education purpose only

HENGKY CHRIST
PROSES VISUALISASI
Setelah script atau skenario selesai penulisannya, tentunya proses visualisasi
harus terkomunikasikan baik sesuai dengan konsep visual kamu. Nantinya begitu
banyak pihak, baik teman kerja, klien atau pun personal yang bakal terlibat
menggarap karya kamu. Oleh karena itu, diperlukan perangkat dan pemahaman
yang efektif mengenai pandangan visual untuk menterjemahkan pemikiran besar
yang telah dituangkan ke dalam script. Disini kamu perlu membuatkan
storyboard, yaitu menterjemahkan skenario ke dalam bentuk gambar sketsa.
• Secara teknis kamu menggambarkan alur cerita setiap scene yang
bisa terdiri dari beberapa shot dalam bentuk sketsa.
• Menggambarkan berbagai pengadeganan dan elemen penting yang
harus dihadirkan dalam scene tersebut.
• Rencana menerapkan aturan framing, angle, pergerakan kamera,
komposisi, kedalaman, warna, tekstur, character shot, lighting dan
lainnya
STORYBOARD EFEKTIF
•

Storyboard ditujukan agar kamu dan tim mendapatkan berbagai kemudahan.
Memang benar, pasti ini menyebabkan adanya tambahan pekerjaan. Namun,
adanya storyboard bisa mengurangi resiko salah penafsiran berbagai pihak
yang bakal terlibat. Dan yang penting visi dan estetika karya animasi kamu
bisa diterima secara efektif oleh pihak lain. Makanya pada sebuah scene yang
sedang dipikirkan, kamu perlu :
• memahami apa yang mau disampaikan pada audiens
• memutuskan setting dan props yang bakal muncul
• menetapkan framing, angle dan pergerakan kamera
• arah pergerakan karakter dalam rangkaian adegan
FORMAT UMUM
Agar storyboard kamu mudah dan jelas dipahami orang lain, maka penuhilah
elemen-elemen yang dibutuhkan, seperti :








template dengan aspek ratio, 4:3 untuk tv dan 16:9 untuk film
nomor shot, scene dan catatannya
gambar sketsa
teks mengenai adegan terkait
audio yang bakal muncul
catatan mengenai framing, angle dan pergerakan kamera
transisi antar shot
BASIC FRAMING

Bird Eyes

High Angle

Low angle

Canted angle
Apa saja yang ada di storyboard
•

Storyboard dibuat untuk setiap scene yang akan terdiri dari beberapa shot.
Maksudnya, kamu akan menceritakan apa pun yang termuat di setiap scene
pada shooting script dan akan dituangkan dalam rangkaian shot. Oleh karena
itu agar lengkap dan efektif, storyboard haruslah memuat dan
mengisyaratkan :
• Lokasi dan set
• Penempatan kamera
• Komposisi karakter dan elemen
• Pergerakan karakter
• Konteks dramatis
• Pergerakan kamera
• Kamera angle
VISUAL DESIGN
•

•

Musti selalu diingat ya, storyboard itu
bukan hanya gambar sketsa karakter
yang bergerak sesuai script. Kamu
baiknya juga memiliki posisi sebagai
audiens dan director yang tengah
menonton dan memperhatikan karya
bersangkutan.
Haruslah memenuhi grammar film
dan art design agar visual naratif dan
estetikanya terpenuhi. Ada beberapa
tips yang bisa kamu cermati.
Terminology yang sering digunakan
• ECU
shot
digunakan
untuk
meningkatkan emosi bagi audiens,
seperti karakter tengah menangis,
berteriak, sedih, takut atau kaget.
• Establish shot atau wide shot diperlukan
untuk memberikan gambaran lokasi bagi
audiens.
Bermanfaat pula sebagai
transisi antar scene yang naratifnya
sangat berbeda
• OTS (over shoulder) shot untuk
mendapatkan perbincangan atau
konfrontasi yang dinamis agar
audiens
bisa
terlibat
secara
emosional di dalamnya.
• 3s atau 4s shot baik digunakan
untuk memberikan pengenalan
atmosfer mengenai set atau lokasi
tertentu.
• Gunakan angle kamera yang bisa membuat
audiens menjadi agak terdisorientasi, misalnya
POV karakter yang mengalami kejadian
kecelakaan, perkelahian, mabuk, tergelincir atau
tengah berada di ketinggian.

• Buatlah shot karakter tengah
berjalan, berlari sendiri dan sambil
berbicara atau bereaksi terhadap
karakter lainnya.
• Atau shot yang bisa memandu
mata
audiens
mengikuti
pergerakan, baik yang jelas
konturnya atau pun imajiner.
• Gunakan POV shot ketika karakter
melihat sesuatu dan menunjukkan
reaksi terkait.
• Ragamkan jarak shot agar audiens tidak bosan.
• Gabungkan wide, mid dan close shot dalam sebuah scene agar scene
tersebut terlihat dinamis dan menarik.
• Rancang visual balance pada setiap shot.
STORYBOARDING
STORYBOARDING
STORYBOARDING

STORYBOARDING

  • 1.
  • 2.
    PROSES VISUALISASI Setelah scriptatau skenario selesai penulisannya, tentunya proses visualisasi harus terkomunikasikan baik sesuai dengan konsep visual kamu. Nantinya begitu banyak pihak, baik teman kerja, klien atau pun personal yang bakal terlibat menggarap karya kamu. Oleh karena itu, diperlukan perangkat dan pemahaman yang efektif mengenai pandangan visual untuk menterjemahkan pemikiran besar yang telah dituangkan ke dalam script. Disini kamu perlu membuatkan storyboard, yaitu menterjemahkan skenario ke dalam bentuk gambar sketsa. • Secara teknis kamu menggambarkan alur cerita setiap scene yang bisa terdiri dari beberapa shot dalam bentuk sketsa. • Menggambarkan berbagai pengadeganan dan elemen penting yang harus dihadirkan dalam scene tersebut. • Rencana menerapkan aturan framing, angle, pergerakan kamera, komposisi, kedalaman, warna, tekstur, character shot, lighting dan lainnya
  • 3.
    STORYBOARD EFEKTIF • Storyboard ditujukanagar kamu dan tim mendapatkan berbagai kemudahan. Memang benar, pasti ini menyebabkan adanya tambahan pekerjaan. Namun, adanya storyboard bisa mengurangi resiko salah penafsiran berbagai pihak yang bakal terlibat. Dan yang penting visi dan estetika karya animasi kamu bisa diterima secara efektif oleh pihak lain. Makanya pada sebuah scene yang sedang dipikirkan, kamu perlu : • memahami apa yang mau disampaikan pada audiens • memutuskan setting dan props yang bakal muncul • menetapkan framing, angle dan pergerakan kamera • arah pergerakan karakter dalam rangkaian adegan
  • 4.
    FORMAT UMUM Agar storyboardkamu mudah dan jelas dipahami orang lain, maka penuhilah elemen-elemen yang dibutuhkan, seperti :        template dengan aspek ratio, 4:3 untuk tv dan 16:9 untuk film nomor shot, scene dan catatannya gambar sketsa teks mengenai adegan terkait audio yang bakal muncul catatan mengenai framing, angle dan pergerakan kamera transisi antar shot
  • 5.
    BASIC FRAMING Bird Eyes HighAngle Low angle Canted angle
  • 6.
    Apa saja yangada di storyboard • Storyboard dibuat untuk setiap scene yang akan terdiri dari beberapa shot. Maksudnya, kamu akan menceritakan apa pun yang termuat di setiap scene pada shooting script dan akan dituangkan dalam rangkaian shot. Oleh karena itu agar lengkap dan efektif, storyboard haruslah memuat dan mengisyaratkan : • Lokasi dan set • Penempatan kamera • Komposisi karakter dan elemen • Pergerakan karakter • Konteks dramatis • Pergerakan kamera • Kamera angle
  • 7.
    VISUAL DESIGN • • Musti selaludiingat ya, storyboard itu bukan hanya gambar sketsa karakter yang bergerak sesuai script. Kamu baiknya juga memiliki posisi sebagai audiens dan director yang tengah menonton dan memperhatikan karya bersangkutan. Haruslah memenuhi grammar film dan art design agar visual naratif dan estetikanya terpenuhi. Ada beberapa tips yang bisa kamu cermati.
  • 8.
    Terminology yang seringdigunakan • ECU shot digunakan untuk meningkatkan emosi bagi audiens, seperti karakter tengah menangis, berteriak, sedih, takut atau kaget. • Establish shot atau wide shot diperlukan untuk memberikan gambaran lokasi bagi audiens. Bermanfaat pula sebagai transisi antar scene yang naratifnya sangat berbeda • OTS (over shoulder) shot untuk mendapatkan perbincangan atau konfrontasi yang dinamis agar audiens bisa terlibat secara emosional di dalamnya.
  • 9.
    • 3s atau4s shot baik digunakan untuk memberikan pengenalan atmosfer mengenai set atau lokasi tertentu. • Gunakan angle kamera yang bisa membuat audiens menjadi agak terdisorientasi, misalnya POV karakter yang mengalami kejadian kecelakaan, perkelahian, mabuk, tergelincir atau tengah berada di ketinggian. • Buatlah shot karakter tengah berjalan, berlari sendiri dan sambil berbicara atau bereaksi terhadap karakter lainnya.
  • 10.
    • Atau shotyang bisa memandu mata audiens mengikuti pergerakan, baik yang jelas konturnya atau pun imajiner. • Gunakan POV shot ketika karakter melihat sesuatu dan menunjukkan reaksi terkait. • Ragamkan jarak shot agar audiens tidak bosan. • Gabungkan wide, mid dan close shot dalam sebuah scene agar scene tersebut terlihat dinamis dan menarik. • Rancang visual balance pada setiap shot.