BEBAN-BEBAN YANG BEKERJA
Beban permanen : beban yg tetap berada pd jembatan selama masa layan jembatan. Yang meliputi berat sendiri girder dan
deck, wearing surface, curbs, parapets dan railing, utilities, luminaries, dan tekanan tanah penahan.
Beban transient : meliputi beban gravitasi akibat kendaraan, kereta api, pedestrian traffics, juga beban lateral akibat air
atau angin, tumbukan kapal dan gempa bumi.
Selain daripada itu, jembatan juga mengalami fluktuasi temperatur sepanjang hari dan musim. Bergantung pada jenis
strukturnya, jembatan juga dapat mengalami beban creep dan shrinkage. Adanya gerakan support/ perletakan juga dapat
menimbulkan gaya statis tak tentu pada jembatan.
Gravity Loads : beban yg disebabkan oleh berat suatu obyek pada jembatan dan berat sendiri jembatan. Beban ini (meliputi
beban permanen dan transient) diterapkan arah ke bawah (ke pusat bumi).
PEMBEBANAN UNTUK JEMBATAN BERDASARKAN RSNI T-02-2005
 Pengelompokan Beban/Aksi
Menurut sumbernya:
1. Aksi tetap
2. Beban lalu lintas
3. Aksi lingkungan
4. Aksi-aksi lainnya
 Kombinasi Pembebanan
Kombinasi beban rencana juga dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok, yaitu:
1. Kombinasi dalam batas daya layan
2. Kombinasi dalam batas ultimit
3. Kombinasi dalam perencanaan berdasarkan tegangan kerja yang terjadi saat proses kontruksi/pembangunan
1. Aksi/Beban Tetap
Beban Tetap terdiri dari:
a. Berat sendiri
b. Beban mati tambahan/utilitas
c. Pengaruh susutan dan rangkak
a) Berat sendiri
Menurut kepada lamanya aksi tersebut bekerja:
1. Aksi tetap
2. Aksi transien/sementara
d. Pengaruh prategang
e. Tekanan tanah
f. Pengaruh tetap pelaksanaan
Berat sendiri dari bagian bangunan adalah berat dari bagian tersebut dan elemen-elemen struktural lain yang
dipikulnya. Termasuk dalam hal ini adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan elemen struktural,
ditambah dengan elemen non struktural yang dianggap tetap.
b) Beban mati tambahan
Beban mati tambahan adalah berat seluruh bahan yang membentuk suatu beban pada jembatan yang merupakan
elemen non struktural, dan besarnya dapat berubah selama umur jembatan.
2. Beban Lalu Lintas
Beban lalu lintas terdiri dari:
a. Beban lajur “D”
b. Beban truk “T”
a) Beban lajur “D”
Beban lajur "D" terdiri dari beban tersebar merata (BTR) yang digabung dengan beban garis (BGT).
Beban garis (BGT) dengan intensitas p kN/m harus ditempatkan tegak lurus terhadap arah lalu lintas pada jembatan.
Besarnya intensitas p adalah 49,0 kN/m.
Beban terbagi rata (BTR) mempunyai intensitas q kPa, besarnya q tergantung pada panjang total yang dibebani L
seperti berikut:
q = intensitas beban terbagi rata (BTR) dalam arah memanjang jembatan
L = panjang total jembatan yang dibebani (meter)
b) Beban truk “T”
Pembebanan truk "T" terdiri dari kendaraan truk semi-trailer. Berat dari masing-masing as disebarkan menjadi 2
beban merata sama besar yang merupakan bidang kontak antara roda dengan permukaan lantai. Jarak antara 2 as
tersebut bisa diubah-ubah antara 4,0 m sampai 9,0 m untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang
jembatan.
c) Beban rem
Bekerjanya gaya-gaya di arah memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi, harus ditinjau untuk kedua jurusan
lalu lintas. Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan gaya rem sebesar 5% dari beban lajur D yang dianggap ada
pada semua jalur lalu lintas, tanpa dikalikan dengan faktor beban dinamis dan dalam satu jurusan. Gaya rem
tersebut dianggap bekerja horisontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,8 m di atas
permukaan lantai kendaraan.
d) Beban pejalan kaki
e. Gaya rem
f. Beban pejalan kaki
c. Gaya sentrifugal
d. Beban tumbukan pada penyangga
jembatan
Semua elemen dari trotoar atau jembatan penyeberangan yang langsung memikul pejalan kaki harus direncanakan
untuk beban nominal 5 kPa. Apabila trotoar memungkinkan digunakan untuk kendaraan ringan atau ternak, maka
trotoar harus direncanakan untuk bisa memikul beban hidup terpusat sebesar 20 kN.
a. Beban angin
Tanpa kendaraan di atas jembatan
Ada kendaraan di atas jembatan
b. Beban gempa
PROSES PERENCANAAN JEMBATAN
1. Aspek lalulintas
• Persyaratan transportasi meliputi kelancaran arus lalulintas kendaraan dan pejalan kaki (pedestrians) yang melintasi
jembatan tersebut.
• Perencanaan yang kurang tepat terhadap kapasitas lalulintas perlu dihindarkan, karena akan sangat mempengaruhi
lebar jembatan.
• Sangatlah penting diperoleh hasil yang optimum dalam perencanaan lebar optimumnya agar didapatkan tingkat
pelayanan lalulintas yang maksimum.
• Pendekatan ekonomi selayaknya juga sebagai bahan pertimbangan biaya jembatan perlu dibuat seminimum
mungkin.
2. Aspek teknis
Persyaratan teknis yang perlu dipertimbangkan antara lain :
a) penentuan geometri struktur, alinemen horisontal dan vertikal, sesuai dengan lingkungan sekitarnya,
b) pemilihan sistem utama jembatan dan posisi dek,
c) penentuan panjang bentang optimum sesuai dengan syarat hidraulika, arsitektural, dan biaya konstruksi,
d) pemilihan elemen-elemen utama struktur atas dan struktur bawah, terutama tipe pilar dan abutment,
e) pendetailan struktur atas seperti: sandaran, parapet, penerangan, dan tipe perkerasan,
f) pemilihan bahan yang paling tepat untuk struktur jembatan berdasarkan pertimbangan struktural dan estetika.
3. Aspek estetika
• Jembatan modern di daerah perkotaan di desain tidak hanya didasarkan pada struktural dan pemenuhan transportasi
saja, tetapi juga untuk ekonomi dan artistik.
• Aspek estetika jembatan diperkotaan merupakan faktor yang penting pula dipertimbangkan dalam perencanaan.
• Kesesuaian estetika dan arsitektural akan memberikan nilai lebih kepada jembatan yang dibangun ditengah-tengah
kota.
Pada kota-kota besar didunia terdapat jembatan yang mempunyai nilai estetika yang maha tinggi disamping kekuatan
strukturnya.

Rangkuman2

  • 1.
    BEBAN-BEBAN YANG BEKERJA Bebanpermanen : beban yg tetap berada pd jembatan selama masa layan jembatan. Yang meliputi berat sendiri girder dan deck, wearing surface, curbs, parapets dan railing, utilities, luminaries, dan tekanan tanah penahan. Beban transient : meliputi beban gravitasi akibat kendaraan, kereta api, pedestrian traffics, juga beban lateral akibat air atau angin, tumbukan kapal dan gempa bumi. Selain daripada itu, jembatan juga mengalami fluktuasi temperatur sepanjang hari dan musim. Bergantung pada jenis strukturnya, jembatan juga dapat mengalami beban creep dan shrinkage. Adanya gerakan support/ perletakan juga dapat menimbulkan gaya statis tak tentu pada jembatan. Gravity Loads : beban yg disebabkan oleh berat suatu obyek pada jembatan dan berat sendiri jembatan. Beban ini (meliputi beban permanen dan transient) diterapkan arah ke bawah (ke pusat bumi). PEMBEBANAN UNTUK JEMBATAN BERDASARKAN RSNI T-02-2005  Pengelompokan Beban/Aksi Menurut sumbernya: 1. Aksi tetap 2. Beban lalu lintas 3. Aksi lingkungan 4. Aksi-aksi lainnya  Kombinasi Pembebanan Kombinasi beban rencana juga dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok, yaitu: 1. Kombinasi dalam batas daya layan 2. Kombinasi dalam batas ultimit 3. Kombinasi dalam perencanaan berdasarkan tegangan kerja yang terjadi saat proses kontruksi/pembangunan 1. Aksi/Beban Tetap Beban Tetap terdiri dari: a. Berat sendiri b. Beban mati tambahan/utilitas c. Pengaruh susutan dan rangkak a) Berat sendiri Menurut kepada lamanya aksi tersebut bekerja: 1. Aksi tetap 2. Aksi transien/sementara d. Pengaruh prategang e. Tekanan tanah f. Pengaruh tetap pelaksanaan
  • 2.
    Berat sendiri daribagian bangunan adalah berat dari bagian tersebut dan elemen-elemen struktural lain yang dipikulnya. Termasuk dalam hal ini adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan elemen struktural, ditambah dengan elemen non struktural yang dianggap tetap. b) Beban mati tambahan Beban mati tambahan adalah berat seluruh bahan yang membentuk suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non struktural, dan besarnya dapat berubah selama umur jembatan. 2. Beban Lalu Lintas Beban lalu lintas terdiri dari: a. Beban lajur “D” b. Beban truk “T” a) Beban lajur “D” Beban lajur "D" terdiri dari beban tersebar merata (BTR) yang digabung dengan beban garis (BGT). Beban garis (BGT) dengan intensitas p kN/m harus ditempatkan tegak lurus terhadap arah lalu lintas pada jembatan. Besarnya intensitas p adalah 49,0 kN/m. Beban terbagi rata (BTR) mempunyai intensitas q kPa, besarnya q tergantung pada panjang total yang dibebani L seperti berikut: q = intensitas beban terbagi rata (BTR) dalam arah memanjang jembatan L = panjang total jembatan yang dibebani (meter) b) Beban truk “T” Pembebanan truk "T" terdiri dari kendaraan truk semi-trailer. Berat dari masing-masing as disebarkan menjadi 2 beban merata sama besar yang merupakan bidang kontak antara roda dengan permukaan lantai. Jarak antara 2 as tersebut bisa diubah-ubah antara 4,0 m sampai 9,0 m untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang jembatan. c) Beban rem Bekerjanya gaya-gaya di arah memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi, harus ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas. Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan gaya rem sebesar 5% dari beban lajur D yang dianggap ada pada semua jalur lalu lintas, tanpa dikalikan dengan faktor beban dinamis dan dalam satu jurusan. Gaya rem tersebut dianggap bekerja horisontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,8 m di atas permukaan lantai kendaraan. d) Beban pejalan kaki e. Gaya rem f. Beban pejalan kaki c. Gaya sentrifugal d. Beban tumbukan pada penyangga jembatan
  • 3.
    Semua elemen daritrotoar atau jembatan penyeberangan yang langsung memikul pejalan kaki harus direncanakan untuk beban nominal 5 kPa. Apabila trotoar memungkinkan digunakan untuk kendaraan ringan atau ternak, maka trotoar harus direncanakan untuk bisa memikul beban hidup terpusat sebesar 20 kN. a. Beban angin Tanpa kendaraan di atas jembatan Ada kendaraan di atas jembatan b. Beban gempa PROSES PERENCANAAN JEMBATAN
  • 4.
    1. Aspek lalulintas •Persyaratan transportasi meliputi kelancaran arus lalulintas kendaraan dan pejalan kaki (pedestrians) yang melintasi jembatan tersebut. • Perencanaan yang kurang tepat terhadap kapasitas lalulintas perlu dihindarkan, karena akan sangat mempengaruhi lebar jembatan. • Sangatlah penting diperoleh hasil yang optimum dalam perencanaan lebar optimumnya agar didapatkan tingkat pelayanan lalulintas yang maksimum. • Pendekatan ekonomi selayaknya juga sebagai bahan pertimbangan biaya jembatan perlu dibuat seminimum mungkin. 2. Aspek teknis Persyaratan teknis yang perlu dipertimbangkan antara lain : a) penentuan geometri struktur, alinemen horisontal dan vertikal, sesuai dengan lingkungan sekitarnya, b) pemilihan sistem utama jembatan dan posisi dek, c) penentuan panjang bentang optimum sesuai dengan syarat hidraulika, arsitektural, dan biaya konstruksi, d) pemilihan elemen-elemen utama struktur atas dan struktur bawah, terutama tipe pilar dan abutment, e) pendetailan struktur atas seperti: sandaran, parapet, penerangan, dan tipe perkerasan, f) pemilihan bahan yang paling tepat untuk struktur jembatan berdasarkan pertimbangan struktural dan estetika. 3. Aspek estetika
  • 5.
    • Jembatan moderndi daerah perkotaan di desain tidak hanya didasarkan pada struktural dan pemenuhan transportasi saja, tetapi juga untuk ekonomi dan artistik. • Aspek estetika jembatan diperkotaan merupakan faktor yang penting pula dipertimbangkan dalam perencanaan. • Kesesuaian estetika dan arsitektural akan memberikan nilai lebih kepada jembatan yang dibangun ditengah-tengah kota. Pada kota-kota besar didunia terdapat jembatan yang mempunyai nilai estetika yang maha tinggi disamping kekuatan strukturnya.