IMPLEMENTA
SI
KURIKULUM
MERDEKA
RITA HANDAYANI, S.Pd
Kepala Sekolah
Tingkatkan
Kompetensi
dengan belajar
mandiri melalui
PMM
Tujuan
Memahami struktur Kurikulum Merdeka dan penerapannya
di tingkat satuan pendidikan
KURIKULUM MERDEKA:
Karakteristik apa dari Kurikulum
Merdeka yang diharapkan dapat
memulihkan pembelajaran?
Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus semakin menguatkan
pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi
kurikulum secara lebih komprehensif
Rancangan dan
Implementasi Kurikulum Saat Ini:
Arah Perubahan Kurikulum:
Struktur kurikulum yang kurang fleksibel, jam
pelajaran ditentukan per minggu
Materi terlalu padat sehingga tidak cukup waktu
untuk melakukan pembelajaran yang mendalam
dan yang sesuai dengan tahap perkembangan
peserta didik
Materi pembelajaran yang tersedia kurang
beragam sehingga guru kurang leluasa dalam
mengembangkan pembelajaran kontekstual
Teknologi digital belum digunakan secara
sistematis untuk mendukung proses belajar guru
melalui berbagi praktik baik
Struktur kurikulum yang lebih fleksibel, jam
pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu
tahun
Fokus pada materi yang esensial, Capaian
Pembelajaran diatur per fase, bukan per tahun
Memberikan keleluasaan bagi guru
menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai
kebutuhan dan karakteristik peserta didik
Aplikasi yang menyediakan berbagai referensi
bagi guru untuk dapat terus mengembangkan
praktik mengajar secara mandiri dan berbagi
praktik baik.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
1. Lebih
Sederhana dan
Mendalam
Fokus pada materi yang esensial dan
pengembangan kompetensi peserta didik
pada fasenya. Belajar menjadi lebih
mendalam, bermakna, tidak terburu-buru
dan menyenangkan.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
2. Lebih
Merdeka
Peserta didik: Tidak ada program peminatan
di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran
sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.
Guru: Guru mengajar sesuai tahap
capaian dan perkembangan
peserta didik.
Satuan pendidikan: memiliki wewenang
untuk mengembangkan dan mengelola
kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan
karakteristik satuan pendidikan dan peserta
didik.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
3. Lebih Relevan
dan Interaktif
Pembelajaran melalui kegiatan
projek memberikan
kesempatan lebih luas kepada
peserta didik untuk secara
aktif mengeksplorasi isu-isu
aktual misalnya isu
lingkungan, kesehatan, dan
lainnya untuk mendukung
pengembangan karakter dan
kompetensi Profil Pelajar
Pancasila.
Kesiapan satuan pendidikan untuk mengimplementasi kurikulum berbeda-
beda, terutama dalam situasi Pandemi COVID-19. Menyadari kompleksitas
tersebut, maka:
2
1
Pemerintah tidak mewajibkan
satuan pendidikan untuk
mengimplementasikan Kurikulum
Merdeka
Implementasi Kurikulum
Merdeka dapat disesuaikan
dengan kesiapan masing-
masing satuan pendidikan
Sumber: Kepmendikbudristek Nomor 56 Tahun
2022
Dalam pemulihan pembelajaran, sekarang sekolah diberikan
kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih
Pilihan 1
Kurikulum 2013
Secara penuh
Pilihan 2
Kurikulum Darurat
yaitu Kurikulum 2013 yang
disederhanakan
Pilihan 3
Kurikulum Merdeka
Untuk satuan pendidikan yang memilih Kurikulum Merdeka, implementasinya
dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing
Satuan pendidikan menentukan pilihan berdasarkan Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe
yang mengukur kesiapan guru dan tenaga kependidikan. Tidak ada pilihan yang paling benar, yang ada
pilihan yang paling sesuai kesiapan satuan pendidikan. Semakin sesuai maka semakin efektif implementasi
Kurikulum Prototipe.
Pilihan 3: Mandiri Berbagi
Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan
mengembangkan sendiri berbagai perangkat
ajar di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7
dan 10.
Pilihan 1: Mandiri Belajar
Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum
Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan
yang sedang diterapkan.
Pilihan 2: Mandiri berubah
Menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat
ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD,
kelas 1, 4, 7 dan 10.
Angket Kesiapan Implementasi
Kurikulum Merdeka dapat diakses
melalui:
https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/
Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar
serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas
pendidikan.
● Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan
pembelajaran, kurikulum operasional sekolah, serta
modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar
Pancasila disediakan melalui platform digital/PMM
bagi guru. Satuan pendidikan dapat melakukan
pengadaan buku teks secara mandiri dengan BOS
reguler atas dukungan Pemda dan yayasan
● Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS
melalui SIPLah atau cetak mandiri
01
Penyediaa
n
Perangkat
ajar: buku
teks dan
bahan ajar
pendukun
g
Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar
serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas
pendidikan.
02
Pelatihan
dan
penyediaan
sumber
belajar
guru, kepala
sekolah,
dan pemda
● Pelatihan mandiri bagi guru dan kepala
sekolah melalui micro learning di aplikasi digital.
● Menyediakan berbagai narasumber dalam
pelatihan Kurikulum Merdeka. Misalnya, melalui
pengimbasan dari Sekolah Penggerak.
● Berbagai sumber belajar untuk guru dalam bentuk
e-book, video, podcast dll., yang dapat diakses
daring dan didistribusikan melalui media
penyimpanan (flashdisk).
● Guru membentuk komunitas belajar untuk saling
berbagi praktik baik dalam adopsi Kurikulum
Merdeka, baik di satuan pendidikan maupun di
komunitasnya
Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar
serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas
pendidikan.
03
Jaminan
jam
mengajar
dan
tunjangan
profesi
guru
● Perubahan struktur mata pelajaran tidak
merugikan guru
● Semua guru yang berhak mendapatkan
tunjangan profesi ketika menggunakan
Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak
tersebut
Perangkat ajar merupakan berbagai bahan ajar (tidak hanya buku teks) yang
digunakan untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran
Modul projek penguatan profil pelajar
Pancasila dengan tema Bhineka
Tunggal Ika untuk Fase A
Modul ajar Bahasa Indonesia
untuk Fase D (SMP)
Buku teks mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan
untuk kelas X
TOPIK 2
KURIKULUM MERDEKA
STRUKTUR KURIKULUM
Apa kekhasan dari
Kurikulum Merdeka?
Struktur Kurikulum
Pendidikan Anak Usía Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
1. Pembelajaran intrakurikuler. Kegiatan
pembelajaran intrakurikuler untuk setiap
mata pelajaran mengacu pada capaian
pembelajaran.
2. Projek penguatan profil pelajar Pancasila.
Kegiatan khusus yang ditujukan untuk
memperkuat upaya pencapaian profil pelajar
Pancasila yang mengacu pada Standar
Kompetensi Lulusan.
Secara pengelolaan waktu pelaksanaan,
projek dapat dilaksanakan dengan
menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari
semua mata pelajaran dan jumlah total
waktu pelaksanaan masing-masing projek
tidak harus sama.
Alokasi waktu untuk setiap projek penguatan
profil pelajar Pancasila tidak harus sama.
Satu projek dapat dilakukan dengan durasi
waktu yang lebih panjang daripada projek
yang lain.
Muatan Lokal
Satuan pendidikan menambahkan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai
dengan karakteristik daerah. Satuan pendidikan dapat menambahkan muatan tambahan sesuai
karakteristik satuan pendidikan secara fleksibel, melalui 3 (tiga) pilihan sebagai berikut:
1. Mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain;
2. Mengintegrasikan ke dalam tema projek penguatan profil pelajar Pancasila; dan/atau
3. Mengembangkan mata pelajaran yang berdiri sendiri.
Struktur Kurikulum SD
Struktur kurikulum SD/MI dibagi menjadi 3 (tiga) Fase:
a. Fase A untuk Kelas I dan Kelas II;
b. Fase B untuk Kelas III dan Kelas IV; dan
c. Fase C untuk Kelas V dan Kelas VI.
Satuan pendidikan SD/MI dapat mengorganisasikan
muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata
pelajaran atau tematik. Proporsi beban belajar di SD/MI
terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:
a. pembelajaran intrakurikuler; dan
b. projek penguatan profil pelajar Pancasila,
dialokasikan sekitar 20% (dua puluh persen)
beban belajar per-tahun.
Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar
Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik muatan
maupun waktu pelaksanaan. Secara muatan,
projek harus mengacu pada capaian profil pelajar
Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan
tidak harus dikaitkan dengan capaian
pembelajaran pada mata pelajaran. Secara
pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat
dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam
pelajaran projek penguatan profil pelajar Pancasila
dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu
pelaksanaan masing-masing projek tidak harus
sama.
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu
1 JP = 35 menit
Alokasi per
tahun
(minggu)
Alokasi
Projek
per tahun
TOTAL JP
PER TAHUN
Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Katolik dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Buddha dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180
Bahasa Indonesia 216 (6) 72 288
Matematika 144 (4) 36 180
PJOK 108 (3) 36 144
Seni dan Budaya**:
o Seni Musik
o Seni Rupa
o Seni Teater
o Seni Tari
108 (3) 36 144
Bahasa Inggris*** 72 (2) - 72
* Diikuti oleh peserta didik sesuai
dengan agama/kepercayaan
masing-masing.
** Satuan pendidikan menyediakan
minimal 1 (satu) jenis seni (Seni
Musik, Seni Rupa, Seni Teater,
dan/atau Seni Tari). Peserta didik
memilih 1 (satu) jenis seni (Seni
Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau
Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu atau
72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk mata
pelajaran Bahasa Inggris, Muatan
Lokal, dan/atau mata pelajaran
tambahan yang diselenggarakan
oleh satuan pendidikan.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas I
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu
1 JP = 35 menit
Alokasi
pertahun
(minggu)
Alokasi Projek
per tahun
TOTAL JP PER
TAHUN
Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Katolik dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Buddha dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180
Bahasa Indonesia 252 (7) 72 324
Matematika 180 (5) *** 36 216
PJOK 108 (3) 36 144
Seni dan Budaya**:
o Seni Musik
o Seni Rupa
o Seni Teater
o Seni Tari
108 (3) 36 144
Bahasa Inggris*** 72 (2) - 72
* Diikuti oleh peserta didik sesuai
dengan agama/kepercayaan
masing-masing.
** Satuan pendidikan
menyediakan minimal 1 (satu)
jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa,
Seni Teater, dan/atau Seni Tari).
Peserta didik memilih 1 (satu)
jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa,
Seni Teater, atau Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu
atau 72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk mata
pelajaran Bahasa Inggris, Muatan
Lokal, dan/atau mata pelajaran
tambahan yang diselenggarakan
oleh satuan pendidikan.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas II
* Diikuti oleh peserta didik
sesuai dengan
agama/kepercayaan masing-
masing.
** Satuan pendidikan
menyediakan minimal 1 (satu)
jenis seni (Seni Musik, Seni
Rupa, Seni Teater, dan/atau
Seni Tari). Peserta didik
memilih 1 (satu) jenis seni
(Seni Musik, Seni Rupa, Seni
Teater, atau Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu
atau 72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk
mata pelajaran Bahasa
Inggris, Muatan Lokal,
dan/atau mata pelajaran
tambahan yang
diselenggarakan oleh satuan
pendidikan.
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu
1 JP = 35 menit
Alokasi per
tahun
(minggu)
Alokasi Projek
per tahun
TOTAL JP
PER TAHUN
Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Katolik dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Buddha dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekerti*
108 (3) 36 144
Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180
Bahasa Indonesia 216 (6) 36 252
Matematika 180 (5) 36 216
IPAS 180 (5) 36 216
PJOK 108 (3) 36 144
Seni dan Budaya**:
o Seni Musik
o Seni Rupa
o Seni Teater
108 (3) 36 144
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III-V
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu K13 Program Sekolah Penggerak
Per
Minggu Alokasi per tahun
(minggu)
Alokasi Projek
per tahun
Total JP Per
Tahun
Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Katolik dan Budi
Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Buddha dan Budi
Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekerti*
4
108 (3) 36 144
Pendidikan Pancasila 6 144 (4) 36 180
Bahasa Indonesia 10 216 (6) 36 252
Matematika 6 180 (5) 36 216
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial - 180 (5) 36 216
Pendidikan Jasmani Olahraga dan
kesehatan
-
108 (3) 36 144
Pilihan minimal 1:
a) Seni Musik, b) Seni Rupa, c) Seni
4
108 (3) 36 144
****Jam pelajaran
kelas 3 SD mengalami
peningkatan, mengikuti
struktur kelas 4 karena
IPAS dimulai di kelas 3
***opsional. Satuan
Pendidikan dapat
mengintegrasikan
muatan lokal dalam
mapel lain atau
diajarkan melalui
kegiatan projek.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III - V
KURIKULUM OPERASIONAL SATUAN PENDIDIKAN:
Bagaimana menyusun pedoman
penyelenggaraan pembelajaran
sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan satuan pendidikan?
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
Kurikulum operasional yang dikembangkan menunjukkan kesesuaian
dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, satuan
pendidikan, dan daerah. Dalam mengembangkan dan mengelola
kurikulum operasional, satuan pendidikan sebaiknya melibatkan
seluruh pemangku kepentingan, termasuk siswa, komite sekolah, dan
masyarakat.
Pemerintah menyediakan contoh-contoh kurikulum operasional
sekolah yang dapat dimodifikasi, dijadikan contoh, atau rujukan
untuk satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum
operasionalnya.
Prinsip pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan
1. Berpusat pada peserta didik, yaitu pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan
tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua tahapan dalam
penyusunan kurikulum operasional sekolah
2. Kontekstual, menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan
lingkungan, serta dunia kerja dan industri (khusus SMK), dan menunjukkan karakteristik atau kekhususan peserta didik
berkebutuhan khusus (khusus SLB)
3. Esensial, yaitu memuat semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan pendidikan.
Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami
4. Akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual
5. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan
pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia
kerja untuk SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.
Komponen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri
atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian
pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran.
Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat
menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah,
dan cukup melampirkan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/modul ajar
atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran pada bagian
Lampiran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan format dan sistematika
penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan.
Kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah
pusat
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
Struktur Kurikulum
Capaian Pembelajaran
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Merumuskan
VISI
MISI
TUJUAN
Menganalisis konteks
KARAKTERISTIK
SATUAN
PENDIDIKAN
Menentukan
PENGORGANISASIAN
PEMBELAJARAN
Menyusun
RENCANA
PEMBELAJARAN
TETAP
Ditetapkan oleh pemerintah pusat
FLEKSIBEL/DINAMI
S
Satuan pendidikan
mengembangkan kurikulum
operasional berdasarkan
kerangka dan struktur
kurikulum, sesuai karakteristik
dan kebutuhan satuan
pendidikan
. .
1
2
3
4
Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan Secara Umum
SNP
Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
Sebelum mengembangkan kurikulum satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis
karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota komunitas, dan
menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan.
Prinsip-prinsip analisis lingkungan belajar:
● Melibatkan perwakilan warga satuan pendidikan
● Menggunakan data-data yang diperoleh dari situasi nyata/kondisi satuan pendidikan
● Mengalokasikan waktu yang cukup untuk pengumpulan, pengorganisasian, analisis dan
dokumentasi data
● Memilah informasi yang relevan dan menyimpulkan untuk mengembangkan strategi atau
solusi
Contoh informasi yang perlu didapatkan dalam analisis lingkungan belajar satuan pendidikan:
● Apa kekhasan daerah setempat yang penting untuk dilestarikan?
● Bagaimana peran satuan pendidikan sebagai bagian dari masyarakat setempat?
● Apa dampak dari satuan pendidikan yang sudah dapat dirasakan saat ini (baik oleh warga
masyarakat maupun warga satuan pendidikan itu sendiri)?
● Bagaimana peran satuan pendidikan dalam menyiapkan peserta didik mencapai profil Pelajar
Pancasila?
● [SMK] Apa potensi daerah dan kondisi dunia kerja yang relevan?
Berikut adalah pilihan cara untuk
mengumpulkan informasi
● Kuesioner, dengan pertanyaan
disesuaikan dengan tujuan dan sasaran
yang dibutuhkan.
● Wawancara, untuk mendapatkan data
secara langsung.
● Diskusi kelompok terpumpun (FGD)
dengan mengundang perwakilan dari
seluruh warga satuan pendidikan dan
tokoh masyarakat.
● Observasi
● Rapor pendidikan, terkait mutu dan
hasil belajar, kompetensi dan kinerja
guru dan tenaga kependidikan, mutu
dan relevansi pembelajaran
Beberapa alat yang dapat digunakan untuk
menganalisis informasi:
● Analisis SWOT
● Root Cause
● Fish Bone
Bagaimana pengelolaan pembelajaran
bisa dilakukan di satuan pendidikan?
Bahasa Inggris
Seni Musik
IPAS
Pembelajaran tematik
● Pembelajaran tematik diibaratkan gado-
gado, dimana bermacam bahan
dicampur namun masih dapat dipilah
● Jadwal disusun berdasarkan mata
pelajaran tetapi kegiatan pembelajaran
dijalankan dengan merujuk pada tema
yang sudah ditentukan
● Pembelajaran tematik disusun dengan
cara menyusun TP yang sesuai dengan
tema
● Saat perencanaan pembelajaran guru
dan wakil kepala sekolah bidang
kurikulum melihat CP dan
mengidentifikasi tema- tema yang bisa
menjadi fokus pembelajaran
Contoh desain pembelajaran tematik fase C
Sumber daya
alam lokal untuk
menjaga
kesehatan dalam
keseharian
menulis teks deskripsi mengenai
satu sumber daya alam dari
daerahnya yg bisa dimanfaatkan
untuk kesehatan masyarakat.
siswa bertanya kepada narasumber
mengenai jenis-jenis sumber daya alam
lokal (sebisa mungkin yang masih
mudah dijumpai oleh siswa) yang
dimanfaatkan untuk kesehatan. Dari
informasi yang didapat, siswa dapat
mendiskusikan cara kerja sistem tubuh
secara sederhana (sistem pernapasan
atau pencernaan dan mendiskusikan
cara-cara untuk menjaga kesehatan
sistem tersebut
siswa belajar memainkan
alat musik dari daerah
lokal yang menggunakan
bahan yang diambil dari
alam sekitarnya. Siswa
juga berdiskusi mengenai
peran bermusik dalam
kesehatan emosi
(memberikan
ketenangan/menghibur)
Bahasa Indonesia
siswa membuat pertanyaan untuk
diajukan kepada narasumber
mengenai jenis-jenis sumber daya
alam lokal Siswa mencatat
informasi yang didapat secara
terstruktur (belajar membuat tabel
atau diagram) dan berdiskusi untuk
membuat cara
mengkomunikasikan informasi
tersebut.
Desain Pembelajaran berbasis Mapel
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
07.00 -
07.35
Matematika Bahasa Indonesia Matematika IPAS PJOK
07.35 -
08.05
Matematika Bahasa Indonesia Matematika IPAS Bahasa Inggris
08.05 -
08.40
Seni dan Budaya Muatan lokal Matematika Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Bahasa Inggris
08.40 -
09.00
istirahat
09.00 -
09.35
Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
PJOK IPAS Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Seni dan Budaya
09.35 -
10.10
Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
PJOK IPAS Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Seni dan Budaya
10.10 -
10.45
Pendidikan
Pancasila
Pendidikan
Pancasila
IPAS Bahasa Indonesia Agama dan Budi
Pekerti
10.45 -
11.05
istirahat
11.05 - Pendidikan Pendidikan Projek penguatan Bahasa Indonesia
Contoh jadwal pembelajaran berbasis mata pelajaran
Untuk pembelajaran tematik, dapat menggunakan contoh jadwal yang sama namun setiap materi di mata pelajaran
konteksnya dikaitkan dengan tema
Pembelajaran integratif
● Pembelajaran integratif diibaratkan jus, di mana bermacam bahan
dilebur dan sudah tidak dapat dipilah
● Pembelajaran integratif berfokus membangun pemahaman
terhadap satu ide besar (konsep)
● Saat perencanaan pembelajaran guru dan wakil kepala sekolah
bidang kurikulum melihat TP dan merancang sebuah ide besar
(konsep) yang menjadi tujuan akhir proses pembelajaran
● Jadwal disusun dengan meleburkan beberapa mata pelajaran,
sehingga sudah menjadi satu unit pembelajaran integratif
Contoh desain unit
integratif fase B
IPAS
Elemen keterampilan proses:
● Merencanakan dan melakukan penyelidikan. Dengan panduan, peserta
didik membuat rencana dan melakukan langkah-langkah operasional untuk
menjawab pertanyaan yang diajukan. Menggunakan alat dan bahan yang
sesuai dengan mengutamakan keselamatan. Peserta didik menggunakan
alat bantu pengukuran untuk mendapatkan data yang akurat.
● Memproses, menganalisis data dan informasi. Mengorganisasikan data
dalam bentuk tabel dan grafik sederhana untuk menyajikan data dan
mengidentifikasi pola. Peserta didik membandingkan antara hasil
pengamatan dengan prediksi dan memberikan alasan yang bersifat ilmiah.
Ide utama /konsep:
Rancangan dan cara penyampaian
sebuah pesan menentukan efektivitas
penyampaiannya
Asesmen (performance task) :
Menyampaikan pesan untuk
mempromosikan gaya hidup sehat.
Siswa merancang media dan pesan
inti yang perlu disampaikan dalam
serangkaian kegiatan kampanye
hidup sehat.
Mata pelajaran yang terintegrasi:
IPAS, Bahasa Indonesia, PPKN
Bahasa Indonesia Pendidikan
Pancasila
Elemen Menyimak:
Peserta didik mampu
memahami ide pokok
(gagasan) suatu pesan
lisan, informasi dari
media audio, teks aural
(teks yang dibacakan
dan/atau didengar), dan
instruksi lisan yang
berkaitan dengan tujuan
berkomunikasi. Peserta
didik mampu
memahami dan
memaknai teks narasi
yang dibacakan atau
dari media audio.
Elemen Membaca &
Memirsa:
Peserta didik mampu
memahami pesan dan
informasi tentang
kehidupan sehari-hari,
teks narasi, dan puisi
anak dalam bentuk
cetak atau elektronik.
Peserta didik mampu
memahami ide pokok
dan ide pendukung
pada teks informasional
dan mampu
menjelaskan
permasalahan yang
dihadapi oleh tokoh
cerita pada teks narasi.
Peserta didik mampu
menambah kosakata
baru dari teks yang
Elemen Berbicara &
Mempresentasikan:
Peserta didik mampu
berbicara dengan
pilihan kata dan sikap
tubuh/gestur yang
santun, menggunakan
volume dan intonasi
yang tepat sesuai
konteks; mengajukan
dan menanggapi
pertanyaan dalam suatu
percakapan dan diskusi
dengan lebih aktif.
Peserta didik mampu
mengungkapkan
gagasan dalam suatu
percakapan dan diskusi
dengan menerapkan
tata caranya. Peserta
didik mampu
Peserta didik dapat
mengenal identitas
dirinya dan teman-
temannya sesuai
budaya, minat, dan
perilakunya; cara
berkomunikasi dengan
mereka; mengenali
karakteristik fisik dan
non-fisik orang dan
benda yang ada di
lingkungan sekitarnya;
serta memahami bahwa
kebinekaan dapat
memberikan
kesempatan untuk
mendapatkan
pengalaman dan
pemahaman yang baru.
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
07.00 -
07.35
Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Muatan lokal Agama dan Budi
Pekerti
07.35 -
08.05
Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Matematika Bahasa Inggris
08.05 -
08.40
Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Matematika Bahasa Inggris
08.40 -
09.00
istirahat
09.00 -
09.35
Matematika Unit integratif Muatan lokal Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Unit integratif
09.35 -
10.10
Matematika Unit integratif Agama dan Budi
Pekerti
Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Unit integratif
10.10 -
10.45
Matematika Unit integratif Agama dan Budi
Pekerti
Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Unit integratif
10.45 -
11.05
istirahat
11.05 -
11.40
Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
PJOK Projek penguatan
profil pelajar
Pancasila
Unit integratif
11.40 - Projek penguatan PJOK Projek penguatan Unit integratif
Contoh jadwal pembelajaran berbasis mata pelajaran
Pembelajaran berbasis mata pelajaran
Pembelajaran berbasis mata pelajaran diibaratkan makanan dengan
lauk yang terpisah
Pembelajaran berbasis mata pelajaran bertujuan mencapai Capaian
Pembelajaran di masing-masing mata pelajaran
Saat perencanaan pembelajaran guru dan wakil kepala sekolah
bidang kurikulum melihat TP dan merancang asesmen dan kegiatan
untuk setiap mata pelajaran
Jadwal disusun berdasarkan mata pelajaran tetapi kegiatan
pembelajaran dijalankan dengan merujuk pada tema yang sudah
ditentukan
Contoh desain pembelajaran berbasis mata pelajaran
Bahasa Indonesia IPAS PPKN
CP Elemen Menyimak:
Peserta didik mampu memahami
ide pokok (gagasan) suatu pesan
lisan, informasi dari media audio,
teks aural (teks yang dibacakan
dan/atau didengar), dan instruksi
lisan yang berkaitan dengan tujuan
berkomunikasi. Peserta didik
mampu memahami dan memaknai
teks narasi yang dibacakan atau
dari media audio
CP elemen keterampilan proses:
● Merencanakan dan melakukan
penyelidikan. Dengan
panduan, peserta didik
membuat rencana dan
melakukan langkah-langkah
operasional untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Menggunakan alat dan bahan
yang sesuai dengan
mengutamakan keselamatan.
Peserta didik menggunakan
alat bantu pengukuran untuk
mendapatkan data yang
akurat.
● Memproses, menganalisis
data dan informasi.
Mengorganisasikan data dalam
bentuk tabel dan grafik
sederhana untuk menyajikan
data dan mengidentifikasi pola.
Peserta didik dapat mengenal
identitas dirinya dan teman-
temannya sesuai budaya, minat,
dan perilakunya; cara
berkomunikasi dengan mereka;
mengenali karakteristik fisik dan
non-fisik orang dan benda yang
ada di lingkungan sekitarnya; serta
memahami bahwa kebinekaan
dapat memberikan kesempatan
untuk mendapatkan pengalaman
dan pemahaman yang baru.
Bahasa Indonesia IPAS PPKN
Tujuan pembelajaran: Peserta didik
menyimak dengan saksama,
memahami instruksi yang lebih
kompleks, memahami dan memaknai
ide pokok dalam teks audiovisual dan
teks aural (teks yang dibacakan) yang
sesuai jenjangnya.
Asesmen: Merancang media
penyampaian pesan
Kegiatan pembelajaran
● Mengamati berbagai media
penyampaian pesan, contoh: video,
poster, artikel pendek dan
mengidentifikasi ide / pesan yang
disampaikan
● Mendiskusikan media yang paling
efektif dalam menyampaikan pesan
● Mencari data di sekolah untuk
mengetahui media apa yang paling
disukai teman-temannya
Tujuan Pembelajaran: mendesain
kuesioner sederhana,
mengorganisasikan data
Asesmen: membuat kuesioner
sederhana
Kegiatan pembelajaran:
● Penjelasan ttg bentuk dan fungsi
kuesioner
● Membuat pertanyaan untuk
kuesioner
● Merancang kuesioner secara
berkelompok
Tujuan Pembelajaran: Memahami
pengaruh budaya dengan cara
berkomunikasi
Asesmen: membuat salindia ttg
pengaruh budaya tertentu dengan
cara berkomunikasi
Kegiatan pembelajaran:
● Membaca jigsaw: bagaimana
budaya dapat mempengaruhi gaya
berkomunikasi
● Diskusi: apa yang kamu ketahui
tentang karakteristik kelompok
masyarakat di sekolah?
● Brainstorm: bagaimana cara
berkomunikasi yang paling sesuai
untuk masyarakat sekolah?
Contoh desain pembelajaran berbasis mata pelajaran
BAGAIMANA GURU
MENGGUNAKAN DAN
MEMILIH PERANGKAT AJAR
YANG TEPAT?
Perangkat ajar :
Prinsip Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Prinsip pembelajaran sebagai berikut:
a. pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian
peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan
perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan
menyenangkan;
b. pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar
sepanjang hayat;
c. proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara
holistik;
d. pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan
budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra; dan
e. pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
Prinsip Asesmen
Asesmen atau penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Prinsip asesmen sebagai berikut:
a. asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi pembelajaran, dan
penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik untuk pendidik, peserta didik, dan
orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran
selanjutnya;
b. asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan
keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif
mencapai tujuan pembelajaran;
c. asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk
menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah dan sebagai dasar
untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai selanjutnya;
d. laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif,
memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai,
serta strategi tindak lanjut; dan
e. hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang
tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
1. Asesmen di awal pembelajaran dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya
digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik. Pada pendidikan khusus,
asesmen diagnostik dilaksanakan sebelum perencanaan pembelajaran sebagai rujukan untuk menyusun Program
Pembelajaran Individual (PPI).
2. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan kegiatan pembelajaran dan perangkat ajar
sesuai dengan tujuan pembelajaran, konteks satuan pendidikan, dan karakteristik peserta didik.
3. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan jenis, teknik, bentuk instrumen, dan waktu
pelaksanaan asesmen berdasarkan karakteristik tujuan pembelajaran.
4. Apabila pendidik menggunakan modul ajar yang disediakan pemerintah dan/atau membuat modul ajar merujuk pada modul
ajar yang disediakan pemerintah, maka pendidik tersebut dapat menggunakan modul ajar sebagai dokumen perencanaan
pembelajaran, dengan komponen sekurang-kurangnya terdiri dari tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran,
dan asesmen yang digunakan untuk memantau ketercapaian tujuan pembelajaran.
5. Untuk SMK, mitra dunia kerja dapat mendukung pembelajaran, asesmen, dan uji kompetensi yang selaras dengan prinsip-
prinsip asesmen.
6. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen pada mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan (PKL) di SMK
dilaksanakan secara kolaboratif oleh satuan pendidikan dan mitra dunia kerja.
Perencanaan serta Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen
Perangkat Ajar
Perangkat ajar merupakan berbagai bahan ajar yang digunakan oleh pendidik dalam upaya
mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran.
Perangkat ajar meliputi buku teks pelajaran, modul ajar, modul projek penguatan profil pelajar
Pancasila, contoh-contoh kurikulum operasional satuan pendidikan, video pembelajaran, serta
bentuk lainnya. Pendidik dapat menggunakan beragam perangkat ajar dari berbagai sumber.
Perangkat ajar dapat langsung digunakan pendidik untuk mengajar ataupun sebagai referensi
atau inspirasi dalam merancang pembelajaran.
Modul Ajar
Modul ajar merupakan dokumen yang berisi tujuan, langkah, dan media pembelajaran, serta
asesmen yang dibutuhkan dalam satu unit/topik berdasarkan alur tujuan pembelajaran.
Pendidik memiliki keleluasaan untuk membuat sendiri, memilih, dan memodifikasi modul ajar
yang tersedia sesuai dengan konteks, karakteristik, serta kebutuhan peserta didik.
Pemerintah menyediakan contoh-contoh modul ajar yang dapat dijadikan inspirasi untuk satuan
pendidikan. Pendidik yang menggunakan modul ajar yang disediakan Pemerintah tidak perlu lagi
menyusun perencanaan pembelajaran/RPP/modul ajar.
Penyediaan Perangkat ajar: buku teks dan bahan ajar
pendukung
Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan pembelajaran, kurikulum
operasional sekolah, serta modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila
disediakan melalui platform digital bagi guru. Sekolah dapat melakukan pengadaan
buku teks secara mandiri dengan BOS reguler atas dukungan Pemda dan yayasan
Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS melalui SIPLah atau cetak mandiri
1. Satuan pendidikan menyiapkan pelaporan hasil belajar (rapor) peserta
didik.
2. Rapor peserta didik PAUD meliputi komponen identitas peserta didik,
nama satuan pendidikan, kelompok usia, semester, tinggi badan dan
berat badan, deskripsi perkembangan capaian pembelajaran, dan
refleksi orang tua.
3. Rapor peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK atau
sederajat meliputi komponen identitas peserta didik, nama satuan
pendidikan, kelas, semester, mata pelajaran, nilai, deskripsi, catatan
guru, presensi, dan kegiatan ekstrakurikuler.
4. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan
mekanisme dan format pelaporan hasil belajar kepada orang tua/wali.
5. Pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK atau sederajat,
satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk
menentukan deskripsi dalam menjelaskan makna nilai yang diperoleh
peserta didik.
Pelaporan Kemajuan Belajar
6. Pelaporan hasil belajar disampaikan sekurang-
kurangnya pada setiap akhir semester.
7. Satuan pendidikan menyampaikan rapor peserta
didik secara berkala melalui e rapor/dapodik
8. Pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau
sederajat, satuan pendidikan memiliki keleluasaan
untuk menentukan kriteria kenaikan kelas dengan
mempertimbangkan:
a. laporan kemajuan belajar;
b. laporan pencapaian projek penguatan profil pelajar
Pancasila;
c. portofolio peserta didik;
d. paspor keterampilan (skill passport) dan rekognisi
pembelajaran lampau peserta didik untuk SMK
e. prestasi akademik dan non-akademik;
f. ekstrakurikuler;
g. penghargaan peserta didik; dan
h. tingkat kehadiran.
Format
Laporan
Hasil
Belajar
Untuk dimasukkan ke Dapodik
Kesimpulan
● Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik secara
muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek profil harus mengacu pada
capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan
capaian pembelajaran pada mata pelajaran.
● Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam
pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing
projek tidak harus sama.
● Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri
atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian
pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk
menentukan format dan sistematika penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan.
● Perangkat ajar meliputi buku teks pelajaran, modul ajar, modul projek penguatan profil pelajar
Pancasila, contoh-contoh kurikulum operasional satuan pendidikan, video pembelajaran, serta
bentuk lainnya. Pendidik dapat menggunakan beragam perangkat ajar dari berbagai sumber.
Perangkat ajar dapat langsung digunakan pendidik untuk mengajar ataupun sebagai referensi atau
inspirasi dalam merancang pembelajaran
Karakteristik Kurikulum di Setiap Jenjang
PAUD SD SMP SMA SMK SLB
Kegiatan
bermain
sebagai
pendekatan
belajar yang
utama
Penguatan
literasi dini
dan
penanaman
karakter dapat
melalui
kegiatan
bermain-
belajar
berbasis buku
bacaan anak
Fase Fondasi
untuk
meningkatkan
kesiapan
bersekolah
Pembelajaran
berbasis
projek untuk
penguatan
profil Pelajar
Penguatan
kompetensi yang
mendasar dan
pemahaman
holistik:
• Untuk memahami
lingkungan
sekitar, mata
pelajaran IPA dan
IPS digabungkan
sebagai mata
pelajaran Ilmu
Pengetahuan
Alam dan Sosial
(IPAS)
• Integrasi
computational
thinking dalam
mata pelajaran
Bahasa
Indonesia,
Matematika, dan
IPAS
• Bahasa Inggris
sebagai mata
pelajaran pilihan
Pembelajaran
Penyesuaian
dengan
perkembanga
n teknologi
digital, mata
pelajaran
Informatika
menjadi mata
pelajaran
wajib
Panduan
untuk guru
Informatika
disiapkan
untuk
membantu
guru-guru
pemula,
sehingga guru
mata
pelajaran
tidak harus
berlatar
belakang
pendidikan
informatika
Pembelajaran
berbasis
Program peminatan/
penjurusan tidak
diberlakukan
Di kelas 10 pelajar
menyiapkan diri
untuk menentukan
pilihan mata
pelajaran di kelas 11.
Mata pelajaran yang
dipelajari serupa
dengan di SMP
Di kelas 11 dan 12
pelajar mengikuti
mata pelajaran dari
Kelompok Mapel
Wajib, dan memilih
mata pelajaran dari
kelompok MIPA, IPS,
Bahasa, dan
Keterampilan Vokasi
sesuai minat,
bakat, dan
aspirasinya
Pembelajaran
berbasis projek
untuk penguatan
profil Pelajar
Dunia kerja dapat
terlibat dalam
pengembangan
pembelajaran
Struktur lebih
sederhana dengan dua
kelompok mata
pelajaran, yaitu Umum
dan Kejuruan.
Persentase kelompok
kejuruan meningkat
dari 60% ke 70%
Penerapan
pembelajaran berbasis
projek dengan
mengintegrasikan mata
pelajaran terkait.
Praktek Kerja Lapangan
(PKL) menjadi mata
pelajaran wajib
minimal 6 bulan (1
semester).
Pelajar dapat memilih
mata pelajaran di luar
program keahliannya
Capaian
pembelajaran
pendidikan khusus
dibuat hanya untuk
yang memiliki
hambatan
intelektual
Untuk pelajar di SLB
yang tidak memiliki
hambatan
intelektual, capaian
pembelajarannya
sama dengan sekolah
reguler yang
sederajat, dengan
menerapkan prinsip
modifikasi kurikulum
Sama dengan pelajar
di sekolah reguler,
pelajar di SLB juga
menerapkan
pembelajaran
berbasis projek
untuk menguatkan
Pelajar Pancasila
dengan mengusung
tema yang sama
Jika Siswa tidak bisa belajar dengan
cara guru mengajar maka guru
harus mengajar dengan cara siswa
belajar.
Bagaimana strategi Kemendikbudristek dalam implementasi Kurikulum
Merdeka?
55
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
5. Guru dan kepala sekolah memanfaatkan
Pusat Layanan Bantuan (Helpdesk) untuk
mendapatkan informasi lebih
4. Guru dan kepala sekolah belajar praktik
baik melalui narasumber yang sudah
direkomendasikan
3. Guru dan kepala sekolah belajar
Kurikulum Merdeka di dalam komunitas
belajar
1. Guru dan kepala sekolah belajar mandiri
melalui Platform Merdeka Mengajar
2. Guru dan kepala sekolah belajar
Kurikulum Merdeka dengan mengikuti Seri
Webinar
6 STRATEGI /
DUKUNGAN
KEMENDIKBUDRISTE
K DALAM IKM*
SECARA MANDIRI
6. Guru dan kepala sekolah bekerja sama
dengan mitra pembangunan untuk
implementasi Kurikulum Merdeka
*Implementasi Kurikulum
Merdeka
56
Platform Merdeka Mengajar
Helpdesk (Pusat Layanan Bantuan)
Mitra
pembangunan
parsial
Seri Webinar
pendampingan
bimtek cara belajar
sosialisasi dan bimtek
belajar bersama
Ekosistem Implementasi Kurikulum Merdeka
1
2
5
6
4
3
Pusat UPT Dinas Pendidikan Satuan Pendidikan
koordinasi
Komunitas belajar
Penyediaan narasumber
57
Secara umum, strategi Satuan Pendidikan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka
1.Platform Merdeka Mengajar
(PMM) adalah wadah di mana guru
dan kepala satuan pendidikan bisa
mempelajari bagaimana
memahami Kurikulum Merdeka,
dengan cara mengakses pelatihan
mandiri, mengakses dokumen
Kurikulum Merdeka, perangkat
ajar, asesmen, serta praktik baik.
2. Untuk memperkuat
pemahaman terkait Kurikulum
Merdeka,guru dan kepala satuan
pendidikan dapat mengikuti Seri
Webinar yang membahas
seputar Kurikulum Merdeka.
3. Strategi Komunitas Belajar
merupakan strategi yang
memberdayakan dan
menguatkan ekosistem guru.
Pada komunitas belajar, guru
dapat saling belajar,
mengkonfirmasi pemahaman
dan diskusi dari bahan PMM,
webinar, atau panduan, serta
berbagi praktik baik.
6. Bagi wilayah atau satuan
pendidikan yang berada di
bawah binaan mitra
pembangunan, guru dan kepala
satuan pendidikan dapat
menjadikan mitra pembangunan
sebagai fasilitator belajar yang
dapat membantu dalam
menerapkan Kurikulum Merdeka
5. Pusat Layanan Bantuan
(Helpdesk) dapat guru atau
kepala satuan pendidikan akses
untuk mendapatkan jawaban
yang tepat dan cepat jika
mendapat kendala atau hal yang
tidak ditemukan solusinya dalam
panduan, PMM, komunitas
belajar, atau FAQ yang tersedia.
4. Untuk memperoleh inspirasi
tentang bagaimana penerapan
Kurikulum Merdeka, guru, kepala
satuan pendidikan, atau
penggerak komunitas dapat
mengundang narasumber untuk
berbagi praktik baik ke
komunitas belajar maupun ke
satuan pendidikan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Guru dan kepala sekolah belajar
mandiri melalui Platform Merdeka
Mengajar
1
Bagaimana Platform Merdeka Mengajar (PMM) membantu guru dan kepala satuan pendidikan
dalam implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri?
BERKARYA
Bukti Karya
Guru dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling
berbagi inspirasi dan berkolaborasi.
BELAJAR
Pelatihan Mandiri
Guru dapat memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan
mengaksesnya secara mandiri, sehingga setiap guru mendapat
kualitas pelatihan yang sama.
Video Inspirasi
Guru bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk
mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas.
MENGAJAR
Perangkat Ajar
Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar (RPP,
modul ajar, modul projek, buku siswa) berbasis Kurikulum
Merdeka
Asesmen Murid
Membantu guru melakukan analisis awal literasi dan numerasi
dengan cepat sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang
sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
Asesmen ini bisa digunakan oleh semua mapel.
Mengapa harus melalui platform?
Setiap guru di seluruh
Indonesia mendapat
kesempatan mengakses
pelatihan yang sama dengan
kualitas yang sama
Setiap guru di
seluruh Indonesia
dapat saling berbagi
praktik baik dan
saling menginspirasi
di platform yang
sama
Setiap guru di seluruh Indonesia
dapat belajar sesuai dengan
kebutuhan dan kecepatan masing-
masing
Setiap guru di seluruh Indonesia
dapat mengakses beragam
perangkat ajar yang bisa dijadikan
contoh atau langsung dipakai
Setiap guru di
seluruh Indonesia
dapat saling
berjejaring antar
wilayah
Setiap guru di seluruh
Indonesia dapat
memiliki kesempatan
dokumen updated
Platform Merdeka Mengajar dapat digunakan melalui aplikasi di gawai Android atau melalui
laman situs
Akses melalui laman situs
https://guru.kemdikbud.go.id/
Unduh Aplikasi Merdeka Mengajar
untuk gawai Android di Google Play Store
Untuk dapat masuk ke beberapa produk Platform Merdeka Mengajar gunakan akun
Belajar.idatau madrasah.kemenag.go.id. Jika ada kesulitan atau perlu aktivasi, bisa mengunjungi laman belajar.id
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Guru dan kepala sekolah belajar
Kurikulum Merdeka dengan mengikuti
Seri Webinar
2
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Pengantar
Seri Webinar
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Semua guru dan kepala satuan pendidikan pelaksana IKM sebaiknya mengikuti:
SERI WEBINAR
Semua guru dan kepala satuan pendidikan yang ingin menguatkan pemahaman
mengenai kurikulum merdeka dapat mengikuti seri webinar. Yang dapat diakses di
media:
● Youtube
Untuk menonton Seri Webinar yang sudah tayang bisa dicek di playlist Seri
Webinar di Youtube
● PMM
Informasi webinar mengakses webinar yang sudah tayang bisa diakses di Aplikasi
PMM (tidak tersedia di web-based) fitur Info Terkini.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Guru dan kepala sekolah belajar
Kurikulum Merdeka di dalam
komunitas belajar
3
Komunitas belajar dalam implementasi Kurikulum Merdeka
Sumber gambar: https://aisa.or.ke/resources/professional-learning-communities/
● Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, komunitas belajar dapat
mendiskusikan dan menyelesaikan berbagai masalah
pembelajaran yang dihadapi saat implementasi Kurikulum
Merdeka, berbagi praktik baik, serta mengkonfirmasi
pemahaman.
● Bersifat inklusif, guru/ kepala satuan pendidikan mana pun bisa
tergabung (dari berbagai kategori IKM) dalam komunitas belajar,
Sekolah Penggerak/ SMK PK, atau satuan pendidikan yang
menerapkan K13/ Darurat, selama belajar bersama untuk
perbaikan pembelajaran.
● Tidak perlu membentuk baru, sangat dianjurkan untuk
mengaktivasi dan meng-’hidup’-kan komunitas yang sudah ada,
kecuali jika belum ada.
Tiga Jenis Komunitas Belajar
Komunitas Belajar
dalam Satuan
Pendidikan
Komunitas Belajar
Antar Satuan
Pendidikan
Komunitas
Belajar
Daring
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Apa yang bisa dilakukan dalam komunitas belajar?
Sumber gambar:
https://theconversation.com/online-learning-can-prepare-students-for-a-fast-changing-future-wherever-they-are-80497
https://agsci.oregonstate.edu/bioenergy-education-bioenergy-k-12-education/image-album/2017-winter-teacher-workshop
https://www.shutterstock.com/search/best+practice+sharing
jejaklombok.com
Belajar bersama melalui Platform Merdeka Mengajar
dan panduan kurikulum yang dikeluarkan BSKAP atau
webinar, mendiskusikannya, serta mengonfirmasi
pemahaman yang didapat oleh setiap anggota
komunitas
Berbagi praktik baik dan mencari
solusi bersama terkait pembelajaran.
Narasumber bisa berasal dari sekolah
penggerak/ SMK PK, atau sekolah IKM
mandiri yang sudah memiliki praktik
baik. Aktivitas ini perlu dilakukan
dengan diskusi sehingga
mengkonfirmasi apakah praktik yang
dilakukan sesuai dengan prinsip-
prinsip Kurikulum Merdeka
lokakarya/ in house training juga bisa
dilakukan komunitas belajar, seperti membuat/
memodifikasi modul ajar, modul projek,
strategi pembelajaran terdiferensiasi, asesmen,
dll. Kegiatan ini bisa menggunakan tutorial
yang ada di PMM, contoh praktik baik/
inspirasi yang diberikan pusat, atau
narasumber
Sudah Rilis di 22 Juni: fitur Komunitas Belajar di PMM
Guru dapat mendaftarkan komunitas
belajarnya di PMM dan mendapatkan
pelatihan Penggerak Komunitas secara
daring. Melalui produk Komunitas Belajar
bisa melakukan
Melihat daftar komunitas
Bergabung ke dalam group
sosial media milik komunitas
Mengikuti webinar yang
diselenggarakan oleh komunitas
yang telah diikuti
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Guru dan kepala sekolah belajar
praktik baik melalui narasumber yang
sudah direkomendasikan
4
71
Platform Merdeka Mengajar
Helpdesk (Pusat Layanan Bantuan)
Mitra
pembangunan
parsial
Seri Webinar
pendampingan
bimtek cara belajar
sosialisasi dan bimtek
belajar bersama
Ekosistem Implementasi Kurikulum Merdeka
1
2
5
6
4
3
Pusat UPT Dinas Pendidikan Satuan Pendidikan
koordinasi
Komunitas belajar
Penyediaan narasumber
TOPIK 3
PLATFORM MERDEKA
MENGAJAR
Bagaimana Pemerintah mendukung
kemerdekaan guru untuk menerapkan
Kurikulum Merdeka?
Penerapan Kurikulum Merdeka
didukung oleh Platform Merdeka
Mengajar.
Platform Merdeka Mengajar membantu
guru dalam mendapatkan referensi,
inspirasi, dan pemahaman untuk
menerapkan Kurikulum Merdeka.
Platform Merdeka Mengajar adalah platform edukasi yang menjadi teman
penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila
Platform Merdeka Mengajar menyediakan referensi bagi guru untuk
mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka
Perangkat Ajar
Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi
perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka
Asesmen Murid
Membantu guru melakukan analisis diagnostik
literasi dan numerasi dengan cepat sehingga
dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai
dengan tahap capaian dan perkembangan
peserta didik.
Pelatihan Mandiri
Guru dapat memperoleh materi pelatihan
berkualitas dengan mengaksesnya secara
mandiri
Video Inspirasi
Guru bisa mendapatkan beragam video
inspiratif untuk mengembangkan diri
dengan akses tidak terbatas.
Platform Merdeka Mengajar memberikan kesempatan yang setara bagi guru
untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di
mana pun
Platform Merdeka Mengajar mendorong guru untuk terus berkarya dan
menyediakan wadah berbagi praktik baik
Bukti Karya Saya
Guru dapat membangun portofolio hasil
karyanya agar dapat saling berbagi
inspirasi dan berkolaborasi.
Akses melalui
laman situs
https://guru.kemdi
kbud.go.id/
Unduh Aplikasi Merdeka
Mengajar
untuk gawai Android di
Google Play Store
Panduan implementasi kurikulum dan modul pelatihan akan disediakan dalam flash disk bagi
satuan pendidikan dan pendidik yang kesulitan untuk mengakses internet
INFORMASI & RUJUKAN:
Di mana informasi tentang Kurikulum
Merdeka yang lebih mendalam dan
menyeluruh dapat dipelajari?
Dokumen yang tersedia dalam Sistem Informasi Kurikulum Nasional (SIKN):
1. Sering Ditanyakan (FAQ)
2. Panduan-panduan Kurikulum Merdeka
a. Panduan Pengembangan Kurikulum
Operasional di Satuan Pendidikan
b. Pembelajaran Paradigma Baru
c. Panduan Pembelajaran dan Asesmen
d. Panduan Pengembangan Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila
e. Panduan Penyusunan Program
Pembelajaran Individual
f. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif
3. Kajian/Naskah Akademik
a. Kajian Pengembangan Profil Pelajar
Pancasila
b. Kajian Akademik Kurikulum untuk
Pemulihan Pembelajaran
c. Naskah Akademik Muatan Informatika
dalam Kurikulum 2013
4. Risalah Kebijakan
a. Dampak Penyederhanaan Kurikulum
Terhadap Pembelajaran
b. Praktik Menjanjikan Penerapan
Kurikulum Prototipe Pada Program
Sekolah Penggerak
Kesimpulan
Krisis pembelajaran merupakan
masalah yang berkepanjangan
di Indonesia, terjadi bahkan sejak
sebelum pandemi COVID-19, dan
diperparah dengan situasi
pembelajaran di masa pandemi.
Krisis ini ditunjukkan dengan
capaian hasil belajar yang relatif
rendah dibandingkan banyak
negara lain, serta kesenjangan
kualitas belajar yang nyata.
Kurikulum saja tidak cukup untuk
menjadi jalan keluar masalah
ketertinggalan pembelajaran
(learning loss). Namun karena
kurikulum mempengaruhi cara
pendidik bekerja, maka
penyesuaian kurikulum perlu
dilakukan bersama upaya-upaya
lainnya.
Kurikulum Merdeka
melanjutkan upaya
penyederhanaan kurikulum
yang diawali dengan
Kurikulum Darurat, juga upaya
penguatan karakter dan
kompetensi yang sudah dimulai
sejak kurikulum sebelumnya.
Secara garis besar, kebaruan
dari Kurikulum Merdeka adalah
adanya: (1) pembelajaran yang
lebih mendalam, tidak terburu-
buru, sehingga setiap peserta
didik dapat mencapai kompetensi
minimum; (2) pembelajaran
sesuai tahap capaian peserta
didik; dan (3) pembelajaran
melalui projek untuk penguatan
karakter dalam profil pelajar
Pancasila
Sebagai upaya pemulihan pembelajaran,
implementasi Kurikulum Merdeka tidak
diwajibkan.
Satuan pendidikan dapat memilih salah
satu dari 3 kurikulum: Kurikulum 2013,
kurikulum darurat, atau Kurikulum
Merdeka.
Untuk Kurikulum Merdeka, satuan
pendidikan dapat
mengimplementasikannya sesuai kesiapan
masing-masing.
Pemerintah menyediakan dukungan
kebijakan dan teknis, termasuk berbagai
sumber untuk guru dalam Platform
Merdeka Mengajar.
Pemerintah Daerah diharapkan
mendukung dan memfasilitasi satuan
pendidikan untuk menentukan pilihan
kurikulum, mempelajari Kurikulum
Merdeka, serta dalam proses
mengimplementasikannya sesuai filosofi
dari Kurikulum Merdeka ini.
Tumbuh kembangnya anak
diluar dari kodrat kita
sebagai pendidik
-Ki Hajar Dewantara-
Terima Kasih

PPT IKM.pptx

  • 1.
    IMPLEMENTA SI KURIKULUM MERDEKA RITA HANDAYANI, S.Pd KepalaSekolah Tingkatkan Kompetensi dengan belajar mandiri melalui PMM
  • 2.
    Tujuan Memahami struktur KurikulumMerdeka dan penerapannya di tingkat satuan pendidikan
  • 3.
    KURIKULUM MERDEKA: Karakteristik apadari Kurikulum Merdeka yang diharapkan dapat memulihkan pembelajaran?
  • 4.
    Efektivitas kurikulum dalamkondisi khusus semakin menguatkan pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih komprehensif Rancangan dan Implementasi Kurikulum Saat Ini: Arah Perubahan Kurikulum: Struktur kurikulum yang kurang fleksibel, jam pelajaran ditentukan per minggu Materi terlalu padat sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik Materi pembelajaran yang tersedia kurang beragam sehingga guru kurang leluasa dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual Teknologi digital belum digunakan secara sistematis untuk mendukung proses belajar guru melalui berbagi praktik baik Struktur kurikulum yang lebih fleksibel, jam pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu tahun Fokus pada materi yang esensial, Capaian Pembelajaran diatur per fase, bukan per tahun Memberikan keleluasaan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik Aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk dapat terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik.
  • 5.
    Keunggulan Kurikulum Merdeka 1.Lebih Sederhana dan Mendalam Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan.
  • 6.
    Keunggulan Kurikulum Merdeka 2.Lebih Merdeka Peserta didik: Tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Guru: Guru mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Satuan pendidikan: memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.
  • 7.
    Keunggulan Kurikulum Merdeka 3.Lebih Relevan dan Interaktif Pembelajaran melalui kegiatan projek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.
  • 8.
    Kesiapan satuan pendidikanuntuk mengimplementasi kurikulum berbeda- beda, terutama dalam situasi Pandemi COVID-19. Menyadari kompleksitas tersebut, maka: 2 1 Pemerintah tidak mewajibkan satuan pendidikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Implementasi Kurikulum Merdeka dapat disesuaikan dengan kesiapan masing- masing satuan pendidikan Sumber: Kepmendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022
  • 9.
    Dalam pemulihan pembelajaran,sekarang sekolah diberikan kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih Pilihan 1 Kurikulum 2013 Secara penuh Pilihan 2 Kurikulum Darurat yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan Pilihan 3 Kurikulum Merdeka
  • 10.
    Untuk satuan pendidikanyang memilih Kurikulum Merdeka, implementasinya dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing Satuan pendidikan menentukan pilihan berdasarkan Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe yang mengukur kesiapan guru dan tenaga kependidikan. Tidak ada pilihan yang paling benar, yang ada pilihan yang paling sesuai kesiapan satuan pendidikan. Semakin sesuai maka semakin efektif implementasi Kurikulum Prototipe. Pilihan 3: Mandiri Berbagi Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. Pilihan 1: Mandiri Belajar Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan. Pilihan 2: Mandiri berubah Menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Merdeka dapat diakses melalui: https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/
  • 11.
    Penerapan Kurikulum Merdekadidukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan. ● Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan pembelajaran, kurikulum operasional sekolah, serta modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila disediakan melalui platform digital/PMM bagi guru. Satuan pendidikan dapat melakukan pengadaan buku teks secara mandiri dengan BOS reguler atas dukungan Pemda dan yayasan ● Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS melalui SIPLah atau cetak mandiri 01 Penyediaa n Perangkat ajar: buku teks dan bahan ajar pendukun g
  • 12.
    Penerapan Kurikulum Merdekadidukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan. 02 Pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan pemda ● Pelatihan mandiri bagi guru dan kepala sekolah melalui micro learning di aplikasi digital. ● Menyediakan berbagai narasumber dalam pelatihan Kurikulum Merdeka. Misalnya, melalui pengimbasan dari Sekolah Penggerak. ● Berbagai sumber belajar untuk guru dalam bentuk e-book, video, podcast dll., yang dapat diakses daring dan didistribusikan melalui media penyimpanan (flashdisk). ● Guru membentuk komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik dalam adopsi Kurikulum Merdeka, baik di satuan pendidikan maupun di komunitasnya
  • 13.
    Penerapan Kurikulum Merdekadidukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan. 03 Jaminan jam mengajar dan tunjangan profesi guru ● Perubahan struktur mata pelajaran tidak merugikan guru ● Semua guru yang berhak mendapatkan tunjangan profesi ketika menggunakan Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak tersebut
  • 14.
    Perangkat ajar merupakanberbagai bahan ajar (tidak hanya buku teks) yang digunakan untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran Modul projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan tema Bhineka Tunggal Ika untuk Fase A Modul ajar Bahasa Indonesia untuk Fase D (SMP) Buku teks mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk kelas X
  • 15.
  • 16.
    STRUKTUR KURIKULUM Apa kekhasandari Kurikulum Merdeka?
  • 17.
    Struktur Kurikulum Pendidikan AnakUsía Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah 1. Pembelajaran intrakurikuler. Kegiatan pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran mengacu pada capaian pembelajaran. 2. Projek penguatan profil pelajar Pancasila. Kegiatan khusus yang ditujukan untuk memperkuat upaya pencapaian profil pelajar Pancasila yang mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan. Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama. Alokasi waktu untuk setiap projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu projek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada projek yang lain.
  • 18.
    Muatan Lokal Satuan pendidikanmenambahkan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan karakteristik daerah. Satuan pendidikan dapat menambahkan muatan tambahan sesuai karakteristik satuan pendidikan secara fleksibel, melalui 3 (tiga) pilihan sebagai berikut: 1. Mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain; 2. Mengintegrasikan ke dalam tema projek penguatan profil pelajar Pancasila; dan/atau 3. Mengembangkan mata pelajaran yang berdiri sendiri.
  • 19.
    Struktur Kurikulum SD Strukturkurikulum SD/MI dibagi menjadi 3 (tiga) Fase: a. Fase A untuk Kelas I dan Kelas II; b. Fase B untuk Kelas III dan Kelas IV; dan c. Fase C untuk Kelas V dan Kelas VI. Satuan pendidikan SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Proporsi beban belajar di SD/MI terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: a. pembelajaran intrakurikuler; dan b. projek penguatan profil pelajar Pancasila, dialokasikan sekitar 20% (dua puluh persen) beban belajar per-tahun. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik muatan maupun waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran. Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek penguatan profil pelajar Pancasila dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.
  • 20.
    Asumsi 1 Tahun= 36 minggu 1 JP = 35 menit Alokasi per tahun (minggu) Alokasi Projek per tahun TOTAL JP PER TAHUN Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180 Bahasa Indonesia 216 (6) 72 288 Matematika 144 (4) 36 180 PJOK 108 (3) 36 144 Seni dan Budaya**: o Seni Musik o Seni Rupa o Seni Teater o Seni Tari 108 (3) 36 144 Bahasa Inggris*** 72 (2) - 72 * Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing. ** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari). *** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun. **** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas I
  • 21.
    Asumsi 1 Tahun= 36 minggu 1 JP = 35 menit Alokasi pertahun (minggu) Alokasi Projek per tahun TOTAL JP PER TAHUN Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180 Bahasa Indonesia 252 (7) 72 324 Matematika 180 (5) *** 36 216 PJOK 108 (3) 36 144 Seni dan Budaya**: o Seni Musik o Seni Rupa o Seni Teater o Seni Tari 108 (3) 36 144 Bahasa Inggris*** 72 (2) - 72 * Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing. ** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari). *** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun. **** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas II
  • 22.
    * Diikuti olehpeserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing- masing. ** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari). *** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun. **** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Asumsi 1 Tahun = 36 minggu 1 JP = 35 menit Alokasi per tahun (minggu) Alokasi Projek per tahun TOTAL JP PER TAHUN Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* 108 (3) 36 144 Pendidikan Pancasila 144 (4) 36 180 Bahasa Indonesia 216 (6) 36 252 Matematika 180 (5) 36 216 IPAS 180 (5) 36 216 PJOK 108 (3) 36 144 Seni dan Budaya**: o Seni Musik o Seni Rupa o Seni Teater 108 (3) 36 144 Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III-V
  • 23.
    Asumsi 1 Tahun= 36 minggu K13 Program Sekolah Penggerak Per Minggu Alokasi per tahun (minggu) Alokasi Projek per tahun Total JP Per Tahun Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* 4 108 (3) 36 144 Pendidikan Pancasila 6 144 (4) 36 180 Bahasa Indonesia 10 216 (6) 36 252 Matematika 6 180 (5) 36 216 Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial - 180 (5) 36 216 Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan - 108 (3) 36 144 Pilihan minimal 1: a) Seni Musik, b) Seni Rupa, c) Seni 4 108 (3) 36 144 ****Jam pelajaran kelas 3 SD mengalami peningkatan, mengikuti struktur kelas 4 karena IPAS dimulai di kelas 3 ***opsional. Satuan Pendidikan dapat mengintegrasikan muatan lokal dalam mapel lain atau diajarkan melalui kegiatan projek. Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III - V
  • 24.
    KURIKULUM OPERASIONAL SATUANPENDIDIKAN: Bagaimana menyusun pedoman penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan?
  • 25.
    Kurikulum Operasional SatuanPendidikan Kurikulum operasional yang dikembangkan menunjukkan kesesuaian dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan daerah. Dalam mengembangkan dan mengelola kurikulum operasional, satuan pendidikan sebaiknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk siswa, komite sekolah, dan masyarakat. Pemerintah menyediakan contoh-contoh kurikulum operasional sekolah yang dapat dimodifikasi, dijadikan contoh, atau rujukan untuk satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum operasionalnya.
  • 26.
    Prinsip pengembangan kurikulumoperasional di satuan pendidikan 1. Berpusat pada peserta didik, yaitu pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah 2. Kontekstual, menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan, serta dunia kerja dan industri (khusus SMK), dan menunjukkan karakteristik atau kekhususan peserta didik berkebutuhan khusus (khusus SLB) 3. Esensial, yaitu memuat semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan pendidikan. Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami 4. Akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual 5. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja untuk SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.
  • 27.
    Komponen Kurikulum OperasionalSatuan Pendidikan Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran. Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup melampirkan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/modul ajar atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran pada bagian Lampiran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan format dan sistematika penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan.
  • 28.
    Kerangka dasar kurikulumyang ditetapkan oleh pemerintah pusat TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Struktur Kurikulum Capaian Pembelajaran Prinsip Pembelajaran dan Asesmen Merumuskan VISI MISI TUJUAN Menganalisis konteks KARAKTERISTIK SATUAN PENDIDIKAN Menentukan PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN Menyusun RENCANA PEMBELAJARAN TETAP Ditetapkan oleh pemerintah pusat FLEKSIBEL/DINAMI S Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan . . 1 2 3 4 Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan Secara Umum SNP
  • 29.
    Analisis Karakteristik SatuanPendidikan Sebelum mengembangkan kurikulum satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota komunitas, dan menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan. Prinsip-prinsip analisis lingkungan belajar: ● Melibatkan perwakilan warga satuan pendidikan ● Menggunakan data-data yang diperoleh dari situasi nyata/kondisi satuan pendidikan ● Mengalokasikan waktu yang cukup untuk pengumpulan, pengorganisasian, analisis dan dokumentasi data ● Memilah informasi yang relevan dan menyimpulkan untuk mengembangkan strategi atau solusi Contoh informasi yang perlu didapatkan dalam analisis lingkungan belajar satuan pendidikan: ● Apa kekhasan daerah setempat yang penting untuk dilestarikan? ● Bagaimana peran satuan pendidikan sebagai bagian dari masyarakat setempat? ● Apa dampak dari satuan pendidikan yang sudah dapat dirasakan saat ini (baik oleh warga masyarakat maupun warga satuan pendidikan itu sendiri)? ● Bagaimana peran satuan pendidikan dalam menyiapkan peserta didik mencapai profil Pelajar Pancasila? ● [SMK] Apa potensi daerah dan kondisi dunia kerja yang relevan? Berikut adalah pilihan cara untuk mengumpulkan informasi ● Kuesioner, dengan pertanyaan disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang dibutuhkan. ● Wawancara, untuk mendapatkan data secara langsung. ● Diskusi kelompok terpumpun (FGD) dengan mengundang perwakilan dari seluruh warga satuan pendidikan dan tokoh masyarakat. ● Observasi ● Rapor pendidikan, terkait mutu dan hasil belajar, kompetensi dan kinerja guru dan tenaga kependidikan, mutu dan relevansi pembelajaran Beberapa alat yang dapat digunakan untuk menganalisis informasi: ● Analisis SWOT ● Root Cause ● Fish Bone
  • 30.
    Bagaimana pengelolaan pembelajaran bisadilakukan di satuan pendidikan?
  • 31.
    Bahasa Inggris Seni Musik IPAS Pembelajarantematik ● Pembelajaran tematik diibaratkan gado- gado, dimana bermacam bahan dicampur namun masih dapat dipilah ● Jadwal disusun berdasarkan mata pelajaran tetapi kegiatan pembelajaran dijalankan dengan merujuk pada tema yang sudah ditentukan ● Pembelajaran tematik disusun dengan cara menyusun TP yang sesuai dengan tema ● Saat perencanaan pembelajaran guru dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum melihat CP dan mengidentifikasi tema- tema yang bisa menjadi fokus pembelajaran Contoh desain pembelajaran tematik fase C Sumber daya alam lokal untuk menjaga kesehatan dalam keseharian menulis teks deskripsi mengenai satu sumber daya alam dari daerahnya yg bisa dimanfaatkan untuk kesehatan masyarakat. siswa bertanya kepada narasumber mengenai jenis-jenis sumber daya alam lokal (sebisa mungkin yang masih mudah dijumpai oleh siswa) yang dimanfaatkan untuk kesehatan. Dari informasi yang didapat, siswa dapat mendiskusikan cara kerja sistem tubuh secara sederhana (sistem pernapasan atau pencernaan dan mendiskusikan cara-cara untuk menjaga kesehatan sistem tersebut siswa belajar memainkan alat musik dari daerah lokal yang menggunakan bahan yang diambil dari alam sekitarnya. Siswa juga berdiskusi mengenai peran bermusik dalam kesehatan emosi (memberikan ketenangan/menghibur) Bahasa Indonesia siswa membuat pertanyaan untuk diajukan kepada narasumber mengenai jenis-jenis sumber daya alam lokal Siswa mencatat informasi yang didapat secara terstruktur (belajar membuat tabel atau diagram) dan berdiskusi untuk membuat cara mengkomunikasikan informasi tersebut.
  • 32.
  • 33.
    Senin Selasa RabuKamis Jumat 07.00 - 07.35 Matematika Bahasa Indonesia Matematika IPAS PJOK 07.35 - 08.05 Matematika Bahasa Indonesia Matematika IPAS Bahasa Inggris 08.05 - 08.40 Seni dan Budaya Muatan lokal Matematika Projek penguatan profil pelajar Pancasila Bahasa Inggris 08.40 - 09.00 istirahat 09.00 - 09.35 Projek penguatan profil pelajar Pancasila PJOK IPAS Projek penguatan profil pelajar Pancasila Seni dan Budaya 09.35 - 10.10 Projek penguatan profil pelajar Pancasila PJOK IPAS Projek penguatan profil pelajar Pancasila Seni dan Budaya 10.10 - 10.45 Pendidikan Pancasila Pendidikan Pancasila IPAS Bahasa Indonesia Agama dan Budi Pekerti 10.45 - 11.05 istirahat 11.05 - Pendidikan Pendidikan Projek penguatan Bahasa Indonesia Contoh jadwal pembelajaran berbasis mata pelajaran Untuk pembelajaran tematik, dapat menggunakan contoh jadwal yang sama namun setiap materi di mata pelajaran konteksnya dikaitkan dengan tema
  • 34.
    Pembelajaran integratif ● Pembelajaranintegratif diibaratkan jus, di mana bermacam bahan dilebur dan sudah tidak dapat dipilah ● Pembelajaran integratif berfokus membangun pemahaman terhadap satu ide besar (konsep) ● Saat perencanaan pembelajaran guru dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum melihat TP dan merancang sebuah ide besar (konsep) yang menjadi tujuan akhir proses pembelajaran ● Jadwal disusun dengan meleburkan beberapa mata pelajaran, sehingga sudah menjadi satu unit pembelajaran integratif
  • 35.
    Contoh desain unit integratiffase B IPAS Elemen keterampilan proses: ● Merencanakan dan melakukan penyelidikan. Dengan panduan, peserta didik membuat rencana dan melakukan langkah-langkah operasional untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan mengutamakan keselamatan. Peserta didik menggunakan alat bantu pengukuran untuk mendapatkan data yang akurat. ● Memproses, menganalisis data dan informasi. Mengorganisasikan data dalam bentuk tabel dan grafik sederhana untuk menyajikan data dan mengidentifikasi pola. Peserta didik membandingkan antara hasil pengamatan dengan prediksi dan memberikan alasan yang bersifat ilmiah. Ide utama /konsep: Rancangan dan cara penyampaian sebuah pesan menentukan efektivitas penyampaiannya Asesmen (performance task) : Menyampaikan pesan untuk mempromosikan gaya hidup sehat. Siswa merancang media dan pesan inti yang perlu disampaikan dalam serangkaian kegiatan kampanye hidup sehat. Mata pelajaran yang terintegrasi: IPAS, Bahasa Indonesia, PPKN
  • 36.
    Bahasa Indonesia Pendidikan Pancasila ElemenMenyimak: Peserta didik mampu memahami ide pokok (gagasan) suatu pesan lisan, informasi dari media audio, teks aural (teks yang dibacakan dan/atau didengar), dan instruksi lisan yang berkaitan dengan tujuan berkomunikasi. Peserta didik mampu memahami dan memaknai teks narasi yang dibacakan atau dari media audio. Elemen Membaca & Memirsa: Peserta didik mampu memahami pesan dan informasi tentang kehidupan sehari-hari, teks narasi, dan puisi anak dalam bentuk cetak atau elektronik. Peserta didik mampu memahami ide pokok dan ide pendukung pada teks informasional dan mampu menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh cerita pada teks narasi. Peserta didik mampu menambah kosakata baru dari teks yang Elemen Berbicara & Mempresentasikan: Peserta didik mampu berbicara dengan pilihan kata dan sikap tubuh/gestur yang santun, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks; mengajukan dan menanggapi pertanyaan dalam suatu percakapan dan diskusi dengan lebih aktif. Peserta didik mampu mengungkapkan gagasan dalam suatu percakapan dan diskusi dengan menerapkan tata caranya. Peserta didik mampu Peserta didik dapat mengenal identitas dirinya dan teman- temannya sesuai budaya, minat, dan perilakunya; cara berkomunikasi dengan mereka; mengenali karakteristik fisik dan non-fisik orang dan benda yang ada di lingkungan sekitarnya; serta memahami bahwa kebinekaan dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang baru.
  • 37.
    Senin Selasa RabuKamis Jumat 07.00 - 07.35 Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Muatan lokal Agama dan Budi Pekerti 07.35 - 08.05 Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Matematika Bahasa Inggris 08.05 - 08.40 Unit integratif Seni dan Budaya Unit integratif Matematika Bahasa Inggris 08.40 - 09.00 istirahat 09.00 - 09.35 Matematika Unit integratif Muatan lokal Projek penguatan profil pelajar Pancasila Unit integratif 09.35 - 10.10 Matematika Unit integratif Agama dan Budi Pekerti Projek penguatan profil pelajar Pancasila Unit integratif 10.10 - 10.45 Matematika Unit integratif Agama dan Budi Pekerti Projek penguatan profil pelajar Pancasila Unit integratif 10.45 - 11.05 istirahat 11.05 - 11.40 Projek penguatan profil pelajar Pancasila PJOK Projek penguatan profil pelajar Pancasila Unit integratif 11.40 - Projek penguatan PJOK Projek penguatan Unit integratif Contoh jadwal pembelajaran berbasis mata pelajaran
  • 38.
    Pembelajaran berbasis matapelajaran Pembelajaran berbasis mata pelajaran diibaratkan makanan dengan lauk yang terpisah Pembelajaran berbasis mata pelajaran bertujuan mencapai Capaian Pembelajaran di masing-masing mata pelajaran Saat perencanaan pembelajaran guru dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum melihat TP dan merancang asesmen dan kegiatan untuk setiap mata pelajaran Jadwal disusun berdasarkan mata pelajaran tetapi kegiatan pembelajaran dijalankan dengan merujuk pada tema yang sudah ditentukan
  • 39.
    Contoh desain pembelajaranberbasis mata pelajaran Bahasa Indonesia IPAS PPKN CP Elemen Menyimak: Peserta didik mampu memahami ide pokok (gagasan) suatu pesan lisan, informasi dari media audio, teks aural (teks yang dibacakan dan/atau didengar), dan instruksi lisan yang berkaitan dengan tujuan berkomunikasi. Peserta didik mampu memahami dan memaknai teks narasi yang dibacakan atau dari media audio CP elemen keterampilan proses: ● Merencanakan dan melakukan penyelidikan. Dengan panduan, peserta didik membuat rencana dan melakukan langkah-langkah operasional untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Menggunakan alat dan bahan yang sesuai dengan mengutamakan keselamatan. Peserta didik menggunakan alat bantu pengukuran untuk mendapatkan data yang akurat. ● Memproses, menganalisis data dan informasi. Mengorganisasikan data dalam bentuk tabel dan grafik sederhana untuk menyajikan data dan mengidentifikasi pola. Peserta didik dapat mengenal identitas dirinya dan teman- temannya sesuai budaya, minat, dan perilakunya; cara berkomunikasi dengan mereka; mengenali karakteristik fisik dan non-fisik orang dan benda yang ada di lingkungan sekitarnya; serta memahami bahwa kebinekaan dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang baru.
  • 40.
    Bahasa Indonesia IPASPPKN Tujuan pembelajaran: Peserta didik menyimak dengan saksama, memahami instruksi yang lebih kompleks, memahami dan memaknai ide pokok dalam teks audiovisual dan teks aural (teks yang dibacakan) yang sesuai jenjangnya. Asesmen: Merancang media penyampaian pesan Kegiatan pembelajaran ● Mengamati berbagai media penyampaian pesan, contoh: video, poster, artikel pendek dan mengidentifikasi ide / pesan yang disampaikan ● Mendiskusikan media yang paling efektif dalam menyampaikan pesan ● Mencari data di sekolah untuk mengetahui media apa yang paling disukai teman-temannya Tujuan Pembelajaran: mendesain kuesioner sederhana, mengorganisasikan data Asesmen: membuat kuesioner sederhana Kegiatan pembelajaran: ● Penjelasan ttg bentuk dan fungsi kuesioner ● Membuat pertanyaan untuk kuesioner ● Merancang kuesioner secara berkelompok Tujuan Pembelajaran: Memahami pengaruh budaya dengan cara berkomunikasi Asesmen: membuat salindia ttg pengaruh budaya tertentu dengan cara berkomunikasi Kegiatan pembelajaran: ● Membaca jigsaw: bagaimana budaya dapat mempengaruhi gaya berkomunikasi ● Diskusi: apa yang kamu ketahui tentang karakteristik kelompok masyarakat di sekolah? ● Brainstorm: bagaimana cara berkomunikasi yang paling sesuai untuk masyarakat sekolah? Contoh desain pembelajaran berbasis mata pelajaran
  • 41.
    BAGAIMANA GURU MENGGUNAKAN DAN MEMILIHPERANGKAT AJAR YANG TEPAT? Perangkat ajar :
  • 42.
    Prinsip Pembelajaran Pembelajaran merupakanproses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Prinsip pembelajaran sebagai berikut: a. pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan; b. pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat; c. proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik; d. pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra; dan e. pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
  • 43.
    Prinsip Asesmen Asesmen ataupenilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Prinsip asesmen sebagai berikut: a. asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik untuk pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya; b. asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran; c. asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai selanjutnya; d. laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut; dan e. hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
  • 44.
    1. Asesmen diawal pembelajaran dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik. Pada pendidikan khusus, asesmen diagnostik dilaksanakan sebelum perencanaan pembelajaran sebagai rujukan untuk menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI). 2. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan kegiatan pembelajaran dan perangkat ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, konteks satuan pendidikan, dan karakteristik peserta didik. 3. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan jenis, teknik, bentuk instrumen, dan waktu pelaksanaan asesmen berdasarkan karakteristik tujuan pembelajaran. 4. Apabila pendidik menggunakan modul ajar yang disediakan pemerintah dan/atau membuat modul ajar merujuk pada modul ajar yang disediakan pemerintah, maka pendidik tersebut dapat menggunakan modul ajar sebagai dokumen perencanaan pembelajaran, dengan komponen sekurang-kurangnya terdiri dari tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan asesmen yang digunakan untuk memantau ketercapaian tujuan pembelajaran. 5. Untuk SMK, mitra dunia kerja dapat mendukung pembelajaran, asesmen, dan uji kompetensi yang selaras dengan prinsip- prinsip asesmen. 6. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen pada mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan (PKL) di SMK dilaksanakan secara kolaboratif oleh satuan pendidikan dan mitra dunia kerja. Perencanaan serta Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen
  • 45.
    Perangkat Ajar Perangkat ajarmerupakan berbagai bahan ajar yang digunakan oleh pendidik dalam upaya mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran. Perangkat ajar meliputi buku teks pelajaran, modul ajar, modul projek penguatan profil pelajar Pancasila, contoh-contoh kurikulum operasional satuan pendidikan, video pembelajaran, serta bentuk lainnya. Pendidik dapat menggunakan beragam perangkat ajar dari berbagai sumber. Perangkat ajar dapat langsung digunakan pendidik untuk mengajar ataupun sebagai referensi atau inspirasi dalam merancang pembelajaran.
  • 46.
    Modul Ajar Modul ajarmerupakan dokumen yang berisi tujuan, langkah, dan media pembelajaran, serta asesmen yang dibutuhkan dalam satu unit/topik berdasarkan alur tujuan pembelajaran. Pendidik memiliki keleluasaan untuk membuat sendiri, memilih, dan memodifikasi modul ajar yang tersedia sesuai dengan konteks, karakteristik, serta kebutuhan peserta didik. Pemerintah menyediakan contoh-contoh modul ajar yang dapat dijadikan inspirasi untuk satuan pendidikan. Pendidik yang menggunakan modul ajar yang disediakan Pemerintah tidak perlu lagi menyusun perencanaan pembelajaran/RPP/modul ajar.
  • 47.
    Penyediaan Perangkat ajar:buku teks dan bahan ajar pendukung Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan pembelajaran, kurikulum operasional sekolah, serta modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila disediakan melalui platform digital bagi guru. Sekolah dapat melakukan pengadaan buku teks secara mandiri dengan BOS reguler atas dukungan Pemda dan yayasan Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS melalui SIPLah atau cetak mandiri
  • 48.
    1. Satuan pendidikanmenyiapkan pelaporan hasil belajar (rapor) peserta didik. 2. Rapor peserta didik PAUD meliputi komponen identitas peserta didik, nama satuan pendidikan, kelompok usia, semester, tinggi badan dan berat badan, deskripsi perkembangan capaian pembelajaran, dan refleksi orang tua. 3. Rapor peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK atau sederajat meliputi komponen identitas peserta didik, nama satuan pendidikan, kelas, semester, mata pelajaran, nilai, deskripsi, catatan guru, presensi, dan kegiatan ekstrakurikuler. 4. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan mekanisme dan format pelaporan hasil belajar kepada orang tua/wali. 5. Pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK atau sederajat, satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan deskripsi dalam menjelaskan makna nilai yang diperoleh peserta didik. Pelaporan Kemajuan Belajar 6. Pelaporan hasil belajar disampaikan sekurang- kurangnya pada setiap akhir semester. 7. Satuan pendidikan menyampaikan rapor peserta didik secara berkala melalui e rapor/dapodik 8. Pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau sederajat, satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan kriteria kenaikan kelas dengan mempertimbangkan: a. laporan kemajuan belajar; b. laporan pencapaian projek penguatan profil pelajar Pancasila; c. portofolio peserta didik; d. paspor keterampilan (skill passport) dan rekognisi pembelajaran lampau peserta didik untuk SMK e. prestasi akademik dan non-akademik; f. ekstrakurikuler; g. penghargaan peserta didik; dan h. tingkat kehadiran.
  • 49.
  • 50.
    Kesimpulan ● Pelaksanaan projekpenguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik secara muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek profil harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran. ● Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama. ● Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan format dan sistematika penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan. ● Perangkat ajar meliputi buku teks pelajaran, modul ajar, modul projek penguatan profil pelajar Pancasila, contoh-contoh kurikulum operasional satuan pendidikan, video pembelajaran, serta bentuk lainnya. Pendidik dapat menggunakan beragam perangkat ajar dari berbagai sumber. Perangkat ajar dapat langsung digunakan pendidik untuk mengajar ataupun sebagai referensi atau inspirasi dalam merancang pembelajaran
  • 51.
    Karakteristik Kurikulum diSetiap Jenjang PAUD SD SMP SMA SMK SLB Kegiatan bermain sebagai pendekatan belajar yang utama Penguatan literasi dini dan penanaman karakter dapat melalui kegiatan bermain- belajar berbasis buku bacaan anak Fase Fondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik: • Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) • Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS • Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan Pembelajaran Penyesuaian dengan perkembanga n teknologi digital, mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika Pembelajaran berbasis Program peminatan/ penjurusan tidak diberlakukan Di kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari Kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan Vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasinya Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelajaran, yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70% Penerapan pembelajaran berbasis projek dengan mengintegrasikan mata pelajaran terkait. Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib minimal 6 bulan (1 semester). Pelajar dapat memilih mata pelajaran di luar program keahliannya Capaian pembelajaran pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelektual Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah reguler yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum Sama dengan pelajar di sekolah reguler, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama
  • 52.
    Jika Siswa tidakbisa belajar dengan cara guru mengajar maka guru harus mengajar dengan cara siswa belajar.
  • 53.
    Bagaimana strategi Kemendikbudristekdalam implementasi Kurikulum Merdeka?
  • 54.
    55 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi 5. Guru dan kepala sekolah memanfaatkan Pusat Layanan Bantuan (Helpdesk) untuk mendapatkan informasi lebih 4. Guru dan kepala sekolah belajar praktik baik melalui narasumber yang sudah direkomendasikan 3. Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka di dalam komunitas belajar 1. Guru dan kepala sekolah belajar mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar 2. Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka dengan mengikuti Seri Webinar 6 STRATEGI / DUKUNGAN KEMENDIKBUDRISTE K DALAM IKM* SECARA MANDIRI 6. Guru dan kepala sekolah bekerja sama dengan mitra pembangunan untuk implementasi Kurikulum Merdeka *Implementasi Kurikulum Merdeka
  • 55.
    56 Platform Merdeka Mengajar Helpdesk(Pusat Layanan Bantuan) Mitra pembangunan parsial Seri Webinar pendampingan bimtek cara belajar sosialisasi dan bimtek belajar bersama Ekosistem Implementasi Kurikulum Merdeka 1 2 5 6 4 3 Pusat UPT Dinas Pendidikan Satuan Pendidikan koordinasi Komunitas belajar Penyediaan narasumber
  • 56.
    57 Secara umum, strategiSatuan Pendidikan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka 1.Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah wadah di mana guru dan kepala satuan pendidikan bisa mempelajari bagaimana memahami Kurikulum Merdeka, dengan cara mengakses pelatihan mandiri, mengakses dokumen Kurikulum Merdeka, perangkat ajar, asesmen, serta praktik baik. 2. Untuk memperkuat pemahaman terkait Kurikulum Merdeka,guru dan kepala satuan pendidikan dapat mengikuti Seri Webinar yang membahas seputar Kurikulum Merdeka. 3. Strategi Komunitas Belajar merupakan strategi yang memberdayakan dan menguatkan ekosistem guru. Pada komunitas belajar, guru dapat saling belajar, mengkonfirmasi pemahaman dan diskusi dari bahan PMM, webinar, atau panduan, serta berbagi praktik baik. 6. Bagi wilayah atau satuan pendidikan yang berada di bawah binaan mitra pembangunan, guru dan kepala satuan pendidikan dapat menjadikan mitra pembangunan sebagai fasilitator belajar yang dapat membantu dalam menerapkan Kurikulum Merdeka 5. Pusat Layanan Bantuan (Helpdesk) dapat guru atau kepala satuan pendidikan akses untuk mendapatkan jawaban yang tepat dan cepat jika mendapat kendala atau hal yang tidak ditemukan solusinya dalam panduan, PMM, komunitas belajar, atau FAQ yang tersedia. 4. Untuk memperoleh inspirasi tentang bagaimana penerapan Kurikulum Merdeka, guru, kepala satuan pendidikan, atau penggerak komunitas dapat mengundang narasumber untuk berbagi praktik baik ke komunitas belajar maupun ke satuan pendidikan.
  • 57.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Guru dan kepala sekolah belajar mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar 1
  • 58.
    Bagaimana Platform MerdekaMengajar (PMM) membantu guru dan kepala satuan pendidikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri? BERKARYA Bukti Karya Guru dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi. BELAJAR Pelatihan Mandiri Guru dapat memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri, sehingga setiap guru mendapat kualitas pelatihan yang sama. Video Inspirasi Guru bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas. MENGAJAR Perangkat Ajar Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar (RPP, modul ajar, modul projek, buku siswa) berbasis Kurikulum Merdeka Asesmen Murid Membantu guru melakukan analisis awal literasi dan numerasi dengan cepat sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Asesmen ini bisa digunakan oleh semua mapel.
  • 59.
    Mengapa harus melaluiplatform? Setiap guru di seluruh Indonesia mendapat kesempatan mengakses pelatihan yang sama dengan kualitas yang sama Setiap guru di seluruh Indonesia dapat saling berbagi praktik baik dan saling menginspirasi di platform yang sama Setiap guru di seluruh Indonesia dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kecepatan masing- masing Setiap guru di seluruh Indonesia dapat mengakses beragam perangkat ajar yang bisa dijadikan contoh atau langsung dipakai Setiap guru di seluruh Indonesia dapat saling berjejaring antar wilayah Setiap guru di seluruh Indonesia dapat memiliki kesempatan dokumen updated
  • 60.
    Platform Merdeka Mengajardapat digunakan melalui aplikasi di gawai Android atau melalui laman situs Akses melalui laman situs https://guru.kemdikbud.go.id/ Unduh Aplikasi Merdeka Mengajar untuk gawai Android di Google Play Store Untuk dapat masuk ke beberapa produk Platform Merdeka Mengajar gunakan akun Belajar.idatau madrasah.kemenag.go.id. Jika ada kesulitan atau perlu aktivasi, bisa mengunjungi laman belajar.id
  • 61.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka dengan mengikuti Seri Webinar 2
  • 62.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Pengantar Seri Webinar
  • 63.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Semua guru dan kepala satuan pendidikan pelaksana IKM sebaiknya mengikuti: SERI WEBINAR Semua guru dan kepala satuan pendidikan yang ingin menguatkan pemahaman mengenai kurikulum merdeka dapat mengikuti seri webinar. Yang dapat diakses di media: ● Youtube Untuk menonton Seri Webinar yang sudah tayang bisa dicek di playlist Seri Webinar di Youtube ● PMM Informasi webinar mengakses webinar yang sudah tayang bisa diakses di Aplikasi PMM (tidak tersedia di web-based) fitur Info Terkini.
  • 64.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka di dalam komunitas belajar 3
  • 65.
    Komunitas belajar dalamimplementasi Kurikulum Merdeka Sumber gambar: https://aisa.or.ke/resources/professional-learning-communities/ ● Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, komunitas belajar dapat mendiskusikan dan menyelesaikan berbagai masalah pembelajaran yang dihadapi saat implementasi Kurikulum Merdeka, berbagi praktik baik, serta mengkonfirmasi pemahaman. ● Bersifat inklusif, guru/ kepala satuan pendidikan mana pun bisa tergabung (dari berbagai kategori IKM) dalam komunitas belajar, Sekolah Penggerak/ SMK PK, atau satuan pendidikan yang menerapkan K13/ Darurat, selama belajar bersama untuk perbaikan pembelajaran. ● Tidak perlu membentuk baru, sangat dianjurkan untuk mengaktivasi dan meng-’hidup’-kan komunitas yang sudah ada, kecuali jika belum ada.
  • 66.
    Tiga Jenis KomunitasBelajar Komunitas Belajar dalam Satuan Pendidikan Komunitas Belajar Antar Satuan Pendidikan Komunitas Belajar Daring
  • 67.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Apa yang bisa dilakukan dalam komunitas belajar? Sumber gambar: https://theconversation.com/online-learning-can-prepare-students-for-a-fast-changing-future-wherever-they-are-80497 https://agsci.oregonstate.edu/bioenergy-education-bioenergy-k-12-education/image-album/2017-winter-teacher-workshop https://www.shutterstock.com/search/best+practice+sharing jejaklombok.com Belajar bersama melalui Platform Merdeka Mengajar dan panduan kurikulum yang dikeluarkan BSKAP atau webinar, mendiskusikannya, serta mengonfirmasi pemahaman yang didapat oleh setiap anggota komunitas Berbagi praktik baik dan mencari solusi bersama terkait pembelajaran. Narasumber bisa berasal dari sekolah penggerak/ SMK PK, atau sekolah IKM mandiri yang sudah memiliki praktik baik. Aktivitas ini perlu dilakukan dengan diskusi sehingga mengkonfirmasi apakah praktik yang dilakukan sesuai dengan prinsip- prinsip Kurikulum Merdeka lokakarya/ in house training juga bisa dilakukan komunitas belajar, seperti membuat/ memodifikasi modul ajar, modul projek, strategi pembelajaran terdiferensiasi, asesmen, dll. Kegiatan ini bisa menggunakan tutorial yang ada di PMM, contoh praktik baik/ inspirasi yang diberikan pusat, atau narasumber
  • 68.
    Sudah Rilis di22 Juni: fitur Komunitas Belajar di PMM Guru dapat mendaftarkan komunitas belajarnya di PMM dan mendapatkan pelatihan Penggerak Komunitas secara daring. Melalui produk Komunitas Belajar bisa melakukan Melihat daftar komunitas Bergabung ke dalam group sosial media milik komunitas Mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh komunitas yang telah diikuti
  • 69.
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi Guru dan kepala sekolah belajar praktik baik melalui narasumber yang sudah direkomendasikan 4
  • 70.
    71 Platform Merdeka Mengajar Helpdesk(Pusat Layanan Bantuan) Mitra pembangunan parsial Seri Webinar pendampingan bimtek cara belajar sosialisasi dan bimtek belajar bersama Ekosistem Implementasi Kurikulum Merdeka 1 2 5 6 4 3 Pusat UPT Dinas Pendidikan Satuan Pendidikan koordinasi Komunitas belajar Penyediaan narasumber
  • 71.
  • 72.
    Bagaimana Pemerintah mendukung kemerdekaanguru untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
  • 73.
    Penerapan Kurikulum Merdeka didukungoleh Platform Merdeka Mengajar. Platform Merdeka Mengajar membantu guru dalam mendapatkan referensi, inspirasi, dan pemahaman untuk menerapkan Kurikulum Merdeka.
  • 74.
    Platform Merdeka Mengajaradalah platform edukasi yang menjadi teman penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila
  • 75.
    Platform Merdeka Mengajarmenyediakan referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka Perangkat Ajar Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka Asesmen Murid Membantu guru melakukan analisis diagnostik literasi dan numerasi dengan cepat sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
  • 76.
    Pelatihan Mandiri Guru dapatmemperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri Video Inspirasi Guru bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas. Platform Merdeka Mengajar memberikan kesempatan yang setara bagi guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di mana pun
  • 77.
    Platform Merdeka Mengajarmendorong guru untuk terus berkarya dan menyediakan wadah berbagi praktik baik Bukti Karya Saya Guru dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi.
  • 78.
    Akses melalui laman situs https://guru.kemdi kbud.go.id/ UnduhAplikasi Merdeka Mengajar untuk gawai Android di Google Play Store Panduan implementasi kurikulum dan modul pelatihan akan disediakan dalam flash disk bagi satuan pendidikan dan pendidik yang kesulitan untuk mengakses internet
  • 79.
    INFORMASI & RUJUKAN: Dimana informasi tentang Kurikulum Merdeka yang lebih mendalam dan menyeluruh dapat dipelajari?
  • 80.
    Dokumen yang tersediadalam Sistem Informasi Kurikulum Nasional (SIKN): 1. Sering Ditanyakan (FAQ) 2. Panduan-panduan Kurikulum Merdeka a. Panduan Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan b. Pembelajaran Paradigma Baru c. Panduan Pembelajaran dan Asesmen d. Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila e. Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual f. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif 3. Kajian/Naskah Akademik a. Kajian Pengembangan Profil Pelajar Pancasila b. Kajian Akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran c. Naskah Akademik Muatan Informatika dalam Kurikulum 2013 4. Risalah Kebijakan a. Dampak Penyederhanaan Kurikulum Terhadap Pembelajaran b. Praktik Menjanjikan Penerapan Kurikulum Prototipe Pada Program Sekolah Penggerak
  • 81.
    Kesimpulan Krisis pembelajaran merupakan masalahyang berkepanjangan di Indonesia, terjadi bahkan sejak sebelum pandemi COVID-19, dan diperparah dengan situasi pembelajaran di masa pandemi. Krisis ini ditunjukkan dengan capaian hasil belajar yang relatif rendah dibandingkan banyak negara lain, serta kesenjangan kualitas belajar yang nyata. Kurikulum saja tidak cukup untuk menjadi jalan keluar masalah ketertinggalan pembelajaran (learning loss). Namun karena kurikulum mempengaruhi cara pendidik bekerja, maka penyesuaian kurikulum perlu dilakukan bersama upaya-upaya lainnya. Kurikulum Merdeka melanjutkan upaya penyederhanaan kurikulum yang diawali dengan Kurikulum Darurat, juga upaya penguatan karakter dan kompetensi yang sudah dimulai sejak kurikulum sebelumnya. Secara garis besar, kebaruan dari Kurikulum Merdeka adalah adanya: (1) pembelajaran yang lebih mendalam, tidak terburu- buru, sehingga setiap peserta didik dapat mencapai kompetensi minimum; (2) pembelajaran sesuai tahap capaian peserta didik; dan (3) pembelajaran melalui projek untuk penguatan karakter dalam profil pelajar Pancasila Sebagai upaya pemulihan pembelajaran, implementasi Kurikulum Merdeka tidak diwajibkan. Satuan pendidikan dapat memilih salah satu dari 3 kurikulum: Kurikulum 2013, kurikulum darurat, atau Kurikulum Merdeka. Untuk Kurikulum Merdeka, satuan pendidikan dapat mengimplementasikannya sesuai kesiapan masing-masing. Pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan teknis, termasuk berbagai sumber untuk guru dalam Platform Merdeka Mengajar. Pemerintah Daerah diharapkan mendukung dan memfasilitasi satuan pendidikan untuk menentukan pilihan kurikulum, mempelajari Kurikulum Merdeka, serta dalam proses mengimplementasikannya sesuai filosofi dari Kurikulum Merdeka ini.
  • 82.
    Tumbuh kembangnya anak diluardari kodrat kita sebagai pendidik -Ki Hajar Dewantara-
  • 83.