SIRAH NABI MUHAMMAD 
PROGRAM STUDI 
TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PENGEMBANGAN 
ILMU AL 
MAKALAH 
SIRAH NABAWIYAH 
Tentang 
SAW. TAHUN 9 DAN 10 HIJRIYAH 
Disusun oleh: 
Nada Juwita : 20141886 
Novita Mandasari : 20141904 
Elvi Susanti : 20141909 
Dosen Pembimbing: 
Drs. H. SUHEFRI, M.Ag 
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) JURUSAN 
AL-QURAN (STAI-PIQ) SUMATERA BARAT 
2014 M/ 1435 H
1 
PEMBAHASAN 
SIRAH NABI MUHAMMAD SAW. TAHUN 9 DAN 10 HIJRIYAH 
A. PERISTIWA PASCA PENAKLUKAN MEKKAH 
1. Para pegawai pemungutan sedekah (zakat) 
a. Uyainah bin Hishn diutus ke Bani Tamim 
b. Yazid bin al-Hushain, diutus ke Bani Aslam dan Bani Ghifar 
c. Abbad bin Bisyr al-Asyhali, diutus ke Bani Sulaim dan Muzainah 
d. Rafi’ bin Mukayyits, diutus ke Juhainah 
e. Amr bin al-Ash, diutus ke Bani Fuzarah 
f. Basyir bin Sufyan diutus ke Bani Ka’b 
g. Ibn al-Lutbiyyah al-Azdi, diutus ke Bani Dzubyan 
h. Al-Muhajir bin Abu Umayah, diutus ke Shan’a 
i. Ziyad bin Labib, diutus ke Hadhramaut 
j. ‘Adi bin Hatim, diutus ke kabilah Thayyi’ dan Bani Asad 
k. Malik bin Nuwairah, diutus ke Hanzhalah 
l. Az-Zabarqan bin Badr, diutus ke sebagian Bani Sa’d 
m. Qais bin Ashim, diutus ke sebagian Bani Sa’d yang lain 
n. Al-A’la’ bin al-Hadhrami, diutus ke kawasan al-Bahrain 
o. Ali bin Abi Thalib, diutus ke Najran 
2. Pengiriman Pasukan Khusus 
a. Pasukan khusus ke Bani Tamim di bawah komando Uyainah bin Hishn 
al-Fazari. Pasukan ini berjumlah lima puluh pasukan berkuda. Karena 
Bani Tamim telah memprovokasi beberapa kabilah dan mencegah 
mereka untuk membayar jizyah (upeti). 
b. Pasukan khusus di bawah komando Quthbah bin Amir ke 
perkampungan Khats’am di pojok Tubalah pada bulan Shafar. 
c. Pasukan khusus di bawah komando adh-Dhahaq bin Sufyan al-Kilabi 
ke Bani Kilab pada bulan Rabi’ul Awal dengan tujuan menyuruh 
mereka masuk Islam. Namun mereka enggan dan mengajak berperang.
d. Pasukan khusus di bawah komando Alqamah bin Mujazziz al-Mudlijiy 
menuju pesisir Jeddah pada bulan Rabi’ul Akhir. Jumlah pasukan 300 
prajurit. 
e. Pasukan khusus di bawah komando Ali bin Abi Thalib pada bulan 
Rabi’ul Awwal untuk menghancurkan salah satu berhala al-Qalas di 
daerah Thayyi’.1 
2 
B. PERANG TABUK 
1. Latar belakang terjadinya perang Tabuk 
Sebabnya, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya, 
karena kaum Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali 
dari negeri Syam bahwa orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan 
besar dengan dukungan orang-orang Arab Nasrani dari suku Luhkam, 
Judzam, dan lainnya yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah 
pasukan perintis mereka sampai di Balqa’, Rasulullah saw., memobilisasi 
kaum Muslimin untuk mengahadapi mereka. Thabrani meriwayatkan dari 
hadits Ibnu Hushain bahwa jumlah tentara Romawi sebanyak 40.000 
personil.2 
Perang ini terjadi pada Bulan Rajab Tahun Kesembilan Hijriyah. 
Yakni peperangan membuka kota Makkah untuk menentukan di antara al- 
Haq dan al-Batil, kebenaran dan kepalsuan, hingga dengannya tiada ruang 
lagi untuk kesangsian dan keraguan tentang kebenaran risalah yang dibawa 
oleh Muhammad saw. dikalangan orang-orang Arab. Pada peristiwa ini 
sangat banyak orang-orang Arab memeluk agama Islam. 
Perang ini merupakan perseteruan melawan kekuatan terbesar dan 
negara terkuat pada masa itu, dengan persenjataan yang sangat kuat, 
sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang Arab.3 Permulaan tentangan 
1 Shafiyyurrahman al-Mubarakfuriy, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad 
saw. dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012) Cet. XIV, hal. 631- 
634 
2 Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani Press. 
2009) Cet. XV. Hal.437 
3Abul Hasan ‘Ali al-Hasany An-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw., 
(Jokjakarta: Mardhiyah Press, 2007) Cet. III, hal. 439
mereka ialah pembunuhan yang mereka lakukan ke atas duta Rasulullah 
saw. al-Harith bin Amir al-Uzdi oleh Syurahbil bin Amru al-Ghassani 
ketika dia di utus untuk membawa risalahnya untuk diserahkan kepada 
penguasa Basra. Peristiwa tersebut memaksa Rasulullah saw. untuk 
mengirim pasukan khusus yang dikomandani oleh Zaid bin Haritsa 
sehingga terjadilah pertempuran yang cukup sengit di Mu’tah. Walaupun 
pada pertempuran tersebut tidak berhasil membalas dendam terhadap 
orang-orang zhalim, namun menyisakan rasa takut yang cukup besar bagi 
orang-orang Arab yang berada di daerah yang jauh maupun dekat. 
Kaisar Romawi tidak pernah menganggap remeh dampak perang 
Mu’tah yang begitu besar bagi kepentingan kaum Muslimin, demikian 
juga dengan banyaknya kabilah-kabilah Arab yang berambisi melepaskan 
diri dari kekuasaan Kaisar setelah itu dan bergabung dengan kaum 
Muslimin. Mengingat betapa pentingnya hal ini, maka belum sampai satu 
tahun pasca perang Mu’tah, kaisar sudah mulai menyiapkan pasukan dan 
juga mulai menyiapkan suatu peperangan berdarah yang amat 
menentukan.4 
2. Informasi Umum Mengenai Persiapan Romawi dan Ghassan 
Kabar mengenai persiapan Romawi dan Ghassan untuk melakukan 
perang penetuan terhadap kaum Muslimin sudah tersebar di Madinah 
sehingga rasa takut dan khawatir menyelimuti mereka setiap saat. Sampai-sampai 
setiap kali mendengar suara-suara yang aneh selalu diasumsikan 
3 
sebagai pasukan Romawi yang datang menyerang. 
Semua itu mengindikasikan betapa kritisnya keadaan yang 
dirasakan kaum Muslimin dalam mengahadapi pasukan Romawi. 
Ditambah lagi dengan sikap orang-orang munafik yang tidak ketinggalan 
menyebarkan kabar tentang segala persiapan pasukan Romawi. Orang-orang 
munafik sangat berharap terjadinya hal-hal yang buruk terhadap 
Islam dan pemeluknya.5 
4 Shofiyurrahman, Op. Cit., hal. 638-639 
5 Ibid. Hal.639-640
4 
3. Informasi Khusus seputar persiapan Romawi dan Ghassan 
Demikianlah situasi dan kondisi yang dihadapi kaum muslimin 
dan berita yang diterima mereka tatkala disampaikan oleh orang-orang 
dari suku Nabath yang datang membawa minyak dari Syam menuju 
Madinah bahwa Heraclius telah menyiapkan tentara yang amat besar 
berkekuatan 40 ribu pasukan ahli perang. 
Sebuah pasukan tentara yang hendak menyerang perbatasan tanah 
Arab sebelah utara, dengan suatu serangan yang akan membuat orang lupa 
akan penarikan mundur yang secara cerdik dilakukan pihak Arab di Mu’ta 
dulu itu. Juga akan membuat orang lupa akan pengaruh Muslimin yang 
deras maju ke segenap penjuru yang hendak membendung kekuasaan 
Rumawi di Syam dan kekuasaan Persia di Hira.6 
4. Suasana Bahaya Semakin Meruncing 
Faktor yang membawa suasana lebih merbahaya ialah masa, kerana 
ketika ini ialah musim kemarau yang teruk melanda al-Madinah, semua 
orang mengalami kesusahan hidup, kawasan tanaman kekeringan air dan 
binatang tunganggan berkurangan, cuma buah-buahan sahaja yang nampak 
menjadi dan matang, apa lagi tuannya berasa segan untuk bergerak keluar 
meninggal dusun, tambahan pula jarak yang jauh dan jalan pun sukar 
dilalui.7 
5. Tentera Islam Bergerak Ke Tabuk 
Rasulullah mulai bergerak pada hari Kamis ke arah selatan menuju 
Tabuk dengan membawa pasukan yang besar jumlah mencapai 30.000 
prajurit. Sebelumnya, pasukan muslimin tidak pernah pergi berperang 
dengan jumlah sebesar ini. Oleh karena itu mereka tidak mampu untuk 
mempersiapkan segala kebutuhan secara maksimal. Sehingga satu 
kendaraan unta harus dinaiki delapan belas prajurit secara bergantian. 
Kadang mereka terpaksa memakan dedaunan hingga bibir mereka menjadi 
6 Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera AntarNusa, 
1993) Cet. XVI, hal. 386 
7 Shafiyurrahman al-Mubarakfuriy, ar-Rahiq al-Makhtum, (India: Darussalam, 2008) hal, 
431
bengkak. Mereka juga terpaksa harus menyembelih unta untuk mengambil 
air dari kantong air di dalam perutnya. Padahal jumlah unta yang dibawa 
sangat minim. Pasukan dinamakan Jaisy al-‘Usrah (Pasukan dalam masa 
kesulitan). 
Tentara Islam bergerak ke Tabuk melalui kawasan al-Hijr 
perkampungan Tsamud, suku kaum yang telah memotong batu-batu bukit, 
di lembah "Wadi al-Qura". Tentara Islam mengambil air di lembah 
tersebut. 
Pasukan Islam tiba di Tabuk dan berkubu di sana. Rasulullah sudah 
siap menghadapi musuh, beliau menganjurkan untuk meraih keutamaan 
dunia dan akhirat. Memberi peringatan dan ancaman, memberi kabar 
gembira sehingga semangat pasukan bergelora dan dapat membayar 
kekurangan dan ketimpangan. 
Di sisi lain orang-orang Romawi dan sekutunya terlihat gentar saat 
mendengar pasukan Rasulullah saw. Mereka tidak memiliki nyali untuk 
memulai maju dan berhadapan langsung. Sehingga orang-orang Romawi 
berpencar-pencar di setiap perbatasan negeri mereka. 
Yahnah bin Rubah pemimpin kabilah Aylah, datang mengajak 
berdamai dengan Rasulullah saw., lalu memberika upeti. Selanjutnya, 
datang juga penduduk Jarba’ dan Adzruh, mereka juga menyerahkan upeti. 
Lalu Rasulullah mengutus Khalid bin al-Walid bersama 420 
pasukan penunggang kuda kepada raja di Dumatul Jandal bernama Ukaidir 
bin Abdul Malik. Beliau berkata kepada Khalid, “Sesungguhnya kamu 
akan mendapatinya (Ukaidir) sedang berburu sapi.” Lalu Khalid 
berangkat dan menemukan Ukaidir sedang memburu sapi, lalu ia 
menangkap Ukaidir dan membawa kepada Rasulullah. Beliau menjamin 
keamana Ukaidir dan menawarkan untuk berdamai dengan syarat 
menyerahkan upeti sebesar 2000 ekor unta, 800 orang tawanan, 400 buah 
baju besi, dan 400 buah tombak. Dia berseia untuk menyerahkan jizyah 
(upeti). 
5
Kabilah-kabilah yang dahulu mengabdi kepada kekaisaran Romawi 
merasa yakin bahwa ketergantungan mereka terhadap tuan-tuan mereka 
terdahulu sudah berakhir dan berpindah tangan kepada kaum muslimin. 
Dengan begitu, wilayah Daulah Islamiyah bertambah luas sehingga 
menjadi berbatasan langsung dengan wilayah kekuasan Romawi.8 
6. Kembali ke Madinah 
Pasukan Islam kembali dari Tabuk dengan meraih kemenangan, 
tanpa melakukan peperangan. Dan Allah pun telah mencukupkan 
peperangan ini atas orang-orang beriman. 
Ketika sampai di jalan berbukit dalam sebuah perjalanan pulang, 
ada dua belas orang munafik yang mencoba membunuh Rasulullah saw. 
peristiwa ini terjadi ketika beliau berjalan di suatu bukit bersama Ammar 
yang bertugas memegang tali kekang unta beliau dan Hudzaifah bin al- 
Yaman yang berjalan menggiringnya. Tiba-tiba datang orang-orang 
munafik dengan menutup kepala dengan kain. Rasulullah memukul wajah 
tunggangan-tunggangan mereka dengan tongkat yang sedang dipegangnya 
sehingga membuat mereka jadi takut. Akhirnya mereka kembali 
bergabung dengan pasukan yang lain. Rasulullah menyebutkan nama-nama 
mereka kepada Hudzaifah sekaligus niat buruk mereka terhadap 
beliau. Karena itulah Hudzaifah dijuluki pemegang rahasia Rasulullah 
saw. peristiwa ini lalu diabadikan lewat firman-Nya: 
Artinya: “Dan mereka menginginkan apa yang tidak mereka capai.” 
(QS. At-Taubah: 74) 
Kepulangan Nabi saw. dari Tabuk dan sampainya kembali ke 
Madinah terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriyah. Peperangan ini 
memakan waktu 50 hari, selama 20 hari beliau menetap di Tabuk, dan 
selebihnya dihabiskan untuk perjalananberangkat dan pulang. Dan 
peperangan tersebut merupakan peperangan terakhir yang belaiu ikuti. 9 
6 
8 Shafiyurrahman, Op. Cit, Hal. 645-648 
9 Ibid
7 
7. Orang-orang yang tidak ikut serta 
Karena kondisinya yang khusus, peperangan ini merupakan 
cobaan yang berat dari Allah di mana diketahui perbeaan antara orang-orang 
yang benar-benar beriman dan orang-orang selain mereka, 
sebagaiman dalam firman Allah: 
Artinya: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang 
beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia 
menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). 
(QS. Ali Imran: 179) 
Orang-orang munafik yang tidak ikut dalam perang ini berjumlah 
sekitar 80 orang. mereka mengemukakan alas an mereka masing-masing 
yang kebanyakan dibuat-buat dan diada-adakan. Sedangkan tiga orang dari 
golongan orang-orang mukmin yang lurus, yaitu Ka’b bin Malik, Murarah 
bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Mereka berkata apa adanya mengapa 
tidak ikut serta dalam peperangan ini. Sebagai hukumannya Rasulullah 
melarang para sahabat berbicara dengan mereka bertiga dan mereka juga 
harus menjalani pengucilan secara total dengan orang-orang mukmin. 
Mereka benar-benar merasakan tekanan yang amat berat, terlebih lagi 
mereka juga harus berjauhan dengan istri mereka selama empat puluh hari, 
hingga pengucilan ini berlangsung selama lima puluh hari. Kemudiam 
Allah menurunkan ampunan-Nya kepada mereka: 
Artinya: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan 
taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi 
mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit 
(pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui 
bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan 
kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka 
agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah 
Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At- 
Taubah: 118) 
8. Pengaruh Peperangan 
Perang Tabuk merupakan peperangan terakhir ketika zaman 
Rasulullah dan membawa pengaruh yang besar bagi kaum Muslimin. 
Kedudukan mereka semakin kuat di Jazirah Arab dan pengaruh Islam
semakin kuat di kalangan mereka dengan banyaknya orang yang 
berbondong-bondong masuk Islam. 
a. Sirnanya harapan orang-orang jahiliyah dan kaum munafiq yang 
8 
selalu menantikan kebinasaan kaum muslimin. 
b. Allah memerintahkan untuk berbuat keras terhadap orang-orang 
munafiq, hingga melarang untuk menerima shadaqah mereka, 
menshalatkan jenazah, memohonkan ampun untuk mereka dan 
memohonkan ampun (berdo’a) di kuburan mereka. 
c. Allah memerintahkan untuk menghancurkan masjid dhirar. 
d. Tersingkapnya kedok orang munafiq dengan turunnya wahyu, 
sehingga tak ada sesuatupun yang tersembunyi. 
9. Beberapa Peristiwa Penting Pada Tahun 9 Hijriyah 
a. Setelah Rasulullah pulang dari Tabuk, terjadi Li’an antara Uwaimir Al 
Ajlany dan istrinya. 
b. Seorang wanita Ghamidiyah dirajam, setelah mengakui telah berbuat 
zina, dan dirajam setelah menyapih anak hasil perzinahan tersebut. 
c. Raja Najasyi Ash Hamah meninggal dunia dan Rasulullah ` 
melaksanakan shalat ghaib. 
d. Putri Rasulullah Ummu Kultsum meninggal dunia. 
e. Setelah Rasulullah kembali dari Tabuk, Abdullah bin Ubay bin Salul 
gembong orang munafiq meninggal dunia. 
C. ABU BAKAR MENUNAIKAN HAJI 
Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw. ingin melaksanakan ibadah 
Haji, kemudian bersabda: 
Artinya: “Tetapi orang-orang musyrik masih hadir melakukan thawaf dengan 
telanjang. Aku tidak ingin melaksanakan ibadah haji sebelum hal itu 
dihapuskan.”
Pada bulan Dzul-Qa’idah atau Dzul-Hijjah tahun 9 H., Rasulullah saw. 
mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. agar menjadi pemimpin pelaksanaan 
manasik haji bagi orang-orang muslim.10 
Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji 
akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr ini, diumumkan batalnya semua 
perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru 
kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia 
selain menerima syariat Allah swt. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah 
Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah 
hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan 
keislaman mereka. 
Abu Bakr radhiyallahu anhu bertolak dari Madinah bersama tiga ratus 
orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah Subhanahu wa 
ta’ala dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr radhiyallahu anhu 
berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pula dua puluh lima ekor 
yang beliau tandai sendiri. 
1. Orang-orang Musyrik dan Tradisi Mereka dalam Haji 
Seperti telah diketahui bahwa menunaikan ibadah haji ke Baitullah 
al-Haram adalah termasuk warisan yang diterima oleh orang-orang Arab 
dari Ibrahim a.s. Ia termasuk sisa-sisa ajaran Hanafiyah yang masih 
mereka pelihara, tetapi sudah banyak kemasukan karat-karat jahiliyah dan 
kebathilan ajaran kemusyrikan. Sehingga warna kemusyrikan lebih 
dominan daripada yang seharusnya dilakukan berdasarkan aqidah tauhid. 
Ibnu A‘idz berkata bahwa kaum musyriin sebelum tahun ini menunaikan 
ibadah haji bersama kaum Muslimin. Mereka mengganggu kaum 
Muslimin dengan mengeraskan ucapan “talbiah” mereka yang artinya: 
“Tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang pantas bagi-Mu dan 
baginya.” 
9 
10 Shafiyurrahman al-Mubarakfuriy, Op. Cit., hal. 579
Beberapa orang di antara mereka melakukan thawaf dengan 
telanjang, tanpa pakaian sama sekali. Perbuatan ini mereka anggap 
sebagap penghormatan kepada Ka‘bah. Kata salah seorang di antara 
mereka: “Aku Thawaf di Ka‘bah sebagaimana saat aku dilahirkan oleh 
ibuku, tidak ada kotoran benda dunia yang melekat ditubuhkku.” 
Kotoran-kotoran jahiliyah ini habis pada tahun ke-9 Hijriyah, tahun 
dimana Abu Bakar memimpin rombongan haji dan disampaikannya 
peringatan kepada semua orang musyrik bahwa Masjidil Haram harus 
dibersihkan dari kotoran-kotoran kemusyrikan untuk selama-lamanya. 
10 
2. Berakhirnya perjanjian dengan Diumumkannya Peperangan. 
Perlu anda ketahui bahwa kaum Musyrikin pada waktu itu, 
sebagiamana dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq dan lainnya, ada dua 
kategori. Pertama, mereka yang punya perjanjian dengan Rasulullah saw 
tetapi masa berakhirnya perjanjian tersebut kurang dari empat bulan. 
Kepada mereka ini diberi tempo sampai berakhirnya masa pernjanjian 
tersebut. Kedua, mereka ynag punya perjanjian dengan Rasulullah saw 
tanpa batas. Kepada mereka ini al-Quran di dalam surat Bara‘ah membatasi 
masa berakhirnya dengan empat bulan, kemudian setelah itu merka berada 
dalam keadaan perang dengan kaum Muslimin, Mereka boleh dibunuh 
dimana saja ditemukan, kecuali jika masuk Islam dan menyatakan taubat. 
Permulaan batas waktu ini adalah har Arafah, pada tahun ke-9 Hijriah 
sampai tanggal bulan Rabi’ul Akhir. 
Dikatakan yaitu pendapat Al Kalbi bahwa empat bulan tersebut 
adalah tempo yang diberikan kepada orang musyrik yang punya perjanjian 
kurang dari empat bulan dengan Rasulullah saw. Sedangkan ornag musyrik 
yang punya perjanjian dengan Rasululah saw lebih dari empat bulan maka 
Allah telah memerintahkan agar disempurnakan sampai berakhir batas 
waktunya. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah : 
Artinya: Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengdakana 
perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi 
sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak pula mereka 
membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap
mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.“ 
(QS At-Taubah : 4) 
Tetapi pendapat yang pertama lebih benar dan tepat, karena Surat 
Bara‘ah tidak menegaskan sesuatu yang baru sebagaimana pendapat al- 
Kalbi di atasnya. Ia hanyalah merupakan penegasan terhadap perjanjian-perjanjian 
ynag sudah disetujui antara Rasulullah saw dan kaum musyrikin, 
Ia tidak mengubah sedikit pun dari perjanjianperjanjian itu ataupun 
mengemukakan hal yang baru. Seandainya demikian, lantas apaartinya Ali 
ra membacakan surat tersebut di hadapan khalayak kaum musyrikin 
sebagai peringatan bagi mereka? 
11 
3. Penegasan Tentang Hakekat Makna Jihad. 
Di dalam surat ini terdapat penegasan baru bahwa jihad di dalam 
syar‘i Islam bukan perang defensif sebagaimana diinginkan oleh para 
orientalis. Perhatikanlah firman Allah yang memperingatkan sisa-sisa kaum 
Musyrikin di sekitar Mekkah dari penduduk Nejd dan lainnya. 
Artinya: Inilah pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul- 
Nya yang ditujukan kepada orang-orang musyrik yang kaum 
Muslimin telah mengadakan perjanjian dengan mereka. Maka 
berjalanlah kamu (kaum Musyrikin) di muka bumi selama empat 
bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan 
dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan 
orang-orang kafir. Dan (inilah) pemakluman dari Allah dan 
Rasul-Nya kepada umamt manusia pada haji akbar, bahwa 
sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri daro orang-orang 
musyrik. Kemudian jika kamu (kaum Musyrikin) bertaubat, 
maka bertaubat itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling 
maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat 
melemahkan Allah. Dan beritahukanlah kepada orangorang kafir 
(bahwa merkea akan) mendapat siksa yang pedih. Kecuali orang-orang 
musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan 
mereka) dan mereka tidak mengulangi sesuatupun (dari sisi 
perjanjian) mu dan tidak (pula) merkea membantu seseorang 
ynag memusuhi kamu, maka terhadap merka itu penuhilah 
janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai 
orang-orang yang bertaqwa. Apabila telah habis bulan-bulan 
Haram itu, maka bunuhlah orang-orang Musyrikin itu di masa 
saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah 
mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika merka bertaubat
dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat , maka berilah 
kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah 
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At-Taubat : 1-5) 
Ayat-ayat ini sangat jelas dan tegas sehingga tidak ada alasan lagi 
untuk memahami perang defensif sebagai asas jihad dalam Islam. Andapun 
tahu bahwa surat Bara‘ah ini termasuk bagian al-Quran yang diturunkan 
pada periode akhir, sehingga huum-hukumnya ynag sebagian besar 
dariapdana berkaitan dengan jihad permanen dan abadi. Saya tidak melihat 
adanya alasan yangkuat untuk mengatakan bahwa ayat-ayat ii 
menghapuskan ayat-ayat sebelumnya yang menetapkan jihad defensif, 
seperti firman Allah: 
Artinya: “Telah diijinkan (berperang) bagi roang-orang yang diperangi, 
karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya 
Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (QS Al-Hajj 
: 39) 
Hal ini karena dasar disyariatkannya jihad itu tidak memandang 
kepada faktor penyerbuan atau pembelaan. Jihad disyariatkan hanyalah 
untuk menegakkan Kalimat Alah, membangun masyarakat Islam dan 
mendirikan negara islam di muka bumi. Sarana apa saja (selama 
dibenarkan dan diperlukan) maka harus dilakukan. Dalam kondisi tertentu 
mungkin sarana yang diperlukan adalah perdamaian, memberikan nasehat, 
pengajraan dan bimbingan. Pada saat seperti ini jihad tidak dapat 
ditafsirkan kecuali dengan hal tersebut. Dalam kondisi yang lain mungkin 
sarana ynag diperlukan adalah perang ofensif yang notabene merupakan 
puncak jihad. 
Kondisi dan sarana ini penentuan dan penilaiannya dilakukan oleh 
penguasa Muslim ynag menguasai permasalahan dan ikhlas kepada Allah 
dan Rasul-Nya dan seluruh kaum Muslimin. Ini berarti bahwa sarana 
tersebut dia tas dibenarkan untuk merealisasikan jihad. Masing-masing dari 
sarana-sarana tersebut tidak boleh diterapkan kecuali sesuai dengan 
tuntutan kemaslhatannya. Pergantian sarana, atas dari tuntutan 
kemashlahatan, tidak berarti penghapusan sarana tersebut. Selain itu, haji 
12
Abu bakar ini merupkan pengajaran kepada kaum Muslimin tentang tata 
cara pelaksanaan ibadah haji di samping merupakan pendahuluan bagi haji 
Islam dan haji wada‘ yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. 
13 
PENUTUP 
Pada tahun kesembilan dan kesepuluh Hijriyah, peristiwa penting dan 
besar yang terjadi ialah perang Tabuk. Yakni peperangan melawan Romawi di 
negeri Syam. Peperangan ini diikuti oleh 30.000 kaum muslimin. Dalam 
peperangan ini ada tiga orang sahabat Nabi yang tidak ikut, yang kemudian 
disanksi oleh Rasulullah dengan mengucilkan mereka. Mereka ialah Ka’b bin 
Malik, Murrah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. 
Setelah peperangan Tabuk, rasulullah mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq 
untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah haji ini merupakan haji persiapan untuk 
haji akbar, yakni haji Wadha’ yang dilaksanakan pada tahun kesebelas Hijriyah. 
Pemakalah menyadari uraian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan 
dan banyak kekurangan. Untuk itu, pemakalah berharap kritikan dan masukan dari 
pembaca yang mendukung makalah ini. Pemakalah juga menyarankan kepada 
pembaca agar membaca kembali buku-buku ulama tentang sirah nabawiyah 
terkhusus tentang perang Tabuk dan Haji persiapan yang dipimpin oleh Abu 
Bakar ash-Shiddiq. 
DAFTAR KEPUSTAKAAN 
Al-Mubarakfuriy, Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung 
Muhammad saw. dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, 
(Jakarta: Darul Haq, 2012) Cet. XIV 
Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani 
Press. 2009) Cet. XV 
An-Nadwi, Abul Hasan ‘Ali al-Hasany, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw., 
(Jokjakarta: Mardhiyah Press, 2007) Cet. III 
Fatmawati, Sejarah Peradaban Islam, (Batusngkar: STAIN Batusangkar Press, 
2010)
Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera 
14 
AntarNusa, 1993) Cet. XVI

Sirah Nabawiyah: Perang Tabuk

  • 1.
    SIRAH NABI MUHAMMAD PROGRAM STUDI TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PENGEMBANGAN ILMU AL MAKALAH SIRAH NABAWIYAH Tentang SAW. TAHUN 9 DAN 10 HIJRIYAH Disusun oleh: Nada Juwita : 20141886 Novita Mandasari : 20141904 Elvi Susanti : 20141909 Dosen Pembimbing: Drs. H. SUHEFRI, M.Ag PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) JURUSAN AL-QURAN (STAI-PIQ) SUMATERA BARAT 2014 M/ 1435 H
  • 2.
    1 PEMBAHASAN SIRAHNABI MUHAMMAD SAW. TAHUN 9 DAN 10 HIJRIYAH A. PERISTIWA PASCA PENAKLUKAN MEKKAH 1. Para pegawai pemungutan sedekah (zakat) a. Uyainah bin Hishn diutus ke Bani Tamim b. Yazid bin al-Hushain, diutus ke Bani Aslam dan Bani Ghifar c. Abbad bin Bisyr al-Asyhali, diutus ke Bani Sulaim dan Muzainah d. Rafi’ bin Mukayyits, diutus ke Juhainah e. Amr bin al-Ash, diutus ke Bani Fuzarah f. Basyir bin Sufyan diutus ke Bani Ka’b g. Ibn al-Lutbiyyah al-Azdi, diutus ke Bani Dzubyan h. Al-Muhajir bin Abu Umayah, diutus ke Shan’a i. Ziyad bin Labib, diutus ke Hadhramaut j. ‘Adi bin Hatim, diutus ke kabilah Thayyi’ dan Bani Asad k. Malik bin Nuwairah, diutus ke Hanzhalah l. Az-Zabarqan bin Badr, diutus ke sebagian Bani Sa’d m. Qais bin Ashim, diutus ke sebagian Bani Sa’d yang lain n. Al-A’la’ bin al-Hadhrami, diutus ke kawasan al-Bahrain o. Ali bin Abi Thalib, diutus ke Najran 2. Pengiriman Pasukan Khusus a. Pasukan khusus ke Bani Tamim di bawah komando Uyainah bin Hishn al-Fazari. Pasukan ini berjumlah lima puluh pasukan berkuda. Karena Bani Tamim telah memprovokasi beberapa kabilah dan mencegah mereka untuk membayar jizyah (upeti). b. Pasukan khusus di bawah komando Quthbah bin Amir ke perkampungan Khats’am di pojok Tubalah pada bulan Shafar. c. Pasukan khusus di bawah komando adh-Dhahaq bin Sufyan al-Kilabi ke Bani Kilab pada bulan Rabi’ul Awal dengan tujuan menyuruh mereka masuk Islam. Namun mereka enggan dan mengajak berperang.
  • 3.
    d. Pasukan khususdi bawah komando Alqamah bin Mujazziz al-Mudlijiy menuju pesisir Jeddah pada bulan Rabi’ul Akhir. Jumlah pasukan 300 prajurit. e. Pasukan khusus di bawah komando Ali bin Abi Thalib pada bulan Rabi’ul Awwal untuk menghancurkan salah satu berhala al-Qalas di daerah Thayyi’.1 2 B. PERANG TABUK 1. Latar belakang terjadinya perang Tabuk Sebabnya, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya, karena kaum Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali dari negeri Syam bahwa orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan besar dengan dukungan orang-orang Arab Nasrani dari suku Luhkam, Judzam, dan lainnya yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah pasukan perintis mereka sampai di Balqa’, Rasulullah saw., memobilisasi kaum Muslimin untuk mengahadapi mereka. Thabrani meriwayatkan dari hadits Ibnu Hushain bahwa jumlah tentara Romawi sebanyak 40.000 personil.2 Perang ini terjadi pada Bulan Rajab Tahun Kesembilan Hijriyah. Yakni peperangan membuka kota Makkah untuk menentukan di antara al- Haq dan al-Batil, kebenaran dan kepalsuan, hingga dengannya tiada ruang lagi untuk kesangsian dan keraguan tentang kebenaran risalah yang dibawa oleh Muhammad saw. dikalangan orang-orang Arab. Pada peristiwa ini sangat banyak orang-orang Arab memeluk agama Islam. Perang ini merupakan perseteruan melawan kekuatan terbesar dan negara terkuat pada masa itu, dengan persenjataan yang sangat kuat, sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang Arab.3 Permulaan tentangan 1 Shafiyyurrahman al-Mubarakfuriy, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw. dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012) Cet. XIV, hal. 631- 634 2 Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani Press. 2009) Cet. XV. Hal.437 3Abul Hasan ‘Ali al-Hasany An-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw., (Jokjakarta: Mardhiyah Press, 2007) Cet. III, hal. 439
  • 4.
    mereka ialah pembunuhanyang mereka lakukan ke atas duta Rasulullah saw. al-Harith bin Amir al-Uzdi oleh Syurahbil bin Amru al-Ghassani ketika dia di utus untuk membawa risalahnya untuk diserahkan kepada penguasa Basra. Peristiwa tersebut memaksa Rasulullah saw. untuk mengirim pasukan khusus yang dikomandani oleh Zaid bin Haritsa sehingga terjadilah pertempuran yang cukup sengit di Mu’tah. Walaupun pada pertempuran tersebut tidak berhasil membalas dendam terhadap orang-orang zhalim, namun menyisakan rasa takut yang cukup besar bagi orang-orang Arab yang berada di daerah yang jauh maupun dekat. Kaisar Romawi tidak pernah menganggap remeh dampak perang Mu’tah yang begitu besar bagi kepentingan kaum Muslimin, demikian juga dengan banyaknya kabilah-kabilah Arab yang berambisi melepaskan diri dari kekuasaan Kaisar setelah itu dan bergabung dengan kaum Muslimin. Mengingat betapa pentingnya hal ini, maka belum sampai satu tahun pasca perang Mu’tah, kaisar sudah mulai menyiapkan pasukan dan juga mulai menyiapkan suatu peperangan berdarah yang amat menentukan.4 2. Informasi Umum Mengenai Persiapan Romawi dan Ghassan Kabar mengenai persiapan Romawi dan Ghassan untuk melakukan perang penetuan terhadap kaum Muslimin sudah tersebar di Madinah sehingga rasa takut dan khawatir menyelimuti mereka setiap saat. Sampai-sampai setiap kali mendengar suara-suara yang aneh selalu diasumsikan 3 sebagai pasukan Romawi yang datang menyerang. Semua itu mengindikasikan betapa kritisnya keadaan yang dirasakan kaum Muslimin dalam mengahadapi pasukan Romawi. Ditambah lagi dengan sikap orang-orang munafik yang tidak ketinggalan menyebarkan kabar tentang segala persiapan pasukan Romawi. Orang-orang munafik sangat berharap terjadinya hal-hal yang buruk terhadap Islam dan pemeluknya.5 4 Shofiyurrahman, Op. Cit., hal. 638-639 5 Ibid. Hal.639-640
  • 5.
    4 3. InformasiKhusus seputar persiapan Romawi dan Ghassan Demikianlah situasi dan kondisi yang dihadapi kaum muslimin dan berita yang diterima mereka tatkala disampaikan oleh orang-orang dari suku Nabath yang datang membawa minyak dari Syam menuju Madinah bahwa Heraclius telah menyiapkan tentara yang amat besar berkekuatan 40 ribu pasukan ahli perang. Sebuah pasukan tentara yang hendak menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara, dengan suatu serangan yang akan membuat orang lupa akan penarikan mundur yang secara cerdik dilakukan pihak Arab di Mu’ta dulu itu. Juga akan membuat orang lupa akan pengaruh Muslimin yang deras maju ke segenap penjuru yang hendak membendung kekuasaan Rumawi di Syam dan kekuasaan Persia di Hira.6 4. Suasana Bahaya Semakin Meruncing Faktor yang membawa suasana lebih merbahaya ialah masa, kerana ketika ini ialah musim kemarau yang teruk melanda al-Madinah, semua orang mengalami kesusahan hidup, kawasan tanaman kekeringan air dan binatang tunganggan berkurangan, cuma buah-buahan sahaja yang nampak menjadi dan matang, apa lagi tuannya berasa segan untuk bergerak keluar meninggal dusun, tambahan pula jarak yang jauh dan jalan pun sukar dilalui.7 5. Tentera Islam Bergerak Ke Tabuk Rasulullah mulai bergerak pada hari Kamis ke arah selatan menuju Tabuk dengan membawa pasukan yang besar jumlah mencapai 30.000 prajurit. Sebelumnya, pasukan muslimin tidak pernah pergi berperang dengan jumlah sebesar ini. Oleh karena itu mereka tidak mampu untuk mempersiapkan segala kebutuhan secara maksimal. Sehingga satu kendaraan unta harus dinaiki delapan belas prajurit secara bergantian. Kadang mereka terpaksa memakan dedaunan hingga bibir mereka menjadi 6 Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera AntarNusa, 1993) Cet. XVI, hal. 386 7 Shafiyurrahman al-Mubarakfuriy, ar-Rahiq al-Makhtum, (India: Darussalam, 2008) hal, 431
  • 6.
    bengkak. Mereka jugaterpaksa harus menyembelih unta untuk mengambil air dari kantong air di dalam perutnya. Padahal jumlah unta yang dibawa sangat minim. Pasukan dinamakan Jaisy al-‘Usrah (Pasukan dalam masa kesulitan). Tentara Islam bergerak ke Tabuk melalui kawasan al-Hijr perkampungan Tsamud, suku kaum yang telah memotong batu-batu bukit, di lembah "Wadi al-Qura". Tentara Islam mengambil air di lembah tersebut. Pasukan Islam tiba di Tabuk dan berkubu di sana. Rasulullah sudah siap menghadapi musuh, beliau menganjurkan untuk meraih keutamaan dunia dan akhirat. Memberi peringatan dan ancaman, memberi kabar gembira sehingga semangat pasukan bergelora dan dapat membayar kekurangan dan ketimpangan. Di sisi lain orang-orang Romawi dan sekutunya terlihat gentar saat mendengar pasukan Rasulullah saw. Mereka tidak memiliki nyali untuk memulai maju dan berhadapan langsung. Sehingga orang-orang Romawi berpencar-pencar di setiap perbatasan negeri mereka. Yahnah bin Rubah pemimpin kabilah Aylah, datang mengajak berdamai dengan Rasulullah saw., lalu memberika upeti. Selanjutnya, datang juga penduduk Jarba’ dan Adzruh, mereka juga menyerahkan upeti. Lalu Rasulullah mengutus Khalid bin al-Walid bersama 420 pasukan penunggang kuda kepada raja di Dumatul Jandal bernama Ukaidir bin Abdul Malik. Beliau berkata kepada Khalid, “Sesungguhnya kamu akan mendapatinya (Ukaidir) sedang berburu sapi.” Lalu Khalid berangkat dan menemukan Ukaidir sedang memburu sapi, lalu ia menangkap Ukaidir dan membawa kepada Rasulullah. Beliau menjamin keamana Ukaidir dan menawarkan untuk berdamai dengan syarat menyerahkan upeti sebesar 2000 ekor unta, 800 orang tawanan, 400 buah baju besi, dan 400 buah tombak. Dia berseia untuk menyerahkan jizyah (upeti). 5
  • 7.
    Kabilah-kabilah yang dahulumengabdi kepada kekaisaran Romawi merasa yakin bahwa ketergantungan mereka terhadap tuan-tuan mereka terdahulu sudah berakhir dan berpindah tangan kepada kaum muslimin. Dengan begitu, wilayah Daulah Islamiyah bertambah luas sehingga menjadi berbatasan langsung dengan wilayah kekuasan Romawi.8 6. Kembali ke Madinah Pasukan Islam kembali dari Tabuk dengan meraih kemenangan, tanpa melakukan peperangan. Dan Allah pun telah mencukupkan peperangan ini atas orang-orang beriman. Ketika sampai di jalan berbukit dalam sebuah perjalanan pulang, ada dua belas orang munafik yang mencoba membunuh Rasulullah saw. peristiwa ini terjadi ketika beliau berjalan di suatu bukit bersama Ammar yang bertugas memegang tali kekang unta beliau dan Hudzaifah bin al- Yaman yang berjalan menggiringnya. Tiba-tiba datang orang-orang munafik dengan menutup kepala dengan kain. Rasulullah memukul wajah tunggangan-tunggangan mereka dengan tongkat yang sedang dipegangnya sehingga membuat mereka jadi takut. Akhirnya mereka kembali bergabung dengan pasukan yang lain. Rasulullah menyebutkan nama-nama mereka kepada Hudzaifah sekaligus niat buruk mereka terhadap beliau. Karena itulah Hudzaifah dijuluki pemegang rahasia Rasulullah saw. peristiwa ini lalu diabadikan lewat firman-Nya: Artinya: “Dan mereka menginginkan apa yang tidak mereka capai.” (QS. At-Taubah: 74) Kepulangan Nabi saw. dari Tabuk dan sampainya kembali ke Madinah terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriyah. Peperangan ini memakan waktu 50 hari, selama 20 hari beliau menetap di Tabuk, dan selebihnya dihabiskan untuk perjalananberangkat dan pulang. Dan peperangan tersebut merupakan peperangan terakhir yang belaiu ikuti. 9 6 8 Shafiyurrahman, Op. Cit, Hal. 645-648 9 Ibid
  • 8.
    7 7. Orang-orangyang tidak ikut serta Karena kondisinya yang khusus, peperangan ini merupakan cobaan yang berat dari Allah di mana diketahui perbeaan antara orang-orang yang benar-benar beriman dan orang-orang selain mereka, sebagaiman dalam firman Allah: Artinya: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). (QS. Ali Imran: 179) Orang-orang munafik yang tidak ikut dalam perang ini berjumlah sekitar 80 orang. mereka mengemukakan alas an mereka masing-masing yang kebanyakan dibuat-buat dan diada-adakan. Sedangkan tiga orang dari golongan orang-orang mukmin yang lurus, yaitu Ka’b bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Mereka berkata apa adanya mengapa tidak ikut serta dalam peperangan ini. Sebagai hukumannya Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan mereka bertiga dan mereka juga harus menjalani pengucilan secara total dengan orang-orang mukmin. Mereka benar-benar merasakan tekanan yang amat berat, terlebih lagi mereka juga harus berjauhan dengan istri mereka selama empat puluh hari, hingga pengucilan ini berlangsung selama lima puluh hari. Kemudiam Allah menurunkan ampunan-Nya kepada mereka: Artinya: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At- Taubah: 118) 8. Pengaruh Peperangan Perang Tabuk merupakan peperangan terakhir ketika zaman Rasulullah dan membawa pengaruh yang besar bagi kaum Muslimin. Kedudukan mereka semakin kuat di Jazirah Arab dan pengaruh Islam
  • 9.
    semakin kuat dikalangan mereka dengan banyaknya orang yang berbondong-bondong masuk Islam. a. Sirnanya harapan orang-orang jahiliyah dan kaum munafiq yang 8 selalu menantikan kebinasaan kaum muslimin. b. Allah memerintahkan untuk berbuat keras terhadap orang-orang munafiq, hingga melarang untuk menerima shadaqah mereka, menshalatkan jenazah, memohonkan ampun untuk mereka dan memohonkan ampun (berdo’a) di kuburan mereka. c. Allah memerintahkan untuk menghancurkan masjid dhirar. d. Tersingkapnya kedok orang munafiq dengan turunnya wahyu, sehingga tak ada sesuatupun yang tersembunyi. 9. Beberapa Peristiwa Penting Pada Tahun 9 Hijriyah a. Setelah Rasulullah pulang dari Tabuk, terjadi Li’an antara Uwaimir Al Ajlany dan istrinya. b. Seorang wanita Ghamidiyah dirajam, setelah mengakui telah berbuat zina, dan dirajam setelah menyapih anak hasil perzinahan tersebut. c. Raja Najasyi Ash Hamah meninggal dunia dan Rasulullah ` melaksanakan shalat ghaib. d. Putri Rasulullah Ummu Kultsum meninggal dunia. e. Setelah Rasulullah kembali dari Tabuk, Abdullah bin Ubay bin Salul gembong orang munafiq meninggal dunia. C. ABU BAKAR MENUNAIKAN HAJI Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw. ingin melaksanakan ibadah Haji, kemudian bersabda: Artinya: “Tetapi orang-orang musyrik masih hadir melakukan thawaf dengan telanjang. Aku tidak ingin melaksanakan ibadah haji sebelum hal itu dihapuskan.”
  • 10.
    Pada bulan Dzul-Qa’idahatau Dzul-Hijjah tahun 9 H., Rasulullah saw. mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. agar menjadi pemimpin pelaksanaan manasik haji bagi orang-orang muslim.10 Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr ini, diumumkan batalnya semua perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia selain menerima syariat Allah swt. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan keislaman mereka. Abu Bakr radhiyallahu anhu bertolak dari Madinah bersama tiga ratus orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr radhiyallahu anhu berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pula dua puluh lima ekor yang beliau tandai sendiri. 1. Orang-orang Musyrik dan Tradisi Mereka dalam Haji Seperti telah diketahui bahwa menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram adalah termasuk warisan yang diterima oleh orang-orang Arab dari Ibrahim a.s. Ia termasuk sisa-sisa ajaran Hanafiyah yang masih mereka pelihara, tetapi sudah banyak kemasukan karat-karat jahiliyah dan kebathilan ajaran kemusyrikan. Sehingga warna kemusyrikan lebih dominan daripada yang seharusnya dilakukan berdasarkan aqidah tauhid. Ibnu A‘idz berkata bahwa kaum musyriin sebelum tahun ini menunaikan ibadah haji bersama kaum Muslimin. Mereka mengganggu kaum Muslimin dengan mengeraskan ucapan “talbiah” mereka yang artinya: “Tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang pantas bagi-Mu dan baginya.” 9 10 Shafiyurrahman al-Mubarakfuriy, Op. Cit., hal. 579
  • 11.
    Beberapa orang diantara mereka melakukan thawaf dengan telanjang, tanpa pakaian sama sekali. Perbuatan ini mereka anggap sebagap penghormatan kepada Ka‘bah. Kata salah seorang di antara mereka: “Aku Thawaf di Ka‘bah sebagaimana saat aku dilahirkan oleh ibuku, tidak ada kotoran benda dunia yang melekat ditubuhkku.” Kotoran-kotoran jahiliyah ini habis pada tahun ke-9 Hijriyah, tahun dimana Abu Bakar memimpin rombongan haji dan disampaikannya peringatan kepada semua orang musyrik bahwa Masjidil Haram harus dibersihkan dari kotoran-kotoran kemusyrikan untuk selama-lamanya. 10 2. Berakhirnya perjanjian dengan Diumumkannya Peperangan. Perlu anda ketahui bahwa kaum Musyrikin pada waktu itu, sebagiamana dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq dan lainnya, ada dua kategori. Pertama, mereka yang punya perjanjian dengan Rasulullah saw tetapi masa berakhirnya perjanjian tersebut kurang dari empat bulan. Kepada mereka ini diberi tempo sampai berakhirnya masa pernjanjian tersebut. Kedua, mereka ynag punya perjanjian dengan Rasulullah saw tanpa batas. Kepada mereka ini al-Quran di dalam surat Bara‘ah membatasi masa berakhirnya dengan empat bulan, kemudian setelah itu merka berada dalam keadaan perang dengan kaum Muslimin, Mereka boleh dibunuh dimana saja ditemukan, kecuali jika masuk Islam dan menyatakan taubat. Permulaan batas waktu ini adalah har Arafah, pada tahun ke-9 Hijriah sampai tanggal bulan Rabi’ul Akhir. Dikatakan yaitu pendapat Al Kalbi bahwa empat bulan tersebut adalah tempo yang diberikan kepada orang musyrik yang punya perjanjian kurang dari empat bulan dengan Rasulullah saw. Sedangkan ornag musyrik yang punya perjanjian dengan Rasululah saw lebih dari empat bulan maka Allah telah memerintahkan agar disempurnakan sampai berakhir batas waktunya. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah : Artinya: Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengdakana perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak pula mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap
  • 12.
    mereka itu penuhilahjanjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.“ (QS At-Taubah : 4) Tetapi pendapat yang pertama lebih benar dan tepat, karena Surat Bara‘ah tidak menegaskan sesuatu yang baru sebagaimana pendapat al- Kalbi di atasnya. Ia hanyalah merupakan penegasan terhadap perjanjian-perjanjian ynag sudah disetujui antara Rasulullah saw dan kaum musyrikin, Ia tidak mengubah sedikit pun dari perjanjianperjanjian itu ataupun mengemukakan hal yang baru. Seandainya demikian, lantas apaartinya Ali ra membacakan surat tersebut di hadapan khalayak kaum musyrikin sebagai peringatan bagi mereka? 11 3. Penegasan Tentang Hakekat Makna Jihad. Di dalam surat ini terdapat penegasan baru bahwa jihad di dalam syar‘i Islam bukan perang defensif sebagaimana diinginkan oleh para orientalis. Perhatikanlah firman Allah yang memperingatkan sisa-sisa kaum Musyrikin di sekitar Mekkah dari penduduk Nejd dan lainnya. Artinya: Inilah pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul- Nya yang ditujukan kepada orang-orang musyrik yang kaum Muslimin telah mengadakan perjanjian dengan mereka. Maka berjalanlah kamu (kaum Musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. Dan (inilah) pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umamt manusia pada haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri daro orang-orang musyrik. Kemudian jika kamu (kaum Musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritahukanlah kepada orangorang kafir (bahwa merkea akan) mendapat siksa yang pedih. Kecuali orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengulangi sesuatupun (dari sisi perjanjian) mu dan tidak (pula) merkea membantu seseorang ynag memusuhi kamu, maka terhadap merka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. Apabila telah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang Musyrikin itu di masa saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika merka bertaubat
  • 13.
    dan mendirikan shalatdan menunaikan zakat , maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At-Taubat : 1-5) Ayat-ayat ini sangat jelas dan tegas sehingga tidak ada alasan lagi untuk memahami perang defensif sebagai asas jihad dalam Islam. Andapun tahu bahwa surat Bara‘ah ini termasuk bagian al-Quran yang diturunkan pada periode akhir, sehingga huum-hukumnya ynag sebagian besar dariapdana berkaitan dengan jihad permanen dan abadi. Saya tidak melihat adanya alasan yangkuat untuk mengatakan bahwa ayat-ayat ii menghapuskan ayat-ayat sebelumnya yang menetapkan jihad defensif, seperti firman Allah: Artinya: “Telah diijinkan (berperang) bagi roang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (QS Al-Hajj : 39) Hal ini karena dasar disyariatkannya jihad itu tidak memandang kepada faktor penyerbuan atau pembelaan. Jihad disyariatkan hanyalah untuk menegakkan Kalimat Alah, membangun masyarakat Islam dan mendirikan negara islam di muka bumi. Sarana apa saja (selama dibenarkan dan diperlukan) maka harus dilakukan. Dalam kondisi tertentu mungkin sarana yang diperlukan adalah perdamaian, memberikan nasehat, pengajraan dan bimbingan. Pada saat seperti ini jihad tidak dapat ditafsirkan kecuali dengan hal tersebut. Dalam kondisi yang lain mungkin sarana ynag diperlukan adalah perang ofensif yang notabene merupakan puncak jihad. Kondisi dan sarana ini penentuan dan penilaiannya dilakukan oleh penguasa Muslim ynag menguasai permasalahan dan ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya dan seluruh kaum Muslimin. Ini berarti bahwa sarana tersebut dia tas dibenarkan untuk merealisasikan jihad. Masing-masing dari sarana-sarana tersebut tidak boleh diterapkan kecuali sesuai dengan tuntutan kemaslhatannya. Pergantian sarana, atas dari tuntutan kemashlahatan, tidak berarti penghapusan sarana tersebut. Selain itu, haji 12
  • 14.
    Abu bakar inimerupkan pengajaran kepada kaum Muslimin tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji di samping merupakan pendahuluan bagi haji Islam dan haji wada‘ yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. 13 PENUTUP Pada tahun kesembilan dan kesepuluh Hijriyah, peristiwa penting dan besar yang terjadi ialah perang Tabuk. Yakni peperangan melawan Romawi di negeri Syam. Peperangan ini diikuti oleh 30.000 kaum muslimin. Dalam peperangan ini ada tiga orang sahabat Nabi yang tidak ikut, yang kemudian disanksi oleh Rasulullah dengan mengucilkan mereka. Mereka ialah Ka’b bin Malik, Murrah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Setelah peperangan Tabuk, rasulullah mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah haji ini merupakan haji persiapan untuk haji akbar, yakni haji Wadha’ yang dilaksanakan pada tahun kesebelas Hijriyah. Pemakalah menyadari uraian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangan. Untuk itu, pemakalah berharap kritikan dan masukan dari pembaca yang mendukung makalah ini. Pemakalah juga menyarankan kepada pembaca agar membaca kembali buku-buku ulama tentang sirah nabawiyah terkhusus tentang perang Tabuk dan Haji persiapan yang dipimpin oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. DAFTAR KEPUSTAKAAN Al-Mubarakfuriy, Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw. dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012) Cet. XIV Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Robbani Press. 2009) Cet. XV An-Nadwi, Abul Hasan ‘Ali al-Hasany, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw., (Jokjakarta: Mardhiyah Press, 2007) Cet. III Fatmawati, Sejarah Peradaban Islam, (Batusngkar: STAIN Batusangkar Press, 2010)
  • 15.
    Haekal, Muhammad Husain,Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera 14 AntarNusa, 1993) Cet. XVI