PROPOSAL BISNIS



  BUDIDAYA

PENGEMBANGAN

 IKAN LELE



              Oleh:

  Tarsisius Lukman (46109120006)

     Nina Aisyah (46109110097)

  Emy Puspitasari (46109110092)

   Nidaul Hasanah (46109110013)
1. Latar Belakang

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan
secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele
berkembang pesat karena:


    1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas
    2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai
    3) pemasarannya relatif mudah
    4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah


   Budidaya Lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1m -
800m dpl. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik,
artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air,
budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian di atas
>800m dpl.
   Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan
di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak
plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan atau pun lahan marjinal lainnya.
Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumur (air permukaan atau sumur
dalam), atau pun air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dulu.
Parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang
adalah sebagai berikut:
   • Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22 0-320C.
      Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan
      napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
   • pH air yang ideal berkisar antara 6-9. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1
      mg/l.
   • Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak
      tembok atau kolam tanah. Dalam Budidaya ikan lele di kolam yang perlu
      diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan
      pengeluaran air.
2. Struktur Manajemen
 Budidya Lele “Mantap Tenan” didirikan dan dimiliki oleh 4 orang dengan
 struktur sbb:

                             Tarsisius Lukman
                                  Sebagai
                              General Manager




 Nidaul Hasanah              Emy Puspitasari                Nina Aisyah
     Sebagai                      Sebagai                     Sebagai
Resource Development
      Manager
                             Financial Manager              HRD Manager


 • Tarsisius Lukman sebagai General Manager yang telah punya banyak
     pengalaman dalam berbisnis yang bertanggung jawab pada controlling
     manager serta pengembagan usaha.
 • Emy Puspitasari Sebagai Manager Keuangan yang memiliki kemampuan
     ekonomi dan akuntansi berbasis syariah yang cukup memadai.
 • Nina Aisyah sebagai Manager Administrasi & HRD yang bertanggung
     jawab pada kepegawaian, keamanan kolam dan rencana pengembangan
     usaha.
 •    Nidaul Hasanah sebagai Manager Resource Development yang
     bertanggungjawab pada pembesaran lele yang meliputi pembelian benih lele,
proses pembesaran lele, antisipasi & penanggulangan penyakit serta link
      penjualan ketika lele sudah besar.


Kami berempat sudah komitmen untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis
ini dengan sungguh-sungguh, setiap dari kami memiliki keunggulan masing-
masing di bidangnya sehingga menjadikan kami tim yang saling melengkapi, solid,
amanah dan bertanggung jawab.
3. Visi dan Misi
3.1   Visi
      Menjadi   satu-satunya    perusahaan     yang   bergerak   di   bidang
      peternakan lele yang berkualitas, adil dan profitable.


3.2      Misi
      a. Menjadi salah satu perusahaan yang menyuplai kebutuhan lele di
         daerah Jakarta dan sekitarnya
      b. Membudidayakan lele yang berkualitas tinggi, sehat dan murah
      c. Menjadi unit UKM yang mampu mensejahterakan masyarakat
4. Faktor Kunci Sukses

Kunci keberhasilan bagi Budidaya Lele ”Mantap Tenan” adalah :
• Budidaya menggunakan bibit lele sangkuriang yang merupakan bibit
  unggul di daerah Jakarta
• Keadaan kolam yang strategis yaitu di tengah perkampungan dan
  cukup luas sehingga mampu menampung banyak lele.
• Manajemen keuangan dan sumber daya manusia yang profesional
• Disiplin   dan   bertanggungjawab   dalam   melaksanakan      setiap
  pekerjaan yang ditanggung
5. Gambaran Umum Usaha


  Kami adalah perusahaan yang bergerak dalam budidaya lele. Kami
memiliki sumberdaya-sumberdaya manusia yang handal dan memiliki
kapabilitas di dalamnya. Dari mulai menejerial, pengembangan, dan
teknis lapangan.
  Untuk tenaga ahli kami memiliki orang yang sudah sangat
berpengalaman baik secara teori maupun praktek dilapangan yang
kami peroleh sebagai keterampilan yang diwariskan oleh keluarga
kami yang sudah mengelola usaha ini turun temurun sehingga sudah
tidak diragukan lagi kemampuan dan pengalaman kami dalam
budidaya dan pemanfaatan lele ke depan.
6. Analisis Pesaing


6.1 Pesaing


   Banyaknya petani yang membudidayakan lele di daerah sekitar
   Jakarta tetapi tidak membuat kami pesimis karena faktanya lele yang
   dikonsumsi sehari-hari masih disuplay dari Jakarta sehingga suplay
   dari Jakarta sendiri masih kurang.


6.2 Resiko atau Hambatan


        Resiko     yang     dipertimbangkan   dalam   memulai     dan
   mengembangkan usaha ini adalah :
       • Hama penyakit yang ada ketika budidaya berlangsung.
       • Tingkat mortalitas yang tinggi.


    Kedua resiko ini dapat diminimalisir dengan cara perawatan yang
   baik dan benar oleh ahlinya.
7. Analisis SWAT


• Kelebihan
   1. Masih tingginya permintaan pasar terhadap lele terlihat dari
     mahalnya harga lele di pasar.
   2. Suplay lele yang berasal dari luar Jakarta terutama lele dari luar
     kota
   3. Semakin banyaknya peminat ikan lele dilihat dari berkembangnya
     warung pecel lele


• Kekurangan
   1. Jauhnya jarak antara tengkulak dengan tambak menambah biaya
     transportasi.
   2. Angka penyusutan penjualan yang dikarenakan jauhnya jarak ke
     tengkulak   sehingga    banyaknya    lele   yang   mati   membuat
     pengurangan nilai produksi.


• Ruang kesempatan yang tersedia
   1. Banyaknya penjual lele di pasar menjadi nilai tambah karena
     berarti lele masih mudah dalam pemasaran.
   2. Belum banyaknya pengembangan hasil produk pakan berbahan
     dasar lele menjadi wilayah olah sendiri.
• Hambatan dan penanggulangannya
   1. Banjir menjadi ancaman besar terhadap segala jenis tambak tidak
     terkecuali lele. Untuk itu sudah jelas kami mencari lahan yang
     aman dari banjir.
   2. Hama seperti luak dan ular menjadi penting untuk dikhawatirkan
     karena dapat menurunkan jumlah produksi. Untuk itu kami
     menanggulanginya dari membuat pagar hingga mengadakan
     jebakan guna mengurangi jumlah kerugian yang dihasilkan
     karena kemungkinan terserang oleh hama ini.
   3. Penyakit juga biasa meyerang perikanan. Untuk itu kami
     menganggap penting untuk menganalisis kualitas air dan
     kemungkinan tumbuhnya penyakit dikarenakan adanya bibit
     penyakit, juga persiapan lahan yang matang menjadi salah satu
     faktor pendekatan terhadap penyerangan penyakit ini. Kami juga
     mengadakan pemeriksaan rutin terhadap lele dikarenakan
     kemungkinan terserang wabah juga besar sehingga penting untuk
     segera ditanggulangi


• Analisis pengembangan
  1. Karena permintaan pasar masih sangat tinggi terhadap lele, untuk
     pengembangan lahan dalam jumlah besar pun masih dirasa
     memungkinkan. Dengan diciptakannya frenchise peternakan lele
     yang nantinya kita hanya bermodalkan bibit yang kita produksi
sendiri sehingga kita dapat menjual hasil bibit, peralatan dan
  pangan terhadap orang yang mengikuti frenchise kita.


2. Menciptakan pasar sendiri juga dinilai penting guna melewati
  batas   equlibrium   penjualan   dengan   cara   mengolah    hasil
  pembudidayaan. Jadi produk olahan yang dapat dikonsumsi
  secara instan yang tenaga ahlinya diambil dari Institute Pertanian
  seperti tim ahli pembudidayaan yang juga kami ambil dari
  perguruan tinggi tersebut.

3. Menciptakan momentum dan prestis dari produk lele, juga menjadi
  trik marketing kami. Dengan trik ini tertancap pada benak
  konsumen bahwa lele merupakan makanan yang bernilai tinggi.
8. Analisis Keuangan
    8.1    Modal
           Ada dua jenis pengeluaran dalam bisnis lele, biaya awal dan biaya
           operasional. Perincian biaya awal dan biaya operasional antara lain
           sebagai berikut:
           - Biaya Awal
            Biaya awal adalah biaya yang hanya dikeluarkan satu kali,
            perinciannya sebahai berikut:

     No             Nama              quantity    satuan      harga satuan           Total
      1 Sewa                             1        tahun      Rp 2,500,000.00   Rp 2,500,000.00
      2 Peralatan                        1        set        Rp 100,000.00     Rp 100,000.00
      3 lele Indukan                     2        set        Rp 700,000.00     Rp 1,400,000.00
      4 Laboratorium                     6        sample     Rp    15,000.00   Rp    90,000.00
      5 Pagar, paralon dan Jembatan      1        set        Rp 2,000,000.00   Rp 2,000,000.00
     Jumlah                                                                    Rp 6,090,000.00


           - Biaya Operasional
            Biaya operasional dibagi menjadi 2 yaitu biaya operasional awal
            dan    biaya       operasional       berjalan.     Pada     masa      pembesaran
            membutuhkan biaya operasional awal dan biaya operasional
            berjalan,    sedangkan       pada       masa        peternakan      hanya     biaya
            operasional berjalan.
No             Nama             quantity satuan       harga satuan                Total
      Biaya operasi awal
1     lele pembesaran            72000 ekor         Rp         250.00    Rp       18,000,000.00
      Biaya operasi berjalan
1     upah pekerja                    2 bulan       Rp     600,000.00    Rp        1,200,000.00
2 kapur                         2   sak    Rp         4,000.00   Rp             8,000.00
 3 garam                        25   kg     Rp         1,000.00   Rp            25,000.00
 4 pupuk                        64   kg     Rp        10,000.00   Rp           640,000.00
 5 pelet                       188   sak    Rp       200,000.00   Rp        37,600,000.00
Jumlah                                                            Rp        57,473,000.00


 Sehingga modal yang dibutukan meliputi:
          Biaya Awal + Biaya Operasional = Modal
          Rp 6,090,000.00 + Rp 57,473,000.00 = Rp 63,563,000.00


 8.2 Keuntungan
         Dari investasi awal tersebut maka dapat dihitung cash flow (dengan
         asumsi bahwa minimal lele panen 5 kali dalam setahun dan jumlah
         tingkat kehidupan hanya 70% yang nantinya dapat kami tekan hingga
         dibawah 8% karena kami memiliki sumber daya yang mendukung)

Bibit     Tingkat kehidupan   Jumlah 7 lele per kg    Harga/Kg         Total


72000     70%                 0,142857142857          Rp 11.000,-      Rp      79,200,000.00



        Maka Keuntungan bersih yang didapat pada panen pertama adalah
           = Keuntungan – modal awal
          = Rp 79,200,000.00 - Rp 63,563,000.00
          = Rp 15,637,000.00
          Jadi terlihat pada panen pertama saja kita sudah dapat balik modal
   dan bahkan sudah memiliki keuntungan sebesar = Rp 15,637,000.00


        Pada panen kedua dan ketiga keuntungan bersih yang didapat persekali
        panen adalah
           = Keuntungan – Biaya operasional total
= Rp 79,200,000.00 – Rp 57,473,000.00
     = Rp 21,727,000.00
     Keuntungan bersih yang didapat pada periode panen kedua dan
ketiga adalah sama yakni sebesar = Rp 21,727,000.00/panen.


  Pada panen keempat dan kelima keuntungan bersih yang didapat
  persekali panen adalah
     = Keuntungan – Biaya operasional total
     = Rp 79,200,000.00 – Rp 39,473,000.00
     = Rp 39,727,000.00
  Keuntungan bersih yang didapat pada periode panen keempat dan
  kelima adalah sama yakni sebesar = Rp 39,727,000.00/panen.


  Sehingga keuntungan bersih pertahun adalah akumulasi keuntungan
  bersih pada:
     = Panen Pertama + Panen Kedua + Panen Ketiga + Panen Keempat
     + Panen Kelima
     = Rp 15,637,000.00 + Rp 21,727,000.00 + Rp 21,727,000.00 + Rp
       39,727,000.00 + Rp 39,727,000.00
     = Rp 138,545,000.00




Keuntungan ini merupakan perhitungan minimal karena kita menghitung
tingkat Mortalitas (kematian) sebesar 30 %, pada kenyataannya mortalitas
dapat diminimalisir sampai 8 %.
9. Profit Sharing


    Pembagian hasil antara pengelola dengan investor adalah 60 : 40
    Jika investor hanya sebagian maka perhitungan profit sharingnya
    adalah :




    Contoh:




Jadi, Investor mendapatkan keuntungan setiap = Rp 1,000,000.00 sebesar
= Rp 784,673.47 setiap tahunnya sehingga dana yang dikembalikan
kepada investor jika investor tidak mau memperpanjang kontraknya
sebesar = Rp 1,748,600.00.
Lampiran I
Foto referensi kolam yang akan digunakan
Proposal Usaha Ikan Lele

Proposal Usaha Ikan Lele

  • 1.
    PROPOSAL BISNIS BUDIDAYA PENGEMBANGAN IKAN LELE Oleh: Tarsisius Lukman (46109120006) Nina Aisyah (46109110097) Emy Puspitasari (46109110092) Nidaul Hasanah (46109110013)
  • 2.
    1. Latar Belakang Ikanlele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat karena: 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai 3) pemasarannya relatif mudah 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah Budidaya Lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1m - 800m dpl. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air, budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian di atas >800m dpl. Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan atau pun lahan marjinal lainnya. Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumur (air permukaan atau sumur dalam), atau pun air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dulu.
  • 3.
    Parameter kualitas airyang baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut: • Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22 0-320C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. • pH air yang ideal berkisar antara 6-9. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l. • Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam Budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.
  • 4.
    2. Struktur Manajemen Budidya Lele “Mantap Tenan” didirikan dan dimiliki oleh 4 orang dengan struktur sbb: Tarsisius Lukman Sebagai General Manager Nidaul Hasanah Emy Puspitasari Nina Aisyah Sebagai Sebagai Sebagai Resource Development Manager Financial Manager HRD Manager • Tarsisius Lukman sebagai General Manager yang telah punya banyak pengalaman dalam berbisnis yang bertanggung jawab pada controlling manager serta pengembagan usaha. • Emy Puspitasari Sebagai Manager Keuangan yang memiliki kemampuan ekonomi dan akuntansi berbasis syariah yang cukup memadai. • Nina Aisyah sebagai Manager Administrasi & HRD yang bertanggung jawab pada kepegawaian, keamanan kolam dan rencana pengembangan usaha. • Nidaul Hasanah sebagai Manager Resource Development yang bertanggungjawab pada pembesaran lele yang meliputi pembelian benih lele,
  • 5.
    proses pembesaran lele,antisipasi & penanggulangan penyakit serta link penjualan ketika lele sudah besar. Kami berempat sudah komitmen untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis ini dengan sungguh-sungguh, setiap dari kami memiliki keunggulan masing- masing di bidangnya sehingga menjadikan kami tim yang saling melengkapi, solid, amanah dan bertanggung jawab.
  • 6.
    3. Visi danMisi 3.1 Visi Menjadi satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang peternakan lele yang berkualitas, adil dan profitable. 3.2 Misi a. Menjadi salah satu perusahaan yang menyuplai kebutuhan lele di daerah Jakarta dan sekitarnya b. Membudidayakan lele yang berkualitas tinggi, sehat dan murah c. Menjadi unit UKM yang mampu mensejahterakan masyarakat
  • 7.
    4. Faktor KunciSukses Kunci keberhasilan bagi Budidaya Lele ”Mantap Tenan” adalah : • Budidaya menggunakan bibit lele sangkuriang yang merupakan bibit unggul di daerah Jakarta • Keadaan kolam yang strategis yaitu di tengah perkampungan dan cukup luas sehingga mampu menampung banyak lele. • Manajemen keuangan dan sumber daya manusia yang profesional • Disiplin dan bertanggungjawab dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang ditanggung
  • 8.
    5. Gambaran UmumUsaha Kami adalah perusahaan yang bergerak dalam budidaya lele. Kami memiliki sumberdaya-sumberdaya manusia yang handal dan memiliki kapabilitas di dalamnya. Dari mulai menejerial, pengembangan, dan teknis lapangan. Untuk tenaga ahli kami memiliki orang yang sudah sangat berpengalaman baik secara teori maupun praktek dilapangan yang kami peroleh sebagai keterampilan yang diwariskan oleh keluarga kami yang sudah mengelola usaha ini turun temurun sehingga sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan pengalaman kami dalam budidaya dan pemanfaatan lele ke depan.
  • 9.
    6. Analisis Pesaing 6.1Pesaing Banyaknya petani yang membudidayakan lele di daerah sekitar Jakarta tetapi tidak membuat kami pesimis karena faktanya lele yang dikonsumsi sehari-hari masih disuplay dari Jakarta sehingga suplay dari Jakarta sendiri masih kurang. 6.2 Resiko atau Hambatan Resiko yang dipertimbangkan dalam memulai dan mengembangkan usaha ini adalah : • Hama penyakit yang ada ketika budidaya berlangsung. • Tingkat mortalitas yang tinggi. Kedua resiko ini dapat diminimalisir dengan cara perawatan yang baik dan benar oleh ahlinya.
  • 10.
    7. Analisis SWAT •Kelebihan 1. Masih tingginya permintaan pasar terhadap lele terlihat dari mahalnya harga lele di pasar. 2. Suplay lele yang berasal dari luar Jakarta terutama lele dari luar kota 3. Semakin banyaknya peminat ikan lele dilihat dari berkembangnya warung pecel lele • Kekurangan 1. Jauhnya jarak antara tengkulak dengan tambak menambah biaya transportasi. 2. Angka penyusutan penjualan yang dikarenakan jauhnya jarak ke tengkulak sehingga banyaknya lele yang mati membuat pengurangan nilai produksi. • Ruang kesempatan yang tersedia 1. Banyaknya penjual lele di pasar menjadi nilai tambah karena berarti lele masih mudah dalam pemasaran. 2. Belum banyaknya pengembangan hasil produk pakan berbahan dasar lele menjadi wilayah olah sendiri.
  • 11.
    • Hambatan danpenanggulangannya 1. Banjir menjadi ancaman besar terhadap segala jenis tambak tidak terkecuali lele. Untuk itu sudah jelas kami mencari lahan yang aman dari banjir. 2. Hama seperti luak dan ular menjadi penting untuk dikhawatirkan karena dapat menurunkan jumlah produksi. Untuk itu kami menanggulanginya dari membuat pagar hingga mengadakan jebakan guna mengurangi jumlah kerugian yang dihasilkan karena kemungkinan terserang oleh hama ini. 3. Penyakit juga biasa meyerang perikanan. Untuk itu kami menganggap penting untuk menganalisis kualitas air dan kemungkinan tumbuhnya penyakit dikarenakan adanya bibit penyakit, juga persiapan lahan yang matang menjadi salah satu faktor pendekatan terhadap penyerangan penyakit ini. Kami juga mengadakan pemeriksaan rutin terhadap lele dikarenakan kemungkinan terserang wabah juga besar sehingga penting untuk segera ditanggulangi • Analisis pengembangan 1. Karena permintaan pasar masih sangat tinggi terhadap lele, untuk pengembangan lahan dalam jumlah besar pun masih dirasa memungkinkan. Dengan diciptakannya frenchise peternakan lele yang nantinya kita hanya bermodalkan bibit yang kita produksi
  • 12.
    sendiri sehingga kitadapat menjual hasil bibit, peralatan dan pangan terhadap orang yang mengikuti frenchise kita. 2. Menciptakan pasar sendiri juga dinilai penting guna melewati batas equlibrium penjualan dengan cara mengolah hasil pembudidayaan. Jadi produk olahan yang dapat dikonsumsi secara instan yang tenaga ahlinya diambil dari Institute Pertanian seperti tim ahli pembudidayaan yang juga kami ambil dari perguruan tinggi tersebut. 3. Menciptakan momentum dan prestis dari produk lele, juga menjadi trik marketing kami. Dengan trik ini tertancap pada benak konsumen bahwa lele merupakan makanan yang bernilai tinggi.
  • 13.
    8. Analisis Keuangan 8.1 Modal Ada dua jenis pengeluaran dalam bisnis lele, biaya awal dan biaya operasional. Perincian biaya awal dan biaya operasional antara lain sebagai berikut: - Biaya Awal Biaya awal adalah biaya yang hanya dikeluarkan satu kali, perinciannya sebahai berikut: No Nama quantity satuan harga satuan Total 1 Sewa 1 tahun Rp 2,500,000.00 Rp 2,500,000.00 2 Peralatan 1 set Rp 100,000.00 Rp 100,000.00 3 lele Indukan 2 set Rp 700,000.00 Rp 1,400,000.00 4 Laboratorium 6 sample Rp 15,000.00 Rp 90,000.00 5 Pagar, paralon dan Jembatan 1 set Rp 2,000,000.00 Rp 2,000,000.00 Jumlah Rp 6,090,000.00 - Biaya Operasional Biaya operasional dibagi menjadi 2 yaitu biaya operasional awal dan biaya operasional berjalan. Pada masa pembesaran membutuhkan biaya operasional awal dan biaya operasional berjalan, sedangkan pada masa peternakan hanya biaya operasional berjalan. No Nama quantity satuan harga satuan Total Biaya operasi awal 1 lele pembesaran 72000 ekor Rp 250.00 Rp 18,000,000.00 Biaya operasi berjalan 1 upah pekerja 2 bulan Rp 600,000.00 Rp 1,200,000.00
  • 14.
    2 kapur 2 sak Rp 4,000.00 Rp 8,000.00 3 garam 25 kg Rp 1,000.00 Rp 25,000.00 4 pupuk 64 kg Rp 10,000.00 Rp 640,000.00 5 pelet 188 sak Rp 200,000.00 Rp 37,600,000.00 Jumlah Rp 57,473,000.00 Sehingga modal yang dibutukan meliputi: Biaya Awal + Biaya Operasional = Modal Rp 6,090,000.00 + Rp 57,473,000.00 = Rp 63,563,000.00 8.2 Keuntungan Dari investasi awal tersebut maka dapat dihitung cash flow (dengan asumsi bahwa minimal lele panen 5 kali dalam setahun dan jumlah tingkat kehidupan hanya 70% yang nantinya dapat kami tekan hingga dibawah 8% karena kami memiliki sumber daya yang mendukung) Bibit Tingkat kehidupan Jumlah 7 lele per kg Harga/Kg Total 72000 70% 0,142857142857 Rp 11.000,- Rp 79,200,000.00 Maka Keuntungan bersih yang didapat pada panen pertama adalah = Keuntungan – modal awal = Rp 79,200,000.00 - Rp 63,563,000.00 = Rp 15,637,000.00 Jadi terlihat pada panen pertama saja kita sudah dapat balik modal dan bahkan sudah memiliki keuntungan sebesar = Rp 15,637,000.00 Pada panen kedua dan ketiga keuntungan bersih yang didapat persekali panen adalah = Keuntungan – Biaya operasional total
  • 15.
    = Rp 79,200,000.00– Rp 57,473,000.00 = Rp 21,727,000.00 Keuntungan bersih yang didapat pada periode panen kedua dan ketiga adalah sama yakni sebesar = Rp 21,727,000.00/panen. Pada panen keempat dan kelima keuntungan bersih yang didapat persekali panen adalah = Keuntungan – Biaya operasional total = Rp 79,200,000.00 – Rp 39,473,000.00 = Rp 39,727,000.00 Keuntungan bersih yang didapat pada periode panen keempat dan kelima adalah sama yakni sebesar = Rp 39,727,000.00/panen. Sehingga keuntungan bersih pertahun adalah akumulasi keuntungan bersih pada: = Panen Pertama + Panen Kedua + Panen Ketiga + Panen Keempat + Panen Kelima = Rp 15,637,000.00 + Rp 21,727,000.00 + Rp 21,727,000.00 + Rp 39,727,000.00 + Rp 39,727,000.00 = Rp 138,545,000.00 Keuntungan ini merupakan perhitungan minimal karena kita menghitung tingkat Mortalitas (kematian) sebesar 30 %, pada kenyataannya mortalitas dapat diminimalisir sampai 8 %.
  • 16.
    9. Profit Sharing Pembagian hasil antara pengelola dengan investor adalah 60 : 40 Jika investor hanya sebagian maka perhitungan profit sharingnya adalah : Contoh: Jadi, Investor mendapatkan keuntungan setiap = Rp 1,000,000.00 sebesar = Rp 784,673.47 setiap tahunnya sehingga dana yang dikembalikan kepada investor jika investor tidak mau memperpanjang kontraknya sebesar = Rp 1,748,600.00.
  • 17.
    Lampiran I Foto referensikolam yang akan digunakan