Muhammad Joni
PERKAWINAN YANG TIDAK DICATATKAN:
DAMPAKNYA BAGI ANAK
1
Pendahuluan:
Waras dan manusiawi apabila peristiwa kebahagiaan
itu dikabar-kabarkan.
Alasan logis maupun sosiologis yang paling inti
mengapa mencatatkan perkawinan dan kelahiran
anak.
Tidak logis dan janggal sosial jika perkawinan
disembunyikan atau tidak dicatatkan.
Hukum  sistem norma yang mengutamakan “norm
and logic” (Austin dan Kelsen).
2
Perkawinan  sunnah Rasullulah dan dalam rangka
mencapai taqwa dan beribadah kepada Allah SWT. KHI
menyebutkannya sebagai “untuk menaati perintah Allah” dan
sebagai sarana “ibadah” kepada Allah.
Perbuatan yang mulia, sukacita dan waras jika
dikabarluaskan.
3
Tidak relevan jika perkawinan sengaja dirancang
menimbukan mudharat, dengan menyembunyikan
(pencatatan) perkawinan.
Apalagi dengan menyelundupkan hukum.
Prof.Dr.T.Jafizham,SH: Perkawinan bukan suatu
hubungan secara diam-diam. Perkawinan menurut agama
Islam salah satu tandanya mengumumkan berita
perkawinan secara terbuka, bahkan dibenarkan dengan
upacara dan permainan musik.
4
Adalah faktual dan bukan persangkaan, masih banyak anak
yang lahir dari perkawinan tidak dicatatkan yang mengalami
diskriminasi pemenuhan dan perlindungan hak anak.
Vis a vis dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best
interest of the child).
5
Anak dari relasi perkawinan bagaimanapun (dicatatkan, atau
tidak dicatatkan; marital child atau non-marital child),
namun anak tetap otentik sebagai subyek hukum yang
memiliki hak-hak anak yang serata (equality on the rights of the
child).
6
Hubungan anak dengan seorang laki-laki sebagai bapaknya tidak
semata-mata disebabkan ikatan perkawinan.
Bersesuaian dengan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010.
Menurut MK, menjadi tidak tepat dan tidak adil apabila hukum
menetapkan bahwa anak yang dilahirkan dari suatu kehamilan
karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki
hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya.
Mahkamah Konstitusi memutuskan Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 1
Tahun 1974 yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar
perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga
ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan
berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain
menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata
dengan keluarga ayahnya”.
7
Pun demikian tanggungjawab dan kewajiban Negara
memenuhi, melindungi, memajukan, penegakan hak asasi
manusia yang direalisasikan kepada setiap anak. [Pasal 28 I
ayat (4) UUD 1945]
8
Bentuk dan Konstruksi Kasus.
Perkawinan yang tidak dicatatkan namun anak diinginkan.
Perkawinan yang tidak dicatatkan dan anak tidak diinginkan.
Perkawinan yang tidak dicatatkan karena kesulitan akses
pencatatan.
Perkawinan yang tidak dicatatkan karena penyelundupan
hukum “kawin kontrak”, atau modus penjualan bayi.
Perkawinan dini yang tidak dicatatkan, karena belum
memenuhi syarat umur dan dengan modus memberikan
pembayaran uang atau bentuk lainnya.
9
KPAI  konstruksi sosial perkawinan tidak dicatatkan ada
3 (tiga) bentuk:
Perkawinan yang tidak dicatatkan (nikah siri) yang bersifat
eksploitatif berbentuk “kawin kontrak” yang dalam kasus
tertentu terjadi antara warga negara asing dengan perempuan
lokal.
Perkawinan yang tidak dicatatkan karena tidak memiliki akses
terhadap pelayanan publik.
Perkawinan yang tidak dicatatkan yang bertujuan hanya sebagai
pelampiasan hasrat seksual semata.
10
Perkawinan yang tidak dicatatkan karena “kawin
kontrak” ini hampir mirip dengan non marital child .
Menelaah perkawinan tidak dicatatkan adalah tidak
tepat jika hanya mengandalkan pengujiannya
berdasarkan peraturan perundang-undangan
mengenai itsbat nikah, namun menelaah system nilai
dan hak konstitusional perlindungan anak (recht
philosophi).
Asas-lah yang mengayam sistem, bukan sebaliknya
(Prof. Mahadi).
11
Mengulas Prinsip Hak Anak,
Mencermati Dampak
Norma hukum yang tidak sesuai dengan asas tidak boleh
disebut norma hukum. Jika norma hukum yang dibuatkan
sesuai dengan asas, maka laksana seorang bayi dalam
kandungan, norma hukum itu telah masak untuk dilahirkan,
telah matang untuk dilepaskan ke dalam masyarakat. (Prof
Mahadi)
12
Asas Nondiskriminasi
Prinsip nondiskriminasi menjadi sentral dalam setiap konvensi
HAM internasional, dan senantiasa dipertanyakan dalam
evaluasi pelaksanaan dan kemajuan konvensi, termasuk
pelaksanaan KHA.
Pasal 28B ayat (2) UUD 1945: “Setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Diskriminasi  anak dari perkawinan tidak dicatatkan yang
menimbulkan anak yang tidak dicatatkan kelahiran (children not
registered at birth), non-marital child, dllsb.
13
Asas Kepentingan Terbaik bagi Anak
pertimbangan utama (a primary consideration) dalam semua
tindakan untuk anak, baik oleh institusi kesejahteraan sosial
pada sektor publik ataupun privat, pengadilan, otoritas
administratif, ataupun badan legislatif.
Kepentingan terbaik bagi anak adalah paramount
considerations.
14
 Evolusi kapasitas anak.
 2 tugas ganda orangtua, yakni: memberikan pengarahan (direction) dan
panduan (guidance) guna pelaksanaan hak anak dalam KHA, sesuai dengan
perkembangan kemampuan anak.
 Peran orangtua sebagai bentuk dukungan untuk realisasi dan pemenuhan hak
anak.
 Bukan pengakuan hak absolut orangtua atas anaknya.
 Tidak diterima peradigma “non intervention” terhadap tanggungjawab
orangtua atas anaknya.
 Diakui ruang bagi Negara dan masyarakat untuk memberikan intervensi
melindungi anak, jika hak-hak anak terabaikan.
 Pertimbangan utama adalah kepentingan terbaik bagi anak.
15
Implikasi Perkawinan tidak dicatatkan pada anak 
Hak dalam hukum keluarga.
berdampak pada hubungan perdata, pengakuan nasab atau garis
keturunan (formal), hak mewaris, pemeliharaan dan biaya hidup,
bahkan kasih sayang dan tanggungjawab orangtuanya untuk tumbuh
dan kembang anak.
Kemungkinan terjadinya penerlantaran anak karena mengancam hak
atas nasab, mewaris, pemeliharaan dan biaya hidup, serta pengasuhan.
Anak dari perkawinan yang tidak dicatatkan dengan indikasi
eksploitatatif, atau yang tidak diakui nasab-nya, maka mungkin
seakan-akan non marital child.
Non marital child merupakan fakta sosial yang tidak terbantahkan dan
tidak tersembunyikan. Karena itu Negara tidak semestinya abai dan
tidak melindungi dengan regulasi.
16
 Hak mengetahui asal usul orangtua dan pengasuhan anak.
Anak berhak mengetahui (asal usul) orangtuanya, dibesarkan dan diasuh
orangtuanya sendiri [Pasal 7 ayat (1) UUPA].
Non marital child mengadukan dan meminta pengakuan dan
tanggungjawab orangtua biologis. (vide Putusan MK Nomor 46/PUU-
VII/2010]
Kerapkali terjadi perebutan anak dan pengasuhan anak yang dilahirkan
dari perkawinan tidak dicatatkan.
Mengubah identitas anak yang tidak diinginkan (unwanted child).
Menitipkan pada orang atau lembaga yang tidak berizin, sehingga terjadi
pemalsuan asal usul anak, identitas, penjualan anak/bayi.
Tak jarang modus pengangkatan anak yang tidak sah.
17
Hak atas identitas.
Hambatan yuridis dalam pemenuhan hak atas
identitas, yakni hak atas akte kelahiran.
Oleh karena rezim hukum administrasi
kependudukan versi UU Adminduk menganut
stelsel aktif bagi Penduduk. Selain itu juga
mensyaratkan dokumen formal (surat nikah) untuk
menerbitkan akte kelahiran.
Membatasi jangka waktu pelaporan, dan penarikan
biaya sebagai retribusi sehingga menghambat
pencatatan kelahiran anak.
18
 Anak Indonesia yang memiliki akta kelahiran sekitar 54,79 persen, dari jumlah
tersebut 14,57 persen tidak dapat menunjukkan akta kelahiran, sedangkan
jumlah anak yang tidak memiliki akta kelahiran 44,09 persen (Susenas 2010,
BPS).
 Data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran menurut
Provinsi (Sensus BPS, 2005), sebelum UU No. 23 Tahun 2006 disahkan,
sebanyak 42,82%.
 Data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran menurut
Provinsi (Sensus BPS, 2005), sebelum UU No. 23 Tahun 2006 disahkan,
sebanyak 42,82%. Sedangkan data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki
Akta Kelahiran, (BPS, Susenas 2011), setelah UU Nomor 23/2006 disahkan
sebanyak 59%.
19
Faktor penghambat anak memperoleh hak atas
akte kelahiran:
Asas “stelsel aktif bagi Penduduk.
Syarat-syarat formal pencatatan kelahiran (surat nikah/akte
perkawinan, KK, KTP).
Pembatasan waktu 60 (enam puluh) hari melaporkan kelahiran.
Pengenaan sanksi denda atas keterlambatan.
Tidak adanya fasilitasi dan bantuan Pemerintah.
Tidak adanya tindakan affirmatif untuk anak dari kawasan
terisolir, anak berkesulitan khusus.
Belum bebas biaya akte kelahiran.
20
Hak atas jaminan sosial, dan pendidikan.
regulasi dan kebijakan jaminan sosial yang cenderung mengarah
kepada dokumen formil.
Anak tanpa akte kelahiran tersingkirkan dari akses jaminan
sosial.
Formalitas jaminan sosial dan pendidikan akan menghambat
akses anak-anak tanpa akte kelahiran.
Sekitar 70% anak yang belum memiliki akte kelahiran itu adalah
anak usia sekolah.
21
Hak perlindungan dari eksploitasi dan pernikahan
dini.
Banyak anak-anak yang menjadi korban eksploitasi akibat tanpa
dokumen identitas yang sah.
Perkawinan usia dini berkorelasi dengan praktik perkawinan
tidak dicatatkan, sehingga berdampak pula pada anak dan
eksploitasi anak.
Mencegah pernikahan pada usia anak-anak merupakan
kewajiban orangtua [Pasal 26 ayat (1) huruf c UU PA].
22
Secara nasional sebesar 1,59 persen anak perempuan
berumur 10-17 tahun berstatus kawin dan pernah kawin
(Perdesaan 2,17%; Perkotaan 0,98%),.
Kawin pertama usia <15 tahun 35,78%, kawin pertama usia
16 tahun 37,03%, dan kawin pertama usia 17-18 tahun
sebesar 27,19 % (Susenas 2010, BPS).
23
Diskusi
 
Perkawinan tidak dicatatkan mempunyai akibat langsung pada
anak sebagai subyek hukum dan pribadi. Permasalahan
tersebut bukan hanya hukum keluarga namun berkenaan
HAM dan hak-hak anak sehingga menjadi tanggungjawab dan
kewajiban Pemerintah sesuai amanat Pasal 28I ayat (4) UUD
1945;
Pemberitahuan dan pencatatan perkawinan merupakan
keniscayaan dan mendukung pemenuhan dan hak anak.
Perkawinan secara diam-diam tidak kompatibel dengan hak
anak. Perkawinan tidak dicatatkan vis a vis dengan
perlindungan anak.
24
Akibat dan hambatan yuridis perkawinan tidak dicatatkan ,
tidak adil dibebankan kepada anak. Akibat dan resikonya
tidak menjadi hambatan pemenuhan hak anak. Negara mesti
membuat melakukan perubahan hukum yang masih
membebankan resiko dan akibat perkawinan tidak dicatatkan
pada anak.
Kekosongan hukum dari/akibat perkawinan tidak dicatatkan
harus diatasi. Perlu kajian hukum dan harmonisasi hukum
mengatasi perkawinan yang tidak dicatatkan , termasuk
perkawinan usia anak, penyelundupan hukum , eksploitasi
anak, anak tanpa akte kelahiran, penerlantaran anak, dan
reaktualisasi hukum keluarga.
25
Anak yang dilahirkan dalam perkawinan tidak dicatatkan
tetap mempunyai hubungan hukum dengan kedua
orangtuanya, dan tidak dapat dihapuskan dengan
penyeludupan hukum. Alih-alih anak dari perkawinan
tidak dicatatkan, anak yang merupakan non marital child
sekalipun mempunyai hubungan keperdataan dengan
ibunya, kerabat ibunya, dengan ayah biologisnya dan
kerabat ayah biologisnya.
26
MUHAMMAD JONI SH,MH
www.advokatmuhammadjoni.com
Advokat/Managing Partner Law Office Joni & Tanamas
Ketua Perhimpunan Advokasi Anak Indonesia
Tim Ahli KPAI
27

Perkawinan yang tidak dicatatkan

  • 1.
    Muhammad Joni PERKAWINAN YANGTIDAK DICATATKAN: DAMPAKNYA BAGI ANAK 1
  • 2.
    Pendahuluan: Waras dan manusiawiapabila peristiwa kebahagiaan itu dikabar-kabarkan. Alasan logis maupun sosiologis yang paling inti mengapa mencatatkan perkawinan dan kelahiran anak. Tidak logis dan janggal sosial jika perkawinan disembunyikan atau tidak dicatatkan. Hukum  sistem norma yang mengutamakan “norm and logic” (Austin dan Kelsen). 2
  • 3.
    Perkawinan  sunnahRasullulah dan dalam rangka mencapai taqwa dan beribadah kepada Allah SWT. KHI menyebutkannya sebagai “untuk menaati perintah Allah” dan sebagai sarana “ibadah” kepada Allah. Perbuatan yang mulia, sukacita dan waras jika dikabarluaskan. 3
  • 4.
    Tidak relevan jikaperkawinan sengaja dirancang menimbukan mudharat, dengan menyembunyikan (pencatatan) perkawinan. Apalagi dengan menyelundupkan hukum. Prof.Dr.T.Jafizham,SH: Perkawinan bukan suatu hubungan secara diam-diam. Perkawinan menurut agama Islam salah satu tandanya mengumumkan berita perkawinan secara terbuka, bahkan dibenarkan dengan upacara dan permainan musik. 4
  • 5.
    Adalah faktual danbukan persangkaan, masih banyak anak yang lahir dari perkawinan tidak dicatatkan yang mengalami diskriminasi pemenuhan dan perlindungan hak anak. Vis a vis dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child). 5
  • 6.
    Anak dari relasiperkawinan bagaimanapun (dicatatkan, atau tidak dicatatkan; marital child atau non-marital child), namun anak tetap otentik sebagai subyek hukum yang memiliki hak-hak anak yang serata (equality on the rights of the child). 6
  • 7.
    Hubungan anak denganseorang laki-laki sebagai bapaknya tidak semata-mata disebabkan ikatan perkawinan. Bersesuaian dengan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010. Menurut MK, menjadi tidak tepat dan tidak adil apabila hukum menetapkan bahwa anak yang dilahirkan dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya. Mahkamah Konstitusi memutuskan Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. 7
  • 8.
    Pun demikian tanggungjawabdan kewajiban Negara memenuhi, melindungi, memajukan, penegakan hak asasi manusia yang direalisasikan kepada setiap anak. [Pasal 28 I ayat (4) UUD 1945] 8
  • 9.
    Bentuk dan KonstruksiKasus. Perkawinan yang tidak dicatatkan namun anak diinginkan. Perkawinan yang tidak dicatatkan dan anak tidak diinginkan. Perkawinan yang tidak dicatatkan karena kesulitan akses pencatatan. Perkawinan yang tidak dicatatkan karena penyelundupan hukum “kawin kontrak”, atau modus penjualan bayi. Perkawinan dini yang tidak dicatatkan, karena belum memenuhi syarat umur dan dengan modus memberikan pembayaran uang atau bentuk lainnya. 9
  • 10.
    KPAI  konstruksisosial perkawinan tidak dicatatkan ada 3 (tiga) bentuk: Perkawinan yang tidak dicatatkan (nikah siri) yang bersifat eksploitatif berbentuk “kawin kontrak” yang dalam kasus tertentu terjadi antara warga negara asing dengan perempuan lokal. Perkawinan yang tidak dicatatkan karena tidak memiliki akses terhadap pelayanan publik. Perkawinan yang tidak dicatatkan yang bertujuan hanya sebagai pelampiasan hasrat seksual semata. 10
  • 11.
    Perkawinan yang tidakdicatatkan karena “kawin kontrak” ini hampir mirip dengan non marital child . Menelaah perkawinan tidak dicatatkan adalah tidak tepat jika hanya mengandalkan pengujiannya berdasarkan peraturan perundang-undangan mengenai itsbat nikah, namun menelaah system nilai dan hak konstitusional perlindungan anak (recht philosophi). Asas-lah yang mengayam sistem, bukan sebaliknya (Prof. Mahadi). 11
  • 12.
    Mengulas Prinsip HakAnak, Mencermati Dampak Norma hukum yang tidak sesuai dengan asas tidak boleh disebut norma hukum. Jika norma hukum yang dibuatkan sesuai dengan asas, maka laksana seorang bayi dalam kandungan, norma hukum itu telah masak untuk dilahirkan, telah matang untuk dilepaskan ke dalam masyarakat. (Prof Mahadi) 12
  • 13.
    Asas Nondiskriminasi Prinsip nondiskriminasimenjadi sentral dalam setiap konvensi HAM internasional, dan senantiasa dipertanyakan dalam evaluasi pelaksanaan dan kemajuan konvensi, termasuk pelaksanaan KHA. Pasal 28B ayat (2) UUD 1945: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Diskriminasi  anak dari perkawinan tidak dicatatkan yang menimbulkan anak yang tidak dicatatkan kelahiran (children not registered at birth), non-marital child, dllsb. 13
  • 14.
    Asas Kepentingan Terbaikbagi Anak pertimbangan utama (a primary consideration) dalam semua tindakan untuk anak, baik oleh institusi kesejahteraan sosial pada sektor publik ataupun privat, pengadilan, otoritas administratif, ataupun badan legislatif. Kepentingan terbaik bagi anak adalah paramount considerations. 14
  • 15.
     Evolusi kapasitasanak.  2 tugas ganda orangtua, yakni: memberikan pengarahan (direction) dan panduan (guidance) guna pelaksanaan hak anak dalam KHA, sesuai dengan perkembangan kemampuan anak.  Peran orangtua sebagai bentuk dukungan untuk realisasi dan pemenuhan hak anak.  Bukan pengakuan hak absolut orangtua atas anaknya.  Tidak diterima peradigma “non intervention” terhadap tanggungjawab orangtua atas anaknya.  Diakui ruang bagi Negara dan masyarakat untuk memberikan intervensi melindungi anak, jika hak-hak anak terabaikan.  Pertimbangan utama adalah kepentingan terbaik bagi anak. 15
  • 16.
    Implikasi Perkawinan tidakdicatatkan pada anak  Hak dalam hukum keluarga. berdampak pada hubungan perdata, pengakuan nasab atau garis keturunan (formal), hak mewaris, pemeliharaan dan biaya hidup, bahkan kasih sayang dan tanggungjawab orangtuanya untuk tumbuh dan kembang anak. Kemungkinan terjadinya penerlantaran anak karena mengancam hak atas nasab, mewaris, pemeliharaan dan biaya hidup, serta pengasuhan. Anak dari perkawinan yang tidak dicatatkan dengan indikasi eksploitatatif, atau yang tidak diakui nasab-nya, maka mungkin seakan-akan non marital child. Non marital child merupakan fakta sosial yang tidak terbantahkan dan tidak tersembunyikan. Karena itu Negara tidak semestinya abai dan tidak melindungi dengan regulasi. 16
  • 17.
     Hak mengetahuiasal usul orangtua dan pengasuhan anak. Anak berhak mengetahui (asal usul) orangtuanya, dibesarkan dan diasuh orangtuanya sendiri [Pasal 7 ayat (1) UUPA]. Non marital child mengadukan dan meminta pengakuan dan tanggungjawab orangtua biologis. (vide Putusan MK Nomor 46/PUU- VII/2010] Kerapkali terjadi perebutan anak dan pengasuhan anak yang dilahirkan dari perkawinan tidak dicatatkan. Mengubah identitas anak yang tidak diinginkan (unwanted child). Menitipkan pada orang atau lembaga yang tidak berizin, sehingga terjadi pemalsuan asal usul anak, identitas, penjualan anak/bayi. Tak jarang modus pengangkatan anak yang tidak sah. 17
  • 18.
    Hak atas identitas. Hambatanyuridis dalam pemenuhan hak atas identitas, yakni hak atas akte kelahiran. Oleh karena rezim hukum administrasi kependudukan versi UU Adminduk menganut stelsel aktif bagi Penduduk. Selain itu juga mensyaratkan dokumen formal (surat nikah) untuk menerbitkan akte kelahiran. Membatasi jangka waktu pelaporan, dan penarikan biaya sebagai retribusi sehingga menghambat pencatatan kelahiran anak. 18
  • 19.
     Anak Indonesiayang memiliki akta kelahiran sekitar 54,79 persen, dari jumlah tersebut 14,57 persen tidak dapat menunjukkan akta kelahiran, sedangkan jumlah anak yang tidak memiliki akta kelahiran 44,09 persen (Susenas 2010, BPS).  Data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran menurut Provinsi (Sensus BPS, 2005), sebelum UU No. 23 Tahun 2006 disahkan, sebanyak 42,82%.  Data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran menurut Provinsi (Sensus BPS, 2005), sebelum UU No. 23 Tahun 2006 disahkan, sebanyak 42,82%. Sedangkan data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran, (BPS, Susenas 2011), setelah UU Nomor 23/2006 disahkan sebanyak 59%. 19
  • 20.
    Faktor penghambat anakmemperoleh hak atas akte kelahiran: Asas “stelsel aktif bagi Penduduk. Syarat-syarat formal pencatatan kelahiran (surat nikah/akte perkawinan, KK, KTP). Pembatasan waktu 60 (enam puluh) hari melaporkan kelahiran. Pengenaan sanksi denda atas keterlambatan. Tidak adanya fasilitasi dan bantuan Pemerintah. Tidak adanya tindakan affirmatif untuk anak dari kawasan terisolir, anak berkesulitan khusus. Belum bebas biaya akte kelahiran. 20
  • 21.
    Hak atas jaminansosial, dan pendidikan. regulasi dan kebijakan jaminan sosial yang cenderung mengarah kepada dokumen formil. Anak tanpa akte kelahiran tersingkirkan dari akses jaminan sosial. Formalitas jaminan sosial dan pendidikan akan menghambat akses anak-anak tanpa akte kelahiran. Sekitar 70% anak yang belum memiliki akte kelahiran itu adalah anak usia sekolah. 21
  • 22.
    Hak perlindungan darieksploitasi dan pernikahan dini. Banyak anak-anak yang menjadi korban eksploitasi akibat tanpa dokumen identitas yang sah. Perkawinan usia dini berkorelasi dengan praktik perkawinan tidak dicatatkan, sehingga berdampak pula pada anak dan eksploitasi anak. Mencegah pernikahan pada usia anak-anak merupakan kewajiban orangtua [Pasal 26 ayat (1) huruf c UU PA]. 22
  • 23.
    Secara nasional sebesar1,59 persen anak perempuan berumur 10-17 tahun berstatus kawin dan pernah kawin (Perdesaan 2,17%; Perkotaan 0,98%),. Kawin pertama usia <15 tahun 35,78%, kawin pertama usia 16 tahun 37,03%, dan kawin pertama usia 17-18 tahun sebesar 27,19 % (Susenas 2010, BPS). 23
  • 24.
    Diskusi   Perkawinan tidak dicatatkanmempunyai akibat langsung pada anak sebagai subyek hukum dan pribadi. Permasalahan tersebut bukan hanya hukum keluarga namun berkenaan HAM dan hak-hak anak sehingga menjadi tanggungjawab dan kewajiban Pemerintah sesuai amanat Pasal 28I ayat (4) UUD 1945; Pemberitahuan dan pencatatan perkawinan merupakan keniscayaan dan mendukung pemenuhan dan hak anak. Perkawinan secara diam-diam tidak kompatibel dengan hak anak. Perkawinan tidak dicatatkan vis a vis dengan perlindungan anak. 24
  • 25.
    Akibat dan hambatanyuridis perkawinan tidak dicatatkan , tidak adil dibebankan kepada anak. Akibat dan resikonya tidak menjadi hambatan pemenuhan hak anak. Negara mesti membuat melakukan perubahan hukum yang masih membebankan resiko dan akibat perkawinan tidak dicatatkan pada anak. Kekosongan hukum dari/akibat perkawinan tidak dicatatkan harus diatasi. Perlu kajian hukum dan harmonisasi hukum mengatasi perkawinan yang tidak dicatatkan , termasuk perkawinan usia anak, penyelundupan hukum , eksploitasi anak, anak tanpa akte kelahiran, penerlantaran anak, dan reaktualisasi hukum keluarga. 25
  • 26.
    Anak yang dilahirkandalam perkawinan tidak dicatatkan tetap mempunyai hubungan hukum dengan kedua orangtuanya, dan tidak dapat dihapuskan dengan penyeludupan hukum. Alih-alih anak dari perkawinan tidak dicatatkan, anak yang merupakan non marital child sekalipun mempunyai hubungan keperdataan dengan ibunya, kerabat ibunya, dengan ayah biologisnya dan kerabat ayah biologisnya. 26
  • 27.
    MUHAMMAD JONI SH,MH www.advokatmuhammadjoni.com Advokat/ManagingPartner Law Office Joni & Tanamas Ketua Perhimpunan Advokasi Anak Indonesia Tim Ahli KPAI 27