang tepat pada siswa-siswa.
Apa metode yang akan kita pergunakan? Sangat tergantung juga pada
pengetahuan awal siswa, guru telah mengidentifikasi pengetahuan awal.
Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan kita ajarkan, jika
siswa tidak memiliki prinsip, konsep, dan fakta atau memiliki pengalaman, maka
kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat
belajar mandiri, hanya metode yang dapat diterapkan ceramah, demonstrasi,
penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, pratikum, bermain peran dan
lain-lain. Sebaliknya jika siswa telah memahami prinsip, konsep, dan fakta maka
guru dapat mempergunakan metode diskusi, studi mandiri, studi kasus, dan
metode insiden, sifat metode ini lebih banyak analisis, dan memecah masalah.
c.Integritas Bidang Studi/Pokok Bahasan
Mengajar merupakan usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa.
Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga
meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Karena itu strategi
pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara
terintegritas. Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah,
program studi diatur dalam tiga kelompok. Pertama, program pendidikan umum.
Kedua, program pendidikan akademik. Ketiga, Program Pendidikan Agama, PKn,
Penjas dan Kesenian dikelompokkan ke dalam program pendidikan umum.
Program pendidikan akademik bidang studinya berkaitan dengan keterampilan.
Karena itu metode yang digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah
(kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok
bahasan.Umpamanya ranah psikomotorik lebih dominant dalam pokok bahasan
tersebut, maka metode demonstrasi yang dibutuhkan, siswa berkesempatan
mendemostrasikan materi secara bergiliran di dalam kelas atau di lapangan.
50
Dengan demikian metode yang kita pergunakan tidak terlepas dari bentuk dan
muatan materi dalam pokok bahasan yang disampaikan kepada siswa.
Dalam pengelolaan pembelajaran terdapat beberapa prinsip yang harus diketahui
di antaranya:
(1) Interaktif
Proses pembelajaran merupakan proses interaksi baik antara guru dan
siswa, siswa dengan siswa atau antara siswa dengan lingkungannya. Melalui
proses interaksi memungkinkan kemampuan siswa akan berkembang baik mental
maupun intelektual.
(2). Inspiratif
Proses pembelajaran merupakan proses yang inspiratif, yang memungkinkan
siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Biarkan siswa berbuat dan berpikir
sesuai dengan inspirasinya sndiri, sebab pengetahuan pada dasarnya bersifat
subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap subjek belajar.
(3). Menyenangkan
Proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan. Proses pembelajaran
menyenangkan dapat dilakukan dengan menata ruangan yang apik dan menarik
dan pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan
menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber-sumber belajar
yang relevan.
(4) Menantang
Proses pembelajaran merupakan proses yang menantang siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara
maksimal. Kemampuan itu dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa
ingin tahu siswa melalui kegiatan mencobaoba, berpikir intuitif atau
bereksplorasi.
(5) Motivasi
51
Motivasi merupakan aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa.
Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk
bertindak dan melakukan sesuatu. Seorang guru harus dapat menunjukkan
pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan
demikian siswa akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau
pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya.
d. Alokasi Waktu dan Sarana Penunjang
Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran
45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang sebelumnya, termasuk
di dalamnya perangkat penunjang pembelajaran, perangkat pembelajaran itu dapat
dipergunakan oleh guru secara berulang-ulang, seperti transparan, chart, video
pembelajaran, film, dan sebagainya.
Metode pembelajaran disesuaikan dengan materi, seperti Bidang Studi
Biologi, metode yang akan diterapkan adalah metode praktikum, bukan berarti
metode lain tidak kita pergunakan, metode ceramah sangat perlu yang waktunya
dialokasi sekian menit untuk memberi petunjuk, aba-aba, dan arahan.Kemudian
memungkinkan mempergunakan metode diskusi, karena dari hasil praktikum
siswa memerlukan diskusi kelompok untuk memecah masalah/problem yang
mereka hadapi.
e. Jumlah Siswa
Idealnya metode yang kita terapkan di dalam kelas perlu
mempertimbangkan jumlah siswa yang hadir, rasio guru dan siswa agar proses
belajar mengajar efektif, ukuran kelas menentukan keberhasilan terutama
pengelolaan kelas dan penyampaian materi.
Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mutu pengajaran akan tercapai apabila
mengurangi besarnya kelas, sebaliknya pengelola pendidikan mengatakan bahwa
kelas yang kecil-kecil cenderung tingginya biaya pendidikan dan latihan. Kedua
pendapat ini bertentangan, manakala kita dihadapkan pada mutu, maka kita
membutuhkan biaya yang sangat besar, bila pendidikan mempertimbangkan biaya
sering mutu pendidikan terabaikan, apalagi saat ini kondisi masyarakat Indonesia
52
mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pada sekolah dasar umumnya
mereka menerima siswa maksimal 40 orang, dan sekolah lanjutan maksimal 30
orang. Kebanyakan ahli pendidikan berpendapat idealnya satu kelas pada sekolah
dasar dan sekolah lanjutan 24 orang.
Ukuran kelas besar dan jumlah siswa yang banyak, metode ceramah lebih
efektif, akan tetapi yang perlu kita ingat metode ceramah memiliki banyak
kelemahan dibandingkan metode lainnya, terutama dalam pengukuran
keberhasilan siswa. Disamping metode ceramah guru dapat melaksanakan tanya
jawab, dan diskusi. Kelas yang kecil dapat diterapkan metode tutorial karena
pemberian umpan balik dapat cepat dilakukan, dan perhatian terhadap kebutuhan
individual lebih dapat dipenuhi.
f. Pengalaman dan Kewibawaan Pengajar
Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, pribahasa mengatakan
”Pengalaman adalah guru yang baik”, hal ini diakui di lembaga pendidikan,
kriteria guru berpengalaman, dia telah mengajar selama lebih kurang 10 tahun,
maka sekarang bagi calon kepala sekolah boleh mengajukan permohonan menjadi
kepala sekolah bila telah mengajar minimal 5 tahun. Dengan demikian guru harus
memahami seluk-beluk persekolahan. Strata pendidikan bukan menjadi jaminan
utama dalam keberhasilan belajar akan tetapi pengalaman yang menentukan,
umpamanya guru peka terhadap masalah, memecahkan masalah, memilih metode
yang tepat, merumuskan tujuan instruksional, memotivasi siswa, mengelola siswa,
mendapat umpan balik dalam proses belajar mengajar. Jabatan guru adalah
jabatan profesi, membutuhkan pengalaman yang panjang sehingga kelak menjadi
profesional, akan tetapi profesional guru belum terakui seperti profesional lainnya
terutama dalam upah (payment), pengakuan (recognize). Sementara guru diminta
memiliki pengetahuan menambah pengetahuan (knowledge esspecialy dan skill)
pelayanan (service) tanggung jawab (responsbility)dan persatuan (unity) (Glend
Langford, 1978).
Disamping berpengalaman, guru harus berwibawa. Kewibawaan merupakan
syarat mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena guru harus berhadapan dan
mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial, guru
53
merupakan sosok tokoh yang disegani bukan ditakuti oleh anakanak didiknya.
Kewibawaan ada pada orang dewasa, ia tumbuh berkembang mengikuti
kedewasaan, ia perlu dijaga dan dirawat, kewibawaan mudah luntur oleh
perbuatan-perbuatan yang tercela pada diri sendiri masing-masing. Jabatan guru
adalah jabatan profesi terhomat, tempat orang-orang bertanya, berkonsultasi,
meminta pendapat, menjadi suri tauladan dan sebagainya, ia mengayomi semua
lapisan masyarakat.16
16 Isjoni, Op. Cit., hlm 60
54
BAB III
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Salah satu pendekatan atau strategi pembelajaran yang memungkinkan
tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran sekaligus penguasaan nilai-nilai tersebut
adalah strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran
kooperatif merupakan strategi yang tepat untuk mengembangkan nilai-nilai
sosial tersebut sekaligus mencapai tujuan-tujuan kognitif. Bagaimana
pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan atau meningkatan penguasaan
dan penerapan kedua aspek tersebut sekaligus dapat diuraikan sebagai berikut.
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Sejak diterapkannya pertama kali di Universitas John Hopkins,
pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai
penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa,
membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta
meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas belajar kelompok.17
Para ahli dan peneliti pembelajaran kooperatif, mendefinisikan bahwa
pembelajaran kooperatif pada intinya adalah suatu strategi pembelajaran yang
terstruktur secara sistematis di mana siswa-siswa bekerjasama dalam kelompok-
kelompok kecil dengan anggota antara empat sampai lima orang secara heterogen
untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Cooperative learning merujuk pada berbagai macam model pembelajaran
di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri
dari berbagai tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang
berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi
17Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok,
(Bandung : Alfabeta, 2009), hlm 25.
55
pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu,
saling mendiskusikan, dan
berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan
menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning
lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus
ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan
terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat
interdependensi efektif antara anggota kelompok.18
Agus Suprijono mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah
konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-
bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum
pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru
menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan
informasi yang dirancang
untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksudkan. Guru biasanya
menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.19
Anita Lie menguraikan model pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada
falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin, filsafat ini
menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dialog interaktif (interaksi
sosial) adalah kunci seseorang dapat menempatkan dirinya di lingkungan sekitar.
Panintz (Agus Suprijono, 2009: 54) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk
bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara
umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru
menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan
informasi yang dirancang
untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya
menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.20
18Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik,(Bandung : Nusa Media,
2008), hlm 107
19Isjoni, Op. Cit, hlm 33
20 Slavin, Op. Cit, hlm. 150
56
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model
pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang
anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang,
dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda
untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar
belajar semua anggota maksimal.
Mengacu pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu
pembelajaran dikatakan merupakan pembelajaran kooperatif jika pembelajaran
tersebut mencerminkan karakteristik sebagai berikut: a) siswa-siswa belajar
dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam anggota dengan level
dan latar belakang yang bervariasi, b) siswa-siswa melakukan interaksi sosial satu
sama lain dalam bentuk diskusi, curah pendapat, dan sejenisnya, c) tiap-tiap
individu memiliki tanggungjawab dan sumbangannya bagi pencapaian tujuan
belajar baik tujuan individu maupun kelompok, d) dan guru lebih berperan
sebagai fasilitator dan coacher dalam proses pembelajaran.
B. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan yang paling penting dari model pembelajaran kooperatif adalah
untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan
pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat
yang bahagia dan memberikan kontribusi. Wisenbaken mengemukakan bahwa
tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan norma-norma yang
proakademik di antara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki
pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa.21
C. Manfaat Strategi Pembelajaran Kooperatif
Sadker menjabarkan beberapa manfaat pembelajaran kooperatif. Selain itu,
meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa, pembelajaran kooperatif
juga memberikan manfaat-manfaat besar lain seperti berikut ini.
1. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan
21 Ibid, hlm. 165
57
memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi;
2. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki
sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk
belajar;
3. dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman-
temannya,
4. Dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif
(interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti;
5. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap
teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang
berbeda-beda.22
D. Ciri-Ciri Strategi Pembelajaran Kooperatif
Isjoni memaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu
sebagai berikut.
1) Setiap anggota memiliki peran;
2) Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa
3) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga
teman-teman sekelompoknya;
4) Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan
interpersonal kelompok,
5) Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.23
Beberapa elemen yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif
(menurut para ahli pembelajaran kooperatif) tersebut adalah:
a. Saling ketergantungan positif (positive interdependence),
b. Interaksi tatap muka (face-to-face promotive interaction),
c. Tanggungjawab individual (individual accountability,
d. Keterampilan-keterampilan kooperatif (cooperative skills),
e. Proses kelompok (group proces),
22 Ibid, hlm. 178
23Isjoni, Op. Cit., hlm 77
58
f. Pengelompokan siswa secara heterogen, dan
g. Kesempatan yang sama untuk sukses (equal opportunities for success).
Dengan kata lain, dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling
ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar
berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling
membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi
belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan
strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal.
Model atau strategi pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa
menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama.24
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif
sebagaimana dikemukakan Slavin yaitu penghargaan kelompok, pertanggung
jawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
1. Penghargaan kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok
untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok
diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan.
Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai
anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang
saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
2. Pertanggung jawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari
semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitik beratkan
pada aktivitas anggota kelompok yanng saling membantu dalam belajar.
Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap
anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri
tanpa bantuan teman sekelompoknya.
3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
24Lie, A, Cooperative Learning,Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang-ruang
Kelas. (Jakarta : Grasindo, 2007), hlm 68
59
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang
mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang
diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode
skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi
sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang
terbaik bagi kelompoknya.25
Karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu :
a) Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan
tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap
siswa belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran yang ditentukan
oleh keberhasilan tim.
Setiap kelompok bersifat heterogen : artinya, kelompok terdiri atas
anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang
sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat
saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga
diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
kelompok.
b) Didasarkan pada Manajemen Kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi
pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan
fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran koopiratif fungsi perencanaan
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang
matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. ini misalnya tujuan apa
yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan
untuk mencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan menunjukkan
bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan,
melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan termasuk
ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi
25 Ibid, hlm. 88
60
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar
setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab
setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam
pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes
maupun nontes.
c) Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara
kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses
pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas
dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling
membantu, ini misalnya yang pintar perlu membantu yang kurang mampu.
d) Keterampilan Bekerja Sama
Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas
dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan
demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan
berkornunikasi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai
hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat
menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada
keberhasilan kelompok.26
E. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
1. Keunggulan pembelajaran cooperatif
Mulyadiana menyatakan bahwa keunggulan pembelajaran kooperatif
sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya :
a) Melalui pembelajaran kooperatif siswa diharapkan tidak terlalu berharap
pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir
sendiri sehingga menemukan informasi dan berbagai sumber dan belajar
dan siswa yang lain.
26 Slavin, Op. Cit., hlm 178
61
b) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
mengungkapkan ide atau gagasan dengan kat-kata secara verbal dan
membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c) Pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang
lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala
perbedaan.
d) Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa
untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e) Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh
untuk meningkatkan prestasi akadernik dan non akademik
f) Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan
balik.
g) Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa
menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata
(riil)27.
2. Keterbatasan Pembelajaran Kooperatif
Mulyadiana menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki
keterbatasan, di antaranya :
a) Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif memang
butuh waktu karena terdapat perbedaan antara siswa yang memiliki
kelebihan dan siswa yang merasa kurang.
b) Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling
bekerjasama dalam memecahkan permasalahan.
c) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan
kepada hasil kerja kelompok.
d) Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan
kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.
27Lie, Op. Cit., hlm 89
62
e) Kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting
untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya
didasarkan kepada kemampuan secara individual.28
F. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase Kegiatan Guru
Fase 1 : Present goals and set
Menyampaikan tujuan dan
mempersiapkan siswa
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan
mempersiapkan siswa siap belajar
Fase 2 : Present information
Menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi kepada
siswa secara verbal
Fase 3 : Organize students into
learning teams
Mengorganisir siswa ke dalam tim-
tim belajar
Memberikan penjelasan kepada siswa
tentang tata cara pembentukan tim
belajar dan membantu kelompok
melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : Assist team work and
studeny
Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim-tim belajar selama
siswa mengerjakan tugasnya
Fase 5 : Test on the materials
Mengevaluasi
Menguji pengetahuan siswa mengenai
berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : Provide recognition
Memberikan pengakuan atau
penghargaan
Mempersiapkan cara untuk mengakui
usaha dan prestasi individu maupun
kelompok
Sumber: Slavin, 2008
G. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Konvensional
Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional
Adanya saling ketergantungan positif,
saling membantu dan saling
Guru sering membiarkan adanya
siswa yang mendominasi kelompok
28 Ibid, hlm 97
63
memberikan motivai sehingga ada
interaksi promotif.
atau menggantungkan diri pada
kelompok.
Adanya akuntabilitas individual yang
mengukur penguasaan materi pelajaran
tiap anggota kelompok. Kelompok
diberi umpan balik tentang hasil belajar
para anggotanya sehingga dapat saling
mengetahui siapa yang memerlukan
bantuan dan siapa yang dapat
memberikan bantuan.
Akuntabilitas individual sering
diabaikan sehingga tugas- tugas
sering diborong oleh salah seorang
anggota kelompok, sedangkan
anggota kelompok lainnya hanya
‘enak-enak saja’ diatas keberhasilan
temannya yang dianggap ‘
pemborong’.
Kelompok belajar heterogen, baik
dalam kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik, dsb sehingga dapat
saling mengetahui siapa yang
memerlukan bantuan dan siapa yang
dapat memberikan bantuan.
Kelompok belajar biasanya
homogeny
Pimpinan kelompok dipilih secara
demokratis atau bergilir untuk
memberikan pengalaman memimpin
bagi para anggota kelompok.
Pemimpin kelompok sering
ditentukan oleh guru atau kelompok
dibiarkan untuk memilih
pemimpinnya dengan cara masing-
masing.
Ketrampilan social yang diperlukan
dalam kerja gotong royong seperti
kepemimpinan, kemampuan berkomu
nikasi, mempercayai orang lain dan
mengelola konflik secara langsung
diajarkan.
Ketrampilan sosial sering tidak
diajarkan secara langsung.
Pada saat belajar kooperatif sedang
berlangsung, guru terus melakukan
pemantauan melalui observasi dan
Pemantauan melalui observasi dan
intervensi sering dilakukan oleh
guru pada saat belajarkelompok
64
melakukan intervensi jika terjadi
masalah dalam kerja sama antar
anggota kelompok.
sedang berlangsung.
Guru memperhatikan secara langsung
proses kelompok yang terjadi dalam
kelompok – kelompok belajar.
Guru sering tidak memperhatikan
proses kelompok yang terjadi dalam
kelompok – kelompok belajar.
Penekanan tidak hanya pada
penyelesaian tugas tetapi juga hubungan
interpersonal (hubungan antar pribadi
yang saling menghargai).
Penekanan sering hanya pada
penyelesaian tugas.
sumber: Slavin, 2008
H. Metode Pembelajaran Kooperatif
1. Metode STAD ( Student Achievement Divisions )
Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan – kawan dari
universitas John Hopkins. Metode ini digunakan para guru untuk mengajarkan
informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penilaian
verbal maupun tertulis. Langkah – langkahnya :
a) Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim,
masing – masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Tiap kelompok memiliki
anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan
( tinggi, sedang, rendah ).
b) Tiap anggota tim/kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan
kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya
jawab atau diskusiantar sesama anggota tim/ kelompok.
c) Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu akan
mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan
akademik yang telah dipelajari.
d) Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan
ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi
65
tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Kadang –
kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu
meraih suatu criteria atau srandar tertentu.29
2. Metode Jigsaw
Langkah – langkahnya :
a) Kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri 4 atau 5 siswa
dengan karakteristik yang heterogen.
b) Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan setiap
siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan
akademik tersebut.
c) Para anggota dari beberapa tim yang berbeda memiliki tanggung jawab
untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya
berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut
(kelompok pakar / expert group).
d) Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke
kelompok semula ( home teams )untuk mengajar anggota lain mengenai
materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar.
e) Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam “ home teams “ para siswa
dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.30
3. Metode GI ( Group Investigation )
Dalam metode ini siswa dilibatkan sejak perencanaan baik dalam
menentukan topik maupun mempelajari melalui investigasi. Dalam metode ini
siswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam komunikasi dan
proses memiliki kelompok. Langkah-langkahnya :
a) Seleksi topik
b) Merencanakan kerjasama
c) Implementasi
d) Analisis dan sintesis
e) Penyajian hasil akhir
29 Mudjiono Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm 79
30Isjoni, Op. Cit., hlm 49
66
f) Evaluasi selanjutnya31
4. Metode struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan, yang menekankan pada
struktur – struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola – pola
interaksi siswa. Contoh teknik pembelajaran metode struktural yaitu :
a. Mencari Pasangan ( Make a Match )
Dikembangkan oleh Larana Curran, dimana keunggulan teknik ini adalah
siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic dalam
suasana yang menyenangkan. Langkah – langkahnya :
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik
yang cocok untuk sesi review ( persiapan menjelang tes atau ujian ).
2) Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok
dengan kartunya.
4) Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang
memegang kartu yang cocok.
5) Para siswa mendiskusikan penyelesaian tugas secara bersama – sama.
6) Presentasi hasil kelompok atau kuis.
b. Dua Tinggal Dua Tamu ( Two Stay Two Stay )
Langkah-langkahnya :
1) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok berempat.
2) Siswa bekerjasama dalam kelompok berempat seperti biasa.
3) Setelah selesai, dua orang dari masing – masing kelompok akan
meninggalkan kelompoknya dan masing – masing bertamu ke dua
kelompok lain.
4) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja
dan informasi mereka ke tamu mereka.
5) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan
melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
6) Kelompok mencocokan dan membahas hasil – hasil kerja mereka.
c. Keliling Kelompok
31Ibid, hlm. 88
67
Langkah – langkahnya :
1) Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan
memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang
mereka kerjakan.
2) Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
3) Demikian seterusnya. Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah
perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.
5. Think – Pair – Share
Langkah-langkah :
a) Thinking : guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran
untuk dipikirkan oleh peserta didik.
b) Pairing : guru meminta peserta didik berpasang – pasangan. Member
kesempatan kepada pasangan – pasangan untuk berdiskusi.
c) Sharing : hasil diskusi intersubjektif di tiap – tiap pasangan hasilnya
dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Dalam kegiatan ini
diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengkonstuksian
pengetahuan secara integratif.
6. Numbered Heads Together
Langkah – langkahnya :
a) Guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok kecil
b) Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap –
tiap kelompok. Pada kesempatan ini tiap – tiap kelompok menyatukan
kepalanya “ Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban.
c) Guru memanggil paserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap
– tiap kelompok dan memberi kesempatan untuk menjawab.
d) Guru mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik
dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.
7. The Power of Two
Langkah – langkahnya :
a) Ajukan pertanyaan yang membutuhkan pemikiran yang kritis.
b) Minta peserta didik menjawab pertanyaan yang diterimanya secara
perorangan.
68
c) Minta peserta didik mencari pasangan, dan masing – masing saling
menjelaskan jawabannya kemudian menyusun jawaban baru yang
disepakati bersama.
d) Membandingkan jawaban – jawaban tersebut dengan pasangan lain
sehingga paserta didik dapat mengembangkan pengetahuan yang lebih
integrative.
e) Buat rumusan – rumusan rangkuman sebagai jawaban – jawaban atas
pertanyaan yang telah diajukan. Rumusan tersebut merupakan konstruksi
atas keseluruhan pengetahuan yang telah dikembangkan selama diskusi.
8. Listening Team
Langkah-langkahnya :
a) Diawali dengan pemaparan meteri pembelajaran oleh guru.
b) Guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok dan setiap kelompok
memiliki peran masing – masing, misalnya:
Kelompok 1 : kelompok penanya
Kelompok 2 : kelompok penjawab dengan perspektif tertentu
Kelompok 3 : kelompok penjawab dengan perspektif yang berbeda
dari kelompok 2
Kelompok 4 : kelompok yang bertugas mereview dan membuat
kesimpulan dari hasil diskusi.
c) Munculkan diskusi yang aktif karena adanya perbedaan pemikiran
sehingga dikusi menjadi berkualitas.
d) Penyampaian berbagai kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan
oleh peserta didik dalam diskusi.32
32 Ibid, hlm 102-107.
69
BAB 4
Pembelajaran Tematik (Aktualisasi Model Pembelajaran Terpadu)
A. Konsep Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai
pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna
karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang
mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan
konsep lain yang sudah mereka pahami.33
Pembelajaran terpadu juga merupakan suatu pendekatan yang berorientasi
pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Pelaksanan pendekatan pembelajaran terpadu ini bertolak dari suatu topik atau
tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan anak.
Tujuan dari tema ini bukan untuk literasi bidang studi, akan tetapi konsep-konsep
dari bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana untuk mempelajari dan
menjelajahi topik atau tema tersebut.
B. Tahapan Perencanaan Pembelajaran Terpadu Model Webbed
Pada model ini guru menyajikan pembelajaran dengan tema dan sub tema
yang disepakati dan dihubungkan dengan antar pelajaran. Sehingga siswa
memperoleh pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari mata pelajaran
yang berbeda-beda. Menurut Tisno (1998) dalam pembelajaran terpadu model
webbed, pelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari pokok-pokok
bahasan dan sub-sub pokok bahasan dari beberapa mata pelajaran yang dijabarkan
dalam konsep, ketrampilan atau kemampuan yang dikembangkan dan didasarkan
atas situasi dan kondisi kelas/sekolah/guru dan lingkungan.34
Langkah-langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran jaring laba-laba
sebagai berikut :
33 Siti Aisyah, 2012. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Airlangga University Press. Hlm 54-55
34 Dermawan, Hendro, dkk. 2011. Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Gramedia. Hlm 11-12
70
1. Guru menyiapkan tema utama dan tema lain yang telah dipilih dari
beberapa standar kompetensi lintas mata pelajaran/bidang Studi.
2. Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih, misalnya tema
matematika, kesenian, bahasa dan IPS yang sesuai dengan tema utama
yang telah ditetapkan.
3. Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih luas.
4. Guru memilih konsep atau informasi yang bisa mendorong belajar siswa
dengan pertimbangan lain yang memang sesuai dengan prinsip-prinsip
pembelajaran terpadu.
Pada dasarnya pembelajaran terpadu model Webbed mengikuti tahap-tahap
yang dilakukan dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi 3 tahap yang
dapat dilihat dalam tabel berikut:
Perencanaan Pelaksanaan Kulminasi
1. Penjajagan tema (curah
pendapat)
2. Penetapan tema (analisis +
sintesis)
3. Pengembangan sub-tema
(analisis + sintesis, pembagian
tugas)
4. Penetapan kegiatan/ kontrak
belajar
1. Pengumpulan informasi
(kelompok, individual;
membaca sumber,
wawancara dengan nara
sumber, pengamatan
lapangan,
eksperimentasi)
2. Pengolahan informasi
71
(analisis, komparasi,
sintesis)
3. Penyusunan laporan
(verbal, grafis, model)
4. Penyajian laporan
(tertulis, lisan, unjuk
kerja; individual,
kelompok, presentasi,
dll)
5. Penilaian (proses,
produk)
C. Peranan Guru Dalam Pembelajaran TerpaduModel Webbed
Perana guru sebagi perencana dalam pembelajaran terpadu adalah guru
harus merencanakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya
bersama anak didik.35
1. Perencanaa tahunan,
Dalam perencanaan tahunan sudah ditetapka disusun kemampuan,
keterampilan dam pembiasan – pembiasaan yang diharapkan dicapai anak didik
dalam satu tahun.
2. Program semester,
Program semester adalh program tahunan yang dibagi menjadi dua yaitu
dalam dua semester.
3. Perencanaan mingguan (satuan kegiatan mingguan),
SKM berisi kegiatan – kegiatan dalam rangka mencapai kemampuan yang
telah direncanakan untuk satu minggu sesuai tema pada minggu tersebut.
4. Perencanaan harian (satuan kegiatan harian)
SKH merupakan perencanaan pembelajaran untuk setiap hari yang dibuat
oleh guru yang dijabarkan dari SKM.
35 Ibid,Hlm 17-20
72
Setelah perencanaan selesai disusun maka tugas guru selanjutnya adalah
melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif, sebaiknya Anda
perhatikan langkah – langkah berikut:
1. Kembangkan rencana yang telah anda susun dan perhatikan kejadian /
peristiwa spontan yang ditunjukkan oleh anak terhadap materi yang
dipelajari hari itu.
2. Melaksanakan penelitian terhadap minat dan pemahaman anak
mengenai tema tersebut dengan menggunakan pengamatan,
wawancara, diskusi kelompok maupun contoh hasil karya anak.
3. Bantu anak merefleksikan pemahamannya tentang isi dan proses
kegiatan pembelajaran.
4. Lakukan percakapan dengan anak tentang hal – hal yang berkaitan
dengan tema sehingga anda dapat mengetahui seberapa jauh
pemahaman anak terhadap tema tersebut.
5. Adakan kerjasama dengan orangtua secara timbal balik mengenai
kegiatan pembelajatan yang dilaksanakan.
6. Pada tahap pelaksaan ini kegiatan – kegiatan yang dapat dilakukan
antara lain:
7. Melaksanakn rencana pembelajaran yang telah dirancang pada tahap
sebelumnya.
8. Anak didik diorganisasikan berdasarkan pada jenis kegiatan yang akan
dilaksanakan.
9. Pada kegiatan pembukaan sebaiknya anak didik diorganisasikan secara
klasikal dengan tujuan menggiring dan mengkondisikan anak menuju
pada tema yang telah dipilih.
10. Pada kegiatan inti anak – anak dibagi menjadi beberapa kelompok
sesiau dengan kegiatan yang telag ditetapkan.
11. Pada akhir kegiatan, guru dapat mengajak anak didik mengunjungi
tempat yang sesuai tema, misalnya kebun bunga, kantor pos, rumah
sakit, dengan melibatkan orang tua anak didik.
73
12. Pada akhir kegiatan guru melakukan refleksi dengan mengajak anak-
anak berdiskusi dan meminta anak mengemukakan apa yang mereka
pelajari.
Guru melakukan penilaian terhadap proses kegiatan belajar dan penilaian
hasil kegiatan. Dalam penilaian proses kegiatan, guru melakukan penilaian
dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap cara belajar anak baik
secara individual maupun kelompok. Anda harus mencatat dan
mendokumentasikan hasil – hasil pengamatan tersebut secara cermat. Penilaian ini
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai oleh anak
secara individual maupun kelompok. Banyak peranan lain yang harus dilakukan
guru sebagai pendidik, pembimbing dan pelatih, diantaranya adalah sbb:
1. Korektor
Sebagai korektor guru harus bisa membedakan nilai yang baik dan mana nilai
yang buruk sehingga guru dapat menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah
laku, dan perbuatan anak didik.
2. Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi
kemajuan belajar anak didik. Pada peran ini guru harus dapat menuangkan ide-ide
atau gagasan-gagasan atau melakukan inovasi pembelajaran guna kemajuan
belajar dan perkembangan anak didik.
3. Informator
Guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi selain sejumlah materi yang telah di programkan sesuai kurikulum.
4. Organisator
Guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib
sekolah, menyusun kalender akademik.
5. Motivator
Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar lebih bersemangat dan
aktif dalam belajar.
6. Inisiator
74
Guru harus dapat berperan sebagai pencetus ide – ide kemajuan dalam
pendidikan dan pembelajaran.
7. Failitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang
memungkinkandan memudahkan kegiatan belajar anak didik, menyediakan
lingkungan belajar yang menyenangkan dan dapat membangkitkan anak didik
untuk melakukan eksplorasi.
8. Pembimbing
Bimbingan yang diberikan guru sebaiknya sesuai kebutuhan anak didik. Guru
harus melihat seberapa jauh anak memerlukan bimbingan dan bantuan.
9. Demonstrator
Dalam kegiatan pembelajaran tidak semua materi pelajaran dapat dipahami
anak didik mengingat kemampuan setiap anak berbeda-beda. Untuk materi yang
sulit dipahami anak didik, guru harus dapat memperaagakan sehingga dapat
membantu anak yang tidak memahami materi tersebut.
10. Pengelola kelas
Pengelolaan kelas menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.
11. Mediator
Sebagai mediator yaitu, peran guru sebagai penyedia media. Guru hendaknya
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan
dalam berbagai bentuk dan jenisnya.
12. Supervisor
Sebagai supervisor hendaknya guru dapat membantu, memperbaiki dan
menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran.
D. Contoh Persiapan Pembelajaran Terpadu (Tematik)
Didalam praktiknya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi cara guru
melaksanakan pembelajaran terpadu. Hal ini mengakibatkan terdapatnya beraneka
macam bentuk pelaksanaan pembelajaran terpadu. Ragam ini bisa ditentukan oleh
75
sifat materi, yang dipadukan cara memadukan materinya, perencanaan
pemaduannya, waktu pelaksanaannya, serta dilihat dari unsure pemicunya.36
Berikut akan diuraikan ragam bentuk implementasi pembelajaran terpadu:
1. Ditinjau dari sifat materi yang dipadukan
Jika ditinjau dari sifat materi yang dipadukan, maka sedikitnya ada dua macam
bentuk implementasi pembelajaran terpadu, yaitu :
(1) Pembelajaran terpadu intra bidang studi, dan
(2) Pembelajaran terpadu antar bidang studi
Pembelajaran terpadu dikatakan bersifat intra bidang studi jika yang
dipadukan adalah materi-materi (pokok bahasan, sub pokok bahasan, konsep, sub
konsep, ketrampilan atau nilai) dalam satu bidang studi. Suatu pembelajaran yang
memadukan materi pengukuran, rasio, pecahan, operasihitung, misalnya adalah
pembelajaran terpadu intra bidang studi matematika. Pembelajaran yang
memadukan ketrampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis misalnya,
adalah pembelajaran terpadu intra bidang Bahasa Indonesia.
Sementara itu, pembelajaran terpadu yang memadukan konsep, sub konsep,
pokok bahasan, sub pokok bahasan bidang studi yang satu dengan bidang studi-
bidang studi yang lainnya dikatakan pembelajaran terpadu antar bidang studi. Satu
pembelajaran yang memadukan Matematikadan IPA, misalnya dikatakansebagai
pembelajaran terpadu antar bidang studi Matematika dan IPA. Pembelajaran
terpadu juga bias terjadi antara IPA,IPS, Mtematika, dan Bahasa Inddonesia.
2. Ditinjau dari cara memadukan materinya
Didalam melaksanakan pembelajaran terpadu, guru terkadang masih
memperhatikan secara tegas batas-batas antara bidang studi dengan yang lain.
Namun kadang-kadang pula batas-batas antara mata pelajaran yang satu dengan
yang lain sudah sangat samar, hampir seperti tidak ada sekat yang membatasinya.
Dalam praktiknya, jika suatu tema sudah ditetapkan, maka guru bersama siswa
mengkaji tema tersebut dari sudut pandang masing-masing bidang studi.
Berdasarkan tema tersebut, guru (bersama siswa) menentukan unsur-unsur bidang
studi yang bias dipelajari tanpa harus ada tupang tindih dengan bidang studi yang
lain. Jika suatu tema sudah ditetapkan, misalnya “banjir”, siswa diajak
36 Dahar Ratna, 2013. Pembelajaran Terpadu. Bogor: Erlangga. Hlm 29-31
76
mempelajari aspek matematika, aspek IPA, aspek IPS dari banjir tersebut tanpa
memperhatikan keterkaitan antara apa yang dipelajari dalam Matematika, IPA,
dan IPS.
Sementara itu, bisa juga terjadi pembelajaran yang mengakibatkan siswa
harus memadukan secara utuh beberapa atau bahkan semua bidang studi. Siswa
tidak hanya dituntut untuk mengetahui aspek dari masing-masing bidang studi,
melainkan harus mengoperasikannya sedemikian rupa menjadi satu kesatuan yang
utuh. Umumnya hal ini terjadi dalam pembelajaran proyek.
3. Ditinjau dari perencanaan panduannya
Pembelajaran terpadu ada kalanya terjadi melalui proses perencanan yang
matang, namun ada kalanya pula terjadi secara spontan. Guru dapat merancang
sejak dari awal pembelajaran terpadu yang segala aktivitasnya diarahkan untuk
menciptakan keterpaduan. Guru dapat memilih tema yang dapat menjadi payung
untuk memadukan beberpa bidang studi serta menyusun kegiatan belajar
berdasarkan tema tersebut.
Ada kalanya guru tidak merencanakan secara matang keterpaduan antara
konsep satu dengan konsep yang lainnya, namun dalam proses belajar mengajar
guru dapat mengaitkan materi lain dengan materi yang sedang diajarkannya,
sehingga memungkinkan gurur untuk melaksanakan pembelajaran terpadu.
Misalnya dalam pembahasan konsep air di IPS dapat dikaitkan dengan konsep air
di IPA.
4. Dilihat dari waktu pelaksanaannya
Waktu pelaksanaan pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam. Ada
yang dilaksanakan pada waktu tertentu yaitu apabila materi yang diajarkan cocok
apabila diajarkan secara terpadu. Pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada
waktu tertentu dikatakan pembelajaran terpadu temporer yang jadwalnya tidak
teratur. Pembelajarn tersebut bersifat situasional. Ada juga yang pelaksanaannya
secara periodik, seperti pada akhir pekan, tengah semester, atau akhir semester.
Wwaktu pelaksanaannya telah dirancang secara pasti. Selain itu, pembelajarn
terpadu dapat juga dilaksanakan seharian penuh. Selama satu hari penuh siswa
belajar sesuai dengan yang diinginkannya. Oleh karena itu, tidak perlu heran
apabila dalam pembelajaran terpadu yang demikian siswa terlihat sibuk dengan
77
urusannya masing-masing. Pembelajarn yang demikian dikenal dengan integrated
day atau hari terpadu.
5. Dilihat dari unsur pemicu keterpaduan
Guru dapat menganalisis kurikulum yang ada untuk mencapai
keterpaduan. Seperti membuat peta konsep dan menemukan tema berdasarkan
konsep-konsep yang saling tumpamng tindih tersebut. Dan berdasarkan analisis
tersebut, guru menyusun program ppembelajarn terpadu yang memungkinkan.
Selain itu, guru juga dapat menciptakan tema terlebih dahulu, kemudian
berdasarkan tema yang telah dipilih guru menjalankan kegiatan belajar mengajar
yang memadukan bidang-bidang studi yang berkaitan.
78
BAB V
TEKNIK DAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
A. Pengertian teknik dan keterampilan mengajar
Teknik pembelajaran adalah siasat atau cara yang dilakukan oleh guru
dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar untuk dapat memperoleh hasil
yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang
digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik
Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan
metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan
penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.37
Istilah mengajar sering digandengkan dengan belajar, sehingga sudah
menjadi satu kalimat majemuk “kegiatan belajar mengajar” (KBM), proses
belajar mengajar (PBM) dan untuk menyebutkan kedua istilah tersebut, saat ini
disatukan dengan “pembelajaran”. Dengan demikian jika disebut “pembelajaran”
itu berarti menunjukkan proses kegiatan yang melibatkan 2 unsur yaitu belajar
dan mengajar. Mengajar merupakan kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh
guru, dosen, atau instruktur dalam mengatur dan mengelolah lingkungan belajar
untuk mendorong aktivitas belajar siswa atau pelajar. Sedangkan belajar
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa atau pelajar merespon lingkungan
belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Fokus pembahasan dalam tulisan
ini di arahkan pada unsur mengajar, kalaupun ada unsur belajar dibahas semata
hanya untuk mempertegas dan memperjelas pembahasan mengajar itu sendiri.
Mengajar (teaching) memiliki banyak pengertian, mulai dari pengertian
yang sudah lama (tradisional) sampai pada pengertian yang terbaru
(kontemporer). Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses
menyampaikan informasi atau pengetahuan dari guru, dosen, atau instruktur
37
S. Nasution. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara. 1995.
79
kepada siswa. Merujuk pada pengertian mengajar tersebut, inti dari mengajar
adalah proses menyampaikan (transfer) atau memindahkan. Memang dalam
mengajar ada unsur menyampaikan atau transfer dari guru, dosen, atau instruktur
kepada siswa. Akan tetapi pengertian memindahkan tersebut bukan seperti
seorang memindahkan air minum dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Air yang
dipindahkan dari satu cangkir ke cangkir yang lain volumenya akan tetap sama
bahkan karena mungkin terjadi proses penguapan, maka volume air yang
dipindahkan itu akan semakin berkurang (menyusut) dari keadaan sebelumnya.
Oleh karena itu mengajar yang diartikan proses menyampaikan (transfer),
maknanya adalah “menyebarluaskan/memperkaya” pengalaman belajar siswa
sehingga dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal.38
Makna lain dari pengertian mengajar sebagai proses menyampaikan, selain
upaya menyebarluaskan dan memperkaya pengalaman belajar siswa ialah
menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menanamkan satu pohon
mangga, maka kemudian akan menghasilkan beberapa cabang dan ranting dan
dari situlah keluar mangga yang banyak. Dari ilustraasi tersebut bahwa mengajar
sebagai proses transfer adalah menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan,
sehingga potensi berfikir (pengetahuan), sikap, keterampilan, kebiasaan dan
kecakapan yang dimiliki siswa akan berkembang secara optimal.
Perkembangan berikutnya pengertian mengajar, yang kini banyak dianut
yaitu suatu proses mengatur dan mengelola lingkungan belajar agar berinteraksi
dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Inti pengertian mengajar
(tradisonal maupun kontemporer) keduanya sama yaitu untuk mengubah perilaku
siswa, yakni dimiliki dan terkembangkannya pengetahuan/wawasan berfikir,
sikap, kebiasaan, dan keterampilan/kecakapan atau yang lebih populer perubahan
berkenaan dengan: pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perbedaanya terletak
pada proses upaya merubah tingkah laku tersebut. Pandangan lama melalui proses
menyampaikan (transfer) yang kadang-kadang sering diartikan sempit, hanya
terbatas sebagai proses menyampaikan atau memindahkan pengetahuan dan
keterampilan saja, sedangkan pada pengertian yang baru, bahwa perubahan
38 Amstrong. Supervisi Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta. 1992.
80
perilaku tersebut dilakukan dengan cara “mengelola lingkungan pembelajaran
agar berinteraksi dengan siswa”.
Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh
guru, dosen, atau instruktur, yaitu: 1) menguasai materi atau bahan ajar yang
diajarkan (what to teach), 2) menguasai metodelogi atau cara untuk
membelajarkannya (how to teach). Keterampilan dasar mengajar termasuk
kedalam aspek nomor 2, yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar
mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh setiap guru, dosen, atau
instruktur, karena mengajar bukan sekedar proses menyampaikan pengetahuan
saja, akan tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti: pembinaan sikap,
emosional, karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai.39
Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau
keterampilan yang khusus (most spesifis instructional behaviours) yang harus
dimiliki oleh guru, dosen, atau instruktur agar dapat melaksanakan tugas mengajar
secara efektif, efisien dan professional. Dengan demikan keterampilan dasar
mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang bersifat
mendasar dan melekat harus dimiliki dan diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen,
atau instruktur dalam melakasanakan tugasnya.40
B. Keterampilan dasar mengajar
1. Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses
komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas
proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari
keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui
keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di
kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses
39 A. Tabrani Rusyan dkk.. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Remaja Karya. 1990
40 Soetomo. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya, Usaha Nasional. 1993.
81
belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan
pengelolaan kelas dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif.
Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati dan
empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat
yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan.
Keterampilan bertanya dibedakan atas :
Keterampilan bertanya dasar : mempunyai beberapa komponen yang perlu
diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan,
Ketrampilan bertanya lanjut : lanjutan dari bertanya dasar yang
mengutamakan usaha pengembangan kemampuan berfikir siswa.
Tujuan-tujuan dalam memberikan pertanyaan adalah:
a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok
bahasan.
b. Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep.
c. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
d. Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
f. Mendorong siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi.
g. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa.
h. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar.
2. Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat
verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku
guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau
umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu
dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah
laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku
tersebut. Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau
mempunyai pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan
untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang dan
82
meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina
tingkah laku siswa yang produktif. Ketrampilan memberikan penguatan terdiri
dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh
mahasiswa calon guru agar dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan
sistematis. Komponen-komponen itu adalah : 41
Penguatan verbal : diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian,
penghargaan, persetujuan dan sebagainya.
Dan penguatan non-verbal : terdiri dari penguatan berupa mimik dan
gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan
(contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa
simbol atau benda dan penguatan tak penuh.
Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu
kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respons
yang negatif.
3. Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah memberikan respon yang bervariasi (berbeda atau
berganti-ganti). Melalui variasi stimulus ini dimaksudkan untuk menjaga agar
suasana pembelajaran selalu menarik, tidak membosankan, sehingga siswa selalu
menunjukkan sikap antusias, bergairah, penuh perhatian, dan selalu berpartisipasi
aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar
dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di
kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu :
1. Variasi dalam pola interaksi pembelajaran.
2. Variasi penggunaan media atau alat bantu pembelajaran.
3. Variasi penggunaan metode serta gaya mengajar.
4. Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan dasar mengajar menjelaskan dalam
pembelajaran ialah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang
41 Sukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Pasca sarjana UPIStrategi pembelajaran
fisikaBAHAN06 Keterampilan Dasar Gurumakalah ket das mengajar
83
diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu
bagian dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh
atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang
terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok, merupakan ciri
utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan suatu aspek yang
sangat penting dalam kegiatan seoang guru. Interaksi di dalam kelas cenderung
dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan baik oleh tenaga pendidik sendiri, oleh
tenaga pendidik dan peserta didik, maupun antar peserta didik. Adapun terdapat
komponen-komponen keterampilan dasar mengajar menjelaskan adalah sebagai
berikut:42
1. Komponen merencanakan
2. Penyajian suatu penjelasan
3. Pemberian tekanan
4. Penggunaan balikkan
Tujuan Keterampilan Menjelaskan
1. Membimbing peserta didik memahami materi yang dipelajari.
2. Melibatkan peserta didik untuk berpikir dengan memecahkan masalah-
masalah.
3. Memberi balikan kepada peserta didik mengenai tingkat pemahamannya,
dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
4. Membimbing peserta didik untuk menghayati dan mendapat proses
penalaran, serta menggunakan bukti-bukti dalam pmecahan masalah.
5. Menolong peserta didik untuk mendapatkan dan memahami hukum, dalil,
dan prinsip-prinsip umum secara objektif dan bernalar.
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha
atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk
menciptakan prakondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada
42 Wati, Widya. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi pembelajaranKaterampilan Dasar
Guru. 2010.
84
apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang
positif terhadap kegiatan belajar. Adapun tujuan membuka pelajaran antara lain,
yaitu :
1) menarik perhatian siswa;
2) menumbuhkan motivasi belajar siswa;
3) memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan
dilakukan.
Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan
oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Tujuan
kegiatan menutup pelajaran yaitu untuk memberikan gambaran yang menyeluruh
mengenai hasil belajar yang telah dikuasainya. Kegiatan-kegiatan dalam menutup
pelajaran misalnya : merangkum atau membuat garis besar permasalahan yang
dibahas, memberikan tindak lanjut, dan lain-lain.
6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan
sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai
pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah.
Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai
suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi
kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.
Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta
membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan
berbahasa.
7. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi
gangguan dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan keterampilan
mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen ketrampilan yang
berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
(bersifat prefentif) berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif
85
dan mengendalikan pelajaran, dan bersifat represif keterampilan yang berkaitan
dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud
agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi
belajar yang optimal.
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan
fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar
mencapai hasil yang baik. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan
siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk
memperoleh hasil yang diharapkan. Pengelolaan kelas tidak hanya berwujud
pengaturan ruangan dan tempat duduk,akan tetapi juga dalam bentuk interaksi
yang baik dengan siswa, dan penciptaan hubungan guru dan siswa, dan hubungan
antara siswa yang baik. Perwujudan pengelolaan kelas yang baik adalah
terciptanya kondisi yang optimal untuk proses belajar-mengajar yang efektif.
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar
antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan.
Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan
perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara
guru dan siswa dengan siswa.
Komponen keterampilan yang digunakan adalah :43
keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi,
keterampilan mengorganisasi,
keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, dan
keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Pentingnya Keterampilan Dasar Mengajar Guru
Menurut UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terutama Pasal
1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
43 Darmaji, Hamid. 2010. Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Cet. Ke-2
86
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Sementara itu, tenaga pendidik adalah pendidik profesional
dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan munculnya UU ini
guru/dosen sudah diakui sebagai tenaga professional setara dengan profesi lain.
Yang dimaksud profesional di sini adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma
tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Karena sebagai tenaga profesional, maka seorang pendidik harus
mempunyai kompetensi tertentu disyaratkan. Kompetensi yang dimaksud adalah
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan. Menurut UU seorang pendidik harus mempunyai empat
kompetensi, yaitu pedagogis, kepribadian, sosial, dan professional.
Kompetensi pedagogis adalah kemampuan seorang pendidik mengelola
pembelajaran peserta didik, kompetensi kepribadian adalah kemampuan
kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi
teladan peserta didik, kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama pendidik,
teman sejawat, dan masyarakat sekitar, sementara kompetensi profesional adalah
kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Secara
eksplisit empat kompetensi ini agaknya hanya ditekankan bagi seorang guru,
namun sebenarnya juga berlaku bagi seorang dosen. Bahwa siapa pun yang akan
menjadi tenaga pendidik, dosen ataupun guru, seharusnya mempunyai empat
kompetensi di atas.
Setiap tenaga pendidik harus mempunyai kemampuan menyampaikan
materi yang dimiliki kepada peserta didik secara tepat. Untuk itu, pemahaman
tentang konsep pendidikan, belajar dan psikologi orang dewasa perlu dimiliki
seorang tenaga pendidik. Sebab, kita mungkin sering mendengar ada seorang
tenaga pendidik yang sangat diakui keilmuannya namun ketika mengajar di kelas
87
sama sekali tidak dipahami oleh peserta didik. Ada dua kemungkinan yang
menyebabkan hal ini, yaitu peserta didik yang di bawah standar atau tenaga
pendidik yang tidak memahami audiens. Dalam ilmu pendidikan, kemungkinan
yang kedua lebih menjadi penyebab utama. Bahwa seorang tenaga pendidik
seharusnya lebih mengenal peserta didik dan tahu cara bagaimana menyampaikan
materi secara tepat.
Bertolak dari kasus tersebut, sudah seharusnya seorang tenaga pendidik
dan calon tenaga pendidik mempunyai kemampuan pedagogis agar apa yang
disampaikan di kelas dapat dipahami oleh peserta didik yang pada akhirnya dapat
mencerahkan mereka. Kemampuan pedagogis yang dimaksud di sini antara lain
terkait dengan metode pembelajaran, teknik mengelola kelas, menggunakan
media, teknik mengevaluasi sampai melakukan refleksi proses pembelajaran.
Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa mengajar adalah bukan sekedar
proses penyampaian atau penerusan pengetahuan. Mengajar merupakan suatu
proses yang kompleks, yaitu penggunaan secara `integratif sejumlah keterampilan
untuk menyampaikan pesan.
Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud dilandasi oleh
seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan. Sedangkan aplikasinya
secara unik dalam arti secara simultan dipengarhi oleh semua komponen belajar-
mengajar. Komponen yang dimaksud yaitu tujuan yang ingin dicapai, pesan yang
ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, serta yang tidak
pentingnya keterampilan, kebiasaan serta wawasan tentang diri dan misi seorang
guru/dosen sebagai pendidik.
Kompetensi dasar mengajar dalam tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai
pengetahuan dasar pembelajaran yang perlu dipahami seorang tenaga pendidik.
Sebagai sebuah kemampuan minimal, maka seorang tenaga pendidik harus
mampu melakukan inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran. Terlebih bahwa
jika yang dihadapi adalah manusia dewasa yang sudah mempunyai pengetahuan
dan kemandirian berpikir meskipun masih perlu pendampingan dan mitra belajar.
Untuk itu, semangat terus belajar dan menambah wawasan tentang kependidikan
harus dilakukan seorang tenaga pendidik, apa pun pelajaran/matakuliah yang
88
diampu dan apa pun latar belakang pendidikannya, termasuk tenaga pendidik
yang berlatar belakang kependidi.44
44 Wati, Widya. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi pembelajaranKaterampilan Dasar
Guru. 2010.
89
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pusaka
Setia, 2003, hal 47.
Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004, hal
http://wordnetweb.princeto.edu/perl/webwn?s=strategy.Online,07,maret,20
11.
Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004, hal
63.
Amstrong. 1992. Supervisi Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta.
A.Tabrani Rusyan dkk. 1990. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar,
Jakarta, Remaja Karya.
Darmaji, Hamid. 2010. Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Cet.
Ke-2
Dedi Supriawan dan A Benyamin Surasega.1999.Strategi Belajar
Mengajar.Bandung:FPTK-IKIP Bandung.
Mulyasa.2004.Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran
KBK.Bandung; PT.Remaja Rosdakarya
Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar
Berkelompok, (Bandung : Alfabeta, 2009), hlm 25.
Lie, A, Cooperative Learning, Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang-
ruang Kelas. (Jakarta : Grasindo, 2007), hlm 68.
Masitoh & Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, Jakarta: DEPAG RI, 2009, hal
37.
Mudjiono Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),
hlm 79.
Ngalimun, dkk..2015.strategi dan model pembelajaran. Yogyakarta;Aswaja
Pressindo.
90
Paturrohmah, Pupuh dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, Bandung:
Refika Aditama, 2007, hal 46.
Rosdayana, Dede.2004. Paradigma Pendidikan Demokratis:Jakarta.Kencana.
Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik, (Bandung : Nusa
Media, 2008), hlm 107.
S. Nasution. 1995. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya, Usaha
Nasional.
Sukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Pasca sarjana
UPIStrategi pembelajaran fisikaBAHAN06 Keterampilan Dasar
Gurumakalah ket das mengajar
S. Nasution. 1995. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara.
Wati, Widya. 2010. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi
pembelajaranKaterampilan Dasar Guru

Strategi_pembelajaran.docx

  • 1.
  • 2.
    2 STRATEGI PEMBELAJARN Disusun Oleh: Nurmasari (1411060361) NurulWahidah (1411060364) Meyshi Dwi Astute (1411060337) Merlis Susanti (1411060342) Oktaviana (1411060365) Sunandar Alam.M (1411060329)
  • 3.
    3 STRATEGI PEMBELAJARAN Penulis:Biologi F Kel.2.SemVI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN RADEN INTAN LAMPUNG 2017 STRATEGI PEMBELAJARAN
  • 4.
    4 UIN RADEN INTANLAMPUNG Dosen pengampu: Laila Puspita, M.Pd Penulis: Biologi F Sem VI.Kel 2(nurma,nurul w,merlis, meishi, okta,dan sunandar) Desain Cover: Nurmasari Konsep Desain: Nurmasari Copyright @ 2017
  • 5.
    5 KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr.wb Pujisyukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan karunia,taufik dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan buku yang berjusul “strategi pendidikan.” Dalam penyusunan Buku ini ditulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Laila Puspita M,Pd. Selaku dosen pengampu strategi pembelajaran.dan penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara materi maupun moril dalam pembuatan buku ini. Buku ini kami susun untuk memenuhi tugas UAS strategi pembelajaran. Di dalam buku ini terdapat beberapa strategi yang dapat melibatkan siswa atau mahasiswa dalam proses pembelajaran. Buku ini dapat dijadikan pegangan oleh dosen, guru atau siapa saja yang bergerak dalam bidang pembelajaran. Harapan penulis, mudah-mudahan buku ini dapat memberikan bimbingan sesuai dengan tugas yang diemban oleh guru, yakni mengajar dan mendidik. Keterbatasan yang ada pada diri penulis menyebabkan kurang sempurnanya buku ini. Oleh karena itu, demi penyempurnaannya penulis selalu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kedepannya. Dan semoga bermanfaat untuk pembaca. Wassalamualaikum wr.wb Penulis
  • 6.
    6 Strategi pembelajaran aftar isi KATA PENGANTAR DAFTARISI BAB I KONSEP DAN HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN A. Pengertian strategi pembelajaran 1 B. Istilah strategi pembelajaran 8 C. Sasaran kegiatan pembelajaran 11 D. Tahapan kegiatan pembelajaran 19 BAB II KLASIFIKASI DAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN A. Klasifikasi strategi pembelajaran 20 B. Strategi pembelajaran langsung 25 C. Strategi pembelajaran tidak langsung 29 D. Strategi pembelajaran interaktif 31 E. Strategi pembelajaran empiric 36 F. Strategi pembelajaran mandiri 36 G. Pemilihan strategi pembelajaran 45 BAB III STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF A. Pengertian pembelajaran kooperatif 46 B. Tujuan dan manfaat model pembelajaran kooperatif 47 C. Cirri-ciri pembelajaran kooperatif 49
  • 7.
    7 D. Keunggulan danpembelajaran kooperatif 52 E. Metode pembelajaran kooperatif 56 BAB IV PEMBELAJARAN TEMATIK (Aktualisasi Model Pembelajaran Terpadu) A. Konsep pembelajaran terpadu 61 B. Tahapan perencanaanpembelajaran terpadu model webbed 63 C. Contoh persiapan pembelajaran terpadu (tematik) 66 BAB V TEKNIK DAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR A. Pengertian dan keterampilan dasar mengajar 70 B. Keterampilan dasar mengajar 72 DAFTAR PUSTAKA
  • 8.
    8 BAB I Konsep danHakikat Strategi Pembelajaran A. Pengertian Strategi Pembelajaran Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal. Jadi strategi pembelajaran sebagai sebuah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Adapun definisi strategipembelajaran secara umum adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anakdidik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Berikut pengertian pembelajaran menurut para ahli : 1. Sanjaya, Wina (2007) pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Sifat pola umum maksudnya macam dan urutan perbuatan yang dimaksud nampak dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam peristiwa belajar. Sehingga strategi menunjuk kepada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru-peserta didik di dalam peristiwa belajar-mengajar. 2. Gerlach dan Ely (1990): Strategi merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya mereka menjabarkan bahwa strategi pembelajaran dimaksudkan meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. 3. Gropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998): Strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Mereka menegaskan bahwa setiap
  • 9.
    9 tingkah laku yangdiharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktekkan. 4. Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya, 2007): Strategi Pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran bukan hanya sebatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. 5. Sadiman, dkk (1986) dalam bukunya Warsita (2008: 266): Strategi pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik. 6. Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1995): Strategi pembelajaran adalah sebagai pola-pola umum kegiatan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.1 Dari berbagai pendpat yang diungkapkan oleh para ahli dapat diambil garis besarnya bahwa strategi pembelajaran adalah suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaat berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. B. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran Menurut Sanjaya (2007 : 177 – 286) ada beberapa strategi pembelajaran yang harus dilakukan oleh seorang guru: 1. Strategi pembelajaran ekspositori Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru. Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajran 1 Ngalimun, dkk, Strategi dan Model Pembelajaran, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2015, Hal 32-35
  • 10.
    10 yang berorientasi kepadaguru, dikatakan demikian sebab dalam strategi ini guru memegang peranan yang sangat penting atau dominan. a) keunggulan  Keunggulan strategi pembelajaran ekspositori, dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.  Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.  Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).  Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi ekspositori ini dilakukan melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Karena itu sebelum strategi ini diterapkan terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur. Hal ini sangat penting untuk dipaham, karena tujuan yang spesifik memungkinkan untuk bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran. b) kelemahan  Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik, untuk siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi yang lain.  Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
  • 11.
    11  Karena strategilebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.  Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi) dan kemampuan mengelola kelas, tanpa itu sudah pasti proses pembelajaran tidak mungkin berhasil. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa secara umum tidak ada satu strategi pembelajaran yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang lain, baik tidaknya suatu strategi pembelajaran isa dilihat dari efektif tidaknya strategi tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. 2. Strategi pembelajaran inquiry Pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristik, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”. Strategi pembelajaran inquiry merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa keunggulan dan kelemahan dari strategi pembelajaran inquiry, yaitu: a) Keunggulan / Kelebihan Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry)  Strategi pembelajara inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.  Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  • 12.
    12  Strategi pembelajaraninquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.  Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar baik tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. b) Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiry)  Jika strategi pembelajaran inquiry sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit terkontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.  Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentuk dengan kebiasaan siswa dalam beljar.  Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.  Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inquiry akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inquiry ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung, peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan membimbing siswa untuk belajar. 3. Strategi pembelajaran berbasis masalah Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Di dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ini terdapat 3 ciri utama; Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
  • 13.
    13 Kedua, aktivitas pembelajarandiarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas. a) Keunggulan  Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.  Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.  Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.  Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.  Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.  Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.  Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus
  • 14.
    14 dipecahkan. Pada tahapanini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa, pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. b) Kelemahan  Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.  Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.  Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. 4. Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Dalam pembelajaran ini materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, akan tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa. Dari pengertian di atas terdapat beberapa hal yang terkandung di dalam strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir. Pertama, strategi pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, artinya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah bukan sekedar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal Kedua, telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan dasar pengembangan kemampuan berpikir, artinya pengembangan gagasan dan ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan berdasarkan kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan
  • 15.
    15 mereka terhadap berbagaifakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, sasaran akhir strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan taraf perkembangan anak. 5. Strategi Pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yaitu: a) Adanya peserta dalam kelompok, b) Adanya aturan kelompok, c) Adanya upaya belajar setiap kelompok, dan d) Adanya tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen), sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.2 C. Istilah Terkait Dengan Strategi Pembelajaran Dalam konteks pembelajaran, ada beberapa istilah yang terkait dengan strategi pembelajaran. istilah tersebut meliputi pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pebelajaran, dan taktik pembelajaran. Kelima hal tersebut memiliki peranan penting demi tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal. 1. Pendekatan pembelajaran. 2 Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung, 1999. Hal 134
  • 16.
    16 Pendekatan dalam pembelajarandiartikan sebagai cara pandang kita terhadap proses pembelajaran yang mengacu pada pandangan kita tentang suatu yang bersifat umum. Pendekatan dalam pembelajaran ini dibagi menjadi dua yakni: a). Pendekatan yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan b). Pendekatan yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Kedua pendekatan dalam pembelajaran ini bisa menjadi cikal bakal munculnya model pembelajaran yang nantinya akan digunakan oleh seorang pendidk. Pendekatan yang berorientasi atau berpussat pada siswa akan melahirkan model pembelajaran discoveri (discovery learning), model pembelajaran inkuiri (inquiry based learning), model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Sedangkan pendektan yang berorientasi atau berpusat pada guru akan melahirkan model pengajaran langsung (direct instruction) dan model deduktif dan ekspositori (deductive approach). 2. Metode Pembelajaran. Dalam arti sempit, strategi pembelajaran sama dengan metode pembelajaran yaitu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Metode adalah segala upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai secara optimal. metode ini berhubungan erat dengan strategi pembelajaran. Jika strategi itu dapat dinyatakan dalam bentuk perencanaan, maka metode itu adalah bagaimana seorang guru melaksanakan strategi pembelajaran atau melaksanakan rencana-rencana yang disusun dalam strategi pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, suatu strategi pembelajaran dapat dilaksanakan denan berbagai metode pembelajaran. 3. Teknik Pembelajaran. Teknik dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai cara khas yang dilakukan oleh seorang pendidik dalam rangka mengimplementasikan metode pembelajaran. Teknik yang bisa dilakukan oleh seorang pendidik,
  • 17.
    17 misalnya menggabungkan metodeceramah dengan metode diskusi dalam pembelajaran, atau mungkin mengkombinasikan metode belajar inquiri dengan metode tanya jawab. 4. Taktik Pembelajaran. Taktik dalam pembelajaran diartikan sebagai gaya seorang pendidik dalam melaksanakan teknik atau metode tertentu dalam proses pembelajaran. Taktik lebih bersifat khas individual. Setiap guru memiliki cara khas yang berbeda satu dengan lainnya dalam melakukan taktik pembelajaran. Misalnya dua orang pendidik yang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama tetapi teknik dan taktik yang diterapkannya tidak mungkin sama persis. perbedaannya bisa terlihat pada teknik memanfaatkan alat bantu dan taktik menggunakan ilustrasi ataupun gaya bahasa pengantar yag dipakai agar materi ceramahnya menjadi menarik dan mudah dipahami. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
  • 18.
    18 Di luar istilah-istilahtersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
  • 19.
    19 D. Sasaran StrategiPembelajaran Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang, mulai dari yang sangat operasioanal dan konkret takni tujuan pembelajaran khusus, tujuan pembelajaran umum, tujuan kurikuler dan tujuan nasioanl sampai pada tujuan yang bersifat universal. Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenal sasaran akhir kegiatan belajar mengajar akan memengaruhi persepsi mereka terhadap “sasaran antara” dan sasaran kegiatan”. Sasaran itu harus diterjemahkan ke dalam cirri-ciri perilaku kepribadian yang didambakan. Belajar mengajar sebagai suatu system instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk menvapai tujuan. Sebagai suatu system, belajar mengajar meliputi sejumlah komponen, antara lain tujuan pelajaran : bahan ajar, siswa yang menerima pelayanan belajar; guru; metode dan pendekatan;situasi; dan evaluasi kemajuan belajar. Agar tujuan itu dapat tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan dengan baik sehingga diantara komponen itu terjadi kerja sama. Secara khusus, dalam proses belajar engajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti : a. Kecerdasan dari bakat khusus b. Prestasi sejak permulaan sekolah c. Perkembangan jasamani dan kesehatan d. Kecenderungan emosi dan karakternya e. Sikap dan minat belajar f. Cita-cita g. Kebiasaan belajar dan bekerja h. Hobi dan pengunaan waktu senggang i. Hubungan social disekolah dan dirumah j. Latar belakang keluarga k. Lingkungan tempat tinggal l. Sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik
  • 20.
    20 Usaha untuk memahamianak didik ini bias dilakukan melalui evaluasi, selain itu guru mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar para siswa kepada kepala sekolah, orang tua , serta instansi yang terkait. E. Tahapan Kegiatan Pembelajaran Pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase proses pembelajaran yang dimaksud meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Adapun dari ketiganya ini akan dibahas sebagaimana berikut: a) Tahap Perencanaan. Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang optimal dalam pembelajaran. Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran. Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode yang akan di gunakan.3 Dalam konteks desentralisasi pendidikan seiring perwujudan pemerataan hasil pendidikan yang bermutu, diperlukan standar kompetensi mata pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks lokal, nasional dan global.Secara umum guru itu harus memenuhi dua kategori, 3 Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit,Hlm.91.
  • 21.
    21 yaitu memiliki capabilitydan loyality, yakni guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas- tugas keguruan yang tidak semata di dalam kelas, tapi sebelum dan sesudah kelas.4 Agama islam sebagai bidang studi, sebenarnya dapat diajarkan sebagaimana mata pelajaran lainnya. Harus dikatakan memang ada sedikit perbedaannya dengan bidang studi lain. Perbedaan itu ialah adanya bagian- bagian yang amat sulit diajarkan dan amat sulit dievaluasi. Jadi, perbedaan itu hanyalah perbedaan gradual, bukan perbedaan esensial. Beberapa prinsip yang perlu diterapkan diterapkan dalam membuat persiapan mengajar : 1. Memahami tujuan pendidikan. 2. Menguasai bahan ajar. 3. Memahami teori-teori pendidikan selain teori pengajaran. 4. Memahami prinsip-prinsip mengajar. 5. Memahami metode-metode mengajar. 6. Memahami teori-teori belajar. 7. Memahami beberapa model pengajaran yang penting. 8. Memahami prinsip-prinsi evaluasi. 9. Memahami langkah-langkah membuat lesson plan. Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : 1. Analisis Hari Efektif dan analisis Program Pembelajaran 4 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2004, hlm. 112.
  • 22.
    22 Untuk mengawali kegiatanpenyusunan program pembelajaran, guru perlu membuat analisis hari efektif selama satu semester. Dari hasil analisis hari efektif akan diketahui jumlah hari efektif dan hari libur tiap pekan atau tiap bulan sehingga memudahkan penyususnan program pembelajaran selama satu semester. Dasar pembuatan analisis hari efektif adalah kalender pendidikan dan kalender umum. Berdasarkan analisis hari efektif tersebut dapat disusun analisis program pembelajaran. a) Membuat Program Tahunan, Program Semester dan Program Tagihan Program Tahunan. Penyusunan program pembelajaran selama tahun pelajaran dimaksudkan agar keutuhan dan kesinambungan program pembelajaran atau topik pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam dua semester tetap terjaga. Program Semester. Penyusunan program semester didasarkan pada hasil anlisis hari efektif dan program pembelajaran tahunan. Program Tagihan. Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, tagihan merupakan tuntutan kegiatan yang harus dilakukan atau ditampilkan siswa. Jenis tagihan dapat berbentuk ujian lisan, tulis, dan penampilan yang berupa kuis, tes lisan, tugas individu, tugas kelompok, unjuk kerja, praktek, penampilan, atau porto folio. 2. Menyusun Silabus Silabus diartikan sebagai garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok- pokok isi atau materi pelajaran. Silabus merupakan penjabaran dari standard kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai standard kompetensi dan kompetensi dasar. 3. Menyusun Rencana Pembelajaran
  • 23.
    23 Kalau penyusunan silabusbisa dilakukan oleh tim guru atau tim ahli mata pelajaran, maka rencana pembelajaran seyogyanya disusun oleh guru sebeleum melakukan kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran bersifat khusus dan kondisional, dimana setiap sekolah tidak sama kondisi siswa dan sarana prasarana sumber belajarnya. Karena itu, penyusunan rencana pembelajaran didasarkan pada silabus dan kondisi pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sesuai harapan. 4. Penilaian Pembelajaran Penilaian merupakan tindakan atau proses untuk menentukan nilai terhadap sesuatu. Penilaian merupakan proses yang harus dilakukan oleh guru dalam rangkaian kegiatan pembelajaran. Prinsip penilaian antara lain Valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh, bermakna. b) Tahap Pelaksanaan Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap penerapan atas desain perencanaan yang telah dibuat guru. Hakikat dari tahap pelaksanaan adalah kegiatan operasional pembelajaran itu sendiri. Dalam tahap ini, guru melakukan interaksi belajar-mengajar melalui penerapan berbagai strategi metode dan tekhnik pembelajaran, serta pemanfaatan seperangkat media.5 Dalam proses ini, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh seorang guru, diantaranya ialah: 1. Aspek pendekatan dalam pembelajaran Pendekatan pembelajaran terbentuk oleh konsepsi, wawasan teoritik dan asumsi-asumsi teoritik yang dikuasai guru tentang hakikat pembelajaran. Mengingat pendekatan pembelajaran bertumpu pada aspek-aspek dari masing- masing komponen pembelajaran, maka dalam setiap pembelajaran, akan 5 Dermawan, Hendro, dkk. 2011. Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Gramedia. Hlm 10
  • 24.
    24 tercakup penggunaan sejumlahpendekatan secara serempak. Oleh karena itu, pendekatan-pendekatan dalam setiap satuan pembelajaran akan bersifat multi pendekatan. 2. Aspek Strategi dan Taktik dalam Pembelajaran Pembelajaran sebagai proses, aktualisasinya mengimplisitkan adanya strategi. Strategi berkaitan dengan perwujudan proses pembelajaran itu sendiri. Strategi pembelajaran berwujud sejumlah tindakan pembelajaran yang dilakukan guru yang dinilai strategis untuk mengaktualisasikan proses pembelajaran. Terkait dengan pelaksanaan strategi adalah taktik pembelajaran. Taktik pembelajaran berhubungan dengan tindakan teknis untuk menjalankan strategi. Untuk melaksanakan strategi diperlukan kiat-kiat teknis, agar nilai strategis setiap aktivitas yang dilkukan guru-murid di kelas dapat terealisasi. Kiat-kiat teknis tertentu terbentuk dalam tindakan prosedural. Kiat teknis prosedural dari setiap aktivitas guru-murid di kelas tersebut dinamakan taktik pembelajaran. Dengan perkataan lain, taktik pembelajaran adalah kiat-kiat teknis yang bersifat prosedural dari suatu tindakan guru dan siswa dalam pembelajaran aktual di kelas.6 3. Aspek Metode dan Tekhnik dalam Pembelajaran Aktualisasi pembelajaran berbentuk serangkaian interaksi dinamis antara guru-murid atau murid dengan lingkungan belajarnya. Interaksi guru- murid atau murid dengan lingkungan belajarnya tersebut dapat mengambil berbagai cara. Cara-cara interaksi guru-murid atau murid dengan lingkungan belajarnya tersebut lazimnya dinamakan metode. Metode merupakan bagian dari sejumlah tindakan strategis yang menyangkut tentang cara bagaimana interaksi pembelajaran dilakukan. 6 Siti Kusrini.dkk, op.cit, hlm. 130-139.
  • 25.
    25 Metode dilihat darifungsinya merupakan seperangkat cara untuk melakukan aktivitas pembelajaran. Ada beberapa cara dalam melakukan aktivitas pembelajaran, misalnya dengan berceramah, berdiskusi, bekerja kelompok, bersimulasi dan lain-lain. Setiap metode memiliki aspek teknis dalam penggunaannya. Aspek teknis yang dimaksud adalah gaya dan variasi dari setiap pelaksanaan metode pembelajaran 4. Prosedur Pembelajaran Pembelajaran dari sisi proses keberlangsungannya, terjadi dalam bentuk serangkaian kegiatan yang berjalan secara bertahap. Kegiatan pembelajaran berlangsung dari satu tahap ke tahap selanjutnya, sehingga terbentuk alur konsisten. Tahapan pembelajaran yang konsisten yang berbentuk alur peristiwa pembelajaran tersebut merupakan prosedur pembelajaran. c) Tahap Evaluasi Pada hakekatnya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan memberikan pengaruh dalam dua bentuk: 1. Peserta akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas perilaku yang diinginkan; 2. Mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah laku yang diinginkan.7 Pada tahap ini kegiatan guru adalah melakukan penilaian atas proses pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi adalah alat untuk 7 E. Mulyasa,Implementasi Kurikulum2004 Panduan Pembelajaran KBK, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004, Hlm.169.
  • 26.
    26 mengukur ketercapaian tujuan.Dengan evaluasi, dapat diukur kuantitas dan kualitas pencapaian tujuan pembelajaran. Sebaliknya, oleh karena evaluasi sebagai alat ukur ketercapaian tujuan, maka tolak ukur perencanaan dan pengembangannya adalah tujuan pembelajaran. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, Moekijat (seperti dikutip Mulyasa) mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai berikut: 1) Evaluasi belajar pengetahuan, dapat dilakukan dengan ujian tulis, lisan, dan daftar isian pertanyaan; 2) Evaluasi belajar keterampilan, dapat dilakukan dengan ujian praktek, analisis keterampilan dan analisis tugas serta evaluasi oleh peserta didik sendiri; 3) Evaluasi belajar sikap, dapat dilakukan dengan daftar sikap isian dari diri sendiri, daftar isian sikap yang disesuaikan dengan tujuan program, dan skala deferensial sematik (SDS). Apapun bentuk tes yang diberikan kepada peserta didik, tetap harus sesuai dengan persyaratan yang baku, yakni tes itu harus: 1. Memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau dinilai, terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang telah dikaji); 2. Mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh seorang peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama); 3. Menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur, disamping perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan maksud tes); 4. Pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis.8 8 Ibid, Hlm. 171.
  • 27.
    27 BAB II KLASIFIKASI DANDAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN A. Klasifikasi Strategi Penbelajaran 1).Pengertian Strategi Pembelajaran Strategi berasal dari bahasa yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha untuk mencapai suatu kemenangan dalam suatu peperangan awalnya digunakan dalam lingkungan militer namun istilah strategi digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dalam istilah strategi pembelajaran. Menurut J.R David (1976) strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sementara itu dick and Carey (1985) berpendapat bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar siswa/peserta latih. Pendapat dari moedjiono (1993) strategi pembelajaran adalah kegiatan guru untuk memikirkan dan mengupayakan terjadinya konsisiten antara aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem pembelajaran, dimana untuk itu guru menggunakan siasat tertentu. Merujuk dari beberapa pendapat diatas strategi pembelajaran dapat dimaknai secara sempit dan luas. Secara sempit strategi mempuanyai kesamaan dengan metoda yang berarti cara untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara luas strategi dapat diartikan sebagai suatu cara penetakapan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, teramasuk perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.9 9 Dahar Ratna, 2013. Pembelajaran Terpadu. Bogor: Erlangga. Hlm 20
  • 28.
    28 Pada mulanya istilahstrategi digunakan dalam dunia militer dan diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yangb erperang dalam mengatur strategi, untuk memenagkan peperangan sebelum melakukan tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakannya yang harus dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik dan teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk melakukan serangan. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Istilah strategi, sebagaimana banyak istilah lainnya, dipakai dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Didalam konteks belajar mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik didalam perwujudan kegiatan balajar-mengajar. Sifat umum pola tersebut berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak dipergunakan atau dipercayakan guru dan peserta didik didalam macam-macam peristiwa belajar. Dengan demikian maka komsep strategi dalam hal ini merujuk pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru dan peserta didik didalam peristiwa belajar-mengajar. Implisit dibalik karakteristik abstrak itu adalah rasional yang membedakans trategi yang satu dari strateegi yang lain secara fundamental. Istilah lain yang yang juga dipergunakan untuk maksud ini adalah model-model mengajar. Sedangkan rentetan perbuatan guru-peserta didik dalam suatu peristiwa belajar-mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur instruksional. Setelah mencermati konsep strategi pembelajaran, kita perlu mengkaji pula tentang istilah lain yang erat kaitannya dengan strategi pembelajaran dan memiliki keterkaitan makna yaitu pendekatan, metoda, dan teknik. a. Pendekatan pembelajaran adalah suatu cara pandang dalam melihat dan memahami situasi pembelajaran. Terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centred approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centred approach)
  • 29.
    29 b. Metode pembelajaranadalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan bahan agar tujuan atau kompetensi dasar tercapai. Strategi pembelajaran berbeda dengan desain instruksional karena strategi pembelajaranberkenaandengankemungkinanvariasi poladalamarti macam danurutan umum perbuatan belajr-mengajar yang secar prinsip berbeda antara yang satu dengan yang lain, sedangkan desain instruksional menunjuk pada cara-cara merencanakan sesuatusistemlingkunganbelajartertentu,setelahditetapkanuntukmenggunakansatu atau lebihstrategi pembelajarantertentu.Kalaudisejajarkan dalam pembuatan rumah, pembicaraantentang(bermacam-macam)strategi pembelajaran adalah ibarat melacak berbagai kemungkinan macam rumah yang akan dibangun, sedangkan desain instruksional adalah penetapan cetak biru rumah yang akan dibangun itu serta bahan- bahan yang diperlukan dan urutan langkah-laangkah konstruksinya maupun kreterian penyelesaiandari tahapke tahap sampai denganpenyelesaianakhir,setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibuat.10 2)..Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Menurut Mansur (1991) terdapat empat konsep dasar strategi pembelajaran: 1. Mengidentifikasikan serta menetapkan tingkah laku dari kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan sesuai tuntutan dan perubahan zaman. 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem belajar mengajar yang tepat untuk mencapai sasaran yang akurat. 3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belaajr mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam menunaikan kegiatan mengajar. 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.[3] 10 Ibid.hal 21
  • 30.
    30 3).Pengelompokan Strategi Pembelajaran Dalamhal ini ada dua pengelompokan yaitu pengelompokan dari Gagne dan Briggs dan pengelompokan menurut Bruce Joyce dan Marsha Weil. 1.Pengelompokan Gagne dan Briggs Kedua pakar ini mengelompokan strategi pengajaran menurut dasarnya menjadi lima macam: a.Pengaturan Guru Dan Peserta Didik b.Struktur Even Dan Pengajaran c.Peranan Guru-Peserta Didik Dalam Mengolah Pesen d.Proses Pengolahan Pesan e.Tujuan-Tujuan Belajar 2.Pengelompokan Bruce Joyce dan marsha Weil Pengelompokan ini lebih komprehinsif dibandingkan dengann pengelompokan Gagne dan Briggs sebagai mana yang diuraikan didepan. Bruce Joyce dan Marsha Weil mengemukakan empat klasifikasi model-model pengajaran/mengajar: a.Klasifikasi Model-Model Interaksi Sosial b.Klasifikasi Model-Model Pengolahan Informasi c.Klasifikasi Model-Model Personal-Humanistik d.Klasifikasi Model-Model Modifikasi Tingkah Laku. 4).Variabel-Variabel Strategi Pembelajaran 1.Tujuan dan Bahan Pelajaran Belajar terjadi pada situasi tetentu, yang berbeda dari situasi lain yaitu yang desebut pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari komponen atau unsur: tujuan, bahan, strategi, alat, siswa, dan
  • 31.
    31 guru. Seperti yangtelah anda ketehui bahwa tujuan pembelajaran menurut Bloom dkk meliputri tiga ranah, yaitu pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif). Menurut pendapat Gagne (1988) mengelompokan kemampuan-kemampuan sebagai hasil belajar didalam lima kelompok, yaitu: a.Keterampilan Intelektual; merupakan ketermpilan pikiran, yang jika dihubungkan dengan pendapat Bloom termasuk ranah kognitif. Keterampilan intelektual terbagi atas beberapa tahapan. 1)Diskriminasi 2)Konsep-konsep konkrit 3)Konsep terdefinisi 4)Aturan-aturan 5)Aturan-aturan tingkat tinggi b.Strategi Kognitif; merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses interrnal yang digunakan seseorang untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir (gagne, 1985). c.Invormasi Verbal; yang termasuk verbal ialah nama atau label, fakta dan pengetahuan. Tujuan akhir pelajaran informasi verbal adalah seseorang mengetahuinya (mampu mengingatnya). Informasi verbal diperoleh seseorang melalui pendengaran (katak-kata ynag diucapkan oleh orang lain, radio, tv, dan sejenisnya) dan melalui membaca. d.Keterampilan Motorik; yang dimaksud ketermpilan-keterampilan motorik tidak hanya mencakup kegiatan-kegiatan fisik, akan tetapi digabung dengan keterampilan intelektual. e.Sikap; Sikap (afektif) merupakan salah satu ranah perilaku manusia atau siswa yang merupakan kegiatan dari tujuan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari ranah kognitif dan psikomotorik. Jujur, sopan, ramah, suka menolong orang lain,
  • 32.
    32 hati-hati, rajin, kreatif,kritis, disiplin, dan sejenisnya merupakan sikap-sikap positif yang harus dibentuk dan dikembangkan pada diri setiap peserta didik. 5).Klasifikasi Strategi Pembelajaran Strategi dapat di klasifikasikan menjadi 4, yaitu:11 1.Strategi pembelajaran langsung 2.Strategi pembelajaran tak langsung 3.Strategi pembelajaran interaktif 4.Strategi pembelajaran empirik 5.Strategi pembelajaran mandiri B.Strategi pembelajaran langsung 1). Pengertian Strategi Pembelajaran Langsung Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif. Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan- kemampuan, proses-proses, dan sikap yang dipergunakan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain. 2) .Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Langsung 11Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok,(Bandung : Alfabeta, 2009), hlm 23.
  • 33.
    33 Model Pembelajaran Langsung(DI) adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Wina Sanjaya (2008: 179), menyebut model ini sebagai model Ekspositori, yang sering juga disebut dengan “chalk and talk”. Model DI ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam model ini guru memegang peran penting yang sangat dominan. Melalui model ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapatdikuasai siswa dengan baik. Fokus utama model ini adalah kemampuan akademiksiswa. Model DI bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling), yang telah dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar yang dialami manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan) orang lain. Aliran psikologi belajar yang sangat memengaruhi DI adalah aliran belajar behavioristik. Aliran belajar behavioristik lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antara stimulus dan respon, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat penting. Dari asumsi semacam inilah, muncul berbagai konsep bagaimana agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respon itu bisa berlangsung secara efektif. Terdapat beberapa ciri / karakteristik model DI ini, yaitu: (a) DI dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering diidentikkan dengan ceramah, (b) biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berfikir ulang.
  • 34.
    34 Ada yang menyebutdengan istilah pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif, (c) tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan. Model pembelajaran yang menggunakan pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh pengetahuan langkah demi langkah adalah model pengajaran langsung (direct intruction). Menurut Arends (2001):”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Artinya: “Sebuah model pengajaran yang bertujuan untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang dapat diajarkan langkah-demi-langkah. Untuk tujuan tersebut, model yang digunakan dinamakan model pengajaran langsung.12 Model pengajaran langsung (direct instruction) dilandasi oleh teori belajar perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk pemberian umpan balik. Satu penerapan teori perilaku dalam belajar adalah pemberian penguatan. Umpan balik kepada siswa dalam pembelajaran merupakan penguatan yang merupakan penerapan teori perilaku tersebut. Arends (1997) menyatakan: “The direct instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion”. Artinya:Model pengajaranlangsung secara khusus dirancang untuk mempromosikan belajar siswa dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah-demi- langkah. Lebih lanjut Arends (2001) menyatakan: ”Direct instruction is a teacher- centered model that has five steps: establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback, and extended practice a direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning 12 Ibid.25
  • 35.
    35 environment that businesslikeand task-oriented”. Artinya: Pengajaran langsung adalah model berpusat pada guru yang memiliki lima langkah: menetapkan tujuan, penjelasan dan/atau demonstrasi, panduan praktek, umpan balik, dan perluasan praktek. Pelajaran dalam pengajaran langsung memerlukan perencanaan yang hati-hati oleh guru dan lingkungan belajar yang menyenangkandan berorientasi tugas. Model pengajaran langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan gurunya. Oleh karena itu hal penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks. Di samping itu, model pengajaran langsung mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses belajar konsep dan keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih terstruktur. Guru yang menggunakan model pengajaran langsung tersebut bertanggung jawab dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran, struktur materi, dan keterampilan dasar yang akan diajarkan. Kemudian menyampaikan pengetahuan kepada siswa, memberikan pemodelan/demonstrasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep/keterampilan yang telah dipelajari, dan memberikan umpan balik. 3). Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Langsung Sebelum diuraikan tahapan (sintaks) model pembelajaran DI ini, terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan model DI ini, yaitu: Pertama, rumuskan tujuan yang ingin dicapai. Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasikepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan model ini.
  • 36.
    36 Kedua, kuasai materipelajaran dengan baik. Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan muda mengelola kelas; ia akan bebas bergerak; berani menatap siswa; tidak takut dengan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran. Ketiga, kenali medan dan berbagai hal yang dapat memengaruhi proses penyampaian. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran. C..Strategi pembelajaran tak langsung 1). Pengertian Strategi Pembelajaran Tidak Langsung Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut induktif. Berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan guru bergeser dari seseorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesmpatan peserta didik untuk terlibat. Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi siswa dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis. Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person).13 Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan- bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.Strategi Pengajaran Tidak Langsung (Indirect Instruction / Indirect teaching) bertentangan dengan strategi 13 Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik,(Bandung : Nusa Media, 2008), hlm 100
  • 37.
    37 pengajaran secara langsung,pengajaran tidak langsung lebih bersifat tumpuan murid, walaupun kedua-dua strategi pengajaran tersebut (langsung dan tidak langsung) merupakan dua strategi yang saling melengkapi antara satu dengan lain. Strategi pengajaran tidak langsung memerlukan penglibatan yang tinggi dari kalangan murid semasa membuat pemerhatian, penyiasatan, menghasilkan inferens daripada data atau membentuk hipotesis. Strategi pengajaran tidak langsung mengambil kira minat dan rasa ingin tahu murid yang akan menggalakkan mereka untuk menjana alternative atau untuk menyelesaikan masalah. Peranan guru beralih daripada pengajar / pengarah kepada fasilitator, pemberi sokongan dan menjadi sumber rujukan. Guru akan menyusun serta mengatur persekitaran pembelajaran dengan menyediakan peluang untuk penglibatan murid, dan apabila dirasakan sesuai, akan memberikan maklum balas kepada murid semasa mereka melakukan inkuiri (Martin, 1983). Strategi pengajaran tidak langsung merupakan strategi berpusatkan pembelajaran yang akan menggalakkan penglibatan murid dalam proses pembelajaran. Dengan demikian strategi pengajaran tidak langsung ini dapat menggalakkan pemahaman pembelajaran yang sebenar-benarnya. Kaedah pengajaran dan pembelajaran yang terlibat adalah seperti berikut:  Kajian kesan  Prosedur cloze  Pencapaian konsep  Pembentukan konsep  Pemetaan konsep  Inkuiri  Penyelesaian masalah  Mencari makna  Pembelajaran reflektif 2).Aplikasi pembelajaran non-directive
  • 38.
    38 Model Pembelajaran PengajaranTidak Langsung (non directive) bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan wawancara hams bersifat personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari perasaan, pengalaman, pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti dari istilah Tidak Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers. 3). Kelebihan dan kelemahan strategi pengajaran tidak langsung a. Kelebihan Strategi pengajaran tidak langsung membolehkan murid terlibat secara aktif dalam pelajaran mereka. Proses dan aktiviti pembelajaran dilaksanakan oleh murid dan bukan dipaksakan ke atas murid. Guru berperanan sebagai pemudah acara atau fasilitator. Pembelajarn yang berasaskan sumber ini membolehkan berlaku pengalaman pembelajaran secara lebih mendalam dan luassehingga Mengekspresikan pemahaman. Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik. Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah. Pemahaman yang lebih baik. b.Kelemahan Strategi pengajaran secara tidak langsung lebih bersifat tumpuan pembelajaran. Oleh yang demikian, tempo untuk berlaku pembelajaran yang optimal akan mengambil masa yang panjang jika dibandingkan dengan pengajaran secara langsung. Sebagai fasilitator, guru perlu berupaya untuk mengawal pembelajaran murid-muridnya, dan ini mungkin boleh menyebabkan rasa ketidakselesaan di kalangan murid. Selain itu, lebih banyak cabaran akan dihadapi semasa pelaksaannya untuk membolehkan murid mencapai objektif pembelajaran yang telah ditetapkan.
  • 39.
    39 D. Strategi pembelajaraninteraktif 1). Pengertian Strategi pembelajaran interaktif Pembelajaran interaktif Yaitu cara belajar yang menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan. 2).Perspektif Berbasis Interaktif Pembelajaran interaktif terfokus pada upaya untuk mennciptkan situasi- situasi yang komunikatif dan memungkinkan siswa untuk menyampaikan dan menerima pesan-pesan yang otentik yang mengandung informasi yang menarik bagi pengirim maupun penerima pesan. 3).Pola-pola interaksi kelas Dalam kenyataannya interaksi antara guru dan siswa digambarkan sebagai bentuk komunikasi yang sangat terbatas, misanya belajar untuk memberikan jawaban yang diharapkan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru bukan sebagai permintaan untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai kesempatan untuk mengetahui penguasaan terhadap materi tersebut.Dalam banyak situasi kelas, siswa berperan pasif, tidak pernah memulai diskusi dan biasanya berbicara hanya bila disuruh atau ditunjuk oleh guru. Sifat percakapan antara guru dan siswa diperngaruhi oleh faktor-faktor seperti isi pelajaran dan aktivitas kelas (Green, 1983). Dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas, guru dapat menggunakan berbagai strategi pembelajaran, seperti pengelompokan siswa : guru dengan seluruh kelas, guru dengan kelompok kecil, siswa dalam kelompok- kelompok kecil, siswa berpasang-pasangan, siswa bekerja sendiri-sendiri.
  • 40.
    40 Persitiwa-peristiwa ini didasarkanpada serangkaian aktivitas rutin kelas yang mungkin terjasi dalam suatu mata pelajaran tertentu.14 4).Kelas Interaktif Menurut Rivers (1987:10-15) dianataranya : Mendorong siswa mendengarkan materi-materi yang otentik (misalnya, pembicaraan guru, audio dan videotape, dan penutur asli dimana memungkinkan). Menggunakan koran, majalah, kartun, buku, surat, petunjuk-petunjuk bagi produk, menu, dan peta sebagai bahan bacaan.Menekankan bahwa sejak dari awal para siswa mendengarkan dan berbicara sambil berekasi terhadap gambar-gambar dan objek- objek dalam situasi permainan peran dan diskusi (berpasangan, kelompok- kelompok kecil, dan seluruh kelas). Melibatkan para siswa dalam tugas-tugas bersama yang menuntut berbagai fungsi-fungsi bahasa yang berbeda (misalnya, menyarankan, meminta, mengarahkan , meminta, mengarahkan, meyakinkan, memuji, menjelaskan , dan menginformasikan). a.Menyajikan secara terus-menerus kepada para siswa film-film dan videotape para penutur asli yang berinteraksi dalam situasi-situasi yang berbeda, dengan demikian meningkatkan kesadaran terhadap perilaku-perilaku nonverbal, strategi- strategi percakapan. b.Menggunkan aktivitas membaca yang dbuat interaktif dengan meminta pembaca utnuk menjawab ssecara kreatif (mislanya, mendiskusikan kemungkinan- kemungkinans alternatif). c.Menggunakan aktivitas menulis yang mencakup perubahan komunikasi pribadi antara para siswa (berpasangan dan/atau dimana kelompok) atau anatara siswa dan guru (jurnal diaolog mengatakan kembali ungkapan-ungkapan atau struktur- struktur yang janggal). d.Menjaga interaksi tetap sebagai masalah pokok berarti bahwa guru perlu merencanakan aktivitas-aktivitas sehingga siswa dapat berpartisipasi dalam 14 Ibid.104
  • 41.
    41 berbagai macam situasiinteraktif. Ini dapat mencakup investigasi dan diskusi kelompok untuk meningkatkan interaksi. 5). Aktivitas interaksi dapat sukses Cohen (1986) menegaskan bahwa agar aktivitas-aktivitas interaksi dapat sukses, maka harus : 1) Memiliki lebih dari satu jawaban atau lebih dari satu cara untuk memecahkan persoalan. 2) Secara interistik menarik dan bermanfaat bagi sebagian besar siswa. 3) Memberikan kesempatan kepada para siswa yang berbeda untuk memberikan konttribusis yang berbeda. 4) Melibatkan berbagai sumber multimedia. 5) Melibatkan penglihatan, suara, dan sentuhan. 6) Menuntut berbagai macam keterampilan dan prilaku. 7) Menuntut siswa untuk membaca dan menulis. 8) Menunjukkan tantangan.Bagian ini menyajikan berbagai macam interprestasi berkaitan dengan konsep pengajaran berbasis interaksi. Berdasarkan atas pembahasan ini, sejumlah prinsip kelas dapat ditetapkan. 6). Karakteristik prespektif berbasis interaksi : 1) Menekankan peran karakteristik siswa. 2) Menekankan kerja kolaboratif dan kelompok sebagai sarana untuk meningkatkan komunikasi intruksional ataupun komunikasi alamiah. 3) Menggunakan aktivitas-aktivitas yang menarik, bermanfaat dan menantang bagi siswa. 4) Memberikan kesempatan kepada para siswa yang berbeda untuk memberikan kontribusi mereka.
  • 42.
    42 5) Terfokus padamodalitas-modalitas belajar yang berbeda penglihatan, suara, sentuhan, dan sumber-sumber multimedia. 6) Menempatkan siswa dalam situasi-situasi pemecahan persoalan khusus yang memiliki berbagai macam solusi.Kelas berbasis interaksi terfokus pada kebutuhan dan karakteristik para siswa. Tugas-tugas yang meningkatkan kolaborasi dan reaksi pribadi terhadap teks-teks lisan dan tulis membentuk landasan bagi perencanaan kurikulum. Beberapa aktivitas khusus seperti investigasi kelompoks, situasi permainan peran, tugas-tugas pemecahan persoalan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan pendapat. Guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berkomunikasi dan berpendapat untuk berbagai aktivitas yang bermakana yang berkaitan dengan pembelajaran yang berlangsung yang memiliki tujuan tertentu dan merangsang situasi-situasi kehidupan yang nyata. Dengan menggunakan aktifitas-aktifitas yang menonjol dapat menghasilkan keterampilan siswa untuk suskes berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut.15 a Guru menggunakan berbagai macam pengelompokan siswa. b.Sebagaina besar aktivitas pembelajaran terpusat pada siswa. c. Guru menggunakan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang terjasi selama proses pembelajaran 4) berlangsung. d. Pengajaran harus sesuai dengan gaya belajar siswa. e. Guru menciptakan iklim afektif dimana siswa merasa nyaman ketika menghadapi risiko. f. Guru menggunakan berbagai macam materi cetak dan non cetak, termasuk materi-materi yang otentik. g.Dukungan teknologi untuk mempermudah proses belajar dan mengajar. h.Guru terlibat dalam pengembangan sprofesional secara berkelanjutan dalam bidang-bidang keterampilan, pengetahuan budaya, dan metodologi terkini. 15 Siti Aisyah, 2012. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Airlangga University Press. Hlm 50-55
  • 43.
    43 7). Kelebihan DanKekurangan a.Kelebihan strategi ini antara lain (1) peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, (2) mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional. Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompokkelompokdan metode- metode interaktif. b.Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok. E. .Strategi pembelajaran empirik 1). Pengertian .Strategi pembelajaran empirik Strategi pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. 2).Kelebihan dan kekuranngan a. Kelebihan dari startegi ini antara lain: (1) meningkatkan partisipasi peserta didik, (2) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (3) meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain. Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang. F.Strategi pembelajaran mandiri 1).Pengertian Pembelajaran Mandiri
  • 44.
    44 Belajar mandiri merupakanstrategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Pembelajaran mandiri adalah suatu proses belajar yang mengajak siswa melakukan tindakan mandiri yang melibatkan terkadang satu orang, biasanya satu kelompok. Tindakan mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan sehari-hari secara sedemikian rupa untuk mencapai tujuan yang bermakna Strategi pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, peningkatan diri. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. 2).Model-model pembelajaran mandiri Beberapa model pembelajaran mandiri yaitu : a.Model SAVI Dave Meier menyajikan suatu sistem lengkap untuk melibatkan kelima indera dan emosi dalam proses belajar yang dikenal dengan model SAVI, yaitu : Somatis è belajar dengan bergerak dan berbuat Auditori è belajar dengan berbicara dan mendengar Visual è belajar dengan mengamati dan menggambarkan Intelektual è belajar dengan memecahkan masalah dan menerangkan. b.Model MASTER Rose dan Nicholl memperkenalkan satu model belajar yang dikenalkan dengan M-A-S-T-E-R, yaitu : Mind è mendapatkan keadaan pikiran yang benar
  • 45.
    45 Acquire è memperolehinformasi yang terdiri dari gagasan inti Search Out è mencari makna melalui pembimbing mereka Trigger è memicu memori Exhibit è memamerkan apa yang diketahui Reflect è merefleksikan cara belajar 3).Konsep pembelajaran mandiri Sesuai dengan konsep belajar mandiri, bahwa seorang siswa diharapkan dapat : Menyadari bahwa hubungan antara pengajar dengan dirinya tetap ada, namun hubungan tersebut diwakili oleh bahan ajar atau media belajar. a. Mengetahui konsep belajar mandiri b. Mengetahui kapan ia harus minta tolong, kapan ia membutuhkan bantuan atau dukungan. c. Mengetahui kepada siapa dan dari mana ia dapat atau harus memperoleh bantuan/dukungan. Bagian terpenting dari konsep belajar mandiri adalah bahwa setiap siswa harus mampu mengidentifikasi sumber-sumber informasi, karena identifikasi sumber informasi ini sangat dibutuhkan untuk memperlancar kegiatan belajar seorang siswa pada saat siswa tersebut membutuhkan bantuan atau dukungan. 4).Penerapan/implementasi a. Mengambil Tindakan Siswa yang menghimpun, menyentuh, dan mengumpulkan pengetahuan memiliki otak yang berbeda dibandingkan dengan siswa yang hanya menonton, mendengar dan menyerap informasi. b.Mengajukan pertanyaan
  • 46.
    46 Untuk menjadi mandiri,harus bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik dan tajam yang dapat menyempurnakan keyakinan dan menjelaskan kejadian. c.Membuat Pilihan Siswa memilih untuk berpartisipasi dalam rencana kerja yang paling sesuai dengan minat pribadi dan bakat mereka. Serta gaya belajar yang paling tepat bagi mereka sambil mencari keterkaitan antara tugas sekolah dengan kehidupan keseharian mereka. d.Membangun Kesadaran Diri Kesadaran-diri ini meliputi pengetahuan tentang keterbatasan dan kekuatan kita, mengetahui bagaimana pandangan orang lain kepada kita serta pengendalian emosi. Kerja Sama Dengan bekerja sama, membantu siswa untuk menemukan bahwa ternyata cara pandang mereka hanyalah satu diantara cara pandang yang lain dan bahwa cara mereka melakukan sesuatu hanyalah satu kemungkinan dari berbagai kemungkinan lain. Melalui kerja sama, dan bukannya persaingan atau kompetisi, siswa menyerap kebijaksanaan orang lain. 5).Kelebihan dan Kelemahan Kelebihan dari pembelajaran ini adalah : a. membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab mahasiswa mendapatkan kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikan b. mahasiswa mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam hal penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah, jika dalam menyelesaikan tugas-tugasnya mahasiswa berkelompok menjadi semakin bertambah, karena melalui kelompok tesebut mahasiswa akan belajar tentang kerja sama, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
  • 47.
    47 c. mencapai tujuanakhir dan pendidikan yaitu mahasiswa dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri. Kelemahannya adalah : a. bila diterapkan kepada peserta didik yang belum dewasa, ia belum bisa belajar secara mandiri (masih memerlukan bimbingan). b. Apa yang didapat dalam pembelajaran mandiri masih belum tentu benar, maka perlu melakukan pertanyaan atau diskusi. G. Pemiliham Strategi Pembelajaran 1). Dasar Pemilihan Strategi Pembelajaran Beberapa prinsip-prinsip yang mesti dilakukan oleh pengajar dalam memilih strategi pembelajaran secara tepat dan akurat, pertimbangan tersebut mesti berdasarkan pada penetapan. a. Tujuan Pembelajaran Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang harus digunakan guru. Misalnya, seorang guru Olahraga dan Kesehatan menetapkan tujuan pembelajaran agar siswa dapat mendemontrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu siswa-siswa mencapai tujuan adalah metode ceramah, guru memberi instruksi, petunjuk, aba- aba dan dilaksanakan di lapangan, kemudian metode demonstrasi, siswa-siswa mendemonstrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar, selanjutnya dapat digunakan metode pembagian tugas, siswa-siswa kita tugasi, bagaimana
  • 48.
    48 menjadi keeper, kapten,gelandang, dan apa tugas mereka, dan bagaimana mereka dapat bekerjasama dan menendang bola. Dalam contoh ini, terdapat kemampuan siswa pada tingkat kognitif dan psikomotorik. Demikian juga diaplikasikan kemampuan Afektif, tentang bagaimana kemampuan mereka dalam bekerjasama dalam bermain bola dari metode pemberian tugas yang diberikan guru kepada setiap individu. Dalam silabus telah dirumuskan indikator hasil belajar atau hasil yang diperoleh siswa setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Terdapat empat komponen pokok dalam merumuskan indikator hasil belajar yaitu: a. Penentuan subyek belajar untuk menunjukkan sasaran belajar. b. Kemampuan atau kompetensi yang dapat diukur atau yang dapat ditampilkan melalui peformnce siswa. c. Keadaan dan situasi dimana siswa dapat mendemonstrasikan performance nya Standar kualitas dan kuantitas hasil belajar. Berdasarkan indikator dalam penentuan tujuan pembelajaran maka dapat dirumuskan tujuan pembelajaran mengandung unsur; Audience (peserta didik), Behavior (perilaku yang harus dimiliki), Condition (kondisi dan situasi) dan Degree (kualitas dan kuantítas hasil belajar). b. Aktivitas dan Pengetahuan Awal Siswa Belajar merupakan berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan hanya terbatas pada aktifitas fisik saja akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau aktivitas mental. Pada awal atau sebelum guru masuk ke kelas memberi materi pengajaran kepada siswa, ada tugas guru yang tidak boleh dilupakan adalah untuk mengetahui
  • 49.
    49 pengetahuan awal siswa.Sewaktu memberi materi pengajaran kelak guru tidak kecewa dengan hasil yang dicapai siswa, untuk mendapat pengetahuan awal siswa guru dapat melakukan pretes tertulis, tanya jawab di awal pelajaran. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat menyusun strategi memilih metode pembelajaran yang tepat pada siswa-siswa. Apa metode yang akan kita pergunakan? Sangat tergantung juga pada pengetahuan awal siswa, guru telah mengidentifikasi pengetahuan awal. Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan kita ajarkan, jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep, dan fakta atau memiliki pengalaman, maka kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat belajar mandiri, hanya metode yang dapat diterapkan ceramah, demonstrasi, penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, pratikum, bermain peran dan lain-lain. Sebaliknya jika siswa telah memahami prinsip, konsep, dan fakta maka guru dapat mempergunakan metode diskusi, studi mandiri, studi kasus, dan metode insiden, sifat metode ini lebih banyak analisis, dan memecah masalah. c.Integritas Bidang Studi/Pokok Bahasan Mengajar merupakan usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara terintegritas. Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok. Pertama, program pendidikan umum. Kedua, program pendidikan akademik. Ketiga, Program Pendidikan Agama, PKn, Penjas dan Kesenian dikelompokkan ke dalam program pendidikan umum. Program pendidikan akademik bidang studinya berkaitan dengan keterampilan. Karena itu metode yang digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan.Umpamanya ranah psikomotorik lebih dominant dalam pokok bahasan tersebut, maka metode demonstrasi yang dibutuhkan, siswa berkesempatan mendemostrasikan materi secara bergiliran di dalam kelas atau di lapangan.
  • 50.
    50 Dengan demikian metodeyang kita pergunakan tidak terlepas dari bentuk dan muatan materi dalam pokok bahasan yang disampaikan kepada siswa. Dalam pengelolaan pembelajaran terdapat beberapa prinsip yang harus diketahui di antaranya: (1) Interaktif Proses pembelajaran merupakan proses interaksi baik antara guru dan siswa, siswa dengan siswa atau antara siswa dengan lingkungannya. Melalui proses interaksi memungkinkan kemampuan siswa akan berkembang baik mental maupun intelektual. (2). Inspiratif Proses pembelajaran merupakan proses yang inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Biarkan siswa berbuat dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sndiri, sebab pengetahuan pada dasarnya bersifat subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap subjek belajar. (3). Menyenangkan Proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan. Proses pembelajaran menyenangkan dapat dilakukan dengan menata ruangan yang apik dan menarik dan pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber-sumber belajar yang relevan. (4) Menantang Proses pembelajaran merupakan proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan itu dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan mencobaoba, berpikir intuitif atau bereksplorasi. (5) Motivasi
  • 51.
    51 Motivasi merupakan aspekyang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Seorang guru harus dapat menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan demikian siswa akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya. d. Alokasi Waktu dan Sarana Penunjang Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran 45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang sebelumnya, termasuk di dalamnya perangkat penunjang pembelajaran, perangkat pembelajaran itu dapat dipergunakan oleh guru secara berulang-ulang, seperti transparan, chart, video pembelajaran, film, dan sebagainya. Metode pembelajaran disesuaikan dengan materi, seperti Bidang Studi Biologi, metode yang akan diterapkan adalah metode praktikum, bukan berarti metode lain tidak kita pergunakan, metode ceramah sangat perlu yang waktunya dialokasi sekian menit untuk memberi petunjuk, aba-aba, dan arahan.Kemudian memungkinkan mempergunakan metode diskusi, karena dari hasil praktikum siswa memerlukan diskusi kelompok untuk memecah masalah/problem yang mereka hadapi. e. Jumlah Siswa Idealnya metode yang kita terapkan di dalam kelas perlu mempertimbangkan jumlah siswa yang hadir, rasio guru dan siswa agar proses belajar mengajar efektif, ukuran kelas menentukan keberhasilan terutama pengelolaan kelas dan penyampaian materi. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mutu pengajaran akan tercapai apabila mengurangi besarnya kelas, sebaliknya pengelola pendidikan mengatakan bahwa kelas yang kecil-kecil cenderung tingginya biaya pendidikan dan latihan. Kedua pendapat ini bertentangan, manakala kita dihadapkan pada mutu, maka kita membutuhkan biaya yang sangat besar, bila pendidikan mempertimbangkan biaya sering mutu pendidikan terabaikan, apalagi saat ini kondisi masyarakat Indonesia
  • 52.
    52 mengalami krisis ekonomiyang berkepanjangan. Pada sekolah dasar umumnya mereka menerima siswa maksimal 40 orang, dan sekolah lanjutan maksimal 30 orang. Kebanyakan ahli pendidikan berpendapat idealnya satu kelas pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan 24 orang. Ukuran kelas besar dan jumlah siswa yang banyak, metode ceramah lebih efektif, akan tetapi yang perlu kita ingat metode ceramah memiliki banyak kelemahan dibandingkan metode lainnya, terutama dalam pengukuran keberhasilan siswa. Disamping metode ceramah guru dapat melaksanakan tanya jawab, dan diskusi. Kelas yang kecil dapat diterapkan metode tutorial karena pemberian umpan balik dapat cepat dilakukan, dan perhatian terhadap kebutuhan individual lebih dapat dipenuhi. f. Pengalaman dan Kewibawaan Pengajar Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, pribahasa mengatakan ”Pengalaman adalah guru yang baik”, hal ini diakui di lembaga pendidikan, kriteria guru berpengalaman, dia telah mengajar selama lebih kurang 10 tahun, maka sekarang bagi calon kepala sekolah boleh mengajukan permohonan menjadi kepala sekolah bila telah mengajar minimal 5 tahun. Dengan demikian guru harus memahami seluk-beluk persekolahan. Strata pendidikan bukan menjadi jaminan utama dalam keberhasilan belajar akan tetapi pengalaman yang menentukan, umpamanya guru peka terhadap masalah, memecahkan masalah, memilih metode yang tepat, merumuskan tujuan instruksional, memotivasi siswa, mengelola siswa, mendapat umpan balik dalam proses belajar mengajar. Jabatan guru adalah jabatan profesi, membutuhkan pengalaman yang panjang sehingga kelak menjadi profesional, akan tetapi profesional guru belum terakui seperti profesional lainnya terutama dalam upah (payment), pengakuan (recognize). Sementara guru diminta memiliki pengetahuan menambah pengetahuan (knowledge esspecialy dan skill) pelayanan (service) tanggung jawab (responsbility)dan persatuan (unity) (Glend Langford, 1978). Disamping berpengalaman, guru harus berwibawa. Kewibawaan merupakan syarat mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena guru harus berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial, guru
  • 53.
    53 merupakan sosok tokohyang disegani bukan ditakuti oleh anakanak didiknya. Kewibawaan ada pada orang dewasa, ia tumbuh berkembang mengikuti kedewasaan, ia perlu dijaga dan dirawat, kewibawaan mudah luntur oleh perbuatan-perbuatan yang tercela pada diri sendiri masing-masing. Jabatan guru adalah jabatan profesi terhomat, tempat orang-orang bertanya, berkonsultasi, meminta pendapat, menjadi suri tauladan dan sebagainya, ia mengayomi semua lapisan masyarakat.16 16 Isjoni, Op. Cit., hlm 60
  • 54.
    54 BAB III STRATEGI PEMBELAJARANKOOPERATIF Salah satu pendekatan atau strategi pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran sekaligus penguasaan nilai-nilai tersebut adalah strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang tepat untuk mengembangkan nilai-nilai sosial tersebut sekaligus mencapai tujuan-tujuan kognitif. Bagaimana pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan atau meningkatan penguasaan dan penerapan kedua aspek tersebut sekaligus dapat diuraikan sebagai berikut. A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Sejak diterapkannya pertama kali di Universitas John Hopkins, pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas belajar kelompok.17 Para ahli dan peneliti pembelajaran kooperatif, mendefinisikan bahwa pembelajaran kooperatif pada intinya adalah suatu strategi pembelajaran yang terstruktur secara sistematis di mana siswa-siswa bekerjasama dalam kelompok- kelompok kecil dengan anggota antara empat sampai lima orang secara heterogen untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Cooperative learning merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi 17Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok, (Bandung : Alfabeta, 2009), hlm 25.
  • 55.
    55 pelajaran. Dalam kelaskooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi efektif antara anggota kelompok.18 Agus Suprijono mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk- bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksudkan. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.19 Anita Lie menguraikan model pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin, filsafat ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dialog interaktif (interaksi sosial) adalah kunci seseorang dapat menempatkan dirinya di lingkungan sekitar. Panintz (Agus Suprijono, 2009: 54) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.20 18Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik,(Bandung : Nusa Media, 2008), hlm 107 19Isjoni, Op. Cit, hlm 33 20 Slavin, Op. Cit, hlm. 150
  • 56.
    56 Dari beberapa definisiyang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar semua anggota maksimal. Mengacu pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu pembelajaran dikatakan merupakan pembelajaran kooperatif jika pembelajaran tersebut mencerminkan karakteristik sebagai berikut: a) siswa-siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam anggota dengan level dan latar belakang yang bervariasi, b) siswa-siswa melakukan interaksi sosial satu sama lain dalam bentuk diskusi, curah pendapat, dan sejenisnya, c) tiap-tiap individu memiliki tanggungjawab dan sumbangannya bagi pencapaian tujuan belajar baik tujuan individu maupun kelompok, d) dan guru lebih berperan sebagai fasilitator dan coacher dalam proses pembelajaran. B. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tujuan yang paling penting dari model pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Wisenbaken mengemukakan bahwa tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan norma-norma yang proakademik di antara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa.21 C. Manfaat Strategi Pembelajaran Kooperatif Sadker menjabarkan beberapa manfaat pembelajaran kooperatif. Selain itu, meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa, pembelajaran kooperatif juga memberikan manfaat-manfaat besar lain seperti berikut ini. 1. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan 21 Ibid, hlm. 165
  • 57.
    57 memperoleh hasil pembelajaranyang lebih tinggi; 2. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar; 3. dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman- temannya, 4. Dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti; 5. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.22 D. Ciri-Ciri Strategi Pembelajaran Kooperatif Isjoni memaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut. 1) Setiap anggota memiliki peran; 2) Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa 3) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya; 4) Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, 5) Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.23 Beberapa elemen yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif (menurut para ahli pembelajaran kooperatif) tersebut adalah: a. Saling ketergantungan positif (positive interdependence), b. Interaksi tatap muka (face-to-face promotive interaction), c. Tanggungjawab individual (individual accountability, d. Keterampilan-keterampilan kooperatif (cooperative skills), e. Proses kelompok (group proces), 22 Ibid, hlm. 178 23Isjoni, Op. Cit., hlm 77
  • 58.
    58 f. Pengelompokan siswasecara heterogen, dan g. Kesempatan yang sama untuk sukses (equal opportunities for success). Dengan kata lain, dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model atau strategi pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama.24 Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan Slavin yaitu penghargaan kelompok, pertanggung jawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil. 1. Penghargaan kelompok Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli. 2. Pertanggung jawaban individu Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitik beratkan pada aktivitas anggota kelompok yanng saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya. 3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan 24Lie, A, Cooperative Learning,Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. (Jakarta : Grasindo, 2007), hlm 68
  • 59.
    59 Pembelajaran kooperatif menggunakanmetode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.25 Karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu : a) Pembelajaran Secara Tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran yang ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen : artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok. b) Didasarkan pada Manajemen Kooperatif Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran koopiratif fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. ini misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi 25 Ibid, hlm. 88
  • 60.
    60 menunjukkan bahwa pembelajarankooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes. c) Kemauan untuk Bekerja Sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu, ini misalnya yang pintar perlu membantu yang kurang mampu. d) Keterampilan Bekerja Sama Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkornunikasi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.26 E. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif 1. Keunggulan pembelajaran cooperatif Mulyadiana menyatakan bahwa keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya : a) Melalui pembelajaran kooperatif siswa diharapkan tidak terlalu berharap pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri sehingga menemukan informasi dan berbagai sumber dan belajar dan siswa yang lain. 26 Slavin, Op. Cit., hlm 178
  • 61.
    61 b) Pembelajaran kooperatifdapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kat-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain. c) Pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan. d) Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. e) Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akadernik dan non akademik f) Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. g) Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil)27. 2. Keterbatasan Pembelajaran Kooperatif Mulyadiana menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki keterbatasan, di antaranya : a) Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif memang butuh waktu karena terdapat perbedaan antara siswa yang memiliki kelebihan dan siswa yang merasa kurang. b) Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling bekerjasama dalam memecahkan permasalahan. c) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok. d) Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. 27Lie, Op. Cit., hlm 89
  • 62.
    62 e) Kemampuan bekerjasama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual.28 F. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Fase Kegiatan Guru Fase 1 : Present goals and set Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar Fase 2 : Present information Menyajikan informasi Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal Fase 3 : Organize students into learning teams Mengorganisir siswa ke dalam tim- tim belajar Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien Fase 4 : Assist team work and studeny Membantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya Fase 5 : Test on the materials Mengevaluasi Menguji pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6 : Provide recognition Memberikan pengakuan atau penghargaan Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok Sumber: Slavin, 2008 G. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Konvensional Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok 28 Ibid, hlm 97
  • 63.
    63 memberikan motivai sehinggaada interaksi promotif. atau menggantungkan diri pada kelompok. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas- tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya hanya ‘enak-enak saja’ diatas keberhasilan temannya yang dianggap ‘ pemborong’. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dsb sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Kelompok belajar biasanya homogeny Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing- masing. Ketrampilan social yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomu nikasi, mempercayai orang lain dan mengelola konflik secara langsung diajarkan. Ketrampilan sosial sering tidak diajarkan secara langsung. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering dilakukan oleh guru pada saat belajarkelompok
  • 64.
    64 melakukan intervensi jikaterjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok. sedang berlangsung. Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok – kelompok belajar. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok – kelompok belajar. Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai). Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. sumber: Slavin, 2008 H. Metode Pembelajaran Kooperatif 1. Metode STAD ( Student Achievement Divisions ) Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan – kawan dari universitas John Hopkins. Metode ini digunakan para guru untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penilaian verbal maupun tertulis. Langkah – langkahnya : a) Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing – masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan ( tinggi, sedang, rendah ). b) Tiap anggota tim/kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusiantar sesama anggota tim/ kelompok. c) Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu akan mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. d) Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi
  • 65.
    65 tinggi atau memperolehskor sempurna diberi penghargaan. Kadang – kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu criteria atau srandar tertentu.29 2. Metode Jigsaw Langkah – langkahnya : a) Kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri 4 atau 5 siswa dengan karakteristik yang heterogen. b) Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. c) Para anggota dari beberapa tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut (kelompok pakar / expert group). d) Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula ( home teams )untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. e) Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam “ home teams “ para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.30 3. Metode GI ( Group Investigation ) Dalam metode ini siswa dilibatkan sejak perencanaan baik dalam menentukan topik maupun mempelajari melalui investigasi. Dalam metode ini siswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam komunikasi dan proses memiliki kelompok. Langkah-langkahnya : a) Seleksi topik b) Merencanakan kerjasama c) Implementasi d) Analisis dan sintesis e) Penyajian hasil akhir 29 Mudjiono Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm 79 30Isjoni, Op. Cit., hlm 49
  • 66.
    66 f) Evaluasi selanjutnya31 4.Metode struktural Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan, yang menekankan pada struktur – struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola – pola interaksi siswa. Contoh teknik pembelajaran metode struktural yaitu : a. Mencari Pasangan ( Make a Match ) Dikembangkan oleh Larana Curran, dimana keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic dalam suasana yang menyenangkan. Langkah – langkahnya : 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review ( persiapan menjelang tes atau ujian ). 2) Setiap siswa mendapat satu buah kartu. 3) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. 4) Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. 5) Para siswa mendiskusikan penyelesaian tugas secara bersama – sama. 6) Presentasi hasil kelompok atau kuis. b. Dua Tinggal Dua Tamu ( Two Stay Two Stay ) Langkah-langkahnya : 1) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok berempat. 2) Siswa bekerjasama dalam kelompok berempat seperti biasa. 3) Setelah selesai, dua orang dari masing – masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing – masing bertamu ke dua kelompok lain. 4) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. 5) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 6) Kelompok mencocokan dan membahas hasil – hasil kerja mereka. c. Keliling Kelompok 31Ibid, hlm. 88
  • 67.
    67 Langkah – langkahnya: 1) Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan. 2) Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya 3) Demikian seterusnya. Giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan. 5. Think – Pair – Share Langkah-langkah : a) Thinking : guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. b) Pairing : guru meminta peserta didik berpasang – pasangan. Member kesempatan kepada pasangan – pasangan untuk berdiskusi. c) Sharing : hasil diskusi intersubjektif di tiap – tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengkonstuksian pengetahuan secara integratif. 6. Numbered Heads Together Langkah – langkahnya : a) Guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok kecil b) Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap – tiap kelompok. Pada kesempatan ini tiap – tiap kelompok menyatukan kepalanya “ Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban. c) Guru memanggil paserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap – tiap kelompok dan memberi kesempatan untuk menjawab. d) Guru mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh. 7. The Power of Two Langkah – langkahnya : a) Ajukan pertanyaan yang membutuhkan pemikiran yang kritis. b) Minta peserta didik menjawab pertanyaan yang diterimanya secara perorangan.
  • 68.
    68 c) Minta pesertadidik mencari pasangan, dan masing – masing saling menjelaskan jawabannya kemudian menyusun jawaban baru yang disepakati bersama. d) Membandingkan jawaban – jawaban tersebut dengan pasangan lain sehingga paserta didik dapat mengembangkan pengetahuan yang lebih integrative. e) Buat rumusan – rumusan rangkuman sebagai jawaban – jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan. Rumusan tersebut merupakan konstruksi atas keseluruhan pengetahuan yang telah dikembangkan selama diskusi. 8. Listening Team Langkah-langkahnya : a) Diawali dengan pemaparan meteri pembelajaran oleh guru. b) Guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok dan setiap kelompok memiliki peran masing – masing, misalnya: Kelompok 1 : kelompok penanya Kelompok 2 : kelompok penjawab dengan perspektif tertentu Kelompok 3 : kelompok penjawab dengan perspektif yang berbeda dari kelompok 2 Kelompok 4 : kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi. c) Munculkan diskusi yang aktif karena adanya perbedaan pemikiran sehingga dikusi menjadi berkualitas. d) Penyampaian berbagai kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan oleh peserta didik dalam diskusi.32 32 Ibid, hlm 102-107.
  • 69.
    69 BAB 4 Pembelajaran Tematik(Aktualisasi Model Pembelajaran Terpadu) A. Konsep Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.33 Pembelajaran terpadu juga merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pelaksanan pendekatan pembelajaran terpadu ini bertolak dari suatu topik atau tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan anak. Tujuan dari tema ini bukan untuk literasi bidang studi, akan tetapi konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana untuk mempelajari dan menjelajahi topik atau tema tersebut. B. Tahapan Perencanaan Pembelajaran Terpadu Model Webbed Pada model ini guru menyajikan pembelajaran dengan tema dan sub tema yang disepakati dan dihubungkan dengan antar pelajaran. Sehingga siswa memperoleh pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari mata pelajaran yang berbeda-beda. Menurut Tisno (1998) dalam pembelajaran terpadu model webbed, pelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan dari beberapa mata pelajaran yang dijabarkan dalam konsep, ketrampilan atau kemampuan yang dikembangkan dan didasarkan atas situasi dan kondisi kelas/sekolah/guru dan lingkungan.34 Langkah-langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran jaring laba-laba sebagai berikut : 33 Siti Aisyah, 2012. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Airlangga University Press. Hlm 54-55 34 Dermawan, Hendro, dkk. 2011. Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Gramedia. Hlm 11-12
  • 70.
    70 1. Guru menyiapkantema utama dan tema lain yang telah dipilih dari beberapa standar kompetensi lintas mata pelajaran/bidang Studi. 2. Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih, misalnya tema matematika, kesenian, bahasa dan IPS yang sesuai dengan tema utama yang telah ditetapkan. 3. Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih luas. 4. Guru memilih konsep atau informasi yang bisa mendorong belajar siswa dengan pertimbangan lain yang memang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran terpadu. Pada dasarnya pembelajaran terpadu model Webbed mengikuti tahap-tahap yang dilakukan dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi 3 tahap yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Perencanaan Pelaksanaan Kulminasi 1. Penjajagan tema (curah pendapat) 2. Penetapan tema (analisis + sintesis) 3. Pengembangan sub-tema (analisis + sintesis, pembagian tugas) 4. Penetapan kegiatan/ kontrak belajar 1. Pengumpulan informasi (kelompok, individual; membaca sumber, wawancara dengan nara sumber, pengamatan lapangan, eksperimentasi) 2. Pengolahan informasi
  • 71.
    71 (analisis, komparasi, sintesis) 3. Penyusunanlaporan (verbal, grafis, model) 4. Penyajian laporan (tertulis, lisan, unjuk kerja; individual, kelompok, presentasi, dll) 5. Penilaian (proses, produk) C. Peranan Guru Dalam Pembelajaran TerpaduModel Webbed Perana guru sebagi perencana dalam pembelajaran terpadu adalah guru harus merencanakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya bersama anak didik.35 1. Perencanaa tahunan, Dalam perencanaan tahunan sudah ditetapka disusun kemampuan, keterampilan dam pembiasan – pembiasaan yang diharapkan dicapai anak didik dalam satu tahun. 2. Program semester, Program semester adalh program tahunan yang dibagi menjadi dua yaitu dalam dua semester. 3. Perencanaan mingguan (satuan kegiatan mingguan), SKM berisi kegiatan – kegiatan dalam rangka mencapai kemampuan yang telah direncanakan untuk satu minggu sesuai tema pada minggu tersebut. 4. Perencanaan harian (satuan kegiatan harian) SKH merupakan perencanaan pembelajaran untuk setiap hari yang dibuat oleh guru yang dijabarkan dari SKM. 35 Ibid,Hlm 17-20
  • 72.
    72 Setelah perencanaan selesaidisusun maka tugas guru selanjutnya adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif, sebaiknya Anda perhatikan langkah – langkah berikut: 1. Kembangkan rencana yang telah anda susun dan perhatikan kejadian / peristiwa spontan yang ditunjukkan oleh anak terhadap materi yang dipelajari hari itu. 2. Melaksanakan penelitian terhadap minat dan pemahaman anak mengenai tema tersebut dengan menggunakan pengamatan, wawancara, diskusi kelompok maupun contoh hasil karya anak. 3. Bantu anak merefleksikan pemahamannya tentang isi dan proses kegiatan pembelajaran. 4. Lakukan percakapan dengan anak tentang hal – hal yang berkaitan dengan tema sehingga anda dapat mengetahui seberapa jauh pemahaman anak terhadap tema tersebut. 5. Adakan kerjasama dengan orangtua secara timbal balik mengenai kegiatan pembelajatan yang dilaksanakan. 6. Pada tahap pelaksaan ini kegiatan – kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: 7. Melaksanakn rencana pembelajaran yang telah dirancang pada tahap sebelumnya. 8. Anak didik diorganisasikan berdasarkan pada jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. 9. Pada kegiatan pembukaan sebaiknya anak didik diorganisasikan secara klasikal dengan tujuan menggiring dan mengkondisikan anak menuju pada tema yang telah dipilih. 10. Pada kegiatan inti anak – anak dibagi menjadi beberapa kelompok sesiau dengan kegiatan yang telag ditetapkan. 11. Pada akhir kegiatan, guru dapat mengajak anak didik mengunjungi tempat yang sesuai tema, misalnya kebun bunga, kantor pos, rumah sakit, dengan melibatkan orang tua anak didik.
  • 73.
    73 12. Pada akhirkegiatan guru melakukan refleksi dengan mengajak anak- anak berdiskusi dan meminta anak mengemukakan apa yang mereka pelajari. Guru melakukan penilaian terhadap proses kegiatan belajar dan penilaian hasil kegiatan. Dalam penilaian proses kegiatan, guru melakukan penilaian dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap cara belajar anak baik secara individual maupun kelompok. Anda harus mencatat dan mendokumentasikan hasil – hasil pengamatan tersebut secara cermat. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai oleh anak secara individual maupun kelompok. Banyak peranan lain yang harus dilakukan guru sebagai pendidik, pembimbing dan pelatih, diantaranya adalah sbb: 1. Korektor Sebagai korektor guru harus bisa membedakan nilai yang baik dan mana nilai yang buruk sehingga guru dapat menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didik. 2. Inspirator Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Pada peran ini guru harus dapat menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan atau melakukan inovasi pembelajaran guna kemajuan belajar dan perkembangan anak didik. 3. Informator Guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah materi yang telah di programkan sesuai kurikulum. 4. Organisator Guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik. 5. Motivator Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar lebih bersemangat dan aktif dalam belajar. 6. Inisiator
  • 74.
    74 Guru harus dapatberperan sebagai pencetus ide – ide kemajuan dalam pendidikan dan pembelajaran. 7. Failitator Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkandan memudahkan kegiatan belajar anak didik, menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dapat membangkitkan anak didik untuk melakukan eksplorasi. 8. Pembimbing Bimbingan yang diberikan guru sebaiknya sesuai kebutuhan anak didik. Guru harus melihat seberapa jauh anak memerlukan bimbingan dan bantuan. 9. Demonstrator Dalam kegiatan pembelajaran tidak semua materi pelajaran dapat dipahami anak didik mengingat kemampuan setiap anak berbeda-beda. Untuk materi yang sulit dipahami anak didik, guru harus dapat memperaagakan sehingga dapat membantu anak yang tidak memahami materi tersebut. 10. Pengelola kelas Pengelolaan kelas menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. 11. Mediator Sebagai mediator yaitu, peran guru sebagai penyedia media. Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. 12. Supervisor Sebagai supervisor hendaknya guru dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. D. Contoh Persiapan Pembelajaran Terpadu (Tematik) Didalam praktiknya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi cara guru melaksanakan pembelajaran terpadu. Hal ini mengakibatkan terdapatnya beraneka macam bentuk pelaksanaan pembelajaran terpadu. Ragam ini bisa ditentukan oleh
  • 75.
    75 sifat materi, yangdipadukan cara memadukan materinya, perencanaan pemaduannya, waktu pelaksanaannya, serta dilihat dari unsure pemicunya.36 Berikut akan diuraikan ragam bentuk implementasi pembelajaran terpadu: 1. Ditinjau dari sifat materi yang dipadukan Jika ditinjau dari sifat materi yang dipadukan, maka sedikitnya ada dua macam bentuk implementasi pembelajaran terpadu, yaitu : (1) Pembelajaran terpadu intra bidang studi, dan (2) Pembelajaran terpadu antar bidang studi Pembelajaran terpadu dikatakan bersifat intra bidang studi jika yang dipadukan adalah materi-materi (pokok bahasan, sub pokok bahasan, konsep, sub konsep, ketrampilan atau nilai) dalam satu bidang studi. Suatu pembelajaran yang memadukan materi pengukuran, rasio, pecahan, operasihitung, misalnya adalah pembelajaran terpadu intra bidang studi matematika. Pembelajaran yang memadukan ketrampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis misalnya, adalah pembelajaran terpadu intra bidang Bahasa Indonesia. Sementara itu, pembelajaran terpadu yang memadukan konsep, sub konsep, pokok bahasan, sub pokok bahasan bidang studi yang satu dengan bidang studi- bidang studi yang lainnya dikatakan pembelajaran terpadu antar bidang studi. Satu pembelajaran yang memadukan Matematikadan IPA, misalnya dikatakansebagai pembelajaran terpadu antar bidang studi Matematika dan IPA. Pembelajaran terpadu juga bias terjadi antara IPA,IPS, Mtematika, dan Bahasa Inddonesia. 2. Ditinjau dari cara memadukan materinya Didalam melaksanakan pembelajaran terpadu, guru terkadang masih memperhatikan secara tegas batas-batas antara bidang studi dengan yang lain. Namun kadang-kadang pula batas-batas antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain sudah sangat samar, hampir seperti tidak ada sekat yang membatasinya. Dalam praktiknya, jika suatu tema sudah ditetapkan, maka guru bersama siswa mengkaji tema tersebut dari sudut pandang masing-masing bidang studi. Berdasarkan tema tersebut, guru (bersama siswa) menentukan unsur-unsur bidang studi yang bias dipelajari tanpa harus ada tupang tindih dengan bidang studi yang lain. Jika suatu tema sudah ditetapkan, misalnya “banjir”, siswa diajak 36 Dahar Ratna, 2013. Pembelajaran Terpadu. Bogor: Erlangga. Hlm 29-31
  • 76.
    76 mempelajari aspek matematika,aspek IPA, aspek IPS dari banjir tersebut tanpa memperhatikan keterkaitan antara apa yang dipelajari dalam Matematika, IPA, dan IPS. Sementara itu, bisa juga terjadi pembelajaran yang mengakibatkan siswa harus memadukan secara utuh beberapa atau bahkan semua bidang studi. Siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui aspek dari masing-masing bidang studi, melainkan harus mengoperasikannya sedemikian rupa menjadi satu kesatuan yang utuh. Umumnya hal ini terjadi dalam pembelajaran proyek. 3. Ditinjau dari perencanaan panduannya Pembelajaran terpadu ada kalanya terjadi melalui proses perencanan yang matang, namun ada kalanya pula terjadi secara spontan. Guru dapat merancang sejak dari awal pembelajaran terpadu yang segala aktivitasnya diarahkan untuk menciptakan keterpaduan. Guru dapat memilih tema yang dapat menjadi payung untuk memadukan beberpa bidang studi serta menyusun kegiatan belajar berdasarkan tema tersebut. Ada kalanya guru tidak merencanakan secara matang keterpaduan antara konsep satu dengan konsep yang lainnya, namun dalam proses belajar mengajar guru dapat mengaitkan materi lain dengan materi yang sedang diajarkannya, sehingga memungkinkan gurur untuk melaksanakan pembelajaran terpadu. Misalnya dalam pembahasan konsep air di IPS dapat dikaitkan dengan konsep air di IPA. 4. Dilihat dari waktu pelaksanaannya Waktu pelaksanaan pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam. Ada yang dilaksanakan pada waktu tertentu yaitu apabila materi yang diajarkan cocok apabila diajarkan secara terpadu. Pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu dikatakan pembelajaran terpadu temporer yang jadwalnya tidak teratur. Pembelajarn tersebut bersifat situasional. Ada juga yang pelaksanaannya secara periodik, seperti pada akhir pekan, tengah semester, atau akhir semester. Wwaktu pelaksanaannya telah dirancang secara pasti. Selain itu, pembelajarn terpadu dapat juga dilaksanakan seharian penuh. Selama satu hari penuh siswa belajar sesuai dengan yang diinginkannya. Oleh karena itu, tidak perlu heran apabila dalam pembelajaran terpadu yang demikian siswa terlihat sibuk dengan
  • 77.
    77 urusannya masing-masing. Pembelajarnyang demikian dikenal dengan integrated day atau hari terpadu. 5. Dilihat dari unsur pemicu keterpaduan Guru dapat menganalisis kurikulum yang ada untuk mencapai keterpaduan. Seperti membuat peta konsep dan menemukan tema berdasarkan konsep-konsep yang saling tumpamng tindih tersebut. Dan berdasarkan analisis tersebut, guru menyusun program ppembelajarn terpadu yang memungkinkan. Selain itu, guru juga dapat menciptakan tema terlebih dahulu, kemudian berdasarkan tema yang telah dipilih guru menjalankan kegiatan belajar mengajar yang memadukan bidang-bidang studi yang berkaitan.
  • 78.
    78 BAB V TEKNIK DANKETERAMPILAN DASAR MENGAJAR A. Pengertian teknik dan keterampilan mengajar Teknik pembelajaran adalah siasat atau cara yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.37 Istilah mengajar sering digandengkan dengan belajar, sehingga sudah menjadi satu kalimat majemuk “kegiatan belajar mengajar” (KBM), proses belajar mengajar (PBM) dan untuk menyebutkan kedua istilah tersebut, saat ini disatukan dengan “pembelajaran”. Dengan demikian jika disebut “pembelajaran” itu berarti menunjukkan proses kegiatan yang melibatkan 2 unsur yaitu belajar dan mengajar. Mengajar merupakan kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh guru, dosen, atau instruktur dalam mengatur dan mengelolah lingkungan belajar untuk mendorong aktivitas belajar siswa atau pelajar. Sedangkan belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa atau pelajar merespon lingkungan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Fokus pembahasan dalam tulisan ini di arahkan pada unsur mengajar, kalaupun ada unsur belajar dibahas semata hanya untuk mempertegas dan memperjelas pembahasan mengajar itu sendiri. Mengajar (teaching) memiliki banyak pengertian, mulai dari pengertian yang sudah lama (tradisional) sampai pada pengertian yang terbaru (kontemporer). Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses menyampaikan informasi atau pengetahuan dari guru, dosen, atau instruktur 37 S. Nasution. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara. 1995.
  • 79.
    79 kepada siswa. Merujukpada pengertian mengajar tersebut, inti dari mengajar adalah proses menyampaikan (transfer) atau memindahkan. Memang dalam mengajar ada unsur menyampaikan atau transfer dari guru, dosen, atau instruktur kepada siswa. Akan tetapi pengertian memindahkan tersebut bukan seperti seorang memindahkan air minum dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Air yang dipindahkan dari satu cangkir ke cangkir yang lain volumenya akan tetap sama bahkan karena mungkin terjadi proses penguapan, maka volume air yang dipindahkan itu akan semakin berkurang (menyusut) dari keadaan sebelumnya. Oleh karena itu mengajar yang diartikan proses menyampaikan (transfer), maknanya adalah “menyebarluaskan/memperkaya” pengalaman belajar siswa sehingga dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal.38 Makna lain dari pengertian mengajar sebagai proses menyampaikan, selain upaya menyebarluaskan dan memperkaya pengalaman belajar siswa ialah menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menanamkan satu pohon mangga, maka kemudian akan menghasilkan beberapa cabang dan ranting dan dari situlah keluar mangga yang banyak. Dari ilustraasi tersebut bahwa mengajar sebagai proses transfer adalah menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga potensi berfikir (pengetahuan), sikap, keterampilan, kebiasaan dan kecakapan yang dimiliki siswa akan berkembang secara optimal. Perkembangan berikutnya pengertian mengajar, yang kini banyak dianut yaitu suatu proses mengatur dan mengelola lingkungan belajar agar berinteraksi dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Inti pengertian mengajar (tradisonal maupun kontemporer) keduanya sama yaitu untuk mengubah perilaku siswa, yakni dimiliki dan terkembangkannya pengetahuan/wawasan berfikir, sikap, kebiasaan, dan keterampilan/kecakapan atau yang lebih populer perubahan berkenaan dengan: pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perbedaanya terletak pada proses upaya merubah tingkah laku tersebut. Pandangan lama melalui proses menyampaikan (transfer) yang kadang-kadang sering diartikan sempit, hanya terbatas sebagai proses menyampaikan atau memindahkan pengetahuan dan keterampilan saja, sedangkan pada pengertian yang baru, bahwa perubahan 38 Amstrong. Supervisi Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta. 1992.
  • 80.
    80 perilaku tersebut dilakukandengan cara “mengelola lingkungan pembelajaran agar berinteraksi dengan siswa”. Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh guru, dosen, atau instruktur, yaitu: 1) menguasai materi atau bahan ajar yang diajarkan (what to teach), 2) menguasai metodelogi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach). Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek nomor 2, yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh setiap guru, dosen, atau instruktur, karena mengajar bukan sekedar proses menyampaikan pengetahuan saja, akan tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti: pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai.39 Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang khusus (most spesifis instructional behaviours) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, atau instruktur agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan professional. Dengan demikan keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang bersifat mendasar dan melekat harus dimiliki dan diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen, atau instruktur dalam melakasanakan tugasnya.40 B. Keterampilan dasar mengajar 1. Keterampilan Bertanya Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses 39 A. Tabrani Rusyan dkk.. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Remaja Karya. 1990 40 Soetomo. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya, Usaha Nasional. 1993.
  • 81.
    81 belajar di kalangansiswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pengelolaan kelas dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif. Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati dan empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan. Keterampilan bertanya dibedakan atas : Keterampilan bertanya dasar : mempunyai beberapa komponen yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan, Ketrampilan bertanya lanjut : lanjutan dari bertanya dasar yang mengutamakan usaha pengembangan kemampuan berfikir siswa. Tujuan-tujuan dalam memberikan pertanyaan adalah: a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan. b. Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep. c. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar. d. Mengembangkan cara belajar siswa aktif. e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi. f. Mendorong siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi. g. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa. h. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar. 2. Keterampilan Memberi Penguatan Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau mempunyai pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang dan
  • 82.
    82 meningkatkan motivasi belajardan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang produktif. Ketrampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh mahasiswa calon guru agar dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis. Komponen-komponen itu adalah : 41 Penguatan verbal : diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal : terdiri dari penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respons yang negatif. 3. Keterampilan Mengadakan Variasi Variasi stimulus adalah memberikan respon yang bervariasi (berbeda atau berganti-ganti). Melalui variasi stimulus ini dimaksudkan untuk menjaga agar suasana pembelajaran selalu menarik, tidak membosankan, sehingga siswa selalu menunjukkan sikap antusias, bergairah, penuh perhatian, dan selalu berpartisipasi aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu : 1. Variasi dalam pola interaksi pembelajaran. 2. Variasi penggunaan media atau alat bantu pembelajaran. 3. Variasi penggunaan metode serta gaya mengajar. 4. Keterampilan Menjelaskan Yang dimaksud dengan keterampilan dasar mengajar menjelaskan dalam pembelajaran ialah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang 41 Sukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Pasca sarjana UPIStrategi pembelajaran fisikaBAHAN06 Keterampilan Dasar Gurumakalah ket das mengajar
  • 83.
    83 diorganisasi secara sistematisuntuk menunjukkan adanya hubungan antara satu bagian dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok, merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam kegiatan seoang guru. Interaksi di dalam kelas cenderung dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan baik oleh tenaga pendidik sendiri, oleh tenaga pendidik dan peserta didik, maupun antar peserta didik. Adapun terdapat komponen-komponen keterampilan dasar mengajar menjelaskan adalah sebagai berikut:42 1. Komponen merencanakan 2. Penyajian suatu penjelasan 3. Pemberian tekanan 4. Penggunaan balikkan Tujuan Keterampilan Menjelaskan 1. Membimbing peserta didik memahami materi yang dipelajari. 2. Melibatkan peserta didik untuk berpikir dengan memecahkan masalah- masalah. 3. Memberi balikan kepada peserta didik mengenai tingkat pemahamannya, dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka. 4. Membimbing peserta didik untuk menghayati dan mendapat proses penalaran, serta menggunakan bukti-bukti dalam pmecahan masalah. 5. Menolong peserta didik untuk mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip-prinsip umum secara objektif dan bernalar. 5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prakondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada 42 Wati, Widya. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi pembelajaranKaterampilan Dasar Guru. 2010.
  • 84.
    84 apa yang akandipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Adapun tujuan membuka pelajaran antara lain, yaitu : 1) menarik perhatian siswa; 2) menumbuhkan motivasi belajar siswa; 3) memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Tujuan kegiatan menutup pelajaran yaitu untuk memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai hasil belajar yang telah dikuasainya. Kegiatan-kegiatan dalam menutup pelajaran misalnya : merangkum atau membuat garis besar permasalahan yang dibahas, memberikan tindak lanjut, dan lain-lain. 6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa. 7. Keterampilan Mengelola Kelas Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prefentif) berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif
  • 85.
    85 dan mengendalikan pelajaran,dan bersifat represif keterampilan yang berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang baik. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Pengelolaan kelas tidak hanya berwujud pengaturan ruangan dan tempat duduk,akan tetapi juga dalam bentuk interaksi yang baik dengan siswa, dan penciptaan hubungan guru dan siswa, dan hubungan antara siswa yang baik. Perwujudan pengelolaan kelas yang baik adalah terciptanya kondisi yang optimal untuk proses belajar-mengajar yang efektif. 8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Komponen keterampilan yang digunakan adalah :43 keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pentingnya Keterampilan Dasar Mengajar Guru Menurut UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terutama Pasal 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik 43 Darmaji, Hamid. 2010. Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Cet. Ke-2
  • 86.
    86 pada pendidikan anakusia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sementara itu, tenaga pendidik adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan munculnya UU ini guru/dosen sudah diakui sebagai tenaga professional setara dengan profesi lain. Yang dimaksud profesional di sini adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Karena sebagai tenaga profesional, maka seorang pendidik harus mempunyai kompetensi tertentu disyaratkan. Kompetensi yang dimaksud adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Menurut UU seorang pendidik harus mempunyai empat kompetensi, yaitu pedagogis, kepribadian, sosial, dan professional. Kompetensi pedagogis adalah kemampuan seorang pendidik mengelola pembelajaran peserta didik, kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik, kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama pendidik, teman sejawat, dan masyarakat sekitar, sementara kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Secara eksplisit empat kompetensi ini agaknya hanya ditekankan bagi seorang guru, namun sebenarnya juga berlaku bagi seorang dosen. Bahwa siapa pun yang akan menjadi tenaga pendidik, dosen ataupun guru, seharusnya mempunyai empat kompetensi di atas. Setiap tenaga pendidik harus mempunyai kemampuan menyampaikan materi yang dimiliki kepada peserta didik secara tepat. Untuk itu, pemahaman tentang konsep pendidikan, belajar dan psikologi orang dewasa perlu dimiliki seorang tenaga pendidik. Sebab, kita mungkin sering mendengar ada seorang tenaga pendidik yang sangat diakui keilmuannya namun ketika mengajar di kelas
  • 87.
    87 sama sekali tidakdipahami oleh peserta didik. Ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal ini, yaitu peserta didik yang di bawah standar atau tenaga pendidik yang tidak memahami audiens. Dalam ilmu pendidikan, kemungkinan yang kedua lebih menjadi penyebab utama. Bahwa seorang tenaga pendidik seharusnya lebih mengenal peserta didik dan tahu cara bagaimana menyampaikan materi secara tepat. Bertolak dari kasus tersebut, sudah seharusnya seorang tenaga pendidik dan calon tenaga pendidik mempunyai kemampuan pedagogis agar apa yang disampaikan di kelas dapat dipahami oleh peserta didik yang pada akhirnya dapat mencerahkan mereka. Kemampuan pedagogis yang dimaksud di sini antara lain terkait dengan metode pembelajaran, teknik mengelola kelas, menggunakan media, teknik mengevaluasi sampai melakukan refleksi proses pembelajaran. Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa mengajar adalah bukan sekedar proses penyampaian atau penerusan pengetahuan. Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, yaitu penggunaan secara `integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan pesan. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan. Sedangkan aplikasinya secara unik dalam arti secara simultan dipengarhi oleh semua komponen belajar- mengajar. Komponen yang dimaksud yaitu tujuan yang ingin dicapai, pesan yang ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, serta yang tidak pentingnya keterampilan, kebiasaan serta wawasan tentang diri dan misi seorang guru/dosen sebagai pendidik. Kompetensi dasar mengajar dalam tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai pengetahuan dasar pembelajaran yang perlu dipahami seorang tenaga pendidik. Sebagai sebuah kemampuan minimal, maka seorang tenaga pendidik harus mampu melakukan inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran. Terlebih bahwa jika yang dihadapi adalah manusia dewasa yang sudah mempunyai pengetahuan dan kemandirian berpikir meskipun masih perlu pendampingan dan mitra belajar. Untuk itu, semangat terus belajar dan menambah wawasan tentang kependidikan harus dilakukan seorang tenaga pendidik, apa pun pelajaran/matakuliah yang
  • 88.
    88 diampu dan apapun latar belakang pendidikannya, termasuk tenaga pendidik yang berlatar belakang kependidi.44 44 Wati, Widya. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi pembelajaranKaterampilan Dasar Guru. 2010.
  • 89.
    89 DAFTAR PUSTAKA Abu Ahmadidan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pusaka Setia, 2003, hal 47. Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004, hal http://wordnetweb.princeto.edu/perl/webwn?s=strategy.Online,07,maret,20 11. Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004, hal 63. Amstrong. 1992. Supervisi Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta. A.Tabrani Rusyan dkk. 1990. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Remaja Karya. Darmaji, Hamid. 2010. Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Cet. Ke-2 Dedi Supriawan dan A Benyamin Surasega.1999.Strategi Belajar Mengajar.Bandung:FPTK-IKIP Bandung. Mulyasa.2004.Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK.Bandung; PT.Remaja Rosdakarya Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok, (Bandung : Alfabeta, 2009), hlm 25. Lie, A, Cooperative Learning, Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang- ruang Kelas. (Jakarta : Grasindo, 2007), hlm 68. Masitoh & Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, Jakarta: DEPAG RI, 2009, hal 37. Mudjiono Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm 79. Ngalimun, dkk..2015.strategi dan model pembelajaran. Yogyakarta;Aswaja Pressindo.
  • 90.
    90 Paturrohmah, Pupuh danSobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Refika Aditama, 2007, hal 46. Rosdayana, Dede.2004. Paradigma Pendidikan Demokratis:Jakarta.Kencana. Slavin R. E, Coopertative Learning Teori, Riset, dan Praktik, (Bandung : Nusa Media, 2008), hlm 107. S. Nasution. 1995. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara. Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya, Usaha Nasional. Sukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. Pasca sarjana UPIStrategi pembelajaran fisikaBAHAN06 Keterampilan Dasar Gurumakalah ket das mengajar S. Nasution. 1995. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta, Bumi Aksara. Wati, Widya. 2010. Keterampilan Dasar Guru, Pasca sarjana UNPStrategi pembelajaranKaterampilan Dasar Guru