IKHLAS FOR OUR TRUE LOVE MUHAMMAD ZEN, SAg, Lc, MA BADARIS CENGKARENG,  24  APRIL 2009 Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Pokok Bahasan Definisi Ikhlas dan Riya’ True Love Ikhlas Setiap Beraktivitas Menggapai Keikhlasan Keutamaan Bersikap Ikhlas Bahaya Riya’ Macam-macam Riya’ Hukum Riya’ Perbuatan yg dianggap Riya’ padahal bukan Obat Riya’ Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Definisi Ikhlas Makna ikhlas (Dr. Yusuf Al Qardhawy): menghendaki keridhaan  ﷲ   Swt dengan suatu amal, membersihkan dari segala noda individual maupun duniawi. Noda2 tersebut seperti kecenderungan pada diri sendiri, harta, kedudukan, takut tercela, ketenaran, dsb. Harun Yahya menjelaskan Ikhlas: memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apapun. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Definisi Riya’ Riya’ adalah melakukan sesuatu sekedar ingin dilihat atau dinilai oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT.  Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa: “ Orang Islam itu sia-sia, kecuali yang mukmin, yang mukminpun sia-sia kecuali yang pandai atau alim, tapi yang alimpun sia-sia kecuali yang beramal, dan yang beramalpun sia-sia kecuali yang ikhlas. “  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
TRUE LOVE Apabila manusia gagal mencintai Tuhannya, maka cinta sejati tidak akan ditemuinya. Katakanlah jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (sunnah Nabi Muhammad) pasti Allah akan mencintamu dan akan mengampuni dosa kamu, dan Allah Maha Pengampun  lagi maha Penyayang. Cinta yang tulus ikhlas lahir daripada sikap, perbuatan dan ibadah harap ridho Allah SWT, bukan karena cinta yang lain. Cinta memerlukan keikhlasan dan kejujuran dan bukannya pengorbanan membuta tuli. Mereka yang sanggup berkorban demi cinta adalah orang yang tidak pernah memahami arti cinta sebenarnya. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
IKHLAS SETIAP BERAKTIVITAS IKHLAS ADALAH MODAL PENTING BAGI MUSLIM MENEMPUH HIDUP DI DUNIA INI  SETIAP MUSLIM HARUS SENANTIASA IKHLAS ATAS KEPUTUSAN TAKDIR YANG DITERIMANYA, APAPUN YANG IA RASAKAN, BAIK MENYAKITKAN MAUPUN MENYENANGKAN. SEMUA ITU DARI ALLAH. DIALAH YANG MAHA TAHU APA YANG TERBAIK UNTUK MAKHLUKNYA. MU’MIN, SAAT BERIBADAH TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENDAPATKAN CINTA, KEPUASAN, PENGHARGAAN, PERHATIAN, DAN PUJIAN DARI SIAPAPUN KECUALI KERIDHAAN ALLAH Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Lanj … KONSISTEN BERBUAT IKHLAS TERLIHAT AKTIVITASNYA BERSUNGGUH-SUNGGUH, TIDAK PERNAH MENJADI ORANG PALSU, PENUH TIPU DAYA, DAN TIDAK WAJAR.  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
MENGGAPAI KEIKHLASAN MEMAHAMI MENGAPA IKHLAS ITU PENTING MENUMBUHKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH TIDAK TAKUT KEPADA SIAPAPUN KECUALI ALLAH BERSUNGGUH-SUNGGUH KARENA ALLAH MEMAHAMI HIDUP DI DUNIA SEMENTARA MENERIMA TAKDIR ALLAH Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Syarat diterimanya amal  Ikhlas Benar, artinya ada kesesuaian antara perbuatan tsb dgn sunnah Rasulullah saw Berpegang teguh  Bersegera Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Keutamaan Bersikap Ikhlas Ketenangan jiwa: menjadi lapang dada dan tenang hatinya. Kekuatan rohani, kuat menghadapi apapun. Amal yang berkesinambungan.  Merubah yang mubah dan tradisi menjadi ibadah.  Tetap memperoleh pahala amal sekalipun belum menyempurnakan amal itu atau bahkan belum mengamalkannya Pertolongan dan perlindungan Allah SWT.  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Faktor  pembentuk  keikhlasan Memperhatikan Pandangan Khalik, bukan pandangan makhluk  Mensingkronkan antara yang lahir dengan yang bathin  Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia  Tidak memandang diri sebagai orang yang ikhlas, sehingga ta'jub kepada diri sendiri  Melupakan pahala akhirat, terus berusaha untuk beramal sebanyak mungkin  Menghalangi diri dari riya' dan hawa nafsu  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
QS Al Bayyinah  (98) :  5: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan teguh. Mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang benar"  Rasulullah SAW bersabda:  "Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, yaitu orang-orang yang apabila hadir mereka tidak dikenal, dan apabila tidak ada mereka dicari.  Mereka itulah lampu-lampu hidayah.  Dengan mereka, nampaklah fitnah-fitnah orang dzalim  ( HR Baihaqi ) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
IKHLAS FOR TRUE LOVE MENYUKAI MU’MIN LAINNYA DIBANDINGKAN DIRINYA SENDIRI TIDAK TERTIPU OLEH GODAAN HAWA NAFSU MENGHALAU KEKIKIRAN DAN KECEMBURUAN MENYINGKIRKAN KESOMBONGAN MENINGGALKAN AMBISI MEMPEROLEH KEKUASAAN DAN JABATAN TIDAK CEMAS ATAS RIZKI YANG DIDAPATKAN Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
BUAH KEIKHLASAN KEIKHLASAN ADALAH KEKUATAN BESAR YANG DILIMPAHKAN MU’MIN  MENGHASILKAN KEBERKAHAN ABADI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT ALLAH MEMBERIKAN KABAR GEMBIRA BAGI MEREKA YANG IKHLAS MEMPEROLEH KERIDAAN ALLAH DI AKHIRAT MEMPEROLEH KEINDAHAN HIDUP DI DUNIA  BUAH KEIKHLASAN ADALAH SEBUAH KEBERHASILAN AMALAN YANG DIKERJAKAN DENGAN IKHLAS LEBIH BERHARGA DARIPADA RIBUAN AMALAN YANG DIKERJAKAN TANPA KEIKHLASAN Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Bahaya Riya’ Riya’ lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada fitnah Masih Al Dajjal. Riya’ lebih sangat merusak daripada srigala menyergap domba. Amal Shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya yang besar bila disertai Riya’. Riya’ akan menghapus amal shalih. Riya’ adalah syirik khafi (tersembunyi),  Riya’ mewariskan kehinaan dan kerendahan Para pelaku Riya’ tidak akan mendapatkan ganjaran di akherat. Riya’ akan menambah kesesatan seseorang pelakunya Riya’ menyebabkan kekalahan umat Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Macam macam Riya’ Riya' badan Riya' dari segi perhiasan Riya' dengan ucapan Riya' dengan perbuatan Riya' dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Hukumnya Ibadah yang Dikerjakan Untuk Tujuan Riya'?  Case 1: tujuan utama yang mendorong pelaksanaan ibadah itu adalah agar dilihat manusia, seperti orang yang shalat dengan tujuan agar dilihat manusia dan dipuji shalatnya, maka ibadah semacam itu batal hukumnya.  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Hukumnya Ibadah yang Dikerjakan Untuk Tujuan Riya'? (2) Case 2: pada awalnya ibadah itu dikerjakan secara ikhlas karena Allah, tetapi di tengah-tengah ibadah, niatnya berubah menjadi riya'. Ibadah semacam ini tidak lepas dari dua keadaan:  Pertama,  ibadah yang pertama tidak ada kaitannya dengan ibadah kedua, maka ibadahnya yang pertama sah, sedangkan yang selanjutnya batil.  Kedua ; antara ibadah yang pertama dan kedua masih ada kaitannya, sehingga antara satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan, maka orang yang menghadapi masalah seperti ini dia harus melakukan salah satu dari dua pilihan: Menepisnya    sah Menikmatinya    batil Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Hukumnya Ibadah yang Dikerjakan Untuk Tujuan Riya'? (3) Case 3: riya' itu muncul setelah melaksanakan ibadah maka hal itu tidak berpengaruh terhadapnya dan tidak membatalkannya karena ibadah itu telah selesai dengan sah, sehingga tidak rusak karena terjadinya riya' setelah itu.  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Dianggap perbuatan riya‘ dan syirik padahal bukan Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah. Memakai pakaian atau sandal yang baik. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta. Menampakkan Syi’ar-syi’ar agama Islam. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Contoh Perbuatan Tidak Ikhlas Terkadang keikhlasan bercampur dengan sesuatu keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang, ini sama sekali bukan kesempurnaan ikhlas kepada Allah. Terkadang seseorang datang kepada suatu undangan, karena pengetahuannya bahwa makanan di tempat tersebut akan lebih baik daripada makanan di rumahnya, artinya yang mendorong dirinya untuk mendatangi undangan tersebut adalah kesenangan akan makan dan bukan karena melaksanakan ketaatan kepada Allah dalam memenuhi undangan. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Obat Penyakit Riya’ Mengetahui macam-macam tauhid yang mengandung kebesaran Alloh Azza wa Jalla  (tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat}. Mengetahui apa yang Alloh Azza wa Jalla sediakan di akherat berupa kenikmatan yang abadi dan adzab yang pedih.  Hendaklah takut terhadap perbuatan riya’. Menjauhkan diri dari celaan dan murka Alloh Azza wa Jalla . Memahami kedudukannya sebagai hamba Alloh Azza wa Jalla . Mengetahui hal-hal yang dapat membuat syaithon lari menjauh. Menyembunyikan amal Tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam mengajarkan kepada kita doa yang dapat menghilangkan syirik besar dan syirik kecil (riya’). Berteman dengan orang-orang shalih, ikhlas dan bertaqwa Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Perintah Ikhlas dan Larangan Berbuat Riya’ “ Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “ Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985] “ Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Dalam QS Al An`aam : 162-163 [162] Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, [163] tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
QS Al-Israa’ [17] : 18-19 [18] Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. [19] Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Dari Abu Hurairah r.a. dalam sebuah hadits yang panjang tentang bahan bakar pertama untuk menyalakan api Neraka pada hari Kiamat, disebutkan di dalamnya, "Seseorang laki-laki yang Allah beri kelapangan rizki dan mengaruniainya harta yang banyak. Lalu ia pun dihadirkan dan disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah dan ia mengakuinya. Lalu Allah berkata, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?'" Ia menjawab, "Tidak aku lewatkan satu pun jalan yang Engkau suka dikeluarkan infak untuknya melainkan pasti aku keluarkan karena-Mu. Allah berkata, "Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukannya agar engkau dikatakan dermawan, dan begitulah yang dikatakan orang.' Kemudian diperintahkan agar wajahnya diseret dan ia dilemparkan ke dalam Neraka," (HR Muslim (1905). Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Allah SWT berfirman,  "Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu,"  (Al-Baqarah: 264)  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
QS Al-Baqarah [2]: 265 “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, makahujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihatapa yang kamu perbuat.” Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,  "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan,"  (Huud: 15-16).  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Dari Amirul mu'minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-'Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.“  (Muttafaq (disepakati) atas keshahihannya Hadis ini) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Kesimpulan "... Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...." (QS. Az Zumar: 65). Kajian ini menjelaskan pentingnya untuk ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, sehingga jerih payah kita dalam beribadah tidak sia-sia. Termasuk yang perlu untuk diketahui oleh kita adalah apa-apa yang dianggap sebagai ikhlas dan apa-apa yang dianggap sebagai riya' dan syirik. Jangan sampai karena kelalaian kita, kita menganggapnya sebagai ikhlas, tetapi sebenarnya adalah riya', atau sebaliknya. Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam: "... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An'aam: 77). Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Referensi http://alislamu.com http://www.kajianislam.net http://al-aisar.com http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=102 http://jadwalkajian.wordpress.com/2007/07/17/ikhlas-pentingnya-ikhlas-bahaya-riya-jic-jakarta-5-agustus-2007/ http://aunidya.multiply.com/journal/item/40 http://ukki.blogsome.com/2008/05/31/waspadalah-terhadap-perangkap-riya/ Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Syaikh Ibrahim Dasuqi mengutarakan ikhlas adalah cahaya yang  d imasukkan Allah ke dalam hati hamba-hambaNya yang terpilih  Ia adalah cahaya yang menerangi lubuk hati mereka yang hatinya senantiasa tertuju kepada Allah, yang memberikan kehidupan kepada hati mereka yang mati, yang memberikan kekuatan kedalam jiwa yang membangkitkan semangat dan yang mengangkatnya ke tingkat kehidupan yang lebih mulia Dengan itu hati mereka tidak terbesit rasa dendam, tidak egoistis, tidak ada perasaan riya atau ingin dipuji dan dilihat orang dan tidak pula sifat nifak Sebaliknya yang ada hanya kesucian, kemurnian dan kesempurnaan yang akan menghantarkannya ke puncak kemuliaan, tempat orang-orang yang d e kat kepada Allah  Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”  Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya,  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar .” (QS. An Nisa : 48) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Ibnu Rajab dalam kitabnya  Jami’ul Ulum Wal Hikam  menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.” Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
Krisis Global Muhammad Zen Thank you! For further discussion, please contact  Muhammad Zen, MA +6221 88954080 (Home) 08129563750    [email_address]

Power ikhlas bsi

  • 1.
    IKHLAS FOR OURTRUE LOVE MUHAMMAD ZEN, SAg, Lc, MA BADARIS CENGKARENG, 24 APRIL 2009 Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 2.
    Pokok Bahasan DefinisiIkhlas dan Riya’ True Love Ikhlas Setiap Beraktivitas Menggapai Keikhlasan Keutamaan Bersikap Ikhlas Bahaya Riya’ Macam-macam Riya’ Hukum Riya’ Perbuatan yg dianggap Riya’ padahal bukan Obat Riya’ Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 3.
    Definisi Ikhlas Maknaikhlas (Dr. Yusuf Al Qardhawy): menghendaki keridhaan ﷲ Swt dengan suatu amal, membersihkan dari segala noda individual maupun duniawi. Noda2 tersebut seperti kecenderungan pada diri sendiri, harta, kedudukan, takut tercela, ketenaran, dsb. Harun Yahya menjelaskan Ikhlas: memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apapun. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 4.
    Definisi Riya’ Riya’adalah melakukan sesuatu sekedar ingin dilihat atau dinilai oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa: “ Orang Islam itu sia-sia, kecuali yang mukmin, yang mukminpun sia-sia kecuali yang pandai atau alim, tapi yang alimpun sia-sia kecuali yang beramal, dan yang beramalpun sia-sia kecuali yang ikhlas. “ Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 5.
    TRUE LOVE Apabilamanusia gagal mencintai Tuhannya, maka cinta sejati tidak akan ditemuinya. Katakanlah jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (sunnah Nabi Muhammad) pasti Allah akan mencintamu dan akan mengampuni dosa kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. Cinta yang tulus ikhlas lahir daripada sikap, perbuatan dan ibadah harap ridho Allah SWT, bukan karena cinta yang lain. Cinta memerlukan keikhlasan dan kejujuran dan bukannya pengorbanan membuta tuli. Mereka yang sanggup berkorban demi cinta adalah orang yang tidak pernah memahami arti cinta sebenarnya. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 6.
    IKHLAS SETIAP BERAKTIVITASIKHLAS ADALAH MODAL PENTING BAGI MUSLIM MENEMPUH HIDUP DI DUNIA INI SETIAP MUSLIM HARUS SENANTIASA IKHLAS ATAS KEPUTUSAN TAKDIR YANG DITERIMANYA, APAPUN YANG IA RASAKAN, BAIK MENYAKITKAN MAUPUN MENYENANGKAN. SEMUA ITU DARI ALLAH. DIALAH YANG MAHA TAHU APA YANG TERBAIK UNTUK MAKHLUKNYA. MU’MIN, SAAT BERIBADAH TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENDAPATKAN CINTA, KEPUASAN, PENGHARGAAN, PERHATIAN, DAN PUJIAN DARI SIAPAPUN KECUALI KERIDHAAN ALLAH Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 7.
    Lanj … KONSISTENBERBUAT IKHLAS TERLIHAT AKTIVITASNYA BERSUNGGUH-SUNGGUH, TIDAK PERNAH MENJADI ORANG PALSU, PENUH TIPU DAYA, DAN TIDAK WAJAR. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 8.
    MENGGAPAI KEIKHLASAN MEMAHAMIMENGAPA IKHLAS ITU PENTING MENUMBUHKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH TIDAK TAKUT KEPADA SIAPAPUN KECUALI ALLAH BERSUNGGUH-SUNGGUH KARENA ALLAH MEMAHAMI HIDUP DI DUNIA SEMENTARA MENERIMA TAKDIR ALLAH Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 9.
    Syarat diterimanya amal Ikhlas Benar, artinya ada kesesuaian antara perbuatan tsb dgn sunnah Rasulullah saw Berpegang teguh  Bersegera Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 10.
    Keutamaan Bersikap IkhlasKetenangan jiwa: menjadi lapang dada dan tenang hatinya. Kekuatan rohani, kuat menghadapi apapun. Amal yang berkesinambungan. Merubah yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Tetap memperoleh pahala amal sekalipun belum menyempurnakan amal itu atau bahkan belum mengamalkannya Pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 11.
    Faktor pembentuk keikhlasan Memperhatikan Pandangan Khalik, bukan pandangan makhluk Mensingkronkan antara yang lahir dengan yang bathin Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia Tidak memandang diri sebagai orang yang ikhlas, sehingga ta'jub kepada diri sendiri Melupakan pahala akhirat, terus berusaha untuk beramal sebanyak mungkin Menghalangi diri dari riya' dan hawa nafsu Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 12.
    QS Al Bayyinah (98) : 5: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan teguh. Mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang benar" Rasulullah SAW bersabda: "Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, yaitu orang-orang yang apabila hadir mereka tidak dikenal, dan apabila tidak ada mereka dicari. Mereka itulah lampu-lampu hidayah. Dengan mereka, nampaklah fitnah-fitnah orang dzalim ( HR Baihaqi ) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 13.
    IKHLAS FOR TRUELOVE MENYUKAI MU’MIN LAINNYA DIBANDINGKAN DIRINYA SENDIRI TIDAK TERTIPU OLEH GODAAN HAWA NAFSU MENGHALAU KEKIKIRAN DAN KECEMBURUAN MENYINGKIRKAN KESOMBONGAN MENINGGALKAN AMBISI MEMPEROLEH KEKUASAAN DAN JABATAN TIDAK CEMAS ATAS RIZKI YANG DIDAPATKAN Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 14.
    BUAH KEIKHLASAN KEIKHLASANADALAH KEKUATAN BESAR YANG DILIMPAHKAN MU’MIN MENGHASILKAN KEBERKAHAN ABADI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT ALLAH MEMBERIKAN KABAR GEMBIRA BAGI MEREKA YANG IKHLAS MEMPEROLEH KERIDAAN ALLAH DI AKHIRAT MEMPEROLEH KEINDAHAN HIDUP DI DUNIA BUAH KEIKHLASAN ADALAH SEBUAH KEBERHASILAN AMALAN YANG DIKERJAKAN DENGAN IKHLAS LEBIH BERHARGA DARIPADA RIBUAN AMALAN YANG DIKERJAKAN TANPA KEIKHLASAN Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 15.
    Bahaya Riya’ Riya’lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada fitnah Masih Al Dajjal. Riya’ lebih sangat merusak daripada srigala menyergap domba. Amal Shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya yang besar bila disertai Riya’. Riya’ akan menghapus amal shalih. Riya’ adalah syirik khafi (tersembunyi), Riya’ mewariskan kehinaan dan kerendahan Para pelaku Riya’ tidak akan mendapatkan ganjaran di akherat. Riya’ akan menambah kesesatan seseorang pelakunya Riya’ menyebabkan kekalahan umat Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 16.
    Macam macam Riya’Riya' badan Riya' dari segi perhiasan Riya' dengan ucapan Riya' dengan perbuatan Riya' dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 17.
    Hukumnya Ibadah yangDikerjakan Untuk Tujuan Riya'? Case 1: tujuan utama yang mendorong pelaksanaan ibadah itu adalah agar dilihat manusia, seperti orang yang shalat dengan tujuan agar dilihat manusia dan dipuji shalatnya, maka ibadah semacam itu batal hukumnya. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 18.
    Hukumnya Ibadah yangDikerjakan Untuk Tujuan Riya'? (2) Case 2: pada awalnya ibadah itu dikerjakan secara ikhlas karena Allah, tetapi di tengah-tengah ibadah, niatnya berubah menjadi riya'. Ibadah semacam ini tidak lepas dari dua keadaan: Pertama, ibadah yang pertama tidak ada kaitannya dengan ibadah kedua, maka ibadahnya yang pertama sah, sedangkan yang selanjutnya batil. Kedua ; antara ibadah yang pertama dan kedua masih ada kaitannya, sehingga antara satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan, maka orang yang menghadapi masalah seperti ini dia harus melakukan salah satu dari dua pilihan: Menepisnya  sah Menikmatinya  batil Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 19.
    Hukumnya Ibadah yangDikerjakan Untuk Tujuan Riya'? (3) Case 3: riya' itu muncul setelah melaksanakan ibadah maka hal itu tidak berpengaruh terhadapnya dan tidak membatalkannya karena ibadah itu telah selesai dengan sah, sehingga tidak rusak karena terjadinya riya' setelah itu. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 20.
    Dianggap perbuatan riya‘dan syirik padahal bukan Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah. Memakai pakaian atau sandal yang baik. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta. Menampakkan Syi’ar-syi’ar agama Islam. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 21.
    Contoh Perbuatan TidakIkhlas Terkadang keikhlasan bercampur dengan sesuatu keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang, ini sama sekali bukan kesempurnaan ikhlas kepada Allah. Terkadang seseorang datang kepada suatu undangan, karena pengetahuannya bahwa makanan di tempat tersebut akan lebih baik daripada makanan di rumahnya, artinya yang mendorong dirinya untuk mendatangi undangan tersebut adalah kesenangan akan makan dan bukan karena melaksanakan ketaatan kepada Allah dalam memenuhi undangan. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 22.
    Obat Penyakit Riya’Mengetahui macam-macam tauhid yang mengandung kebesaran Alloh Azza wa Jalla  (tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat}. Mengetahui apa yang Alloh Azza wa Jalla sediakan di akherat berupa kenikmatan yang abadi dan adzab yang pedih. Hendaklah takut terhadap perbuatan riya’. Menjauhkan diri dari celaan dan murka Alloh Azza wa Jalla . Memahami kedudukannya sebagai hamba Alloh Azza wa Jalla . Mengetahui hal-hal yang dapat membuat syaithon lari menjauh. Menyembunyikan amal Tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam mengajarkan kepada kita doa yang dapat menghilangkan syirik besar dan syirik kecil (riya’). Berteman dengan orang-orang shalih, ikhlas dan bertaqwa Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 23.
    Perintah Ikhlas danLarangan Berbuat Riya’ “ Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “ Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985] “ Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 24.
    Dalam QS AlAn`aam : 162-163 [162] Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, [163] tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 25.
    QS Al-Israa’ [17]: 18-19 [18] Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. [19] Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 26.
    Dari Abu Hurairahr.a. dalam sebuah hadits yang panjang tentang bahan bakar pertama untuk menyalakan api Neraka pada hari Kiamat, disebutkan di dalamnya, "Seseorang laki-laki yang Allah beri kelapangan rizki dan mengaruniainya harta yang banyak. Lalu ia pun dihadirkan dan disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah dan ia mengakuinya. Lalu Allah berkata, 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?'" Ia menjawab, "Tidak aku lewatkan satu pun jalan yang Engkau suka dikeluarkan infak untuknya melainkan pasti aku keluarkan karena-Mu. Allah berkata, "Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukannya agar engkau dikatakan dermawan, dan begitulah yang dikatakan orang.' Kemudian diperintahkan agar wajahnya diseret dan ia dilemparkan ke dalam Neraka," (HR Muslim (1905). Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 27.
    Allah SWT berfirman, "Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu," (Al-Baqarah: 264) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 28.
    QS Al-Baqarah [2]:265 “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, makahujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihatapa yang kamu perbuat.” Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 29.
    Dalam ayat lainAllah SWT berfirman, "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan," (Huud: 15-16). Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 30.
    Dari Amirul mu'mininAbu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-'Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.“ (Muttafaq (disepakati) atas keshahihannya Hadis ini) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 31.
    Kesimpulan "... Jikakamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...." (QS. Az Zumar: 65). Kajian ini menjelaskan pentingnya untuk ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, sehingga jerih payah kita dalam beribadah tidak sia-sia. Termasuk yang perlu untuk diketahui oleh kita adalah apa-apa yang dianggap sebagai ikhlas dan apa-apa yang dianggap sebagai riya' dan syirik. Jangan sampai karena kelalaian kita, kita menganggapnya sebagai ikhlas, tetapi sebenarnya adalah riya', atau sebaliknya. Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam: "... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An'aam: 77). Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 32.
    Referensi http://alislamu.com http://www.kajianislam.nethttp://al-aisar.com http://pengusahamuslim.com/modules/smartsection/item.php?itemid=102 http://jadwalkajian.wordpress.com/2007/07/17/ikhlas-pentingnya-ikhlas-bahaya-riya-jic-jakarta-5-agustus-2007/ http://aunidya.multiply.com/journal/item/40 http://ukki.blogsome.com/2008/05/31/waspadalah-terhadap-perangkap-riya/ Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 33.
    Syaikh Ibrahim Dasuqimengutarakan ikhlas adalah cahaya yang d imasukkan Allah ke dalam hati hamba-hambaNya yang terpilih Ia adalah cahaya yang menerangi lubuk hati mereka yang hatinya senantiasa tertuju kepada Allah, yang memberikan kehidupan kepada hati mereka yang mati, yang memberikan kekuatan kedalam jiwa yang membangkitkan semangat dan yang mengangkatnya ke tingkat kehidupan yang lebih mulia Dengan itu hati mereka tidak terbesit rasa dendam, tidak egoistis, tidak ada perasaan riya atau ingin dipuji dan dilihat orang dan tidak pula sifat nifak Sebaliknya yang ada hanya kesucian, kemurnian dan kesempurnaan yang akan menghantarkannya ke puncak kemuliaan, tempat orang-orang yang d e kat kepada Allah Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 34.
    Seorang ulama yangbernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar .” (QS. An Nisa : 48) Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 35.
    Ibnu Rajab dalamkitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.” Ikhlas For Our True Love Muhammad Zen
  • 36.
    Krisis Global MuhammadZen Thank you! For further discussion, please contact Muhammad Zen, MA +6221 88954080 (Home) 08129563750  [email_address]

Editor's Notes

  • #2 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #3 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #4 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #5 Sumber dari penyakit hati adalah hubbud dunya wa karahiyat al maut, cinta dunia dan takut mati. Dunia disimbolkan dengan harta dan kekuasaan/pangkat (al mal wa al jah wa al riyasat). Dalam perspektip nilai amal, kualitas amal sangat ditentukan oleh keikhlasan. (al Muslimun kulluhum halka illa al Mu’minun, wa al Mu'minun kulluhum halka illa al ‘limun, wa al ‘alimun kulluhum halka illa al ‘amilun, wa al ‘amilun kulluhum halka illa al mukhlisun). Upaya untuk menjadikan suatu ibadah yang kita lakukan itu bernilai ikhlas hanya untuk Allah merupakan perkara yang tidak mudah. Bahkan lebih berat daripada amal ibadah itu sendiri. Padahal keikhlasan merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam. Bisa jadi pada saat kita beribadah, kita telah mengikhlaskan segalanya untuk Allah. Tetapi di lain waktu, karena terdorong riya' kita pun membeberkan ibadah yang telah kita sembunyikan untuk Allah semata. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #10 QS 2:63 --> 63. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa". Dengan adanya niat, hal2 yang mubah dan kebiasaan bisa menjadi ibadah. Seperti mencari rezeki, berdagang, berprofesi apapun bisa menjadi ibadah dan jihad selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga diri dari hal yang haram dan mencari yang halal. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #11 Salah satu kunci mendapatkan ketenangan batin adalah menjadi orang yang ikhlas; ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam menjemput ridha Allah SWT Tetapi menjadi orang yang senantiasa ikhlas tidaklah mudah Ikhlas memberi kekuatan untuk beramal secara kontinyu, berkesinambungan Jika ikhlas diletakkan di amal manapun, sekalipun amalan2 mubah dan kebiasaan, bisa menjadi ibadah kepada Allah SWT. Orang yang mukhlis mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Ikhlas hanya akan datang dari seseorang yang mencintai Allah dan menjadikan Allah satu-satunya sandaran dan harapan 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #12 Salah satu cara untuk ikhlas menurut Ummu Habibah adalah dengan menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah; Bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka Selain itu berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatian untuk dilihat dan didengar orang sehingga menimbulkan pujian Belajar dari generasi terdahulu yang berupaya ikhlas agar mendapat ridha Allah SWT 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #13 Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #16 Ditulis Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawwas    Riya’ lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada fitnah Masih Al Dajjal. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang tersembunyi disisiku atas kalian daripada Masih Ad Dajjal yaitu syirkul khafi, yaitu seseorang sholat, lalu ia menghiasi (memperindah) sholatnya, karena ada orang-orang memperhatikan sholatnya.” [HR Ibnu Majah 4204, dari hadits Abu Sa’id Al Khudri, hadits ini  hasan -Shahih At Targhib wat Tarhib no 27]. Riya’ lebih sangat merusak daripada srigala menyergap domba. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda” Tidaklah dua ekor srigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” [HSR Ahmad 3/456, Tirmidzi, darimi 2/304 dari Ka’ab bin Malik]. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memberikan permisalan rusaknya agama seorang muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. Semua ini menggerakkan riya’ didalam diri seseorang. Amal Shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya yang besar bila disertai Riya’. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan mencegah (menolong dengan) barang yang berguna.” [QS Al Maidah 4-7]. Orang-orang yang berbuat riya’ dan tidak mau menolong orang lain adalah karena sholat mereka tidak mempunyai pengaruh dalam hati mereka, sehingga mereka mencegah kebaikan dari hamba-hamba Allah. Mereka hanyalah menunaikan gerakan-gerakan sholat dan memperindahnya karena semua mata memandang, padahal hati mereka tidak memahami, tidak tahu hakekatnya dan tidak mengagungkan Allah. Karena itu sholat mereka tidak berpengaruh terhadap hati dan amal. Riya’ menjadikan amal kosong tak bernilai. 4.  Riya’ akan menghapus amal shalih. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. maka perumpamaan orang-orang seperti itu seperti batu licin yang diatasnya da tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” [QS Al baqoroh 264]. Hati yang tertutup riya’ seperti batu licn yang tertutup tanah. Orang yang berbuat riya’ tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa besar yang akan dia peroleh akibatnya pada hari kiamat kelak. Riya’ menghapuskan amalan shalih dan seseorang tidak mendapatkan apa-apa karenanya diakherat nanti dari amal-amal yang pernah ia lakukan di dunia. Sebagaimana sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari kiamat tatkala memberikan balasan amal manusia,’Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapatkan balasan dari sisi mereka?.” [HR Ahmad 5/428-429, dan Al baghawi dalam Syarhus Sunnah]. Pelaku riya’ yang memamerkan amalnya dipuji, disanjung dan mendapatkan kedudukan di hati manusia tidak akan mendapat ganjaran kebaikan dari Allah dan tidak pula dari orang-orang yang memujinya, karena yang berhaq memberi balasan hanya Allah saja. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. barangsiapa mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.”[HSR Muslim]. 5.       Riya’ adalah syirik khafi (tersembunyi), Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” maukan akukabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih tersembunyi disisiku terhadap kalian daripada masih Ad Dajjal? yaitu syirik khafi, seseorang sholat, lalu ia memperindah sholatnya karena ada orang yang memperhatikannya.” [HSR Ibnu Majah]. 6.       Riya’ mewariskan kehinaan dan kerendahan, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Barangsiapa beramal dan memperdengarkannya kepada orng lain (agar orang tahu amalnya),maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menginakannya.” [HSR Thabrani dan Al Baihaqi]. 7.       Para pelaku Riya’ tidak akan mendapatkan ganjaran di akherat.. dari Ubaid bin Ka’ab -Rodliallohu anhu-  Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  bersabda,” Sampaikanlah kabar gembira ini kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi, agama, derajat yang mulia dan kekuasaan di muka bumi. barangsiapa diantara mereka melakukan amal akherat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.”[HSR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim]. 8.       Riya’ akan menambah kesesatan seseorang pelakunya. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak sadar. dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.” [QS Al Baqoroh 9-10]. 9.       Riya’ menyebabkan kekalahan umat. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah, doa, sholat, dan keikhlasan mereka.” [HSR An Nasai 6/45]. Ikhlas karena Allah adalah sebab ditolongnya umat ini dari musuh-musuh mereka. Allah melarang kita sombong dan riya’ karena hal ini akan membawa kekalahan. Alloh Azza wa Jalla berfirman,”Dan janganlah kamu menjadikan orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa sombong/angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” [Al Anfal 47]. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #17 1. Riya' badan Yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain melihat bahwa dia adalah orang yang rajin dalam beribadah, sangat takut akan akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu rajin di dalam berpuasa. 2. Riya' dari segi perhiasan Dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus, yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama, dia memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang alim. 3. Riya' dengan ucapan Ini paling banyak dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan menghafal suatu riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu, menggerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca al Qur'an agar hal tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyu'an. 4. Riya' dengan perbuatan Seperti riya' orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku' dan sujud, dan dengan menampakkan kekhusyu'an. Riya' dengan puasa, berperang, haji, shadaqah, juga yang lainnya. 5. Riya' dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #18 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #19 Pertama, ibadah yang pertama tidak ada kaitannya dengan ibadah kedua, maka ibadahnya yang pertama sah, sedangkan yang selanjutnya batil. Misalnya ada seseorang mempunyai utang seratus ribu rupiah, dia ingin menyedekahkannya, lalu menyedekahkan lima puluh ribu rupiah darinya dengan ikhlas. Lalu timbullah perasaan riya' dalam dirinya sehingga dia menginfakkan lima  puluh ribu rupiah sisanya. Maka shadaqahnya yang pertama hukumnya sah dan diterima, sedangkan lima puluh rupiah kedua hukumnya batil karena sudah bercampur antara riya' dan ikhlas. Kedua ; antara ibadah yang pertama dan kedua masih ada kaitannya, sehingga antara satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan, maka orang yang menghadapi masalah seperti ini dia harus melakukan salah satu dari dua pilihan: menepis riya' dan tidak merasa tenang dengannya, bahkan menentang dan membencinya. Maka riya'nya tidak akan berpengaruh terhadap amalnya seperti yang disabdakan Rasullah Shallallahu Alahi wa Sallam, "Sesungguhnya Allah membolehkan umatku apa yang terbetik di dalam hatinya selama belum dikerjakan atau dibicarakan." (Diriwayatkan Al-Bukhari). (Kitab Ath-Thalaq, bab "Ath-Thalaq fi Al-Aghlaq wa  Al-Mukrih wa As-Sakran" dan Muslim kitab Al-Iman bab "Tajawuzullah 'An Hadits An-Nafs". (127). merasa enjoy dengan riya' itu dan tidak menepisnya, maka batallah semua ibadahnya karena awal dari ibadah itu berkaitan dengan akhirnya. Misalnya seorang memulai shalatnya dengan ikhlas karena Allah, kemudian terbetik dalam hatinya perasaan riya' pada rakaat kedua, maka batallah shalat seluruhnya karena rakaat pertama berkaitan dengan rakaat berikutnya. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #20 Tidak termasuk riya' jika seseorang senang karena ibadahnya diketahui orang lain; karena hal itu terbetik setelah ibadah selesai dikerjakan. Tidak termasuk riya' jika seseorang senang melaksanakan ketaatan karena itu menjadi bukti keimanannya. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Barang siapa yang gembira karena kebaikannya dan sedih karena keburukannya, maka dia orang mukmin." (DItakhrij oleh At-Tirmidzi, kitab Al-Fitan, bab "Ma Ja'Al-Qur'an fi Luzumi Al-Jama'ah." (2195). Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ditanya tentang masalah ini seraya menjawab, "Itu adalah kabar gembira yang diberikan kepada orang mukmin sekarang." (Ditakhrij oleh Muslim kitab Al-Birru wa Ash-Shillah, bab "Idzaa Atsna 'ala Ash-Shalih", (2034). 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #21 Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Dzarr radhiyallahu'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam ditanya, "Bagaimana menurut baginda tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain memujinya?" Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, "Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan." (HR. Muslim no 2642 (166)). Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah. Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (ha. 234), "Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang ahli di dalam bertahajjud, lalu dia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia melakukan shalat hanya dalam satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan mereka, dan dia berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena mereka, niscaya tidak akan timbul di dalam dirinya kegiatan seperti ini. Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya', bahkan secara umum hal ini sama sekali bukanlah riya', akan tetapi di dalamnya ada perincian, yang bahwa setiap mukmin pada dasarnya sangat senang untuk melakukan ibadah-ibadah kepada Allah, akan tetapi berbagai kendala telah menghalanginya, begitu pula banyak kelalaian yang telah melupakannya, mungkin saja menyaksikan orang lain telah menyebabkan kelalaian tersebut lenyap." Kemudian beliau berkata, "Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana dia dapat melihat orang lain sedangkan orang lain tidak dapat melihatnya, jika dia melihat jiwanya yang tenang dengan beribadah, maka itulah hati yang ikhlas, sedangkan jika jiwanya itu tidak tenang, maka ketenangan jiwanya ketika beribadah di hadapan orang lain adalah sebuah sikap riya', dan kiyaskanlah yang lainnya kepadanya. Memakai pakaian atau sandal yang baik. Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar atom," lalu seseorang berkata, "Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang indah dan sandal yang indah," Rasul bersabda, "Sesungguhnya Allah indah dan menyukai yang indah, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim no. 91 (147), at Tirmidzi no. 1999). Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya. Secara syara' ini merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebaliknya seseorang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kemaksiatan, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam: "Semua umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam hari, dan Allah subhanahu wa ta'ala telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi hari dia mengatakan, 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu,' padahal Allah telah menutupinya sedangkan pada pagi hari dia membuka apa-apa yang telah Allah tutupi." (HR. Al Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990 (52)). Mendapatkan ketenaran tanpa meminta. Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal. 218), "Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala tanpa dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi keberadaannya merupakan fitnah bagi orang-orang yang lemah." Menampakkan Syi’ar-syi’ar agama Islam. Didalam Islam ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam pelaksanaanya, seperti haji, umroh, sholat jumat, sholat jama’ah yang lima waktu dan lainnya. Seorang muslim tidak dikatakan berbuat riya’ bila ia menampakkan amal-amal ini. Karena termasuk hal amal-amal yang wajib yaitu ditampakkan dan dimasyurkan serta melakukannya adalah termasuk syiar-syiar agama Islam. Orang yang meninggalkannya akan terkena celaan dan kutukan. Jika amal sunnah hendaknya disembunyikan karena tidak tercela bagi seseorang untuk meninggalkannya. namun jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti sunnah tersebut, maka hal ini adalah baik. Sesungguhnya riya’ itu apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan disanjung manusia. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #22 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #23 1.       Mengetahui macam-macam tauhid yang mengandung kebesaran Alloh Azza wa Jalla  (tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat}. Mempelajari Tauhid asma’ wa shifat akan membersihkan hati yang lemah, apabila seorang hamba mengetahui bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan manfaat dan mudlarat, maka ia akan menghilangkan rasa takut kepada manusia. Syaithon memang selalu menghiasi ibadahnya dihadapan mereka dan menjadikannya takut dicela dan ingin disanjung. Demikian pula kalau ia mengetahui bahwa Allah Sami’ (Maha Mendengar) dn Bashir (Maha Melihat), Dia mengetahui mata yang khianat dan yang tersembunyi di dalam dada, maka ia akan mencampakkan semua pandangan manusia. Dia akan taat kepada Allah seakan-akan ia melihatNya dan jika ia tidak melihatNya, Allah pasti akan melihatnya. Dengan demikian riya’ akan lenyap dari dirinya. 2.       Mengetahui apa yang Alloh Azza wa Jalla sediakan di akherat berupa kenikmatan yang abadi dan adzab yang pedih. Alloh Azza wa Jalla berfirman,”Katakanlah,’Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku,’Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu ialah Rabb yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia mempersukutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al Kahfi 110] Apabila seorang hamba memahami apa yang Allah sediakan bagi orang yang bertaqwa dari surga, maka ia akan meremehkan kelezatan sementara di dunia, termasuk didalamnya pujian manuisa ketika ia sedang beramal. Dan apabila seorang hamba mengetahui apa yang Alloh Azza wa Jalla sediakan di akherat kelak bagi orang yang berbuat riya’, maka ia akan berlindung kepada Allah dan tidak takut celaan manusia. Orang yang ia perlihatkan dan menyanjungnya tidak akan mampu menolong sesuatu yang datang dari Allah pada hari kiamat. 3.       Hendaklah takut terhadap perbuatan riya’. Bila seseorang merasa takut dengan perbuatan ini, maka ia akan selalu berhati-hati. Bila bergejolak penyakit ingin di puji, maka ia akan mengingat dirinya tentang bahaya riya’ dan kemurkaan Alloh Azza wa Jalla yang akan diperolehnya. Hendaklah ia senantiasa mempelajari pintu masuk serta halusnya riya’ sehingga benar-benar selamat darinya 4.       Menjauhkan diri dari celaan dan murka Alloh Azza wa Jalla . Diantara sebab-sebab riya’ adalah takut terhadap celaan manusia. Tetapi orang yang berakal akan mengetahui bahwa takut terhadap celaan atau murka Alloh Azza wa Jalla adalah lebih utama. Hendaklah ia mengetahui bahwa takut terhadap celaan Alloh adalah dengan mendekat diri kepadaNya. Allah akan melindunginya dari manusia yang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya. 5.       Memahami kedudukannya sebagai hamba Alloh Azza wa Jalla . Hendaklah seseorang mengetahui secara yakin bahwa dirinya seorang hamba yang tidak berhaq menuntut upah dalam melayani tuannya. Dia melayani tauannya karena merupakan tuntutan ibadah, sehingga ia tidak berhak menuntut hak. Adapun pahala yang ia peroleh dari tuannya adalah merupakan perbuatan ihsan (baik)kepadanya, bukan sebagai ganti. maka ia hanya berharap pahala dari Allah bukan manusia. 6.       Mengetahui hal-hal yang dapat membuat syaithon lari menjauh. Syaithon adalah musuh manusia, dia merupakan sumber riya’, bibit dari setiap bencana. Syaithon akan selalu ada pada setiap waktu dalam semua kehidupan manusia dan senantiasa mengirimkan pasikannya untuk menhancurkan benteng pertahanan manusia. Hakekat ini harus diketahui oleh seorang muslim agar ia selamat dari riya’, dan juga ia harus menjaga beberapa hal yang dapat mengalahkan Syaithon. Ada beberapa amalan dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang apabila diamalkan maka syaithon akan lari, diantaranya dzikir dan doa yang disyariatkan dan dituntunkan, membaca Al Qur’an, membaca isti’azah (berlindung dari godaan syathon yang terkutuk), membaca bismillah ketika masuk dan keluar rumah, membaa doa ketika masuk dan keluar WC, ketika bersetubuh, ketika mendengar seruan adzan, membaca surat Al Baqoroh, ayat Kursi, sujud tilawah, membaca Al Falaq, Al Ikhlas dan AnNaas dan lainnya. 7.       Menyembunyikan amal Orang yang bebuat ikhlas akan senantiasa takut kepada riya’, oleh karena itu ia akan bersungguh-sungguh melawan tipu daya manusia dan memalingkan pandangan mereka agar tidak memperhatikan amal-amal shalihnya. Ia akan berupaya keras untuk menyembunyikan amalnya dengan harapan supaya ikhlas amalnya dan Allah akan membalas ikhlasnya ini di akherat. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang taqwa, yang selalu merasa cukup dan merahasiakan (ibadahnya) “{HSR Muslim dari Sa’id bin Abi Waqash] 8.       Tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia Banyak orang yang binasa karena takut celaan manusia, senang dipuji hingga tindak tanduknya menuruti keridlaan manusia, mengharapkan pujian dan takut terhadap celaan. Padahal yang mestinya diperhatikan adalah hendaknya kita bergembira dengan keutamaan dan rahmat Alloh Azza wa Jalla , bukan dengan pujian manusia. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Katakanlah,’Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah mereka bergembira.’ Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”[QS Yunus 58] Demikian pula kita harus melihat orang yang mencela dan menfitnah kita. Apabila ia benar dan memang untuk menasehati kita, tidak perlu kita marah. karena dia telah menunjukkan aib kita dan mengingatkan kita dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Seandainya ia berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara : Pertama, Jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib dan kesalahan lainnya, begitu banyak aib dan kesalahan kita yang Alloh Azza wa Jalla tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik. Kedua, sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan menfitnah kita adalah penghapus dosa, jika kita sabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Ketiga, Orang yang menfitnah dan mencela akan mendapat kemurkaan dari Alloh Azza wa Jalla ,”Dan barangsiapa mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata “ [Qs An Nisa 112]. Kita harus berusaha untuk memanfaatkannya, karena Alloh Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang suka memaafkan. Seorang muslim harus ingat bahwa tidak ada artinya pujian manusia bila hal itu menimbulkan kemurkaan Allah. Pujian mereka tidak pula membuat kaya dan berumur panjang. Begitu pula celaan mereka tidak pula meninggalkan sesuatu. Celaan mereka tidak membuat kita berada dalam bahaya dan tidak pula memendekkan umur kita. Semua manusia adalah lemah, tidak berkuasa terhadap manfaat dan mudlarat dirinya. Tidak berkuasa terhadap hidup dan matinya serta tempat kembalinya. Jika ia menyadarinya tentu dia akan melepaskan kesenangan pada riya’. lalu menghadap kepada Allah dengan hatinya. Sesungguhnya orang-orng yang berakal tidak menyukai apa-apa yang berbahaya bagi dirinya dan yang sedikit manfaatnya. 9.       Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam mengajarkan kepada kita doa yang dapat menghilangkan syirik besar dan syirik kecil (riya’). Dari Abu Ali, seorang yang berasal dari Bani Kahil, berkata,”Abu Musa Al Asyari -Rodliallohu anhu- berkhutbah dihadapan kami dan berkata,’Wahai sekalian manusia, takutlah kalian pada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut.’Kemudian Abdulloh bin Hazan dan Qois bin Al Mudlarib mendatangi Abu Musa dan berkata,’Demi Allah, engkau harus menguraikan apa yang engkau katakan atau kami akan mendatangi Umar, baik diizinkan atau tidak.’ lalu Abu Musa berkata,’Kalau begitu aku akan menguraikan apa yang aku katakan. Pada suatu hari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah berkhutbah dihadapan kami, beliau bersabda,’Wahai sekalian manusia, takutlah pada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut.’ kemudian orang-orang yang dikehendaki Allah bertanya kepada beliau,’bagaimana kami bisa menghindarinya, sedangkan ia lebih halus dari rayapan semut, ya Rosululloh?’, Beliau menjawab,’Ucapkanlah : Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari mempersekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan kepadaMu dari apa yang kami tidak ketahui.’ [HSR Ahmad dan Thabrani, lihat Shahih Targhib wat Tarhib no 33] 10.   Berteman dengan orang-orang shalih, ikhlas dan bertaqwa Diantara faktor yang dapat mendorong berbuat ikhlas ialah berteman dengan orang-orang yang ikhlas agar kita dapat mengikuti jejak dan tingkah laku mereka yang baik.Dan kita harus waspada kepada orang-orang yang riya’ yang akan membawa kebinasaan. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #25 Amal tanpa niat adalah perbuatan yang bodoh. Niat tanpa ikhlas adalah riya’. Ikhlas tanpa aplikasi sia-sia. ﷲ Swt berfirman tentang setiap amal yang dimaksudkan untuk selain ﷲ Swt bagaikan debu2 yang beterbangan. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #28 Akhir dari riya' adalah menghapus pahala amal shalih pada saat ia tidak memiliki kekuatan dan penolong serta tiada kuasa menolaknya. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #34 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #35 Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Niat itu adanya dalam hati, karena ia merupakan amalan hati, bukan amalan lidah.  Begitu juga dengan Ikhlas, adalah salah satu amalan hati, merupakan suatu hal yang penting karena tanpa ikhlas maka berbagai amalan tidak akan menjadi sempurna. Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah Swt semata. Tidak dibedakan antara niat karena ingin mencari kehidupan akhirat dengan mencari keridhaan Allah Swt, karena keduanya bermuara pada hal yang sama. 26 April 2009 Badaris BSI Cengkareng Muhammad Zen
  • #37 Muhammad Zen 12/22/11 Seminar Ekonomi Islam, LDK UIN JAKARTA - FOSSEI