SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com36
F I G U R
Indonesia Darurat
Adab dan Moral
MUHAMMAD ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH
Rita Hendrawaty Soebagio
Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA)
Rita (berkerudung biru muda)
bersama anak-anaknya
AGUSTUS 2016/DZULQADAH 1437 37
Beberapa waktu lalu, media sempat
ramai dengan tuntutan persamaan
hak kaum lesbian, gay, biseksual,
dan transgender (LGBT). Berbagai
elemen masyarakat menolak karena
perilaku ala kaum Nabi Luth AS
ini bertentangan dengan nilai-nilai
agama dan norma bangsa Indonesia.
Para aktivis LGBT akhirnya memilih
bungkam.
	 Salah satu tokoh yang vokal
menyuarakan penolakan adalah Rita
Hendrawaty Soebagio (47 tahun),
Ketua Aliansi Cinta Keluarga
(AILA). Rita dan kawan-kawan
menghimpun banyak elemen
umat Islam untuk bersama-sama
menolak tuntutan dari para pelaku
seks menyimpang. “LGBT menjadi
musuh bersama seluruh gerakan
Islam, karena memang jelas dalam
agama itu sebuah pelanggaran,” ujar
Rita.
	 Buru-buru Rita mengingatkan
bahwa LGBT sesungguhnya
hanyalah turunan dari gerakan
feminisme dan kesetaraan gender
ala liberal Barat. Gerakan yang
disebut terakhir ini justru lebih
membahayakan karena akan
meruntuhkan sendi-sendi keluarga.
	 Rita mencontohkan, salah satu
bahaya dari gerakan feminisme
dan kesetaraan gender saat ini
adalah menyusupkan “virus” ke
dalam naskah akademik draft RUU
Penghapusan Kekerasan Seksual
yang diusulkan oleh Komnas
Perempuan.
	 Anda mengatakan Indonesia dalam kondisi darurat adab dan moral.
Bagaimana gambarannya?
	 Banyak fakta dan data yang memprihatinkan, yang pada ujungnya
menjelaskan ada problem adab dan moral di tengah masyarakat kita. Tak
hanya pada anak-anak, tapi hampir di semua lapisan. Salah satu alasan
lahirnya AILA adalah karena kegelisahan akan adanya problem tersebut.
Menurut kami, problem itu lahir dari disfungsi keluarga. Ayah yang tidak
berperan, ibu yang tidak berperan, akhirnya anak yang menjadi korban.
	 Terlalu banyak dan lelah membahas hal-hal yang tidak bermoral itu.
Namun, kami terus bergerak dalam dua sisi: pertama, membina keluarga
agar bisa sakinah, mawaddah, warahmah. Kedua, mendeteksi secara dini
pemikiran yang merusak proses pembinaan keluarga. Salah satunya pemikiran
feminisme liberal.
	 Apa yang dimaksud fakta yang memprihatinkan itu?
	 Belakangan ini kami fokus terhadap kejahatan seksual. Dari survei pada
tahun 2013 yang dilakukan oleh Kementerian Perempuan, Bappenas, dan
beberapa lembaga lainnya, ternyata 1 dari 12 anak laki-laki mengalami
kekerasan seksual dan 1 dari 18 anak perempuan mengalami kekerasan
seksual. Artinya, kejahatan seksual mengancam anak-anak kita. Fakta lainnya
kasus perceraian yang kian meningkat. Ini juga tidak kalah memprihatinkan.
	 Terlepas dari kasus itu semua, yang terpenting bagaimana melakukan
tindakan preventif (pencegahan).
	 Di dalam draft itu, ketika
berbicara seksualitas hanya
terkait dengan problem individu.
Seksualitas, papar Rita, tidak
dikaitkan dalam konteks pernikahan
antara laki-laki dan perempuan.
	 “Seksualitas itu berarti tubuhku
kedaulatanku atau my body is my
choice. Konteks ini sangat feminis.
Sangat berbahaya jika dieksplorasi
lebih dalam,” kritik wanita yang juga
aktif di Asosiasi Psikologi Islam ini.
	 Sekarang ini marak fenomena
cabe-cabean, sebutan bagi
sekelompok wanita muda yang
suka berdandan serba mini dan
kerap menjual tubuhnya. Menurut
pengamatan Rita, itu sebenarnya
bagian yang tak terpisahkan dari
cara berpikir tadi.
	 Kata mereka, “Badan ini punya
gue, terserah gue dong mau diapain.”
Konsep berpikir semacam itu, terang
Rita, tanpa sadar sudah masuk
dalam ranah pemikiran generasi
muda kita.
	 Menurut Rita, perlu upaya
khusus untuk menyadarkannya.
Terlebih pemikiran ini terus
diproduksi oleh “pabrik pemikiran”
dengan marketing yang canggih
dan dibungkus seolah-olah
mempunyai nilai kebenaran. “Tapi
bagaimanapun upaya penyadaran
harus tetap dilakukan, agar
persoalan ini tidak semakin besar,”
kata Rita.
	 Negeri ini tengah dilanda
persoalan yang begitu besar. Rita
mencontohkan, persoalan miras
dan pornografi membawa Indonesia
dalam kondisi darurat adab dan
moral. Kasus perkosaan Yuyun
yang berujung pada pembunuhan
beberapa waktu lalu, menjadi
peringatan bahwa Indonesia menuju
kondisi darurat.
	 Bagaimanakah kondisi darurat
itu? Rita menggambarkan secara
panjang lebar kepada wartawan
majalah Suara Hidayatullah,
Ahmad Damanik dan Mahladi,
serta fotografer, Muh Abdus
Syakur dalam perbincangan di
kediamannya daerah Tangerang
Selatan, Banten.
	 Berikut ini petikan
wawancaranya. Selamat membaca.
SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com38
F I G U R
	 Seperti apa tindakan
pencegahan yang bisa
dilakukan?
	 Ketika Pemerintah
memberlakukan Perpu Kebiri,
lalu DPR RI ramai mengusung
RUU Penghapusan Kekerasan
Seksual, semua itu berfokus
pada perlindungan korban. Tapi
pencegahannya lupa dipikirkan.
Yaitu dengan mengupayakan
penguatan ketahanan keluarga.
Keluarga yang punya imunitas
dalam menghadapi persoalan dan
ujian yang dihadapi.
	 Saya membina lembaga
konseling. Beberapa di antara
mereka yang konsultasi kepada
saya rata-rata diakibatkan tidak
mempunyai daya tahan yang cukup
ketika menghadapi persoalan. Ada
lelaki yang tidak tahu bagaimana
mengatur istri, ada istri yang tidak
tahu bagaimana menghadapi suami.
Jadi ketika datang ujian, tidak tahan
dengan ujian. Apalagi dengan
pria bekerja, istri bekerja, dan
menghadapi persoalan anak.
	 Ada pemikiran yang merusak
tatanan keluarga. Seperti apa yang
Anda maksudkan?
	 Saya kira ada keluarga yang
terancam oleh pemikiran dan gaya
hidup yang merusak. Misalnya
feminisme dan kesetaraan gender
yang turunannya adalah LGBT.
Gerakan itu selalu menjadi satu.
	 Saat ini Anda aktif mengkritisi
RUU Penghapusan Kekerasan
Seksual. Poin apa yang disoroti?
	 Dalam naskah akademik
RUU Penghapusan Kekerasan
Seksual ada agenda lain yang
sengaja disusupkan. Misalnya ada
kata “Perbudakan Seksual” yang
turunannya adalah melayani rumah
tangga. Saya bilang kepada anggota
parlemen, “Apakah ketika saya
bekerja di rumah melayani rumah
tangga saya, itu berarti dianggap
diperbudak?” Namun mereka
mengelak, mengalihkan istilah itu
pada makna human trafficking
(perdagangan manusia).
	 Makanya, kami mengusulkan
kata “kekerasan” diganti dengan
kata “kejahatan”, sebab kata
“kejahatan” sudah masuk wilayah
terminologi kriminal. Mereka (kaum
liberal) kadang bermain pada level
terminologi.
	 Apakah memang ada indikasi
kesengajaan?
	 Saya ingin membangun
kesadaran berbagai pihak, baik
anggota DPR maupun ormas Islam,
bahwa kaum liberal sudah lama
mencari celah untuk masuk melalui
legislasi. Ketika RUU Keadilan dan
Kesetaraan Gender (KKG) tidak
bisa masuk, mereka berusaha masuk
dari RUU Penghapusan Kekerasan
Seksual. Bagi mereka ini momentum
untuk bicara kekerasan seksual versi
liberal Barat tanpa kritik. Kelihatan
sekali dari terminologi yang
digunakan.
	 Seperti apa misalnya?
	 Misalnya ada kata “kontrol
seksual”, termasuk di dalamnya
mengatakan melarang orang
berpakaian tertentu. Lalu, kalau
kita orangtua menyuruh anaknya
berjilbab apakah berarti termasuk
dalam kekerasan seksual? Ini yang
masih multitafsir dalam RUU
tersebut. Ujung-ujungnya mereka
menyerang nilai-nilai Islam.
	 Ini kadang yang tidak cukup
dipahami oleh anggota dewan dan
ormas Islam. Apalagi mereka pintar
untuk menggiring opini melalui
media mainstream. Kita bersyukur
dengan adanya media-media Islam
online yang cukup menggiring opini
di umat Islam.
	 Apa yang menjadi motif
mereka ingin meguasai melalui
legislasi?
	 Sebenarnya semua ini karena
Indonesia sudah terikat dengan
konvensi yang sudah diratifikasi
sejak tahun 1984. Konvensi itu
bernama Convention of Ellimination
of All Forms of Discrimination
Against Women (CEDAW), yaitu
sebuah kesepakatan hak azasi
internasional yang secara khusus
untuk mengatur diskriminasi
terhadap perempuan. Dari situlah
lahir UU Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT), UU Perlindungan
Anak, dan lain-lain.
	 Bisa Anda contohkan salah
satu turunan dari konvensi itu
yang kini jadi perundangan?
	 Ketika lahir UU Kesehatan
Reproduksi. Kita jangan cukup
senang dengan adanya tempat
menyusui di mall. Bukan sekadar
itu, karena sejatinya ada agenda
yang sengaja dimasukkan.
Kesehatan reproduksi seolah-olah
positif. Di dalamnya ada kebebasan
untuk memilih hak-hak reproduksi.
Artinya, boleh memilih untuk
hamil atau tidak. Maka turunan
dari UU Kesehatan Reproduksi
kan ada Perpu Aborsi. Itu yang
tidak disadari. Mereka memang
sangat aktif untuk membuat UU,
mengawalnya, bahkan aktif melobi.
	 Menurut Anda mengapa
mereka begitu kuat melobi?
	 Satu, karena mereka sangat
intesif untuk menyampaikan
apa yang mereka yakini. Kedua,
masyarakat dan anggota parlemen
banyak yang tidak konsen dalam hal
ini.
	 Bila melihat gawatnya situasi
ini, langkah-langkah apa yang
harus kita lakukan?
	 Permasalahan kita sudah dari
hulu ke hilir. Kita perlu membuat
pemetaan masalah bersama-sama.
Itulah makanya saya mendorong
lahirnya Gerakan Indonesia Beradab
(GIB), tempat berkumpulnya 200
lebih akademisi yang mempunyai
kepedulian dan bergerak di bidang
AGUSTUS 2016/DZULQADAH 1437 39
pemikiran. Itu pun ternyata tidak
mudah untuk merumuskan langkah-
langkah yang harus dilakukan.
	 Tapi nampaknya sudah
mendulang sukses ketika
“memukul” LGBT...
	 Memang saat ini kita menjadikan
itu musuh bersama. Menyatukan
ormas Islam pun mudah ketika itu.
Tapi ketika ini sudah selesai, ya
selesai juga. Padahal ada hal lain
yang lebih besar di balik itu yang
juga harus diselesaikan.
	 Apakah pemetaan itu sudah
dilakukan?
	 Saya mendorong GIB untuk
melakukan hal itu. GIB tak perlu
ke ranah aksi. Sementara kami
di AILA mengambil posisi untuk
mengawal di legislasi, karena
memang tidak banyak yang
melakukan itu. Salah satunya
perkembangan RUU Penghapusan
Kekerasan Seksual. Kami dituntut
untuk membuat naskah akademik
dan RUU alternatif yang akan diadu
dengan yang diajukan oleh Komnas
Perempuan.
	 Anda yakin bisa menang
melawan itu dengan kondisi
seperti ini?
	 Alhamdulillah, teman-teman
para pemikir dan akademisi bersedia
terlibat dalam pembuatan naskah
akademik. Saya bilang, kita tetap
harus realistis, karena mereka sudah
melobi sejak bertahun-tahun.
	 Ini hanya ikhtiar saja, karena
ini bagian dari nahi munkar. Apa
pun hasilnya. Meski nanti akhirnya
mengambil jalan tengah, paling
tidak kita tidak kelolosan sama
sekali.
	 Dengan kondisi keterbatasan
kita, apakah tidak sebaiknya kita
memilih hal yang paling urgen
untuk dibenahi?
	 Kalau saya lihat, semuanya
menjadi urgen. Mungkin urgen
bagi kami, bagi kelompok lain
belum tentu urgen. Tapi bagi kami,
kalau kita abaikan peran mereka di
legislasi, pergerakannya bisa lebih
massif karena dilindungi undang-
undang. Kalau di lapangan ada yang
menolak, mereka akan memakai
undang-undang untuk mengatasi
yang ada di lapangan.
	 Maka, berbagi tugas itu
menjadi prioritas. Dari situ kita
akan tahu bahwa setiap peran kita
menjadi penting. Jangan sampai
ada penilaian, “Ini lho yang lebih
penting dibandingkan kerjaan
kalian.”
	 Bahkan yang bertugas di bagian
pemikiran seperti INSISTS, tidak
bisa diabaikan. Sekecil apa pun juga
mempengaruhi dan membingkai
tema-teman yang bekerja di
lapangan. Jangan mengecilkan
teman-teman yang sedang berpikir.
Bukan berarti mereka tidak
bergerak.
	 Apa dampaknya jika
mengabaikan pergerakan mereka
di legislasi?
	 Wacana pemikiran yang mereka
gulirkan mempunyai kekuatan dan
gerakan yang sistematis. Sehingga
daya serangnya tidak hanya di
bagian atas, tapi juga sampai ke
lapisan masyarakat bawah. Bahkan
di semua level, termasuk level
pendidikan pun mereka masuki
melalui
tafsir-tafsir
gender di
fakultas
pendidikan
maupun
agama.
Kemudian
lewat jalur
perundang-
undangan,
lewat
politik
anggaran,
sampai ke
desa-desa
pun sudah ada.
	 Kalau kita mencoba
mengidentifikasi musuh, siapa
yang Anda maksud?
	 Program-program perempuan
yang dihasilkan dari produk
CEDAW yang sudah diratifikasi
Indonesia. Yang buat itulah musuh-
musuh kita. Mengapa mereka
memaksakan ke dunia Islam,
sementara Amerika tidak pernah
meratifikasinya? Bahkan ulama saja
sudah memberikan peringatan,
karena beginilah bahayanya.
	 Apakah orientasi mereka
semata bisnis atau ideologi ?
	 Orang-orang yang melakukan ini
berangkat dari ideologi. Termasuk
ketika LGBT, itu adalah bagian dari
ideologi. Kalaupun di dalamnya ada
yang mengiringi dengan bisnis, tapi
itu karena ideologi mereka.
"Permasalahan kita sudah
dari hulu ke hilir. Kita
perlu membuat pemetaan
masalah bersama-sama.
Itulah makanya saya
mendorong lahirnya
Gerakan Indonesia
Beradab (GIB), tempat
berkumpulnya 200
lebih akademisi yang
mempunyai kepedulian
dan bergerak di bidang
pemikiran."
SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com40
F I G U R
I
bu rumah tangga. Itu jawaban
Rita Hendrawaty Soebagio jika
ditanya banyak orang tentang
profesi sesungguhnya.
	 Kesibukan alumnus pascasarjana
Program Islam dan Psikologi
Universitas Indonesia ini dalam
berbagai pergerakan Muslimah, baik
dalam wilayah pemikiran maupun
praktis, tak membuatnya lupa fitrah
terkait aktivitas di rumah. Ia juga
tak mau jauh-jauh dari tiga buah
hatinya: Syarafina Alaiadita Ajna,
M Ismail al-Faruqi, dan M Ishaq
al-Ayyubi.
	 Rita mengakui kadang ada
keterbatasan ketika hendak
bergerak. “Misalnya menjelang
Lebaran lalu, saya diminta untuk
berkumpul di DPR RI, terpaksa saya
tidak bisa hadir. Maklumlah ibu
rumah tangga tanpa ada pembantu,”
ujarnya.
	 Meski ada keterbatasan, Rita
mengakui peran seorang ibu yang
tak kalah penting dalam pergerakan
Islam. Seperti yang dijalaninya
bersama Komunitas Muslimah
untuk Kajian Islam (KMKI),
sebuah lembaga yang menghimpun
beberapa majelis taklim ibu-ibu
di Jakarta. Ibu-ibu majelis taklim
yang kebanyakan berlatar belakang
pengusaha ini diarahkan untuk
membantu gerakan Islam secara
finansial.
	 “Hanya sedikit di antara ibu-ibu
itu yang bisa terjun langsung ke
gerakan praktis. Oleh karena
itu, kami mengarahkan untuk
membantu secara finansial,” kata
istri dari Rudi Rusmadi ini.
	 Rita mengaku bersyukur bisa
menjadi bagian dalam pergerakan
Islam. Meski diakuinya tergolong
yang belakangan hadir dalam
gerakan Muslimah. Rita berupaya
keras untuk mengejar ketertinggalan
itu.
	 “Saya senang terlibat dalam
gerakan Islam, baik di tingkat
pemikiran maupun praktis,”
kata salah satu pembina di The
Center for Gender Studies (CGS)
dan Peduli Sahabat, lembaga
yang aktif membina para mantan
homoseksual.
	 Sejak kapan Anda mulai aktif
dalam berbagai gerakan Islam?
	 Saya termasuk orang yang
belakangan masuk dalam
pergerakan ini dibandingkan
teman-teman lain. Baru sekitar 15
tahun belakangan. Ketika kuliah
saya hanya aktif dalam organisasi
sosial dan senat. Ketika kerja pun
hanya aktif dalam kegiatan sosial.
	 Seiring dengan semakin
banyaknya belajar Islam, maka harus
ada yang lebih untuk dilakukan.
Kemudian kami melangkah jauh
melakukan bakti sosial di tempat
rawan pemurtadan dan kristenisasi
seperti di Malang, Merapi Merbabu,
Ambon, dan Papua.
	 Bagaimana awalnya Anda
terdorong untuk terlibat dalam
gerakan Muslimah?
	 Saya rasa ini adalah panggilan
iman. Iman, ilmu, dan amal itu
sudah satu paket yang tidak bisa
dipisahkan. Ketika bertambah
ilmu, maka semestinya bertambah
iman dan bertambah amal. Ketika
beberapa tahun duduk di majelis
taklim, maka kami merasa tak cukup
duduk di majelis taklim. Kami harus
mengamalkan ilmu kami.
	 Sepertinya Anda aktif di
berbagai lembaga gerakan Islam?
	 Ya banyak menanyakan itu,
kenapa saya bergerak di dunia
praktis dan pemikiran. Saya selalu
bilang bahwa harus mengejar
Rumah Tangga
Tetap yang Utama
AGUSTUS 2016/DZULQADAH 1437 41
banyak ketertinggalan dari orang-
orang yang lebih lama aktif dalam
pergerakan Islam. Lebih dari itu
saya berusaha mengenal lembaga
lain untuk memahami gerakannya.
	 Meski begitu, bukan berarti
saya paling bisa. Tapi saya merasa
bahwa memang tidak banyak orang
yang bergerak dalam wilayah itu.
Di samping itu juga karena saya
membutuhkan ruang untuk berbuat
semaksimal mungkin untuk Islam.
	 Apakah ada tuntutan
dari kawan-kawan untuk
meninggalkan salah satu gerakan
yang diikuti?
	 Ya kadang ada tuntutan dari
teman-teman untuk meninggalkan
salah satunya. Hanya saja saya
merasa, kalau ditinggalkan teman
seperjuangan rasanya tidak enak. Ya
paling tidak keberadaan saya bisa
saling menguatkan, itu saja sudah
sesuatu yang berharga.
	 Lalu bagaimana Anda
membagi waktu?
	 Saya mencoba membagi
prioritas. Di yayasan saya sudah
tidak terlalu terlibat teknis dan
tidak memerlukan hal yang
sifatnya strategis. Tapi kalau yang
di lembaga lain sifatnya strategis,
masih perlu tukar pikiran, biasanya
membutuhkan kehadiran kita.
	 Bagaimana Anda mengatasi
rasa lelah dalam segala aktivitas
tersebut?
	 Kalau lelah sih manusiawi. Pasti
ada. Tapi saya sudah menikmati
berbagai dinamika ini. Kalau lelah
fisik sih tidak, tapi kadang lelah juga
menghadapi tipikal orang yang suka
berbeda-beda.
	 Bagaimana dengan membagi
waktu antara aktivitas Anda di
luar dan urusan keluarga?
Alhamdulillah, keluarga terutama
suami sangat mendukung, baik dari
segi finansial maupun izin. Sehingga
saya bisa bergerak ke daerah tanpa
didampingi. Yang paling utama,
suami memberikan izin. Tapi sekali
lagi ini soal prioritas. Waktu-waktu
tertentu saya tidak bisa kemana-
mana, karena tidak punya pembantu
di rumah.
	 Pernah mendapatkan ancaman
selama Anda aktif dalam berbagai
gerakan selama ini?
	 Yang pernah saya alami ketika
menentang pendirian sekolah
Kristen di sekitar kompleks
perumahan saya. Saya berhadapan
dengan pengembang dan preman-
preman yang mengancam secara
langsung, bahkan juga fitnah
di kampung-kampung sekitar
kompleks. Saya dianggap bergerak
atas biaya gereja. Ketika itu saya
merasa ketakutan, sampai tidak bisa
tidur.
	 Saat itu kasusnya sampai ke
pengadilan. Dari situ saya juga
mendapatkan pengalaman bahwa
keberanian bersikap dan bertindak
tidak dimiliki oleh semua orang.
Bahkan ketika berhadapan dengan
politisi, tidak juga dari partai Islam
yang berani bersikap dan bertindak.
	 Apa harapan Anda terhadap
gerakan-gerakan Muslimah saat
ini?
	Saya sih berharap gerakan-
gerakan Muslimah ini lebih bergerak
di tataran praktis. Mereka adalah
penjaga paling depan dari berbagai
kerusakan. Gerakan Muslimah lebih
banyak bergerak di sisi kultural,
karena mereka bergerak ke bawah
dalam penguatan keluarga. Ini
sangat penting peranannya.
	 Saya juga berharap gerakan
Muslimah lebih bisa memahami
persoalan di tataran filosofis. Di
level ini yang banyak dirusak oleh
berbagai kalangan.
"Saya sih berharap
gerakan-gerakan
Muslimah ini lebih
bergerak di tataran
praktis. Mereka
adalah penjaga
paling depan
dari berbagai
kerusakan."

RUBRIK FIGUR MAJALAH HIDAYATULLAH

  • 1.
    SUARA HIDAYATULLAH |www.hidayatullah.com36 F I G U R Indonesia Darurat Adab dan Moral MUHAMMAD ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Rita Hendrawaty Soebagio Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Rita (berkerudung biru muda) bersama anak-anaknya
  • 2.
    AGUSTUS 2016/DZULQADAH 143737 Beberapa waktu lalu, media sempat ramai dengan tuntutan persamaan hak kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Berbagai elemen masyarakat menolak karena perilaku ala kaum Nabi Luth AS ini bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma bangsa Indonesia. Para aktivis LGBT akhirnya memilih bungkam. Salah satu tokoh yang vokal menyuarakan penolakan adalah Rita Hendrawaty Soebagio (47 tahun), Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA). Rita dan kawan-kawan menghimpun banyak elemen umat Islam untuk bersama-sama menolak tuntutan dari para pelaku seks menyimpang. “LGBT menjadi musuh bersama seluruh gerakan Islam, karena memang jelas dalam agama itu sebuah pelanggaran,” ujar Rita. Buru-buru Rita mengingatkan bahwa LGBT sesungguhnya hanyalah turunan dari gerakan feminisme dan kesetaraan gender ala liberal Barat. Gerakan yang disebut terakhir ini justru lebih membahayakan karena akan meruntuhkan sendi-sendi keluarga. Rita mencontohkan, salah satu bahaya dari gerakan feminisme dan kesetaraan gender saat ini adalah menyusupkan “virus” ke dalam naskah akademik draft RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang diusulkan oleh Komnas Perempuan. Anda mengatakan Indonesia dalam kondisi darurat adab dan moral. Bagaimana gambarannya? Banyak fakta dan data yang memprihatinkan, yang pada ujungnya menjelaskan ada problem adab dan moral di tengah masyarakat kita. Tak hanya pada anak-anak, tapi hampir di semua lapisan. Salah satu alasan lahirnya AILA adalah karena kegelisahan akan adanya problem tersebut. Menurut kami, problem itu lahir dari disfungsi keluarga. Ayah yang tidak berperan, ibu yang tidak berperan, akhirnya anak yang menjadi korban. Terlalu banyak dan lelah membahas hal-hal yang tidak bermoral itu. Namun, kami terus bergerak dalam dua sisi: pertama, membina keluarga agar bisa sakinah, mawaddah, warahmah. Kedua, mendeteksi secara dini pemikiran yang merusak proses pembinaan keluarga. Salah satunya pemikiran feminisme liberal. Apa yang dimaksud fakta yang memprihatinkan itu? Belakangan ini kami fokus terhadap kejahatan seksual. Dari survei pada tahun 2013 yang dilakukan oleh Kementerian Perempuan, Bappenas, dan beberapa lembaga lainnya, ternyata 1 dari 12 anak laki-laki mengalami kekerasan seksual dan 1 dari 18 anak perempuan mengalami kekerasan seksual. Artinya, kejahatan seksual mengancam anak-anak kita. Fakta lainnya kasus perceraian yang kian meningkat. Ini juga tidak kalah memprihatinkan. Terlepas dari kasus itu semua, yang terpenting bagaimana melakukan tindakan preventif (pencegahan). Di dalam draft itu, ketika berbicara seksualitas hanya terkait dengan problem individu. Seksualitas, papar Rita, tidak dikaitkan dalam konteks pernikahan antara laki-laki dan perempuan. “Seksualitas itu berarti tubuhku kedaulatanku atau my body is my choice. Konteks ini sangat feminis. Sangat berbahaya jika dieksplorasi lebih dalam,” kritik wanita yang juga aktif di Asosiasi Psikologi Islam ini. Sekarang ini marak fenomena cabe-cabean, sebutan bagi sekelompok wanita muda yang suka berdandan serba mini dan kerap menjual tubuhnya. Menurut pengamatan Rita, itu sebenarnya bagian yang tak terpisahkan dari cara berpikir tadi. Kata mereka, “Badan ini punya gue, terserah gue dong mau diapain.” Konsep berpikir semacam itu, terang Rita, tanpa sadar sudah masuk dalam ranah pemikiran generasi muda kita. Menurut Rita, perlu upaya khusus untuk menyadarkannya. Terlebih pemikiran ini terus diproduksi oleh “pabrik pemikiran” dengan marketing yang canggih dan dibungkus seolah-olah mempunyai nilai kebenaran. “Tapi bagaimanapun upaya penyadaran harus tetap dilakukan, agar persoalan ini tidak semakin besar,” kata Rita. Negeri ini tengah dilanda persoalan yang begitu besar. Rita mencontohkan, persoalan miras dan pornografi membawa Indonesia dalam kondisi darurat adab dan moral. Kasus perkosaan Yuyun yang berujung pada pembunuhan beberapa waktu lalu, menjadi peringatan bahwa Indonesia menuju kondisi darurat. Bagaimanakah kondisi darurat itu? Rita menggambarkan secara panjang lebar kepada wartawan majalah Suara Hidayatullah, Ahmad Damanik dan Mahladi, serta fotografer, Muh Abdus Syakur dalam perbincangan di kediamannya daerah Tangerang Selatan, Banten. Berikut ini petikan wawancaranya. Selamat membaca.
  • 3.
    SUARA HIDAYATULLAH |www.hidayatullah.com38 F I G U R Seperti apa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan? Ketika Pemerintah memberlakukan Perpu Kebiri, lalu DPR RI ramai mengusung RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, semua itu berfokus pada perlindungan korban. Tapi pencegahannya lupa dipikirkan. Yaitu dengan mengupayakan penguatan ketahanan keluarga. Keluarga yang punya imunitas dalam menghadapi persoalan dan ujian yang dihadapi. Saya membina lembaga konseling. Beberapa di antara mereka yang konsultasi kepada saya rata-rata diakibatkan tidak mempunyai daya tahan yang cukup ketika menghadapi persoalan. Ada lelaki yang tidak tahu bagaimana mengatur istri, ada istri yang tidak tahu bagaimana menghadapi suami. Jadi ketika datang ujian, tidak tahan dengan ujian. Apalagi dengan pria bekerja, istri bekerja, dan menghadapi persoalan anak. Ada pemikiran yang merusak tatanan keluarga. Seperti apa yang Anda maksudkan? Saya kira ada keluarga yang terancam oleh pemikiran dan gaya hidup yang merusak. Misalnya feminisme dan kesetaraan gender yang turunannya adalah LGBT. Gerakan itu selalu menjadi satu. Saat ini Anda aktif mengkritisi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Poin apa yang disoroti? Dalam naskah akademik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ada agenda lain yang sengaja disusupkan. Misalnya ada kata “Perbudakan Seksual” yang turunannya adalah melayani rumah tangga. Saya bilang kepada anggota parlemen, “Apakah ketika saya bekerja di rumah melayani rumah tangga saya, itu berarti dianggap diperbudak?” Namun mereka mengelak, mengalihkan istilah itu pada makna human trafficking (perdagangan manusia). Makanya, kami mengusulkan kata “kekerasan” diganti dengan kata “kejahatan”, sebab kata “kejahatan” sudah masuk wilayah terminologi kriminal. Mereka (kaum liberal) kadang bermain pada level terminologi. Apakah memang ada indikasi kesengajaan? Saya ingin membangun kesadaran berbagai pihak, baik anggota DPR maupun ormas Islam, bahwa kaum liberal sudah lama mencari celah untuk masuk melalui legislasi. Ketika RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) tidak bisa masuk, mereka berusaha masuk dari RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Bagi mereka ini momentum untuk bicara kekerasan seksual versi liberal Barat tanpa kritik. Kelihatan sekali dari terminologi yang digunakan. Seperti apa misalnya? Misalnya ada kata “kontrol seksual”, termasuk di dalamnya mengatakan melarang orang berpakaian tertentu. Lalu, kalau kita orangtua menyuruh anaknya berjilbab apakah berarti termasuk dalam kekerasan seksual? Ini yang masih multitafsir dalam RUU tersebut. Ujung-ujungnya mereka menyerang nilai-nilai Islam. Ini kadang yang tidak cukup dipahami oleh anggota dewan dan ormas Islam. Apalagi mereka pintar untuk menggiring opini melalui media mainstream. Kita bersyukur dengan adanya media-media Islam online yang cukup menggiring opini di umat Islam. Apa yang menjadi motif mereka ingin meguasai melalui legislasi? Sebenarnya semua ini karena Indonesia sudah terikat dengan konvensi yang sudah diratifikasi sejak tahun 1984. Konvensi itu bernama Convention of Ellimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), yaitu sebuah kesepakatan hak azasi internasional yang secara khusus untuk mengatur diskriminasi terhadap perempuan. Dari situlah lahir UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), UU Perlindungan Anak, dan lain-lain. Bisa Anda contohkan salah satu turunan dari konvensi itu yang kini jadi perundangan? Ketika lahir UU Kesehatan Reproduksi. Kita jangan cukup senang dengan adanya tempat menyusui di mall. Bukan sekadar itu, karena sejatinya ada agenda yang sengaja dimasukkan. Kesehatan reproduksi seolah-olah positif. Di dalamnya ada kebebasan untuk memilih hak-hak reproduksi. Artinya, boleh memilih untuk hamil atau tidak. Maka turunan dari UU Kesehatan Reproduksi kan ada Perpu Aborsi. Itu yang tidak disadari. Mereka memang sangat aktif untuk membuat UU, mengawalnya, bahkan aktif melobi. Menurut Anda mengapa mereka begitu kuat melobi? Satu, karena mereka sangat intesif untuk menyampaikan apa yang mereka yakini. Kedua, masyarakat dan anggota parlemen banyak yang tidak konsen dalam hal ini. Bila melihat gawatnya situasi ini, langkah-langkah apa yang harus kita lakukan? Permasalahan kita sudah dari hulu ke hilir. Kita perlu membuat pemetaan masalah bersama-sama. Itulah makanya saya mendorong lahirnya Gerakan Indonesia Beradab (GIB), tempat berkumpulnya 200 lebih akademisi yang mempunyai kepedulian dan bergerak di bidang
  • 4.
    AGUSTUS 2016/DZULQADAH 143739 pemikiran. Itu pun ternyata tidak mudah untuk merumuskan langkah- langkah yang harus dilakukan. Tapi nampaknya sudah mendulang sukses ketika “memukul” LGBT... Memang saat ini kita menjadikan itu musuh bersama. Menyatukan ormas Islam pun mudah ketika itu. Tapi ketika ini sudah selesai, ya selesai juga. Padahal ada hal lain yang lebih besar di balik itu yang juga harus diselesaikan. Apakah pemetaan itu sudah dilakukan? Saya mendorong GIB untuk melakukan hal itu. GIB tak perlu ke ranah aksi. Sementara kami di AILA mengambil posisi untuk mengawal di legislasi, karena memang tidak banyak yang melakukan itu. Salah satunya perkembangan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Kami dituntut untuk membuat naskah akademik dan RUU alternatif yang akan diadu dengan yang diajukan oleh Komnas Perempuan. Anda yakin bisa menang melawan itu dengan kondisi seperti ini? Alhamdulillah, teman-teman para pemikir dan akademisi bersedia terlibat dalam pembuatan naskah akademik. Saya bilang, kita tetap harus realistis, karena mereka sudah melobi sejak bertahun-tahun. Ini hanya ikhtiar saja, karena ini bagian dari nahi munkar. Apa pun hasilnya. Meski nanti akhirnya mengambil jalan tengah, paling tidak kita tidak kelolosan sama sekali. Dengan kondisi keterbatasan kita, apakah tidak sebaiknya kita memilih hal yang paling urgen untuk dibenahi? Kalau saya lihat, semuanya menjadi urgen. Mungkin urgen bagi kami, bagi kelompok lain belum tentu urgen. Tapi bagi kami, kalau kita abaikan peran mereka di legislasi, pergerakannya bisa lebih massif karena dilindungi undang- undang. Kalau di lapangan ada yang menolak, mereka akan memakai undang-undang untuk mengatasi yang ada di lapangan. Maka, berbagi tugas itu menjadi prioritas. Dari situ kita akan tahu bahwa setiap peran kita menjadi penting. Jangan sampai ada penilaian, “Ini lho yang lebih penting dibandingkan kerjaan kalian.” Bahkan yang bertugas di bagian pemikiran seperti INSISTS, tidak bisa diabaikan. Sekecil apa pun juga mempengaruhi dan membingkai tema-teman yang bekerja di lapangan. Jangan mengecilkan teman-teman yang sedang berpikir. Bukan berarti mereka tidak bergerak. Apa dampaknya jika mengabaikan pergerakan mereka di legislasi? Wacana pemikiran yang mereka gulirkan mempunyai kekuatan dan gerakan yang sistematis. Sehingga daya serangnya tidak hanya di bagian atas, tapi juga sampai ke lapisan masyarakat bawah. Bahkan di semua level, termasuk level pendidikan pun mereka masuki melalui tafsir-tafsir gender di fakultas pendidikan maupun agama. Kemudian lewat jalur perundang- undangan, lewat politik anggaran, sampai ke desa-desa pun sudah ada. Kalau kita mencoba mengidentifikasi musuh, siapa yang Anda maksud? Program-program perempuan yang dihasilkan dari produk CEDAW yang sudah diratifikasi Indonesia. Yang buat itulah musuh- musuh kita. Mengapa mereka memaksakan ke dunia Islam, sementara Amerika tidak pernah meratifikasinya? Bahkan ulama saja sudah memberikan peringatan, karena beginilah bahayanya. Apakah orientasi mereka semata bisnis atau ideologi ? Orang-orang yang melakukan ini berangkat dari ideologi. Termasuk ketika LGBT, itu adalah bagian dari ideologi. Kalaupun di dalamnya ada yang mengiringi dengan bisnis, tapi itu karena ideologi mereka. "Permasalahan kita sudah dari hulu ke hilir. Kita perlu membuat pemetaan masalah bersama-sama. Itulah makanya saya mendorong lahirnya Gerakan Indonesia Beradab (GIB), tempat berkumpulnya 200 lebih akademisi yang mempunyai kepedulian dan bergerak di bidang pemikiran."
  • 5.
    SUARA HIDAYATULLAH |www.hidayatullah.com40 F I G U R I bu rumah tangga. Itu jawaban Rita Hendrawaty Soebagio jika ditanya banyak orang tentang profesi sesungguhnya. Kesibukan alumnus pascasarjana Program Islam dan Psikologi Universitas Indonesia ini dalam berbagai pergerakan Muslimah, baik dalam wilayah pemikiran maupun praktis, tak membuatnya lupa fitrah terkait aktivitas di rumah. Ia juga tak mau jauh-jauh dari tiga buah hatinya: Syarafina Alaiadita Ajna, M Ismail al-Faruqi, dan M Ishaq al-Ayyubi. Rita mengakui kadang ada keterbatasan ketika hendak bergerak. “Misalnya menjelang Lebaran lalu, saya diminta untuk berkumpul di DPR RI, terpaksa saya tidak bisa hadir. Maklumlah ibu rumah tangga tanpa ada pembantu,” ujarnya. Meski ada keterbatasan, Rita mengakui peran seorang ibu yang tak kalah penting dalam pergerakan Islam. Seperti yang dijalaninya bersama Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), sebuah lembaga yang menghimpun beberapa majelis taklim ibu-ibu di Jakarta. Ibu-ibu majelis taklim yang kebanyakan berlatar belakang pengusaha ini diarahkan untuk membantu gerakan Islam secara finansial. “Hanya sedikit di antara ibu-ibu itu yang bisa terjun langsung ke gerakan praktis. Oleh karena itu, kami mengarahkan untuk membantu secara finansial,” kata istri dari Rudi Rusmadi ini. Rita mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dalam pergerakan Islam. Meski diakuinya tergolong yang belakangan hadir dalam gerakan Muslimah. Rita berupaya keras untuk mengejar ketertinggalan itu. “Saya senang terlibat dalam gerakan Islam, baik di tingkat pemikiran maupun praktis,” kata salah satu pembina di The Center for Gender Studies (CGS) dan Peduli Sahabat, lembaga yang aktif membina para mantan homoseksual. Sejak kapan Anda mulai aktif dalam berbagai gerakan Islam? Saya termasuk orang yang belakangan masuk dalam pergerakan ini dibandingkan teman-teman lain. Baru sekitar 15 tahun belakangan. Ketika kuliah saya hanya aktif dalam organisasi sosial dan senat. Ketika kerja pun hanya aktif dalam kegiatan sosial. Seiring dengan semakin banyaknya belajar Islam, maka harus ada yang lebih untuk dilakukan. Kemudian kami melangkah jauh melakukan bakti sosial di tempat rawan pemurtadan dan kristenisasi seperti di Malang, Merapi Merbabu, Ambon, dan Papua. Bagaimana awalnya Anda terdorong untuk terlibat dalam gerakan Muslimah? Saya rasa ini adalah panggilan iman. Iman, ilmu, dan amal itu sudah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Ketika bertambah ilmu, maka semestinya bertambah iman dan bertambah amal. Ketika beberapa tahun duduk di majelis taklim, maka kami merasa tak cukup duduk di majelis taklim. Kami harus mengamalkan ilmu kami. Sepertinya Anda aktif di berbagai lembaga gerakan Islam? Ya banyak menanyakan itu, kenapa saya bergerak di dunia praktis dan pemikiran. Saya selalu bilang bahwa harus mengejar Rumah Tangga Tetap yang Utama
  • 6.
    AGUSTUS 2016/DZULQADAH 143741 banyak ketertinggalan dari orang- orang yang lebih lama aktif dalam pergerakan Islam. Lebih dari itu saya berusaha mengenal lembaga lain untuk memahami gerakannya. Meski begitu, bukan berarti saya paling bisa. Tapi saya merasa bahwa memang tidak banyak orang yang bergerak dalam wilayah itu. Di samping itu juga karena saya membutuhkan ruang untuk berbuat semaksimal mungkin untuk Islam. Apakah ada tuntutan dari kawan-kawan untuk meninggalkan salah satu gerakan yang diikuti? Ya kadang ada tuntutan dari teman-teman untuk meninggalkan salah satunya. Hanya saja saya merasa, kalau ditinggalkan teman seperjuangan rasanya tidak enak. Ya paling tidak keberadaan saya bisa saling menguatkan, itu saja sudah sesuatu yang berharga. Lalu bagaimana Anda membagi waktu? Saya mencoba membagi prioritas. Di yayasan saya sudah tidak terlalu terlibat teknis dan tidak memerlukan hal yang sifatnya strategis. Tapi kalau yang di lembaga lain sifatnya strategis, masih perlu tukar pikiran, biasanya membutuhkan kehadiran kita. Bagaimana Anda mengatasi rasa lelah dalam segala aktivitas tersebut? Kalau lelah sih manusiawi. Pasti ada. Tapi saya sudah menikmati berbagai dinamika ini. Kalau lelah fisik sih tidak, tapi kadang lelah juga menghadapi tipikal orang yang suka berbeda-beda. Bagaimana dengan membagi waktu antara aktivitas Anda di luar dan urusan keluarga? Alhamdulillah, keluarga terutama suami sangat mendukung, baik dari segi finansial maupun izin. Sehingga saya bisa bergerak ke daerah tanpa didampingi. Yang paling utama, suami memberikan izin. Tapi sekali lagi ini soal prioritas. Waktu-waktu tertentu saya tidak bisa kemana- mana, karena tidak punya pembantu di rumah. Pernah mendapatkan ancaman selama Anda aktif dalam berbagai gerakan selama ini? Yang pernah saya alami ketika menentang pendirian sekolah Kristen di sekitar kompleks perumahan saya. Saya berhadapan dengan pengembang dan preman- preman yang mengancam secara langsung, bahkan juga fitnah di kampung-kampung sekitar kompleks. Saya dianggap bergerak atas biaya gereja. Ketika itu saya merasa ketakutan, sampai tidak bisa tidur. Saat itu kasusnya sampai ke pengadilan. Dari situ saya juga mendapatkan pengalaman bahwa keberanian bersikap dan bertindak tidak dimiliki oleh semua orang. Bahkan ketika berhadapan dengan politisi, tidak juga dari partai Islam yang berani bersikap dan bertindak. Apa harapan Anda terhadap gerakan-gerakan Muslimah saat ini? Saya sih berharap gerakan- gerakan Muslimah ini lebih bergerak di tataran praktis. Mereka adalah penjaga paling depan dari berbagai kerusakan. Gerakan Muslimah lebih banyak bergerak di sisi kultural, karena mereka bergerak ke bawah dalam penguatan keluarga. Ini sangat penting peranannya. Saya juga berharap gerakan Muslimah lebih bisa memahami persoalan di tataran filosofis. Di level ini yang banyak dirusak oleh berbagai kalangan. "Saya sih berharap gerakan-gerakan Muslimah ini lebih bergerak di tataran praktis. Mereka adalah penjaga paling depan dari berbagai kerusakan."