CASE FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8 jilid 1 Penerbit Erlangga
Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar Penerapan dari Permintaan dan Penawaran Elastisitas BAGIAN 1 PENGANTAR EKONOMI Penerbit Erlangga CASE   FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8   jilid 1
1 Lingkup dan Metode  dari Ilmu Ekonomi BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi Penerbit Erlangga
ILMU EKONOMI Ilmu ekonomi  mempelajari bagaimana individu dan masyarakat memanfaatkan sumber daya terbatas yang diwariskan oleh alam dan generasi terdahulu BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
PENTINGNYA ILMU EKONOMI Mempelajari ilmu ekonomi berarti  memahami cara berpikir Ilmu ekonomi penting dalam: Ilmu masyarakat Pemahaman hubungan internasional Keputusan voting Keputusan ekonomi seringkali berdampak besar BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
3 KONSEP DASAR  ILMU EKONOMI Biaya oportunitas Marginalisme Pasar efisien BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
KONSEP DASAR 1 BIAYA OPORTUNITAS Biaya oportunitas  adalah alternatif terbaik yang dikesampingkan atau ditinggalkan ketika mengambil keputusan Hampir semua keputusan mengandung kompromi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
KONSEP DASAR 2 MARGINALITAS Penghitungan biaya dan keuntungan dari keputusan hanya terkait dengan keputusan itu sendiri Misalnya, keputusan memproduksi output tambahan hanya memperhitungkan  biaya tambahan  ( additional  atau  marginal cost ) tanpa memperhitungkan  sunk cost  yang sudah dikeluarkan dan tidak terkait langsung dengan keputusan tersebut BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
KONSEP DASAR 3 PASAR EFISIEN Dalam  pasar efisien ,  oportunitas laba  terjadi dan berakhir hampir dalam sekejap Jarangnya oportunitas laba disebabkan oleh banyaknya orang yang mencarinya BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
LINGKUP DARI ILMU EKONOMI Mikroekonomi  adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku unit pengambil-keputusan, yaitu perusahaan bisnis dan rumahtangga Makroekonomi  adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari  agregat ekonomi  (pendapatan, output, pekerjaan, dsb) dalam skala nasional BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga PERMASALAHAN DALAM LINGKUP ILMU EKONOMI Produksi Harga Pendapatan Pekerjaan Mikroekonomi Produksi/ output dari industri dan bisnis individu Jumlah bahan mentah, kantor, kendaraan Harga dari barang dan jasa individu Harga perawatan medis, bahan bakar, pangan, dan sewa apartemen Distribusi pendapatan dan kekayaan Upah industri mobil, upah minimum, gaji eksekutif, kemiskinan Pekerjaan dalam bisnis dan industri individu Pekerjaan dalam industri baja, jumlah karyawan dalam perusahaan Makroekonomi Produksi/ output nasional Output industri total, produk domestik bruto, pertumbuhan output Tingkat harga agregat Harga konsumen, harga produsen, tingkat inflasi Pendapatan nasional Upah dan gaji total, laba perusahaan total Pekerjaan dan pengangguran Jumlah total pekerjaan, tingkat pengangguran
METODE DARI ILMU EKONOMI Ilmu ekonomi positif Ilmu ekonomi normatif Ilmu ekonomi empiris BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
METODE DARI ILMU EKONOMI: POSITIF Ilmu ekonomi positif  mempelajari perilaku ekonomi secara apa adanya Metode ini hanya menangani deskripsi dan fungsi Termasuk dalam metode ini: Ekonomi deskriptif  mengumpulkan data untuk menjelaskan fenomena atau fakta Teori ekonomi  menyatakan sebab-akibat atau aksi-reaksi secara umum BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
METODE DARI ILMU EKONOMI: NORMATIF Ilmu ekonomi normatif  (disebut juga  policy economics ): Menganalisis hasil perilaku ekonomi Mengevaluasinya sebagai baik atau buruk Menyarankan tindakan tertentu BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
METODE DARI ILMU EKONOMI: EMPIRIS Ilmu ekonomi empiris  mengumpulkan dan memanfaatkan data untuk menguji teori ekonomi Banyak kumpulan data (dikumpulkan oleh biro pemerintah maupun perusahaan privat) tersedia untuk mendukung riset ekonomi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
TEORI DAN MODEL Teori terdiri dari model, model terdiri dari variabel Model  adalah pernyataan formal dari teori, mendeskripsikan hubungan antar dua variabel atau lebih Variabel   adalah ukuran yang bervariasi dalam setiap observasi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
OCKHAM’S RAZOR Ockham’s razor  adalah prinsip bahwa detail yang tak relevan harus dibuang, karena model adalah simplifikasi (bukan komplikasi) dari kenyataan BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
PERANGKAP DALAM MENYUSUN TEORI EKONOMI Kesalahan post hoc ergo propter hoc  terkait dengan kesalahan pemikiran mengenai kausalitas: Walaupun A terjadi sebelum B, belum tentu A menghasilkan B Kesalahan komposisi  terkait dengan kesalahan keyakinan bahwa fakta yang berlaku bagi sebagian juga berlaku bagi semua BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
KEBIJAKAN EKONOMI Kriteria dalam menentukan hasil ekonomi: Efisiensi  ( efisiensi alokatif ), ekonomi efisien memproduksi kebutuhan masyarakat dengan biaya serendah mungkin Ekuitas , keadilan dari hasil ekonomi Pertumbuhan ekonomi , peningkatan output total dalam perekonomian Stabilitas ekonomi , kondisi kestabilan atau peningkatan dari output diiringi inflasi rendah dan pemanfaatan penuh sumber daya BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
2 Masalah Ekonomi:  Kelangkaan dan Pilihan Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
KELANGKAAN, PILIHAN, DAN BIAYA OPORTUNITAS  1 Kebutuhan  manusia bersifat  tak terbatas , namun  sumber daya  yang tersedia bersifat  terbatas Masyarakat memiliki  sistem  atau  mekanisme  tersendiri untuk mengolah sumber daya yang terbatas tersebut menjadi barang atau jasa yang bermanfaat BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan Penerbit Erlangga
KELANGKAAN, PILIHAN, DAN BIAYA OPORTUNITAS  2 Produksi  adalah  proses  mengolah sumber daya yang terbatas menjadi barang dan jasa yang bermanfaat Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN, PILIHAN, DAN BIAYA OPORTUNITAS  3 Sistem ekonomi bisa dipahami dengan menjawab  tiga pertanyaan dasar : Apa  yang diproduksi? Bagaimana  cara produksinya? Siapa  yang menerima hasil produksi tersebut? Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN, PILIHAN, DAN BIAYA OPORTUNITAS  4 Sumber daya adalah  input  dari proses produksi Barang dan jasa yang bermanfaat bagi rumah tangga adalah  output  dari proses produksi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN, PILIHAN, DAN BIAYA OPORTUNITAS  5 Tiga  sumber daya   utama  yang tersedia bagi masyarakat (ketiganya disebut  faktor produksi ): Tanah  ( land ) Tenaga kerja  ( labor ) Modal  ( capital ) Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN & PILIHAN DALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG  1 Hampir semua  keputusan dasar  yang terjadi dalam perekonomian kompleks juga terjadi dalam perekonomian satu orang Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN & PILIHAN DALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG  2 Pilihan terbatas  dan  kelangkaan  adalah  konsep dasar  yang berlaku dalam masyarakat manapun Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN & PILIHAN DALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG  3 Biaya oportunitas  adalah  alternatif terbaik  yang kita korbankan atau abaikan ketika kita mengambil keputusan atau pilihan Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
KELANGKAAN & PILIHAN DALAM PEREKONOMIAN ≥2 ORANG Produsen memiliki  keunggulan absolut  terhadap produsen lainnya dalam produksi barang atau jasa jika produsen tersebut mampu berproduksi dengan  lebih sedikit sumber daya Produsen memiliki  keunggulan komparatif  terhadap produsen lainnya dalam produksi barang atau jasa jika produsen tersebut mampu berproduksi dengan  lebih sedikit biaya oportunitas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SPESIALISASI, PERTUKARAN, DAN KEUNGGULAN KOMPARATIF Menurut  teori keunggulan komparatif : spesialisasi dan perdagangan bebas akan menguntungkan semua pihak yang melakukan pertukaran , bahkan bagi pihak yang bisa jadi secara absolut adalah produsen yang lebih efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
BARANG MODAL DAN  BARANG KONSUMEN  1 Barang modal  adalah barang yang  dipakai untuk memproduksi barang atau jasa lainnya Barang konsumen  adalah barang yang  diproduksi untuk konsumsi saat ini Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
BARANG MODAL DAN  BARANG KONSUMEN  2 Investasi  adalah proses pemakaian sumber daya untuk memproduksi modal baru Maka, modal adalah  gabungan  dari investasi sebelumnya Biaya oportunitas  dari investasi modal setara dengan konsumsi masa kini yang dikorbankan Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  1 Batas kemungkinan produksi  ( ppf  -  production possibility frontier ) adalah grafik yang memperlihatkan semua kombinasi barang dan jasa yang bisa diproduksi dengan memakai sumber daya masyarakat secara efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
Grafik ppf memiliki  slope negatif Slope negatif tersebut menunjukkan interaksi antara produksi barang satu dengan yang lain Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  2 Barang konsumen Barang modal
Titik di bawah kurva bersifat tak efisien Pada titik H, sumber daya sama sekali tidak dimanfaatkan atau dimanfaatkan secara tidak efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  3 Barang konsumen Barang modal
Titik F adalah titik yang diinginkan karena menghasilkan lebih banyak dari kedua jenis barang, namun tidak dimungkinkan oleh  jumlah  sumber daya yang tersedia dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  4 Barang konsumen Barang modal
Titik C adalah salah satu titik di mana kombinasi produksi dari kedua jenis barang memakai sumber daya secara penuh dan efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  5 Barang konsumen Barang modal
Pergerakan di sepanjang kurva menunjukkan konsep  biaya oportunitas Dari titik D ke C,  kenaikan produksi  barang modal menyebabkan  penurunan jumlah  barang konsumen Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  6 Barang konsumen Barang modal
BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI  7 Slope dari kurva ppf disebut juga  tingkat transformasi marjinal  ( mrt  –  marginal rate of transformation ) Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
HUKUM BIAYA OPORTUNITAS YANG MENINGKAT Slope negatif dari kurva ppf mewakili  hukum biaya oportunitas yang meningkat Ketika kita meningkatkan produksi dari satu jenis barang, produksi dari jenis barang yang lain akan menurun  secara progresif Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PERTUMBUHAN EKONOMI  1 Pertumbuhan ekonomi  adalah kenaikan output total dari perekonomian, yang disebabkan oleh: Penemuan sumber daya baru Penemuan cara baru yang memproduksi lebih banyak dengan tetap memakai sumber daya yang tersedia Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PERTUMBUHAN EKONOMI  2 Sumber utama  pertumbuhan ekonomi antara lain: Akumulasi modal Perkembangan teknologi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
Pertumbuhan ekonomi ditunjukkan dengan  pergeseran kurva ppf ke arah luar Pergeseran ke luar berarti kenaikan produksi satu jenis barang  tidak  menurunkan produksi jenis barang lainnya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan PERTUMBUHAN EKONOMI  3 Barang konsumen Barang modal
Dari titik D, perekonomian bisa memilih kombinasi output manapun di antara titik F dan G Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan PERTUMBUHAN EKONOMI  4 Barang konsumen Barang modal
SUMBER PERTUMBUHAN DAN DILEMA NEGARA MISKIN Dibandingkan dengan negara miskin, negara kaya lebih banyak mengalokasikan sumber daya untuk  barang modal Alokasi terhadap barang modal tersebut  memacu laju pertumbuhan ekonomi  negara kaya Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi negara kaya tersebut ikut memperbesar  jurang perbedaan ekonomi  antara negara kaya dan negara miskin Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SISTEM EKONOMI  1 Permasalahan ekonomi : dengan terbatasnya sumber daya, bagaimana caranya masyarakat  mengatasi dengan baik   tiga pertanyaan dasar ekonomi ? Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SISTEM EKONOMI  2 Sistem ekonomi  adalah cara-cara dasar yang disusun oleh masyarakat untuk mengatasi permasalahan ekonomi Jenis-jenis  sistem ekonomi: Perekonomian komando Perekonomian laissez-faire Sistem campuran Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SISTEM EKONOMI  3 Dalam  perekonomian komando , pemerintah pusat secara langsung atau tidak langsung menentukan target output, pendapatan, dan harga Dalam  perekonomian laissez-faire , perorangan dan perusahaan mengejar tujuan pribadi mereka tanpa adanya peraturan atau arahan terpusat Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE  1 Pasar  adalah lembaga di mana penjual dan pembeli berinteraksi dan melakukan pertukaran Lembaga sentral dalam perekonomian laissez-faire adalah  sistem pasar bebas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE  2 Kedaulatan konsumen  ( consumer sovereignty ) adalah ide bahwa  konsumenlah yang menentukan  apa yang diproduksi atau tidak diproduksi  dengan cara memilih  apa yang dibelinya atau tidak dibelinya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE  3 Usaha bebas  ( free enterprise ) berarti produsen harus  menentukan sendiri  cara perencanaan, pengorganisasian, dan pengkoordinasian dari produksi barangnya atau jasanya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE  4 Distribusi output   ditentukan secara  desentralisasi , yang artinya jumlah yang diterima oleh rumah tangga ditentukan oleh pendapatannya dan kekayaannya sendiri-sendiri Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE  5 Harga  adalah nilai jual produk per unit Harga mencerminkan kemauan masyarakat dalam membayar produk terkait Harga menjadi  mekanisme koordinasi dasar  dalam pasar bebas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SISTEM CAMPURAN, PASAR,  DAN PEMERINTAH  1 Karena  pasar tidaklah sempurna , pemerintah melibatkan diri dan sering kali memainkan peran penting dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
SISTEM CAMPURAN, PASAR,  DAN PEMERINTAH  2 Tujuan keterlibatan pemerintah dalam perekonomian antara lain: Meminimisasi ketidakefisienan pasar Menyediakan barang publik Mendistribusi ulang pendapatan Menstabilisasi perekonomian makro, yang artinya: Mendukung rendahnya tingkat pengangguran Mendukung rendahnya tingkat inflasi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
3 Permintaan, Penawaran,  dan Ekuilibrium Pasar Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
UNIT KEPUTUSAN DASAR: PERUSAHAAN  1 Perusahaan  ( firm ) adalah organisasi yang mengolah sumber daya (input) menjadi produk (output) Perusahaan adalah  unit produksi utama  dalam perekonomian pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
UNIT KEPUTUSAN DASAR: PERUSAHAAN  2 Wirausahawan  ( entrepreneur ) adalah  orang  yang mengorganisasikan, mengelola, dan menanggung risiko perusahaan, yang memakai ide atau produk yang baru dan menjadikannya bisnis yang sukses Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
UNIT KEPUTUSAN DASAR:  RUMAH TANGGA Rumah tangga  ( household ) adalah unit konsumen dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PASAR INPUT & PASAR OUTPUT Pasar output  ( pasar produk )   adalah pasar di mana barang dan jasa diperjualbelikan Pasar input  ( pasar faktor ) adalah pasar di mana sumber daya (tenaga kerja, modal, dan tanah) yang dipakai dalam produksi diperjualbelikan Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PASAR INPUT & PASAR OUTPUT: ALIRAN MELINGKAR  1 Aliran melingkar (cicular flow) dari aktivitas ekonomi  menunjukkan interaksi antara perusahaan dan rumah tangga dalam pasar input dan pasar output Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PASAR INPUT & PASAR OUTPUT: ALIRAN MELINGKAR  2 Barang dan jasa mengalir  searah jarum jam : Jasa tenaga kerja dari rumah tangga ke perusahaan Barang dan jasa dari perusahaan ke rumah tangga Pembayaran (biasanya berupa uang) mengalir  berlawanan arah jarum jam : Pembayaran jasa tenaga kerja dari perusahaan ke rumah Pembayaran barang dan jasa dari rumah tangga ke perusahaan Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PASAR INPUT Pasar input mencakup: Pasar tenaga kerja , di mana  pekerja  ditawarkan pada perusahaan yang memerlukannya dengan upah  Pasar modal , di mana  tabungan  ditawarkan pada perusahaan yang memerlukan dana membeli barang modal dengan bunga atau klaim laba masa depan  Pasar tanah , di mana  tanah atau properti riil lainnya  ditawarkan dengan sewa Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PERMINTAAN DALAM PASAR PRODUK/OUTPUT Permintaan rumah tangga atas  kuantitas  dari output atau permintaan ditentukan oleh: Harga   produk Pendapatan saat ini  dari rumah tangga Jumlah akumulasi kekayaan  rumah tangga Harga produk alternatif  yang tersedia Selera dan preferensi  rumah tangga Ekspektasi  masa depan rumah tangga terkait mengenai pendapatannya, kekayaannya dan harga produk Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
KUANTITAS YANG DIMINTA Kuantitas yang diminta  ( quantity demanded ) adalah  jumlah unit  produk yang dibeli rumah tangga dalam periode tertentu, jika rumah tangga mampu membeli semua kebutuhannya dengan harga pasar saat itu Kuantitas yang diminta dan  harga pasar  menjadi keterhubungan terpenting dalam pasar tunggal Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PERUBAHAN KUANTITAS DIMINTA VS PERUBAHAN PERMINTAAN Kuantitas yang diminta  per periode dipengaruhi oleh  perubahan harga Permintaan  ( demand ) dipengaruhi oleh: Perubahan pendapatan Kekayaan Harga produk lain Selera Ekspektasi Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
SKEDUL PERMINTAAN DAN  KURVA PERMINTAAN Skedul permintaan  adalah tabel yang mendaftarkan seberapa banyak produk tertentu yang akan dibeli oleh rumah tangga pada beberapa variasi harga Kurva permintaan  adalah grafik yang menggambarkan seberapa banyak produk tertentu yang akan dibeli oleh rumah tangga pada beberapa variasi harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
HUKUM PERMINTAAN Hukum permintaan  menyatakan  hubungan negatif atau terbalik  antara harga dan kuantitas yang diminta Ketika harga naik maka kuantitas yang diminta menurun, ketika harga turun maka kuantitas yang diminta meningkat Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENENTU LAIN ATAS PERMINTAAN RUMAH TANGGA  1 Pendapatan  ( income ) adalah  ukuran aliran  yang berupa jumlah penerimaan rumah tangga pada periode tertentu yang meliputi: Upah  Gaji  Laba Pembayaran bunga Sewa Bentuk penghasilan lainnya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENENTU LAIN ATAS PERMINTAAN RUMAH TANGGA  2 Kekayaan  ( wealth,  disebut juga nilai bersih -  net worth ) adalah  ukuran simpanan  yang berupa total nilai yang dimiliki rumah tangga dikurangi nilai utangnya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENENTU LAIN ATAS PERMINTAAN RUMAH TANGGA  3 Barang substitusi  adalah barang-barang yang bisa saling menggantikan Naiknya harga barang tertentu akan meningkatkan permintaan untuk barang substitusinya Barang substitusi sempurna  adalah barang-barang yang identik Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENENTU LAIN ATAS PERMINTAAN RUMAH TANGGA  3 Barang komplementer  adalah barang-barang yang “sejalan” Naiknya harga barang tertentu akan meningkatkan permintaan untuk barang komplementernya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
Perubahan  kuantitas yang diminta  menyebabkan pergeseran sepanjang kurva Perubahan  permintaan  menyebabkan bergesernya keseluruhan kurva Penerbit Erlangga PERGESERAN SEPANJANG KURVA VS PERGESERAN KURVA Kuantitas Harga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
DARI PERMINTAAN RUMAH TANGGA KE PERMINTAAN PASAR Permintaan ( demand ) atas barang dan jasa bisa didefinisikan dalam  rumah tangga tersendiri  atau dalam sekelompok rumah tangga yang membentuk  pasar Permintaan pasar  ( market demand ) adalah jumlah semua kuantitas barang atau jasa yang diminta per periode oleh semua rumah tangga yang membelinya di pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENAWARAN DALAM PASAR PRODUK/OUTPUT  1 Keputusan penawaran bergantung pada potensi  laba Laba  ( profit ) adalah selisih antara penerimaan dan biaya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENAWARAN DALAM PASAR PRODUK/OUTPUT  2 Kuantitas yang ditawarkan  ( quantity supllied ) adalah jumlah poduk tertentu yang akan tersedia atau mampu ditawarkan perusahaan untuk dijual dalam harga dan periode tertentu Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENAWARAN DALAM PASAR PRODUK/OUTPUT  3 Skedul penawaran  adalah tabel yang mendaftarkan seberapa banyaknya produk akan dijual oleh perusahaan dalam beberapa variasi harga Kurva penawaran  adalah kurva yang menunjukkan seberapa banyaknya produk akan dijual oleh perusahaan dalam beberapa variasi harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENAWARAN DALAM PASAR PRODUK/OUTPUT  4 Hukum penawaran  menyatakan  hubungan positif  antara harga dan kuantitas dari produk yang ditawarkan Ketika harga naik maka kuantitas yang ditawarkan meningkat, ketika harga turun maka kuantitas yang ditawarkan menurun Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENENTU LAIN ATAS PENAWARAN Penentu-penentu lain atas penawaran meliputi: Harga produk Biaya produksi , yang bergantung pada: Harga input  yang diperlukan dalam produksi Teknologi  yang dipakai dalam produksi Harga produk-produk lain yang terkait Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
Perubahan  kuantitas yang ditawarkan  menyebabkan pergeseran sepanjang kurva Perubahan  penawaran  menyebabkan bergesernya keseluruhan kurva Penerbit Erlangga PERGESERAN SEPANJANG KURVA VS PERGESERAN KURVA Kuantitas Harga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
DARI PENAWARAN TERSENDIRI KE PENAWARAN PASAR Penawaran ( supply ) atas barang dan jasa bisa didefinisikan dalam  perusahaan tersendiri  atau dalam sekelompok perusahaan yang membentuk  pasar  atau  industri Penawaran pasar  ( market supply ) adalah jumlah semua kuantitas barang atau jasa yang ditawarkan per periode oleh semua perusahaan yang menjualnya di pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
EKUILIBRIUM PASAR Ekuilibrium pasar  adalah kondisi di mana kuantitas yang ditawarkan  sama dengan  kuantitas yang diminta Pada ekuilibrium,  tidak ada kecenderungan  untuk berubahnya harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PERMINTAAN BERLEBIH Permintaan berlebih  ( excess demand ) atau  kekurangan  ( shortage ) adalah kondisi di mana kuantitas yang diminta melebihi yang ditawarkan pada harga saat itu Harga akan cenderung naik hingga tercapainya ekuilibrium baru Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
PENAWARAN BERLEBIH Penawaran berlebih  ( excess supply ) atau  surplus  adalah kondisi di mana kuantitas yang ditawarkan melebihi yang diminta pada harga saat itu Harga akan cenderung turun hingga tercapainya ekuilibrium baru Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
4 Penerapan dari  Permintaan dan Penawaran Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
SISTEM HARGA Sistem pasar menjalankan dua fungsi penting yang saling berkaitan erat, yaitu: Alokasi sumber daya  ( resource allocation ), yaitu pengalokasian sumber daya bagi produsen dan bauran output akhirnya Penjatahan harga  ( price rationing ), yaitu pengalokasian barang dan jasa untuk konsumen ketika kuantitas permintaan jauh melebihi kuantitas penawaran Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
PENJATAHAN HARGA Penurunan penawaran menyebabkan kekurangan ( shortage ) pada  harga saat itu Penawaran yang berkurang itu dijatahkan kepada pihak yang mau dan mampu untuk membayar  harga yang lebih tinggi Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
PEMBATASAN PASAR Pagu harga  ( price ceiling ) adalah harga barang maksimal yang boleh ditetapkan penjual, biasanya ditentukan oleh pemerintah Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
MEKANISME PENJATAHAN ALTERNATIF Antrian  ( queuing ) merupakan mekanisme penjatahan non harga Pelanggan pilihan  ( favored customer ) adalah orang yang menerima perlakuan khusus dari penyalur selama situasi permintaan berlebih Kupon penjatahan  ( ration coupon ) memungkinkan pembelian produk dalam jumlah tertentu per bulan Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
PASAR GELAP Usaha pembatasan harga sering kali menyebabkan evolusi pasar gelap Pasar gelap  ( black market ) menjalankan perdagangan ilegal dengan harga yang ditentukan oleh pasar itu sendiri Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
KELEMAHAN DARI SISTEM PENJATAHAN Permintaan berlebih tetap terjadi dan tidak bisa dihilangkan Tak peduli seberapa baiknya niat dan usaha pihak swasta dan pemerintah, sangatlah sulit untuk: Mencegah beroperasinya sistem harga Menghentikan kemauan membayar lebih Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
HARGA DASAR Harga dasar  ( price floor ) adalah harga minimum untuk perdagangan yang diizinkan Contoh paling umum dari harga dasar adalah  upah minimum  ( minimum wage ) Akibat dari penetapan harga dasar adalah  penawaran berlebih Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
SURPLUS KONSUMEN DAN SURPLUS PRODUSEN Surplus konsumen  adalah selisih antara jumlah maksimum yang orang bersedia bayarkan untuk dan harga pasar dari produk pada saat tertentu Surplus produsen  adalah selisih antara harga pasar dan biaya produksi total perusahaan pada saat tertentu Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
SURPLUS KONSUMEN DAN SURPLUS PRODUSEN MAKSIMAL Surplus konsumen dan surplus produsen total bernilai maksimal pada  titik ekuilibrium  di mana kurva permintaan dan kurva penawaran saling berpotongan Konsumen menerima keuntungan dari harga yang dibayarnya, sementara produsen menerima kompensasi dari biaya Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
SURPLUS KONSUMEN DAN SURPLUS PRODUSEN MAKSIMAL Kerugian bobot mati  ( deadweight loss ) adalah kerugian bersih bagi surplus produsen dan surplus konsumen akibat: Produksi-kurang ( underproduction ) Produksi-berlebih ( overproduction ) Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
5 Elastisitas Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
ELASTISITAS Elastisitas  adalah konsep umum dalam mengukur respons/tanggapan dari variabel tertentu ketika variabel lain berubah Jika variabel A berubah  karena  variabel B berubah, elastisitas A terhadap B sama dengan perubahan persentase A  dibagi  perubahan persentase B Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
KURVA PERMINTAAN  DAN ELASTISITAS Ketanggapan ( responsiveness ) tidak cukup diukur dengan slope kurva permintaan karena nilainya tergantung  unit ukuran  yang digunakan Maka, elastisitas diukur dengan persentase Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
ELASTISITAS HARGA  TERHADAP PERMINTAAN Elastisitas harga permintaan  adalah rasio perubahan persentase dalam  kuantitas yang diminta  terhadap perubahan persentase dalam  harga Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
TIPE-TIPE ELASTISITAS 1 Permintaan  inelastis sempurna  memiliki kuantitas yang diminta yang sama sekali tidak tanggap terhadap perubahan harganya, nilai elastisitasnya 0 (nol) Permintaan  inelastis  memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang terkadang tanggap terhadap perubahan harganya dalam kisaran nilai yang tidak besar, nilai elastisitasnya antara 0 (nol) dan -1 Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
TIPE-TIPE ELASTISITAS 2 Permintaan ber elastisitas   uniter  memiliki hubungan perubahan persentase kuantitas yang diminta yang sama dengan perubahan persentase harganya, nilai elastisitasnya -1 Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
TIPE-TIPE ELASTISITAS 3 Permintaan  elastis  memiliki perubahan persentase kuantitas yang diminta yang lebih besar nilai absolutnya dibandingkan dengan persentase perubahan harganya, nilainya elastisitasnya kurang dari -1 Permintaan  elastis sempurna  memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang langsung jatuh ke nol hanya akibat peningkatan kecil dari harganya Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
MENGHITUNG ELASTISITAS 1 Pada permintaan elastis: Peningkatan harga  akan menurunkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan menurun Pada permintaan inelastis,  peningkatan harga  akan meningkatkan penerimaan total Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
MENGHITUNG ELASTISITAS 2 Pada permintaan elastis: Penurunan harga  akan meningkatkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan meningkat Pada permintaan inelastis: Penurunan harga  akan meningkatkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih kecil daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan menurun Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
PENENTU  ELASTISITAS PERMINTAAN Elastisitas permintaan bergantung pada: Ketersediaan barang substitusi Pentingnya barang dalam anggaran perseorangan Kerangka waktu yang digunakan Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
ELASTISITAS LAINNYA  1 Elastisitas pendapatan dari permintaan  mengukur tanggapan kuantitas yang diminta terhadap perubahan pendapatan Elastisitas harga-silang dari permintaan  mengukur tanggapan kuantitas yang diminta dari barang tertentu terhadap perubahan harga dari barang lain Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
ELASTISITAS LAINNYA  2 Elastisitas penawaran  mengukur tanggapan kuantitas yang ditawarkan dari barang tertentu terhadap perubahan harga barang itu sendiri Elastisitas penawaran tenaga kerja  mengukur tanggapan kuantitas yang ditawarkan dari tenaga kerja terhadap perubahan harga tenaga kerja itu sendiri Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
BAGIAN 2 DASAR-DASAR MIKROEKONOMI: KONSUMEN DAN PERUSAHAAN Perilaku Rumah-Tangga dan Pilihan Konsumen Proses Produksi: Perilaku dari Perusahaan yang Memaksimalkan Laba Biaya Jangka-Pendek dan Pilihan Output Biaya Jangka-Panjang dan Pilihan Output Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna Penerbit Erlangga CASE   FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8   jilid 1
6 Perilaku Rumah-Tangga  dan Pilihan Konsumen Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
ASUMSI-ASUMSI Dalam asumsi  pasar kompetitif sempurna : Harga ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan Tidak ada satu rumah tangga atau perusahaan pun yang memiliki kendali terhadap penawaran dan permintaan Rumah tangga diasumsikan memiliki  pengetahuan sempurna  mengenai kualitas dan harga dari semua yang tersedia di pasar Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PERILAKU RUMAH TANGGA  DI PASAR OUTPUT  1 Setiap rumah tangga harus membuat  tiga keputusan dasar , yaitu: Berapa banyak tiap produk/output yang dimintanya Berapa banyak tenaga kerja yang ditawarkannya Berapa banyak yang dibelanjakannya saat ini dan yang ditabungnya untuk masa depan Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PERILAKU RUMAH TANGGA  DI PASAR OUTPUT  2 Batasan  atau  kendala anggaran  rumah tangga ditentukan oleh: Pendapatan Kekayaan Harga  Batasan anggaran memisahkan antara kombinasi barang dan jasa yang  terjangkau  dan yang  tidak terjangkau Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PERILAKU RUMAH TANGGA  DI PASAR OUTPUT  3 Masalah pilihan rumah tangga  adalah masalah  alokasi  pendapatan terhadap sejumlah barang & jasa Perubahan harga dari  salah satu  barang atau jasa bisa mengubah  keseluruhan  alokasi Permintaan atas barang-barang tertentu bisa  meningkat , sementara permintaan atas barang-barang lainnya bisa  menurun Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PERILAKU RUMAH TANGGA  DI PASAR OUTPUT  4 Selama rumah tangga memiliki  pendapatan yang terbatas , biaya riil setiap barang atau jasa tunggal sama dengan nilai barang atau jasa  lain  yang bisa dibeli dengan harga dan jumlah yang  sama Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PERILAKU RUMAH TANGGA  DI PASAR OUTPUT  5 Dalam  batasan harga, pendapatan,  dan  kekayaan ,  keputusan rumah tangga  akhirnya bergantung pada: Preferensi  (suka, tidak suka) Selera  Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
BASIS PILIHAN: UTILITAS 1 Lebih disukainya satu item daripada item lain bergantung pada banyaknya  utilitas  atau  kepuasan  yang dihasilkannya dibandingkan dengan item alternatifnya Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
BASIS PILIHAN: UTILITAS 2 Hukum utilitas marjinal yang semakin menurun  menyatakan bahwa  semakin banyak jumlah  yang dikonsumsi dalam periode waktu tertentu maka  semakin   sedikit kepuasan atau utilitas  yang didapatkan dari setiap unit  tambahan  (marjinal) Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
EFEK PENDAPATAN DAN EFEK SUBSTITUSI Slope negatif  dari kurva permintaan disebabkan oleh: Utilitas marjinal  semua barang yang menurun Sebagian besar barang normal yang akan  semakin dikonsumsi jika harganya menurun , baik karena  efek pendapatan  maupun  efek substitusi Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
SURPLUS KONSUMEN Bila barang dijual dengan harga tetap, rumah tangga harus “mengungkapkan” kelayakan dari barang tersebut untuk dijual dengan harga tersebut Banyak orang yang membeli di pasar tertentu mendapatkan nilai barang yang  melebihi  harga barang tersebut Orang-orang tersebut disebut mengalami  surplus konsumen Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PILIHAN RUMAH TANGGA  DALAM PASAR INPUT  1 Dalam  pasar tenaga kerja , ada trade-off antara nilai barang atau jasa (yang bisa dibeli di pasar itu atau diproduksi di rumah tangga) dan nilai dari waktu luang Biaya oportunitas  pekerjaan yang dibayar adalah waktu luang dan pekerjaan yang tidak dibayar Tingkat upah  adalah  harga  (biaya oportunitas) dari manfaat pekerjaan yang tidak dibayar atau waktu luang Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PILIHAN RUMAH TANGGA  DALAM PASAR INPUT  2 Perubahan tingkat upah memiliki efek pendapatan dan efek substitusi yang berlawanan arah Peningkatan tingkat upah berarti: Waktu luang lebih mahal (efek substitusi) Lebih banyak pendapatan dalam waktu kerja yang sama, maka kemungkinan waktu luang meningkat (efek pendapatan) Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PILIHAN RUMAH TANGGA  DALAM PASAR INPUT  3 Rumah tangga juga bisa mengalokasikan pendapatan ke tabungan atau mengambil pinjaman: Keputusan  menabung  berarti memakai pendapatan masa kini untuk pengeluaran masa depan Keputusan  meminjam  berarti memakai pendapatan masa depan untuk pengeluaran masa kini Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
PILIHAN RUMAH TANGGA  DALAM PASAR INPUT  4 Kenaikan tingkat bunga terhadap tabungan akan: Berefek positif  jika efek substitusi mendominasi efek pendapatan Berefek negatif  jika efek pendapatan mendominasi efek substitusi Sebagian besar bukti empiris menunjukkan dominasi efek substitusi Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
7 Proses Produksi:  Perilaku dari Perusahaan yang Memaksimalkan Laba Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
PRODUKSI Walaupun saling berbeda dalam ukuran dan organisasi internalnya, semua perusahaan memerlukan input dan mengolahnya menjadi output dengan proses  produksi Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
ASUMSI-ASUMSI Tak ada satu perusahaan pun yang bisa mengontrol harga dalam  persaingan sempurna,  sesuai dengan asumsi: Industri kompetitif sempurna  terdiri dari banyak perusahaan yang masing-masing ukurannya relatif kecil dibandingkan ukuran industri keseluruhan Setiap perusahaan dalam industri kompetitif sempurna memproduksi  produk homogen Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
ELASTISITAS SEMPURNA DARI KURVA PERMINTAAN KOMPETITIF Perusahaan kompetitif   menghadapi kurva permintaan yang  elastis sempurna : Perusahaan yang menaikkan harga melampaui harga pasar tidak akan bisa menjual produknya sama sekali Sebaliknya, tidak ada dorongan bagi perusahaan untuk menurunkan harga karena perusahaan bisa menjual semua produknya sesuai harga pasar Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  1 Di semua industri, perusahaan yang memaksimalkan keuntungan harus menentukan tiga pilihan: Berapa banyak output yang ditawarkannya Bagaimana cara memproduksi output tersebut Berapa banyak input yang dimintanya Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  2 Laba sama dengan  penerimaan total dikurangi biaya total Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  3 Biaya total  ( biaya ekonomis ) meliputi: Biaya yang benar-benar dikeluarkan Biaya oportunitas setiap faktor produksi (mencakup juga  tingkat penghasilan normal dari modal ) Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  4 Tingkat penghasilan normal  ( normal rate of return )  dari   modal  termasuk ke dalam biaya total karena pengikatan sumber daya ke dalam simpanan modal perusahaan akan menghasilkan biaya oportunitas Investor mengharapkan tingkat penghasilan normal ketika mendanai bisnis atau membeli saham Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  5 Tingkat  laba  ( profit )  positif  adalah  tingkat penghasilan modal di atas normal Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  6 Jangka pendek  ( short run ) memiliki asumsi: Skala tetap atau faktor produksi tetap Tak ada perusahaan yang masuk atau keluar dari industri Jangka panjang  ( long run ) memiliki asumsi: Perusahaan bisa memilih skala operasi apapun Bisa ada perusahaan yang masuk ke atau keluar dari industri Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PERILAKU PERUSAHAAN YANG MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN  7 Dalam mengambil keputusan,  perusahaan perlu mengetahui tiga hal , yaitu: Harga pasar output Teknik produksi yang tersedia Harga input Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PROSES PRODUKSI 1 Fungsi produksi  atau  fungsi produk total   adalah  hubungan antara input dan output  ( teknologi produksi )  yang dinyatakan dengan angka atau secara matematis Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PROSES PRODUKSI 2 Produk marjinal  dari  input variabel  adalah output tambahan yang akan diproduksi oleh input tambahan tersebut jika semua input lain konstan Hukum hasil yang menurun  menyatakan bahwa  penambahan unit input variabel  terhadap input tetap  melampaui titik tertentu  akan  menurunkan produk marjinal  dari input variabel tersebut Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PROSES PRODUKSI 3 Produk rata-rata  adalah jumlah rata-rata produk dari tiap unit faktor produksi variabel, dengan interaksi sebagai berikut: Produk marjinal di atas produk rata-rata, maka produk rata-rata akan menurun Produk marjinal di bawah produk rata-rata, maka produk rata-rata akan meningkat Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PROSES PRODUKSI 4 Modal dan tenaga kerja merupakan input komplemeter dan juga input substitusi Modal bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja, tapi juga bisa mensubstitusikan tenaga kerja Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
PILIHAN TEKNOLOGI Salah satu keputusan penting yang harus diambil oleh semua perusahaan adalah  teknologi mana yang akan dipergunakan Perusahaan yang memaksimalkan laba akan memilih  kombinasi input yang meminimalkan biaya dan memaksimalkan laba Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
8 Biaya Jangka-Pendek  dan Pilihan Output Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
PENGHITUNGAN BIAYA PRODUKSI Penghitungan biaya produksi memerlukan pengetahuan mengenai: Kuantitas dan kombinasi input yang diperlukan dalam produksi Biaya masing-masing input Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 1 Biaya tetap  ( fixed cost ) adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh berproduksi atau tidak berproduksinya perusahaan,  dan dalam jangka pendek perusahaan tidak bisa menghindari biaya ini walaupun produksinya nol Biaya variabel   bergantung pada tingkat output Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 2 Biaya total  adalah biaya tetap plus biaya variabel (TC = TFC + TVC) Biaya tetap rata-rata  (AFC -  average fixed cost ) adalah biaya tetap total dibagi kuantitas output,  di mana setiap kenaikan kuantitas output akan menurunkan AFC secara drastis karena nilai biaya tetap total yang sama dibagi dengan nilai kuantitas output yang semakin besar  (fenomena ini disebut  spreading overhead ) Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 3 Ada banyak kombinasi input untuk setiap tingkat output Biaya variabel total  (TVC –  total variable cost ) adalah jumlah semua variasi biaya menurut output dalam jangka pendek Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 4 Biaya marjinal  (MC) adalah kenaikan biaya total yang disebabkan oleh produksi satu unit output tambahan Dari produksi 1000 unit, biaya peningkatan output menjadi 1001 unit adalah MC MC mengukur biaya input tambahan untuk setiap unit output tambahan MC mencerminkan perubahan biaya variabel Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 5 Pada  kurva biaya variabel total : Slopenya positif , karena biaya total selalu meningkat mengikuti kuantitas output Nilai slopenya adalah nilai biaya marjinal Peningkatan biaya marjinal akhirnya menyebabkan kenaikan biaya total dengan laju yang tinggi Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 6 Biaya variabel rata-rata  (AVC -  average variable cost ) adalah biaya variabel total dibagi kuantitas output, dengan hubungan: AVC  meningkat  ketika biaya marjinal di atas biaya variabel rata-rata AVC  menurun  ketika biaya marjinal di bawah biaya variabel rata-rata Titik minimum AVC  berpotongan  dengan biaya marjinal Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
BIAYA DALAM JANGKA PENDEK 7 Biaya total rata-rata  (ATC -  average total cost ) adalah biaya total dibagi kuantitas output ATC setara dengan jumlah biaya tetap rata-rata dan biaya variabel rata-rata, dengan hubungan: ATC  menurun  ke biaya marjinal yang berada di bawahnya ATC  meningkat  ke biaya marjinal yang berada di atasnya Titik minimum ATC adalah  perpotongan  antara biaya marjinal dan biaya total Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN, BIAYA, DAN LABA  1 Perusahaan kompetitif sempurna menghadapi  kurva permintaan yang berbentuk  garis horizontal  (artinya  permintaan elastis sempurna ) Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN, BIAYA, DAN LABA  2 Penerimaan total  (TR -  total revenue ) adalah harga dikali kuantitas output Penerimaan marjinal  (MR -  marginal revenue ) adalah penerimaan tambahan dari satu unit tambahan Penerimaan marjinal dari perusahaan kompetitif sempurna akan sama dengan harga pasar produk saat ini Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN, BIAYA, DAN LABA  3 Dalam industri kompetitif sempurna, perusahaan yang memaksimalkan laba akan berproduksi hingga titik di mana harga outputnya tepat sama dengan biaya marjinal jangka pendek (P = MC) Karena P = MR dalam persaingan sempurna, maka rumus pemaksimalan laba menjadi MR = MC Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
9 Biaya Jangka-Panjang  dan Pilihan Output Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
KONDISI PERUSAHAAN Pada semua perusahaan, salah satu kondisi berikut ini berlaku: Perusahaan mendapatkan laba positif Perusahaan mengalami kerugian Perusahaan mencapai titik impas (tingkat penghasilan normal, berarti laba nol) Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  1 Laba positif jangka pendek: Mendorong perusahaan untuk terus meraih laba dan untuk berekspansi dalam jangka panjang Mendorong perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  2 Kerugian jangka pendek: Menyudutkan posisi perusahaan dalam industri, karena masih harus membayar biaya tetap meskipun menghentikan produksi Dalam jangka panjang, mendorong perusahaan untuk keluar dari industri Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  3 Keputusan penutupan usaha bergantung pada apakah penerimaan bisa menutup biaya variabel Jika penerimaan bisa diusahakan melampaui biaya variabel,  laba operasi  ( operating profit ) bisa menutup biaya tetap dan mengurangi kerugian Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  4 Ketika harga berada di bawah titik minimum (juga merupakan perpotongan dengan biaya marjinal, dan disebut juga titik penutupan usaha -  shut-down point ) dari kurva biaya variabel rata-rata: Penerimaan total lebih kecil dari biaya variabel total Laba operasi menjadi negatif Perusahaan akan tutup Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  5 Di semua harga di atas titik penutupan usaha, kurva MC memperlihatkan tingkat output yang memaksimalkan laba Di semua harga di bawah titik penutupan usaha, output jangka pendek optimal sama dengan nol Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  6 Kurva penawaran jangka pendek  ( short-run supply curve ) adalah bagian dari kurva biaya marjinal yang berada di atas kurva biaya variabel rata-rata Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG  7 Bergesernya kurva penawaran industri disebabkan oleh: Dalam kondisi jangka pendek, perubahan biaya marjinal secara industri Dalam kondisi jangka panjang, perusahaan yang masuk ke atau keluar dari industri  Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
BIAYA JANGKA PANJANG: SKALA EKONOMIS DAN DISEKONOMIS  1 Peningkatan skala produksi yang: Menurunkan biaya rata-rata, disebut  skala penghasilan meningkat  ( increasing returns to scale ) atau  skala ekonomis  ( economics of scale ) Tidak mengubah biaya rata-rata, disebut  skala penghasilan konstan Meningkatkan biaya rata-rata, disebut  skala penghasilan menurun  ( decreasing returns to scale ) atau  skala disekonomis  ( diseconomics of scale ) Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
BIAYA JANGKA PANJANG: SKALA EKONOMIS DAN DISEKONOMIS  2 Kurva biaya rata-rata jangka panjang  (LRAC -  long-run average cost curve ) menunjukkan biaya sesuai variasi skala dalam jangka panjang Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
PENYESUAIAN JANGKA PANJANG TERHADAP JANGKA PENDEK  1 Laba jangka pendek dalam industri  menyebabkan: Masuknya perusahaan baru Ekspansi perusahaan Bergesernya kurva penawaran industri ke kanan, sehingga harga turun dan akhirnya menghapus laba tersebut Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
PENYESUAIAN JANGKA PANJANG TERHADAP JANGKA PENDEK  2 Kerugian jangka pendek dalam industri  menyebabkan: Keluarnya perusahaan Penurunan skala perusahaan Bergesernya kurva penawaran industri ke kiri, sehingga harga naik dan akhirnya menghapus kerugian tersebut Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
PENYESUAIAN JANGKA PANJANG TERHADAP JANGKA PENDEK  3 Ekuilibrium persaingan jangka panjang  ( long run competitive equilibrium ) tercapai ketika: P = SRMC = SRAC = LRAC Laba sama dengan nol Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
10 Permintaan Input:  Pasar Tenaga Kerja dan Tanah Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
PASAR INPUT:  KONSEP DASAR  1 Permintaan input adalah  permintaan turunan , karena bergantung pada permintaan output Produktivitas  adalah ukuran jumlah output produksi per unit input Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PASAR INPUT:  KONSEP DASAR  2 MRP adalah produk marjinal input dikali harga output Produk penerimaan marjinal  (MRP) dari input variabel adalah penerimaan tambahan yang dihasilkan perusahaan melalui satu unit input tambahan,  ceteris paribus Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PASAR TENAGA KERJA 1 Peningkatan upah mungkin menyebabkan perusahaan mensubstitusikan tenaga kerja terhadap modal, yang mengakibatkan penurunan kuantitas yang diminta dari tenaga kerja Inilah  efek substitusi faktor  dari   peningkatan upah Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PASAR TENAGA KERJA 2 Peningkatan upah meningkatkan biaya, yang mengakibatkan penurunan output dan permintaan dari semua input (salah satunya tenaga kerja) Inilah  efek output  dari   peningkatan upah Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PASAR TANAH 1 Penawaran tanah sangat tetap, maka harga tanah bersifat  demand determined Artinya, harga tanah ditentukan sepenuhnya oleh jumlah uang yang siap dibayarkan oleh rumah tangga dan perusahaan Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PASAR TANAH 2 Hasil dari semua faktor produksi dalam penawaran tetap disebut  sewa murni Pembayaran dan pemakaian tanah bergantung pada penerimaan dari produk yang dihasilkan perusahaan di atas tanah tersebut Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
PEMAKSIMALAN LABA DALAM PASAR INPUT Semua perusahaan terdorong untuk memakai input variabel, selama penerimaan yang dihasilkan input tersebut menutup biayanya (kondisi ini disebut  kondisi pemaksimalan laba ) Kondisi ini berlaku untuk semua faktor di semua tingkat output Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
ALOKASI SUMBER DAYA DAN BAURAN OUTPUT KOMPETITIF Harga faktor tertentu pada ekuilibrium di pasar kompetitif sama dengan produk penerimaan marjinalnya, maka distribusi pendapatan rumah tangga akan memiliki ketergantungan terhadap produktivitas relatif dari faktor-faktor Inilah  teori produktivitas marjinal Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
11 Permintaan Input:  Pasar Modal dan  Keputusan Investasi Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  1 Dalam sistem pasar kapitalis, keputusan penanaman modal bagi usaha tertentu diambil oleh perseorangan dengan menanggung risiko atas tabungan untuk mencari keuntungan pribadi Transaksi ini terjadi melalui seperangkat lembaga yang disebut  pasar modal  ( capital market ) Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  2 Barang modal  ( capital good ) adalah produksi dari sistem ekonomi yang dipakai sebagai input dari produksi barang dan jasa di masa depan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  3 Modal fisik  atau  berwujud  ( tangible ) meliputi: Bangunan non perumahan Peralatan tahan lama Struktur perumahan Persediaan Modal tak berwujud  ( nonmaterial  atau  intangible ) meliputi: Sumber daya manusia ( human capital ) Goodwill Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  4 Modal sosial  atau  infrastruktur  adalah modal yang berperan sebagai layanan kepada masyarakat Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  5 Dimensi  terpenting dari modal adalah ketahanannya melalui waktu Karenanya, nilai modal sama dengan nilai jasa yang dihasilkannya sepanjang waktu tertentu Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  6 Ukuran persediaan modal  ( capital stock ) umum meliputi: Nilai pasar dari pabrik Peralatan Persediaan Aset tak berwujud di masa kini Tapi, penting adanya untuk menelaah modal berdasarkan persediaan aktualnya alih-alih nilai moneternya saja Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  7 Dalam ilmu ekonomi,  investasi  berarti penciptaan modal baru alih-alih pembelian saham atau obligasi Investasi berperan sebagai aliran yang meningkatkan persediaan modal Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
MODAL, INVESTASI,  DAN DEPRESIASI  8 Depresiasi  adalah penurunan nilai ekonomis dari aset sepanjang berjalannya waktu Aset modal bisa terdepresiasi karena: Usang secara fisik Ketinggalan zaman Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PASAR MODAL  1 Pendapatan modal  ( capital income ) adalah pendapatan dari tabungan yang ditanamkan melalui  pasar modal keuangan  ( financial capital market ) Bentuk penting dari pendapatan modal: Bunga ( interest ), imbalan atas penundaan konsumsi rumah tangga Laba, imbalan atas inovasi dan risiko wirausahawan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PASAR MODAL  2 Dalam masyarakat industri modern, keputusan  investasi  (produksi modal) diambil oleh perusahaan Rumah tangga memutuskan jumlah pendapatan yang dijadikan  tabungan , yang dalam jangka panjang membatasi jumlah investasi oleh perusahaan Pasar modal  mengarahkan tabungan menjadi proyek investasi menguntungkan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PERMINTAAN MODAL BARU DAN KEPUTUSAN INVESTASI  1 Sebelum berinvestasi, investor mengevaluasi  ekspektasi aliran jasa produktif masa depan  dari proyek investasi terkait Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PERMINTAAN MODAL BARU DAN KEPUTUSAN INVESTASI  2 Bunga bagi peminjam menghadirkan  biaya oportunitas  bagi setiap proyek investasi Biaya oportunitas ini dipertimbangkan terhadap ekspektasi aliran penghasilan dari proyek terkait Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PERMINTAAN MODAL BARU DAN KEPUTUSAN INVESTASI  3 Kurva permintaan investasi  menunjukkan permintaan modal sebagai fungsi tingkat bunga Proyek yang didanai harus memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi daripada tingkat bunga pasar Tingkat bunga yang rendah seharusnya mendorong investasi Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
PERMINTAAN MODAL BARU DAN KEPUTUSAN INVESTASI  4 Perusahaan kompetitif sempurna   yang   memaksimalkan laba  akan berinvestasi dalam modal baru sampai ekspektasi tingkat pengembalian sama dengan tingkat bunga Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
ANALISIS EKUILIBRIUM UMUM 1 Perusahaan dan rumah tangga menentukan pilihan di pasar input dan pasar output secara serentak, misalnya: Harga input menentukan biaya output dan mempengaruhi keputusan penawaran output Upah tenaga kerja mempengaruhi kepututsan penawaran tenaga kerja, pendapatan, dan jumlah output yang bisa dan memang dibeli oleh rumah tangga Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
ANALISIS EKUILIBRIUM UMUM 2 Ekuilibrium umum  adalah kondisi ekuilibrium bagi seluruh pasar perekonomian secara serentak Kejadian yang mengganggu ekuilibrium di satu pasar mungkin menggangu ekuilibrium di pasar yang lain Ekuilibrium parsial  bisa menyesatkan, karena hanya melibatkan penyesuaian di satu pasar secara terisolasi Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
EFISIENSI ALOKATIF DAN EKUILIBRIUM KOMPETITIF  1 Perekonomian efisien  adalah perekonomian yang memproduksi barang dan jasa yang diinginkan oleh masyarakat dengan biaya serendah mungkin Perubahan efisien  menguntungkan satu pihak tanpa merugikan pihak yang lain Sistem efisien  ( Pareto optimal ) tidak memungkinkan perubahan efisien Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
EFISIENSI ALOKATIF DAN EKUILIBRIUM KOMPETITIF  2 Perubahan efisien secara potensial  adalah perubahan yang menguntungkan satu pihak sementara merugikan pihak yang lain, tapi terbukti bahwa keuntungannya melebihi kerugiannya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
EFISIENSI ALOKATIF DAN EKUILIBRIUM KOMPETITIF  3 Asumsi persaingan sempurna menghasilkan alokasi sumber daya yang efisien (optimal Pareto), yang dibuktikan dengan: Alokasi sumber daya efisien antar perusahaan Distribusi produk efisien antar rumah tangga Produksi yang sesuai keinginan masyarakat Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
EFISIENSI ALOKATIF DAN EKUILIBRIUM KOMPETITIF  4 Kesimpulan bahwa alokasi sumber daya antar perusahaan bersifat efisien diambil dari asumsi: Pasar faktor produksi bersifat kompetitif dan terbuka Semua perusahaan membayar harga input yang sama Semua perusahaan memaksimalkan laba Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
EFISIENSI ALOKATIF DAN EKUILIBRIUM KOMPETITIF  5 Kesimpulan bahwa distribusi produk akhir antar rumah tangga bersifat efisien diambil dari asumsi: Setiap orang memiliki selera dan preferensi berbeda, serta membeli barang yang berbeda dalam kombinasi yang berbeda pula Setiap orang berbelanja di pasar yang sama, sehingga tidak ada redistribusi output yang menguntungkan orang-orang tertentu Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
SUMBER KEGAGALAN PASAR 1 Industri kompetitif tak sempurna  memiliki satu perusahaan yang mengontrol harga dan persaingan, di mana output lebih sedikit dan harga lebih tinggi daripada di persaingan terbuka Bentuk  persaingan tak sempurna  antara lain: Monopoli Persaingan monopolistis Oligopoli Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
SUMBER KEGAGALAN PASAR 2 Barang publik  atau  barang sosial  memiliki manfaat kolektif bagi masyarakat, sehingga: Semua orang bisa menikmatinya Perusahaan swasta tidak merasakan keuntungan darinya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
SUMBER KEGAGALAN PASAR 3 Eksternalitas  adalah biaya atau manfaat ysng dikenakan terhadap perseorangan atau kelompok yang berada di luar (eksternal dari) transaksi yang terjadi Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
SUMBER KEGAGALAN PASAR 4 Informasi tak sempurna  adalah kebalikan dari asumsi informasi sempurna yang mendasari efisiensi pasar, di mana: Pembeli memiliki informasi kualitas dan harga produk Perusahaan memiliki informasi kualitas dan harga input Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
MENGEVALUASI  MEKANISME PASAR Kegagalan  atau  inefisiensi  pasar dianggap banyak pihak sebagai justifikasi terhadap eksistensi pemerintah dan kebijakannya dalam meredistribusi biaya dan pendapatan atas dasar efisiens, ekuitas, atau kedua-duanya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
BAGIAN 3 KETIDAKSEMPURNAAN PASAR DAN PERAN PEMERINTAH Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan Keuangan Publik: Perekonomian Pajak Penerbit Erlangga CASE   FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8   jilid 1
13 Monopoli dan  Kebijaksanaan Antitrust Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
PERSAINGAN TAK SEMPURNA  DAN KEKUATAN PASAR  1 Monopoli murni  adalah industri berisi perusahaan dengan produk yang tidak memiliki substitusi dekat dan terdapat  hambatan  untuk memasuki industri tersebut Ada banyak  hambatan masuk , antara lain: Waralaba dan lisensi dari pemerintah Kepemilikan atas faktor produksi langka Paten Skala ekonomis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
PERSAINGAN TAK SEMPURNA  DAN KEKUATAN PASAR  2 Kekuatan pasar  memerlukan  empat  keputusan alih-alih tiga: Seberapa banyak komoditas yang diproduksi Bagaimana cara memproduksinya Seberapa banyak permintaan di tiap pasar input Berapa harga yang akan dikenakan pada output Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
PERSAINGAN TAK SEMPURNA  DAN KEKUATAN PASAR  3 Kekuatan pasar tidak berarti kebebasan menentukan harga berapapun Monopoli tetap dibatasi oleh permintaan pasar Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
KEPUTUSAN HARGA DAN OUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI  1 Dalam pasar monopoli, perusahaan sama dengan industri Pelaku monopoli tidak memiliki kurva penawaran, karena mereka memilih satu titik pada kurva permintaan pasar Pelaku monopoli akan: Membatasi output Menetapkan harga lebih tinggi Menghasilkan laba positif Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
KEPUTUSAN HARGA DAN OUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI  2 Bagi pelaku monopoli: Peningkatan output tidak hanya memperbanyak barang, tapi juga menurunkan harga output tersebut Maka, penerimaan marjinal tidak sama dengan harga produk melainkan lebih rendah Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
KEPUTUSAN HARGA DAN OUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI  3 Dalam jangka pendek, pelaku monopoli juga dibatasi oleh faktor produksi tetap Dalam jangka panjang, pelaku monopoli yang tidak menghasilkan cukup penerimaan untuk menutup biaya juga akan keluar dari bisnis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
BIAYA SOSIAL MONOPOLI 1 Penetapan harga melampaui biaya marjinal menyebabkan inefisiensi dari bauran output Penurunan laba konsumen lebih besar daripada laba monopolis, sehingga terjadi kerugian bersih dalam kesejahteraan sosial Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
BIAYA SOSIAL MONOPOLI 2 Tindakan perusahaan dalam melindungi laba positif, disebut  perilaku pencari rente Perilaku pencari rente mengkonsumsi sumber daya dan menambah biaya sosial, sehingga penurunan kesejahteraan sosial semakin drastis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
DISKRIMINASI HARGA 1 Diskriminasi harga  adalah penetapan harga yang berbeda terhadap pembeli yang berbeda Motivasi diskriminasi harga adalah penetapan harga yang lebih tinggi terhadap konsumen tertentu akan menghasilkan laba lebih besar Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
DISKRIMINASI HARGA 2 Diskriminasi harga sempurna  adalah penetapan jumlah maksimum yang siap dibayar konsumen untuk setiap unit produk Diskriminasi harga sempurna ternyata memproduksi kuantitas yang efisien Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
MENGATASI MONOPOLI: KEBIJAKAN ANTITRUST Sikap pemerintah terhadap industri kompetitif tak sempurna: Pemerintah mendukung persaingan dan membatasi kekuatan pasar Pemerintah membatasi persaingan dalam mengatur industri Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
PENEGAKAN UNDANG-UNDANG ANTITRUST Keluhan antitrust bisa dibawa ke pengadilan oleh warga negara perseorangan Pengadilan memperoleh wewenang untuk menjalankan penanggulangan terhadap pelanggaran undang-undang antitrust Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
MONOPOLI ALAMIAH Di mana perusahaan memperlihatkan skala konomis yang sangat besar, sehingga biaya rata-rata terus menurun bersama output, akan lebih efisien untuk hanya memiliki satu perusahaan dalam satu industri Hal ini disebut  monopoli alamiah Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
KOMPETISI MONOPOLISTIK  1 Karakteristik dari industri kompetitif monopolistik: Ada banyak perusahaan Tidak ada hambatan masuk Diferensiasi produk Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
KOMPETISI MONOPOLISTIK  2 Karena tersedianya barang substitusi yang relatif baik, kompetitor monopolistik mencoba mencapai kekuatan pasar dengan  diferensiasi produk Diferensiasi produk membuat perusahaan mampu menaikkan harga tanpa kehilangan semua permintaan Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
KOMPETISI MONOPOLISTIK  3 Perusahaan kompetitif monopolistis akhirnya menetapkan harga melampaui biaya marjinal Hal ini inefisien, sehingga jelas bahwa perusahaan kompetitif monopolistis tidak akan merealisasikan semua skala ekonomis yang tersedia Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
OLIGOPOLI 1 Oligopoli  adalah industri yang didominasi beberapa perusahaan yang ukuran satuannya cukup besar untuk bisa mempengaruhi harga pasar Perusahaan yang berkolusi akan memaksimalkan laba dengan: Menetapkan harga yang disepakati Membatasi output dan membagi laba Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
OLIGOPOLI 2 Model Cournot  atas oligopoli berdasarkan asumsi: Hanya ada dua perusahaan dalam industri (duopoli) Masing-masing perusahaan menentukan outputnya Kedua perusahaan memaksimalkan laba Model ini menyatakan bahwa tingkat output akhir oligopoli akan berada di antara tingkat output dari persaingan sempurna dan tingkat output dari monopoli Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
OLIGOPOLI 3 Kurva permintaan yang membengkok  mendeskripsikan harga industri oligopoli akan cenderung lebih stabil ketimbang harganya Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
OLIGOPOLI 4 Teori permainan  menganalisis perilaku perusahaan sebagai serangkaian perilaku strategis dan balasannya Teori ini membantu pemahaman atas oligopoli, tetapi dalilnya tidak lengkap dan tidak bisa menyimpulkan kecenderungan perilaku perusahaan oligopoli secara tersendiri Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
OLIGOPOLI 5 Pasar yang  bisa diperebutkan dengan sempurna  adalah pasar di mana perusahaan masuk atau keluar industri tanpa biaya Dalam pasar ini: Perusahaan harus memiliki modal bergerak Perusahaan oligopoi besar akhirnya berperilaku seperti kompetitor sempurna Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
EKSTERNALITAS 1 Eksternalitas  adalah konsekuensi yang ditanggung pihak kedua atau ketiga yang tidak dipertimbangkan oleh pengambil keputusan Polusi adalah salah satu contoh umum dari eksternalitas Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
EKSTERNALITAS 2 Ketika  biaya eksternal  tidak dipertimbangkan, kita bisa terlibat dalam aktivitas produksi yang tidak “bernilai” Ketika  manfaat eksternal  tidak dipertimbangkan, kita bisa gagal melakukan aktivitas yang benar-benar “berguna” Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
EKSTERNALITAS 3 Mekanisme alternatif untuk mengontrol eksternalitas, antara lain: Pajak dan subsidi dari pemerintah Tawar-menawar dan negosiasi pribadi Penanggulangan hukum Penjualan atau lelang atas hak mengenakan eksternalitas Regulasi langsung Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
BARANG PUBLIK/SOSIAL 1 Barang publik bersifat: Nonrival dalam konsumsi , di mana manfaatnya tersebar secara kolektif antar anggota masyarakat atau kelompok Tanpa pengecualian , di mana manfaatnya tidak bisa dihalangi dari orang yang tidak membayar biayanya Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
BARANG PUBLIK/SOSIAL 2 Tingkat penyediaan optimal  dari barang publik dapat dicapai secara teoretis dengan mengetahui preferensi dari setipa warga negara Hipotesis Thiebout  menyatakan bahwa bauran barang publik yang efisien terjadi ketika pajak dan harga perumahan atau tanah lokal mencerminkan preferensi konsumen sesuai dengan pasar barang pribadi Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
INFORMASI TAK SEMPURNA Informasi tak sempurna  mengakibatkan pilihan yang tidak efisien atau salah Bahaya moral  terjadi ketika satu pihak meneruskan biaya perilakunya kepada pihak lain Solusi atas masalah informasi: Pencarian informasi selama manfaat marjinalnya lebih besar daripada biaya marjinalnya Penyebaran informasi oleh pemerintah Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
PILIHAN SOSIAL Karena tidak mungkin untuk mengetahui preferensi setiap orang, kita terpaksa mengandalkan mekanisme pilihan sosial tak sempurna (misalnya suara mayoritas) Keterlibatan pemerintah tidak selalu menghasilkan efisiensi, karena pemerintah juga bisa gagal Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
BATAS KEMUNGKINAN UTILITAS Meskipun pasar efisien sempurna, hasilnya masih mungkin menjadi tidak adil Dalam perekonomian relatif bebas pun, pemerintah meredistribusikan pendapatan dan kekayaan Karena utilitas tidak bisa dilihat atau diukur, kebijakan menempatkan distribusi pendapatan dan kekayaan sebagai substitusi tak sempurna terhadap “konsep distribusi kesejahteraan” Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
SUMBER PENDAPATAN  RUMAH TANGGA Sumber pendapatan rumah tangga antara lain: Upah atau gaji tenaga kerja (64%) Hak milik seperti modal atau tanah (22%) Pemerintah (13%) Perbedaan pendapatan upah dan gaji disebabkan: Perbedaan karakteristik pekerja Perbedaan jenis pekerjaan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
DISTRIBUSI PENDAPATAN Distribusi pendapatan pada umumnya tetap stabil dalam waktu yang lama Kurva Lorenz  mendeskripsikan distribusi pendapatan Koefisien Gini  mengindeks ketidaksetaraan pendapatan Jumlah orang miskin  selalu naik-turun seiring waktu Data distribusi kekayaan tidak cocok untuk dipakai sebagai data distribusi pendapatan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
DEBAT REDISTRIBUSI Argumen penentang redistribusi menyatakan bahwa orang berhak untuk mendapatkan apa yang dihasilkan oleh usahanya sendiri Argumen pendukung redistribusi menyatakan bahwa masyarakat kaya wajib secara moral untuk menyediakan kebutuhan dasar kehidupan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
KEBIJAKAN DAN PROGRAM REDISTRIBUSI Redistribusi dicapai dengan: Perpajakan Program tunjangan pemerintah Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
ILMU EKONOMI PERPAJAKAN  1 Pajak akhirnya dibayar oleh masyarakat, walaupun dikenakan terhadap transaksi, lembaga, properti, dsb Dasar  dari pajak adalah undang-undang atau nilai pengenaan pajak Struktur tingkat  dari pajak menentukan porsi dasar yang harus dibayarkan dalam bentuk pajak Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
ILMU EKONOMI PERPAJAKAN  2 Pajak proporsional  bersifat konstan Pajak progresif  menuntut proporsi tinggi dari pendapatan tinggi Pajak regresif   adalah kebalikan dari pajak progresif, menuntut proporsi rendah dari pendapatan tinggi Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
ILMU EKONOMI PERPAJAKAN  3 Tingkat pajak rata-rata  adalah total jumlah pajak dibayar dibagi pendapatan total Tingkat pajak marjinal  adalah tingkat pajak dibayar pada tiap kenaikan pendapatan Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
ILMU EKONOMI PERPAJAKAN  4 Prinsip manfaat yang diterima  menyatakan bahwa masyarakat berkewajiban menanggung beban pajak yang proporsional terhadap manfaat yang diterimanya dari pengeluaran pemerintah Prinsip kemampuan membayar  menyatakan bahwa beban pajak harus sejalan dengan kemampuan membayar Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
INSIDEN PAJAK Insiden pajak  mengacu pada distribusi akhir dari beban pajak Pajak mengubah perilaku, perubahan perilaku bisa mengubah penawaran dan permintaan, yang lalu mengubah harga sehingga ada yang untung dan ada yang rugi (hal ini disebut  beban akhir pajak ) Pergeseran pajak  terjadi ketika rumah tangga bisa mengubah perilakunya dan menghindari pajak Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
BEBAN BERLEBIH  DAN PRINSIP NETRALITAS Ketika pajak mengganggu keputusan ekonomi, pajak mengenakan beban yang secara agregat melebihi penerimaan pemerintah Jumlah kelebihan pajak atas penerimaan yang dikumpulkan pemerintah disebut  beban berlebih Prinsip netralitas  menetapkan bahwa pajak efisien tidak mengganggu keputusan ekonomi,  prinsip kedua terbaik  menyatakan bahwa pajak yang mengganggu keputusan ekonomi tidak memiliki beban berlebih Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
MENGHITUNG BEBAN BERLEBIH  Beban berlebih dari pajak  sama dengan surplus konsumen sebelum pajak dikurangi pajak total yang dikumpulkan pemerintah Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
CASE FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8 jilid 1 Penerbit Erlangga

Prinsip ekonomi casefair e8j1

  • 1.
    CASE FAIR Prinsip-prinsipEkonomi edisi 8 jilid 1 Penerbit Erlangga
  • 2.
    Lingkup dan Metodedari Ilmu Ekonomi Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar Penerapan dari Permintaan dan Penawaran Elastisitas BAGIAN 1 PENGANTAR EKONOMI Penerbit Erlangga CASE FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8 jilid 1
  • 3.
    1 Lingkup danMetode dari Ilmu Ekonomi BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 4.
    ILMU EKONOMI Ilmuekonomi mempelajari bagaimana individu dan masyarakat memanfaatkan sumber daya terbatas yang diwariskan oleh alam dan generasi terdahulu BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 5.
    PENTINGNYA ILMU EKONOMIMempelajari ilmu ekonomi berarti memahami cara berpikir Ilmu ekonomi penting dalam: Ilmu masyarakat Pemahaman hubungan internasional Keputusan voting Keputusan ekonomi seringkali berdampak besar BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 6.
    3 KONSEP DASAR ILMU EKONOMI Biaya oportunitas Marginalisme Pasar efisien BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 7.
    KONSEP DASAR 1BIAYA OPORTUNITAS Biaya oportunitas adalah alternatif terbaik yang dikesampingkan atau ditinggalkan ketika mengambil keputusan Hampir semua keputusan mengandung kompromi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 8.
    KONSEP DASAR 2MARGINALITAS Penghitungan biaya dan keuntungan dari keputusan hanya terkait dengan keputusan itu sendiri Misalnya, keputusan memproduksi output tambahan hanya memperhitungkan biaya tambahan ( additional atau marginal cost ) tanpa memperhitungkan sunk cost yang sudah dikeluarkan dan tidak terkait langsung dengan keputusan tersebut BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 9.
    KONSEP DASAR 3PASAR EFISIEN Dalam pasar efisien , oportunitas laba terjadi dan berakhir hampir dalam sekejap Jarangnya oportunitas laba disebabkan oleh banyaknya orang yang mencarinya BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 10.
    LINGKUP DARI ILMUEKONOMI Mikroekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku unit pengambil-keputusan, yaitu perusahaan bisnis dan rumahtangga Makroekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari agregat ekonomi (pendapatan, output, pekerjaan, dsb) dalam skala nasional BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 11.
    BAB 1 Lingkupdan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga PERMASALAHAN DALAM LINGKUP ILMU EKONOMI Produksi Harga Pendapatan Pekerjaan Mikroekonomi Produksi/ output dari industri dan bisnis individu Jumlah bahan mentah, kantor, kendaraan Harga dari barang dan jasa individu Harga perawatan medis, bahan bakar, pangan, dan sewa apartemen Distribusi pendapatan dan kekayaan Upah industri mobil, upah minimum, gaji eksekutif, kemiskinan Pekerjaan dalam bisnis dan industri individu Pekerjaan dalam industri baja, jumlah karyawan dalam perusahaan Makroekonomi Produksi/ output nasional Output industri total, produk domestik bruto, pertumbuhan output Tingkat harga agregat Harga konsumen, harga produsen, tingkat inflasi Pendapatan nasional Upah dan gaji total, laba perusahaan total Pekerjaan dan pengangguran Jumlah total pekerjaan, tingkat pengangguran
  • 12.
    METODE DARI ILMUEKONOMI Ilmu ekonomi positif Ilmu ekonomi normatif Ilmu ekonomi empiris BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 13.
    METODE DARI ILMUEKONOMI: POSITIF Ilmu ekonomi positif mempelajari perilaku ekonomi secara apa adanya Metode ini hanya menangani deskripsi dan fungsi Termasuk dalam metode ini: Ekonomi deskriptif mengumpulkan data untuk menjelaskan fenomena atau fakta Teori ekonomi menyatakan sebab-akibat atau aksi-reaksi secara umum BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 14.
    METODE DARI ILMUEKONOMI: NORMATIF Ilmu ekonomi normatif (disebut juga policy economics ): Menganalisis hasil perilaku ekonomi Mengevaluasinya sebagai baik atau buruk Menyarankan tindakan tertentu BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 15.
    METODE DARI ILMUEKONOMI: EMPIRIS Ilmu ekonomi empiris mengumpulkan dan memanfaatkan data untuk menguji teori ekonomi Banyak kumpulan data (dikumpulkan oleh biro pemerintah maupun perusahaan privat) tersedia untuk mendukung riset ekonomi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 16.
    TEORI DAN MODELTeori terdiri dari model, model terdiri dari variabel Model adalah pernyataan formal dari teori, mendeskripsikan hubungan antar dua variabel atau lebih Variabel adalah ukuran yang bervariasi dalam setiap observasi BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 17.
    OCKHAM’S RAZOR Ockham’srazor adalah prinsip bahwa detail yang tak relevan harus dibuang, karena model adalah simplifikasi (bukan komplikasi) dari kenyataan BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 18.
    PERANGKAP DALAM MENYUSUNTEORI EKONOMI Kesalahan post hoc ergo propter hoc terkait dengan kesalahan pemikiran mengenai kausalitas: Walaupun A terjadi sebelum B, belum tentu A menghasilkan B Kesalahan komposisi terkait dengan kesalahan keyakinan bahwa fakta yang berlaku bagi sebagian juga berlaku bagi semua BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 19.
    KEBIJAKAN EKONOMI Kriteriadalam menentukan hasil ekonomi: Efisiensi ( efisiensi alokatif ), ekonomi efisien memproduksi kebutuhan masyarakat dengan biaya serendah mungkin Ekuitas , keadilan dari hasil ekonomi Pertumbuhan ekonomi , peningkatan output total dalam perekonomian Stabilitas ekonomi , kondisi kestabilan atau peningkatan dari output diiringi inflasi rendah dan pemanfaatan penuh sumber daya BAB 1 Lingkup dan Metode dari Ilmu Ekonomi Penerbit Erlangga
  • 20.
    2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
  • 21.
    KELANGKAAN, PILIHAN, DANBIAYA OPORTUNITAS 1 Kebutuhan manusia bersifat tak terbatas , namun sumber daya yang tersedia bersifat terbatas Masyarakat memiliki sistem atau mekanisme tersendiri untuk mengolah sumber daya yang terbatas tersebut menjadi barang atau jasa yang bermanfaat BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan Penerbit Erlangga
  • 22.
    KELANGKAAN, PILIHAN, DANBIAYA OPORTUNITAS 2 Produksi adalah proses mengolah sumber daya yang terbatas menjadi barang dan jasa yang bermanfaat Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 23.
    KELANGKAAN, PILIHAN, DANBIAYA OPORTUNITAS 3 Sistem ekonomi bisa dipahami dengan menjawab tiga pertanyaan dasar : Apa yang diproduksi? Bagaimana cara produksinya? Siapa yang menerima hasil produksi tersebut? Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 24.
    KELANGKAAN, PILIHAN, DANBIAYA OPORTUNITAS 4 Sumber daya adalah input dari proses produksi Barang dan jasa yang bermanfaat bagi rumah tangga adalah output dari proses produksi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 25.
    KELANGKAAN, PILIHAN, DANBIAYA OPORTUNITAS 5 Tiga sumber daya utama yang tersedia bagi masyarakat (ketiganya disebut faktor produksi ): Tanah ( land ) Tenaga kerja ( labor ) Modal ( capital ) Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 26.
    KELANGKAAN & PILIHANDALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG 1 Hampir semua keputusan dasar yang terjadi dalam perekonomian kompleks juga terjadi dalam perekonomian satu orang Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 27.
    KELANGKAAN & PILIHANDALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG 2 Pilihan terbatas dan kelangkaan adalah konsep dasar yang berlaku dalam masyarakat manapun Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 28.
    KELANGKAAN & PILIHANDALAM PEREKONOMIAN SATU ORANG 3 Biaya oportunitas adalah alternatif terbaik yang kita korbankan atau abaikan ketika kita mengambil keputusan atau pilihan Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 29.
    KELANGKAAN & PILIHANDALAM PEREKONOMIAN ≥2 ORANG Produsen memiliki keunggulan absolut terhadap produsen lainnya dalam produksi barang atau jasa jika produsen tersebut mampu berproduksi dengan lebih sedikit sumber daya Produsen memiliki keunggulan komparatif terhadap produsen lainnya dalam produksi barang atau jasa jika produsen tersebut mampu berproduksi dengan lebih sedikit biaya oportunitas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 30.
    SPESIALISASI, PERTUKARAN, DANKEUNGGULAN KOMPARATIF Menurut teori keunggulan komparatif : spesialisasi dan perdagangan bebas akan menguntungkan semua pihak yang melakukan pertukaran , bahkan bagi pihak yang bisa jadi secara absolut adalah produsen yang lebih efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 31.
    BARANG MODAL DAN BARANG KONSUMEN 1 Barang modal adalah barang yang dipakai untuk memproduksi barang atau jasa lainnya Barang konsumen adalah barang yang diproduksi untuk konsumsi saat ini Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 32.
    BARANG MODAL DAN BARANG KONSUMEN 2 Investasi adalah proses pemakaian sumber daya untuk memproduksi modal baru Maka, modal adalah gabungan dari investasi sebelumnya Biaya oportunitas dari investasi modal setara dengan konsumsi masa kini yang dikorbankan Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 33.
    BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 1 Batas kemungkinan produksi ( ppf - production possibility frontier ) adalah grafik yang memperlihatkan semua kombinasi barang dan jasa yang bisa diproduksi dengan memakai sumber daya masyarakat secara efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 34.
    Grafik ppf memiliki slope negatif Slope negatif tersebut menunjukkan interaksi antara produksi barang satu dengan yang lain Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 2 Barang konsumen Barang modal
  • 35.
    Titik di bawahkurva bersifat tak efisien Pada titik H, sumber daya sama sekali tidak dimanfaatkan atau dimanfaatkan secara tidak efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 3 Barang konsumen Barang modal
  • 36.
    Titik F adalahtitik yang diinginkan karena menghasilkan lebih banyak dari kedua jenis barang, namun tidak dimungkinkan oleh jumlah sumber daya yang tersedia dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 4 Barang konsumen Barang modal
  • 37.
    Titik C adalahsalah satu titik di mana kombinasi produksi dari kedua jenis barang memakai sumber daya secara penuh dan efisien Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 5 Barang konsumen Barang modal
  • 38.
    Pergerakan di sepanjangkurva menunjukkan konsep biaya oportunitas Dari titik D ke C, kenaikan produksi barang modal menyebabkan penurunan jumlah barang konsumen Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 6 Barang konsumen Barang modal
  • 39.
    BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI 7 Slope dari kurva ppf disebut juga tingkat transformasi marjinal ( mrt – marginal rate of transformation ) Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 40.
    HUKUM BIAYA OPORTUNITASYANG MENINGKAT Slope negatif dari kurva ppf mewakili hukum biaya oportunitas yang meningkat Ketika kita meningkatkan produksi dari satu jenis barang, produksi dari jenis barang yang lain akan menurun secara progresif Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 41.
    PERTUMBUHAN EKONOMI 1 Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan output total dari perekonomian, yang disebabkan oleh: Penemuan sumber daya baru Penemuan cara baru yang memproduksi lebih banyak dengan tetap memakai sumber daya yang tersedia Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 42.
    PERTUMBUHAN EKONOMI 2 Sumber utama pertumbuhan ekonomi antara lain: Akumulasi modal Perkembangan teknologi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 43.
    Pertumbuhan ekonomi ditunjukkandengan pergeseran kurva ppf ke arah luar Pergeseran ke luar berarti kenaikan produksi satu jenis barang tidak menurunkan produksi jenis barang lainnya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan PERTUMBUHAN EKONOMI 3 Barang konsumen Barang modal
  • 44.
    Dari titik D,perekonomian bisa memilih kombinasi output manapun di antara titik F dan G Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan PERTUMBUHAN EKONOMI 4 Barang konsumen Barang modal
  • 45.
    SUMBER PERTUMBUHAN DANDILEMA NEGARA MISKIN Dibandingkan dengan negara miskin, negara kaya lebih banyak mengalokasikan sumber daya untuk barang modal Alokasi terhadap barang modal tersebut memacu laju pertumbuhan ekonomi negara kaya Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi negara kaya tersebut ikut memperbesar jurang perbedaan ekonomi antara negara kaya dan negara miskin Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 46.
    SISTEM EKONOMI 1 Permasalahan ekonomi : dengan terbatasnya sumber daya, bagaimana caranya masyarakat mengatasi dengan baik tiga pertanyaan dasar ekonomi ? Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 47.
    SISTEM EKONOMI 2 Sistem ekonomi adalah cara-cara dasar yang disusun oleh masyarakat untuk mengatasi permasalahan ekonomi Jenis-jenis sistem ekonomi: Perekonomian komando Perekonomian laissez-faire Sistem campuran Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 48.
    SISTEM EKONOMI 3 Dalam perekonomian komando , pemerintah pusat secara langsung atau tidak langsung menentukan target output, pendapatan, dan harga Dalam perekonomian laissez-faire , perorangan dan perusahaan mengejar tujuan pribadi mereka tanpa adanya peraturan atau arahan terpusat Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 49.
    PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE 1 Pasar adalah lembaga di mana penjual dan pembeli berinteraksi dan melakukan pertukaran Lembaga sentral dalam perekonomian laissez-faire adalah sistem pasar bebas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 50.
    PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE 2 Kedaulatan konsumen ( consumer sovereignty ) adalah ide bahwa konsumenlah yang menentukan apa yang diproduksi atau tidak diproduksi dengan cara memilih apa yang dibelinya atau tidak dibelinya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 51.
    PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE 3 Usaha bebas ( free enterprise ) berarti produsen harus menentukan sendiri cara perencanaan, pengorganisasian, dan pengkoordinasian dari produksi barangnya atau jasanya Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 52.
    PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE 4 Distribusi output ditentukan secara desentralisasi , yang artinya jumlah yang diterima oleh rumah tangga ditentukan oleh pendapatannya dan kekayaannya sendiri-sendiri Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 53.
    PEREKONOMIAN LAISSEZ-FAIRE 5 Harga adalah nilai jual produk per unit Harga mencerminkan kemauan masyarakat dalam membayar produk terkait Harga menjadi mekanisme koordinasi dasar dalam pasar bebas Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 54.
    SISTEM CAMPURAN, PASAR, DAN PEMERINTAH 1 Karena pasar tidaklah sempurna , pemerintah melibatkan diri dan sering kali memainkan peran penting dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 55.
    SISTEM CAMPURAN, PASAR, DAN PEMERINTAH 2 Tujuan keterlibatan pemerintah dalam perekonomian antara lain: Meminimisasi ketidakefisienan pasar Menyediakan barang publik Mendistribusi ulang pendapatan Menstabilisasi perekonomian makro, yang artinya: Mendukung rendahnya tingkat pengangguran Mendukung rendahnya tingkat inflasi Penerbit Erlangga BAB 2 Masalah Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan
  • 56.
    3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
  • 57.
    UNIT KEPUTUSAN DASAR:PERUSAHAAN 1 Perusahaan ( firm ) adalah organisasi yang mengolah sumber daya (input) menjadi produk (output) Perusahaan adalah unit produksi utama dalam perekonomian pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 58.
    UNIT KEPUTUSAN DASAR:PERUSAHAAN 2 Wirausahawan ( entrepreneur ) adalah orang yang mengorganisasikan, mengelola, dan menanggung risiko perusahaan, yang memakai ide atau produk yang baru dan menjadikannya bisnis yang sukses Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 59.
    UNIT KEPUTUSAN DASAR: RUMAH TANGGA Rumah tangga ( household ) adalah unit konsumen dalam perekonomian Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 60.
    PASAR INPUT &PASAR OUTPUT Pasar output ( pasar produk ) adalah pasar di mana barang dan jasa diperjualbelikan Pasar input ( pasar faktor ) adalah pasar di mana sumber daya (tenaga kerja, modal, dan tanah) yang dipakai dalam produksi diperjualbelikan Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 61.
    PASAR INPUT &PASAR OUTPUT: ALIRAN MELINGKAR 1 Aliran melingkar (cicular flow) dari aktivitas ekonomi menunjukkan interaksi antara perusahaan dan rumah tangga dalam pasar input dan pasar output Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 62.
    PASAR INPUT &PASAR OUTPUT: ALIRAN MELINGKAR 2 Barang dan jasa mengalir searah jarum jam : Jasa tenaga kerja dari rumah tangga ke perusahaan Barang dan jasa dari perusahaan ke rumah tangga Pembayaran (biasanya berupa uang) mengalir berlawanan arah jarum jam : Pembayaran jasa tenaga kerja dari perusahaan ke rumah Pembayaran barang dan jasa dari rumah tangga ke perusahaan Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 63.
    PASAR INPUT Pasarinput mencakup: Pasar tenaga kerja , di mana pekerja ditawarkan pada perusahaan yang memerlukannya dengan upah Pasar modal , di mana tabungan ditawarkan pada perusahaan yang memerlukan dana membeli barang modal dengan bunga atau klaim laba masa depan Pasar tanah , di mana tanah atau properti riil lainnya ditawarkan dengan sewa Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 64.
    PERMINTAAN DALAM PASARPRODUK/OUTPUT Permintaan rumah tangga atas kuantitas dari output atau permintaan ditentukan oleh: Harga produk Pendapatan saat ini dari rumah tangga Jumlah akumulasi kekayaan rumah tangga Harga produk alternatif yang tersedia Selera dan preferensi rumah tangga Ekspektasi masa depan rumah tangga terkait mengenai pendapatannya, kekayaannya dan harga produk Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 65.
    KUANTITAS YANG DIMINTAKuantitas yang diminta ( quantity demanded ) adalah jumlah unit produk yang dibeli rumah tangga dalam periode tertentu, jika rumah tangga mampu membeli semua kebutuhannya dengan harga pasar saat itu Kuantitas yang diminta dan harga pasar menjadi keterhubungan terpenting dalam pasar tunggal Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 66.
    PERUBAHAN KUANTITAS DIMINTAVS PERUBAHAN PERMINTAAN Kuantitas yang diminta per periode dipengaruhi oleh perubahan harga Permintaan ( demand ) dipengaruhi oleh: Perubahan pendapatan Kekayaan Harga produk lain Selera Ekspektasi Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 67.
    SKEDUL PERMINTAAN DAN KURVA PERMINTAAN Skedul permintaan adalah tabel yang mendaftarkan seberapa banyak produk tertentu yang akan dibeli oleh rumah tangga pada beberapa variasi harga Kurva permintaan adalah grafik yang menggambarkan seberapa banyak produk tertentu yang akan dibeli oleh rumah tangga pada beberapa variasi harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 68.
    HUKUM PERMINTAAN Hukumpermintaan menyatakan hubungan negatif atau terbalik antara harga dan kuantitas yang diminta Ketika harga naik maka kuantitas yang diminta menurun, ketika harga turun maka kuantitas yang diminta meningkat Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 69.
    PENENTU LAIN ATASPERMINTAAN RUMAH TANGGA 1 Pendapatan ( income ) adalah ukuran aliran yang berupa jumlah penerimaan rumah tangga pada periode tertentu yang meliputi: Upah Gaji Laba Pembayaran bunga Sewa Bentuk penghasilan lainnya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 70.
    PENENTU LAIN ATASPERMINTAAN RUMAH TANGGA 2 Kekayaan ( wealth, disebut juga nilai bersih - net worth ) adalah ukuran simpanan yang berupa total nilai yang dimiliki rumah tangga dikurangi nilai utangnya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 71.
    PENENTU LAIN ATASPERMINTAAN RUMAH TANGGA 3 Barang substitusi adalah barang-barang yang bisa saling menggantikan Naiknya harga barang tertentu akan meningkatkan permintaan untuk barang substitusinya Barang substitusi sempurna adalah barang-barang yang identik Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 72.
    PENENTU LAIN ATASPERMINTAAN RUMAH TANGGA 3 Barang komplementer adalah barang-barang yang “sejalan” Naiknya harga barang tertentu akan meningkatkan permintaan untuk barang komplementernya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 73.
    Perubahan kuantitasyang diminta menyebabkan pergeseran sepanjang kurva Perubahan permintaan menyebabkan bergesernya keseluruhan kurva Penerbit Erlangga PERGESERAN SEPANJANG KURVA VS PERGESERAN KURVA Kuantitas Harga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 74.
    DARI PERMINTAAN RUMAHTANGGA KE PERMINTAAN PASAR Permintaan ( demand ) atas barang dan jasa bisa didefinisikan dalam rumah tangga tersendiri atau dalam sekelompok rumah tangga yang membentuk pasar Permintaan pasar ( market demand ) adalah jumlah semua kuantitas barang atau jasa yang diminta per periode oleh semua rumah tangga yang membelinya di pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 75.
    PENAWARAN DALAM PASARPRODUK/OUTPUT 1 Keputusan penawaran bergantung pada potensi laba Laba ( profit ) adalah selisih antara penerimaan dan biaya Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 76.
    PENAWARAN DALAM PASARPRODUK/OUTPUT 2 Kuantitas yang ditawarkan ( quantity supllied ) adalah jumlah poduk tertentu yang akan tersedia atau mampu ditawarkan perusahaan untuk dijual dalam harga dan periode tertentu Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 77.
    PENAWARAN DALAM PASARPRODUK/OUTPUT 3 Skedul penawaran adalah tabel yang mendaftarkan seberapa banyaknya produk akan dijual oleh perusahaan dalam beberapa variasi harga Kurva penawaran adalah kurva yang menunjukkan seberapa banyaknya produk akan dijual oleh perusahaan dalam beberapa variasi harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 78.
    PENAWARAN DALAM PASARPRODUK/OUTPUT 4 Hukum penawaran menyatakan hubungan positif antara harga dan kuantitas dari produk yang ditawarkan Ketika harga naik maka kuantitas yang ditawarkan meningkat, ketika harga turun maka kuantitas yang ditawarkan menurun Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 79.
    PENENTU LAIN ATASPENAWARAN Penentu-penentu lain atas penawaran meliputi: Harga produk Biaya produksi , yang bergantung pada: Harga input yang diperlukan dalam produksi Teknologi yang dipakai dalam produksi Harga produk-produk lain yang terkait Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 80.
    Perubahan kuantitasyang ditawarkan menyebabkan pergeseran sepanjang kurva Perubahan penawaran menyebabkan bergesernya keseluruhan kurva Penerbit Erlangga PERGESERAN SEPANJANG KURVA VS PERGESERAN KURVA Kuantitas Harga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 81.
    DARI PENAWARAN TERSENDIRIKE PENAWARAN PASAR Penawaran ( supply ) atas barang dan jasa bisa didefinisikan dalam perusahaan tersendiri atau dalam sekelompok perusahaan yang membentuk pasar atau industri Penawaran pasar ( market supply ) adalah jumlah semua kuantitas barang atau jasa yang ditawarkan per periode oleh semua perusahaan yang menjualnya di pasar Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 82.
    EKUILIBRIUM PASAR Ekuilibriumpasar adalah kondisi di mana kuantitas yang ditawarkan sama dengan kuantitas yang diminta Pada ekuilibrium, tidak ada kecenderungan untuk berubahnya harga Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 83.
    PERMINTAAN BERLEBIH Permintaanberlebih ( excess demand ) atau kekurangan ( shortage ) adalah kondisi di mana kuantitas yang diminta melebihi yang ditawarkan pada harga saat itu Harga akan cenderung naik hingga tercapainya ekuilibrium baru Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 84.
    PENAWARAN BERLEBIH Penawaranberlebih ( excess supply ) atau surplus adalah kondisi di mana kuantitas yang ditawarkan melebihi yang diminta pada harga saat itu Harga akan cenderung turun hingga tercapainya ekuilibrium baru Penerbit Erlangga BAB 3 Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium Pasar
  • 85.
    4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran Penerbit Erlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
  • 86.
    SISTEM HARGA Sistempasar menjalankan dua fungsi penting yang saling berkaitan erat, yaitu: Alokasi sumber daya ( resource allocation ), yaitu pengalokasian sumber daya bagi produsen dan bauran output akhirnya Penjatahan harga ( price rationing ), yaitu pengalokasian barang dan jasa untuk konsumen ketika kuantitas permintaan jauh melebihi kuantitas penawaran Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 87.
    PENJATAHAN HARGA Penurunanpenawaran menyebabkan kekurangan ( shortage ) pada harga saat itu Penawaran yang berkurang itu dijatahkan kepada pihak yang mau dan mampu untuk membayar harga yang lebih tinggi Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 88.
    PEMBATASAN PASAR Paguharga ( price ceiling ) adalah harga barang maksimal yang boleh ditetapkan penjual, biasanya ditentukan oleh pemerintah Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 89.
    MEKANISME PENJATAHAN ALTERNATIFAntrian ( queuing ) merupakan mekanisme penjatahan non harga Pelanggan pilihan ( favored customer ) adalah orang yang menerima perlakuan khusus dari penyalur selama situasi permintaan berlebih Kupon penjatahan ( ration coupon ) memungkinkan pembelian produk dalam jumlah tertentu per bulan Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 90.
    PASAR GELAP Usahapembatasan harga sering kali menyebabkan evolusi pasar gelap Pasar gelap ( black market ) menjalankan perdagangan ilegal dengan harga yang ditentukan oleh pasar itu sendiri Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 91.
    KELEMAHAN DARI SISTEMPENJATAHAN Permintaan berlebih tetap terjadi dan tidak bisa dihilangkan Tak peduli seberapa baiknya niat dan usaha pihak swasta dan pemerintah, sangatlah sulit untuk: Mencegah beroperasinya sistem harga Menghentikan kemauan membayar lebih Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 92.
    HARGA DASAR Hargadasar ( price floor ) adalah harga minimum untuk perdagangan yang diizinkan Contoh paling umum dari harga dasar adalah upah minimum ( minimum wage ) Akibat dari penetapan harga dasar adalah penawaran berlebih Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 93.
    SURPLUS KONSUMEN DANSURPLUS PRODUSEN Surplus konsumen adalah selisih antara jumlah maksimum yang orang bersedia bayarkan untuk dan harga pasar dari produk pada saat tertentu Surplus produsen adalah selisih antara harga pasar dan biaya produksi total perusahaan pada saat tertentu Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 94.
    SURPLUS KONSUMEN DANSURPLUS PRODUSEN MAKSIMAL Surplus konsumen dan surplus produsen total bernilai maksimal pada titik ekuilibrium di mana kurva permintaan dan kurva penawaran saling berpotongan Konsumen menerima keuntungan dari harga yang dibayarnya, sementara produsen menerima kompensasi dari biaya Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 95.
    SURPLUS KONSUMEN DANSURPLUS PRODUSEN MAKSIMAL Kerugian bobot mati ( deadweight loss ) adalah kerugian bersih bagi surplus produsen dan surplus konsumen akibat: Produksi-kurang ( underproduction ) Produksi-berlebih ( overproduction ) Penerbit Erlangga BAB 4 Penerapan dari Permintaan dan Penawaran
  • 96.
    5 Elastisitas PenerbitErlangga BAGIAN 1 Pengantar Ekonomi
  • 97.
    ELASTISITAS Elastisitas adalah konsep umum dalam mengukur respons/tanggapan dari variabel tertentu ketika variabel lain berubah Jika variabel A berubah karena variabel B berubah, elastisitas A terhadap B sama dengan perubahan persentase A dibagi perubahan persentase B Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 98.
    KURVA PERMINTAAN DAN ELASTISITAS Ketanggapan ( responsiveness ) tidak cukup diukur dengan slope kurva permintaan karena nilainya tergantung unit ukuran yang digunakan Maka, elastisitas diukur dengan persentase Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 99.
    ELASTISITAS HARGA TERHADAP PERMINTAAN Elastisitas harga permintaan adalah rasio perubahan persentase dalam kuantitas yang diminta terhadap perubahan persentase dalam harga Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 100.
    TIPE-TIPE ELASTISITAS 1Permintaan inelastis sempurna memiliki kuantitas yang diminta yang sama sekali tidak tanggap terhadap perubahan harganya, nilai elastisitasnya 0 (nol) Permintaan inelastis memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang terkadang tanggap terhadap perubahan harganya dalam kisaran nilai yang tidak besar, nilai elastisitasnya antara 0 (nol) dan -1 Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 101.
    TIPE-TIPE ELASTISITAS 2Permintaan ber elastisitas uniter memiliki hubungan perubahan persentase kuantitas yang diminta yang sama dengan perubahan persentase harganya, nilai elastisitasnya -1 Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 102.
    TIPE-TIPE ELASTISITAS 3Permintaan elastis memiliki perubahan persentase kuantitas yang diminta yang lebih besar nilai absolutnya dibandingkan dengan persentase perubahan harganya, nilainya elastisitasnya kurang dari -1 Permintaan elastis sempurna memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang langsung jatuh ke nol hanya akibat peningkatan kecil dari harganya Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 103.
    MENGHITUNG ELASTISITAS 1Pada permintaan elastis: Peningkatan harga akan menurunkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan menurun Pada permintaan inelastis, peningkatan harga akan meningkatkan penerimaan total Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 104.
    MENGHITUNG ELASTISITAS 2Pada permintaan elastis: Penurunan harga akan meningkatkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan meningkat Pada permintaan inelastis: Penurunan harga akan meningkatkan kuantitas yang diminta dalam persentase perubahan yang lebih kecil daripada persentase perubahan harganya Penerimaan total akan menurun Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 105.
    PENENTU ELASTISITASPERMINTAAN Elastisitas permintaan bergantung pada: Ketersediaan barang substitusi Pentingnya barang dalam anggaran perseorangan Kerangka waktu yang digunakan Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 106.
    ELASTISITAS LAINNYA 1 Elastisitas pendapatan dari permintaan mengukur tanggapan kuantitas yang diminta terhadap perubahan pendapatan Elastisitas harga-silang dari permintaan mengukur tanggapan kuantitas yang diminta dari barang tertentu terhadap perubahan harga dari barang lain Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 107.
    ELASTISITAS LAINNYA 2 Elastisitas penawaran mengukur tanggapan kuantitas yang ditawarkan dari barang tertentu terhadap perubahan harga barang itu sendiri Elastisitas penawaran tenaga kerja mengukur tanggapan kuantitas yang ditawarkan dari tenaga kerja terhadap perubahan harga tenaga kerja itu sendiri Penerbit Erlangga BAB 5 Elastisitas
  • 108.
    BAGIAN 2 DASAR-DASARMIKROEKONOMI: KONSUMEN DAN PERUSAHAAN Perilaku Rumah-Tangga dan Pilihan Konsumen Proses Produksi: Perilaku dari Perusahaan yang Memaksimalkan Laba Biaya Jangka-Pendek dan Pilihan Output Biaya Jangka-Panjang dan Pilihan Output Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna Penerbit Erlangga CASE FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8 jilid 1
  • 109.
    6 Perilaku Rumah-Tangga dan Pilihan Konsumen Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 110.
    ASUMSI-ASUMSI Dalam asumsi pasar kompetitif sempurna : Harga ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan Tidak ada satu rumah tangga atau perusahaan pun yang memiliki kendali terhadap penawaran dan permintaan Rumah tangga diasumsikan memiliki pengetahuan sempurna mengenai kualitas dan harga dari semua yang tersedia di pasar Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 111.
    PERILAKU RUMAH TANGGA DI PASAR OUTPUT 1 Setiap rumah tangga harus membuat tiga keputusan dasar , yaitu: Berapa banyak tiap produk/output yang dimintanya Berapa banyak tenaga kerja yang ditawarkannya Berapa banyak yang dibelanjakannya saat ini dan yang ditabungnya untuk masa depan Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 112.
    PERILAKU RUMAH TANGGA DI PASAR OUTPUT 2 Batasan atau kendala anggaran rumah tangga ditentukan oleh: Pendapatan Kekayaan Harga Batasan anggaran memisahkan antara kombinasi barang dan jasa yang terjangkau dan yang tidak terjangkau Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 113.
    PERILAKU RUMAH TANGGA DI PASAR OUTPUT 3 Masalah pilihan rumah tangga adalah masalah alokasi pendapatan terhadap sejumlah barang & jasa Perubahan harga dari salah satu barang atau jasa bisa mengubah keseluruhan alokasi Permintaan atas barang-barang tertentu bisa meningkat , sementara permintaan atas barang-barang lainnya bisa menurun Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 114.
    PERILAKU RUMAH TANGGA DI PASAR OUTPUT 4 Selama rumah tangga memiliki pendapatan yang terbatas , biaya riil setiap barang atau jasa tunggal sama dengan nilai barang atau jasa lain yang bisa dibeli dengan harga dan jumlah yang sama Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 115.
    PERILAKU RUMAH TANGGA DI PASAR OUTPUT 5 Dalam batasan harga, pendapatan, dan kekayaan , keputusan rumah tangga akhirnya bergantung pada: Preferensi (suka, tidak suka) Selera Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 116.
    BASIS PILIHAN: UTILITAS1 Lebih disukainya satu item daripada item lain bergantung pada banyaknya utilitas atau kepuasan yang dihasilkannya dibandingkan dengan item alternatifnya Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 117.
    BASIS PILIHAN: UTILITAS2 Hukum utilitas marjinal yang semakin menurun menyatakan bahwa semakin banyak jumlah yang dikonsumsi dalam periode waktu tertentu maka semakin sedikit kepuasan atau utilitas yang didapatkan dari setiap unit tambahan (marjinal) Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 118.
    EFEK PENDAPATAN DANEFEK SUBSTITUSI Slope negatif dari kurva permintaan disebabkan oleh: Utilitas marjinal semua barang yang menurun Sebagian besar barang normal yang akan semakin dikonsumsi jika harganya menurun , baik karena efek pendapatan maupun efek substitusi Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 119.
    SURPLUS KONSUMEN Bilabarang dijual dengan harga tetap, rumah tangga harus “mengungkapkan” kelayakan dari barang tersebut untuk dijual dengan harga tersebut Banyak orang yang membeli di pasar tertentu mendapatkan nilai barang yang melebihi harga barang tersebut Orang-orang tersebut disebut mengalami surplus konsumen Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 120.
    PILIHAN RUMAH TANGGA DALAM PASAR INPUT 1 Dalam pasar tenaga kerja , ada trade-off antara nilai barang atau jasa (yang bisa dibeli di pasar itu atau diproduksi di rumah tangga) dan nilai dari waktu luang Biaya oportunitas pekerjaan yang dibayar adalah waktu luang dan pekerjaan yang tidak dibayar Tingkat upah adalah harga (biaya oportunitas) dari manfaat pekerjaan yang tidak dibayar atau waktu luang Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 121.
    PILIHAN RUMAH TANGGA DALAM PASAR INPUT 2 Perubahan tingkat upah memiliki efek pendapatan dan efek substitusi yang berlawanan arah Peningkatan tingkat upah berarti: Waktu luang lebih mahal (efek substitusi) Lebih banyak pendapatan dalam waktu kerja yang sama, maka kemungkinan waktu luang meningkat (efek pendapatan) Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 122.
    PILIHAN RUMAH TANGGA DALAM PASAR INPUT 3 Rumah tangga juga bisa mengalokasikan pendapatan ke tabungan atau mengambil pinjaman: Keputusan menabung berarti memakai pendapatan masa kini untuk pengeluaran masa depan Keputusan meminjam berarti memakai pendapatan masa depan untuk pengeluaran masa kini Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 123.
    PILIHAN RUMAH TANGGA DALAM PASAR INPUT 4 Kenaikan tingkat bunga terhadap tabungan akan: Berefek positif jika efek substitusi mendominasi efek pendapatan Berefek negatif jika efek pendapatan mendominasi efek substitusi Sebagian besar bukti empiris menunjukkan dominasi efek substitusi Penerbit Erlangga BAB 6 Perilaku Rumah Tangga dan Pilihan Konsumen
  • 124.
    7 Proses Produksi: Perilaku dari Perusahaan yang Memaksimalkan Laba Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 125.
    PRODUKSI Walaupun salingberbeda dalam ukuran dan organisasi internalnya, semua perusahaan memerlukan input dan mengolahnya menjadi output dengan proses produksi Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 126.
    ASUMSI-ASUMSI Tak adasatu perusahaan pun yang bisa mengontrol harga dalam persaingan sempurna, sesuai dengan asumsi: Industri kompetitif sempurna terdiri dari banyak perusahaan yang masing-masing ukurannya relatif kecil dibandingkan ukuran industri keseluruhan Setiap perusahaan dalam industri kompetitif sempurna memproduksi produk homogen Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 127.
    ELASTISITAS SEMPURNA DARIKURVA PERMINTAAN KOMPETITIF Perusahaan kompetitif menghadapi kurva permintaan yang elastis sempurna : Perusahaan yang menaikkan harga melampaui harga pasar tidak akan bisa menjual produknya sama sekali Sebaliknya, tidak ada dorongan bagi perusahaan untuk menurunkan harga karena perusahaan bisa menjual semua produknya sesuai harga pasar Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 128.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 1 Di semua industri, perusahaan yang memaksimalkan keuntungan harus menentukan tiga pilihan: Berapa banyak output yang ditawarkannya Bagaimana cara memproduksi output tersebut Berapa banyak input yang dimintanya Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 129.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 2 Laba sama dengan penerimaan total dikurangi biaya total Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 130.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 3 Biaya total ( biaya ekonomis ) meliputi: Biaya yang benar-benar dikeluarkan Biaya oportunitas setiap faktor produksi (mencakup juga tingkat penghasilan normal dari modal ) Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 131.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 4 Tingkat penghasilan normal ( normal rate of return ) dari modal termasuk ke dalam biaya total karena pengikatan sumber daya ke dalam simpanan modal perusahaan akan menghasilkan biaya oportunitas Investor mengharapkan tingkat penghasilan normal ketika mendanai bisnis atau membeli saham Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 132.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 5 Tingkat laba ( profit ) positif adalah tingkat penghasilan modal di atas normal Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 133.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 6 Jangka pendek ( short run ) memiliki asumsi: Skala tetap atau faktor produksi tetap Tak ada perusahaan yang masuk atau keluar dari industri Jangka panjang ( long run ) memiliki asumsi: Perusahaan bisa memilih skala operasi apapun Bisa ada perusahaan yang masuk ke atau keluar dari industri Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 134.
    PERILAKU PERUSAHAAN YANGMEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN 7 Dalam mengambil keputusan, perusahaan perlu mengetahui tiga hal , yaitu: Harga pasar output Teknik produksi yang tersedia Harga input Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 135.
    PROSES PRODUKSI 1Fungsi produksi atau fungsi produk total adalah hubungan antara input dan output ( teknologi produksi ) yang dinyatakan dengan angka atau secara matematis Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 136.
    PROSES PRODUKSI 2Produk marjinal dari input variabel adalah output tambahan yang akan diproduksi oleh input tambahan tersebut jika semua input lain konstan Hukum hasil yang menurun menyatakan bahwa penambahan unit input variabel terhadap input tetap melampaui titik tertentu akan menurunkan produk marjinal dari input variabel tersebut Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 137.
    PROSES PRODUKSI 3Produk rata-rata adalah jumlah rata-rata produk dari tiap unit faktor produksi variabel, dengan interaksi sebagai berikut: Produk marjinal di atas produk rata-rata, maka produk rata-rata akan menurun Produk marjinal di bawah produk rata-rata, maka produk rata-rata akan meningkat Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 138.
    PROSES PRODUKSI 4Modal dan tenaga kerja merupakan input komplemeter dan juga input substitusi Modal bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja, tapi juga bisa mensubstitusikan tenaga kerja Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 139.
    PILIHAN TEKNOLOGI Salahsatu keputusan penting yang harus diambil oleh semua perusahaan adalah teknologi mana yang akan dipergunakan Perusahaan yang memaksimalkan laba akan memilih kombinasi input yang meminimalkan biaya dan memaksimalkan laba Penerbit Erlangga BAB 7 Proses Produksi: Perilaku Perusahaan yang Memaksialkan Keuntungan
  • 140.
    8 Biaya Jangka-Pendek dan Pilihan Output Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 141.
    PENGHITUNGAN BIAYA PRODUKSIPenghitungan biaya produksi memerlukan pengetahuan mengenai: Kuantitas dan kombinasi input yang diperlukan dalam produksi Biaya masing-masing input Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 142.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 1 Biaya tetap ( fixed cost ) adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh berproduksi atau tidak berproduksinya perusahaan, dan dalam jangka pendek perusahaan tidak bisa menghindari biaya ini walaupun produksinya nol Biaya variabel bergantung pada tingkat output Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 143.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 2 Biaya total adalah biaya tetap plus biaya variabel (TC = TFC + TVC) Biaya tetap rata-rata (AFC - average fixed cost ) adalah biaya tetap total dibagi kuantitas output, di mana setiap kenaikan kuantitas output akan menurunkan AFC secara drastis karena nilai biaya tetap total yang sama dibagi dengan nilai kuantitas output yang semakin besar (fenomena ini disebut spreading overhead ) Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 144.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 3 Ada banyak kombinasi input untuk setiap tingkat output Biaya variabel total (TVC – total variable cost ) adalah jumlah semua variasi biaya menurut output dalam jangka pendek Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 145.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 4 Biaya marjinal (MC) adalah kenaikan biaya total yang disebabkan oleh produksi satu unit output tambahan Dari produksi 1000 unit, biaya peningkatan output menjadi 1001 unit adalah MC MC mengukur biaya input tambahan untuk setiap unit output tambahan MC mencerminkan perubahan biaya variabel Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 146.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 5 Pada kurva biaya variabel total : Slopenya positif , karena biaya total selalu meningkat mengikuti kuantitas output Nilai slopenya adalah nilai biaya marjinal Peningkatan biaya marjinal akhirnya menyebabkan kenaikan biaya total dengan laju yang tinggi Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 147.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 6 Biaya variabel rata-rata (AVC - average variable cost ) adalah biaya variabel total dibagi kuantitas output, dengan hubungan: AVC meningkat ketika biaya marjinal di atas biaya variabel rata-rata AVC menurun ketika biaya marjinal di bawah biaya variabel rata-rata Titik minimum AVC berpotongan dengan biaya marjinal Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 148.
    BIAYA DALAM JANGKAPENDEK 7 Biaya total rata-rata (ATC - average total cost ) adalah biaya total dibagi kuantitas output ATC setara dengan jumlah biaya tetap rata-rata dan biaya variabel rata-rata, dengan hubungan: ATC menurun ke biaya marjinal yang berada di bawahnya ATC meningkat ke biaya marjinal yang berada di atasnya Titik minimum ATC adalah perpotongan antara biaya marjinal dan biaya total Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 149.
    KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN,BIAYA, DAN LABA 1 Perusahaan kompetitif sempurna menghadapi kurva permintaan yang berbentuk garis horizontal (artinya permintaan elastis sempurna ) Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 150.
    KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN,BIAYA, DAN LABA 2 Penerimaan total (TR - total revenue ) adalah harga dikali kuantitas output Penerimaan marjinal (MR - marginal revenue ) adalah penerimaan tambahan dari satu unit tambahan Penerimaan marjinal dari perusahaan kompetitif sempurna akan sama dengan harga pasar produk saat ini Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 151.
    KEPUTUSAN OUTPUT: PENERIMAAN,BIAYA, DAN LABA 3 Dalam industri kompetitif sempurna, perusahaan yang memaksimalkan laba akan berproduksi hingga titik di mana harga outputnya tepat sama dengan biaya marjinal jangka pendek (P = MC) Karena P = MR dalam persaingan sempurna, maka rumus pemaksimalan laba menjadi MR = MC Penerbit Erlangga BAB 8 Biaya Jangka Pendek dan Keputusan Output
  • 152.
    9 Biaya Jangka-Panjang dan Pilihan Output Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 153.
    KONDISI PERUSAHAAN Padasemua perusahaan, salah satu kondisi berikut ini berlaku: Perusahaan mendapatkan laba positif Perusahaan mengalami kerugian Perusahaan mencapai titik impas (tingkat penghasilan normal, berarti laba nol) Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 154.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 1 Laba positif jangka pendek: Mendorong perusahaan untuk terus meraih laba dan untuk berekspansi dalam jangka panjang Mendorong perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 155.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 2 Kerugian jangka pendek: Menyudutkan posisi perusahaan dalam industri, karena masih harus membayar biaya tetap meskipun menghentikan produksi Dalam jangka panjang, mendorong perusahaan untuk keluar dari industri Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 156.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 3 Keputusan penutupan usaha bergantung pada apakah penerimaan bisa menutup biaya variabel Jika penerimaan bisa diusahakan melampaui biaya variabel, laba operasi ( operating profit ) bisa menutup biaya tetap dan mengurangi kerugian Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 157.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 4 Ketika harga berada di bawah titik minimum (juga merupakan perpotongan dengan biaya marjinal, dan disebut juga titik penutupan usaha - shut-down point ) dari kurva biaya variabel rata-rata: Penerimaan total lebih kecil dari biaya variabel total Laba operasi menjadi negatif Perusahaan akan tutup Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 158.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 5 Di semua harga di atas titik penutupan usaha, kurva MC memperlihatkan tingkat output yang memaksimalkan laba Di semua harga di bawah titik penutupan usaha, output jangka pendek optimal sama dengan nol Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 159.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 6 Kurva penawaran jangka pendek ( short-run supply curve ) adalah bagian dari kurva biaya marjinal yang berada di atas kurva biaya variabel rata-rata Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 160.
    KONDISI JANGKA PENDEKDAN ARAH JANGKA PANJANG 7 Bergesernya kurva penawaran industri disebabkan oleh: Dalam kondisi jangka pendek, perubahan biaya marjinal secara industri Dalam kondisi jangka panjang, perusahaan yang masuk ke atau keluar dari industri Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 161.
    BIAYA JANGKA PANJANG:SKALA EKONOMIS DAN DISEKONOMIS 1 Peningkatan skala produksi yang: Menurunkan biaya rata-rata, disebut skala penghasilan meningkat ( increasing returns to scale ) atau skala ekonomis ( economics of scale ) Tidak mengubah biaya rata-rata, disebut skala penghasilan konstan Meningkatkan biaya rata-rata, disebut skala penghasilan menurun ( decreasing returns to scale ) atau skala disekonomis ( diseconomics of scale ) Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 162.
    BIAYA JANGKA PANJANG:SKALA EKONOMIS DAN DISEKONOMIS 2 Kurva biaya rata-rata jangka panjang (LRAC - long-run average cost curve ) menunjukkan biaya sesuai variasi skala dalam jangka panjang Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 163.
    PENYESUAIAN JANGKA PANJANGTERHADAP JANGKA PENDEK 1 Laba jangka pendek dalam industri menyebabkan: Masuknya perusahaan baru Ekspansi perusahaan Bergesernya kurva penawaran industri ke kanan, sehingga harga turun dan akhirnya menghapus laba tersebut Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 164.
    PENYESUAIAN JANGKA PANJANGTERHADAP JANGKA PENDEK 2 Kerugian jangka pendek dalam industri menyebabkan: Keluarnya perusahaan Penurunan skala perusahaan Bergesernya kurva penawaran industri ke kiri, sehingga harga naik dan akhirnya menghapus kerugian tersebut Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 165.
    PENYESUAIAN JANGKA PANJANGTERHADAP JANGKA PENDEK 3 Ekuilibrium persaingan jangka panjang ( long run competitive equilibrium ) tercapai ketika: P = SRMC = SRAC = LRAC Laba sama dengan nol Penerbit Erlangga BAB 9 Biaya Jangka Panjang dan Keputusan Output
  • 166.
    10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 167.
    PASAR INPUT: KONSEP DASAR 1 Permintaan input adalah permintaan turunan , karena bergantung pada permintaan output Produktivitas adalah ukuran jumlah output produksi per unit input Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 168.
    PASAR INPUT: KONSEP DASAR 2 MRP adalah produk marjinal input dikali harga output Produk penerimaan marjinal (MRP) dari input variabel adalah penerimaan tambahan yang dihasilkan perusahaan melalui satu unit input tambahan, ceteris paribus Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 169.
    PASAR TENAGA KERJA1 Peningkatan upah mungkin menyebabkan perusahaan mensubstitusikan tenaga kerja terhadap modal, yang mengakibatkan penurunan kuantitas yang diminta dari tenaga kerja Inilah efek substitusi faktor dari peningkatan upah Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 170.
    PASAR TENAGA KERJA2 Peningkatan upah meningkatkan biaya, yang mengakibatkan penurunan output dan permintaan dari semua input (salah satunya tenaga kerja) Inilah efek output dari peningkatan upah Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 171.
    PASAR TANAH 1Penawaran tanah sangat tetap, maka harga tanah bersifat demand determined Artinya, harga tanah ditentukan sepenuhnya oleh jumlah uang yang siap dibayarkan oleh rumah tangga dan perusahaan Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 172.
    PASAR TANAH 2Hasil dari semua faktor produksi dalam penawaran tetap disebut sewa murni Pembayaran dan pemakaian tanah bergantung pada penerimaan dari produk yang dihasilkan perusahaan di atas tanah tersebut Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 173.
    PEMAKSIMALAN LABA DALAMPASAR INPUT Semua perusahaan terdorong untuk memakai input variabel, selama penerimaan yang dihasilkan input tersebut menutup biayanya (kondisi ini disebut kondisi pemaksimalan laba ) Kondisi ini berlaku untuk semua faktor di semua tingkat output Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 174.
    ALOKASI SUMBER DAYADAN BAURAN OUTPUT KOMPETITIF Harga faktor tertentu pada ekuilibrium di pasar kompetitif sama dengan produk penerimaan marjinalnya, maka distribusi pendapatan rumah tangga akan memiliki ketergantungan terhadap produktivitas relatif dari faktor-faktor Inilah teori produktivitas marjinal Penerbit Erlangga BAB 10 Permintaan Input: Pasar Tenaga Kerja dan Tanah
  • 175.
    11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 176.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 1 Dalam sistem pasar kapitalis, keputusan penanaman modal bagi usaha tertentu diambil oleh perseorangan dengan menanggung risiko atas tabungan untuk mencari keuntungan pribadi Transaksi ini terjadi melalui seperangkat lembaga yang disebut pasar modal ( capital market ) Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 177.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 2 Barang modal ( capital good ) adalah produksi dari sistem ekonomi yang dipakai sebagai input dari produksi barang dan jasa di masa depan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 178.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 3 Modal fisik atau berwujud ( tangible ) meliputi: Bangunan non perumahan Peralatan tahan lama Struktur perumahan Persediaan Modal tak berwujud ( nonmaterial atau intangible ) meliputi: Sumber daya manusia ( human capital ) Goodwill Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 179.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 4 Modal sosial atau infrastruktur adalah modal yang berperan sebagai layanan kepada masyarakat Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 180.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 5 Dimensi terpenting dari modal adalah ketahanannya melalui waktu Karenanya, nilai modal sama dengan nilai jasa yang dihasilkannya sepanjang waktu tertentu Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 181.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 6 Ukuran persediaan modal ( capital stock ) umum meliputi: Nilai pasar dari pabrik Peralatan Persediaan Aset tak berwujud di masa kini Tapi, penting adanya untuk menelaah modal berdasarkan persediaan aktualnya alih-alih nilai moneternya saja Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 182.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 7 Dalam ilmu ekonomi, investasi berarti penciptaan modal baru alih-alih pembelian saham atau obligasi Investasi berperan sebagai aliran yang meningkatkan persediaan modal Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 183.
    MODAL, INVESTASI, DAN DEPRESIASI 8 Depresiasi adalah penurunan nilai ekonomis dari aset sepanjang berjalannya waktu Aset modal bisa terdepresiasi karena: Usang secara fisik Ketinggalan zaman Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 184.
    PASAR MODAL 1 Pendapatan modal ( capital income ) adalah pendapatan dari tabungan yang ditanamkan melalui pasar modal keuangan ( financial capital market ) Bentuk penting dari pendapatan modal: Bunga ( interest ), imbalan atas penundaan konsumsi rumah tangga Laba, imbalan atas inovasi dan risiko wirausahawan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 185.
    PASAR MODAL 2 Dalam masyarakat industri modern, keputusan investasi (produksi modal) diambil oleh perusahaan Rumah tangga memutuskan jumlah pendapatan yang dijadikan tabungan , yang dalam jangka panjang membatasi jumlah investasi oleh perusahaan Pasar modal mengarahkan tabungan menjadi proyek investasi menguntungkan Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 186.
    PERMINTAAN MODAL BARUDAN KEPUTUSAN INVESTASI 1 Sebelum berinvestasi, investor mengevaluasi ekspektasi aliran jasa produktif masa depan dari proyek investasi terkait Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 187.
    PERMINTAAN MODAL BARUDAN KEPUTUSAN INVESTASI 2 Bunga bagi peminjam menghadirkan biaya oportunitas bagi setiap proyek investasi Biaya oportunitas ini dipertimbangkan terhadap ekspektasi aliran penghasilan dari proyek terkait Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 188.
    PERMINTAAN MODAL BARUDAN KEPUTUSAN INVESTASI 3 Kurva permintaan investasi menunjukkan permintaan modal sebagai fungsi tingkat bunga Proyek yang didanai harus memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi daripada tingkat bunga pasar Tingkat bunga yang rendah seharusnya mendorong investasi Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 189.
    PERMINTAAN MODAL BARUDAN KEPUTUSAN INVESTASI 4 Perusahaan kompetitif sempurna yang memaksimalkan laba akan berinvestasi dalam modal baru sampai ekspektasi tingkat pengembalian sama dengan tingkat bunga Penerbit Erlangga BAB 11 Permintaan Input: Pasar Modal dan Keputusan Investasi
  • 190.
    12 Ekuilibrium Umumdan Efisiensi Persaingan Sempurna Penerbit Erlangga BAGIAN 2 Dasar-dasar Mikroekonomi: Konsumen dan Perusahaan
  • 191.
    ANALISIS EKUILIBRIUM UMUM1 Perusahaan dan rumah tangga menentukan pilihan di pasar input dan pasar output secara serentak, misalnya: Harga input menentukan biaya output dan mempengaruhi keputusan penawaran output Upah tenaga kerja mempengaruhi kepututsan penawaran tenaga kerja, pendapatan, dan jumlah output yang bisa dan memang dibeli oleh rumah tangga Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 192.
    ANALISIS EKUILIBRIUM UMUM2 Ekuilibrium umum adalah kondisi ekuilibrium bagi seluruh pasar perekonomian secara serentak Kejadian yang mengganggu ekuilibrium di satu pasar mungkin menggangu ekuilibrium di pasar yang lain Ekuilibrium parsial bisa menyesatkan, karena hanya melibatkan penyesuaian di satu pasar secara terisolasi Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 193.
    EFISIENSI ALOKATIF DANEKUILIBRIUM KOMPETITIF 1 Perekonomian efisien adalah perekonomian yang memproduksi barang dan jasa yang diinginkan oleh masyarakat dengan biaya serendah mungkin Perubahan efisien menguntungkan satu pihak tanpa merugikan pihak yang lain Sistem efisien ( Pareto optimal ) tidak memungkinkan perubahan efisien Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 194.
    EFISIENSI ALOKATIF DANEKUILIBRIUM KOMPETITIF 2 Perubahan efisien secara potensial adalah perubahan yang menguntungkan satu pihak sementara merugikan pihak yang lain, tapi terbukti bahwa keuntungannya melebihi kerugiannya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 195.
    EFISIENSI ALOKATIF DANEKUILIBRIUM KOMPETITIF 3 Asumsi persaingan sempurna menghasilkan alokasi sumber daya yang efisien (optimal Pareto), yang dibuktikan dengan: Alokasi sumber daya efisien antar perusahaan Distribusi produk efisien antar rumah tangga Produksi yang sesuai keinginan masyarakat Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 196.
    EFISIENSI ALOKATIF DANEKUILIBRIUM KOMPETITIF 4 Kesimpulan bahwa alokasi sumber daya antar perusahaan bersifat efisien diambil dari asumsi: Pasar faktor produksi bersifat kompetitif dan terbuka Semua perusahaan membayar harga input yang sama Semua perusahaan memaksimalkan laba Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 197.
    EFISIENSI ALOKATIF DANEKUILIBRIUM KOMPETITIF 5 Kesimpulan bahwa distribusi produk akhir antar rumah tangga bersifat efisien diambil dari asumsi: Setiap orang memiliki selera dan preferensi berbeda, serta membeli barang yang berbeda dalam kombinasi yang berbeda pula Setiap orang berbelanja di pasar yang sama, sehingga tidak ada redistribusi output yang menguntungkan orang-orang tertentu Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 198.
    SUMBER KEGAGALAN PASAR1 Industri kompetitif tak sempurna memiliki satu perusahaan yang mengontrol harga dan persaingan, di mana output lebih sedikit dan harga lebih tinggi daripada di persaingan terbuka Bentuk persaingan tak sempurna antara lain: Monopoli Persaingan monopolistis Oligopoli Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 199.
    SUMBER KEGAGALAN PASAR2 Barang publik atau barang sosial memiliki manfaat kolektif bagi masyarakat, sehingga: Semua orang bisa menikmatinya Perusahaan swasta tidak merasakan keuntungan darinya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 200.
    SUMBER KEGAGALAN PASAR3 Eksternalitas adalah biaya atau manfaat ysng dikenakan terhadap perseorangan atau kelompok yang berada di luar (eksternal dari) transaksi yang terjadi Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 201.
    SUMBER KEGAGALAN PASAR4 Informasi tak sempurna adalah kebalikan dari asumsi informasi sempurna yang mendasari efisiensi pasar, di mana: Pembeli memiliki informasi kualitas dan harga produk Perusahaan memiliki informasi kualitas dan harga input Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 202.
    MENGEVALUASI MEKANISMEPASAR Kegagalan atau inefisiensi pasar dianggap banyak pihak sebagai justifikasi terhadap eksistensi pemerintah dan kebijakannya dalam meredistribusi biaya dan pendapatan atas dasar efisiens, ekuitas, atau kedua-duanya Penerbit Erlangga BAB 12 Ekuilibrium Umum dan Efisiensi Persaingan Sempurna
  • 203.
    BAGIAN 3 KETIDAKSEMPURNAANPASAR DAN PERAN PEMERINTAH Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan Keuangan Publik: Perekonomian Pajak Penerbit Erlangga CASE FAIR Prinsip-prinsip Ekonomi edisi 8 jilid 1
  • 204.
    13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
  • 205.
    PERSAINGAN TAK SEMPURNA DAN KEKUATAN PASAR 1 Monopoli murni adalah industri berisi perusahaan dengan produk yang tidak memiliki substitusi dekat dan terdapat hambatan untuk memasuki industri tersebut Ada banyak hambatan masuk , antara lain: Waralaba dan lisensi dari pemerintah Kepemilikan atas faktor produksi langka Paten Skala ekonomis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 206.
    PERSAINGAN TAK SEMPURNA DAN KEKUATAN PASAR 2 Kekuatan pasar memerlukan empat keputusan alih-alih tiga: Seberapa banyak komoditas yang diproduksi Bagaimana cara memproduksinya Seberapa banyak permintaan di tiap pasar input Berapa harga yang akan dikenakan pada output Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 207.
    PERSAINGAN TAK SEMPURNA DAN KEKUATAN PASAR 3 Kekuatan pasar tidak berarti kebebasan menentukan harga berapapun Monopoli tetap dibatasi oleh permintaan pasar Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 208.
    KEPUTUSAN HARGA DANOUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI 1 Dalam pasar monopoli, perusahaan sama dengan industri Pelaku monopoli tidak memiliki kurva penawaran, karena mereka memilih satu titik pada kurva permintaan pasar Pelaku monopoli akan: Membatasi output Menetapkan harga lebih tinggi Menghasilkan laba positif Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 209.
    KEPUTUSAN HARGA DANOUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI 2 Bagi pelaku monopoli: Peningkatan output tidak hanya memperbanyak barang, tapi juga menurunkan harga output tersebut Maka, penerimaan marjinal tidak sama dengan harga produk melainkan lebih rendah Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 210.
    KEPUTUSAN HARGA DANOUTPUT DALAM MONOPOLI MURNI 3 Dalam jangka pendek, pelaku monopoli juga dibatasi oleh faktor produksi tetap Dalam jangka panjang, pelaku monopoli yang tidak menghasilkan cukup penerimaan untuk menutup biaya juga akan keluar dari bisnis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 211.
    BIAYA SOSIAL MONOPOLI1 Penetapan harga melampaui biaya marjinal menyebabkan inefisiensi dari bauran output Penurunan laba konsumen lebih besar daripada laba monopolis, sehingga terjadi kerugian bersih dalam kesejahteraan sosial Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 212.
    BIAYA SOSIAL MONOPOLI2 Tindakan perusahaan dalam melindungi laba positif, disebut perilaku pencari rente Perilaku pencari rente mengkonsumsi sumber daya dan menambah biaya sosial, sehingga penurunan kesejahteraan sosial semakin drastis Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 213.
    DISKRIMINASI HARGA 1Diskriminasi harga adalah penetapan harga yang berbeda terhadap pembeli yang berbeda Motivasi diskriminasi harga adalah penetapan harga yang lebih tinggi terhadap konsumen tertentu akan menghasilkan laba lebih besar Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 214.
    DISKRIMINASI HARGA 2Diskriminasi harga sempurna adalah penetapan jumlah maksimum yang siap dibayar konsumen untuk setiap unit produk Diskriminasi harga sempurna ternyata memproduksi kuantitas yang efisien Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 215.
    MENGATASI MONOPOLI: KEBIJAKANANTITRUST Sikap pemerintah terhadap industri kompetitif tak sempurna: Pemerintah mendukung persaingan dan membatasi kekuatan pasar Pemerintah membatasi persaingan dalam mengatur industri Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 216.
    PENEGAKAN UNDANG-UNDANG ANTITRUSTKeluhan antitrust bisa dibawa ke pengadilan oleh warga negara perseorangan Pengadilan memperoleh wewenang untuk menjalankan penanggulangan terhadap pelanggaran undang-undang antitrust Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 217.
    MONOPOLI ALAMIAH Dimana perusahaan memperlihatkan skala konomis yang sangat besar, sehingga biaya rata-rata terus menurun bersama output, akan lebih efisien untuk hanya memiliki satu perusahaan dalam satu industri Hal ini disebut monopoli alamiah Penerbit Erlangga BAB 13 Monopoli dan Kebijaksanaan Antitrust
  • 218.
    14 Kompetisi Monopolistikdan Oligopoli Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
  • 219.
    KOMPETISI MONOPOLISTIK 1 Karakteristik dari industri kompetitif monopolistik: Ada banyak perusahaan Tidak ada hambatan masuk Diferensiasi produk Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 220.
    KOMPETISI MONOPOLISTIK 2 Karena tersedianya barang substitusi yang relatif baik, kompetitor monopolistik mencoba mencapai kekuatan pasar dengan diferensiasi produk Diferensiasi produk membuat perusahaan mampu menaikkan harga tanpa kehilangan semua permintaan Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 221.
    KOMPETISI MONOPOLISTIK 3 Perusahaan kompetitif monopolistis akhirnya menetapkan harga melampaui biaya marjinal Hal ini inefisien, sehingga jelas bahwa perusahaan kompetitif monopolistis tidak akan merealisasikan semua skala ekonomis yang tersedia Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 222.
    OLIGOPOLI 1 Oligopoli adalah industri yang didominasi beberapa perusahaan yang ukuran satuannya cukup besar untuk bisa mempengaruhi harga pasar Perusahaan yang berkolusi akan memaksimalkan laba dengan: Menetapkan harga yang disepakati Membatasi output dan membagi laba Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 223.
    OLIGOPOLI 2 ModelCournot atas oligopoli berdasarkan asumsi: Hanya ada dua perusahaan dalam industri (duopoli) Masing-masing perusahaan menentukan outputnya Kedua perusahaan memaksimalkan laba Model ini menyatakan bahwa tingkat output akhir oligopoli akan berada di antara tingkat output dari persaingan sempurna dan tingkat output dari monopoli Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 224.
    OLIGOPOLI 3 Kurvapermintaan yang membengkok mendeskripsikan harga industri oligopoli akan cenderung lebih stabil ketimbang harganya Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 225.
    OLIGOPOLI 4 Teoripermainan menganalisis perilaku perusahaan sebagai serangkaian perilaku strategis dan balasannya Teori ini membantu pemahaman atas oligopoli, tetapi dalilnya tidak lengkap dan tidak bisa menyimpulkan kecenderungan perilaku perusahaan oligopoli secara tersendiri Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 226.
    OLIGOPOLI 5 Pasaryang bisa diperebutkan dengan sempurna adalah pasar di mana perusahaan masuk atau keluar industri tanpa biaya Dalam pasar ini: Perusahaan harus memiliki modal bergerak Perusahaan oligopoi besar akhirnya berperilaku seperti kompetitor sempurna Penerbit Erlangga BAB 14 Kompetisi Monopolistik dan Oligopoli
  • 227.
    15 Eksternalitas, BarangPublik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
  • 228.
    EKSTERNALITAS 1 Eksternalitas adalah konsekuensi yang ditanggung pihak kedua atau ketiga yang tidak dipertimbangkan oleh pengambil keputusan Polusi adalah salah satu contoh umum dari eksternalitas Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 229.
    EKSTERNALITAS 2 Ketika biaya eksternal tidak dipertimbangkan, kita bisa terlibat dalam aktivitas produksi yang tidak “bernilai” Ketika manfaat eksternal tidak dipertimbangkan, kita bisa gagal melakukan aktivitas yang benar-benar “berguna” Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 230.
    EKSTERNALITAS 3 Mekanismealternatif untuk mengontrol eksternalitas, antara lain: Pajak dan subsidi dari pemerintah Tawar-menawar dan negosiasi pribadi Penanggulangan hukum Penjualan atau lelang atas hak mengenakan eksternalitas Regulasi langsung Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 231.
    BARANG PUBLIK/SOSIAL 1Barang publik bersifat: Nonrival dalam konsumsi , di mana manfaatnya tersebar secara kolektif antar anggota masyarakat atau kelompok Tanpa pengecualian , di mana manfaatnya tidak bisa dihalangi dari orang yang tidak membayar biayanya Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 232.
    BARANG PUBLIK/SOSIAL 2Tingkat penyediaan optimal dari barang publik dapat dicapai secara teoretis dengan mengetahui preferensi dari setipa warga negara Hipotesis Thiebout menyatakan bahwa bauran barang publik yang efisien terjadi ketika pajak dan harga perumahan atau tanah lokal mencerminkan preferensi konsumen sesuai dengan pasar barang pribadi Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 233.
    INFORMASI TAK SEMPURNAInformasi tak sempurna mengakibatkan pilihan yang tidak efisien atau salah Bahaya moral terjadi ketika satu pihak meneruskan biaya perilakunya kepada pihak lain Solusi atas masalah informasi: Pencarian informasi selama manfaat marjinalnya lebih besar daripada biaya marjinalnya Penyebaran informasi oleh pemerintah Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 234.
    PILIHAN SOSIAL Karenatidak mungkin untuk mengetahui preferensi setiap orang, kita terpaksa mengandalkan mekanisme pilihan sosial tak sempurna (misalnya suara mayoritas) Keterlibatan pemerintah tidak selalu menghasilkan efisiensi, karena pemerintah juga bisa gagal Penerbit Erlangga BAB 15 Eksternalitas, Barang Publik, Informasi Tak-Sempurna, dan Pilihan Sosial
  • 235.
    16 Distribusi Pendapatandan Kemiskinan Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
  • 236.
    BATAS KEMUNGKINAN UTILITASMeskipun pasar efisien sempurna, hasilnya masih mungkin menjadi tidak adil Dalam perekonomian relatif bebas pun, pemerintah meredistribusikan pendapatan dan kekayaan Karena utilitas tidak bisa dilihat atau diukur, kebijakan menempatkan distribusi pendapatan dan kekayaan sebagai substitusi tak sempurna terhadap “konsep distribusi kesejahteraan” Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
  • 237.
    SUMBER PENDAPATAN RUMAH TANGGA Sumber pendapatan rumah tangga antara lain: Upah atau gaji tenaga kerja (64%) Hak milik seperti modal atau tanah (22%) Pemerintah (13%) Perbedaan pendapatan upah dan gaji disebabkan: Perbedaan karakteristik pekerja Perbedaan jenis pekerjaan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
  • 238.
    DISTRIBUSI PENDAPATAN Distribusipendapatan pada umumnya tetap stabil dalam waktu yang lama Kurva Lorenz mendeskripsikan distribusi pendapatan Koefisien Gini mengindeks ketidaksetaraan pendapatan Jumlah orang miskin selalu naik-turun seiring waktu Data distribusi kekayaan tidak cocok untuk dipakai sebagai data distribusi pendapatan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
  • 239.
    DEBAT REDISTRIBUSI Argumenpenentang redistribusi menyatakan bahwa orang berhak untuk mendapatkan apa yang dihasilkan oleh usahanya sendiri Argumen pendukung redistribusi menyatakan bahwa masyarakat kaya wajib secara moral untuk menyediakan kebutuhan dasar kehidupan Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
  • 240.
    KEBIJAKAN DAN PROGRAMREDISTRIBUSI Redistribusi dicapai dengan: Perpajakan Program tunjangan pemerintah Penerbit Erlangga BAB 16 Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
  • 241.
    17 Keuangan Publik:Perekonomian Pajak Penerbit Erlangga BAGIAN 3 Ketidaksempurnaan Pasar dan Peran Pemerintah
  • 242.
    ILMU EKONOMI PERPAJAKAN 1 Pajak akhirnya dibayar oleh masyarakat, walaupun dikenakan terhadap transaksi, lembaga, properti, dsb Dasar dari pajak adalah undang-undang atau nilai pengenaan pajak Struktur tingkat dari pajak menentukan porsi dasar yang harus dibayarkan dalam bentuk pajak Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 243.
    ILMU EKONOMI PERPAJAKAN 2 Pajak proporsional bersifat konstan Pajak progresif menuntut proporsi tinggi dari pendapatan tinggi Pajak regresif adalah kebalikan dari pajak progresif, menuntut proporsi rendah dari pendapatan tinggi Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 244.
    ILMU EKONOMI PERPAJAKAN 3 Tingkat pajak rata-rata adalah total jumlah pajak dibayar dibagi pendapatan total Tingkat pajak marjinal adalah tingkat pajak dibayar pada tiap kenaikan pendapatan Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 245.
    ILMU EKONOMI PERPAJAKAN 4 Prinsip manfaat yang diterima menyatakan bahwa masyarakat berkewajiban menanggung beban pajak yang proporsional terhadap manfaat yang diterimanya dari pengeluaran pemerintah Prinsip kemampuan membayar menyatakan bahwa beban pajak harus sejalan dengan kemampuan membayar Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 246.
    INSIDEN PAJAK Insidenpajak mengacu pada distribusi akhir dari beban pajak Pajak mengubah perilaku, perubahan perilaku bisa mengubah penawaran dan permintaan, yang lalu mengubah harga sehingga ada yang untung dan ada yang rugi (hal ini disebut beban akhir pajak ) Pergeseran pajak terjadi ketika rumah tangga bisa mengubah perilakunya dan menghindari pajak Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 247.
    BEBAN BERLEBIH DAN PRINSIP NETRALITAS Ketika pajak mengganggu keputusan ekonomi, pajak mengenakan beban yang secara agregat melebihi penerimaan pemerintah Jumlah kelebihan pajak atas penerimaan yang dikumpulkan pemerintah disebut beban berlebih Prinsip netralitas menetapkan bahwa pajak efisien tidak mengganggu keputusan ekonomi, prinsip kedua terbaik menyatakan bahwa pajak yang mengganggu keputusan ekonomi tidak memiliki beban berlebih Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 248.
    MENGHITUNG BEBAN BERLEBIH Beban berlebih dari pajak sama dengan surplus konsumen sebelum pajak dikurangi pajak total yang dikumpulkan pemerintah Penerbit Erlangga BAB 17 Keuangan Publik: Perekonomian Pajak
  • 249.
    CASE FAIR Prinsip-prinsipEkonomi edisi 8 jilid 1 Penerbit Erlangga